Anda di halaman 1dari 12

LUHUR FEBRIANSYAH – 9-1 DIV AKUNTANSI ALIH PROGRAM – NOMOR 17

BACA BAB 8 – LIABILITIES BUKU GODFREY SERTA KERANGKA PELAPORAN


KEUANGAN IASB TERKAIT ASET. RINGKAS KONSEP-KONSEP PENTING
TERKAIT LIABILITAS DAN PERBEDAAN ANTARA KONSEP-KONSEP DALAM
BUKU GODFREY DENGAN KERANGKA KONSEPTUAL TERBARU!

1. TEORI PEMILIK DAN TEORI ENTITAS


1.1. Teori Kepemilikan
Teori kepemilikan dibangun berdasarkan gagasan bahwa pemilik perusahaan sebagai
pusat perhatian. Kepemilikan direpresentasikan oleh nilai bersih perusahaan yang dapat
direpresentasikan dengan persamaan akuntansi
Proprietorship (Kepemilikan) = Aset – Liabilitas
Aset merupakan milik pemilik dan liabilitas adalah kewajiban pemilik. Dengan konsep
ini, kita dapat mengetahui bahwa tujuan dari akuntansi adalah untuk menentukan nilai bersih
pemilik. Penghasilan diperoleh dan beban timbul karena keputusan dan tindakan yang diambil
pemilik atau perwakilan pemilik. Akun-akun penghasilan dan beban merupakan akun
pembantu dari Proprietorship, yang sementara disegregasi untuk menentukan laba pemilik.
Penghasilan merupakan penambahan dari kepemilikan, sementara beban merupakan
pengurangan dari kepemilikan.
Vatter menjelaskan bahwa teori double entry berdasarkan ide bahwa akun-akun
beban dan pendapatan memiliki karakteristik aljabar yang sama seperti nilai bersih (net
worth). Sehingga, penghasilan bersih merupakan peningkatan kekayaan pemilik dari operasi
bisnis pada periode tertentu. Jika penghasilan didefinisikan demikan, maka ia mencakup
seluruh aspek yang memengaruhi perubahan kekayaan pemilik dalam periode tersebut. Maka
dari itu, perubahan nilai bersih merupakan penurunan dari aktivitas yang menghasilkan
penghasilan yang juga mengubah nilai aset.
Secara luas, praktik akuntansi kini berdasarkan teori kepemilikan. Dividen dianggap
sebagai distribusi laba daripada beban karena ia merupakan pembayaran kepada pemilik. Di
sisi lain, bunga dari utang dan pajak penghasilan dianggap beban karena mereka mengurangi
kekayaan pemilik. Untuk entitas perseorangan dan partnership, gaji yang dibayar kepada
pemilik yang juga bekerja dalam operasi bisnis tidak dianggap sebagai beban, karena pemilik
dan perusahaan merupakan kesatuan entitas dan perusahaan tidak bisa membayar dirinya
sendiri dan menguranginya sebagai beban. Metode ekuitas untuk investasi jangka panjang
mengakui kepemilikan atau bagian kepemilikan dari perusahaan investor. Sehingga, metode
tersebut memperbolehkan perusahaan investor mencatat persentase yang merupakan
haknya dari laba investee sebagai laba. Pada laporan keuangan konsolidasi, metode yang
digunakan perusahaan induk berdasarkan teori kepemilikan. Perusahaan induk dipandang
sebagai pemilik anak perusahaan. Kepemilikan minoritas dari sudut pandang perusahaan
induk, merepresentasikan klaim dari kelompok di luar lingkaran induk-anak. Sehingga,
kepemilikan minoritas disajikan sebagai pengurang kepemilikan.
Teori modal keuangan lebih sesuai untuk diterapkan pada teori kepemilikan dibanding
dengan teori modal fisik. Teori modal keuangan menekankan investasi keuangan pemilik,
sedangkan teori modal fisik berfokus pada kemampuan perusahaan dalam mempertahankan
tingkat operasional fisik tanpa memedulikan klaim pemilik. Teori kepemilikan tidak

