Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH MANAJEMEN KEPERAWATAN

“MEKASNISME SERAH TERIMA PASIEN DI KAMAR OPERASI”

Dosen Pebimbing : Sari Candra Dewi, SKM, M.Kep

Disusun Oleh:

Afi Faturohmah (P07120215002)


Anugrah Bachrodin Adhnan (P07120215008)
Yuni Apriliani Istiqamah (P07120215045)

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat
dan hidayah-Nya, sehingga tugas penyusunan makalah dengan judul “Makalah Manajemen
Keperawatan Mekanisme Serah Terima Pasien Di Kamar Operasi” dapat diselesaikan tepat
pada waktunya.

Laporan ini terwujud atas bimbingan, pengarahan dan bantuan dari berbagai pihak,
dan oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan dan terima
kasih kepada :

1. Joko Susilo, SKM., M.Kes, selaku Direktur Politeknik Kesehatan Yogyakarta yang telah
memberikan kesempatan bagi penyusun untuk membuat makalah
2. Sari Candra Dewi, SKM, M.Kep selaku dosen pembimbing yang telah memberikan
masukan dan arahan selama penyusunan makalah
3. Orang tua yang telah mendukung dalam penyelesaian makalah ini
4. Teman-teman sejawat yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.

Penyusun menyadari bahwa penulisan laporan ini masih banyak kekurangan. Oleh
karena itu, penyusun mengharapkan kritik, masukkan, dan saran yang bersifat demi
kesempurnaan dan perbaikan selanjutnya. Harapan penyusun semoga makalah ini bermanfaat
bagi para pembaca.

Yogyakarta, Oktober 2018

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Globalisasi memberikan dampak positif bagi setiap profesi kesehatan untuk selalu
berupaya meningkatkan kinerja profesionalismenya dalam kontribusi pada pemenuhan
kebutuhan kesehatan masyarakat. Tenaga profesional kesehatan termasuk didalamnya
tenaga keperawatan yang dituntut untuk memberikan kesehatan yang berkualitas.
Pelayanan kesehatan yang berkualitas hanya dapat diwujudkan dengan pemberian
layanan kesehatan yang profesional, demikian juga dengan pemberian asuhan
keperawatan harus dilaksanakan dengan praktik keperawatan yang profesionalisme
(Mulyaningsih, 2013).

Pelayanan kesehatan di rumah sakit merupakan bentuk pelayanan yang diberikan


kepada pasien oleh suatu tim keperawatan. Tim keperawatan merupakan anggota tim
kesehatan di garis terdepan yang menghadapi masalah kesehatan pasien selama 24 jam
secara terus menerus. Swanburg dalam Mulyani 2008 bahwa lebih dari 80% waktu yang
digunakan perawat adalah untuk berkomunikasi yaitu mendengar dan berbicara, 16%
untuk membaca dan 4% untuk menulis. Tim pelayanan keperawatan memberikan
pelayanan kepada pasien sesuai dengan keyakinan profesi dan sesuai standar yang
ditetapkan. Hal ini ditujukan agar pelayanan yang diberikan senantiasa merupakan
pelayanan yang aman serta dapat memenuhi kebutuhan dan harapan (Suwardi, 2008).

Upaya peningkatan pelayanan kesehatan tidak lepas dari peranan pelayanan


keperawatan yang berkesinambungan dengan mempromosikan perawatan yang lebih
baik sesuai dengan standar profesional dan hukum (College Registered Nurses Brithis
Colombia, 2007). Salah satu bentuk pelayanan yang diberikan kepada pasien adalah
pemberian asuhan keperawatan, pengobatan dan rasa aman bagi pasien, keluarga serta
masyarakat (Aditama, 2010).

Pemberian asuhan keperawatan merupakan kebutuhan dasar yang diperlukan oleh


pasien rawat jalan maupun pasien rawat inap. Salah satu yang terkait dalam pemberian
asuhan keperawatan adalah prosedur serah terima disetiap penggantian shift yang
merupakan kegiatan sehari-hari yang harus dilakukan oleh perawat karena perawat yang
bertugas selalu berbeda disetiap shifnya. Pelaksanaan serah terima pasien merupakan
tindakan keperawatan yang secara langsung, selain itu juga serah terima pasien dibangun
sebagai sarana untuk menyampaikan tanggung jawab serta penyerahan legalitas yang
berkaitan dengan pelayanan keperawatan pada pasien (Safitri dalam Kesrianti, 2014).

