Anda di halaman 1dari 77

SPESIFIKASI TEKNIS

DATA PROYEK

Program :-
Kegiatan :-
Pekerjaan :-
Lokasi : Kabupaten Pandeglang
T.A : 2018

INFORMASI UMUM

Nama Kegiatan :-

Nama Paket Pekerjaan :-

Lokasi Kegiatan : Kabupaten Pandeglang

Kondisi Lokasi Pekerjaan : Gedung lama,

Luas Lokasi :-

Jangka Waktu Pelaksanaan : 90 Hari

Jangka Waktu Pemeliharaan : 180 Hari

Jenis Konstruksi : Beton Bertulang

Jenis Pekerjaan : ( Lihat Daftar Kuantitas dan Harga )

Jam Kerja Effektif dalam 1 hari : 7 Jam


PASAL 1
KETENTUAN UMUM PELAKSANAAN

Penanggung Jawab Pelaksanaan ( Kontraktor Pelaksana )


1 Kontraktor Pelaksana harus menyelesaikan pekerjaan secara seluruhnya sesuai dengan
ketentuan-ketentuan di dalam Dokumen Kontrak.
3. Tugas dan kegiatan Kontraktor Pelaksana adalah seperti yang disebutkan dalam Keputusan
Menteri Permukiman Dan Prasarana Wilayah Nomor : 332/KPTS/M/2002 Tanggal 21 Agustus
2002 Tentang Penyedia Jasa Pelaksana Konstruksi atau menurut perubahannya jika ada kecuali
ditentukan lain oleh Owner dalam Kontrak Kerja Fisik.
4. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan struktur organisasi pelaksana lapangan proyek
kepada Owner yang didalamnya tercantum beberapa tenaga ahli Kontraktor Pelaksana dengan
posisi minimal seperti berikut atau sesuai yang diajukan:
a) Manager Proyek
b) Pelaksana Proyek
c) Pelaksana Administrasi dan
d) Petugas K3
5. Jumlah personil atau tenaga ahli yang ditempatkan harus sesuai dengan bobot pekerjaan yang
ditangani dan disetujui oleh Konsultan Pengawas dan Owner.
6. Semua tenaga ahli yang namanya tercantum dalam struktur organisasi lapangan proyek yang
diajukan oleh Kontraktor Pelaksana harus berada dilokasi pekerjaan minimal selama jam kerja.
7. Pengantian tenaga ahli oleh Kodk,jntraktor Pelaksana selama proses pelaksanaan pekerjaan
harus diketahui dan disetujui oleh Konsultan Pengawas dan Direksi.
8. Manager Proyek harus mengajukan ijin tertulis kepada Owner dan diketahui oleh Konsultan
Supervisi jika hendak meninggalkan lokasi pekerjaan dalam jangka waktu lebih dari 3 hari.
9. Konsultan Supervisi berhak mengajukan kepada Owner untuk pengantian tenaga ahli
Kontraktor Pelaksana yang berada dilokasi pekerjaan jika tenaga ahli tersebut dinilai menghambat
pekerjaan dan tidak mampu menjalankan tugasnya dengan baik.
10. Tenaga ahli yang ditempatkan dilokasi pekerjaan oleh Kontraktor Pelaksana harus mampu
memberikan keputusan yang bersifat teknis dan administratif di lokasi pekerjaan.
11. Kontraktor Pelaksana tidak dibenarkan untuk meninggalkan kewajibannya dengan cara
menyerahkan Kontrak Kerja sebagian atau seluruhnya kepada pihak lain.
12. Kontraktor Pelaksana wajib mengajukan contoh semua bahan yang akan digunakan dan
diserahkan kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan persetujuan, sebanyak minimal 2
(dua) Produk yang setara dari merk pembuatan, kecuali telah ditentukan lain oleh Konsultan
Pengawas.
13. Pekerjaan yang akan dikerjakan :
a. PEKERJAAN PERSIAPAN
b. PEKERJAAN TANAH
c. PEKERJAAN PONDASI DAN BETON/STRUKTUR
d. PEKERJAAN PASANGAN DAN PLESTERAN
e. PEKERJAAN PASANGAN KERAMIK
f. PEKERJAAN KUSEN PINTU DAN JENDELA
g. PEKERJAAN RANGKA ATAP DAN PENUTUP ATAP
h. PEKERJAAN PLAFOND/LANGIT-LANGIT
i. PEKERJAAN PENGECATAN
j. PEKERJAAN LISTRIK
k. PEKERJAAN FINISHING DAN PEMBERSIHAN
PASAL 2
SYARAT-SYARAT PELAKSANAAN TEKNIS BAHAN

1. STANDAR BAHAN
Semua bahan bangunan adalah berkualitas baik, memenuhi segala persyaratan yang
terdapat dalam peraturan:
a. Standar Nasional Indonesia ( SNI ) yang berisi tentang peraturan standarisasi
bahan bangunan yang berlaku dalam wilayah Ind\
b. @#"Onesia.
c. Standar Industri Indonesia ( SII )
d. Peraturan umum tentang pelaksanaan pembangunan di Indonesia atau Algemene
Voorwaarden voor de Uitvoerinhg biji Aaneming van Openbare Warken ( AV ) 1941.
e. Keputusan-keputusan dari Majelis Indonesia untuk Arbitrase Teknik dari
Dewan TeknikPembangunan Indonesia ( DTPI ).
f. Baja tulangan beton ( SII 0136-84 ). Tata cara perencanaan struktur Beton untuk
Bangunan Gedung SK-SNI 03-1726-2002
g. Peraturan Umum dari Dinas Kesehatan Kerja Departemen Tenaga Kerja.
h. Peraturan Umum tentang Pelaksanaan Instalasi Listrik ( PUIL ) 1987 dan PLN
setempat.
i. Peraturan Umum tentang Pelaksanaan Instalasi Air Minum serta Instalasi
Pembuangan dan Perusahaan Air Minum
j. Peraturan Konstruksi Kayu Indonesia ( PKKI – 1961 ).
k. Peraturan Portland Cement Indonesia 1972/NI-8
l. Mutu dan cara uji semen Pórtland ( SII 0013-81 )
m. Mutu dan cara uji agregat beton ( SII 0052-80 )
n. Persyaratan Umum Bahan Bangunan di Indonesia ( PUBI – 1982 )/NI-3
o. Peraturan Perencanaan Bangunan Baja Indonesia 1983
p. Peraturan Pengecatan NI-12
q. Peraturan dan ketentuan lain yang dikeluarkan oleh Jawatan/ Instasi Pemerintah
setempat yang bersangkutan dengan permasalahan bangunan.

Semua bahan bangunan dan peralatan kerja untuk keperluan pekerjaan ini, seluruhnya
ditanggung dan disediakan oleh Kontraktor.
Konsultan Pengawas berwenang untuk minta keterangan mengenai asal dari bahan
bangunan dan lain-lain, serta sebelum digunakan HARUS melalui persetujuan
konsultan pengawas.
2. BAHAN YANG DIGUNAKAN

a. AIR
Air yang dipakai harus air tawar yang bebas dari lumpur, minyak, asam, basa, gula, bahan
organik basah, garam dan kotoran-kotoran lainnya dalam jumlah yang dapat merusak
kekuatan struktur turap. Tidak diperkenankan menggunakan air dari rawa, sumber air yang
berlumpur atau air laut. Harus dapat menjaga kemungkinan terbawanya material-material
yang tidak diinginkan pada tempat pengambilan air, sedikitnya ada jarak vertikal 0.5 meter
dari permukaan atas air kesisi tempat pengambilan tadi. Air yang digunakan untuk campuran
spesi/mortar dan beton harus memenuhi syarat sebagai bahan campuran beton sesuai
ketentuan-ketentuan dan persyaratan yang terdapat didalam NI-2 , SNI-2847-2013 dan
AASHTO T26. Apabila diperlukan, Direksi dapat meminta kepada kontraktor untuk
memeriksakan air yang akan digunakan kelaboratorium pemeriksaan yang resmi dan sah atas
biaya kontraktor. Air yang diketahui dapat diminum dapat digunakan tanpa pengujian.

b. PASIR URUG
Pasir untuk pengurugan, peninggian, dan lain-lain tujuan, harus bersih dan keras atau
memenuhi syarat-syarat pelaksanaan yang ditentukan dalam PUBI-1970/NI-3, pasir laut
untuk maksud-maksud tersebut tidak dapat digunakan.

c. PASIR PASANG
a. Pasir untuk adukan pasangan, adukan plesteran
dan beton bitumen, harus memenuhi syarat-syarat pelaksanaan yang ditentukan dalam
PBI-1971/NI-2.
b. Butiran-butiran harus tajam dan keras, tidak
dapat dihancurkan dengan jari.
c. Butiran butirannya harus dapat melalui ayakan
berlubang 3 mm persegi.
d. Pasir laut tidak boleh digunakan.
e. Untuk timbunan pasir harus bebas dari semua
tumbuh-tumbuhan dan bahan-bahan lain yang tidak dikehendaki, segala macam tanah dan
pasir yang tidak dapat dipakai harus dibuang.
f. Penimbunan pasir harus diatur dan dikerjakan
sedemikian rupa sehingga tidak merusak mutu pasir.
g. Pasir harus bersih dan bebas dari tanah liat, mika
dan hal-hal yang merugikan dari substansi yang merusak, jumlah prosentase dari segala
macam substansi yang merugikan (tanah liat, lumpur dll) tidak boleh lebih dari 5% (lima
persen) berat pasir.

d. PORTLAND CEMENT (PC)


1) Standar Persyaratan Bahan minimal Harus memenuhi :
a) ASSHTO M 45
b) PBI 1971/NI-3
c) ASTM C150,
d) SNI 15-2049-1994
e) SII.0013-82, NI-8
2) Semen yang digunakan untuk pekerjaan beton haruslah tipe semen portland yang
memenuhi AASHTO M85, campuran yang mengandung gelembung udara tidak boleh
digunakan.
3) Semen yang digunakan harus terdiri satu jenis merk dari mutu yang baik dan
disetujui oleh Direksi dan Konsultan Pengawas.
4) Semen yang dipakai Portland semen satu merk yang telah disyahkan/disetujui oleh
yang berwenang, dan
5) Bila mengunakan Portland Cement (PC) yang telah disimpan lama harus diadakan
pengujian terlebih dahulu oleh laboratorium yang berkompeten.
6) Dalam pengangkutan Portland Cement (PC) ke tempat pekerjaan harus dijaga agar
tidak menjadi lembab, dan penempatannya harus ditempat yang kering.
7) Semen yang telah mengeras sebagian atau seluruhnya tidak diperkenankan untuk
digunakan. Untukmenghindari terjadinya hal tersebut diatas Kontraktor harus
memperhatikan syarat-syarat penyimpanan semen yang baik.
8) Semua semen harus SemenPortland tipe I yang sesuai dengan persyaratan dalam
Peraturan
9) Kantong-kantong semen yang rusak jahitannya dan robek-robek tidak
diperkenankan penggunaannya, kecuali untuk pekerjaan bukan beton.
10) Semen yang didatangkan kelokasi, harus disimpan pada gudang yang mempunyai
ventilasi cukup dan tidak terkena air, sehingga terjamin tidakakan rusak dan/atau
tercampur bahan lain yang dapat merusak mutu beton. Diletakkan pada tempat yang
ditinggikan paling sedikit 30 cm dari lantai, tidak boleh ditumpuk sampai tingginya
melebihi 2 m.
11) Pada pemakaian semen yang dibungkus, penimbunan semen yang baru datang tidak
boleh dilakukan diatas timbunan yang telah ada dan pemakaian semen harus dilakukan
menurut urutan pengirimannya.

e. PASIR PASANG
1) Pasir harus terdiri dari butir-butir yang bersih
dan bebas dari bahan-bahan organik lumpur dan sebagainya
2) Kadar lumpur tidak boleh melebihi 5%.
3) Bahan agregat pasir harus didatangkan dari
tempat-tempat yang telah disetujui mutunya oleh Direksi Lapangan.
4) Pasir laut sama sekali tidak boleh dipergunakan

f. AGREGAT
1) STANDAR RUJUKAN
a) ASSHTO M 45
b) PBI 1971/NI-3
2) Syarat-syarat gradasi agregat
a) Gradasi kasar dan halus harus memenuhi syarat-syarat yang diberikan dalam
Tabel tetapi material yang tidak memenuhi syarat-syarat gradasi tersebut tidak perlu
ditolak bila kontraktor dapat menunjukkan dengan pengujian bahwa beton tersebut
memenuhi sifat campuran yang dibutuhkan

Tabel Syarat-syarat gradasi agregat


Ukuran Ayakan Persentase berat yang lolos
Standard Inch Agregat Halus Agregat Kasar
( mm ) (in)
50 2 - 100 - - -
37 1 1/2 - 95 - 100 100 - -
25 1 - - 95 -100 100 -
19 3/4 - 35 - 70 - 90-100 100
13 1/2 - - 25-60 - 90-100
10 3/8 100 10-30 - 20 - 55 40 - 70
4.75 #4 95 – 100 0-5 0-10 0-10 0-15
2.36 #8 - - 0-5 0-5 0-5
1.18 # 16 45 – 80 - - - -
0.3 #50 10-30 - - - -
0.15 #100 2-10 - - - -

b) Persyaratan Agregat Halus (Pasir Beton)


1) Pasir harus terdiri dari butir-butir yang bersih
dan bebas dari bahan-bahan organik lumpur dan sebagainya, dan harus
memenuhi komposisi butir serta kekerasan yang tercantum dalam PBI 1971/NI-
3. Hanya pasir beton yang dapat digunakan untuk pekerjaan beton
2) Kadar lumpur tidak boleh melebihi 5%.
3) Untuk menghasilkan mutu beton yang baik
Kontraktor dilarang menggunakan abu batu dan sejenisnya.
4) Bahan agregat pasir harus didatangkan dari
tempat-tempat yang telah disetujui mutunya oleh Direksi Lapangan.
5) Bahan agregat pasir dan kerikil harus disimpan
ditempat yang bersih, yang keras permukaannya dan dicegah supaya tidak
terjadi pencampuran satu sama lain.
6) Pasir laut sama sekali tidak boleh dipergunakan

c) Agregat kasar harus dipilih sedemikian sehingga ukuran partikel terbesar tidak lebih
dari ¾ dari jarak minimum antara tulangan baja atau antara tulangan baja dengan
acuan, atau antara perbatasan lainnya.

Sifat yang di syaratkan


1) Agregat untuk pekerjaan beton harus terdiri dari partikel yang bersih, keras, kuat
yang diperoleh dengan pemecahan padas atau batu, atau dari pengayakan dan
pencucian (jika perlu) dari kerikil dan pasir sungai.
2) Digunakan agregat yang bersih, bermutu baik, tidak berpori serta mempunyai
gradasi kekerasan sesuai dengan syarat-syarat pelaksanaan PBI-1971.
3) Butiran-butiran harus dapat melelaui ayakan berlubang persegi 76mm dan
tertinggal di atas ayakan berlubang 20mm.
4) Koral/split hitam mengkilap keabu-abuan.

g. BETON NON STRUKTURAL


1) Pekerjaan ini meliputi beton sloof, kolom praktis, beton ring balok untuk pekerjaan
beton bukan struktur, seperti yang ditunjukan dalam gambar.
2) Mutu campuran beton yang dicapai dalam pekerjaan non struktur/ struktur
pendukung menggunakan campuran1 Pc ; 2 Psr : 3 Split. hingga setara dengan mutu beton
K-175 dan harus memenuhi persyaratan dalam PBI-1971.
3) Campuran beton menggunakan perbandingan volume.
4) Untuk mencapai mutu Beton setara K-175 menggunakan campuran 1 pc: 2 psr: 3
split .
h. BESI BETON
1) Besi beton yang digunakan mutu U-24, dan seterusnya sesuai yang ditentukan, yang
penting harus dinyatakan oleh test laboratorium resmi dan sah.
2) Besi harus bersih dan tidak mengandung karat, minyak/lemak, asam, alkali dan bebas dari
dari cacat seperti serpi-serpi. Penampung besi harus bulat serta memenuhi per syaratan
NI-2 (PBI-1971)
3) Kualitas tulangan yang digunakan adalah sekualitas keluaran pabrikan baja setara
krakatau steel.
4) Pengendalian pekerjaan ini harus sesuai dengan :
1) Peraturan-peraturan/standar setempat yang biasa dipakai.
2) Peraturan-peraturan Beton Bertulang Indonesia 1971, NI-2.

i. BATU BATA MERAH


Persyaratan bata merah harus melalui persyaratan seperti tertera dalam NI-10 atau dengan
persyaratan-persyaratan sebagai berikut :
1) Bata merah harus satu pabrik, satu ukuran, satu warna, satu kualitas.
2) Batu bata yang digunakan batu bata yang mempunyai warna merah menyala yang
menunjukkan kesempurnaan pada waktu pembakaran.

3) Ukuran yang digunakan :


Modul Tebal Lebar Panjang
M – 5a 65 mm 90 mm 190 mm
M – 5b 65 mm 140 mm 190 mm
M–6 55 mm 110 mm 230 mm

4) Penyimpangan terbesar dari ukuran seperti tersebut di atas adalah panjang maksimal 3%,
lebar maksimal 4% tebal maksimal 5% dengan selisih maksimal ukuran antara bata
terkecil.
5) Warna satu sama lain harus sama, dan apabila dipatahkan warna penampang harus sama
merata kemerah-merahan.
6) Bentuk Bidang-bidang harus rata atau rusuk-rusuknya harus siku atau bersudut 90
derajat. Bidangnya tidak boleh retak-retak.
7) Berat satu sama lain harus sama, yang berarti ukuran, pembakaran dan pengadukan sama
dan sempurna.
8) Suara apabila dipukul oleh benda keras suaranya nyaring.
9) Batu bata tidak boleh retak diuji dengan memukulkan dua buah batu bata, suara yang
nyaring menunjukkan batu bata tidak retak.
10) Batu bata harus keras, tidak mudah tergores, dan padat (tidak banyak pori-pori)

j. KERAMIK
1) Proses pembakaran harus sedemikian rupa, sehingga tidak dapat hancur apabila
direndam dalam air.
2) Tahan terhadap zat asam dan alkasit serta zat kimia lainnya.
3) Warna harus merata, baik masing-masing maupun terhadap yang lain dan
permukaannya harus rata/licin tanpa cacat serta harus keras.
4) Keramik - Penyimpangan maksimum pada panjang dan lebar yang disyaratkan + 1 mm.
5) Kualitas Keramik yang digunakan adalah KW 1
6) Tidak ada cacat pada keramik seperti pecah, coak dll

k. CAT
1) Semua bahan-bahan cat harus diperoleh dari agen resmi yang telah disetujui, yang jika
dikehendaki dapat memberikan seluk beluk keterangan mengenai bahan tersebut dan
prosesnya.
2) Semua cat harus dipergunakan dan dipulaskan betul-betul sesuai dengan instruksi
pabriknya. Juga plamir dan cat dasarnya harus dikeluarkan oleh pabrik yang sama untuk
masing-masing lapisan pemakaian. Kaleng yang diisi cat harus diaduk benar-benar
sebelum dituangkan ke ketel dan dipulaskan menurut aturan dari pabriknya. Jangan
sekali-kali mencampurkan bahan pengering atau bahan-bahan lain ke dalam cat, jika
tidak disarankan atau dikehendaki oleh pabrik cat tersebut. Kontraktor harus dapat
membuktikan bahwa bahan yang dipakai adalah asli, tidak palsu, dengan menunjukkan
surat jaminan dari pabrik, sesuai volume pekerjaan yang disupply.
3) Cat kayu, meni kayu, cat tembok set.Metrolite yang dipergunakan harus sesuai
dengan ketentuan dan berkualitas baik serta waktu tiba ditempat pekerjaan, harus masih
tertutup dalam kaleng aslinya.
4) Cat yang sudah siap dan segera dipakai tidak diperbolehkan mengandung endapan-
endapan yang sudah membatu dan sesudah diaduk dengan baik, harus menjadi homogen
serta dapat dicatkan dengan mudah.
5) Warna cat adalah asli dari kalengnya dan tidak boleh mengadakan campuran dari
bermacam-macam warna.Cat yang sudah disetujui warna dan merknya harus
diberitahukan kepada pemberi tugas, guna melaksanakan pemeliharaan dikemudian
hari dan sebelum dilaksanakan pekerjaan pengecatan Kontraktor harus menunjukkan
contoh merk, maupun jenis warnanya kepada Konsultan Pengawas.
6) Segala cat, bahan-bahan penunjang mix cat (,plamir,alkali, cat dasar dan lain- lain), cara
pengecatan harap dikerjakan sesuai BQ, ANALISA dan DAFTAR BAHAN.
7) Pemilihan warna
Semua warna harus setujui oleh Konsultan Pengawas dan Pemilik dan Kontraktor
harus memasukkan dalam penawarannya biaya untuk mengadakan contoh warna-warna
untuk disetujui dalam penawarannya.
8) S t e g e r
Untuk pelaksanaan pekerjaan, steger-steger harus disediakan secukupnya, sesuai dengan
kebutuhan, sehingga pekerjaan dapat terlaksana dengan sempurna.

