Anda di halaman 1dari 70

TINJAUAN TATA RUANG PENYIMPANAN REKAM MEDIS

RAWAT JALAN BERDASARKAN ASPEK K3(KESEHATAN


DAN KESELAMATAN KERJA)TERHADAP PETUGAS
REKAM MEDIS GUNA KELANCARAN PELAYANAN
DI RSUP Dr. HASANSADIKIN BANDUNG

REVIEW OF FILE STORAGE SPACE OUTPATIENT MEDICAL


RECORD BASED ON K3 ASPECTS (HEALTH AND WORK
SAFETY) TOWARD MEDICAL RECORD OFFICER
TO SUPPORT THE EXCELLENT SERVICE IN
RSUP Dr. HASAN SADIKN BANDUNG

TUGAS AKHIR

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Dalam Menyelesaikan Pendidikan


Program Diploma III Gelar Ahli Madya Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Politeknik TEDC Bandung

Disusun Oleh :
SUKMAWATI SALIM
E71151040

PROGRAM STUDI REKAM MEDIS DAN INFORMASI


KESEHATAN POLITEKNIK TEDC
BANDUNG
2018
LEMBAR PENGESAHAN

TINJAUAN TATA RUANG PENYIMPANAN REKAM MEDIS


RAWAT JALAN BERDASARKAN ASPEK K3(KESEHATAN
DAN KESELAMATAN KERJA)TERHADAP PETUGAS
REKAM MEDIS GUNA KELANCARAN PELAYANAN
DI RSUP Dr. HASANSADIKIN BANDUNG

Tugas Akhir Telah Disahkan Dan Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Dalam Menyelesaikan Pendidikan Diploma III Program Studi Rekam Medis
Dan Informasi Kesehatan Politeknik TEDC Bandung

Cimahi, Maret 2018

SUKMAWATI SALIM RM E71151040

Menyetujui,

Pembimbing, Penguji I,

Sapta Lestariyowidodo., S.Pd, SST. RMIK, M.M.RS. M. Zaenal Arifin, S.Apt ., M.M. Kes

i
ABSTRAK

REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN


SUKMAWATI SALIM
E71151040

TINJAUAN TATA RUANG PENYIMPANAN REKAM MEDIS RAWAT


JALAN BERDASARKAN ASPEK K3 TERHADAP PETUGAS REKAM
MEDIS GUNA KELANCARAN PELAYANAN DI RSUP DR. HASAN
SADIKIN BANDUNG.
Terdiri dari 5 bab, 52 halaman, 2 tabel, 5 gambar 3 lampiran
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kenyataan ruang penyimpanan rekam
medis instalasi rawat jalan RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung yang kurang
ergonomis diantaranya: penyimpanan berkas rekam medis rawat jalan terdapat
didalam satu ruangan yang berukuran 12x8 meter dengan rak terbuka sebanyak
100, dengan tidak adanya loker di ruang penyimpanan dan diruang rekam medis
terdapat atap yang bocor, tidak disedikan sarung tangan, kuranganya alat
pelindung diri, penyedot debu dan serangga dilaksanakan tidak terjadwal. Penulis
melakukan penelitian dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan
deskriptif. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara,
dokumentasi dan studi pustaka.
Hasil penelitian penelitian penulis adalah , dikarenakan ketidakseimbang
antara ruang penyimpanan dengan jarak antar rak dan pintu masuk ventilasi yang
kurang sehingga menyebabkan ketidaknyamanan bagi petugas.
Penulis juga menyarankan agar penataan ruangan, pengaturan jarak antar
rak dengan konsisten, perbaikan ventilasi, penyediaan alat pelindung diri yang
mudah digunakan oleh petugas, permintaan untuk penyimpanan rak ke bagian
umum secepat mungkin, terus meningkatkan efektivitas kerja agar berjalan
dengan baik dan lancar.
Kata Kunci: Ruang Penyimpanan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)

ii
ABSTRACT

MEDICAL RECORD AND HEALTH INFORMATION


SUKMAWATI SALIM
E71151040

REVIEW OF FILE STORAGE SPACE OUTPATIENT MEDICAL RECORD


BASED ON K3 ASPECTS (HEALTH AND WORK SAFETY) TOWARD
MEDICAL RECORD OFFICER TO SUPPORT THE EXCELLENT SERVICE
IN RSUP DR. HASAN SADIKIN BANDUNG.
5 Chapter, 52 pages, 2 table, 6 pictures
This research is motivated by the fact of storage spacehis research is motivated by
the fact of storage room of medical record file of outpatient installation of Dr.
Hasan Sadikin Bandung which is less ergonomic include: storage of medical
records outpatient file is in one room measuring 12x8 meters with 100 open
shelves, medical record room there is a leaking roof, no storage place,
kuranganya personal protective equipment, vacuum cleaner and insects carried
out unscheduled. The author conducted research using qualitative method with
descriptive approach. Technique of collecting data by observation, interview,
documentation and literature study
From the research that can be concluded: the imbalance between storage space
with the distance between racks, the less ventilation causing inconvenience for the
officer.
Suggestions: spatial arrangement, consistent arrangement of spacing between
shelves, ventilation repair, provision of self-protection tools that are easy to use
by officers, demand for shelf storage to the public as quickly as possible,
continuing to improve work effectiveness to run smoothly.
Keywords: Storage Room, K3 (Health and Work Safety)

iii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas
rahmat dan karunia-Nya lah penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang
berjudul “Tinjauan Tata Ruang Peyimpanan Rekam Medis Rawat Jalan
Berdasarkan Aspek K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) Terhadap
Petugas Rekam Medis Guna Kelancaran Pelayanan di RSUP Dr. Hasan
Sadikin Bandung”. Penulisan Tugas Akhir ini disusun diajukan untuk
persyaratan akademik dalam menyelesaikan Program Diploma III Program Studi
Rekam Medik dan Informasi Kesehatan di Politeknik TEDC Bandung.

Selama penulisan Tugas akhir ini, penulis telah banyak mendapatkan


petunjuk, bimbingan dan arahan serta semangat yang luar biasa telah diberikan
oleh berbagai pihak. Pada kesempatan ini, perkenankan penulis menyampaikan
ucapan terimakasih kepada:

1. Drs. R. Ginting M.Ed selaku Pembina Yayasan Daya Juang Bangsa yang
telah memfasilitaskan proses pembelajaran.
2. Drs. Sueb M.Si.M.Pd, selaku Direktur Polieknik TEDC Bandung yang telah
memberikan kebijikan dalam proses pembelajaran sehingga penulis dapat
melaksanakan perkuliahan dengan baik.
3. Yeti Suryati, M.M. Pd. Selaku ketua Prodi Rekam Medis Politeknik TEDC
Bandung yang telah mengatur dan membimbing jurusan Rekam Medis
dengan baik.
4. Dr. R. Nina Susana Dewi, Sp. PK(K)., M.Kes., MMRS. Selaku Direktur
RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung yang telah mengijinkan penulis
melaksanakan praktik kerja lapangan dan penelitian.
5. Teguh Redy S., S.ST. RMIK, M.M. Kes, selaku Kepala Rekam Medis RSUP
Dr. Hasan Sadikin Bandung yang telah memberikan izin untuk penelitian
6. Muhamad Sobur, Amd.PK., SST.RMIK, selaku Kepala Sub Instalasi
Pengelolaan Rekam Medis Rawat Jalan (IRJ) RSUP Dr. Hasan Sadikin

iv
v

Bandung beserta seluruh staf penyimpanan rawat jalan yang telah membantu,
membrikan ilmu dan bimbingannya.
7. Sapta Lestariyowidodo, S.Pd, SST. RMIK, MM.RS. selaku dosen
pembimbing Tugas Akhir yang telah meluangkan waktunya untuk
membimbing penulis.
8. Segenap dosen dan staf Politeknik TEDC Bandung yang selalu memberikan
dukungan serta ilmu selama perkuliahan.
9. Seluruh staf RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung khususnya Instalasi Rekam
Medis yang memberi ilmu dan bimbinganya.
10. Yang tercinta Papa (Salim Rabo S.Pd) Mamah (Salma Husen) dan adikku
Tersayang (Darmawan salim, Andini salim & M. Hafid salim) yang telah
memberikan doa dukungan dan motivasi dalam menyelasaikan Tugas Akhir
ini.
11. Serta seluruh keluarga besar saya (Sudin Husen, Ajus Ibrahim, Karman Rabo,
S.Pd) dan Umi (Hikmah Albar) saudaraku (Rasmi Rabo, Nurfifti adam,
Ekawiwi prasetya, Novita Buamona, Khansa Amina Marinda, Muhammad
didin amin) yang telah memberi motivasi dan pengetahuan kepada penulis
selama ini.
12. Teman terdekat Muhammad Nofit Latara yang selalu memberikan doa dan
dukungan moril kepada penulis sehingga bisa menyelesaikan tugas akhir ini.
13. Teman-teman (Olvyanti, Sitti nur rachmushifal, Tila amalia, Rahmawati Nur
pratiwi, Suci nur insani, dan angkatan RMIK 15 serta sahabat-sahabat yang
tak bisa disebut satu-persatu, untuk saling mendukung dan memberi semangat
serta pengalaman dan pengetahuan kepada penulis sehingga bisa
menyelesaikan bersama-sama.

Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan Tugas Akhir ini masih jauh
dari kata sempurna, oleh karena itu kiranya pembaca dapat memberikan kritik
maupun saran demi perbaikan penulisan dalam Tugas Akhir ini. Semoga Tugas
Akhir ini bermanfaat bagi khalayak ramai dan khususnya bagi penulis dan bagi
pembaca.
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................................... i


ABSTRAK ......................................................................................................................... ii
ABSTRACT ....................................................................................................................... iii
KATA PENGANTAR ...................................................................................................... iv
DAFTAR ISI..................................................................................................................... vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................................. x
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................................ xi
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................. 1
A. Latar Belakang ........................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ................................................................................................... 4
C. Batasan Masalah ..................................................................................................... 5
D. Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................................................................... 5
1. Tujuan Penelitian ................................................................................................ 5
2. Manfaat Penelitian .............................................................................................. 5
3. Sistematika Penulisan ......................................................................................... 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................................... 7
A. Ergonomi................................................................................................................. 7
1. Pengertian Ergonomi .......................................................................................... 7
2. Ruang Lingkup Ergonomi ................................................................................... 7
3. Tujuan Ergonomi ................................................................................................ 8
4. Manfaat Ergonomi .............................................................................................. 8
5. Sasaran Ergonomi ............................................................................................... 9
B. Kondisi Lingkungan Kerja yang Mempengaruhi Manusia ..................................... 9
1. Penerangan atau Pencahayaan ............................................................................ 9
2. Temperatur ........................................................................................................ 10
3. Kelembaban ...................................................................................................... 10
4. Sirkulasi Udara.................................................................................................. 10
5. Kebisingan ........................................................................................................ 10
6. Getaran mekanis................................................................................................ 11

vi
vii

7. Bau-bauan ......................................................................................................... 11
8. Tata warna......................................................................................................... 11
9. Dekorasi ............................................................................................................ 12
10. Keamanan ......................................................................................................... 12
C. Tata Ruang Kantor ................................................................................................... 12
1. Pengertian Tata Ruang Kantor .......................................................................... 12
2. Tujuan Tata Ruang ............................................................................................ 12
3. Macam-Macam Tata Ruang .............................................................................. 13
4. Langkah-Langkah Dalam Menyusun Tata Ruang Kantor ................................ 13
5. Pentingnya Tata Ruang Kantor ......................................................................... 13
D. Filling ....................................................................................................................... 14
1. Pengertian Filling .............................................................................................. 14
2. Aturan Prosedur Penyimpanan.......................................................................... 14
3. Ruang Penyimpanan Rekam Medis .................................................................. 14
4. Keadaan Fisik Unit Rekam Medis .................................................................... 15
5. Sistem Penyimpanan ......................................................................................... 16
6. Alat penyimpanan ............................................................................................. 18
7. Sistem Penomoran ............................................................................................ 18
E. Rekam Medis ........................................................................................................... 19
1. Pengertian Rekam Medis …………………………………………..……...….19
2. Tujuan dan Kegunaan Rekam Medis ................................................................ 19
3. Dasar Hukum Rekam Medis ............................................................................. 23
4. Tugas Pokok dan Fungsi ................................................................................... 24
5. Sistem Pelayanan Rekam Medis ....................................................................... 24
6. Manfaat Rekam Medis ...................................................................................... 25
F. Pelayanan Rawat Jalan ............................................................................................. 25
1. Pengertian Rawat Jalan ..................................................................................... 25
2. Rekam Medis Rawat Jalan ................................................................................ 26
G. Kesehatan dan Keselamatan Kerja .......................................................................... 27
1. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja .................................................. 27
2. Tujuan Kesehatan dan Keselamatan Kerja ....................................................... 28
3. Peranan Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit ............................ 28
H. Kelancaran Pelayanan ............................................................................................. 30
viii

