Anda di halaman 1dari 15

A.

Judul
Kultur Air
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui pengaruh unsur-unsur
tertentu bagi pertumbuhan tumbuhan.
C. Waktu dan Tempat Pelaksanaan
Waktu dan tempat pelaksanaan praktikum ini yaitu pada:
Hari : Senin, 18 September 2018
Waktu : 14.40 s.d. 16.20
Tempat : Laboratorium Fisiologi FPMIPA A UPI
D. Landasan Teori
Air berperan sebagai pembawa unsur-unsur hara dan mineral. Kadar
air menggambarkan kandungan air pada bagian atau keseluruhan bagian
tanaman. Kadar air diperoleh dari selisih bobot basah dan bobot kering dari
tanaman. Tanaman sayur yang dibudidayakan dengan sistem hidroponik
biasanya memiliki kandungan air yang lebih tinggi dibanding pada
pertanaman di lahan. Kandungan air ini pun akan mempengaruhi kerenyahan
dan waktu simpan komoditas. Semakin tinggi kadar air pada suatu komoditas
maka tanaman akan semakin renyah namun mudah pula terjadi kerusakan
pada bagian tanaman (Fariudin dkk, 2013).
Hidroponik dengan sistem kultur air adalah bentuk sederhana dari
sebuah taman hidroponik . Sistem hidroponik kultur air merupakan barisan
tanaman yang mengapung bagaikan diatas kapal dalam bak larutan hara
hidroponik. Oksigen disediakan oleh alat pemberi udara akuarium secara terus
menerus. Sebuah sistem kultur air dapat pula diatur menggunakan akuarium
(di mana Anda dapat menonton akar yang tumbuh dan berkembang) atau
kotak plastik dan lembaran polystyrene yang digunakan untuk menahan
tanaman dan diapungkan pada larutan hara. Tanaman terus menerus dalam
kontak dengan larutan hara, maka tidak ada bahaya kerusakan tanaman
(Purbajanti, E., Slamet, W., & Kusmiyati, F., 2017).
Beberapa unsur yang dibutuhkan dan peranannya bagi tanaman yaitu
karbon, hidrogen dan oksigen yang diserap dari udara dan air . Berbagai hara
mineral lainnya, dilarutkan dalam larutan hara. Unsur hara esensiil terdiri atas
makronutrien adalah C (karbon), H (hydrogen), O (oksigen), mengandung
Nitrogen (N), Kalium (K), Fosfor (P), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Sulfur
(S) sedangkan mikronutrien adalah Besi (Fe), Mangan (Mn), tembaga (Cu),
Zinc (Zn), Molydenum (Mo), Boron (B), Klorin (Cl) (Purbajanti, E., Slamet,
W., & Kusmiyati, F., 2017).
Nitrogen dibutuhkan sekitar 1,5% atau 15.000 Mg/kg. Nitrogen
merupakan bagian dari sejumlah komponen organiK seperti asam amino,
protein, asam nukleAt, koenzim dan klorofil. Nitrogen berfungsi untuk
pertumbuhan tanaman karena merupakan komponen protein, asam nukleat,
asam amino, dan senyawa lainnya. Kekurangan N menyebabkan terjadinya
klorosis pada daun. Pada kasus yang parah, daun menjadi kuning seluruhnya
lalu agak kecoklatan saat mati. Biasanya daun gugur pada fase kuning atau
kuning kecoklatan. Daun muda tetap hijau lebih lama karena mereka
mendapatkan nitrogen larut yang berasal dari daun tua. Beberapa jenis
tanaman seperti tomat dan jagung menunjukkan warna keunguan pada batang,
tangkai daun, dan permukaan bawah daun karena adanya penumpukkan
pigmen antasianin (Purbajanti, E., Slamet, W., & Kusmiyati, F., 2017).
Kalium diperlukan sekitar 1,0% atau 10.000 Mg/kg. Kalium berperan
sebagai katalisator yang mengaktifkan sejumlah enzim penting untuk
fotosintesis dan respirasi, juga mengaktifkan enzim yang diperlukan untuk
membentuk pati dan protein sehingga penting untuk metabolisme di dalam
tumbuhan. Gejala defisiensi pertama kali tampak pada daun tua. Pada
tanaman dikotil, mula-mula daun agak klorosis, kemudian menjadi bercak
nekrois berwarna gelap (bercak mati) yang segera meluas. Pada tanaman
monokotil, misalnya tanaman serealia, sel di ujung daun dan tepi daun mula-
mula mati, dan nekrosis meluas ke bawah sepanjang tepi menuju bagian muda
di dasar daun (Purbajanti, E., Slamet, W., & Kusmiyati, F., 2017).
Fosfor diperlukan sebanyak 0,2% atau 2.000 Mg/kg. Fungsi fosfor
untuk membangun tumbuhan yang diserap tumbuhan dalam bentuk ion fosfat
dan divalen, juga penting dalam metabolisme energi dan sering menjadi
pembatas pertumbuhan. Kekurangan P menyebabkan tumbuhan menjadi
kerdil dan berwarna hijau tua. Kekurangan P tanaman menunjukkan warna
