Anda di halaman 1dari 18

BBWS Bengawan Solo Supervisi Penanganan Banjir Kota Surakarta untuk Paket-3

TAHUN 2018

BAB III
DESAIN LANSKAP

3.1. KONSEP DESAIN


Arsitektur lanskap merupakan suatu ilmu dan seni yang digunakan untuk merencanakan
(planning), mengatur (design), serta mengatur lahan, penyusunan elemen-elemen alam dan
buatan melalui aplikasi ilmu pengetahuan dan budaya, dengan memperhatikan keseimbangan
kebutuhan pelayanan dan pemeliharaan sumber daya hingga pada akhirnya dapat tersaji suatu
lingkungan yang fungsional dan estetis. Untuk memperdalam kajian arsitek lanskap dibutuhkan
pemahaman tentang pengaturan ruang di alam terbuka juga memerlukan ilham sebagai wujud
dari seni, sehingga dapat menggabungkan elemen-elemen lanskap alami dan buatan manusia,
tidak hanya itu akan tetapi juga dengan segenap kegiatan makhluk hidup yang ada, dengan
tujuan agar tecipta suatu karya lingkungan dalam bentuk ekosistem yang lebih berguna atau
fungsional, lebih indah, efisien dan efektif, teratur, tertib, dan serasi yang dapat memberikan
kepuasan jasmani dan rohani bagi yang melihat maupun menikmatinya.
Perancangan tapak (Landscape Site Planning) di dalamnya juga tercakup perancangan lanskap
(lanskap design), merupakan usaha penangan tapak (site) secara optimal melalui proses
keterpaduan penganalisaan dari suatu tapak dan kebutuhan program penggunaan tapak
menjadi suatu sintesis yang kreatif, dengan demikian setiap elemen dan fasilitas akan
diletakkan di atas lahan dalam keterpaduan fungsi dan selaras dengan karakteristik tapak dan
lingkungan alamnya.

3.2. PERTIMBANGAN DESAIN


3.2.1. Pertimbangan Ruang
Ruang adalah sebuah bidang yang diperluas dalam arah yang berbeda dari arah asalnya
akan menjadi sebuah ruang. Ruang adalah daerah 3 dimensi dimana obyek dan
peristiwa berada. Ruang memiliki posisi serta arah yang relatif, terutama bila suatu
bagian dari daerah tersebut dirancang sedemikian rupa untuk tujuan tertentu. Sebagai
bentuk 3 dimensi, ruang sangat terkait dengan volume.
Secara konsep, sebuah volume mempunyai tiga dimensi, yaitu: panjang, lebar, dan
tinggi. Ruang terbuka terbagi atas 2 kategori, yaitu ruang terbuka aktif dan ruang
terbuka pasif.
1. Ruang terbuka aktif, adalah ruang terbuka yang dibangun dan dikembangkan
dengan kegiatan manusia seperti; bermain, olahraga, dan jalan-jalan. Ruang terbuka
ini dapat berupa plaza, lapangan olahraga, tempat bermain anak dan remaja,
penghijauan tepi sungai, taman kota, kebun binatang danau pemancingan dan
sebagainya.
2. Ruang terbuka pasif, adalah ruang terbuka yang dibangun untuk meningkatkan atau
menunjang ekosistem setempat seperti; penghijauan tepian jalur jalan, penghijauan
tepian rel kereta api, penghijauan tepian bantaran sungai, dan sebagainya

3-1
BBWS Bengawan Solo Supervisi Penanganan Banjir Kota Surakarta untuk Paket-3
TAHUN 2018

