Anda di halaman 1dari 24

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH I

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN CA. LARING, TRAKHEASTOMY, DAN


TUMOR DADA (KANKER PARU DAN TUMOR MEDIASTINUM)

Oleh :
Kelompok 6
Elzakinah N C051171022
Nurhikmawati C051171325
Efwana Iftanisyah C051171330
Eka Nirwana C051171333
A. Astriana Mattalatta C051171334

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang Maha Pengasih dan Maha
Penyayang. Kami panjatkan puji syukur kehadirat-Nya yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, serta inayah-Nya kepada kami sehingga kami bisa menyelesaikan makalah yang
berjudul “Askep klien dengan Ca. Laring, Trakheastomy, Kanker Paru dan Tumor
Mediastinum”.

Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapat bantuan dari berbagai
pihak sehingga bisa memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari segala hal tersebut, Kami sadar sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karenanya kami dengan lapang dada
menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaki makalah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ini bisa memberikan manfaat maupun
inspirasi untuk pembaca.

Makassar, 15 September 2018


Daftar Isi
Kata Pengantar ......................................................................................................................
Daftar Isi ................................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ...................................................................................................
B. Rumusan Masalah ..............................................................................................
C. Tujuan Penulisan ...............................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Kanker Laring ....................................................................................................
Definisi .........................................................................................................
Etiologi ........................................................................................................
Patofisiologi .................................................................................................
Manifestasi Klinis ........................................................................................
Pemeriksaan Penunjang ...............................................................................
Penatalaksanaan Medis ................................................................................
B. Trakheostomi .....................................................................................................
Pengertian ....................................................................................................
Indikasi dan Kontra Indikasi ........................................................................
Selang Trakheostomi ...................................................................................
Perawatan Trakheostomi ..............................................................................
C. Kanker Paru .......................................................................................................
Definisi .........................................................................................................
Etiologi ........................................................................................................
Patofisiologi .................................................................................................
Manifestasi Klinis ........................................................................................
Pemeriksaan Penunjang ...............................................................................
Penatalaksanaan Medis ................................................................................
D. Tumor Mediastinum ............................................................................................
Definisi .........................................................................................................
Etiologi ........................................................................................................
Patofisiologi .................................................................................................
Manifestasi Klinis ........................................................................................
Pemeriksaan Penunjang ...............................................................................
Penatalaksanaan Medis ................................................................................
E. Asuhan keperawatan ..........................................................................................
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................................................
B. Saran ..................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Kanker merupakan masalah paling utama dalam bidang kedokteran dan merupakansalah
satu dari 10 penyebab kematian utama di dunia serta merupakan penyakit keganasan yang
bisa mengakibatkan kematian pada penderitanya karena sel kanker merusak sel lain. Kanker
paru adalah salah satu jenis penyakit paru yang memerlukan penanganan dan tindakan yang
cepat dan terarah. Menurut data jenis kanker yang menjadi penyebab kematian terbanyak
adalah kanker paru, mencapai 1,3 juta kematian pertahun.
Dalam askep kanker perawat memiliki peran yang sangat penting agar proses
penyembuhan pasien bisa berlangsung lancar. Perawat berperan dalam memberi dukungan
pada pasien dengan melakukan diagnosa. Perawat juga mencari tahu kebutuhan psiko-sosial
dan spiritual pasien. Perawat juga harus memenuhi kebutuhan cairan dan nutrisi pasien
disamping membantu klien untuk kerhasil melewati fase penyembuhan. Peran-peran
perawatyang sangat penting tersebut dijelaskan dalam askep kanker secara mendetail. Askep
kanker merupakan pedoman penting untuk mewujudkan perawat yang profesional dan
tanggap dalam menangani penyakit kanker.
B. Rumusan masalah
1. Bagaimana proses terjadinya kanker laring, kanker paru dan tumor mediastinum ?
2. Apa yang dimaksud dengan trakheostomi ?
3. Apa tujuan penggunaan trakheostomi dan bagaimana cara menggunakannya ?

4. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan kanker laring, kanker paru dan
tumor mediastinum ?

C. Tujuan
1. Memahami patofisiologi dan manifestasi klinis kanker laring, kanker paru dan tumor
mediastinum
2. Mengetahui fungsi dan penggunaan dari trakheostomi

