Anda di halaman 1dari 12

Case Series

Menejemen Trauma Tembus Otak

Asadullah dr**, Endra Wibisono dr**, Resi Prastia Karunia dr**, Gunna Hutomo Putra dr**, Heru
Kustono dr**, Aji Setia Utama dr**, Komang Sena Adistira Artha dr**, Alif Fariz Jazmi dr, Dr
Tedy Apriawan dr. SpBS*, Prof. Dr. dr. Abdul Hafid Bajamal SpBS*

*Divisi Bedah Trauma, Departemen Ilmu Bedah Saraf, Rumah Sakit Umum Daerah Soetomo, Surabaya-
Indonesia
**Peserta Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Bedah Saraf, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga -
Rumah Sakit Umum Daerah Soetomo, Surabaya- Indonesia

Correspondence should be addressed to sevelkomodo@gmail.com

Abstrak

Trauma tembus otak merupakan kegawatan medis yang meskipun jarang terjadi namun sering
mengakibatkan mortalitas dan morbiditas yang tinggi. Penanganan trauma tembus otak sendiri masih
menjadi tantangan bagi para ahli bedah saraf di seluruh dunia. Menejemen yang optimal pada penaganan
trauma tembus otak memerlukan pemahaman yang komprehensif terhadap mekanisme dan patofisiologi
terjadinya cedera tersebut. Sampai saat ini penanganan standar pada kasus trauma tembus otak masih
menjadi perdebatan. Artikel ini disusun dari berbagai referensi dan pengalaman kasus yang pernah ditangani
di Rumah Sakit Umum Daerah Soetomo. Melalui artikel ini kami berharap dapat menyediakan informasi
yang dapat dipakai sebagai salah satu referensi dalam penanganan trauma tembus otak.

Latar Belakang setengah lagi menderita disabilitas berat karena


cederanya.4
Trauma tembus otak melingkupi setiap cedera
dimana sebuah objek menembus tulang kepala Berdasarkan kecepatan penetrasinya trauma
serta lapisan meningen yang membungkus otak.1 tembus otak dapat dibagi menjadi dua kategori,
Meskipun angka kejadiannya tidak sesering penetrasi dengan kecepatan tinggi, seperti pada
trauma kepala tertutup, trauma tembus otak trauma tembak, dan penetrasi rendah biasanya
memiliki prognosis yang lebih buruk.2 Trauma disebabkan oleh benda-benda tajam seperti pisau,
tembus kepala merupakan jenis yang paling paku dan gunting.5
mengancam nyawa dari semua trauma kepala.3
Hanya 10% pasien yang dapat bertahan sampai di Pada masyarakat, trauma tembus otak biasanya
rumah sakit, dan setengah dari pasien tersebut disebabkan oleh benda-benda tajam dengan
meninggal di ruang gawat darurat sedang yang kecepatan yang relatif rendah berbeda dengan
trauma tembus otak pada daerak peperangan

Case Series - Menejemen Trauma Tembus Otak 1


dimana lebih sering ditemui trauma akibat senjata
api dengan kecepatan tinggi, dan mengakibatkan
cedera yang lebih kompleks serta mortalitas yang
tinggi.2,6 Trauma tembus otak dengan kecepatan
yang rendah memiliki prognosis yang lebih baik
karena cedera primer yang ditimbulkan lebih
terlokalisir.2

Meskipun trauma tembus otak dengan kecepatan


yang rendah angka mortalitasnya tidak tinggi
namun komplikasi post trauma seperti infeksi,
kebocoran cairan serebrospinal, traumatik
aneurisma, perdarahan intra ventrikel, sinus
thrombosis merupakan masalah serius yang perlu
diantisipasi.4

