Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

KERUSAKAN, PENGERJAAN ULANG, DAN BARANG

RONGSOKAN

OLEH: KELOMPOK

SRIDEPI 105731110916

KARMILAWATI 105731111016

MUSPIRA 105731111116

RISNA SAFITRI 105731111216

QALBI ISTIQAMAH 105731111316

SARINA 105731111416

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2018
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita haturkan atas kehadirat Alla SWT yang telah memberikan
kita berbagai macam nikmat, sehingga aktivitas hidup yang kita jalani ini akan
selalu membawa keberkahan, baik dikehidupan didunia ini, lebih-lebih lagi
kehidupan akhirat kelak, sehingga semua harapan yang ingin kita capai menjadi
lebih mudah dan penuh manfaat.

Terimakasih sebelum dan sesudahnya kami ucapkan kepada ibu RINI


SULISTIYANTI, SE,. M.Ak selaku dosen pembimbing serta teman-teman
sekalian yang telah membantu, sehingga makalah ini dapat terselesaikan dalam
waktu yang telah ditentukan.

Kami sangat menyadari, dalam penyusunan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan serta masih banyak kekurangan-kekurangannya, baik dari segi tata
bahasa maupun dalam hal pengkonsolidasian kepada dosen serta teman-teman
yang kadang kala hanya menuruti egoisme pribadi, untuk itu besar harapan kami
jika ada kritik dan saran yang membangun untuk lebih menyempurnakan
makalah-makalah kami dilain waktu.

Harapan yang paling besar dari penyusunan makalah ini adalah, mudah-
mudahan apa yang kami susun ini penuh manfaat, baik untuk pribadi, teman-
teman, serta orang lain yang ingin mengambil atau menyempurnakannya lagi.

Penulis

Makassar, 11 Mei 2018

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii


DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................................ 1
C. Tujuan .......................................................................................................... 1
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................ 3
A. Terminologi .................................................................................................. 3
B. Jenis Kerusakan Yang Berbeda .................................................................... 4
C. Kalkulasi Biaya Proses dan Kerusakan ........................................................ 5
D. Metode Rata – Rata Tertimbang dan Kerusakan ......................................... 8
E. Metode FIFO dan Kerusakan ..................................................................... 10
G. Akuntansi untuk Barang Rongsokan .......................................................... 15
BAB III PENUTUP .............................................................................................. 19
A. Kesimpulan ................................................................................................ 19
B. Saran ........................................................................................................... 19
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 20

iii
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kerusakan adalah unit produksi baik yang telah selesai seluruhnya atau yang
baru selesai sebagian yang tidak memenuhi spesifikasi yang diminta oleh
pelanggan dan akan dibuang atau dijual dengan harga yang lebih rendah.
Beberapa contoh kerusakan adalah kaus, jeans, sepatu, dan karpet yang cacat yang
dijual sebagai barang bekas. Pengerjaan ulang adalah unit produksi yang tidak
memenuhi spesifikasi yang diminta oleh pelanggan tetapi kemudian diperbaiki
dan dijual sebagai unit barang jadi. Barang rongsokan adalah bahan residu yang
berasal dari pembuatan suatu produk. Barang rongsokan adalah bahan residu yang
berasal dari pembuatan suatu produk. barang rongsokan memiliki total nilai jual
yang rendah dibandingkan dengan total nilai jual produk.

B. Rumusan Masalah
1. Apa perbedaan antara kerusakan, pengerjaan ulang, dan barang rongsokan?
2. Bagaimana menguraikan prosedur akuntansi untuk kerusakan normal dan
abnormal?
3. Bagaimana cara menghitung kerusakan dalam kalkulasi biaya proses dengan
menggunakan metode rata – rata tertimbang?
4. Bagaimana cara menghitung kerusakan dalam kalkulasi biaya proses dengan
menggunakan metode FIFO?
5. Bagaimana cara menghitung kerusakan dalam kalkulasi biaya proses dengan
menggunakan metode kalkulasi biaya standar?
6. Bagaimana cara menghitung kerusakan dalam kalkulasi biaya pekerjaan (job
costing)?
7. Bagaimana cara menghitung pengerjaan ulang dan kalkulasi biaya pekerjaan?
8. Bagaimana cara menghitung barabg rongsokan?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui perbedaan antara kerusakan, pengerjaan ulang, dan barang
rongsokan

