Anda di halaman 1dari 19

PROPOSAL SKRIPSI

SISTEM PROTEKSI PADA TRANSMISI SUTT 150 kV SIRKIT


GANDA GI CAWANG – GI DEPOK BARU

Diajukan sebagai syarat untuk mengikuti Sidang Proposal Skripsi

Pada Jurusan S1 Teknik Elektro

Disusun Oleh :

SUTAN RAHMAT SYAKRA

2011-11-071

TENAGA LISTRIK

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


SEKOLAH TINGGI TEKNIK-PLN
JAKARTA, 2015
LEMBAR PERSETUJUAN PROPOSAL SKRIPSI

Judul Skripsi : SISTEM PROTEKSI PADA TRANSMISI SUTT 150KV


SIRKIT GANDA GI CAWANG – GI DEPOK BARU

Identitas Peneliti
a Nama Mahasiswa : Sutan Rahmat Syakra
b NIM : 2011-11-071
c Jurusan : Teknik Elektro
d No.Hp : 089672793594
e Email : sutannjr@gmail.com

Jangka Waktu Penelitian


a Mulai tanggal : Maret 2015
b Selesai tanggal : Agustus 2015
c Alamat : Jalan pondok randu no 81 , jakarta barat

Dosen Pembimbing : Ir. Sampurno S.P., MT

Mengetahui, Jakarta, 2 April 2015


Dosen PA Nama Mahasiswa

( Muh. Nur Qosim, ST ) ( Sutan Rahmat Syakra )

Disetujui oleh,
Ketua Jurusan

( Nurmiati Pasra, ST, MT )


PENGAJUAN

Proposal Skripsi Dengan Judul

SISTEM PROTEKSI PADA TRANSMISI SUTT 150KV SIRKIT


GANDA GI CAWANG – GI DEPOK BARU

Disusun Oleh :

Sutan Rahmat Syakra

2011-11-071

SEKOLAH TINGGI TEKNIK – PLN

Pendidikan Sarjana Strata Satu Teknik Elektro

Jakarta, 2 April 2015

Mengetahui, Disetujui,

Nurmiati Pasra, ST, MT Ir. Sampurno S.P, MT

Ketua Jurusan Teknik Elektro Pembimbing Seminar


ABSTRAK

Saluran udara tegangan tinggi merupakan salah satu komponen dalam sistem tenaga

listrik yang sering mengalami gangguan. Gangguan pada saluran udara dapat disebabkan

hubung singkat, beban lebih, surja petir, topan, cuaca buruk dan lain-lain. Gangguan ini dapat

menyebabkan terganggunya kelangsungan operasi dan kerusakan peralatan pada sistem

tenaga listrik. Untuk itu diperlukan sistem proteksi yang handal yang dapat mengidentifikasi

gangguan dengan cepat sekaligus mengamankan bagian sistem yang terganggu dari bagian

lain yang masih dapat berjalan normal. Suatu sistem proteksi karena berbagai macam faktor

dapat mengalami kegagalan operasi, oleh sebab itu selain proteksi utama diperlukan proteksi

cadangan yang dapat bekerja ketika proteksi utama gagal bekerja. Rele jarak dapat digunakan

sebagai proteksi utama sekaligus sebagai proteksi cadangan jauh pada saluran udara tegangan

tinggi. Sedangkan rele arus lebih dan rele gangguan tanah digunakan sebagai proteksi

cadangan lokal jika rele jarak gagal bekerja. Sebagai pengaman utama saluran udara tegangan

tinggi keberadaan rele jarak menjadi sangat penting dan perlu dijaga kualitas kerja serta

kondisi setelan relenya. Untuk itu perlu dilakukan pemeliharaan secara berkala pada sistem

proteksi saluran udara tegangan tinggi. Rele jarak juga disetting bertujuan untuk mengetahui

kondisi setting rele proteksi existing apakah masih memenuhi fungsinya sebagai proteksi

yang harus sensitif, selektif, handal, cepat, sesuai dengan peruntukannya apakah sebagai rele

proteksi utama atau cadangan. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai sistem proteksi

pada saluran udara tegangan tinggi 150 kV gardu induk Cawang – Depok Baru.

Kata Kunci : Saluran Udara Tegangan Tinggi, Rele Jarak, Rele Arus Lebih, Rele Gangguan
Tanah
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saluran udara tegangan tinggi merupakan komponen sistem tenaga listrik yang

berperan sangat penting dalam menjaga kualitas dan keandalan sistem tenaga listrik.