3. Memahami asuhan keperawatan pada klien dengan kanker paru, kanker laring, dan
tumor mediastinum.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Kanker Laring
1. Definisi
Kanker laring adalah keganasan yang terjadi pada sel skuamosa laring (Boeis,
1997). Karsinoma laring merupakan keganasan pada laring yang meliputi bagian glotis
(pita suara), area supraglotis (area di atas glotis, termasuk epiglotis dan pita suara
palsu), subglotis (area di bawah glotis).
2. Etiologi
Penyebab pasti sampai saat ini belum diketahui, namun didapatkan beberapa hal
yang berhubungan erat dengan terjadinya keganasan laring yaitu : rokok, alkohol, sinar
radio aktif, polusi udara, radiasi leher dan asbestosis. Ada peningkatan resiko terjadinya
tumor ganas laring pada pekerja-pekerja yang terpapar dengan debu kayu.
3. Patofisiologi
Karsinoma laring banyak dijumpai pada usia lanjut diatas 40 tahun. Kebanyakan
pada orang laki-laki. Hal ini mungkin berkaitan dengan kebiasaan merokok, bekerja
dengan debu serbuk kayu, kimia toksik atau serbuk, logam berat. Bagaimana terjadinya
belum diketahui secara pasti oleh para ahli.
Kanker laring yang terbatas pada pita suara tumbuh perlahan karena suplai
limfatik yang jarang. Di tempat manapun yang kering ( epiglottis, pita suara palsu, dan
sinus-sinus piriformis ). Banyak mengandung pembuluh limfe, dan kanker pada jaringan
ini biasanya meluas dengan cepat dan segera bermefastase ke kelenjar limfe leher
bagian dalam. Orang-orang yang mengalami serak yang bertambah berat atau suara
serak lebih dari 2 minggu harus segera memeriksakan dirinya. Suara serak merupakan
tanda awal kanker pita suara, jika pengobatan dilakukan pada saat serak timbul ( yang
disebabkan tumor sebelum mengenai seluruh pita suara ) pengobatan biasanya masih
memungkinkan.
Tanda-tanda metastase kanker pada bagian laring biasanya berupa pembengkakan
pada leher, nyeri pada jakun yang menyebar ke telinga, dispread, disfagia, pembesaran
kelenjar limfe dan batuk. Diagnosa kanker laring dibuat berdasarkan anamnesa,
pemeriksaan fisik terhadap laring dengan laringoskopi langsung dan dari biopsy dan
dari pemeriksaan mikroskopi terhadap laring ( C. Long Barbara. 1996 : 408-409 ).
4. Manifestasi klinis
Suara serak adalah hal pertama yang akan tampak pada pasien dan kanker pada
daerah glotis karena tumor mengganggu kerja pita suara selama berbicara. Suara
mungkin terdengar parau dan puncak suara rendah. Bunyi suara yang terganggu bukan
merupakan tanda dini kanker subglotis atau supraglotis, namun pasien mungkin
mengeluhkan nyeri dan rasa terbakar pada tenggorokan ketika minum cairan hangat
atau jus jeruk. Gelaja lanjutan termasuk kesulitan menelan (disfagia) atau kesulitan
bernafas (dispnea), suara serak, dan nafas bau. Perbesaran nodus limfe servikal,
penurunan berat badan, dan status kelemahan umum, dan nyeri yang menjalar ke telinga
dapat terjadi bersamaan metastasis.
5. Pemeriksaan penunjang
a. Laringoskopi. Cara memeriksa laring dengan melakukan inspeksi terhadap sisi
luar laring pada leher dan gerakan-gerakan pada saat menelan. Pada kanker laring
gerakan menelan akan bergerak ke bawah saat inspirasi atau tidak bergerak. Pada
palpasi ditemukan adanya pembesaran dan nyeri.
b. Pemeriksaan sinar x jaringan lunak : yaitu untuk mengetahui apakah terdapat
penonjolan pada tenggorokan.
c. Pemeriksaan poto kontras : dengan penelanan borium menunjukkan adanya lesi-
lesi loca.
d. Pemeriksaan MRI : identifikasi adanya metastasis dan evaluasi respon
pengobatan.
6. Penatalaksanaan medis
a. Terapi radiasi. Hasil yang sangat memuaskan dapat dicapai dengan terapi radiasi
pada pasien yang hanya mengalami satu pita suara yang sakit dan normalnya dapat
digerakkan (bergerak saat rotasi). Selain itu, pasien ini masih memiliki suara yang
hampir normal. Beberapa mungkin mengalami kondritis (inflamasi kartilage) atau
stenosis, sejumlah kecil dari meraka mengalami stenosis nantinya membutuhkan
laringektomi. Terapai radiasi juga dapat digunakan secara praoperatif untuk
mengurangi ukuran tumor.
b. Operasi laringektomi
Laringektomi parsial ( laringofisura – tiritomi ) di rekomendasikan kanker
area glotis tahap dini ketika hanya satu pita suara yang terkena. Dalam operasi ini,
satu pita suara diangkat dan semua struktur lainnya tetap utuh. Suara pasien
kemungkinan akan menjadi parau. Jalan nafas akan tetap utuh dan pasien
seharusnya tidak memiliki kesulitan menelan.
Laringektomi supraglotis (horizontal) digunakan dalam penatalaksanaan
tumor supraglotis. Tulang hioid, glotis, dan pita suara palsu diangkat. Pita suara,
kartilago krikoid, dan trakea tetap utuh. Selama operasi, dilakukan diseksi leher
radikal pada tempat yang sakit. Selang trakeostomi dipasang dalam trakea sampai
jalan nafas glotis pulih.
Laringektomi hemivertikal dilakukan jika tumor meluas diluar pita suara,
tetapi perluasan tersebut kurang dai 1 cm dan terbatas pasa area subglotis. Dalam
prosedur ini, kartilago tiroid laring dipisahkan dalam garis tengah leher dan bagian
pita suara (satu pita suara sejati dan satu pita suara palsu) dengan pertumbuhan
tumor diangkat. Kartilago aritenoid dan setengah kartilago tiroid diangkat. Pasien
akan mempunyai selang trakeostomi dan selang nasogastrik setalah operasi.pasien
beresiko mengalami aspirasi pascaoperatif. Beberapa perubahan dapat terjadi pada
kualitas suara (skit tenggorokan) dan proyeksi. Namun demikian jalan napas dan
fungsi tetapu utuh.
Laringektomi total dilakukan ketika kanker meluas di luar pita suara. Lebih
jauh ketulang hyoid, epiglottis, kartilago krikoid dan dua atau tiga cincin trakea
diangkat. Lidah, dinding faringeal, dan trakea ditinggalkan. Laringektomi total
membutuhkan stoma trakeal permanen. Stoma ini mencegah aspirasi makanan
dan cairan ke dalam saluran pernapasan bawah, karena laring yang memberikan
perlindungan spingter tidak ada lagi. Pasien tidak akan mempunyai suara lagi
tetapi fungsi menelan akan normal. Laringektomi total merubah cara dimana
aliran udara digunakan untuk bernafas dan berbicara. ( Brunner & Suddarth, 2002
: 557-558 ).
7. Pathway
Faktor predisposisi
(alkohol, rokok, radiasi)

proliferasi sel laring

Diferensiasi buruk sel laring

Ca. Laring

Metastase Plica vocalis Menekan/ Obstruksi jalan


supraglotik mengiritasi serabut napas
↓ syaraf
↓ ↓
Suara parau ↓
Obstruksi lumen Mengiritasi sel
oesophagus ↓ Nyeri laring
Afonia dipersepsikan
↓ ↓
↓ ↓
Disfagia progresif Infeksi
Gangg. Gangg. Rasa
↓ ↓
Komunikasi nyaman : nyeri
Intake < verbal Akumulasi
sekret


