Anda di halaman 1dari 20

Latar Belakang

“Legal aid is the provision of assistance to people otherwise unable to afford

legal representation and access to the court system. Legal aid is regarded as central

in providing access to justice by ensuring equality before the law, the right to

counsel and the right to a fair trial”1

Bantuan hukum adalah pemberian bantuan kepada orang-orang yang tidak

mampu membayar perwakilan hukum dan akses ke sistem pengadilan. Bantuan

hukum dianggap sebagai pusat dalam menyediakan akses ke pengadilan dengan

memastikan kesetaraan di hadapan hukum, hak untuk mendapatkan nasihat dan hak

atas peradilan yang adil.

Penjelasan umum atas Undang-undang RI Nomor 16 Tahun 2011 tentang

Bantuan Hukum menyatakan :

Hak atas Bantuan hukum telah diterima secara universal yang dijamin dalam

Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik (International

Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR)). Pasal 16 dan Pasal 26

ICCPR menjamin semua orang berhak memperoleh perlindungan hukum

serta harus dihindarkan dari segala bentuk diskriminasi. Sedangkan Pasal 14

ayat (3) ICCPR, memberikan syarat terkait Bantuan Hukum yaitu: 1)

kepentingan-kepentingan keadilan, dan 2) tidak mampu membayar Advokat.2

Menurut Dr. Mauro Cappelletti3, program bantuan hukum kepada si miskin

telah dimulai sejak jaman Romawi. Pada setiap jaman, arti dan tujuan pemberian

1
https://en.wikipedia.org/wiki/Legal_aid, (diakses pada 8 Nopember 2018, pukul 02.51)
2
Penjelasan umum atas Undang-undang RI Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum
3
Sr. Mauro Cappelleti, Earl Johson Jr. dan James Gord Ley : Towards Equal Justice, A
ComparativeStudi of Legal Aid in Modern Societies, Dobbes Ferry, NewYork, 1975, hlm. 6.

1
bantuan hukum erat hubungannya dengan nilai-nilai moral, pandangan politik dan

falsafah hukum yang berlaku

Pada jaman Romawi, pemberian bantuan hukum oleh Patronus hanyalah

didorong oleh motivasi untuk mendapatkan pengaruh dalam masyarakat. Pada

jaman Abad Pertengahan masalah bantuan hukum ini mendapat motivasi baru, yaitu

keinginan orang untuk berlomba-lomba memberikan derma (charity) dalam bentuk

membantu si miskin dan bersama-sama dengan itu tumbuh pula nilai-nilai

kemuliaan (nobility) dan Kesatriaan (chivalry) yang sangat diagungkan orang.

Sejak Revolusi Perancis dan Amerika sampai di jaman modern sekarang ini,

motivasi pemberian bantuan hukum bukan hanya charity atau rasa kemanusiaan

kepada orang yang tidak mampu, melainkan telah timbul aspek “hak-hak politik”

atau hak hak warga negara yang berlandaskan kepada konstitusi modern.

Perkembangan mutakhir, konsep bantuan hukum kini dihubungkan dengan cita-cita

negara kesejahteraan (welfare state), sehingga hampir setiap pemerintah dewasa ini

membantu program bantuan hukum sebagai bagan dari fasilitas kesejahteraan dan

keadilan sosial

Dalam negara hukum (rechsstaat), negara mengakui dan melindungi hak

asasi manusia bagi setiap individu, sehingga semua orang memiliki hak untuk

diperlakukan sama dihadapan hukum (equality before the law) dan juga

memperoleh persamaan perlakuan (equal treatmen).4 Ketika seorang yang

memiliki uang ketika berhadapan dengan masalah hukum maka tentu dengan

4
Frans Hendra Winarta, Pro Bono Publico, Hak Konstitusional Fakir Miskin untuk Memperoleh
Bantuan Hukum, (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama, 2009,) Hlm 1.

2
mudah dia bebas menunjuk Advokat untuk membela kepentingannya. Demikian

juga dengan seorang yang tidak memiliki uang (miskin) juga memperoleh

pembelaan dari pembela umum (public defender) dari lembaga bantuan hukum

(legal aid insitute) untuk membela kepentingannya dalam suatu perkara hukum.

Tidak adil apabila hanyak orang yang memiliki uang saja yang memperoleh

bantuan hukum dari advokat dalam meghadapi masalahnya.

