Anda di halaman 1dari 29

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ...................................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................................ ii
KATA PENGANTAR .................................................................................................... iii
DAFTAR ISI .................................................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................................. 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................... 2
BAB III KESIMPULAN ................................................................................................ 26
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... 27

ii
BAB I
PENDAHULUAN

Seorang manusia dalam menjalani kehidupannya sejak kecil, remaja, dewasa hingga
lanjut usia memiliki kecenderungan yang relatif serupa dalam menghadapi suatu masalah.
Apabila diperhatikan, cara atau metode penyelesaian yang dilakukan seseorang memiliki pola
tertentu dan dapat digunakan sebagai ciri atau tanda untuk mengenal orang tersebut. Hal ini
dikenal sebagai karakter atau kepribadian.
Kepribadian adalah totalitas dari ciri perilaku dan emosi yang merupakan karakter atau
ciri seseorang dalam kehidupan sehari-hari, dalam kondisi yang biasa. Sifatnya stabil dan
dapat diramalkan.1
Karakter adalah ciri kepribadian yang dibentuk oleh proses perkembangan dan
pengalaman hidup. Temperamen dipengaruhi oleh faktor genetik atau konstitusional yang
terbawa sejak lahir, bersifat sederhana, tanpa motivasi, baru stabil sesudah anak berusia
beberapa tahun.
Individu dengan gangguan kepribadian menunjukkan pola maladaptif, tidak fleksibel
serta mendarah daging yang berhubungan dan mengesankan lingkungan dan dirinya sendiri.
Gejala gangguan kepribadian yaitu aloplastik (mampu mengadaptasi dan mengubah
lingkungan eksternal) dan egosintonik (dapat diterima oleh ego), serta tidak merasa cemas
dengan perilaku maladaptifnya karena tidak secara rutin merasakan sakit dari apa yang
dirasakan oleh masyarakat sebagai gejalanya. Individu mungkin menyangkal masalahnya,
dianggap tidak termotivasi untuk melakukan pengobatan, menolak bantuan psikiatrik dan
dianggap tidak mempan terhadap pemulihan.2
Gangguan kepribadian adalah kelainan yang umum dan kronis. Prevalensinya
diperkirakan antara 10 sampai 20% dari seluruh populasi, dan durasinya dapat berlangsung
selama beberapa dekade. Orang dengan gangguan kepribadian umumnya dicap
menjengkelkan, menganggu, dan bersifat parasit dan secara umum dianggap memiliki
prognosis yang buruk. Diperkirakan setengah dari seluruh pasien psikiatrik memiliki
gangguan kepribadian, yang seringkali komorbid dengan kondisi Aksis I. Gangguan
kepribadian merupakan faktor predisposisi untuk gangguan psikiatrik lain (contoh
penyalahgunaan zat, bunuh diri, gangguan afektif, dan gangguan cemas) di mana hal ini
mengganggu hasil pengobatan sindrom Axis I dan meningkatkan menderita ketidakmampuan
(cacat) personal, morbiditas, dan mortalitas pasien.2
1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Kepribadian adalah totalitas sifat emosional dan perilaku yang menandai kehidupan
seseorang dari hari ke hari dalam kondisi yang biasanya (Kaplan, 2010). Kepribadian bersifat
relatif stabil dan dapat diramalkan.Gangguan kepribadian adalah suatu varian kepribadian
yang tidak fleksibel dan maladaptif serta menyebabkan gangguan fungsional yang bermakna
atau penderitaan subjektif (Kaplan, 2010).
Individu dengan gangguan kepribadian menunjukkan pola maladaptif, tidak fleksibel
serta mendarah daging yang berhubungan dan mengesankan lingkungan dan dirinya sendiri.
Gejala gangguan kepribadian yaitu aloplastik (mampu mengadaptasi dan mengubah
lingkungan eksternal) dan egosintonik (dapat diterima oleh ego), serta tidak merasa cemas
dengan perilaku maladaptifnya karena tidak secara rutin merasakan sakit dari apa yang
dirasakan oleh masyarakat sebagai gejalanya. Individu mungkin menyangkal masalahnya,
dianggap tidak termotivasi untuk melakukan pengobatan, menolak bantuan psikiatrik dan
dianggap tidak mempan terhadap pemulihan (Kaplan, 2010).

2.2 Klasifikasi Gangguan Kepribadian (Kaplan, 2010)


1. Kelompok A terdiri dari gangguan kepribadian paranoid, skizoid dan skizotipal.
Individu dengan gangguan kepribadian tersebut seringkali tampak aneh dan
eksentrik.
2. Kelompok B terdiri dari gangguan kepribadian dissosial, ambang (borderline),
histrionik dan narsistik. Individu dengan gangguan kepribadian tersebut seringkali
tampak dramatik, emosional dan tidak menentu.
3. Kelompok C terdiri dari gangguan kepribadian menghindar, dependen dan
obsesif-kompulsif.
4. Gangguan kepribadian yang tidak ditentukan yaitu gangguan kepribadian
pasif-agresif dan gangguan kepribadian depresif.
Individu dengan gangguan kepribadian yang tergolong kelompok C dan gangguan
kepribadian yang tidak ditentukan seringkali tampak cemas atau ketakutan. Seseorang bisa

2
memiliki satu atau lebih gangguan kepribadian dan masing-masing gangguang kepribadian
tersebut harus didiagnosis dan dikode pada aksis II menurut DSM-IV.

2.3 Etiologi
Faktor Genetik
Faktor genetik memiliki peran dalam terjadinya gangguan kepribadian. Gangguan
kepribadian kelompok A lebih sering ditemukan pada saudara biologis dari pasien skizofrenik
dibandingkan kelompok kontrol. Banyak ditemukan saudara dengan gangguan kepribadian
skizotipal pada mereka yang memiliki riwayat keluarga skizofrenia. Pada kelompok B,
gangguan kepribadian dissosial berhubungan dengan penyalahgunaan alkohol, individu
dengan gangguan kepribadian ambang memiliki banyak saudara dengan gangguan mood serta
ada hubungan yang kuat antara gangguan kepribadian histrionik dan gangguan somatisasi.

Faktor Temperamental
Faktor temperamental berhubungan dengan gangguan kepribadian pada masa dewasa.
Sebagai contoh, anak-anak yang secara temperamental ketakutan mungkin mengalami
gangguan kepribadian menghindar.
Gangguan kepribadian mungkin berasal dari ketidaksesuaian antara temperamen orang
tua dan cara membesarkan anak. Contohnya adalah seorang anak yang pencemas dibesarkan
oleh ibu yang juga seorang pencemas maka anak tersebut lebih rentan mengalami gangguan
kepribadian dibandingkan dengan anak yang pencemas dibesarkan oleh ibu yang tenang.
Kultur yang memaksakan agresi mungkin secara tidak disadari berperan dalam terjadinya
gangguan kepribadian paranoid dan dissosial. Lingkungan fisik juga mungkin memiliki peran,
contohnya yaitu seorang anak kecil yang aktif mungkin tampak hiperaktif jika tinggal di
apartemen kecil yang tertutup tetapi tampak normal di ruang kelas yang besar dengan
lapangan yang berpagar.