Akan tetapi saluran udara merupakan salah satu komponen dalam sistem yang sering

mengalami gangguan. Gangguan yang terjadi dapat berupa hubung singkat, beban

lebih, surja petir, topan, cuaca buruk dan lain-lain. Gangguan tersebut dapat

menyebabkan terganggunya kelangsungan operasi dan kerusakan peralatan pada

sistem tenaga listrik. Untuk menghindari kerusakan dan kerugian yang lebih besar,

maka diperlukan suatu sistem proteksi tenaga listrik yang dapat bekerja secara cepat

mengisolasi gangguan. Sistem proteksi mempunyai fungsi untuk menjaga sistem

tenaga listrik tetap stabil, dengan cara mengidentifikasi gangguan dan memisahkan

bagian sistem yang terganggu dari bagian lain yang masih dapat berjalan normal.

Dengan perkembangan sistem tenaga listrik yang semakin besar dan kompleks

dibutuhkan kinerja sistem proteksi yang handal, yang dapat menjamin bahwa setiap

gangguan yang terjadi pada sistem dapat diamankan dengan cepat. Adanya

keterlambatan atau kegagalan dalam memisahkan bagian yang terganggu dapat

menimbulkan kerugian baik dari sisi konsumen maupun dari sisi penyedia tenaga

listrik. Saluran udara tegangan tinggi menggunakan rele jarak sebagai proteksi utama

dan dilengkapi proteksi cadangan lokal serta proteksi cadangan jauh. Sistem proteksi

cadangan lokal menggunakan rele arus lebih. (OCR) dan rele gangguan ke tanah

(GFR), sedangkan proteksi cadangan jauh menggunakan zona dua rele jarak dari
gardu induk yang lain. Untuk menjamin kontinuitas penyaluran tenaga listrik dan

menjamin keandalan maka perlu dilakukan pemeliharaan pada sistem proteksi SUTT

secara berkala. Hal ini penting karena sistem proteksi adalah sistem yang vital dalam

sebuah sistem penyaluran tenaga listrik. Salah satu bentuk pemeliharaan SUTT yang

dilakukan adalah scanning setting rele jarak.

1.2 Tujuan

Tujuan dari kegiatan skripsi ini adalah diantara lain :

 Mengetahui jenis-jenis perlatan proteksi pada sistem transmisi SUTT 150kV


 Mengetahui pemilihan zona proteksi pada sistem transmisi SUTT 150kV
 Mengetahui cara setting rele pengaman pada SUTT 150 KV GI Cawang – Depok

Baru

1.3 Manfaat Skripsi

Manfaat Skripsi ini diharapkan berhasil dengan baik dan dapat mencapai

tujuan penelitian secara optimal, mampu menghasilkan laporan yang sistematis dan

bermanfaat secara umum. Setelah skripsi ini diharapkan agar wawasan penulis

mengenai sistem proteksi ini meningkat

1.4 Rumusan Masalah

Adapun permasalahan yang akan dibahas antara lain :

1. Apa saja jenis peralatan proteksi yang digunakan pada sistem ini ?

2. Bagaimana mekanisme proteksi sistem proteksi pada sistem ini ?

3. Bagaimana setting peralatan proteksi yang digunakan pada saluran transmisi


ini ?
1.5 Batasan Masalah

Untuk membatasi masalah agar skripsi ini lebih terarah dan tidak keluar dari

konteks yang dibahas, maka penulis perlu membuat batasan masalah yang akan

dibahas diantara lain adalah seputar tenatang penggunaan peralatan proteksi pada

sistem SUTT 150 kV

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sistem Transmisi SUTT 150 kV

Saluran transmisi adalah sistem penyaluran tenaga listrik yang beroperasi pada

TT (tegangan tinggi), TET (tegangan ekstra tinggi), dan TUT (tegangan ultra tinggi).

Kemampuan sistem transmisi dengan tegangan yang lebih tinggi akan menjadi jelas

jika dilihat dari kemampuan transmisi dari suatu saluran transmisi, kemampuan ini

biasanya dinyatakan dalam Mega Volt Ampere (MVA). Transmisi dapat menyalurkan

tenaga listrikdari GI Pembangkitan ke GI Tegangan Tinggi dan GI Tegangan Tinggi

ke GI Distribusi.