Kehadiran advokat sangat penting bagi masyarakat untuk membela hak-hak

seseorang (individu) dalam menghadapi permasalahan hukum. Apabila seorang

individu dihadapkan sebagai seorang tersangka atau terdakwa yang sedang

menghadapi tahapan penyelidikan, penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan di

Pengadilan. Pembelaan dari seorang advokat atas tersangka atau terdakwa yang

berhadapan dengan negara yang mempunyai perangkat lengkap akan menciptakan

keseimbangan dalam proses peradilan sehingga keadilan bagi semua orang (justice

for all) dapat dicapai.

Indonesia dan Malaysia merupakan negara yang bertetangga dan serumpun,

namun dari implikasi negara jajahan pada masa lampu kini menganut sistem hukum

yang berbeda, Indonesia menganut sistem hukum Civil Law atau sering disebut

dengan Sistem hukum eropa kontinental yang dibawa oleh Belanda, sementara

Malaysia menganut sistem hukum Common Law yang dianut oleh negara-negara

anglo saxon yang dibawa oleh Inggris.

Dari perbedaan sistem hukum dan sejarah hukum tersebut maka tentu terdapat

perbedaan Bantuan Hukum di Indonesia dan Malaysia, Paper ini akan membahas

tentang perbandingan bantuan hukum di Indonesia dengan Malaysia.

3
Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui perbandingan bantuan

hukum di Indonesia dengan Malaysia yaitu sejarah Bantuan Hukum, Landasan

Bantuan Hukum, Pemberi bantuan hukum, dan pendanaan bantuan hukum.

Pembahasan

Bantuan hukum di Indonesia

Sejarah

Sejarah Awal bantuan hukum di Indonesia dimulai ketika di Belanda terjadi

perubahan besar dalam sejarah hukumnya. Berdasar asas konkordansi dimana

peraturan Firman Raja 16 Mei 1848 No. 1 juga diberlakukan di Indonesia, antara

lain susunan Kehakiman dan Kebijaksanaan Pengadilan (Reglement op de

Rechterlijke Organisatie en het beleid der Justitie) atau RO5 dimana terdapat aturan

mengenai Advokat dan Pengacara dalam BAB VI memuat Advokat merangkap

sebagai pengacara, saat itu Advokat hanya memberikan jasanya dalam proses

perdata dan pidana. Peraturan Bantuan Hukum terdapat dalam RO Pasal 190

memuat para Advokat dan procurer bila ditunjuk oleh badan pengadilan, wajib

memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma atau separuh dari tarif biaya yang

berlaku.6

Landasan yuridis bantuan hukum saat kemerdekaan Herziene Inlandsch

Reglement (HIR) Pasal 250 dimana pemberian bantuan hukum untuk terdakwa

yang diancam hukuman mati atau hukuman seumur hidup. Kemudian diundangkan

5
Jhony Ibrahim, Teori dan Metodologi penelitian Hukum Normatif, (Surabaya: Bayumedia
Pblishing, 2005), hlm.132.
6
Abdurrahman Riduan Syahrani, Hukum dan Peradilan, (Bandung: Alumni, 1978), hlm 41-42.

4
UU No. 14 Tahun 1970 yang mengatur ketentuan pokok Kekuasaan Kehakiman,

dan tambahan Lembaran Negara No. 2951

sejarah bantuan hukum di Indonesia tidak lepas dari peranan dua tokoh penting

yaitu S. Tasrif, S.H. dan Adnan Buyung Nasution, S.H. S. Tasrif dalam sebuah

artikel yang ditulisnya di Harian Pelopor Baru tanggal 16 Juli 1968 menjelaskan

bahwa bantuan hukum bagi si miskin merupakan satu aspek cita-cita dari rule of

the law. Kemudian untuk mewujudkan idenya tersebut, S. Tasrif mohon kepada

Ketua Pengadilan Jakarta untuk diberikan satu ruangan yang dapat digunakan untuk

para advokat secara bergiliran untuk memberikan bantuan hukum

Adnan Buyung Nasution, S.H. dalam Kongres Peradin III tahun 1969 mengajukan

ide tentang perlunya pembentukan Lembaga Bantuan Hukum yang dalam Kongres

tersebut akhirnya mengesahkan berdirinya Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di

