Anda di halaman 1dari 6

HAND OUT

Mata Kuliah : Metodi Khusus


Topik : Metode pembelajaran Klinik kebidanan
Sub Topik : Metode pembelajaran klinik kebidanan
Waktu : 150 Menit

Objek prilaku siswa


Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mampu :
1. Menjelaskan kembali tentang metode pembelajaran klinik kebidanan

Referensi
http://www.idbiodiversitas.com/2016/07/metode-klinik .html
metodeklinik.comkonsep-psikologi/
https://maybidan.files.wordpress.com/2015/04/5-metode-metode-
pembelajaran-klinik.pdf
Uraian Materi
METODE-METODE PEMBELAJARAN KLINIK KEBIDANAN

1. PRE CONFERENCE
Pre conference (pertemuan pra praktek klinik) adalah pertemuan
pembimbing
lahan praktik klinik dengan mahasiswa setiap hari ketika akan dimulainya
shift
praktik. Pertemuan pre conference membicarakan antara lain :
a. Tujuan pembelajaran untuk hari yang bersangkutan
b. Setiap perubahan jadwal yang mungkin perlu
c. Peran dan tanggung jawab mahasiswa untuk hari yang
bersangkutan
d. Tugas tugas khusus yang harus diselesaikan pd hari hari yang
bersangkutan
e. Topik untuk pertemuan pasca pelatihan klinik
f. Pertanyaan-pertanyaan yg berkaitan dg kegiatan pdhari-hari yg
bersangkutan
atau dari hari sebelumnya.

2. POST CONFERENCE
Post conference (pertemuan pasca praktek klinik) adalah pertemuan
pembimbing
lahan praktik klinik dengan mahasiswa setiap hari ketika shift praktik
berakhir. Adapun pertemuan post conference membicarakan :
a. Kaji ulang tujuan pembelajaran utk hari yg bersangkutan &evaluasi
kemajuan menjelang penyelesaian
b. Presentasikam kasus-kasus yang disaksikan pada hari yg
bersangkutan, khususnya kasus-kasus yang menarik, luar biasa
atau sulit
c. Jawablah pertanyaan-pertanyaan mengenai situasi
&klien/informasi di dlm buku acuan
d. Buatkan rencana untuk sesi selanjutnya, sambil membuat
perubahan dlm jadual bila perlu
e. Laksanakan praktek tambahan dengan menggunakan model jika
diperlukan
f. Kaji ulang & diskusikan studi kasus, role-play, atau tugas tugas yg
sudah dipersiapkan sebelumnya.

3. TAHAPAN UMPAN BALIK


Meliputi :
a. Mahasiswa harus terlebih dahulu mengidentifikasikelebihan
pribadi dan bidang – bidang dimana ia merasa perlu peningkatan
b. pembimbing memberikan umpan balik spesifik yg bersifat
menjelaskan , mencakup saran - saran yang bukan hanya mengena
apa , tetapi bagaimana cara untuk meningkatkan Akhirnya
c. mahasiswa dan pembimbing harus sepkat tentang apa yang akan
menjadi focus sesi praktikum termasuk bagaimana cara
berinteraksi bersama klien