1
2. Untuk mengetahui bagaimana menguraikan prosedur akuntansi untuk
kerusakan normal dan abnormal
3. Untuk mengetahui bagaimana cara menghitung kerusakan dalam kalkulasi
biaya proses dengan menggunakan metode rata – rata tertimbang
4. Untuk mengetahu bagaimana cara menghitung kerusakan dalam kalkulasi
biaya proses dengan menggunakan metode FIFO
5. Untuk mengetahui bagaimana cara menghitung kerusakan dalam kalkulasi
biaya proses dengan menggunakan metode kalkulasi biaya standar
6. Untuk mengetahui bagaimana cara menghitung kerusakan dalam kalkulasi
biaya pekerjaan (job costing)
7. Untuk Mengetahui bagaimana cara menghitung pengerjaan ulang dan
kalkulasi biaya pekerjaan?
8. Untuk mengetahui bagaimana cara menghitung barabg rongsokan?

2
BAB II PEMBAHASAN

A. Terminologi
Kerusakan (spoilage) adalah unit produksi baik yang telah selesai
seluruhnya atau yang baru selesai sebagian yang tidak memenuhi spesifikasi yang
diminta oleh pelanggan dan akan dibuang atau dijual dengan harga yang lebih
rendah. Beberapa contoh kerusakan adalah kaus, jeans, sepatu, dan karpet yang
cacat yang dijual sebagai “barang bekas,” atau kaleng aluminium cacat yang
dijual ke produsen aluminium untuk dilelehkan guna membuat produk aluminium
lainnya.

Pengerjaan ulang (rework) adalah unit produksi yang tidak memenuhi


spesifikasi yang diminta oleh pelanggan tetapi kemudian diperbaiki dan dijual
sebagai unit barang jadi. Sebagai contoh, unit produk yang cacat (seperti pager,
komputer, dan telepon) yang terdeteksi selama atau setelah proses produksi tetapi
sbelum unti tersebut dikirim ke pelanggan kadang – kadang dapat dikerjakan
ulang dan dijual sebgai produk yang baik.

Barang rongsokan (scrap) adalah bahan residu yang berasal dari


pembuatan suatu produk. Barang rongsokan memiliki total nilai jual yang rendah
dibandingkan dengan total nilai jual produk. Contohnya adalah potongan kayu
kecil sisa dari operasi pemotongan kayu, pinggiran plastik dari operasi peleburan
plastik, dan sisa potongan kain dari operasi penjahitan pakaian.

Beberapa jumlah kerusakan, pengerjaan ulang, dan barang rongsokan


melekat di banyak proses produksi. Sebagai contoh, pembuatan semikonduktor
sangatlah rumit dan sensitif sehingga wajar saja jika ada sejumlah unit yang rusak,
dan biasanya unti yang rusak tersebut tidak dapat dikerjakan ulang. Dalam
pembuatan peralatan mesin dengan tingkat presisi yang tinggi, unit yang rusak
dapat dikerjakan ulang untuk memenuhi standar, tetapi itupun dengan biaya yang
cukup besar. Dan dalam industri pertambangan, perusahaan memproses bijih yang
mengandung berbagai logam dan bebatuan yang bernilai. Beberapa bebatuan,
yang merupakan sisa, memang tidak dapat dihindari lagi.

3
B. Jenis Kerusakan Yang Berbeda
Akuntansi untuk kerusakan dimaksudkan guna menentukan besarnya
biaya kerusakan dan membedakan antara biaya kerusakan normal dan kerusakan
tidak normal. Untuk mengelola, mengendalikan, dan mengurangi biaya kerusakan,
perusahaan harus menyoroti biaya tersebut, bukan menguvurnya sebagai bagian
yang tidak teridentifikasi dari biaya unit yang baik yang telah dibuat.

Untuk mengilustrasikan kerusakan normal dan abnormal, mari


pertimbangkan Mendoza Plastic, yang membuat casing plastik untuk komputer
iMac dengan menggunakan cetakan injeksi plastik. Pada bulan Oktober 2005,
Mendoza mengeluarkan biaya sebesar $615.000 untuk membuat 20.500 unit. Dari
ke 20.500 unit tersebut, sebanyak 20.000 unit merupakan unit yang baik dan yang
500 merupakan unit yang rusak. Mendoza tidak memiliki persediaan awal
maupun persediaan akhir selama bulan tersebut. Dari 500 unit yang rusak,
sebanyak 400 unit rusak akibat mesin cetakan injeksi tidak mampu membuat
casing yang sempurna 100% selama waktu tersebut. Ini berarti unti – unit tersebut
akan rusak walaupun mesin dijalankan secara cermat dan efisien. Sementara yang
100 unit rusak akibat kemacetan mesin dan kesalahan operator.