1. Pengertian Kelancaran 30
2. Pengertian Pelayanan ........................................................................................ 30
BAB III METODE PENELITIAN ............................................................................... 30
A. Metode Penelitian ................................................................................................. 30
B. Teknik Pengumpulan Data .................................................................................... 30
C. Kerangka Berfikir ................................................................................................. 33
D. Defenisi Operasional ............................................................................................. 33
1. Ruang Penyimpanan ......................................................................................... 34
2. Petugas Rekam Medis ....................................................................................... 34
3. Kesehatan dan Keselamatan Kerja .................................................................... 34
4. Perbaikan Tata Ruang ....................................................................................... 34
5. Kelancaran Pelayanan ....................................................................................... 34
6. Berjalanya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) ......................................... 34
E. Tempat dan Waktu Penelitian .............................................................................. 34
1. Tempat Penelitian ............................................................................................. 34
2. Waktu Penelitian ............................................................................................... 34
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................................... 36
A. Gambaran Umum RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung ........................................ 36
1. Profil RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung ............................................................. 36
a. Sejarah RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung ...................................................... 36
b. Visi, Misi, Tujuan, dan Moto RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung ................... 40
c. Tugas Pokok dan Fungsi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung .......................... 41
d. Struktur Organisasi dan Tata Kerja RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung .......... 41
2. Profil Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung ....................... 42
a. Organisasi Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung ........... 42
b. Visi, Misi, Tujuan dan Moto Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. Hasan Sadikin
Bandung .................................................................................................................... 42
c. Tugas Pokok dan Fungsi Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. Hasan Sadikin
Bandung .................................................................................................................... 42
d. Struktur Organisasi dan Tata Kerja Rekam Medis RSUP Dr. Hasan Sadikin
Bandung .................................................................................................................... 43
e. Staff dan Pimpinan Rekam Medis RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung ............ 44
f. Hasil dan Pembahasan ...................................................................................... 45
1. Ruang Penyimpanan Rekam Medis Rawat Jalan .............................................. 45
ix

2. Faktor Penyebab Ruang Penyimpanan Rekam Medis Rawat Jalan Kurang


Ergonomis ................................................................................................................. 45
3. Upaya Instalasi Penyimpanan Rekam Medis Rawat Jalan ............................... 47
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................................... 49
A. Kesimpulan ........................................................................................................... 49
B. Saran ..................................................................................................................... 50
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 51
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Jadwal Penelitian ................................................................................35


Tabel 4.1 Suhu Berdasarkan Waktu ...................................................................46

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. 1 Ruang Penyimpanan Rawat Jalan Tidak Tertata Rapi .................. 2


Gambar 1.2 Ruang Penyimpanan Rekam Medis Rawat Jalan Yang Bocor ...... 3
Gambar 1.3 APAR di Ruang Penyimpanan Rawat Jalan .................................. 4

Gambar 4.1 Jarak wastafel sangat dekat dengan rak Penyimpanan .................. 47

xi
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ruang penyimpanan rekam medis yaitu ruangan yang menyimpan berkas
rekam medis pasien yang telah selesai berobat di rumah sakit. Di ruang rekam
medis tersebut petugas rekam medis harus bertanggung jawab penuh terhadap
kelengkapan dan penyediaan berkas sewaktu-waktu dapat dibutuhkan di rumah
sakit. Menurut Permenkes RI No 269/Menkes/Per/III/2008 rekam medis adalah
berkas yang berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan,
pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.
Rekam medis juga berguna sebagai bukti tertulis atau tindakan- tindakan
pelayanan yang diberikan kepada pasien.
Untuk mengerjakan pekerjaan sangat dibutuhkan situasi yang aman dan
nyaman bagi para pegawai, adapun dalam mewujudkan hal tersebut dapat
didukung dengan cara menciptakan penaataan ruangan yang ergonomis dan juga
perlengkapan yang sesuai sehingga dapat menuju keektifitas dalam pelayanan
yang diberikan oleh petugas yang bekerja dibagian rekam medis. Dengan adanya
ruangan rekam medis yang ergonomis dapat mempercepat dan memperlancar
proses pelayanan pasien sehingga pasien mendapat kepuasan dan khususnya para
petugas rekam medis pun menjadi nyaman dalam bekerja.
Petugas harus betul-betul menjaga agar berkas rekam medis tersebut
tersimpan dengan rapih dan diatur dengan baik dan terlindung dari kemungkinan
pencurian berkas atau pembocoran isi rekam medis. Di ruang penyimpanan rawat
jalan merupakan kegiatan penyimpanan rekam medis bertujuan untuk melindungi
dari kerusakan fisik dan isinya itu sendiri. Berkas Rekam medis harus dijaga dan
dirawat karena merupakan benda yang sangat berharga bagi rumah sakit.
Salah satu aspek yang mendukung sarana penunjang berupa penyelanggaraan
rekam medis sebagaimana yang telah ditetapkan seluruh sarana pelayanan
kesehatan harus memiliki fasilitas rekam medis yang baik dan, diantaranya
tersedia rak penyimpanan dan ruangan yang memadai unuk kelancaran pelayanan

1
2

rekam medis. (Ery Rusiyanto dan W. Ambar Rahayu 2011:15), jarak ideal untuk
akses jalan petugas antar rak satu dengan rak lainya yaitu 80cm-200cm (Ery
Rustiyanto) sedangkan lorong dibagian sub rak yaitu 90cm (Dirjen Yanmed,
2006) Hal ini disebabkan karena rekam medis dapat digunakan sebagai alat utama
untuk mengatur pelayanan kesehatan yang telah diberikan rumah sakit.
Untuk dapat melaksanakan fungsi rekam medis dengan baik, maka perlu
adanya penataan ruang yang baik serta sarana, guna menunjang K3 ( Kesehatan
dan Keselamatan Kerja) bagi petugasnya, kesehatan dan keselamatan kerja yaitu
suatu upaya untuk menekan atau mengurangi resiko kecelakaan dan penyakit
akibat kerja yang pada hakikatnya tidak dapat dipisahkan antara kesehatan dan
keselamatan.
Beradasarkan hasil observasi yang telah dilakukan oleh penulis, ruang
penyimpanan rekam medis di Intlasi Rawat Jalan Rumah Sakit Hasan Sadikin
dapat dikatakan kurang ergonomis diantaranya: ruang penyimpanan berkas rekam
medis rawat jalan terdapat didalam satu ruangan ukuran 12 x 8 meter dengan
jumlah rak terbuka sebanyak 100, dengan tidak adanya loker di ruang
penyimpanan rekam medis sehingga membuat petugas meletakan tas dan jaket di
gantung pada dinding sehingga terlihatnya ruangan tersebut tidak tertata dengan
rapi.

Sumber: Penulis (2018)

Gambar 1. 2
Ruang Penyimpanan Rawat Jalan Tidak Tertata Rapi
3

terdapat 5 kipas angin yang menempel di atas dinding ruang penyimpanan 4 di


depan 1 dibelakang, 11 Hexosfan dan memiliki atap yang bocor adapun wastafel
di ruangan penyimpanan jaraknya sangat dekat dengan rak penyimpanan sehingga
akses jalan petugas dapat terhambat dalam mengambil berkas rekam medis.
Sedangkan untuk pelindung diri hanya terdapat masker dan tidak disediakan
sarung tangan. Dari hal tersebut belum terlihat adanya kesadaran bagi petugas
penyimpanan, menggunakan masker untuk mencegah timbulnya masalah
pernapasan menjadi faktor tidak tercapainya kesehatan dan keselamatan kerja.
Begitu pula handsainitizer, di intsalasi rekam medis hanya terdapat 1 botol di
ruang penyimpanan dan terdapat 1 APAR (Alat Pemadam Api Ringan). Penyedot
debu dan pembasmi serangga, pernah dilakasanakan tapi tidak terjadawal.
Disamping latar belakang tersebut, belum adanya SPO (Standar Prosedur
Operaional) tempat penyimpanan dan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja)
yang terdapat pada instalasi rekam medis, terdapat tim K3RS ( Kesehatan dan
Keselamatan Kerja di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung).

Sumber: Penulis (2018)

Gambar 1.2
Ruang Penyimpanan Rekam Medis
Rawat Jalan Yang Bocor
4

Sumber: Penulis (2018)

Gambar 1.3
APAR di Ruang Penyimpanan Rawat Jalan
Dari gambaran diatas menunjukan betapa pentingnya penataan ruangan yang
ergonomis terhadap K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) di instalasi rekam
medis RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Berdasarkan latar belakang tersebut
penulis tertarik untuk mengangkat judul “ Tinjauan Tata Ruang Penyimpanan
Rekam Medis Rawat Jalan Berdasarkan Aspek K3 (Kesehatan dan
Keselamatan Kerja) Terhadap Petugas Rekam Medis Guna Kelancaran
Pelayanan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung”

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi tata ruang penyimpanan berkas rekam medis rawat
jalan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung?
2. Faktor apa saja yang menyebabkan ruang penyimpanan berkas rekam
medis rawat jalan kurang ergonomis di RSUP Dr. Hasan Sadikin
Bandung?
3. Upaya apa saja yang telah dilakukan dalam mengatasi permasalahan
terhadap kesehatan dan keselamatan petugas rekam medis di ruang
penyimpanan RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung?
5

C. Batasan Masalah
Dari latar belakang masalah diatas, penulis membatasi permasalahan yang
akan dibahas hanya ruang penyimpanan berkas rekam medis rawat jalan
berdasarkan aspek K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) terhadap petugas
rekam medis guna kelancaran pelayanan di RSUP Dr. Hasan Sadikin
Bandung

D. Tujuan dan Manfaat Penelitian


1. Tujuan Penelitian
a. Untuk mengetahui bagaimana kondisi ruang penyimpanan berkas
rekam medis rawat jalan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.
b. Untuk mengetahui faktor apa saja yang menyembabkan ruang
penyimpanan berkas rekam medis rawat jalan kurang ergonomis di
RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.
c. Untuk mengetahui upaya apa saja yang dilakukan dalam mengatasi
masalah terhadap kesehatan dan keselamatan petugas rekam medis di
ruang penyimpanan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.

2. Manfaat Penelitian
a. Dapat dijadikan masukan terhadap ruang penyimpanan berkas rekam
medis rawat jalan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
b. Dapat megurangi faktor apa saja penyebab ruang penyimpanan rekam
medis di RSUP Hasan Sadikin Bandung yang belum ergonimis
c. Dapat melakasanakan upaya dan mengatasi masalah terhadap
kesehatan dan keselamatan petugas rekam medis di ruang
penyimpanan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.

