Anda di halaman 1dari 28

STUDI KASUS BIDANG FARMASI

PERATURAN PERUNDANG
UNDANGAN KESEHATAN

Oleh :

Kelompok 1

Reguler II A Reguler II B
1. Dea Fentika Septy 1. Ade Herwana
2. Merita Nuraini 2. Mareta Rusadi
3. Nita Zahrawati 3. Safiska Aktarani

POLTEKKES KEMENKES PALEMBANG


JURUSAN FARMASI
TAHUN AKADEMIK 2014/2015
Kata Pengantar

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
tentang Studi Kasus Bidang Farmasi. Dan juga kami berterima kasih pada Bapak
Drs. Sadakata Sinulingga, Apt.M.Kes selaku Dosen mata kuliah Peraturan
Perundang Undangan Kesehatan yang telah memberikan tugas ini kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai kasus dalam bidang farmasi. Kami juga
menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh
dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan
demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang,
mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang


membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun demi perbaikan di masa depan.

Palembang, Mei 2015

Penulis

Kelompok 1
Daftar Isi

Halaman Judul

Kata Pengantar
…………………………………………………………………………………. i

Daftar Isi
……………………………………………………………………………………...
… ii

Kasus……………………………………………………………………………. 1

I. Klarifikasi Istilah
………………………………………………………………........ 2-3
II. Identifikasi Masalah
………………………………………………………………........... 4
III. Analisis Masalah
………………………………………………………………............5
IV. Teori ……………………………………………………………6-12
V. Learning Issue ……………………………………………….. 13- 26
VI. Kerangka Konsep
A. Bagan Konsep
…………………………………………………………………. 27
B. Penjelasan
…………………………………………………………………..28
VII.Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan
……………………………………………………………… 29-30
B. Saran
………………………………………………………………...… 31

Daftar Pustaka
………………………………………………………………………………… iii
KASUS

(SKENARIO)

Kasat Narkoba Polresta Palembang Kompol Hendro mengatakan pasien

di Apotek Kusuma Nata, Jl. Merdeka Palembang yang diserahkan ke Satnarkoba

Polresta Palembang kondisinya memprihatinkan. Itu dapat dilihat selama

pemeriksaan terlihat jelas para pasien masih ketergantungan psikotropika.

Berdasarkan pemilahannya, mereka adalah korban psikotropika yang harus

disembuhkan, penderita suatu penyakit yang disarankan dokter melalui resep

untuk mengonsumsi dua jenis psikotropika itu, misal karena insomnia dan depresi,

dan juga karena efek kecelakaan sehingga terkena sarafnya dan harus tergantung

obat tersebut. Dengan resep dokter, mereka datang ke apotek untuk menebusnya.

Calmlet kerap diberikan dokter sebagai obat penenang, sedangkan riklona untuk

menambah stamina fisik agar lebih giat. Mengingat adanya resep itu, maka tidak

termasuk penyalahgunaan. Dia mengacu pada UU No 5 tahun 1997 tentang

psikotropika, bahwa ketentuan pidana adalah penyalahgunaan. Sementara, para

pasien itu hanya sebagai orang yang mau nebus obat berdasarkan resep dokter.

"Unsur pembuktiannya tidak cukup untuk pidana. Sebaliknya kami lepas, namun

tetap dalam pembinaan sebelumnya," ungkapnya. Hal lain yang perlu dilakukan,

yaitu agar para pasien wajib lapor di instutsi penerima wajib lapor di bawah

Dinkes dan Dinas Sosial. Harapannya, dengan wajib lapor maka pasien itu dapat

diawasi petugas yang ditunjuk. Terutama dilihat dari rekam medisnya. Di

institusi itu juga ditunjuk dokter yang akan memeriksa dan memastikan resep

anjuran dalam rangka penyembuhan.


BAB I

(KLARIFIKASI ISTILAH)

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia :

 Kasat : Kepala Satuan


 Satnarkoba : Satuan Narkoba
 Korban : orang, binatang, dsb yg menjadi menderita (mati dsb)
akibat suatu kejadian, perbuatan jahat.
 Nebus : tebus : membayar dng uang dsb untuk membebaskan
o (tawanan, sandera, budak belian, dsb).
 Ketergantungan : adalah berkait pada sesuatu yang lebih tinggi;
berpegang; menyandarkan diri
kepada sesuatu/seseorang
 Psikotropika : segala yg dapat mempengaruhi aktivitas pikiran spt
opium, ganja, obat bius; 2 zat atau obat, baik alamiah
maupun sintetis dan bukan narkotika yg dapat
menyebabkan perubahan khas pd aktivitas mental dan
perilaku; obat yg dapat mempengaruhi atau mengubah
cara berbicara ataupun tingkah laku seseorang
 Insomnia : adalah gangguan susah tidur; bentuk gangguan
psikologis tidak dapat tidur
 Depresi : adalah keadaan perdagangan yang lesu; gangguan jiwa
pada seserang yang ditandai dengan kemerosotan
berpikir dan ketahanan tubuh (karena tekanan sedih,dsb)
 Penenang : obat untuk menenangkan (meredakan ketegangan) jiwa
dsb;
 Stamina : Ketahanan tubuh; kekuatan dan kemampuan bertahan
untuk melakukan aktivitas; ketabahan dan ketahanan
mental; keuletan
 Penyalahgunaan : Melakukan sesuatu yang tidak benar; bertindak dengan
cara menyimpang.
 Pidana : Kejahatan ( tentang penipuan, perampasan )
 Rekam medis : rekaman mengenai hasil pengobatan terhadap pasien.
 Institusi . : Pranata, pelembagaan; sesuatu yang dilembagakan oleh
undang-undang
 Pemilahan : pemisahan / pembagian