Faktor Biologis
Hormon dan neurotransmitter memiliki peran pada gangguan kepribadian. Individu
dengan sifat impulsif seringkali menunjukkan peningkatan kadar testosteron, 17-estradiol dan
estrone. Pada primata bukan manusia ditemukan bahwa androgen meningkatkan sifat agresif
dan perilaku seksual. Monoamin oksidase (MAO) trombosit juga berperan. Pelajar dengan
MAO trombosit yang rendah melaporkan menggunakan lebih banyak waktu dalam aktivitas

3
sosial dibandingkan pelajar dengan MAO trombosit yang tinggi. Serotonin adalah
neurotransmitter yang menurunkan depresi dan impulsivitas. Metabolit serotonin yaitu
5-hydroxyindoleacetic acid (5-HIAA) ditemukan rendah kadarnya pada orang yang berusaha
bunuh diri serta pada pasien yang impulsif dan agresif.
Adanya disfungsi sistem saraf pusat berisiko terjadinya gangguan kepribadian,
khususnya gangguan kepribadian dissosial dan ambang.

Faktor Psikoanalitik
Cap kepribadian yang unik pada masing-masing individu sangat ditentukan oleh
mekanisme pertahanan karakteristik orang tersebut. Masing-masing gangguan kepribadian
memiliki kelompok mekanisme pertahanan yang membantu klinisi mengenali tipe patologi
karakter yang ada. Sebagai contoh, orang dengan gangguan kepribadian skizoid berhubungan
dengan penarikan diri.
Jika mekanisme pertahanan berfungsi baik, penderita dengan gangguan kepribadian
mampu mengatasi perasaan kecemasan, depresi, kemarahan, malu atau bersalah. Penderita
sering memandang perilakunya sebagai egosintonik yang berarti perilaku penderita tersebut
tidak menimbulkan penderitaan pada diri penderita meskipun dapat merugikan orang lain.
Penderita mungkin tidak mau melakukan terapi karena mekanisme pertahanan mereka penting
dalam pengendalian hal yang tidak menyenangkan dan mereka tidak berminat untuk
menghilangkan mekanisme pertahanan tersebut. Sebagai contoh, banyak orang, khususnya
mereka yang dicap skizoid, menggunakan pertahanan fantasi mereka secara berlebihan.
Mereka mencari penghiburan dan kepuasan dalam diri mereka sendiri dengan menciptakan
kehidupan khayalan, khususnya teman khayalan, di dalam pikiran mereka sendiri. Mereka
seringkali tampak menjauhkan diri, tetapi sebenarnya hal tersebut terjadi karena mereka
mengalami ketakutan akan keintiman.

2.4 Macam – Macam Gangguan Kepribadian


2.4.1 Gangguan Kepribadian Paranoid
Individu dengan gangguan kepribadian paranoid ditandai oleh kecurigaan dan
ketidakpercayaan yang ekstrem pada orang lain yang pada umumnya berlangsung lama.
Mereka seringkali bersikap bermusuhan, mudah tersinggung dan marah. Orang fanatik dan
pasangan yang cemburu secara patologis seringkali memiliki gangguan kepribadian paranoid
(Kaplan, 2010).

4
Epidemiologi
Prevalensi gangguan kepribadian paranoid yaitu 0,5-2,5%. Saudara pasien skizofrenik
menunjukkan insidensi gangguan kepribadian paranoid yang lebih tinggi dibandingkan
kelompok kontrol. Gangguan kepribadian paranoid lebih sering pada laki-laki dibandingkan
perempuan. Insidensi lebih tinggi pada kelompok minoritas dan imigran dibandingkan
populasi umum.

Diagnosis
Pedoman diagnostik untuk gangguan kepribadian paranoid berdasarkan PPDGJ III,
yaitu:
1. Kepekaan berlebihan terhadap kegagalan dan penolakan
2. Kecenderungan untuk tetap menyimpan dendam, misalnya menolak untuk memaafkan
suatu penghinaan dan luka hati atau masalah kecil
3. Kecurigaan dan kecenderungan yang mendalam untuk mendistorsikan pengalaman
dengan menyalahartikan tindakan orang lain yang netral atau bersahabat sebagai suatu
sikap permusuhan atau penghinaan
4. Perasaan bermusuhan dan ngotot tentang hak pribadi tanpa memperhatikan situasi
yang ada
5. Kecurigaan yang berulang, tanpa dasar, tentang kesetiaan seksual dari pasangannya
6. Kecenderungan untuk merasa dirinya penting secara berlebihan, yang bermanifestasi
dalam sikap yang selalu merujuk ke diri sendiri
7. Preokupasi dengan penjelasan-penjelasan yang bersekongkol dan tidak substantif dari
suatu peristiwa, baik yang menyangkut diri pasien sendiri maupun dunia pada
umumnya.
Untuk diagnosis pasti adanya gangguan kepribadian paranoid setidaknya individu yang
bersangkutan memiliki 3 kriteria diatas.
Kriteria diagnostik gangguan kepribadian paranoid berdasarkan DSM-IV yaitu:
a. Ketidakpercayaan dan kecurigaan yang pervasif kepada orang lain sehingga motif
mereka dianggap sebagai balas dendam, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak
dalam berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh 4 atau lebih berikut:
1) Menduga, tanpa dasar yang cukup, bahwa orang lain memanfaatkan,
membahayakan atau mengkhianati dirinya

5
2) Preokupasi dengan keraguan yang tidak pada tempatnya tentang loyalitas atau
kejujuran teman atau rekan kerja
3) Enggan untuk menceritakan rahasia orang lain karena rasa takut yang tidak perlu
bahwa informasi akan digunakan secara jahat melawan dirinya
4) Membaca arti merendahkan atau mengancam yang tersembunyi dari ucapan atau
kejadian yang biasa
5) Secara persisten menanggung dendam, yaitu tidak memaafkan kerugian, cedera
atau kelalaian
6) Merasakan serangan terhadap karakter atau reputasinya yang tidak tampak bagi
orang lain dan dengan cepat bereaksi secara marah atau balas menyerang
7) Memiliki kecurigaan yang berulang, tanpa pertimbangan, tentang kesetiaan
pasangan atau mitra seksual
b. Tidak terjadi semata-mata selama perjalanan skizofrenia, suatu gangguan mood
dengan ciri psikotik atau gangguan psikotik lain dan bukan karena efek fisiologis
langsung dari kondisi medis umum.
Catatan: jika kriteria terpenuhi sebelum onset skizofrenia, tambahkan “pramorbid”,
misalnya gangguan kepribadian paranoid (pramorbid).

Gambaran Klinis
Ciri penting dari gangguan kepribadian paranoid adalah kecenderungan untuk
menginterpretasikan tindakan orang lain sebagai merendahkan atau mengancam secara
disengaja. Seringkali individu dengan gangguan kepribadian ini bertanya tanpa pertimbangan,
tentang loyalitas dan kejujuran temannya. Serta sering kali cemburu secara patologis,
mempertanyakan kesetiaan pasangannya. Individu ini memiliki afek terbatas dan tampak tidak
memiliki emosi. Mereka membanggakan dirinya sendiri karena mampu rasional dan objektif,
tetapi sebenarnya tidak. Mereka kehilangan kehangatan. Mereka memberikan perhatian
kepada yang memiliki kekuatan dan mengekspresikan hinaan pada orang yang dipandangnya
lemah. Individu dengan gangguan kepribadian paranoid mungkin tampak seperti sibuk tetapi
mereka seringkali menciptakan ketakutan atau konflik bagi orang lain.

