Anda di halaman 1dari 64

Laporan Realisasi Anggaran

Laporan Realisasi Anggaran (LRA) adalah laporan yang menyajikan informasi


realisasi pendapatan, belanja, transfer, surplus/defisit, pembiayaan, dan sisa lebih/kurang
pembiayaan anggaran, yang masing-masing diperbandingkan dengan anggarannya dalam satu
periode.
Laporan Realisasi Anggaran menyajikan ikhtisar sumber, alokasi, dan pemakaian sumber daya
keuangan yang dikelola oleh pemerintah pusat/daerah, yang menggambarkan perbandingan antara
anggaran dan realisasinya dalam satu periode pelaporan.[1]
Unsur yang dicakup secara langsung oleh LRA terdiri atas pendapatan-LRA, belanja, transfer, dan
pembiayaan. Masing-masing unsur dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Pendapatan-LRA adalah penerimaan oleh Bendahara Umum Negara/Bendahara Umum
Daerah atau oleh entitas pemerintah lainnya yang menambah Saldo Anggaran Lebih dalam
periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah, dan tidak perlu
dibayar kembali oleh pemerintah.
2. Belanja adalah semua pengeluaran oleh Bendahara Umum Negara/Bendahara Umum Daerah
yang mengurangi Saldo Anggaran Lebih dalam periode tahun anggaran bersangkutan yang tidak
akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah.
3. Transfer adalah penerimaan atau pengeluaran uang oleh suatu entitas pelaporan dari/kepada
entitas pelaporan lain, termasuk dana perimbangan dan dana bagi hasil.
4. Pembiayaan (financing) adalah setiap penerimaan/pengeluaran yang tidak berpengaruh pada
kekayaan bersih entitas yang perlu dibayar kembali dan/atau akan diterima kembali, baik pada
tahun anggaran bersangkutan maupun tahun-tahun anggaran berikutnya, yang dalam
penganggaran pemerintah terutama dimaksudkan untuk menutup defisit atau memanfaatkan
surplus anggaran. Penerimaan pembiayaan antara lain dapat berasal dari pinjaman dan hasil
divestasi. Pengeluaran pembiayaan antara lain digunakan untuk pembayaran kembali pokok
pinjaman, pemberian pinjaman kepada entitas lain, dan penyertaan modal oleh pemerintah.

Laporan Arus Kas


Laporan Arus Kas (LAK) adalah laporan yang menyajikan informasi arus masuk dan keluar kas
selama periode tertentu yang diklasifikasikan berdasarkan aktivitas operasi, investasi aset
nonkeuangan, pembiayaan, dan nonanggaran.
LAK menyajikan informasi kas sehubungan dengan aktivitas operasi, investasi, pendanaan, dan
transitoris yang menggambarkan saldo awal, penerimaan, pengeluaran, dan saldo akhir kas
pemerintah pusat/daerah selama periode tertentu.
Unsur yang dicakup dalam Laporan Arus Kas terdiri atas penerimaan dan pengeluaran kas, yang
masing-masing dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Penerimaan kas adalah semua aliran kas yang masuk ke Bendahara Umum Negara/Daerah.
2. Pengeluaran kas adalah semua aliran kas yang keluar dari Bendahara Umum Negara/Daerah.

Catatan atas Laporan Keuangan


Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) adalah salah satu unsur laporan keuangan yang
menyajikan informasi tentang penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang
disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, dan Laporan Arus Kas (LAK) dalam
rangka pengungkapan yang memadai.
CaLK meliputi penjelasan naratif atau rincian dari angka yang tertera dalam LRA, Laporan
Perubahan SAL, Laporan Operasional (LO), Laporan Perubahan Ekuitas (LPE), Neraca, dan LAK.
CaLK juga mencakup informasi tentang kebijakan akuntansi yang dipergunakan oleh entitas
pelaporan dan informasi lain yang diharuskan dan dianjurkan untuk diungkapkan di dalam Standar
Akuntansi Pemerintahan (SAP) serta ungkapan-ungkapan yang diperlukan untuk menghasilkan
penyajian laporan keuangan secara wajar.
CaLK mengungkapkan/menyajikan/menyediakan hal-hal sebagai berikut:
1. Mengungkapkan informasi umum tentang Entitas Pelaporan dan Entitas Akuntansi;
2. Menyajikan informasi tentang kebijakan fiskal/keuangan dan ekonomi makro;
3. Menyajikan ikhtisar pencapaian target keuangan selama tahun pelaporan berikut kendala dan
hambatan yang dihadapi dalam pencapaian target;
4. Menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan-kebijakan
akuntansi yang dipilih untuk diterapkan atas transaksi-transaksi dan kejadian-kejadian penting
lainnya;
5. Menyajikan rincian dan penjelasan masing-masing pos yang disajikan pada lembar muka
laporan keuangan;
6. Mengungkapkan informasi yang diharuskan oleh Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintahan
(PSAP) yang belum disajikan dalam lembar muka laporan keuangan;
7. Menyediakan informasi lainnya yang diperlukan untuk penyajian yang wajar, yang tidak
disajikan dalam lembar muka laporan keuangan;
Biaya Tetap Biaya Variabel

Pengertian Biaya yang tetap sama, terlepas dari Biaya yang berubah dengan
volume yang dihasilkan, dikenal perubahan hasil diperhitungkan
sebagai biaya tetap sebagai biaya variabel

Sifat Tergantung waktu Tergantung volume

Terjadi ketika Biaya tetap itu pasti, biaya tetap Biaya variable terjadi hanya ketika
terjadi baik unit yang dihasilkan ada unit dihasilkan
atau tidak

Biaya satuan Biaya tetap berubah pada unit, yaitu Biaya variable tetap sama, tiap unit
sebagaimana unit yang dihasilkan
menambah, biaya tetap per unit
turun dan sebaliknya, jadi biaya
tetap per unit terbalik sebanding
dengan jumlah hasil yang
diproduksi

Perilaku Tetap konstan untuk periode waktu Berubah seiring perubahan level
tertentu output

Kombinasi dari Biaya Overhead Produksi, Biaya Berubah seiring perubahan level
Overhead administrasi dan output
Overhead Distribusi dan Penjualan Material Lansung, Pekerja
Tetap Langsung, Pengeluaran Langsung,
Overhead Produksi Tetap, Overhead
Distribusi dan Penjualan Variabel

Contoh Depresiasi, sewa, gaji, asuransi, Material yang dipakai, upah, komisi
pajak, dll penjualan, biaya packing, dll
Biaya langsung adalah elemen biaya yang memiliki kaitan langsung dengan volume
pekerjaan yang tertera dalam item pembayaran atau menjadi komponen permanen hasil akhir
proyek. Komponen biaya langsung terdiri dari biaya upah pekerja, operasi peralatan, material.
Termasuk kategori biaya langsung adalah semua biaya yang berada dalam kendali subkontraktor.
Biaya tidak langsung merupakan elemen biaya yang tidak terkait langsung dengan
besaran volume komponen fisik hasil akhir proyek, tetapi mempunyai kontribusi terhadap
penyelesaian kegiatan atau proyek. Elemen biaya ini umumnya tidak tertera dalam daftar item
pembayaran dalam kontrak atau tidak dirinci. Yang termasukdalam kategori biaya tidak langsung
antara lain adalah: biaya overhead, pajak (taxes), biaya umum (general conditions), dan biaya
risiko. Biaya risiko adalah elemen biaya yang mengandung dan/atau dipengaruhi ketidakpastian
yang cukup tinggi, seperti biaya tak terduga (contingencies) dan keuntungan (profit).
Komponen biaya tak langsung proyek konstruksi dalam proses penawaran biasanya
dimasukkan oleh kontraktor dalam setiap jenis pekerjaan. Kontraktor nasional di Indonesia pada
umumya tidak melakukan identifikasi biaya tidak langsung secara detail sebelumnya. Kontraktor
juga diyakini tidak memiliki mekanisme yang akurat dalam menentukan besarnya masing-masing
variabel biaya tidak langsung. Penentuan alokasi biaya tidak tidak langsung yang biasa dilakukan
adalah melalui presentase yang besarnya berbeda-beda, tergantung pengalaman kontraktor.
Penetapan besarnya persentase ini juga dipengaruhi oleh persepsi risiko oleh kontraktor terhadap
tiap jenis poyek, karena tiap proyek memiliki karakteristik tertentu dan ketidakpastian yang
berbeda. Dalam menyikapi hal ini kontraktor-kontraktor di Indonesia cenderung tidak terlalu
memperhatikan komponen biaya tidak langsung secara komprehensif dalam mengestimasi biaya
konstruksi. Sebagai perbandingan, studi yang dilakukan oleh Tah et al (1994) menyimpulkan hal
yang serupa, di mana dari tujuh perusahaan konstruksi yang disurvei kesemuanya
menggantungkan pada kemampuan estimasi subyektif berdasarkan pengalaan yang lalu.

Metode harga pokok pesanan merupakan metode pengumpulan biaya produksi untuk
menetapkan harga pokok produksi yang dibuat perusahaan berdasarkan pesanan. Dalam
perhitungan biaya job order, setiap pesanan merupakan satuan akuntansi yang didalamnya
dibebankan biaya bahan, upah, dan biaya overhead dengan menggunakan nomor order dan biaya
untuk setiap pesanan pelanggan dicatat dalam kartu biaya job order. Tujuan dari metode harga
pokok pesanan adalah untuk menentukan harga pokok produk masing-masing pesanan, baik secara
keseluruhan dari setiap pesanan atau persatuan. Metode ini menghitung biaya-biaya produksi dari
pesanan tertentu yang dikumpulkan dan kemudian kalkulasi harga pokok produksi persatuan
dihitung dengan cara membagi total biaya produksi untuk pesanan tersebut.

Metode harga pokok proses adalah metode pengumpulan biaya produksi melalui departemen
produksi atau pusat pertanggungjawaban biaya, yang umumnya diterapkan pada perusahaan yang
menghasilkan produk atau massa. Karakter produksinya sbb:
1. Produk yg dihasilkan merupakan produk standar
2. Produk yang dihasilkan dari bulan ke bulan adalah sama
3. Kegiatan produksi dimulai dengan diterbitkannya perintah produksi yang berisi rencana
produksi produk standar untuk jangka waktu tertentu

Penentuan harga pokok berdasar aktivitas adalah system yang terdiri atas dua tahap yaitu
pertama melacak biaya pada berbagai aktivitas, dan kemudian ke berbagai produk. Penentuan
harga pokok produk secara konvensional juga melibatkan dua tahap, namun pada tahap pertama,
biaya- biaya tidak dilacak ke aktivitas melainkan ke suatu unit organisasi misalnya pabrik atau
departemen-departemen. Baik pada system konvensional maupun system ABC, tahap ke dua
meliputi pelacakan biaya ke berbagai produk. Perbedaan prinsip perhitungan diantara kedua
metode tersebut adalah jumlah cost driver yang digunakan. Sistem penentuan harga pokok secara
ABC menggunakan cost driver dalam jumlah yang jauh lebih banyak dibandingkan dengan dalam
system konvensional yang hanya menggunakan satu atau dua cost driver berdasarkan unit. Sebagai
hasilnya, metode ini meningkatkan ketelitian. Namun ditinjau dari sudut manajerial,
bagaimanapun juga sisten ABC menawarkan lebih dari hanya ketelitian informasi tentang biaya
dari berbagai aktivitas. Pengetahuan atas biaya dari berbagai aktivitas tersebut memungkinkan
para manajer untuk menfokuskan diri pada aktivitas-aktivitas yang memberikan peluang untuk
melakukan penghematan biaya dengan cara: menyederhanakan aktivitas, melaksanakan aktivitas
dengan lebih efisien, meniadakan aktivitas yg tak bernilai tambah, dsb. Ada dua tahap penentuan
harga pokok produk:

PROSEDUR TAHAP PERTAMA


A. Penggolongan biaya
Berbagai aktivitas diklasifikasikan ke dalam beberapa kelompok yang mempunyai suatu
interpretasi fisik yang mudah dan jelas serta cocok dengan segmen-segmen proses produksi
yang dapat dikelola
B. Mengasosiasi berbagai biaya dengan berbagai aktivitas
Menghubungkan berbagai biaya dengan setiap kelompok-kelompok biaya yang homogen
ditentukan
C. Penentuan kelompok-kelompok biaya (cost pools) yang homogen.
Kelompok biaya homogen (homogenius cost pool) adalah sekumpulan biaya overhead yang
terhubungkan secara logis dengan tugas-tugas yang dilaksanakan dan berbagai macam biaya
tersebut dapat diterangkan oleh cost driver tunggal. Jadi agar dapat dimasukkan ke dalam suatu
kelompok biaya yang homogen, aktivitas-aktivitas overhead harus dihubungkan secara logis
dan mempunyai rasio konsumsi yang sama untuk semua produk. Rasio konsumsi yang sama
menunjukkan eksistensi dari sebuah cost driver.
D. Penentuan tarif kelompok (pool rate)
Tarif kelompok (pool rate) adalah tariff biaya overhead per unit cost driver yang dihitung
dengan rumus total biaya overhead untuk kelompok aktivitas tertentu dibagi dasar pengukur
aktivitas kelompok tersebut.

PROSEDUR TAHAP KEDUA


Biaya untuk setiap kelompok biaya overhead dilacak ke berbagai jenis produk. Hal ini
dilaksanakan dengan menggunakan tariff kelompok yang dikonsumsi oleh setiap produk. Ukuran
ini merupakan penyederhanaan kuantitas cost driver yang digunakan oleh setiap produk.
Master Budget
Budget adalah ungkapan kuantitatif dari rencana yang ditujukan oleh manajemen selama
periode tertentu dan membantu mengkoordinasikan apa yang dibutuhkan untuk diselesaikan
terhadap rencana pelaksanaan. Budget biasanya termasuk aspek finansial dan non finansial dari
suatu rencana, dan membantu sebagai blueprint bagi perusahaan untuk melakukan pekerjaan di
masa depan. Fainsial budget mengukur nilai yang diharapkan oleh manajemen mengacu terhadap
income, cash flow, dan posisi finansial perusahaan. Laporan keuangan bukan hanya
mempersiapkan laporan periode yang telah lalu, tapi laporan keuangan juga bisa melakukan
persiapan untuk periode ke depan, sebagai contoh budget untuk laba rugi, budget untuk laporan
arus kas, dan budget untuk neraca keuangan. Berdasarkan Cost Accounting, 12th Edition by
Horngren 2005 (pg 171) yang mendasari atas budget finansial adalah budget non finansial, seperti
jumlah unit yan diproduksi atau terjual, jumlah karyawan, dan angka dari produk baru yang sedang
diluncurkan ke pasar.
Master budget adalah ringkasan dari proyek finansial dari semua budget perusahaan, yang
membantu manajemen menggambarkan rencana operasi dan finansial perusahaan untuk periode
tertentu dan ini sudah termasuk semua bentuk laporan keuangan perusahaan. Master budget adalah
suatu rencana yang telah ditandai oleh perusahaan untuk diselesaikan pada periode budget tersebut.
Master budget dikembangkan dari keputusan operasi dan finansial yang dibuat oleh manajer.
Keputusan operasi berhubungan dengan bagaimana menggunakan sumberdaya dari perusahaan
yang terbatas sebaik mungkin, sedangkan keputusan finansial berhubungan dengan bagaimana
mendapatkan sumber pendanaan untuk memperoleh sumberdaya yang dibutuhkan.

Penyusunan Induk Anggaran (Master Budget)


Induk Anggaran (Master Budget) adalah sebuah anggaran komprehensif yang menyatakan
keseluruhan rencana bisnis bagi seluruh perusahaan untuk suatu periode yang mencakup satu tahun
atau kurang.
Induk Anggaran terdiri atas dua komponen utama, yakni:
(1) Anggaran operasi, dan
(2) Anggaran keuangan
Anggaran Operasi merupakan deskripsi rinci pendapatan dan biaya yang dibutuhkan untuk
mencapai hasil laba yang memuaskan.
Anggaran Keuangan memperlihatkan ekspektasi arus kas dan posisi keuangan dengan kegiatan-
kegiatan usaha yang terencana.
Induk Anggaran untuk sebuah perusahaan pabrikasi akan berisi anggaran berikut :
INDUK ANGGARAN
Anggaran Operasi Anggaran Keuangan
Angg. Penjualan Anggaran pengeluaran modal
Angg. Produksi Anggaran Kas
Angg. Bhn. Baku Langsung Laporan Laba Rugi dianggarkan
Angg. Tenaga Kerja Lgs Neraca Dianggarkan.
Angg. Overhead pabrikasi
Angg. Persed. Akhir Barang Jadi.
Angg. Beban Penjualan & Adm.
PENGERTIAN ACTIVITY-BASED BUDGETING
Activity-based budgeting merupakan pendekatan baru dalam proses penyusunan anggaran.
Pendekatan ini merupakan proses merencanakan dan mengendalikan aktivitas yang diharapkan
dapat mencapai efektivitas biaya dalam anggaran, sehingga memenuhi beban kerja yang
diramalkan dan tujuan strategik yang telah disepakati. Activity-based budgeting merupakan proses
penyusunan anggaran yang berfokus pada improvementterhadap sistem yang digunakan oleh
organisasi agar dapat menghasilkan value bagi pelanggan (Brimson dan Antos, 1999) dan
berfokus pada proses secara integral terhadap suatu organisasi (McClenahen, 1995), serta
merupakan proses perencanaan dan pengendalian aktivitas-aktivitas yang diharapkan oleh
organisasi agar mencapai anggaran yang cost-effective dan memenuhi workload sesuai dengan
tujuan dan strategi organisasi (Antos,1997).
Activity-based budgeting dapat diaplikasikan pada semua organisasi dan fungsi, termasuk
untuk perusahaan jasa, dan fungsi-fungsi overhead, sedangkan pada perusahaan
manufaktur, konsep ini mula-mula diterapkan (lihat misalnya, Newberry dan Bacon, 1994; dan
Brinson dan Antos, 1998). Adanya tantangan baru mendorong semua organisasi komersial ataupun
non komersial memusatkan perhatiannya pada overall cost.
Activity-based budgeting berbeda secara signifikan jika dibandingkan dengan traditional
budgeting. Secara ringkas perbedaan traditional budgeting dan activity-based
budgeting dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Perbedaan Traditional Budgeting Activity-Based Budgeting


Fokus Fungsi Sistem
Penyusun Manajer system, Ketua
Anggaran Manajer Fungsional tim,Manajer fungsi utama, Manajer
(Budgetees) fungsi pendukung
Menjalankan bagian dari sistem Melakukan improvement terhadap
yang ada, Memenuhi kebutuhan system, Memuaskan
Tujuan
fungsi, Melaksanakan kebutuhancustomers, Meraih
pengendalian, Cost control kesempatan,Cost reduction

Analisis varians (ANOVA) adalah kumpulan dari model statistik yang digunakan untuk
menganalisis perbedaan rata-rata antara kelompok dan prosedur terkait (seperti “variasi” antara
kelompok), yang dikembangkan oleh ahli statistik dan evolusi biologi Ronald Fisher. Dalam
pengaturan ANOVA, varians diamati pada variabel tertentu dibagi menjadi komponen disebabkan
berbagai sumber variasi. Dalam bentuk yang paling sederhana, ANOVA menyediakan uji statistik
apakah rata-rata beberapa kelompok adalah sama, dan adanya generalisasi t-test untuk lebih dari
dua kelompok. Seperti melakukan beberapa dua-sample t-tes akan menghasilkan peningkatan
kesempatan dalam mengamati tipe I kesalahan statistik, maka ANOVA berguna untuk
membandingkan (pengujian) tiga atau lebih berarti (kelompok atau variabel) untuk signifikansi
statistik.

