Anda di halaman 1dari 9

SEJARAH PERKEMBANGAN USHUL FIQIH

Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Ushul Fiqih I
Dosen Pengampu :Fuad Riyadi

Disusun Oleh:

Ali Wahyudi 209043


Ari Fachrurozi 209051
Irwan Chakim 209054
Hambali 209014

SEKOLAH TINGGI AGAMA NEGERI ISLAM


2010/2011
PENDAHULUAN
Ushul fiqh merupakan komponen utama dalam menghasilkan produk fiqh, karena
ushul fiqh adalah ketentuan atau kaidah yang harus digunakan oleh para mujtahid dalam
menghasilkan fiqh. Namun dalam penyusunannya ilmu fiqh dilakukan lebih dahulu
daripada ilmu ushul fiqh.
Secara embrional ushul fiqh telah ada bahkan ketika Rasulullah masih hidup, hal ini
didasari dengan hadits yang meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah bertanya kepada
Muadz bin Jabal ketika diutus untuk menjadi gubernur di Yaman tentang apa yang akan
dilakukan apabila dia harus menetapkan hukum sedangkan dia tidak menemukan
hukumnya dalam al-Qur’an maupun as-Sunah, kemudian Muadz bin Jabal menjawab
dalam pertanyaan terakhir ini bahwa dia akan menetapkan hukum melalui ijtihadnya, dan
ternyata jawaban Muadz tersebut mendapat pengakuan dari Rasulullah. Dari cerita
singkat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa Rasulullah pada masanya telah
mempersiapkan para sahabat agar mempunyai alternatif cara pengambilan hukum apabila
mereka tidak menemukannya dalam al-Qur’an maupun as-Sunah. Namun pada masa ini
belum sampai kepada perumusan dan prakteknya, karena apabila para sahabat tidak
menemukan hukum dalam al-Qur’an mereka dapat langsung menanyakan pada
Rasulullah.
Berdasarkan uraian di atas diperlukan sekali adanya pemahaman tentang hukum-hukum
dalam Islam yang sesuai dengan hal sejarah pertumbuhan dan perkembangan Islam.
Supaya tidak terjadi simpang siur tentang sejarah penetapan hukum Islam. Dengan
demikian diharapkan tidak terjadinya kesulitan didalam pemahaman sejarah pertumbuhan
dan perkembangan hukum Islam. Setelah melakukan penelitian kami merasa terdorong
untuk mengulangi lebih lanjut masalah sejarah itu sesuai dengan hasil dan kemampuan.

RUMUSAN MASALAH
A. Apa pentingnya memahami tentang sejarah pertumbuhan dan perkembangan atau
hukum Islam?
B. Periode-periode apa sajakah yang ada dalam sejarah pembentukan Islam?
C. Bagaimana sejarah periode-periode tersebut?
PEMBAHASAN
Jika kita membaca dan memahami sejarah perkembangan fiqh, maka satu hikmah yang
setidaknya bisa kita ambil bahwa fiqh Islam sebagai sebuah ilmu, pernah mengalami
kejayaan dimana ijtihad berkembang dengan senantiasa memenuhi kebutuhan
masyarakat. Dimasa itu para hakim agama (Qodhi) banyak yang mampu berijtihad
sendiri sesuai kebutuhan dan kondisi dengan tetap berdasarkan pada kitabullah. Namun
kekurangannya, pembukuan masih belum dilakukan dengan baik dan sistematis.
Sistematisasi yang kemudian dilakukan oleh Imam Syafii tersebut lalu melahirkan Ushul
Fiqh dan kemudian qowaidhul fiqhiyyah (kaidah-kaidah fiqh). Perkembangan semakin
pesat dan melahirkan banyak madzhab. Dari sekian banyak madzhab, yang sampai hari
ini masih eksis hanyalah 4 madzhab. Madzhab-mazhab tersebut, terutama yang masih
eksis. Madzhab-mazhab tersebut juga melahirkan kitab-kitab, baik fiqh, hadist maupun
ushul yang ditulis oleh Imam Madzhab atau tokoh besar madzhab. Kitab-kitab yang
ditulis makin berkembang dan memiliki mata rantai dengan guru utama.