Diagnosis Banding
1. Gangguan kepribadian paranoid dapat dibedakan dari gangguan delusional karena
waham yang terpaku tidak ditemukan pada gangguan kepribadian paranoid.

6
2. Gangguan kepribadian ini dapat dibedakan dari skizofrenia karena halusinasi tidak
ditemukan pada gangguan kepribadian paranoid. Namun pada orang lain, gangguan
ini bisa merupakan tanda dari skizofrenia.
3. Gangguan kepribadian paranoid dapat dibedakan dari gangguan kepribadian ambang
karena individu dengan gangguan kepribadian paranoid jarang terlibat secara
berlebihan dan rusuh dalam persahabatan dengan orang lain.

Prognosis
Pada beberapa orang, gangguan kepribadian paranoid terjadi seumur hidup. Masalah
pekerjaan dan perkawinan sering ditemukan akibat gangguan kepribadian ini.

Terapi
Terapi untuk gangguan kepribadian paranoid adalah psikoterapi. Jika ahli terapi
dituduh tidak konsisten atau gagal, maka sebaiknya jujur dan meminta maaf kepada pasien
tersebut daripada memberikan penjelasan untuk membela diri. Pasien dengan gangguan
kepribadian tersebut tidak dapat melakukan psikoterapi secara berkelompok. Pasien tersebut
juga mengalami ketakutan yaitu merasa bahwa orang yang akan menolongnya bersifat lemah
dan tidak berdaya.
Farmakoterapi dapat digunakan untuk mengatasi kecemasan yaitu obat antiansietas
seperti diazepam. Obat antipsikotik dalam dosis kecil dan periode yang singkat seperti
thioridazine, haloperidol, pimozide dapat digunakan untuk mengatasi pikiran yang sangat
paranoid.

2.4.2 Gangguan Kepribadian Skizoid


Individu dengan gangguan kepribadian ini menunjukkan pola penarikan sosial yang
lama, rasa tidak nyaman dalam berinteraksi sosial, bersifat introvert juga afek lemah lembut
dan terbatas. Individu dengan gangguan kepribadian ini dipandang oleh orang lain sebagai
orang yang kesepian. Individu dengan kepribadian ini cenderung mencari pekerjaan yang
sedikit melibatkan kontak atau tidak kontak dengan orang lain dan lebih menyukai bekerja
pada malam hari sehingga tidak perlu berhadapan dengan banyak orang.

7
Epidemiologi
Gangguan kepribadian ini mungkin sekitar 7,5% dari populasi umum. Beberapa
penelitian melaporkan lebih banyak laki-laki yang mengalami gangguan kepribadian ini.

Diagnosis
Pasien jarang melakukan kontak mata. Pasien sukar untuk berterus-terang. Pasien
memberikan jawaban singkat terhadap pertanyaan dan menghindari percakapan spontan.
Pedoman diagnostik untuk gangguan kepribadian skizoid berdasarkan PPDGJ III,
yaitu:
1. Sedikit aktivitas yang memberikan kesenangan
2. Emosi dingin, afek datar atau tak peduli
3. Kurang mampu untuk mengekspresikan kehangatan, kelembutan atau kemarahan
terhadap orang lain
4. Tampak nyata ketidakpedulian baik terhadap pujian maupun kecaman
5. Kurang tertarik untuk mengalami pengalaman seksual dengan orang lain
6. Hampir selalu memilih aktivitas yang dilakukan sendiri
7. Preokupasi dengan fantasi dan introspeksi yang berlebihan
8. Tidak mempunyai teman dekat atau hubungan pribadi yang akrab (kalau ada hanya
satu) dan tidak ada keinginan untuk menjalin hubungan seperti itu
9. Sangat tidak sensitif terhadap norma dan kebiasaan sosial yang berlaku
Untuk diagnosis pasti adanya gangguan kepribadian paranoid setidaknya individu yang
bersangkutan memiliki 3 kriteria diatas.
Kriteria diagnostik gangguan kepribadian skizoid berdasarkan DSM-IV
a. Pola pervasif pelepasan dari hubungan sosial dan rentang pengalaman emosi yang
terbatas dalam lingkungan interpersonal, dimulai pada masa dewasa awal dan
ditemukan dalam berbagai konteks, seperti yang dinyatakan oleh 4 atau lebih
berikut:
1) Tidak memiliki minat ataupun menikmati hubungan dekat, termasuk menjadi
bagian dari keluarga
2) Hampir selalu memilih aktivitas seorang diri
3) Memiliki sedikit, jika ada, minat mengalami pengalaman seksual dengan orang
lain
4) Merasakan kesenangan dalam sedikit, jika ada, aktivitas

8
5) Tidak memiliki teman dekat atau orang yang dipercaya selain sanak saudara
derajat pertama
6) Tampak tidak acuh terhadap pujian atau kritik orang lain
7) Menunjukkan kedinginan emosi, pelepasan atau pendataran afektivitas
b. Tidak terjadi semata-mata selama perjalanan skizofrenia, suatu gangguan mood
dengan ciri psikotik, gangguan psikotik lain atau suatu gangguan perkembangan
pervasif dan bukan karena efek fisiologis langsung dari kondisi medis umum.
Catatan: jika kriteria terpenuhi sebelum onset skizofrenia, tambahkan “pramorbid”,
misalnya gangguan kepribadian paranoid (pramorbid).

Gambaran Klinis
Individu dengan gangguan kepribadian skizoid memberikan kesan dingin dan
mengucilkan diri, tampak menjauhkan diri dan tidak ingin terlibat dengan peristiwa
sehari-hari serta permasalahan orang lain. Mereka tampak tenang, jauh, menutup diri dan
tidak dapat bersosialisasi. Kebutuhan mereka untuk berhubungan dengan orang lain sangat
kecil. Mereka juga yang terakhir dalam menerima perubahan gaya hidup populer. Individu
dengan gangguan kepribadian ini cenderung menyendiri, lebih menyukai pekerjaan yang tidak
kompetitif. Kehidupan seksual mereka mungkin semata-mata hanya dalam fantasi. Laki-laki
dengan gangguan kepribadian ini mungkin tidak menikah karena tidak mampu untuk
mendapatkan keintiman, sedangkan perempuan dengan gangguan kepribadian ini secara pasif
setuju untuk menikah dengan seorang laki-laki yang agresif yang menginginkan pernikahan.
Individu dengan gangguan kepribadian ini tidak mampu untuk mengekspresikan kemarahan
secara langsung dan minat mereka lebih kepada yang bukan berkaitan dengan manusia,
khususnya yang tidak memerlukan keterlibatan pribadi. Individu dengan gangguan
kepribadian ini tampak meresapi dan masuk ke dalam dirinya sendiri namun tidak kehilangan
kemampuan untuk mengenali realitas dan mereka juga suatu waktu mampu mengungkapkan
gagasan mereka kepada dunia.

Diagnosis Banding
1. Berbeda dengan pasien skizofrenia dan gangguan kepribadian skizotipal, individu
dengan gangguan kepribadian skizoid tidak memiliki saudara skizofrenik dan
memiliki riwayat pekerjaan yang berhasil. Pada pasien skizofrenia pun terdapat
waham sedangkan pada gangguan kepribadian skizoid tidak ada waham.