Menurut Undang-Undang :

 Psikotropika : Zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis bukan


narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh
selektif pada susunan sarap pusat yang menyebabkan
perubahan khas pada aktivitas mental dan perilaku
(PERMENKES RI No. 168/MENKES/Per/2/2005 Pasal
1 Ayat 3)

 Rekam Medis : Berkas yang berisi catatan dan dokumen antara lain
identitas pasien, hasil pemeriksaan, pengobatan yang
telah diberikan, serta tindakan dan pelayanan lain yang
telah diberikan kepada pasien. (PERMENKES No:
269/MENKES/PER/III/2008)
BAB II

IDENTIFIKASI MASALAH

1. Penyalahgunaan psikotropika
2. Pasien mengonsumsi dua jenis psikotropika
3. Efek samping Clamlet dan Riklona
4. Pasien dinilai tidak melakukan penyalahgunaan obat
5. Pemilihan obat psikotropika yang dokter berikan diduga kurang tepat
6. Calmlet dan Riklona adalah obat jenis psikotropika
7. Dosis Calmlet dan Riklona
8. Pasien yang menebus obat psikotropika di apotek ditangkap polisi
9. Pasien harus melakukan wajib lapor pasien kepada instansi penerima wajib
lapor di bawah Dinkes dan Dinas Sosial

 CARA PELAYANAN DAN PENYALURAN RESEP


PSIKOTROPIKA
 PROSEDUR PEMBELIAN RESEP PSIKOTROPIKA

BAB III

ANALISIS MASALAH

1. Apa yang dimaksud penyalahgunaan psikotropika ?


2. Untuk apa pasien mengonsumsi dua jenis psikotropika ?
3. Apa efek samping penggunaan Clamlet dan Riklona ?
4. Mengapa pasien dinilai tidak melakukan penyalahgunaan obat ?
5. Mengapa pemilihan obat psikotropika yang dokter berikan diduga kurang
tepat ?
6. Termasuk golongan jenis apakah Calmlet dan Riklona ?
7. Berapa dosis terapi Calmlet dan Riklona ?
8. Mengapa pasien yang menebus obat psikotropika di apotek ditangkap
polisi ?
9. Mengapa pasien harus melakukan wajib lapor pasien kepada instansi
penerima wajib lapor di bawah Dinkes dan Dinas Sosial ?
BAB IV

LEARNING ISSUE

1. Penyalahgunaan Psikotropika adalah keadaan dimana zat-zat psikotropika


digunakan secara berlebihan tanpa tujuan medis atau indikasi tertentu.

Penjelasan :

Tujuan dan penggunaan psikotropika di atur dalam :

Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 Tentang


Psikotropika tentang Ruang Lingkup dan Tujuan pasal 3 dan 4

 Pasal 3
Tujuan pengaturan di bidang psikotropika adalah :
a. menjamin ketersediaan psikotropika guna kepentingan pelayanan
kesehatan dan ilmu pengetahuan;
b. mencegah terjadinya penyalahgunaan psikotropika;
c. memberantas peredaran gelap psikotropika.

 Pasal 4

Narkotika hanya dapat digunakanuntuk kepentingan pelayanan kesehatan dan/atau


pengembangan ilmu pengetahuan.

2. Pasien mengonsumsi obat psikotropika dengan tujuan untuk mengatasi


insomnia dan depresi yang dialaminya.

Penjelasan :

Berdasarkan fungsinya obat psikotropika dibedakan menjadi tiga :

Yaitu, obat stimulan, obat depresan, dan obat halusinogen


1. Obat stimulan (obat perangsang) adalah obat yang merangsang sistem
syraf sehingga orang merasakan lebih percaya diri dan selalu waspada
2. Obat depresan (obat penenang) adalah obat yang dapat menekan
sistem saraf sehingga pemakaiannya merasa mengantuk dan tingkat
kesadarannya menurun.

3. Pasien mengalami ketergantungan diduga karena efek samping obat yang


diberikan dokter dan pemilihan obat yang kurang tepat dalam pesesepan.

Penjelasan :

 Aprazolam dapat mengakibatkan adiksi (ketergantungan)psikis dan fisik yang


hebat. Pada sebagian orang odsis yang dibutuhkan makin lama makin
meningkat, karena kebutuhan otak pasien akan zat aprazolam inin makin
mningkat seiring dengan waktu, jika penggunaanya tidak diawasi dengan
ketat.