BB ↓ Stridor
Bersihan jalan

napas tak efektif
Gangg.Pemenuhan
nutrisi
B. Trakheostomi
1. Definisi
Trakeostomi adalah suatu tindakan dengan membuka dinding depan/anterior trakea
untuk mempertahankan jalan nafas agar udara dapat masuk ke paru-paru dan memintas
jalan nafas bagian atas (Hadikawarta, Rusmarjono,Soepardi, 2004).
2. Indikasi
Indikasi dasar trakeostomi secara garis besar adalah :
a. Pintas (bypass) Obstruksi jalan nafas atas
b. Membantu respirasi untuk periode yang lama
c. Membantu bersihan sekret dari saluran nafas bawah
d. Proteksi traktus trakeobronkhial pada pasien dengan resiko aspirasi
e. Trakeostomi elektif, misalnya pada operasi bedah kepala leher sehingga
memudahkan akses dan fasilitas ventilasi.
f. Untuk elektif, misalnya pada operasi bedah kepala leher
g. Untuk mengurangi kemungkinan timbulnya stenosis subglotis.
3. Teknik tracheostomi
a. Trakeostomi emergensi. Trakeostomi emergensi relatif jarang dilakukan , dan
penyebab yang sering adalah obstruksi jalan nafas atas yang tidak bisa
diintubasi. Anoksia pada obstruksi jalan nafas akan meyebabkan kematian dalam
waktu 4-5 menit dan tindakan trakeostomi harus dilakukan dalam 2-3 menit.
Teknik insisi yang paling baik pada trakeostomi emergensi adalah insisi kulit
vertikal dan insisi vertikal pada cincin trakea kedua dan ketiga.12 insisi vertikal
ini lebih baik karena lebih mudah dilakukan dan lebih cepat, dimana insisi kulit
vertikal dapat langsung diteruskan dengan cepat menuju jaringan lemak
subkutan, fasia servikal dalam pada garis tengah yang relatif avaskuler.
b. Trakeostomi elektif. Saat ini mayoritas tindakan trakeostomi dilakukan secara
elektif atau semi-darurat. Trakeostomi elektif paling baik dilaksanakan diruang
operasi dengan bantuan dan peralatan yang adekuat.
c. Trakeostomi Dilatasi Perkutaneus. Trakeostomi dilatasi perkutaneus (TDP)
dilakukan dengan cara menempatkan kanul trakeostomi dengan bantuan
serangkaian dilator dibawah panduan endoskopi. Teknik ini dimulai dengan
insisi kulit sepanjang 1.5-2 cm, 2 cm dibawah kartialgo krikoid. Sepasang forsep
mosquito digunakan untuk diseksi secara tumpul sampai fasia pretrakea. Dengan
menggunakan jari kelingking identifikasi tulang rawan krikoid dan trakea. Jarum
dengan kateternya ditusukkan, idealnya antara cincin trakea kedua dan ketiga
dan tindakan ini dapat dipantau dengan menggunakan bronkoskopi yang telah
dihubungkan ke kamera. Jarum kemudian ditarik, kawat pemandu (J-Wire)
kemudian dimasukkan kemudian kateter ditarik sepenuhnya dan
mempertahankan kawat pemandu dalam lumen trakea. Dilator Ciaglia kemudian
dimasukkan melalui kawat pemandu sampai dengan ukuran 38F. Kanul
trakeostomi kemudian dipasang dengan ukuran yang sama dengan dilator melaui
kawat pemandu, dan kawat pemandu kemudian dilepas. Kanul trakeostomi
difiksasi dan cuff dikembangkan. Roentgen thorak post operatif dilakukan untuk
melihat adanya komplikasi penumotorak dan pneumomediastinum.
4. Insisi trakea pada trakeostomi
a. Insisi vertikal . Insisi ini merupakan insisi standar yang paling banyak digunakan.
Teknik ini digunakan bila tindakan trakeostomi hanya dipertahankan selama
beberapa minggu. Jahitan penahan trakea akan mempermudah identifikasi lumen
bila kanul terlepas (accidental decanulation). Teknik ini cocok untuk anak-anak
yang membutuhkan trakeoatomi jangka panjang sehingga tidak mengganggu
pertumbuhan trakeanya.
b. Inferiorly based flap/ U terbalik/ Falp Bjork. Teknik ini diperkenalkan
pertamakali oleh Bjork (1960). Teknik ini menggunakan 2 cara insisi yaitu insisi
horizontal dan insisi vertikal. Teknik ini digunakan untuk jangka waktu yang lama
(beberapa bulan – beberapa tahun) dan menurut penelitian dapat ditoleransi baik
oleh penderita dalam penelitiannya mengatakan bahwa pemasangan jabir dapat
mengurangi terlepasnya kanul.
c. Insisi palang (starplasty). Insisi ini dibuat berdasarkan geometri Z plasty 3
dimensi. Pertama dibuat insisi berbentuk huruf X pada kulit dan kemudian
dilanjutkan dengan insisi berbentuk + pada trakea diikuti dengan pejahitan jabir ke
sekelilingnya. Cara ini dipopulerkan boleh Koltai. Cara ini diindikasikan pada
trakeostomi jangka panjang (untuk pasien dengan kelainan neurologis) dan
permanen.
d. Insisi horizontal. Pada tipe insisi ini tidak terbentuk banyak jaringan parut pada
masa penyembuhan. Teknik ini menyulitkan pemasangan kanul (rekanulasi), selain
itu angka kolaps suprastomal cukup tinggi 19,25.
e. Insisi bulat. Jendela bulat dibuat dengan cara mengeksisi sebagian kartilago pada
dinding trakea depan untuk memudahkan pemasangan kanul kembali.
C. Kanker Paru
1. Definisi
Kanker paru atau disebut karsinoma bronkogenik merupakan tumor ganas primer
system pernapasan bagian bawah yang bersifat ephitelial dan berasal dari mukosa
percabangan bronkus. Penyakit ini jarang terjadi dan paling sering terjadi di daerah
industry (Sylvia A. Price). Sedangkan menurut Susan Wilson dan June Thompson,1990,
kanker paru adalah suatu pertumbuhan yang tidak terkontrol dari sel anaplastik dalam
paru.
2. Etiologi
Penyebab dari kanker paru masih belum diketahui, namun diperkirakan bahwa
inhalasi jangka panjang dari bahan-bahan karsiogenik merupakan faktor utama.