Kasus 1

Laki-laki, 43 tahun, datang ke IGD dengan


keluhan mata kiri tertusuk kayu. Mata pasien
tertusuk kayu saat menggergaji kayu 14 jam
sebelum masuk rumah sakit. Mual (-), muntah (-),
kejang (-), penurunan kesadaran (-), kelemahan
Gambar 1. Foto Klinis
ekstremitas (-). Pasien konsulan dari ts mata
dengan benda asing intra orbital sinistra. Pada pasien kemudian dilakukan pemeriksaan CT
Scan kepala tanpa kontras dan pemeriksaan CT
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan primary
angiografi. Dari CT Scan kepala tanpa kontras
survey dan status hemodinamik stabil. Pada
didapatkan potongan kayu sepanjang 66mm
pemeriksaan status lokalis didapatkan luka masuk
masuk melalui mata kiri menembus cavum orbita
di orbita kiri dan masih tampak potongan kayu
dan masuk kedalam fossa anterior rongga
yang menancap pada mata pasien. Dari
intrakranial dan menembus parenkim otak. Dari
pemeriksaan neurologis didapatkan GCS 456,
brain window potongan aksial tidak tampak
pupil anisokor OD 3mm OS 6mm, reflek cahaya
adanya kontusio maupun edema cerebri, tampak
OD (+) OS menurun, visus OD >2/60 OS LP (+),
adanya pneumocephalus pada lobus frontal tepat
meningeal sign (-), status neurologis lain dalam
di ujung kayu. Tidak tampak adanya patahan
batas normal.
tulang dan benda lain di dalam intracranial. Dari
CT angiografi didapatkan potongan kayu tidak
mengenai pembuluh darah besar dan juga tidak
tampak adanya traumatik aneurisma.

Case Series - Menejemen Trauma Tembus Otak 2


Gambar 3. CT Angiografi

Pasien didiagnosis dengan trauma tembus okuli


sinistra + trauma tembus otak frontotemporal
sinistra. Pada pasien kemudian dilakukan
kraniotomi ekstrasi korpus alienum dan
debridemen, dari ts mata dilakukan eksplorasi
bola mata dan rekonstruksi palpebral.

Pasien diposisikan supine, desinfeksi dengan


povidone iodine dan lapangan operasi dipersempit
dengan doek steril. Desain insisi coronal lapis
demi lapis dilanjutkan flap kulit sampai ekspose
supraorbital dengan preserfasi nerfus supraorbital.
Dilakukan burrhole 6 lubang, kraniotomi dan
hitstich. Setelah itu dilakukan eksplorasi dura,
didapatkan korpus alienum 7x1,5cm, serpihan
kayu dan robekan dura sebesar 1,5cm. Dilakukan
Gambar 2. CT Scan kepala ekstraksi korpus alienum, debridemen dan jahit
dura. Tulang dikembalikan dengan miniplate dan
screw.

Case Series - Menejemen Trauma Tembus Otak 3


Sampel kultur diambil saat debridemen dilakukan.
Diberikan antibiotik empirik profilaksis untuk
mencegah infeksi dengan ceftriaxone inravena
1g/12 jam dan metronidazole 500mg/8 jam
dengan evaluasi klinis adanya tanda-tanda infeksi.
Diberikan phenitoin intravena sebagai profilaksis
kejang selama 7 hari.

Pasien dirawat selama 9 hari dan tidak didapatkan


tanda-tanda infeksi intracranial dan visus
membaik dari LP (+) menjadi 6/10. Pasien
kemudian dipulangkan dengan antibiotik cefixime
100mg/12 jam dan metronidazole 500mg/8 jam
peroral selama 1 minggu.
Gambar 4. Foto Klinis

Kasus 2

Laki-laki, 18 tahun, datang ke IGD dengan


keluhan nyeri pada mata kanan sejak 2 jam
sebelum masuk rumah sakit. Nyeri dirasakan
akibat mata kanan tertembak peluru ikan saat
Gambar 5. Foto Peluru Ikan
pasien sedang mengisi peluru. Peluru ikan dengan
panjang sekitar 15cm tiba tiba tertembak pada
jarak 20 cm kemata kanan pasien. Riwayat
pingsan (-), mual (-), muntah (-), demam (-), Pada pasien kemudian dilakukan pemeriksaan CT
kejang (-). Scan kepala tanpa kontras dan CT Angiografi.
Dari CT Scan kepala tanpa kontras didapatkan
Pada pemeriksaan fisik, didapatkan primary gambaran korpus alienum peluru ikan menembus
survey dan hemodinamik stabil. Pada pemeriksaan cavum orbita kanan dan masuk menembus fossa
status lokalis didapatkan peluru ikan masih yang anterior kanan kearah posterior sampai menancap
menancap pada mata kanan pasien, tidak tampak di regio oksipital kanan disertai adanya
adanya luka keluar. Dari pemeriksaan neurologis perdarahan kontusional sepanjang jalur peluru
didapatkan GCS 456, pupil anisokor OD sulit ikan di regio temporal kanan. Tidak tampak
dievaluasi OS 3mm, reflek cahaya OD (-) OS (-), adanya serpihan tulang sepanjang jalur peluru
visus OD LP (-) OS >2/60, meningeal sign (-), ikan. Dari CT angiografi tidak didapatkan adanya
status neurologis lain dalam batas normal. pembuluh darah besar yang terlibat serta tidak
tampak adanya traumatik aneurisma.