Biaya Kualitas atau Biaya Mutu (Quality Cost) adalah Biaya-biaya yang timbul dalam
penanganan masalah Kualitas (Mutu), baik dalam rangka meningkatkan Kualitas maupun biaya
yang timbul akibat Kualitas yang buruk (Cost of Poor Quality). Biaya mutu tidak hanya biaya
untuk memperoleh mutu kualitas tapi juga merupakan biaya-biaya yang timbul untuk mencegah
terjadinya mutu yang rendah. Biaya mutu dapat dikelompokkan ke dalam tiga klasifikasi
besar: biaya pencegahan (prevention cost), biaya penilaian (appraisal cost) dan biaya
kegagalan (failure cost).
 Biaya pencegahan atau preventif adalah biaya yang terjadi untuk mencegah terjadinya
kegagalan produk atau produksi produk-produk yang tidak sesuai dengan spesifikasi yang
ditetapkan. Biaya pencegahan adalah biaya yang dikeluarkan untuk mendesain produk dan
sistem produksi bermutu tinggi, termasuk biaya untuk menerapkan dan memelihara sistem
tersebut. Pencegahan kegagalan produk dimulai dengan mendesain mutu ke dalam produk dan
proses produksi.
Biaya ini meliputi quality engineering (rekayasa kualitas), quality training program (program
pelatihan kualitas), quality planning (perencanaan kualitas), quality reporting (pelaporan
kualitas), quality audits (pemeriksaan kualitas), quality circles (gugus kendali kualitas), supplier
evaluation and selection (penilaian dan pemilihan pemasok), field trials, design
review (penelaahan terhadap desain produk), design engineering, reliability engineering, special
project dan new product review.
 Biaya penilaian adalah biaya yang terjadi untuk menentukan apakah produk yang dihasilkan
sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan.
Biaya ini meliputi inspecting and testing raw material (inspeksi dan pengujian bahan
baku), packaging inspection (inspeksi produk selama dan setelah proses produksi), supplier
verification(verifikasi pemasok), product acceptance (pengambilan sampel dari satu batch produk
jadi untuk menentukan kualitas produk), process acceptance (pengambilan sampel dari proses
produksi yang sedang berjalan), supervising appraisal activities (aktivitas
pengawasan), measurement equipment, inspection and test equipment, process control
measurement, field inspection (pengujian di lapangan), design verification, material inspection,
product inspection, inspection and test labor, product testing, on line product****, process
inspection, outside endorsements dan biaya untuk memperoleh informasi dari pelanggan
mengenai tingkat kepuasan mereka atas produk tersebut.
 Biaya kegagalan adalah biaya yang terjadi saat produk gagal, kegagalan tersebut dapat terjadi
secara internal dan eksternal.
Biaya kegagalan internal adalah biaya yang terjadi ketika produk yang tidak sesuai dengan
spesifikasi dapat dideteksi sebelum dikirim ke konsumen (selama proses produksi). Biaya ini
meliputi scrap (sisa bahan baku), spoilage (barang cacat), rework (pengerjaan
kembali), reinspection (inspeksi kembali), retesting (pengetesan kembali), design
changes (perubahan desain), downtime due to machine failures on material shortages/ defective
parts/ defect related/ due to defects, disposal costs dan biaya terhentinya mesin karena kerusakan
atau karena kehabisan bahan baku.
Biaya kegagalan eksternal adalah biaya yang terjadi ketika produk-produk yang tidak sesuai
dengan spesifikasi dideteksi setelah dikirim ke pelanggan. Biaya ini meliputi return and
allowances because of poor quality, repairs (perbaikan), warranties (mengganti produk yang
rusak selama masa garansi), customer dissatisfaction/ customer complaints, lost market share,
estimated lost sales because of poor product performance (hilangnya penjualan akibat
ketidakpuasan pelanggan), complaint adjustment (menangani keluhan pelanggan), order
cancellation, product liability, liability claim, recalls/ cost of recalls, returned goods, biaya
pemasaran produk atas kegagalan eksternal dan biaya distribusi produk yang dikembalikan.
Biaya mutu dapat diklasifikasikan sebagai observable quality cost atau hidden quality cost.
 Observable quality cost adalah biaya-biaya yang tersedia atau berasal dari catatan akuntansi
perusahaan.
 Hidden quality cost adalah opportunity cost yang dihasilkan dari mutu yang rendah.
Seluruh biaya mutu dapat diobservasi dan seharusnya tersedia dalam catatan akuntansi kecuali lost
sales, customer dissatisfaction/ customer complaints dan lost market share. Seluruh hidden
quality cost termasuk kategori biaya kegagalan eksternal. Hidden quality cost ini signifikan dan
seharusnya diestimasi.

Manajemen Mutu Terpadu-MMT (Total Quality Management-TQM) merupakan suatu


sistem nilai yang mendasar dan komperhensip dalam mengelola organisai dengan tujuan
meningkatkan kinerja secara berkelanjutan dalam jangka panjang dengan memberikan perhatian
secara khusus pada tercapainya kepuasan pelanggan dengan tetap memperhatikan secara memadai
terhadap terpenuhinya kebutuhan seluruh stakeholders organisasi yang bersangkutan. Masalah
kualitas dalam MMT menuntut adanya keterlibatan dan tanggung jawab semua pihak dalam
organisasi.
Karena itu, pendekatan MMT tidak hanya bersifat parsial, tetapi komperhensip dengan melibatkan
semua pihak yang berkepentingan dengan produk yang dihasilkan. Masalah kualitass juga tidak
lagi dimaknai dan dipandang sebagai masalah teknis, tetapi lebih berorientasi pada terwujudnya
kepuasan konsumen atau pelanggan. MMT juga melibatkan faktor fisik dan faktor non fisik,
semisal budaya organisasi, gaya kepemimpinan dan pengikut. Keterpaduan faktor-faktor ini akan
mengakibatkan kualitass pelayanan menjadi lebiih meningkat dan bermakna.
MMT juga diasumsikan sebagai suatu filosofi manajemen yang melembagakan sumber daya yang
ada, terencana, berkesinambungan dan mengasumsikan peningkatan kualitas dari hasil semua
aktivitas yang terjadi dalam organisasi: bahwa semua fungsi manajemen yang ada dan semua
tenaga untuk berpartisipasi dalam proses perbaikan.
Dengan peningkatan sistem kualitas dan budaya kualitas, proses MMT bermula dari pelanggan
dan berakhir pada pelanggan pula. Proses MMT memiliki input yang spesifik (keinginan,
kebutuhan dan harapan pelanggan), mentransformasi (memproses) input dalam organisasi untuk
memproduksi barang atau jasa yang pada gilirannya memberikan kepuasan kepada pelanggan
(output).
Manajemen Mutu Terpadu merupakan upaya untuk mengoptimalkan organisai dalam rangka
kepuasan pelanggan. Dengan demikian Manajemen Mutu Terpadu berkaitan dengan:
 Fokus pada pelanggan, baik pelanggan internal maupun eksternal.
 Memiliki obsesi yang tinggi terhadap kualitas
 Menggunakan pendekatan ilmiah dalam pengambilan keputusan dan pemecahan masalah
 Memiliki komitmen jangka penjang
 Membutuhkan kerjasama tim
 Memperbaiki proses secara berkesinambungan
 Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan
 Memberikan kebebasan yang terkendali
 Memiliki kesatuan tujuan
 Adanya keterlibatan dan pemberdayaan karyawan
Konsep MMT pada dasarnya adalah menekankan pada kepuasan pelanggan dan pelayanan yang
bermutu. Dalam dunia pendidikan, manfaat penerapan MMT adalah perbaikan, pelayanan,
penguragan biaya, dan kepuasan pelanggan. Perbaikan progresif dalam system manajemen dan
kualitas pelayanan menghasilkan peningkatan kepuasan pelanggan.
Dalam kerangka manajemen pengembangan mutu terpadu, usaha pendidikan tidak lain adalah
merupakan usaha “jasa” yang memberikan pelayanan kepada pelanggannya yang utamanya yaitu
kepada mereka yang belajar dalam lembaga pendidikan tersebut. Para pelanggan layanan
pendidikan dapat terdiri dari berbagai unsur paling tidak empat kelompok (Sallis, 1993).
 yang belajar, bisa merupakan mahasiswa/pelajar/murid/peserta belajar yang biasa disebut
klien/pelanggan primer (primary external customers).
 Kedua, para klien terkait dengan orang yang mengirimnya kelembaga pendidikan, yaitu orang
tua/lembaga tempat klien tersebit bekerja, dan mereka ini kita sebut sebagai pelanggan
sekunder (secondary external customers).
 Ketiga, bersifat tersier adalah lapangan kerja, bisa pemerintah maupun masyarakat pengguna
output pendidikan (tertiary external customers).
 Keempat, dalam hubungan kelembagaan masih terdapat pelanggan lainnya yaitu yang berasal
dari intern lembaga, mereka itu adalah para guru/dosen/tutor dan tenaga administrasi lembaga
pendidikan, serta pimpinan lembaga pendidikan (internal customers).

Return on Invesment merupakan rasio yang menunjukkan hasil dari jumlah aktiva yang
digunakan dalam perusahaan atau suatu ukuran tentang efisiensi manajemen. Rasio ini
menunjukkan hasil dari seluruh aktiva yang dikendalikan dengan mengabaikan sumber pendanaan,
rasio ini biasanya diukur dengan persentase.

Faktor yang Dapat Memengaruhi ROI Diantaranya:


1. Turnover dari operating assets atau tingkat perputaran aktiva yang digunakan untuk kegiatan
operasional, yaitu kecepatan berputarnya operating assets dalam suatu periode tertentu.
2. Profit margin, adalah besarnya keuntungan operasi yang dinyatakan dalam bentuk persentase
dan jumlah penjualan bersih. Profit margin dapat mengukur tingkat keuntungan perusahaan dan
dihubungkan dengan penjualannya.
ROI sebagai bentuk teknik analisa rasio profitabilitas sangat penting dalam suatu perusahaan
karena dengan mengetahui ROI, pengusaha dapat mengetahui seberapa efisien perusahaan guna
memanfaatkan aktiva untuk kegiatan operasional dan dapat memberikan informasi ukuran
profitabilitas perusahaan.

Kegunaan Analisis Return on Invesment (ROI)


1. Jika perusahaan telah menjalankan praktik akuntansi yang baik, maka manajemen dengan
menggunakan teknik analisa ROI dapat mengukur efisiensi penggunaan modal yang bekerja,
efisiensi produksi, dan efisiensi bagian penjualan.
2. Apabila perusahaan mempunyai data industri sehingga dapat diperoleh rasio industri, maka
dengan analisa ROI dapat dibandingkan efisiensi penggunaan modal pada perusahaannya dengan
perusahaan lain yang sejenis, sehingga dapat diketahui apakah perusahaannya berada di bawah,
sama, atau di atas rata-rata. Dengan demikian akan dapat diketahui di mana kelemahan dan
kekuatan perusahaan dibandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis.
3. Analisa ROI juga dapat digunakan untuk mengukur efisiensi tindakan-tindakan yang dilakukan
oleh masing-masing divisi atau bagian, yaitu dengan mengalokasikan semua biaya dan modal ke
dalam bagian yang bersangkutan.
4. Analisa ROI juga dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas dari masing-masing produk
yang dihasilkan oleh perusahaan.
5. ROI selain berguna untuk keperluan kontrol, juga berguna untuk keperluan perencanaan.
Misalnya ROI dapat digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan jika perusahaan akan
mengadakan ekspansi.

Kelemahan Analisis Return on Investment (ROI)


1. Salah satu kelemahan ROI adalah sulitnya dalam membandingkan ROI suatu perusahaan dengan
perusahaan lain yang sejenis. Hal ini karena terkadang praktik akuntansi yang digunakan oleh
masing-masing perusahaan berbeda-beda. Perbedaan metode dalam penilaian berbagai aktiva
antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lain dapat memberi gambaran yang salah.
2. Kelemahan lain dari teknik analisa ini adalah terletak pada adanya fluktuasi nilai dari uang (daya
belinya).

Cara menghitung ROI


ROI bisa juga diartikan sebagai rasio laba bersih terhadap biaya. Rumus menghitung ROI adalah
sebagai berikut:
ROI = (Total Penjualan-Investasi)
Investasi x 100%

Economic Value Added (EVA) adalah alternatif dari ROI yang merupakan suatu sistem
manajemen keuangan untuk mengukur laba ekonomi dalam suatu perusahaan, yang menyatakan
bahwa kesejahteraan hanya dapat tercipta jika perusahaan mampu memenuhi semua modal biaya
operasi (operating cost) dan biaya modal (cost of capital).
Rumus EVA
EVA = NOPAT – Capital Charges
Keterangan:
NOPAT = Net Operating Profit After Tax/Keuntungan bersih setelah pajak
Capital Charges = Invested Capital x Cost of Capital

Atau bisa juga


EVA= EBIT-Tax-WACC
Ket:
EBIT= Laba Usaha Sebelum Bunga dan Pajak
Tax = Pajak Penghasilan Perusahaan
WACC = Biaya modal rata-rata

Berdasarkan rumus diatas maka terdapat langkah-langkah yang harus dilakukan manajemen
dalam mengukur kinerja perusahaan dengan menggunakan EVA, antara lain:
 Menghitung biaya modal
 Menghitung besarnya struktur permodalan/pendanaan
 Menghitung biaya modal rata-rata tertimbang (WACC)
 Menghitung nilai EVA
Ukuran Kinerja
Hasil penilaian kinerja suatu perusahaan dengan menggunakan ukuran EVA dapat
dikelompokkan kedalam 3 kategori yang berbeda, yaitu sebagai berikut:
Nilai EVA>0 atau EVA bernilai positif
Pada posisi ini berarti manajemen perusahaan telah berhasil menciptakan nilai tambah ekonomi
bagi perusahaan.

Nilai EVA = 0
Pada posisi ini berarti manajemen perusahaan berada pada posisi titik impas. Perusahaan tidak
mengalami kemunduran tetapi sekaligus tidak mengalami kemajuan secara ekonomi

Nilai EVA < 0 atau EVA bernilai negatif


Pada posisi ini berarti tidak terjadi proses pertambahan nilai ekonomis bagi perusahaa, dalam arti
laba yang dihasilkan tidak dapat memenuhi harapan para kreditor dan pemegang saham
perusahaan (investor).

Langkah Perbaikan dan Manfaatnya


Terdapat tiga cara yang dapat ditempuh perusahaan untuk meningkatkan EVA dari tahun ke
tahun, yaitu sebagai berikut:
 Tingkatkan keuntungan tanpa menggunakan penambahan modal
 Merestrukturisasi pendanaan perusahaan yang dapat meminimalkan biaya modalnya
 Investasikan modal pada proyek-proyek dengan return yang tinggi

Keunggulan EVA:
 EVA dapat menyeleraskan tujuan manajemen dan kepentingan pemegang saham dimana
EVA digunakan sebagai ukuran operasional dari manajemen yang mencerminkan
keberhasilan perusahaan didalam menciptakan nilai tambah bagi pemegang saham atau
investor
 EVA memberikan pedoman bagi manajemen untuk meningkatkan laba operasi tanpa
tambahan dana/modal, mengekposur pemberian pinjaman (piutang), dan menginvestasikan
dana yang memberikan imbalan tinggi.
 EVA merupakan sistem manajemen keuangan yang dapat memecahkan semua masalah bisnis,
mulai dari strategi dan pergerakkanya sampai keputusan operasional sehari-hari

Kelemahan EVA:
 Sulitnya menentukan biaya modal yang benar-benar akurat, khususnya biaya modal sendiri.
Terutama dalam perusahaan go public biasanya mengalami kesulitan dalam perhitungan
sahamnya.
 Analisis EVA hanya mengukur faktor kuantitatif saja. Sedangkan, untuk mengukur kinerja
perusahaan secara optimum, perusahaan harus dikur berdasarkan faktor kuantitatif dan
kualitatif

Residual Income (RI) adalah laba yang dihasilkan diatas target pengembalian investasi pada
suatu pusat laba.
RI = Laba – (Investasi x Target ROI)

Keunggulan dan kelemahan RI


Keunggulan RI:
 Membuat semua pusat laba memiliki sasaran yang sama untuk pusat investasi yang sebanding
 Dapat digunakan tarif beban modal yang berbeda untuk aktiva yang memiliki resiko yang
berbeda

Kelemahan RI:
 RI hanya mendorong manajer pusat laba untuk berorientasi pada tujuan-tujuan jangka pendek,
karena kinerjanya dibatasi hanya untuk satu periode akuntansi saja.
 RI sangat dipengaruhi oleh metode depresiasi yang digunakan perusahaan.
 Karena hasil akhir RI adalah berupa angka absolut, bukan rasio maka sulit untuk
membandingkan RI dari satu pusat laba dengan RI dari pusat laba lainnya yang memiliki
jumlah investasi yang berbeda.

AKUNTANSI DASAR

MEMAHAMI SIKLUS AKUNTANSI


- Syarat bukti transaksi menjadi bukti dasar akuntansi

Dilihat dari sumbernya, bukti transaksi dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu.


1. Bukti Internal
Bukti transaksi keuangan yang dibuat oleh pihak di dalam perusahaan dan untuk internal
perusahaan. Berikut adalah macam-macam bukti internal.
a. Bukti kas masuk: bukti bahwa perusahaan telah menerima uang secara tunai.
b. Bukti kas keluar: bukti bahwa perusahaan telah mengeluarkan uang tunai, misalnya
untuk membayar gaji, utang, dan lain-lain.
c. Memo: bukti pencatatan antar bagian atau manajer dengan bagi-bagi yang ada di
lingkungan perusahaan.
2. Bukti Eksternal
Bukti transaksi yang berhubungan dengan pihak di luar perusahaan. Berikut ini adalah macam-
macam bukti eksternal.
a. Faktur (invoice): bukti transaksi pembelian atau penjualan secara kredit.
b. Kuitansi: bukti transaksi penerimaan uang atas pembayaran suatu hal yang dilakukan
secara tunai atau kontan.
c. Nota: bukti transaksi yang diberikan oleh penjual kepada pembeli sebagai bukti
pembelian tunai.
d. Nota debit: bukti transaksi yang dibuat oleh perusahaan untuk dikirim kepada pihak di
luar perusahaan karena ada suatu barang atau jasa yang tidak sesuai dengan pesanan/pembelian
atau rusak.
e. Nota kredit: bukti pemberitahuan atau penghitungan yang dikirim suatu perusahaan
kepada kepada pelanggannya bahwa akunnya telah dikredit sejumlah tertentu.
f. Cek: surat perintah yang dibuat oleh pihak yang mempunyai rekening di bank agar bank
tersebut membayar sejumlah uang kepada pihak yang disebut oleh pemilik rekening bank.
g. Bilyet giro: surat perintah dari nasabah bank kepada bank yang bersangkutan untuk
memindah bukukan sejumlah uang dari rekeningnya ke rekening penerima yang namanya
disebut dalam bilyet giro pada bank yang sama atau bank yang lain.
h. Rekening koran: bukti mutasi kas di bank yang disusun oleh bank untuk para
nasabahnya dan digunakan sebagai dasar penyesuaian pencatatan antara saldo kas menurut
perusahaan dan saldo kas menurut bank.

Macam-Macam Bukti Transaksi


Berikut ini adalah Macam-Macam Bukti Transaksi
1. Kwitansi
Pengertian Kwitansi adalah bukti yang digunakan saat transaksi penerimaan sejumlah uang.
Kwitansi dibuat dan ditandatangani oleh pihak penerima uang dan diserahkan kepada yang
melakukan pembayaran.
Pada umumnya kwitansi sendiri terdiri dari dua bagian, bagian pertama diberikan kepada pihak
yang membayar untuk bukti pencatatan pengeluaran uang, sedangkan bagian yang tertinggal (Sub
atau bonggol kuitansi) dapat dijadikan sebagai bukti pencatatan penerimaan uang.
 tanggal transaksi
 pihak yang memberikan uang
 nominal uang
 maksud dan tujuan dari transaksi pemberian uang tersebut
 tanda tangan serta di tambah dengan materai bila dibutuhkan.

Gambar Contoh Kwitansi


Kwitansi dibuat dan ditandatangani oleh pihak penerima uang dan diserahkan kepada yang
melakukan pembayaran.
2. Nota Kontan
Pengertian Nota kontan adalah dokumen yang dibuat dan dikeluarkan oleh penjual kepada
pembeli. Lembar yang pertama (asli) diserahkan kepada pihak pembeli dan copynya disimpan oleh
pihak penjual sebagai bukti transaksi atas penjualan tunai.
Nota kontan memuat informasi berupa:
 Nama perusahaan sebagai pihak yang mengeluarkan nota
 Nomor nota
 Tanggal transaksi
 Jenis barang
 Jumlah barang
 Harga satuan
 Jumlah harga

3. Faktur ( Invoice )
Pengertian Faktur merupakan pernyataan tertulis mengenai barang yang dijual, baik jumlah dan
harganya. Faktur dikeluarkan oleh pihak yang menjual kepada pihak pembeli. Faktur berfungsi
untuk bahan pertimbangan pembeli untuk meneliti barang-barang yang dibelinya. Bukti ini akan
diperlukan juga loh saat terjadi retur pembelian atau retur penjualan.
Faktur sendiri dibedakan menjadi dua yaitu faktur pembelian dan faktur penjualan.
Bagi pihak pembeli, faktur yang diterima merupakan faktur pembelian, tetapi bagi penjual, faktur
yang diterima merupakan faktur penjualan.
Faktur memuat informasi yang terdiri dari :
 Nama dan alamat penjual
 Nomor faktur
 Nama dan alamat pembeli
 Tanggal pesanan
 Syarat pembayaran
 Keterangan mengenai barang (jenis barang, harga satuan, barang kuantitas barang dan
jumlah harga).
Contoh Faktur

Contoh
Invoice
4. Nota Kredit
Pengertian Nota kredit merupakan bukti transaksi penerimaan kembali barang yang telah dijual
(pengembalian), nota kredit dikeluarkan oleh pihak penjual. Bukti ini berfungsi sebagai alat
persetujuan dari pihak penjual atas permohonan pengurangan harga dari pihak pembeli karena
barang yang diterima mengalami kerusakan dan atau tidak sesuai dengan pesanan pembeli.

Contoh Nota Kredit


5. Nota Debet
Pengertian Nota debet adalah dokumen transaksi sebagai permintaan pengurangan harga kepada
pihak penjual atau bukti yang berisi informasi yang menyatakan tentang pengiriman kembali
barang yang tidak sesuai dengan pesanan (rusak).
Nota debet merupakan pemberitahuan atau perhitungan yang dikirimkan suatu perusahaan atau
badan usaha kepada konsumennya, bahwa akunnya telah di debet dengan jumlah nominal tertentu.
Nota debit dibuat oleh pihak pembeli.

Contoh Nota Debet


Hal-hal yang tercantum pada nota debit dan nota kredit pada prinsipnya adalah sama, hanya
terdapat perbedaan pada informasi yang tercantum di dalam masing-masing nota.
Pada intinya bukti transaksi yang bernama nota kredit dan nota debit dikeluarkan saat terjadi
ketidakcocokan atau tidak sesuai dengan barang yang diharapkan oleh pihak pembeli.
6. Cek (Cheque)
Pengertian Cek bisa diartikan sebagai perintah pembayaran yang dibuat oleh pihak yang
mempunyai rekening di suatu bank, dengan tujuan agar bank tersebut membayarkan sejumlah uang
yang tertulis kepada orang yang membawa surat atau yang namanya tertulis di surat cek tersebut..
Cek terdiri dari dua bagian yaitu :
1. Pada bagian sebelah kiri buku cek sebagai bukti arsip pihak yang mengeluarkan dan
menandatangani cek tersebut.
2. Bagian sebelah kanan dapat diberikan kepada pihak yang menerima pembayaran cek
tersebut.