Beberapa faktor risiko yang dikaitkan dengan terjadinya kanker paru antara lain:
a. Merokok. Kanker paru berisiko sepuluh kali lebih tinggi dialami perokok
disbanding dengan bukan perokok. Risiko ditentukan dengan riwayat jumlah
merokok dalam tahun (jumlah bungkus rokok yang digunakan setiap hari dikali
jumlah tahun merokok). Selain itu, semakin muda individu mulai merokok, maka
makin besar risiko terjadinya kanker paru. Faktor lain yang juga di pertimbangkan
termasuk jenis rokok yang dihisap (kandungan tar, filter atau tidak berfilter).
b. Polusi udara. Ada beberapa karsinogen telah diidentifikasi dalam atmosfer,
termasuk sulfur, emisi kendaraan bermotor, dan polutan dari pengolahan dan
pabrik. Bukri-bukti menunjukkan bahwa insiden kanker paru berpeluang besar
terjadi pada daerah perkotaan sebagai akibat penumpukan polutan dan emisi
kendaraan bermotor.
c. Rendahnya asupan vitamin A. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa
perokok yang dietnya rendah vitamin A dapat memperbesar risiko terjadinya
kanker paru. Hipotesis ini didapatkan dari beberapa penelitian yang menyimpulkan
bahwa vitamin A dapat menurunkan risiko peningkatan jumlah sel-sel kanker. Hal
ini berkaitan dengan fungsi vitamin A yang turut berperan dalam pengaturan.
d. Faktor herediter. Terdapat juga bukti bahwa anggota keluarga dari penderita
kanker paru memiliki risiko yang lebih besar mengalami penyakit yang sama.
Walaupun demikian masih belum diketahui dengan pasti apakah hal ini benar-benar
herediter atau karena faktor-faktor familial.
3. Patofisiologi
Dari etiologi yang menyerang percabangan segmen/ sub bronkus menyebabkan
cilia hilang dan deskuamasi sehingga terjadi pengendapan karsinogen. Dengan adanya
pengendapan karsinogen maka menyebabkan metaplasia,hyperplasia dan displasia. Bila
lesi perifer yang disebabkan oleh metaplasia, hyperplasia dan displasia menembus ruang
pleura, biasa timbul efusi pleura, dan bisa diikuti invasi langsung pada kosta dan korpus
vertebra.
Lesi yang letaknya sentral berasal dari salah satu cabang bronkus yang terbesar.
Lesi ini menyebabkan obstuksi dan ulserasi bronkus dengan diikuti dengan supurasi di
bagian distal. Gejala – gejala yang timbul dapat berupa batuk, hemoptysis, dispneu,
demam, dan dingin.Wheezing unilateral dapat terdengan pada auskultasi. Pada stadium
lanjut, penurunan berat badan biasanya menunjukkan adanya metastase, khususnya pada
hati. Kanker paru dapat bermetastase ke struktur – struktur terdekat seperti kelenjar
limfe, dinding esofagus, pericardium, otak, tulang rangka ( Taqiyyah & Mohammad,
2013).
4. Manifestasi klinis
Gejala kanker paru yang paling sering adalah batuk, kemungkinan akibat iritasi
yang disebabkan oleh massa tumor. Individu sering mengabaikan gejala ini dana
menghubungkannya dengan merokok. Batuk mulai sebagai batuk kering (hacking),
tanpa membentuk sputum, tetapi berkembang sampai titik dimana dibentuk sputum
yang kental, purulen dalam berespons terhadap infeksi sekunder.
Mengi dapat tampak (terjadi ketika bronkus menjadi tersumbat sebagian oleh
tumor) pada sekitar 20% pasien dengan kanker paru. Pasien sering membatukkan
sputum yang bersemu darah, terutama pada pagi hari. Sputum menjadi berwarna darah
karena sputum melalui permukaan tomur yang mengalami ulserasi. Pada beberapa
pasein, demam kambuh terjadi sebagai gejala dini dalam berespons terhadap infeksi
yang menetap pafda area pneumonitis ke arah distal tumor. Pada kenyataannya, kanker
paru harus dicurigai pada individu yang mengalami infeksi saluran pernapasan atas
berulang yang sembuh-sembuh. Nyeri adalah manifestasi akhir dan sering ditemukan
berhubungan dengan metastasis ke tulang.
Jika tomur menyebar ke struktur yang berdekatan dan ke nodus limfe regional,
pasien dapat menunjukkan nyeri dada dan sesak, serak (menyerang saraf laringeal)
disfagia, edema kepala dan leher, dan gejala-gejala efusi pleura atau perikardial.
Tempat metastase yang paling umum adalah nodus limfe, tulang, otak, paru
kontralateral, dan kelenjar adrenal. Gejala umum seperti kelemahan, anoreksia,
penurunan berat badan, dan anemia tampak pada akhir penyakit.
5. Pemeriksaan penunjang
a. Foto thorax posterior – anterior (PA) dan leteral serta Tomografi dada.
Merupakan pemeriksaan awal sederhana yang dapat mendeteksi adanya kanker
paru. Menggambarkan bentuk, ukuran dan lokasi lesi. Dapat menyatakan massa
udara pada bagian hilus, effuse pleural, atelektasis erosi tulang rusuk atau
vertebra.
b. Bronkhografi. Untuk melihat tumor di percabangan bronkus.
c. Sitologi (sputum, pleural, atau nodus limfe). Dilakukan untuk mengkaji adanya/
tahap karsinoma.
d. Pemeriksaan fungsi paru dan GDA. Dilakukan untuk mengkaji kapasitas untuk
memenuhi kebutuhan ventilasi.
e. Tes kulit, jumlah absolute limfosit. Dilakukan untuk mengevaluasi kompetensi
imun (umum pada kanker paru).
f. Bronkoskopi. Memungkinkan visualisasi, pencucian bagian,dan pembersihan
sitologi lesi (besarnya karsinoma bronkogenik dapat diketahui).
g. Biopsi Trans Torakal (TTB). Biopsi dengan TTB terutama untuk lesi yang
letaknya perifer dengan ukuran < 2 cm, sensitivitasnya mencapai 90 – 95 %.