9) Keahlian
Pekerjaan mengecat hanya boleh dilakukan oleh tenaga yang sudah ahli dan
berpengalaman dalam bidang ini.Seorang mandor yang benar-benar cakap harus selalu
mengawasi di tempat tersebut selama pekerjaan dilaksanakan.

l. BAUT
Baut yang di pakai harus sesuai dengan SNI.

m. PAKU
Paku dibuat dengan kepala benam berbentuk bulat yang permukaan di atasnya
berpetak-petak dan bagian bawahnya miring, pada bagian luar diberi gurat-gurat sedang
bagian ujung yang runcing berbentuk tetra hendral yang konis.

n. BESI SIKU
Besi Siku berbentuk segi tiga dengan tebal 4 mm panjang 50 cm ditanam pada beton ring
balok penempatan besi siku sesuai gambar kerja.

o. GRC
Tidak ada cacat seperti pecah, coak dll

p. RANGKA ATAP
1) Kuda-kuda yang digunakan menggunakan rangka Baja ringan ,
Spesifikasi sebagai berikut
Tinggi ( h) : 75 mm Zincalum atau Aluzinc Coated
Tebal (thickness) : 0.8 mm
Lebar min : 35 s/d 40 mm
Reng atau Purlin Roof Truss
2) Reng yang digunakan memakai baja ringan, dengan spesifikasi sebagai berikut :
Tinggi : 45mm
Lebar atas : 25 mm
Lebar bawah : 75 mm
Tebal ( thickness) : 0.55 mm

q. BAHAN PENUTUP ATAP


1) Penutup Atap (Genteng dan Nok)
a) Atap yang digunakan adalah menggunakan Metal roof berpasir dengan bahan
Aluzinc atau sering disebut zincalume.
b) Ketebalan atap yang digunakan 0.30 mm dengan toleransi panjang lebih kurang
1mms/d 5 mm, lebar antara 5 mm sampai 10 mm,ketebalan 0.01 mm sampai dengan
0.03 mm,Finishing atap menggunakan jenis pasir anti panas dan Silau .

r. ALUMUNIUM
1) Ketebalan yang digunakan minimal 1 mm.
2) kualitas alumunium yang digunakan adalah
a) Aluminium YKK
b) Kusen Aluminium Alexindo

s. KACA
1) Kaca yang dipakai harus bersih bebas dari kotoran
2) Tidak ada cacat pada keramik seperti pecah, coak dll

t. BAHAN PEKERJAAN ELEKTRIKAL


1) Lampu
a) Harus memiliki garansi
b) Kualitas yang digunakan harus setara Philips

2) Saklar (Ganda dan tunggal) dan Stop Kontak


a) Kualitas yang digunakan harus setara Broco
b) Tidak ada cacat seperti pecah, coak dll

3) Kabel
a) Kabel yang digunakan harus sesuai dengan persyartan yang berlaku
b) Penghantar atau kabel yang sering digunakan untuk instalasi listrik penerangan
umumnya terbuat dari tembaga
3. PEMERIKSAAN BAHAN - BAHAN
a. Sebelum semua Bahan bangunan yang akan digunakan dalam
pelaksanaan pekerjaan ini tersedia, terlebih dahulu Kontraktor harus mengajukan contoh-
contoh untuk diperiksa serta mendapatkan persetujuan dari Pengawas, dalam hal ini
umumnya Konsultan Pengawas diberi wewenang sepenuhnya. Cara pemeriksaan bahan akan
ditentukan kemudian.
b. Semua bahan yang dipergunakan/diperlukan untuk pekerjaan
ini harus disetujui terlebih dahulu oleh Direksi/Konsultan Pengawas sebelum
dipergunakan.
c. Apabila terdapat perselisian dengan Kontraktor tentang
pemeriksaan bahan-bahan, Konsultan Pengawas berhak meminta kepada Kontraktor untuk
mengambil contoh-contoh yang didatangkan untuk diperiksakan ke laboratorium. semua
biaya pemeriksaan oleh laboratorium tersebut dalam pasal ini seluruhnya
ditanggung oleh Kontraktor.
d. Ongkos-ongkos yang dikeluarkan sehubungan dengan
perselisihan ini menjadi tanggungan Kontraktor.
e. Selama ini Kontraktor dapat melanjutkan pekerjaan, akan tetapi
sama sekali atas tanggungannya sendiri.Apabila ternyata bahwa bahan-bahan yang
diperiksakan tersebut tidak baik atau tidak memenuhi syarat-syarat, maka bahan-bahan
tersebut harus segera disingkirkan dan semua bagian pekerjaan yang telah dikerjakan
dengan bahan-bahan tersebut harus dibongkar dan selanjutnya harus menggantikannya
kembali dengan bahan lain yang memenuhi syarat.

4. PENYIMPANAN BAHAN DAN MATERIAL


a. Material harus disimpan sedemikian rupa sehingga mutunya terjamin dan terpelihara serta
siap untuk dipergunakan dalam pekerjaan sewaktu-waktu. Penyimpanan bahan
penempatannya harus sedemikian rupa sehingga dapat digunakan sewaktu-waktu dan mudah
untuk diperiksa oleh Konsultan Pengawas.
b. Tempat penyimpanan bahan di lapangan harus bebas dari tumbuh-tumbuhan dan sampah,
bebas dari genangan dan bila perlu permukaannya ditinggikan. Bahan yang ditempatkan di
atas tanah tidak diperkenankan untuk dipakai, kecuali hanya kalau permukaan tanah tersebut
telah disiapkan sebelumnya dan diberi lapis permukaan.
PASAL 3
PERSIAPAN DAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

1. HAL-HAL YANG ERAT HUBUNGANNYA DENGAN ESTETIKA.


Penempatan hal-hal yang erat hubungannya dengan Estetika harus mendapat persetujuan Pengawas dan
Perencana sebelum dilaksanakan.

2. MESIN-MESIN, ALAT BANTU, ALAT SEMENTARA DAN PESAWAT UKUR.


a. Kontraktor harus mengusahakan agar di tempat pekerjaan tersedia cukup mesin-
mesin, alat-alat bantu dan alat sementara untuk melaksanakan pekerjaan sebagai syarat pelaksanaan
yang sempurna.
b. Bila sewaktu-waktu diperlukan oleh Pengawas Kontraktor harus dapat menyediakan
alat-alat dan pesawat ukur serta tenaga bantu yang diperlukan untuk memeriksa kebenaran
pengukuran / letak bangunan.

3. PELAKSANAAN UKURAN-UKURAN.
a. Kontraktor bertanggung jawab atas tepatnya pelaksanaan pekerjaan menurut ukuran-
ukuran yang telah ditetapkan dalam rencana kerja dan syarat-syarat serta gambar-gambar kerja.
b. Kontraktor harus memberitahukan kepada Pengawas bila akan memulai suatu bagian
pekerjaan, sehingga Pengawas dapat memeriksa kebenaran ukurannya.
c. Kontraktor juga harus mencocokkan ukuran-ukuran satu dengan lainnya dan segera
memberitahukan pada Pengawas apabila terdapat perbedaan.
d. Tempat bangunan yang sebenarnya ditetapkan oleh Kontraktor dengan perestujuan
Pengawas. Dalam gambar uitzet Kontraktor harus mempergunakan alat ukur waterpass atau theodolith.

4. PERLENGKAPAN KEAMANAN KERJA DAN P3K


a. Kontraktor Pelaksana harus menyediakan perlengkapan keamanan kerja untuk
semua pekerja yang berada dalam lokasi pekerjaan dan tamu yang berkunjung kelokasi pekerjaan.
b. Perlengkapan keamanan kerja dapat berupa alat-alat seperti berikut ini :
1) Helm Pelindung Kepala;
2) Sepatu untuk melindungi kaki;
3) Pemadam Kebakaran; dan
4) Kotak P3K untuk pertolongan pertama pada kecelakaan kerja.
c. Jika terjadi kecelakaan kerja di lokasi pekerjaan yang berhubungan dengan
pelaksanaan pekerjaan maka Kontraktor Pelaksana diwajibkan mengambil segala tindakan guna
kepentingan si korban.
d. Semua biaya yang diperlukan untuk perawatan dan pengobatan korban kecelakaan
dilokasi pekerjaan menjadi tanggungan Kontraktor Pelaksana.
e. Yang dimaksud dengan korban dilokasi pekerjaan yang menjadi tanggung jawab
Kontraktor pelaksana adalah :
1) Personil atau semua tenaga kerja Kontraktor Pelaksana;
2) Personil Konsultan Supervisi.;
3) Owner dan para wakilnya;
4) Tamu yang berkunjung kelokasi pekerjaan; dan
5) Orang yang berada dalam lokasi pekerjaan dengan ijin dan sepengetahuan Kontraktor
Pelaksana.

5. KECELAKAAN DAN KESULITAN


a. Kecelakaan-kecelakaan yang timbul selama pelaksanaan pekerjaan berlangsung
menjadi beban dan tanggung jawab Kontraktor.
b. Sehubungan dengan di atas, Kontraktor diwajibkan menyediakan kotak PPPK
(Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) lengkap dengan isinya menurut kebutuhan dan menempatkan
kotak PPPK ini ditempat yang mudah dicapai / diambil bila diperlukan.
c. Sejauh tidak disebutkan dalam uraian dan syarat-syarat ini, maka semua ketentuan
umum lainnya yang dinyatakan dalam peraturan-peraturan yang dikeluarkan oleh Jawatan / Instansi cq.
Undang-undang Keselamatan Kerja dan lain sebagainya termasuk semua perubahan / tambahan hingga
kini tetap berlaku.

6. KESEJAHTERAAN PEKERJA
a. Kontraktor harus menyediakan obat-obatan / PPPK di tempat pekerjaan / lokasi
proyek.
b. Kontraktor bertanggung jawab sepenuhnya atas segala kecelakaan yang mungkin
terjadi serta atas biaya pengobatannya dan jaminan sosial lainnya bagi para pekerja proyek tersebut.
c. Kontrakktor harus menyediakan air minum yang cukup dan membuat MCK darurat
yang tertutup di lokasi proyek untuk para pekerja.

7. PENJAGA KEAMANAN LOKASI PEKERJAAN


a. Kontraktor Pelaksana dengan biaya sendiri harus menyediakan tempat/pos penjaga keamanan lokasi
pekerjaan beserta minimal 1 orang penjaga keamanan yang bekerja selama 24 jam.
b. Bangunan Pos penjaga keamanan lokasi pekerjaan bentuk dan dimensinya ditentukan oleh Kontraktor
Pelaksana.
c. Bangunan Pos penjaga keamanan lokasi pekerjaan tidak boleh berada di dalam lokasi pekerjaan. Pos
penjaga harus berada diluar pagar pengaman lokasi pekerjaan.

8. PENGAMANAN
a. Setelah Kontraktor mendapatkan batas-batas daerah kerja dan lain-lain sebagaimana yang telah
diuraikan dalam pasal-pasal sebelumnya maka kontraktor bertanggung jawab penuh atas segala sesuatu
yang ada didaerahnya antara lain :
1) Kerusakan yang timbul akibat kelalaian / kecerobohan yang disengaja atau tidak sengaja.
2) Penggunaan sesuatu yang salah atau keliru (bahan alat-alat dll).
3) Kehilangan-kehilangan bagian atau barang yang berada di daerahnya yang telah atau belum
diserahkan kepadanya oleh pihak lain, bagian atau barang tersebut antara lain bahan, alat dan lain-
lain lagi.
b. Terhadap semua kejadian yang terjadi telah dinyatakan di atas Kontraktor harus melaporkan kepada
Pengawas dalam waktu 1 x 24 jam untuk diteliti dan diselesaikan persoalannya lebih lanjut.
c. Untuk mencegah kejadian-kejadian tersebut di atas, Kontraktor diizinkan untuk mengadakan
Komando Pengamanan Pelaksanaan Proyek Pembangunan Setempat disertai prasarana penunjang
antara lain penerangan malam dan lain sebagainya atas beban biaya sendiri
d. Terhadap segala kerusakan dan kehilangan sesuatu, harus dapat diselesaikan bersama-sama dengan
Pengawas dan Keamanan Proyek setempat.
e. Kontraktor juga bertanggung jawab atas kerusakan-kerusakan atau kehilangan-kehilangan yang timbul
akibat Overmacht (malapetaka alam atau tekanan-tekanan lain), yang nyata atau hasil pemeriksaan,
pengusutan dan penyelidikan dianggap sebagai Force Majeure.

9. PERSONALIA KONTRAKTOR
a. Kontraktor harus menyampaikan kepada Pengawas daftar dan susunan Organisasi
Pelaksana Kontraktor sebelum pelaksanaan dimulai
b. Kontraktor tidak diperkenankan memberikan pekerjaan lain di luar proyek ini kepada
Wakil ataupun Pelaksana Kontraktor yang ditempatkan di proyek ini.
c. Bilamana diketahui Pelaksana Kontraktor atau Wakilnya dan pembantunya berhalangan
atau sakit maka Kontraktor harus menunjuk dan menempatkan penggantinya sampai orang yang
berhalangan tersebut, masuk kerja kembali.
d. Tenaga Ahli bertanggung jawab penuh terhadap penyelenggaraan / pelaksanaan pekerjaan
pembangunan, dalam hal ini harus melakukan pengontrolan ke lapangan setiap hari, minimal menerima
laporan bila berhalangan datang.

10. MUTUAL CHECK


a. Penggambaran, perhitungan backup data
Sebelum mulai pelaksanaan pekerjaan, penyedia jasa bersama-sama dengan PPK harus melakukan
“Mutual Check” / pemeriksaan bersama pada rencana lokasi pekerjaan bangunan untuk
memastikan kebenaran dari rencana bangunan yang terdapat dalam kontrak. Berdasarkan hasil
“Mutual Check” / Pemeriksaan Bersama tersebut penyedia jasa dapat membuat perubahan atau
perbaikan-perbaikan atas rencana bangunan sesuai dengan aturan yang terdapat pada syarat-
syarat umum kontrak. Adapun point-point dalam pelaksanaan Mutual Check /
Pemeriksaan Bersama adalah sebagai berikut :

 Sebelum melakukan semua pekerjaan, penyedia jasa harus melakukan pengukuran ulang (uit
zet), pemasangan bawplank yang menunjukan posisi-posisi pekerjaan dan ditunjukan bersama-
sama dengan PPK.
 Semua hasil pengukuran dan pemasangan bawplank hasilnya dilaporkan sebagai bahan
untuk perhitungan pekerjaan MC 0% dan MC 100%, dan diterangkan dalam gambar
pelaksanaan (Shoop Drawing).
 Hasil dari Mutual Check / Pemeriksaan Bersama dituangkan kedalam Berita Acara
Pemeriksaan Bersama dengan format yang ditentukan oleh PPK sesuai dengan aturan yang
berlaku.
 Biaya Pengukuran ulang dan pembuatan Mutual Check / Pemeriksaan Bersama dianggap
telah termasuk dalam harga satuan dalam daftar kuantitas dan harga yang ditawarkan
oleh penyedia jasa.

1. mutual check 0% rapat awal pekerjaan akan dijelaskan konsultan tentang rincian
pekerjaaan beserta spesifikasi dan kuantitas pekerjaan sesuai dengan kontrak yang telah dibuat.
Konsultan Pengawas dan kontraktor sebelum mulai pekerjaan baru harus menjelaskan tata cara
pelaksanaan jadwal dan pengendalian mutu. Pelaksanaan rapat koordinasi ini harus dilaksanakan
sebelum pekerjaan baru dimulai.
2. mutual check memuat tentang pekerjaan yang akan dilaksanakan pada awal pelaksanaan ,
menjelaskan tentang backup volume dan kesiapan tenaga kerja, material , alat dan metode
pelaksanaan yang akan laksanakan oleh pelaksana lapangan dan harus mendapat persetujuan dari
pengawas lapangan dan direksi.
3. mutual check 100% , memuat tentang evaluasi hasil pekerjaan dalam keseluruhan , Dalam
rapat ini dibahas pula tentang pekerjaan yang sudah selesai / dengan volume rencana pekerjaan
dan sesuai dengan buku kontrak. Sehingga menjadi pekerjaan finishing dari keseluruhan bentuk
volume pekerjaan dan gambar yang dituangkan dalam berita acara pekerjaan MC 100% dan
Seluruh bentuk keputusan hasil rapat dituangkan dalam berita acara dan disahkan bersama oleh
direksi dan konsultan pengawas.
4. mutual check, dilaksanakan apabila ada ketidaksesuaian pelaksanaan dengan gambar kerja dan
spesifikasi serta kuantitas analisa biaya atau ada kejadian luar biasa. Seluruh bentuk keputusan
hasil rapat dituangkan dalam berita acara dan disahkan bersama.

11. PENJELASAN GAMBAR


a. Bila gambar kerja tidak sesuai dengan RKS maka yang memikat adalah RKS, atau ditentukan
kemudian oleh Konsultan Pengawas Lapangan.
b. Bila suatu gambar tidak cocok dengan gambar yang lain dalam satu disiplin kerja,maka gambar
yang mempunyai skala yang lebih besar yang berlaku/mengikat.
c. Bila ada perbedaan antara gambar kerja dengan struktur maka yang berlaku / mengikat adalah
gambar kerja struktur sepanjang tidak mengurangi segi konstruksi dan kekuatan struktur.
d. Bila ada perbedaan antara gambar tanggal pengeluaran yang berbeda untuk satu masalah, maka
gambar dengan tanggal yang tercantum terbaru yang berlaku / mengikat.
e. Bila perbedaan-perbedaan itu, ketidakjelasan maupun kesimpang siuran menimbulkan
keragu-raguan sehingga dalam pelaksanaan dapat menimbulkan kesalahan, maka pemborong
diwajibkan melaporkan ke Konsultan Pengawas untuk diadakan pertemuan dengan Konsultan
Perencana untuk mendapat keputusan bersama dengan peraturan yang berlaku.
f. Ketentuan diatas tidak dapat dijadikan alasan oleh pemborong untuk memperpanjang
waktu pelaksanaan maupun mengajukan “Claim” biaya pekerjaan tambahan.
g. Harus selalu dibuat gambar pelaksanaan dari semua komponen struktur berdasarkan
disain yang ada dan harus dimintakan persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas Lapangan.
h. Gambar pelaksanaan ini harus memberikan semua data-data yang diperlukan termasuk
keterangan produk bahan, keterangan pemasangan, data-data tertulis, dan hal-hal lain yang
diperlukan.
i. Kontraktor bertanggung jawab terhadap semua kesalahan-kesalahan detailing fabrikasi dan
ketepatan penyetelan / pemasangan semua bagian konstruksi. Pekerjaan perubahan dan pekerjaan
tambahan di lapangan pada waktu pemasangan yang diakibatkan oleh kurang teliti atau kelalaian
Kontraktor, harus dilakukan atas biaya Kontraktor.
j. Keragu-raguan terhadap kebenaran dan kejelasan gambar dan spesifikasi harus ditanyakan
kepada Konsultan Pengawas dan Perencana. Apabila prosedur ini tidak dilaksanakan maka
Kontraktor bertanggung jawab sepenuhnya atas hasil pelaksanaannya.
k. Kontraktor diwajibkan untuk membuat gambar-gambar "As Built Drawing" sesuai dengan
pekerjaan yang telah dilakukan dilapangan secara aktual.
l. Gambar-gambar yang bersifat Umum dan Detail berskala besar dibuat olehperencana, tetapi
bila dianggap perlu untuk pelaksanaan pekerjaan tersebut, Kontraktor diharuskan pula membuat
gambar kerja [Shop Drawings] yang mendapatkan persetujuan / pengesahan dari konsultan perencana
dan pihak Pemberi Tugas.
m. Harus selalu dibuat gambar pelaksanaan dari semua komponen struktur berdasarkan
disain yang ada dan harus dimintakan persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas.

12. GAMBAR KERJA DAN REVISI / PERBAIKAN.


a. Kontraktor diwajibkan membuat gambar-gambar kerja yang belum ada karena satu
dan lain hal, perlu digambar demi kelancaran pelaksanaan. Sebelum dilaksanakan, gambar tersebut
harus mendapat persetujuan Pengawas terlebih dahulu.
b. Apabila selama pelaksanaan diadakan perubahan dari gambar kerja sebelumnya,
Kontraktor diwajibkan membuat gambar revisi / perbaikan diatas kutipan / cetak biru dengan tinta
berwarna yang menyolok sebagai bahan pembuatan as built drawing. Gambar revisi tersebut harus
dikiripengawasan pula pada pihak Direksi lainnya.

13. SITUASI/ PENEMPATAN BANGUNAN


a. Penempatan gedung disesuaikan dengan Block Plan/Gambar Situasi yang ada (menurut petunjuk
pengawas lapangan/pihak user/pihak proyek).
b. Kontraktor harus mengadakan penelitian yang seksama terutama mengenai kondisi tanah/lahan yang
ada, sehingga dalam estimasi perhitungan volume tidak terjadi kesalahan-kesalahan yang
mengakibatkan harga penawaran menjadi rendah.
c. Kelalaian dan ketidaktelitian kontraktor dalam hal ini tidak dapat dijadikan alasan untuk mengajukan
klaim.
d. Pekerjaan pemasangan bouwplank harus mendapatkan persetujuan pengawas atau dari pihak direksi.

14. JANGKA WAKTU PELAKSANAAN


a. Dimulainya penyelenggaraan pelaksanaan pekerjaan adalah sejak, tanggal, bulan dan tahun
Surat Perintah Mulai Kerja dikeluarkan.
b. Setelah menerima Surat Perintah Mulai Kerja, Kontraktor diwajibkan mengajukan rencana
kerja dari jadwal pelaksanaan proyek / Time schedule secara terperinci lengkap dengan jenis kegiatan
dan grafik kemajuan pekerjaaan (rencana dan realisasinya) diajukan kepada Pengawas untuk
mendapatkan persetujuannya.
c. Rencana Kerja dan Jadwal pelaksanaan tersebut di atas kertas HVS / Kalkir ukuran A3,
rapih, dan jelas ditanda tangani oleh Direktur / Manager Proyek dan dicap perusahaan dan disetujui
oleh Pengawas dan Pengguna Mata Anggaran.
d. Kontraktor diwajibkan untuk melaksanakan pekerjaan sesuai dengan rencana kerja dan
jadwal, yang telah ditentukan di atas dan tetap mengikat dan tidak berubah kecuali adanya Force
Majeure. Keterlambatan penyerahan kebutuhan (bahan, alat atau penentuannya) proyek pembangunan,
harus diajukan secara resmi / tertulis kepada Pengawas untuk dapat menyetujuinya.
e. Rencana Kerja dan jadwal waktu pekerjaan proyek harus selalu berada di Kantor Kerja
Proyek (Direksi Keet).
f. Seluruh masalah-masalah yang timbul selama berlangsungnya proyek (kemacetan-
kemacetan, keterlambatan dll) serta realisasi kemajuan pekerjaan, harus dicatat dalam jadwal
pelaksanaan tersebut.