Pada saluran transmisi ini memiliki tegangan operasi antara 30kV sampai

150kV. Konfigurasi jaringan pada umumnya single atau doble sirkuit, dimana 1

sirkuit terdiri dari 3 phasa dengan 3 atau 4 kawat. Biasanya hanya 3 kawat dan

penghantar netralnya diganti oleh tanah sebagai saluran kembali. Apabila kapasitas

daya yang disalurkan besar, maka penghantar pada masing-masing phasa terdiri dari

dua atau empat kawat (Double atau Qudrapole) dan Berkas konduktor disebut Bundle

Conductor. Jarak terjauh yang paling efektif dari saluran transmisi ini ialah 100 km.

Jika jarak transmisi lebih dari 100 km maka tegangan jatuh (drop voltage) terlalu

besar, sehingga tegangan diujung transmisi menjadi rendah.

2.2 Sistem Proteksi Pada SUTT 150 kV

Suatu sistem proteksi pada umumnya dibagi dalam dua kelompok, yaitu :

1. Pengaman Utama

Pengamanan Utama Merupakan sistem proteksi yang diharapkan segera

bekerja jika terjadi kondisi abnormal atau gangguan pada daerah pengamanannya.

Contoh : Rele Jarak pada proteksi SUTT.


2. Pengaman Cadangan

Pengaman Cadangan Diperlukan apabila pengaman utama tidak dapat bekerja

atau terjadi gangguan pada sistem pengaman utama. Pengaman utama dibagi menjadi:

a) Sistem proteksi cadangan lokal (local back up protection system) Pengaman

cadangan lokal adalah pengamanan yang dicadangkan bekerja bilamana pengaman

utama yang sama gagal bekerja. Contohnya:penggunaan OCR atau GFR.

b) Sistem proteksi cadangan jauh (remote back up protection system)

Pengaman cadangan jarak jauh adalah pengamanan yang dicadangkan bekerja

bilamana pengaman utama di tempat lain gagal bekerja. Contoh : zone-2 dan zone-3

rele jarak pada proteksi SUTT.

Pada sistem transmisi 150 kV penggunaan rele jarak sebagai pengaman utama

yang dilengkapi teleproteksi menjadi suatu keharusan, khususnya bagi :

a) Penghantar yang dioperasikan looping dengan sistem 150 kV lainnya

b) Penghantar 150 kV yang radial double circuit

2.3 Sistem Proteksi Terhadap Tegangan Lebih

Pada dasarnya pada saluran transmisi dilengkapi peralatan pengaman terhadap

gangguan hubung singkat (arus lebih) dan gangguan tegangan lebih ( urja petir).

Peralatan proteksi yang digunakan pada sistem tenaga listrik untuk mengatasi

tegangan lebih salah satunya yaitu Lightning Arrester. Lighting Arrester adalah alat

proteksi bagi peralatan listrik terhadap tegangan lebih, yang disebabkan oleh petir

atau surja hubung (switching surge). Alat ini bersifat sebagai by-pass di sekitar isolasi

yang membentuk jalan dan mudah dilalui oleh arus kilat ke sistem pentanahan

sehingga tidak menimbulkan tegangan lebih yang tinggi dan tidak merusak isolasi

peralatan listrik. By-pass ini harus sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu aliran
daya sistem frequensi 50 Hz. Jadi pada keadaan normal arrester berlaku sebagai

isolator, bila timbul tegangan surja alat ini bersifat sebagai konduktor yang

tahanannya relatif rendah, sehingga dapat mengalirkan arus yang tinggi ke tanah.

Setelah surja hilang, arrester harus dapat dengan cepat kembali menjadi isolasi. By-

pass ini harus sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu aliran daya sistem

frequensi 50 Hz

Pada keadaan normal arrester berlaku sebagai isolator, bila timbul tegangan

surja alat ini bersifat sebagai konduktor yang tahanannya relatif rendah, sehingga

dapat mengalirkan arus yang tinggi ke tanah. Setelah surja hilang, arrester harus dapat

dengan cepat kembali menjadi isolasi. Arrester melindungi peralatan listrik pada

sistem jaringan terhadap tegangan lebih yang disebabkan petir atau surja hubung,

maka pada umumnya arrester dipasang pada ujung SUTT yang memasuki Gardu

Induk. Di Gardu Induk besar adakalanya pada trafo dipasang arrester untuk menjamin

terlindungnya trafo dan peralatan lainnya dari tegangan lebih tersebut.