9
2. Perbedaan mereka dengan gangguan kepribadian paranoid yaitu pada gangguan
kepribadian paranoid lebih menunjukkan keterlibatan sosial, riwayat perilaku verbal
yang agresif dan cenderung untuk mengekspresikan perasaannya kepada orang lain.
3. Individu dengan gangguan kepribadian skizoid berbeda dengan gangguan
kepribadian menghindar karena individu dengan gangguan kepribadian menghindar
terisolasi namun memiliki keinginan yang kuat untuk berperan serta dalam aktivitas.

Prognosis
Seperti semua gangguan kepribadian, gangguan kepribadian skizoid berlangsung lama
tetapi tidak selalu seumur hidup.

Terapi
Terapi yang digunakan untuk gangguan ini juga adalah psikoterapi. Individu denan
gangguan kepribadian skizoid adalah pasien yang tekun dan konsisten untuk melakukan
pengobatan. Saat kepercayaannya tumbuh pada ahli terapi, mereka akan mengungkapkan
fantasinya dan teman khayalannya. Dalam lingkungan terapi kelompok, individu dengan
gangguan kepribadian skizoid mungkin awalnya akan diam untuk jangka waktu yang lama
namun mereka akhirnya mampu untuk melibatkan diri mereka dengan teman kelompoknya
dan bisa menjadi satu-satunya kontak sosial mereka.
Farmakoterapi dapat digunakan dengan antidepresan, antipsikotik dosis kecil dan
psikostimulan.

2.4.3 Gangguan Kepribadian Dissosial (Antisosial)


Gangguan kepribadian dissosial menjadi perhatian khusus karena terdapat perbedaan
yang besar antara perilaku dan norma sosial yang berlaku.Gangguan kepribadian dissosial
ditandai oleh tindakan antisosial atau kriminal yang terus menerus. Individu dengan gangguan
kepribadian ini tidak mampu untuk mematuhi norma sosial yang melibatkan banyak aspek
perkembangan remaja dan dewasa (Kaplan, 2010).

Epidemiologi
Prevalensi gangguan kepribadian dissosial yaitu 3% pada laki-laki dan 1% pada
perempuan. Paling sering ditemukan pada daerah perkotaan yang miskin. Onset gangguan
yaitu sebelum usia 15 tahun. Anak perempuan memiliki gejala yang muncul sebelum pubertas

10
dan anak laki-laki bahkan bisa memiliki gejala yang muncul lebih awal. Di dalam populasi
penjara, prevalensi gangguan kepribadian dissosial mungkin sebesar 75%.

Diagnosis
Pada gangguan kepribadian dissosial terdapat istilah Hervey Cleckley yang artinya
topeng kejiwaan dimana individu dengan gangguan kepribadian dissosial mungkin tampak
tenang dan dapat dipercaya namun didalam dirinya terdapat rasa ketegangan, permusuhan,
mudah tersinggung dan kekerasan.
Pedoman diagnostik untuk gangguan kepribadian dissosial berdasarkan PPDGJ III,
yaitu:
1. Bersikap tidak peduli dengan perasaan orang lain
2. Sikap yang amat tidak bertanggung jawab dan berlangsung terus-menerus, serta tidak
peduli terhadap norma, peraturan dan kewajiban sosial
3. Tidak mampu memelihara suatu hubungan agar berlangsung lama, meskipun tidak ada
kesulitan untuk mengembangkannya
4. Toleransi terhadap frustasi sangat rendah dan ambang yang rendah untuk
melampiaskan agresi, termasuk tindakan kekerasan
5. Tidak mampu mengalami rasa salah dan menarik manfaat dari pengalaman, khususnya
dari hukuman
6. Sangat cenderung menyalahkan orang lain atau menawarkan rasionalisasi yang masuk
akal untuk perilaku yang membuat pasien konflik dengan masyarakat
Untuk diagnosis pasti adanya gangguan kepribadian dissosial setidaknya individu yang
bersangkutan memiliki 3 kriteria diatas.
Kriteria diagnostik gangguan kepribadian dissosial berdasarkan DSM-IV, yaitu:
a. Terdapat pola pervasif tidak menghargai dan melanggar hak orang lain yang terjadi
sejak usia 15 tahun, seperti yang ditunjukkan oleh 3 atau lebih berikut:
1) Gagal untuk mematuhi norma sosial dengan menghormati perilaku sesuai hukum
seperti yang ditunjukkan dengan berulang kali melakukan tindakan yang menjadi
dasar penahanan
2) Ketidakjujuran, seperti yang ditunjukkan oleh berulang kali berbohong,
menggunakan nama samaran, atau menipu orang lain untuk mendapatkan
keuntungan atau kesenangan pribadi
3) Impulsivitas atau tidak dapat merencanakan masa depan

11
4) Iritabilitas dan agresivitas, seperti yang ditunjukkan oleh perkelahian fisik atau
penyerangan yang berulang
5) Secara sembrono mengabaikan keselamatan diri sendiri atau orang lain
6) Terus menerus tidak bertanggung jawab, seperti ditunjukkan oleh kegagalan
berulang kali untuk mempertahankan perilaku kerja atau menghormati kewajiban
finansial
7) Tidak adanya penyesalan, seperti yang ditunjukkan oleh acuh tak acuh atau
mencari-cari alasan telah disakiti, dianiaya atau dicuri oleh orang lain
b. Individu sekurangnya berusia 18 tahun
c. Terdapat tanda-tanda gangguan tingkah laku dengan onset sebelum usia 15 tahun
d. Terjadinya perilaku dissosial tidak semata-mata selama perjalanan skizofrenia atau
suatu episode manik

Gambaran Klinis
Individu dengan gangguan kepribadian dissosial seringkali tampak normal, hangat
terhadap orang lain dan “mencari muka”. Mereka berbohong, membolos, melarikan diri dari
rumah, mencuri, berkelahi, menyalahgunakan zat dan terlibat dalam aktivitas ilegal. Mereka
tidak memiliki waham. Mereka sangat manipulatif, tidak menceritakan kebenaran, tidak dapat
dipercaya untuk menjalankan suatu tugas sesuai moral, melakukan penyiksaan terhadap
pasangan dan atau anak, mengendarai sambil mabuk. Dari semua tindakan yang dilakukan
tersebut, individu yang mengalami gangguan kepribadian dissosial tidak menyesal akan
tindakannya dan tampak tidak menyadarinya.

Diagnosis Banding
Ganguan kepribadian dissosial dapat dibedakan dari perilaku ilegal dimana gangguan
kepribadian dissosial melibatkan banyak bidang. Jika penyalahgunaan zat maupun perilaku
dissosial dimulai sejak masa kanak-kanak dan terus berlanjut hingga dewasa, maka kedua
gangguan tersebut harus didiagnosis.

Prognosis
Puncak perilakunya biasanya terjadi pada masa remaja akhir. Prognosisnya bervariasi.
Beberapa penelitian melaporkan gejalanya menurun seiring dengan bertambahnya usia,
namun banyak juga yang menjadi penderita penyalahgunaan zat psikoaktif.