15. RENCANA WAKTU PELAKSANAAN/ RENCANA KERJA


a. Rencana Kerja yang telah disetujui Pengawas harus dipasang di Kantor Lapangan dan menjadi rencana
kerja yang resmi dan mengikat yang akan dipakai oleh Pengawas sebagai dasar untuk menentukan
segala sesuatu yang berhubungan dengan keterlambatan prestasi pekerjaan Kontraktor.
b. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan rencana waktu penyelesaian pekerjaan (time schedule)
keseluruhan kepada Konsultan Supervisi dan Owner Paling lambat 7 hari kerja kecuali ditentukan lain
dalam Kontrak Kerja.
c. Kontraktor Pelaksana harus menyelesaiankan pekerjaan sesuai dengan rencana waktu penyelesaian
pekerjaan keseluruhan yang telah disetujui oleh Konsultan Supervisi dan Owner kecuali ditentukan lain
dalam Kontrak Kerja.
d. Kontraktor Pelaksana harus menyerahkan rencana waktu penyelesaian pekerjaan keseluruhan yang
telah disetujui oleh Konsultan Supervisi kepada Owner.
e. Kontraktor Pelaksana juga harus mengajukan rencana waktu penyelesaian pekerjaan mingguan pada
tahap pelaksanaan pekerjaan kepada Konsultan Supervisi.
f. Konsultan Supervisi berhak untuk tidak menyetujui rencana penyelesaian pekerjaan mingguan yang
diajukan oleh Kontraktor Pelaksana dengan memberikan alasan-alasan yang dapat dipertanggung
jawabkan secara teknis.
g. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan pekerjaan karena kesalahan dalam
menyusun waktu pemnyelesaian pekerjaan sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana.
h. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan pekerjaan karena factor cuaca seperti hujan
yang lebih dari 1 hari kerja dan dibuktikan dengan catatan cuaca dalam Laporan Harian yang disetujui
oleh Konsultan Supervisi harus diperhitungkan untuk penambahan waktu pelaksanaan pekerjaan.
i. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan pekerjaan karena factor-factor non teknis
yang lebih dari 3 hari kerja dan diketahui oleh Konsultan Supervisi seperti permasalahan dengan
tanah/lahan pekerjaan sehingga Kontraktor pelaksanan tidak bisa memasuki dan memulai pekerjaan,
ganguan keamanan dari masyarakat setempat harus diperhitungkan untuk penambahan waktu
pelaksanaan pekerjaan.
j. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan pekerjaan karena permasalahan yang
berhubungan dengan Spesifikasi Teknis, Gambar Disain, Bill of Quantity dan Kontrak Kerja dimana
tidak ada keputusan yang pasti dari Konsultan Supervisi dan Owner lebih dari 3 hari kerja harus
diperhitungkan untuk penambahan waktu pelaksanaan pekerjaan.
k. Keterlambatan Kontraktor Pelaksana dalam menyelesaikan pekerjaan yang disebabkan oleh hal-hal
yang tidak ada dalam perjanjian, tidak boleh diperhitungkan untuk penambahan waktu pelaksanaan
kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Kerja dengan persetujuan Konsultan Supervisi dan Owner.
l. Lamanya penambahan waktu atau jumlah hari kerja tambahan yang diberikan kepada Kontraktor
Pelaksana di tentukan melalui rapat pembahasan addendum.

16. REQUEST MATERIAL DAN REQUEST PEKERJAAN


a. Request Material
1) Kontraktor Pelaksana harus mengajukan permohonan penggunaan semua material bangunan
(request material) sebelum material bangunan tersebut dipakai dan dimasukan kelokasi pekerjaan.
2) Request Material yang diajukan Kontraktor Pelaksana harus disertai dengan contoh material dan
disetujui oleh Konsultan Supervisi dan Owner.
3) Persetujuan Request Material yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana dianggap sah dan diakui
apabila disetujui minimal oleh Konsultan Supervisi.
4) Kontraktor Pelaksana harus menyediakan dan menyerahkan satu set contoh material yang telah
disetujui kepada Konsultan Supervisi.
5) Material bangunan yang tidak disetujui oleh Konsultan Supervisi dan Owner tidak boleh dipakai
sebagai material bangunan dan harus dikeluarkan dari lokasi pekerjaan.
b. Request Pekerjaan
1) Kontraktor Pelaksana juga harus mengajukan permohonan (request pekerjaan) untuk pekerjaan
yang akan dikerjakan.
2) Request Pekerjaan yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana harus disetujui oleh Konsultan
Supervisi.
3) Kontraktor pelaksana tidak dibenarkan melakukan pekerjaan tanpa Request Material atau jika
Request Pekerjaan yang diajukan belum disetujui oleh Konsultan Supervisi.
4) Item-item pekerjaan yang memerlukan Request Pekerjaan ditentukan oleh Konsultan Supervisi.

17. METODE PELAKSANAAN


a. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan Metode Pelaksanaan terhadap penyelesaian pekerjaan
b. Metode Pelaksanaan yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana harus disetujui oleh Konsultan
Supervisi.
c. Kontraktor Pelaksana tidak dibenarkan melakukan pekerjaan jika Metode Pelaksanaan yang diajukan
belum disetujui oleh Konsultan Supervisi.
d. Item-item pekerjaan yang memerlukan Metode Pelaksanaan ditentukan oleh Konsultan Supervisi.

18. RENCANA MATERIAL DAN PERALATAN


a. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan rencana material dan peralatan mingguan yang akan
digunakan untuk penyelesaian pekerjaan setiap minggu kepada Konsultan Supervisi.
b. Semua material dan peralatan sesuai dengan rencana material dan peralatan mingguan yang diajukan
oleh Kontraktor Pelaksana harus berada dilokasi pekerjaan.
c. Konsultan Supervisi berhak untuk tidak menyetujui rencana material dan peralatan mingguan yang
diajukan oleh Kontraktor Pelaksana dengan memberikan alasan-alasan yang dapat dipertanggung
jawabkan secara teknis.

19. RENCANA TENAGA KERJA


a. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan rencana pengunaan tenaga kerja mingguan yang akan
digunakan untuk penyelesaian pekerjaan setiap minggu kepada Konsultan Supervisi.
b. Semua tenaga kerja sesuai dengan rencana tenaga kerja mingguan yang diajukan oleh Kontraktor
Pelaksana harus berada dilokasi pekerjaan.
c. Konsultan Supervisi berhak untuk tidak menyetujui rencana penggunaan tenaga kerja mingguan yang
diajukan oleh Kontraktor Pelaksana dengan memberikan alasan-alasan yang dapat dipertanggung
jawabkan secara teknis.

20. PEKERJAAN DILUAR JAM KERJA


a. Pekerjaan-pekerjaan diluar jam kerja normal yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana dengan alasan
mempercepat proses penyelesaian pekerjaan harus diketahui oleh Konsultan Supervisi.
b. Biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh personil Konsultan Supervisi untuk pengawasan pekerjaan
diluar jam kerja normal yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana sepenuhnya menjadi tanggung
jawab Kontraktor Pelaksana.
c. Kontraktor Pelaksana bertanggung jawab penuh terhadap kualitas pekerjaan yang dilakukan diluar jam
kerja normal atau pada malam hari.

21. SURAT MENYURAT DAN KOMUNIKASI


a. Segala surat-menyurat yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana yang berhubungan dengan
pelaksanaan pekerjaan yang sifatnya administratif harus melalui dan ditujukan kepada Konsultan
Supervisi serta Owner.
b. Segala surat-menyurat yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana yang berhubungan dengan
pelaksanaan pekerjaan yang sifatnya teknis harus melalui dan ditujukan kepada Konsultan Supervisi
juga diketahui oleh Owner.
c. Surat menyurat atau perizinan yang berhubungan dengan Instansi lain di luar proyek tidak perlu
melalui dan diketahui oleh Konsultan Supervisi. Kontraktor Pelaksana tetap wajib memberikan
informasi tentang hal tersebut kepada Konsultan Supervisi.

22. RAPAT KOORDINASI DAN RAPAT LAPANGAN (SITE MEETING)


a. Rapat koordinasi diselenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali setiap minggu, dipimpin oleh
Owner atau Konsultan supervisi.
b. Kontraktor Pelaksana wajib hadir dalam rapat koordinasi dengan diwakili minimal oleh Manager
Proyek atau Supervisor Lapangan.
c. Kosumsi rapat koordinasi tersebut disiapkan oleh Kontraktor Pelaksana kecuali ditentukan lain oleh
Owner.
d. Rapat lapangan (site meeting) diselenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali setiap minggu,
dipimpin oleh Owner atau Konsultan supervisi.
e. Kontraktor Pelaksana wajib hadir dalam rapat lapangan dengan diwakili minimal oleh Supervisor
lapangan.
f. Kosumsi rapat lapangan tersebut disiapkan oleh Kontraktor Pelaksana kecuali ditentukan lain oleh
Owner.

23. WEWENANG OWNER (PEMBERI TUGAS) MEMASUKI LOKASI PEKERJAAN


a. Owner (Pemberi Tugas) dan para wakilnya mempunyai wewenang untuk memasuki lokasi pekerjaan
dan bengkel kerja atau tempat-tempat lain dimana Kontraktor Pelaksana melaksanakan pekerjaan untuk
Kontrak.
b. Jika pekerjaan dilakukan pada tempat-tempat lain yang dilakukan oleh Sub Kontraktor Pelaksana
menurut ketentuan dalam Sub Pelaksanaan, maka Kontraktor Pelaksana harus memberikan jaminan
agar supaya Owner dan para wakilnya mempunyai wewenang untuk memasuki bengkel kerja dan
tempat-tempat lain kepunyaan Sub Pelaksana pekerjaan.
c. Owner atau Staf Ahli ( Enggineer ) berhak memberikan instruksi langsung dilapangan kepada
Kontraktor Pelaksana dan Konsultan Supervisi untuk suatu perbaikan atau perubahan jika dalam proses
pelaksanaan pekerjaan ditemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan Gambar Bestek, Spesifikasi Teknis,
Bill of Quantity dan Kontrak Kerja.
d. Owner atau Staf Ahli ( Enggineer ) berhak memerintahkan Konsultan Supervisi secara tertulis untuk
menghentikan proses pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana sementara
waktu jika ditemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan Gambar Bestek, Spesifikasi Teknis, Bill of
Quantity dan Kontrak Kerja.
e. Kontraktor Pelaksana harus menjamin dan bertangung jawab penuh akan keselamatan Owner dan para
wakilnya selama berada dilokasi pekerjaan.

24. PROGRESS PAYMENT


a. Jika tidak ditentukan lain dalam Kontrak Kerja maka Hasil Pekerjaan Kontraktor Pelaksana di bayar
berdasarkan metode Progress Payment. Artinya Tagihan Kontraktor Pelaksana dibayar berdasarkan
Progress Realisasi Pekerjaan yang telah diselesaikan dilapangan.
b. Progress Payment Kontraktor Pelaksana diajukan kepada Konsultan Supervisi dan diperiksa kebenaran
realisasi pekerjaan dilapangannya oleh Konsultan Supervisi.
c. Konsultan Supervisi dapat menunda atau membatalkan Progress Payment Kontraktor Pelaksana jika
berdasarkan pengamatan sendiri atau laporan/rekomendasi Konsultan Supervisi tentang adanya
pekerjaan-pekerjaan yang tidak sesuai Gambar Bestek, Spesifikasi Teknis dan Bill of Quantity.
d. Progress Payment Kontraktor Pelaksana baru dapat dibayar oleh Owner jika telah disetujui secara
tertulis oleh Konsultan Supervisi.

25. PEKERJAAN 100%


Jika tidak ditentukan lain dalam Kontrak Kerja maka Pekerjaan yang dinyatakan telah selesai 100% harus
memenuhi beberapa persyaratan berikut ini :
a. Item Pekerjaan 100% adalah item pekerjaan yang telah diperiksa dan disetujui oleh Konsultan
Supervisi.
b. Konsultan Supervisi tidak boleh menyetujui dan menandatangani suatu item pekerjaan yang diklaim
telah 100% oleh Kontraktor Pelaksana jika item pekerjaan tersebut :
1) Tidak Sesuai Dengan Gambar Bestek atau Gambar Revisi;
2) Kuantitas (volume) pekerjaan tidak sesuai dengan Bill of Quantity dan Kontrak Addendum;
dan
3) Tidak sesuai dengan Spesifikasi Teknis Dan Perubahannya;
c. Kontraktor Pelaksana berhak mengajukan klaim kepada Konsultan Supervisi bahwa semua pekerjaan
telah selesai 100% dengan memenuhi beberapa persyaratan seperti berikut ini :
1) Memberitahukan dan Meminta secara tertulis kepada Konsultan Supervisi agar Konsultan
Supervisi melakukan ispeksi atau memeriksa hasil pekerjaan yang diklaim telah 100%.
2) Menyerahkan Laporan Harian minggu terakhir pekerjaan konstruksi;
3) Menyerahkan Laporan Mingguan terakhir pekerjaan konstruksi;
4) Menyerahkan Laporan Bulanan terakhir pekerjaan konstruksi;
5) Menyerahkan Dokumentasi Pekerjaan Konstruksi dalam kondisi 0%, 25%,50% dan 100%.
d. PPK harus segera memberitahukan dan meminta Konsultan Supervisi untuk melakukan Inspeksi dan
Pemeriksaan Lapangan ( Opname ) tentang kebenaran Klaim Kontraktor Pelaksana bahwa pekerjaan
telah selesai 100%.
e. Konsultan Supervisi berhak menolak Klaim 100% Kontraktor Pelaksana bila Laporan hasil
Inspeksi/Pemeriksaan Lapangan oleh Konsultan Supervisi menyatakan bahwa pekerjaan belum 100%.
26. KESALAHAN PEKERJAAN DAN PEKERJAAN CACAT
a. Kontraktor Pelaksana harus memperbaiki dengan biaya
sendiri semua kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan baik pada tahap pelaksanaan maupun pada saat
sebelum Serah Terima Tahap Pertama (PHO) dan pekerjaan dinyatakan selesai 100%.
b. Kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan adalah hasil
pemeriksaan bersama antara Kontraktor Pelaksana, Konsultan Supervisi dan Owner sebelum Serah
Terima Tahap Pertama (PHO) dan pekerjaan dinyatakan selesai 100%.
c. Kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan dari hasil
pemeriksaan oleh Pelaksana, Konsultan Supervisi dan Owner dicantumkan dalam sebuah Daftar
Pekerjaan Cacat yang ditandatangani oleh ketiga pihak tersebut.
d. Konsultan Manajemen atau Owner harus membuat Berita
Acara Hasil Pemeriksaan Pekerjaan untuk ditandatangani oleh Kontraktor Pelaksana, Konsultan
Supervisi dan Owner.
e. Semua kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan yang ada
dalam Daftar Pekerjaan Cacat menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana memperbaikinya dengan
biaya sendiri.
f. Kesalahan-kesalahan dan cacat pekerjaan yang dilakukan
oleh Kontraktor Pelaksana dikarenakan kurang memahami Gambar dan kurangnya kontrol terhadap
pekerja sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana untuk memperbaiki dengan biaya
sendiri.
g. Kesalahan dan cacat pekerjaan yang dilakukan oleh
Kontraktor Pelaksana karena lemahnya pengawasan dan kontrol oleh Konsultan Supervisi dan bukan
atas dasar perintah tertulis dari Konsultan Supervisi tetap menjadi tanggung jawab Kontraktor
Pelaksana untuk memperbaikinya.
h. Kerusakan dan cacat pada bangunan akibat pemakaian
atau sebab-sebab lain tanpa ada unsur-unsur kesengajaan yang dapat dibuktikan dalam masa
pemeliharaan bangunan tetap menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana untuk memperbaikinya
dengan biaya sendiri kecuali ditentukan lain dalam Kontrak Kerja.
i. Konsultan Supervisi berhak setiap saat memerintahkan
Kontraktor Pelaksana untuk memperbaiki kesalahan pekerjaan atau pekerjaan cacat pada masa
pelaksanaan.
j. Hasil perbaikan terhadap kesalahan pekerjaan dan
pekerjaan cacat harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.

27. METODE KERJA PEKERJAAN PENUNJANG ATAU PEKERJAAN


SEMENTARA
Dalam menentukan keberhasilan dalam pelaksanaan pekerjaan Pembangunan Gedung Perkantoran dan
Fasilitas Pendukung ada beberapa hal pekerjaan penunjang atau pekerjaan sementara yang harus
diperhatikan diantaranya sebagai berikut :
1) Manajemen Lalu Lintas
Pengelolaan dan pengendalian arus lalu lintas dalam dilokasi Pemagaran dan Jalan Lingkungan harus
dengan melakukan optimasi penggunaan prasarana yang ada melalui peredaman atau pengecilan
tingkat pertumbuhan lalu lintas, memberikan kemudahan kepada angkutan yang efisien dalam dalam
penggunaan ruang jalan serta memperlancar sistem pergerakan.Antisipasi pengendalian lalu lintas
yang dapat dilakukan diantaranya adalah membuat rambu-rambu atau tanda bahwa dalam lokasi jalan
tersebut sedang adanya pelaksanaan Proyek jalan.

2) Sistem Pengeringan Tempat Kerja


Apabila dalam lokasi pekerjaan sedang mengalami hujan, atau tanah dalam lokasi pekerjaan
berdekatan dengan sawah/irigasi sehingga mengakibatkan lokasi yang sedang dikerjakan mengalami
rembes/lembab, langkah yang harus ditempuh untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu :
a) Penggunaan blower fan dan lampu pijar untuk pengeringan bagian pekerjaan yang harus
kering namun lembab
b) Penambahan lapis kedap air pada lokasi tertentu
3) Antisipasi Cuaca
Pada proyek berdurasi pendek mendapatkan tantangan lebih apalagi dalam periode pelaksanaannya
berada pada musim hujan.Kontraktor harus bekerja ekstra dalam mengatasi rendahnya produktifitas
akibat hujan. Beberapa antisipasi yang menjadi pengalaman adalah sebagai berikut :
a) Persiapan mantel hujan untuk pekerja
b) Tenda khusus
c) Penggunaan terpal untuk melindungi bagian pekerjaan yang dikhawatirkan berbahaya atau
rusak akibat hujan.

28. PAGAR PENGAMAN HALAMAN PEKERJAAN & PENGAMANAN SARANA.


a. Kontraktor harus membuat pagar proyek yang memadai, dan apabila lokasinya
terpaksa dipindah-pindah agar dilakukan secara terkoordinir dan segala perbaikan-perbaikan menjadi
tanggung jawab Kontraktor.
b. Kerusakan pemakaian jalan maupun sarana lain yang ada di halaman lokasi
pekerjaan menjadi tanggung jawab Kontraktor untuk memperbaikinya, dan apabila pekerjaan telah
selesai, maka perbaikan–perbaikan tersebut menjadi beban / biaya Kontraktor.

29. MOBILISASI DEMOBILISASI


Cakupan kegiatan mobilisasi yang diperlukan untuk Kontrak ini akan tergantung pada jenis dan volume
pekerjaan yang harus dilaksanakan, sebagaimana ditentukan dibagian – bagian lain dari Dokumen Kontrak,
dan secara umum akan sesuai dengan hal – hal sebagai berikut :
a. Persyaratan Mobilisasi
- Mobilisasi dari semua pekerja yang diperlukan untuk pelaksanaan dan penyelesaian pekerjaan
kontrak.
- Mobilisasi dan pemasangan peralatan konstruksi dari suatu lokasi asalnya ketempat yang
digunakan sesuai ketentuan Kontrak.
- Penyediaan dan pemeliharaan Base Camp Kontraktor, termasuk bila perlu kantor-kantor
lapangan, tempat tinggal, bengkel-bengkel, gudang-gudang, dsb.
b. Persyaratan Demobilisasi
Pekerjaan demobilisasi dari daerah kerja (site) yang dilaksanakan oleh Pihak Kontraktor pada akhir
Kontrak, termasuk membongkar kembali seluruh instansi-instansi, peralatan konstruksi, dan Pihak
Kontraktor diharuskan untuk melaksanakan pekerjaan perbaikan dan penyempurnaan pada daerah kerja
(site), sehingga kondisinya sama dengan keadaan sebelum Pekerjaan dimulai.
PASAL 4
PELAPORAN, DOKUMENTASI, SHOP DRAWING dan AS BUILT DRAWING,PENGUKURAN &
BOWPLANK

1. UMUM
Pelaporan dan dokumentasi merupakan hal penting yang harus dilakukan oleh kontraktor pada setiap tahap
pekerjaan.Laporan dibuat setiap harinya dan dicek oleh konsultan pengawas yang selanjutnya diteruskan
pada Direksi sehingga dapat diketahui kemjuan pekerjaan setiap harinya dan permasalahan yang terjadi
pada lokasi pekerjaan.Laporan tersebut dilampirkan foto dokumentasi sebagai lampiran.

As built drawing dibuat oleh kontraktor yang merupakan gambar terlaksananya seuatu pekerjaan, jika
terdapat perubahan dari gambar rencana, kontraktor segera melapor kepada Konsultan pengawas/Direksi
untuk ditindaklanjuti sesuai dengan prosedur yang berlaku.

2. PELAKSANAAN
a. Laporan Harian
1) Pelaksana lapangan setiap hari harus membuat Laporan Harian mengenai segala hal yang
berhubungan dengan pelaksanaan pembangunan / pekerjaan, baik bersifat teknis maupun
administratif.
2) Di dalam Laporan Harian harus tercantum keadaan cuaca, bahan yang masuk, jumlah
pekerja/pegawai/karyawan, catatan-catatan tentang perintah-perintah dari Pemberi Tugas / Direksi
atau wakilnya dan hal-hal lain yang dianggap perlu.
3) Jumlah pekerja setiap hari dicatat menurut golongan dan upah. Daftar pekerja ini setiap waktu
dapat diperiksa oleh Pemberi Tugas, dan ia berhak mengadakan penelitian tentang produktivitas
pekerjaan tersebut.
4) Dalam pembuatan laporan tersebut, pihak Kontraktor / Pemborong harus memberikan data-data
yang diperlukan menurut data dan keadaan sebenarnya.

