Anda di halaman 1dari 10

Dermatitis Kontak Iritan

Julio Atlanta Chandra

102014089

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana

Alamat Korespondensi Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 1151

ABSTRAK

Dermatitis dalah salah satu penyakit kulit yang sering ditemukan. Gejala umum yang khas adalah
gatal, tepi lesi umumnya tidak tegas dan adanya perubahan epidermis kulit yang ditandai dengan
vesikel, papul atau likenifikasi. Ada dua tipe berdasarkan etiologi dan patogenesisnya, yaitu tipe
eksogen dan tipe endogen. Dermatitis eksogen disebabkan faktor dari luar tubuh seperti bahan
kimia, faktor fisik dan mikroorganisme. Dermatitik kontak adalah salah satu contoh dermatitis
eksogen. Dermatitis endogen disebabkan faktor dari luar tubuh, biasanya dipengaruhi oleh faktor
genetik seperti dermatitis atopik. Ada dua macam dermatitis kontak, yaitu dermatitis kontak iritan
dan dermatitis kontak alergik. Dermatitis kontak iritan merupakan reaksi kulit nonimunologik,
dimana kerusakan langsung terjadi tanpa didahului proses sensitisasi, dibagi menjadi dua,
dermatitis kontak iritan akut dan kronik. Penyebabnya adalah bahan-bahan yang bersifat iritan
(asam, alkali, detergen, bahan pelarut, pelumas dan serbuk kayu).

Kata kunci: dermatitis kontak, faktor eksogen

1
PENDAHULUAN

Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis), sebagai respon terhadap pengaruh
faktor eksogen dan faktor endogen sehingga menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi
polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama dan likenifikasi) dan keluhan gatal. Tanda
tersebut tidak selalu terjadi bersamaan, bahkan bisa hanya satu jenis saja yang timbul. Dermatitis
kontak adalah dermatitis yang disebabkan oleh bahan atau substansi yang menempel pada kulit.
Bagi ibu-ibu atau asisten rumah tangga yang kesehariannya melakukan aktifitas dengan kontak
langsung dengan bahan atau substansi kimia seperti detergen atau sabun secara terus menerus
dapat beresiko terkena dermatitis kontak iritan. Dermatitis Kontak Iritan (DKI) merupakan reaksi
peradangan kulit non-imunologik, yaitu kerusakan kulit terjadi secara langsung tanpa didahului
proses pengenalan atau sensitisasi. Pembahasan lebih lanjut mengenai DKI akan dibahas dalam
makalah ini.

PEMBAHASAN

Anamnesis

Didalam ilmu kedokteran anamnesis merupakan wawancara terhadap pasien atas keluhan yang
dialaminya. Anamnesis yang baik disertai dengan empati dari dokter terhadap pasien. Perpaduan
keahlian mewawancarai dan pengetahuan yang mendalam tentang gejala (sintom) dan tanda (sign)
dari suatu penyakit akan memberikan hasil yang memuaskan dalam menentukan diagnosis
kemungkinan sehingga dapat membantu menentukan langkah pemeriksaan selanjutnya, termasuk
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis dapat dilakukan langsung terhadap
pasien (auto-anamnesis) maupun terhadap keluarganya atau walinya (alo-anamnesis) bila keadaan
pasien tidak memungkinkan untuk dilakukan wawancara, misalnya dalam keadaan gawat-darurat.1

Dalam melakukan anamnesis perlu pertanyaan rutin yang harus diajukan kepada semua pasien,
misalnya pertanyaan tentang identitas, keluhan utama, keluhan penyerta, riwayat penyakit
terdahulu, riwayat penyakit menahun, dan riwayat penyakit sekarang yang spesifik terhadap
diagnosa sementara.1

Anamnesis yang dibutuhkan pada kasus Dermatitis Kontak Iritan (DKI) adalah:

2
a. Pasien mengklain adanya pajanan yang menyebabkan iritasi kutaneus.
b. Onset dari gejala terjadi dalam beberapa menit sampai jam untuk DKI akut. DKI lambat
dikarakteristikan oleh kausa pajanannya, seperti benzalkonium klorida (biasa ada pada
cairan disinfektan), dimana reaksi inflamasinya terjadi 8-24 jam setelah pajanan.
c. Onset dari gejala dan tanda dapat tertunda hingga berminggu-minggu ada pada DKI
kumulatif (DKI kronik). DKI kronik terjadi akibat pajanan berulang dari suatu bahan iritan
yang merusak kulit.
d. Penderita merasa sakit, rasa terbakar, rasa tersengat dan rasa tidak nyaman akibat pruritus
yang terjadi.