h. Torakoskopi. Biopsi tumor didaerah pleura memberikan hasil yang lebih baik
dengan cara torakoskopi.
i. Torakotomi. Totakotomi untuk diagnostic kanker paru dikerjakan bila bermacam –
macam prosedur non invasif dan invasif sebelumnya gagal mendapatkan sel tumor.
6. Penatalaksanaan medis
a. Pembedahan. Reseksi bedah adalah metoda yang lebih dipilih untuk pasein dengan
tumor setempat tanpa adanya penyebaran metastatik dan mereka yang fungsi
jantung paru yang baik. Tiga tipe reseksi paru mungkin dilakukan: lobektomi (satu
lobus paru diangkat), lobektomi sleeve (lobus yang mengelami kanker diangkat dan
segmen bronkus besar direseksi), dan pneumonektomi (pengangkatan seluruh paru).
Reseksi bedah yang menghasilkan penyembuhan sempurna sangat jarang terjadi
(biasanya, pembedahan untuk kanker sel kecil paru tidak disarankan kerena tipe
kanker ini berkembang dengan cepat serta cepat bermetastasis dan sangat luas).
b. Terapi radiasi. Terapi radiasi ini sangat bermanfaat dalam pengendalian
neoplasma yang tidak dapat direseksi tetapi yang responsif terhadap radiasi. Tumor
sel kecil dan epidermoid biasanya sensitif terhadap radiasi. Radiasi dapat juga
digunakan untuk mengurangi ukuran tumor untum membuat tumor yang tidak dapat
dioperasi menjadi dapat dioperasi atau radiasi dapat digunakan sebgai pengobatan
paliatif untuk menghilangkan tekanan tumor pada struktur vital.
c. Kemoterapi. Kemoterapi digunakan untuk menggangu pola pertumbuhan tumor,
untuk menangani pasien dengan tumor paru sel kecil atau dengan metastasis luas,
dan untuk melengkapi bedah atau terapi radiasi.
7. Pathway
D. Tumor Mediastinum
1. Definisi
Tumor mediastinum merupakan suatu kondisi timbulnya hyperplasia sel-sel jaringan
pada area mediastinum secara progresif dalam bentuk jaringan yang menimbulkan
manifestasi tumor pada mediastinum.
2. Etiologi
Secara umum faktor-faktor yang dianggap sebagai penyebab tumor adalah:
a. Penyebab kimiawi. Di berbagai negara ditemukan banyak tumor kulit pada pekerja
pembersih cerobong asap. Zat yang mengandung karbon dianggap sebagai
penyebabnya.
b. Faktor genetik (biomolekuler). Perubahan genetik termasuk perubahan atau
mutasi dalam gen normal dan pengaruh protein bisa menekan atau meningkatkan
perkembangan tumor.
c. Faktor fisik. Secara fisik, tumor berkaitan dengan trauma/pukulan berulang-ulang
baik trauma fisik maupun penyinaran. Penyinaran bisa berupa sinar ultraviolet yang
berasal ari sinar matahari maupun sinar lain seperti sinar X (rontgen) dan radiasi
bom atom.
d. Faktor nutrisi. Salah satu contoh utama adalah dianggapnya aflaktosin yang
dihasilkan oleh jamur pada kacang dan padi-padian sebagai pencetus timbulnya
tumor.
e. Penyebab bioorganisme. Misalnya virus, pernah dianggap sebagai kunci penyebab
tumor dengan ditemukannya hubungan virus dengan penyakit tumor pada binatang
percobaan. Namun ternyata konsep itu tidak berkembang lanjut pada manusia.
f. Faktor hormon. Pengaruh hormon dianggap cukup besar, namun mekanisme dan
kepastian peranannya belum jelas. Pengaruh hormone dalam pertumbuhan tumor
bisa dilihat pada organ yang banyak dipengaruhi oleh hormone tersebut.
3. Patofisiologi
Pertumbuhan sel-sel karsinoma dapat terjadi di dalam rongga mediastinum.
Dengan semakin meningkatnya volume massa sel-sel yang berproliferasi secara
mekanis akan menimbulkan desakan pada jaringan sekitarnya dan pelepasan berbagai
substansia pada jaringan normal seperti progstatlandin, radikal bebas, dan protein-
protein rektif secara berlebihan. Sebagai akibat lanjutan, timbulnya karsinoma dapat
meningkatkan daya merusak sel kanker terhadap jaringan sekitarnya terutama jaringan
yang memiliki ikatan yang relatif lemah.
Menurut Price dan wilson (2002) yang dikutip oleh Muttaqin (2007)Adanya
pertumbuhan sel-sel progresif pada mediastinum secara mekanis juga dapat
menyebabkan penekanan pada jaringan sekitar yang menimbulkan penyakit infeksi
pernafasan lain seperti sesak nafas, nyeri pada saat inspirasi, peningkatan produksi
sputum, bahkan batuk darah atau lendir berwarna merah (hemaptoe) manakala telah
melibatkan banyak kerusakan pembuluh darah.
Kondisi kanker juga meningkatkan risiko timbulnya infeksi sekunder sehingga
kadang kala menifestasi klinis yang lebih menonjol mengarah pada infeksi saluran
pernafasan seperti pneumonia atau TB paru. Namun secara klinis pada kanker ini
kurang dijumpai gejala demam yang menonjol (Muttaqin, 2007).
4. Manifestasi klinis
Hampir semua gejala tumor mediastinum adalah akibat tekanan massa terhadap
organ intratoraks yang penting dan termasuk nyeri dada; kembung pada dinding dada;
ortopnea (suatu tanda dini akibat tekanan terhadap trakea, bronkus besar, saraf laryngeal
kambuhan, atau paru): palpasi jantung, angina, dan berbagai gangguan sirkulasi lainnya;
sianosis; sindrom; vena kava superior (wajah, leher, dan ekstremitas atas bengkak) dan
distensi yang jelas pada vena leher dan dinding dada ( bukti obstruksi vena besar
mediastinum oleh kompersi ekstravaskular atau invasi intravascular); dan disfagia
akibat tekanan terhadap esofagus.
5. Pemeriksaan penunjang
a. Foto thorax. Foto toraks polos posteroanterior (PA) sering tidak dapat mendeteksi