 Efek sampng dari Riklona yang mengandung clonazepam antara lain, sedasi
yang tinggi, pusing di kepala, gangguan koordinasi, depresi dan kelelahan.
Ada juga beberapa pasien mengalami penurunan gairah seks ketika
menggunakan clonazepam. Rikona juga dapat membuat orang batuk,
anoreksia serta mulut kering saat pertama menggunakannya. Efek dari
clonazepam akan meningkat bila digunakan bersama alkohol.

4. Pasien tidak melakukan penyalahgunaan karena saat pasien ke apotek dan


membeli obat dengan menggunakan resep dokter.

Penjelasan :

Permenkes 922/Menkes/Per/X/1993–Pasal 1(h)


Resep adalah permintaan tertulis dari Dokter, Dokter Gigi, Dokter Hewan
kepada Apoteker Pengelola Apotik untuk menyediakan dan menyerahkan obat
bagi penderita sesuai peraturan perundangundangan yang berlaku.
Pelayanan psikotropika : apotek hanya melayani resep psikotropika dari resep asli
atau salinan resep yang dibuat sendiri oleh apotek yang obatnya belum sama
sekali atau baru diambil sebagian. Apotek tidak melayani pembelian obat
psikotropika tanpa resep atau pengulangan resep yang ditulis oleh apotek lain.

5. Pemilihan obat dinilai kurang tepat karena pasien mengalami insomnia dan
depresi sebaiknya diberikan obat anti insomnia (nitrazepam, triazolam, estazolam,
chloral hydrate) untuk menangani insomnia dan diberikan obat anti depresan (
amitripilin, fluoxetin, maclobemide, mianserin) sebagai anti depresan.

Penjelasan :
1. RIKLONA (CLONAZEPAM)
Adalah salah satu dari derivate dari zat yang bernama benzodiazepine.
Clonazepam dikonsumsi sendiri ataupun dicampur dengan zat dari
benzodiazepine lain yang digunakan untuk mengobati gangguan kejang-
kejang tertentu, contonya sindrom lennox gastaut atau kejang mioklonik
akinetic. Clonazepam juga dapat digunakan untuk mengobati gangguan panik
terhadap pasien tertentu. Toleransi terhadap obat ini juga tergantung terhadap
setiap pasien
Riklona sebenarnya bila digunakan sebagai obat penenang lebih ampuh
dari aprazolam. Bagi pasien yang memilikki riwayat depresi, obat ini dapat
berkesinambungan secara berkala.

2.Calmet (aprazolam)
Merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan benzodiazepine.
Menurut undang-undang RI no 22/1997 aprazolam merupakan obat-obatan
psikotropika golongan IV.

Farmakologi :
Farmakodinamikk aprazolam merupakan derivat triazolo benzodiazepine
dengan efek cepat dan sifat umum yang mrip dengan diazepam.
Aprazolam merupakan anti ansietas anti panik paling efektif.
Indikasi :
1. Anasietas, termasuk neurosis ansietas dan ansietas yang menyertai
depresi.
2. Gangguan panik, termasuk serangan panik.

Untuk mengurangi pemakaian aprazolam dengan aman dibuthkan waktu


berbulan-bulan dan mungkin bertahun-tahun.

6. Calmlet dan Riklona adalah obat psikotropika golongan IV yang termasuk


golongan benzodiazepin.

7. Dosis Calmlet :

Mengandung Alprazolam 0,25 mg; 0,5 mg; 1 mg; 2 mg

Indikasi : gejala ansietas termasuk ansietas disertai gejala depresi, panik,


disorder dengan atau tanpa agorafobia.

Dosis :

Ansietas : dosis awal, sehari 2 sampai 3 kali 0,25 mg sampai 0,5 mg

Dosis pemeliharaan 0,5 mg sampai 4 mg per hari dalam dosis terbagi.

Panik disorder : 0,5 mg sampai 1 mg sebelum tidur atau sehari tiga kali 0,5
mg.

Dosis Riklona :

Mengandung clonazepam 2 mg.


Indikasi : obat tunggal atau tambahan pada sindrom Lennox Gastaut,
serangan mioklonik dan akinetik, epilepsi, petit mal dan grand mal.

Dosis :

dosis awal :

 < 10 tahun (BB sampai 30 kg) 0,01 sampai 0,03 mg/kgBB/hari

 10 tahun (BB sampai 30 kg) dan dewasa sehari 1-2 mg.

Dosis pemeliharaan :

 < 10 tahun (BB sampai 30 kg) sehari 0,05-0,1 mg/kg

 10-16 tahun : BB > 30 kg sehari 1,5-3 mg

Dewasa : sehari 2-4 mg maksimal sehari 20 mg

8. Pasien melakukan wajib lapor ke institusi penerima wajib lapor pasien di


bawah Dinkes dan Dinas Sosial karena bukti yang didapatkan polisi tidak cukup
kuat, dalam kasus ini obat dari copy resep yang akan disalahgunakan oleh pasien
belum didapatkan pasien. Oleh karena itu pasien dipidana tetapi pasien hanya
melakukan rehabilitasi di fasilitas rehabilitasi yang telah ditunjuk oleh
pemerintah.