a. Kerusakan normal
Kerusakan normal (normal spoilage) adalah kerusakan yang melekat
dalam proses produksi yang tetap saja terjadi meskipun operasi telah
berlangsung secara efisien. Manajemen memutuskan bahwa tingkat kerusakan
yang dianggap normal bergantung pada proses produksi. Di Mendoza plastic,
sebanyak 400 unit yang telah rusak akibat keterlambatan mesin cetakan injeksi
walaupun kondisi operasi mesin sudah efisisen dianggap sebagai kerusakan
normal. Biaya kerusakan normal umumnya dimasukkan sebagai komponen
biaya unit yang baik yang telah dibuat karena unit yang baik tidak dapat dibuat
tanpa disertai dengan beberapa unit yang rusak. Di Mendoza, tingkat
kerusakan dihitung dengan membagi unit kerusakan normal dengan total unit
yang baik yang telah selesai, bukan total unit aktual yang dimulai dalam
produksi. (Di Mendoza plastic, tingkat kerusakan normal adalah 400 – 20.000

4
= 0,02. Atau 2% bukan 400 ÷ 20.500 = 0,0195, atau 1,95%) mengapa? Karena
kerusakan normal adalah kerusakan yang terkait dengan unit yang baik yang
telah dibuat.
b. Kerusakan Abnormal
Kerusakan abnormal (abnormal spoilage) adalah kerusakan yang tidak
melekat dalam proses produksi tertentu dan tidak akan terjadi pada kondisi
operasi yang efisien. Di Mendoza, sebanyak 100 unit yang rusak akiat
kemacetan mesin dan kesalahan operator merupakan kerusakan abnormal.
Kerusakan abnormal umumnya dianggap sebagai hal yang dapat dihindari dan
dapat dikendalikan. Pada umumnya, operator lini dan personil pabrik lainnya
dapat mengurangi atau mengeleminasi kerusakan abnormal dengan
mengidnetifikasi penyebab kemacetan mesin, kesalahan operator, dan yang
lainnya, serta dengan menempuh langkah – langkah untuk mencegah hal
tersebut terulang lagi.

C. Kalkulasi Biaya Proses dan Kerusakan


a. Memperhitungkan semua kerusakan
Contoh 1 : Chipmakers, Inc., membuat chip komputer untuk televisi. Semua
bahan lansgung ditambahkan pada awal proses produksi. Untuk menyoroti
masalah yang terjadi dengan kerusakan normal kita mengasumsikan tidak ada
persediaan awal, dan hanya berfokus pada biaya bahan langsung. Data berikut
tersedia untuk bulan Mei 2006.

A B C
Bahan
1 Unit Fisik Langsung
2 Barang dalam proses, persediaan awal (1 Mei) 0
3 Dimulai selama bulan Mei 10.000
4 Unit yang baik yang selesai dan ditransfer keluar selama bulan mei 5.000
5 Unit yang rusak (semua kerusakan normal) 1.000
6 Barang dalam proses, persediaan akhir (31 Mei) 4.000
7 Tingkat penyelesaian barang dalam proses akhir 100%
8 Biaya bahan langsung yang ditambahkan di bulan Mei $270.000

Titik inspeksi (inspection point) adalah tahap proses produksi di mana


produk akan di uji untuk menentukan apakah prodk tersebut merupakan unit yang

5
dapat diterima atau tidak dapat diterima. Biasanya kerusakan diasumsikan terjadi
pada tahap penyelesaian, yaitu ketika inspeksi dilakukan. Dalam contoh kita, titik
inspeksi adalah pada proses akhir. Akibatnya unit yang rusak diasumsikan telah
selesai 100% dalam kaitanyya dengan bahan langsung.