CRITICAL READING GODFREY CHAPTER 8 - LIABILITIES


LUHUR FEBRIANSYAH – 9-1 DIV AKUNTANSI ALIH PROGRAM – NOMOR 17

membedakan antara aset pemilik dan aset entitas. Maka dari itu, semua laba entitas dapat
didistribusi kepada pemilik perusahaan.
Pandangan kepemilikan dalam akuntansi dikembangkan ketika mayoritas bisnis masih
kecil dan sebagian besar terdiri dari entitas perseorangan dan partnership. Seiring dengan
bertumbuhnya perusahaan, teori kepemilikan terbukti tidak cukup sebagai dasar untuk
menjelaskan akuntansi perusahaan. Secara hukum, perusahaan adalah entitas terpisah dari
pemiliknya dan memiliki hak-hak tersendiri, sehingga bukan pemegang saham, namun
perusahaan lah yang memiliki aset dan menanggung kewajiban bisnis. Perusahaan tidak
hanya menanggung kewajiban bisnis, namun juga karakteristik-karakteristik dari liabilitas
terbatas, sehingga tidak masuk akal jika mengatakan bahwa pemegang saham bertanggung
jawab terhadap kewajiban perusahaan.
1.2. Teori Entitas
Teori entitas dirancang sebagai respon dari kekurangan-kekurangan teori kepemilikan
terutama mengenai pemisahan status hukum perusahaan. Teori entitas dimulai dari fakta
bahwa perusahaan adalah entitas yang terpisah dengan identitasnya sendiri. Teori entitas
membahas lebih jauh pemisahan bisnis dan hubungan perseorangan dibandingkan dengan
‘asumsi entitas akuntansi’.
Martin menunjukkan dua asumsi terkait yang menjiwai konsep entitas akuntansi:
• Separation. Untuk tujuan akuntansi, perusahaan dipisah dari pemiliknya.
• Viewpoint. Prosedur-prosedur akuntansi dilaksanakan dari sudut pandang entitas.
Paton berargumen bahwa entitas bukanlah seorang manusia dan tidak bisa bertindak
dengan keinginannya sendiri adalah suatu fakta. Entitas adalah sebuah institusi, namun ia
merupakan sesuatu yang sangat nyata. Ia memiliki keberadaan yang nyata dan dapat diukur,
bahkan ia memiliki sifatnya tersendiri. Bagi sebuah perusahaan, ketika modal saham telah
diterbitkan, kehidupan dari perusahaan tersebut tidak bergantung pada kehidupan dari
pemegang sahamnya. Secara luas, dari perspektif akuntansi, sebuah entitas dapat
didefinisikan sebagai wilayah dengan kepemilikan ekonomi yang keberadaannya terpisah dari
pemiliknya.
Ketika menggunakan perspektif entitas, tujuan dari akuntansi dapat berupa pelayanan
(stewardship) atau akuntabilitas. Hal tersebut didasari pemikiran baru bahwa entitas berada
dalam bisnis untuk dirinya sendiri dan bertindak untuk keberlangsungan hidupnya. Oleh
karena itu, enitas bisnis melapor kepada pemilik ekuitas untuk memenuhi persyaratan hukum
dan untuk mempertahankan hubungan yang baik dengan mereka jika ia membutuhkan dana
di masa depan.
Dalam teori entitas, fokus dari persamaan akuntansi adalah aset dan ekuitas. Pemilik
dan kreditor dipandang sebagai pemilik ekuitas dan penyedia dana. Sehingga persamaan
akuntansi menjadi:
Aset = Ekuitas
Teori entitas berfokus pada aset, bukan kepemilikan. Paton menjelaskan bahwa aset
merupakan sesuatu yang nyata, tidak seperti konsep ekuitas. Hal tersebut yang menjadi dasar
istilah ‘direct statement’ dan ‘indirect statement’. Aset dimiliki perusahaan dan liabilitas
merupakan kewajiban perusahaan, bukan pemilik. Penghasilan didedinisikan sebagai arus
masuk aset karena transaksi-transaksi yang dilakukan perusahaan dan beban merupakan
beban dari aset dan jasa lain yang digunakan oleh perusahaan untuk menciptakan
penghasilan di periode yang sama. Beban-beban mengurangi nilai aset perusahaan.

CRITICAL READING GODFREY CHAPTER 8 - LIABILITIES


LUHUR FEBRIANSYAH – 9-1 DIV AKUNTANSI ALIH PROGRAM – NOMOR 17

Karakteristik dasar dari penghasilan yaitu ia menciptakan nilai aset tambahan,


sementara beban-beban mengurangi nilai aset. Dengan kata lain, teori akuntansi seharusnya
menjelaskan konsep-konsep pendapatan (penghasilan) dan beban dalam konteks perubahan
aset perusahaan, bukan peningkatan atau penurunan ekuitas pemegang saham atau
kepemilikan. Paton dan Littleton berargumen bahwa pemegang saham memiliki hak
kontraktual berupa residual atas aset, hal itu lah yang mendasari laba bersih dilaporkan
sebagai laba ditahan di bagian ekuitas. Pemegang saham akan mendapat residual setelah
perusahaan membayarkan hak milik kreditor saat perusahaan dilikuidasi.

2. LIABILITAS
Kerangka konseptual IASB mendefinisikan liabilitas sebagai kewajiban kini entitas
yang timbul akibat peristiwa di masa lalu yang penyelesaiannya diperkirakan akan
menimbulkan arus keluar atas sumber daya yang memiliki manfaat ekonomi dari entitas
2.1. Liabilitas Kini
Definisi pada kerangka konseptual menggunakan istilah diperkirakan yang berarti
bahwa pada saat ini belum ada arus keluar sumber daya dari entitas. Namun demikian,
pertimbangan yang digunakan yaitu kewajiban untuk pengorbanan di masa depan sudah
terjadi. Pengeluaran yang dilakukan secara rutin seperti pemeliharaan dapat menjadi liabilitas
jika ada kewajiban masa kini kepada pihak eksternal. Penyelesaian kewajiban dapat
dilaksanakan sesuai hukum. Kerangka konseptual mengakui penyelesaian kewajiban yang
dapat diselesaikan dengan beberapa cara seperti pembayaran kas, transfer aset, provisi atas
jasa, penggantian kewajiban dengan kewajiban lainnya, konversi kewajiban menjadi ekuitas,
atau kreditor menghapuskan kewajiban.
2.2. Transaksi Masa Lalu
Persyaratan bahwa kewajiban harus timbul akibat peristiwa di masa lalu menekankan
bahwa liabilitas yang dicatat hanya liabilitas saat ini, tidak termasuk liabilitas di masa depan.
Namun, kriteria atas peristiwa di masa lalu dapat sulit untuk diinterpretasikan. Peristiwa masa
lalu seperti apa yang dapat menimbulkan liabilitas yang dapat diakui? Kualifikasi tersebut
sangat penting dalam menentukan apakah suatu peristiwa menimbulkan kewajiban atau tidak.
2.3. Pengakuan Liabilitas
Kriteria dalam mengakui liabilitas mirip seperti kriteria dalam mengakui aset, yaitu
termasuk:
i) Mengandalkan hukum. Sebagian besar liabilitas ditentukan berdasarkan keberadaan
klaim secara hukum terhadap entitas yang dituntut menyelesaikan kewajibannya.
ii) Penentuan substansi ekonomi dari suatu peristiwa. Apakah kewajiban yang ‘nyata’
telah timbul?
iii) Kemampuan dalam mengukur nilai suatu liabilitas. Pada umumnya liabilitas dinilai
pada nilai kontrak, yaitu jumlah kas yang dibayarkan untuk menyelesaikan kewajiban.
Namun, dalam hal periode liabilitas diselesaikan lebih dari 12 bulan, konsep time value
of money harus diterapkan dalam menilai liabilitas.
iv) Menggunakan prinsip konservatisme. Prinsip konservatisme menyatakan bahwa
liabilitas harus dicatat lebih dahulu daripada aset karena akuntan menganggap nilai
liabilitas yang dicatat terlalu rendah lebih berbahaya dibandingkan nilai aset yang
dicatat terlalu rendah. Permasalahan besar yang timbul dari prinsip tersebut adalah
perusahaan dapat menjadi terlalu konservatif dalam mengakui liabilitas, sehingga
menghasilkan informasi yang bias untuk pengambilan keputusan.