Adalah laporan yang diisi hari demi hari kerja yang memuat perincian tentang :
1) Kapasitas / banyaknya tenaga kerja
2) Pemasukan bahan bangunan
3) Kegiatan pelaksanaan pada hari ini
4) Catatan kejadian lainnya (curah hujan dan lain-lain)
5) Catatan maupun peringatan dari Pengawas
b. Laporan Mingguan
Laporan Mingguan Adalah laporan berkala mingguan yang berisikan garis-garis besar dari apa saja
yang telah dicatat / dilaporkan dalam laporan harian, misal jumlah atau persentasi pekerjaan yang telah
dikerjakan maupun rencana kerja minggu berikutnya.
Laporan Mingguan dibuat oleh Kontraktor dengan persetujuan Pengawas. Laporan berkala bulanan
dibuat oleh Pengawas yang ditujukan untuk Pemberi Tugas.Setiap akhir pekan Pemborong harus
menyampaikan Laporan Mingguan kepada Pemberi Tugas tentang kemajuan pekerjaan dalam minggu
yang bersangkutan, meliputi persediaan bahan di tempat proyek, penambahan, pengurangan atau
perubahan pekerjaan, jumlah/macam dan harga satuan bahan-bahan yang masuk dan kejadian-kejadian
penting lainnya yang terjadi dalam proyek yang mempengaruhi pelaksanaan proyek.
Kontraktor diharuskan mengadakan pengambilan foto di lapangan, yang berkenaan dengan kemajuan
tahap pekerjaan, detail-detail yang akan ditutup, adanya bencana dan sebagainya. foto-foto
dokumentasi dibuat sebelum pekerjaan di mulai (0%) sampai pekerjaan selesai, foto dokumentasi harus
selalu diambil pada posisi yang sama untuk setiap kemajuan (tampak depan, samping dan belakang)
dan setiap tahapan bagian pekerjaan yang penting. Foto-foto tersebut dimasukan kedalam album dan
diserahkan kepada Pemimpin Bagian Proyek (Konsultan pengawas/Direksi) sebanyak 5 (lima)set.

c. Laporan Bulanan
Setiap akhir bulan, Pemborong harus melaporkan kemajuan pekerjaan secara terperinci dan besarnya
persentase terhadap keseluruhan/bagian, disamping dokumentasi foto berwarna ukuran postcard yang
menunjukkan kemajuan pekerjaan beserta peralatan yang dipakai dan lain-lain foto ditempel pada
album dengan keterangan-keterangan serta tanggal gambar-gambar diambil. Pemborong harus
mengirimkannya kepada Pemberi Tugas sebanyak 5 ( lima) set album atas biaya kontraktor.

d. Dokumentasi
Untuk melengkapi laporan maupun dokumentasi secara visual, maka Kontraktor harus mengadakan
pemotretan bagian-bagian pekerjaan / bangunan yang sedang dalam pelaksanaan.
Kuantitas dan arah pemotretan serat berapa set foto tersebut harus dicetak (minimal 5 set) ditentukan
kemudian berdasarkan kebutuhan maupun tahapan pada angsuran pembayaran. Foto / gambar harus
dicetak di atas kertas bromida mengkilap dan berwarna ukuran 3 R.

e. Shop Drawing
Kontraktor bekerja sama dengan Konsultan Pengawas membuat gambar Shop Drawing yang dibuat
sebelum memulai suatu item pekerjaan, sebagai acuan pelaksanaan suatu pekerjaan. Secara Umum,
shop drawing adalah gambar yang siap untuk diimplementasikan di lapangan. Sering Terjadi perbedaan
antara gambar kontrak, dan RKS/spesifikasi teknis, baik menyangkut item pekerjaan maupun volume
pekerjaannya. Untuk itu shop drawing dapat berfungsi untuk memperjelas, mana yang akan dipakai.
Hal ini tentunya melalui forum rapat koordinasi dengan pihak Konsultan Pengawas dan Direksi Teknis,
sehingga dicapai kesepahaman atas adanya perbedaan tersebut, yang tentunya mengacu pada
tercapainya sistem yang optimal. Pekerjaan yang terlaksana tanpa adanya shop drawing dapat tidak
diterima oleh Konsultan pengawas/direksi teknis dan dapat dihitung sebagai pekerjaan yang tidak
selesai.

f. Gambar Pelaksanaan (As Built Drawing)


Kontraktor bekerja sama dengan Konsultan Pengawas membuat gambar terlaksana/as built drawing
yang dibuat sejak pekerjaan dimulai, Jika terjadi perubahan pada suatu tahap pekerjaan Kontraktor
melalui konsultan pengawas melaporkan pada Direksi untuk ditindaklanjuti sesuai prosedur.
g. Pengukuran dan Bowplank
a. Pengukuran Dan Bouwplank
1) Untuk proses pengukuran dan pematokan, Kontraktor harus menyediakan semua instrumen
yang diperukan, personil, tenaga dan bahan yang di minta untuk pemeriksaan pematokan di
lapangan atau pekerjaan lapangan yang relevan.
2) Kontraktor wajib memberikan informasi kepada Direksi Pekerjaan setiap kali suatu bagian
pekerjaan akan dimulai untuk diperiksa terlebih dahulu ukuran-ukurannya.
3) Kontraktor diwajibkan senantiasa mencocokan ukuran-ukuran satu sama lain dalam tiap
pekerjaan dan segera melaporkan secara tertulis kepada Direksi Pekerjaan / setiap terdapat
selisih / perbedaan- perbedaan ukuran, untuk diberikan keputusan pembetulannya. Tidak
dibenarkan Kontraktor membetulkan sendiri kekeliruannya tersebut tanpa persetujuan Direksi
Pekerjaan.
4) Kontraktor bertanggung jawab penuh atas tepatnya pelaksanaan pekerjaan menurut posisi dan
ukuran- ukuran yang ditetapkan dalam Gambar Kerja dan Syarat ini.
5) Mengingat setiap kesalahan selalu akan mempengaruhi bagian-bagian pekerjaan selanjutnya
maka ketetapan peil dan ukuran tersebut mutlak perlu diperhatikan sungguh-sungguh.
6) Kelalaian Kontraktor dalam hal ini tidak akan ditolerir Direksi Pekerjaan dan berhak untuk
membongkar pekerjaan yang telah dilakukan tanpa pemeriksaan dari Direksi Pekerjaan.
7) Semua bahan yang akan dipergunakan untuk pelaksanaan pekerjaan Kegiatan ini harus benar-
benar baru dan diteliti mengenai mutu , ukuran dan lain-lain yang disesuaikan dengan
Standard / Peraturan-peraturan yang dipergunakan. Semua bahan-bahan tersebut diatas harus
mendapatkan pengesahan/persetujuan dari Pemilik Kegiatan/Direksi Pekerjaan sebelum akan
dimulai pelaksanaannya.
8) Ketelitian dan kerapian kerja akan sangat dinilai ( bobotnya tinggi ) oleh Direksi Pekerjaan
terutama yang menyangkut pekerjaan, penyelesaian maupun perapihan (finishing work).

b. Dasar Penentuan Ukuran / Posisi Pekerjaan.


1) Semua ukuran dan posisi, termasuk pemasangan patok-patok di lapangan, harus tepat sesuai
dengan gambar perencanaan.
2) Kontraktor wajib memperhatikan dan mempelajari segala petunjuk yang tertera dalam gambar
perencanaan untuk mendapatkan posisi dan ketepatan di Lapangan bagi setiap bagian
pekerjaan.
3) Kontraktor harus memasang patok-patok yang terpenting di Tapak sebagai patokan titik mulai
setiap bagian dari pekerjaan dan harus sesuai dengan yang ditentukan pada gambar
perencanaan.
4) Bila terjadi perbedaan antara gambar perencanaan dengan keadaan di Lapangan, Kontraktor
harus melaporkan perbedaan tersebut kepada Direksi Pekerjaan untuk mendapatkan
pemecahannya. Tidak dibenarkan Kontraktor mengambil tindakan tanpa sepengetahuan
Direksi Pekerjaan.

3. DASAR PEMBAYARAN
Pelaporan dan dokumentasi serta Pembuatasn Asbuilt Drawing dibayar dengan cara lumpsum (LS),
pembayaran tersebut sudah termasuk penyediaan dan pemasangan semua peralatan, untuk semua pekerja,
bahan, perkakas, dan biaya lainnya yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Uraian Satuan Pengukuran


Pek. Pengukuran dan M
pemasangan bouwplank

Biaya dokumentasi, pelaporan LS


dan as built drawing
PASAL 5
PAPAN NAMA PROYEK

1. UMUM
Papan nama proyek berfungsi sebagai identitas suatu proyek yang sedang berjalan dan di pasang pada
bagian depan lokasi proyek.

2. PELAKSANAAN
Kontraktor harus membuat dan memasang papan nama proyek dengan ukuran 1.20x0.75 m (dapat di baca
dengan jelas dari jarak 5 meter) dengan konstruksi tiang dari kayu ukuran 8/12 cm dan papan tebal 2 cm
atau multiplek 12 mm, yang isinya sesuai format dibawah ini atau dengan petunjuk direksi dilapangan.

-----------------------------------------------------------------------
------------------------------------
--------------------
---------

KEGIATAN : ………………………………………..
PEKERJAAN : ………………………………………..
NO KONTRAK : ………………………………………..
WAKTU PELAKSAAAN : ………………………………………..
SUMBER DANA / NILAI KONTRAK : ………………………………………..
KONTRAKTOR PELAKSANA : ………………………………………..
KONSULTAN PENGAWAS : ………………………………………..

3. DASAR PEMBAYARAN
Papan nama proyek harus dibayar dengan cara lumpsum (LS), pembayaran tersebut sudah termasuk
penyediaan dan pemasangan semua peralatan, untuk semua pekerja, bahan, perkakas, dan biaya lainnya
yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.
Uraian Satuan Pengukuran
Papan Nama Proyek LS
PASAL 6
PEKERJAAN GALIAN TANAH DAN PASIR URUG

1. GALIAN TANAH
a. Umum
1) Pekerjaan ini harus mencakup penggalian, penanganan. pembuangan. atau pembuatan stock dari
tanah atau padas atau Material lain yang perlu untuk penyelesaian yang memuaskan dari pekerjaan
dalam Kontrak ini.
2) Pekerjaan ini umumnya diperlukan untuk pembuatan selokan, saluran air, pondasi atau struktur
lainnya.
3) Pekerjaan ini harus mencakup penggalian, penanganan. pembuangan. atau pembuatan stock dari
tanah atau padas atau Material lain yang perlu untuk penyelesaian yang memuaskan dari pekerjaan
dalam Kontrak ini.
4) Pekerjaan ini umumnya diperlukan untuk pembuatan selokan, saluran air, pondasi atau struktur
lainnya.

b. Jaminan keselamatan pekerjaan galian


1) Kontraktor harus memikul seluruh tanggungjawab untuk menjamin keselamatan pekerja yang
melaksanakan pekerjaan galian
2) Selama masa pekerjaan galian, lereng harus diusahakan tetap stabil yang mampu menahan
pekerjaan disekitarnya. Struktur atau mesin harus dipertahankan sepanjang waktu, dan skor serta
turap yang memadai harus dipasang jika tepi permukaan galian yang sewaktu-waklu tidak
dilindungi dapat berbahaya/tidak stabil.
3) Peralatan berat untuk pemindahan tanah, pemadatan atau keperluan lainnya tidak diijinkan
berada atau beroperasi lebih dekat dari 1.5 m dari tepi galian terbuka atau galian pondasi,
terkecuali bila pipa atau struktur lainnya telah dipasang dan ditutup dengan paling sedikit 60 cm
urugan yang telah dipadatkan.
4) Pada setiap saat sewaktu pekerja atau yang lainnya berada dalam galian yang mengharuskan
kepala mereka berada di bawah permukaan tanah, kontraktor harus menempatkan pengawas
keamanan pada tempat kerja yang tugasnya hanya memonitor kemajuan dan keamanan. Pada
setiap saat peralatan galian cadangan (yang belum dipakai) serta perlengkapan P3K harus tersedia
pada tempat kerja galian.
c. Jadwal kerja
Luas suatu galian yang terbuka pada suatu operasi harus dibatasi sepadan dengan pemeliharaan
permukaan galian agar tetap dalam kondisi yang baik, dengan mempertimbangkan akibat dari
pengeringan, penggenangan akibat hujan dan gangguan dari luar.

d. Kondisi Tempat Kerja


1) Seluruh galian harus dijaga agar bebas dari air dan Kontraktor harus menyediakan seluruh
material yang diperlukan, perlengkapan dan buruh untuk pengeringan (pompa),
2) Bila pekerjaan sedang dilakukan pada saluran yang ada atau tempat lain dimana aliran bawah
tanah atau tanah mungkin tercemari, Kontraktor harus setiap saat menyediakan pada tempat kerja
sejumlah air minum yang cukup untuk digunakan oleh pekerja untuk mencuci, bersama dengan
sejumlah sabun dan desinfektan.

e. Pelaksanaan
1) Urutan galian harus mengikuti petunjuk Direksi/MK.
2) Penggalian harus dilaksanakan hingga garis ketinggian dan elevasi yang ditentukan dalam Gambar
atau ditunjukkan oleh Konsultan Pengawas dan harus mencakup pembuangan seluruh material
dalam bentuk apapun yang dijumpai, termasuk tanah, pondasi, batu bata, batu beton, tembok.
3) Pekerjaan galian harus dilakukan dengan gangguan seminimal mungkin terhadap material di
bawah dan di luar batas galian.
4) Dimana material yang terbuka dalam keadaan lepas atau tanah gambut atau material lainnya yang
tak memenuhi dalam pendapat Konsultan Pengawas, maka material tersebut harus dipadatkan
dengan benar atau seluruhnya dibuang dan diganti dengan timbunan yang memenuhi syarat,
sebagaimana diperintahkan Konsultan Pengawas.Disyaratkan bahwa seluruh permukaan galian
terutama lantai galian harus kering untuk pekerjaan pekerjaan selanjutnya, khususnya untuk
pekerjaan pondasi, pengurugan dan pemdatan.
5) Lapisan humus pada lokasi bangunan harus dikupas, hingga mencapai tanah yang tidak
mengandung humus, atau sekurang–kurangnya setebal 50 cm.
6) Untuk keperluan Pondasi, harus dilakukan penggalian tanah menurut ukuran–ukuran sesuai
dengan yang dinyatakan dalam gambar pelaksanaan.
7) Galian harus dikerjakan dengan teliti, datar dan harus dibersihkan dari segala
macam kotoran.
8) Jika pada galian terdapat kotoran dan bagian tanah yang tidak padat atau longgar, maka bagian ini
harus dikeluarkan seluruhnya, kemudian lubang yang terjadi harus ditutup urugan pasir dan
dipadatkan.
9) Penampang lereng galian kiri dan kanan dimiringkan 45o kearah luar dari as galian.
10) Kelebihan tanah bekas galian harus dibuang dari Lokasi konstruksi. Area antara papan patok ukur
dengan galian harus bebas dari timbunan tanah.
11) Tanah yang digunakan untuk urugan, penimbunan harus bersih dari humus dan kotoran–kotoran
lainnya dan mendapat persetujuan Direksi/ Pengawas.
12) Urugan tanah dilakukan lapis-demi lapis dengan ketebalan maksimum 15 cm per lapis, kemudian
dipadatkan memakai stamper hingga padat untuk menghindari penurunan setelah bangunan
difungsikan.
13) Pekerjaan penimbunan tanah, peninggian halaman atau urugan bekas lobang pondasi, ditumbuk
sampai padat.
14) Selama masa pelaksanaan dan masa pemeliharaan, harus diadakan tindakan pencegahan, baik
terhadap genangan/ arus air, yang dapat menyebabkan terjadinya erosi.
15) Selama masa pelaksanaan pekerjaan, pemborong harus mencegah terjadinya kerusakan semua
sarana umum yang masih digunakan seperti saluran–saluran air, listrik, jalan, dan lain–lain yang
dijumpai di sekitar lokasi proyek.
16) Apabila terjadi kerusakan, maka pemborong harus memperbaiki, segala hal–hal yang dianggap
oleh Direksi akan menimbulkan kerusakan, maka pemborong harus dapat mengatasi segala resiko
Kontraktor.
17) Kontraktor harus bertanggung jawab untuk menjaga setiap saluran yang masih berfungsi dari pipa,
kabel atau jalur lainnya atau struktur yang dijumpai dan memperbaiki setiap kerusakan yang
timbul oleh operasinya.
18) Galian untuk pekerjaan struktur diatasnya harus dipadatkan menggunakan alat stamper.
19) Apabila Kontraktor melakukan penggalian melebihi kedalaman yang ditentukan,maka Kontraktor
harus menutup kelebihan tersebut dengan urugan pasir yangdipadatkan dan disiram air setiap
ketebalan 5 cm, lapis demi lapis sampai jenuh serta mencapai ketinggian yang diinginkan.
20) Seluruh material yang dapat dipakai yang digali dalam batas-batas dan cakupan proyek dimana
memungkinkan harus digunakan secara efektif untuk formasi timbunan atau urugan kembali.
21) Pembuangan tanah yang berlebih dikonsultasikan dengan konsultan pengawas untuk penetuan
darah buanggannya
22) Permukaan tanah hasil galian atau urgan diratakan.

2. URUGAN PASIR
a. Umum
Urugan pasir di bawah lantai berfungsi untuk menstabilkan tanah, juga sebagai lantai kerja (adukan
lantai)di atasnya untuk diteruskan ke daya dukung tanah.
b. Pelaksanaan
1) Sebelum dilakukan pengurugan, tanah sudah diratakan dan dibersihkan dari segala kotoran
yangada.
2) Urugan pasir dilakukan untuk dasar sebelum pemasangan batu kosong/pasangan batu kali, pondasi
rollag bata dan pengecoran lantai di atas tanah.
3) Urugan pasir yang dilakukan untuk pasangan batu kosong (timbrisan) diisi hingga penuh dan
disiram agar padat, tidak ada rongga sehingga pondasi menjadi kuat.
4) Bahan yang dipakai untuk mengurug adalah pasir dengan butiran yang baik, mempunyai gradasi
baik dengan butiran beragam dan poreus.

3. DASAR PEMBAYARAN
Pekerjaan ini harus dibayar dengan Meter Kubik (M3), pembayaran tersebut sudah termasuk
penyediaan dan pemasangan semua peralatan, untuk semua pekerja, bahan, perkakas, dan biaya lainnya
yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Uraian Satuan Pengukuran


Pek. Galian tanah pondasi M3
Pek. Urugan pasir bawah pondasi M3
Pek. Pas. Urugan pasir bawah lantai M3
PASAL 7
URUGAN / TIMBUNAN TANAH

1. LINGKUP PEKERJAAN
Pekerjaan ini mencakup pengambilan, pengangkutan, penghamparan dan pemadatan tanah atau bahan
berbutir yang disetujui untuk konstruksi urugan antara lain pada pekerjaan :
 Pengurugan tanah pada bekas galian pondasi
 Pengurugan tanah pada pekerjaan peninggian elevasi peil lantai
 Urugan pasir dibawah pondasi dan lantai

2. KONDISI TEMPAT KERJA


a. Kontraktor harus menjamin bahwa pekerjaan tetap kering sebelum dan selama pekerjaan
pemasangan dan pemadatan berlangsung.
b. Kontraktor harus menjamin di tempat kerja tersedia air yang cukup untuk pengendalian
kelembaban timbunan selama operasi pemasangan dan pemadatan.

3. PERBAIKAN DARI URUGAN YANG TIDAK MEMUASKAN ATAU TIDAK STABIL


a. Urugan akhir yang tidak memenuhi atau disetujui harus diperbaiki
b. Urugan yang menjadi jenuh akibat hujan atau banjir atau karena hal lain setelah dipadatkan
biasanya tidak memerlukan pekerjaan perbaikan asal sifat material masih memenuhi syarat.
c. Perbaikan dari urugan yang tidak memenuhi kepadatan atau persyaratan sifat material dari
Spesifikasi ini harus seperti yang diperintahkan Konsultan Pengawas

4. MATERIAL
a. Urugan Biasa
1) Urugan yang diklasifikasikan sebagai urugan biasa harus terdiri dari galian tanah atau padas yang
disetujui oleh Konsultan Pengawas
2) Bahan yang dipilih sebaiknya tidak termasuk tanah yang plastisitasnya tinggi, bila penggunaan
tanah yang plastisitasnya tinggi tidak dapat dihindarkan. bahan terscbut harus digunakan hanya
pada bagian dasar dari urugan atau pada urugan kembali yang tidak memerlukan daya dukung
yang tinggi.

b. Urugan Pilihan
1) Urugan hanya boleh diklasifikasikan sebagai urugan pilihan bila telah disetujui oleh Konsultan
pengawas
2) Urugan yang diklasifikasikan sebagai urugan pilihan harus terdiri dari bahan tanah atau padas yang
memenuhi persyaratan untuk urugan biasa dan sebagai tambahan harus memiliki sifat tertentu
tergantung dari maksud penggunaanya
3) Bila digunakan dalam keadaan dimana pemadatan dalam keadaan jenuh atau banjir tidak dapat
dihindari, urugan pilihan haruslah pasir atau kerikil atau bahan berbutir bersih lainnya dengan
indeks plastisnya maximum 6%.

5. PEMASANGAN DAN PEMADATAN URUGAN


a. Penyiapan tempat kerja
b. Sebelum pemasangan urugan pada suatu tempat. seluruh bahan yang tidak memenuhi harus
telah dibuang sebagaimana diperintahkan oleh Konsultan Pengawas
c. Bila urugan akan dibangun pada tepi bukit atau ditempatkan pada timbunan yang ada atau
yang baru dibangun, maka lereng yang ada harus digali untuk membentuk teras dengan lebar cukup
untuk memungkinkan pemadatan dengan peralatan sewaktu urugan dipasang dalam lapis horizontal.

6. PEMASANGAN URUGAN
a. Urugan harus dibawa ke permukaan yang telah disiapkan dan disebar merata. Bila lebih dari satu lapis
akan dipasang, maka lapis tersebut sedapat mungkin harus dibuat sama tebalnya.
b. Urugan tanah umumnya harus diangkut langsung dari lokasi sumber material ketempat permukaan
yang telah dipersiapkan sewaktu cuaca kering dan disebar. Penimbunan stok tanah urug biasanya tidak
diperbolehkan, terutama selama musim hujan.

7. PEMADATAN DARI URUGAN


a. Pemadatan langsung setelah pemasangan dan penghamparan urugan masing-masing lapis
harus dipadatkan benar-benar dengan peralatan pemadat yang memadai yang disetujui Konsultan
pengawas.
b. Pemadatan dari urugan tanah harus dilaksanakan hanya bila kadar air dari material berada
dalam rentang kurang dari 3% sampai lebih dari 1% dari kadar air optimum.

