Anda di halaman 1dari 8

Bismillah, maaf kalo ada yg salah.

Dicari lagi ya dwiii jangan jadi patokan wkwk

1. Pelari maraton memiliki otot yang lean, terutama di area tubuh bagian bawah.
Sprinter, sebaliknya, punya otot tubuh bagian bawah –seperti paha dan betis– yang
tebal dan kuat; ini untuk membantu mereka mendapatkan kekuatan dan awal yang
baik saat start. Sprinter juga punya otot tubuh bagian atas –misalnya lengan– yang
kuat untuk memberikan kekuatan dan kecepatan maksimal yang seimbang.
Baik pelari maraton atau sprinter, sama-sama melakukan latihan aerobik dan latihan
kekuatan, namun dengan fokus yang berbeda. Untuk pelari maraton, pelatihan lebih
kepada latihan aerobik untuk mendapatkan kesiapan saat bertanding. Untuk sprinter,
selain melakukan latihan aerobik, mereka juga angkat beban untuk menambah massa
otot.
(Gatau EBM-nya)

2. Yang didiskualifikasi steroid jelas karena obat steroid  obat yang dapat
menghasilkan hormon testosteron baik secara alami maupun sintesis dengan struktur
kimiawi maupun farmakologis. Tujuan penggunaannya adalah untuk meningkatkan
volume otot, tenaga dan kekuatan. (Gatau EBM-nya)

3. Mengapa? Rigor mortis (kaku mayat). Rigor mortis adalah tanda kematian yang dapat
dikenali berupa kekakuan otot yang irreversible yang terjadi pada mayat. Kelenturan
otot dapat terjadi selama masih terdapat ATP yang menyebabkan serabut aktin dan
miosin tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam otot habis, maka energi tidak
terbentuk lagi, aktin dan miosin menggumpal dan otot menjadi kaku. Rigor mortis
akan mulai muncul 2 jam postmortem semakin bertambah hingga mencapai maksimal
pada 12 jam postmortem. Kemudian berangsur-angsur akan menghilang sesuai
dengan kemunculannya. Pada 12 jam setelah kekakuan maksimal (24 jam
postmortem) rigor mortis menghilang.
4.

Mekanisme  postive feedback


5. Gagal Ginjal adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami penurunan
hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali dalam hal penyaringan
pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh
seperti sodium dan kalium didalam darah atau produksi urin.
Efek :
a. Kardiovaskuler yaitu yang ditandai dengan adanya hipertensi, pitting edema (kaki,
tangan, sacrum), edema periorbital, friction rub pericardial, serta pembesaran vena
leher
b. Integumen yaitu yang ditandai dengan warna kulit abu-abu mengkilat, kulit kering
dan bersisik, pruritus, ekimosis, kuku tipis dan rapuh serta rambut tipis dan kasar
c. Pulmoner yaitu yang ditandai dengan krekeis, sputum kental dan liat, napas dangkal
seta pernapasan kussmaul
d. Gastrointestinal yaitu yang ditandai dengan napas berbau ammonia, ulserasi dan
perdarahan pada mulut, anoreksia, mual dan muntah, konstipasi dan diare, serta
perdarahan dari saluran GI
e. Neurologi yaitu yang ditandai dengan kelemahan dan keletihan, konfusi,
disorientasi, kejang, kelemahan pada tungkai, rasa panas pada telapak kaki, serta
perubahan perilaku
f. Muskuloskletal yaitu yang ditandai dengan kram otot, kekuatan otot hilang, fraktur
tulang serta foot drop
g. Reproduktif yaitu yang ditandai dengan amenore dan atrofi testikuler.

6. Karena urin penderita DM banyak mengandung glukosa. Glukosa tersebut berasal


dari kelebihan sisa glukosa yang tidak diserap dalam tubuh. Baca lagi wkwkwk
https://id.wikipedia.org/wiki/Diabetes_melitus