3. Sistematika Penulisan
Untuk memberikan gambaran secara umum dalam memahami penulisan
ini, maka secara gambaran sistematis penulisan ini dibagi menjadi
6

beberapa bab, dimana masing-masing bab saling berkaitan. Berikut ini


adalah sistematika penulisanya:
Bab I Pendahuluan
Bab ini berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, batasan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab II Tinjauan Pustaka
Bab ini menjelaskan mengenai teori-teori yang akan menjadi dasar dari
topik penelitian dan berhubungan dengan judul “Tinjauan Tata Ruang
Penyimpanan Rekam Medis Rawat Jalan Berdasarkan Aspek K3
(Kesehatan dan Keselamatan Kerja) Terhadap Petugas Rekam Medis Guna
Kelancaran Pelayanan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung”.
Bab III Metode Penelitian
Bab ini menjelaskan metode penelitian yang digunakan dalam
menyelesaikan masalah berdasarkan kerangka konsep yang telah
ditetapkan sebelumnya dalam tugas akhir ini.
Bab IV Hasil dan Pembahasan
Bab ini berisi tentang gambaran umum, hasil dan pembahasan penelitian
yang telah dilaksanakan di instalasi Rekam Medis RSUP Dr. Hasan
Sadikin Bandung.
Bab V Penutup
Bab ini berisi beberapa kesimpulan yang dapat diambil selama
melaksanakan penelitian dan saran kepada pihak rumah sakit dari
pembahasan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Ergonomi
1. Pengertian Ergonomi
Menurut Wowo Sunaryo Kuswanda (2016) ergonomi yaitu ilmu
yang penerapanya berusaha untuk menserasikan pekerjaan dengan
lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan mencapai
produktifitas dan efesiensi melalui pmanfaatan faktor manusia.
Secara umum ergonomi didefinisikan suatu cabang ilmu yang statis
untuk memanfaatkan informasi-informasi mengenai sifat, kemampuan
dan keterbatasan manusia dalam merancang suatu sistem kerja sehingga
orang dapat hidup dan bekerja pada sistem itu dengan baik, yaitu
mencapai tujuan yang diinginkan melalui pekeraan itu dengan efektif,
sehat, nyaman dan efesien. Tidak hanya hubungannya dengan alat,
ergonomi juga mencangkup pengkajian ineraksi antara manusia dengan
unsur-unsur sistem kerja lain, yaitu bahan dan lingkungan, bahkan juga
metoda dan organisasi.
2. Ruang Lingkup Ergonomi
a. Ergonomi Lingkungan
Ergonomi lingkungan ini berhubungan dengan pecahayaan,
temperatur, kebisingan, getaran, topik-topik yang relevan dalam
ergonomi lingkungan yaitu: perancangan ruang kerja, sistem akustik
dll.
b. Ergonomi Fisik
Berkaitan dengan anatomi tubuh manusia, antropometri,
karakteristik, fisiologi dan biomekanika yang berhubungan dengan
aktifitas fisik yaitu: postur kerja, pemindahan material, gerakan
berulang-ulang, tata letak tempat kerja, kesehatan dan keselamatan

7
c. Ergonomi Kongnitif
Berkaitan dengan mental manusia yaitu: persepsi, ingatan dan reaksi
sebagai akibat dari interaksi manusia terhadap pemakaian elemen
sistem, topic-topik yang relevan dalam ergonomi kongnitif yaitu:
beban kerja, pengambilan keputusan, performance, human computer
ineraction, kendala manusia dan steres kerja
d. Ergonomi Organisasi
Ergonomi organisasi ini berkaitan dengan optimasi sistem
sosioleknik termasuk struktur organisasi, kebijakan dan proses,
topik-topik yang relevan dalam ergonomi organisasi yaitu:
komunikasi, perencannan kerja, perancangan waktu kerja, teamwork,
perancangan partisipasi, komunitas ergonomi culture organisasi,
organisasi virtual dan lain-lain
3. Tujuan Ergonomi
Untuk menciptakan suasana kerja yang nyaman dan aman, diharapkan
akan mendapatkan efesiensi kerja yang efektif dan meningkatkan
produktifitas kinerja sumber daya manusia yang ada.
4. Manfaat Ergonomi
Manfaat ergonomi secara umum yaitu:
a. Mengadakan perhatian terhadap kondisi tenaga kerja
b. Menciptakan tubuh yang ergonomic
c. Pembebanan kerja sesuai dengan kemampuan pegawai
d. Mengatur lingkungan kerja yang tepat
e. Menilai dan mengatur organisasi kerja
f. Meningkatkan kesehatan dan keselamatan kerja
g. Memperbaiki kualitas produksi.
Guna mendapatkan manfaat dari ergonomi diatas, maka perlu dibuat
program yang meliputi kegiatan pokok, antara lain:
1) Evaluasi dan koreksi keadaan ergonomi di tempat kerja melalui
kunjungan ke perusahaan oleh suatu tim dan melakukan penilaian,

8
9

menganalisis keadaan ergonomi dan mencari alternatif penerapan


sesuai dengan kebutuhan
2) Melakukan standarisasi dalam ergonomi atas dasar data yang
diperoleh khususnya dari evaluasi dan perbaikan.
5. Sasaran Ergonomi
Target utama sasaran ergonomi adalah agar pegawai khususnya praktisi
kesehatan dapat mencapai prestasi kerja yang tinggi dan disertai suasana
yang tentram, aman dan nyaman. Sasaran lain dari ergonomi terhadap
seluruh pertugas dan pegawai, baik sektor modern maupun sektor
tradisional adalah sebagai berikut:
a. Sektor modern
Pada sektor modern penerapan dimulai dalam bentuk pengaturan
sikap, tata cara kerja dan perencanaan kerja yang tepat
b. Sektor tradisional
Pada sektor tradisional umumnya pekerjaan dilakukan dengan tangan
dan memakai peralatan, dengan sikap badan dan cara kerja yang
secara ergonomi dapat diperbaiki.

B. Kondisi Lingkungan Kerja yang Mempengaruhi Manusia


Penelitian nurhayati Siagian (2016) dalam jurnalnya yang berjudul
“Pengaruh Ergonomi Terhadap Petugas Rekam Medis Tenang Aspek
Keamanan Penyimpanan Rekam Medis menyebutkan faktor-faktor yang
mempengaruhi terbentuknya suatu kondisi lingkungan kerja dikaitkan dengan
kemampuan petugas diantaranya:
1. Penerangan atau Pencahayaan
Penerangan atau pencahayaan di tempat kerja sangat besar
manfaatnya guna mendapatkan keselamatan dan kelancaran dalam bekerja,
oleh sebab itu perlu diperhatikan adanya penerangan atau pencahayaan
yang terang, akan tetapi tidak menyilaukan. Cahaya yang kurang jelas
mengakibatkan penglihatan kurang jelas, sehingga pekerjaan menjadi
terhambat. Banyak mengalami kesalahan dan akhirnya mengakibatkan
10

kurang efesien dalam melaksanakan pekerjaan sehingga tujuan sulit untuk


dicapai.
2. Temperatur
Dalam keadaan normal setiap tubuh manusia mempunyai temperature
tubuh yang berbeda, temperatur yang terlalu dingin akan menurunkan
semangat untuk bekerja, sedangkan temperatur yang terlalu panas akan
mengakibatkan timbul kelelahan tubuh dalam bekerja petugas cenderung
akan mendapat banyak kesalahan.
3. Kelembaban
Kelembaban adalah banyaknya air yang terkandung dalam udara, karena
kelembaban ini berhubungan atau dipengaruhi oleh temperatur udara dan
secara bersama-sama antara temperatur, kelembaban, kecepatan udara
bergerak dan radiasi panas dari udara tersebut akan mempengaruhi
keadaan tubuh manusia saat menerima atau melepaskan panas dari
tubuhnya. Suatu keadaan dengan temperatur sangat panas dan
kelembabannya tinggi akan menimbukan pengurangan panas dari tubuh
secara besar-basaran karena sistem penguapan. Pengaruh lain adalah
semakin cepatnya denyut jantung karena semakin aktifnya peredaran darah
untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan tubuh manusia selalu berusaha
untuk mencapai keseimbangan antara panas tubuh dan sekitarnya.
4. Sirkulasi Udara
Oksigen adalah gas yang sangat dibutuhkan oleh makhluk hidup
terutama manusia untuk menjaga kelangsungan hidupnya. Yaitu untuk
proses metabolisme. Udara disekitar dikatakan kotor apabila kadar oksigen
dalam udara tersebut telah berkurang dan telah bercampur gas atau bau-
bauan yang berbahaya bagi kesehatan tubuh, sedangkan sirkulasi udara
adalah bagaimana udara dapat bergerak bebas di dalam ruangan.
5. Kebisingan
Salah satu masalah yang cukup membuat para petugas sulit untuk
mengatasinya adalah kebisingan, bunyi yang tidak dikehendaki oleh
telinga karena karena dalam jangka panjang bunyi tersebut dapat
11

menganggu ketenangan dalam bekerja. Disamping itu dapat merusak


pendengaran dan dapat menimbulkan kesalahan dalam berkomunikasi,
bahkan menurut penelitian kebisingan serius bisa menyebabkan kematian.
Karena pekerjaan membutuhkan konsentrasi, maka suara bising
hendaknya dihindari agar pelaksanaan pekerjaan dapat dilakukan dengan
efesien sehingga kinerja petugas meningkat
6. Getaran mekanis
Getaran mekanis adalah getaran yang ditimbulkan oleh alat mekanis,
sebagian besar dari getaran ini sampai ke tubuh pegawai dan dapat
menimbulkan akibat yang tidak diinginkan. Besarnya getaran ditentukan
oleh intensitas dan frekuensi getaranya. Getaran mekanis umumnya sangat
menganggu tubuh karena ketidakteraturanya, baik tidak teratur dalam
intensitasnya maupun frekuensinya.
Secara umum getaran mekanis dapat mengganggu tubuh dalam hal:
a. Konsentrasi bekerja
b. Datangnya kelelahan
c. Dapat timbulnya penyakit, diantaranya gangguan telinga, mata, syaraf
peredaran darah dll.
7. Bau-bauan
Adanya bau-bauan disekitar tempat kerja dapat dianggap sebagai
pencemaran, karena dapat mengganggu konsentrasi bekerja, dan bau-
bauan yang terjadi secara terus- menerus dapat mempengaruhi kepekaan
penciuman. Pemakaian AC ( Air conditioner) yang tepat merupakan salah
satu cara yang dapat digunakan menghilangkan bau-bauan yang
mengganggu disekitar
8. Tata warna
Menata warna ditempat kerja perlu dipelajari dan direncanakan
dengan baik, karena warna tidak dapat dipisahkan dari dekorasi. Hal ini
dapat dimaklumi karena warna mempunyai pengaruh besar terhadap
perasaan. Sifat dan pengaruh warna juga menimbulkan rasa senang, sedih
dllkarena dalam sifat warna dapat merangsang perasaan manusia.
12

9. Dekorasi
Dekorasi ada hubungannya dengan warna yang baik karena itu
dekorasi tidak hanya berkaitan dengan hiasan ruang kerja saja, tetapi
berkaitan dengan cara mengatur tata letak, tata warna, perlengkapan dll.
10. Keamanan
Guna menjaga tempat dan kondisi lingkungan kerja tetap dalam
keadaan aman, maka perlu diperhatikan adanya keamanan dalam bekerja.
Oleh karena itu, faktor keamanan perlu diwujudkan keberadaanya. Salah
satu upaya untuk menjaga keamanan ditempat kerja adalah dapat
memanfaatkan tenaga satuan pengamanan (satpam).

C. Tata Ruang Kantor


1. Pengertian Tata Ruang Kantor
Menurut Sadarmayanti (2009:125), tata ruang kantor dapat di artikan
dapat diartikan sebagai pengaturan dan penyusunan seluruh mesin kantor,
alat perlengkapan kantor, serta perabot kantor diletakan pada tempat yang
tepat sehingga pegawai dapat bekerja dengan baik, nyaman, luas dan
bebas bergerak dalam melakukan pekerjaan.
2. Tujuan Tata Ruang
Pengaturan tata ruang yang baik akan mengakibatkan pelaksanaan
pekerjaan kantor akan lebih lancer
a) Menjamin kelancaran proses pekerjaan.
b) Mencegah penghamburan tenaga dan waktu pegawai karena
prosedur kerja dapat dipersingkat.
c) Memungkinkan pemakaian ruang kerja lebih efesien.
d) Mencegah terganggu oleh suara bising dan lainya.
e) Menciptkan kenyamanan kerja pegawai.
f) Memberi kesan yang baik terhadap para pengunjung kantor.
13

3. Macam-Macam Tata Ruang


a. Tata Ruang Berkamar
Tata ruang berkamar adalah ruangan untuk bekerja yang dipisah atau
dibagi dalam kamar atau ruang bekerja.
b. Tata Ruang Kantor Terbuka
Tata ruang kantor terbuka yaitu ruang kerja yang cukup luas ditempati
oleh beberapa pegawai untuk melakukan pekerjaan bersama-sama
tanpa ada skat atau pemisah yang permanen.
c. Tata Ruang Kantor Berhias atau Bertaman
Tata ruang kantor berhias atau bertaman adalah tata ruang yang dihiasi
taman, hiasan dan dekorasi lainnya.
4. Langkah-Langkah Dalam Menyusun Tata Ruang Kantor
a. Mengetahui hubungan satuan kerja yang melaksanakan tata usaha
dengan setuan kerja lainya
b. Mengetahui sifat pekerjaan rahasia atau tidak rahasia
c. Membuat gambar atau denah ruangan dengan memakai skala,
cantumkan panjang dan lebar ruangan, beri tanda untuk pintu, jendela
dan lainnya.
d. Menyusun meja, kursi pegawai dan peralatan lainnya.
e. Menyusun denah konsep tata ruang dengan memperhitungkan
kemungkinan perubahan yang disebabkan oleh: penambahan atau
pengurangan pegawai, perubahan atau penggantian alat kerja,
perubahan prosedur kerja, perubahan/pengurangan pekerjaan.
5. Pentingnya Tata Ruang Kantor
Tata ruang kantor harus di susun secara ilmiah dan hal ini memerlukan
pengetahuan tentang arus pekerjaan, syarat perseorangan pekerjaan
apakah yang akan dilakukan dengan cara yang baik untuk
mengerjakannya, pandangan jauh dengan apa yang akan diperlukan pada
waktu yang akan datang.
14