2.3 Sistem Proteksi Terhadap Arus Lebih (Arus Hubung Singkat)

Dalam sistem tenaga listrik ada bermacam-macam gangguan yang terjadi.

Salah satunya adalah gangguan terhadap arus lebih (arus hubung singkat), oleh sebab

itu diperlukannya perlatan pengaman untuk mengatasi gangguan seperti penggunaan

PMT, Rele, Current Transformator, dan Potential Transformator . dimana peralatan ini

yang berperan dalam mengatasi gangguan pada sistem tenaga listrik upaya

menghindari kerusakan pada sisi gardu induk pembangkit maupun saluran transmisi.

Peralatan pengaman terhadap arus lebih diantaranya adalah :

2.3.1 PMT
Sakelar Pemutus Tenaga / Circuit Breaker adalah suatu peralatan pemutus

rangkaian listrik pada suatu sistem tenaga listrik, yang mampu untuk membuka dan

menutup rangkaian listrik pada semua kondisi, termasuk arus hubung singkat, sesuai

dengan ratingnya. Juga pada kondisi tegangan yang normal ataupun tidak normal.

Dimana PMT ini mampu menyalurkan arus maksimum sistem secara terus-menerus,

dan juga dapat memutuskan dan menutup jaringan dalam keadaan berbeban maupun

terhubung singkat tanpa menimbulkan kerusakan pada pemutus tenaga itu sendiri.

PMT juga dilengkapi dengan PMS (sakelar pemisah) yang berfungsi untuk

mengisolasikan peralatan listrik dari peralatan lain atau instalasi lain yang

bertegangan. PMS ini boleh dibuka atau ditutup hanya pada rangkaian yang tidak

berbeban. Berikut ini adalah jenis-jenis PMT yang umum digunakan pada sistem

tenaga listrik, diantaranya adalah :

 Sakelar PMT Minyak

Sakelar PMT ini dapat digunakan untuk memutus arus sampai 10 kA

dan pada rangkaian bertegangan sampai 500 kV. Pada saat kontak dipisahkan,

busur api akan terjadi didalam minyak, sehingga minyak menguap dan

menimbulkan gelembung gas yang menyelubungi busur api, karena panas

yang ditimbulkan busur api, minyak mengalami dekomposisi dan

menghasilkan gas hydrogen yang bersifat menghambat produksi pasangan ion.

Oleh karena itu, pemadaman busur api tergantung pada pemanjangan dan

pendinginan busur api dan juga tergantung pada jenis gas hasil dekomposisi

minyak.

 Sakelar PMT Udara Hembus (Air Blast Circuit Breaker)


Sakelar PMT ini dapat digunakan untuk memutus arus sampai 40 kA

dan pada rangkaian bertegangan sampai 765 kV. PMT udara hembus

dirancang untuk mengatasi kelemahan pada PMT minyak, yaitu dengan

membuat media isolator kontak dari bahan yang tidak mudah terbakar dan

tidak menghalangi pemisahan kontak, sehingga pemisahan kontak dapat

dilaksanakan dalam waktu yang sangat cepat. Saat busur api timbul, udara

tekanan tinggi dihembuskan ke busur api melalui nozzle pada kontak pemisah

dan ionisasi media diantara kontak dipadamkan oleh hembusan udara tekanan

tinggi itu dan juga menyingkirkan partikel-partikel bermuatan dari sela kontak,

udara ini juga berfungsi untuk mencegah restriking voltage (tegangan pukul

ulang).

 Sakelar PMT vakum (Vacuum Circuit Breaker)

Sakelar PMT ini dapat digunakan untuk memutus rangkaian

bertegangan sampai 38 kV. Pada PMT vakum, kontak ditempatkan pada suatu

bilik vakum. Untuk mencegah udara masuk kedalam bilik, maka bilik ini

harus ditutup rapat dan kontak bergeraknya diikat ketat dengan perapat logam.

 Sakelar PMT Gas SF6 (SF6 Circuit Breaker)

Sakelar PMT ini dapat digunakan untuk memutus arus sampai 40 kA

dan pada rangkaian bertegangan sampai 765 kV. Media gas yang digunakan

pada tipe ini adalah gas SF6 (Sulphur hexafluoride). Sifat gas SF6 murni

adalah tidak berwarna, tidak berbau, tidak beracun dan tidak mudah terbakar.