Indonesia. Kemudian ditindaklanjuti dengan berdirinya LBH Jakarta yang pada

akhirnya diikuti berdirinya LBH-LBH lainnya di seluruh Indonesia. Tidak

ketinggalan pula organisasi-organisasi politik, buruh, dan perguruan tinggi juga ikut

pula mendirikan LBH-LBH seperti, LBH Trisula, LBH MKGR, LBH Kosgoro, dan

sebagainya

Dengan adanya LBH-LBH di seluruh Indonesia maka muncul Yayasan

Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) yang bertujuan untuk mengorganisir

dan merupakan naungan bagi LBH-LBH. YLBHI menyusun garis-garis program

yang akan dilaksanakan bersama di bawah satu koordinasi sehingga diharapkan

kegiatan-kegiatan bantuan hukum dapat dikembangkan secara nasional dan lebih

terarah di bawah satu koordinasi.

5
Landasan Hukum

Peraturan yang mengatur tentang bantuan hukum sebagai jaminan keadilan

dalam melindungi hak-hak masyarakat miskin atau tidak mampu saat ini adalah :

1. UU RI No. 16 Tahun 2011 Tentang Bantuan Hukum.

Secara garis besar UUBH mengatur tata cara pemberian bantuan hukum

secara cuma-cuma kepada Penerima Bantuan Hukum yang didalamnya

adalah orang atau kelompok orang miskin yang menghadapi masalah hukum.

Pemberi Bantuan Hukum yang telah memenuhi syarat UUBH ini

berhak merekrut Advokat, paralegal, Dosen, dan mahasiswa Fakultas Hukum

dalam melakukan pelayanan bantuan hukum yang meliputi nonlitigasi dan

litigasi.

Setelah UUBH diundangkan, Pemerintah melalui Kemenkumham

mengundangkan Permenkumham No. 3 Tahun 2013 Tentang Tata Cara

Verifikasi dan Akreditasi LBH atau Orkemas yang memberikan bantuan

hukum kepada orang atau kelompok orang miskin. Hal ini dibuat sebagai

pelaksana ketentuan Pasal 7 ayat (4) UUBH.

PP No. 42 Tahun 2013 merupakan turunan dari UUBH yang dibuat

pemerintah guna keperluan pelaksanaan Pasal 15 ayat (5) dan Pasal 18 UUBH

PP No. 42 Tahun 2013 yang diundangkan pada 23 Mei 2013. Menteri sebagai

penyelenggara bantuan hukum dalam tahun yang sama mengeluarkan

Permenkumham No. 22 Tahun 2013 Tentang Peraturan Pelaksanaan PP No.

42 Tahun 2013. Permenkumham No. 22 Tahun 2013 ini diundangkan dimana

pembuatannya bertujuan untuk pelaksanaan ketentuan Pasal 17, Pasal 23 ayat

6
(4), Pasal 29 ayat (2), dan Pasal 31 ayat (3) dari PP No. 42 Tahun 2013. Hal

menarik yang dibahas adalah mengenai standarisasi bantuan hukum yang

didalamnya mengatur standar bantuan hukum litigasi dan nonlitigasi, standar

pelaksanaan bantuan hukum, standar pemberian bantuan hukum, dan standar

pelaporan pengelolaan anggaran Pemberi Bantuan Hukum.

2. UU RI No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman.

Bantuan hukum dalam UU kekuasaan kehakiman terdapat pada Bab XI

dalam Pasal 56 dan 57. Pasal 56 ayat (1) menjelaskan bahwa hak dari

seseorang yang tersangkut dalam suatu perkara untuk mendapatkan bantuan

hukum dari Pemberi Bantuan Hukum, sesuai dengan sifat dan hakekat dari

suatu negara hukum yang menempatkan supremasi hukum diatas segalanya

yang berfungsi sebagai pelindung dan pengayom terhadap semua warga

masyarakat disamping adanya jaminan perlindungan terhadap hakhak asasi

manusia. Selanjutnya Pasal 56 ayat (2) menjelaskan negara menanggung

biaya perkara bagi pencari keadilan yang tidak mampu. Pasal 57 ayat (1)

menjelaskan bahwa pada setiap pengadilan negeri dibentuk Pos Bantuan

Hukum untuk pencari keadilan yang tidak mampu dalam memperoleh

bantuan hukum sebagai landasannya UUBH jo. UU No. 12 Tahun 2005

Tentang Pengesahan International Contenant On Civil And Political Rights

(Konvenan Internasional Tentang Hak-hak Sipil dan Politik).