Pengembangan lanskap kawasan Bendung Tirtonadi berdasarkan pertimbangan ruang


termasuk dalam kategori ruang terbuka aktif, dibangun dan dikembangkan menjadi
tempat kegiatan masyarakat untuk bermain, jalan-jalan, olahraga dan pendidikan.
3.2.2. Pertimbangan Vegetasi
Dalam kaitannya dengan perencanaan lanskap, tata hijau (planting design) merupakan
suatu hal pokok yang menjadi dasar dalam pembentukan luar. Penataan dan
perancangan tanaman mencakup; habitat tanaman, karakteristik tanaman, fungsi
tanaman, dan peletakan tanaman. Nilai estetika tanaman diperoleh dari perpaduan
antara warna daun, batang, bunga, bentuk fisik tanaman seperti batang,
percabangan,dan tajuk, tekstur tanaman, skala tanaman, dan komposisi tanaman. Nilai
estetika tanaman dapat pula diperoleh dari satu tanaman, atau sekelompok tanaman
yang sejenis, dan kombinasi tanaman berbagai jenis ataupun kombinasi antara tanaman
dengan elemen lanskap lainnya.
Vegetasi yang dipergunakan untuk pengembangan lanskap di kawasan Bendung
Tirtonadi harus tetap berpedoman pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor
05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau
di Kawasan Perkotaan. Persyaratan pola tanam vegetasi pada RTH sempadan sungai
adalah sebagai berikut :
a) jalur hijau tanaman meliputi sempadan sungai selebar 50 m pada kiri- kanan sungai
besar dan sungai kecil (anak sungai);
b) sampel jalur hijau sungai berupa petak-petak berukuran 20 m x 20 m diambil secara
sistematis dengan intensitas sampling 10% dari panjang sungai;
c) sebelum di lapangan, penempatan petak sampel dilakukan secara awalan acak
(random start) pada peta. sampel jalur hijau sungai berupa jalur memanjang dari
garis sungai ke arah darat dengan lebar 20 m sampai pohon terjauh;
d) sekurang-kurangnya 100 m dari kiri kanan sungai besar dan 50 m di kiri kanan anak
sungai yang berada di luar permukiman;
e) untuk sungai di kawasan permukiman berupa sempadan sungai yang diperkirakan
cukup untuk dibangun jalan inspeksi antara 10-15 m;
f) jarak maksimal dari pantai adalah 100 m;
g) pengaturan perletakan (posisi) tanaman yang akan ditanam harus sesuai gambar
rencana atau sesuai petunjuk Direksi Pekerjaan.
salah satu kelebihan dari arsitektur lanskap adalah dapat mengubah ruang dengan
komponen material lunak seperti tanaman, pepohonan dan air. Elemen lembut (soft
material) tidak mempunyai bentuk yang tetap dan selalu berkembang sesuai dengan
masa pertumbuhannya, sehingga menyebabkan bentuk dan ukurannya selalu berubah.
Perubahan tersebut terlihat dari bentuk, tekstur, warna, dan ukurannya. Di daerah
beriklim tropis dikenal dua macam tanaman ditinjau dari massa daunnya yaitu :
1. Tanaman yang menggugurkan daun (Decidous plants)
Contohnya : Flamboyan, bungur, dan angsana.

3-2
BBWS Bengawan Solo Supervisi Penanganan Banjir Kota Surakarta untuk Paket-3
TAHUN 2018

2. Tanaman yang hijau sepanjang tahun (Evergreen)


Contohnya : Jenis-jenis cemara, dan jenis-jenis palem.
Pada rencana lanskap kawasan Bendung Tirtonadi pertimbangan tata hijau
dipertimbangkan dari fungsi tanaman dan estetika tanaman, karena selain sebagai
kawasan ruang terbuka hijau juga diharapkan dapat menjadi sarana rekreasi dan taman
yang dapat dinikmati keindahannya. Fungsi tanaman dapat dilihat dari sudut pandang
secara ekologis dan secara perancangan lanskap, yaitu:
1. Secara ekologis, tanaman mampu:
a. Menyerap CO2 dan menghasilkan O2 bagi makhluk hidup di siang hari.
b. Memperbaiki iklim mikro.
c. Mencegah terjadi erosi atau pengikisan permukaan tanah (run off).
d. Menyerap air hujan.
e. Pelestarian plasma nutfah.
f. Habitat satwa.
2. Pada perancangan lanskap, tanaman berfungsi sebagai:
a. Komponen pembentuk ruang.
b. Pembatas pandangan.
c. Pengontrol angin, suara, dan sinar matahari.
d. Penghasil bayang-bayang keteduhan.
e. Aksentuasi dan keindahan lingkungan
Berdasarkan penilaian dari sudut pandang tersebut, maka pemilihan jenis dan fungsi
tanaman harus diperhatikan dengan baik. Hal ini dikarenakan tanaman sebagai elemen
soft material mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang dipengaruhi oleh faktor
alam dan tempat tumbuhnya seperti kesesuaiannya dengan suhu lingkungan, jenis
tanah, curah hujan, kelembaban, ketinggian tanah di atas permukaan laut, dan pH tanah
pada tapak yang menyebabkan perubahan bentuk, tekstur, warna, dan ukuran sehingga
penggunaan tanaman menjadi lebih bervariasi.
Kriteria pemilihan vegetasi untuk RTH sempadan sungai adalah sebagai berikut:
a) sistem perakaran yang kuat, sehingga mampu menahan pergeseran tanah;
b) tumbuh baik pada tanah padat;
c) sistem perakaran masuk kedalam tanah, tidak merusak konstruksi dan bangunan;
d) kecepatan tumbuh bervariasi;
e) tahan terhadap hama dan penyakit tanaman;
f) jarak tanam setengah rapat sampai rapat 90% dari luas area, harus dihijaukan;
g) tajuk cukup rindang dan kompak, tetapi tidak terlalu gelap;
h) berupa tanaman lokal dan tanaman budidaya;
i) dominasi tanaman tahunan;
j) sedapat mungkin merupakan tanaman yang mengundang burung.
Tabel berikut ini adalah alternatif vegetasi yang dapat digunakan pada RTH sempadan
sungai, namun karena adanya perbedaan biogeofisik maka pemilihan vegetasi untuk