12
Terapi
Sama seperti gangguan kepribadian lainnya, terapi yang dilakukan yaitu psikoterapi.
Jika pasien gangguan kepribadian dissosial diimobilisasi contohnya dimasukkan ke dalam
rumah sakit, mereka seringkali mampu untuk menjalani psikoterapi. Jika mereka berada di
antara teman-temannya, motivasinya untuk berubah menjadi tidak ada sehingga lebih baik di
rumah sakit daripada di penjara.
Dikatakan juga bahwa dari penelitan penggunaan Schema-Focused Therapy pada
pasien di penjara dengan gangguan antisosial menghasilkan hubungan positif. Terapi ini
biasanya digunakan pada pasien-pasien yang sudah mencoba beberapa psikoterapi namun
tidak membuahkan hasil.5
Farmakoterapi digunakan untuk mengatasi gejala kecemasan, depresi dan penyerangan.
Tetapi karena pasien biasanya penderita penyalahgunaan zat maka penggunaan obat harus
bijaksana. Jika pasien menunjukkan bukti adanya hiperaktivitas maka psikostimulan seperti
methylphenidate mungkin dapat digunakan. Harus dilakukan usaha untuk mengubah
metabolisme katekolamin dengan obat-obatan dan untuk mengendalikan perilaku impulsif
dengan obat antiepileptik khususnya jika adanya gelombang abnormal pada EEG.

2.4.4 Gangguan Kepribadian Emosional Tak Stabil


Gangguan kepribadian ini terdiri dari dua tipe, yaitu tipe impulsif dan tipe ambang
(borderline).
Pedoman diagnostik untuk gangguan kepribadian ini berdasarkan PPDGJ III, yaitu:
1. Terdapat kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsif tanpa
mempertimbangkan konsekuensinya, bersamaan dengan ketidakstabilan emosional
2. Dua varian yang khas adalah berkaitan dengan impulsivitas dan kekurangan
pengendalian diri

2.4.5 Gangguan Kepribadian Ambang (Borderline)


Gangguan ini juga disebut dengan skizofrenia ambulatorik, skizofrenia pseudoneurotik,
kepribadian seolah-olah (as-if personality) dan karakter psikotik. Penderita gangguan
kepribadian ambang berada pada perbatasan antara psikosis dan neurosis dan ditandai oleh
mood, afek, perilaku dan citra diri yang tidak stabil.

13
Epidemiologi
Gangguan kepribadian ambang diperkirakan 1-2% populasi dan dua kali lebih sering
pada perempuan dibandingkan laki-laki.

Diagnosis
Diagnosis biasanya dibuat sebelum usia 40 tahun.Kriteria diagnostik gangguan
kepribadian ambang berdasarkan DSM-IV, yaitu pola pervasif ketidakstabilan hubungan
interpersonal, citra diri dan afek, serta impulsivitas yang jelas pada masa dewasa awal dan
ditemukan dalam berbagai konteks, sepertiyang ditunjukkan oleh 5 atau lebih berikut:
1) Usaha mati-matian untuk menghindari ketinggalan yang nyata atau khayalan. Catatan:
tidak termasuk perilaku bunuh diri atau mutilasi diri yang ditemukan dalam kriteria 5
2) Pola hubungan interpersonal yang tidak stabil dan kuat yang ditandai oleh perubahan
antara idealisasi ekstrem dan devaluasi
3) Gangguan identitas: citra diri atau perasaan diri sendiri yang tidak stabil secara jelas
dan persisten
4) Impulsivitas pada sekurangnya dua bidang yang potensial membahayakan diri sendiri
(misalnya berbelanja, seks, penyalahgunaan zat, ngebut gila-gilaan, pesta makan).
Catatan: tidak termasuk perilaku bunuh diri atau mutilasi diri yang ditemukan dalam
kriteria 5
5) Perilaku, isyarat atau ancaman bunuh diri yang berulang kali, atau perilaku mutilasi
diri
6) Ketidakstabilan afektif karena reaktivitas mood yang jelas (misalnya, disforia episodik
kuat, iritabilitas atau kecemasan biasanya berlangsung beberapa jam dan jarang lebih
dari beberapa hari)
7) Perasaan kekosongan yang kronis
8) Kemarahan yang kuat dan tidak pada tempatnya atau kesulitan dalam mengendalikan
kemarahan (misalnya sering menunjukkan temper, marah terus-menerus, perkelahian
fisik berulang kali)
9) Ide paranoid yang transien dan berhubungan dengan stres, atau gejala disosiatif yang
parah

14
Gambaran Klinis
Penderita dengan gangguan kepribadian ambang hampir selalu tampak berada dalam
keadaan krisis. Sering dijumpai pergeseran mood. Penderita dapat bersikap argumentatif pada
suatu waktu dan depresi pada waktu selanjutnya dan mengeluh tidak memiliki perasaan pada
waktu lainnya. Perilaku penderita gangguan kepribadian ambang sangat tidak dapat
diramalkan. Mereka dapat melakukan tindakan merusak diri mereka sendiri secara berulang
seperti mengiris pergelangan tangannya sendiri untuk mendapatkan bantuan dari orang lain
atau untuk mengekspresikan kemarahan. Mereka dapat bergantung pada orang yang dekat
dengannya namun dapat juga mengekspresikan kemarahan mereka pada orang terdekatnya
jika mengalami frustasi. Mereka tidak suka sendiri dan akan mati-matian mencari teman
daripada duduk sendirian. Untuk menenangkan kesepian, hanya untuk periode yang singkat,
mereka menerima orang asing sebagai teman mereka. Mereka seringkali mengeluh perasaan
kekosongan dan kebosanan yang kronis dan tidak memiliki rasa identitas yang konsisten, jika
ditekan maka mereka seringkali mengeluh betapa depresinya mereka. Penderita gangguan
kepribadian ambang memasukkan setiap orang dalam kategori baik atau jahat sehingga orang
yang baik diidealkan dan orang yang jahat direndahkan.

Diagnosis Banding
Perbedaan dari skizofrenia yaitu pada gangguan kepribadian ambang tidak ada episode
psikotik, gangguan pikiran atau tanda skizofrenia klasik lainnya yang berkepanjangan namun
dapat terjadi episode psikotik yang singkat, terbatas dan meragukan yang disebut episode
mikropsikotik.

Prognosis
Penelitian menunjukkan gangguan kepribadian ambang tidak berkembang ke arah
skizofrenia tetapi penderita memiliki insidensi tinggi untuk mengalami episode gangguan
depresif berat.

Terapi
Psikoterapi merupakan salah satu terapi untuk penderita gangguan kepribadian ambang.
Namun penderita dapat secara berganti-ganti mencintai dan membenci ahli terapi dan orang
lain di dalam lingkungannya akibat dari sikapnya yang mengelompokkan orang ke dalam
kategori baik dan jahat. Terapi perilaku digunakan untuk mengendalikan impuls dan ledakan

15
kemarahan serta untuk menurunkan kepekaan terhadap kritik dan penolakan. Latihan
keterampilan sosial, khusunya dengan video dapat membantu penderita untuk melihat
bagaimana tindakan mereka mempengaruhi orang lain dan untuk meningkatkan hubungan
interpersonal mereka.
Farmakoterapi seperti antipsikotik dapat digunakan untuk mengendalikan kemarahan,
permusuhan dan episode psikotik singkat, antidepresan dapat memperbaiki mood pada
penderita gangguan kepribadian ambang yang sedang merasa depresi, inhibitor monoamin
oksidase (MAOI) efektif untuk memodulasi perilaku impulsif, benzodiazepine khususnya
alprazolam dapat membantu mengatasi kecemasan dan depresi, antikonvulsan seperti
carbamazepine dapat meningkatkan fungsi global pada penderita dan dapat juga diberikan
obat serotonergik.