Pada suhu diatas 150º C, gas SF6 mempunyai sifat tidak merusak metal,

plastic dan bermacam bahan yang umumnya digunakan dalam pemutus tenaga

tegangan tinggi. Sebagai isolasi listrik, gas SF6 mempunyai kekuatan


dielektrik yang tinggi (2,35 kali udara) dan kekuatan dielektrik ini bertambah

dengan pertambahan tekanan. Sifat lain dari gas SF6 ialah mampu

mengembalikan kekuatan dielektrik dengan cepat, tidak terjadi karbon selama

terjadi busur api dan tidak menimbulkan bunyi pada saat pemutus tenaga

menutup atau membuka.

2.3.2 Rele Proteksi

Rele adalah suatu alat yang bekerja secara otomatis untuk mengatur

/memasukan suatu rangkaian listrik (rangkaian trip atau alarm) akibat adanya

perubahan lain. Dalam perencanaan sistem proteksi, maka untuk mendapatkan

suatu sistem proteksi yang baik diperlukan persyaratan-persyaratan sebagai

berikut :

1. Sensitif.

Suatu rele proteksi bertugas mengamankan suatu alat atau suatu bagian

tertentu dari suatu sisitem tenaga listrik, alat atau bagian sisitem yang

termasuk dalam jangkauan pengamanannya. Rele proteksi mendeteksi adanya

gangguan yang terjadi di daerah pengamanannya dan harus cukup sensitif

untuk mendeteksi gangguan tersebut dengan rangsangan minimum dan bila

perlu hanya mentripkan pemutus tenaga (PMT) untuk memisahkan bagian

sistem yang terganggu, sedangkan bagian sistem yang sehat dalam hal ini

tidak boleh terbuka.

2. Selektif.

Selektivitas dari rele proteksi adalah suatu kualitas kecermatan

pemilihan dalam mengadakan pengamanan. Bagian yang terbuka dari suatu

sistem oleh karena terjadinya gangguan harus sekecil mungkin, sehingga


daerah yang terputus menjadi lebih kecil. Rele proteksi hanya akan bekerja

selama kondisi tidak normal atau gangguan yang terjadi didaerah

pengamanannya dan tidak akan bekerja pada kondisi normal atau pada

keadaan gangguan yang terjadi diluar daerah pengamanannya.

3. Cepat.

Makin cepat rele proteksi bekerja, tidak hanya dapat memperkecil

kemungkinan akibat gangguan, tetapi dapat memperkecil kemungkinan

meluasnya akibat yang ditimbulkan oleh gangguan.

4. Handal.

Dalam keadaan normal atau sistem yang tidak pernah terganggu rele

proteksi tidak bekerja selama berbulan-bulan mungkin bertahun-tahun, tetapi

rele proteksi bila diperlukan harus dan pasti dapat bekerja, sebab apabila rele

gagal bekerja dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih parah pda peralatan

yang diamankan atau mengakibatkan bekerjanya rele lain sehingga daerah itu

mengalami pemadaman yang lebih luas. Untuk tetap menjaga keandalannya,

maka rele proteksi harus dilakukan pengujian secara periodik.

5. Ekonomis & Sederhana

Dengan biaya yang sekecilnya-kecilnya dan bentuk yang sederhana

dan fleksibel, rele proteksi mempunyai kemampuan pengamanan yang

sebesar-besarnya.

Adapun jenis-jenis rele yang digunakan pada sistem SUTT 150kV ini

adalah sbb :

a. Rele jarak (Distance Relay)