Hampir setiap tindakan medik menyimpan resiko. Banyaknya jenis obat, jenis
pemeriksaan dan prosedur, serta jumlah pasien dan staf rumah sakit yang cukup besar,
merupakan hal potensial bagi terjadinya kesalahan medis (medical error). Kesalahan
yang terjadi pada proses asuhan medis ini akan mengakibatkan cedera pada pasien bisa
berupa kejadian yang tidak diharapkan (KTD). Pada tahun 2000 Institude of Medicene
Amerika menngemukakan penelitian di rumah sakit Utah dan Colorado ditemukan KTD
sebesar 2,9% dari 6,6% diantaranya meninggal dunia. Sedangkan di New York KTD
sebesar 3,7% dari angka kematian 13,6%. Angka kematian akibat KTD pada pasien
rawat inap di seluruh Amerika yang berjumlah 33,6 juta pertahun berkisar 44.000-98.000
pertahun. ( Depkes RI dalam Setiyajati, 2014).

Masalah yang berkaitan dengan serah terima pasien merupakan keprihatinan


internasional, sebagaimana dilaporkan Cohen & Hilliggos (2009) dalam suatu studinya
dari 889 kejadian malpraktek ditemukan 32% akibat kesalahan komunikasi dalam serah
terima pasien yang dapat menimbulkan kesalahan dalam pemberian obat,
kesalahpahaman tentang rencana keperawatan, kehilangan informasi serta kesalahan
dalam tes penunjang. Dilaporkan juga oleh World Health Organization (WHO) tahun
2007 bahwa terdapat 11% dari 25.000-30.000 kasus pada tahun 1995-2006 terdapat
kesalahan pada serah terima pasien (Winani, 2012).

Timbang terima pasien dirancang sebagai salah satu metode untuk memberikan
informasi yang relevan pada tim perawat setiap pergantian shift, sebagai petunjuk praktik
memberikan informasi mengenai kondisi terkini pasien, tujuan pengobatan, rencana
perawatan serta menentukan prioritas pelayanan. Keakuratan data yang diberikan saat
timbang terima sangat penting, karena dengan timbang terima ini maka pelayanan
asuhan keperawatan yang diberikan akan bisa dilaksanakan secara berkelanjutan, dan
mewujudkan tanggung jawab dan tanggung gugat dari seorang perawat. Bila timbang
terima tidak dilakukan dengan baik, maka akan muncul kerancuan dari tindakan
keperawatan yang diberikan karena tidak adanya informasi yang bisa digunakan sebagai
dasar pemberian tindakan keperawatan. Hal ini akan dapat mengakibatkan terjadinya
kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan (commission) atau tidak melakukan
tindakan yang seharusnya diambil (Wijaya, dkk, 2014).
Pelaksanaan serah terima pasien juga dipengaruhi oleh kepemimpinan kepala
ruangan, sikap dan motivasi dari perawat itu sendiri dalam melaksanakan serah terima.
Sikap yang terbentuk dalam diri sesorang dapat memperngaruhi seseorang dalam
menjalankan tugasnya sehari-hari dengan positif. Menurut Kesrianti (2014)
mengemukakan bahwa sikap berpengaruh terhadap pelaksanaan serah terima, apabila
perawat memiliki sikap positif maka proses pelaksanaan serah terima akan berjalan
dengan baik. Proses pelaksanaan serah terima yang baik meningkatkan asuhan
keperawatan pada pasien secara berkesinambungan, jika pelaksanaan asuhan
keperawatan tidak disertai kepemimpinan kepala ruangan, sikap dan motivasi yang baik
dari perawat maka akan mengakibatkan kesalahan dalam pelayanan dan pengobatan
yang tidak tepat serta menimbulkan potensi kerugian bagi pasien dan rumah sakit
(Setianti, 2007).