2.4.6 Gangguan Kepribadian Histrionik


Definisi
Pola perilaku berupa emosionalitas berlebih dan menarik perhatian, bersifat pervasif,
berawal sejak usia dewasa muda dan nyata dalam berbagai konteks.

Epidemiologi
Menurut DSM-IV-TR, data terbatas dari studi populasi umum menunjukkan prevalensi
gangguan kepribadian histerik sekitar 2-3%. Sekitar 10-15 % telah dilaporkan di rawat inap
dan rawat jalan pusat kesehatan mental saat penilaian terstruktur digunakan. Kelainan ini
didiagnosis lebih sering pada wanita dibandingkan pada pria. Beberapa studi telah
menemukan hubungan dengan gangguan somatisasi dan gangguan penggunaan alkohol.

Diagnostik
Dalam wawancara, pasien dengan gangguan kepribadian histrionik umumnya
kooperatif dan ingin memberikan sejarah rinci. Isyarat dan tanda baca yang dramatis dalam
pembicaraan mereka adalah umum. Tampilan afektif adalah umum, namun, saat ditekan
untuk mengakui perasaan-perasaan tertentu (misalnya, kemarahan, kesedihan dan keinginan
seksual), mereka mungkin merespon dengan kejutan, kemarahan, atau penolakan. Hasil
pemeriksaan kognitif biasanya normal, meskipun kurangnya ketekunan dapat ditampilkan
pada aritmatika atau tugas konsentrasi.
Kriteria diagnostik gangguan kepribadian histrionik berdasarkan PPDGJ III:
 Gangguan kepribadian dengan ciri-ciri:
16
1. Ekspresi emosi yang dibuat-buat (self-dramatization) seperti bersandiwara
(theatricality) yang dibesar-besarkan (exaggerated)
2. Bersifat sugestif, mudah dipengaruhi oleh orang lain atau keadaan
3. Keadaan afektif yang dangkal dan labil
4. Terus-menerus mencari kegairahan, penghargaan dari orang lain atau oleh
keadaan
5. Penampilan atau perilaku “merangsang” yang tidak memadai
6. Terlalu peduli dengan daya tarik fisik
 Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.

Tatalaksana
A. Psikoterapi
Pasien dengan gangguan kepribadian histrionik seringkali tidak menyadari perasaan
mereka sendiri yang nyata; klarifikasi dari perasaan batin mereka adalah proses
terapeutik penting. Psikoterapi dengan orientasi psikoanalitik, baik kelompok atau
individu, mungkin adalah pilihan perawatan untuk gangguan kepribadian histerik.
B. Farmakoterapi
Farmakoterapi dapat adjunctive bila gejala ditargetkan (misalnya, penggunaan
antidepresan untuk depresi dan keluhan somatik, agen anti ansietas untuk
kegelisahan dan antipsikotik untuk derealisasi dan ilusi).

Perjalanan gangguan dan prognosis


Seiring bertambahnya usia, orang dengan gangguan kepribadian histrionik
menunjukkan gejala yang lebih sedikit. Orang dengan gangguan ini adalah pencari sensasi
dan mereka mungkin mendapatkan masalah dengan hukum, penyalahgunaan zat dan
bertindak sembarangan.

2.4.7 Gangguan Kepribadian Narsistik


Definisi
Terdapatnya pola rasa kebesaran diri (dalam fantasi atau perilaku), kebutuhan untuk
dikagumi atau disanjung, kurang mampu berempati. Bersifat pervasif, berawal sejak dewasa
muda dan nyata dalam pelbagai konteks.

17
Epidemiologi
Menurut DSM-IV-TR, perkiraan prevalensi gangguan kepribadian narsistik berkisar
2-16 % dalam populasi klinis dan kurang dari 1 % di populasi umum. Orang dengan
gangguan dapat memberikan rasa yang tidak realistis tentang kemahakuasaan, kemegahan,
keindahan dan bakat untuk anak-anak mereka, dengan demikian, keturunan dari orang tua
tersebut mungkin memiliki resiko lebih tinggi daripada biasanya untuk mengembangkan
gangguan itu sendiri. Jumlah kasus gangguan kepribadian narsistik yang dilaporkan terus
meningkat.

Diagnosa
Kriteria diagnostik gangguan kepribadian narsistik berdasarkan DSM-IV merupakan
sebuah pola bersifat pervasif tentang kebesaran (dalam khayalan atau perilaku), membutuhkan
kekaguman dan kurangnya empati, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam
berbagai konteks, seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) sebagai berikut:
1. Secara berlebih merasa dirinya sangat penting (misalnya, melebih-lebihkan prestasi
dan bakat, mengharapkan untuk diakui sebagai yang unggul tanpa prestasi sepadan)
2. Sibuk dengan fantasi kesuksesan tak terbatas, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan,
atau kekasih ideal
3. Percaya bahwa ia adalah istimewa dan unik dan hanya dapat dipahami oleh, atau
harus bergaul dengan orang-orang khusus atau tinggi status lainnya (atau lembaga)
4. Membutuhkan pemujaan berlebihan
5. Merasa dirinya “mempunyai hak istimewa” (contoh menuntut agar mendapat
perlakuan khusus, atau orang lain harus menurut kehendaknya)
6. Tidak memiliki empati: tidak bersedia untuk mengenali atau mengidentifikasi
dengan perasaan dan kebutuhan orang lain
7. Sering iri kepada orang lain atau percaya bahwa orang lain iri kepadanya
8. Bersikap sombong

Pengobatan
A. Psikoterapi
Karena pasien harus meninggalkan narsisme mereka untuk membuat kemajuan,
pengobatan gangguan kepribadian narsisistik adalah sulit. Psikiater seperti Kernberg
dan Heinz Kohut menganjurkan menggunakan pendekatan psikoanalitik untuk efek

18
berubah, tetapi banyak penelitian diperlukan untuk membuktikan diagnosis dan
untuk menentukan pengobatan terbaik. Beberapa dokter menganjurkan terapi
kelompok bagi pasien mereka sehingga mereka dapat belajar bagaimana berbagi
dengan orang lain dan, dalam keadaan yang ideal, dapat mengembangkan respon
empatik kepada orang lain.
B. Farmakoterapi
Lithium (Eskalith) telah digunakan dengan pasien yang gambaran klinis mencakup
perubahan suasana hati. Karena pasien dengan gangguan kepribadian narsistik
mentoleransi penolakan secara buruk dan rentan terhadap depresi, antidepresan,
obat-obatan terutama serotonergik, juga dapat digunakan.

Perjalanan gangguan dan prognosis


Gangguan kepribadian narsisistik adalah kronis dan sulit untuk diobati. Pasien dengan
gangguan terus-menerus harus berurusan dengan pukulan narsisme mereka yang dihasilkan
dari perilaku mereka sendiri atau dari pengalaman hidup. Penuaan ditangani buruk; pasien
menilai keindahan, kekuatan dan atribut muda, yang mereka pegang teguh tidaklah tepat.
Mereka mungkin lebih rentan mengalami krisis setengah baya (midlife crises) daripada
kelompok lain.