Rele jarak adalah rele yang bekerja dengan mengukur tegangan pada

titik rele dan arus gangguan yang terlihat dari rele, dengan membagi besaran
tegangan dan arus, maka impedansi sampai titik terjadinya gangguan dapat di

tentukan. Rele ini juga merupakan rele impedansi tegangan/arus sehingga

yang disensing oleh rele ini adalah tegangan & arus dengan bantuan current

transformator

b. Over Current Relay & Ground Fault Relay

Rele arus lebih adalah suatu rangkaian peralatan rele pengaman yang

memberikan respon terhadap kenaikan arus yang melebihi harga arus yang

telah ditentukan pada rangkaian yang diamankan. Rele hubung tanah berfungsi

untuk mengamankan peralatan listrik akibat adanya gangguan hubung singkat

fasa ke tanah. Prinsip kerja kedua rele ini sama , yang membedakan hanyalah

pada fungsi dan elemen sensor arus. OCR biasanya memiliki 2 atau 3 sensor

arus (untuk 2 atau 3 fasa) sedangkan GFR ahnya memiliki satu sensor arus

(satu fasa ). Dimana kedua rele ini adalah rele arus sehingga yang di sensing

oleh kedua rele ini adalah arus lebih / arus hubung singkat, dengan demikian

diperlukan perlatan bantu berupa trafo tarus / current transformator

c. Rele Diferensial (Differential Relay)

Rele Diferensial Adalah rele yang bekerja berdasarkan Hukum

Kirchof, dimana arus yang masuk pada suatu titik sama dengan arus yang

keluar dari titik tersebut. Yang dimaksud titik pada proteksi diferensial ialah

daerah pengamanan, dalam hal ini dibatasi oleh 2 buah trafo arus.

2.3.3 Current Transformator

Untuk memperoleh besaran arus yang proporsional dengan arus sistem

yang dapat digunakan dalam peralatan kontrol, rele proteksi dan peralatan
instrumen lainnya, umumnya digunakan trafo arus atau current transformator.

Current transformator merupakan suatu peralatan yang digunakan untuk

mengambil sample atau masukan arus sistem dan mentransformasikan ke level

yang lebih rendah untuk peralatan-peralatan proteksi, pengukuran maupun

peralatan kontrol. Trafo arus mempunyai fungsi sebagai berikut:

 Memperkecil besaran arus listrikpada sistem tenaga listrik menjadi besaran

aurs untuk sistem pengukuran


 Mengisolasi rangkaian sekunder terhadap rangkaian primer, yaitu memisahkan

instalasi pengukuran dan proteksi dari sistem tegangan tinggi.

Rating arus 5 Ampere atau 1 Ampere banyak digunakan sebagai standar pada trafo

arus. Beberapa rele proteksi menggunakan arus skunder CT sebagai input masukan

seperti rele jarak, rele arus lebih, rele differensial dan lain-lain.

BAB III

METODE PENELITIAN

Metode yang dipergunakan dalam penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut:
1. Studi Literatur
Mengambil bahan dari buku-buku referensi, jurnal, majalah dan sumber literatur

yang berhubungan dengan skripsi ini.


2. Studi Bimbingan & Diskusi
Diskusi berupa tanya jawab dengan dosen pembimbing Teknik Elektro STT-PLN

mengenai masalah-masalah yang timbul selama penyusunan skripsi ini

berlangsung.

3. Analisa Data & Pembuatan Laporan

Analisa dilakukan dengan mengolah data dan kemudian disesuaikan dengan teori-

teori yang berhubungan sehingga dapat diambil kesimpulan dan masalah yang

ada.

DAFTAR PUSTAKA

 Stevenson, Jr. William D, “ Analisa Sistem Tenaga “ terjemahan Ir.Kamal

Idris, Erlangga , Jakarta , cetakan keempat,1994.

 Napitupulu,Eden, Ir, Relay Proteksi jilid 1, PLN Pembangkitan Jawa Barat

dan Jakarta Raya


 Djiteng Marsudi., “ Operasi Sistem Tenaga Listrik “ Badan Penerbit dan

Humas ISTN, Jakarta,1990.

 Pusat Pelatihan dan Pendidikan PT. PLN (Persero), Pemeliharan Sistem

Proteksi Transmisi

 Pusat Pelatihan dan Pendidikan PT. PLN (Persero), Konstruksi & Instalasi

Sistem Proteksi

 Juan M. Gers and Edward J. Holmes, 2004, “Protection of Electricity

Distribution Networks”, 2nd Edition, The Institution of Electrical Engineers,

London,United Kingdom

JADWAL PELAKSANAAN SKRIPSI


Waktu Pelaksanaan Kegiatan

Februari - Maret 2015 Penyusunan Proposal

Maret - April 2015 Penyusununan BAB I

April 2015 - Mei 2015 Penyusunan BAB II dan BAB III

Juni 2015 – Juli 2015 Penyusunan BAB IV dan BAB V