tumor yang kecil karena superposisi dengan organ lain yang ada di mediastinum.
Jika tumor sangat besar kadang juga menjadi sulit menentukan lokasi asal tumor,
sedangkan foto toraks PA dan lateral pada tumor dengan ukuran sedang dapat
menunjukkan lokasi tumor di mediastinum.
b. CT scan dan MRI. CT Scan adalah alat diagnostik bantu yang bukan hanya dapat
mendeteksi lokasi tumor tetapi dapat memperkirakan jenis tumor tersebut. Untuk
timoma gambaran makroskopik tumor melalui CT Scan juga dibutuhkan untuk
penentuan staging penyakit. Teratoma dipastikan bila ditemukan massa dengan
berbagai jenis jaringan di dalamnya. Pemeriksaan imaging lain, seperti
ekokardiografi, esofagografi dan MRI kadang dibutuhkan bukan hanya untuk
diagnostik tetapi juga penatalaksanaan yang akan diberikan.
c. Bronkoskopi. Bronkoskopi tidak dianjurkan untuk pengambilan bahan
pemeriksaan jenis histopatologik sel tumor tetapi dilakukan untuk melihat kelainan
intrabronkus yang biasanya terlihat pada tumor paru, sedangkan pada tumor
mediastinum biasanya melihat stenosis akibat kompresi. Untuk semua penderita
yang akan mengalami pembedahan bronkoskopi dapat membantu ahli bedah untuk
memperkirakan lokasi dan luas tindakan yang akan dilakukan.
d. Biopsi jarum halus (BJH) dan fine needle aspiration biopsy (FNAB). Untuk
mendapatkan jenis sel tumor sebaiknya dipilih teknik yang sederhana, murah dan
aman. Biopsi jarum halus (BJH) atau fine needle aspiration biopsy (FNAB) pada
massa superfisial adalah tindakan pilihan pertama. Sitologi cairan pleura dan biopsi
pleura dilakukan bila ditemukan efusi pleura.
e. Biopsi tanstorakal (TTB) dan Percutaneneous core needle biopsy (PCNB).
Biopsi transtorakal (TTB) tanpa tuntunan fluoroskopi dapat dilakukan bila ukuran
tumor besar dan lokasinya tidak berisi banyak pembuluh darah. Kelemahan teknik
ini adalah apabila jaringan tumor terdiri dari berbagai jaringan seperti pada
teratoma sering mendapatkan negatif palsu. Biopsi transtorakal dengan tuntunan
fluoroskopi atau CT Scan dapat menurunkan risiko terjadi komplikasi seperti
pneumotoraks, perdarahan dan false negative. Jika perlu, tindakan invasif harus
dilakukan, torakotomi eksplorasi dapat dilakukan untuk mencari jenis sel tumor.
Penilaian keuntungan dan kerugian tindakan FNAB atau mediastinoskopi masih
diperdebatkan.Kelompok yang setuju FNAB mengatakan teknik itu merupakan
tindakan yang sederhana, murah dan aman dan tidak membutuhkan anestesi umum
pada saat tindakan. Teknik Percutaneneous core needle biopsy (PCNB) untuk
tumor mediastinum memiliki sensitiviti 91,9% dan spesifisiti 90,3% dengan
komplikasi pneumotoraks 11% dan hemoptisis 1,6% dari 70 pasien.Meskipun
tumor marker tidak memberikan arti tetapi untuk tumor sel germinal pemeriksaan
kadar beta-HCG dan alfa-fetoprotein dilakukan untuk membedakan seminoma atau
bukan.
6. Penatalaksanaan medis
Banyak tumor mediastinum adalah benigna dan dapat dioperasi. Letak tumor
dalam mediastinum akan menentukan jenis insisi. Sebagian besar insisi adalah
sternotomi median. Perawatannya adalah sama seperti pada pasien yang menjalani
bedah toraks. Komplikasi utama, meski jarang, termasuk hemoragi, cedera pada saraf
laryngeal kambuhan atau ferinikus, dan infeksi. Jika tumor adalah malinga dan telah
meninfiltras ijaringan sekitar, terapi radiasi dan kemoterapi adalah modlitas terapeutik
yang digunakan bila pengangkatan komplit melalui bedah tidak dapat dilakukan.
7. Pathway
E. Asuhan Keperawatan
NANDA NOC NIC
Nyeri Kronik Kepuasan klien : Manajemen nyeri
Definisi: manajemen nyeri  Lakukan pengkajian
Pengalaman sensorik dan  Nyeri terkontrol nyeri komprehensip
emosional tidak menyenangkan  Mengambil tindakan yang meliputi lokasi,
dengan kerusakan jaringan untuk memberikan karakteristik,
aktual atau potensial, atau kenyamanan onset/durasi, frekuensi,
digambarkan sebagai suatu  Mengambil tindakan kualitas, intensitas atau
kerusakan (international untuk mengurangi beratnya nyeri dan faktor
association for the studyof pain); nyeri. pencetus
awitan yang tiba-tiba atau  Manajemen nyeri  Gunakan strategi
lambat dengan intensitas dari sesuai dengan komunikasi terapeutik
ringan hingga berat, terjadi keyakinan budaya untuk mengetahui
konstan atau berulang tanpa pengalaman nyeri dan
akhit yang dapat diantisipasi sampaikan penerimaan
atau diprediksi dan berlangsung parisen terhadap nyeri
lebih dari tiga (>3) bulan.  Gali pengetahuan dan
Batasan karakteristik: kepercayaan pasien
 Anoreksia mengenai nyeri
 Hambatan kemampuan  Tentukan akibat dari
meneruskan aktivitas pengalaman nyeri
sebelumnya terhadap kualitas hidup
 Ekspresi wajah nyeri pasien.
 Peubahan pola tidur  Pertimbangkan pengaruh
budaya terhadap respon
Faktor yang berhubungan
nyeri
 Infiltrasi tumor  Gali pengetahuan dan
kepercayaan klien
mengenai nyeri
 Bantu keluarga dalam
mencari dan
menyediakan dukungan
 Tentukan akibat dari
pengalaman nyeri
terhadap kualitas hidup
pasien ( Misalnya, tidur ,
nafu makan, pengertian,
perasaan, hubungan,
performa kerja dan
tanggung jawab peran.
 Kendalikan faktor
lingkungan yang dapat
mempengaruhi respon
pasien terhadap ketidak
nyamanan ( misalnya,
suhu, ruangan,
pencahayaan, dan suara
yang bising)

