Anda di halaman 1dari 3

Dalam studi antropologis fisik, khususnya pada studi aspek evolusi manusia dan variasi,

somatoscopy telah menjadi alat konvensional penting yang digunakan oleh sejumlah
antropolog fisik. secara harfiah somatoskopi berarti pengamatan tubuh (soma- tubuh, dan
scopy - amati).Jadi somatoskopi mengacu pada ekspresi kualitatif dari tubuh manusia apakah
hidup atau mati berdasarkanpengamatan visual dari ciri-ciri morfologi yang berbeda.
Pengamatan bentuk, tekstur dan kuantitas rambut di kepala manusia; warna, celah
pembukaan dan lipatan mata manusia dan sejenisnya adalah beberapacontoh. Pengamatan ini
dilakukan pada bagian tubuh yang berbeda terutama di kepala karena terpapar dan merupakan
bagian yang terlihat dari tubuh dimana seorang individu dapatmudah diidentifikasi. Sebagian
besar pengamatan karakter / sifat - sifatnya bersifat kualitatif, sehingga muncul pertanyaan
tentangpenilaian subjektif pada bagian penyidik yang mengarah ke sejumlah ketidakakuratan.
Oleh karena itu, penyidik harus berusaha untuk mencapai ketelitian terbesar agar dapat
dihilangkanpenilaian subjektif dan bersikap objektif sejauh mungkin (Inflib, 2018).

Studi pengamatan somatoskopik penting untuk memahami variasi di antaraindividu, untuk


membangun fitur morfologi umum untuk sekelompok individu, komunitas atau kelompok
etnis yang merupakan tujuan dari antropologi fisik. Ada sejumlah parameter untuk
pengamatan somatoscopic yang dapat direkam di bawah bidang antropologi fisik. Menurut
WHO dalam inflib (2018) pengamatan terhadap rambut-daerah jumlah dan tekstur, bentuk,
warna dan distribusi rambut kepala; bentuk mata; alis mata; alis punggungan dan dahi; dagu
yang menonjol; bibir; bentuk hidung dan telinga sangat penting untuk studi dalam populasi
genetika. Selain warna kulit ini, prognosis wajah dan alveolar, pipi dan rahang beberapa
pengamatan lain. Selain itu, somatoskopik ini sering digunakan oleh antropolog untuk
mempelajari variasi manusia, identifikasi, serta klasifikasi manusia. Pengamatan
somatoskopik dilakukan di siang hari bolong untuk hasil yang akurasi (Inflib, 2018).

Ras biasanya membawa ciri-ciri morfologis dan penyebarannya menyebabkan ciri-ciri


morfologis ini menjadi susah untuk diidentifikasi. Hal tersebut diakibatkan oleh pengaruh
lingkungan yang menuntut untuk melakukan adaptasi. Selain itu perkawinan campuran
(admixture) juga berperan dalam perubahan ciri-ciri morfologis suatu ras. Lebih lanjut dari
masalah ras ini adalah mengenai ciri-ciri morfologis yang kemudian akan menjadi pembeda
antar populasi. (Prihatini, 2006: ).

Banyaknya ras, merupakan bukti banyaknya variasi biologis yang ada pada manusia. Pada
dasarnya, ras adalah pengelompokan manusia dari segi biologisnya yang didasarkan pada
tampilan fisik (fenotipe) bukan struktur genetisnya. Pembagian ras secara umum, dibagi
menjadi tiga, yaitu: Mongoloid, Negrid, danKaukasoid. Orang Indonesia termasuk ke
dalam ras Mongoloid dan Australomelanesid. (Indriati, 2004: ).