hijau tua. Kekurangan P sering muncul warna merah dan ungu, tangkai
pendek dan pipih jika kekahatan unsur terjadi pada taraf pertumbuhan lanjut.
Kekurangan P ditandai juga dengan hilangnya daun-daun yang lebih tua,
pembentukan antosianin pada batang tulang daun, dan dalam keadaan yang
parah timbul daerah nekrotik pada berbagai bagian tumbuhan (Purbajanti, E.,
Slamet, W., & Kusmiyati, F., 2017).
Kalsium diperlukan sekitar 0,5 % atau 5.000 Mg/kg. Kalsium diserap
sebagai Ca2+ valensi dua. Kalsium penting dalam sintesis pektin pada lamela
tengah. Kalsium juga berperan sebagai katalisator, yaitu sebagai aktivator
beberapa enzim seperti fostofolipase. Berperan juga dalam detoksifikasi asam
oksalat, membetuk kristal Caoksalat yang dijumpai dalam vakula sel
tumbuhan. Kekurangan Ca yang parah dapat mengakibatkan kerusakan dan
kematian tumbuhan. Pada daerah meristematik yang kekurangan Ca,
pembentukan dinding sel baru akan terhambat sehingga pembelahan sel pun
akan dihambat. Dinding sel, terutama dalam menyokong struktur batang dan
petiol akan menjadi rapuh, dan perluasan sel dihambat. Gejala defisiensi Ca
yang berat akan terjadi klorosis sepanjang tepi daun yang muda, ujung daun
membengkok, pembentukan akar yang tertahan (Purbajanti, E., Slamet, W., &
Kusmiyati, F., 2017).
Magnesium diperlukan sekitar 0,2% atau 2.000 Mg/kg. Magnesium
berperan dalam sejumlah reaksi enzimatik. Magnesium diserap sebagai Mg2+
valensi dua. Disamping terdapat di dalam klorofil, magnesium juga bergabung
dengan ATP, mengaktifkan banyak enzim yang diperlukan dalam fotosintesis,
respirasi, dan pembentukan DNA serta RNA. Gejala defisiensi Mg yang
pertama terlihat adalah klorosis pada daun tua. Biasanya klorosis ini tampak
di antar-urat daun, karena sel mesofil di dekat ikatan pembuluh
mempertahankan klorofil lebih lama daripada sel paronkima di antaranya
(Purbajanti, E., Slamet, W., & Kusmiyati, F., 2017).
Belerang diperlukan sekitar 0,1 % atau 1.000 Mg/kg. Belerang diserap
dari tanah dalam bentuk anion sulfat valensi dua (SO4 2-). Belerang
dimetabolismekan oleh akar sebanyak yang diperlukan saja, dan sebagian
besar sulfat ditranslokasikan ke tajuk melalui xilem. Apabila terjadi defisiensi
belerang gejalanya meliputi klorosis biasa di seluruh daun, termasuk berkas
pembuluhnya. Besi merupakan katalis utama dalam produksi klorofil dan
digunakan dalam fotosintesis. Kurangnya zat besi menunjukkan gejala daun
kuning pucat atau putih sedangkan pembuluh darah tetap hijau. Tanaman sulit
untuk menyerap Fe dan bergerak perlahan di dalam pabrik. Untuk campuran
hara selalu digunakan chelated (segera tersedia untuk tanaman) besi
(Purbajanti, E., Slamet, W., & Kusmiyati, F., 2017).
Mangan bekerja dengan enzim tanaman untuk mengurangi nitrat
sebelum memproduksi protein. Kurangnya mangan gejalanya daun muda
berbintik-bintik kuning atau coklat. Seng adalah katalis dan harus hadir dalam
jumlah kecil untuk pertumbuhan tanaman. Kurangnya seng terjadi
pengerdilan, menguning dan keriting pada daun. Kelebihan seng jarang tapi
sangat beracun dan menyebabkan layu atau mati. Tembaga adalah katalis
untuk beberapa enzim. Kekurangan tembaga membuat layu pertumbuhan baru
dan menyebabkan pertumbuhan tidak teratur. Ekses tembaga menyebabkan
kematian mendadak. Tembaga juga digunakan sebagai fungisida dan penahan
serangga dan penyakit (Purbajanti, E., Slamet, W., & Kusmiyati, F., 2017).
Salah satu sifat dari unsur mikro ialah bahwa unsur mikro diperlukan
dalam jumlah sedikit dan dapat merusak bila dijumpai dalam jumlah banyak.
Molibdenium misalnya bila diberikan sebanyak 15-30 gram tiap hektar akan
menguntungkan, tetapi pemberian 3-4 kg tiap hektar dapat merusak/racun
bagi tanaman (Wiliams , and Joseph, KT, 1979). Unsur molibdenium (Mo)
berperanan sebagai enzim yang mereduksi nitrat (NO3) dan penting dalam
fiksasi nitrogen (N). Kekurangan unsure molibdenium menyebabkan terjadi
perubahan warna daun dri pucat menjdi menguning, tanaman menjadi keriput
dan akhirnya kering/mati. Tanaman yang kekurangan unsur Mo berkadar gula
asam askorbik dan sam amino rendah (Sudarmi, 2013).