Contoh Cek

7. Rekening Koran
Pengertian Rekening Koran adalah bukti untuk mutasi kas di bank yang disusun oleh pihak bank
untuk para nasabahnya. Baca selengkapnya tentang rekening koran.

Contoh
Rekening Koran
8. Bilyet Giro
Pengertian Bilyet Giro adalah sebagai surat perintah untuk memindahbukukan sejumlah uang
dari rekening nasabah suatu bank ke rekening penerima yang namanya disebutkan dalam bilyet
giro pada bank yang sama atau pada bank lain (berbeda). Perlu diingat bahwa penerima bilyet giro
tidak bisa menukarkannya dengan uang tunai kepada bank yang bersangkutan. Tetapi dapat
menyetorkan bilyet giro kepada bank untuk menambah simpanan di rekeningnya. Baca
selengkapnya tentang
Contoh Bilyet
Giro
9. Bukti Memorandum
Pengertian Bukti memo adalah bukti transaksi yang dibuat oleh pimpinan perusahaan atau orang
yang diberikan wewenang untuk suatu kejadian-kejadian yang berlangsung didalam internal
perusahaan bersangkutan. Contoh memoseperti untuk mencatat gaji pegawai yang masih harus
dibayar pada akhir periode.

Contoh Bukti Memo


Akuntansi
10. Bukti Setoran Bank
Bukti setoran bank adalah catatan transaksi (slip setoran) yang disediakan oleh pihak bank untuk
digunakan pada saat atau setiap melakukan setoran uang ke bank, seperti untuk investasi. Ketika
terjadi kesalahan pencatatan, bukti ini sangat dibutuhkan saat akan dibuat rekonsiliasi bank, maka
sebaiknya bukti ini disimpan dengan baik.
Contoh Bukti
Setoran Bank
11. Bukti Kas Masuk
Pengertian Bukti kas masuk merupakan bukti transaksi atas peristiwa penerimaan uang (kas)
yang telah dilengkapi dengan buktinya. Bukti kas masuk ini nantinya akan digunakan dalam proses
penyusunan jurnal kas masuk/jurnal penerimaan kas.

Contoh Bukti
Kas Masuk
12. Bukti Kas Keluar
Pengertian Bukti kas keluar merupakan bukti dari kejadian transaksi pengeluaran kas ataupun
pembayaran. Bukti pengeluaran kas ini biasanya akan digunakan untuk dokumen ketika
menyusun jurnal pengeluaran kas.
- Persamaan Akuntansi
Harta = Kewajiban + Modal
Jenis Akun Bertambah Berkurang Saldo Normal
Aktiva Debet Kredit Debet
Utang Kredit Debet Kredit
Ekuitas (Modal) Kredit Debet Kredit
Prive Debet Kredit Debet
Pendapatan Kredit Debet Kredit
Beban Debet Kredit Debet

- Jenis-jenis jurnal

Jurnal termasuk salah satu proses pencatatan dalam akuntansi dan merupakan penghubung antara
transaksi dengan buku besar. Fungsi jurnal ialah sebagai berikut.
a. Fungsi pencatatan, semua transaksi yang terjadi berdasarkan bukti dokumen yang ada harus
dicatat.
b. Fungsi historis, transaksi yang terjadi harus dicatat sesuai dengan urutan waktu (kronologis).
c. Fungsi analisis, setiap transaksi yang dicatat dalam jurnal harus merupakan hasil analisis dari
bukti-bukti transaksi hingga jelas letak debit/kredit perkiraan beserta jumlahnya.
d. Fungsi instruktif, pencatatan dalam jurnal merupakan instruksi atau perintah untuk
melakukan posting atau memindahkan debit/kredit ke dalam buku besar.
e. Fungsi informatif, jurnal dapat memberikan informasi atau pemberitahuan mengenai
transaksi yang terjadi.
Dalam perusahaan kita perlu mencatat setiap transaksi transaksi yang berhubungan dengan
keuangan. Akuntansi keuangan mencatatnya dalam sebuah jurnal agar setiap pengeluran tercatat
secara rapi.
Macam-macam jurnal
1. Jurnal umum
Jurnal umum adalah jurnal yang digunakan untuk mencatat setiap transaksi dalam perusahaan
secara terperinci

2. Jurnal khusus
Jurnal khusus adalah jurnal yang digunakan untuk mencatat transaksi-transaksi khusus dalam
perusahaan yang berhubungan dengan penjualan dan pembelian.
Jurnal khusus terdiri dari :
a. Jurnal Penjualan ( Sales Journal)
Jurnal Penjualan adalah jurnal yang digunakan apabila kita melakukan penjualan barang secara
kredit kepada Customer
b. Jurnal Pembelian ( purchases Journal)
Jurnal Pembelian adalah jurnal yang digunakan apabila kita melakukan pembelian barang secara
kredit kepada supplier.

c. Jurnal Pengeluaran Kas (Cash Payment Journal)


Jurnal Pengeluaran kas adalah jurnal yang digunakan untuk mencatat setiap pengeluaran kas dalam
suatu perusahaan

d. Jurnal Penerimaan Kas (Cash Receipt Journal)


Jurnal Penerimaan kas adalah jurnal yang digunakan untuk mencatat setiap penerimaan kas dalam
suatu perusahaan

e. Jurnal Umum (Memorial Journal)


Memorial Journal adalah jurnal yang digunakan untuk mencatat transaksi diluar empat jurnal
diatas.
f. Jurnal Pembalik ( Reversing Entries)
Jurnal balik adalah jurnal yang dibuat pada awal periode sebagai kebalikan dari sebagian jurnal
penyesuaian pada akhir periode sebelumnya. Jurnal ini bersifat opsional namun jika dilakukan
memberikan manfaat. Tidak semua ayat jurnal penyesuaian dilakukan reversing entries. Jurnal
penyesuian yang dibalik adalah:
1. Hutang biaya
2. Piutang Pendapatan
3. Pendapatan Diterima Dimuka jika digunakan pendekatan pendapatan
4. Biaya Dibayar Dimuka jika digunakan pendekatan beban (biaya)
Untuk memudahkan pemahaman, berikut ini disajikan ikhtisarnya saja sebagai berikut:

No. Jenis AJP Ayat Jurnal Penyesuaian Jurnal Balik


Biaya Gaji Hutang Gaji
1. Hutang Biaya 100 100
Hutang Gaji 100 Biaya Gaji 100
Piutang Bunga Pendapatan Bunga
2. Piutang Bunga 150 150
Pendapatan Bunga 150 Piutang Bunga 150
Pendapatan Tiket Pendapatan Tiket
Pendapatan Diterima
3. Pendapatan Tiket 200 DD 200
Dimuka 200 200
DD Pendapatan Tiket
Sewa Dibayar Beban Sewa
4. Biaya Dibayar Dimuka Dimuka 900 Sewa Dibayar 900
900 900
Beban Sewa Dimuka

g. Jurnal Penutup (Closing Entries)


Jurnal Penutup adalah ayat jurnal yang dibuat pada akhir periode akuntansi untuk menutup
rekening-rekening nominal/sementara.
Akibat penutupan ini maka rekening–rekening ini pada awal periode akuntansi saldonya nol.
Terdapat 4 (empat) jurnal penutup yang harus dibuat yaitu:

1. Menutup rekening Pendapatan


Rekening Debet Kredit
Pendapatan
xxx
Ikhtisar Rugi/Laba xxx
2. Menutup rekening Beban
Rekening Debet Kredit
Ikhtisar Rugi/Laba
xxx
Beban xxx

3. Menutup rekening Ikhtisar Rugi/Laba


Rekening Debet Kredit
Ikhtisar Rugi/Laba
xxx
Modal xxx

4. Menutup rekening Prive


Rekening Debet Kredit
Modal
xxx
Prive xxx

C. CONTOH
Berikut adalah data laporan Rugi laba suatu perusahaan:
Pendapatan……………………………………………………. Rp. 12.900.000,-
Beban telepon…………………………………………… Rp. 1.000.000,-
Beban asuransi…………………………………………… Rp. 250.000,-
Beban depresiasi…………………………………………… Rp. 9.000.000,-
Beban gaji..…………………………………………………… Rp. 2.000.000,-

Jurnal penutup yang harus dibuat pada akhir periode akuntansi adalah sebagai berikut:
JURNAL PENUTUP
Rekening Debet Kredit
Menutup Pendapatan:

Pendapatan
12.900.000
Ikhtisar Rugi/Laba 12.900.000

Menutup Beban:

Ikhtisar Rugi/Laba
Beban telepon
1.000.000
Beban asuransi
12.250.000 250.000
Beban depresiasi
9.000.000
Beban gaji
2.000.000
Menutup Ikhtisar Rugi/Laba:

Ikhtisar Rugi/Laba
650.000
Modal 650.000
- Informasi dan bentuk dasar buku besar

BUKU BESAR UMUM


Buku besar umum yaitu semua perkiraan yang ada dalam suatu periode tertentu seperti kas,
piutang usaha, persediaan utang usaha dan modal. Perkiraan-perkiraan ini saling berdiri sendiri
dan berfungsi mengikhtisarkan pengaruh transaksi terhadap perubahan aktiva, kewajiban, dan
modal perusahaan.
Pencatatan ke buku besar umum dilakukan secara berkala atau setiap akhir bulan berdasarkan
jurnal khusus atau hasil rekapitulasi jurnal khusus.
Posting adalah proses memindahkan catatan dari jurnal ke buku besar Adapun langkah-langkah
melakukan posting (memindah bukukan) dari jurnal khusus ke buku besar umum adalah sebagai
berikut.

a. Menutup jurnal khusus dengan cara menjumlahkan angka dalam kolom masing-masing
perkiraan.
b. Memindahkan ke dalam buku besar dari hasil penjumlahan tersebut sesuai dengan perkiraan
yang digunakan, baik sebelah debit maupun sebelah kredit.
c. Mengisi kolom ref pada jurnal khusus dengan memberi tanda cek atau nomor kode perkiraan,
dan mengisi kolom ref pada buku besar dengan nomor halaman jurnal.
 Jurnal Penerimaan Kas diberi kode JKM.
 Jurnal Pengeluaran Kas diberi kode JKK.
 Jurnal Penjualan diberi kode JP.
 Jurnal Pembelian diberi kode JB.
 Jurnal Umum diberi kode JU.
d. Tanggal posting yang digunakan yaitu tanggal akhir bulan yang bersangkutan.
e. Bentuk buku besarnya sama dengan buku besar yang lazim dipergunakan.

BUKU BESAR PEMBANTU


Buku besar pembantu sering disebut juga buku tambahan, yaitu sekelompok rekening yang
khusus mencatat perincian piutang usaha dan utang usaha yang berfungsi memberi informasi
yang lebih mendetail. Buku besar pembantu dibagi menjadi dua jenis yaitu:
a. Buku Besar Pembantu Piutang Usaha
Buku besar pembantu piutang usaha disediakan khusus untuk merinci langganan kredit, kepada
siapa sajakah perusahaan melakukan transaksi penjualan kredit, di mana alamatnya dan berapa
jumlahnya. Dalam buku piutang, keadaan tagihan kepada tiap langganan dicatat dalam daftar-
daftar tersendiri. Perubahan piutang secara keseluruhan dicatat pada perkiraan piutang di buku
besar umum, sebagai perkiraan induk. Sedangkan perubahan kepada masing-masing langganan
dicatat pada perkiraan masing-masing dalam perkiraan buku besar pembantu piutang.
b. Buku Besar Pembantu Utang
Buku besar pembantu utang disediakan khusus untuk mencatat masing-masing pemasok secara
terperinci yang banyaknya ditentukan oleh banyaknya pemasok yang memberikan pinjaman
kredit, baik berupa barang dagangan maupun aktiva lainnya. Seperti halnya dalam buku piutang,
dalam buku utang pun keadaan utang pada setiap pemasok dicatat dalam daftar-daftar tersendiri.
Perubahan utang secara keseluruhan dicatat pada perkiraan utang dalam buku besar umum.
Sedangkan perubahan kepada masing-masing pemasok, dicatat pada perkiraan masing-masing
dalam buku besar pembantu utang.
Buku besar adalah salah satu proses akuntansi yang wajib dilakukan oleh sebuah perusahaan.
Dalam memudahkan dalam pembuatan buku besar, Anda dapat memanfaatkan software
akuntansi.

Jurnal merupakan software akuntansi online yang dapat mempermudah proses akuntansi bisnis,
salah satunya membuat buku besar dan berbagai laporan keuangan lainnya. Hanya dengan meng-
input seluruh transaksi bisnis, Jurnal akan mengelolanya hingga menjadi laporan keuangan yang
detail dan akurat sesuai dengan yang Anda butuhkan.

MEMAHAMI SIFAT DARIPADA AKUN-AKUN LAPORAN KEUANGAN DAN ADM


DAPAT MELAKUKAN ANALISIS TRANSAKSI
- Jenis kelompok akun dalam laporan keuangan

PENGERTIAN DAN JENIS - JENIS AKUN


A. Pengertian Akun
Akun adalah tempat untuk mencatat transaksi yang terjadi dalam perusahaan.
Banyak sedikitnya jumlah akun dalam perusahaan tergantung oleh banyaknya macam
transaksi dalam perusahaan dan jenis usaha yang dijalankan. Semakin banyak macam
transaksinya semakin banyak pula jumlah akun dalam suatu perusahaan. Jenis usaha jasa
akan lebih memerlukan sedikit akun disbanding perusahaan dagang atau manufaktur.

B. Jenis - jenis Akun


1. Akun Riil
Adalah akun/perkiraan yang terdapat pada laporan keuangan berupa Neraca. Akun
riil terdiri atas:
a. Harta/Aset/Aktiva
Harta adalah kekayaan yang dimiliki dan digunakan oleh perusahaan yang
teridiri atas:
 Harta Lancar
Adalah harta yang tingkat likuiditasnya paling tinggi dan masa pakainya
satu tahun atau kurang. Akun dalam harta lancar diurutkan berdasar tingkat
likuiditasnya. Misalnya akun piutang akan berada dibawah akun kas karena kas
lebih likuid (mudah dicairkan) daripada piutang. Yang termasuk dalam harta
lancar adalah kas, piutang, perlengkapan, persediaan barang dagang.
 Harta Tetap
Adalah harta yang masa pakainya lebih dari satu tahun. Contohnya akun
peralatan, tanah, gedung, kendaraan. Dalam harta tetap terdapat akun
pengurang seperti akumulasi peralatan yang sebenarnya mengurangi akun
peralatan itu sendiri.
 Investasi
Adalah harta perusahaan yang terdapat di perusahaan seperti saham.
 Harta tidak berwujud
Adalah harta yang secara fisik tidak berwujud. Misalnya hak paten dan
merek dagang.
 Harta Lain - lain
Adalah harta selain yang terdapat dalam ke empat kelompok diatas.
Misalnya mesin dalam perbaikan dan gedung dalam proses pembangunan.

b. Hutang/Kewajiban
Hutang adalah suatu kewajiban yang harus dilunasi oleh perusahaan dalam
jangka waktu tertentu. Berdasarkan jangka waktunya hutang terdiri atas:
 Hutang Jangka Pendek
Adalah hutang yang jangka waktu pelunasannya satu tahun atau kurang.
Contohnya hutang usaha, hutang bunga, hutang penghasilan, hutang wesel,
utang pajak, utang beban, hutang jangka panjang yang jatuh tempo, utang
deviden, dll.
 Hutang Jangka Panjang
Adalah hutang yang jangka pelunasannya lebih dari satu tahun. Dalam hal
hutang terdapat pula hutang jangka menengah yaitu 1-3 tahun, sedangkan
hutang jangka panjang lebih dari 5 tahun. Yang termasuk akun hutang jangka
panjang adalah hutang obligasi, hutang bank, hutang hipotik, hutang kpd
pemegang saham, dll.

c. Modal/Ekuitas
Modal adalah hak pemilik atas perusahaan setelah dikurangi dengan
kewajiban. Modal juga dapat diartikan sebagai uang, gedung, tanah, kendaraan
yang diserahkan oleh pemilik untuk perusahaan. Yang termasuk dalam modal
adalah modal pemilik (Perseorangan)/saham (Perseroan)/sekutu (Persekutuan),
agio/disagio saham, cadangan dan saldo laba. Dalam modal terdapat akun
pengurang yaitu prive (CV/Po)/Deviden (PT).
2. Akun Nominal
Adalah akun/perkiraan yang terdapat pada laporan laba/rugi yang terdiri atas:
a. Pendapatan
Adalah penghasilan yang didapatkan oleh perusahaan atas usaha yang
dijalankan atau diluar usaha. Pendapatan terdiri atas:
 Pendapatan Usaha
Adalah penghasilan yang berasal dari kegiatan operasional perusahaan.
Contohnya pendapatan usaha.
 Pendapatan diluar usaha
Adalah pendapatan yang berasal dari kegiatan non operasional. Contohnya
pendapatan sewa (Mengarah ke sewa diterima di muka), pendapatan bunga.

b. Beban/biaya
Adalah pengeluaran perusahaan akibat kegiatan operasional maupun non
operasional yang dilakukan perusahaan. Dalam akuntansi biaya, beban dengan
biaya mempunyai pengertian yang berbeda. Beban terdiri atas:
 Beban Usaha
Adalah pengeluaran akibat kegiatan operasional perusahaan. Misalnya
beban gaji, beban listrik, air, dan telepon, beban iklan, beban sewa gedung, dll.
 Beban diluar usaha
Adalah pengeluaran akibat kegiatan non operasional perusahaan. Misalnya
beban bunga, beban administrasi bank, dll.

DAPAT MELAKUKAN ANALISIS TRANSAKSI DAN MEMBUAT AYAT JURNAL


- Pengertian transaksi akuntansi dan bukan transaksi akuntansi

Pengertian Transaksi Keuangan dan Transaksi Non Keuangan


Transaksi yang terjadi pada suatu perusahaan banyak macamnya. Dua diantaranya adalah transaksi
keuangan dan transaksi non keuangan. Untuk memahami mengenai pengertian/definisi transaksi
keuangan dan transaksi non keuangan dapat dilihat sebagai berikut.
Transaksi keuangan merupakan aktivitas ekonomi dalam subsistem perusahaan atau kejadian
yang terjadi pada unit perusahaan yang dimiliki, objek pengukurannya dapat dinilai dengan nilai
mata uang serta dalam sistem akuntansi dapat mempengaruhi laporan keuangan yang dibuat.
Dengan demikian, transaksi keuangan dapat pula diartikan sebuah peristiwa ekonomi yang
berpengaruh terhadap aktiva dan ekuitas perusahaan yang diwujudkan ke dalam aun yang
bertambah dan yang berkurang dan diukur dalam satuan moneter.
Transaksi keuangan mempunyai nilai atau dinyatakan dalam satuan uang. Transaksi keuangan
sangat berpengaruh terhadap kondisi keuangaan perusahaan atau unit organisasi, karena dengan
adanya transaksi yang terjadi dalam perusahaan kita dapat melihat bagaimana perusahaan
menggunakan sumber daya ekonomi perusahaan dan bagaimana cara memperoleh dana yang dapat
digunakan untuk membiayai kegiatan tersebut.

Transaksi non keuangan dapat diartikan sebuah kejadian yang diproses oleh sistem informasi
manajemen yang memiliki makna lebih luas daripada transaksi keuangan, umpamanya peristiwa
penandatanganan kesepakatan kerja sama (MoU) antara suatu perusahaan dengan perusahaan lain
terkait dengan pasokan bahan baku untuk produksi, maka kejadian ini dapat dicatat oleh sistem
informasi perusahaan sebagai sebuah transaksi.

- Analisis transaksi dan ayat jurnal

Suatu kelompok akun untuk sebuah entitas bisnis disebut buku besar (ledger). Daftar akun yang
terdapat dalam buku besar disebut bagan akun atau daftar akun (chart of accounts). Akun
biasanya disebutkan berurutan sesuai dengan yang ditampilkan dalam laporan keuangan. Akun
neraca biasanya disebutkan terlebih dulu, dengan urutan asset, kewajiban, lalu ekuitas pemilik.
Akun laporan laba rugi disebutkan kemudian, dengan urutan pendapatan dan beban. Masing-
masing klasifikasi akun tersebut dijelaskan secara singkat berikut ini.
Aset (assets), kadang juga disebut aktiva atau harta, adalah sumber daya yang dimiliki
oleh entitas bisnis. Sumber daya tersebut dapat berupa benda yang mempunyai wujud fisik, seperti
kas dan bahan habis pakai, atau benda yang tidak berwujud tapi memiliki nilai, seperti hak paten.
Beberapa contoh asset meliputi piutang, beban dibayar dimuka (seperti asuransi), gedung,
peralatan, dan tanah.

Kewajiban (liabilities) adalah utang kepada pihak luar (pemberi pinjaman disebut sebagai
kreditor). Kewajiban sering mudah dikenali di neraca dengan nama-nama akun yang disertai kata
‘utang’. Contoh kewajiban adalah utang usaha (account payable), wesel bayar (notes payable),
dan utang gaji (wages payable atau salary payable). Kas yang diterima sebelum jasa diberikan
oleh penerima kas akan menimbulkan kewajiban untuk melakukan jasa. Komitmen atas jasa di
masa mendatang ini sering disebut pendapatan yang belum dihasilkan atau pendapatan diterima
dimuka (unearned revenues). Sebagai contoh, uang berlangganan majalah diterima oleh penerbit
dan uang kuliah yang diterima oleh universitas di awal semester.