Bagan 18-1 menghitung dan membebankan biaya perunit bahan langsung


dengan menggunakan pendekatan A serta pendekatan B. Pendekatan A
menunjukkan unit ekuivale output sebanyak 10.000 ÷ 5.000 unit ekuivalen berupa
unit yang baik yang telah selesai (5.000 unit fisik × 100%), 400 unit barang dalam
proses akhir (4.000 unit fisik × 100%). Pendekatan B menunjukkan unit ekuivalen
sebanyak 9.000 ÷ 5.000 unit ekuivalen berupa unit yang baik yang telah selesai
dan 4.000 unit ekuivalen dalam proses akhir. Pendekatan B tidak menghitung unit
ekuivalen kerusakan normal sehingga unit ekuivalen akan menurun, yang
membuat biaya unit ekuivalen yang baik menjadi lebih tinggi. Biaya unit
ekuivalen dalam pendekatan B sebesar $30 (yang tidak memperhitungkan unit
yang rusak), dan bukan biaya unit ekuivalen dalam pendekatan a sebesar $27
(yang memperhitungkan unit yang rusak), yang akan dibebankan ke barang dalam
proses yang belum mencapai titik inspeksi.

6
Bagan 18-1 Pengaruh mengakui unit ekuivalen dalam kerusakan untuk biaya
bahan langsung Chipmakers, Inc., selama bulan Mei 2006

b. Prosedur lima langkah untuk kalkulasi biaya proses dengan kerusakan


Contoh 2 : Azio Company membuat kontainer daur ulang di Departemen
pembentukannya. Bahan langsung ditambahkan pada awal produksi.
Sementara biaya konversi ditambahkan secara merata selama proses produksi
berlangsung. Beberapa dari unit produk ini rusak akibat adanya kecacatan,
yang hanya dapat dideteksi ketika unit jadi diinspeksi. Secara normal, unit
yang rusak adalah 10% dari unit output yang baik. Artinya, untuk setiap 10
unit baik yang diproduksi, ada 1 unit kerusakan normal. Ikhtisar data untuk
bulan Juli 2006 adalah sebagai berikut.

7
Prosedur lima langkah untuk kalkulasi biaya proses hanya memerlukan
sedikit modifikasi agar bisa mengakomodasikan kerusakan.
Langkah 1: mengikhtisarkan arus unit fisik output. Mengidentifikasi unit
kerusakan normal maupun kerusakan abnormal.
Langkah 2 : menghitung output dalam istilah unit ekuivalen.
Langkah 3 : menghitug biaya per unit ekuivalen
Langkah 4 : mengikhtisarkan total biaya yang akan diperhitungkan
Langkah 5 : membebankan total biaya ke unit yang telah selesai, ke unit yang
rusak dan ke unit barang dalam proses akhir.

D. Metode Rata – Rata Tertimbang dan Kerusakan


Langkah 3 menyajikan perhitungan biaya per unit ekuivalen dengan
menggunakan rata – rata tertimbang. Perhatikan bagaimanana, bagi setiap kategori
biaya, biaya barang dalam proses awal dan biaya pekerjaan yang dilakukan
selama periode berjalan dijumlahkan dan dibagi dengan unit ekuivalen dari semua
pekerjaa yang dilakukan hingga tanggal tersebut untuk menghitung biaya rata –
rata tertimbang per unit ekuivalen. Langkah 4 mengikhtisarkan total biaya yang
diperhitungkan. Langkah 5 membebankan biaya ke unit yang telah selesai, unit
yang mengalami kerusakan normal dan abnormal, serta persediaan akhir dengan
mengalikan unit ekuivalen yang dihitung pada langkah 2 dengan biaya per unit
ekuivalen yang dihitung pada langkah 3.

8
Bagan 18–2 metode rata-rata tertimbang dari kalkulasi biaya proses dengan
kerusakan departemen pembentukan Anzio Company untuk bulan Juli 2006

9
E. Metode FIFO dan Kerusakan
Bagan 18-3 , panel A, menyajikan langkah 1 dan 2 dengan menggunakan
metode FIFO, yang berfokus pada unit ekuivalen dari pekerjaan yang dilakukan
selama periode berjalan. Bagan 18-3, panel B, menyajikan langkah 3, 4, dan 5.
Perhatikan bagaimana, ketika membebankan biaya, metode FIFO
mempertahankan biaya dalam barang dalam proses awal tetap terpisah dan
berbeda dengan pekerjaan yang dilakukan selama periode berjalan.