3. UU RI No. 49 Tahun 2009 Tentang Peradilan Umum.

Kebutuhan hukum masyarakat dari sisi bantuan hukum sangat penting

untuk mencapai peradilan yang merdeka dan adil, maka dari itu UU peradilan

7
umum pada Pasal 68B yang menjelaskan bahwa bantuan hukum berhak

diperoleh oleh siapa saja yang tersangkut perkara hukum, dan biaya perkara

bagi pencari keadilan yang tidak mampu ditanggung oleh negara. Kemudian

Pasal 68C menyebutkan pembentukan Pos Bantuan Hukum yang

memberikan bantuan hukum secara cuma-cuma bagi siapa saja yang tidak

mampu yang sedang tersangkut perkara hukum sampai putusannya inkrah. 7

4. UU RI No. 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas UU No. 7 Tahun

1989 Tentang Peradilan Agama.

Bantuan hukum dalam UU No. 50 Tahun 2009 Tentang Peradilan

Agama termuat dalam Pasal 60B yang menjelaskan bahwa bantuan hukum

berhak diperoleh setiap orang yang tersangkut perkara hukum, bantuan

hukum bagi pencari keadilan yang tidak mampu biayanya ditanggung oleh

negara dengan syarat melampirkan bukti tidak mampu. Selanjutnya dalam

Pasal 60C yang menjelaskan Pos Bantuan Hukum dibentuk di tiap pengadilan

agama untuk pelayanan bantuan hukum pada semua tingkat peradilan bagi

pencari keadilan yang tidak mampu hingga memperoleh putusan inkrah

5. UU RI No. 51 Tahun 2009 Tentang Peradilan Tata Usaha Negara.

Bantuan hukum dalam peradilan tata usaha negara termuat dalam UU

No. 51 Tahun 2009 pada Pasal 57 yang menjelaskan hak untuk didampingi

dan diwakili oleh kuasa. Kemudian mangacu pada UU No. 5 Tahun 1986

Pasal 60 menjelaskan bersengketa dengan cuma-cuma dengan syarat bukti

7
Kelompok Kerja Paralegal, Working Paper: Kritisi RUUBH dari Aspek Paralegal dan
Pemberdayaan Hukum (Legal Empowerment), Jakarta, hal. 25.

8
tidak mampu. Selanjutnya Pasal 61 menjelaskan kewajiban pengadilan dalam

menetapkan permohonan berperkara secara cuma-cuma

6. UU RI No. 18 Tahun 2003 Tentang Advokat.

Bantuan hukum cuma-cuma dalam UU Advokat terdapat pada Pasal 1

ayat (9) yang menjelaskan pengertian bantuan hukum. Bantuan Hukum

adalah jasa hukum yang diberikan oleh Advokat secara cumacuma kepada

klien yang tidak mampu. Kemudian diatur pada Pasal 22 yang menjelaskan

Advokat berkewajiban memberikan bantuan hukum kepada pencari keadilan

yang tidak mampu.

7. UU RI No. 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara

Pidana.

Bantuan hukum KUHAP diatur dalam Bab VI Pasal 54 yang

menjelaskan tersangka/terdakwa berhak mendapat bantuan hukum dari

penasihat hukum untuk kepentingan pembelaan. Kemudian Pasal 56

menjelaskan tersangka atau terdakwa yang diancam pidana mati atau pidana

lima belas tahun atau lebih atau bagi tidak mampu yang diancam pidana lima

tahun atau lebih wajib mendapat penasihat hukum. Bantuan hukum kepada

tersangka diberikan atau dapat diminta sejak dalam penangkapan atau

penahanan pada semua tingkat pemeriksaan, baik pada tingkat penyidikan

meupun pada tingkat pemeriksaan pengadilan. Pada pemeriksaan tingkat

penyidik, maka tersangka didampingi oleh penasihat hukum, yang boleh

hadir dalam pemeriksaan yang sedang berjalan, hanya bersikap pasif, artinya

9
ia hanya mendengarkan dan melihat pemeriksaan, yang diatur dalam Pasal 69

hingga Pasal 74 dan Pasal 115 ayat (1), dan Pasal 156 KUHAP. 8

Pelaksana bantuan hukum

Pelaksana Bantuan Hukum dalam UUBH adalah Lembaga Bantuan Hukum

atau Organisasi Kemasyarakatan selanjutnya disingkat LBH dan Orkemas.