7. Hipertensi  kemungkinan bisa karena penyumbatan pembuluh darah, kalo


pembuluh darah yg menyempit di daerah kepala bisa pusing, kalo kaku leher mungkin
karena pembuluh darah yg sempit di daerah itu.
Untuk buang air kecil di malam hari, sering merasa lapar, sering haus kemungkinan
dapat disebabkan oleh :
· Diabetes melitus. Gejala khas pada kondisi ini sering disebut dengan 3P
yaitu polifagia (sering lapar), poliuria (sering buang air kecil) dan polidipsi
(sering merasa haus). Namun pada dasarnya tidak dapat ditentukan hanya dari gejala
tersebut, harus dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh seperti pemeriksaan fisik
dan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan gula darah, pemeriksaan urin, dan
lainnya.
· Gangguan prostat/ BPH. Pembesaran prostat jinak yang menyebabkan gejala
selalu ingin berkemih terutama pada malam hari, mengejan saat berkemih, aliran urin
tersendat-sendat, merasa tidak tuntas setelah berkemih dan lainnya. Namun umumnya
kondisi BPH dialami oleh pria berusia di atas 50 tahun.
· Infeksi saluran kemih
· Batu saluran kemih
· Kandung kemih terlalu aktif
· Mengonsumsi obat-obatan diuretik
· Kebiasaan minum air banyak pada saat sebelum menjelang tidur
· Suhu lingkungan yang dingin
· Faktor psikologis seperti kecemasan atau stres
Tidak ada hubungannya dengan tekanan darah tinggi yang diderita pasien.

8. Udah ya difoto
9. Sidik jari, jelas  sidik jari tiap orang berbeda
10. Vertigo, gangguan keseimbangan. Salah satu tanda dan gejala vertigo ada pusing saat
berpindah posisi. Males nyari sumbernya wkwk
11. Tidak percaya, karena rasa nyaman dan senang itu hanya akan bertahan sementara.
Literature on Love at First Sight
With that in mind, Zsok and colleagues (2017) sought to clarify what people actually
experience when they report feeling love at first sight. The researchers note that there
are several possibilities in the literature for what LAFS may be:

1. The product of biased memory.


LAFS may be a position illusion, a shared narrative, potentially coming from several
possible overlapping sources: to make the relationship feel special to the couple; to
conform with cultural ideals for relationships; the result of outcome bias in which
present relationship success is applied in hindsight to earlier parts of the relationship;
projections of current feelings of passion onto the past; and reporting LAFS when it
was not present in order to avoid upsetting romantic partners, consciously or
unconsciously;

2. The result of physical attraction.


Physical attraction is typically felt immediately, matching the time course of LAFS,
and predicts speed-dating outcomes. Physical attraction is a common theme when
people are asked about LAFS, and it has been correlated with LAFS. Because
physically attractive people are on average viewed more positively, this "halo" effect
may also contribute to the experience of LAFS. Sexual motives may be a part of
LAFS, but are not typically reported when LAFS is investigated.

3. An expression of infatuation.
Established romantic relationships are characterized by intimacy, passion, and
commitment, involving trust, caring, and intimacy. These factors are unlikely to be
present right away, so probably do not contribute to LAFS. Infatuation, defined as
high passion without intimacy and commitment, could play a role in love at first sight.
Infatuation has also been discussed by other researchers as "eros," a form of
heightened passion found in couples who claim, in hindsight, to have experienced
LAFS. As noted, this may be a form of hindsight bias.
https://www.psychologytoday.com/blog/experimentations/201711/love-first-sight-
feels-magical-what-is-it-really

12. Respons pertahanan tubuh manusia: virus  infeksi  inflamasi  sekresi mukus
berlebih  mukus menghalangi jalur pernapasan  kemampuan menghidu
berkurang.
Virus mengadakan infeksi, bereplikasi di dalam sel epitel
bersilia di hidung dan selama 2-5 hari pertama dari penyakitnya, virus dapat diisolasi
dari sekresi faring tetapi tidak dari sekresi lain atau cairan tubuh. Sejumlah kecil sel
epitel yang terkena infeksi dikeluarkan ke dalam sekresi nasal. Mekanisme dari
resopon kenaikan produksi mucus kemungkinan besar terjadi akibat adanya respons
dari sistem kekebalan tubuh terhadap infeksi virus yaitu dengan terjadinya
pembengkakan dan inflasi (peradangan) membran hidung, serta peningkatan produksi
mukus. Mukus ini menangkap material yang kita hirup seperti debu, serbuk, bakteri
dan virus. Pada saat mukus mengandung virus dan masuk ke dalam sel tubuh, maka
seseorang akan mengalami keluhan-keluhan pilek.
https://mikrobia.files.wordpress.com/2008/05/rhinovirusblog.pdf