Tata ruang merupakan segi yang penting bagi seorang manager kantor
karena:
a. Suatu tata ruang kantor yang direncanakan dengan baik membantu
dalam efesiensi pekerjaan yang dilakukan.
b. Pengawasan dapat dipermudah
c. Hubungan dapat terjalin dengan baik
d. Arus pekerjaan menjadi lebih lancar
D. Filling
1. Pengertian Filling
Filling adalah kegiatan penyimpanan, penataan atau penyimpanan
(storage) berkas rekam medis untuk mempermudah pengambilan kembali
( Ery Rustiyanto dan W.A Rahayu, 2011:15).
2. Aturan Prosedur Penyimpanan
Aturan dan prosedur dalam penyimpanan dokumen rekam medis adalah
sebagai berikut:
a. Ketika dokumen rekam medis dikembalikan di unit rekam medis
harus disortir terlebih dahulu sebelum disimpan.
b. Dokumen rekam medis yang foldernya sudah rusak atau sobek harus
diganti
c. Memeriksa arsip dibuku peminjaman rekam medis untuk mengetahui
dokumen rekam medis sudah dikembalikan atau belum.
d. Dokumen rekam medis yang melibatkan kasus hukum tidak boleh
disimpan terlebih dahulu.
e. Setiap petugas penyimpanan masing-masing harus bertanggung jawab
memelihara kerapihan dan keteraturan rak-rak file.
f. Harus ada prosedur dan tugas pokok kerja yang tertulis untuk masing-
masing staf.
3. Ruang Penyimpanan Rekam Medis
Rekam medis harus disimpan karena merupakan suatu arsip yang sangat
penting bagi rumah sakit. Filing adalah kegiatan menyimpan, penataan
15

atau penyimpanan (storage) berkas rekam medis untuk mempermudah


pengambilan kembali (Retrieval).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam ruang penyimpanan berkas rekam
medis menurut Ery Rustiyanto dan W.A Rahayu adalah:
a. Suhu udara diruang penyimpanan berkas rekam medis berkisar antara
18-28`C, sedangkan untuk kelembaban ruangan berkisar 40-60%
b. Persyaratan ruang khusus dibagian filling yaitu:
1) Struktur bangunan harus kuat, terpelihara, bersih dan tidak
memungkinkan terjadinya gangguan kesehatan dan kecelakaan
bagi petugas filling.
2) Lantai terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata,
tidak licin dan bersih.
3) Dinding bersih dan berwarna terang, langit-langit kuat berwarna
terang, ketinggian minimal 2,5-3 meter dari lantai
c. Ruang penyimpanan harus aman (untuk melindungi berkas rekam
medis dari kerusakan, kehilangan atau digunakan oleh pihak yang
tidak berwenang).
d. Pencahayaan menurut Kepmenkes Nomor 1405 tahun 2002 tenteng
pencahayaan adalah jumlah penyinaran pada suatu bidang kerja yang
diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efektif. Intensitas
pencahayaan diruang kerja minimal 100 lux.
4. Keadaan Fisik Unit Rekam Medis
Berdasarkan ketetapan yang terdapat dalam Kepmenkes Nomor 1204
tahun 2004, unit rekam medis termasuk zona dengan risiko rendah.
Adapun standar bangunan ruangan yang sesuai adalah:
a. Permukaan dinding harus rata dan warna terang
b. Lantai harus terbuat dari bahan yang kuat, mudah dibersikan, kedap
air, warna terang dan pertemuan antara lantai dengan dinding harus
berbentuk konus.
16

c. Langit-langit harus terbuat dari bahan multipleks atau bahan yang


kuat, warna terang, mudah dibersihkan, kerangka kuat dan tinggi
minimal 2,7 meter dari lantai.
d. Lebar pintu minimal 1,2 meter dan tinggi minimal 2,1 meter serta
ambang bawah jendela minimal 1 meter dari lantai.
e. Ventilasi harus dapat menjamin aliran udara didalam kamar atau
ruang dengan baik, maka harus dilengkapi dengan penghawaan
mekanis (exhauster)
f. Semua stop kontak dan saklar dipasang pada ketinggian minimal 1,4
meter dari lantai.
5. Sistem Penyimpanan
Kegiatan menyimpan rekam medis merupakan usaha melindungi rekam
medis dari kerusakan fisik dan isi dari rekam medis itu sendiri. Rekam
medis harus disimpan dan dirawat dengan baik karena rekam medis
merupakan harta benda rumah sakit yang sangat berharga.
Ada 2 (dua) cara pengurusan penyimpanan dalam pengelolaan rekam
medis yaitu:
1. Sentralisasi
Sentralisasi adalah penyimpanan rekam medis pasien dalam satu
kesatuanbaik catatan kunjungan poliklinik maupun catatan selama
seorang pasien dirawat, disimpan pada satu tempat yaitu bagian
rekam medis.
a) Kelebihan
1. Terjadinyan duplikasi dalam pemeliharaan dan penyimpanan
2. Mengurangi jumlah pembiayaan, untuk peralatan dan
pembuatan ruangan.
3. Peningkatan efesiensi petugas dalam penyimpanan atau
penemuan kembali Dokumen rekam medis.
4. Lebih efektif didalam pelaksanaan koordinasi dan control
didalam penyimpanan.
5. Pengguna alat dan prosedur lebih mudah diseragamkan.
17

6. Dokumen rekam medis lebih terjamin keselamatannya baik


fisik maupun informasinya
7. Memudahkan didalam pelaksanaan penyusun Dokumen rekam
medis.
8. Lebih muda dalam menjaga hubungan data, baik data rawat
jalan, inap maupun UGD.
b) Kekurangan
1. Petugas lebih sibuk, karena menangani rawat jalan dan rawat
inap.
2. Sistem penerimaan pasien harus 24 jam
3. Jika tempat/ unit kerja berjauhan, maka akan menimbulkan
permasalahan bagi penggunaan atau pemakaian Dokumen
rekam medis, sehingga nilai akan accesibility kurang
terpenuhi.
2. Desentralisasi
Desentralisasi adalah penyimpanan rekam medis pada masing-
masing unit pelayanan. Terjadi pemisahan antara rekam medis
pasien poliklinik dengan rekam medis pasien dirawat. Rekam medis
poliklinik disimpan pada poliklinik yang bersangkutan, sedangkan
rekam medis pasien dirawat disimpan dibagian rekam medis.
a) Kelebihan
1. Efesien waktu, sehingga pasien lebi cepat mendapatkan
pelayanan
2. Beban kerja petugas lebih ringan
b) Kekurangan
1. Banyak terjadi duplikasi
2. Biaya untuk pembuatan rak dan ruangan lebih banyak
3. Membutuhkan rak dan ruangan yang banyak
4. Membutuhkan banyak tenaga pelaksana
18

6. Alat penyimpanan
a. Rak Terbuka
Rak terbuka lebih dianjurkan karena:
1) Harganya lebih murah
2) Petugas dapat mengambil dan menyimpan berkas rekam medis
lebih cepat
3) Menghemat ruangan dengan menampung lebih banyak berkas
rekam medis dan tidak terlalu memakan tempat
b. Lemari Lima Laci
Apabila menggunakan lemari lima laci sebagai alat penyimpanan
rekam medis, maka ruangan akan terlihat lebih rapih dan berkas
rekam medis terlindungi dari debu dan kotoran. Namun satu
pemeliharaan yang baik, akan memelihara rekam medis tetap rapih
dengan menggunakan rak terbuka.
c. Roll O’pack
Roll o’pack adalah penyimpanan yang lebih modern, akan tetapi alat
penyimpanan ini hanya mampu dimiliki oleh beberapa rumah sakit
tertentu karena mengingat harganya yang mahal.
7. Sistem Penomoran
a. Pemberian Nomor Cara Seri ( Serial Numbering System)
Merupakan susatu sistem penomoran dimana setiap pasien berkunjung
di puskesmas atau sarana pelayanan kesehatan akan mendapatkan
nomor baru.
b. Pemberian Nomor Secara Unit ( Unit Numbering System)
1. Sosial Security Numbering System yaitu pemberian satu nomor
rekam medis kepada satu pasien.
2. Family Numbering System yaitu pemberian satu nomor rekam
medis yang digunakan seluruh anggota keluarga.
c. Pemberian Nomor Cara Seri Unit ( Serial Unit Numbering System)
Pemberian nomor dengan cara menggabungkan sisem seri dan unit.
19

E. Rekam Medis
1. Pengertian Rekam Medis
Pengertian rekam medis menurut beberapa sumber yaitu:
a. PERMENKES nomor 269/MENKES/PER/III/2008
Rekam medis adalah berkas yang berisi catatan dokumen antara lain
identitas pasien, hasil pemeriksaan serta tindakan dan pelayanan lain
yang telah diberikan kepada pasien. Catatan merupakan tulisan-tulisan
dibuat oleh dokter atau dokter gigi mengenai tindakan-tindakan yang
dilakukan kepada pasien dalam rangka pelayanan kesehatan.
b. Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam Pedoman
Penyelenggaran dan Prosedur Rekam Medis Rumah Sakit di
Indonesia. Revisi II (2006:11) yaitu:
Tentang identitas, anamnesa pemeriksaan fisik, pemeriksaan
penunjang, tindakan dan pelayanan yang diberikan kepada pasien
selama dirawat di rumah sakit yang dilakukan di unit-unit rawat jalan,
rawat inap, gawat darurat.
c. Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 pasal 46 ayat 1 tentang
praktek kedokteran, rekam medis adalah:
Berkas yang berisiskan catatan dokumen tentang identitas pasien,
pemeriksaan, pengobatan, tindakan dan pelayanan lain kepada pasien
pada sarana pelayanan kesehatan.

2. Tujuan dan Kegunaan Rekam Medis


Tujuan rekam medis mempunyai beberapa tujuan diantaranya untuk
tertib administrasi sebagai upaya peningkatan mutu pelayanan sebuah
institusi kesehatan khususnya rumah sakit, agar sejalan dengan sejalan
dengan apa yang diharapkan. Tanpa didukung suatu sistem pengelolaan
rekam medis yang baik dan benar, untuk tertib administrasi rumah sakit
sebagaimana yang telah diharapkan. Sedangkan tertib administrasi
merupakan salah satu faktor yang menentukan didalam upaya pelayanan
kesehatan di rumah sakit.
20

Adapun kegunaan rekam medis yang lain adalah sebagai berikut:


a. Bagi Pasien
1) Mencatat jenis pelayanan yang telah diterima.
2) Bukti pelayanan.
3) Memungkinkan tenaga kesehatan dalam menilai dan
menangani kondisi resiko.
4) Menegetahui biaya pelayanan
b. Bagi Pihak Pelayanan Kesehatan
1) Membantu kelanjutan pelayanan (sarana komunikasi).
2) Menggambarkan keadaan penyakit dan penyebab (sebagai
pendukung diagnostik kerja).
3) Menunjang pengambilan keputusa tentang diagnosis dan
pengobatan.
4) Menilai dan mengelola resiko perorangan pasien.
5) Memfasilitasi pelayanan sesuai dengan pedoman praktek klinis.
6) Mendokumentasi faktor resiko pasien
7) Menilai dan mencatat keinginan serta kepuasaan pasien.
8) Menghasilkan rencana pasien.
9) Menetapkan saran pencegahan atau promosi kesehatan.
10) Sarana pengingat para klinis.
11) Menunjang pelayanan pasien
12) Mendokumentasikan pelayanan yang diberikan.
c. Bagi Manejemen Pelayanan Pasien
1) Mendokumentasikan adanya kasus penyakit gabungan dan
praktiknya.
2) Menganaliasa kegawatan penyakit.
3) Merumuskan pedoman praktik penanganan resiko.
4) Memberikan corak dalam penggunaan saran pelayanan.
5) Melaksanakan kegiatan menjaga mutu
d. Bagi Penunjang Pelayanan Pasien
1) Alokasi sumber
21

2) Menganalisa kecenderungan dan mengembangkan dugaan.