8. DASAR PEMBAYARAN
Pekerjaan ini harus dibayar dengan Meter Kubik (M3), pembayaran tersebut sudah termasuk penyediaan
dan pemasangan semua peralatan, untuk semua pekerja, bahan, perkakas, dan biaya lainnya yang
diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Uraian Satuan Pengukuran

Pek. Urugan kembali bekas galian M3


Pek. Urugan dan pemadatan tanah M3
PASAL 8
PEKERJAAN BETON

1. UMUM
a. Pekerjaan yang disyaratkan dalam seksi ini harus mencakup pembuatan
seluruh struktur beton, termasuk tulangan dan struktur komposit sesuai dengan persyaratan dan sesuai
dengan garis elevasi, ketinggian, dan dimensi yang ditunjukkan dalam Gambar, dan sebagaimana
diperlukan oleh Konsultan Pengawas.
b. Pekerjaan ini harus meliputi pula penyiapan tempat kerja dimana
pekerjaan beton akan di tempatkan, termasuk pembongkaran dari tiap struktur yang harus dibongkar,
galian pondasi, penyiapan dan pemeliharaan dari pondasi, pengadaan penutup beton, pemompaan atau
tindakan lain untuk mempertahankan agar pondasi tetap kering, dan urugan kembali disekeliling
struktur dengan urugan tanah yang dipadatkan.
c. Mutu dari beton yang akan digunakan pada masing-masing bagian dari
pekerjaan dalam kontrak haruslah menggunakan mutu beton K.175 Sitemix untuk semua kolom, balok,
plat dan sloof berikut juga kolom praktis dan balok lintle menggunakan mutu beton K 175 Sitemix.
d. Syarat dari PBI tahun 1971 harus diterapkan sepenuhnya pada semua
pekerjaan beton yang dilaksanakan dalam kontrak ini,

2. TOLERANSI
a. Toleransi dimensi :
1) Panjang keseluruhan sampai dengan 6 m ± 5 mm
2) Panjang keseluruhan lebih dari 6 m ± 15 mm
3) Panjang balok, pelat dek, kolom dinding, atau antara tembok kepala - 0 dan ± 10 mm
b. Toleransi bentuk :
1) Siku (selisih dalam panjang diagonal) ±10 mm
2) Kelurusan atau lengkungan (penyimpangan dari garis yang dimaksud) untuk panjang s/d 3 m ±12
mm
3) Kelurusan atau lengkungan untuk panjang 3 m - 6 m ±15 mm
4) Kelurusan atau lengkungan untuk panjang > 6 m ±20 mm
c. Toleransi kedudukan (dari titik patokan):
1) Kedudukan permukaan horizontal dari rencana ± 10 mm
2) Kedudukan permukaan vertikal dari rencana ± 20 mm
d. Toleransi kedudukan tegak :
1) Penyimpangan ketegakan kolom dan dinding ± 10 mm
e. Toleransi ketinggian (elevasi)
Puncak beton penutup di bawah pondasi ± 10 mm
f. Toleransi kedudukan mendatar : ±10 mm dalam 4 m panjang mendatar.
g. Toleransi untuk penutup/selimut beton tulangan :
1) selimut beton sampai 3 cm 0 dan ± 5 mm
2) selimut beton 3 cm - 5 cm 0 dan ± l0 mm
3) selimut beton 5 cm - 10 cm ±10 mm

3. SUMBER STANDAR
PBI 1971 Peraturan Beton Bertulang Indonesia NI-2
AASHTO M85-75 Semen Portland
AASHTO M2 13-74 Pengisi sambungan yang dibentuk untuk lapisan beton dan konstruksi struktur.
AASHTO Tll-78 Jumlah material yang lebih halus dari ayakan 0.075 mm dalam agregat.
AASHTO M2 13-74 Pengisi sambungan yang dibentuk untuk lapisan beton dan konstruksi struktur.
AASHTO T ll-78 Jumlah material yang lebih halus dari ayakan 0.075 mm dalam agregat.
AASHTO T 21-78 Ketidak murnian organis dalam pasir untuk beton.
AASHTO T 26-72 Mutu air yang akan digunakan dalam beton
AASHTO T 96 -77 Abrasi dari agregat kasar dengan menggunakan mesin Los Angeles.
AASHTO T 104-77 Penentuan mutu agregat dengan menggunakan sodium sulfat.
AASHTO T 112-78 Gumpalan lempung dan partikel yang dapat pecah dalam agregat.
AASHTO T 126-76 Pembuatan dan perawatan contoh untuk pengujian beton di laboratorium.
AASHTO T141-74 Pengambilan contoh beton segar

4. PENYIMPANAN DAN PERLINDUNGAN MATERIAL


Untuk penyimpanan semen, kontraktor harus menyediakan tempat yang tahan cuaca yang kedap udara dan
mempunyai lantai kayu yang dinaikkan yang ditutup dengan lapis selubung plastik.

5. KONDISI TEMPAT KERJA


Kontraktor harus menjaga temperatur dari seluruh material, khususnya agregat kasar, pada tingkat yang
serendah mungkin dan harus menjaga temperatur dari beton di bawah 30° C sepanjang waktu pengecoran.
Sebagaii tambahan, kontraktor tidak boleh melakukan pengecoran bila :
a. Tingkat penguapan melampaui 1.0 kg/m2/jam
b. Diperintahkan untuk tidak melakukannya oleh Konsultan Pengawas, selama periode hujan atau bila
udara penuh debu atau tercemar.

6. PERBAIKAN DARI PEKERJAAN BETON YANG TAK MEMUASKAN :


Perbaikan dari pekerjaan beton yang tidak memenuhi kriteria toleransi yang disyaratkan atau yang memiliki
hasil akhir permukaan yang tidak memuaskan, atau yang tidak memenuhi kebutuhan syarat campuran yang
dipersyaratkan, meliputi :
a. Perubahan dalam proporsi campuran untuk sisa pekerjaan;
b. Tambahan perawatan pada bagian dari struktur yang dari hasill pengujian ternyata gagal;
c. Perkuatan atau pembongkaran menyeluruh dan penggantian bagian pekerjaan yang dipandang tidak
memuaskan;
d. Penambalan dari cacat-cacat kecil.
e. Dalam hal adanya perselisihan dalam kualitas pekerjaan beton atau adanya keraguan dari data
pengujian yang ada, Konsultan Pengawas dapat meminta kontraktor melakukan pengujian tambahan
yang diperlukannya untuk menjamin penilaian yang wajar pada mata pekerjaan yang telah
dilaksanakan. Pengujian tambahan tersebut haruslah atas biaya Kontraktor.
7. BAHAN – BAHAN
1. Semen
2. Agregat Halus
3. Agregat Kasar
4. Air
5. Baja Tulangan
Seluruh bahan diatas dipersyaratkan yang tertuang pada Pasal Bahan/Material.

8. PENCAMPURAN DAN PENAKARAN


a. Rancangan campuran
Proporsi material dan berat penakaran harus ditentukan dengan menggunakan metoda yang disyaratkan
dalam PBl
b. Campuran percobaan
Kontraktor harus menentukan proporsi campuran serta material yang diusulkan dengan membuat dan
menguji campuran percobaan, dengan disaksikan oleh Konsultan
c. Persyaratan sifat campuran
1) Seluruh beton yang digunakan dalam pekerjaan harus memenuhi kuat tekan dan Slump yang
dibutuhkan
2) Beton yang tidak memenuhi persyaratan "slump" umumnya tidak boleh digunakan pada pekerjaan,
terkecuali bila Konsultan Pengawas dalam beberapa hal menyetujui penggunannya secara terbatas
dari sedikit jumlah beton tersebut pada bagian tertentu yang sedikit dibebani. Sifat mudah
dikerjakan serta tekstur dari campuran harus sedemikian rupa sehingga beton dapat dicor pada
pekerjaan tanpa membentuk rongga atau menahan udara atau buih air dan sedemikian rupa
sehingga pada pembongkaran akan menghasilkan permukaan yang merata, halus dan padat.
3) Bila hasil dari pengujian 7 hari menghasilkan kuat beton di bawah nilai yang disyaratkan,
kontraktor tidak diperbolehkan mencor beton lebih lanjut sampai penyebab dari hasil yang rendah
tersebut dapat dipastikan dan sampai telah diambil tindakan-tindakan yang akan menjamin
produksi beton memenuhi persyaratan secara memuaskan. Beton yang tidak memenuhi kuat tekan
28 hari yang disyaratkan harus dipandang tidak memuaskan dan pekerjaan harus diperbaiki.
4) Konsultan Pengawas dapat pula menghentikan pekerjaan dan/atau memerintahkan kontraktor
mengambil tindakan perbaikan untuk meningkatkan mutu campuran berdasarkan hasil test kuat
tekan 3 hari, dalam keadaan demikian, kontraktor harus segera menghentikan pengecoran beton
yang dipertanyakan tetapi dapat memilih menunggu sampai hasil pengujian 7 hari diperoleh,
sebelum menerapkan tindakan perbaikan, pada waktu tersebut Konsultan Pengawas akan menelaah
kedua hasil pengujian 3 hari dan 7 hari, dan segera memerintahkan penerapan dari tindakan
perbaikan apapun yang dipandang perlu.
5) Perbaikan dari pekerjaan beton yang tak memuaskan yang melibatkan pembongkaran menyeluruh
dan penggantian beton tidak boleh didasarkan pada hasil pengujian kuat tekan 3 hari saja,
terkecuali kontraktor dan Konsultan Pengawas keduanya sepakat pada perbaikan tersebut.
9. PENGUKURAN AGREGAT
a. Seluruh beton harus ditakar menurut beratnya. Bila digunakan semen
kantongan, kuantitas penakaran harus sedemikian sehingga kuantitas semen yang digunakan adalah
sama dengan satu atau kebulatan dari jumlah kantung semen.
b. Agregat harus diukur secara terpisah beratnya. Ukuran masing-masing takaran
tidak boleh melebihi seluruh penakaran, agregat harus dibuat jenuh air dan dipertahankan dalam
kondisi lembab, pada kadar yang mendekati keadaan jenuh kering permukaan, dengan secara berkala
menyiram timbunan agregat dengan air.

10. PENCAMPURAN
a. Beton harus dicampur dalam mesin yang dioperasikan secara mekanikal dari
tipe dan ukuran yang disetujui dan yang akan menjamin distribusi yang rnerata dari material.
b. Pencampur harus dilengkapi dengan penampung air yang cukup dan peralatan
untuk mengukur dan mengendalikan jumlah air yang digunakan secara teliti dalam masing-masing
penakaran.
c. Alat pencampur pertama-tama harus diisi dengan agregat dan semen yang
telah ditakar, dan selanjutnya pencampuran dimulai sebelum air ditambahkan.
d. Waktu pencampuran harus diukur pada saat air mulai dimasukkan ke dalam
campuran material kering. Seluruh air pencampur harus dimasukkan sebelum seperempat waktu
pencampuran telah berlalu. Waktu pencampuran untuk mesin dengan kapasitas ¾ m3 atau kurang
haruslah 1.5 menit, untuk mesin yang lebih besar waktu harus ditingkatkan 15 detik untuk tiap
tambahan 0.5 m3 dalam ukuran.
e. Bila tidak memungkinkan penggunaan mesin pencampur, Konsultan
Pengawas dapat menyetujui pencampuran beton dengan tenaga manusia, sedekat mungkin dengan
tempat pengecoran. Penggunaan pencampuran dengan tenaga manusia harus dibatasi pada beton non
struktural.

11. PENGECORAN
a. Penyiapan tempat kerja
1) Kontraktor harus membongkar, struktur yang ada yang akan diganti dengan pekerjaan beton yang
baru atau yang harus dibongkar untuk dapat memungkinkan pelaksanaan pekerjaan beton yang
baru.
2) Kontraktor harus menggali atau mengurug pondasi atau formasi untuk pekerjaan beton hingga
garis yang ditunjukkan dalam Gambar, dan harus membersihkan dan menggaru tempat yang cukup
disekeliling dari pekerjaan beton tersebut untuk menjamin dapat dicapainya seluruh sudut
pekerjaan. Jalan kerja yang kokoh juga harus disediakan juga perlu untuk menjamin bahwa seluruh
sudut pekerjaan dapat diamati dengan mudah dan aman.
3) Seluruh landasan pondasi dan galian untuk pekerjaan beton harus dipertahankan kering dan beton
tidak boleh di cor di atas tanah yang berlumpur atau bersampah atau dalam air.
4) Sebelum pengecoran beton dimulai, seluruh acuan, tulangan dan benda lain yang harus
dimasukkan ke dalam beton (seperti pipa atau saluran) harus sudah di tempatkan dan diikat kuat
sehingga tidak bergeser sewaktu pengecoran.
b. Cetakan
1) Cetakan dari tanah, bila disetujui oleh Konsultan Pengawas, harus dibentuk dengan galian, dan
sisi serta dasarnya harus dipotong dengan tangan sesuai ukuran yang diperlukan. Seluruh kotoran
tanah lepas harus dibuang sebelum pengecoran beton.
2) Cetakan yang dibuat dapat dari kayu atau baja dengan sambungan yang kedap terhadap aduk dan
cukup kokoh untuk mempertahankan posisi yang diperlukan selama pengecoran, pemadatan dan
perawatan.
3) Kayu yang tidak dihaluskan dapat digunakan untuk permukaan yang tidak akan tampak pada
struktur akhir, tetapi kayu yang dihaluskan dengan tebal yang merata harus digunakan untuk
permukaan beton yang tampak. Cetakan harus menyediakan pembulatan pada seluruh sudut-sudut
tajam.
4) Cetakan harus dibangun sedemikian sehingga dapat dibongkar tanpa merusak beton.
c. Pelaksanaan pengecoran
1) Kontraktor harus memberitahukan Konsultan Pengawas secara tertulis paling sedikit 24 jam
sebelum memulai pengecoran beton, atau meneruskan pengecoran beton bila operasi telah ditunda
untuk lebih dari 24 jam. Pemberitahuan harus meliputi lokasi dari pekerjaan, macam pekerjaan,
kelas dari beton dan tanggal serta waktu pencampuran beton.
2) Direksi Teknik akan memberi tanda terima dari pemberitahuan tersebut dan akan memeriksa
cetakan dan tulangan dan dapat mengeluarkan atau tidak mengeluarkan persetujuan secara tertulis
untuk pelaksanaan pekerjaan seperti yang direncanakan. Kontraktor tidak boieh melaksanakan
pengecoran beton tanpa persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas untuk memulai.
3) Tidak bertentangan dengan pengeluaran atau persetujuan untuk memulai, tidak ada beton yang
boleh dicor bila Konsultan Pengawas atau wakilnya tidak hadir untuk menyaksikan operasi
pencampuran dan pengecoran secara keseluruhan.
4) Sesaat sebelum beton dicor, cetakan harus dibasahi dengan air atau disebelah dalamnya dilapisi
dengan minyak mineral yang tak akan membekas.
5) Tidak ada beton yang boleh digunakan bila tidak dicor dalam posisi akhir dalam cetakan dalam
waktu 1 jam setelah pencampuran, atau dalam waktu sesuai petunjuk Konsultan Pengawas
berdasarkan atas pengamatan sifat-sifat mengerasnya semen yang digunakan.
6) Pengecoran beton harus dilanjutkan tanpa berhenti sampai dengan sambungan konstruksi yang
telah disetujui sebelumnya atau sampai pekerjaan selesai.
7) Beton harus dicor sedemikian rupa agar terhindar dari segregasi (pemisahan) partikel kasar dan
halus dari campuran. Beton harus dicor dalam cetakan sedekat mungkin ke tempat pengecoran
8) Bila dicor ke dalam struktur yang memiliki cetakan yang sulit dan tulangan yang rapat, beton harus
dicor dalam lapis-lapis horizontal yang tak lebih dari 15 cm tebalnya.
9) Pengecoran harus dilakukan pada kecepatan sedemikian rupa sehingga beton yang telah berada di
tempat masih plastis sehingga dapat menyatu dengan beton segar.
10) Air tidak diperbolehkan dialirkan ke atas atau dinaikkan kepermukaan pekerjaan beton dalam
waktu kurang dari 24 jam setelah pengecoran.

12. SAMBUNGAN KONSTRUKSI


a. Jadwal pembetonan harus disiapkan untuk tiap-tiap struktur secara lengkap dan Konsultan Pengawas
harus menyetujui lokasi dari sambungan konstruksi pada jadwal tersebut, atau harus diletakkan seperti
yang ditunjukkan pada gambar.
b. Bila sambungan vertikal diperlukan, baja tulangan harus menerus melewati sambungan sedemikian
sehingga membuat struktur tetap monolit.
c. Kontraktor harus menyediakan tambahan buruh dan material sebagaimana diperlukan untuk membuat
tambahan sambungan konstruksi dalam hal penghentian pekerjaan yang tidak direncanakan dari
pekerjaan yang disebabkan oleh hujan atau macetnya pengadaan beton atau penghentian oleh
Konsultan Pengawas

13. KONSOLIDASI
a. Beton harus dipadatkan dengan penggetar mekanis yang digerakkan dari dalam atau dari luar yang
telah disetujui. Bila diperlukan, dan apabila disetujui oleh Konsultan Pengawas, penggetaran harus
ditambah dengan penusukan batang penusuk dengan tangan dengan alat yang cocok untuk menjamin
pemadatan yang tepat dan memadai. Penggetar tak boleh digunakan untuk memindahkan campuran
beton dari satu titik ke titik lain dalam cetakan.
b. Harus dilakukan tindakan hati-hati pada waktu pemadatan untuk menentukan bahwa semua sudut dan
diantara dan disekitar besi tulangan benar-benar diisi tanpa pemindahan kerangka penulangan, dan
setiap rongga udara dan gelembung udara terisi.
c. Penggetar harus dibatasi lama penggunaannya, sehingga menghasilkan pemadatan yang diperlukan
tanpa menyebabkan segregasi (pemisahan) dari agregat.
d. Setiap alat penggetar mekanis yang digerakkan dari dalam harus dimasukkan tegak ke dalam beton
basah supaya tembus kedasar beton yang baru dicor, dan menghasilkan kepadatan pada seluruh ke
dalaman seksi itu. Alat penggetar kemudian harus ditarik pelan-pelan dan dimasukkan kembali pada
posisi lain tidak lebih dari 45 cm jaraknya. Alat penggetar harus tidak berada lebih dari 30 detik pada
satu lokasi, tidak boleh digunakan untuk menggeser campuran beton kelokasi lain dan tidak boleh
menyentuh tulangan beton.

14. PEKERJAAN AKHIR


a. Cetakan tidak boleh dibongkar dari bidang vertikal, dinding, kolom yang langsung dan struktur yang
serupa lebih awal 30 jam setelah pengecoran beton. Cetakan yang ditopang oleh perancah di bawah
pelat, balok, atau lengkung, tidak boleh dibongkar hingga pengujian menunjukkan bahwa paling sedikit
60% dari kekuatan rancangan dari beton telah dicapai.
b. Permukaan pengerjaan akhir biasa
1) Terkecuali diperintahkan lain, permukaan dari beton harus dikerjakan segera setelah
pembongkaran cetakan. Seluruh perangkat kawat atau logam yang digunakan untuk memegang
cetakan di tempat, dan cetakan yang melewati struktur beton, harus dibuang atau dipotong ke
sebelah dalam paling sedikit 2.5 cm di bawah permukaan beton. Tonjolan dan ketidak rataan beton
lainnya yang disebabkan oleh cetakan harus dibuang.
2) Direksi Teknik harus memeriksa permukaan beton segera setelah pembongkaran cetakan dan dapat
memerintahkan penambalan ketidak sempurnaan kecil yang tidak akan mempengaruhi struktur
atau fungsi lainnya dari pekerjaan beton. Penambalan harus meliputi pengisian lubang-lubang kecil
dan lekukan dengan aduk.
c. Permukaan (Pekerjaan akhir khusus)
1) Permukaan yang tampak harus diberikan pekerjaan akhir selanjutnya atau seperti yang
diperintahkan oleh Konsultan Pengawas
2) Permukaan yang tidak horizontal yang tampak telah ditambal atau yang kasar harus digosok
dengan batu gurinda kasar, dengan menempatkan sedikit adukan pada permukaannya. Adukan
harus terdiri dari semen dan pasir halus dalam takaran yang digunakan untuk beton tersebut.
Penggosokan harus dilanjutkan hingga seluruh tanda bekas cetakan, ketidak rataan, tonjolan
menjadi hilang, serta seluruh rongga terisi dan permukaan yang merata telah diperoleh.

15. PERAWATAN
a. Sejak permulaan segera setelah pengecoran. Beton harus dilindungi dari pengeringan dini, temperatur
yang terlalu panas, dan gangguan mekanis. Beton harus dipertahankan dengan kehilangan kelembaban
yang minimal dan dengan temperatur yang relatif tetap untuk suatu perioda waktu yang disyaratkan
untuk menjamin hidrasi yang baik dari semen dan pengerasan betonnya.
b. Beton harus dirawat, setelah mengeras secukupnya, dengan menyelimuti memakai lembaran yang
menyerap air yang harus selalu basah untuk waktu paling sedikit 3 hari. Seluruh lembaran atau selimut
untuk merawat beton harus cukup diberati atau diikat ke bawah untuk mencegah permukaan terbuka
terhadap aliran udara. Bila cetakan kayu digunakan, cetakan tersebut harus dipertahankan basah pada
setiap saat sampai dibongkar, untuk mencegah terbukanya sambungan dan pengeringan beton.

16. BAJA TULANGAN UNTUK BETON


Pekerjaan itu harus mencakup pengadaan dan pemasangan baja tulangan sesuai dengan spesifikasi dan
Gambar , serta Buku Pegangan Standart praktis untuk detail struktur beton bertulang, Institut Beton
Amerika Baja tulangan beton yang polos dan yang berulir, dan juga kawat baja yang dibentuk dalam
keadaan dingin (cold drawn steel wire) untuk tulangan beton.
a. Standar rujukan
1) A.C.I 315 Buku pegangan standar praktis untuk detail struktur beton bertulang, Institut Beton
Amerika.
2) AASHTO M31-77 Baja tulangan beton yang polos dan yang berulir.
b. Toleransi
a. Toleransi untuk pembuatan (fabrikasi) harus seperti yang disyaratkan dalam ACI 315.
b. Baja tulangan harus dipasang sedemikian sehingga selimut beton yang menutup bagian luar dari
baja tulangan sesuai dengan gambar.
c. Penyimpanan dan Penanganan
a. Kontraktor harus mengangkut tulangan ketempat kerja dalam ikatan, diberi label, dan ditandai
dengan label metal yang menunjukkan ukuran, panjang batang dan informasi lainnya
b. Kontraktor harus menangani serta menyimpan seluruh baja tulangan sedemikian untuk mencegah
pengotoran, korosi, atau kerusakan.
d. Mutu Pekerjaan dan Perbaikan dari pekerjaan yang tak memuaskan
1) Baja tulangan yang cacat sebagai berikut tidak boleh digunakan dalam pekerjaan :
3) Panjang batang, ketebalan dan bengkokan yang melebihi toleransi pembuatan yang
disyaratkan dalam ACI 315
4) Bengkokan atau tekukan yang tidak ditunjukan pada gambar atau gambar kerja akhir
5) Batang dengan penampang yang mengecil karena karat yang berlebih atau oleh sebab lain.
2) Dalam hal kekeliruan dalam pembuatan bentuk tulangan. Barang yang telah dibengkokan tidak
boleh dibengkokan kembali atau diluruskan tanpa persetujuan Konsultan Pengawas.
Pembengkokan kembali dari batang harus dilakukan dalam keadaan dingin terkecuali disetujui lain
oleh Konsultan Pengawas. Dalam segala hal batang tulangan yang telah dibengkokan kembali
lebih dari satu kali pada tempat yang sama tidak diijinkan digunakan pada pekerjaan. Kekeliruan
yang tidak dapat diperbaiki oleh pembengkokan kembali, atau bila pembengkokan kembali tidak
disetujui oleh Konsultan Pengawas, harus diperbaiki dengan mengganti menggunakan batang
yang baru yang dibengkokan dengan benar dan sesuai dengan bentuk dan ukuran yang disyaratkan.
3) Kontraktor harus menyediakan fasilitas di tempat kerja untuk pemotongan dan pambengkokan
tulangan, dan harus menyediakan stok yang cukup dari batang lurus di tempat, untuk
pembengkokan yang dibutuhkan dan untuk memperbaiki kekeliruan atau penggantian.
e. Penggantian ukuran tulang
Penggantian batang dari ukuran berbeda akan hanya diijinkan bila secara jelas disahkan oleh Konsultan
Pengawas.
f. Material
1) Baja tulangan
Baja tulangan yang digunakan adalah Baja Polos U 24 untuk baja tulangan dengan diameter lebih
kecil atau sama dengan 12 mm. Sedangkan untuk baja tulangan dengan diameter lebih besar dari
12 mm menggunakan Baja Ulir U 37.
2) Pengikat untuk tulangan
Kawat pengikat untuk mengikat tulangan harus kawat baja
g. Pembengkokan
1) Terkecuali ditentukan lain oleh Konsultan Pengawas, seluruh tulangan harus dibengkokan dalam
keadaan dingin dan sesuai dengan prosedur ACI 315 menggunakan batang yang pada awalnya
lurus dan bebas dari tekukan, bengkokan-bengkokan atau kerusakan. Bila penggunaan panas untuk
pembengkokan di lapangan disetujui oleh Konsultan Pengawas, tindakan pengamanan harus
diambil untuk menjamin bahwa sifat dari baja tidak terlalu banyak berubah.
2) Batang dari diameter 2 cm dan yang lebih besar harus dibengkokkan dengan mesin pembengkok.
h. Penempatan dan pengikatan
1) Tulangan harus dibersihkan sesaat sebelum pemasangan untuk menghilangkan kotoran, lumpur,
oli, cat, karat dan kerak, percikan aduk atau lapisan lain yang dapat mengurangi atau merusak
pelekatan dengan beton.
2) Tulangan harus secara tepat ditempatkan sesuai dengan gambar dan dengan kebutuhan selimut
penutup minimum yang disyaratkan
3) Batang tulangan harus diikat kencang dengan menggunakan kawat pengikat sehingga tidak
tergeser sewaktu operasi pengecoran. Pengelasan dari batang melintang atau pengikat terhadap
baja tarik utama tidak diperkenankan.
4) Seluruh tulangan harus disediakan sesuai dengan panjang keseluruhan yang ditunjukkan pada
gambar. Penyambungan (splicing) dari batang, terkecuali ditunjukkan pada gambar, tidak akan
diijinkan tanpa persetujuan tertulis dari Konsultan Pengawas.
5) Bila sambungan (splice) yang menumpang disetujui maka panjang yang menumpang haruslah 40
diameter batang dan batang tersebut harus diberikan kait pada ujungnya.
6) Pengelasan dari baja tulangan tidak akan diijinkan terkecuali diperinci dalam gambar atau secara
khusus diijinkan oleh Konsultan Pengawas secara tertulis. Bila Direksi menyetujui pengelasan dan
penyambung, maka sambungan dalam hal ini adalah las tumpu ujung yang menembus penuh.
Pendinginan benda las dengan air tidak diijinkan.
7) Simpul dari kawat pengikat harus diarahkan meninggalkan permukaan beton sehingga tidak akan
tampak dari luar.