E. Alat dan Bahan

Tabel 1. Alat yang digunakan pada Praktikum Kultur Air

No Nama Alat Jumlah


1 Botol kopi lengkap dengan tutup 4 botol
2 Kapas Secukupnya
3 Sedotan 4 buah
4 Kertas karbon 20cm x 20cm
5 pH meter Secukupnya
6 Neraca digital 1 unit
7 Batang pengaduk 1
8 Gelas ukur (1000 ml) 1
9 Beker gelas (1000 ml) 1

Tabel 2. Bahan yang digunakan pada Praktikum Kultur Air

No Nama larutan Bahan Jumlah


1 𝐶𝑎𝑆𝑂4 259 mg
2 𝑀𝑔𝑆𝑜4 250 mg
3 𝐹𝑒𝐶𝑙3 5 mg
Lengkap (Sach)
4 𝐾𝐻2 𝑃𝑂4 250 mg
5 𝐾𝑁𝑂3 340 mg
6 𝑁𝑎𝐶𝑙 80 mg
7 𝐾2 𝑆𝑂4 200 mg
8 𝐾𝐶𝑙 520 mg
9 𝐶𝑎𝐶𝑙2 160 mg
10 Unsur Pengganti 𝑁𝑎𝑁𝑂3 590 mg
11 𝑁𝑎3 𝑃𝑂4 710 mg
12 𝐶𝑎𝑁𝑂3 160 mg
13 𝑀𝑔𝐶𝑙2 210 mg
14 Stek Batang Pleomele 4 batang
F. Langkah Kerja
Bagan Alir 1. Langkah Kerja Praktikum Kultur Air