3-3
BBWS Bengawan Solo Supervisi Penanganan Banjir Kota Surakarta untuk Paket-3
TAHUN 2018

RTH sempadan sungai disesuaikan dengan potensi dan kesesuaian lahan pada daerah
masing-masing.
Tabel 3.1. Alternatif Jenis Vegetasi untuk RTH Sempadan Sungai

No. Nama Daerah Nama Latin


1. Bungur Lagerstromia speciosa
2. Jening Pithecolobium lobatum
3. Khaya Khaya anthotheca
4. Pingku Dysoxylum excelsum
5. Lamtorogung Leucaena lecocephala
6. Puspa Schima wallichi
7. Kenanga Canangium adoratum
8. Locust Hymenaena courburil
9. Kisireum Eugenia cymosa
10. Manglid Michelia velutina
11. Cengal Hopea sangkal
12. Flamboyan Delonix regia
13. Tanjung Mimusops elengi
14. Trembesi Samanea saman
15. Beringin Ficus benjamina
16. Kepuh Sterculia foetida
17. Johar Cassia siamea
18. Cemara sumatra Casuarina sumatrana
19. Salam Eugenia polyantha
20. Matoa Pometia pinnata
21. Asam Tamarindus indica
22. Angsana Pterocarpus indicus
23. Palem Raja Oerodoxa regia
24. Bacang Manijitera foetida
25. Kenanga Canangium odaratum
Sumber : Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan, Permen PU 05/PRT/M/2008

Dari beberapa alternatif jenis vegetasi yang direkomendasikan untuk lanskap Bendung
Tirtonadi adalah pohon Bungur (Lagerstroemia). Pohon bungur juga dikenal mampu
menyerap timbal dan polutan dengan baik. Jenis bungur yang direncanakan untuk
ditanam adalah yang berjenis pendek atau biasa disebut bungur jepang (Lagerstroemia
faurieri dan Lagerstroemia indica). Bunga bungur memiliki warna bunga merah jambu,
dan akan sangat indah saat mekar secara bersamaan. Bahkan ada yang menyamakan

3-4
BBWS Bengawan Solo Supervisi Penanganan Banjir Kota Surakarta untuk Paket-3
TAHUN 2018

pemandangan keindahan bunga ini saat mekar bersamaan bagaikan bunga sakura.
Untuk vegetasi tambahan diusulkan menggunakan tanaman pucuk merah, selain corak
warnanya hampir sama dengan pohon bungur, pemeliharaannya juga mudah.
Sedangkan untuk penutup tanah (ground covering) menggunakan rumput gajah mini,
termasuk untuk penutup sisi miring tanggul.

Gambar 3.1. Pohon Bungur


3.2.3. Pertimbangan Sirkulasi
Sistem sirkulasi sangat erat hubungannya dengan pola penempatan aktivitas dan pola
penggunaan lahan sehingga sirkulasi merupakan penggerak dari ruang yang satu ke
ruang yang lain. Sistem sirkulasi dengan ruang erat hubungannya dengan pola
penempatan aktivitas dan pola penggunaan lahan, sehingga merupakan penggerak dari
suatu ruang ke ruang yang lain. Hubungan jalur sirkulasi dengan ruang dapat dibedakan
menjadi tiga macam, yaitu :
a. Jalur sirkulasi melalui ruang, yang memiliki karakteristik antara lain : integritas
masing-masing kuat dan bentuk alur cukup fleksibel.
b. Jalur memotong ruang, dengan karakteristik yaitu mengakibatkan terjadinya ruang
gerak dan ruang diam.
c. Jalur sirkulasi berakhir pada ruang, memiliki karakteristik antara lain: lokasi ruang
menentukan arah dan sering digunakan pada ruang bernilai fungsional dan
simbolis.
Dalam hal sistem sirkulasi, terdapat tiga sistem pencapaian terhadap ruang yang erat
hubungannya dengan sistem sirkulasi, antara lain:

