Anda di halaman 1dari 3

Berat Sama Di Pikul, Ringan Sama Di Jinjing Irigasi di Tegal

(Refri Hari Tris Handika 5160811235 IRBANG C)

Berat Sama Di Pikul, Ringan Sama Di Jinjing. Demikianlah sebuah


peribahasa yang sering kita dengar. Peribahasa itu mempunyai maksud Se-ia
sekata, sehidup semati. Persahabatan yang erat. Senang dan susah dialami
bersama. (Wikiquote 2016)
Pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia dapat dipandang sebagai suatu
strategi yang memiliki tujuan ganda. Pertama, pemberian otonomi daerah
merupakan strategi untuk merespon tujuan masyarakat daerah terhadap tiga
permasalahan utama, yaitu sharing of power, distribution of income dan
kemandirian sistem manajemen daerah, Kedua, otonomi daerah dimaksudkan
sebagai strategi untuk memperkuat perekonomian daerah dalam rangka
memperkokoh perekonomian nasional untuk menghadapi era perdagangan
bebas (Mardiasmo 2004). Disamping itu juga mempunyai implikasi yang
sangat besar bagi daerah, untuk dapat melakukan berbagai langkah terobosan
gun memaksimalkan potensi yang dimiliki sedemikian rupa sehingga dapat
memajukan daerahnya. Dan untuk dapat mengoptimalisasi potensi yang ada
perlu kemampuan untuk mengenal, mengidentifikasi, merencanakan serta
menggunakan sumber daya (aset) yang dimiliki secara optimal.
Salah satu aset penting yang dimiliki Pemerintah Daerah Kabupaten
Tegal adalah Waduk Cacaban sebagai bangunan yang mulai digagas sejak tahun
1914 dan dibuat perencanaan detailnya pada tahun 1930 oleh pemerintah
kolonial Belanda. Pembangunan fisiknya dimulai pada tahun 1952 dimana
peletakan batu pertamanya oleh Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno pada
tanggal 16 September 1952, dan selesai pembangunannya pada tahun 1958
diresmikan penggunaanya oleh penjabat Daerah pada tanggal 19 Mei 1958
(Wikipedia). Sejak saat itu secara resmi Waduk Cacaban dioperasionalkan
hingga sekarang. Waduk cacaban berjarak 12 KM dari Slawi ke arah timur yang
lebih tepatnya terletak di Desa Penujah, Kecamatan Kedung Banteng. Waduk
ini memiliki luas 40 ha dengan ketinggian antar 85m – 600m dpl dan berisi air
sebanyak 45 juta m³ (http://parpora.tegalkab.go.id/)
Sesuai dengan tujuannya, fungsi utama waduk adalah sebagai sumber air
bagi irigasi. Menurut Wikipedia sebagai ensiklopedia bebas memberikan
batasan bahwa bendungan atau waduk atau dam adalah konstruksi yang
dibangun untuk menahan laju air menjadi penampungan air, danau, atau tempat
rekreasi. Seringkali bendungan juga digunakan untuk mengalirkan air ke sebuah
Pembangkit Listrik Tenaga Air. Kebanyakan dam juga memiliki bagian yang
disebut pintu air di mana air yang tidak diinginkan dapat dibuang secara
bertahap atau berkelanjutan (Wikipedia, 2006).
Dari batasan tersebut diatas dimungkinkan menfungsikan waduk sebagai
tempat rekreasi atau sebagai kawasan wisata. Wisata waduk ini dapat
dikatagorikan sebagai wisata alam yang tergantung pada kelestarian lingkungan
alam, khususnya yang berada disekitar, agar tujuan masing-masing fungsi dapat
tercapai secara optimal, baik fungsi utama sebagai sarana irigasi maupun
fungsi lain seperti kawasan wisata, kawasan konservasi lingkungan hidup dan
fungsi peningkatan taraf hidup masyarakat. Dengan demikian Waduk sebagai
Bangunan yang fungsi utamanya sebagai sarana irigasi dapat juga mempunyai
multi fungsi yang bersifat komplementer atau saling melengkapi. Waduk ini
sebenarnya berfungsi mengairi sawah-sawah di sekitarnya dan merupakan
sumber air irigasi utama untuk semua persawahan atau pertanian seluruh daerah
tegal. Dari 18 kecamatan daerah kabupaten tegal di tiga kecamatan sekitar
15.000 hektare wilayah persawahan, yakni Kecamatan Pangkah, Kecamatan
Kramat, dan Kecamatan Tarub selama ini sangat menggantungkan pasokan air
dari waduk cacaban.
Seiring dengan kondisi hidrologis daerah tangkapan air Waduk Cacaban
yang semakin kritis, volume tangkapan air yang semakin menurun akibat
degradasi lingkungan di daerah hulu dan sedimentasi yang masuk kedalam
waduk semakin besar, yang menjadi permasalahan pokok adalah apakah
pemanfaatan Waduk Cacaban sebagai kawasan wisata alam tidak mengganggu
fungsi utama waduk sebagai sarana irigasi. Dimana dalam pemanfaatan Waduk
Cacaban sebagai kawasan wisata alam tentunya terdapat hal-hal yang dapat
mendukung pemanfaatan fungsi utama waduk maupun hal-hal yang dapat
mengganggu fungsi utama waduk, oleh karena itu perlu dilakukan penelitian
untuk mengetahui zonasi mana yang dapat digunakan dan yang tidak dapat
digunakan untuk kegiatan wisata alam.
Dari permasalahan tersebut diatas dapat dirumuskan pertanyaan
“Bagaimanakah menjaga kesesuaian fungsi utama waduk sebagai sarana
irigasi dan fungsi tambahan sebagai kawasan wisata ?”.
sumber :
1. https://id.wikiquote.org/wiki/Berat_sama_dipikul,_ringan_sama_dijinjing
2. http://sappilpil.blogspot.com/2015/12/otonomi-daerah.html
3. https://id.wikipedia.org/wiki/Waduk_Cacaban
4. http://parpora.tegalkab.go.id/wisata/tirta-waduk-cacaban/
5. https://id.wikipedia.org/wiki/Waduk