Case Series - Menejemen Trauma Tembus Otak 4


Gambar 7. CT angiografi kepala peluru ikan

Pasien didiagnosis dengan trauma tembus otak


regio temporoparietal kanan + kontusional
temporal kanan + trauma tembus okuli dextra.
Pada pasien kemudian dilakukan kraniotomi
ekstrasi korpus alienum dan debridemen, dari ts
mata dilakukan repair kornea dan eksplorasi okuli
dextra.

Pasien diposisikan supine dengan kepala menoleh


ke kiri ganjal bahu kanan. Desinfeksi dengan
povidone iodine dan persempit lapangan operasi
dengan doek steril. Insisi kulit pterional lapis demi
lapis hingga tampak zygoma. Dilakukan burrhole
4 lubang dan kraniotomi. Preservasi nervus supra
orbita dengan chisel. Dilakukan bukaan tulang
orbitozigoma secara one piece, histich keliling,
insisi dura tempat masuk peluru dan debridement
Gambar 6. CT Scan kepala peluru ikan
intra + ekstra dura.

Selanjutnya dilakukan insisi linier dibagian


oksipital dan minicraniotomy disekitar ujung

Case Series - Menejemen Trauma Tembus Otak 5


peluru berdasarkan scanogram, dilakukan insisi Pada pasien kemudian dilakukan pemeriksaan CT
dura untuk membebaskan ujung peluru. Dilakukan Scan kepala tanpa kontras. Dari CT Scan kepala
ekstraksi peluru ke arah posterior, debridemen dan tanpa kontras didapatkan gambaran korpus
dura matter dijahit primer. alienum peluru ikan menembus sinus frontal kiri
dan menusuk lobus frontal.
Sampel kultur dilakukan saat debridemen
dilakukan. Diberikan antibiotik empirik
profilaksis untuk mencegah infeksi dengan
ceftriaxone inravena 1g/12 jam dan metronidazole
500mg/8 jam dengan evaluasi klinis adanya tanda-
tanda infeksi.

Hasil kultur jaringan dan swab mata tidak


didapatkan pertumbuhan kuman, pada kultur
peluru ikan didapatkan bakteri staphylococus
warneri dan corynobacterium bovis, sensitif
gentamicin, chloramphenicol, clindamycin,
levofloxacin. Sampai perawatan hari ke-13 pasien
tidak didapatkan tanda-tanda infeksi intracranial.
Pasien kemudian dipulangkan dengan antibiotik
cefixim 100mg/12 jam dan metronidazole
500mg/8jam peroral.

Kasus 3

Laki-laki, 36 tahun, datang ke IGD dengan


keluhan kepala pasien tertembak peluru ikan 12
jam sebelum masuk rumah sakit. Peluru ikan
sepanjang 15 cm tidak sengaja tertembak saat
pasien sedang memompa senjatanya. Penurunan
kesadaran (-), mual (-), muntah (-), kejang (-),
demam (+).

Pada pemeriksaan fisik, didapatkan primary


survey dan hemodinamik stabil. Pada pemeriksaan
status lokalis didapatkan peluru ikan yang
menancap pada dahi pasien. Dari pemeriksaan
neurologis didapatkan GCS 456, pupil isokor
ODS 3mm/3mm, reflek cahaya ODS +/+, Gambar 8. CT Scan kepala peluru ikan 2
meningeal sign (-), status neurologis lain dalam
batas normal.