3-5
BBWS Bengawan Solo Supervisi Penanganan Banjir Kota Surakarta untuk Paket-3
TAHUN 2018

1. Pencapaian frontal
Sistem yang mengarah dan lurus ke objek ruang yang dituju tanpa dihalangi oleh
apapun. Sistem pencapaian ini memiliki kelebihan yang berupa pandangan visual
objek yang dituju jelas terlihat dari jauh, namun memiliki kekurangan yaitu
pengguna tidak bisa mengetahui hal-hal lain yang berada di sekeliling objek utama.
Sistem pencapaian frontal diaplikasikan untuk rencana jalan inspeksi yang
disesuaikan bentuknya sehingga dapat dipergunakan sebagi jogging track, baik
untuk area Manahan maupun Nusukan. Pengunjung dapat memanfaatkan jalur
jogging track sepanjang 1,1 Km, 660 m untuk area Nusukan dan 440 m untuk area
Manahan.
Jogging track dibuat diatas pile cap FCSP dengan lebar total 3,5 m dari tepi sungai,
dengan adanya pagar di bagian tepi lebar efektif jogging track adalah 3 m. Agar tidak
monoton dan licin, lantai jogging track menggunakan batu alam dan batu sikat.
Rencana motif lantai jogging track disajikan pada Gambar 3.1.

3-6
BBWS Bengawan Solo Supervisi Penanganan Banjir Kota Surakarta untuk Paket-3
TAHUN 2018

Gambar 3.2. Motif lantai jogging track

2. Pencapaian ke samping
Pencapaian ke samping dapat memperkuat efek perspektif pada objek yang dituju.
Jalur pencapaian dapat dibelokkan berkali-kali untuk memperbanyak urutan ruang
sebelum mencapai objek sehingga pengguna dapat mengetahui hal-hal lain yang
berada di sekeliling objek utama.
Pencapaian ke samping diaplikasikan pada area sekitar gazebo dan menuju ke
gazebo dari area jogging track.
3. Pencapaian memutar
Pencapaian memutar dapat memperlambat dan memperbanyak urutan ruang dan
memperlihatkan tiga dimensi dari objek dengan mengelilinginya sehingga
pengguna dapat mengetahui hal-hal lain yang berada di sekeliling objek utama.

3.3. Sistem Utilitas


Penerapan rekayasa lanskap dalam sistem utilitas lanskap atau sasaran penunjang antara lain
sebagai berikut :
3.3.1. Sistem irigasi penyiraman
Sistem irigasi penyiraman bagi suatu rencana lanskap dipandang penting, mengingat
kebutuhan air sangat diperlukan bagi kelangsungan hidup tanaman dan sangat
membantu dalam pemeliharaan tanaman. Penyiraman dapat dilakukan secara manual
ataupun mekanik. Secara manual dimaksudkan dengan dengan mengambil air dari
kolam reservoir air dan disiramkan dengan menggunakan tenaga manusia, sedangkan
secara mekanik yaitu memanfaatkan teknologi irigasi dan pompanisasi.
Untuk kegiatan pemeliharaan lanskap kawasan Bendung Tirtonadi terutama untuk
kebutuhan penyiraman tanaman, direncanakan dilengkapi dengan sumur bor setiap
jarak 100 m. Penyiraman akan dilaksanakan dengan pompa portable yang dilengkapi
selang air sepanjang 50 m. Jumlah sumur bor yang dibutuhkan untuk pemeliharaan
tanaman sepanjang 1100 m di area lanskap kawasan Bendung Tirtonadi adalah 10 titik.