3) Menilai beban kerja.
4) Mengkomunikasikan informasi berbagai unit kerja.
e. Bagi Pembayaran dan Penggantian Biaya
1) Mendokumentasikan unit pelayanan yang memungut biaya
pemeriksaan.
2) Menetapkan biaya yang harus dibayar.
3) Mengajukan pengklaiman asuransi.
4) Mempertimbangkan dan memutuskan pengklaiman asuransi.
5) Dasar dalam menetapkan ketidakmampuan dalam pembiayaan (
misalnya: kompensasi pekerjaan).
6) Menangani pengeluaran.
7) Melaporkan pengeluaran.
8) Menyelenggarakan analisis aktuarial (tafsiran pra penetapan
asuransi).
Kegunaan rekam medis menurut Hatta (2010) dapat dilihat
dari beberapa aspek, adalah sebagai berikut:
a. Aspek Administrai
Aspek administrasi adalah suatu berkas rekam medis
mempunyai nilai administrasi, karena menyangkut tindakan
berdasarkan wewenang dan tanggung jawab sebagai tenaga
medis dan paramedis dalam mencapai tujuan pelayanan
kesehatan.
b. Aspek Medis
Aspek medis adalah suatu berkas rekam medis
mempunyai nilai medis, Karena catatan tersebut dipergunakan
sebagai dasar untuk merencanakan pengobatan atau perawatan
medis yang diberikan kepada seorang pasien dan dalam rangka
mempertahankan serta meningkatkan mutu pelayanan melalui
kegiatan audit medis, manajemen resiko klinis serta keamanan
dan keselamatan pasien dan kendali biaya.
22

c. Aspek Hukum
Aspek hukum adalah berkas rekam medis mempunyai
nilai hukum, karena isinya menyangkut masalah jaminan
kepastian hukum atas dasar keadilan, dalam rangka usaha
menegakkan hukum serta penyediaan bahan sabagai tanda
bukti untuk menegakkan keadilan
d. Aspek Keuangan
Aspek keuangan adalah berkas rekam medis yang
mempunyai nilai uang, karena isinya mengandung data dan
informasi yang dapat dipergunakan sebagai aspek keuangan.
e. Aspek Penelitian
Aspek penelitian adalah berkas rekam medis yang
mempunyai nilai penelitian, karena isinya menyangkut data
dan informasi yang dapat dipergunakan sebagai aspek
pendukung penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan
bidang kesehatan.
f. Aspek Pendidikan
Aspek pendidikan adalah berkas rekam medis yang
mempunyai nilai pendidikan, karena isinya menyangkut data
dan informasi tentang perkembangan kronologi dari pelayanan
medis yang diberikan kepada pasien, informasi tersebut dapat
digunakan sebagai bahan atau referensi pengajaran dibidang
profesi pendidikan kesehatan.
g. Aspek Dokumentasi
Aspek dokumentasi adalah berkas rekam medis yang
mempunyai nilai dokumentasi, karena isinya menyangkut
sumber ingatan yang harus di dokumentasikan dan dapat
dipakai sebagai bahan pertanggungjawaban dan laporan rumah
sakit. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
informasi dapat diaplikasikan penerapanya dalam
23

penyelenggaraan dan pengelolaan rekam medis yang efektif


dan efesien. Pendokumentasian data medis seorang pasien
dapat dilaksanakan dengan mudah dan efektif sesuai aturan
serta prosedur yang telah ditetapkan.
Kegunaan rekam medis secara umum adalah:
1) Sebagai alat komunikasi anatar dokter dengan tenaga
kesehatan lainnya yang ikut ambil bagian dalam
memberikan pelayanan pengobatan dan tindakan kepada
pasien.
2) Sebagai alat dasar untuk merencanakan pengobatan,
perawatan yang harus diberikan kepada pasien.
3) Sebagai bukti tertulis atas segala tindakan pelayanan,
perkembangan penyakit dan pengobatan selama pasien
berkunjung atau di rumah sakit.
4) Sebagai bahan yang berguna untuk analisis, penelitian dan
evaluasi terhadap pelayanan yang diberikan kepada pasien.
5) Melindungi kepentingan hukum bagi pasien, dokter, rumah
sakit dan praktisi tenaga kesehatan lainya.
6) Menyediakan data khusus yang sangat berguna untuk
penelitian dan pendidikan.
7) Sebagai bahan dasar perhitungan biaya pembayaran
pelayanan medis pasien.
8) Menjadi sumber ingatan yang harus di dokumentasikan dan
sebagai bahan pertanggungjawaban dan laporan.

3. Dasar Hukum Rekam Medis


a. Dasar hukum penyelenggaraan rekam medis yaitu:
1) Peraturan Menteri Kesehatan Indonesia Nomor
269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis.
2) Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
1672/Menkes/Per/XII/2005
24

3) Undang-Undang Nomor 44 tahun 2009 Tentang Rumah Sakit.


4) Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran.
5) Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.

4. Tugas Pokok dan Fungsi


a. Tugas Pokok
Menyelenggarakan dan mengkordinasikan pelayanan rekam medis
dan pemantauan mutu rekam medis diseluruh unit pelayanan serta
menyelenggarakan dan mengkordinasikan pelayanan administrasi
pasien rawat inap rumah sakit.
b. Fungsi
1) Pemanatauan dan penilaian mutu pelayanan rekam medis, dan
penerimaan/admisi pasien.
2) Menyelanggarakan kegiatan penyusunan perencanaan kegiatan
dan anggaran pelayanan dan pengendalian mutu rekam medis.
3) Mengkordinasikan, menyelenggarakan kegiatan pelayanan
informasi tempat dan admisi pasien rawat inap.
4) Menyelenggarakan kegiatan pengawasan dan pengendalian,
perencanaan kebutuhan pelayanan rekam medis dan administarasi
pasien.
5) Menyelenggarakan kegiatan kesekretariatan unit rekam medis.
6) Megelola sumber daya agar dapat berfungsi secara efektif dan
efesien.
7) Melakukan evaluasi formulir rekam medis.

5. Sistem Pelayanan Rekam Medis


1. TPPRJ (Tempat Pelayanan Pasien Rawat Jalan)
2. TPPRI (Tempat Pelayanan Pasien Rawat Inap)
3. Assembling (Merakit Dokumen Rekam Medis)
25

4. Coding (Memberikan suatu kode penyakit, kode tindakan operasi,


kode dokter, kode wilayah, kode kematian atau kode-kode yang
berkaitan dengan proses pelayanan kesehatan)
5. Indexing (Mengelompokan kode-kode yang berkaitan dengan proses
pelayanan kesehatan, menjadi satu)

6. Manfaat Rekam Medis


Menurut Permenkes No.269 Tahun 2008 Pasal 13, manfaat rekam
medis sebagai berikut:
a. Pemeliharaan kesehatan dan pengobatan pasien
b. Alat bukti untuk penegakan hukum, disiplin kedokteran umum dan
kedokteran baik umum atau gigi
c. Keperluan pendidikan dan penelitian
d. Dasar pembiayaan pelayanan kesehatan
e. Data statistik kesehatan.

7. Kepemilikan Rekam Medis


Menurut permenkes No.269/Menkes/Per/III/2008/Pasal 12 tentang
kepemilikan rekam medis, yaitu berkas rekam medis milik sarana
kesehatan da nisi rekam medis adalah milik pasien.

F. Pelayanan Rawat Jalan


1. Pengertian Rawat Jalan
Pelayanan rawat jalan (ambulatory services) adalah salah satu
bentuk dari pelayanan kedokteran. Secara sederhana yang dimaksud
dengan pelayanan rawat jalan adalah pelayanan kedokteran yang
disediakan untuk pasien tidak dalam bentuk rawat inap. Dalam
pengertian pelayanan rawat jalan ini termasuk tidak hanya yang
diselenggarakan oleh sarana pelayanan kesehatan yang telah lazim
dikenal sebagai rumah sakit atau linik, tetapi juga diselenggarakan
26

dirumah pasien (home care) serta dirumah perawatan (nursing homes).


(Azwar,1996)
Menurut Huffman (Ekardius, 1999;90) “Pelayanan rawat jalan
(ambulatory service) adalah pelayanan yang diberikan kepada pasien
yang tidak di rawat sebagai pasien rawat inap”. Rawat jalan
merupakan salah satu unit kerja di rumah sakit yang melayani pasien
berobat jalan dan tidak lebih dari 24 jam pelayanan, termasuk seluruh
prosedur diagnostik dan terapi.
“Outpatient is patient who is receiving health care service at a
hospital without being hospitalized, institutionalized, and/or admitted
as an inpatient”. Artinya rawat jalan adalah pasien yang menerima
pelayanan kesehatan di rumah sakit tanpa dirawat di rumah sakit, atau
terdaftar sebagai pasien rawat inap (Ray dan tim, 1996).

2. Rekam Medis Rawat Jalan


Isi rekam medis untuk pasien rawat jalan pada sarana pelayanan
kesehatan yaitu:
a. Identitas pasien.
b. Tanggal dan waktu.
c. asil anamnesis, keluhan dan riwayat penyakit.
d. Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang medic.
e. Diagnosis.
f. Rencana penatalaksanaan.
g. Pengobatan dan tindakan.
h. Pelayanan lain yang telah diberikan kepada pasien.
i. Untuk pasien kasus gigi dilengkapi dengan odontogram klinik.
j. Pesetujuan tindakan bila diperlukan.
27

G. Kesehatan dan Keselamatan Kerja


1. Pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Penelitian Azza Ivana Siswi Jayanti (2014) yang berjudul “ Analisa
Komitmen Manajemen Rumah Sakit Terhadap Kesehatan dan
Keselamatan Kerja (K3) Pada RS Prima Medika Pemalang”,
menyebutkan bahwa Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan
suatu upaya perlindungan kepada tenaga kerja dan orang lain yang
memasuki tempat kerja terhadap bahaya dari akibat kecelakaan kerja.
Tujuan K3 adalah mencegah, mengurangi, bahkan meningkatkan resiko
penyakit dan kecelakaan akibat kerja ( KAK) serta meningkatkan derajat
kesehatan para pekerja sehingga produktivitas kerja meningkat.
Kesehatan dan keselamatan kerja bagi pekerja di rumah sakit dan fasilitas
medis lainya perlu diperhatikan. Demikian pula penanganan faktor
potensi berbahaya yang ada di rumah sakit serta metode pengembangan
program kesehatan dan keselamatan perlu dilaksanakan. Seperti
perlindungan, baik terhadap penyakit infeksi maupun non infeksi,
penanganan limbah medis, penggunaan alat pelindung diri dll. Selain
terhadap pekerja di fasilitas medis maupun rumah sakit, kesehatan dan
keselamatan kerja di rumah sakit harus concern dalam keselamatan dan
hak-hak pasien yang masuk kedalam program patient safety. Menurut
Mangkunegara (2002), indikator penyebab keselamatan kerja adalah:
a. Keadaan Tempat Lingkungan Kerja, meliputi
1) Penyusunan dan penyimpanan barang-barang berbahaya yang
kurang diperhitungkan keamananya.
2) Ruang kerja yang terlalu padat dan sesak.
3) Pembuangan kotoran dan limbah yang tidak pada tempatnya.
b. Pemakaian Peralatan Kerja, meliputi:
1) Pengamanan peralatan kerja yang sudah rusak.
2) Pengunaan mesin, alat elektronik tanpa pengamanan yang baik
pengaturan penerangan.
28

2. Tujuan Kesehatan dan Keselamatan Kerja


Kesehatan dan keselamatan kerja pada umumnya mencari dan
mengungkapkan kelemahan yang memungkinkan terjadinya kecelakaan.
Fungsi ini dapat dilakukan dengan dua cara yaitu mengungkapkan sebab-
akibat suatu kecelakaan dan meneliti apakah pengendalian secara cermat
dilakukan atau tidak. Tujuan dari kesehatan dan keselamatan kerja adalah:
a. Agar setiap pegawai mendapat jaminan kesehatan dan keselamatan
kerja, baik secara fisik, sosial dan psikologis
b. Agar setiap perlengkapan dan peralatan kerja digunakan sebaik-
bainkya seektif mungkin
c. Agar semua hasil produksi dipelihara keamanannya
d. Agar adanya jaminan atas pemeliharaan dan peningkatan kesehatan
gizi pegawai
e. Agar meningkatkan kegairahan, keserasian kerja dan partisipasi kerja
f. Agar setiap pegawai merasa aman, nyaman dan terlindungi dalam
bekerja
g. Agar terhindar dari gangguan kesehatan yang disebabkan oleh
lingkungan atau kondisi kerja