F. Metode Kalkulasi Biaya Standar dan Kerusakan

Metode kalkulasi biaya standar menyederhanakan perhitungan kerusakan


normal dan abnormal. Untuk mengilustrasikannya, misalkan Anzio Company
menegembangkan biaya standar per unti berikut untuk pekerjaan yang dilakukan
di Departemen Pembentukan selama Bulan Juli 2006.
Bahan langsung $ 8.50
Biaya Konversi 10,50
Total biaya manufaktur $19,00
Asumsikan biaya standar per unit yang sama juga berlaku untuk
persediaan awal: 1.500 (1.500 X 100 %) unti ekuivalen badan langsung dan 900
(1.500 X 60%) unit ekuivalen biaya konversi, karena itu, persediaan awal pada
biaya standar adalah:
Bahan Langsung, 1.500 unit X $8,50/unit $12,750
Biaya Konversi, 900 unit x $10,50/unit 9,450
Total biaya Manufaktur $22,200

Metode kalkulasi biaya standar tidak memerlukan perhitungan biaya unit


ekuivalen, sehingga metode tersebut menyederhanakan kalkulasi biaya proses.
Biaya yang akan diperhitungkan dalam langkah 4 ditetapkan pada biaya standar,
sehingga biaya tersebut berbeda dengan biaya yang akan diperhitungkan menurut
metode rata-rata tertimbang dan FIFO, yang ditetapkan pada biaya aktual.

10
 Ayat Jurnal
Informasi dari panel B di bagan 18-2,18-3 dan 18-4 mendukung ayat jurnal
berikut untuk mentransfer unit baik yang telah selesai ke barang jadi dan untuk
mengakui kerugian dari kerusakan abnormal.

Rata-rata
Tertimbang FIFO Biaya Standar
Barang jadi 152.075 151.600 146.300
Barang dalam proses ---
pembentukan 152.075 151.600 146.300
untuk mencatat transfer unit yang
baik yang telah selesai selama
bulan
juli
kerugian dari kerusakan abnormal 5.925 6.000 5.700
Barang dalam proses ---
pembentukan 5.925 6.000 5.700
untuk mencatat kerusakan
abnormal
yang dideteksi selama bulan juli

 Titik Inspeksi dan Pengalokasian Biaya Kerusakan Normal


Contoh Anzio Company kita mengasumsikan bahwa inpeksi dilakukan
pada tahap penyelesaian unit. Akan tetapi, kerusakan mungkin saja terjadi
pada tahap proses produksi, walaupun secara tipikal hanya dapat dideteksi
pada satu atau lebih titik inpeksi.
Biaya unit yang rusak diasumsikan sama dengan semua biaya yang
dikeluarkan ketika membuat unit yang rusak hingga titik inspeksi. Apabila
barang yang rusak memiliki nilai pelepasan, biaya bersih kerusakan dihitung
dengan mengurangi nilai pelepasan dari biaya barang yang rusak yang telah
terakumulasi hingga titik inspeksi. Biaya per unit kerusakan normal dan
abnormal akan berjumlah sama apabila keduanya dideteksi pada titik inspeksi
yang sama.

11
1. Kalkulasi Biaya Pekerjaan dan Kerusakan

Konsep kerusakan normal dan abnormal juga dapat diterapkan pada


sistem kalkulasi biaya pekerjaan (job costing). Kerusakan abnormal
diidentifikasi secara terpisah sehingga perusahaan dapat berusaha
mengeliminasinya sama sekali. Ketika membebankan biaya, umumnya sistem
kalkulasi biaya pekerjaan membedakan kerusakan normal yang disebabkan
oleh pekerjaan tertentu dengan kerusakan normal yang umum terjadi pada
semua pekerjaan.
a. Kerusakan normal yang disebabkan oleh pekerjaan tertentu.
Ketika terjadi kerusakan normal yang disebabkan oleh spesifikasi
pekerjaan tertentu, pekerjaan tersebut menanggung biaya kerusakan
dikurangi nilai pelepasan kerusakan. Ayat jurnal untuk mengakui nilai
pelepasan adalah:

Pengendalian Bahan (barang yang rusak pada nilai pelepasan bersih saat
ini)
5 unit x $600 per unit 3.000
Pengendalian Barang dalam proses (pekerjaan tertentu):
5 unit x $600 per unit 3.000
Perhatikan bahwa Pengendalian barang dalam proses (pekerjaan tertentu)
telah didebet (dibebankan) sebesar $10.000 unutk suku cadang yang rusak
(5 suku cadang yang rusak x $2.000 per suku cadang). Biaya bersih
kerusakan normal = $7.000 ($10.000-$3.000) yang merupakan biaya
tambahan atas 45 (50-5) unit yang baik yang diproduksi. Karena itu, total
biaya dari 45 unit yang baik adalah $97.00:$90.000 (45 unit x $2.000 per
unit) yang dikeluarkan untuk membuat unit yang baik ditambah biaya
bersih kerusakan normal sebesar $7.000. Biaya per unit baik adalah
$2.155,56 (97.000 ÷ 45 unityang baik).
b. Kerusakan normal yang umum terjadi di semua pekerjaan.
Dalam beberapa kasus, kerusakan mungkin saja dianggap sebagai
karakteristik normal dari proses produksi, Tentu saja, kerusakan yang