3-7
BBWS Bengawan Solo Supervisi Penanganan Banjir Kota Surakarta untuk Paket-3
TAHUN 2018

3.3.2. Sistem penerangan luar (outdoor lighting system)


Perancangan lanskap harus disertai dengan pemikiran tentang penerangan luar karena
ruang luar yang dirancang tidak hanya dapat dimanfaatkan pada siang hari namun perlu
dipikirkan pemanfaatannya pada malam hari.
Sistem penerangan untuk lanskap kawasan Bendung Tirtinadi direncanakan
menggunakan sumber listrik dari PLN dengan menggunakan 2 (dua) box panel yang
akan ditempatkan di rumah jaga bendung (Nusukan) dan pos jaga (Manahan), masing-
masing dengan daya 5500 watt. Listrik area Nusukan direncanakan melayani kebutuhan
penerangan rumah jaga, rumah kontrol, gardu pandang, rumah genset, pintu gerbang
utara, gazebo (2 unit), dermaga utara, makam Putri Cempo dan jogging track sepanjang
660 m. Sedangkan untuk listrik area Manahan direncanakan melayani kebutuhan
penerangan pos jaga, gerbang selatan, gazebo (6 unit), dermaga selatan dan jogging
track sepanjang 440 m.
Kuat penerangan untuk gazebo, dermaga dan pintu gerbang direncanakan 120 Lux,
sedangkan untuk jogging track direncanakan 60 Lux. Untuk menghitung kebutuhan
lampu digunakan rumus sebagai berikut :
 = E x L x W / N x LLF x Cu x n
dimana :
 = Total nilai pencahayaan lampu (Lumens)
E = Kuat penerangan (Lux)
L = Panjang ruangan (Meter)
W = Lebar ruangan (Meter)
N = Jumlah titik lampu
LLF = Light Lost Factor atau faktor kehilangan atau kerugian cahaya, nilainya antara
0,70 s/d 0,80
Cu = Coeffisien of Utillization
n = Jumlah lampu dalam 1 titik
Contoh perhitunga untuk jogging track Nusukan :
Diketahui :
E = 60 lux
L = 660 meter
W = 3,5 meter
N = 44 titik
LLF = 0,80
Cu = 0,85
n = 2 buah
Sehingga diperoleh kebutuhan nilai pencahayaan lampu per buah adalah 2.316 Lumens
 Lampu LED 19 watt

3-8
BBWS Bengawan Solo Supervisi Penanganan Banjir Kota Surakarta untuk Paket-3
TAHUN 2018

Selanjutnya kebutuhan lampu dan daya listrik disajikan dalam tabel 3.2. untuk area
Nusukan dan tabel 3.3. untuk area Manahan.

Tabel 3.2. Kebutuhan Lampu dan Listrik untuk Area Nusukan

E L W N n ø LED Total
No Lokasi
Lux m m titik buah Lumens watt watt
A Area Rumah Kontrol
1 Rumah Jaga
a. Lampu Teras Depan 60 10.0 3.0 2 1 1,324 13.0 26.0
b. Lampu Teras Belakang 60 10.0 1.5 2 1 662 8.0 16.0
c. Lampu Ruang Jaga 130 4.0 3.0 1 1 2,294 19.0 19.0
d. Lampu Dapur 250 2.0 3.0 1 1 2,206 19.0 19.0
e. Lampu Ruang Istirahat 120 4.0 3.0 1 1 2,118 19.0 19.0
f. Lampu Kamar Mandi 250 2.0 2.0 1 1 1,471 13.0 13.0
g. Lampu Wastafel 250 2.0 2.0 1 1 1,471 13.0 13.0
h. Lampu Gudang 60 6.0 4.0 1 1 2,118 19.0 19.0
i. Pompa Air 450.0
j. TV + CCTV 250.0
k. Dispenser 350.0
l. Komputer (cadangan) 450.0
m. Exhaust 10" 80.0
n. Kipas Angin 2 unit 120.0
2 Ruang Kontrol (Lampu)
a. Lampu Ruang kontrol utama 220 5.5 5.5 2 1 4,893 40.0 80.0
b. Gardu Pandang
- Lampu Utama 60 5.5 5.5 1 1 2,669 27.0 27.0
- Lampu Pojok 90 5.5 5.5 4 1 1,001 10.5 42.0
c. Exhaust 16" 2 unit 250.0
3 Ruang Genset
a. Lampu Ruang dalam 200 5.5 5.0 2 1 4,044 33.0 66.0
b. Lampu Teras 60 6.0 6.0 4 1 794 8.0 32.0
4 Landscape Rumah Kontrol
a. Lampu Papan nama 60 8.0 2.0 1 1 1,412 13.0 13.0
b. Lampu Pagar belakang 60 25.0 2.0 3 1 1,471 13.0 39.0
5 Lain-lain 500.0

B Landscape Nusukan
1 Lampu Gazebo (2 bangunan) 120 3.0 6.0 2 1 1,588 14.5 29.0
2 Lampu Gerbang Utara 120 3.0 6.0 2 1 1,588 14.5 29.0
3 Dermaga 120 6.0 2.0 2 1 1,059 10.5 21.0
4 Lampu taman 60 660.0 3.5 44 2 2,316 19.0 1,672.0
5 Pompa Air 2 unit 800.0