Ekuitas pemilik atau modal pemilik (owner’s equity) adalah hak pemilik terhadap asset
perusahaan. Untuk perusahaan perseorangan, ekuitas pemilik dalam neraca diwakili oleh saldo
akun modal (capital) pemiliknya. Akun prive atau penarikan pemilik (drawing) menunjukkan
jumlah penarikan yang dilakukan pemilik untuk kepentingan pribadi.

Pendapatan (revenues) adalah kenaikan dalam ekuitas pemilik sebagai hasil dari menjual
barang atau jasa ke pelanggan. Contohnya adalah pendapatan honor atau pendapatan jasa (fees
earned), penjualan, pendapatan komisi, dan pendapatan sewa.

Beban (expenses) merupakan hasil dari penggunaan asset atau jasa dalam proses
menghasilkan pendapatan. Contohnya meliputi beban gaji karyawan, beban sewa, beban utilitas
(listrik, air, telepon), beban bahan habis pakai, dan beban lain-lain.

MEMAHAMI PERHITUNGAN HARGA PEROLEHAN PERSEDIAAN, ASET TETAP, ATAU


BEBAN
- Unsur-unsur harga perolehan barang/jasa baik lokal maupun impor

Produksi:

Harga pokok produksi mempunyai pengaruh yang besar dalam menentukan harga pokok
perusahaan manufaktur. Harga pokok produksi dikeluarkan untuk tujuan mendapatkan barang
dagangan atau menghasilkan produk jadi karena harga pokok produksi terjadi dalam usaha
mendapatkan aktiva maka pengeluaran tersebut membentuk harga perolehan atau laba. Harga
pokok penjualan dalam perusahaan manufaktur dapat dihitung apabila harga pokok produksinya
sudah diketahui, Untuk memperoleh nilai harga pokok produksi tertentu kita harus
mengumpulkan dan menyeleksi biaya-biaya apa saja yang maasuk kedalamnya. Setelah semua
biaya terkumpul baru kita dapat memperhitungkan berapa besarnya harga pokok produksi sesuai
dengan kebutuhan yang ada.
Perhitungan harga pokok produksi bertujuan untuk mengetahui besarnya biaya produksi yang
dikeluarkan dalam memproduksi suatu barang. Pada umumnya unsur biaya produksi tersebut
meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.

1.Biaya bahan baku


Bahan baku merupakan bahan yang sebagian besar membentuk produk setengah jadi (barang
jadi) atau menjadi bagian wujud dari suatu produk yang dapat ditelusuri ke produk tersebut.

Perencanaan dan pengendalian bahan baku


Perencanaan bahan baku dipengaruhi oleh sifat kegiatan produksi perusahaan, apakah kegiatan
produksi tergantung kepada datangya pesanan dari langganan (pembeli), atau kegiatan produksi
bersifat massa atau proses. Umumnya perencanaan bahan pada perusahaan yang kegiatan
produksinya bersifat proses atau massa lebih mudah dibandingkan dengan perusahaan yang
berproduksi berdasarkan pesanan.

Tetapi yang pasti bahwa pada semua perusahaan tujuan perencanaan dan pengendalian bahwa
mempunyai dua tujuan pokok yaitu untuk menekankan (meminimumkan) biaya, untuk
memaksimumkan laba dalam waktu tertentu dan dengan dana tertentu.
Pembelian bahan baku
Bahan yang dibeli diterima oleh bagian penerimaan dan diperiksa kesesuaiannya dengan yang
dipesan, bagian penerimaan membuat bukti laporan penerimaan bahan dan didistribusikan ke
bagian gudang bahan, bagian pembelian, bagian akuntansi, arsip. Bahan dipindahkan ke bagian
gudang bahan.
Bagian gudang menerima bahan yang dibeli berdasarkan dokumen laporan penerimaan bahan,
memasukkan ke dalam kartu gudang dan kartu barang sesuai dengan macam bahan yang dibeli.
Faktur pembelian dari supplier diterima oleh bagian pembelian, setelah disahkan diberikan
kepada bagian akuntansi.
2.Biaya tenaga kerja
Biaya tenaga kerja terjadi dan diperlukan dalam suatu proses produksi untuk mengubah bahan
baku menjadi barang jadi. Biaya-biaya ini timbul sehubungan dengan penggunaan sumber daya
manusia atau tenaga kerja tesebut dalam memproduksi suatu produk. Manajemen perusahaan
sangat membutuhkan informasi biaya tenaga kerja yang tepat waktu dan akurat untuk digunakan
sebagai suatu dasar dalam perencanaan, pengendalian, dan pengambilan kepurusan. Perencanaan
untuk tenaga kerja merupakan bagian terpadu dari proses penyusunan anggaran. Bermula dari
rencana produksi dan data standar waktu dan standar biaya yang telah ditetapkan, maka anggaran
biaya tenaga kerja dapat dibuat.
Biaya tenagan kerja merupakan harga atau jumlah rupiah tertentu yang dibayarkan kepada para
pekerja atau karyawan yang berkerja pada bagian produksi.
Dalam Biaya Tenaga kerja terbagi menjadi dua elemen utama, yaitu:
(1) Biaya tenaga kerja langsung, adalah biaya tenaga kerja yang dapat diidentifikasikan dengan
suatu operasi atau proses tertentu yang diperlukan untuk menyelesaikan produk-produk dari
perusahaan.
(2) Biaya tenaga kerja tidak langsung, adalah semua biaya tenaga kerja yang secara tidak
langsung terlibat dalam proses produksi, dengan demikian biaya ini tidak dapat diidentifikasikan
secara khusus kepada suatu operasi atau proses produksi tertentu.
3.Biaya Overhead
Bahan langsung dan tenaga kerja langsung merupakan biaya utama dari suatu produk. Overhead
pabrik meliputi semua biaya lain yang harus terjadi dalam membuat suatu produk tersebut.
Semua biaya produksi selain dari bahan langsung dan tenaga kerja langsung, yang terdiri atas
tiga kelompok biaya, yakni biaya bahan tidak langsung, biaya tenaga kerja tidak langsung, dan
biaya produksi tidak langsung lainnya seperti air, listrik, telepon, asuransi, pajak, pemeliharaan,
penyusutan, dan lain-lain.
Biaya overhead pabrik adalah semua biaya untuk memproduksi suatu produk selain dari bahan
langsung dan tenaga kerja langsung, yaitu bahan tidak langsung, tenaga kerja tidak langsung, dan
semua biaya tidak langsung lainnya.
Biasanya biaya overhead pabrik dapat diklasifikasikan dalam tiga kelompok utama, yaitu sebagai
berikut :

(1) Bahan tidak langsung dan perlengkapan, merupakan bahan yang dipakai dalam produksi
yang tidak dapat dibebankan secara langsung kepada objek biaya tertentu dengan pertimbangan
ekonomis dan praktis. Dengan kata lain perlengkapan pabrik merupakan unsur-unsur biaya yang
menjaga pabrik agar berada dalam kondisi kerja yang baik, seperti minyak pelumas dan
perlengkapan kebersihan dan keselamatan.
(2) Tenaga kerja tidak langsung, adalah semua biaya tenaga kerja pabrik yang secara tidak
langsung terlibat dalam proses produksi dari suatu produk, dikelompokkan sebagai biaya tenaga
kerja langsung, seperti tenaga kerja pengawas dan tenaga penunjang yang diperlukan untuk
mengoperasikan fasilitas produk.
(3) Biaya tidak langsung lainnya, biaya ini meliputi berbagai macam biaya overhead pabrik yang
tidak dapat diklasifikasikan sebagai biaya bahan tidak langsung ataupun biaya tenaga kerja tidak
langsung.

***
Jadi dalam memperhitungkan harga pokok produksi harus memasukkan perhitungan biaya bahan
baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead dalam menetapkan harga jual suatu produk atau
jasa, sehingga biaya yang ditetapkan sesuai dengan perhitungan yang sebenarnya.

ASET TETAP

Pengertian Aktiva Tetap


Definisi atau Pengertian Aset Tetap menurut para ahli adalah harta kekayaan atau sumber daya
entitas bisnis (perusahaan) yang diperoleh serta dikuasai dari hasil kegiatan ekonomi (transaksi)
pada masa yang lalu. aset tetap digunakan dalam menjalankan aktivitas operasional usaha
perusagaan untuk menghasilkan barang atau jasa.

Peranan aset tetap sangat signifikan dalam menghasilkan barang dan jasa, misalnya tanah/lahan
dan bangunan tempat produksi, mesin dan berbagai peralatan lain yang digunakan sebagai alat
produksi dan yang lainnya.
Sofyan Safri berpendapat bahwa:
"Aset tetap adalah aset suatu entitas yang menjadi hak milik perusahaan yang digunakan untuk
memproduksi (menghasilkan) barang atau jasa entitas bisnis dan penggunaannya secara terus
menerus."
Sedangkan PSAK menuturkan bahwa aktiva tetap ialah aset yang berwujud yang
didapat/diperoleh dengan kondisi siap pakai maupun dibangun terlebih dahulu dan dipakai dalam
aktivitas operasi perusahaan, tidak ditujukan dijual kembali dalam rangka aktivitas normal
perusahaan serta memiliki manfaat ekonomi lebih dari satu tahun buku (lebih dari satu periode).
Karakteristik Aktiva Tetap
Aset Tetap memiliki beberapa karakteristik, berikut diantaranya:
Mempunyai wujud fisik
Tidak ditujukan untuk dijual lagi
Memiliki nilai yang material, harga aset tersebut cukup signifikan contohnya tanah, bangunan,
mesin dan kendaraan dll.
Memiliki masa manfaat ekonomi lebih dari satu tahun buku dan nilai manfaat ekonominya bisa
diukur dengan handal.
Aset digunakan dalam aktivitas normal perusahaan (tidak untuk dijual lagi seperti barang
dagang/persediaan atau investasi) misal, mobil bagi dealer mobil diakui sebagai "persediaan"
bukan aktiva tetap sedangkan bagi perusahaan manufakture mobil diakui sebagai "Aktiva Tetap"
bukan persediaan.

Pengakuan Aktiva Tetap


Sebuah perusahaan mengakui setiap aset sebagai aset tetap jika aset yang dimiliki telah memenuhi
sifat dan karakteristiknya seperti yang telah disebut sebelumnya.
Aset yang berwujud diakui dan diklasifikasikan kedalam aset tetap apabila:
 Potensi manfaat ekonomi aset akan dirasakan perusahaan dimasa mendatang.
Untuk menentukan/menilai suatu aset akan memberikan manfaat dimasa mendatang, terjadinya
manfaat ekonomis aset tersebut harus dinilai dan dipastikan bahwa entitas usaha akan
mendapatkan imbalan manfaat dan menerima resikonya yang terkait.
 Biaya perolehan aset yang dikeluarkan bisa diukur dengan handal, bukti bukti transaksi
perolehan aset diperlukan guna mendukungnya.
Hal yang juga tak kalah penting dalam pengakuan aktiva tetap adalah perusahaan mempunyai
kontrol/kendali atas manfaat ekonomis yang diharapkan akan diterima dari aset tetap tersebut.

Harga Perolehan Aktiva Tetap


Harga perolehan aktiva tetap meliputi seluruh jumlah yang dikeluarkan untuk mendapatkan aktiva
tersebut. Jadi, aktiva tetap akan dilaporkan dalam neraca tidak hanya sebesar harga belinya saja,
tetapi juga termasuk seluruh biaya yang dikeluarkan sampai aktiva tetap tersebut siap untuk
dipakai. Sebagai contoh adalah mesin produksi, di mana harga perolehannya tidak hanya berasal
dari harga beli saja, tetapi juga termasuk pajak, ongkos angkut, biaya asuransi selama dalam
perjalanan, ongkos pemasangan dan biaya uji coba, sampai mesin produksi tersebut benar-benar
dapat dioperasikan dan dimanfaatkan.

Unsur-unsur yang dipertimbangkan dalam perhitungan harga perolehan aktiva tetap, mungkin saja
berbeda antara jenis aktiva tetap yang satu dengan yang lainnya. Untuk lebih jelasnya, unsur harga
perolehan suatu aktiva tetap dapat dilihat dalam uraian berikut ini.
 Tanah : Harga perolehan tanah meliputi harga beli tanah dari pemilik, biaya survey, biaya
perantara atau komisi, biaya pematangan tanah, biaya balik nama di agraria/BPN.
 Gedung : Harga perolehan gedung meliputi biaya perencanaan oleh arsitek, IMB,
asuransi selama pembangunan, bunga selama pembangunan atas uang pinjaman untuk
pembiayaan gedung, dan semua pengeluaran lainnya yang dibutuhkan sehubungan
pembangunan gedung, serta biaya pemilikannya.
 Mesin : Harga perolehan mesin meliputi harga mesin menurut faktur pembelian, biaya-
biaya angkut, PPN, bongkar dan angkut ke dalam pabrik, pasang dan stel mesin, dan
percobaan mesin.
 Kendaraan : Harga perolehan kendaraan meliputi harga kendaraan menurut faktur
pembelian, dan bea balik nama.
 Perbaikan Tanah : Perbaikan tanah merupakan sarana yang dibangun di atas tanah selain
gedung, seperti jalan, parit, tempat parkir. Biaya perbaikan tanah (cost) bukan merupakan
bagian dari biaya tanah, akan tetapi harus dicatat secara terpisah dengan menggunakan
rekening perbaikan tanah dan sesuai dengan umur ekonomis/masa manfaatnya tanah juga
harus disusutkan.

PERSEDIAAN
A. Pengertian umum
 Persediaan (Inventory), merupakan aktiva perusahaan yang menempati posisi yang cukup
penting dalam suatu perusahaan, baik itu perusahaan dagang maupun perusahaan industri
(manufaktur), apalagi perusahaan yang bergerak dibidang konstruksi, hampir 50% dana
perusahaan akan tertanam dalam persediaan yaitu untuk membeli bahan-bahan
bangunan.
 Persediaan adalah pos-pos aktiva yang dimiliki oleh perusahaan untuk dijual dalam
operasi bisnis normal, atau barang yang akan digunakan atau dikonsumsi dalam
membuat barang yang akan dijual.
Berdasarkan pengertian di atas maka perusahaan jasa tidak memiliki persediaan, perusahaan
dagang hanya memiliki persediaan barang dagang sedang perusahaan industri memiliki 3 jenis
persediaan yaitu persediaan bahan baku, persediaan barang dalam proses dan persediaan barang
jadi (siap untuk dijual).
Dalam laporan keuangan, persediaan merupakan hal yang sangat penting karena baik laporan
Rugi/Laba maupun Neraca tidak akan dapat disusun tanpa mengetahui nilai persediaan.
Kesalahan dalam penilaian persediaan akan langsung berakibat kesalahan dalam laporan
Rugi/Laba maupun neraca.
Dalam perhitungan Rugi/Laba nilai persediaan (awal & akhir) mempengaruhi besarnya Harga
Pokok Penjualan (HPP).
HPP = PERSEDIAAN AWAL+ PEMBELIAN BERSIH – PERSEDIAAN AKHIR

a. Inventory perusahaan dagang


Persediaan merupakan barang-barang yang dibeli oleh perusahaan dengan tujuan untuk dijual
kembali dengan tanpa mengubah bentuk dan kualitas barang, atau dapat dikatakan tidak ada
proses produksi sejak barang dibeli sampai dijual kembali oleh perusahaan.

b. Inventory perusahaan industry


Pengertian persediaan untuk perusahaan industri adalah barang-barang atau bahan yang dibeli
oleh perusahaan dengan tujuan untuk diproses lebih lanjut menjadi barang jadi atau setengah jadi
atau mungkin menjadi bahan baku bagi perusahaan lain, hal ini tergantung dari jenis dan proses
usaha utama perusahaan.
Misalnya : Perusahaan industri permintaan kapas, bahan bakunya adalah kapas dari petani atau
perkebunan, diolah menjadi benang, benang merupakan barang jadi baginya. Sedangkan
perusahaan industri kain bahan bakunya adalah benang yang diolah menjadi kain sebagai barang
jadi, dan perusahaan industri pakaian jadi membutuhkan bahan baku kain dan seterusnya.
Dengan gambaran diatas maka persediaan untuk perusahaan-perusahaan manufaktur pada
umumnya mempunyai tiga jenis persediaan yaitu:
1. Bahan baku (direct material)
2. Barang dalam proses (Work in proses)
3. Barang jadi (Finished goods)

B. Jenis-jenis persediaan
a. Bahan baku
Barang persediaan milik perusahaan yang akan diolah lagi melalui proses produksi, sehingga
akan menjadi barang setengah jadi atau barang jadi sesuai dengan kegiatan perusahaan. Besarnya
persediaan bahan baku dipengaruhi oleh perkiraan produksi, sifat musiman produksi, dapat
diandalkannya pihak Pemasok serta tingkat efisiensi penjadualan pembelian dan kegiatan
produksi.
b. Barang dalam proses
Adalah barang yang masih memerlukan proses produksi untuk menjadi barang jadi, sehingga
persediaan barang dalam proses sangat dipengaruhi oleh lamanya produksi, yaitu waktu yang
dibutuhkan sejak saat bahan baku masuk keproses produksi sampai dengan saat penyelesaian
barang jadi. Perputaran persediaan bisa ditingkatkan dengan jalan memperpendek lamanya
produksi. Dalam rangka memperpendek waktu produksi salah satu cara adalah dengan
menyempurnakan tekhnik-tekhnik rekayasa, sehingga dengan demikian proses pengolahan bisa
dipercepat. Cara laian adalah dengan membeli bahan-bahan dan bukan membuatnya sendiri.
c. Barang jadi
Adalah barang hasil proses produksi dalam bentuk final sehingga dapat segera dijual, pada
persediaan ini besar kecilnya persediaan barang jadi sebenarnya merupakan masalah koordinasi
produksi dan penjualan. Manajer keuangan dapat merangsang peningkatan penjualan dengan
cara mengubah persyaratan kredit atau dengan memberikan kredit untuk resiko yang kecil
(marginal risk). Tetapi tidak peduli apakah barang-barang tercatat sebagai persediaan atau
sebagai piutang dagang, manajer keuangan harus tetap membiayainya. Sebenarnya perusahaan
lebih suka menjualnya (dan tercatat sebagai piutang dagang), karena dengan demikian untuk
menuju realisasi kas tinggal satu langkah saja. Dan laba potensial dapat menutup tambahan
resiko penagihan piutang.
Dari uraian tersebut dapat kita artikan bahwa dalam proses akuntansi persediaan, persediaan
memerlukan adanya penilaian (valuation), karena persediaan merupakan bagian dari cost yang
akan dimatch dengan revenue, dan akan menghasilkan income dan penyajian laporan arus kas.
Dengan melihat sifat-sifat dasar persediaan dalam hubungannya dengan kegiatan perusahaan dan
tujuan serta konsep dasar akuntansi, maka persediaan merupakan input values. Metode tersebut
merupakan salah astu konsep penilaian terhadap inventory yang akan menjadi dasar dalam
penyajian di neraca.
Penekanan pembahasan tujuan teori akuntansi terhadap inventory, adalah menentukan alternative
pedoman untuk mengevaluasi prosedur yang dapat memberikan penilaian (pengukuran) yang
lebih baik dan memberikan informasi yang lebih baik tentang arus kas perusahaan dikemudian
hari. Beberapa dasar pengukuran inventory dari segi kadar interpretasi dan revaluasi bagi
pengambil keputusan investasi.

C. Tujuan penilaian inventory


Pertama adalah dalam upayanya untuk mematch cost terhadap revenue yang berkaitan, sehingga
dihasilkan income, proses ini merupakan tujuan dasar akuntansi tradisional. Penekanan pada
perhitungan net income yang didasarkan kepada revenue pada saat penjualan memerlukan
adanya alokasi biaya ke peiode dimana revenue dilaporkan yaitu cost of goods sold. Sedangkan
nilai inventory yang belum terjual akan dibawa ke periode berikutnya dalam laporan keuangan
perusahaan. Jadi dalam proses pengukuran income sangat mirip dengan ciri-ciri umum pada
penilaian prepaid expense dan aktiva tetap atau disebut penangguhan expenses, yaitu atas dasar
input prices, kemudian untuk menentukan nilai cost of goods sold dapat juga dilakukan melalui
perhitungan (rumus) yang lazim digunakan dalam persediaan. Namun demikian dalam keadaan
tertentu persediaan dinilai berdasarkan output values (harga jual) untuk memperoleh penilaian
income.
Tujuan kedua pengukuran inventory lainnya adalah untuk menyajikan nilai barang-barang
perusahaan didalam komponen neraca (laporan keuangan).
Tujuan ketiga pengukuran inventory adalah membantu investor untuk memprediksi arus kas
dikemudian hari, yaitu dipandang dari jumlah inventory sebagai resources yang akan mendukung
arus kas dan jumlah inventory yang akan dijual kemudian hari dan akan mempengaruhi arus kas
keluar.