Ada berbagai macam model operan, yaitu model tradisional dan operan di sisi
tempat tidur yang penerapannya disesuaikan dengan kondisi masing-masing ruangan.
Implementasi operan di ruang MPKP berupa proses komunikasi dan proses serah terima
antara shift pagi, sore, dan malam. Operan dari dinas malam ke dinas pagi dan dinas pagi
ke dinas sore dipimpin oleh kepala ruangan, sedangkan operan dari dinas sore ke dinas
malam dipimpin oleh penanggung jawab shift sore (Kelliat, 2012).

Berdasarkan data dan latar belakang di atas maka penulis menyusun makalah
mengenai manajemen serah terima pasien di kamar operasi.

B. Rumusan Masalah
A. Bagaimana Kajian Teori Serah Terima Pasien di Kamar Operasi ?

B. Bagaimana SOP dan Checklist Serah Terima Pasien di Kamar Operasi ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui Kajian Teori Serah Terima Pasien di Kamar Operasi

2. Untuk mengetahui SOP dan Checklist Serah Terima Pasien di Kamar Operasi

BAB II
PEMBAHASAN
A. Kajian Teori Serah Terima Pasien

Tujuan keselamatan pasien menurut Permenkes RI. (2011) adalah untuk


menciptakan budaya atau iklim keselamatan pasien di rumah sakit, meningkatkan
kepercayaan (akuntabilitas) pasien dan masyarakat terhadap rumah sakit, mengurangi
kejadian yang tidak diharapkan (KTD) dan terwujudnya pelaksanaan program-
program pencegahan sehingga tidak terjadi kembali kejadian yang tidak diharapkan
(KTD). Sedangkan menurut International Commission Joint (2013), tujuan
keselamatan pasien yaitu :

1. Meningkatkan keakuratan identifikasi pasien dengan menggunakan dua identitas


pasien untuk mengidentifikasi serta mengeleminasi kesalahan tranfusi.

2. Meningkatkan komunikasi diantara pemberi pelayanan kesehatan dengan


menggunakan prosedur komunikasi, secara efektif melaporkan informasi yang
bersifat kritis dan memperbaiki pola serah terima pasien.

3. Meningkatkan keselamatan penggunaan pengobatan dengan cara pemberian label


pada obat, mengurangi bahaya penggunaan antikoagulan.

4. Mengurangi risiko yang berhubungan dengan infeksi dengan mencuci tangan


yang benar, mencegah resistensi penggunaan obat infeksi, menjaga central line
penyebaran infeksi melalui darah.

5. Menggunakan pengobatan selama perawatan secara akurat dan lengkap,


mengkomunikasikan pengobatan kepada petugas selanjutnya, membuat daftar
pengobatan pasien, mengupayakan pasien mendapatkan pengobatan seminimal
mungkin,

6. Mengurangi risiko bahaya akibat jatuh.

7. Mencegah terjadinya luka tekan.

8. Organisasi mengidentifikasi risiko keselamatan di seluruh populasi pasien.

9. Protokol umum untuk mencegah kesalahan tempat, salah prosedur dan orang
pada saat tindakan operasi.
Dari semua tujuan keselamatan pasien di atas disini kita akan membahas lebih
detail tentang sub dari tujuan keselamatan pasien tersebut yaitu tentang serah terima
pasien. Serah terima pasien di ruang operasi adalah penyerahan pasien yang akan di
lakukan tindakan operasi dari ruang rawat/bangsal menuju ke ruang bedah, yang di
lakukan oleh perawat ruangan kepada perawat/dokter yang berada di ruang operasi.
Serah terima pasien masuk dalam point kedua tujuan keselamatan pasien yaitu
Meningkatkan komunikasi efektif. Pelaksanaan serah terima pasien diperlukan
komunikasi yang efektif. Rumah sakit Wellington Selandia Baru, melaporkan bahwa
seorang pria berusia 50 tahun meninggal dunia, disoroti akibat kegagalan komunikasi
pada saat pelaksanaan serah terima pasien (Wallis, 2010). Sebanyak 67% terjadi
kesalahan pemberian asuhan keperawatan, diantaranya salah informasi tentang
pemberian obat yang mengakibatkan alergi. Maka dari itu peningkatan mutu serah
terima pasien sangatlah penting untuk keselamatan pasien di Rumah Sakit.