Penjelasan :

Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 Tentang


Psikotropika

Bab VII
PENGGUNAAN PSIKOTROPIKA DAN REHABILITASI

Pasal 36
1. Pengguna psikotropika hanya dapat memiliki, menyimpan, dan
atau membawa psikotropika untuk digunakan dalma rangka
pengobatan dan atau perawatan
2. Pengguna psikotropika sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
mempunyai bukti bahwa psikotopika yag dimilliki, sisimpan, dan
atau dibawa untuk digunakan, diperoleh secara sah sebagaimana
dimaksud dalam pasal 14 ayat (2) dan ayat (5).

Pasal 37
1. Penggunaan psikotropika yang menderita sindroma ketergantungan
berkewajiban untuk ikut serta dalam pengobatan dan atau
perawatan.
2. Pengobatan dan atau perawatan sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dilakukan pada fasilitas rehabilitasi.

Pasal 38
Rehabilitasi bagi pengguna psikotropika yang menderita sindroma
ketergantungan dimaksudkan untuk memulihkan dan atau
mengembangkan kemampuan fisik, mental, dan sosialnya.

Pasal 39
1. Rehabilitasi bagi pengguna psikotropika yang menderita sindroma
ketergantungan dilaksanakan pada fasilitas rehabilitasi yang
diselenggarakan oleh pemerintah dan atau masyarakat.
2. Rahabilitasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi rahabilitasi
medis dan rehabilitasi sosial.
3. Penyelenggaraan fasilitas rahabilitasi medis sebagaimana dimaksudkan
pda ayat (1) dan ayat (2) hanya dapat dilakukan atas dasar izin dari
menteri.
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai penyelenggaran rehabilitasi dan
perizinan sebagaimana dimaksud pada ayat(1) dan ayat (3) ditetapkan
dengan paraturan pemerintah.

Pasal 40
Pemilikan psikotropika dalam jumlah tertentu oleh wisatawan asing atau
warga negara asing yang memasuki wilayah negara indonesia yang
dilakukan sepanjang digunakan hanya untuk pengobatan dan atau
kepentingan pribadi dan yang bersangkutan harus mempunyai bukti
bahwa psikotropika berupa obat dimaksud diperoleh secara sah.

Pasal 41
Pengguna psikotropika yang menderita sindorma ketergantungan yang
berkaitan dengan tindak pidana di bidang psikotropika dapat
diperintahkan oleh hakim yang memutus perkara tersebut untuk
menjalani pengobatan dan perawatan.
Hipnoterapi, sebagai salah satu terapi psikomatis, dapat membantu
mepercepat menghentikan ketergantungan calmlet, karena hipnoterapi bekerja
membantu klien untuk keluar dari beban hidup masalah klien denganmembangung
aspek kejiwaan dengan cara memprogram kembali alam bawah sadar.

9. Pasien yang menebus obat ditangkap polisi karena diduga pasien melakukan
penyalahgunaan obat yang berdampak pada ketergantungan obat Psikotropika.

Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 Tentang


Psikotropika

Ketentuan umum

Pasal 1

Dalam undang-undang ini dimaksud dengan :

1. Psikotropika adalah zat atau obat, baik alamiah ataupun sintetis bukan
narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada
susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas
mental dan perilaku.

1. Pelayanan dan penyaluran psikotropika di atur dalam :


Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 Tentang
Psikotropika Pasal 14 ayat 1-6 bagian Ketiga tentang Penyerahan
(1) Penyerahan psikotropika dalam rangka peredaran sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 8 hanya dapat dilakukan oleh apotek, rumah
sakit, puskesmas, balai pengobatan, dan dokter.
(2) Penyerahan psikotropika oleh apotek hanya dapat dilakukan kepada
apotek lainnya, rumah sakit, puskesmas, balai pengobatan, dokter dan
kepada pengguna/pasien.
(3) Penyerahan psikotropika oleh rumah sakit, balai pengobatan,
puskesmas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat
dilakukan kepada pengguna/ pasien.
(4) Penyerahan psikotropika oleh apotek, rumah sakit, puskesmas dan
balai pengobatan, puskesmas sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
dilaksanakan berdasrkan resep dokter.
(5) Penyerahan psikotropika oleh dokter sebagaimana dimaksud pada ayat
(1), dilaksanakan dalam hal :
A. menjalankan praktik terapi dan diberikan melalui suntikan;
B. menolong orang sakit dalam keadaan darurat;
C. menjalankan tugas di daerah terpencil yang tidak ada apotek.
(6) Psikotropika yang diserahkan dokter sebagaimana dimaksud pada
ayat (5) hanya dapat diperoleh dari apotek.
BAB V

TEORI (SINTESIS)

4.1 Pengertian Psikotropika

Psikotropika adalah suatu zat atau obat, baik alamiah maupun sintetis
bukan narkotika, yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada
susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan
perilaku.

4.2 Efek Pemakaian Psikotropika

Zat atau obat psikotropika ini dapat menurunkan aktivitas otak atau
merangsang susunan saraf pusat dan menimbulkan kelainan perilaku, disertai
dengan timbulnya halusinasi (mengkhayal), ilusi, gangguan cara berpikir,
perubahan alam perasaan dan dapat menyebabkan ketergantungan serta
mempunyai efek stimulasi (merangsang) bagi para pemakainya.