JUMLAH 5,444.0

3-9
BBWS Bengawan Solo Supervisi Penanganan Banjir Kota Surakarta untuk Paket-3
TAHUN 2018

Tabel 3.3. Kebutuhan Lampu dan Listrik untuk Area Manahan

E L W N n ø LED Total
No Lokasi
Lux m m titik buah Lumens watt watt
A Pos Jaga
a. Lampu Teras Depan 60 6.0 3.0 1 1 1,588 13.0 13.0
b. Lampu Teras Belakang 60 6.0 1.5 1 1 794 8.0 8.0
c. Lampu Ruang Jaga 130 3.0 3.0 1 1 1,721 14.5 14.5
d. Lampu Kamar Mandi 250 6.0 1.5 3 1 1,103 13.0 39.0
e. Lampu Wastafel 250 2.0 1.5 1 1 1,103 13.0 13.0
f. Pompa Air 450.0
g. TV 100.0
h. Dispenser 350.0
i. Kipas Angin 1 unit 60.0

B Landscape Manahan
1 Lampu Gazebo (6 bangunan) 120 3.0 18.0 6 1 1,588 14.5 87.0
2 Lampu Gerbang Selatan 120 18.0 6.0 4 1 4,765 40.0 160.0
3 Dermaga 120 6.0 2.0 2 1 1,059 10.5 21.0
4 Lampu taman 60 440.0 3.5 30 2 2,265 19.0 1,140.0
5 Pompa Air 2 unit 800.0
6 Lampu Area Pertunjukan 250 30.0 9.0 10 2 4,963 40.0 800.0

C Jembatan
1 Lampu Jembatan 250 78.0 6.0 18 2 4,779 40.0 1,440.0

JUMLAH 5,495.5

Lampu penerangan direncanakan dipasang setiap 15 m dengan masing-masing


menggunakan 2 buah lampu LED 19 watt. Tinggi tiang lampu dari permukaan tanah
adalah 3 m dengan menggunakan desain klasik Jawa seperti yang disajikan pada
Gambar 3.3.

Gambar 3.3. Detail Lampu Penerangan

3 - 10
BBWS Bengawan Solo Supervisi Penanganan Banjir Kota Surakarta untuk Paket-3
TAHUN 2018

3.3.3. Tempat parkir


Parkir adalah keadaan tidak bergerak suatu kendaraan yang bersifat sementara karena
ditinggalkan oleh pengemudinya. Secara hukum dilarang untuk parkir di tengah jalan
raya; namun parkir di sisi jalan umumnya diperbolehkan. Fasilitas parkir dibangun
bersama-sama dengan kebanyakan gedung, untuk memfasilitasi kendaraan pemakai
gedung, termasuk dalam pengertian parkir adalah setiap kendaraan yang berhenti pada
tempat-tempat tertentu baik yang dinyatakan dengan rambu lalu lintas ataupun tidak,
serta tidak semata-mata untuk kepentingan menaikkan atau menurunkan orang dan
barang.
Dalam penentuan tata letak, parkir memiliki beberapa kriteria, antara lain :
a. Parkir terletak pada permukaan tapak yang datar, apabila permukaan tanah
awalnya mempunyai kemiringan, maka perlu dipikirkan penggunaan grading
dengan sistem cut and fill. Lokasi permukaan yang datar pada area parkir
dimaksudkan untuk menjaga keamanan kendaraan saat parkir agar kendaraan tidak
menggelinding.
b. Penempatan parkir tidak terlalu jauh dari pusat kegiatan. Bila jarak antara tempat
parkir dengan pusat kegiatan cukup jauh, maka diperlukan sirkulasi yang jelas dan
terarah menuju ataupun dari area parkir, atau perlu adanya penerangan yang baik
pada malam hari dan kendaraan khusus yang akan menghantarkan ke pusat
kegiatan.
Sistem yang digunakan pada tempat parkir biasanya menggunakan sistem sudut
terhadap sisi jalan. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
a. Parkiran dengan sudut 900 atau tegak lurus (Perpandicular)
Sistem parkiran 900 (Gambar 3.5) sangat efisien ditinjau dari luas atau kapasitas
Sistem yang digunakan pada tempat parkir biasanya menggunakan sistem sudut
terhadap sisi jalan. Adapun penjelasannya sebagai berikut :

Gambar 3.4. Parkir dengan sudut 900 (Perpandicular)

3 - 11
BBWS Bengawan Solo Supervisi Penanganan Banjir Kota Surakarta untuk Paket-3
TAHUN 2018

b. Parkiran dengan sudut 450 atau 600 (Angle)


Parkiran ini memiliki kelebihan karena memudahkan dalam pemarkiran kendaraan,
serta efisiensi ditinjau dari pemakaian lahan yang kurang luas dengan kapasitas
kendaraan yang ada.