Sayangnya, pada perkembangan selanjutnya, masing-masing madzhab saling menjauh
dan setiap pengikut saling fanatik terhadap madzhabnya. Hal ini sedikit banyak
dipengaruhi oleh trend penulisan kitab-kitab fiqh pada periode kemunduran hukum Islam
tersebut. Yakni kitab-kitab yang ditulis pada masa itu hanya ulasan, komentar dan bahkan
ringkasan dari kitab-kitab induk masing-masing madzhab. Selain menimbulkan fanatisme
madzhab, hal itu juga menurunkan suasana ilmiah hukum Islam ketika itu dimana para
ulama mujtahid, dalam memberi fatwa banyak mengikuti kepada fatwa Imam Madzhab
atau gurunya. Selain itu melalui kitab-kitab, fiqh hanya diulas kembali secara lebih
mendalam dari hasil fatwa sang guru atau imam madzhab meski seringkali hasilnya tidak
sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sehingga kemudian sulit ditemukan landasan
hukumnya yang semula. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh kondisi perpolitikan ketika
itu dimana kejayaan khilafah Abbasiyah di Baghdad dan Andalusia di Spanyol telah
hancur. Keruntuhan kedua khilafah tersebut cukup berpengaruh terhadap mundurnya
kejayaan peradaban ilmu pengetahuan Islam termasuk ilmu fiqh.
Setelah sekian lama terpuruk, sekitar abad XIX dan XX muncul usaha untuk
mengembalikan kejayaan Islam diantaranya di Arab Saudi (Gerakan Salafiyah
pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahhab) dan juga Mesir.
Sejarah perkembangan Fiqh dan periode-periode yang ada pada masa itu :
Terdapat perbedaan periodisasi fiqh di kalangan ulama fiqh kontemporer. Muhammad
Khudari Bek (ahli fiqh dari Mesir) membagi periodisasi fiqh menjadi enam periode.
Menurut Mustafa Ahmad az-Zarqa, periode keenam yang dikemukakan Muhammad
Khudari Bek tersebut sesebenarya bisa dibagi dalam dua periode, karena dalam setiap
periodenya terdapat ciri tersendiri. Periodisasi menurut az-Zarqa adalah sebagai berikut:
1. Periode risalah. Periode ini dimulai sejak kerasulan Muhammad SAW sampai
wafatnya Nabi SAW (11 H./632 M.). Pada periode ini kekuasaan penentuan hukum
sepenuhnya berada di tangan Rasulullah SAW. Sumber hukum ketika itu adalah Al-
Qur'an dan sunnah Nabi SAW.
Periode awal ini juga dapat dibagi menjadi periode Mekkah dan periode Madinah.
2. Periode al-Khulafaur Rasyidin. Periode ini dimulai sejak wafatnya Nabi Muhammad
SAW sampai Mu'awiyah bin Abu Sufyan memegang tampuk pemerintahan Islam pada
tahun 41 H./661 M. Sumber fiqh pada periode ini, disamping Al-Qur'an dan sunnah Nabi
SAW, juga ditandai dengan munculnya berbagai ijtihad para sahabat. Ijtihad ini
dilakukan ketika persoalan yang akan ditentukan hukumnya tidak dijumpai secara jelas
dalam nash. Pada masa ini, khususnya setelah Umar bin al-Khattab menjadi khalifah (13
H./634 M.), ijtihad sudah merupakan upaya yang luas dalam memecahkan berbagai
persoalan hukum yang muncul di tengah masyarakat.
3. Periode awal pertumbuhan fiqh. Masa ini dimulai pada pertengahan abad ke-1 sampai
awal abad ke-2 H. Periode ketiga ini merupakan titik awal pertumbuhan fiqh sebagai
salah satu disiplin ilmu dalam Islam. Dengan bertebarannya para sahabat ke berbagai
daerah semenjak masa al-Khulafaur Rasyidin (terutama sejak Usman bin Affan
menduduki jabatan Khalifah, 33 H./644 M.), munculnya berbagai fatwa dan ijtihad
hukum yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, sesuai dengan situasi dan
kondisi masyarakat daerah tersebut.
4. Periode keemasan. Periode ini dimulai dari awal abad ke-2 sampai pada pertengahan
abad ke-4 H. Dalam periode sejarah peradaban Islam, periode ini termasuk dalam periode
Kemajuan Islam Pertama (700-1000). Seperti periode sebelumnya, ciri khas yang
menonjol pada periode ini adalah semangat ijtihad yang tinggi dikalangan ulama,
sehingga berbagai pemikiran tentang ilmu pengetahuan berkembang.