CRITICAL READING GODFREY CHAPTER 8 - LIABILITIES


LUHUR FEBRIANSYAH – 9-1 DIV AKUNTANSI ALIH PROGRAM – NOMOR 17

2.3.1. Kerangka Konseptual IASB


Kerangka konseptual IASB memberikan panduan mengenai pengakuan elemen di
neraca saldo dan laporan laba rugi, yaitu:
i) Kemungkinan besar menimbulkan aliran masuk atau keluar atas manfaat ekonomi
entitas;
ii) Item tersebut memiliki biaya atau nilai yang dapat diukur secara andal.
Paragraf 91 memberikan kriteria tambahan, yaitu keluarnya sumber daya yang
mengandung manfaat ekonomi merupakan akibat dari penyelesaian kewajiban masa kini dan
jumlah penyelesaiannya dapat diukur secara andal. Permasalahan yang timbul dari kriteria-
kriteria tersebut terletak pada definisi dari istilah yang digunakan, seperti apa yang dimaksud
dengan ‘kemungkinan besar’ dan ‘pengukuran secara andal’? Definisi kemungkinan besar
merupakan hal yang relatif dan bisa jadi berbeda bagi setiap orang. Hal tersebut dapat
mengakibatkan inkonsistensi dalam pengukuran. Pengukuran secara andal didefinisikan
seabgai pengukuran yang bebas dari kesalahan yang material dan bias, sehingga nilai hasil
pengukuran menyajikan keadaan yang sebenarnya (faithful representation). Keandalan
merupakan trade off dari relevan, seperti dalam kasus liabilitas dari tuntutan litigasi.

3. PENGUKURAN LIABILITAS
Kerangka konseptual hanya memberikan sedikit panduan mengenai cara mengukur
laibilitas. Paragraf 100 menyatakan bahwa entitas dalam menggunakan berbagai metode
pengukuran. IFRS banyak menggunakan metode pengukuran liabilitas berdasarkan historical
cost (atau historical cost termodifikasi). Pengukuran pada Fair Value hanya digunakan pada
pengukuran awal seperti pada IAS 17 Leases, IAS 39 Recognition and Measurement of
Financial Instruments, IFRS 2 Share-based Payment dan IFRS 3 Business Combination.
3.1. Employee Benefits – Program Pensiun
Dana pensiun dapat dibiayai secara penuh, dibiayai separuhnya, atau tidak dibiayai.
Pembiayaan secara penuh menyediakan jumlah kas yang cukup atau investasi untuk
memenuhi kewajiban dana kepada anggota. Sementara program yang tidak dibiayai
(unfunded plan) tidak memiliki kas atau investasi untuk menutup kemungkinan pembayaran
berdasarkan program. Suatu program pensiun dinyatakan ‘underfunded’ atau kurang terbiayai
ketika jumlah yang dipercayakan dan dibayarkan kepada Pengelola Dana Pensiun tidak
cukup untuk memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan berdasarkan program ketika terjadi
klaim atau pembayaran.
Karena pengelola dana pensiun adalah entitas hukum yang terpisah, dapat diduga
bahwa komitmen yang tidak terbiayai atas program (unfunded commitment of the plan)
bukanlah liabilitas dari perusahaan pemberi kerja yang membayarkan kontribusi kepada
pengelola program. Namun, argumen yang menentang adalah bahwa perusahaan tetap
memiliki kewajiban (penekanan pada aspek kewajaran, seharusnya) untuk seharusnya
menyelesaikan kewajiban tersebut, sehingga perusahaan memiliki liabilitas.
3.2. Provisi dan Kontinjensi
Provisi dan kontinjensi timbul ketika kewajiban kini dan kewajiban masa depan hanya
dipisahkan oleh garis yang samar-samar. Paragraf 14 pada IAS 37 menetapkan kriteria
pengakuan provisi liabilitas dan provisi hanya diizinkan untuk diakui jika ada kewajiban pada
saat ini, kemungkinan besar adanya aliran keluar sumber daya yang mengandung manfaat
ekonomi dari entitas untuk menyelesaikan kewajiban, dan nilai kewajiban dapat diukur secara
andal. Sementara itu, liabilitas kontinjensi tidak memenuhi kriteria-kriteria tersebut. Sehingga