17. DASAR PEMBAYARAN


Pekerjaan ini harus dibayar dengan Meter Kubik (M3), pembayaran tersebut sudah termasuk penyediaan
dan pemasangan semua peralatan, untuk semua pekerja, bahan, perkakas, dan biaya lainnya yang
diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Uraian Satuan Pengukuran


BETON MENGGUNAKAN READY MIX K250
Pek.Pondasi Footplat M3
Pek.Lantai Kerja M3
Pek. Sloof 20/30 M3
Pek. Kolom Struktur 35x35 M3
Pek. Balok 20x35 M3
Pek. Balok 15x35 M3
Pek. Plat Beton 12cm M3
Pek. Plat Beton 12cm M3
Pek. Plat Beton 12cm M3
Pek. Kolom Struktur 15x30 M3
Pek. Kolom Struktur 15x20 M3
Pek. Kolom Struktur 15x15 M3
Pek. Balok Latei 11X20 M3
Pek. Kolom Struktur 20x20 M3

PASAL 9
ADUKAN SEMEN
1. URAIAN
Pekerjaan ini harus mencakup pembuatan dan pemasangan adukan untuk penggunaan dalam beberapa
pekerjaan dan sebagai pekerjaan akhir permukaan pada pasangan batu atau struktur lain sesuai dengan
spesifikasi ini.

2. STANDAR RUJUKAN
a. AASHTO M 45 – 70 Agregat untuk adukan pasangan
b. AASHTO M 85 – 75 Semen portland
c. ASTM C476 Adukan dan Bahan pengisi untuk penguatan pasangan

3. MATERIAL CAMPURAN
a. Material
1) Semen harus sesuai persyaratan dalam AASHTO M 45
2) Agregat halus harus memenuhi persyaratan dalam AASHTO M 45
b. Campuran
Adukan yang digunakan untuk pekerjaan ini, harus terdiri dari semen dan pasir halus yang dicampur
dalam proporsi yang telah ditentugan dalam Gambar kerja. Adukan yang disiapkan harus memiliki kuat
tekan yang memenuhi persyaratan yang diperlukan.

4. PENCAMPURAN DAN PEMASANGAN


a. Pencampuran
1) Seluruh material kecuali air harus dicampur, baik dalam kolak yang rapat atau dalam alat
pencampur adukan yang disetujui, hingga campuran telah berwarna merata, baru setelah itu air
dimasukan dan pencampuran dilanjutkan selama lima sampai sepuluh menit. Jumlah air harus
sedemikian sehingga menghasilkan aduk dengan konsistensi (kekentalan) yang diperlukan tetapi
tidak boleh melebihi 70% dari berat semen yang digunakan
2) Adukan dicampur hanya dalam kuantitas yang diperlukan untuk penggunaan langsung. Jika perlu
adukan boleh diaduk kembali dengan air dalam waktu 30 menit dari proses pengadukan awal.
Pengadukan kembali setelah waktu tersebut, tidak diperbolehkan.
3) Adukan yang tidak digunakan dalam 45 menit setelah air ditambahkan harus dibuang.
b. Pemasangan
1) Permukaan yang akan menerima adukan harus dibersihkan dari oli atau lempung dan kotoran
lainnya dan secara menyeluruh telah dibasahi sebelum adukan dipasang. Air yang menggenang
pada permukaan harus dikeringkan sebelum penempatan adukan.
2) Bila digunakan sebagai lapis permukaan, adukan harus dipasang pada permukaan bersih yang
lembab dengan jumlah yang cukup untuk menghasilkan tebal minimum 1.5 cm dan harus dibentuk
menjadi permukaan yang halus dan rata.
PASAL 10
PEKERJAAN PLESTERAN, ACIAN, PASANGAN BATA

1. BAHAN
a. Pasir Pasang - Minimal seperti yang dipersyaratkan di Pasal Bahan
b. Semen - Minimal seperti yang dipersyaratkan di Pasal Bahan
c. Batu bata - Minimal seperti yang dipersyaratkan di Pasal Bahan
d. Agregat Kasar dan Agregat Halus- Minimal seperti yang dipersyaratkan di Pasal Bahan
e. Air - Minimal seperti yang dipersyaratkan di Pasal Bahan
f. Adukan
1) Adukan yang digunakan untuk plesteran adalah : campuran 1 PC : 4 Pasir .
2) Cara dan alat yang dipakai untuk mencampur haruslah sedemikan rupa sehingga jumlah dari setiap
bahan adukan bisa dikontrol dan ditentukan secara tepat sesuai persetujuan Konsultan
Pengawas/Direksi. Buat adukan dalam jumlah yang dapat dipakai habis dalam waktu 45 menit.
Adukan/Plesteran dapat dipakai sampai batas adukan/plesteran tidak dapat lagi diolah (lebih
kurang 90 menit setelah adukan jadi). Pemakaian kembali adukan tersebut tidak diperkenankan.
Kotak untuk mengaduk harus dibersihkan setiap akhir dari hari kerja.

2. STANDAR
a. SK SNI S-03-1994-03 (Spesifikasi Peralatan Pemasangan Dinding Bata dan Plesteran). Atau Produk
Lokal yang telah memenuhi standar uji material.
b. Pt T-03-2000-C ( Tata Cara Pengerjaan Pasangan dan Plesteran Dinding ).
c. SK SNI S-04-1989-F ( Spesifikasi Bahan Bangunan Bagian A (Bahan Bangunan Bukan Logam).
d. SK SNI S-02-1994-04 (Spesifikasi Agregat Halus Untuk Pekerjaan Adukan dan Plesteran Dengan
Bahan Dasar Semen )

3. PELAKSANAAN
a. Pekerjaan Plesteran
1) Sebelum pekerjaan dilaksanakan Kontraktor harus mendapatkan persetujuan tertulis dari
Konsultan Pengawas
2) Untuk pekerjaan plesteran dinding bata biasa dipergunakan adukan 1 pc : 4 ps, sedangkan untuk
plesteran dinding trasraam 1pc : 3 ps.
3) Untuk plesteran beton dipergunakan 1 pc : 3 ps, setelah dipermukaan beton yang akan diplester
dikasarkan terlebih dahulu dan disiram dengan air semen.Persiapkan dan bersihkan permukaan-
permukaan yang akan diplester dari kotoran-kotoran dan bahan bahan lain yang dapat merusak
plesteran.
4) Tukang- tukang plester yang dinilai tidak cakap, karena pekerjaan yang buruk harus diganti
dengan yang baik.
5) Adukan yang tidak sesuai dengan persyaratan teknis ini harus disingkirkan dari pekerjaan.
6) Sebelum diplester bidang dinding harus dibasahi terlebih dahulu sampai jenuh, agar adukan dapat
melekat dengan baik.
7) Untuk bidang beton yang akan diplester harus diketrek/scrath terlebih dahulu dan bidang tembok
yang akan difinish dengan cat harus diberi acian diatas permukaannya.
8) Kelembaban plesteran harus dijaga dengan membasahi permukaan plesteran setiap kali terlihat
kering dan melindungi dari panas matahari langsung dan jika terjadi keretakan harus dibongkar
dan diperbaiki. Penyiraman harus dilakukan selama 7 hari setelah selesai pengacian dan tiap hari
disiram 2 kali dengan memperhitungkan tenggang waktu untuk menjaga kondisi jenuh tersebut.
Plesteran yang diminta adalah termasuk acian.
9) Semua pekerjaan plesteran dikerjakan dengan teknik sempurna, bidang-bidangnya rata, tegak
lurus/siku terhadap bidang lainnya kemudian diaci atau dihaluskan permukaannya dengan digosok
sampai licin. Agar didapat bidang plesteran yang rata permukaannya maka dalam pelaksanaanya
pemborong harus menginstruksikan kepada tukang batu agar membuat kepala-kepala plesteran
setiap bidangnya.
b. Pekerjaan Pasangan Batu bata
1) Sebelum pekerjaan dilaksanakan Kontraktor harus mendapatkan persetujuan tertulis dari
Konsultan Pengawas.
2) Semua dinding bangunan dipasang ½ (setengah bata) yang diperkuat dengan kolom struktur dan
kolom praktis 12/12 cm beton bertulang, yang jarak peletakannya sesuai dengan gambar kerja.
3) Untuk pasangan dinding bata biasa dipakai adukan 1 pc : 4 ps, sedangkan untuk pasangan bata
mulai dari sloof beton bertulang sampai setinggi 30 cm diatas rencana lantai dipasang dinding
trasraam dengan adukan 1 pc : 3 ps.
4) Pasangan dinding bata trasraam dengan adukan 1 pc : 3 ps, juga dipakai untuk memperkuat
pasangan saluran air hujan dan pasangan pondasi rollag batu kali.
5) Batu bata yang digunakan adalah batu bata merah dengan kualitas terbaik yang disetujui Direksi
Lapangan.
6) Pasangan batu bata sebelum diplester harus dibasahi dengan air terlebih dahulu.
7) Bidang dinding batu bata yang luasnya lebih besar dari ± 12 m2 ditambah kolom praktis.
8) Pelaksanaan pasangan harus cermat, rapi dan benar-benar tegak lurus.
9) Penyedia Jasa konstruksi harus memeriksa detil-detil denah ,ketinggian dinding, dikoordinasikan
dengan gambar pekerjaan–pekerjaan Mekanikal dan Elektrikal.
10) Bata harus dibersihkan dan direndam terlebih dahulu hingga buihnya habis dan jenuh air agar tidak
menyerap air dari campuran.
11) Penyedia Jasa konstruksi harus menjamin pasangan bata horizontal dengan alat bantu profil kayu
lot pengukur ketegakan pasangan dan benang.
12) Ketebalan spesi diusahakan sama pada arah vertikal dan horizontal.
13) Pemasangan dinding batu bata dilakukan bertahap, setiap tahap terdiri maksimum 24 lapis setiap
harinya, diikuti dengan cor kolom praktis.

c. Acian
1) Acian dapat dilaksanakan setelah permukaan plesteran sudah kering (cukup umur).
2) Permukaan plesteran sebelum di aci telebih dahulu disiram air. Untuk memperoleh hasil acian
yang halus, setelah plesteran diberi lapisan acian semen, permukaan acian sebelum mengering
digosok dengan menggunakan kertas gosok.

4. PENGENDALIAN MUTU DI LAPANGAN


Secara periodik harus dilakukan pemeriksaan kualitas campuran spesi.

5. PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN


1. Pengukuran Kuantitas Pek. Plesteran, Acian dan Pek. Pas. Bata merah yaitu panjang x tinggi
bidang plesteran.
2. Pek. Rabat beton yaitu panjang x lebar x tinggi
3. Pembayaran Kuantitas yang diukur sebagaimana disyaratkan di atas yang ditentukan harus dibayar
dengan harga satuan kontrak untuk Mata Pembayaran yang terdaftar di bawah ini dan ditunjukan
dalam daftar kuantitas dan harga, dan pembayaran tersebut harus merupakan kompensasi penuh
untuk penyediaan bahan, peralatan dan tenaga kerja.

Uraian Satuan Pengukuran


Pek. Pas. Dinding bata merah ad. 1:4 M2

Pek. Pas. Plesteran ad. 1:4 + acian M2


Pek. Acian M2
PASAL 11
PEKERJAAN LANTAI

1. UMUM
Papan nama proyek berfungsi sebagai identitas suatu proyek yang sedang berjalan dan di pasang pada
bagian depan lokasi proyek.

2. PELAKSANAAN
a. Pekerjaan Keramik
1) Bahan-bahan
Untuk lantai ruangan dan teras dipergunakan jenis keramik ukuran 40x40 cm setara Roman,.
2) Sebelum pemasangan lantai keramik di lantai dasar dimulai, kontraktor wajib memeriksa lapisan
dasarnya terutama pemadatan tanah.
3) Untuk semua pasangan lantai menggunakan adukan 1 pc : 4 ps kecuali untuk ruang dan dinding
KM/WC menggunakan adukan 1 pc : 3 ps.
4) Pada saat penyerahan pertama pekerjaan semua permukaan lantai dalam keadaan bersih dari
kotoran yang menempel pada muka lantai.
5) Sebelum pekerjaan dilaksanakan Kontraktor harus mendapatkan persetujuan tertulis dari
Konsultan Pengawas.
6) Sebelum memulai pekerjaan, selambat-lambatnya 2 hari, penyedia Jasa konstruksi harus
menyiapkan rencana kerja pekerjaan keramik meliputi volume pekerjaan, jumlah tenaga kerja dan
alat, jadwal pelaksanaan dan alur pekerjaan, serta contoh material yang akan dipakai untuk
mendapat persetujuan dari Konsultan Pengawas disertai gambar shop drawing.
7) Keramik yang masuk ke tapak harus diseleksi, agar sesuai dengan ukuran, bentuk dan warna yang
telah ditentukan. Dus keramik harus dalam keadaan tersegel dengan spesifikasi yang ditentukan.
Warna, ukuran, tekstur, dan bentuk harus seragam. Keramik yang tidak sesuai dengan spesifikasi
tidak boleh dipasang.
8) Pemasangan keramik boleh dilakukan bila Instalasi Mekanikal dan Elektrikal pada lantai sudah
selesai.
9) Kecuali ditentukan lain pada spesifikasi ini atau pada gambar, level yang tercantum pada gambar
adalah level finish lantai, karenanya screeding dasar harus diatur hingga memungkinkan pada
keramik dengan ketebalan yang berbeda permukaan finishnya terpasang rata.
10) Header/kepalaan keramik harus dibuat pada dua arah dengan bantuan alat ukur (theodolit atau
waterpass)
11) Adukan untuk Keramik dinding dibuat dengan pebandingan 1 pc : 2 pasir.
Adukan untuk Keramik lantai dibuat dengan pebandingan 1 pc : 4 pasir.
12) Lantai harus benar-benar terpasang rata, baik yang ditentukan datar maupun yang ditentukan
mempunyai kemiringan.
13) Kemiringan tidak boleh kurang dari 25 mm pada jarak 10 m untuk area toilet. Sedangkan untuk
area lain, tidak boleh kurang dari 12 mm pada jarak 10 m. Kemiringan harus lurus hingga air bisa
mengalir semua tanpa meninggalkan genangan.
14) Pemotongan keramik harus menggunakan alat yang sesuai agar menghasilkan hasil potongan yang
rata, tidak bergerigi.
15) Keramik harus dilindungi dari pergerakan selama 48 jam setelah pemasangan dengan
menempatkan rambu atau tanda.
16) Pasangan keramik harus diperiksa jarak dan kelurusan nat-nya, tidak kosong aciannya, tidak retak
dan gores, beda tinggi keramik (plint) maksimal 1 mm.
17) Pengecoran nat – nat lantai dilaksanakan dengan adukan semen encer (putih), pembersihan sisa –
sisa pengecoran harus segera dilakukan, sebelum adukan semen tersebut menjadi kering.
18) Ketidaksesuaian pemasangan dengan spesifikasi yang telah di uraikan menjadi tanggung jawab
kontraktor, dibongkar dan di perbaiki sesuai dengan spesifikasi yang diminta.

b. Pekerjaan Pembuatan Rabat Floor Beton


1) rabat beton dibuat dengan adukan. 1PC : 3 Psr : 5krl
2) pastikan lokasi pada saat pengecoran bebas dari resiko terkena air hujan.
3) Pekerjaan perawatan harus segera dimulai setelah beton mulai mengeras (sebelum terjadi retak
susut basah) dengan menjaga kelembapan rabat beton.

3. DASAR PEMBAYARAN
Pemasangan Keramik harus dibayar dengan caraMeter Persegi (M2),sedangkan pembayaran Rabat Floor
Beton Harus dibayar dengan cara Meter Kubik (M3) ,pembayaran tersebut sudah termasuk penyediaan dan
pemasangan semua peralatan, untuk semua pekerja, bahan, perkakas, dan biaya lainnya yang diperlukan
untuk menyelesaikan pekerjaan.

Uraian Satuan Pengukuran


Pek. Pas. Lantai keramik Warna 60x60 M2
Pek Plint Keramik 10x60 M'
Pekerjaan Stepnozing M'
PASAL 12
PEKERJAAN KUSEN ALUMINIUM DAN JENDELA ALUMINIUM

I. PERSYARATAN BAHAN
i. Pekerjaan daun pintu dibuat dengan kaca tempered dan rangka alumunium, tidak
ada cacat-cacat, minimal SETARA BUATAN ASAHIMAS.

ii. Ukuran daun pintukaca dan rangka alumunium sesuai dengan yang tercantum
dalam dokumen gambar.

iii. Pemasangan daun pintu kaca tempered dan rangka alumuniumyang dibuat sesuai
dengan gambar bestek/ detail-detail ukurannya, serta dibuat dengan peralatan yang
memadai atau dengan mesin, sehingga didapat hasil yang baik dengan
ukuran-ukuran yang seragam.

iv. Rangka/framealuminium jenis aluminium extrusi, profil disesuaikan dengan shop


drawing yang telah disetujui.

v. Bahan yang akan difabrikasi harus diseleksi dahulu sesuai dengan bentuk,
toleransi, ukuran, ketebalan, kesikuan, kelengkungan, pewarnaan yang
disyaratkan.

vi. Finishing untuk bagian rangka aluminium yang tampak dari luar dengan anodized
13 mikron.

vii. Bahan finishing daun pintu kalau tidak ditentukan lain difinish powder coating,
warna akan ditentukan kemudian oleh Konsultan Manajemen Konstruksi.

II. PELAKSANAAN
1. Sebelum melaksanakan pekerjaan Pelaksana diwajibkan untuk meneliti gambar-gambar
yang ada dan kondisi di lapangan (ukuran dan lubang) termasuk mempelajari bentuk,
pola layout/ penempatan, cara pemasangan dan detail-detail sesuai gambar.
2. Pelaksana diwajibkan membuat shop drawing sesuai ukuran/ bentuk/ mekanisme kerja
yang disetujui oleh Konsultan Manajemen Konstruksi, dan telah disesuaikan dengan
keadaan di lapangan.

3. Sebelum pemasangan, penimbunan aluminium, dan material lainnya ditempat pekerjaan


harus diletakan pada ruang/ tempat dengan sirkulasi udara yang baik, tidak terkena cuaca
langsung dan terlindung dari kerusakan.

4. Desain dan produksi dari sistem daun pintu harus dapat persetujuan pemasangan dari
Konsultan Manajemen Konstruksi sesuai gambar.

5. Pemasangan daun pintu tidak boleh menyimpang dari ketentuan pemasangan yang
dikeluarkan oleh pabrik.

6. Ukuran dan cara kerja harus mengikuti persyaratan dari pabrik pembuatnya.

7. Semua rangka harus terpasang siku, tegak, rata sesuai peil dalam gambar dan lurus (tidak
melebihi batas toleransi kemiringan yang diizinkan dari masing-masing bahan yang
digunakan). Bilamana tidak ada kejelasan dalam gambar, Pelaksana wajib menanyakan
kepada Konsultan Manajemen Konstruksi.

8. Semua daun pintu yang terpasang sesuai dengan gambar, dalam hal ini type dan lay out.
Setelah pemasangan Pelaksana wajib memberikan perlindungan terhadap
benturan-benturan, benda-benda lain dan kerusakan akibat kelalaian pekerjaan, semua
kerusakan yang timbul adalah tanggung jawab Pelaksana sampai pekerjaan selesai.
III. DASAR PEMBAYARAN
Pekerjaan Kayu dibayar dengan sesuai dengan satuan yang ditentukan, pembayaran
tersebut sudah termasuk penyediaan dan pemasangan semua peralatan, untuk semua
pekerja, bahan, perkakas, dan biaya lainnya yang diperlukan untuk menyelesaikan
pekerjaan.