3. Peranan Kesehatan dan Keselamatan Kerja di Rumah Sakit


Pelaksanaan K3 (Kesehatan dan Keselamatan Kerja) adalah salah satu
bentuk upaya untuk menciptakan tempat kerja yang aman, sehat, bebas
dari pencemaran lingkungan, sehingga dapat mengurangi dan bebas dari
kecelakaan kerja serta penyakit akibat kerja yang pada akhirnya dapat
meningkatkan efesiensi produktivitas kerja.
Kecelakaan kerja tidak saja meimbulkan korban jiwa maupun kerugian
materi bagi pekerja dan pengusaha, tapi juga dapat menganggu proses
produksi secara menyeluruh, merusak lingkunganyang pada akhirnya
akan berdampak pada masyarakat luas.
Faktor-faktor penyebab terjadinya kecelakaan di rumah sakit, adalah:
29

a. Kurangnya K3 kesadaran bagi petugas akan pentingnya K3


b. Kualitas serta ketrampilan petugas yang kurang memadai
c. Tidak menggunakan alat-alat pengaman yang sudah disediakan
d. Tidak menghiraukan resiko pekerjaan
Potensi bahaya di rumah sakit selain penyakit infeksijuga ada
potensi bahaya lain yang mempengaruhi situasi dan kondisi di rumah
sakit, yaitu kecelakaan(ledakan, kebakaran, koslet listrik, dan sumber
lainya), radiasi bahan kimia berbahaya, gas anastesi, gangguan
psikosial dan ergonomi. Semua potensi bahaya tersebut jelas
mengancam jiwa dan kehidupan bagi pegawai di rumah sakit, pasie
maupun para pengunjung yang ada di lingkungan rumah sakit.
Secara garis besar bahaya yang dihadapi di rumah sakit atau
instalasi kesehatan dapat digolongkan dalam:
a. Bahaya kebakaran dan leadakan dari zat atau bahan yang mudah
terbakar atau meledak (obat-obatan)
b. Bahaya radiasi
c. Luka bakar
d. Shock akibat aliran listrik
e. Luka sayat akibat pecahan dan benda tajam
Dari berbagai potensi bahaya tersebut, maka perlu upaya untuk
mengendalikan, meminimalisir dan bila mungkin meniadakanya.
Oleh karena itu, kesehatan dan keselamatan kerja di rumah sakit
perlu dikelola dengan baik. Agar penyelenggaraan kesehatan dan
keselamatan kerja di rumah sakit lebih efektif, efesien dan terpadu
dengan usaha pengamanan, antara lain dengan penjelasan,
peraturan, serta penerapan disiplin kerja.
30

H. Kelancaran Pelayanan
1. Pengertian Kelancaran
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kelancaran adalah keadaan
lancarnya sesuatu, kelancaran pembangunan sangat bergantung pada
sarana, tenaga dan biaya yang tersedia.

2. Pengertian Pelayanan
Pelayanan adalah suatu kegiatan atau urutan kegiatan yang terjadi dalam
interaksi langsung antara seseorang dengan orang lain atau mesin secara
fisik dan menyediakan kepuasan pelanggan, pelayanandan juga dapat
diartikan sebagai usaha melayani kebutuhan orang lain (Hasyim : 2006).
Menurut Kotler (2002) pelayanan adalah setiap tindakan atau kegiatan
yang dapat ditawarkan oleh suatu pihak kepada pihak lain, yang pada
dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemelikan apapun
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan
deskriptif. Metode penelitian kualitatif merupakan metode penelitian yang
berlandaskan pada filsafah positivisme digunakan untuk meneliti pada kondisi
objek yang alamiah (Sugiyono 2015:15).
Metode deskriptif yaitu suatu metode penelitian yang yang dilakukan dengan
tujuan utama untuk membuat gambaran atau deskripsi tentang suatu keadaan
secara objektif (Notoatmodjo, 2010:).

B. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini diantaranya:
1. Observasi
Menurut Nototoadmodjo (2010:131) observasi ( pengamatan) adalah suatu
prosedur yang berencana, yang antara lain meliputi melihat,
mendokumentasikan dan mencatat sejumlah data dan taraf aktivitas
tertentu yang ada hubunganya dengan masalah yang diteliti.
Observasi dalam penelitian ini yaitu memperhatikan dan mengamati
langsung pada ruang penyimpanan rekam medis rawat jalan, kemudian
mencatat hasil yang diamati dengan mengunakan alat tulis yang
dibutuhkan.
2. Wawancara
Pada penilitian ini, penulis melakukan wawancara secara langsung
terhadap petugas rekam medis yang berada di ruang penyimpanan rekam
medis rawat jalan untuk mendapatkan informasi dan data yang diperlukan
oleh penulis serta untuk menjaga fakta dari hasil pengamatan

30
31
31
terhadap petugas rekam medis yang berada di ruang penyimpanan rekam medis
rawat jalan untuk mendapatkan informasi dan data yang diperlukan oleh penulis
serta untuk menjaga fakta dari hasil pengamatan.

30
32

3. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dokumen bisa
beebentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.
Peneliti juga menggunakan teknik dokumentasi guna mendukung dalam
pemantapan referensi yang mendukung laporan pengamatan dan observasi.
(Sugiyono, 2015:53)
4. Studi Pustaka
Penulis juga menggunakan kajian-kajian pustaka, internet, serta karya tulis
ilmiah mengenai pembahasan penulis yaitu tinjauan tata ruang
penyimpanan berkas rekam medis rawat jalan berdasarkan aspek K3
(kesehatan dan keselamatan kerja) terhadap petugas rekam medis guna
kelancaran pelayanan. Dengan mengadakan peninjauan terhadap sumber
lain untuk memperoleh referensi dan informasi yang akan dijadikan
sebagai landasan pemikiran yang bersifat teoritis dalam rangka
penyusunan penelitian ini.

C. Instrument Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat-alat yang digunakan untuk pengumpulan
data (Notoatmodjo,S. 2010:48). Instrument penelitian yang digunakan penulis
yaitu menggunakan:
1. Pedoman Wawancara
Merupakan suatu pedoman yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang
akan ditanyakan kepada suatu subyek yang hasilnya dapat mengetahui dan
mendapatkan informasi yang lengkap
Pedoman wawancara kepada petugas penyimpanan berkas rekam medis di
ruang rawat jalan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.
2. Meteran
Untuk mengukur luas penyimpanan berkas rekam medis rawat jalan dan
mengukur rak serta jarak antar rak.
33

3. Alat Tulis
Alat yang dipergunakan untuk mencatat dan mengumpulkan data
wawancara dan hasil ukur
4. Kamera
Alat yang digunakan untuk mendokumentasikan ruang penyimpanan yang
ada di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.
5. Termometer Ruangan
Alat yang dipergunakan untuk mengukur suhu ruangan.

D. Kerangka Berfikir
Uma Sekaaran dalam bukunya Business Research mengemukakan bahwa,
kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori
berhubungan dengan berbagai faktor yang didentifikasi sebagai masalah
penting (Sugiyono 2014).

Ruang Penyimpanan Rekam Kelancaran Pelayanan


Medis Rawat Jalan

1. Ruang Penyimpanan 1. Perbaikan Tata Ruang


2. Petugas Rekam Medis 2. Kelancaran Pelayanan
3. Kesehatan dan Keselamatan 3. Berjalanya Kesehatan dan
Kerja (K3) Keselamatan Kerja (K3)

Sumber: Penulis (2018)

Gambar 3.1 Kerangka Berfikir

E. Defenisi Operasional
Agar dapat diukur dengan menggunakan instrumen atau alat ukur, maka
variabel harus diberi batasan atau defenisi yang operasional atau “defenisi
operasional variabel”. Defenisi operasional variabel ini penting diperlukan
agar pengukuran variabel atau pengumpulan data (variabel) itu konsisten
antara sumber data (responden) yang satu dengan responden yang lainnya
(Notoatmodjo 2010: 111)
34

1. Ruang Penyimpanan
Ruang penyimpanan adalah ruangan untuk penataan rekam medis agar
mempermudah dalam kegiatan peminjaman atau pengambilan berkas di
RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.
2. Petugas Rekam Medis
Petugas rekam medis adalah orang yang berwenang dalam instalasi rekam
medis.
3. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
Kesehatan dan keselamatan kerja adalah suatu pemikiran dan upaya untuk
menjamin keutuhan dan kesempurnaan jasmani maupun rohani tenaga
kerja.
4. Perbaikan Tata Ruang
Perbaikan tata ruang adalah menata, memindahkan atau mengganti sarana
di ruangan tersebut untuk menciptakan keadaan yang nyaman.
5. Kelancaran Pelayanan
Kelancaran pelayanan adalah kegiatan yang dilakukan satu pihak kepada
pihak lain untuk mewujudkan kepuasan kepada pelanggan sehingga tidak
terjadi hambatan.
6. Berjalanya Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3)
Berjalanya kesehatan dan keselamatan kerja (K3) adalah upaya
perlindungan kepada tenaga kerja maupun orang lain yang memasuki area
kerja terhadap bahaya dari penyakit dan kecelakaan yang mungkin terjadi.

F. Tempat dan Waktu Penelitian


1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilakukan di ruangan penyimpanan rekam medis rawat jalan
di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, yang beralamat di jalan Pasteur
No.38 Bandung.
2. Waktu Penelitian
Waktu pelaksanaan pelaksanaan peneliti Tugas Akhir yang dilakukan
mulai dari tanggal 05 sampai dengan 24 Februari 2018
35

3. Jadwal Penelitian

Tabel 3.1 Jadwa Penelitian

Feb Mar April Mei


No Kegiatan
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 Studi pendahuluan dan pendidikan

2 penyusunan proposal

3 Bimbingan

4 Seminar Proposal

5 Bimbingan

6 Penyusunan Tugas Akhir

7 Sidang Tugas Akhir

Sumber Penulis (2018)


BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung


1. Profil RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
a. Sejarah RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung berdiri di atas lahan seluas 9 hektar
yang dulunya merupakan lahan perkebunan dan persawahan yang
diperoleh pemerintah belanda dari pemiliknya. Dimana salah satu pemilik
dari lahan tersebut adalah dr. Oman Danumiharja, berikut ini akan
dijelaskan mengenai sejarah RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung:
1) Awal Pembangunan dan Perkembangan Rumah Sakit
Pada tahun 1942, oleh belanda dijadikan rumah sakit militer yang
pengelolahnya diselenggarakan di Dinas Kesehatan Militer. Kemudian
tahun 1942 bala tentara jepang menduduki pulau jawa dan pemerintah
dikuasai jepang dan rumah sakit berganti nama menjadi Rigukun
Byoin sampai tahun 1945.
Pada Tahun 1948, kembali diperuntukan untuk umum. Dalam
perkembangan selanjutnya, rumah sakit masuk kebawah naungan
Kotapraja Bandung dan diberi nama Rumah Sakit Ranca Badak
(RSRB). Pimpinan masih oleh W. J. Van Thiel sampai tahun 1949.
Setelah itu rumah sakit dipimpin oleh dr. Peryono Suriodipuro sampai
tahun 1953.
Pada tahun 1954, oleh Menteri Kesehatan RSRB diteteapkan
menjadi RS propinsi, langsung dibawah Departemen Kesehatan. Pada
tahun 1956, RSRB ditetapkan menjadi Rumah Sakit Umum Pusat.
Rumah Sakit Umum Pusat Hasan Sadikin Bandung sebagai Rumah
Sakit Pendidikan
Peran RSUP Hasan Sadikin dalam dunia pendidikan diawali
pada tahun 1957, saat berdirinya Fakultas Kedokeran Universitas

36
37

Padjadjaran (FKUP), sebagai sarana pendidikan bagi para calon


dokter. Selanjutnya status sebagai Rumah Sakit Pendidikan
dikukuhkan pada tahun 1971, dilengkapi dengan berikutnya (1974,
1978, 1986, 2003 dan 2008). Kerjasama dalam bidang pendidikan dan
penelitian terus dikembangkan dan diperluas dengan berbagai institut
pendidikan tenaga medik, paramedis keperawatan, dan tenaga
kesehatan lainnya, serta tenaga non kesehatan. Pengembangan Rumah
Sakit Hasan Sadikin sebagai model Rumah Sakit Pendidikan di
Indonesia telah dituangkan dalam Master Plan Rumah Sakit Hasan
Sadikin tahun 1995.
2) Rumah Saakit Umum Pusat Hasan Sadikin Sebagai Rumah Sakit
Rujukan di Jawa Barat.
Dengan berpedoman pada Keputusan Menteri Kesehatan Nomor
124/Men/Kes/SK/IV/1978, Rumah Sakit Umum Pusat Hasan Sadikin
berstatus Rumah Sakit Rujukan Puncak (Top Referral Hospital) untuk
daerah jawa barat dan sekitarnya. Ketentuan ini masih berlaku sampai
sekarang.
Kegiatan utama RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung sebagai rumah
sakit rujukan adalah sebagai berikut:
a) Melaksanakan upaya pelayanan kesehatan.
b) Melaksanakan upaya rehabilitasi medik.
c) Melaksanakan upaya pencegahan akibat penyakit dan pemulihan
kesehatan.
d) Melaksanakan upaya perawatan, pendidikan dan latihan tenaga
medik dan paramedik.
e) Melaksanakan sistem rujukan referral system.
f) Menjadi tempat penelitian.
3) Rumah Sakit Umum Pusat Hasan Sadikin Sebagai Rumah Sakit Unit
Swadana .
Sebelum Rumah Sakit umum Hasan Sadikin menjadi Rumah Sakit
Swadana. Rumah Sakit Umum Pusat Hasan Sadikin berfungsi sebagai
38