CRITICAL READING GODFREY CHAPTER 8 - LIABILITIES


LUHUR FEBRIANSYAH – 9-1 DIV AKUNTANSI ALIH PROGRAM – NOMOR 17

paragraf 27 pada IAS 37 menyatakan bahwa liabilitas kontinjensi tidak seharusnya diakui
dalam laporan keuangan.
Ada kondisi-kondisi ketika pengguna informasi keuangan ingin mengetahui
kemungkinan kerugian atau keberlangsungan hidup perusahaan. Paragraf 86 IAS 37
menyatakan bahwa dalam kondisi-kondisi tertentu, catatan terkait liabilitas harus dinyatakan
karena pengetahuan tersebut relevan bagi pengguna laporan keuangan dalam mengambil
dan mengevaluasi keputusan mengenai alokasi sumber daya yang langka. Salah satunya
adalah kondisi ketika adanya kemungkinan penyelesaian di masa depan, namun estimasi
keterjadiannya tidak cukup tinggi untuk membenarkan pengakuan secara formal.
3.3. Ekuitas Pemilik
Kerangka konseptual IASB mendefinisikan ekuitas sebagai hak residual atas aset
entitas setelah mengurangi seluruh liabilitasnya. Dengan kata lain, ekuitas pemilik bukanlah
kewajiban untuk memindahkan aset, namun hak residual. Ia tidak bisa didefinisikan secara
terpisah atas aset dan liabilitas. Terdapat dua fitur penting yang dapat digunakan dalam
membedakan antara liabilitas dan ekuitas pemilik, yaitu hak kelompok dan substansi ekonomi
dari pengaturan.
3.3.1. Hak kelompok (the rights of the parties)
Hak yang dimiliki kreditor atas perusahaan meliputi:
i) Penyelesaian klaim pada tanggal yang telah ditentukan melalui penyerahan aset
(barang atau jasa);
ii) Prioritas dibandingkan pemilik dalam penyelesaian klaimnya dalam hal likuidasi.
Klaim yang dimiliki kreditor terbatas pada jumlah tertentu (tergantung waktu dan ketentuan
dalam perjanjian), sedangkan pemilik hanya berhak atas hak residual, meski bisa saja
terdapat beberapa klasifikasi dari pemilik sehingga menciptakan prioritas dalam
pengembalian modal.
Hak lainnya yang dimiliki kreditor dan pemilik adalah hak atas penggunaan aset atau
operasional bisnis. Kreditor tidak memiliki hak untuk menggunakan aset perusahaan selain
yang telah ditentukan dalam perjanjian. Sementara pemilik memiliki hak atau otoritas untuk
menjalankan bisnis.
3.3.2. Substansi ekonomi dari pengaturan (the economic substance of the
arrangement).
Semua hak terhadap entitas memiliki risiko kerugian, namun kreditor memiliki risiko
yang lebih rendah karena adanya prioritas dalam pembayaran ketika likuidasi. Sementara
pemilik harus menanggung semua kerugian yang berasal dari aktivitas perusahan. Risiko
yang dimiliki berbanding terbalik dengan tingkat pengembalian. Kreditor dengan risiko relatif
lebih rendah akan memperoleh pengembalian yang relatif tetap, sementara pemilik dengan
risiko relatif lebih tinggi akan memperoleh pengembalian yang bervariasi, bahkan bisa lebih
tinggi dari tingkat pengembalian atas pemberian modal.
Pemilik perusahaan memiliki kendali atas akuisisi, komposisi, penggunaan dan
penempatan aset perusahaan. Mereka memiliki kendali atas operasional dan
pertanggungjawaban dalam menjalankan bisnis dan keberlangsungan hidup serta
keuntungan yang dapat dihasilkan yang pada umumnya diserahkan kepada para direktur dan
manajer.
3.4. Konsep Modal
Akuntansi untuk ekuitas pemegang saham dipengaruhi oleh rujukan hukum. Sebagai
contoh hukum perusahaan di Australia dan Inggris mengatur tentang akuntansi modal. Hal

CRITICAL READING GODFREY CHAPTER 8 - LIABILITIES


LUHUR FEBRIANSYAH – 9-1 DIV AKUNTANSI ALIH PROGRAM – NOMOR 17

terpentingnya yaitu persyaratan pemeliharaan modal (capital maintenance) yang


mengharuskan perusahaan mempertahankan modal awal. Modal dapat dikonsepkan sebagai
uang yang diinvestasikan atau investasi atas kemampuan untuk membeli (financial capital)
atau sebagai kapasitas produksi entitas (physical capital). Modal dapat diukur dengan
menggunakan skala nilai nominal dalam mata uang atau nilai ‘nyata’ atas kemampuan
membeli (real purchasing power).
3.5. Klasifikasi Ekuitas Pemilik
Ekuitas pemilik dibedakan antara contributed capital dan earned capital. Logika yang
digunakan adalah untuk memisahkan jumlah yang diinvestasikan dari jumlah hasil re-investasi
yang diperoleh dari aktivitas yang menghasilkan laba, seperti laba ditahan atau laba yang
tidak sesuai (unappropriated profits). Meskipun demikian, batas-batas yang memisahkan
kedua jenis ekuitas tersebut sulit dipertahankan dengan tegas karena adanya transaksi-
transaksi yang tidak dapat didefinisikan dengan jelas, seperti dividen saham yang
merepresentasikan perubahan dalam klasifikasi ekuitas dari earned capital menjadi
contributed capital.