Case Series - Menejemen Trauma Tembus Otak 6


Pasien didiagnosis dengan trauma tembus otak Derajat keparahan pada trauma tembus otak
regio Frontoparietal kiri + open fraktur anterior bergantung pada seberapa besar cedera primer
posterior sinus frontal kiri. Pada pasien kemudian yang terjadi. Kemampuan suatu benda untuk dapat
dilakukan kraniotomi ekstrasi korpus alienum, penetrasi ke jaringan otak dan menyebabkan
debridemen, dekortikasi dan decranialisasi. cedera otak primer tergantung dari sifat
balistiknya, yaitu tenaga kinetis yang dihasilkan,
Pasien diposisikan supine, desinfeksi dengan massa benda, kecepatan, bentuk, sudut
povidone iodine dan persempit lapangan operasi pendekatanya, karakteristik benda yang
dengan duk steril. Dilakukan insisi coronal lapis mencederai . 7
demi lapis flap kulit dan diseksi perios. Drilling
tulang disekitar korpus alineum hingga bebas, Apabila kecepatan benda melebihi 700 m/s, maka
ekstraksi korpus secara perlahan. Setelah peluru kemampuan untuk melukai akan meningkat dan
ikan tercabut dilakukan burrhole 6 lubang dan dapat menyebabkan cedera pada otak yang lebih
kraniotomi pada os frontal. Eksplorasi dura dan berat dan semakin banyaknya pecahan tulang yang
jahit defek pada duramater selanjutnya dilakukan menyebar.7
dekortikasi, dekranialisasi sinus frontal serta
osteoplasti. Tutup luka lapis demi lapis. Trauma tembus otak akibat senjata api dibagi
menjadi tangensial, penetrasi, dan perforasi.
Sampel kultur diambil saat debridemen dilakukan. Trauma tangensial menyebabkan kerusakan scalp,
Diberikan antibiotik empirik profilaksis untuk fraktur, kerusakan dura, kontusio kortikal, namun
mencegah infeksi dengan ceftriaxone inravena tidak benar-benar masuk ke dalam parenkim otak.
1g/12 jam dan metronidazole 500mg/8 jam Penetrasi artinya peluru masuk namun tidak ada
dengan evaluasi klinis adanya tanda-tanda infeksi. exit wound. Perforasi artinya peluru masuk
Untuk profilaksis kejang diberikan phenytoin kemudian keluar dari intrakranial.8
selama 7 hari.
Beratnya kerusakan yang disebabkan trauma
Sampai perawatan hari ke-7 pasien tidak tembus lebih dipengaruhi oleh kecepatan benda
didapatkan tanda-tanda infeksi intracranial. Pasien daripada massa benda. Benda dengan kecepatan <
kemudian dipulangkan dengan antibiotik peroral 300 m/s diklasifikasikan sebagai kecepatan
cefixime 100mh/12 jam dan metronidazole rendah, 300-600 m/s kecepatan sedang, dan > 600
500mg/8 jam sampai hari ke 14 post operasi. m/s kecepatan tinggi.9

Pada jaringan otak yang terjadi cedera penetrasi


terdapat rongga sementara dan akan membentuk
Teori shear- like injury pada neuron atau bahkan terjadi
Trauma tembus otak merupakan jenis trauma perdarahan epidural, subdural atau kontusio pada
kepala yang paling mematikan. Setiap tahun di parenkim otak.7
Amerika sekitar 32.000-35.000 penduduk Akibat yang ditimbulkan oleh cedera penetrasi
meninggal akibat trauma tembus otak, dengan pada otak tergantung oleh faktor-faktor berikut :5
penyebab tersering akibat senjata api.3
 Lokasi intracranial (entry point): Tingginya
angka mortalitas disebabkan karena jejas