12
melekat pada produksi akan terjadi ketika suatu pekerjaan tertentu sedang
dilakukan. Akan tetapi, kerusakan tidak dapat diatribusikan dengan, dan
karenanya tidak dibebankan secara langsung ke pekerjaan tertentu.
Sebaliknya, kerusakan itu dialokasikan secara tidak langsung ke pekerjaan
sebagai overhead manufaktur karena kerusakan merupakan hal yang
umum pada semua pekerjaan. Ayat jurnalnya adalah :

Pengendalian Bahan (barang yang rusak pada nilai pelepasan saat ini)
5 unit x $600 per unit 3.000
Pengendalian Overhead manufaktur (kerusakan normal)
($10.000-$3.000) 7.000
Pengendalian Barang dalam proses (pekerjaan tertentu)
5 unit x $2.000 per unit 10.000

Jika kerusakan normal sudah biasa terjadi pada semua pekerjaan,


tingkat overhead manufaktur yang dianggarkan akan mencakup provisi
untuk biaya kerusakan normal. Biaya kerusakan normal tersebar, melalui
alokasi overhead, di semua pekerjaan dan bukan dialokasikan ke pekerjaan
tertentu. Sebagai contoh, jika Hull membuat 140 unit yang baik dari semua
pekerjaan selama bulan tertentu,$7.000 dari biaya overhead kerusakan
normal akan dialokasikan pada tingkat $50 per unit yang baik ($7.000 ÷
140 unita yang baik). Biaya overhead kerusakan normal yang dialokasikan
ke 45 unit yang baik dalam pekerjaan akan menjadi $2.250 ($50 x 45 unit
yang baik). Total biaya dari 45 unit yang baik adalah $92.250:$90.000 (45
unit x $2.000 per unit) yang dikeluarkan untuk membuat unit yang baik
ditambah $2.250 biay overhead kerusakan normal. Biaya per unit yang
baik adalah $2.050 ($92.250 ÷ 45 unit yang baik).
c. Kerusakan abnormal
Jika kerusakan bersifat abnormal, kerugian bersih akan dibebankan ke
akun Kerugian dan Kerusakan Abnormal. Tidak seperti biaya kerusakan
normal, biaya kerusakan abnormal tidak dimasukkan sebagai bagian dari
biaya unit yang baik yang diproduksi.Total biaya dari 45 unit yang baik
adalah $90.000 (45 unit x $2.000 per uni). Biaya perunit yang baik adalah
$2.000 ($90.000 ÷ 45 unit yang baik).

13
Pengendalian Bahan (barang yang rusak pada nilai pelepasan saat ini)
5 unit x $600 per unit 3.000
Kerugian dari Kerusakan Abnormal ($10.000-$3.000) 7.000
Pengendalian Barang dalam proses (pekerjaan tertentu)
5 unit x $2.000 per unit 10.000

2. Kalkulasi Biaya Pekerjaan dan Pengerjaan Ulang


Pengerjaan ulang adalah unit produksi yang diinspeksi, ditentukan
sebagai tidak dapat diterima, diperbaiki, dan dijual sebagai barang jadi yang
dapat diterima. Kita sekali lagi akan membedakan (1) pengerjaan normal yang
dapat diatribusikan dengan pekerjaan tertentu, (2) pengerjaan ulang normal
yang umum pada semua pekerjaan, dan (3) pengerjaan ulang abnormal.
Mari pertimbangkan data milik Hull Machine Shop dalam contoh 3 di
halaman 226. Asumsikan lima suku cadang yang rusak akan dikerjakan ulang.
Ayat jurnal untuk total biaya sebesar $10.000 (rincian biaya ini diasumsikan)
yang dibebankan ke lima unit yang rusak sebelum mempertimbangkan baiay
pengerjaan ulang adalah:
Pengendalian Barang dalam proses (pekerjaan tertentu) 10.000
Pengendalian Bahan 4.000
Pengendalian Utang Upah 4.000
Overhead Manufaktur yang Dialokasikan 2.000
Asumsikan biaya pengerjaan uang yang sama dengan $3.800 (yang
tersiri dari $800 bahan langsung, $2.000 tenaga kerja langsung manufaktur
dan $1.000 overhead manufaktur).
 Pengerjaan ulang normal yang dapat diatribusikan dengan pekerjaan
tertentu.
Jika pengerjaan ulang bersifat normal tetapi terjadi akibat
persyaratan dari pekerjaan tertentu, biaya pengerjaan ulang akan
dibebankan ke pekerjaan tersebut.
Pengendalian Barang dalam proses (pekerjaan tertentu) 3.800
Pengendalian Bahan 800