Unit Pelaksana Teknis (UPT). Ini disebabkan sistem keuangan


diharuskan pendapatkan funsional rumah sakit disetorkan ke kas Negara,
sesuai UU perbendaharaan (ICW).
Dengan seringnya timbul permasalahan, maka Rumah Sakit Umum
Pusat Hasan Sadikin membuat tim perumus untuk mengajukan kepada
pemerintah agar pengelolaan RSHS diberi otonomi, hasilnya cukup
menggembirakan.
Usulan tersebut dapat diterima oleh pemerintah dengan keluarnya
Keputusan Presiden RI Nomor 38 tahun 1991 tanggal 26 Agustus 1991,
tentang penentapan RSUP dr. Hasan Sadikin sebagai Rumah Sakit
Swadana, dan surat Kepmenkes RI no 748/Menkes/SK/IX/1992, tanggal
2 September 1992 tentang penentapan RSHS menjadi Unit Swadana
Bersyarat, yang memberikan kemudahan dalam pengelolaan manajemen
rumah sakit.
Pada tahun 1998 status RSHS menjadi unit pengguna pendapatan
Negara Bukan Pajak (PNPB), seluruh pendapatan RS harus disetorkan ke
Negara dalam waktu 24 jam.
Kondisi tersebut dirasakan sangat menghambat kelancaran
operasional, antara lain tersendatnya penyediaan reagenansia
laboratorium yang diperarah dengan naiknya kurs dollar Amerika secara
tajam, sehingga menyebabkan pelayanan laboratoium, untuk
mengatasinya adalah dengan mengembangkan KSO (kerja sama
operasional) laboratorium pada tahun 1998.
4) RSHS Sebagai Rumah Sakit Perjan
Titik terang keberhasilan RSHS kembali suram dengan keluarnya
UU nomor 20 tahun 1997 tentang PNBP yang ditindak lanjuti dengan
Surat Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 124/KMK/.03/98,
membuat status RSHS sebagai Unit Swadana secara otomatis tidak
berlaku lagi. Seluruh pendapatan rumah sakit kembali harus disetorkan
ke kas Negara sebagai RS Pengguna Pendapatan Negara Bukan Pajak
(PNBP). Hal ini dapat menghambat kelancaran operasional dan
39

tersendatnya pelaksanaan program RSHS karena penggunaan pendapatan


harus melalui birokrasi yang panjang.
Keluarnya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
119/2000 pada tanggal 12 Desember 2000, yang membuat status RSHS
secara yuriditis berubah menjadi Perusahan Jawatan (Perjan) sehingga
seluruh potensi yang ada di RSHS dapat dioptimalkan kembali.
Keterbatasan pemerintah dalam pembiayaan pelayanan rumah sakit
yang semakin menurun, sedangkan rumah sakit dituntut untuk
meningkatkan mutu pelayananya, pemerintah mengubah paradigmanya
lebih berperan sebagai katalis dengan melepaskan bidang-bidang yang
dapat dikerjakan oleh rumah sakit (steering rather than rowing). Status
perjan rumah sakit, terkendala dengan perundang-undangan yang baru,
sehingga sejak 2005 RSHS bersama 12 rumah sakit lainnya, berubah
status menjadi unit yang menerapkan pola pengelolaan keuangan Badan
Layanan Umum (PPK-BLU). TAHUN 2002 yang merupakan awal
efektif sebagai Perjan, Rumah Sakit Hasan Sadikin telah mencapai
kinerja yang baik dibandingkan dengan tahun 2001 dan tahun 2004
diprognosakan akan mencapai kinerja yang lebih baik dibandingkan
tahun sebelumnya.
Sejarah direktur yang pernah menjabat di RSUP Dr. Hasan Sadikin
Bandung adalah sebagai berikut:
a) W.J. van Thiel (Alm) (1945-1949)
b) dr. H. R. ParyonoSuriodipuro (Alm) (1949-1953)
c) dr. H. ChasanBoesoirie, Sp.THT (Alm) (1953-1965)
d) dr. HasanSadikin (Alm) (1965-1967)
e) dr. R. Adjidarmo (Alm) (1967-1970)
f) dr. Tubagus Zuchardi (Alm) (1970-1975 & 1975-1979)
g) Prof. dr. SuganaTjakrasudjatma, SpM (1979-1985)
h) dr. ImamHilman, SpR (1985-1989)
i) dr. H. Oman Danumihardja, SpPD (Alm) (1989-1995)
j) dr. H. Rachman Maas, SpR (1995-1998)
40

k) dr. H. EmpuDriyanto, SpTHT (1998-2003)


l) Prof. Dr. Cissy R.S. Prawira. Dr., SpA(K), M.Sc, Direktur
Utama (2001-2009)
m) dr. H.M Rizal Chaidir, SpOT(K), M.Kes(MMR), FICS,
Direktur Utama (2009-2010)
n) dr. H. BayuWahyudi, MPHM, Sp.OG, Direktur Utama (2010-
2014)
o) dr. Ayi Djambersari, MARS. Sejak 2014-sekarang

5) RSHS Sebagai Rumah Sakit BLU (Badan Layanan Umum)


Setelah menjadi Rumah Sakit perjan pada akhir tahun 2000,
mulai dari tahun 2005 RSHS menjadi Rumah Sakit BLU sampai dengan
sekarang.

b. Visi, Misi, Tujuan, dan Moto RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
1) Visi Rumah Sakit
“Menjadi institusi kesehatan yang unggul dan transformative dalam
meningkatkan status kesehatan masyarakat”
2) Misi Rumah Sakit
a) Menyelenggarakan pelayanan kesehatan paripurna dan prima,
yang terintegrasi dengan pendidikan dan penelitian.
b) Menyelenggarakan sistem rujukan pelayanan kesehatan
berjenjang yang bermutu.
c) Melakukan transformasi dalam mewujudkan status kesehatan
masyarakat yang lebih baik.
3) Tujuan
a) Terselenggaranya pelayanan kesehatan yang terintegrasi sesuai
standar, berorientasi pada kepuasan pelanggan menuju persaingan
di tingkat regional.
b) Terwujudnya RSHS sebagai model Rumah Sakit Pendidikan di
Indonesia.
41

c) Terwujudnya rumah sakit berbasis penelitian (research based


hospital).
d) Meningkatnya cost recorvery rumah sakit untuk menuju
kemandirian
4) Moto
“Kesehatan anda kepedulian kami”

c. Tugas Pokok dan Fungsi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung


1) Tugas Pokok
RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung mempunyai tugas untuk
menyelenggarakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang
dilaksanakan secara serasi, terpadu dan berkesinambungan dengan
upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan serta melaksanakan
upaya rujukan, pendidikan dan penelitian serta upaya lainnya sesuai
dengan kebutuhan.
2) Fungsi
Pelayanan medik dan penunjang medik, pelayanan kesehatan dan
asuhan keperawatan, pelayanan rujukan, pelayanan umum dan
operasional penunjang non medik, pengelolaan SDM rumah sakit,
pelayanan administrasi dan keuangan, penelitian dan pengembangan.

d. Struktur Organisasi dan Tata Kerja RSUP Dr. Hasan Sadikin


Bandung
RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dipimpin oleh seorang Direktur
Utama yang dibantu oleh empat direktorat, antara lain Direktorat Medik
dan Keperawatan, Direktorat Sumber Daya Manusia dan Pendidikan,
Direktorat Keuangan dan Direktorat Umum dan Operasional (struktur
organisasi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung terlampir).
42

2. Profil Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung


a. Organisasi Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
Instalasi rekam medis RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung adalah
organisasi yang dibawahi langsung oleh Direktur Medik dan Keperawatan.

b. Visi, Misi, Tujuan dan Moto Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. Hasan
Sadikin Bandung
1) Visi Rekam Medis
“Menjadi rekam medis berbasis teknologi di Indonesia”
2) Misi Rekam Medis
a. Menyelenggarakan pengelolaan rekam medis yang bermutu.
b. Menyelenggarakan pengelolaan rekam medis yang terintegrasi.
c. Menyelenggarakan pelayanan rekam medis dan prima yang
terintegrasi dengan pendidikan dan penelitian.
3) Tujuan Rekam Medis
a) Terselenggaranya pelayanan pendaftaran pasien secara cepat dan
tepat guna menunjang pelayanan prima.
b) Menunjang kelancaran dalam pelayanan pasien yang dilakukan
oleh tenaga kesehatan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung.
c) Mengolah data pelayanan rumah sakit menjadi informasi bermakna
dan bernilai keilmuan untuk berbagai kepentingan.
d) Mengolah data pelayanan rumah sakit menjadi informasi bermakna
dan bernilai keilmuan untuk berbagai kepentingan.
4) Moto Rekam Medis
“Data tepat, informasi cepat dan anda meminta kami menyediakan”

c. Tugas Pokok dan Fungsi Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. Hasan
Sadikin Bandung
1) Tugas Pokok
Instalasi Rekam Medis mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan,
evaluasi dan pengembangan Rekam Medis di RSUP Dr. Hasan
43

Sadikin Bandung serta melakukan penyiapan bahan penyusunan


rencana kebutuhan sumber daya dan pengelolaan rekam medis
2) Fungsi Instalasi Rekam Medis
Adapun fungsi Instalasi Rekam Medis sebagai berikut :
a) Membantu Direktur Medik dan Keperawatan dalam bidang
perencanaan, pengaturan, pelaporan dan pengawasan terhadap
kelancaran Rekam Medis Rawat Jalan, Rawat Inap dan Rawat
Darurat.
b) Mengkoordinir pengumpulan, dan pengelolaan data yang
berhubungan dengan pelayanan medis dan perawatan yang
diberikan rumah sakit.
c) Mengkoordinir penyelenggaraan, pengadaan dan penyimpanan
rekam medis rawat jalan, rawat inap dan gawat darurat.
d) Mengkoordinir penyelenggaraan, pembuatan surat keterangan
medis umum, asuransi dan surat keterangan lainya.
e) Melakukan koordinasi dengan unit lain di lingkungan rumah sakit
dalam pendidikan dan penelitian yang berhubungan dengan data-
data rekam medis sesuai dengan kebijakan yang telah di tetapkan
oleh direktur rumah sakit.
f) Bertanggung jawab atas terselenggaranya pengadaan, penyediaan
dan ketertiban serta menjaga keamanan dan kerahasiaan rekam
medis.

