Anda di halaman 1dari 3

1.

Kehidupan masyarakat Minangkabau


Suku Minangkabau terkenal dalam bidang perdagangan, pendidikan dan
pemerintahan. Lebih dari separuh jumlah keseluruhan anggota suku ini berada dalam
perantauan seperti Jakarta, Bandung, Pekanbaru, Medan, Batam, Palembang, dan
Surabaya. Untuk di luar wilayah Indonesia, suku Minangkabau banyak terdapat di
Malaysia (terutama Negeri Sembilan) dan Singapura.
2. Perilaku kesehatan suku Minangkabau
Praktik-praktik kesehatan keluarga Minangkabau dipengaruhi oleh nilai-nilai
ajaran agama Islam. Sebagai contohnya kelahiran bayi yang dibantu oleh dukun/bidan
dan ditunggui oleh ibu mertua. Setelah bayi lahir, plasenta bayi tersebut dimasukkan
ke dalam periuk tanah dan ditutup dengan kain putih. Penguburan plasenta dilakukan
oleh orang yang dianggap terpandang dalam lingkungan keluarga.
Pada zaman dahulu, keluarga Minangkabau lebih memilih melahirkan dengan
dibantu dukun beranak daripada pergi ke pusat kesehatan. Mereka beranggapan
bahwa melahirkan dibantu dukun beranak biayanya lebih murah. Namun sekarang ini
sesuai dengan perkembangan zaman, keluarga Minangkabau lebih memilih
melahirkan di bidan atau Puskesmas. Mungkin hanya sebagian saja yang masih
melahirkan dibantu oleh dukun beranak, terutama masyarakat yang masih tinggal di
daerah terpencil dan tenaga kesehatannnya terbatas.
Keluarga Minangkabau pada kelas sosial yang rendah mempunyai pola
perilaku mencari bantuan pertolongan kesehatan keluarga yang sederhana, yaitu
dengan pergi ke dukun. Sejalan dengan aktivitas ekonomi di pedesaan, banyak
warung yang menjual obat sampai ke pelosok. Oleh karena itu bila mereka sakit,
biasanya mereka hanya berobat ke warung saja. Resiko yang dapat terjadi dengan cara
mencari bantuan kesehatan seperti ini adalah terjadi komplikasi atau sakitnya semakin
parah. Dampak yang lebih luas adalah bila datang ke rumah sakit dan tidak tertolong,
mereka menganggap tenaga kesehatan di rumah sakit tidak cekatan sehingga jiwa
anggota keluarga tidak tertolong. Di lain pihak bila dukun tidak berhasil
menyembuhkan anggota keluarga mereka, keluarga akan mengatakan mereka belum
berjodoh dengan pengobatan alternatif/dukun. (Sudiharto, 2007).