4. TANTANGAN BAGI PEMBENTUK STANDAR


IASB sedang mengadakan beberapa proyek yang akan memengaruhi definisi,
pengakuan, dan pengukuran atas liabilitas, termasuk yang terkait dengan kerangka
konseptual, instrumen keuangan, provisi dan hak pegawai. Beberapa topik yang sedang
dibahas yaitu mengenai pembeda utang dan ekuitas, penghapusan utang, dan pembayaran
pegawai berbasis saham.
4.1. Garis Pembeda Antara Utang dan Ekuitas
Isu ini timbul terkait dengan adanya instrumen hibrida yang memiliki karakteristik utang
dan ekuitas, seperti saham preferen. Klasifikasi instrumen keuangan tersebut dapat
berdampak lebih sekadar terhadap neraca saldo karena klasifikasinya akan menentukan
bunga, dividen, kerugian atau keuntungan terkait instrumen yang diakui sebagai pendapatan
atau beban dalam menghitung penghasilan bersih atau diperlakukan sebagai distribusi dari
perhitungan laba. IAS 32 mempersyaratkan instrumen keuangan tersebut diperlakukan sesuai
substansi ekonomi dari transaksi, bukan dari bentuknya. Tujuan dari membedakan secara
jelas antara ekuitas dengan liabilitas adalah untuk meningkatkan kebermanfaatan dari
informasi untuk pengambilan keputusan.
4.2. Penghapusan Utang
Kerangka konseptual mendefinisikan penyelesaian liabilitas ketika terjadi penyerahan
aset atau jasa kepada entitas lain. Meskipun kewajiban telah dihapuskan, liabilitas tetap dapat
ditimbulkan kembali atas debitur. Dalam hal pengawas terbukti tidak dapat diandalkan dan
aset hasil pembiayaan hilang atau disalahgunakan, debitur diharuskan mencatat kembali
liabilitas.
4.3. Saham Pegawai (Pembayaran Berbasis Saham)
Akuntan-akuntan memperdebatkan apakah pembayaran berbasis saham dicatat
sebagai beban atau bukan. Apakah remunerasi yang dibayarkan kepada pegawai dalam
bentuk saham atau opsi saham meningkatkan liabilitas atau ekuitas? IASB memutuskan untuk
memperlakukan remunerasi berbasis saham sebagai beban.
4.4. Isu-Isu Bagi Auditor
Isu utama bagi auditor terkait liabilitas adalah sebagai berikut:

CRITICAL READING GODFREY CHAPTER 8 - LIABILITIES


LUHUR FEBRIANSYAH – 9-1 DIV AKUNTANSI ALIH PROGRAM – NOMOR 17

i) Bukti untuk menguji asersi kelengkapan penyajian dan pengungkapan liabilitas


termasuk timing dan cut off;
ii) Penyembunyian kewajiban entitas seperti kontinjensi dan liabilitas yang dicatat terlalu
rendah;
iii) Pengujian asumsi going concern entitas;
iv) Apakah provisi dicatat terlalu besar?; dan
v) Kewajaran penggunaan fair value dalam transaksi berbasis ekuitas

5. KERANGKA KONSEPTUAL IASB 2018


5.1. Definisi Liabilitas
Kerangka konseptual IASB 2018 mendefinisikan liabilitas sebagai berikut:
A present obligation of the entity to transfer an economic resource as a result of
past events. An obligation is a duty or responsibility that the entity has no practical
ability to avoid.
Ada tiga perubahan utama atas definisi liabilitas. Perubahan pertama terkait dengan
pemisahan antara definisi liabilitas dan definisi sumber daya ekonomi. Definisi terbaru atas
liabilitas menegaskan liabilitas adalah kewajiban untuk menyerahkan sumber daya ekonomi,
bukan aliran keluar manfaat ekonomi.
Perubahan kedua adalah penghapusan frasa ‘expected’ dalam definisi liabilitas. Hal
tersebut mengakibatkan penghapusan kriteria tingkat keyakinan terjadinya liabilitas untuk
dapat dicatat dalam laporan keuangan dan/atau diungkapkan dalam CALK.
Perubahan ketiga adalah adanya frasa baru, yaitu ‘no practical ability to avoid’ yang
menjadi kriteria pengakuan kewajiban bagi perusahaan, yakni kewajiban yang tidak dapat
dihindari dalam praktik. No practical ability to avoid dijelaskan sebagai berikut:
i) Ketika adanya kewajiban atau tanggung jawab yang timbul dari praktik-praktik yang
dilakukan, kebijakan yang diterbitkan atau pernyataan spesifik – entitas memiliki
kewajiban jika ia tidak memiliki kemampuan praktik untuk bertindak secara inkonsisten
terkait praktik, kebijakan, atau pernyataan.
ii) Ketika adanya kewajiban atau tanggung jawab merupakan merupakan persyaratan
atas tindakan tertentu di masa depan yang mungkin diambil entitas – entitas memiliki
kewajiban jika ia tidak memiliki kemampuan praktik untuk tidak melakukan tindakan
tersebut di masa depan.
5.2. Kriteria Pengakuan dan Penghentian Pengakuan Liabilitas
Pengakuan liabilitas terikat pada kriteria relevan dan penyajian yang sebenarnya, dan
biaya untuk menghasilkan informasi tersebut harus setara dengan manfaat yang dihasilkan.
Hal tersebut menegaskan bahwa pengakuan liabilitas sudah tidak terikat dengan konsep
probabilitas atau pengukuran secara andal. Dalam kasus tertentu, kriteria baru tersebut dapat
menghasilkan informasi keuangan yang tidak relevan karena tidak mencakup liabilitas yang
kemungkinan keterjadiannya tidak pasti atau liabilitas yang memiliki dampak penyerahan
sumber daya yang memiliki manfaat ekonomi yang sangat kecil.
Definisi tersebut akan menimbulkan kesulitan dalam pemenuhan penyajian yang
sebenarnya atas kontinjensi karena kemungkinan yang sekarang yang sangat bervariatif di
masing-masing entitas. Hal tersebut akan mengakibatkan kontinjensi akan sangat sulit untuk
diestimasi. Penyajian yang sebenarnya atas liabilitas tidak terbatas pada deskripsi dan
pengukuran di laporan posisi keuangan, namun juga representasi pada penghasilan dan