Case Series - Menejemen Trauma Tembus Otak 7


penetrasi yang melewati garis tengah Penanganan trauma tembus kepala dimulai dari
(midline), menembus ventrikel otak, atau primary survey dan stabilisasi airway, breathing,
sampai menembus ke fossa posterior. dan sirkulasi. Evaluasi dan resusitasi harus segera
 Tenaga dan kecepatan dari benda: Lesi dilakukan segera setelah pasien sampai di ruang
penetrasi ini dapat terbentuk tergantung dari gawat darurat. Setelah pasien di resusitasi evaluasi
seberapa besar tenaga dan kecepatan yang jejas pada kepala segera dilakukan. Luka masuk
dihantarkan ke tulang tengkorak dan jaringan harus segera di identifikasi serta ada tidaknya luka
otak dibawahnya. Kecepatan suatu benda keluar juga harus di evaluasi. Periksa ada tidaknya
dapat mempengaruhi angka mortalitas yang
cairan serebrospinal, darah, atau parenkim otak
terjadi.
yang tampak dari luka. Pemeriksaan status
 Ukuran dan jenis benda
neurologis dilakukan setelah evaluasi luka selesai
 Cedera penyerta yang lain
disusul dengan pemeriksaan status general untuk
Bentuk dari benda yang menembus otak juga mencari ada tidaknya kelainan pada organ lain.3
berpengaruh terhadap cedera yang disebabkan. Pemeriksaan laboratorium mencakup analisa gas
Sebagai contoh, peluru dengan ujung tumpul lebih
darah, elektrolit, darah lengkap, faktor koagulasi,
mudah dipengaruhi resistensi udara dibandingkan
golongan darah, alcohol dan obat obatan. Setelah
peluru berujung tajam. Akibatnya, peluru
pemeriksaan laporatorium selesai dilakukan
berujung tajam akan menyebabkan kerusakan
yang lebih berat.10 pasien segera dibawa ke radiologi untuk
pemeriksaan selanjutnya.3
Trayek dari benda yang menembus otak
berpengaruh terhadap beratnya cedera. Trauma Foto polos kepala dapat berguna dalam
tembus dengan trayek bihemisferik adalah trauma menentukan lokasi benda asing dalam kepala, ada
tembus yang melewati midline dan mengenai tidaknya serpihan tulang serta udara pada
kedua hemisfer, atau menembus ventrikel pada intracranial. Namun bagaimanapun pemeriksaan
kedua hemisfer. Trayek bihemisferik juga foto polos tidak dapat digunakan untuk
mencakup jalur benda yang tidak melewati mengevaluasi hal penting lain seperti adanya
midline, namun berjalan secara anteroposterior perdarahan dan trajektori proyektil. Karena itu
atau inferosuperior.11 Trayek bihemisferik adalah pemeriksaan lebih disarankan sebagai penunjang
prediktor outcome yang buruk. 12 radiologis utama karena dapat memberikan
informasi yang lebih lengkap dengan waktu
Jaringan otak memiliki konsentrasi air yang tinggi pemeriksaan yang relatif singkat.1
sehingga memiliki bentuk yang relatif elastis dan
rentan terhadap cedera penetrasi. Tingginya Non-enhanced CT adalah modalitas radiologi
tekanan dari suatu benda akan menyebabkan crush utama dalam mendiagnosis trauma tembus karena
injury dan nekrosis sel di sepanjang lesi yang waktu pemeriksaan yang singkat dan sensitivitas
membentuk suatu rongga. Penyebab dari yang tinggi.13
terbentuknya rongga ini adalah tingginya tenanga
Artefak akibat benda logam yang dapat ditemukan
dan kecepatan dari suatu benda dan kematian sel
pada CT Scan dapat dikurangi dengan Dual-
akibat dari stretching, shearing, dan kompresi
Energy CT.14
pada jaringan otak sekitarnya.4