14
Pengendalian Utang Upah 2.000
Overhead Manufaktur yang Dialokasikan 1.000
 Pengerjaan ulang normal yang umum pada semua pekerjaan
Jika pengerjaan ulang merupakan hal yang normal dan tidak dapat
diatribusikan dengan pekerjaan tertentu, biaya pengerjaan ulang akan
dibebankan ke overhead manufaktur dan disebarkan, melalui alokasi
overhead, ke semua pekerjaan.
Pengendalian Overhead Manufaktur (biaya pekerjaan ulang) 3.800
Pengendalian Bahan 800
Pengendalian Utang Upah 2.000
Overhead Manufaktur yang Dialokasikan 1.000
 Pengerjaan ulang abnormal
Jika pengerjaan ulang bersifat abnormal, hal tersebut akan dicatat
dengan membebankan pengerjaan ulang abnormal ke akun kerugian.
Kerugian dari pengerjaan ulang Abnormal 3.800
Pengendalian Bahan 800
Pengendalian Utang Upah 2.000
Overhead Manufaktur yang Dialokasikan 1.000

G. Akuntansi untuk Barang Rongsokan


Barang rongsokan (scrap) adalah bahan residu yang berasal dari
pembuatan suatu produk; barang rongsokan memiliki total nilai jual yang rendah
dibandingkan dengan total nilai jual produk. Ada dua aspek akuntansi untuk
barang rongsokan:
 Perencanaan dan pengendalian, yang mencakup penelusuran fisik.
 Kalkulasi biaya persediaan, yang mencakup kapan dan bagaimana barang
rongsokan mempengaruhi laba operasi.
Ayat jurnal awal untuk mencatat barang rongsokan umumnya dibuat
dalam istilah fisik. Dalam berbagai industri, perusahaan mengkuantifikasi pos-
pos seperti lempengan logam bekas atau pinggiran plastik cetakan dengan
penimbangan, perhitungan, atau beberapa ukuran lainnya.

15
 Mengakui Barang Rongsokan pada Saat Penjualan
Apabila nilai uang barang rongsokan tidak material, tugas akuntansi
yang paling sederhana adalah mencatat kuantitas fisik barang rongsokan yang
dikembalikan ke gudang dan memandang penjualan barang rongsokan sebagai
pos terpisah dalam laporan laba rugi. Apabila nilai uang barang rongsokan
berjumlah material dan barang rongsokan itu dapat dijual dengan segera
setelah diproduksi, akuntansinya bergantung pada apakah barang rongsokan
tersebut dapat diatribusikan dengan pekerjaan tertentu atau merupakan hal
yang umum pada semua pekerjaan.
 Barang rongsokan yang dapat diatribusikan dengan pekerjaan tertentu
Sistem kalkulasi biaya pekerjaan kadang-kadang menelusuri
pendapatan barang rongsokan ke pekerjaan yang menghasilkan barang
rongsokan itu. Metode ini hanya akan digunakan apabila penelusuran
dapat dilakukan dengan cara yang seekonomis mungkin.