Membuat larutan lengkap dengan komposisi yang tertera pada tabel 3.1

Membuat larutan tidak lengkap


Tanpa Ca Tanpa N Tanpa P Tanpa S Tanpa Mg Tanpa Fe

Memastikan Larutan atau medium memiliki pH 5,8 baik dengan penambahan NaOH atau
HCl

Masing-masing medium dimasukan dalam botol yang tutupnya telah dilubangi seukuran
batang Pleomele dan sedotan

Tumbuhan pleomele dimasukan dalam botol dari lubang pada tutup botol yang telah
dibuat sebelumnya dan satu luabang lagi untuk sedotan

Botol diutup denga kertas karbon

Kultur di simpan di tempat yang terkene sinar matahri


G. Hasil Pengamatan
Tabel 3. Hasil Pengamatan Praktikum Kultur Air

No. Jenis Keadaan Awal Tanaman Keadaan Akhir Tanaman


Keterangan Keterangan
Tabung Larutan Daun Batang Akar Tinggi Daun Batang Akar Tinggi
Jumlah Keadaan Daun Jumlah Keadaan daun :
daun = 15 = daun = 15 1. Ujung layu
Panjang 1. Ujung Panjang 2. Normal
Daun (cm) layu Daun (cm) 3. Sobek
= 2. Normal = 4. Normal,
1.) 2,8 3. Sobek 1.) 2,8 ujung
2.) 6,2 4. Normal, 2.) 6,5 bernoda
3.) 8,4 ujung 3.) 8,5 5. Normal
4.) 9,3 bernoda 4.) 9,3 6. Ujung
5.) 10,5 5. Normal 5.) 11 bertitik
6.) 9,5 6. Ujung 6.) 9,5 merah
7.) 10,5 bertitik 7.) 10,5 7. Ujung
8.) 10,3 Panjang merah 8.) 10,3 Panjang sobek
21,6 21,6
1. L 9.) 10,6 = 30,5 - 7. Ujung 9.) 10,6 = 30,5 - 8. Normal
cm cm
10.) 10,7 cm sobek 10.) 10,7 cm 9. Normal
11.) 10,8 8. Normal 11.) 10,8 10. Ujung daun
12.) 11,2 9. Normal 12.) 11,2 potong
13.) 11,1 10. Ujung 13.) 11,1 11. Normal
14.) 11,1 daun 14.) 11,1 12. Ujung
15.) 10,5 potong 15.) 10,5 sobek
11. Normal 13. Normal
12. Ujung 14. Normal
sobek 15. Ujung daun
13. Normal potong
14. Normal
15. Ujung
daun
No. Jenis Keadaan Awal Tanaman Keadaan Akhir Tanaman
Keterangan Keterangan
Tabung Larutan Daun Batang Akar Tinggi Daun Batang Akar Tinggi
potong
Jumlah Keadaan Daun Jumlah Keadaan Daun
daun = 15 = Daun = 12 =
Panjang 1. Kering Panjang 1. Gugur
Daun (cm) 2. Dipinggir Daun (cm) 2. Dipinggir
= bercak = bercak
1.) 4 merah 1.) - merah
2.) 6,2 3. Ada luka 2.) 6,5 3. Ada luka
3.) 8,6 kuning 3.) 9,5 kuning dan
4.) 10,3 4. Ujung 4.) 11 bercak
5.) 7,7 daun patah 5.) 8 merah
6.) 9,2 5. Normal 6.) 9,5 4. Ujung daun
7.) 10,3 6. Sedikit 7.) – patah
8.) 11,6 bercak 8.) 11,6 5. Ujung daun
9.) 10,6 merah, ada 9.) 11 kering
10.) 11,2 bercak 10.) 12 6. Banyak
Panjang
11.) 11,5 Panjang hitam 11.) 11,2 bercak
2. - Ca - 22 cm = 26 - 22 cm
12.) 11,9 = 26 cm 7. Ujung 12.) - merah