Pemakaian Psikotropika yang berlangsung lama tanpa pengawasan dan


pembatasan pejabat kesehatan dapat menimbulkan dampak yang lebih buruk,
tidak saja menyebabkan ketergantungan bahkan juga menimbulkan berbagai
macam penyakit serta kelainan fisik maupun psikis si pemakai, tidak jarang
bahkan menimbulkan kematian.

4.3 Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa tentang Pemberantasan


Peredaran Narkotika dan Psikotropika, 1988

Dewan Perserikatan Bangsa Bangsa telah mengadakan konvensi mengenai


pemberantasan peredaran psikotropika (Convention on psychotropic substances)
yang diselenggarakan di Vienna dari tanggal 11 Januari sampai 21 Februari 1971,
yang diikuti oleh 71 negara ditambah dengan 4 negara sebagai peninjau.
Sebagai reaksi yang didorong oleh rasa keprihatinan yang mendalam atas
meningkatnya produksi, permintaan, penyalahgunaan dan peredaran gelap
narkotika dan psikotropika serta kenyataan bahwa anak-anak dan remaja
digunakan sebagai pasar pemakai narkotika dan psikotropika secara gelap, serta
sebagai sasaran produksi, distribusi, dan perdagangan gelap narkotika dan
psikotropika, telah mendorong lahirnya Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa
tentang Pemberantasan Gelap Narkotika dan Psikotropika, 1988.

Konvensi tersebut secara keseluruhan berisi pokok-pokok pikiran, antara


lain, sebagai berikut :

1. Masyarakat bangsa-bangsa dan negara-negara di dunia perlu memberikan


perhatian dan prioritas utama atas masalah pemberantasan peredaran gelap
narkotika dan psikotropika.
2. Pemberantasan peredaran gelap narkotika dan psikotropika merupakan
masalah semua negara yang perlu ditangani secara bersama pula.
3. Ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Konvensi Tunggal Narkotika
1961, Protokol 1972 Tentang Perubahan Konvensi Tunggal Narkotika
1961, dan Konvensi Psikotropika 1971, perlu dipertegas dan
disempurnakan sebagai sarana hukum untuk mencegah dan memberantas
peredaran gelap narkotika dan psikotropika.
4. Perlunya memperkuat dan meningkatkan sarana hukum yang lebih efektif
dalam rangka kerjasama internasional di bidang kriminal untuk
memberantas organisasi kejahatan trans-nasional dalam kegiatan
peredaran gelap narkotika dan psikotropika.

4.5 Golongan Psikotropika

Psikotropika yang mempunyai potensi mengakibatkan sindroma


ketergantungan digolongkan menjadi 4 golongan, yaitu :

1. Psikotropika golongan I : yaitu psikotropika yang tidak digunakan


untuk tujuan pengobatan dengan potensi ketergantungan yang sangat kuat
2. Psikotropika golongan II : yaitu psikotropika yang berkhasiat terapi
tetapi dapat menimbulkan ketergantungan.
3. Psikotropika golongan III : yaitu psikotropika dengan efek
ketergantungannya sedang dari kelompok hipnotik sedatif.
4. Psikotropika golongan IV : yaitu psikotropika yang efek
ketergantungannya ringan.

Berdasarkan Konvensi Perserikatan Bangsa Bangsa tentang


pemberantasan peredaran narkotika dan psikotropika, tahun 1988 tersebut maka
psikotropika dapat digolongkan sebagai berikut : (didahului dengan nama
International dan nama kimia diletakkan dalam tanda kurung)

Psikotropika Golongan I

 Broloamfetamine atau DOB ((±)-4-bromo-2,5-dimethoxy-alpha-


methylphenethylamine)
 Cathinone ((x)-(S)-2-aminopropiophenone)
 DET (3-[2-(diethylamino)ethyl]indole)
 DMA ( (±)-2,5-dimethoxy-alpha-methylphenethylamine )
 DMHP ( 3-(1,2-dimethylheptyl)-7,8,9,10-tetrahydro-6,6,9-trimethyl-6H-
dibenzo[b,d]pyran-1-olo )
 DMT ( 3-[2-(dimethylamino)ethyl]indole)
 DOET ( (±)-4-ethyl-2,5-dimethoxy-alpha-phenethylamine)
 Eticyclidine - PCE ( N-ethyl-1-phenylcyclohexylamine )
 Etrytamine ( 3-(2-aminobutyl)indole )
 Lysergide - LSD, LSD-25 (9,10-didehydro-N,N-diethyl-6-methylergoline-
8beta-carboxamide)
 MDMA ((±)-N,alpha-dimethyl-3,4-(methylene-dioxy)phenethylamine)
 Mescaline (3,4,5-trimethoxyphenethylamine)
 Methcathinone ( 2-(methylamino)-1-phenylpropan-1-one )
 4-methylaminorex ( (±)-cis-2-amino-4-methyl-5-phenyl-2-oxazoline )
 MMDA (2-methoxy-alpha-methyl-4,5-(methylenedioxy)phenethylamine)
 N-ethyl MDA ((±)-N-ethyl-alpha-methyl-3,4-
(methylenedioxy)phenethylamine)
 N-hydroxy MDA ((±)-N-[alpha-methyl-3,4-
(methylenedioxy)phenethyl]hydroxylamine)
 Parahexyl (3-hexyl-7,8,9,10-tetrahydro-6,6,9-trimethyl-6H-
dibenzo[b,d]pyran-1-ol)
 PMA (p-methoxy-alpha-methylphenethylamine)
 Psilocine, psilotsin (3-[2-(dimethylamino)ethyl] indol-4-ol)
 Psilocybine (3-[2-(dimethylamino)ethyl]indol-4-yl dihydrogen phosphate)
 Rolicyclidine - PHP,PCPY ( 1-(1-phenylcyclohexyl)pyrrolidine )
 STP, DOM (2,5-dimethoxy-alpha,4-dimethylphenethylamine)
 Tenamfetamine - MDA (alpha-methyl-3,4-
(methylenedioxy)phenethylamine)
 Tenocyclidine - TCP (1-[1-(2-thienyl)cyclohexyl]piperidine)
 Tetrahydrocannabinol
 TMA ((±)-3,4,5-trimethoxy-alpha-methylphenethylamine)