3. Pelaksanaan Tugas Kesehatan Keluarga Suku Minangkabau


Pengertian sehat-sakit menurut masyarakat suku Minangkabau tidak terlepas
dari tingkat pengetahuan yang dimiliki oleh masyarakat tersebut. Pada umumnya,
masyarakat menganggap bahwa seseorang dikatakan sehat adalah seseorang yang
memiliki jasmani dan rohani yang sehat, serta dapat melakukan aktivitasnya sehari-
hari. Sedangkan untuk masalah sakit, sebagian masyarakat Minangkabau masih ada
yang mempercayai bahwa selain disebabkan karena penyebab fisik, juga disebabkan
karena adanya gangguan roh-roh halus. Bagi masyarakat Minangkabau, dikatakan
sakit, jika seseorang tersebut tidak dapat melakukan aktivitasnya sehari-hari seperti
berdagang, bekerja di kantor, berladang dan lain-lain.
Walaupun seseorang tersebut sudah memiliki gejala sakit seperti sakit kepala,
flu ataupun masuk angin namun masih dapat beraktivitas belum diartikan sebagai
sakit. Dan jikalau kepala keluarga sakit, maka secara tidak langsung semua anggota
keluarga yang ada di dalam keluarga tersebut akan sakit. Dalam hal pengambilan
keputusan untuk menentukan tindakan yang akan dilakukan jika salah seorang
anggota keluarga sakit, biasanya diputuskan secara bersama oleh anggota keluarga
tersebut. Namun adakalanya, jika keluarga tidak mampu lagi dalam hal dana ataupun
penyakitnya sudah terlalu berat maka keluarga tersebut meminta bantuan dari
keluarga yang lain atau bahkan dari organisasi yang diikuti oleh keluarga tersebut.
Keputusan keluarga tergantung jenis penyakit yang terjadi pada orang tersebut.
Sebelum pelayanan medis berkembang dan bertambah banyak seperti
sekarang ini, kebanyakan keluarga membawa yang sakit ke pengobatan alternatif
(dukun). Untuk saat ini keluarga sudah terlebih dahulu membawa ke dokter ataupun
pelayanan medis yang lain. (Piliang, 2009).
Ada beberapa jenis penyakit yang menurut masyarakat Minangkabau tidak
dapat dibawa ke pelayanan medis seperti penyakit busung, kusta atau pada suku
Minangkabau dikenal dengan ’biriang’ dan patah tulang yang biasanya hanya dibawa
kepada dukun patah. Menurut mereka, penyakit busung dan kusta tersebut disebabkan
karena guna-guna (ulah seseorang). Penyakit busung (perut membuncit, namun badan
semakin kurus) biasanya disebabkan karena seseorang tersebut terkena kutukan
karena telah memakan ikan (benda) larangan, dan untuk sembuh harus berobat kepada
orang yang telah membuat larangan tersebut (Caniago, 2009).
Dalam hal perawatan orang sakit, seiring dengan perkembangan teknologi dan
tingginya tingkat pengetahuan, keluarga/masyarakat Minangkabau lebih memilih
untuk meneruskan pengobatan yang didapat dari petugas kesehatan. Namun
adakalanya, keluarga memberikan perawatan-perawatan sederhana seperti jika
seseorang demam hanya dikompres dengan daun-daun yang sifatnya dingin (kembang
semangkok, daun jarak), jika batuk diberikan air daun kacang tujuh yang telah
diremas, ibu postpartum (masa sesudah persalinan dan kelahiran bayi) biasanya
diberikan tambahan seperti minum jamu ataupun ramuan-ramuan tertentu. Dalam hal
mepertahankan suasana rumah, suku Minangkabau biasanya berusaha agar posisi dan
letak rumah menghadap ke arah matahari terbit. Dengan tujuan agar rumah tersebut
mendapat sinar matahari yang cukup. Kebersihan rumah pada suku ini, tergantung
pada kegiatan yang dimiliki oleh keluarga tersebut, khususnya bagi Minang
perantauan yang biasanya memiliki usaha/industri rumah tangga di rumah. Mitos
yang ada pada suku Minangkabau bahwa rumah harus dibersihkan dari depan ke
belakang dengan tujuan tidak menolak rejeki yang akan datang pada rumah tersebut.
Keluarga Minangkabau memiliki waktu untuk berkumpul bersama keluarga pada saat
makan malam yang digunakan untuk mendiskusikan ataupun mengetahui
perkembangan dari setiap anggota keluarga tersebut.
Dalam hal pemanfaatan fasilitas kesehatan, hampir sebagian besar masyarakat
Minangkabau sudah lebih memilih untuk berobat kepada petugas kesehatan.
Kepercayaan pada fasilitas kesehatan tergantung pada individu tersebut, lebih percaya
kepada petugas kesehatan atau pengobatan alternatif (Caniago, 2009).

4. Kesimpulan
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa masyarakat Minangkabau
dulunya memang kurang akan pengetahuan tentang kesehatan. Mereka masih
mempercayai mitos-mitos yang beredar di kalangan tersebut. Namun kini, masyarakat
Minangkabau berkembang mengikuti zaman seperti yang dijelaskan diatas, sebagian
besar masyarakat Minangkabau lebih memilih untuk berobat kepada petugas
kesehatan, namun tetap tergantung pada masing-masing individu tersebut. Pengertian
sehat sakit menurut masyarakat Minangkabau hampir sama dengan konsep sehat sakit
menurut WHO. Bila menurut masyarakat Minangkabau sehat merupakan keadaan
sehat jasmani dan rohani serta dapat melakukan aktivitas, sedangkan menurut WHO
sehat merupakan keadaan yang mana bukan hanya jasmani dan rohani namun juga
keadaan sosial mereka serta tidak hanya terbebas dari penyakit saja.