cm
13.) 10,8 daun 13.) 10,8 7. Gugur
14.) 11,7 bercak 14.) 12,5 8. Normal
15.) 11 merah dan 15.) 11 9. Normal
bercodet 10. Pangkal
8. Normal daun
9. Normal sedikti
10. Normal bercak
11. Ujung merah
daun 11. Ujung daun
bercodet bercodet
12. Pangkal dan sedikit
daun kering
kuning 12. Gugur
13. Normal
14. Normal
No. Keadaan Awal Tanaman Keadaan Awal Tanaman
Larutan
Tabung Keterangan Keterangan
Daun Batang Akar Tinggi Daun Batang Akar Tinggi
15. Normal 13. Normal
Normal 14. Normal
15. Normal
Jumlah Keadaan Daun Jumlah Keadaan Daun
Daun = 15 = Daun = 15 =
Panjang 1. Sobek, Panjang 1. Sobek,
Daun (cm) ujung daun Daun (cm) ujung daun
= mau patah = mau patah
1.) 3,5 2. Normal 1.) 3,5 2. Normal
2.) 6,7 3. Normal 2.) 6,7 3. Normal
3.) 9 4. Normal 3.) 9 4. Normal
4.) 9,5 5. Bercak 4.) 9,5 5. Bercak
5.) 8,9 merah 5.) 8,9 merah
6.) 8,9 diujung 6.) 8,9 diujung
7.) 9,4 daun 7.) 9,4 daun
8.) 11,3 6. Normal 8.) 11,3 6. Normal
9.) 10 7. Codet 9.) 10 Panjang 7. Codet
Panjang 19,5 19,5
3. -N 10.) 12,1 - diujung 10.) 12,1 = 20 - diujung
= 20 cm cm cm
11.) 10,8 daun 11.) 10,8 cm daun
12.) 9,4 8. Normal 12.) 9,4 8. Normal
13.) 11,7 9. Sobek 13.) 11,7 9. Sobek
14.) 10,5 panjang 14.) 10,5 panjang
15.) 12,1 10. Normal 15.) 12,1 10. Normal
11. Normal 11. Normal
12. Normal 12. Normal
13. Normal 13. Normal
14. Sedikit 14. Sedikit
sobek sobek
bagian kiri bagian kiri
15. Sobek Sobek ujung
ujung kiri kiri dan bercak
dan bercak merah
No. Keadaan Awal Tanaman Keadaan Awal Tanaman
Larutan Keterangan Keterangan
Tabung Daun Batang Akar Tinggi Daun Batang Akar Tinggi
merah
Jumlah Keadaan Daun Jumlah Keadaan Daun
Daun = 15 = Daun = 15 =
Keadaan 1. Normal Keadaan 1. Normal
Daun (cm) 2. Normal Daun (cm) 2. Normal
= 3. Normal = 3. Normal
1.) 2,6 4. Normal 1) 3 4. Normal
2.) 4,6 5. Normal 2) 5 5. Normal
3.) 6,8 6. Normal 3) 7,1 6. Normal
4.) 7,5 7. Normal 4) 8,5 7. Ujung daun
Panjang
5.) 9,6 Panjang 8. Normal 5) 10 kering
4. - Fe - 15 cm = 16 - 15 cm
6.) 8,3 = 16 cm 9. Normal 6) 9,5 8. Normal
cm
7.) 9,9 10. Normal 7) 10,3 9. Normal
8.) 10,4 11. Normal 8) 10,4 10. Ujung daun
9.) 10 12. Normal 9) 10 kering
10.) 10,2 13. Normal 10) 10,5 11. Normal
11.) 10,4 14. Normal 11) 10,5 12. Normal
12.) 10,2 15. Normal 12) 10,5 13. Normal
13.) 9,7 13) 10 14. Normal
14.) 8,7 14) 8,7 15. Normal
15.) 9,2 15) 9,5
Tabel 4. Dokumentasi perubahan bagian daun selama Praktikum Kultur Air

Nomor Dokumentasi
1.