Case Series - Menejemen Trauma Tembus Otak 8


CT Angiografi dapat sangat membantu GCS 3-5, proyektil melewati midline dan
mendeteksi adanya lesi vascular baik dalam menembus corpus callosum, menembus thalamus
bentuk perdarahan maupun traumatik aneurisma.4 bilateral, basal ganglia fossa posterior, batang
otak, dan area 4 cm di atas dorsum sella adalah
Pada kebanyakan kasus pemeriksaan MRI kurang zona fatal dan biasanya tidak dilakukan
disarankan karena keterbatasannya dalam pembedahan.16
mendeteksi benda asing, waktu pemerisaan yang
lama serta adanya kontra indikasi apabila Sebuah penelitian retrospektif menunjukkan
proyektil terbuat dari bahan logam.1,2,4 bahwa terapi agresif dengan menggunakan produk
darah dan cairan hiperosmolar, serta mengurangi
Terapi pembedahan pada trauma tembus otak penggunaan kristaloid, dapat meningkatkan
telah berkembang dari waktu ke waktu. Sebelum survival pada pasien trauma tembus otak.17
tahun 1889, pada pasien trauma tembus otak tidak
diakukan tindakan operatif karena belum ada Infeksi merupakan komplikasi yang tidak jarang
modalitas homeostasis dan pencegahan infeksi terjadi pada pasien trauma tembus otak, adanya
yang buruk. Harvey Cushing merupakan yang infeksi meningkatkan angka mortalitas dan
pertama mengembangkan teknik operasi dan morbiditas pasien. Resiko infeksi terutama akibat
melakukan pengangkatan peluru pada pasien kontaminasi dari benda asing, kulit, rambut, dan
trauma tembak kepala. Selain itu cushing juga serpihan tulang yang terdorong kedalam jaringan
melakukan debridemen dan dekompresi otak sepanjang jalur proyektil.2
3
craniectomy.
Staphylococcus aureus merupakan jenis
Tindakan pembedahan sebaiknya dilakukan dalam organisme yang sering menjadi penyebab infeksi
waktu kurang dari 12 jam. Tindakan debridemen pada trauma tembus otak. Namun infeksi kuman
lebih dari 12 jam meningkatkan resiko terjadinya gram negatif juga cukup sering ditemukan.
infeksi. Pemilihan tindakan operatif dengan Pemberian antibiotik spektrum luas harus dimulai
kraniotomi atau kraniektomi masih menjadi secepat mungkin pada semua pasien trauma
perdebatan. Radikal debridemen menjadi standar tembus otak. Pilihan antibiotik yang
pada perang dunia I dan II, korea ,dan Vietnam. direkomendasikan adalah co-amoxiclav iv
Pada tahun 1980 selama konflik Israel-Libanon 1,2g/8jam, atau cefuroxime iv 1,5g dan
tren debridemen pada trauma tembus kepala maintenance 750mg/8jam dengan metronidazole
bergeser menjadi konservatif debridemen dengan iv 500mg/8jam. Antibiotik diberikan selama 7-14
tujuan mempertahankan jaringan otak sebanyak hari.2,3
mungkin.3
Ada banyak komplikasi yang mungkin terjadi
Pasien dengan usia tua, GCS rendah, refleks pupil pada trauma tembus otak. Salah satu yang sering
abnormal, trayek bihemisferik, dan tidak terjadi dan paling berat adalah vasospasme cerebri
tampaknya sisterna basalis pada pemeriksaan akibat perdarahan subarachnoid dan traumatic
radiologi memiliki prognosis buruk dan aneurisma. Vasospasme cerebral biasanya muncul
kemungkinan tindakan pembedahan tidak antara hari ke 5-11 post trauma. Karena itu
memberikan manfaat.15 pemeriksaan CT angigrafi disarankan dilakukan

Case Series - Menejemen Trauma Tembus Otak 9


pada kasus-kasus dimana terdapat kecurigaan lesi Faktor klinis yang berkaitan dengan prognosis
vascular.1,3 yang buruk termasuk GCS yang rendah post
resusitasi, usia tua, pupil midrasis, pupil tidak
Kebocoran cairan serebrospinal dapat terjadi reaktif/asimetris, hipoksia, hipotensi. Faktor
akibat kerusakan dura yang tidak membaik. lainnya adalah kekuatan senjata, caliber senjata,
Kebocoran biasanya terjadi pada entry atau exit lesi pada struktur penting dari CT scan.3
wound. Kebocoran cairan serebrospinal
18
meningkatkan risiko infeksi. Temuan CT Scan yang diasosiasikan dengan
prognosis yang buruk antara lain adalah
Kebocoran cairan serebrospinal paling sering perdarahan subaraknoid, intraserebral luas,
terjadi pada cedera orbitofrontal dan pergeseran midline, trayek bihemisferik dan
19
transtemporal. transventrikular.27
Epilepsi post-trauma dapat terjadi setelah trauma
tembus, dan dibagi menjadi early dan late.
Epilepsi early terjadi dalam tujuh hari pertama, Diskusi
dan biasanya tipe kejang umum. Epilepsi late
terjadi setelah tujuh hari pertama, dengan tipe Dari 3 kasus yang ada semua pasien memiliki
kejang fokal atau fokal dengan kejang umum GCS datang 15 tanpa ditemui adanya defisit
sekunder.20 neurologis, hal ini disebabkan oleh trauma tembus
otak yang terjadi disebabkan oleh senjata dengan
Faktor risiko kejang paska trauma tembus antara kecepatan rendah dan tidak mengenai area penting
lain adalah infeksi, fragmen benda atau tulang di otak.
yang tertinggal di dalam, dan adanya hematom.21
Pada ketiga kasus dilakukan scan kepala untuk
Evaluasi postoperatif dapat dilakukan dengan mengetahui posisi korpus alineum dalam otak dan
pemeriksaan CT Scan, dengan tujuan hubungannya dengan struktur penting. CT
mengevaluasi hematom, benda asing yang angiografi juga dilakukan pada kasus 1 dan 2
tertinggal, dan edema serebri.22 untuk menilai ada tidaknya lesi vaskular dan
kemungkinan komplikasi traumatik aneurisma.
Pemberian obat anti kejang tetap dilanjutkan Pada pasien ke 3 karena dari hasil CT scan kepala
setelah dilakukan pembedahan selama tujuh hari awal diperkirakan tidak mengenai struktur
pertama.23 vascular yang penting maka tidak dilakukan CT
Pasien trauma tembus otak dengan kerusakan angiografi. Dari hasil CT angiografi pasien 1 dan
vaskular dianjurkan untuk menjalani angiografi 2 tidak ditemukan adanya lesi pada vaskular.
ulang dalam 2-3 minggu.24 Pemeriksaan foto polos kepala tidak dilakukan
Trauma tembus otak adalah trauma yang memiliki karena informasi yang didapat dari CT scan sudah
prognosis buruk. Sekitar 70-90% pasien mencukupi.
meninggal sebelum sampai di rumah sakit, dan Pada semua kasus dilakukan pemberian antibiotik
50% dari pasien yang sampai di rumah sakit empirik dan anti kejang sejak pasien datang ke
meninggal saat resusitasi.25,26 UGD. Kraniotomi dan debridement dilakukan