D. Penentuan kuantitas persediaan


Untuk menentukan jumlah barang yang masih dikuasai oleh perusahaan pada suatu saat dapat
ditentukan melalui beberapa cara yaitu:
1. Stock opname: perhitungan barang pada awal dan akhir periode yang dihitung, cara ini
merupakan ketentuan yang harus dilakukan oleh manajemen untuk menentukan jumlah
persediaan akhir, sebagai salah satu persyaratan memperoleh unqualified opinion.
2. Menggunakan metode pencatatan perpetual.
3. Menggunakan metode gabungan antara metode pencatatan perpetual dengan stock
opname.
4. Menggunakan metode penilaian berdasarkan hubungan agregatif, yaitu gross profit
method dan realized inventory method.
Penyajian laporan laba rugi dapat dibuat dalam dua bentuk, yaitu all inclusive concept of income
(AICI) dan current operating concept of income (COCI). Dari kedua metode tersebut metode
penyajian yang banyak mengandung kelemahan untuk penyajian persediaan adalah AICI,
kelemahan-kelemahan tersebut dapat kita lihat sbb:
1. Metode stock opname atau periodic method:
Persediaan yang merupakan komponen cost of goods sold (CGS) maka perhitungan
kuantitas persediaan yang dilakukan dengan stock opname tergantung dari kelengkapan
data/catatan dan perhitungan barang. Dengan cara ini perhitungan persediaan yang
dibebankan pada CGS ada kemungkinan overstatement, karena hanya membandingkan
dan menghitung jumlah barang yang dimiliki dikurangi dengan persediaan akhir.
Sehingga kalau terjadi adanya barang yang hilang, rusak, menguap, turun kualitasnya
dsb, maka hal ini bila tidak terungkap akan menyebabkan laporan laba – rugi tidak atau
kurang informative. Karena adanya kerugian-kerugian yang seharusnya diperlukan
sebagai kerugian extraordinary item, kemudian dengan perhitungan stock opname secara
berkala tidaklah cukup sebagai dasar pembuatan keputusan yang bersifat manajerial
secara cepat.
2. Metode perpetual
Dalam metode perpetual ini terdapat kelemahan pada saat menentukan nilai dan jumlah
barang, karena dengan metode pencatatan yang kontinyu ini berarti saldo persediaan
setiap saat dapat diketahui, namun perlu diperhatikan bahwa dengan hanya menghitung
jumlah barang bedasarkan catatan akan mengakibatkan nilai persediaan overstatement,
karena adanya persediaan yang rusak dsb. Oleh karena itu yang lebih tepat dalam
menentukan jumlah inventory adalah kalau menggunakan metode gabungan antara
metode perpetual dengan stock opname.
3. Metode agregatif
Dalam metode ini kesulitannya sama dengan kesulitan yang dialami metode perpetual,
kalau dalam hal pembahasannya adalah masalah penentuan harga persediaan. Dalam
metode ini juga lebih tepat kalau penentuan jumlah dan nilai persediaan dikombinasi
dengan stock opname.

E. Dasar penilaian persediaan


Penilaian persediaan pada prinsipnya ada dua yaitu input values dan output values, sedangkan
kedua konsep tersebut dapat digunakan sesuai dengan siapa pemakainya dan tujuannya. Kalau
untuk pembuatan prediksi arus kas dikemudian hari lebih relevan kalau digunakan output values,
karena akan mencerminkan nilai perusahaan pada saat itu. Sedangkan kalau kondisi nilai
konversi tidak pasti seperti kondisi di Indonesia tahun 1997 lebih relevan kalau digunakan input
values, karena akan memungkinkan interpretasi yang lebih baik sebagai prediksi arus kas
dikemudian hari untuk memperoleh persediaan kembali.
a. Output values
Seperti yang telah diuraikan diatas bahwa persediaan merupakan komponen yang timbul
diberbagai tingkatan proses produksi, yang pada umumnya memerlukan kegiatan bernilai
ekonomis yang cukup besar, maka dengan metode input values lebih tepat. Tetapi dalam keadaan
penentuan crucial event, yaitu menentukan pada saat persediaan diserahkan kepada langganan
(penentuan nilai jual), maka lebih tepat kalau digunakan metode output values, karena
memperhitungkan nilai current persediaan kalau dijual pada saat itu.
Untuk konsep output values ini ada 3 (tiga) konsep yang dapat digunakan yaitu:
Konsep Discounted Money Receipt: konsep ini menekankan pada, bahwa persediaan dapat
dinilai dengan mendiskontokan arus kas dikemudian hari, dengan syarat:
 Nilai atau tingkat harga stabil dan ada kepastian yang tinggi.
 Timing penerimaan kas yang diharapkan cukup memberikan kepastian.
Current Selling Price: konsep ini menekankan nilai persediaan berdasarkan harga jual (pasar)
sehingga diperlukan harga yang fixed, sehingga untuk konsep ini disyaratkan:
 Adanya suatu pasar yang terkendali dengan harga yang stabil – tetap.
 Tidak ada komponen biaya tambahan yang besar (material), misalnya biaya bunga atau
diskonto dalam penerimaan hasil penjualan.
Net Realizable Values: dalam konsep ini perhitungan biaya yang timbul dari penjualan seperti
diskon penjualan harus diperhitungkan dalam nilai penjualan bersih (Net Realizable Values).
Maka konsep ini merupakan konsep current output values dikurangi dengan current values dari
semua biaya tambahan, misalnya biaya penagihan, biaya penjualan.
Sprouse dan Moonitz menyatakan: “……..Inventory yang siap jual dengan harga yang telah
diketahui dan biaya-biaya penjualan yang relative kecil atau biayanya dapat diketahui secara
langsung, maka inventory dinilai dengan Net Realizable Values”, mereka menyatakan bahwa
konsep ini bukan merupakan penyimpangan prosedur penilaian yang lazim melainkan harus
dianggap “…….sejalan dengan tujuan akuntansi yang utama”.
Bulletin no. 43 menyatakan : “Hanya dalam kondisi khususlah, inventory dapat dinyatakan
dengan nilai diatas cost”, dalam bulletin ini konsep cost merupakan konsep dasar utama bagi
penilaian inventory. Jadi konsep Sprouse dan Moonitz sesuai dengan konsep current selling price
diatas. Sedangkan konsep bulletin no. 43 disyaratkan :
1. Kemungkinan pemasaran secara langsung harga yang di-quote.
2. Barang dapat dipertukarkan (interchangeability of unit)
3. Biaya tambahan dapat diperhitungkan
4. Adanya unsur kesulitan menentukan penilaian cost secara tepat.

b. Input Values
Pengukuran persediaan dengan input values merupakan pengukuran resources yang dipakai
untuk memperoleh persediaan pada kondisi saat ini, sehingga untuk persediaan yang tidak perlu
adanya proses produksi interpretasi mengenai nilai persediaan (input values) sangat jelas. Karena
input values disini menggambarkan arus dari pada kas yang telah dikeluarkan sesungguhnya.
Sedangkan kalau input values tersebut dari nilai resources yang dipergunakan dalam proses
produksi, hal ini akan lebih menyulitkan untuk menentukan input valuesnya, karena adanya
proses penilaian resources ke periode yang bersangkutan dan pengalokasian resources ke dalam
masing-masing departemen. Namun konsep ini dapat dikurangi tingkat kesulitan penilaiannya
dengan penerapan prosedur alokasi costnya, yang hasilnya akan langsung menjadi investment
decision model.
Dengan struktur akuntansi tradisional, selisih input dan output values merupakan gross profit
atau gross margin, sehingga semua metode yang menganut konsep input values berarti adanya
penangguhan pengakuan revenues dan net income keperiode kemudian. Penundaan ini dapat
dibenarkan apabila masih ada kegiatan-kegiatan perusahaan yang harus dilakukan untuk
pelaksanaan penjualan atau karena output tidak verifiable.
Konsep input values pada dasarnya dinyatakan dengan historical cost atau dapat juga dengan
current cost atau standard cost. Current cost disini menggunakan konsep net realizable values
dikurangi dengan normal gross margin dari net realizable values.
COMWIL: merupakan metode penilaian masukan karena istilah “market” pada dasarnya adalah
konsep input values.

F. KONSEP PERSEDIAAN
a. Historical cost
Dalam metode historical cost ini persediaan diukur berdasarkan pada pembayaran yang
dilakukan dimasa lalu atau harus dilakukan dimasa yang akan datang untuk memperoleh barang
atau jasa. Oleh karena itu kalau pembayarannya dilakukan dimasa yang akan datang harga
persediaan harus didiskontokan untuk mendapatkan present cost.
Menurut konsep ini biaya produksi terdiri dari Biaya langsung: material, tenaga langsung dan
BOP, sedangkan avail atau tenaga kerja idle dapat diperhitungkan sebagai COGS, tergantung
kebijakan manajemen.
Keuntungan konsep ini:
1. Inventory bahan baku dan barang dagangan mencerminkan harga yang sebenarnya.
2. Dalam kondisi harga tidak pasti konsep ini merupakan alternative yang layak daripada
net realizable values sebagai alat prediksi.
3. Nilai persediaan tidak dipengaruhi oleh bias kebijakan manajemen.
4. Penilaian dengan cost memungkinkan pertanggung jawaban mengenai kas dan sumber
lain untuk memperoleh persediaan (cross evidence).
Kelemahan konsep ini:
1. Untuk persediaan barang yang cepat usang dan nilai tambah atas barang tidak dapat
disesuaikan harganya.
2. Bila terdapat harga yang berbeda susah untuk diperbandingkan.
3. Banyaknya unsur joint cost dan metode alokasi sehingga menyulitkan penilaian
persediaan.
4. Matching antara revenue dengan cost masa lalu kurang tepat.

b. Current Replacement Cost


Konsep ini adalah untuk mengurangi kelemahan dari konsep historical cost, banyak penulis dan
komite prinsip akuntansi menyarankan menggunakan konsep CRC untuk mengukur persediaan.
Dengan pertimbangan:
1. CRC memungkinkan untuk matching antara current input value dengan current revenue
atas hasil current operation.
2. CRC memungkinkan identifikasi dari holding gains dan loss.
3. CRC merupakan current value dari persediaan.
4. CRC memungkinkan pelaporan current operation profit dapat digunakan sebagai prediksi
arus kas dikemudian hari.

c. Net Realizable Values Dikurangi Normal Markup


Dalam konsep ini persediaan dinilai dengan konsep realizable values dikurangi dengan gross
profit margin yang normal, sehingga nilai persediaan merupakan nilai perolehannya menurut
konsep realizable.
COMWIL
Penilaian dengan konsep comwil sebenarnya tidak konsisten, dan bukanlah penilaian inventory
dengan dasar yang logis menurut teori akuntansi, tetapi lebih menekankan pada unsur
conservatism. Menurut AICPA konsep comwil merupakan metode eclectical yang
mencerminkan nilai keluaran dalam hal-hal tertentu dan nilai masukan pada kesempatan yang
lain. Pengertian market disini bisa cost dan bisa replacement mana yang lebih rendah, sedangkan
menurut AICPA bulletin no. 43 juga, bahwa market ini dibatasi nilai tertinggi (ceiling) dan
terendah (floor) adalah batas untuk net realizable values, sehingga comwil memungkinkan
penilaian yang sangat subyektif.
d. Standard cost
Current standard mencerminkan biaya produksi dibawah kondisi harga dan teknologi yang
sekarang dan formula ditetapkan setelah melalui perhitungan standard efisiensi yang diinginkan
sehingga menyerupai replacement cost. Menurut AICPA bulletin no. 43 : “Standard cost dapat
diterima apabila di-adjust secara berkala agar mencerminkan kondisi sekarang sehingga pada
tanggal neraca standard cost secara layak merupakan approximate costs berdasarkan salah satu
cara penilaian yang diakui.

G. BIAYA-BIAYA YANG HARUS DIMASUKAN DALAM PERSEDIAAN


Salah satu masalah paling penting dalam menangani persediaan berhubungan dengan berapa
jumlah persediaan yang harus yang dicatat dalam akun. Pembelian (akuisisi) persediaan, seperti
aktiva lain, umumnya di perhitungkan atas dasar biaya.

a. Biaya produk
(product cost) adalah biaya yang” melekat” pada persediaan dan di catat dalam akun persediaan.
Biaya-biaya ini berhubungan langsung dengan transfer barang kelokasi bisnis pembeli dan
pengubahan barang tersebut ke kondisi yang siap di jual. Beban seperti itu mencakup ongkos
pengangkutan barang yang di beli, biaya pembelian langsun lainnya, dan biaya tenaga kerja serta
produksi lain nya yang dikeluarkan dalam memproses barang ketika dijual. Namun karna adanya
kesulitan prak tis dalam mengalokasikan biaya dan beban, maka tidak dimasukkan dalam
penilaian persediaan.

b. Biaya periode
beban penjualan (selling expenses) dan, dalam kondisi yang biasa, beban umum serta adminstrasi
tidak dianggap berhubungan langsung dengan akuisisi atau produk si brang dan, karenanya, tidak
dianggap sebagai bagian dari persediaan. Biaya semacam itu disebut dengan biaya periode secara
konseptual, beban ini merupakan biaya dari produk eperti halnya harga beli awal dan ongkos
pengangkutan.
Biaya bunga yang berhubungan dengan penyiapanpersediaan agar siap dijual biasanya di
bebankan pada saat dikeluarkan. Arguman penting untuk pendekatan ini adalah bahwa biaya
bunga merupakan biaya pembiayaan.

c. Biaya manufaktur
seperti telah dibahas sebelumnya, sebuah bisnis yang membuat barang mengunakan persediaan-
bahan baku,barang dalam proses, barang jadi. Brang dalam proses dan brang jadi meliputi bahan,
tenaga kerja langsung, da biaya overhead manufaktur. Biaya overhead manufaktur meliputi
bahan tidak langsung,tenaga kerja tidak langsung da pos-pos seperti penyusutan , pajak,asuransi,
pemanas, dan listrik yang dibutuhkan dalam proses manufaktur.
H. ASUMSI ARUS BIAYA
Secara konseptual, identifikasi khusus atas pos-pos yang terjual dan pos-pos yang belum terjual
optimal, tetap cara ini sering kali tidak haya mhal tetapi juga tidak mungkin untuk di terapkan.
Sebagai akibatnya, beberapa Asumsi arus biaya yang bersifat sistematis dapat digunakan.
Sebetulnya ,arus fisik barang aktual dan asumsi biaya sering kali sangat berbeda. Tidak ada
keharusan bahwa asumsi arus biaya yang d pakai terus konsisten dengan pergeraan fisik barang.
Tujuan utama dari pemiliahan asumsi arus biaya adalah untuk memilih asumsi yang paling
mencerminkan laba periodik,sesuai kondisi yang berlaku.

a. Identifikasi khusus
Digunakan dengan cara mengidentifikasi seiap brang yang dijual dan dalam pos persediaan.
Biaya barang” yang telah terjual dimaukan dalam harga pokok penjualan, sementara biaya
barang’ hsus yang masih berada di tangan dimasukan pada persedian. Metode ini hanya bisa
digunakan dalam kondisi yang memungkinkan perusahan memisahkan pembelian yang berbeda
yag telah dilakukan secara fisik. Metod ini dapat diterapkan dengan baik dalam situasi yang
melibatkan sejumlah kecil item berharga tinggi dan dapat dibedakan.
Dalam industri ritel hal ini meliputi beberapa jenis perhiasan, jas bulu, mobil, dan sejumlah
furnitur. Dalam area manufaktur, meliputi produk pesanan, khusus dan banyak produk yang
diproduksi menurut job cost system.

b. biaya rata-rata
metode biaya rata-rata menghitung harga pos-pos yang terdapat dalam persediaan atas dasar
biaya rata-rata barang yang sama yang tersedia selama suatu periode.

I. Biaya Persediaan Manufaktur dan Dampak Peningkatan Produksi


Biaya persediaan manufaktur terdiri atas tiga komponen:
1. Bahan baku atau bahan mentah-biaya dari bahan dasar yang digunakan untuk membuat
produk.
2. Tenaga kerja –biaya tenaga kerja langsung yang dibutuhkan untuk menyelesaikan produk
jadi.
3. Overhead- biaya tidak langsung pada proses manufaktur,seperti penyusutan peralatan
manufaktur, gaji penyelia, dan biaya prasarana.
Perusahaan dapat mengistiminasi dua komponen pertama secara akurat dari spesifikasi
rancangan dan penelitian atas waktu dan pergerakan pada proses perakitan. Overhead sering kali
merupakan komponen biaya produk terbesar dan paling sulit diukur untuk tingkat produk. Total
overhead harus dialokasi pada seluruh hasil produksi. Umumnya produk yang terbanyak
menggunakan sumber daya (yaitu membutuhkan mesin mahal trbanyak atau memakai waktu
rekayasa tertinggi) harus diberikan alokasi sebagian besar dari overhead. Biaya persediaan untuk
perusahaan manufaktur umumnya dipelajari pada mata kuliah akuntansi manajemen. Namun
analis perlu waspada bahwa alokasi biaya overhead bukan merupakan ilmu pasti dan sangat
tergantung pada asumsi yang digunakan.
Analisis juga perlu mengerti dampak tingkat produksi pda profitabilitas. Overhead dialokasi pada
semua unit yang diproduksi, dan biaya ini dimasukan pada biaya persediaan, bukan menjadi
beban periode berjalan, dan tetap berada pada neraca hingga prsediaan dijual,pada saat tersebut
persediaan menjadi harga pokok penjualan pada laporan laba rugi. Jika peningkatan pada tingkat
produksi menyebabkan persediaan akhir meningkat, lebih banyak biaya overhead yang tertinggal
di neraca dan profibilitas meningkat.kemudian, saat kuantitas persediaan menurun, laporan laba
rugi terbebani dengan bukan hanya biaya overhead periode berjalan, tetapi juga biaya overhead
periode sebelumnya yang berasal dari persediaan tahun berjalan, karenanya laba menjadi turun.
Oleh karna itu, analis harus waspada terhadap dampak perubahan tinkat produksi terhadap laba
yang dilaporkan.

J. Biaya Perolehan atau Nilai Pasar


Prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku atas nilai persediaan adalah menilainya pada biaya
perolehan atau nilai pasar, mana yang lebih rendah ( lower of cost or market – LOCOM).
penilaian ini dapat mempengaruhi secara signifikan laba berjalan dan nilai persediaan. Aturan
LOCOM menyatakan bahwa jika harga pasar persediaan turun melebihi biaya perolehan
persediaan untuk alasan apapun termasuk keusangan, rusak, perubahan harga –maka nilai
persediaan diturunkan untuk mencerminkan kerugian ini. Penurunan biaya ini secara efektif
dibebankan pada pendapatan periode saat kerugian terjadi. Karena meningkatkan biaya menjadi
harga pasar dilarang ( kecuali untuk menutupi kerugian hingga kembali kembali kepada biaya
perolehan awal), maka penilaian persediaan menjadi konservatif. Nilai/harga pasar (market)
dijabarkan sebagai biaya biaya penggantian terkini melalui pembelian atau reproduksi. Meskipun
begitu, nilai pasar tidak boleh melebihi nilai realisasi bersih atau kurang dari nilai realisasi bersih
setelah dikurangi margin keuntungan normal. Batas atas nilai pasar, atau nilai realisasi bersih,
mencerminkan biaya penyelesaian dan penyerahan yang terkait dengan penjualan barang. Batas
bawah memastikan bahwa jika nilai persediaan diturunkan dari biaya perolehan awal menjadi
nilai pasar, angka penurunan yang terjadi mencakup realisasi laba kotor normal atas penjualan
yang dilakukan. Biaya (cost) merupakan biaya perolehan persediaan. Biaya ini dihitung
dengan salah satu metode biaya persediaan, misalnya FIFO, atau AVERAGE (rata-rata). Analis
persediaan kita harus mempertimbangkan dampak dari aturan LOCOM. Saat harga meningkat,
aturan ini cenderung menilai persediaan terlalu rendah tanpa memperhatikan pilihan metode
biaya persediaan. Hal ini akan menekan rasio lancar.

Cuplikan analisis:
Usaha awal toro company untuk menjual alat kebersihan salju (snowblowers) tidak berhasil.
Toro berangapan bahwa alat pembersih salju merupakan komplemen (pelengkap) usaha alat
pemotong rumputnya, terutama setelah curah salju yang begitu tinggi dari tingkat normal selama
beberapa tahun terakhir. Toro bereaksi memproduksi alat pembersih salju seolah-olah salju
merupakan usaha yang berkembang dan andal seperti tumbuhnya rumput. Tahun disaat alat
pembersih salju diperkenalkan, musim dinginnya menghasilkan salju yang lebih sedikit dari
biasanya, sehingga baik toro maupun penyalurnya memiliki persediaan barang berlebih.
Keuangan beberapa penyalur bahkan sangat tertekan hingga mereka tidak mampu mendanai
persediaan alat pemotong rumput untuk musim depan.