Perkembangan pemikiran ini tidak saja dalam bidang ilmu agama, tetapi juga dalam
bidang-bidang ilmu pengetahuan umum lainnya. Semangat para fuqaha melakukan ijtihad
dalam periode ini juga mengawali munculnya mazhab-mazhab fiqh, yaitu Mazhab
Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali. Periode keemasan ini juga ditandai dengan
dimulainya penyusunan kitab fiqh dan usul fiqh. Diantara kitab fiqh yang paling awal
disusun pada periode ini adalah al-Muwaththa' oleh Imam Malik, al-Umm oleh Imam
asy-Syafi'i, dan Zahir ar-Riwayah dan an-Nawadir oleh Imam asy-Syaibani. Kitab usul
fiqh pertama yang muncul pada periode ini adalah ar-Risalah oleh Imam asy-Syafi'i.
5. Periode tahrir, takhrij dan tarjih dalam mazhab fiqh. Periode ini dimulai dari
pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7 H. Yang dimaksudkan dengan
tahrir, takhrij, dan tarjih adalah upaya yang dilakukan ulama masing-masing mazhab
dalam mengomentari, memperjelas dan mengulas pendapat para imam mereka. Periode
ini ditandai dengan melemahnya semangat ijtihad dikalangan ulama fiqh. Ulama fiqh
lebih banyak berpegang pada hasil ijtihad yang telah dilakukan oleh imam mazhab
mereka masing-masing, sehingga mujtahid mustaqill (mujtahid mandiri) tidak ada lagi.
Sekalipun ada ulama fiqh yang berijtihad, maka ijtihadnya tidak terlepas dari prinsip
mazhab yang mereka anut. Artinya ulama fiqh tersebut hanya berstatus sebagai mujtahid
fi al-mazhab (mujtahid yang melakukan ijtihad berdasarkan prinsip yang ada dalam
mazhabnya). Akibat dari tidak adanya ulama fiqh yang berani melakukan ijtihad secara
mandiri, muncullah sikap at-ta'assub al-mazhabi (sikap fanatik buta terhadap satu
mazhab) sehingga setiap ulama berusaha untuk mempertahankan mazhab imamnya.
o Periode kemunduran fiqh. Masa ini dimulai pada pertengahan abad ke-7 H. sampai
munculnya Majalah al-Ahkam al- 'Adliyyah (Hukum Perdata Kerajaan Turki Usmani)
pada 26 Sya'ban l293. Perkembangan fiqh pada periode ini merupakan lanjutan dari
perkembangan fiqh yang semakin menurun pada periode sebelumnya.
o Di akhir periode ini muncul gerakan kodifikasi hukum (fiqh) Islam sebagai mazhab
resmi pemerintah. Hal ini ditandai dengan prakarsa pihak pemerintah Turki Usmani,
seperti Majalah al-Ahkam al-'Adliyyah yang merupakan kodifikasi hukum perdata yang
berlaku di seluruh Kerajaan Turki Usmani berdasarkan fiqh Mazhab Hanafi.
o Periode pengkodifikasian fiqh. Periode ini di mulai sejak munculnya Majalah al-Ahkam
al-Adliyyah sampai sekarang. Upaya pengkodifikasian fiqh pada masa ini semakin
berkembang luas, sehingga berbagai negara Islam memiliki kodifikasi hukum tertentu
dan dalam mazhab tertentu pula, misalnya dalam bidang pertanahan, perdagangan dan
hukum keluarga. Kontak yang semakin intensif antara negara muslim dan Barat
mengakibatkan pengaruh hukum Barat sedikit demi sedikit masuk ke dalam hukum yang
berlaku di negara muslim.
Sejarah pertumbuhan dan perkembangan fiqh dan ushul fiqh
Periodisassi Pembentukan Hukum Islam :
 Pertumbuhan fiqh atau hukum Islam dari awal sampai sekarang dapat dibedakan
kepada beberapa periode, diantaranya:
1. Periode Rasulullah SAW
Yaitu periode pertumbuhan dan pembentukan yang berlangsung selama kurang lebih 22
tahun beberapa bulan, sejak pelantikannya sebagai Rasul Allah pada tahun 610 M sampai
wafatnya tahun 632.