2.4.8 Gangguan Kepribadian Menghindar


Definisi
Adanya pola perasaan tidak nyaman serta keengganan untuk bergaul secara sosial, rasa
rendah diri, hipersensitif terhadap evaluasi negatif. Bersifat pervasif, awitan sejak dewasa
muda, nyata dalam pelbagai konteks.

Epidemiologi
Gangguan kepribadian menghindar adalah umum. Prevalensi gangguan adalah 1
sampai 10 % dari populasi umum. Tidak ada informasi mengenai rasio berdasarkan gender
atau pola keluarga. Bayi diklasifikasikan sebagai memiliki temperamen pemalu mungkin
lebih rentan terhadap gangguan dibandingkan mereka yang mendapat skor tinggi pada skala
pendekatan aktivitas.

19
Diagnosa
Dalam wawancara klinis, aspek pasien yang paling mencolok adalah kecemasan
tentang berbicara dengan seorang pewawancara. Cara mereka gugup dan tegang muncul
pasang surut dengan persepsi mereka apakah pewawancara menyukai mereka. Mereka
tampaknya rentan terhadap komentar pewawancara dan saran dan mungkin menganggap
klarifikasi atau interpretasi sebagai kritik.
Kriteria diagnostik untuk gangguan kepribadian menghindar berdasarkan PPDGJ III:
 Gangguan kepribadian dengan ciri-ciri:
1. Perasaan tegang dan takut yang menetap dan pervasive
2. Merasa dirinya tak mampu, tidak menarik atau lebih rendah dari orang lain.
3. Preokupasi yang berlebihan terhadap kritik dan penolakan dalam situasi social.
4. Keengganan untuk terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin akan
disukai.
5. Pembatasan dalam gaya hidup karena alasan keamanan fisik.
6. Menghindari aktivitas social atau pekerjaan yang banyak melibatkan kontak
interpersonal karena takut dikritik, tidak didukung atau ditolak.
 Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.

Pengobatan
A. Psikoterapi
Pengobatan psikoterapi tergantung pada memperkuat aliansi dengan pasien. Sebagai
kepercayaan berkembang, terapis harus menyampaikan sikap menerima terhadap
ketakutan pasien, terutama takut ditolak. Terapis akhirnya mendorong pasien untuk
pindah ke dunia untuk mengambil apa yang dianggap sebagai risiko besar
penghinaan, penolakan dan kegagalan. Tetapi terapis harus berhati-hati ketika
memberikan tugas untuk latihan keterampilan sosial baru di luar terapi; kegagalan
dapat memperkuat pasien sudah miskin harga diri. Terapi kelompok dapat
membantu pasien memahami bagaimana kepekaan mereka terhadap penolakan
mempengaruhi mereka dan lain-lain. Pelatihan ketegasan adalah bentuk terapi
perilaku yang dapat mengajarkan pasien untuk mengekspresikan kebutuhan mereka
secara terbuka dan untuk memperbesar harga diri mereka.

20
B. Farmakoterapi
Farmakoterapi telah digunakan untuk mengelola kecemasan dan depresi ketika
mereka berhubungan dengan gangguan tersebut. Beberapa pasien yang dibantu oleh
β-adrenergik reseptor antagonis, seperti atenolol (Tenormin), untuk mengelola
hiperaktivitas sistem saraf otonomik, yang cenderung tinggi pada pasien dengan
gangguan kepribadian menghindar, terutama ketika mereka mendekati situasi takut.
Agen serotonergik dapat membantu sensitivitas penolakan. Secara teoritis, obat
dopaminergik bisa menimbulkan hal-hal baru-mencari perilaku pada pasien, namun
pasien harus secara psikologis siap untuk setiap pengalaman baru yang mungkin
timbul.

Perjalanan gangguandan prognosis


Banyak orang dengan gangguan kepribadian menghindar mampu berfungsi di
lingkungan yang terlindung. Beberapa menikah, memiliki anak dan hidup mereka dikelilingi
hanya oleh anggota keluarga. Harus mendukung apabila mereka mengalami kegagalan,
namun, mereka cenderung mudah mengalami depresi, kecemasan dan kemarahan.
Penghindaran fobia adalah umum dan pasien dengan gangguan dapat memberikan sejarah
fobia sosial atau fobia sosial dikenakan dalam perjalanan penyakit mereka.

2.4.9 Gangguan Kepribadian Dependen


Definisi
Suatu pola perilaku berupa kebutuhan berlebih agar dirinya dipelihara, yang
menyebabkan seorang individu berperilaku submisif, bergantung kepada orang lain dan
ketakutan akan perpisahan dengan orang tempat ia bergantung, Besifat pervasif, berawal
sejak usia dewasa muda dan nyata dalam pelbagai situasi.

Epidemiologi
Gangguan kepribadian dependen lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pada
pria. Satu studi didiagnosis 2,5% dari semua gangguan kepribadian jatuh ke dalam kategori
ini. Hal ini lebih umum pada anak-anak daripada yang lebih tua. Orang dengan penyakit fisik
kronis di masa kecil mungkin paling rentan terhadap gangguan ini.

21
Diagnosa
Dalam wawancara, pasien tampak penurut. Mereka mencoba untuk bekerja sama,
menyambut pertanyaan spesifik dan mencari bimbingan. Kriteria diagnostik gangguan
kepribadian dependen berdasarkan PPDGJ III:
 Gangguan kepribadian dengan ciri-ciri:
1. Mendorong atau membiarkan orang lain untuk mengambil sebagaian besar
keputusan penting untuk dirinya.
2. Meletakkan kebutuhan sendiri lebih rendah dari orang lain kepada siapa ia
bergantung dan kepatuhan yang tidak semestinya terhadap keinginan mereka.
3. Keengganan untuk mengajukan permintaan yang layak kepada orang dimana
tempat ia bergantung.
4. Perasaan tidak enak atau tidak berdaya apabila sendirian karena ketakutan yang
dibesar-besarkan tentang ketidakmampuan mengurus diri srndiri.
5. Preokupasi dengan ketakutan akan ditinggalkan oleh orang yang dekat
dengannya dan dibiarkan untuk mengurus dirinya sendiri.
6. Terbatasnya kemampuan untuk membuat keputusan sehari-hari tanpa mendapat
nasihat yang berlebihan dan dukungan dari orang lain.
 Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.

Pengobatan

A. Psikoterapi
Pengobatan gangguan kepribadian dependen sering berhasil. Terapi perilaku,
pelatihan ketegasan, terapi keluarga dan terapi kelompok semuanya telah digunakan,
dengan hasil yang sukses dalam banyak kasus.
B. Farmakoterapi
Farmakoterapi telah digunakan untuk menangani gejala-gejala spesifik, seperti
kecemasan dan depresi, yang merupakan fitur yang berhubungan umum dari
gangguan kepribadian dependen. Pasien yang mengalami serangan panik atau yang
memiliki tingkat kecemasan perpisahan dapat dibantu dengan imipramine (Tofranil).
Benzodiazepin dan agen serotonergik juga telah berguna. Jika depresi pasien atau
gejala penarikan menanggapi psikostimulan, mereka dapat digunakan.