CRITICAL READING GODFREY CHAPTER 8 - LIABILITIES


LUHUR FEBRIANSYAH – 9-1 DIV AKUNTANSI ALIH PROGRAM – NOMOR 17

beban dan pada ekuitas, serta kecukupan pengungkapan untuk menentukan apakah kriteria
faithful representation telah tercapai.
Penghentian pengakuan liabilitas terjadi ketika entitas tidak lagi memiliki kewajiban
kini untuk seluruh atau sebagian kewajiban yang diakui. Sebelum menghentikan pengakuan
liabilitas, entitas harus menentukan apakah ia akan tetap mencatat liabilitas atau tidak. Dalam
kasus tertentu, entitas mungkin perlu untuk tetap mengakui liabilitas yang telah dihentikan
pengakuannya disertai degnan penyajian dan pengungkapan yang memadai.
5.3. Pengukuran Liabilitas
Kerangka konseptual terbaru IASB menggunakan dua metode pengukuran, yaitu
historical cost dan current value. Historical cost dalam liabilitas merupakan nilai dari
pembayaran dikurangi biaya-biaya transaksi. Current value pada liabilitas diklasifikasikan
menjadi fair value dan fulfilment value. Fair value adalah harga yang akan dibayar untuk
memindahkan liabilitas dalam transaksi normal di pasar pada tanggal pengukuran, termasuk
estimasi aliran kas di masa depan, time value of money, harga untuk menanggung
ketidakpastian inheren atas arus kas dan lainnya tanpa memperhitungkan biaya-biaya
transaksi. Fulfilment value adalah nilai kini dari arus kas yang diharapkan entitas akan dibayar
dalam rangka penyelesaian kewajiban tanpa memperhitungkan biaya-biaya transaksi.

CRITICAL READING GODFREY CHAPTER 8 - LIABILITIES


LUHUR FEBRIANSYAH – 9-1 DIV AKUNTANSI ALIH PROGRAM – NOMOR 17

PELAJARI DAN JELASKAN TANTANGAN DAN KOMPLEKSITAS


PERLAKUAN AKUNTANSI UNTUK KEWAJIBAN ENTITAS TERKAIT
PROGRAM-PROGRAM KESETIAAN PELANGGAN (CUSTOMER LOYALTY
PROGRAM)

1. PENDAHULUAN
Program loyalitas pelanggan merupakan program yang dilaksanakan oleh perusahaan
dengan memberikan insentif kepada pelanggan agar melakukan pembelian secara rutin.
Semakin rutin dan semakin besar pembelian yang dilakukan, semakin besar insentif loyalitas
yang dapat diterima oleh pelanggan.
Program loyalitas pelanggan memberikan dua manfaat utama: i) memberikan hadiah
kepada pelanggan karena loyalitasnya dalam menggunakan produk perusahaan; dan ii)
memberikan perusahaan informasi berharga mengenai pelanggan. Informasi barang yang
dibeli dapat menjadi informasi bagi perusahaan seperti jenis barang seperti apa yang biasa
dibeli bersamaan atau pola perilaku konsumsi pelanggan dan dapat membantu perusahaan
dalam menentukan metode insentif seperti apa yang paling efektif.
Tujuan utama dari program loyalitas pelanggan adalah mengintegrasikan produk
perusahaan dalam kegiatan sehari-hari pelanggan, sehingga menciptakan pelanggan
menjadi loyal dalam menggunakan produk perusahaan. Pada saat ini, penggunaan program
loyalitas pelanggan didukung dengan aplikasi smartphone untuk meningkatkan kemudahan
pengalaman dalam melakukan pembelian. Ketika pelanggan sudah nyaman dalam
melakukan pembelian melalui metode yang dimiliki perusahaan, pembeli akan mulai
mempercayai perusahaan karena dapat memberikan pelayanan yang menyenangkan bagi
pelanggan. Hal tersebut dapat diamati secara jelas pada pelanggan loyal atas jasa
penerbangan, restoran, dan hotel.
Merk terkenal seperti Costco dan Amazon telah menerapkan program loyalitas
pelanggan dengan sangat baik melalui keanggotaan tahunan. Banyak pelanggan dengan
senang hati mengeluarkan biaya keanggotaan tahunan untuk dapat mengakses produk dan
jasa yang ditawarkan oleh kedua perusahaan retail tersebut. Meskipun pelanggan diharuskan
membayar biaya keanggotaan tahunan, jika pelanggan tersebut memanfaatkan secara sering
jasa yang diberikan, manfaat yang diperoleh dapat melebihi biaya yang dikeluarkan. Program
tersebut tumbuh subur pada perusahaan yang mengutamakan pelanggan yang kembali
(returning customer). Program loyalitas pelanggan juga memberikan nilai kepada perusahaan
karena biaya untuk menjual pelanggan baru lebih mahal dibandingkan menjual ke pelanggan
tetap.
2. AKUNTANSI PROGRAM LOYALITAS PELANGGAN
Akuntansi program loyalitas pelanggan dibahas secara khusus dalam International
Financial Reporting Interpretation Committee (IFRIC) atau IFRIC 13 yang per 1 Januari 2018
dinyatakan tidak berlaku. Panduan dalam IFRIC 13 kemudian menjadi pembaruan atas IAS
15 Revenue Recognition. IFRIC 13 memperlakukan poin loyalitas pelanggan bukan sebagai
beban pemasaran karena poin tersebut diberikan kepada pelanggan dalam transaksi
penjualan. Sedangkan beban pemasaran merupakan beban yang terjadi secara independen
di luar dari transaksi penjualan yang diperoleh dari pengeluaran beban. Hal tersebut sesuai
dengan IAS 15 yang mensyaratkan pengakuan kewajiban yang terjadi dalam transaksi
penjualan secara terpisah.