2. Periode sahabat
Yaitu periode penjelasan pencerahan dan penyempurnaan yang berlangsung sekitar 90
tahun, sejak wafatnya Rasulullah SAW. Tahun 632 M sampai akhir abad pertama 101 H/
720 M.
3. Periode Tadwin Kodifikasi
Yaitu periode kodifikasi atau pembukuan dan tampilnya para imam mujtahid. Periode ini
dikenal sebagai masa puncak keemasannya yang berlangsung selama kurang lebih 250
tahun, yakni dari tahun 101-350 H 720-971 M.
4. Periode Taklid
Yaitu periode statis dan kebekuan yang berlangsung sejak pertengahan abad keempat
Hijriah yakni sekitar tahun 351 H dan tidak seorangpun yang tahu masa berakhirnya
kecuali Allah.
Perumusan fiqh sebenarnya sudah dimulai langsung setelah nabi wafat, yaitu pada
periode sahabat. Pemikiran ushul fiqh pun telah ada pada waktu perumusan fiqh tersebut.
Diantaranya adalah Umar bin Khatab, Ibnu Mas’ud dan Ali bin Abi Thalib yang
sebenarnya sudah menggunakan aturan dan pedoman dalam merumuskan hukum
meskipun belum dirumuskan secara jelas.
Berkaitan dengan hal di atas, pada periode ulama, metode-metode untuk mengistinbat
hukum mengalami perkembangan pesat diiringi dengan munculnya beberapa ulama ushul
fiqh ternama seperti Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Syafi’i. Berangkat dari
keragaman metode dalam mengistinbatkan hukum inilah yang menyebabkan perbedaan
aliran fiqh dalam beberapa madzhab tersebut.
Abu Hanifah menetapkan al-Qur’an sebagai sumber pokok, setelah itu hadits Nabi, baru
kemudian fatwa sahabat. Dan metodenya dalam menerapkan qiyas serta istihsan sangat
kental sekali.
Sedangkan Imam Malik lebih cenderung menggunakan metode yang sesuai dengan
tradisi yang ada di Madinah. Beliau termasuk Imam yang paling banyak menggunakan
hadits dari pada Abu Hanifah, hal ini mungkin dikarenakan banyaknya hadits yang beliau
temukan.
Selain dua Imam di atas, tampil juga Imam Syafi’i. Ia dikenal sebagai sosok yang
memiliki wawasan yang sangat luas, didukung dengan pengalamannya yang pernah
menimba ilmu dari berbagai ahli fiqh ternama. Hal ini menjadikan beliau mampu
meletakkan pedoman dan neraca berfikir yang menjelaskan langkah-langkah yang harus
dilakukan oleh mujtahid dalam merumuskan hukum dari dalilnya. Kemudian beliau
menuangkan kaidah-kaidah ushul fiqh yang disertai dengan pembahasannya secara
sistematis yang didukung dengan keterangan dan metode penelitian ke dalam sebuah
kitab yang terkenal dengan nama “Risalah“.
Risalah ini tidak hanya dianggap sebagai karya pertama yang membahas metodologi
ushul fiqh, akan tetapi juga sebagai model bagi ahli-ahli fiqh dan para ahli yang datang
kemudian untuk berusaha mengikutinya. Atas jasanya ini beliau dinilai pantas disebut
sebagai orang yang pertama kali menyusun metode berfikir tentang hukum Islam, yang
selanjutnya populer dengan sebutan “ushul fiqh“. Bahkan ada salah seorang orientalis
yang bernama N.J Coulson menjuluki Imam Syafi’i sebagai arsitek ilmu fiqh. Namun
yang perlu digarisbawahi, bahwa bukan berarti beliaulah yang merintis dan
mengembangkan ilmu tersebut, karena jauh sebelumnya seperti yang telah dijelaskan
diatas, bahwa mulai dari para sahabat, tabi’in bahkan dikalangan para Imam mujtahid
sudah menemukan dan mengunakan metodologi dalam perumusan fiqh, hanya saja
mereka belum sampai menyusun keilmuan ini secara sistematis, sehingga belum dapat
dikatakan sebagai suatu khazanah ilmu yang berdiri sendiri.