Untuk skenario 9 yang kita dapat anamnesis sebagai berikut:

1. Identitas

Nama : Tidak diketahui namanya

Umur : 25 tahun

Jenis kelamin : Perempuan

Pekerjaan : Ibu rumah tangga

2. Keluhan Utama : Kedua tangan gatal, perih dan kemerahan.


3. Riwayat Penyakit Sekarang :
 Pertama kali muncul gatal enggak
 Kedua tangan gatal sejak 2 minggu yang lalu.
 Udah pernah di obatin sebelumnya
 Keadaan yang memperingan dan memperberat apa aja
 Makin lama gatal makin parah, disertai perih dan kemerahan.
 Onset gatalnya
 Muncul pertama kali ada gatal,perih bengkak atau kemerahan gak

RPD: waktu dulu melakukan pekerjaan rumah tangga ada keluhan yang sama gak kayak sekarang

RPK: keluarganya ada menderita keluhan yang seperti ini gak

3
Pemeriksaan

1. Fisik2
Pemeriksaan fisik mempunyai nilai yang sangat penting untuk memperkuat temuan-
temuan dalam anamnesis. Teknik pemeriksaan fisik meliputi pemeriksaan pemeriksaan
keadaan umum, kesadaran dan TTV.pemeriksaan pandang (inspeksi), pemeriksaan raba
(palpasi), pemeriksaan ketok (perkusi) dan pemeriksaan dengar dengan menggunakan
stetoskop (auskultasi). 1

2. Pemeriksaan Penunjang

 Pemeriksaan penunjang seperti patch test dapat dilakukan untuk eksklusi dermatitis kontak
alergi
 Karena tes diagnostik untuk DKI tidak ada, maka untuk pemeriksaan penunjang dapat
dilakukan patch test untuk mengeksklusi dermatitis kontak alergi dan dapat dilakukan
untuk mengeksklusi penyakit jamur.1

Gambar 1. patch test

Diagnosis

A. Working Diagnosis

4
Pasien ini mengalami dermatitis iritan kronik.

B. Differential Diagnosis
1. Dermatitis iritan akut
2. Dermatitis atopik

Etiologi

Dermatitis kontak iritan adalah penyakit multifaktor dimana faktor eksogen dan faktor endogen
sangat berperan.

Faktor Eksogen

1. Sifat kimia bahan iritan: pH, kondisi fisik, konsentrasi, ukuran molekul, jumlah, polarisasi,
ionisasi, bahan dasar, kelarutan
2. Sifat dari pajanan: jumlah, konsentrasi, lamanya pajanan dan jenis kontak, pajanan serentak
dengan bahan iritan lain dan jaraknya setelah pajanan sebelumnya
3. Faktor lingkungan: lokalisasi tubuh yang terpajan dan suhu, dan faktor mekanik seperti
tekanan, gesekan atau goresan. Kelembaban lingkungan yang rendah dan suhu dingin
menurunkan kadar air pada stratum korneum yang menyebabkan kulit lebih rentan pada
bahan iritan.2

Faktor Endogen

1. Faktor genetik. Faktor ini menentukan keberagaman respon tubuh terhadap bahan-bahan
iritan. Selain itu, predisposisi genetic terhadap kerentanan bahan iritan berbeda untuk setiap
bahan iritan.
2. Jenis kelamin. Gambaran klinik dermatitis kontak iritan paling banyak pada tangan dan
wanita dilaporkan paling banyak dari semua pasien. Dari hubungan antara jenis kelamin
dengan kerentanan kulit, wanita lebih banyak terpajan oleh bahan iritan, kerja basah dan
lebih suka perawatan dari pada laki-laki. Tidak ada perbedaan jenis kelamin untuk
dermatitis kontak iritan yang ditetapkan berdasarkan penelitian.
3. Umur. Anak-anak dibawah 8 tahun dan usia lanjut lebih mudah teriritasi.
4. Suku. Kulit hitam lebih tahan dibandingkan dengan kulit putih.