Pelaksana Bantuan Hukum dalam UU Mahkamah Agung pada Pasal 42 disebut

juga sebagai pembela. UU Kekuasaan Kehakiman menyebutkan adanya pengakuan

pemberian bantuan hukum sebagaimana termuat dalam ketentuan Pasal 38 ayat (2)

huruf d UU Peradilan Umum dengan ketentuan Pasal 68 C dimana setiap

Pengadilan Negeri dibentuk Pos Bantuan Hukum. Pemberian bantuan hukum

menurut UUBH dilaksanakan oleh Pelaksana Bantuan Hukum yang sudah berbadan

hukum, terakreditasi, memiliki kantor atau sekretariat tetap, memiliki pengurus dan

program bantuan hukum sesuai Pasal 8.

LBH sesuai yang termuat dalam Pasal 1 ayat (6) PP No. 83 Tahun 2008

Tentang Persyaratan dan Tata Cara Pemberian Bantuan Hukum Secara Cuma-

Cuma diartikan sebagai lembaga yang memberikan bantuan hukum kepada pencari

keadilan tanpa menerima pembayaran honorarium. Para aktivis Pemberi Bantuan

Hukum memasukkan konsep bantuan hukum gender struktural sebagai respon atas

ketidak adilan gender akibat relasi kuasa yang timpang antar jenis kelamin.9

Kegiatan bantuan hukum yang dikembangkan meliputi penyadaran dan

pengorganisasian masyarakat, kampanye pers dan kerjasama dengan wartawan

8
Martiman Prodjohamidjojo, Penasihat dan Organisasi Bantuan Hukum, (Jakarta: Ghalia Indonesia,
1984), hlm. 19
9
Kelompok Kerja Paralegal Indonesia, Kritisi Rancangan UUBH dari Aspek Paralegal dan
Pemberdayaan Hukum (Legal Empowerment), (Jakarta: KKPI, 2014), hlm. 15

10
yang lain, mengusahakan pertisipasi mitra yang optimal dalam penanganan perkara

hukum dan keadilan, menggali dan membuat nyata serta menganalisis kasus-kasus

pelanggaran keadilan yang belum manifest, mengusahakan kerjasama dengan

kekuatan yang ada dan tumbuh di masyarakat diantaranya tokoh informal baik

indifidual maupun kolektif. 10

Orkemas adalah organisasi berbasis kemasyarakatan yang tidak bertujuan

politis. Orkemas haruslah berbadan hukum, yakni berdasarkan Staatsblad 1870 No.

64, serta UU No. 16 Tahun 2001 Tentang Yayasan sebagaimana telah diubah

dengan UU No. 28 Tahun 2004 kemudian diperbaharui dalam Pasal 10 ayat (1)

huruf a UU No. 17 Tahun 2013 dan dijelaskan lebih lanjut pada Pasal 11 sampai

dengan Pasal 13 UU Orkemas. Menurut Pasal 1 ayat (1) UU No. 17 Tahun 2013,

Orkemas didirikan dan dibentuk oleh masyarakat secara sukarela berdasarkan

kesamaan aspirasi, kehendak, kebutuhan, kepentingan, kegiatan, dan tujuan untuk

berpartisipasi dalam pembangunan demi tercapainya tujuan NKRI yang

berdasarkan Pancasila.11

Orang yang melaksanakan pemberian bantuan hukum pada kantor Pelaksana

Bantuan Hukum secara ligitasi atau pada peradilan adalah Advokat, sebelumnya

sempat ada aturan dalam Pasal 11 dan Pasal 12 Permenkumham 1/2018 yang pada

intinya mengatur bahwa Paralegal dapat memberikan Bantuan Hukum secara

litigasi dan nonlitigasi setelah terdaftar pada Pemberi Bantuan Hukum dan

mendapatkan sertifikat pelatihan Paralegal tingkat dasar.

10
Benny K. Harman, Mulyana W. Kusumah, Hendardi, Paskah Irianto, Sigit Pranawa, dan
Tedjabayu, LBH Memberdayakan Rakyat, Membangun Demokrasi, (Jakarta: YLBHI, 1995), hlm.
7.
11
Hisar P. Rumapea, Bankesbang, Medan, 9 Nopember 2018, 10.32 WIB.