Gambar 3.5. Parkir dengan sudut 600 (Angle)


c. Parkiran dengan sudut 1800 (Parallel)
Parkiran ini tidak efisien ditinjau dari luas atau kapasitas kendaraan dan sistem
parkiran ini menyulitkan pemiliki kendaraan dalam pemarkiran kendaraannnya.

Gambar 3.6. Parkir dengan sudut 1800 (Parallel)


Sistem parkiran 600 ini diterapkan untuk parkiran di sebelah timur rumah jaga
(Nusukan) dan di sebelah timur rumah gallery (Manahan). Untuk parkiran di sebelah
timur rumah jaga tersedia lahan seluas 42 m x 10 m, direncanakan mampu menampung
13 kendaraan roda 4 dan 40 kendaraan roda 2. Sedangkan untuk parkiran di sekitar
rumah gallery direncanakan mampu menampung 5 kendaraan roda 4 dan 20 kendaraan
roda 2. Sehingga total kendaraan yang mampu ditampung di parkiran adalah 18
kendaraan roda 4 dan 60 kendaraan roda 2. Untuk memfasilitasi pengunjung pada hari
biasa jumlah tersebut mencukupi, tetapi untuk akhir pekan dan hari libur, terutama
pada saat ada event atau perayaan tahun baru, parkiran tersebut tidak mencukupi.
Kebutuhan maksimal parkiran pengunjung dihitung berdasarkan “Pedoman Teknis
Penyelenggaraan Fasilitas Parkir” Keputusan Direktur Jenderal Perhubungan Darat
Departemen Perhubungan NOMOR : 272/HK.105/DRJD/96 Tahun 1996, khususnya
untuk tempat rekreasi. Area utama untuk lanskap kawasan Bendung Tirtonadi adalah 3
m (lebar effektif jogging track) x 1100 m (panjang total jogging track) = 3300 m2. Satuan

3 - 12
BBWS Bengawan Solo Supervisi Penanganan Banjir Kota Surakarta untuk Paket-3
TAHUN 2018

Ruang Parkir (SRP) yang harus disediakan untuk tempat rekreasi seluas 3300 m2 adalah
kurang lebih 494 buah meliputi kendaraan roda 4 dan kendaraan roda 2.
Diestimasikan jumlah kendaraan roda 4 sebesar 10% dari total SRP yang harus
disediakan atau sejumlah 50 buah sedangkan untuk roda 2 sebesar 90% atau sejumlah
445 buah. Sehingga dari ketersediaan lahan parkir yang ada masih belum mencukupi
kebutuhan pada saat pengunjung ramai. Diperlukan tambahan sejumlah 32 buah SRP
untuk kendaraan roda 4 dan 385 buah SRP untuk kendaraan roda 2. Lahan yang
memungkinkan untuk memfasilitasi kebutuhan tersebut adalah di antara tanggul sisi
Nusukan dan Jalan POPDA.
SRP Roda 4 = 8 m x 32 = 256 m
SRP Roda 2 = 1 m x 385 = 385 m
Total kebutuhan lahan untuk parkir cadangan = 641 m. (Sepanjang pintu gerbang utara
sampai dengan area makam Putri Cempo).
Agar pada saat dibutuhkan lahan tersebut dapat dipergunakan untuk parkir cadangan
diperlukan perapian.

3.3.4. Saluran Pembuang


Drainase atau saluran pembuangan merupakan salah satu faktor yang sangat penting
dalam suatu perencanaan lanskap. Ruang luar suatu tapak harus dirancang dengan baik
agar terhindar dari genangan air yang akan menyebabkan rancangan menjadi tidak
sempurna. Saluran pembuangan secara umum dibagi ke dalam dua sistem, yaitu saluran
pembuangan air di atas tanah (open channels), dan saluran pembuangan air di dalam
tanah (subsurface).
Air yang mengalir di permukaan tanah berasal dari buangan air hujan dan buangan air
sisa kegiatan manusia. Untuk menentukan sistem saluran pembuangan perlu diketahui
terlebih dahulu :
- Tujuan dan sasaran dari rancangana tapak
- Perbedaan ketinggian antara lokasi saluran induk buangan kota dengan lokasi
daerah genangan air atau lokasi tapak
- Volume air buangan yang hendak ditampung dan dialirkan.
Saluran drainase lanskap kawasan Bendung Tirtonadi direncanakan dengan
menggunakan uditch ukuran 30 x 30 cm untuk saluran kolektor yang terletak di kaki
tanggul sisi dalam dan pipa PVC diameter 10 cm untuk saluran pembuang ke arah Kali
Pepe. Bak kontrol direncanakan setiap 20 m dengan ukuran 50 x 50 cm.