Uraian Satuan Pengukuran


Pek. Kusen pintu dan jendela aluminium Bh
warna 4'' J1 Bh

Pek. Kusen pintu dan jendela aluminium Bh


warna 4'' J2
Pek. Kusen pintu dan jendela aluminium
warna 4'' P1
PASAL 13
PEKERJAAN PENGGANTUNG DAN KUNCI DAN KACA

1. PEKERJAAN ALAT PENGGANTUNG DAN KUNCI


a. Untuk engsel pintu dan jendela dipakai engsel type ring nylon yang berkualitas baik, dipasang
sebanyak 3 buah untuk setiap daun pintu dan 2 buah untuk setiap daun jendela, dengan ukuran:
1) Untuk daun pintu ukuran 4” dan
2) Untuk daun jendela ukuran 3”.
b. Seluruh pintu-pintu dipasang kunci tanam yang berkualitas baik semutu merk Union 2 kali putar
(besar).
c. Setiap daun jendela dipasang slot dan dipasang kait angin/penahan bukaan yang berkualitas baik.
d. Sebelum pekerjaan dilaksanakan Kontraktor harus mendapatkan persetujuan tertulis dari konsultan
Pengawas

2. PEKERJAAN KACA
a. Jenis kaca polos yang dipergunakan disesuaikan dengan gambar perencanaan yang semutu dengan
merk Asahi dengan ketebalan 5 mm.
b. Kontraktor harus memberikan contoh bahan, brosur serta data teknis kepada Pengawas untuk
mendapatkan persetujuan.
c. Semua list kaca dipasang dengan kuat dan kokoh, pada sponning agar diberi dempul.
d. Mengingat sifat kaca akan memuai pada saat terkena sinar matahari, maka dalam pelaksanaan
pemasangan agar diberi jarak antara list dengan kaca beberapa milimeter.
e. Sebelum pekerjaan dilaksanakan Kontraktor harus mendapatkan persetujuan tertulis dari Konsultan
Pengawas

3. DASAR PEMBAYARAN
Pembayaran sudah termasuk penyediaan dan pemasangan semua peralatan, untuk semua pekerja, bahan,
perkakas, dan biaya lainnya yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Uraian Satuan Pengukuran


Pek. Kaca polos 5 mm M2
Pek. Pas. Kunci double slaag Bh
Pek. Pas. Engsel pintu Bh
Pek. Pas. Engsel jendela Bh
Pek. Pas. Hak angin Bh
Pek. Pas. Slot jendela Bh
PASAL 14
PEKERJAAN ATAP DAN PLAFOND

1. PELAKSANAAN
a. Rangka Atap dan Penutup Atap
1) Kontraktor Harus meneliti gambar sebelum melaksanakan Proses Perakitan, apabila ada hal yang
tidak wajar dan membahayakan, maka kontraktor harus segera melapor ke pengawas lapangan.
2) Ukuran kemiringan kuda-kuda disesuaikan dengan gambar dan melalui persetujuan konsultan
pengawas.
3) Seluruh Material pada pekerjaan ini adalah Bahan Baja dan Besi baru, tidak diijinkan
menggunakan bahan bekas atau bahan yang telah lama masa produksinya.
4) Perakitan Rangka kuda kuda dilaksanakan di lokasi kegiatan, agar kualitas bisa diperiksa oleh
pengawas lapangan secara intensif untuk menghindari kesalahan dan penurunan kualitas perakitan.
5) Pekerjaan Baja Meliputi Pengadaan dan Pemasangan Konstruksi Baja untuk struktur sesuai
gambar yang direncanakan .
6) Semua material baja harus baru dan disetujui.
7) Semua material untuk kontruksi baja harus memenuhi persyaratan teknik yang berlaku.
8) Semua bagian baja sebelum dan ssetelah difabrikasikan harus lurus dan tidak dan tidak ada
tekukan dan ukuran disesuaikan dengan gambar. Sebelum semua pekerjaan fabrikasi dimulai pelat-
pelat baja harus rata dan tidak boleh tertekuk dan bengkok.
9) Kekurangtetapan pasangan karena kesalahan fabrikasi harus dibetulkan,atau diganti dengan yang
baru atas biaya kontraktor.
10) Semua pekerjaan baja yang harus disimpan rapi dan dibersihkan dari karat dengan sikat baja
11) Penyimpanan material baja harus diletakan diatas papan atau balok kayu untuk menghindari
kontak langsung dengan tanah dan tempat kering, sehingga tidak merusak material.
12) Untuk pemotongan baja harus menggunakan gergaji baja, tidak diperkenankan pemotongan
menggunakan mesin las sehingga hasil pemotongan bersih dan rata.
13) Penyambungan baja menggunakan teknik pengelasan tebal minimum 5 mm
14) Semua pekerjaan pengelasan harus dilakukan oleh tenaga ahli yang berpengalaman sehingga
diharapkan hasil pekerjaan yang rapi tanpa menumbulkan kerusakan – kerusakan pada beban
bajanya.
15) Elektrode las yang dipergunakan harus disimpan pada tempat yang manjamin komposisi atau sifat-
sifat dari electrode selama masa penyimpanan. Pengelasan harus menjamin pengaliran yang rata
dari cairan electrode tersebut.
16) Permukaan dari daerah yang akan dilas harus bebas dari kotoran yang memberi pengaruh besar
pada kawat las. Kerak bekas pengelasan harus dibersihkan dan disikat sedangkan permukaan yang
tidak rata harus diaratakan dengan gerinda.
17) Lubang-lubang baut harus benar –benar tepat sesuai dengan diameternya,tidak boleh dirubah atau
membuat lubang baru dilapangan.
18) Pembuatan lubang baut harus memakai bor. Untuk kontruksi yang tipis ( maksimal 10 mm )
boleh memakai mesin pons.membuat lubang baut dengan api sama sekali tidak diperkenankan.
19) Baut penyambung harus berkualitas baik dan baru, diameter baut dan panjang ulir harus sesuai
dengan yang dibutuhkan. Mutu baut yang digunakan adalah mutu baut
20) Panjang baut harus sedemikian rupa, sehingga setelah dikencangkan masih terdapat paling sedikit
6 ulir dan menonjol pada permukaan, tanpa menimbulkan kerusakan pada ulir tersebut. Baut harus
dilengkapi dengan 2 ring masing-masing 1 buah pada kedua sisinya.
21) Untuk menjamin pengencangan baut yang dikehendaki, maka baut-baut yang sudah dikencangkan
diberi tanda dengan cat,gunakan untuk menghindari adanya baut yang tidak dikencangkan.
22) Sebelum erection dimulai, kontraktor harus memeriksa kembali kedudukan angker-angker baja dan
memberitahukan kepada pemilik proyek metode dan urutan pelaksanana erection.
23) Ketinggian dasar kolom yang telah ditentukan oleh ketinggian daerah yang lainnya diukur dengan
theodolite oleh kontraktor.
24) Perhatian khusus dalam pemasangan angker-angker untuk kolom dimana jarak-jarak/ kedudukan
angker-angker harus tetap dan akurat untuk mencegah ketidak cocokan dalam erection.
25) Erection komponen-komponen baja harus menggunakan alat mekanis ( crane ) dan alat pengikat
dan penarik yang dipakai pada waktu erection harus dikawat baja .
26) Untuk pekerjaan erection dilapangan, kontraktor,harus menyediakan tenaga ahli yang harus
senantiasa mengawasi dan bertanggung jawab atas pekerjaan erection.
27) Kegagalan dalam erection ini menjadi tanggung jawab kontraktor sepenuhnya oleh sebab itu
kontraktor diminta untuk memberikan perhatian khusus pada masalah erection ini.
28) Rangka kuda-kuda harus dilaksanakan sesuai aturan-aturan sebagaimana lajimnya digunakan
dalam teknik bangunan.
29) Bubungan menggunakan Bubungan Metal roof
Ketebalan bubungan yang digunakan 0.22 mm dengan toleransi panjang lebih kurang 1mms/d 5
mm, lebar antara 5 mm sampai 10 mm,ketebalan 0.01 mm sampai dengan 0.03 mm,Finishing atap
menggunakan jenis pasir anti panas dan Silau.
30) Talang menggunakan talang yang berbahan Seng
31) Kuda-kuda yang digunakan menggunakan rangka Baja ringan ,
Spesifikasi sebagai berikut
a. Tinggi ( h) : 75 mm Zincalum atau Aluzinc Coated
b. Tebal (thickness) : 0.8 mm
c. Lebar min : 35 s/d 40 mm
32) Reng atau Purlin Roof Truss
Reng yang digunakan memakai baja ringan, dengan spesifikasi sebagai berikut :
a. Tinggi : 45mm
b. Lebar atas : 25 mm
c. Lebar bawah : 75 mm
d. Tebal ( thickness) : 0.55 mm
Ukuran / jarak reng harus diperhitungkan sebelum pemasangan Atap Metal Roof Berpasir
33) Semua material yang digunakan harus mendapat persetujuan dan tidak diperkenankan merubah
material tanpa persetujuan Konsultan Pengawas dan Direksi.
34) Aksesoris Atap
Aksesoris Atap yang digunakan menggunakan bahan Rangka Aluminium dan Genteng metal,cara
pemasangannya Rangka Aluminium dihubungkan dengan cara di bor ke Rangka Atap Baja ringan,
pemasangan Aksesoris Atap atau Momolo bahan dan cara pemasangannya harus mendapat
persetujuan dari pengawas Lapangan.

b. PEKERJAAN PENUTUP ATAP


1) Atap
Atap yang digunakan adalah menggunakan Metal roof berpasir dengan bahan Aluzinc atau sering
disebut zincalume.Ketebalan atap yang digunakan 0.30 mm dengan toleransi panjang lebih kurang
1mms/d 5 mm, lebar antara 5 mm sampai 10 mm,ketebalan 0.01 mm sampai dengan 0.03
mm,Finishing atap menggunakan jenis pasir anti panas dan Silau .
2) Pemasangan Penutup Atap Metal Roof Berpasir harus mempunyai susunan alur yang rapi dan
terkunci rapatPerkerjaan penutup atap yang dimaksud adalah atap sekaligus pemasangan penutup
atap genteng metal roof pasir kwarsa yang dipasang dengan kemiringan atap sesuai dengan
gambar.
3) Dalam pemasangan penutup atap harus diperhatikan benar-benar dan dipasang sedemikian rupa
agar jangan sampai terlihat bergelombang dan alurnya tidak lurus, yang mengakibatkan kelihatan
tidak estetika.
4) Bahan penutup atap yang digunakan harus dalam kondisi baru dan tidak rusak permukaannya atau
cacat – cacat lainnya.
5) Kontraktor harus memberikan contoh bahan, brosur serta data teknis kepada Pengawas untuk
mendapatkan persetujuan.
6) Penyimpanan semua bahan atap harus memperhatikan cara-cara sedemikian rupa sehingga bahan
atap tetap utuh selama penyimpanan.
7) Kontraktor harus menyerahkan shop drawing kepada Pengawas untuk persetujuan tertulis bagi
pemasangan.
8) Sebelum pemasangan penutup atap semua pekerjaan yang mendahuluinya telah disetujui oleh
Pengawas, diantaranya rangka atap dll.
9) Sebelum pekerjaan dilaksanakan Kontraktor harus mendapatkan persetujuan tertulis dari
Konsultan Pengawas.

c. Pekerjaan Rangka plafond


1) Untuk material Rangka plafond GRC adalah hollow galvanis.
2) Untuk pekerjaan plafond yang dimaksud adalah pekerjaan pemasangan rangka plafond, gypsum 9
mm pada ruangan bagian dalam dan bagian sisi listplank menggunakan asbes 3 mm termasuk
profil finishing.
3) Ukuran besi hollow rangka plafond yang digunakan adalah 40x40 untuk rangka utama sedangkan
20x40 untuk rangka pembagi , sedangkan rangka plafond asbes yang digunakan adalah rangka
kayu klas III. Ukuran kayu rangka plafond asbes yang digunakan adalah 5/10 untuk rangka utama
sedangkan 5/7 untuk rangka pembagi.
4) Pemasangan rangka plafond harus rata sehingga tidak menimbulkan permukaan plafond menjadi
bergelombang dan mengganggu estetika.
5) Kontraktor Pelaksana harus mengajukan contoh material untuk disetujui oleh Konsultan
Pengawas.
6) Cara pemasangan harus mengikuti petunjuk-petunjuk yang dianjurkan oleh Pabrik.
7) Pemasangan rangka plafond harus sesuai dengan Gambar Pola pemasangan rangka plafond dalam
Gambar Rencana.
8) Rangka plafond harus dijangkarkan dengan baik pada dinding, ring balok dan konstruksi kuda-
kuda.
9) Hasil pemasangan rangka plafond harus benar-benar rata dan elevasi dengan permukaan lantai.
10) Harus ada koordinasi yang baik antara pekerja pemasangan rangka plafond dengan pekerja
Instalasi Listrik

d. Pekerjaan plafond
1) Pada bagian dalam dan penutup Plafond menggunakan Gypsumboard 120x240 t=9 mm dan list
gypsum 7 cm sesuai standar SNI atau SIIpada bagian sisi yang berhubungan dengan dinding,
sedangkan untuk bagian luar Penutup GRCboard 120x240 t=4 mm dan list kayu4 cm pada bagian
sisi yang berhubungan dengan dinding dan Pada bagian sisi luar dipasang GRCBoard3/25 cm.
2) List plafond yang digunakan pada ruangan adalah list berbahan gypsum, sedangkan bagina sisi
listplank adalah list berbahan kayu dan dalam kondisi baik. Bila diperlukan kontraktor diminta
menyerahkan contoh material atau brosur dan spesifikasi teknis list plafond yang akan
dipergunakan.
3) Sambungan list gypsum dipasang rapih sampai terlihat seolah-olah tidak ada sambungan.
4) Sisa perekat list gypsum pada saat pemasangan list dibersihkan.
5) Ketinggian langit-langit dan penempatannya, harus mengikuti gambar kerja, dan sebelum
permukaan bawah rangka langit-langit rata dan lurus, maka pemasangan penutup langit-langit
tidak boleh dipasang terlebih dahulu, dan baru boleh dipasang setelah mendapat persetujuan dari
pihak pengawas dan monitoring proyek (direksi).
6) Hasil Pekerjaan yang tidak rata/bergelombang, harus dibongkar dan diperbaiki kembali atas biaya
pemborong

2. DASAR PEMBAYARAN
Pembayaran sudah termasuk penyediaan dan pemasangan semua peralatan, untuk semua pekerja, bahan,
perkakas, dan biaya lainnya yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Uraian Satuan Pengukuran


Pek. Rangka atap baja ringan C-75,0.8 M2
Pek. Atap baja metal roof berpasir M2
Pek. Bubungan metal roof M’
M2
Pek Aluminium Foil
M2
Pek. Plafond GRC board rangka hollow
M’
Pek. List gypsum 7 Cm
Pek. List plank GRC board 20 cm M’

PASAL 15
PEKERJAAN KONSTRUKSI BAJA
A. UMUM

1. PELAKSANAAN
a. Penyediaan tenaga kerja, bahan, peralatan, pengangkutan dan pelayanan yang diperlukan
untuk melaksanakan dan membuat konstruksi baja.
b. Spesifikasi ini meliputi syarat-syarat perencanaan, pabrikasi dan pemasangan
tentang konstruksi baja untuk atap, penyokong (support), dan sebagainya, sesuai dengan yang
ditunjukkan pada gambar kerja.
2. STANDAR
a. Bahan struktur/konstruksi.
1. Kecuali kalau diatur secara tersendiri, bentuk profil, pelat dan kisi-kisi untuk tujuan
semua konstruksi dinuat atau di las harus baja karbon yang memenuhi persyaratan
A.S.T.M. A36 atau yang setara dan harus mendapat persetujuan MK.
2. Kecuali kalau diatur secara tersendiri pipa-pipa untuk konstruksi dengan las harus dari
baja karbon yang memenuhi A.S.T.M. A53 type E atau S.
3. Kecuali kalau diatur secara tersendiri bahan-bahan harus memenuhi spesifikasi
"American Institute of Steel Construction (AISC)" dan PPBBI Mei 1984.
b. Pengikat-pengikat Baut-baut, mur-mur/sekerup-sekerup dan ring-ring harus sebagai
berikut :
1. Untuk sambungan bukan baja ke baja :
Pengikat-pengikat harus dari baja karbon yang memenuhi persyaratan ASTM A370 dan
harus digalvani.
2. Untuk sambungan baja ke baja :
Pengikat-pengikat harus baja karbon yang memenuhi persyaratan ASTM A325 dan
atau : ASTM A490 dan harus terlapis Cadmium.
3. Untuk sambungan logam yang berlainan (tidak sama) pengikat-pengikat harus
baja tahan korosi memenuhi persyaratan ASTM A276 type 321 atau type lainnya dari
baja tahan korosi.
4. Ring-ring bulat untuk baut biasa harus memenuhi A.N.S.I. B27, type A.

c. BAHAN-BAHAN LAS :
1. bahan-bahan las harus memenuhi persyaratan dari "American Welding Society" (AWS
D1.0-69 : Code for Welding in Building Construction).
2. Baut angkur dan sekrup-sekrup/mur-mur harus memenuhi persyaratan ASTM A36 atau
A325.
3. Lapisan seng : baja terlapis seng harus memenuhi ASTM A123. Lapisan seng untuk
produksi uliran sekrup harus memenuhi ASTM A153.
4. Baut dan mur yang tidak terlapis (unfinished) harus memenuhi ASTM A307 dan harus
biasanya type segi enam (hexagon-bolt type).
d. Semua bahan baja yang dipergunakan harus merupakan bahan baru, yaitu bahan
yang belum pernah dipergunakan untuk konstruksi lain sebelumnya dan harus disertai
sertifikat dari pabrik.
e. PERATURAN-PERATURAN DAN STANDAR ATAU PUBLIKASI YANG DIPAKAI :
Peraturan-peraturan dan standar dibawah ini atau publikasi yang dapat dipakai harus
dipertimbangkan serta merupakan bagian dari spesifikasi ini.
3. CONTOH BAHAN
a. Sebelum pelaksanaan pekerjaan, Kontraktor harus memberikan contoh-contoh material, baja
profil, kawat las, cat dasar/akhir dan lain-lain untuk mendapat persetujuan MK.
b. Contoh-contoh yang telah disetujui oleh MK akan dipakai sebagai standar/
pedoman untuk pemeriksaan / penerimaan material yang dikirim oleh Kontraktor ke site.
c. Kontraktor diwajibkan membuat tempat penyimpanan contoh-contoh material yang telah
disetujui di bengkel MK.
4. PENGIRIMAN DAN PENYIMPANAN BAHAN
a. Bahan harus didatangkan ketempat pekerjaan dalam keadaan utuh dan tidak
bercacat. Beberapa bahan tertentu harus masih didalam kotak/kemasan aslinya yang masih
bersegel dan berlebel pabriknya.
b. Bahan harus disimpan ditempat yang terlindung dan tertutup, kering, tidak lembab dan bersih,
sesuai dengan persyaratan pabrik.
c. Tempat penyimpanan bahan harus cukup dan bahan ditempatkan dan dilindungi sesuai
jenisnya.
d. Kontraktor bertanggung jawab terhadap kerusakan selama pengiriman dan penyimpanan.Bila
ada kerusakan Kontraktor wajib mengganti atas beban Kontraktor.

5. PERENCANAAN DAN PENGAWASAN


a. Gambar kerja.Sebelum pekerjaan di pabrik dimulai, Kontraktor harus menyiapkan gambar-
gambar kerja yang menunjukkan detail-detail lengkap dari semua komponen, panjang serta
ukuran las, jumlah, ukuran serta tempat baut-baut serta detail-detail lain yang lazimnya
diperlukan untuk fabrikasi.
b. Ukuran - ukuran
Kontraktor wajib meneliti kebenaran dan bertanggung jawab terhadap semua ukuran yang
tercantum pada gambar kerja.
c. Kelurusan Toleransi dari keseluruhan tidak lebih dari L/1000 untuk semua komponen.
d. Pemeriksaan dan lain-lain.
Seluruh pekerjaan di pabrik harus merupakan pekerjaan yang berkualitas tinggi
,seluruh pekerjaan harus dilakukan dengan ketepatan sedemikian rupa sehingga semua
komponen dapat dipasang dengan tepat di lapangan. MK mempunyai hak untuk memeriksa
pekerjaan di pabrik pada saat yang dikehendaki, dan tidak ada pekerjaan yang boleh dikirim
ke lapangan sebelum diperiksa dan disetujui MK.
Setiap pekerjaan yang kurang baik atau tidak sesuai dengan gambar atau spesifikasi ini akan
ditolak dan bila terjadi demikian, harus diperbaiki dengan segera.