CRITICAL READING GODFREY CHAPTER 8 - LIABILITIES


LUHUR FEBRIANSYAH – 9-1 DIV AKUNTANSI ALIH PROGRAM – NOMOR 17

Panduan dalam IFRIC 13 meliputi perlakukan akuntansi dalam empat aktivitas, yaitu:
i) klasifikasi dalam laporan laba rugi; ii) klasifikasi dalam neraca saldo; iii) pengukuran; dan iv)
saat pengakuan pemberian hadiah pada laporan laba rugi. Liabilitas program loyalitas
diklasifikasi sebagai alokasi dari pendapatan penjualan. Sehingga, ketika perusahaan
mencatat penjualan, tidak seluruh nilai transaksi dicatat sebagai penjualan. Sebagian
penjualan dicatat sebagai deferred revenue yang disajikan pada neraca saldo. Barang hadiah
atas poin yang ditukar pelanggan diukur pada Fair Value pada saat penukaran poin oleh
pelanggan. Nilai fair value atas poin loyalitas diukur berdasarkan:
i) Jumlah potongan yang akan diterima oleh pelanggan; dan
ii) Estimasi tingkat penukaran poin
Setiap tahunnya, perusahaan mengestimasi nilai yang mungkin ditukarkan oleh
pelanggan pada tahun tersebut dengan berdasarkan fair value poin dikalikan dengan estimasi
tingkat penukaran poin terhadap penjualan yang terjadi. Ketika pelanggan menukarkan poin
loyalitas atau poin loyalitas kedaluwarsa, perusahaan mengakui pendapatan yang
sebelumnya ditunda sebesar perbandingan realisasi penukaran poin terhadap estimasi poin
yang ditukarkan.
Akuntansi poin loyalitas pelanggan akan menjadi lebih kompleks ketika perusahaan
menawarkan poin loyalitasnya ditukarkan dengan produk perusahaan lain. Dalam situasi
tersebut, terjadi hubungan keagenan dengan perusahaan penerbit poin berperan sebagai
principal dan pihak ketiga yang menyediakan hadiah atau insentif berperan sebagai agen.
Hubungan keagenan terjadi karena perusahaan membantu memberikan pendapatan kepada
agen, sehingga perusahaan memperoleh komisi dari pihak ketiga. Skema keagenan tersebut
menguntungkan perusahaan karena tidak perlu merencanakan skema penukaran poin dan
perusahaan tidak memiliki kewajiban terkait dengan poin yang belum ditukar.
Sebagai contoh, perusahaan operator seluler A memberikan poin loyalitas kepada
pelanggannya yang dapat ditukar dengan tiket penerbangan perusahaan jasa penerbangan
B. Transaksi yang terjadi adalah perusahaan A menjual poin loyalitas dari pendapatan yang
diperoleh dari pelanggan kepada perusahaan B pada harga yang telah disepakati dan juga
memperoleh komisi yang disepakati. Saat perusahaan A membayar sejumlah fair value poin
yang diperoleh, ia tidak lagi memiliki kewajiban lepad apelanggannya. Dalam transaksi
tersebut, perusahaan tidak mencatat deferred revenue, namun justru mencatat pendapat
komisi.

3. TANTANGAN DAN KOMPLEKSITAS AKUNTANSI PROGRAM LOYALITAS


PELANGGAN
Sub-bab sebelumya telah menjelaskan betapa besar manfaat yang dapat diperoleh
perusahaan dengan melaksanakan program loyalitas pelanggan. Namun, program loyalitas
pelanggan bukanlah program yang dapat dilakukan tanpa persiapan dan pengawasan yang
matang. Program loyalitas pelanggan juga membawa risiko yang besar jika tidak
diimplementasikan dengan tepat. Program tersebut dapat menciptakan peningkatan
penjualan, namun ia juga membawa beban yang disebut sebagai liabilitas program loyalitas.
Liabilitas program loyalitas adalah biaya yang akan dikeluarkan oleh perusahaan pada
saat penukaran seluruh poin loyalitas. Jika diperhitungkan dengan akurat, program loyalitas
pelanggan dapat menjadi strategi yang efektif untuk meningkatkan loyalitas pelanggan dan
meningkatkan kekuatan hubungan perusahaan dengan pelanggan. Namun, kegagalan dalam
menetapkan faktor secara akurat dapat memberikan dampak yang material terhadap
pendapatan perusahaan dan penukaran poin loyalitas dapat menimbulkan biaya mendadak
yang material yang tidak diperkirakan sebelumnya. Dengan kata lain, pelaksanaan program