Perjalanan gangguan dan prognosis

22
Sedikit yang diketahui tentang perjalanan gangguan kepribadian dependen. Berfungsi
kerja cenderung dirugikan, karena orang-orang dengan gangguan tersebut tidak dapat
bertindak secara independen dan tanpa pengawasan ketat. Hubungan sosial terbatas pada
orang-orang pada siapa mereka dapat bergantung dan banyak menderita pelecehan fisik atau
mental karena mereka tidak dapat menyatakan diri mereka sendiri. Mereka risiko gangguan
depresi besar jika mereka kehilangan orang pada siapa mereka bergantung, tetapi dengan
pengobatan, prognosis menguntungkan.

2.4.10 Gangguan Kepribadian Obsesif -Kompulsif


Definisi
Pola perilaku berupa preokupasi dengan keteraturan, peraturan, perfeksionisme,
kontrol mental dan hubungan interpersonal, dengan mengenyampingkan: fleksibilitas,
keterbukaan, efisiensi, bersifat pervasif, awitan sejak dewasa muda nyata dalam pelbagai
konteks.

Epidemiologi
Prevalensi obsesif-kompulsif gangguan kepribadian tidak diketahui. Hal ini lebih
sering terjadi pada pria dibandingkan pada wanita dan didiagnosis paling sering pada anak
tertua. Gangguan juga terjadi lebih sering pada tingkat pertama keluarga biologis dari
orang-orang dengan gangguan daripada populasi umum. Pasien sering memiliki latar
belakang disiplin yang keras.

Diagnosa
Dalam wawancara, pasien dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif mungkin
memiliki sikap kaku. Afek mereka tidak tumpul atau datar, tetapi dapat digambarkan sebagai
yang terbatas. Mereka kekurangan spontanitas dan suasana hati mereka biasanya serius.
Pasien tersebut mungkin cemas tentang tidak terkendali dalam wawancara. Jawaban mereka
untuk pertanyaan luar biasa rinci. Mekanisme pertahanan yang mereka gunakan adalah
rasionalisasi, isolasi, intelektualisasi, pembentukan reaksi dan kehancuran. Kriteria diagnostik
untuk gangguan kepribadian obsesif-kompulsif :
1. Perasaan ragu dan hati-hati berlebihan
2. Terpaku pada rincian, peraturan, daftar, perintah, organisasi, jadwal
3. Perfeksionisme yang menghambat penyelesaian tugas

23
4. Teliti, berhati-hati berlebihan dan lebih mengutamakan produktivitas sehingga
mengenyampingkan kesenangan dan hubungan interpersonal.
5. Terpaku dan terikat secar berlebih pada norma sosial.
6. Kaku dan keras kepala
7. Memaksakan kehendak agar orang lain melakukan sesuatu menurut caranya.
8. Intrusi pikiran pikiran atau impuls yang tidak dikehendaki.

Pengobatan
A. Psikoterapi
Terapi kelompok dan terapi perilaku kadang-kadang menawarkan keuntungan
tertentu. Dalam kedua konteks, mudah untuk menginterupsi pasien di tengah-tengah
interaksi atau penjelasan maladaptif mereka. Mencegah penyelesaian perilaku
kebiasaan mereka menimbulkan kecemasan pasien dan membuat mereka rentan
terhadap strategi belajar mengatasi yang baru. Pasien juga dapat menerima hadiah
langsung untuk perubahan dalam terapi kelompok, sesuatu yang kurang sering
mungkin dalam psikoterapi individu.
B. Farmakoterapi
Clonazepam (Klonopin), benzodiazepin dengan penggunaan antikonvulsan, telah
mengurangi gejala pada pasien dengan obsesif-kompulsif berat. Clomipramine
(Anafranil) dan agen serotonergik seperti fluoxetine, biasanya pada dosis 60 sampai
80 mg sehari, mungkin berguna jika tanda dan gejala obsesif-kompulsif muncul.
Nefazodone (Serzone) mungkin mendapat manfaat beberapa pasien.

Perjalanan gangguan dan prognosis


Perjalanan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif adalah bervariasi dan tak terduga.
Dari waktu ke waktu, orang dapat mengembangkan obsesi atau dorongan dalam perjalanan
gangguan mereka. Beberapa remaja dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif
berkembang menjadi orang dewasa yang hangat, terbuka dan penuh kasih; pada orang lain,
gangguan dapat berupa pertanda skizofrenia pada dekade kemudian dan diperburuk oleh
proses penuaan atau gangguan depresi mayor.
Orang dengan gangguan obsesif-kompulsif kepribadian dapat berkembang dalam posisi
menuntut kerja metodis, deduktif atau rinci, namun mereka rentan terhadap perubahan yang

24
tak terduga dan kehidupan pribadi mereka mungkin tetap tidak bertumbuh. Gangguan depresi,
terutama onset terlambat, umum terjadi.

25
BAB III
KESIMPULAN

Gangguan kepribadian digambarkan sebagai gangguan berat kepribadian dan perilaku


yang dinilai sebagai suatu bentuk penyimpangan dari pola budaya yang normal. Pedoman
diagnostik gangguan kepribadian termasuk gangguan dengan durasi yang lama pada beberapa
fungsi, bersifat pervasif dan maladaptif, onset pada masa kecil atau remaja; kelanjutan menjadi
dewasa; kepribadian distres yang cukup besar (meskipun kadang-kadang hanya terlihat pada
akhir kursus gangguan itu); dan biasanya, tetapi tidak selalu, masalah yang signifikan dalam
pekerjaan dan dalam perilaku sosial. Pada seorang individu dengan gangguan kepribadian,
terjadi disfungsi dalam hubungan keluarga, pekerjaan, fungsi sosial. Dapat pula berkaitan
dengan tindak kriminal, penyalahgunaan zat, pembunuhan, bunuh diri, kecelakaan, perceraian
dan lain-lain. Tatalaksana biasanya sulit karena gangguan ini bersifat pervasif, egosintonik,
awitannya sejak dewasa muda (di atas 17 tahun) dan seringkali individu bangga dengan ciri
kepribadiannya. Tatalaksana terdiri dari 2 jenis, yaitu psikoterapi (terapi dengan prinsip
menyadarkan pasien mengenai dampak gangguan kepribadian yang ia derita) dan psikofarmaka
(penggunaan psikotropika yang bersifat pengobatan simptomatis).

26
Daftar Pustaka

1. Mangindaan, Lukas. Ed: Elvira, S. D., & Hadisukanto, G. (2010). Buku Ajar Psikiatri:
Gangguan Kepribadian. Jakarta: Badan Penerbit FKUI. Hal 329-334.
2. Sadock, B. J., & Sadock, V. A. (2007). Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry:
Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition. New York: Lippincott
William&Wilkins
3. Kaplan H.I, Sadock B.J, Grebb J.A. 2010. Sinopsis Psikiatri Jilid 2. Terjemahan
Widjaja Kusuma. Jakarta: Binarupa Aksara. p. 258-291.
4. Maslim, Rusdi, 2001, Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas dari PPDGJ III,
Jakarta
5. Antisocial Personality Disorder among Prison Inmates: The Mediating Role of
Schema-Focused Therapy. International Journal of Emergency Mental Health and
Human Resilience. 2015;17(1):327-332.
6. Wiley J. Complex Case Emotional processing in a ten-session general psychiatric
treatment for borderline personality disorder: a case study. Personality and Mental
Health. 2015;9:73-78.

27