Psikotropika Golongan II

 Amphetamine ((±)-alpha-methylphenethylamine)
 Dexamphetamine ((+)-alpha-methylphenethylamine)
 Fenetylline (7-[2-[(alpha-methylphenethyl)amino] ethyl]theophylline)
 Levamphetamine ((x)-(R)-alpha-methylphenethylamine)
 Levomethampheta-mine ((x)-N,alpha-dimethylphenethylamine)
 Mecloqualone (3-(o-chlorophenyl)-2-methyl-4(3H)- quinazolinone)
 Methamphetamine ((+)-(S)-N,alpha-dimethylphenethylamine)
 Methamphetamineracemate ((±)-N,alpha-dimethylphenethylamine)
 Methaqualone (2-methyl-3-o-tolyl-4(3H)-quinazolinone)
 Methylphenidate (Methyl alpha-phenyl-2-piperidineacetate)
 Phencyclidine - PCP (1-(1-phenylcyclohexyl)piperidine)
 Phenmetrazine (3-methyl-2-phenylmorpholine)
 Secobarbital (5-allyl-5-(1-methylbutyl)barbituric acid)
 Dronabinol atau delta-9-tetrahydro-cannabinol ((6aR,10aR)-6a,7,8,10a-
tetrahydro-6,6,9-trimethyl-3-pentyl-6H- dibenzo[b,d]pyran-1-ol)
 Zipeprol (alpha-(alpha-methoxybenzyl)-4-(beta-methoxyphenethyl)-1-
piperazineethanol)
Psikotropika Golongan III

 Amobarbital (5-ethyl-5-isopentylbarbituric acid)


 Buprenorphine (2l-cyclopropyl-7-alpha-[(S)-1-hydroxy-1,2,2-
trimethylpropyl]-6,14- endo-ethano-6,7,8,14-tetrahydrooripavine)
 Butalbital (5-allyl-5-isobutylbarbituric acid)
 Cathine / norpseudo-ephedrine ((+)-(R)-alpha-[(R)-1-aminoethyl]benzyl
alcohol)
 Cyclobarbital (5-(1-cyclohexen-1-yl)-5-ethylbarbituric acid)
 Flunitrazepam (5-(o-fluorophenyl)-1,3-dihydro-1-methyl-7-nitro-2H-1,4-
benzodiazepin-2-one)
 Glutethimide (2-ethyl-2-phenylglutarimide)
 Pentazocine ((2R*,6R*,11R*)-1,2,3,4,5,6-hexahydro-6,11-dimethyl-3-(3-
methyl-2-butenyl)-2,6-methano-3-benzazocin-8-ol)
 Pentobarbital (5-ethyl-5-(1-methylbutyl)barbituric acid)

Psikotropika Golongan IV

 Allobarbital (5,5-diallylbarbituric acid)