Gambar 1. Normal
(Dok. Kelompok 3, 2018)
2.

Gambar 2. Daun bercak merah


(Dok. Kelompok 3, 2018)
3.

Gambar 3. Daun ujung kering


(Dok. Kelompok 3, 2018)
4.

Gambar 4. Daun gugur


(Dok. Kelompok 3, 2018)
5.

Gambar 5. Daun sobek


(Dok. Kelompok 3, 2018)
H. Pembahasan
Praktikum kultur air bertujuan untuk mengetahui fungsi berbagai
macam unsur dari pertumbuhan tumbuhan. Percobaan ini dilakukan
dengan memberi perlaukan berupa pemberian unsur dalam larutan yang
berbeda-beda pada tanaman Pleomele. Perlakuan pertama yaitu pemberian
larutan lengkap yang di dalam sudah mengandung seluruh unsur-unsur
pertumbuhan pada tumbuhan. Perlakukan kedua yaitu pemberian larutan
tanpa unsur Ca (Kalsium). perlakuan ketiga yaitu pemberian larutan tanpa
unsur N (Nitrogen), dan perlakuan keempat yaitu pemberian larutan tanpa
unsur Fe. Praktikum ini dilakukan selama kurang lebih 4 minggu, dengan
pemberian cahaya matahari yang cukup.
Tumbuhan Pleomele yang diberi larutan lengkap setelah 4 minggu,
tidak mengalami perubahan yang signifikan. Jumlah daun yang semula 15
daun dan di akhir pun masih 15 daun, juga tanpa ada perubahan fisik yang
terlihat. Sedangkan tumbuhan Pleomele yang diberi larutan tanpa Ca
terdapat tiga daun yang gugur. Selain itu juga ada satu daun yang
ujungnya mengering, dan muncul bercak-bercak merah pada beberapa
daun hal tersebut menunjukan bahwa unsur Ca mempengaruhi
pertumbuhan Pleomele. Seperti yang telah dijelaskan dalam dasar teori
unsur Ca memiliki fungsi untuk mengatur permeabilitas dinding sel.
Defisiensi Ca terjadi pada daun muda, terlihat gejala klorosis pada ujung
dan tepi daun, kemudian ke tulang daun dan pucuk.
Lalu tanaman Pleomele yang diberi larutan tanpa unsur N
berdasarkan percobaan tidak terlalu signifikan. Namun berdasarkan pada
teori jika suatu tumbuhan kekurangan unsur N gejala utamanya pada daun
tua yaitu warna daun menjadi hijau muda dan kuning, tanaman menjadi
kedil. Hal tersebut terjadi karena fungsi unsur N untuk membentuk protein
bersama dengan unsur C, H, dan O.
Pada perlakukan keempat yaitu pemberian larutan tanpa unsur Fe,
terdapat dua daun yang ujungnya mengering. Jika ditinjau dari teori unsur
Fe merupakan katalisator pada pembentukan hijau daun. Maka daun yang
ujungnya mengering tersebut merupakan dampak dari defisiensi Fe. Selain
itu defisiensi unsur Fe juga menyebabkan tanaman muda klorosis diantara
tulang-tulang daun muda dan kemudian menjadi kuning.
Kadar atau jumlah unsur yang dibutuhkan oleh tumbuhan berbeda-
beda. Ada yang dibutuhkan dalam jumlah banyak ada juga yang sedikit.
Misalnya unsur C, H, O, dibutuhkan tumbuhan dalam julah yang banyak,
sedangkan Cl, Zn, B, dll dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit. Namun
jika salah satu dari unsur tersebut mengalami defisiensi atau bahkan tidak
ada akan mempengaruhi petumbuhan tumbuhan tersebut.