5
5. Lokasi kulit. Kulit wajah, leher, skrotum dan bagian dorsal tangan lebih rentan terhadap
dermatitis kontak iritan. Telapak tangan dan kaki lebih resisten.
6. Riwayat atopi. Riwayat dermatitis atopi kelihatannya berhubungan dengan peningkatan
kerentanan terhadap dermatitis iritan karena rendahnya ambang iritasi kulit, lemahnya
fungsi pertahanan dan lambatnya proses penyembuhan. Pada pasien dengan dermatitis
atopi misalnya, menunjukkan peningkatan reaktivasu ketika terpajan oleh bahan iritan.2

Patofisiologi

Pada dermatitis kontak iritan kelainan kulit akan timbul akibat kerusakan sel yang disebabkan
oleh bahan iritan melalui kerja kimiawi maupun fisik. Ada dua jenis bahan iritan, yaitu iritan kuat
dan iritan lemah. Iritan kuat akan menimbulkan kelainan kulit pada pajanan pertama hampir pada
setiap orang. Iritan lemah hanya pada mereka yang rawan atau mengalami kontak berulang-ulang.
Bahan iritan merusak lapisan tanduk, dalam beberapa menit atau beberapa jam bahan-bahan iritan
tersebut akan berdifusi melalui membran untuk merusak lisosom, mitokondria dan komponen-
komponen inti sel. Dengan rusaknya membran lipid keratinosit maka fosfolipase akan diaktifkan
dan membebaskan asam arakidonat, platelet activing factor (PAF) kemudian asam arakidonat
diubah menjadi prostaglandin (PG) dan leukotrin (LT) yang akan menyebabkan vasodilatasi dan
meningkatkan permeabilitas pembuluh darah sehingga mempermudah transudasi pengeluaran
komplemen dan kinin. PG dan LT juga bertindak sebagai kemotaktik kuat untuk menarik limfosit
dan neutrophil, serta mengaktifkan sel mast yang akan melepas histamine, LT dan PG lain

Pada kontak dengan iritan, keratinosit juga melepaskan TNFα, suatu sitokin proinsflamasi
yang dapat mengaktifkan sel, makrofag dan granulosit, menginduksi ekspresi molekul adesi sel
dan pelepasan sitokin.

Rentetan kejadian tersebut mengakibatkan gejala peradangan klasik di tempat terjadinya


kontak dengan kelainan berupa eritema, edema, panas, nyeri, bila iritan kuat. Iritan lemah akan
mengakibatkan kelainan kulit setelah kontak berulang kali, yang dimulai dengan kerusakan lapisan
tanduk (stratum korneum) sampai menyebabkan kerusakan sel di lapisan kulit lebih dalam.

Diagnosis kerja

6
Kelainan kulit yang terjadi bergantung pada sifat iritan. Iritan kuat memberi gejala akut,
sedangkan iritan lemah memberi gejala kronik. Secara klinis, istilah ini menggambarkan lesi yang
bercak-bercak, difusi, mengganggu dan kadang-kadang nyeri, sering kali disertai vesikel yang
ruptur dan meninggalkan permukaan yang kasar dan basah. Gatal dapat merupakan gejala yang
dominan. Infeksi sekunder yang sering terjadi. Pada lesi kronik bisa timbul sisik dan penebalan
kulit (likenifikasi). Lesi menyembuh tanpa meninggalkan parut tetapi bisa terjadi pigmentasi. 3

1. Dermatitis kontak iritan akut


Penyebabnya adalah iritan kuat, misalnya larutan asam sulfat dan asam hidroklorid atau
basa kuat (natrium dan kalium hidroksida). Biasanya terjadi karena kecelakaan di tempat
kerja, misalnya luka bakar oleh bahan kimia. Kelainan kulit muncul segera, seperti eritema,
vesikel, bula, dapat terjadi erosi sampai nekrosis. Disertai dengan kulit terasa pedih, panas,
rasa terbakar. Tepi kelainan berbatas tegas.4
2. Dermatitis kontak iritan kronik
Penyebabnya adalah kontak dengan iritan lemah yang berulang-ulang. Oleh faktor fisik,
misal gesekan, trauma mikro, kelembaban rendah, panas atau dingin. Oleh faktor kimia,
misal detergen, sabun, pelarut, tanah, air. Kelainan baru tampak setelah berminggu atau
bulan, bahkan bisa bertahun-tahun. Gejalanya berupa kulit kering, disertai eritema,
skuama, lambat laun kulit tebal (hiperkeratosis) dan likenifikasi dan bila kontak terus
berlangsung kulit dapat retak (fisura) sehingga menyebabkan gatal dan nyeri. Sering
berhubungan dengan pekerjaan, karenanya sering ditemukan di tangan dan tumit. Contoh
pekerjaan yang berisiko tinggi adalah pencuci, kuli bangunan, montir di bengkel, tukang
kebun, penata rambut.5