Serah terima pasien di ruang OK meliputi:

1. Kondisi pasien terakhir (kesadaran dan tanda vital)


2. Status medis terakhir
3. Hasil pemeriksaan penunjang
4. Obat-obatan dengan menggunakan formulir yang tersedia
5. Informed consent persetujuan tindakan yang telah di tanda tangani pasien,
keluarga, perawat dan dokter setelah diberikan penjelasan tentang prosedur yang
akan di lakukan di kamar bedah

B. Standar Operasional Prosedur (SOP) Serah Terima Pasien Pre Operasi Dari Bangsal
Ke Kamar Bedah
STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP)
SERAH TERIMA PASIEN PRE OPERASI
DARI BANGSAL KE KAMAR BEDAH
RUMAH SAKIT
No Dokumen : No Revisi : Halaman :
H. L. MANAMBAI
ABDULKADIR 00 8 / 14

Ditetapkan
Direktur
STANDAR
Tanggal Terbit RS. H. L. Manambai Abdulkadir
OPERASIONAL

PROSEDUR
dr. H. SYAMSUL HIDAYAT
NIP. 19721209 200701 1 018

PENGERTIAN Tata cara transport pasien yang akan dan telah dioperasi oleh
perawat ruangan/ bangsal dan staf kamar operasi

TUJUAN 1. Diketahui program pengobatan dan pelaksanaan operasi


oleh petugas ruangan dan kamar operasi agar pelaksanaan
operasi bisa berhasil dengan baik dan mengutamakan
keselamatan pasien.
2. Menyiapkan obat-obatan, alat-alat, darah dan persiapan
khusus lainnya yang dibutuhkan untuk menunjang pelaksanaan
operasi tersebut.
KEBIJAKAN Peraturan Direktur No……………… Tentang Pelayanan Anestesi
dan Bedah

PROSEDUR 1. Peugas ruangan mengetahui jadwal


operasi
2. Petugas ruangan mempersiapkan area
operasi sesuai prosedur yang berlaku.
3. Petugas ruangan mengisi berita acara.
4. Petugas ruangan mempersiapkan
semua catatan medik pasien termasuk surat izin operasi untuk
dibawa bersama pasien ke ruang operasi.
5. Petugas ruangan mengalungkan label
identitas yang meliputi: nama, umur, no. RM, alamat, dokter
operator, diagnosis, rencana jenis operasi pasien pada
pergelangan tangan kanan pasien atau bila tidak memungkinkan
pada pergelangan tangan kiri, kemudian pergelangan kaki
kanan, kemudian kiri, kemudian leher.
6. Petugas ruangan menyertakan
perlengkapan penunjang operasi misalnya : persediaan obat-
obatan atau persediaan darah yang diperlukan saat operasi
dilakukan yang akan dibawa bersama pasien ke kamar operasi.
7. Setengah jam sebelum jadwal operasi
atau setelah ada panggilan dari petugas kamar operasi, pasien
dibawa ke kamar operasi dengan memakai tempat tidur yang
dipakai di ruangan.
8. Serah terima pasien pra operasi
dilakukan di ruang transfer.
9. Petugas ruangan menyerahkan pasien
disertai berita acara serah terima yang ditanda tangani oleh
petugas ruangan dan petugas kamar operasi dan ditulis dalam
buku register kamar operasi.
10. Petugas kamar operasi memeriksa
kelengkapan berita acara, kelengkapan identitas, catatan medik
pasien, keadaan umum pasien, surat izin tindakan dan
kelengkapan penunjang lainnya seperti obat-obatan dan
persediaan darah.
11. Kejadian khusus dan pengobatan
selama operasi berlangsung dicatat dalam berita acara oleh
asisten operasi / omloop.
12. Setelah operasi selesai, asisten
menyiapkan berita acara, catatan medik pasien.
13. Pasien dipersiapkan untuk serah
terima dengan petugas ruangan.
14. Serah terima dilakukan di ruang
transfer, petugas kamar operasi menyerahkan pasien beserta
semua kelengkapannya yang ditandai dengan penandatanganan
berita acara serah’ terima pasien pasca operasi.
ADMINISTRASI Beberapa catatan administratif yang harus dilengkapi :
1. Formulir Persetujuan Tindakan Medik
2. Formulir Informed Consent
3. Formulir Berita Acara serah terima pasien Operasi
4. Formulir hasil pemeriksaan laboratorium
5. Formulir Laporan Operasi
6. Formulir Perincian Kamar Operasi
7. Buku Register Kamar Operasi Serah terima dilakukan di ruang
transfer, petugas kamar operasi menyerahkan pasien beserta
semua kelengkapannya yang ditandai dengan penandatanganan
berita acara serah terima pasien pasca operasi