NANDA NOC NIC


Ketidakefektifan jalan napas Status pernafasan :  Stabilitas dan membuka
Definisi kepatenan jalan nafas jalan nafas
Ketidakmampuan  Frekuensi pernapasan  Manajemen jalan nafas
membersihkan sekretsi atau normal buatan
obstruksi dari saluran napas  Irama pernapasan  Pengaturn posisi
untuk mempertahankan normal
bersihan jalan napas.  Kemampuan untuk
Batasan karakteristik mengeluarkan sekret
 Batuk yang tidak efektif  Suara nafas tambahan
 Dispnea tidak ada
 Penurunan bunyi napas
 Perubahan frekuensi
napas
 Suara napas tambahan
Faktor yang berhubungan
Lingkungan
 Perokok
 Perokok pasif
Obstruksi jalan napas
 Adanya jalan napas
buatan
 Sekresi yang tertahan
 Benda asing dalam jalan
nafas
NANDA NOC NIC
Hambatan komunikasi Komunikasi : Peningkatan komunikasi :
verbal mengekspresikan kurang bicara
Definisi Criteria hasil :  Monitor kecepatan
Penurunan, perlambatan, atau  Kejelasan berbicara bicara, tekanan,
ketiadaan kemampuan untuk  Menggunakan bahasa kecepatan, kuantitas,
menerima, memproses, lisan : vokal volume dan diksi
mengirim, dan/atau  Mengarahkan pesan  Kenali emosi dan
menggunakan sistem simbol. pada penerima yang perilaku fisik pasien
Batasan karakteristik tepat sebagai bentuk
 Dispnea komunikasi dengan
 Kesulitan mereka
mempertahankan  Sediakan metode
komunikasi alternatif untuk
 Kesulitan berkomunikasi dengan
mengekspresikan berbicara
pikiran secara verbal  Instrusikan pasien
 Sulit bicara untuk bicara pelan
 Sulit mengungkapkan  Sesuaikan gaya
kata-kata komunikasi untuk
 Tidak bicara memenuhi kebutuhan
klien ( misalnya,
berdiri didepan pasuen
saat bicara,
mendengarkan dengan
penuh perhatian,
menyampaikan satu
ide atau pikiran pada
satu waktu, bicara
pelan untuk
menghindari
berteriak,gunakan
komunikasi tertulis,
atau bantuan keluarga
dalam memahami
pembicaraan klien)
NANDA NOC NIC
Ketidakseimbangan nutrisi : Outcome  Jelaskan rasionalisasi
kurang dari kebutuhan  Tingkat kenyamanan latihan menelan ini pada
tubuh  Tingkat nyeri pasien/keluarga
Definisi  Status menelan : Fase  Bantu pasien untuk duduk
Asupan nutrisi tidak cukup faringeal tega(sebisa mungkin
untuk memenuhi kebutuhan mendekati 90 derajat)
metabolik untuk makan/ latihan
Batasan karakteristik makan.
 Kelemahan otot untuk  Instruksikan pasien untuk
menelan tidak bicara selama makan,
 Ketidak mampuan jika diperlukan
memakan makanan  Bantu pasien untuk
Faktor yang berhubungan menempatkan makanan ke
 Ketidakmampuan mulut bagian belakang dan
mencerna makanan dibagian yang tidak sakit
 Kurang asupan  Monitor asupan kalori
makanan setiap hari
 Sediakan variasi makan
yang tinggi kalori dan
bernutrisi tinggi