Case Series - Menejemen Trauma Tembus Otak 10


dalam waktu kurang dari 12 jam onset kejadian injury: A guide for radiographers. Journal
sesuai guideline yang ada. of Medical Radiation Science.
2015;62:122-131.
Antibiotik empirik yang diberikan adalah 2. Kazim FS, Shamim SM, Tahir ZM.
ceftriaxone dan metronidazole segera setelah Management of penetrating brain injury.
pasien datang dan diteruskan sampai 14 hari. Journal of Emergencies, Trauma, and
Shock. 2011;4(3):395-402.
Semua pasien dipulangkan dalam kondisi stabil
3. Wyck VWD, Grant AG, Laskowitz TD.
dan diminta untuk kontrol ke poli tiap bulan untuk Penetrating traumatic brain injury: A
followup tanda-tanda infeksi selama 6 bulan. review of current evaluation and
management concepts. Journal of
Dari ketiga pasien dalam followup terakhir sampai Neurology & Neurophysiology. 2015;6(6):
3 bulan di poli tidak didapatkan tanda tanda 336.
infeksi. 4. Vakil TM, Singh KA. A review of
penetrating brain trauma: Epidemiology,
patophysiology, imaging assessment,
complications, and treatment.
Kesimpulan 2017;24(3):301-9.
5. Alao T, Waseem M. Penetrating Head
Pada pengalaman kami dengan mengikuti Trauma. StatPearls Publishing. 2018;
guideline trauma di RS Dr. Soetomo didapatkan 6. Shi J, Mao Y, Cao J. Management of
bahwa pada pasien trauma tembus yang dilakukan screwdriver-induced penetrating brain
kraniotomi debridement kurang dari 12 jam post injury: A case report. BMC Surgery
trauma diikuti pemberikan antibiotik profilaksis 2017;17:1–4.
empirik dengan ceftriaxone dan metronidazole 7. Miranda ARH, Rubiano MA, Agrawal A.
Craiocerebral Gunshot Injuries: A review
selama 7 hari dan antikejang phenytoin selama 7
of The Current Literature. Bulletin of
hari didapatkan keluaran yang memuaskan. Emergency and Trauma. 2016;4(2):65-74
8. Muehlschlegel S, Ayturk D, Ahlawat A,
Pemeriksaan CT scan kepala menjadi wajib untuk
Izzy S, Scalea TM, Stein DM, Sheth KN.
penegakan diagnosis trauma tembus kepala, Predicting survival after acute civilian
sedangkan pemeriksaan foto polos tidak perlu penetrating brain injuries. Neurology.
rutin dilakukan karena fungsinya dapat digantikan 2016;87(21):2244–53.
oleh CT scan dengan irisan yang baik. CT 9. Stefanopoulos PK, Hadjigeorgiou GF,
angiografi diperlukan pada kasus kasus yang Filippakis K, Gyftokostas D. Gunshot
dicurigai menyebabkan lesi vaskular. wounds: A review of ballistics related to
penetrating trauma. Journal of Acute
Teknik operasi pada trauma tembus kepala sendiri Disease. 2014;3(3):178–85.
sangat bervariasi tergantung kondisi pasien dan 10. Ordog GJ, Wasserberger J,
Balasubramanium S. Wound ballistics:
letak lesi pada pasien. Theory and practice. Ann Emerg Med.
1984;13:1113–22.
11. Turco L, Cornell DL, Phillips B.
Penetrating bihemispheric traumatic brain
Referensi
injury: A collective review of gunshot
1. Temple N, Donald C, Skora A.
Neuroimaging in adult penetrating brain