Cuplikan analisis:
Tingkat pengembalian barang regina company akhir-akhir ini sangat tinggi karna rendahnya
kualitas barang. Petunjuk analitis awal masalah ini terlihat dari adanya kenaikan hanpir dua kali
lipat pada persediaan barang jadi dan piutang saat peningkatan penjualan melebihi yang
diharapkan. Namun banyak investor, kreditor, dan pihak-pihak lain yang terkejut saat berita
msalah ini tersebar luas.
K. Harga Pokok Penjualan
Tujuan pokok akuntansi persediaan adalah menetapkan secara layak hasil usaha selama satu
periode dengan mengaitkan pendapatan terhadap biaya untuk memperoleh dan mempertahankan
penghasilan tersebut. Dalam akuntansi persediaan harus ditentukan apakah suatu persediaan
merupakan beban atau merupakan aktiva. Jika persediaan telah terjual maka persediaan tersebut
akan dilaporkan sebagai beban atau merupakan komponen dari harga pokok penjualan,
sebaliknya jika persediaan tersebut masih merupakan milik perusahaan (belum terjual) maka
akan dilaporkan sebagai aktiva lancar
perusahaan.
Menurut PSAK no 14, jika barang dalam persediaan di jual, maka nilai tercatat persediaan
tersebut harus diakui sebagai beban pada periode diakuinya pendapatan atas penjualan tersebut.
Proses pengakuan nilai tercatat persediaan yang telah dijual sebagai beban menghasilkan
pengaitan (matching) beban dengan pendapatan. Oleh karena itu dalam menentukan besarnya
laba harus dihitung terlebih dahulu besarnya harga pokok penjualan. Persediaan yang dibeli atau
ibuat selama suatu periode ditambahkan ke persediaan awal dan jumlah biaya persediaan ini
disebut dengan harga pokok barang tersedia untuk dijual. Pada akhir periode akuntansi, jumlah
biaya yang tersedia untuk dijual dialokasikan antara persediaan yang masih tersisa (dicatat di
neraca sebagai aktiva) dan persediaan yang dijual selama periode (dilaporkan dalam laba rugi
sebagai biaya, harga pokok penjualan). Secara ringkas dapat kita ilustrasikan
sebagai berikut:

Penjualan barang dagangan XXX


Harga pokok penjualan terdiri dari:
Persediaan 1 Jan 2003 XXX
Pembelian XXX
(Retur pembelian) (XXX)
(Potongan pembelian) (XXX)
Pembelian bersih XXX
Persediaan tersedia untuk dijual XXX
Persediaan 31 Des 2003 (XXX)
Harga pokok penjualan barang dagangan (XXX)
Laba/(Rugi) kotor XXX
Dalam menentukan harga perolehan dan harga pokok persediaan akan
dipengaruhi oleh sistem pencatatan dan system penilaian persediaan yang
digunakan oleh perusahaan

K. SISTEM PENCATATAN PERSEDIAAN


Untuk dapat menetapkan nilai persediaan pada akhir periode dan menetapkan biaya persediaan
selama satu periode, sistem persediaan yang digunakan adalah:
1. Sistem Periodik (physical), yaitu pada setiap akhir periode dilakukan perhitungan secara
phisik untuk menentukan jumlah persediaan akhir. Perhitungan tersebut meliputi
pengukuran dan penimbangan barangbarang yang ada pada akhir suatu periode untuk
kemudian dikalikan dengan suatu tingkat harga/biaya. Perusahaan yang menerapkan
sistem periodik umumnya memiliki karakteristik persediaan yang beraneka ragam namun
nilainya relatif kecil. Sebagai ilustrasi adalah kios majalah di sebuah pusat perkantoran
dan pertokoan yang menjual berbagai jenis majalah, koran, alat tulis, aksesoris
handphone, dan gantungan kunci. Jenis persediaan beraneka ragam namun nilainya
relatif kecil sehingga tidaklah efisien jika harus mencatat setiap transaksi yang nilainya
kecil namun frekuensi transaksi tinggi. Meskipun demikian sebenarnya pada saat ini
alasan tersebut dapat diabaikan dengan adanya teknologi komputer yang meMudahkan
pencatatan transaksi dengan frekuensi tinggi, misalnya seperti di toko retail.
1. Sistem Permanen (Perpetual), yaitu melakukan pembukuan atas persediaan secara terus
menerus yaitu dengan membukukan setiap transaksi persediaan baik pembelian maupun
penjualan. Sistem perpetual ini seringkali digunakan dalam hal persediaan memiliki nilai
yang tinggi untuk mengetahui posisi persediaan pada suatu waktu sehingga perusahaan
dapat mengatur pemesanan kembali persediaan pada saat mencapai jumlah tertentu.
Misalnya persediaan alat rumah tangga elektronik (mesin cuci, kulkas, microwave).
Perbedaan penggunaan kedua metode adalah pada akun yang digunakan untuk mencatat
pembelian persediaan. Pada system pencatatan periodik pembelian persediaan dicatat dengan
mendebit akun pembelian sehingga pada kahir periode akan dilakukan penyesuaian untuk
mencatat harga pokok barang yang dijual dan melaporkan nilai persediaan pada akhir periode.

a. PENILAIAN PERSEDIAAN DENGAN SISTEM FISIK (PERIODIK)


Untuk menentukan nilai persediaan barang pada akhir periode menurut system pisik
adalah sebagai berikut :
1. Metode Tanda Pengenal Khusus
2. Metode RataRata
3. Metode MPKP ( FIFO )
4. Metode MTKP ( LIFO )
5. Metode Persediaan Dasar.

1. Metode Tanda Pengenal Khusus


Dalam metode tanda pengenal khusus ( specific identification ) setiap barang yang dibeli atau
yang masuk diberi kode / tanda pengenal yang menunjukkan harga per satuan sesuai faktur yang
diterima. Pada metode ini sudah jelas harga per satuannya Dengan demikian untuk mengetahui
jumlah atau nilai persediaan pada akhir periode tinggal mengalikan jumlah barang yang masih
ada dengan harga yang tercantum dalam etiket barang tersebut.

2. Metode RataRata
a. Metode RataRata Sederhana
Dalam metode ini harga barang ditentukan dengan cara membagi jumlah harga beli per satuan
setiap transaksi pembelian dan persediaan awal dengan frekwensi pembelian dan persediaan
awal periode.
b. Metode Rata-Rata Tertimbang
Dalam metode ini harga barang ditentukan dengan cara membagi jumlah harga barang yang
tersedia untuk dijual yakni jumlah persediaan awal ditambah jumlah pembelian dengan kuantitas
barang tersebut

3. Metode MPKP ( FIFO )


Dalam metode ini, barang yang lebih dulu masuk diaggap lebih dulu keluar atau dijual sehingga
nilai persediaan akhir terdiri atas persediaan barang yang dibeli atau yang masuk belakangan.
Jadi harga pokok barang yang keluar (dijual) dihitung berdasarkan harga barang yang dibeli
lebih dahulu, sesuai dengan jumlah pembeliannya. Atau dengan kata lain nilai persediaan akhir
barang didasarkan pada harga barang yang dibeli terakhir, sesuai dengan jumlah unitnya.

4. Metode MPKP ( LIFO )


Dalam metode ini, barang yang terakhir masuk diaggap lebih dulu keluar atau dijual sehingga
nilai persediaan akhir terdiri atas persediaan barang yang dibeli atau yang masuk lebih awal.
Sehingga harga pokok barang yang terjual dihitung berdasarkan pada harga barang yang dibeli
terakhir sesuai dengan jumlah unitnya, atau nilai persediaan barnag didasarkan pada harga
barang yang dibeli pada awal, sesuai dengan jumlah unitnya.

5. Metode Persediaan Dasar ( Basic Stock )


Disebut juga sebagai persediaan besi yakni persediaan minimum yang harus dimiliki oleh
perusahaan untuk menjaga likuiditas perusahaannya. Dalam metode Ini keterlambatan masuknya
barang yang disebabkan adanya kemacetan atau sebabsebab lain tidak mengganggu persediaan
sehingga perusahaan masih dapat melayani pelanggan atau pembeli.
Dalam metode ini persediaan akhir dihitung berdasarkan harga pokok yang ditetapkan. Adapun
selisih antara persediaan barang yang ada dengan persediaan dasar dinilai dengan harga menurut
metode yang dikehendaki ( Metode ratarata, MPKP, MTKP, harga pasar dll ).

b. PENILAIAN PERSEDIAAN DENGAN SISTEM PERPETUAL


Dalam sistem perpetual setiap terjadi mutasi persediaan dicatat dalam akun persediaan. Metode
penilaian persediaan digunakan pada saat terjadi transaksi penjualan, dengan membuat Kartu
Persediaan Barang secara lengkap yang memuat kuantitas, harga satuan, jumlah harga baik untuk
lajur masuk, keluar, maupun sisa. Kartu persediaan tersebut sebagai buku pembantu untuk tiap
macam barang digunakan atau yang dijual. Sehingga apabila perusahaan memiliki 15 jenis
barang, maka harus membuat Kartu Persediaan barang sebanyak 15.
Metode penilaian persediaan dalam pencatatan secara perpetual sebagai berikut :
1. Metode RataRata bergerak ( Moving Average )
Dalam metode ini, harga beli ratarata dihitung setiap terjadi transaksi
pembelian. Harga pokok penjualan per satuan didasarkan pada harga ratarata pada saat terjadi
transaksi penjualan.
2. Metode FIFO
Metode ini beranggapan barang yang ada paling awal dianggap dijual paling awal juga.
Perbedaanya adalah dalam metode perpetual perhitungan harga pokok dilakukan pada saat
terjadi penjualan.
3. Metode LIFO
Pada metode ini barang yang terakhir dibeli dianggap dijual lebih dahulu. Harga pokok
dihitung pada saat terjadi penjualan

c. PENILAIAN PERSEDIAAN DENGAN METODE TAKSIRAN


Penetapan harga pokok persediaan dengan metode cost mengharuskan perusahaan untuk
mengadakan perhitungan secara pisik atas persediaan, umumnya memerlukan waktu lama dan
biaya yang besar . Pada perusahaan tertentu seperti Toserba atau swalayan, metode cost dirasa
kurang praktis atau tidak efisien. Untuk itu diperlukan metode lain, yakni metode Taksiran,
khususnya dalam penilaian persediaan pada laporan intern. Dalam metode ini dapat digunakan
dua cara yakni :
a. Metode Eceran
b. Metode Laba kotor.

Metode Eceran
Metode ini banyak digunakan pada perusahaanperusahaan besar seperti toserba atau
swalayan yang memperdagangkan puluhan bahkan ratusan jenis barang. Dalam hal ini setiap
jenis barang yang ada dilekati label harga jual eceraannya sehingga pelayan toko lebih tahu harga
jual eceran dari pada harga pokoknya dan lebih mudah baginya membuat laporan atas barang
yang masih ada berdasarkan harga eceran tersebut .
Prosedur penilaian persediaan :
 Atas persediaan awal , selain diketahui harga pokoknya, juga diketahui harga jual
ecerannya
 Setiap terjadi transaksi pembelian harus diketahui jumlah harga jualnya
 Dihitung barang tersedia untuk dijual menurut harga beli dan menurut harga jual.
 Dihitung prosentase harga pokok terhadap harga jual dengan rumus :

Harga Pokok Persediaan Barang Tersedia dijual


X 100 % = ………%
Harga jual barang tersedia dijual
 Prosentase harga pokok dengan harga jual tersebut digunakan untuk menaksir harga
pokok persediaan yang ada pada kahir akhir suatu periode.

Metode Laba Kotor ( Gross Profit Method )


Dalam metode ini konsep yang digunakan adalah konsep hubungan antara harga pokok dan
harga jual. Besarnya prosentase laba kotor umumnya didasarkan prosentase laba-laba tahun lalu.

Metode laba kotor dapat bermanfaat dalam kondisi berikut ini :


a) Perusahaan memerlukan laporan persediaan untuk keperluan intern bila perusahaan
menggunakan sistem periodik. Atau untuk melihat persedian bulanan,sedang biaya stock opname
sangat mahal.
b) Persediaan rusak atau musnah akibat kebakaran, pencurian, bencana alam dll.
c) Untuk menguji keabsahan angka persediaan yang dihitung dengan cara lain.
Dalam metode laba kotor besarnya prosentase laba kotor dapat dihitung dengan
 Prosentase laba kotor dari harga jual
 Prosentase laba kotor dari harga pokok.
Prosentase laba kotor dihitung dari harga Jual
Dalam metode ini harga jual adalah 100%, sedangkan Harga pokok barang yang dijual adalah
100% dikurangi laba kotor, atau persen laba kurang dari 100. Cara menentukan nilai persediaan
akhir adalah sebagai berikut :
1. Dihitung lebih dahulu jumlah barang tersedia untuk dijual dengan jalan menambahkan
persediaan barang daganga awal tahun ditambah pembelian bersih tahun berjalan.
2. Dihitung harga pokok barang yang dijual dengan cara jumlah penjualan dikurangi
persentase dikali jumlah penjualan.
3. Dihitung nilai persediaan akhir barang dagangan, yakni barang tersedia untuk
dijualdikurang harga pokok barang yang sudah dijual.
Persentase laba kotor dihitung dari harga Pokok.
Bila persentase laba kotor ditentukan dari harga pokok , besarnya harga jual adalah harga pokok
( 100% ) ditambah prosentase laba. Jadi harga jual lebih dari seratus persen atau disebut persen
laba diatas seratus.
Unsur dasar perhitungan disc dan pajak-pajak (PPN) dalam pembelian atau pengadaan barang
dan jasa

B. Pajak
Pajak adalah besaran nilai suatu barang atau jasa yang wajib dibayarkan oleh masyarakat kepada
pemerintah. Besaran pajak diatur oleh peraturan perundang-undangan sesuai dengan jenis
pajak
Jenis pajak yang terkait dengan jual beli terdiri dari:
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang harus dibayarkan oleh pembeli kepada
penjual atas konsumsi/pembelian barang atau jasa. Penjual tersebut mewakili pemerintah
untuk menerima pembayaran pajak dari pembeli untuk disetorkan ke kas negara. Besar PPN
adalah 10% dari harga jual.
Contoh:
Jika harga jual Rp80.000 (tanpa pajak). Dengan PPN, maka pembeli harus membayar sebesar:

= Rp80.000 + Rp8.000
= Rp88.000

PENGERTIAN PAJAK PERTAMBAHAN NILAI (PPN)


Apa itu PPN? Pajak Pertambahan Nilai atau PPN adalah pungutan yang dibebankan atas transaksi
jual-beli barang dan jasa yang dilakukan oleh wajib pajak pribadi atau wajib pajak badan yang
telah menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP). Jadi, yang berkewajiban memungut, menyetor dan
melaporkan PPN adalah para Pedagang/Penjual. Namun, pihak yang berkewajiban membayar PPN
adalah Konsumen Akhir.
PPN atau Pajak Pertambahan Nilai dikenakan dan disetorkan oleh pengusaha atau perusahaan yang
telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP). Namun beban PPN tersebut ditanggung
oleh konsumen akhir. Sejak 1 Juli 2016, PKP se-Indonesia wajib membuat e-faktur atau faktur
pajak elektronik untuk menghindari penerbitan faktur pajak fiktif untuk pengenaan PPN kepada
lawan transaksinya.

Objek PPN (Pajak Pertambahan Nilai)


Yang dikenakan Pajak Pertambahan Nilai atau biasa disebut dengan Objek PPN adalah:
o Penyerahan Barang Kena Pajak (BKP) dan Jasa Kena Pajak (JKP) di dalam Daerah Pabean
yang dilakukan oleh pengusaha
o Impor Barang Kena Pajak
o Pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah
Pabean
o Pemanfaatan Jasa Kena Pajak dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean
o Ekspor Barang Kena Pajak berwujud atau tidak berwujud dan Ekspor Jasa Kena Pajak oleh
Pengusaha Kena Pajak (PKP)

Tarif PPN (Pajak Pertambahan Nilai)


Tarif PPN menurut ketentuan Undang-Undang No.42 tahun 2009 pasal 7 :
1. Tarif PPN (Pajak Pertambahan Nilai) adalah 10% (sepuluh persen).
2. Tarif PPN (Pajak Pertambahan Nilai) sebesar 0% (nol persen) diterapkan atas:
1. Ekspor Barang Kena Pajak Berwujud
2. Ekspor Barang Kena Pajak Tidak Berwujud
3. Ekspor Jasa Kena Pajak
3. Tarif pajak sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berubah menjadi paling rendah 5%
(lima persen) dan paling tinggi sebesar 15% (lima belas persen) sebagaimana diatur oleh
Peraturan Pemerintah.

Pengusaha Kena Pajak Sebagai Pihak yang Menyetor dan Melaporkan


PPN
Pengusaha Kena Pajak (PKP) adalah pihak yang wajib menyetor dan melaporkan PPN. Setiap
tanggal di akhir bulan adalah batas akhir waktu penyetoran dan pelaporan PPN oleh PKP.
Sesuai dengan ketentuan PMK No.197/PMK.03/2013, suatu perusahaan atau seorang pengusaha
ditetapkan sebagai PKP bila transaksi penjualannya melampaui jumlah Rp 4,8 miliar dalam
setahun. Jika pengusaha tidak dapat mencapai transaksi dengan jumlah Rp 4,8 miliar tersebut,
maka pengusaha dapat langsung mencabut permohonan pengukuhan sebagai PKP.
Dengan menjadi PKP, pengusaha wajib memungut, menyetor dan melaporkan PPN yang terutang.
Dalam perhitungan PPN yang wajib disetor oleh PKP, ada yang disebut dengan pajak keluaran
dan pajak masukan. Pajak keluaran ialah PPN yang dipungut ketika PKP menjual produknya.
Sedangkan, pajak masukan ialah PPN yang dibayar ketika PKP membeli, memperoleh maupun
membuat produknya.

Jurnal Akuntansi PPN Keluaran


Pada saat pemungutan PPN oleh PKP, yang harus diingat adalah pajak keluaran yang dipungut
pada hakikatnya adalah milik negara sehingga pajak keluaran merupakan hutang bagi PKP.
Misal, tanggal 04 April 2017, PT DEF (PKP) menjual barang dagangannya dengan harga
Rp200.000. Pajak keluaran yang dipungut adalah Rp20.000 (10% dari Harga Jual). Untuk Jurnal
akuntansi pada saat penjualan ini adalah sebagai berikut:
Akun Debit Kredit

Kas 220.000

Penjualan 200.000

Pajak Keluaran 20.000


Perhatikan bahwa, kas yang diterima adalah Rp220.000.000 yaitu harga jual dan PPN yang
dipungut. Nilai Penjualan sebesar Rp200.000 dan utang pajak keluaran Rp20.000. Jika penjualan
kredit, maka akun kas diganti dengan akun piutang dagang.
Jurnal Akuntansi PPN Masukan
Kebalikan dari PPN keluaran, PPN masukan pada hakikatnya adalah piutang karena PPN yang
dibayar dapat diklaim ke negara. Akun Pajak Masukan ada di bagian kredit dalam jurnal
akuntansinya. Misalnya, pada tanggal 06 Oktober 2017 PT DEF (PKP) membeli barang untuk
persediaan barang dagangannya dari PT. UVW (PKP). Harga belinya adalah Rp50.000,- dan
PPN masukan yang dibayar adalah Rp5.000,-. Jurnal akuntansinya adalah.

Akun Debit Kredit

Pembelian 50.000

Pajak Masukan 5.000

Kas 55.000
Kas yang dikeluarkan adalah Rp55.000 yang terdiri dari harga beli Rp50.000 dan PPN masukan
Rp5.000 (10% dari Harga Beli). Jika pembelian dilakukan secara kredit, akun kas diganti dengan
utang dagang.

Jurnal Akuntansi Pembayaran PPN


Seluruh pajak keluaran dan pajak masukan selama sebulan diperhitungkan dalam SPT Masa
PPN. Jika PK lebih besar dari PM maka PKP masih harus membayar selisihnya ke kas negara.
Berdasarkan contoh PT. DEF di atas, dengan asumsi tidak ada transaksi lain, maka jurnal
perhitungannya adalah sebagai berikut:
Akun Debit Kredit

Pajak Keluaran 20.000

Pajak Masukan – 5.000

Kas – 15.000
Membalikkan perkiraan Pajak Keluaran dan Pajak Masukan, maka utang piutang PPN ini seolah-
olah sudah dilunasi. Selisih pajak keluaran di atas pajak masukan Rp15.000,- merupakan
kewajiban PKP untuk melunasinya.

Pengertian Aktiva Pajak Tangguhan (Deferred Tax Assets)


Aktiva Pajak Tangguhan (Deferred Tax Assets) adalah Jumlah pajak penghasilan terpulihkan
pada periode mendatang sebagai akibat adanya:
1. Perbedaan temporer yang boleh dikurangkan (deductible temporary differences).
2. Sisa kerugian yang belum dikompensasikan.
Penilaian kembali Aktiva Pajak Tangguhan (Deferred Tax Assets) harus dilakukan setiap tanggal
neraca, terkait dengan kemungkinan dapat atau tidaknya pemulihan aktiva pajak tangguhan
(Deferred Tax Assets) direalisasikan dalam periode mendatang. Penyajian akiva pajak tangguhan
(Deferred Tax Assets) dalam neraca harus disajikan terpisah dari aktiva, disajikan dalam aktiva
tidak lancar. Pengukuran akiva pajak tangguhan (Deferred Tax Assets) didasarkan pajak
peraturan yang berlaku, efek perubahan peraturan perpajakan yang terjadi di kemudian hari tidak
boleh diantisipasi atau diestimasikan. Perbedaan temporer timbul sebagai konsekuensi logis dari
adanya perbedaan standar atau ketentuan yang berkaitan dengan pengakuan (kriteria dan
periode), dan pengukuran atau penilaian elemen-elemen laporan keuangan yang berlaku dalam
disiplin akuntansi perpajakan (ketentuan perpajakan) disatu pihak dengan standar atau ketentuan
yang berlaku dalam disiplin akuntansi keuangan dipihak yang lain.