13. Tidak, menurut saya tidak ada hubungannya pekerjaan mengebor sumur dengan
mandul atau tidaknya seseorang.
Penyebab yang mendasari infertilitas pria dikelompokkan menjadi 3 faktor yaitu level
pre testikular, testikular, dan post testikular (Tanagho dan Jack ed., 2008) :
1. Faktor pre testikular Yaitu kondisi-kondisi di luar testis dan mempengaruhi proses
spermatogenesis. Kelainan endokrin (hormonal). Kurang lebih 2% dari infertilitas pria
disebabkan karena adanya kelainan endokrin antara lain berupa:
a) Kelainan hipotalamus: defisiensi gonadotropin (Sindrom Kallmann), defisiensi LH,
defisiensi FSH, sindrom hipogonadotropik kongenital. Adanya kelainan pada
hipotalamus menyebabkan tidak adanya sekresi hormonal yang berperan penting
dalam spermatogenesis sehingga menginduksi keadaan infertil.
b) Kelainan hipofisis: insufisiensi hipofisis (tumor, proses infiltrat, operasi, radiasi),
hiperprolaktinemia, hormon eksogen (kelebihan estrogen-androgen, kelebihan
glukokortikoid, hipertirod dan hipotiroid) dan defisiensi hormon pertumbuhan
(growth hormone) menyebabkan gangguan spermatogenesis.

2. Faktor testikular
1) Kelainan kromosom. Sebagai contoh pada penderita sindroma Klinefelter, terjadi
penambahan kromosom X, testis tidak berfungsi dengan baik, sehingga
spermatogenesis tidak terjadi.
2) Varikokel, yaitu terjadinya dilatasi dari pleksus pampiriformis vena skrotum yang
mengakibatkan terjadinya gangguan vaskularisasi testis yang akan mengganggu
proses spermatogenesis.
3) Gonadotoksin (radiasi, obat)
4) Adanya trauma, torsi, peradangan
5) Penyakit sistemik ( gagal ginjal, gagal hati, dan anemia sel sabit)
6) Tumor
7) Kriptorkismus. Hampir 9% infertilitas pria disebabkan karena kriptorkismus (testis
tidak turun pada skrotum).
8) Idiopatik. Hampir 25%-50% infertilitas pria tidak teridentifikasi penyebabnya.

3. Faktor post testikular Merupakan kelainan pada jalur reproduksi termasuk


epididimis, vas deferens, dan duktus ejakulatorius.
1) Obstruksi traktus ejakulatorius: disebabkan karena adanya blokade kongenital,
ketiadaan vas deferens kongenital (CAVD), obstruksi epididimis idiopatik, penyakit
ginjal polikistik, blokade didapat (vasektomi, infeksi), blokade fungsional (perlukaan
saraf simpatis, farmakologi)
2) Gangguan fungsi sperma atau motilitas: sindrom immotil silia, defek maturasi,
infertilitas imunologik, infeksi).Pada reaksi imunologi, dapat ditemukan antibodi
sperma pada semen pria fertil dan infertil.Imunologi didiagnosis menyebabkan
infertilitas pria saat 50% atau lebih spermatozoa yang motil yang dilapisi oleh
antibodi sperma.Antibodi sperma ditemukan pada 3-7% pria infertil dan antibodi ini
dapat merusak fungsi sperma dan menyebabkan infertilitas pada beberapa pria (Al-
Haija, 2011).
3) Gangguan koitus: impotensi, hipospadia, waktu dan frekuensi koitus.

14. Berhubungan seksual pada masa subur istrinya.


Masa subur adalah suatu masa dalam siklus menstruasi perempuan dimana terdapat
sel telur matang yang siap dibuahi, sehingga bila perempuan tersebut melakukan
hubungan seksual maka dimungkinkan terjadi kehamilan. Masa subur merupakan
rentang waktu pada wanita yang terjadi sebulan sekali(Indiarti.2008 hlm. 32).
Masa subur wanita adalah masa di mana ada satu sel telur yang siap untuk dibuahi
oleh sel sperma di saluran telur (tuba fallopi) yang terjadi satu bulan sekali. Sel telur
ini mampu bertahan hidup dalam keadaan siap dibuahi hanya selama 1-2 hari (Dewi.
2009. hlm 17),
Kemungkinan terjadinya kehamilan pada masa subur sangatlah besar sehingga kalau
ingin hamil hendaknya melakukan hubungan seksual pada masa subur (Aulia. 2009.
Hlm 110)

Cara mengetahui masa subur dengan cara sederhana bergantung pada siklus
menstruasi
a. Pada siklus menstruasi ideal, yaitu 28 hari, masa subur adalah 14 hari sebelum
menstruasi berikutnya.
b. Pada siklus yang tidak ideal, tentukan lama siklus terpendek dan terpanjang.
Kemudian siklus terpendek dikurangi dengan 18 hari dan siklus haid
terpanjang dikurangi dengan 11 hari. Dua angka yang diperoleh merupakan
batasan masa subur (Simanungkalit & Bien. 2008. hlm 48)
http://repository.unair.ac.id/29669/3/BAB%202%20TINJAUAN%20PUSTAKA.pdf