Sepeninggal Imam Syafi’i pembicaraan tentang ushul fiqh semakin menarik dan
berkembang. Pada dasarnya ulama pengikut Imam mujtahid yang datang kemudian,
mengikuti dasar-dasar yang sudah disusun Imam Syafi’i, namun dalam
pengembangannya terlihat adanya perbedaan arah yang akhirnya menyebabkan
perbedaan dalam usul fiqh.
Sebagian ulama yang kebanyakan pengikut madzhab Syafi’i mencoba mengembangkan
ushul fiqh dengan beberapa cara, antara lain: mensyarahkan, memperrinci dan
mencabangkan pokok pemikiran Imam Syafi’i, sehingga ushul fiqh Syafi’iyyah
menemukan bentuknya yang sempurna. Sedangkan sebagian ulama yang lain mengambil
sebagian dari pokok-pokok Imam Syafi’i, dan tidak mengikuti bagian lain yang bersifat
rincian. Namun sebagian lain itu mereka tambahkan hal-hal yang sudah dasar dari
pemikiran para Imam yang mereka ikuti, seperti ulama Hanafiyah yang menambah
pemikiran Syafi’i.
Setelah meninggalnya Imam-imam mujtahid yang empat, maka kegiatan ijtihad
dinyatakan berhenti. Namun sebenarnya yang berhenti adalah ijtihad muthlaq. Sedangkan
ijtihad terhadap suatu madzhab tertentu masih tetap berlangsung, yang masing-masing
mengarah kepada menguatnya ushul fiqh yang dirintis oleh Imam-imam pendahulunya.
PENUTUP
Ilmu fiqh merupakan ilmu agama Islam yang pertama yang merumuskan secara
sistematis, yakni pada abad ke 2 H. Orang yang pertama kali merumuskan, menciptakan,
dan membukukan ilmu ushul fiqh ini adalah Muhammad ibn Idris Al-Syafi’I ( 150-204 H
atau 767-820 M ) dengan kitabnya yang berjudul Al-Risalah. Beliau meninggal di Mesir
pada tahun 204 H. Salah satu pendorong diperlukannya pembukuan ushul fiqh adalah
perkembangan wilayah Islam yang semakin luas, sehingga tidak jarang menyebabkan
timbulnya berbagai persoalan yang belum diketahui kedudukan hukumnya.
Untuk itu studi perbandingan hukum Islam atau perbandingan madzhab (taqrir bainal
madzaahib) perlu untuk makin digiatkan. Sebab salah satu kelebihan dari hukum Islam
dibanding hukum lainnya adalah kekayaan dan keragaman khazanahnya yang
menyebabkannya memiliki banyak alternatif yang bisa saling melengkapi dan dipadukan.
Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana melahirkan dan
mengkampanyekan pemahaman fiqh (terutama dalam fiqh ibadah) yang bisa
mempersatukan seluruh umat Islam. Sehingga jangan sampai ada lagi konflik di
masyarakat hanya gara-gara masalah perdebatan.
Demikianlah uraian singkat ini mengenai Sejarah Perkembangan Usul Fiqh. Semoga
bermanfaat bagi para pembaca dalam rangka pengembangan hukum Islam. Jika dalam
tulisan ini terdapat kesalahan mohon pembaca untuk memperbaikinya agar jauh dari
kekeliruan. Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat konstruktif
(membangun) dari para pembaca. Dengan selalu mengharap ridha dan rahmat Allah
SWT. Penulis akhiri tulisan ini dengan kata Wassalam. Amin.
REFERENSI
- Adi, Muh Faizin. 2009. (Fayadip@yahoo.co.id dan fayadip@plasa.com).
- Bakry, Nazar. 2003. Fiqh dan Ushul Fiqh. Jakarta : Raja Grafindo Persada.
- Sudrajat, Ahmad. 2009. http://wordpress. Com.
- Thib, Raya Ahmad, dan Musdah Mulia, Siti. 2003. Menyelami Seluk Beluk Ibadah
Islam. Jakarta : Prenada Media.
- Wahab Khallaf, Abdul. 2002. Sejarah Pembentukan dan Perkembangan Hukum Islam,
Jakarta : Raja Grafindo Persada.
- http://rizkisaputro.blogspot.com ,Sejarah Ushul Fiqh. 2009.