Pengertian Kewajiban Pajak Tangguhan (Deffered Tax Liabilities)


Kewajiban Pajak Tangguhan (Deferred Tax Liabilities) adalah Jumlah Pajak Penghasilan yang
terutang untuk periode mendatang sebagai akibat perbedaan temporer kena pajak (taxable
temporary differences).
Perbedaan temporer timbul sebagai konsekuensi logis dari adanya perbedaan standar atau
ketentuan yang berkaitan dengan pengakuan (kriteria dan periode), dan pengukuran atau
penilaian elemen-elemen laporan keuangan yang berlaku dalam disiplin akuntansi perpajakan
(ketentuan perpajakan) disatu pihak dengan standar atau ketentuan yang berlaku dalam disiplin
akuntansi keuangan dipihak yang lain.
Penyajian Kewajiban Pajak Tangguhan (Deferred Tax Liabiliies) dalam neraca harus disajikan
terpisah dari kewajiban pajak kini, disajikan dalam kewajiban tidak lancar.
Pengukuran Kewajiban pajak tangguhan (Deferred Tax Assets) didasarkan pajak peraturan yang
berlaku, efek perubahan peraturan perpajakan yang terjadi di kemudian hari tidak boleh
diantisipasi atau diestimasikan.
Contoh Kewajiban Pajak Tangguhan (Deferred Tax Liabiliies)
PT. Gunung Slamet Indah adalah perusahaan yang mempunyai kegiatan usaha dibidang
penjualan mobil.
 Data penjualan mobil tahun 2016 adalah sebesar Rp.50.500.000.000,00 (lima puluh milyar
lima ratus juta rupiah).
 Data penjualan mobil tahun 2017 adalah sebesar Rp.51.000.000.000,00 (lima puluh satu
milyar rupiah).
 Laba Komersial Tahun 2017 sebesar Rp.4.500.000.000,00 (empat milyar lima ratus juta
rupiah).
 Koreksi fiskal negatif atas biaya penyusutan sebesar Rp.200.000.000,00 (dua ratus juta
rupiah) ini terjadi karena biaya penyusutan menurut akuntansi pajak (fiskal) diakui lebih
besar dari pada menurut akuntansi keuangan komersial.
 Laba Fiskal sebesar Rp.4.300.000.000,00 (Rp.4.500.000.000,00 - Rp.200.000.000,00).
 Pajak Penghasilan PPh Badan yang terutang sebesar Rp. 1.075.000.000,00
(Rp.4.300.000.000,00 x 25 %).
 Apabila tidak ada koreksi fiskal atas penyusutan Pajak Penghasilan PPh Badan yang
terutang adalah sebesar 1.125.000.000,00 (Rp.4.500.000.000,00 x 25 %).
 Sehingga terdapat kewajiban pajak tangguhan sebesar Rp.50.000.000,00
(Rp.1.125.000.000,00 - Rp. 1.075.000.000,00)

Pengertian Konsep Nilai Waktu Uang


Konsep nilai waktu uang adalah suatu konsep yang berkaitan dengan waktu dalam menghitung
nilai uang. Maksudnya, uang yang dimiliki seseorang pada hari ini tidak akan sama nilainya
dengan satu tahun yang akan datang.
Uang yang diterima sekarang nilainya lebih besar daripada uang yang akan diterima dimasa
mendatang. Nilai waktu dari uang berhubungan dengan nilai saat ini dan nilai yang akan datang.
Nilai waktu dari uang menunjukkan perubahan nilai uang akibat dari berjalannya waktu. Nilai
uang dapat berubah seiring berjalannya waktu. Uang 10 juta saat ini akan berubah nilainya setelah
satu tahun berjalan. Di sini secara tidak langsung menunjukkan waktu menjadi fungsi dari uang,
atau waktu merupakan salah satu variabel yang mempengaruhi perubahan suatu nilai uang.

Contohnya
Seorang pedagang meminjang uang di bank sebesar Rp. 1.000.000 untuk jangka pengambilan
satu tahun. Bunga pinjaman bank sebesar 10% .
Maka pada akhir tahun, pedagang tersebut harus mengembalikan uang kepada bank sebesar Rp.
1.100.000. pengambilan uang tersebut terdiri dari pembayaran pokok pinjaman sebesar Rp.
100.000.
Dalam hal ini menunjukkan bahwa pedagang dan pihak bank sepakat untuk memberikan penilaian
terhadap uang sebesar Rp. 1.100.000 untuk satu tahun ke depan sama dengan Rp. 1.000.000 pada
saat ini.
Dengan kata lain, uang Rp. 1.000.000 yang dipegang saat ini memiliki nilai yang lebih besar
dibanding dengan nilai Rp. 1.000.000 dikemudian hari. Jika saat ini uang sebesar Rp. 1.000.000
dapat di belanjakan untuk membeli sembako 100kg beras, maka pada tahun depan, jumlah uang
yang sama akan memperoleh beras kurang dari 100kg.
Istilah yang sering digunakan dalam konsep nilai waktu uang adalah sebagai berikut :
Pv = Present Value (Nilai Sekarang)
Fv = Future Value (Nilai yang akan datang)
i = Interest (suku bunga)
n = Tahun ke-
An = Anuity
Si = Simple Interest dalam rupiah
Po = Pokok/jumlah uang yg dipinjam/dipinjamkan pada periode waktu

Contoh-Contoh Konsep Nilai Waktu Uang


 Nilai yang akan datang
Nilai yang akan datang ialah nilai uang yang diterima di masa mendatang dari sejumlah modal
yang ditanamkan sekarang dengan tingkat bunga tertentu.

Contoh Kasus
Tuan Juan pada 1 Januari 2010 menanamkan modalnya sebesar Rp 100.000.000,00 dalam
bentuk deposito di bank selama 1 tahun, dan bank bersedia memberi bunga 10% per tahun, maka
pada 31 Desember 2010. Tuan Juna akan menerima uang miliknya yang terdiri dari modal pokok
ditambah bunganya.
Diketahui :
Mo = 100.000.000
I = 10% = 10/100 = 0,1
n =1
Jawab :
FV = Mo(1 + i)n
FV = 100.000.000 ( 1 + 0,10 )1
FV = 100.000.000 ( 1 + 0,1 )
FV = 100.000.000 (1,1)
FV = 110.000.000
Jadi, nilai yang akan datang uang milik Tuan Juan adalah Rp 110.000.000,00.
 Nilai sekarang
Nilai sekarang ialah nilai sejumlah uang saat ini dapat dibungakan untuk memperoleh jumlah yang
lebih besar dimasa yang akan datang.

Contoh Kasus
Dua tahun lagi Tama akan menerima uang sebanyak Rp 50.000,00. Berapakah nilai uang
tersebut sekarang jika tingkat bunga adalah 12 % setahun?
Diketahui :
Fv = 50.000,00
i = 0,12
n =2
Jawab :
Pv = Fv/(1+i)n
Pv = 50.000/(1 + 0,12)(2)
Pv = 50.000/2,24
Pv = 22.321,43
Jadi, nilai sekarang uang milik Tama adalah Rp 22.321,43,00

 Nilai masa datang dan nilai sekarang


Faktor bunga pada nilai sekarang PVIF (r,n), yakni persamaan untuk diskonto dalam mencari nilai
sekarang ialah kebalikan dari faktor bunga nilai masa depan FVIF (r,n).

Contoh Kasus
Jika Joni menabung Rp 5.000.000,00 dengan bunga 15% maka setelah 1 tahun Joni akan
mendapat?
Diketahui :
Ko = 5.000.000
r = 15% = 15/100 = 0,15
n =1
Jawab :
FV = Ko (1 + r)^n
FV = 5.000.000 (1+0.15)^1
FV = 5.000.000 (1,15)
FV = 5.750.000
Jadi, nilai mendatang uang yang dimilik Joni adalah sebesar Rp 5.750.000.

Anuitas ialah suatu rangkaian pembayaran atau penerimaan tetap yang dilakukan secara berkala
pada jangka waktu tertentu. Selain itu, anuitas juga diartikan sebagai kontrak di mana perusahaan
asuransi memberikan pembayaran secara berkala sebagai imbalan premi yang telah Anda
bayar. Contohnya adalah bunga yang diterima dari obligasi atau dividen tunai dari suatu saham
preferen.
Dalam akuntansi diketahui bahwa dalam praktiknya akuntansi mempunyai standar yang harus
dipatuhi dan dijalankan dalam penyusunan dan pelaporan laporan keuangan. Standar akuntansi
adalah sekumpulan peraturan serta prosedur pelaksaanan akuntansi yang sudah disusun dan telah
disahkan oleh lembaga resmi. Standar ini perlu ada karena mengingat banyaknya pengguna
laporan keuangan sehingga perusahaan tidak boleh membuat dan melaporkan laporan keuangan
dengan cara sesuka hati mereka tanpa memperhatikan standar penyusunan dan pelaporan sehingga
akan menyulitkan pengguna laporan keuangan untuk memahaminya. Tujuan dibuatnya standar
adalah untuk mempermudah para pengguna laporan keuangan memahami laporan keuangan yang
disusun dan dilaporkan.
Pembentukan standar akuntansi sendiri dilatar belakangi karena pada setiap negara biasanya
mempunyai standar sendiri-sendiri, hal tersebut akan menyusahkan para penguin karena standar
pada suatu negara berbeda dengan negara lainya, oleh karena itu perlunya standar yang seragam.
Standar akuntansi menyisakan masalah dalam pemaikaiannya serta pemakai kepentingan
terhadapnya, sehingga mekanisme penyusunan standar akuntansi harus diatur sehingga memberi
dampak yang positif kepada semua pihak yang berkepentingan terhadap laporan keuangan. Dalam
paper ini akan dibahas mengenai principle based dan rule base, manakah yang lebih cocok
diterapkan di Indonesia.
Dalam penyusunannya standar akuntansi mepunyai dua pendekatan utama yaitu standar berbasis
prinsip (Principle based) serta standar berbasis aturan (Rule Based) kedua konsep ini memiliki
karakteristik masing-masing yang membuat standar akuntansi dapat diterima di suatu negara,
selain itu keduanya juga memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing yang dapat menjadi
penilaian sendiri dalam penentuan standar yang digunakan.
Standar akuntansi yang menggunakan principles-based antara lain IFRS, sedangkan standar yang
menggunakan rules-based yaitu US GAAP. Saat ini, pendekatan principles-based yang menjadi
patokan berbagai negara di Dunia.
Pada dasarnya tidak ada standar yang murni berbasis aturan ataupun prinsip. Setiap standar
akuntansi pasti merupakan perpaduan dari keduanya, namun ada salah satu pendekatan yang
ditonjolkan. Karena pendekatan basis prinsip lebih fleksibel terhadap perubahan-perubahan yang
terjadi dan dapat menggambarkan keadaan yang sesungguhnya (representational faithfulness),
maka principles-based lebih banyak digunakan di Negara-negara di dunia.
Standar akuntansi yang berbasis rules-based berisi pedoman penyusunan laporan keuangan yang
bersifat rinci yang didasarkan atas asumsi bahwa transaksi keuangan yang dilaporkan memerlukan
suatu pedoman yang menjamin ketepatan dan kekonsistenan penyusunannnya. Sehingga standar
akuntansi yang berbasis rules-based ini menjadi standar yang lebih panjang dan kompleks.
Standar yang ideal akan mengasilkan keseimbangan antara aturan dan prinsip, sehingga akan
menghasilkan suatu laporan keuangan yang berkualitas. Menurut DiPazza at all (2008)
Karakteristik laporan keuangan yang berkualitas itu sendiri diantaranya yaitu :
1. Dibuat berdasarkan kerangka konseptual dan konsisten dengan kerangka konseptual akuntansi
tersebut.
2. Ditulis dengan bahasa yang ringkas dan jelas agar mudah dipahami oleh pengguna laporan
keuangan.
3. Penyajian yang sebenarnya (faithful presentation) terhadap realitas ekonomi.
4. Responsif terhadap kebutuhan pengguna laporan keuangan akan kejelasan dan transparansi.
5. Didsarkan pada ruang lingkup yang tepat yang ditujukan area yang luas.
6. Memungkinkan dalam penyusunan pertimbangan yang masuk akal.
Penyusun laporan keuangan harus mampu menggunakan pertimbangan profesionalnya untuk
dapat melaporkan dengan kondisi ekonomi perusahaan yang sebenarnya. Proses pelaporan
keuangan saat ini tidak lagi diwajibkan untuk mencari aturan yang mengatur bagaimana untuk
mencatat suatu transaksi atau membuat pengungkapan. Namun, lebih kepada proses pelaporan
keuangan akan menekankan penggunaan pertimbangan profesional.

Principal Based dan Rules Based


Perbedaan principle based dan Rule based
perbedaan principle based dan rule based dilihat dari beberapa sisi:
1. Sifat, dilihat dari sifatnya principle based mempunyai sifat yang lebih umum, sedangkan rule
based sifatnya lebih spesifik dan rinci;
2. Isi, Principle based berisi apa yang seharusnya dilakukan sedangkan isi dari rule based memuat
tentang bagaimana harus dilakukan; dan
3. Karakteristik, dari bentuk karakteristiknya principle based cenderung lebih ringkas dan padat
sedangkan pada rule based lebih kompleks dan cenderung lebih banyak penomorannya;
Keunggulan Principle Based dan kelemahan Rule Based
Kelebihan utama dari pendekatan principles-based yaitu dapat diterapkan dalam berbagai situasi
dan fleksibel dalam menghadapi lingkungan baru. Sedangkan standar akuntansi basis rules-based
tidak mempunyai keduanya. Kemudian principles-based juga memungkinkan bagi akuntan untuk
lebih dituntut dalam pengambilan professional judgement. Sehingga diharapkan profesionalisme
akuntan juga akan meningkat karena di hadapkan dengan aturan tersebut.
Principle Based Standard memiliki keunggulan yang tidak dimiliki Rule Based standard, antara
lain:
1. Mudah dipahami;
2. Antara satu prinsip dan prinsip lainya terhubung secaea jelas;
3. Terjaminya konsistensi antar prinsip dan antar standar individual; dan
4. Apabila terjadi pertentangan makna atau kontradiksi prinsipakan lebih mudah diperbaiki dan
disempurnakan oleh penyusun-penyusun standar.
Sedangkan kelemahan dari principles-based yaitu karena tidak ada peraturan yang diatur secara
jelas, ini menyebabkan ketidak konsistenan dalam penenerapan standarnya. Sehingga sulit untuk
memebandingan dengan perusahaan lain. Contohnya yaitu perusahaan yang berbeda akan
penentuan kemungkinan liabilitas itu besar terjadi (probable) atau hanya sebatas kemungkinan
terjadi (possible).
Beberapa kelemahan rule based antara lain:
1. Kurang lengkap, lebih tepatnya bahwa rule based selalu dirasa kurang lengkap isinya;
2. Cenderung tidak bisa bertahan lebih lama Karena isinya yang eksplesit, dan tidak bisa
menyesuaikan terhadap perubahan lingkungan akuntansi pada saat ini;
3. Terasa over-regulated atau berlebihan oleh pengguna standar.
Bagaimana Penerapannya Indonesia? apakah Indonesia menggunakan Rule Based atau
menggunakan Principle Based? Sejak tahun 2004 Profesi akuntansi di Indonesia telah melakukan
konvergensi dari PSAK / Indonesia GAAP menjadi IFRS, dari hal tersebut bisa dijelaskan bahwa
Indonesia sudah serius menggunakan Principle based yang merupakan dasar dari IFRS. Lantas
cara seperti apa yang dilakukan Indonesia dalam konvergensi tersebut? menurut Wiyani (2012),
Indonesia melakukan dengan cara adopsi, tapi tidak adopsi secara penuh dikarenakan adanya
beberapa perbedaan proses bisnis di Indonesia. Hal tersebut juga dijelaskan oleh Manaf (2013),
yang menjelaskan ada beberapa poin dari IFRS yang disesuaikan dengan keadaan bisnis di
Indonesia seperti PSAK 59 yang mengatur tentang perbankan syariah.
Di Indonesia sendiri dalam penerapannya dilakukan melalui 3 tahap implementasi yaitu:
 Tahap Adopsi (2008 – 2011), IFRS pada tahun tersebut diadopsi ke PSAK,
 Tahap Persiapan Akhir (2011), disini dilakukan penyelesaian terhadap persiapan
infrastruktur yang diperlukan. Selanjutnya, dilakukan penerapan secara bertahap beberapa
PSAK berbasis IFRS.
 Tahap Implementasi (2012), dilakukan penerapan dan evaluasi terhadap dampak penerapan
PSAK secara komprehensif.

Kesimpulan
Pada dasarnya PSAK di Indonesia sudah mulai mengadopsi IFRS walaupun masih ada sebagian
yang menyesuaikan dengan kondisi bisnis di Indonesia. IFRS sendiri menggunakan standar
berbasis prinsip atau principle based standard dan dalam praktiknya sendiri di Indonesia selama
pengabdosian belum ada masalah tentang standar tersebut.
Sesuai pembahasan-pembahasan diatas di Indonesia cocok menggunakan principle based karena
banyak keunggulan principle based yang tidak ada di rule based. Keunggulan itu juga yang
merupakan dapat disesuaikan dengan kondisi bisnis di Indonesia. Di Indonesia sendiri banyak
bisnis yang bersifat syariah dengan mengadopsi IFRS maka PSAK untuk entitas syariah pun bisa
disesuaikan.
Kemudian karena banyaknya Negara-negara di dunia yang menggunakan standar berbasis
principles-based ini akan menguntungkan Indonesia jika menggunakan principles-based juga
dalam standar akuntansinya. Ini berkaitan dengan pasar modal yang memiliki peran besar bagi
perekonomian suatu negara. Investor asing akan lebih memilih mengeluarkan dana investasinya
pada perusahaan yang berada di Negara yang memiliki pendekatan standar akuntansi yang sama,
karena penggunaan standar yang sama ini akan mendorong para investor untuk mengeluarkan dana
investasinya di pasar modal di negara tersebut.
Hal ini dikarenakan kualitas dari laporan keuangan yang dihasilkan dari principles-based memiliki
pengungkapan yang lebih luas, kredibilitas yang tinggi, informasi keuangan yang relevan dan
akurat serta dapat diperbandingkan dan hal lainnya yang tidak kalah penting yaitu dapat diterima
secara internasional dan mudah untuk dipahami.

Konsep (Metode) Pencatatan Akuntansi


Cash Basis merupakan salah satu konsep yang sangat penting dalam akuntansi, dimana Pencatatan
basis kas adalah teknik pencatatan ketika transaksi terjadi dimana uang benar-benar diterima atau
dikeluarkan. Dengan kata lain Akuntansi Cash Basis adalah basis akuntansi yang mengakui
pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya pada saat kas atau setara kas diterima atau dibayar yang
digunakan untuk pengakuan pendapatan, belanja dan pembiayaan.
Cash Basis akan mencatat kegiatan keuangan saat kas atau uang telah diterima misalkan
perusahaan menjual produknya akan tetapi uang pembayaran belum diterima maka pencatatan
pendapatan penjualan produk tersebut tidak dilakukan, jika kas telah diterima maka transaksi
tersebut baru akan dicatat seperti halnya dengan “dasar akrual” hal ini berlaku untuk semua
transaksi yang dilakukan, kedua teknik tersebut akan sangat berpengaruh terhadap laporan
keuangan, jika menggunakan dasar akrual maka penjualan produk perusahaan yang dilakukan
secara kredit akan menambah piutang dagang sehingga berpengaruh pada besarnya piutang dagang
sebaliknya jika yang di pakai cash basis maka piutang dagang akan dilaporkan lebih rendah dari
yang sebenarnya terjadi. Cash Basis juga mendasarkan konsepnya pada dua pilar yaitu :
1) Pengakuan Pendapatan :
Pengakuan pendapatan, saat pengakuan pendapatan pada cash basis adalah pada saat perusahaan
menerima pembayaran secara kas. Dalam konsep cash basis menjadi hal yang kurang penting
mengenai kapan munculnya hak untuk menagih. Makanya dalam cash basis kemudian muncul
adanya metode penghapusan piutang secara langsung dan tidak mengenal adanya estimasi piutang
tak tertagih.
2) Pengakuan Biaya :
Pengakuan biaya, pengakuan biaya dilakukan pada saat sudah dilakukan pembayaran secara kas.
Sehingga dengan kata lain, pada saat sudah diterima pembayaran maka biaya sudah diakui pada
saat itu juga. Untuk usaha-usaha tertentu masih lebih menggunakan cash basis ketimbang accrual
basis, contoh : usaha relative kecil seperti toko, warung, mall (retail) dan praktek kaum spesialis
seperti dokter, pedagang informal, panti pijat (malah ada yang pakai credit card-tapi ingat credit
card dikategorikan juga sebagai cash basis).
Keunggulan Pencatatan Akuntansi Secara Cash Basis:
a) Metode Cash basis digunakan untuk pencatatan pengakuan pendapatan, belanja dan pembiayaan.
b) Beban/biaya belum diakui sampai adanya pembayaran secara kas walaupun beban telah terjadi,
sehingga tidak menyebabkan pengurangan dalam penghitungan pendapatan.
c) Pendapatan diakui pada saat diterimanya kas, sehingga benar-benar mencerminkan posisi yang
sebenanya.
d) Penerimaan kas biasanya diakui sebagai pendapatan.
e) Laporan Keuangan yang disajikan memperlihatkan posisi keuangan yang ada pada saat laporan
tersebut.
f) Tidak perlunya suatu perusahaan untuk membuat pencadangan untuk kas yang belum tertagih.
Kelemahan Pencatatan Akuntansi Secara Cash Basis
a) Metode Cash basis tidak mencerminkan besarnya kas yang tersedia.
b) Akan dapat menurunkan perhitungan pendapatan bank, karena adanya pengakuan pendapatan
sampai diterimanya uang kas.
c) Adanya penghapusan piutang secara langsung dan tidak mengenal adanya estimasi piutang tak
tertagih.
d) Biasanya dipakai oleh perusahaan yang usahanya relative kecil seperti toko, warung, mall (retail)
dan praktek kaum spesialis seperti dokter, pedagang informal, panti pijat (malah ada yang pakai
credit card-tapi ingat credit card dikategorikan juga sebagai cash basis).
e) Setiap pengeluaran kas diakui sebagai beban.
f) Sulit dalam melakukan transaksi yang tertunda pembayarannya, karena pencatatan diakui pada
saat kas masuk atau keluar.
g) Sulit bagi manajemen untuk menentukan suatu kebijakan kedepannya karena selalu berpatokan
kepada kas.