11
Akan tetapi, setelah adanya Putusan Mahkamah Agung Nomor 22

P/HUM/2018 Tahun 2018 mengenai perkara permohonan hak uji materiil terhadap

Permenkumham 1/2018, maka Pasal 11 dan Pasal 12 Permenkumham 1/2018

tersebut telah dinyatakanbertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang

lebih tinggi, yaitu Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat (“UU

18/2013”). Salah satu pertimbangan majelis hakim adalah ketentuan normatif

mengenai siapa yang dapat beracara dalam proses pemeriksaan persidangan di

pengadilan telah diatur di dalam Pasal 4 jo. Pasal 31 UU 18/2003, yang pada

pokoknya hanya advokat yang telah bersumpah di sidang terbuka Pengadilan

Tinggi yang dapat menjalankan profesi advokat untuk dapat beracara dalam proses

pemeriksaan persidangan di pengadilan. Dalam amarnya hakim memerintahkan

kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia untuk mencabut Pasal 11 dan Pasal

12 Permenkumham 1/2018.

Dengan demikian, Paralegal tidak dapat memberi bantuan hukum secara

litigasi(beracara di pengadilan), hanya advokatlah yang dapat memberikan bantuan

hukum secara litigasi.

Penerima Bantuan Hukum

Berdasarkan UUBH Pasal 1 ayat (2) “Penerima Bantuan Hukum adalah orang atau

kelompok orang miskin”12 … setiap orang atau kelompok orang miskin yang tidak

dapat memenuhi hak dasar secara layak dan mandiri.”13 Sebagai konsekuensi, untuk

mendapatkan layanan bantuan hukum harus menunjukkan dokumen-dokumen yang

12
Undang-Undang Nomor 16 tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, Pasal 5 ayat (1)
13
Undang-Undang Nomor 16 tahun 2011 tentang Bantuan Hukum, Pasal 1 ayat (2)

12
memvalidasi status miskin mereka, seperti Surat Keterangan TidakMampu

(SKTM)14 atau dokumen-dokumen lainnya seperti “… Kartu Jaminan Kesehatan,

Masyarakat, Bantuan Langsung Tunai, Kartu Beras Miskin, atau dokumen lain

sebagai penggantisurat keterangan miskin”15

.Pendanaan Bantuan Hukum

Sesuai yang tercantum dalam UUBH Pasal 16 ayat

(1) Pendanaan Bantuan Hukum yang diperlukan dan digunakan untuk

penyelenggaraan Bantuan Hukum sesuai dengan Undang-Undang ini

dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara

(2) Selain pendanaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), sumber

pendanaan Bantuan Hukum dapat berasal dari:

a. hibah atau sumbangan; dan/atau

b. sumber pendanaan lain yang sah dan tidak mengikat.

Dan juga pada Pasal 19 ayat (1) yang menyebutkan “Daerah dapat

mengalokasikan anggaran penyelenggaraan Bantuan Hukum dalam

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.”

Namun Pemberi Bantuan Hukum dilarang menerima atau meminta

pembayaran dari Penerima Bantuan Hukum dan/atau pihak lain yang terkait

dengan perkara yang sedang ditangani Pemberi Bantuan Hukum sesuai

dengan Pasal 20 UUBH.

14
Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2013 tentang Syarat Dan Tata Cara Pemberian Bantuan
Hukum Dab Penyaluran Dana Bantuan Hukum, Pasal 6 ayat (3) butir (a).
15
Ibid, Pasal 5 ayat (1)

13
Bantuan hukum di Malaysia

Sejarah

Berdasarkan penjelasan sejarah (Historical) terbentuknya Lembaga Bantuan

Hukum yaitu 16 Pada tahun 1954 Biro Bantuan Hukum dimusyawarahkan

Pada tahun 1960 Sebuah surat yang ditulis oleh 'almoner ortopedi' dari Rumah

Sakit Umum Kuala Lumpur yang meminta agar ketersediaan nasihat hukum gratis

bagi pasien yang menderita cacat sisa yang serius di mana kompensasi dapat

diberikan jika mereka diberikan perwakilan hukum

Sementara organisasi perempuan tertentu juga mendesak Pemerintah untuk

mengambil tindakan untuk memberikan bantuan kepada perempuan

dan anak-anak mereka dalam klaim pemeliharaan mereka terhadap suami dan wali

anak-anak mereka

Pada saat itu, nasihat hukum dan bantuan yang diberikan hanya terbatas pada :

 Pegawai pemerintah dalam kasus-kasus proses hukum yang berkaitan dengan

tugas resmi mereka (vide Pejabat Umum, Perilaku dan Disiplin) (Peraturan

Umum Bab D) Peraturan 1969)

 Orang miskin dalam 'forma pauperis' (vide Peraturan Mahkamah Agung 1957).