UNIT TERKAIT IBS

IGD

IRJ

IRNA

C. SOP (Standar Operasional Prosedur) Serah Terima Pasien Setelah Pembedahan


(Post Operasi)

SOP SERAH TERIMA PASIEN SETELAH PEMBEDAHAN


(POST OPERASI)

NO. DOKUMEN : NO. REVISI HALAMAN


0

RSUD 45 KUNINGAN

TANGGAL TERBIT : Ditetapkan :

Direktur RSUD 45 KUNINGAN


STANDAR
OPERASIONAL
PROSEDUR Dr. Hj. Titin Suhartini
Pembina Tk. I
NIP.

Pengertian Suatu prosedur yang harus dilakukan dalam menerima pasien yang
akan dilakukan tindakan pembedahan

Tujuan Memberikan komunikasi pelayanan yang diberikan sebelumnya


kepada pasien agar pelayanan keperawatan dapat dilaksanakan
secara berkesinambungan

Kebijakan SK Direktur tentang penyelanggaraan pelayanan anestesi dan bedah

Prosedur 1. Pemantauan kesadaran, tekanan darah, nadi, napas, suhu, SPO2


diruang pemulihan dilakukan secara rutin setiap 5 menit pada
15 menit pertama/sampai stabil, setelah itu tiap 15 menit.
2. Pantau adanya nyeri pascaoperasi, mual muntah, input-output,
cairan, drain, perdarahan. Kemudian lakukan
tindakan/tatalaksana yang sesuai.
3. Pada pasien yang mendapatkan tindakan regional harus
dilakukan pemeriksaan motorik dan sensorik secara periodic
dengan pamantauan hehodinamik yang lebih kuat.
4. Kriteria pengeluaran pasien dari ruang pemulihan
menggunakan criteria Aldrete Score dengan scor ≥9
5. Dibuat laporan tertulis yang akurat tentang pemantauan kondisi
pasien di ruang pemulihan.
Unit Terkait Kamar operasi
Poliklinik
Rawat inap

D. Checklist Serah Terima Pasien Pra Bedah dan Kelengkapan


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Serah terima pasien diruang operasi dilakukan demi keselamatan pasien,
tercapainya program dengan tepat sesuai prosedur yang ditetapkan. Kegiatan ini
dilakukan antara perawat ruangan dengan perawat ruang operasi menggunakan format
yang disiapkan. Serah terima dikamar operasi dilakukan pada saat pasien datang
diserahkan oleh perawat bangsal kepada perawat kamar operasi dan ketika pasien
akan meninggalkan ruang pemulihan yang akan kembali ke ruangan baik bangsal
maupun ICU tetap harus dilakukan serah terima. Standar serah terima pasien di kamar
operasi akan berbeda tiap rumah sakit dengan manajemen rumah sakit yang berbeda
pula namun dengan prinsip-prinsip yang sama.

DAFTAR PUSTAKA

Yudianto. 2005. Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pelaksanaan Operan


Pasien Perawat Pelaksana Di Perjan Rumah Sakit Dr.HSWS Bandung

Dewi. 2012. Pengaruh Pelatihan Timbang Terima Pasien terhadap Penerapan


Keselamatan Pasien oleh Perawat Pelaksana di RSUD Raden Mattaher Jambi
Annovandy. 2016. Latar Belakang Hand Over.
https://www.academia.edu/23327481/latar_belakang_handover (Diakses pada hari Senin, 8
Oktober 2018 pukul 13.20 WIB)