CRITICAL READING GODFREY CHAPTER 8 - LIABILITIES


LUHUR FEBRIANSYAH – 9-1 DIV AKUNTANSI ALIH PROGRAM – NOMOR 17

loyalitas pelanggan membutuhkan perencanaan yang hati-hati dan analisis yang


berkelanjutan agar menghasilkan manfaat besar bagi perusahaan dengan biaya yang
dikeluarkan.
Sebagai contoh, setiap pembelian minuman dari setiap gerai Starbucks, pelanggan
yang telah terdaftar sebagai anggota akan mendapatkan poin minuman yang dapat ditukarkan
dengan sebuah minuman secara gratis. Namun, pada kenyataannya jumlah minuman yang
diberikan secara gratis dengan cara penukaran poin loyalitas tidak hanya satu atau dua
pelanggan. Ada ratusan ribu, bahkan jutaan pelanggan Starbucks yang secara rajin
mengumpulkan poin loyalitas dan berencana untuk menukarkannya ketika poinnya
mencukupi untuk ditukar dengan minuman gratis. Biaya yang dikeluarkan untuk minuman
gratis tersebut tentu akan sangat fantastis jika diasumsikan untuk satu tahun saja Starbucks
memberikan satu juta minuman secara gratis.
Pada tahun 2017, American Express, perusahaan kartu kredit asal Amerika Serikat
mencatat deferred revenue liabilities dari program loyalitas pelanggan sebesar US$7.751
miliar. Perusahaan jasa penerbangan Delta mencatat liabilitas sebesar US$4.118 miliar.
Perusahaan jasa perhotelan Marriot mencatat liabilitas sebesar US$4.940 miliar. Dalam skala
sebesar itu, sedikit saja perubahan dalam kebijakan penukaran poin loyalitas pelanggan dapat
memberikan dampak yang sangat besar bagi laporan keuangan. Jika US$1 miliar liabilitas
tersebut perlu disajikan ulang sebesar 1%, hal tersebut akan menimbulkan pengurangan
sebesar US$10 juta terhadap pendapatan pada tahun dilakukan penyajian ulang.
Pemahaman yang memadai terhadap tingkat penukaran poin (ultimate redemption
rate/URR) dan biaya yang dikeluarkan perusahaan per poin loyalitas (cost per point/CPP)
merupakan kunci dapat memperoleh manfaat dari program loyalitas pelanggan. Meskipun
pada kenyataannya tingkat penukaran poin merupakan hal yang tidak mungkin untuk diukur
secara akurat, namun terdapat banyak metode-metode yang dapat digunakan untuk
mendapatkan nilai persentase dengan tingkat akurasi yang memadai. Metode menganalisa
tingkat penukaran poin yang akurat melibatkan analisa terhadap perilaku pelanggan dalam
menggunakan poin loyalitas di masa depan. Jika perusahaan memiliki jumlah pelanggan yang
sangat besar, perusahaan dapat memanfaatkan metode big data analysis untuk memberikan
informasi yang relevan terkait perilaku pelanggan dalam menggunakan poin loyalitas.
Dari sisi akuntansi, pelaporan keuangan juga membutuhkan pengungkapan terkait
kapan kewajiban terkait program loyalitas pelanggan akan dipenuhi. Hal tersebut
menambahkan dimensi kompleksitas dalam model pengukuran, karena model pengukuran
juga harus mengestimasi jumlah poin yang akan ditukar dan jumlah poin yang kedaluwarsa.
Metode yang digunakan oleh perusahaan dalam mengestimasi URR kadang terlalu
sederhana untuk membuat prediksi yang akurat atas perilaku penukaran yang dilakukan oleh
pelanggan sehingga dapat menghasilkan estimasi yang berbias material. Metode tersebut
termasuk pendekatan yang hanya melihat agregat data historis atau analisis anggota yang
sudah lama.
Metode estimasi URR yang memiliki bias yang material berarti perusahaan harus
memperkirakan tingkat penukaran yang lebih tinggi dibandingkan hasil perhitungan. Hal
tersebut dapat mengakibatkan perusahaan menunda pengakuan pendapatan terlalu tinggi
dan bukan tidak mungkin perusahaan tidak akan pernah bisa menemukan persentase yang
memadai untuk mengakui liabilitas yang menyebabkan pendapatan perusahaan terlalu
banyak dialokasikan dalam akun deferred revenue. Ketika estimasi URR berbias sehingga
terlalu rendah dibandingkan kenyataan penukaran, perusahaan mungkin tidak memiliki
pendapatan yang cukup untuk menutupi seluruh biaya penukaran poin loyalitas sehingga
menyebabkan porsi pengurangan laba yang sangat besar. Di sisi lain, jumlah liabilitas yang
akurat mungkin dapat menyebabkan kesulitan bagi perusahaan yang memiliki jumlah liabilitas

CRITICAL READING GODFREY CHAPTER 8 - LIABILITIES


LUHUR FEBRIANSYAH – 9-1 DIV AKUNTANSI ALIH PROGRAM – NOMOR 17

yang sudah tinggi, karena sedikit saja penyesuaian pada URR akan menyebabkan
pengakuan liabilitas yang material.
Kompleksitas tidak terjadi dalam penentuan URR saja, namun juga pada penentuan
fair value dari poin loyalitas yang diberikan kepada pelanggan. Jika perusahaan hanya
menyediakan sebuah produk atau jasa bagi pelanggan untuk penukaran poin loyalitas,
perhitungan fair value poin tidak akan terlalu kompleks. Namun ketika perusahaan
memberikan pilihan kepada pelanggan dalam menentukan produk apa yang ingin ditukarkan
dengan poin yang dimiliki, hal tersebut akan membuat penentuan fair value poin menjadi
rumit. Seperti yang dilakukan oleh Starbucks melalui starbucks rewards. Setiap 100 poin yang
dikumpulkan, pelanggan dapat menukarkannya dengan sebuah produk di gerai Starbucks
baik itu berupa makanan atau minuman. Padahal, satu gerai Starbucks bisa menyediakan
puluhan variasi makanan dan minuman.
Dari segi keuangan, penerapan program loyalitas pelanggan mengakibatkan
timbulnya liabilitas perusahaan di masa depan. Liabilitas tersebut bisa jadi semakin besar di
masa depan. Jika perusahaan tidak dapat mengestimasi URR dan CPP dengan memadai,
hal tersebut akan memengaruhi kemampuan perusahaan dalam melakukan financial
forecasting di masa depan. Penetapan estimasi URR yang memadai mengandung risiko yang
menyebabkan pengukurannya menjadi proses yang sangat sulit dilakukan, bahkan bagi
pemimpin dan auditor senior. Salah satu cara terbaik untuk mendapatkan estimasi yang
memadai dapat dilakukan dengan mengintegrasikan ilmu aktuaria dengan teknologi metode
prediksi perhitungan modern.

CRITICAL READING GODFREY CHAPTER 8 - LIABILITIES