d. Struktur Organisasi dan Tata Kerja Rekam Medis RSUP Dr. Hasan
Sadikin Bandung
Instalasi Rekam Medis RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung adalah
organisasi yang langsung dibawahi Direktorat Medik dan Keperawatan,
yang dipimpin oleh seorang Kepala Instalasi Rekam Medis yang
membawahi tujuh (7) Kepala Sub Instalasi (struktur organisasi terlampir).
44

e. Staff dan Pimpinan Rekam Medis RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
Dikembalikan kepada Kepala Sub Instalasi dan dibantu oleh (7) Sub
Instalasi yang mempunyai tugas yaitu:
1) Kepala Sub Instalasi Pengelolaan Rekam Medis Rawat Jalan
Mempunyai tugas menyelenggarakan pendaftaran pasien rawat
jalan, pengolahan berkas rekam medis, penyimpanan dan peminjaman
berkas rekam medis serta pelaporan pesien rawat jalan.
2) Kepala Sub Instalasi Pengelolaan Rekam Medis Rawat Darurat
Mempunyai tugas menyelenggarakan pendaftaran pasien rawat
darurat, pendaftaran rawat inap, pengolahan rekam medis,
penyimpanan dan peminjaman berkas rekam medis, pelaporan pasien
rawat darurat serta coding klaim INA-CBG’s pasien JKN IGD.
3) Kepala Sub Instalasi Pengelolaan Rekam Medis Rawat Inap
Mempunyai tugas menyelenggarakan pengolahan berkas rekam
medis pasien rawat inap, seperti: analisis assembling, coding,
indeksing, penyajian dan morbiditas dan mortalitas dan coding klaim
INA-CBG’s pasien JKN rawat inap.
4) Kepala Sub Instalasi Pengelolaan Data dan Pelaporan
Mempunyai tugas menyusun dan menyiapkan laporan pelayanan
pasien di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung sesuai dengan sistem dan
ketentuan yang telah ditetapkan.
5) Kepala Sub Instalasi Pengelolaan Surat Keterangan Medis Umum
Mempunyai tugas mengelola sistem penyimpanan dan
peminjaman berkas rekam medis Rawat Inap dan memberikan
pelayanan pembuatan surat keterangan medis untuk keperluan
Asuransi, dan surat keterangan dokter.
6) Kepala Sub Instalasi Pengelolaan Rekam Medis Rawat Inap Khusus
Paviliun Parahyangan
Mempunyai tugas menyelenggarakan pendaftaran pasien JKN
rawat inap, pengolahan berkas rekam medis, memberikan pelayanan
pembuatan surat keterangan medis untuk keperluan Asuransi, surat
45

keterangan dokter lainya serta pelaporan pelayanan pasien rawat inap


khususnya Paviliun Parahyangan.
7) Kepala Sub Instalasi Pengelolaan Rekam Medis Gedung Kemuning
Mempunyai tugas menyelenggarakan pengolahan rekam medis
pasien rawat inap, penyimpanan dan peminjaman berkas rekam medis
peserta JKN PBI dan jamkesda serta melaksanakan pengolahan klaim
INA-CBG’s pasien rawat jalan, rawat inap PBI+Jamkesmas.

f. Hasil dan Pembahasan


Ruang penyimpanan rekam medis instalasi rawat jalan di RSUP Dr.
Hasan Sadikin Bandung digunakan sebagai tempat menyimpan berkas
rekam medis pasien rawat jalan dari pasien baru maupun pasien lama.
1. Ruang Penyimpanan Rekam Medis Rawat Jalan
Ruang penyimpanan rekam medis rawat jalan dengan panjang 12
meter dan lebar 8 meter serta tinggi ruangan 3 meter memiliki 1 pintu
dan 13 jendela. Terdapat 100 rak terbuka, terpasang 5 kipas angin yang
menempel diatas dinding ruang pnyimpanan 4 didepan dan 1
dibelakang, adapula 11 hexosfan, begitupun handsanitizer di instalasi
rekam medis hanya terdapat 1 botol di dalam ruang penyimpanan,
terdapat 1 APAR (Alat Pemadam Api Ringan) dan memiliki pegawai
sebanyak 15 orang, Penyedotan debu, pembasmi serangga dan tikus
pernah dilaksanakan tapi tidak terjadwal.
2. Faktor Penyebab Ruang Penyimpanan Rekam Medis Rawat Jalan
Kurang Ergonomis
a. Penataan Ruangan
Penataan ruangan yang belum ergonomis dengan luas ruangan
yang tidak seimbang dan tidak adanya loker sehingga membuat
petugas meletekaan barang seperti jeket dan tas di dinding tidak
tertata dengan rapi.
46

b. Jarak Antar Rak


Jumlah rak terbuka di penyimpanan rawat jalan sebanyak 100
rak. Jarak antar rak terbuka yaitu yang berjarak 76 cm. berdasarkan
hasil yang diperoleh dikatakan belum konsisten. Sedangkam standar
jarak antar rak yaitu 80cm – 200cm.
c. Ventilasi dan Hexsosfan
Dalam ruang penyimpanan rekam medis rawat jalan memiliki
ventilasi yang sangat kecil, sehingga tidak adanya pertukaran udara
secara langsung. Terpasang 5 kipas angin 4 didepan dan 1
dibelakang, terdapat 11 heexosfan semuanya berfungsi dengan baik.
d. Suhu Ruangan
Keadaan ventilasi yang kurang membuat suhu ruangan ditempat
penyimpanan rekam medis rawat jalan mencapai 29`C, di ruang
penyimpanan sehingga membuat petugas gerah dan kelelahan,
sedangkan standar suhu ruangan yaitu 18 – 28 ‘C

Tabel 4.1 Suhu Berdasarkan Waktu

No Jam Suhu

1 07.00- 09.00 WIB 27`C

2 10.00- 12.00 WIB 29`C

3 13.00- 15.00 WIB 29`C

Sumber: penulis (2018)

e. Kesehatan dan Keselamatan Kerja


Dalam upaya kesehatan dan keselamatan kerja, instalasi rekam
medis hanya terdapat 2 handsainitizer disimpaan di satu tempat dan
tidak disediakan sarung tangan. Keselamatan petugas dalam
akivitasnya sangat diutamakan, namun dalam ruang penyimpanan
47

rawat jalan tidak adanya hydran dan CCTV (Closed Circuit


Television). Begitupula terdapat 1 APAR (Alat Pemadam Api
Ringan) hanya ada di jalur penyimpanan dan adapun wastafel yang
jaraknya sangat dekat dengan rak penyimpanan sehingga membuat
petugas sulit untuk mengambil berkas apabila ada petugas yang
masuk di ruang penyimpanan dengan mempunyai satu pintu masuk
dan memiliki figer print agar bisa mempermudah petugas yang mau
masuk dan yang keluar.

Sumber:Penulis (2018)
Gambar 4.1
Jarak wastafel sangat dekat dengan rak Penyimpanan

3. Upaya Instalasi Penyimpanan Rekam Medis Rawat Jalan


Berdasarkan hasil yang diperoleh oleh peneliti melalui wawancara
dengan petugas penyimpanan untuk mengatasi masalah ruangan
yang tidak memadai dalam proses pelayanan.
a. Mengajukan permohonan kepada bagian umum untuk
permintaan loker atau tempat penyimpanan barang.
48

b. Mengajukan permohonan kepada bagian umum untuk


memperbaiki atap yang bocor.
c. Memaksimalkan ruangan yang ada agar proses pelayanan tetap
berjalan lancar.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh penulis di ruang
penyimpana rekam medis rawat jalan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dan
dari pembahasan yang telah dibahas, maka penulis mengambil keesimpulan
sebagai berikut:
1. Ruang penyimpanan berkas rekam medis rawat jalan di RSUP Dr. Hasan
Sadikin Bandung kurang ergonomis.
2. Faktor-faktor yang membuat ruang penyimpanan kurang ergonomis:
a. Penataan ruangan penyimpanan belum dikatakan seimbang karena didalam
ruangan tidak disediakan loker, dan rmemiliki atap yang bocor, sehingga
membuat petugas meletakan barang seperti jeket dan tas tidak tertata dengan
rapi.
b. Jarak antar rak belum teratur, jarak rak terbuka yaitu 65 cm. sedangkan
standarnya adalah 80 – 100 cm.
c. Ventilasi yang minim membuat kurangnya pertukaran udara secara
langsung. Terdapat 5 kipas angin 4 didepan 1 dibelakang dan 11 hexosfan.
d. Suhu ruangan 29`C ditambah dengan banyaknya petugas di ruang
penyimpanan sehingga membuat petugas mudah kelelahan karena gerah.
Standar suhu ruangan yaitu 18 -28`C.
e. Kurangnya alat pelindung diri bagi petugas.
3. Upaya yang telah dilakukan oleh instalasi rekam medis penyimpanan rawat
jalan yaitu:
a. Mengajukan permohonan kepada bagian umum untuk permintaan rak
penyimpanan barang atau loker.
b. Mengajukan permohonan kepada bagian umum untuk perbaikan atap yang
bocor.
c. Tetap memaksimalkan ruangan yang ada agar proses pelayanan tetap
berjalan dengan lancar.

49
50

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas maka penulis mencoba mengajukan
bebrapa pemecahan masalah untuk mengatasi dan memperbaiki permasalahan
yang terjadi. Adapun beberapa masukan yang dapat penulis sarankan sebagai
bahan perbaikan bagi RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung adalah sebagai
berikut:
1. Pengusahaan, perubahan dan penataan ruangan yang belum ergonomis.
2. Pengaturan jarak antar rak yang belum konsisten, penyediaan alat
pelindung diri bagi petugas, perbaikan ventilasi, serta perbaikan atap yang
bocor.
3. Mengajukan permintaan loker petugas penyimpanan barang di bagian
umum secepat mungkin.
4. Terus meningkatkan efektivitas kerja agar berjalan dengan baik dan lancar
DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jendral Pelayanan Medik. 2006. Pedoman Penyelenggaraan dan


Prosedur Rekam Medis Rumah Sakit di Indonesia Revisi II. Jakrta : Depkes
RI.

Dirjen Yanmed. (2006). Pedoman Pengelolaan Rekam Medis di Rumah Sakit


Indonesia. Jakarta. Depkes RI.

Gemala R. Hatta . 2010. Pedoman Manajemen Informasi Kesehatan di


Sarana Pelayanan Kesehatan. Universitas Indonesia.

Huffman, K. Edna, 1994, Health Information Management 10th edition. Berywn:


Physician Record Company.

Ivana, Azza dan Jayanti, Siswi 2014. Analisa Komitmen Manajemen Rumah Sakit
Terhadap Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Pada RS Prima Medika
Pemalang. Semarang: Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP.

Kemenkes RI. 2009. Undang-Undang Kesehatan Nomor 36 tentang Kesehatan.

Kepmenkes Nomor 1405 Tahun 2002 Tentang Kesehatan Lingkungan Kerja


Kantor

Kepmenkes Nomor 1204 Tahun 2004 Tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan


Rumah Sakit.

Kuswana, Wowo Sunaryo. 2016 Ergonomi dan K3 (Kesehatan dan Keselamatan


Kerja). Bandung PT Remaja Rosda Karya.

Notoatdmojo, S. 2010 Metopen Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


269/MENKES/PER/III/2008 Tentang Rekam Medis Jaakarta.

Rustiyanto, Ery dan Rahayu, W.A. 2011. Manajemen Filling Dokumen Rekam
Medis dan Informasi Kesehatan. Politeknik Kesehatan Permata Indonesia.

Sadarmayanti. 2009. Tata Kerja dan Produktivitas Kerja. Bandung: Mandar Maju

Siagian, Nurhayati. 2016. Pengaruh Ergonomi Terhadap Petugas Rekam Medis


Tentang Aspek Keamanan Penyimpanan Rekam Medis Rawat Inap di RSU Imelda
Pekerja Indonesia Medan Tahun 2016. Medan: APIKES Imelda Medan.

51
52

Sugiyono. 2015, Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Bandung Alfabeta

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktek


Kedokteran.

Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit
PEDOMAN WAWANCARA

1. Bagaimana ergonomi ruang penyimpanan berkas rekam medis rawat jalan di


RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung?
2. Faktor apa saja yang menyebabkan ruang penyimpanan berkas rekam medis
rawat jalan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung kurang ergonomis?
3. Upaya apa saja yang telah dilakukan untuk mengatasi permasalahan ergonimi
terhadap kesehatan dan keselamatan petugas rekam medis di ruang
penyimpanan di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung?
RIWAYAT HIDUP

Penulis yang bernama Sukmawati Salim lahir di Afa-Afa


pada tanggal 07 Maret 1998. Anak pertama dari bapak Salim
Rabo dan ibu Salma Husen serta mempunyai 2 orang adik
laki- laki dan 1 adik perempuan yang bernama Darmawan
Salim, Andini Salim dan M. Hafit Salim. Bertempat tinggal di
kel. Afa-Afa RT 004 RW 002 kota Tidore Kepulauan.

Pendidikan Formal :

1) SD Mononutu 2 Kota Ternate Tahun 2004 – 2009


2) MTS Negeri Mareku Kota Tidore Kepulauan Tahun
2009 – 2012
3) MA Swasta Mareku Kota Tidore Kepulauan Tahun
2012 – 2015

Pendidikan Non Formal :

1) Praktek Kerja Lapangan RSUP Dr. Hasan Sadikin


Bandung Tahun 2016
2) Praktek Kerja Lapangan Puskesmas Cimahi Utara Tahun
2017
3) Praktek Kerja Lapangan RSUP Dr. Hasan Sadikin
Bandung Tahun 2018

Pendidikan Sekarang :

Diploma III Rekam Medis Dan Informasi Kesehatan Politeknik


TEDC Bandung