NANDA NOC NIC


Ketidakefektifan pola nafas Outcome  Buka jalan nafasdengan
Definisi  Status pernafasan : teknik chin lift tau jaw
Inspirasi dan/atau ekspirasi ventilasi thrust, sebagai mana
yang tidak memberi ventilasi  Status pernafasan : mestinya
adekuat kepatenan jalan nafas  Posisikan pasien untuk
Batasan karakteristik  Tingkat nyeri memaksimalkan vetilasi
 Dispnea  Posisikan untuk
 Pola nafas abnormal meringankan sesak nafas
(mis, irama, frekuensi,  Monitor status pernafasan
kedalaman) dan oksigenasi,
 Takipnea sebagaimana mestinya
Faktor yang berhubungan  Monitor kecepatan, irama,
 Nyeri kedalaman dan kesulitan
bernafas
 Monitor pola
nafas(misalnya., bradineu,
takipneu, hiperventilasi,
pernafasana kusmaul,
pernaasan 1:1 , apneustik,
respirasi biot dan pola
ataxic)
 Monitor keluhan sesak
nafas pasien , termasuk
kegiatan yang
meningkatkan atau
memperburuk sesak nafas
tersebut.
 Observasi adanya petunjuk
nonverbal mengenai
ketidaknyamanan terutama
pada mereka yang tidak
dapat berkomunikasi secara
efektif
 Gali bersama pasien faktor-
faktor ysng dapat
menurunkan atau
memperberat nyeri
 Ajarkan prinsip-prinsip
manajemen nyeri

NANDA NOC NIC


Gangguan pertukaran gas Outcome  Monitor irama dan laju
Definisi  Status pernafasan : pernafasan (misalnya,
Kelebihan atau defisit pertukaran gas kedalaman dan
oksigenasi dan/ atau eliminasi  Tanda-tanda vital kesimetrisan)
karbon dioksida pada membran  Stayus pernafasan :  Monitor suara paru-paru
alveolar-kapiler ventilasi  Monitor pola pernafasan
Batasan karakteristik abnormal
 Dispnea  Pertahankan kepatenan
 Penurunan pertukaran jalan napas
karbon dioksida  Posisikanuntuk
 Pola pernapasan abnormal menguranfi dipsnea
(mis, kecepatan, irama,  Ajarkan teknik
kedalaman) pernapasan, dengan tepat
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Karsinoma laring merupakan keganasan pada laring yang meliputi bagian glotis (pita
suara), area supraglotis (area di atas glotis, termasuk epiglotis dan pita suara palsu), subglotis
(area di bawah glotis). Kanker paru atau disebut karsinoma bronkogenik merupakan tumor
ganas primer system pernapasan bagian bawah yang bersifat ephitelial dan berasal dari mukosa
percabangan bronkus. Tumor mediastinum merupakan suatu kondisi timbulnya hyperplasia sel-
sel jaringan pada area mediastinum secara progresif dalam bentuk jaringan yang menimbulkan
manifestasi tumor pada mediastinum.
Diagnosa keperawatan pada gangguan sistem pernapasan penyakit tumor dada dan
kanker laring hamper semuanya sama yaitu nyeri kronik, ketidakefektifan bersihan jalan nafas,
gangguan pertukaran gas, ketidakefektifan pola napas, gangguan komunikasi verbal, dan
ketidakseimbangan nutrisi.

B. Saran
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, diharapkan kepada pembaca
untuk memberikan kritik yang membangun agar kami dapat memperbaiki makalah kami yang
akan datang.
DAFTAR PUSTAKA

Smeltzer C. Suzanne, Bare G. Brenda. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &
Suddarth. Alih bahasa: Agung Wuloyo. Edisi 8. Vol 1. Jakarta: EGC.
Herdman H.T, Kamitsuru Shigemi. 2015. Diagnosis Keperawatan: Definisi & Klasifikasi 2015-
2017. Edisi 10. Jakarta: EGC.
Moorhead S, Johnson M, Maas L. Meridean, Swanson Elizabeth. 2016. Nursing Outcomes
Classification (NOC): Pengukuran Outcomes Kesehatan. Edisi 5. Jakarta: Mocomedia.
Bulechek M. G, Butcher K. H, Dochterman M. J, Wagner M. C. 2016. Nursing Interventions
Classisfication (NIC). Jakarta: Mocomedia.
Muttaqin Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Indonesia: Salemba Medika.
North American Nursing Diagnosis Associations. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA NIC-NOC. Edisi Revisi. Jilid I. Yogyakarta: Media
Hardy.
Price A. Sylvia, Wilson M. Lorraine. 2003. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Alih bahasa: Brahm U. Pendit. Edisi 6. Vol 2. Jakarta: EGC.
Yulias Bazar N. (2013). Asuhan Keperawatan Nyeri Pada Pasien Kanker Paru Di RSUP Dr. M.
Djamil Padang. Karya tulis ilmiah. Padang: Poltekkes Kemenkes Padang.
Hayati Mardiyah. (2013, 14 Oktober). Askep Tumor Mediastinum. Diperoleh 15 September 2018
pukul 22.00 WITA, dari http://mardhiyah-hayati-fkp12.web.unair.ac.id/artikel_detail-85327-
Askep-ASKEP%20TUMOR%20MEDIASTINUM.html.
Haq Zulkarnain N. (2011, 12 Oktober). Asuhan Keperawatan (Askep) Kanker Paru atau Ca.
Paru. Diperoleh 15 September 2018, dari http://nuzulul-fkp09.web.unair.ac.id/artikel_detail-
35524-KepRespirasi-AskepKankerParu.html#popup.
Novialdi, Azani Surya. Trakeostomi dan Krikotirotomi, 1–9