 Orang yang dituduh melakukan tindak pidana yang melibatkan hukuman mati

(vide Aturan Acara Pidana)

Pada Oktober 1969, Masalah itu dirujuk ke Jaksa Agung dan kemudian Jaksa

Agung mendukung proposal. Selanjutnya dirujuk ke Kementerian Kehakiman yang

16
http://www.jbg.gov.my/index.php/en/info-jbg/history, (diakses pada 10 Nopember 2018, pukul
03.20)

14
kemudian meminta saran dari Dewan Bar yang juga mendukung skema

tersebut. Sebuah komite dibentuk untuk mempelajari masalah ini. September 1970

Sebuah proyek percontohan diluncurkan untuk memberikan bantuan hukum yang

berkaitan dengan saran saja, Sejumlah Ringgit Malaysia (RM) 100.000

dialokasikan untuk tujuan tersebut. Karena keterbatasan dana, oleh karena itu

dianggap perlu untuk membatasi yurisdiksinya dengan proses tertentu. Prioritas

diberikan kepada masalah keluarga karena ditemukan banyak kasus yang

membutuhkan bantuan segera seperti klaim pemeliharaan, penegakan perintah

pemeliharaan, dan lain-lain.

Tahun 1970 Biro Bantuan Hukum didirikan oleh Negara Malaysia

Tahun 1985 Pada awalnya, Biro ditempatkan di bawah Kamar Jaksa Agung

Bulan Mei Tahun 1995, Biro ditempatkan di bawah Kementerian Hukum setelah

didirikan

Bulan Juni Tahun 1995, Sekarang berada di bawah sayap Divisi Urusan Hukum

Departemen Perdana Menteri

Tanggal 16 Januari 2011 Nama Biro Bantuan Hukum (Legal Aid Bureau) telah

diubah menjadi Departemen Bantuan Hukum (Legal Aid Department)

Landasan Hukum

Landasan Hukum Departemen Bantuan Hukum (Legal Aid Department) yang

dibentuk oleh Negara Malaysia17

17
http://www.jbg.gov.my/index.php/en/info-jbg/Actsandregulations, (diakses pada 10 Nopember
2018, pukul 07.08)

15
1. Legal Aid Act 1971 – Undang-undang Malaysia Cetakan Semula Akta

Bantuan Guaman 1971

2. Legal Aid (Amandment) Act 2017

3. Legal Aid Regulation 2017

4. Legal Aid (Fees and Constributions) Regulation 2017

5. Legal Aid (Criteria and Means Test) Regulation 2017

6. Legal Aids (Meditation) Regulation 2006

7. Legal Aids (Amandment of Third Schedule) Order 2011

Landasan Hukum Biro Bantuan Hukum Swasta (Bar Council Legal Aid Centre)

yang bernama The Malaysian Bar Badan Peguam Malaysia.

Dibentuk berdasarkan Undang-undang Advokat dan Pengacara (Advocates and

Solicitors' Ordinance) 1947 yang kemudian dicabut dan digantikan oleh Undang-

undang Profesi Hukum (the Legal Profession Act) 1976

Serta Peraturan Pengadilan Tinggi (Rule of the High Court)

Pelaksana Bantuan Hukum

1. Departemen Bantuan Hukum (Legal Aid Department)

Departemen didirikan oleh Pemerintah yang menyediakan pelayanan berupa

perwakilan di pengadilan, konsultasi hukum, dan pendidikan hukum.

2. Biro Bantuan Hukum Swasta (Bar Council Legal Aid Centre) yang bernama

The Malaysian Bar Badan Peguam Malaysia

16
Penerima Bantuan Hukum

Departemen Bantuan Hukum (Legal Aid Department) diperuntukkan untuk

masyarakat yang membutuhkan, khususnya yang berpendapatan rendah. 18

Legal Aid Act Malaysia 2003 menetapkan jumlah pendapatan tertentu yang bisa

mendapatkan bantuan hukum

1. Yang berpendapatan tidak melebihi RM 25.000, hanya wajib membayar

biaya registrasi sebesar RM 2

2. Yang berpendapatan antara RM 25.000 hinggal RM 30.000 diwajibkan

membayar RM 300

The Malaysian Bar Badan Peguam seperti yang diatur dalam Peraturan Pengadilan

Tinggi (Rule of the High Court), aplikasi Forma Pauperis fakir miskin kepada

pengadilan tinggi yang berkaitan dengan dengan haknya untuk menggugat dan

melakukan pembelaan. Bila aplikasinya disetujui, ia tidak dibebani biaya

pengadilan atau biaya pihak lawannya.