1. Ras Mongoloid (Berkulit Kuning), Ciri khas utama anggota ras ini ialah rambut
berwarna hitam yang lurus, bercak mongol pada saat lahir dan lipatan pada mata yang
seringkali disebut mata sipit. Selain itu anggota ras manusia ini seringkali juga lebih
kecil dan pendek daripada ras Kaukasoid.Contohnya penduduk asli wilayah Eropa,
sebagian Afrika, dan Asia (Koibur, 2017). Selain itu pada ras ini distribusi rambut di
seluruh tubuh cenderung sedikit. Warna iris secara umum cokelat. Ras ini biasanya
memiliki hidung yang sedang baik lebar maupun tingginya. Sedangkan bibir
biasanya cenderung sedang dan tidak ada lipseam (Rahayu dkk, 2018: 40-42).

2. Ras Negroid (Berkulit Hitam),adalah ras manusia yang terutama mendiami benua
Afrika di sebelah selatan gurun sahara. Ciri khas utama anggota ras negroid ini ialah
kulit yang berwarna hitam dan rambut keriting. (Koibur, 2017). Selain itu pada ras ini
distribusi rambut di seluruh tubuh cenderung banyak dan rambut badan cenderung
berada di tengahnya. Warna iris secara umum hitam. Ras ini biasanya memiliki
hidung yang lebar dan rendah. Bibir ras ini tebal serta berbatas tegas dan terdapat
lipseam dan eversinya jelas (Rahayu dkk, 2018: 40-42).

3. Ras Kaukasoid. Ras ini meliputi orang-orang kulit putih yang sebagian besar menetap
di Eropa, Afrika Utara, Timur Tengah, Pakistan, dan India Utara (Koibur, 2017).
Selain itu pada ras ini distribusi rambut di seluruh tubuh lebih lebat.secara rasial
warna umum iris kaukasoid adalah abu-abu kebiruan. Ras ini biasanya memiliki
hidung yang mancung dan tinggi. Bibir ras ini umumnya tipis dan tidak ada lipseam.
(Rahayu dkk, 2018: 40-42).

Ciri ciri ras ini juga berkaitan dengan somatoskopi. studi somatoskopi mempunyai
fungsi dalam komparasi antar populasi manusia. somatoskopi merupakan deskripsi
mengenai bentuk tubuh dan bagian-bagiannya yang diamati sedemikian rupa baik
secara umum maupun secara lengkap sesuai dengan ciri-ciri yang ada. (Glinka dkk,
2008)
.............. diktat (Rahayu dkk, 2018: 39).
Oleh karena itu, Dengan somatoskopi, kita dapat mengidentifikasi perbedaan populasi
dari bentuk rambut, mata, hidung, dan lain-lain (Glinka dkk, 2008: ).

Kebanyakan ciri somatoskopik menunjukkan variasi geografis yang


ditandai.Somatoskopi menyangkut pengamatan visual sistematis fitur fisik berbagai bagian
tubuh manusia untuk deskripsi yang akurat. Ini adalah kualitatif alam, maka perlu
pendekatan deskriptif. Untuk menstandardisasi pendekatan, banyak ciri telah disiapkan oleh
para imuwan yang berbeda untuk menentukan warna rambut, kulit, mata, dll (Sinha, 2017)

Dalam somatoskopi Meskipun ciri-ciri morfologis masing-masing ras sudah diketahui


namun kadang masih terjadi kesalahan dalam pengidentifikasian. Sebabnya adalah ukuran-
ukuran pada tubuh manusia baik yang masih memiliki soft tissue ataupun berupa tulang,
belum memiliki standarisasi yang pasti dan berlaku umum. Hal ini disebabkan variasi
biologis manusia yang semakin meningkat. Migrasi, adaptasi, maupun perkawinan campuran
(admixture) sangat berperan dalam terbentuknya ras-ras baru yang memberi ciri baru pada
populasi manusia di dunia. Akibat lainnya adalah pada pengidentifikasian yang memiliki
kemungkinan mengalami kesalahan. Sebab perbandingan antar populasi tidak bisa ditentukan
dengan jelas (Glinka dkk, 2008: )

Anda mungkin juga menyukai