3 - 13
BBWS Bengawan Solo Supervisi Penanganan Banjir Kota Surakarta untuk Paket-3
TAHUN 2018

Gambar 3.7. Denah Saluran Drainase

Gambar 3.8. Potongan Melintang Saluran Drainase

3 - 14
BBWS Bengawan Solo Supervisi Penanganan Banjir Kota Surakarta untuk Paket-3
TAHUN 2018

3.4. Pagar
Direncanakan sepanjang pekerjaan FCSP di bagian tepi sungai akan dipasang pagar pengaman.
Desain pagar diusulkan berkonsep minimalis tetapi tetap bercorak ciri khas lokal. Bahan pagar
terbuat dari besi hollow 4 cm dengan menambahkan aksen gunungan di bagian tengahnya.
Tinggi pagar direncanakan 90 cm agar pandangan ke sungai tidak terganggu. Untuk perkuatan,
setiap 3,3 m dipasang kolom dengan ukuran 30 cm x 30 cm yang bagian luarnya dilapisi batu
alam.

Gambar 3.9. Detail Pagar

3.5. Dermaga
Potensi daya tarik dari kawasan Bendung Tirtonadi untuk dikunjungi adalah wisata air.
Sehingga perlu difasilitasi dengan dermaga untuk kebutuhan wisata air tersebut dan juga untuk
menunjang kegiatan operasi dan pemeliharaan sungai. Kegiatan wisata air di bagian hulu
Bendung Tirtonadi pada musim kemarau (April s/d September), untuk musim penghujan
diperlukan koordinasi berdasarkan hujan yang terjadi di daerah aliran sungai. Elevasi mukai air
rencana untuk mendukung kegiatan ini adalah mulai +90.30 (kedalaman air 70 cm dari dasar
sungai) sampai dengan elevasi muka air maksimum pada saat pintu bendung tertutup yaitu
+93.35.
Untuk struktur dermaga, dikarenakan posisi tanah keras untuk perletakan pondasi cukup
dalam dan memudahkan pelaksanaan, direncanakan dengan SCP (square concrete pile) 40 cm
yang dipancang sampai tanah keras.

3 - 15
BBWS Bengawan Solo Supervisi Penanganan Banjir Kota Surakarta untuk Paket-3
TAHUN 2018

Gambar 3.10. Desain Dermaga

3 - 16
BBWS Bengawan Solo Supervisi Penanganan Banjir Kota Surakarta untuk Paket-3
TAHUN 2018

3.6. Pos Jaga


Bangunan pos jaga direncanakan terletak di dekat pintu gerbang selatan, dengan ukuran 4 m x
3,85 m terdiri dari ruang satpam, ruang panel listrik untuk area Manahan dan toilet. Dinding
direncanakan dari pasangan ½ batu bata, pondasi pasangan batu kali, rangka atap baja ringan
dan lantai keramik.

POT A-A
DENAH

POT B-B POT C-C

Gambar 3.11. Denah dan Potongan Pos Jaga

3 - 17
BBWS Bengawan Solo Supervisi Penanganan Banjir Kota Surakarta untuk Paket-3
TAHUN 2018

3.7. Area Pertunjukan


Penataan lanskap kawasan Bendung Tirtonadi diharapkan dapat berfungsi sebagai ruang
terbuka publik dengan banyak manfaat, salah satunya sebagai tempat pertunjukan acara seni.
Area pertunjukan direncanakan berlokasi di bagian Manahan dengan lebar total 12,6 m
termasuk tempat duduk dan panjang 35 m. Tanggul eksisting ditata sebagai tempat duduk area
pertunjukan menghadap ke sungai. Dengan dimensi tersebut jumlah tempat duduk yang
tersedia jika ada pertunjukan ditargetkan mampu menampung 280 orang.

Gambar 3.12. Denah dan Potongan Area Pertunjukan

3 - 18