Pendanaan Bantuan Hukum

Departemen Bantuan Hukum (Legal Aid Department) menerima subsidi sebesar

RM 9,6 Juta. Setiap tahun kantor pusat menyusun anggaran yang dibutuhkan untuk

menjalankan pelananan bantuan hukum

18
Frans Hendra Winarta,Op.Cit.,hlm. 25

17
Simpulan

Dari pembahasan dapat diketahui perbedaan antara bantuan hukum di Indonesia

dengan Malaysia, yaitu

Indonesia Malaysia

Pemberi Bantuan Hukum Bukan lembaga Lembaga Pemerintah dan

pemerintah (Swasta) Lembaga Swasta

Penerima Bantuan hanya orang atau untuk masyarakat yang

Hukum kelompok orang miskin membutuhkan,

yang tidak dapat khususnya yang

memenuhi hak dasar berpendapatan rendah

secara layak dan mandiri

Pendaanaan Bantuan APBN Subsidi dari Negara

Hukum Hibah Penerima Bantuan

Atau sumbangan dari Hukum

pihak yang tidak terkait

dengan perkara

Menurut simpulan penulis masing-masing negara memiliki bentuk yang berbeda

karena secara sejarah dijajah oleh negara yang berbeda, Indonesia mengadopsi

hukum yang dibawa dari Belanda (Sistem hukum Civil Law) dan Malaysia

mengadopsu hukum dari Inggris (Sistem hukum Common Law), namun secara

umum Bantuan hukum dimasing-masing negara bertujuan untuk memberikan

perlindungan hukum kepada warganya.

18
Daftar Pustaka

Buku

Ibrahim, Jhony, Teori dan Metodologi penelitian Hukum Normatif,

(Surabaya: Bayumedia Pblishing, 2005), hlm.132

Prodjohamidjojo, Martiman, Penasihat dan Organisasi Bantuan Hukum,

(Jakarta: Ghalia Indonesia, 1984), hal. 19

Syahrani, Abdurrahman Riduan, Hukum dan Peradilan, (Bandung: Alumni,

1978), hlm 41-42.

Winarta Frans Hendra, Pro Bono Publico, Hak Konstitusional Fakir Miskin

untuk Memperoleh Bantuan Hukum, (Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama,

2009,) Hlm 1.

Artikel

Sr. Mauro Cappelleti, Earl Johson Jr. dan James Gord Ley : Towards Equal

Justice, A ComparativeStudi of Legal Aid in Modern Societies, Dobbes Ferry,

NewYork, 1975, hlm. 6

Kelompok Kerja Paralegal, Working Paper: Kritisi RUUBH dari Aspek

Paralegal dan Pemberdayaan Hukum (Legal Empowerment), Jakarta, hlm. 25.

Kelompok Kerja Paralegal Indonesia, Kritisi Rancangan UUBH dari Aspek

Paralegal dan Pemberdayaan Hukum (Legal Empowerment), (Jakarta: KKPI,

2014), hlm. 15

Benny K. Harman, Mulyana W. Kusumah, Hendardi, Paskah Irianto, Sigit

Pranawa, dan Tedjabayu, LBH Memberdayakan Rakyat, Membangun Demokrasi,

(Jakarta: YLBHI, 1995), hlm. 7.

19
Perundang-undangan

Undang-undang RI Nomor 16 Tahun 2011 tentang Bantuan Hukum

Peraturan Pemerintah No. 42 Tahun 2013 tentang Syarat Dan Tata Cara

Pemberian Bantuan Hukum Dab Penyaluran Dana Bantuan Hukum

Internet

https://en.wikipedia.org/wiki/Legal_aid, (diakses pada 8 Nopember 2018,

pukul 02.51)

http://www.jbg.gov.my/index.php/en/info-jbg/history, (diakses pada 10

Nopember 2018, pukul 03.20)

http://www.jbg.gov.my/index.php/en/info-jbg/Actsandregulations, (diakses

pada 10 Nopember 2018, pukul 07.08)

20