Barang
rongsokan tidak ada ayat jurnal
yang (catatan mengenai
dikembalikan kuantitas
yang diterima dan
ke gudang pekerjaan
terkait yang dimasukkan dalam
catatan
persediaan)

penjualan barang kas atau piutang usaha


Ringsokan pengembalian barang dalam Proses 900
posting yang dilakukan ke catatan
biaya 900
pekerjaan
tertentu

16
 Barang rongsokan yang umum pada semua pekerjaan. Ayat jurnal
dalam kasus ini adalah:
Barang rongsokan yang Tidak ada ayat jurnal.
dikembalikan ke gudang: [Catatan mengenai kuantitas yang
diterima dan pekerjaan terkait yang
dimasukkan dalamcatatan
persediaan]
Penjualan barang kas atau piutang usaha 900
rongsokan
Pengendalian Overhead Manufaktur 900
Posting yang dilakukan ke buku besar
Pembantukolom“penjualan Barang
Rongsokan” pada catatan biaya departemen.
 Mengakui Barang Rongsokan pada Saat Produksi
Dalam situasi ini, perusahaan membebankan biaya persediaan ke
barang rongsokan menurut estimasi konservatif atas nilai realisasi bersihnya
sehingga biaya produksi dan pendapatan barang rongsokan yang terkait diakui
pada periode akuntansi yang sama. Beberapa perusahaan cenderung menunda
penjualan barang rongsokan hingga harga pasar dianggap menguntungkan.
1) Barang rongsokan yang dapat diatribusikan dengan pekerjaan
tertentu. Ayat jurnal:
Barang rongsokan yang pengendalian Bahan 900
dikembalikan ke gudang pengendalian Barang dalam proses 900
2) Barang rongsokan yang umum pada semua pekerjaan. Ayat jurnal:
Barang rongsokan yang pengendalian Bahan 900

17
dikembalikan ke gudang pengendalian Barang dalam proses 900
Amati bahwa akun Pengendalian Bahan didebet di Kas atau Piutang
Usaha. Ketika barang rongsokan dijual, ayat jurnalnya adalah:

Penjualan barang rongsokan: Kas atau Piutang Usaha 900


Pengendalian Overhead Manufaktur 900
Barang rongsokan kadang-kadang digunakan kembali sebagai bahan
langsung dan bukan dijual sebagai barang rongsokan.
Barang rongsokan yang pengendalian Bahan 900
dikembalikan ke gudang pengendalian Barang dalam proses 900

Penjualan barang rongsokan: Kas atau Piutang Usaha 900


Pengendalian Overhead Manufaktur 900

Akuntansi untuk barang rongsokan menurut kalkulasi biaya proses


sama seperti akuntansi menurut kalkulasi biaya pekerjaan apabila barang
rongsokan merupakan hal yang umum pada semua pekerjaan. Hal ini
disebabkan karena barang rongsokan dalam kalkulasi biaya proses merupakan
hal yang umum bagi pembuatan unit atau identik atau serupa secara massal.

18
BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan
Kerusakan (spoilage) adalah unit produksi baik yang telah selesai seluruhnya
atau yang baru selesai sebagian yang tidak memenuhi spesifikasi yang diminta
oleh pelanggan dan akan dibuang atau dijual dengan harga yang lebih rendah.
Beberapa contoh kerusakan adalah kaus, jeans, sepatu, dan karpet yang cacat yang
dijual sebagai “barang bekas,” atau kaleng aluminium cacat yang dijual ke
produsen aluminium untuk dilelehkan guna membuat produk aluminium lainnya.

Pengerjaan ulang (rework) adalah unit produksi yang tidak memenuhi


spesifikasi yang diminta oleh pelanggan tetapi kemudian diperbaiki dan dijual
sebagai unit barang jadi. Sebagai contoh, unit produk yang cacat (seperti pager,
komputer, dan telepon) yang terdeteksi selama atau setelah proses produksi tetapi
sbelum unti tersebut dikirim ke pelanggan kadang – kadang dapat dikerjakan
ulang dan dijual sebgai produk yang baik.

Barang rongsokan (scrap) adalah bahan residu yang berasal dari pembuatan
suatu produk. Barang rongsokan memiliki total nilai jual yang rendah
dibandingkan dengan total nilai jual produk. Contohnya adalah potongan kayu
kecil sisa dari operasi pemotongan kayu, pinggiran plastik dari operasi peleburan
plastik, dan sisa potongan kain dari operasi penjahitan pakaian.

B. Saran
Setelah disusun makalah mengenai Kerusakan, Pengerjaan Ulang dan
Barang Rongsokan diharapkan dapat menambah wawasan pembaca khususnya di
mata kuliah akuntansi biaya. Begitu juga alangkah baiknya apabila kita mencari
sumber referensi lebih banyak dari berbagai sumber sehingga ilmu dan wawasan
yang kita dapatkan semakin luas.

19
DAFTAR PUSTAKA
Hongren, Charles T,dkk. “Akuntansi Biaya Jilid 2”. Jakarta : Erlangga.

20