 Alprazolam (8-chloro-1-methyl-6-phenyl-4H-s-triazolo[4,3
a][1,4]benzodiazepine)
 Amfepramone (diethylpropion 2-(diethylamino)propiophenone)
 Aminorex (2-amino-5-phenyl-2-oxazoline)
 Barbital (5,5-diethylbarbituric acid)
 Benzfetamine (N-benzyl-N,alpha-dimethylphenethylamine)
 Bromazepam (7-bromo-1,3-dihydro-5-(2-pyridyl)-2H-1,4-benzodiazepin-
2-one)
 Butobarbital (5-butyl-5-ethylbarbituric acid)
 Brotizolam (2-bromo-4-(o-chlorophenyl)-9-methyl-6H-thieno[3,2-f]-s-
triazolo[4,3-a][1,4]diazepine)
 Camazepam (7-chloro-1,3-dihydro-3-hydroxy-1-methyl-5-phenyl-2H-1,4
benzodiazepin-2-one dimethylcarbamate (ester))
 Chlordiazepoxide (7-chloro-2-(methylamino)-5-phenyl-3H-1,4-
benzodiazepine-4-oxide)
 Clobazam (7-chloro-1-methyl-5-phenyl-1H-1,5-benzodiazepine-
2,4(3H,5H)-dione)
 Clonazepam (5-(o-chlorophenyl)-1,3-dihydro-7-nitro-2H-1,4-
benzodiazepin-2-one)
 Clorazepate (7-chloro-2,3-dihydro-2-oxo-5-phenyl-1H-1,4-
benzodiazepine-3-carboxylic acid)
 Clotiazepam (5-(o-chlorophenyl)-7-ethyl-1,3-dihydro-1-methyl-2H-thieno
[2,3-e] -1,4-diazepin-2-one)
 Cloxazolam (10-chloro-11b-(o-chlorophenyl)-2,3,7,11b-tetrahydro-
oxazolo- [3,2-d][1,4]benzodiazepin-6(5H)-one)
 Delorazepam (7-chloro-5-(o-chlorophenyl)-1,3-dihydro-2H-1,4-
benzodiazepin-2-one)
 Diazepam (7-chloro-1,3-dihydro-1-methyl-5-phenyl-2H-1,4-
benzodiazepin-2-one)
 Estazolam (8-chloro-6-phenyl-4H-s-triazolo[4,3-a][1,4]benzodiazepine)
 Ethchlorvynol (1-chloro-3-ethyl-1-penten-4-yn-3-ol)
 Ethinamate (1-ethynylcyclohexanolcarbamate)
 Ethyl loflazepate (ethyl 7-chloro-5-(o-fluorophenyl)-2,3-dihydro-2-oxo-
1H-1,4-benzodiazepine-3-carboxylate)
 Etil Amfetamine / N-ethylampetamine (N-ethyl-alpha-
methylphenethylamine)
 Fencamfamin (N-ethyl-3-phenyl-2-norborananamine)
 Fenproporex ((±)-3-[(alpha-methylphenylethyl)amino]propionitrile)
 Fludiazepam (7-chloro-5-(o-fluorophenyl)-1,3-dihydro-1-methyl-2H-1,4-
benzodiazepin-2-one)
 Flurazepam (7-chloro-1-[2-(diethylamino)ethyl]-5-(o-fluorophenyl)-1,3-
dihydro-2H-1,4-benzodiazepin-2-one)
 Halazepam (7-chloro-1,3-dihydro-5-phenyl-1-(2,2,2-trifluoroethyl)-2H-
1,4-benzodiazepin-2-one)
 Haloxazolam (10-bromo-11b-(o-fluorophenyl)-2,3,7,11b-
tetrahydrooxazolo [3,2-d][1,4]benzodiazepin-6(5H)-one)
 Ketazolam (11-chloro-8,12b-dihydro-2,8-dimethyl-12b-phenyl-4H-
[1,3]oxazino[3,2-d][1,4]benzodiazepine-4,7(6H)-dione)
 Lefetamine - SPA ((x)-N,N-dimethyl-1,2-diphenylethylamine)
BAB VI

Kerangka Konsep

A. Bagan Konsep

Pasien Dokter Resep

Rehabilitasi Apotek

Institusi Penerima Obat & Copy resep


Wajijb Lapor

Obat habis
Polisi

Dokter
Pemalsuan obat

apotek Resep lain


Obat*

Keterangan : *efek obat berbeda dari pemberian resep sebelumnya

Penjelasan :

Pasien yang mengidap suatu penyakit yang disarankan dokter melalui

resep untuk mengonsumsi dua jenis psikotropika itu, misal karena insomnia dan

depresi, dan juga karena efek kecelakaan sehingga terkena sarafnya dan harus

tergantung obat tersebut. Dengan resep dokter, mereka datang ke apotek untuk
menebusnya. Calmlet kerap diberikan dokter sebagai obat penenang, sedangkan