I. Jawaban Pertanyaan

1. Mengapa botol yang digunakan harus ditutup menggunakan kertas


karbon?
Jawab : bagian botol yang ditutup menggunakan karbon bertujuan
untuk menghalangi masuknya sinar matahari. Hal ini ditujukan pula
agar kondisi perlakuan disesuaikan dengan lingkungan aslinya di dalam
tanah yang gelap.
2. Mengapa medium harus diaerasi?
Jawab : akar memiliki sifat yang sensitif terhadap oksigen. Medium
memerlukan proses aerasi karena mediu perlu penambahan jumlah
oksigen dari udara luar, serta pengurangan jumlah karbon dioksida
dalam medium.
3. Adakah perbedaan antara perlakuan yang anda amati? Jelaskan
Jawab : Ya, ada. Pada perlakuan tumbuhan suji yang diberi larutan
engkap, kondisi awal tumbuhan dengan kondisi akhir tumbuhan tidak
menunjukkan adanya perubahan. Ukuran panjang daun, tinggi
tumbuhan, keadaan daun, dan keadaan akar pada saat sebelum diberi
perlakuan dan setelah diberi perlakuan tetap sama. Lain halnya pada
tumbuhan yang diberi larutan tanpa Ca. pada tamanan ini, beberapa
daun gugur, kering, dan menguning dibagian ujunnya. Tumbuhan yang
diberi perlakuan lautan tanpa N tidak mengalami perubahan. Sedangkan
tumbuhan yang diberi perlakuan tanpa Fe, beberapa daunnya mengering
dibagian ujungnya.
4. Pada hari keberapa tumbuhan yang anda amati mulai menunjukkan
perubahan? Gejala apa saja yang dapat anda lihat?
Jawab : Tumbuhan yang mulai menunjukkan perubahan adalah
tumbuhan yang diberi perlakuan larutan tanpa N. Pada perlakuan ini,
perubahan terjadi pada hari ke-7, di mana bagian ujung daun ada yang
menguning (kering). Kemudian, perubahan juga terjadi pada saat daun
gugur.

J. Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum yang telah kelompok kami lakukan,


keberadaan unsur hara dan mineral memang sangat diperlukan oleh
tumbuhan meskipun kadar yang dibutuhkan oleh tumbuhan tersebut
berbeda-beda. Keempat larutan yang kami gunakan dalam percobaan ini
yang paling terlihat pengaruhnya yaitu ketidakadaan unsur Ca yang
membuat tanaman Pleomele terutama bagian daunnya mengering dan
sebagian gugur juga ketidakadaan unsur Fe yang membuat ujung daun
Pleomele mengering. Pada larutan lengkap kondisi Pleomele tetap sehat
dan segar. Sehingga dalam menumbuhkan tumbuhan perlu diperhatikan
kelengkapan unsur hara dan mineral pada media tumbuhnnya agar
tumbuhan tersebut dapat hidup dan tumbuh dengan baik.
Daftar Pustaka

Fariudin, R., Sulistyaningsih, E., & Waluyo, S. (2013). Pertumbuhan dan


Hasil Dua Kultivar Selada (Lactuca sativa L.) dalam Akuaponika pada Kolam
Gurami dan Kolam Nila. Vegetalika, 2(1), 66-81.

Purbajanti, E., Slamet, W., & Kusmiyati, F. (2017). Hidroponik :


Bertanam tanpa tanah. Semarang : EF Digimedia Press.

Sudarmi. (2013). Pentingnya Unsur Hara Mikro Bagi Pertumbuhan


Tanaman Widyatama. Vol.22 (2): 178-183.

Anda mungkin juga menyukai