Basis Akrual (Accrual Basis) memiliki fitur pencatatan dimana transaksi sudah dapat dicatat
karena transaksi tersebut memiliki implikasi uang masuk atau keluar di masa depan. Transaksi
dicatat pada saat terjadinya walaupun uang belum benar – benar diterima atau dikeluarkan.
Dengan kata lain basis akrual digunakan untuk pengukuran aset, kewajiban dan ekuitas dana.
Jadi Basis akrual adalah basis akuntansi yang mengakui pengaruh transaksi dan peristiwa lainnya
pada saat transaksi dan peristiwa itu terjadi tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima
atau dibayar.
Cash Basis juga mendasarkan konsepnya pada dua pilar yaitu:
1) Pengakuan pendapatan:
Saat pengakuan pendapatan pada accrual basis adalah pada saat perusahaan mempunyai hak untuk
melakukan penagihan dari hasil kegiatan perusahaan. Dalam konsep accrual basis menjadi hal
yang kurang penting mengenai kapan kas benar-benar diterima. Makanya dalam accrual basis
kemudian muncul adanya estimasi piutang tak tertagih, sebab penghasilan sudah diakui padahal
kas belum diterima.
2) Pengakuan biaya:
Pengakuan biaya dilakukan pada saat kewajiban membayar sudah terjadi. Sehingga dengan kata
lain, pada saat kewajiban membayar sudah terjadi, maka titik ini dapat dianggap sebagai starting
point munculnya biaya meskipun biaya tersebut belum dibayar. Dalam era bisnis dewasa ini,
perusahaan selalu dituntut untuk senantiasa menggunakan konsep accrual basis ini.
Keunggulan Pencatatan Akuntansi Secara Accrual Basis
a) Metode aacrual basis digunakan untuk pengukuran aset, kewajiban dan ekuitas dana.
b) Beban diakui saat terjadi transaksi, sehingga informasi yang diberikan lebih handal dan
terpercaya.
c) Pendapatan diakui saat terjadi transaksi, sehingga informasi yang diberikan lebih handal dan
terpecaya walaupun kas belum diterima.
d) Banyak digunakan oleh perusahan-perusahana besar (sesuai dengan Ketentuan Standar
Akuntansi Keuangan dimana mengharuskan suatu perusahaan untuk menggunakan basis akural).
e) Piutang yang tidak tertagih tidak akan dihapus secara langsung tetapi akan dihitung kedalam
estimasi piutang tak tertagih.
f) Setiap penerimaan dan pembayaran akan dicatat kedalam masing-masing akun sesuai dengan
transaksi yang terjadi.
g) Adanya peningkatan pendapatan perusahaan karena kas yang belum diterima dapat diakui
sebagai pendapatan.
h) Laporan keuangan dapat dijadikan sebagai pedoman manajemen dalam menentukan kebijakan
perusahaan kedepanya.
i) Adanya pembentukan pencandangan untuk kas yang tidak tertagih, sehingga dapat mengurangi
risiko kerugian.
Kelemahan Pencatatan Akuntansi Secara Accrual Basis
a) Metode aacrual basis digunakan untuk pencatatan.
b) Biaya yang belum dibayarkan secara kas, akan dicatat efektif sebagai biaya sehingga dapat
mengurangi pendapatan perusahaan.
c) Adanya resiko pendapatan yang tak tertagih sehingga dapat membuat mengurangi pendapatan
perusahaan.
d) Dengan adanya pembentukan cadangan akan dapat mengurangi pendapatan perusahaan.
e) Perusahaan tidak mempunyai perkiraan yang tepat kapan kas yang belum dibayarkan oleh pihak
lain dapat diterima.
Konsep kehati-hatian (prudence concept) adalah konsep akuntansi di mana perusahaan harus
menjaga agar tidak melebih-lebihkan jumlah pendapatan yang dicatat, atau mengecilkan biaya.
Namun, di sisi lain, perusahaan juga harus konservatif dalam pencatatan jumlah aset, dan tidak
mengecilkan kewajiban. Transaksi pendapatan atau aset baru dicatat ketika sudah pasti, sedangkan
transaksi biaya atau kewajiban dicatat ketika sudah besar kemungkinan akan terjadi.
Contoh penerapan konsep kehati-hatian adalah penyisihan cadangan piutang ragu-ragu atau
cadangan persediaan barang usang. Dalam kedua kasus, item tertentu yang akan menyebabkan
beban belum teridentifikasi, tetapi akuntan yang bijaksana akan menyisihkan cadangan untuk
mengantisipasi jumlah yang wajar dari biaya yang timbul.
Konsep Konservatisme adalah prinsip dalam pelaporan keuangan yang dimaksudkan untuk
mengakui dan mengukur aktiva dan laba dilakukandengan penuh kehati-hatian oleh karena
aktivitas ekonomi dan bisnis yang dilingkupi ketidakpastian (Wibowo, 2002). Implikasi dari
penerapan prinsip ini adalah pilihan metode akuntansi ditujukan pada metode yang melaporkan
laba dan aktiva lebih rendah atau utang lebih tinggi. Peneliti lain, Basu (1997) mendefinisikan
konservatisme sebagai praktik mengurangi laba (dan mengecilkan aktiva bersih) dalam merespons
berita buruk (bad news), tetapi tidak meningkatkan laba (meninggikan aktiva bersih) dalam
merespons berita baik (good news).
Praktik konservatisme bisa terjadi karena standar akuntansi yang berlaku di Indonesia
memperbolehkan perusahaan untuk memilih salah satu metode akuntansi dari kumpulan metode
yang diperbolehkan pada situasi yang sama. Misalnya, PSAK No. 14 mengenai persediaan, PSAK
No. 17 mengenai akuntansi penyusutan, PSAK No. 19 mengenai aktiva tidak berwujud dan PSAK
No. 20 mengenai biaya riset dan pengembangan. Akibat dari fleksibelitas dalam pemilihan metode
akuntansi adalah terhadap angka-angka dalam laporan keuangan, baik laporan neraca maupun
laba-rugi. Penerapan metode akuntansi yang berbeda akan menghasilkan angka yang berbeda
dalam laporan keuangan.

Karakteristik kualitatif (kualitas) merupakan suatu ciri khas yang membuat informasi dalam
laporan keuangan berguna bagi pemakainya. Berikut adalah karakteristik laporan
keuangan dilihat dari segi kualitas berdasarkan Panduan Standar Akuntansi (PSAK):

1. Dapat dipahami
Kualitas penting informasi yang ditampung dalam laporan keuangan adalah kemudahannya untuk
dipahami oleh pemakainya. Pemakai diasumsikan memiliki pengetahuan yang memadai tentang
aktifitas ekonomi dan bisnis, akuntansi, serta kemauan untuk mempelajari informasi dengan
ketekunan yang wajar. Namun demikian, informasi kompleks yang seharusnya dimasukkan di
dalam laporan keuangan tidak dapat dikeluarkan hanya atas dasar pertimbangan bahwa informasi
tersebut terlalu sulit untuk dapat dipahami oleh pemakai tertentu.

2. Relevan
Agar laporan keuangan bermanfaat, informasi di dalamnya harus relevan untuk memenuhi
kebutuhan pemakai dalam proses pengambilan keputusan. Informasi di dalam laporan keuangan
memilki kualitas relavan jika dapat memengaruhi keputusan ekonomi pemakai dengan membantu
mereka mengevaluasi peristiwa masa lalu, masa kini, atau masa depan, menegaskan, atau
mengoreksi hasil evaluasi mereka dimasa lalu.
Informasi posisi keuangamn dan kinerja dimasa lalu sering kali digunakan sebagai dasar untuk
memprediksi posisi keuangan dan kinerja masa depan dan hal-hal lain yag langsug menarik
perhatian pemakai, seperti: pembayaran difiden dan upah, pergerakan harga skurietas, dan
kemampuan perusahaan untuk memenuhi komitmennya ketika jatuh tempo.
Untuk memiliki nilai pridiktif, informasi tidak perlu harus dalam bentuk ramalan eksplisit. Namun
demikian, kemampuan laporan keuangan untuk membuat prediksi dapat ditingkatkan dengan
penampilan informasi tentang transaksi dan peristiwa masa lalu. Misalnya, nilai prediktif laporan
laba rugi dapat di tingkatkan apabila pos-pos penghasilan atau beban yang tidak biasa, abnormal,
dan jarang terjadi di ungkapkan secara terpisah.

3. Materialitas
Relevansi informasi dipengaruhi oleh hakikat dan materialitas laporan keuangan. Informasi
dipandang material apabila kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat
informasi tersebut dapat mempengaruhi keputusan ekonomi pemakai yang diambil atas dasar
laporan keungan. Materialitas tergantung pada besarnya pos atau kesalahan yang dinilai sesuai
dengan situasi khusus dari kelalaian dalam mencantunkan (omission) atau kesalahan dalam
mencatat (misstament). Oleh karenanya, materialitas lebih merupakan suatu ambang batas atua
titik pemisah dari pada suatu karakteristik kualitatif pokok yang harus dimiliki agar informasi
dipandang berguna.

4. Keandalan
Supaya laporan keuangan bermanfaat, informasi juga harus handal (reliable). Informasi memilki
kualitas yang handal jika bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat
dihandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus atau jujur (faithful representation) dari yang
seharusnya disajikan secara wajar diharapkan dapat di sajikan.

5. Penyajian Jujur
Informasi keuangan di laporan keuangan pada umumnya tidak luput dari resiko penyajian yang
dianggap kurang jujur dari pada apa yang seharusnya digambarkan. Hal tersebut bukan disebabkan
karena kesenjangan untuk menyesatkan, tetapi lebih merupakan kesulitan yang melekat dalam
mengidentifikasikan transaksi serta pristiwa lainnya yang dilaporkan, atau dalam menyusun atau
menerapkan ukuran dan teknik penyajian yang sesuai dengan makna transaksi dan pristiwa
tersebut.

6. Subtansi Mengungguli Bentuk


Jika informasi dimaksudkan untuk menyajikan dengan jujur transaksi serta pristiwa lain yang
seharusnya disajikan, peristiwa tersebut perlu dicatat dan disajikan sesuai dengan subtansi dan
realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukum. Subtansi transaksi atau peristiwa lain tidak
selalu konsisten dengan apa yang tampak dari bentuk hukum.

7. Netralitas
Informasi harus diarahkan pada kebutuhan umum pemakai, tidak bergantung pada kebutuhan dan
keinginan pihak tertentu. Tidak boleh ada usaha untuk menyajikan informasi yang menguntungkan
beberapa pihak, sementara hal tersebut akan merugikan pihak lain yang mempunyai kepentingan
yang berlawanan.

8. Pertimbangan Sehat
Penyusunan laporan keuangan adakalanya menghadapi ketidak pastian suatu peristiwa dan
keadaan tertentu, seperti ketertagihan piutang yang diragukan, perkiraan masa manfaat pabrik serta
peralatan, dengan tuntutan atas jaminan garansi yang mungkin timbul. Namun demikian,
penggunaan pertimbangan sehat tidak memperkenankan, misalnya: pembentukan cadangan
tersembunyi atau penyisihan, berlebihan, dan sengaja menetapkan aktiva atau penghasilan yang
lebih rendah atau pencatatan kewajiban atau beban yang lebih tinggi sehingga laporan keuangan
menjadi tidak netral, dan karena itu tidak memilki kualitas yang handal.

9. Kelengkapan
Agar dapat diandalkan, informasi dalam laoran keuangan harus lengkap dalam batasan materialitas
dan biaya.

PENGAKUAN
a. Pengakuan Pendapatan
Permasalahan utama dalam akuntansi untuk pendapatan adalah menentukan saat pengakuan
pendapatan. Pada prinsip pengakuan pendapatan (revenue recognation principle), umumnya
pendapatan diakui pada saat (1) direalisasikan atau dapat direalisasikan dan (2) dihasilkan
(earned). Maksud dari pernyataan tersebut adalah bahwa:
1. Pendapatan dianggap direalisasikan apabila barang dan jasa, barang dagangan, atau harta
lain ditukar dengan kas atau klaim atas kas; Pendapatan dianggap dapat direalisasikan
apabila aktiva yang diterima dalam pertukaran segera dapat konversi (siap ditukar) menjadi
kas atau klaim atas kas dengan jumlah yang diketahui;
2. Pendapatan dianggap dihasilkan (earned) apabila entitas bersangkutan pada hakikatnya
telah menyelesaikan apa yang seharusnya dilakukan untuk mendapat hak atas manfaat yang
dimiliki oleh pendapatan itu, yakni apabila proses menghasilkan laba telah selesai atau
sebenarnya telah selesai.
Empat transaksi pendapatan telah diakui sesuai dengan prinsip di atas, yaitu :
1. Pendapatan dari penjualan produk diakui pada tanggal penjualan, yang biasanya
diinterpretasikan sebagai tanggal penyerahan pada pelanggan.
2. Pendapatan dari pemberian jasa diakui ketika jasa diakui ketika jasa-jasa itu telah
dilaksanakan dan dapat ditagih.
3. Pendapatan dari mengizinkan pihak lain untuk menggunakan aktiva perusahaan seperti
bunga, sewa dan royalti diakui sesuai dengan berlakunya waktu atau ketika aktiva itu
digunakan.
4. Pendapatan dari pelepasan aktiva selain produk diakui pada tanggal penjualan.
Pengukuran pendapatan menurut Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) adalah diukur dengan nilai wajar
imbalan yang diterima atau yang dapat diterima.
 Menurut Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 23 tentang pendapatan
menyatakan bahwa pendapatan timbul dari peristiwa ekonomi berikut ini:
(1) Penjualan barang;
(2) Penjualan jasa;
(3) Penggunaan aktiva perusahaan oleh pihak-pihak lain yang menghasilkan bunga, royalty, dan
deviden.

Pendapatan dari penjualan barang harus diakui jika:


1. Perusahaan telah memindahkan resiko secara signifikan dan telah memindahkan manfaat
kepemilikan barang kepada pembeli;
2. Perusahaan tidak lagi mengelola atau melakukan pengendalian efektif atas barang yang dijual;
3. Jumlah pendapatan tersebut dapat diukur dengan andal;
4. Besar kemungkinan manfaat ekonomi yang dihubungkan dengan transaksi akan mengalir
kepada perusahaan tersebut; dan
5. Biaya yang terjadi dan akan terjadi sehubungan dengan transaksi dapat diukur dengan andal.

 Pendapatan yang berhubungan dengan transaksi penjualan jasa yang dapat diestimasi dengan
andal (bebas dari pengertian yang menyesatkan, kesalahan material, dan dapat diandalkan
pemakaiannya sebagai pemakaian yang tuluis dan jujur dari yang seharusnya disajikan atau
yang secara wajar diharapkan dapat disajikan) harus diakui dengan acuan pada tingkat
penyelesaian dari transaksi pada tanggal neraca.

Suatu transaksi dapat diestimasi dengan andal jika:


1. Besar kemungkinan manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut akan diperoleh
perusahaan;
2. Tingkat penyelesaian dari suatu transaksi dari tanggal neraca dapat diukur dengan andal;
3. Jumlah pendapatan dapat diukur secara andal;
4. Biaya yang terjadi untuk transaksi tersebut dan biaya untuk penyelesaian transaksi tersebut
dapat diukur dengan andal.
Bila transaksi yang meliputi penjualan jasa tidak dapat diestimasi dengan andal, pendapatan
yang diakui hanya berkaitan dengan beban yang telah diakui yang dapat diperoleh kembali.

Pendapatan yang timbul dari penggunaan aktiva perusahaan oleh pihak-pihak lain yang
menghasilkan bunga, royalty, dan dividen harus diakui atas dasar:
1. Bunga harus diakui atas dasar proporsi waktu yang memperhitungkan hasil efektif aktiva
tersebut;
2. Royalty harus diakui atas dasar akrual sesuai dengan substansi perjanjian yang relevan; dan
3. Dalam metode biaya (cost method), dividen tunai diakui bila hak pemegang saham untuk
menerima pembayaran ditetapkan.

Pengakuan atas dasar tersebut dilakukan bila:


(1) besar kemungkinan manfaat ekonomi sehubungan dengan transaksi tersebut akan diperoleh
perusahaan; dan
(2) Jumlah pendapatan dapat diukur secara andal.

Namun bila ketidakpastian timbul tentang kolektibilitas sebesar jumlah yang telah masuk dalam
pendapatan, jumlah yang tidak dapat ditagih, atau jumlah pemulihannya atau pengembaliannya
tidak lagi besar kemungkinan, diakui sebgai beban, dari pada penyesuaian jumlah pendapatan yang
diakui semula.

Semua pernyataan di atas mengurai sifat konseptual dari pendapatan dan merupakan dasar
akuntansi untuk transaksi pendapatan. Dalam praktik-praktik pengakuan pendapatan, adakalanya
pendapatan diakui pada saat lain dalam proses menghasilkan laba, yang sebagian besar diakibatkan
oleh (1) keinginan untuk mengakui lebih awal (recognize earlier) jika terdapat tingkat kepastian
yang tinggi mengenai jumlah pendapatan yang dihasilkan dan (2) keinginan untuk menangguhkan
pengakuan pendapatan jika tingkat ketidakpastian mengenai jumlah pendapatan atau biaya cukup
tinggi, atau jiak penjulan bukan merupakan penyelesaian yang substansial dari proses
menghasilkan laba.

b. Pengakuan Beban
Pada dasarnya cost memiliki dua kedudukan penting, yaitu : sebagai aktiva (potensi jasa) dan
sebagai beban pendapatan (biaya). Proses pembebanan cost pada dasarnya merupakan proses
pemisahan cost. Oleh karena itu agar informasi yang dihasilkan akurat, bagian cost yang telah
diakui sebagai biaya pada periode berjalan dan bagian cost yang akan dilaporkan sebagai
aktiva (diakui sebagai biaya periode mendatang) harus dapat ditentukan dengan jelas. Ada dua
masalah yang muncul sehubungan dengan pemisahan cost tersebut yaitu :
1. Kriteria yang digunakan untuk menentukan cost tertentu yang harus dibebankan pada
pendapatan periode berjalan.
2. Kriteria yang digunakan untuk menentukan bahwa cost tertentu ditangguhkan
pembebanannya.

Semua cost dapat ditangguhkan pembebanannya sebagai biaya, apabila cost tersebut memenuhi
kriteria sebagai aktiva yaitu:
- Memenuhi definisi aktiva (memiliki manfaat ekonomi masa mendatang, dikendalikan
perusahaan berasal dari transaksi masa lalu).
- Ada kemungkinan yang cukup bahwa manfaat ekonomi masa mendatang yang melekat pada
aktiva dapat dinikmati oleh entitas yang menguasai.
- Besarnya manfaat dapat diukur dengan cukup andal.

Dari uraian di atas, secara umum dapat dirumuskan bahwa berdasarkan konsep penandingan
(matching), pengakuan biaya pada dasarnya sejalan dengan pengakuan pendapatan. Apabila
pengakuan pendapatan ditunda, maka pembebanan biaya juga ditunda. Untuk mengatasi berbagai
perbedaan pendapat tentang pengakuan biaya, biasanya badan berwenang mengeluarkan aturan
tertentu untuk mengakui biaya. IAI (1994), misalnya, dalam Konsep Dasar Penyusunan dan
Penyajian Laporan Keuangan menyatakan:
“Beban diakui dalam laporan rugi laba kalau penurunan manfaat ekonomi masa datang yang
berkaitan dengan penurunan aktiva atau kenaikan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur
dengan andal”.(paragrap 94).”
Ilustrasi Jurnal:
Penerimaan uang dari penjulan tiket (in advance)
Date G/L Dr Cr
21/02/2010 Cash Rp500,000
Unearned
Revenue/Deferred Revenue) Rp500,000
Ketika Tiket sampai kepada customer baru seller
mengakui pendapatanya dengan jurnal penyesuaian:
Date G/L Dr Cr
Unearned Revenue/Deferred
21/02/2010 Revenue) Rp500,000
Sales Revenue Rp500,000

Berbagai metode penyusutan dapat digunakan untuk mengalokasikan jumlah yang disusutkan
secara sistematis dari suatu aset selama umur manfaatnya. Metode tersebut antara lain metode garis
lurus (straight line method), metode saldo menurun (diminishing balance method), dan metode
jumlah unit (sum of the unit method). Metode garis lurus menghasilkan pembebanan yang tetap
selama umur manfaat aset jika nilai residunya tidak berubah. Metode saldo menurun menghasilkan
pembebanan yang menurun selama umur manfaat aset. Metode jumlah unit menghasilkan
pembebanan berdasarkan pada penggunaan atau output yang diharapkan dari suatu aset. Metode
penyusutan aset dipilih berdasarkan ekspektasi pola konsumsi manfaat ekonomik masa depan dari
aset dan diterapkan secara konsisten dari periode ke periode kecuali ada perubahan dalam
ekspektasi pola konsumsi manfaat ekonomik masa depan dari aset tersebut.
PENURUNAN NLAI
Dalam menentukan apakah suatu aset tetap mengalami penurunan nilai, entitas menerapkan PSAK
48 (revisi 2009): Penurunan Nilai Aset. Pernyataan tersebut menjelaskan bagaimana entitas me-
review jumlah tercatat asetnya, bagaimana menentukan jumlah terpulihkan dari aset dan kapan
mengakui atau membalik rugi penurunan nilai.