Case Series - Menejemen Trauma Tembus Otak 11


wounds to the head. World Neurosurgery. of posttraumatic seizures. N Engl J Med.
2017;104:653–9. 1990;323:497–502.
12. Liebenberg WA, Demetriades AK, 22. Fahde Y, Laghmari M, Skoumi M.
Hankins M, Hardwidge C, Hartzenberg Penetrating head trauma: 03 rare cases and
BH. Penetrating civilian craniocerebral literature review. Pan Afr Med J.
gunshot wounds: A protocol of delayed 2017;28:1-8.
surgery. Neurosurgery. 2005;57(2):293-9. 23. Li XS, Yan J, Liu C, Luo Y, Liao XS, Yu
13. Esposito DP, Walker JB. Contemporary L, Xiao SW. Nonmissile penetrating head
management of penetrating brain injury. injuries: Surgical management and review
Neurosurg Q. 2009;19:249–54. of the literature. World Neurosurgery.
14. Yu L, Leng S, McCollough CH. Dual- 2008;98:873.e9-873.e25.
energy CT-based monochromatic imaging. 24. Gutierrez-Gonzalez R, Boto GR, Rivero
AJR. 2012;199(5):9–15. Garvia M, Perez-Zamarron A, Gomez G.
15. Rosenfeld JV, Bell RS, Armonda R. Penetrating brain injury by drill bit. Clin
Current concepts in penetrating and blast Neurol Neurosurg. 2008;110(2):207-10.
injury to the central nervous system. 25. Offiah C, Twigg S. Imaging assessment of
World J Surg. 2015;39:1352-62. penetrating craniocerebral and spinal
16. Martins RS, Siqueira MG, Santos MT, trauma. Clin Radiol. 2009;64:1146–57.
Zanon-Collange N, Moraes OJ. Prognostic 26. Gressot L, Chamoun R, Patel A, Valadka
factors and treatment of penetrating A, Suki D, Robertson C. Predictors of
gunshot wounds to the head. Surg Neurol. outcome in civilians with gunshot wounds
2003;60:98-104. to the head upon presentation. Journal of
17. Joseph B, Aziz H, Pandit V, Kulvatunyou Neurosurgery. 2014;121:645-52.
N, O’Keeffe T, Wynne J, Rhee P. 27. Kim TW, Lee JK, Moon KS, Kwak HJ,
Improving survival rates after civilian Joo SP, Kim JH. Penetrating gunshot
gunshot wounds to the brain. Journal of the injuries to the brain. J Trauma.
American College of Surgeons. 2007;62(6):1446–51.
2014;218(1):58–65.
18. Aarabi B, Mossop C, Aarabi J. Surgical
management of civilian gunshot wounds to
the head. Handb Clin Neurol. 2015;127:
181-93.
19. Tan Y, Zhou S, Jiang H. Biomechanical
changes in the head associated with
penetrating injuries of the maxilla and
mandible: an experimental investigation. J
Oral Maxillofac Surg. 2002;60:552-6.
20. Chang BS, Lowenstein DH. Practice
parameter: Antieplieptic drug prophylaxis
in severe traumatic brain injury: Report of
the Quality Standards Subcommittee of the
American Academy of Neurology. Neurol.
2003;60:10-6.
21. Temkin NR, Dikmen SS, Wilensky AJ,
Keihm J, Chabal S. A randomized, double-
blind study of phenytoin for the prevention

Case Series - Menejemen Trauma Tembus Otak 12