7
Gambar.2 dermatitis kontak iritan

Diagnosis banding

Dermatitis kontak alergik merupakan satu tipe tanda penyakit kulit akibat sensitivitas yang tinggi
terhadap suatu zat kimia. Zat kimia dalam kadar yang rendah yang biasanya tidak menyebabkan
iritasi kulit, akan menimbulkan kerusakan kulit akibat meningkatnya sensitivitas. Gejalanya antara
lain ruam, nemgkak, gatal dan melepuh. Gejala tersebut biasanya akan hilang begitu kontak
dengan zat kimia penyebab dihentikan, tetapi akan muncul lagi jika kulit kembali terpapar.
Dermatitis kontak alergi adalah dermatitis yang disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas tipe
lambat terhadap bahan bahan kimia yang kontak dengan kulit dan dapat mengaktivasi reaksi
alergi.Bila dibandingkan dengan dermatitis kontak iritan, jumlah penderita dermatitis kontak
alergik lebih sedikit, karena hanya mengenai orang yang kulitnya sangat peka (hipersensitif).
Namun sedikit sekali informasi mengenai prevalensi dermatitis ini di masyarakat.5,2

Epidemiologi

Dermatitis kontak iritan dapat dialami oleh semua orang dari berbagai golongan umur ras dan
jenis kelamin. Jumlah orang yang mengalami DKI cukup banyak, terutama yang berhubungan
dengan pekerjaan (DKI akibat kerja), namun angka secara tepat sulit diketahui. Hal ini disebabkan
karena banyak pasien dengankeluhan ringan tidak datang berobat atau bahkan tidak mengeluh.6

Dermatitis kontak iritan adalah akibat luka langsung yang terjadi pada kulit oleh iritan, misalnya
pelarut atau detergen. Dermatitis kontak alergi adalah reaksi imunologi pada kulit dan cenderung
lebih berat.

Beberapa factor yang menjadi pencetus dermatitis kontak antara lain berbagai zat dan bahan-bahan
iritan yang karena pekerjaan atau hobi, seperti bahan antiseptic, detergen, pemutih pakaian, bahan
kimia makanan, air liur, feses (tinja) dan sebagainya. Selain itu berbagai allergen pada pajanan
atau paparan berulang akan menimbulkan hipersensitivitas. Dermatitis kontak yang terjadi pada
anak usia kurang dari 1 tahun, kemampuan reaksi hipersensitif sangat rendah. Tetapi pada orang

8
dewasa yang memiliki riwayat atpok , pajanan ringan saja sudah bisa mencetuskan dermatitis
kontak alergi. Sedangkan pada bayi dan anak-anak lebih sering terjadi dermatitis kontak iritan.7

Penatalaksanaan

Farmako:

Topikal :

o Kortikosteroid topikal

Non-farmako:

o Stop penggunaan bahan iritan (bahan-bahan salon) dan substansi lainnya terutama
untuk kulit di daerah sensitif.
o Menggunakan sarung tangan apabila terpaksa harus kontak dengan bahan iritan.
o Senatiasa menjaga kebersihan badan.

Prognosis

Umumnya baik untuk penderita tanpa riwayat atopik, tipe akut dan diagnosis serta
penatalaksanaan yang tepat.7,2

Kesimpulan

Seorang perempuan 25 tahun di diagnosis menderita Dermatitis kontak iritan kronis karna di
temukan kemerahan di sertai perih dan kulit tangan menjadi kering gatal pada kedua tangan
makin lama makin parah

9
Daftar Pustaka

1. Menaldi Sri. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi ke-6. Jilid I. Jakarta: FK-UI;
2010.h.152-129.)
2. (Setiati S, Alwi I, Sudoyo AW, dkk. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi ke-6. Jilid 1.
Jakarta: Interna Publishing; 2015.h.125-637.)
3. (Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Kapita selekta kedokteran. Edisi
3. Jakarta: Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2003.)
4. (Menaldi Sri. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi ke-7. Jilid I. Jakarta: FK-UI;
2015.h.156-75.)
5. (Rubenstein D, Wayne D, Bradley J. Lecture notes: Kedokteran klinis. Edisi ke-6. Jakarta:
Erlangga; 2007.h.343)
6. Ester M. editor. Bahaya bahan kimia pada kesehatan manusi dan lingkungan. Jakarta:
EGC; 2006.h.41.)
7. Jeyaratnam J, Koh D. Buku ajar: Praktik kedokteran kerja. Jakarta: EGC; 2010.h.117

10