riklona untuk menambah stamina fisik agar lebih giat. Lalu pasien ini menebus

resep yang diberikan oleh dokter tersebut di Apotek Kusuma Nata, Jl. Merdeka

Palembang, TTK di apotek tersebut memberikan obat dan copy resep. Paisen

tersebut beberapa kali kembali lagi ke apotek yang sama untuk menebus sisa obat

yang sama pada copy resepnya sampai akhirnya obatnya pun habis. Pasien

tersebut merasakan obat yang diresepkan memberikan efek yang benar-benar

mujarab terhadap tubuhnya sehingga pasien tersebut pergi lagi ke dokter tersebut

dengan harapan dokter akan meresepkan obat itu kembali. Namun setelah ia pergi

ke dokter tersebut, dokter itu tidak lagi meresepkan obat yang sama dari resep

sebelumnya karena dirasa pasien sudah tidak membutuhkan obat itu lagi. Setelah

mendapatkan obatnya, pasien itu pergi ke apotek Kusuma Nata lalu menebus

resep baru yang berikan oleh dokternya. Ketika dia mengonsumsi obat tersebut

barulah ia mengerti bahwa dokter tersebut meresepkan obat yang berbeda dari

sebelumnya karena efek yang dihasilkan berbeda dibandingkan pada saat ia

mengonsumsi calmlet dan riklona. Pasien tersebut sebenarnya telah terkena efek

samping dari calmlet yang mengandung aprazolam, yaitu adiksi

(ketergantungan)psikis dan fisik. Secara psikis pasien tersebut menganggap

apabila ia tidak mengonsumsi obat itu lagi maka insomnia dan depresinya akan

terus dialaminya. pasien itu memutuskan untuk kembali lagi ke apotek dengan

membawa copy resep yang berisi calmlet dan riklona, karena copy resep tersebut

tidak bisa diulang penebusannya TTK apotek tersebut menjelaskan tidak dapat

memberikan obat yang ia minta dikarenakan copy resep tersebut sudah tidak bisa

diulang penebusannya. Karena pasien didesak oleh rasa ketergantungannya maka


ia memalsukan copy resep tersebut dengan mengkopi copy resep tersebut dan

memalsukan tanggal pemberian copy resep. Kemudian ia kembali lagi ke apotek

untuk mendapatkan obat dengan copy resep yang telah ia palsukan, TTK yang

berada di apotek setelah memeriksa copy resepnya merasa bahwa copy resep itu

tidak asli dan menghubungi dokter untuk memastikannya. Setelah mengetahui

bahwa copy resep itu palsu, ia mengatakan pada pasien bahwa apotek tidak bisa

menerima copy resep yang dibawanya. Namun si pasien terus memaksa agar

apotek memberikan obat yang ia butuhkan, pihak apotek yang merasa terganggu

dengan ulah pasien melaporkan hal tersebut pada polisi. Ia kemudian ditangkap

dan diserahkan ke Satnarkoba Polresta Palembang dengan dugaan

penyalahgunaan obat psikotropika, untungnya karena polisi tidak menemukan

bukti bahwa ia telah menyimpan obat psikotropika maka ia tidak dipidana dan

dilepas namun tetap dalam pembinaan. Pasien juga melakukan wajib lapor di

fasilitas rehabilitasi ditunjuk dibawah Dinkes dan Dinas Sosial dalam rangka

penyembuhan.
BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
1. Pasien tidak bersalah karena membeli resep psikotropika di apotek
2. Pasien yang mengalami sindroma ketergantungan psikotropika harus menjalani
rehabilitasi di pada fasilitas rehabilitasi yang diselenggarakan oleh pemerintah dan
atau masyarakat.
3. Pasien hanya dapat memiliki, menyimpan, dan atau membawa psikotropika
untuk digunakan dalma rangka pengobatan dan atau perawatan.
4. Mengenai pelanggaran terhadap penggunaan psikotropika secara tidak tepat di
atur dalam ketentuan hukum yang berlaku pada Undang – Undang Republik
Indonesia Nomor 5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika

5.apabila terjadi kesalahan penulisan Resep tersebut dikonfirmasi dan


didiskusikan lebih lanjut kepada dokter penulis resep

6.Bila terdapat resep yang tidak memenuhi aturan-aturan diatas, resep tidak dapat
dilayani, begitu pula resep psikotropika yang telah diambil sebagian oleh pasien
diapotek lain.
7.Apotek harus memastikan agar apakah resep tersebut tidak diminta terus
menerus karena memungkinkan adanya penyalahgunaan.

B. Saran

1. dari kasus ini dapat dilihat bahwa peran tenaga kefarmasian dituntut untuk teliti
dalam penyerahan obat, karena apabila tidak teliti kesalahan tersebut dampak
buruk yang diterima bukan hanya dari segi kesehatan namun hukum pula.

2. tenaga kefarmasian juga harus memiliki logika yang tajam agar tidak mudah
ditipu oleh orang-orang yang memiliki tujuan penyalahgunaan.

3. penulis yang akan menyelesaikan kasus-kasus selanjutnya, diharapkan dapat


menganalisis kasus yang diberikan dengan teliti dan diberikan penjelasan sesuai
yang dapat membuktikan analisa dari kasus yang didapatkan.
DAFTAR PUSTAKA

https://rekamkesehatan.wordpress.com/2009/02/25/definisi-dan-isi-rekam-medis-
sesuai-permenkes-no-269menkesperiii2008/ (diakses tanggal 1 Mei 2015)

http://id.wikipedia.org/wiki/Psikotropika (diakses tanggal 1 Mei 2015)

www.hotfrog.co.id/Companies/HIPNOTERAPI-DI-BANDUNG-BERIZIN-
DINKES/Hipnoterapi-Untuk-Ketergantungan-Alprazolam-Xanax-Calmlet-
Frixitas-180357 (diakses 10 mei 2015)

reggiesidokter.blogspot.com/2013/05/riklona-clonazepam.html?m=1 (diakses 10
mei 2015)

raypratama.blogspot.com/2012/02/pengertian-psikotropika-dan-jenis.html?m=1
(diakses 10 mei 2015)

ilmu-kefarmasian.blogspot.com/2014/02/pengelolaan-narkotika-dan-
psikotropika.html?m=1 (diakses 10 mei 2015)

http://raypratama.blogspot.com/2012/02/pengertian-psikotropika-dan-
jenis.html?m=1 (diakses pada 11 mei 2015)

Wahyuni, Novia (2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Surabaya : Kashiko


Press