4. BEDSIDE TEACHING
Bedside teaching adalah suatu metode pembelajaran klinis yang
melibatkan pasien, mahasiswa dan pembimbing klinis yang dilakukan
dalam konteks klinis. Metode ini bertujuan untuk memberikan
pengalaman klinis pada konteks nyata (real setting) dan mahasiswa dapat
belajar dari pengalaman tersebut dan dari umpan balik dari pembimbing
klinik dan pasien.
Metode ini dirasakan yang paling efektif dibanding pembelajaran di kelas
dalam melatih keterampilan klinis mahasiswa, seperti berkomunikasi
dengan pasien
(history taking), melakukan pemeriksaan fisik, observasi dan menerapkan
etika klinis, profesionalisme dan mengembangkan kemampuan nalar klinis
(clinical reasoning).
Bedside teaching terdiri atas tiga tahap :
a. Tahap persiapan : Mahasiswa dan pembimbing mendiskusikan
tujuan belajar yang ingin dicapai. Pembimbing memastikan bahwa
mahasiswa paham atas apa yang akan dihadapi pada saat interaksi
dengan pasien dan bagaimana mengoptimalkan kesempatan itu
untuk mencapai tujuan belajar.
b. Tahap pengalaman : Pasien hadir bersama mahasiswa dan
pembimbing. Pasien mendapat penjelasan tentang aktivitas
pembelajaran dan memberikan persetujuan. Tahap pengalaman
dapat berupa demonstrasi atau observasi
 Demonstrasi : Pembimbing klinik mendemonstrasikan
suatu interaksi dg pasien (anamnesis, pemeriksaan fisik,
manajemen pasien dan aspek komunikasi lainnya).
Mahasiswa belajar dari demonstrasi tersebut dan dapat
dilibatkan dalam diskusi dengan pasien. Demonstrasi
direkomendasikan pada saat mahasiswa mempelajari
keterampilan baru atau pada fase -fase awal pembelajaran.
Pembimbing klinis berperan sebagai role model.
 Observasi : Mahasiswa mendemonstrasikan suatu interaksi
dengan pasien (anamnesis, pemeriksaan fisik, manajemen
pasien dan aspek komunikasi lainnya). Pembimbing
mengamati kinerja mahasiswa dan memberikan umpan
balik. Observasi direkomendasikan pada saat fase belajar
yang lebih lanjut. Pembimbing klinik berperan sebagai
fasilitator.
 Diskusi antara pembimbing dan mahasiswa pada tahap
pengalaman harus mempertimbangkan kepentingan dan
kenyamanan pasien. Oleh karena itu, umpan balik
diberikan pada saat dibutuhkan, misalnya pembimbing
melakukan koreksi cara palpasi. Pasien juga dapat diminta
untuk memberikan umpan balik, misalnya pada aspek
komunikasi.
c. Tahap refleksi : Mahasiswa dan pembimbing mendiskusikan
pencapaian tujuan belajar. Mahasiswa mendapatkan umpan balik,
mendiskusikan hal-hal yang belum dipahami, memperkuat
pengetahuan klinis dan clinical reasoning, serta merumuskan
tujuan belajar untuk bedside teaching atau aktivitas pembelajaran
lain selanjutnya. Untuk menjaga kenyamanan pasien sebaiknya
tahap ini dilakukan di tempat lain tanpa keberadaan pasien.

5. COACHING
Coaching adalah keterampilan klinik diciptakan melalui sebuah proses.
Proses meliputi 3 fase yang saling berhubungan erat;
o Demonstrasi keterampilan klinik oleh pembimbing klinik
o Praktek keterampilan oleh mahasiswa dibawah pengawasan
pembimbing klinik, pertama dengan model kemudian dengan klien
o Evaluasi kompetensi keterampilan oleh mahasiswa lain

6. PRESEPTORING DAN MENTORING


di dalamnya termasuk; reflective learning, bedsite teaching, coaching.

7. SUPERVISI PRAKTEK KLINIK


Supervisi (pengawasan) dapat dilakukan oleh pembimbing insitusi.
Supervisi meliputi kompetensi dan keterampilan yang telah dicapai,
proses bimbingan yang efektif, kedisiplinan mahasiswa
8. BIMBINGAN KLINIK
Pembimbing klinik harus selalu bersama mahasiswa pd waktu mereka
bekerja dgklien Mahasiswa harus mengerti apa yg mereka lakukan secara
independen dan apa yg memerlukan pengawasan dari pembimbing
Mahasiswa harus dibuat bertanggung jawab utk memastikan bahwa
mereka diawasi bila perlu Kegiata -kegiatan tambahan yg tdk memerlukan
pengawasan langsung akan memberi kesempatan bagi mahasiswa utk
terlibat aktif dlm pembelajaran ketika tdk dg klien Staf klinik juga dpt
bertindak sbgpengawas jika pembimbing yg ditunjuk yakin akan
kemampuan keterampilan klinik mereka serta kemampuannya utk
memberikan umpan balik yg sesuai, Jika banyak tempat klinik yang
dipakai selama praktek, seorang instruktur klinik harus ditugaskan untuk
masing- masing tempat Informasi mngenai mahasiswa harus dibagi
dengan staf klinik Staf klinik harus didorong untuk melakukan evaluasi
awal atas keterampilan awal mahasiswa sebelum mengijinkan bekerja
dengan klien Staf klinik harus menyadari umpan balik yang ingin diterima
oleh pembimbing dari mereka mengenai mahasiswa Tanggung jawab
terakhir untuk pengawasan dan penilaian mahasiswa tetap ada pada
pembimbing klinik/instruktur klinik