B. PELAKSANAAN
1. Pengelasan
a. Pengelasan konstruksi baja harus sesuai dengan gambar konstruksi, dan harus mengikuti
prosedur yang berlaku seperti AWS atau AISC Spesification.
b. Pekerjaan pengelasan harus dibawah pengawasan personil yang memiliki persiapan
teknis untuk pekerjaan tersebut.
c. Penyambungan bagian-bagian konstruksi baja harus dilakukan dengan las listrik serta tukang
lasnya sudah melalui ujian (test) dan harus memiliki ijazah yang menetapkan kualifikasi
serta jenis pengelasan yang diperkenankan kepadanya.
d. Bagian konstruksi yang segera akan di las harus dibersihkan dari bekas-bekas cat, karat, lemak
dan kotoran-kotoran lainnya.
e. Pengelasan konstruksi baja, hanya boleh dilakukan setelah dipersiksa bahwa hubungan-
hubungan yang akan dilas sudah sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku untuk
konstruksi itu.
f. Kedudukan konstruksi baja yang segera akan di las harus menjamin situasi yang paling
aman bagi pengelas dan kualitas hasil pengelasan yang dilakukan.
g. Pada pekerjaan las, maka sebelum mengadakan las ulangan, baik bekas lapisan
pertama, maupun bidang2 benda kerja harus dibersihkan dari kerak (slag) dan kotoran
lainnya.
h. Pada pekerjaan, dimana akan terjadi banyak lapisan las, maka lapisan yang
terdahulu harus dibersihkan dari kerak (slag) dan percikan-percikan logam sebelum
memulai dengan lapisan las yang baru. Lapisan las yang berpori-pori, rusak atau retak harus
dibuang sama sekali.
i. Tempat pengelasan dan juga bidang konstruksi yang di las, harus terlindung dari hujan dan
angin kencang.
2. Lubang-lubang baut
Lubang baut untuk baut harus dilaksanakan dengan bor. Lubang baut harus lebih besar 2.0 mm dari
pada diameter luar baut.Pembuatan lubang baut harus dilaksanakan di pabrik dan harus dikerjakan
dengan alat bor.
3. Sambungan
Untuk sambungan komponen konstruksi baja yang tidak dapat dihindarkan berlaku ketentuan
sebagai berikut :
a. Hanya diperkenankan satu sambungan.
b. Semua penyambung profil baja harus dilaksanakan dengan las tumpul/full penetration butt
weld.
4. Pemasangan percobaan/Trial erection
Bila dipandang perlu oleh MK, Kontraktor wajib melaksanakan pemasangan percobaan
dari sebagian atau seluruh pekerjaan konstruksi. Komponen yang tidak cocok atau yang
tidak sesuai dengan gambar dan spesifikasi dapat ditolak oleh MK dan pemasangan percobaan tidak
boleh dibongkar tanpa persetujuan MK.
5. Pengecatan
a. Semua bahan konstruksi baja harus di cat.
b. Cat dasar adalah cat zink chromate buatan Danapaints atau setara, dan
pengecatan dilakukan satu kali di pabrik dan satu kali di lapangan. Baja yang akan ditanam
di dalam beton tidak boleh di cat.
c. Untuk lubang baut kekuatan tinggi/high strenghbolt permukaan baja tidak boleh di cat.
d. Cat akhir adalah enamel paint buatan Danapaint atau setara dan pengecatan dilakukan 2 kali
di lapangan, kecuali bila dinyatakan lain dalam gambar atau spesifikasi arsitektur.
e. Dibagian bawah dari base plate dan/atau seperti yang tertera pada gambar harus di grout
dengan bahan setara "Master Flow 713 Grout", dengan tebal minimum 2,5 cm. Cara
pemakaian harus sesuai spesifikasi pabrik.
6. Pemasangan akhir/final erection
a. Alat-alat untuk pemasangan harus sesuai untuk pekerjaannya dan harus dalam keadaan baik.
Bila dijumpai bagian-bagian konstruksi yang tidak dapat dipasang atau ditempatkan
sebagaimana mestinya sebagai akibat dari kesalahan pabrikasi atau perubahan bentuk yang
disebabkan penanganan, maka keadaan itu harus segera dilaporkan kepada MK disertai usulan
cara perbaikannya. Cara perbaikan tersebut harus mendapat
persetujuan dari MK sebelum dimulainya pekerjaan tersebut. Perbaikan harus dilakukan
dihadapan MK.
b. Biaya tambahan yang timbul akibat pekerjaan perbaikan tersebut adalah menjadi tanggungan
kontraktor.
c. Meluruskan pelat dan besi siku atas bentuk lainnya harus dilaksanakan dengan cara yang
disetujui. Pekerjaan baja harus kering sebagaimana mestinya, kantong air pada konstruksi
yang tidak terlindung dari cuaca harus diisi dengan bahan "Waterproofing" yang
disetujui. Sabuk pengaman dan tali-tali harus digunakan oleh para pekerja pada saat bekerja
ditempat yang tinggi, disamping pengaman yang berupa "piatfrom" atau jaringan ("net").
d. Setiap komponen diberi kode/marking sesuai dengan gambar pemasangan sedemikian rupa
sehingga memudahkan pemasangan.
e. Bagian profil baja harus diangkat dengan baik dan ikatan-ikatan sementara harus digunakan
untuk mencegah tegangan-tegangan yang melewati tegangan izin.
f. Ikatan-ikatan itu dibiarkan sampai konstruksi selesai. Sambungan-sambungan sementara dari
baut harus diberikan kepada bagian konstruksi untuk menanhan beban mati, angin dan
tegangan-tegangan selama pembangunan.
g. Baut-baut, baut angkar, baut hitam, baut kekuatan tinggi dan lain-lain harus
disediakan dan harus dipasang sebagaimana mestinya sesuai dengan gambar detail.Baut
kekuatan tinggi harus dikencangkan dengan kunci momen (torque wrench).
h. Pelat dasar kolom untuk kolom penunjang dan pelat perletakan untuk balok,
balok penunjang dan yang sejenis harus dipasang dengan luas perletakan penuh setelah bagian
pendukung ditempatkan secara baik dan tegak. Daerah dibawah pelat harus diberi
adukan lambab/kerung yang tidak susut dan disetujui konsultan/MK.
i. Toleransi Penyimpanan kolom dari sumbu vertikal tidak boleh lebih dari 1/1500 dari tinggi
vertikal kolom.
7. Pengujian Mutu Pekerjaan
a. Sebelum dilaksanakan pabrikasi/pemasangan, Kontraktor diwajibkan memberikan pada MK
"Certificate Test" bahan baja profil, baut-baut, kawat las, cat dari produsen/pabrik.
b. Bila tidak ada "Certificate test", maka Kontraktor harus melakukan pengujian atas baja profil,
baut, kawat las di laboratorium.
c. Pengujian contoh harus disiapkan untuk tiap type dari pengelasan dan tiap type dari bahan
yang akan di las. Pengujian bersifat merusak contoh dari prosedur dan kualifikasi pengelasan
harus diadakan sesuai dengan persyaratan ASTM A370.
d. Pengujian pengelasan yang tidak bersifat merusak :Khusus untuk bagian-bagian konstruksi
dengan ketebalan bagian yang dilas tidak lebih dari 2 cm, pemeriksaan mutu pengelasan
dilakukan secara visuil, bila ditemukan hal-hal yang meragukan, maka
bagian tersebut harus diuji dengan standar AWS D 1.0.Khusus untuk las tumpul bila
dianggap perlu oleh MK/ Konsultan harus dilakukan test ultrasonic atau radiographic.

1) Pengujian secara "Radiographic" harus sesuai dengan lampiran B dari AWS Pengelasan
dan operator pengelasan harus memberi tanda pengenal pada baja seperti ditentukan
dengan tanda-tanda yang lengkap dan sempurna.

- Fasilitas Kontraktor sebaiknya menyediakan fasilitas untuk pelaksanaan pengujian


secara "Radiographic" termasuk sumber tenaga dan utilitas lainnya tanpa adanya
tambahan biaya pada Pemberi Tugas.
- Perbaikan bagian las yang rusak : Daerah las yang diketahui rusak
melebihi standar yang ditentukan pada "AWS D 1.0" dinyatakan oleh
"Radiographic" harus diperbaiki dibawah pengawasan MK dan tambahan
"Radiographic" dari daerah yang diperbaiki harus dibuat atas biaya Kontraktor.

2) Pemeriksaan dengan "Ultrasonic" untuk las dan teknik serta standar yang dipakai harus
sesuai dengan lampiran C dari AWA D 1.0 atau - 75 : Ultrasonic
contact Examination or Weldments : E273-68: Ultrasonic Inspection of Langitudinal
and Spiral Welds or welded Pipe and Tubing (1974)
3) Cara pemeriksaan dengan "Partikel Magnetic" harus sesuai dengan ASTM
4) Cara pemeriksaan dengan "Liquid penetrant" harus sesuai dengan E109.
5) Semua lokasi pengujian harus dipilih oleh MK.

e. Jumlah pengujian : jumlah pengujian yang akan dilaksanakan oleh Kontraktor harus seperti
yang ditentukan di lapangan oleh MK.
f. Pemeriksaan visuil pengelasan harus dilakukan ketika operator membuat las dan setelah
pekerjaan diselesaikan. Setelah pengelasan diselesaikan, las harus disikat dengan sikat kawat
dan dibersihkan merata sebelum MK membuat pemeriksaannya.Konsultan/MK akan
memberikan perhatian khusus pada permukaan yang pecah-pecah, permukaan
yang porous, masuknya kerak-kerak las pada permukaan, potongan bawah,
lewatan/everlap, kantong udara dan ukuran lasnya. Pengelasan yang rusak harus diperbaiki
sesuai dengan persyaratan AWS D 1.0.
g. Hasil pengujian dari laboratorium/lapangan diserahkan pada MK secepatnya.
h. Seluruh biaya yang berhubungan dengan pengujian bahan/las dan sebagainya, menjadi
tanggung jawab Kontraktor.
8. Syarat-Syarat Pengamanan Pekerjaan
a. Bahan-bahan baja profil dihindarkan/dilindungi dari hujan dan lain-lain.
b. Baja yang sudah terpasang dilindungi dari kemungkinan cacat/rusak yang diakibatkan oleh
pekerjaan-pekerjaan lain.
c. Bila terjadi kerusakan , Kontraktor diwajibkan untuk memperbaikinya dengan tidak
mengurangi mutu pekerjaan.
d. Seluruh biaya perbaikan menjadi tanggung jawab Kontraktor.

C. DASAR PEMBAYARAN
Pekerjaan Konstruksi Baja, pembayaran tersebut sudah termasuk penyediaan dan pemasangan semua
peralatan, untuk semua pekerja, bahan, perkakas, dan biaya lainnya yang diperlukan untuk
menyelesaikan pekerjaan.

Uraian Satuan Pengukuran


Fabrikasi Baja Kg
Erection Work Baja Profil Kg
Sincromate Baja Profil Kg
M2
Pasang Chemical Anchor termasuk pengujian
CM
Pekerjaan Pengelasan
PASAL 16
PEKERJAAN PENGECATAN

1. LINGKUP PEKERJAAN.
a. Persiapan permukaan yang akan diberi cat.
b. Pengecatan permukaan dengan bahan-bahan yang telah ditentukan.
c. Pengecatan semua perlengkapan dan area yang ada pada gambar bila tidak disebutkan secara
khusus, dengan warna dan bahan yang sesuai dengan petunjuk Pengawas.

2. PELAKSANAAN
a. Pengerjaan (Mock Up)
1) Sebelum pengecatan keseluruhan yang dimulai, Kontraktor harus melakukan pengecatan pada satu
bidang untuk tiap warna dan jenis cat yang diperlukan.
2) Bidang-bidang tersebut akan dijadikan contoh pilihan warna, texture, material dan cara pengerjaan.
Bidang-bidang yang akan dipakai sebagai mock up ini akan ditentukan oleh Pengawas.
3) Jika masing-masing bidang tersebut telah disetujui oleh Pengawas dan bidang-bidang ini akan
dipakai sebagai standar minimal bagi keseluruhan pekerjaan pengecatan.
b. Contoh Dan Bahan Untuk Perawatan.
1) Kontraktor harus menyiapkan contoh pengecatan tiap warna dan jenis cat pada bidang-bidang
transparan ukuran 30 x 30 cm2.
2) Semua bidang contoh tersebut harus diperlihatkan kepada Pengawas. Jika contoh-contoh tersebut
telah disetujui secara tertulis oleh Pengawas, Kontraktor melanjutkan dengan pembuatan mock up
seperti tercantum di atas.
3) Kontraktor harus menyerahkan kepada Pengawas, untuk kemudian akan diteruskan kepada pemberi
tugas, minimal 5 gallon tiap warna dan jenis cat yang dipakai.
4) Kaleng-kaleng cat tersebut harus tertutup rapat dan mencatat dengan jelas identitas cat yang ada
didalamnya. Cat ini akan dipakai sebagai cadangan untuk perawatan oleh Pemberi Tugas.
c. Pekerjaan Cat Kayu
1) Yang termasuk dalam pekerjaan cat kayu adalah daun pintu panil papan seluruh bagian kayu yang
terlihat, dan atau bagian-bagian lain yang ditentukan gambar, kecuali ditentukan lain.
2) Permukaan kayu yang akan dicat harus diamplas kemudian diplamur bila terdapat retak, celah atau
lubang. Kemudian permukaan kayu yang telah diplamur diratakan
3) Permukaan kayu/besi yang kecil harus diberi lapisan plamur yang tipis
4) Setelah 7 (tujuh) hari, bidang plamur diampelas besi halus dan dibersihkan dari debu kemudian
dicat sekurang-kurangnya 3 (tiga) kali dengan menggunakan kuas.
5) Bidang permukaan pengecatan harus diratakan/dihaluskan dengan bahan/alat amplas yang bermutu
baik, sampai permukaannya halus dan licin, segala persiapan pengecatan telah memenuhi
persyaratan yang ditentukan dan telah disetujui oleh Konsultan Pengawas
6) Pada bidang permukaan kayu harus dihindarkan adanya celah/pori-pori kayu pada permukaan
pengecatan
7) Semua permukaan kayu yang berhubungan dengan plesteran diberi dasar meni.
8) Semua pekerjaan yang telah dicat meni, baru boleh dicat kilap setelah terlebih dahulu dibersihkan
dari kotoran yang menempel. Pengecatan menggunakan dengan Cat Kayu setara glotex atau setara
minimum 2 (dua) kali
9) Tata Cara pencampuran pengencer dan aplikasi pengecatan mengikuti tata cara dari produsen dan
SNI.
10) Pekerjaan pengecatan dengan kwas untuk bidang kecil dan semprot untuk bidang luas
11) Pengecatan yang dilakukan diatur ketika keadaan mendung dan hujan tidak diperkenankan.
12) Hasil pengecatan harus mulus, tidak menggelembung, utuh, rata, tidak ada bintik-bintik atau
gelembung udara dan bidang cat dijaga terhadap pengotoran atau cacat-cacat lainnya
13) Seluruh kusen, jendela, bouvenlight, listplank serta kayu yang tampak (exposed) seluruhnya dicat
14) Pasangan diluar pengecatan harus dilindungi dari dampak proses pekerjaan ini.
d. Pekerjaan Menie Kayu
1) Yang termasuk pekerjaan ini adalah pengecatan seluruh permukaan kayu yang akan dicat, rangka-
rangka pintu dan atau bagian-bagian kayu yang terlihat kecuali ditentukan lain.
2) Menie yang digunakan adalah menie kayu warna merah.
3) Semua kayu hanya boleh dimenie di tapak proyek dan mendapat persetujuan Pengawas.
4) Sebelum pekerjaan menie dilakukan, bidang kayu kasar harus di-ampelas dengan ampelas kayu
kasar dan dilanjutkan dengan ampelas kayu halus sampai permukaan bidang licin dan rata.
5) Pekerjaan menie dilakukan dengan menggunakan kuas, dilakukan lapis, sedemikian rupa sehingga
bidang kayu tertutup sempurna dengan lapisan menie.
e. Pekerjaan Cat Tembok dan plafond
Bahan Yang di gunakan adalah cat dinding interior ex Dulux Pear glow
Bahan Yang di gunakan adalah cat dinding exterior ex Dulux Wethersheaild
1) Yang termasuk pekerjaan cat dinding adalah pengecatan seluruh plesteran dinding bangunan dan
finishing / atau bagian-bagian lain yang ditentukan gambar.
2) Untuk dinding-dinding luar (exterior walls) bangunan digunakan cat untuk exterior jenis Emulsi
Acrylic, produksi Metrolite atau setara.
3) Untuk dinding-dinding dalam (interior walls) bangunan digunakan cat jenis Emulsi Acrylic
produksi , produksi Metrolite atau setara.
4) Sebelum dinding diplamur, plesteran sudah harus betul-betul kering, tidak ada retak–retak dan
Kontraktor meminta persetujuan kepada Pengawas.
5) Pekerjaan plamur dilaksanakan dengan pisau plamur dari plat baja tipis dan lapisan plamur dibuat
setipis mungkin sampai membentuk bidang yang rata.
6) 7 hari plamur terpasang dan percobaan warna besi kemudian dibersihkan dengan bulu ayam sampai
bersih betul. Selanjutnya di dinding dicat dengan menggunakan Roller.
7) Lapisan pengecatan dinding dalam terdiri dari 1 lapis alkali resistance sealer yang dilanjutkan
dengan 3 lapis acrylic emulsion dengan kekentalan cat sebagai berikut :
 Lapisan I , encer (tambahan 20 % air).
 Lapisan II , kental.
 Lapisan III encer.
8) Untuk warna-warna yang sejenis, Kontraktor diharuskan menggunakan kaleng-kaleng dengan
nomor percampuran (batch number) yang sama.
9) Setelah pekerjaan cat selesai, bidang dinding merupakan bidang yang utuh, rata, licin, tidak ada
bagian yang belang dan terhadap bidang dinding harus dijaga terhadap pengotoran-pengotoran.
10) Standar bahan cat ditentukan pabrik pembuat cat dan kontrak tidak
dibenarkan merubah standar dengan jalan mencampur dan mencairkan yang tidak sesuai dengan
instruksi pabrik atau tanpa ijin dari Konsultan Pengawas.
11) Pada bagian-bagian di mana banyak reaksi dengan alkali dan rembesan air harus diberi lapisan wall
sealer.
12) Pengecatan kedua harus menutupi semua permukaan secara merata baik warna maupun kualitas
pengecatan.

f. Pekerjaan Cat Langit-Langit


Bahan Yang di gunakan adalah cat setara ex Decoplus
1) Yang termasuk dalam pekerjaan cat langit-langit adalah langit-langit gypsum, asbes, pelat beton
atau bagian-bagian lain yang ditentukan gambar.
2) Cat yang digunakan jenis Acrylic Emulsi, Metrolite atau setara, warna ditentukan Direksi setelah
melakukan percobaan pengecatan.
3) Selanjutnya semua metode / prosedur sama, dengan pengecatan dinding lapis alkali resistance sealer
pada pengecatan langit-langit ini.
4) Sambungan-sambungan asbes harus diberi flexsible sealant agar tidak terlihat sebagai retakan
sesudah dicat.

3. DASAR PEMBAYARAN
Pekerjaan Pengecatan dengan cara per Meter Persegi (M2), pembayaran tersebut sudah termasuk
penyediaan dan pemasangan semua peralatan, untuk semua pekerja, bahan, perkakas, dan biaya lainnya
yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Uraian Satuan Pengukuran


Pek. Pengecatan dinding 3x Interior (ex Dulux) M2
Pek. Pengecatan dinding 3x Exterior (ex Dulux) M2
Pek. Pengecatan plafond 3x (ex Decoplus) M2
M2
Pek. Pengecatan kayu 3x (setara glotex)
PASAL 17
PEKERJAAN INSTALASI LISTRIK DAN ARMATUR

1. LINGKUP PEKERJAAN
a. Pemasangan kabel toevoer
b. Pemasangan box panel dengan sistem MCB lengkap dengan grounding
c. Pemasangan instalasi titik cahaya serta stop kontak.

2. SYARAT-SYARAT PEMAKAIAN BAHAN


a. Kabel toevoer yang digunakan adalah 4x25 mm
b. Komponen panel induk dan pembagi terbuat dari besi plat tebal 2 mm dengan finishing dicat
anti bakar, dan komponen yang dipakai adalah type Motor Circuit Bracker (MCB) dipasang didepan
yang mana menghubungkan arus dari Gardu induk kesemua box pemisah arus. Sistem distribusi kabel
disesuaikan dengan gambar perencanaan.
c. Saklar engkel atau double dan stop kontak semutu merk broco.
d. Kabel-kabel instalasi didalam ruangan dipakai jenis kabel NYM 3 x 2,5 mm untuk stop
kontak, saklar, sedangkan NYM 2 x 2,5 mm untuk titik lampu. Kabel yang digunakan kualitas semutu
Eterna.
e. Jenis lampu yang dipakai :
 Lampu Led 4 watt
 Lampu Downlight box + Led 4 watt
f. Pipa untuk instalasi digunakan pipa Conduit atau PVC.
g. Pemasangan titik lampu, saklar dan stop kontak
h. Tinggi saklar dan stop kontak ditentukan 1,50 m dari permukaan lantai setempat. Tiap-tiap
stop kontak harus diberi penghantar tanah.
i. Pemasangan titik lampu/armatur dari jenis lampu yang telah ditentukan dan dipasang sesuai
dengan jumlah yang tertera dalam gambar.
j. Untuk kabel penyambung menggunakan jenis kabel NYY.
Untuk Instalasi kabel yang tertanam dalam tembok harus dilindungi dengan PIPA PVC Listrik dia 5/8”
dan diklem / dijangkar dengan kuat pada pelat beton. Semua kabel instalasi didalam bangunan harus
berada di dalam konduit atau dipasang diatas cable tray/cable rack dan diklem/diikat dengan pengikat
kabel sesuai dengan kebutuhannya terutama yang berada di dalam plafond.
Penampang minimum kabel adalah 2,5 mm merek yang dapat digunakan adalah merek setara PRIMA
atau setaraf. Penyambungan kabel menggunakan TERMINAL BOX.
Untuk jaringan kabel luar bangunan dipergunakan kabel NYFGBY yaitu kabel distribusi antara Main
Panel ke pembagi dengan ukuran sesuai gambar kerja. Penarikan kabel harus dilaksanakan sedemikian
rupa, sehingga rapih dan teratur. Stop Kontak dan Saklar yang digunakan adalah setaraf merek
CLIPSAL dan dipasang dengan sistem ‘inbow’. Sistem pentanaman untuk seluruh stop kontak pada
setiap bangunan adalah terpusat pada arde panel bangunan tersebut.
k. Instalasi Kabel Penerangan dan Stop Kontak.
Kabel-kabel listrik untuk penerangan dan stop kontak untuk ekstension dan daya harus diadakan dan
dipasang lengkap, mulai dari sambungan panel daya ke saklar dan titik cahaya serta stop kontak,
sebagaimana ditunjukkan didalam gambar. Kabel yang digunakan sebagai kabel instalasi penerangan
dan stop kontak harus dari jenis NYM dan diletakkan didalamkonduit PVC high-impact heavy gauge,
luas penampang kabel NYM yang digunakan minimum 2,5 mm2 kecuali tercatat lain. Home run untuk
rangkaian instalasi bertegangan 220 V yang panjangnya lebih dari 40 meter dari panel daya ke stop
kontak pertama harus mempunyai luas penampang minimum 4 mm2 (kapasitas hantar arus minimum
20 A)
l. Untuk kabel penyambung menggunakan jenis kabel NYY.
Untuk Instalasi kabel yang tertanam dalam tembok harus dilindungi dengan PIPA PVC Listrik dia 5/8”
dan diklem / dijangkar dengan kuat pada pelat beton. Semua kabel instalasi didalam bangunan harus
berada di dalam konduit atau dipasang diatas cable tray/cable rack dan diklem/diikat dengan pengikat
kabel sesuai dengan kebutuhannya terutama yang berada di dalam plafond. Penampang minimum kabel
adalah 2,5 mm merek yang dapat digunakan adalah merek setara PRIMA atau setaraf. Penyambungan
kabel menggunakan TERMINAL BOX.Untuk jaringan kabel luar bangunan dipergunakan kabel
NYFGBY yaitu kabel distribusi antara Main Panel ke pembagi dengan ukuran sesuai gambar kerja.
Penarikan kabel harus dilaksanakan sedemikian rupa, sehingga rapih dan teratur. Stop Kontak dan
Saklar yang digunakan adalah setaraf merek CLIPSAL dan dipasang dengan sistem ‘inbow’. Sistem
pentanaman untuk seluruh stop kontak pada setiap bangunan adalah terpusat pada arde panel bangunan
tersebut.
m. Instalasi Kabel Penerangan dan Stop Kontak.
Kabel-kabel listrik untuk penerangan dan stop kontak untuk ekstension dan daya harus diadakan dan
dipasang lengkap, mulai dari sambungan panel daya ke saklar dan titik cahaya serta stop kontak,
sebagaimana ditunjukkan didalam gambar. Kabel yang digunakan sebagai kabel instalasi penerangan
dan stop kontak harus dari jenis NYM dan diletakkan didalamkonduit PVC high-impact heavy gauge,
luas penampang kabel NYM yang digunakan minimum 2,5 mm2 kecuali tercatat lain. Home run untuk
rangkaian instalasi bertegangan 220 V yang panjangnya lebih dari 40 meter dari panel daya ke stop
kontak pertama harus mempunyai luas penampang minimum 4 mm2 (kapasitas hantar arus minimum
20 A).

3. SISTEM PENTANAHAN (GROUNDING)


a. Stop kontak dan panel induk/pembagi harus dihubungkan dengan tanah atau sistem
pentanahan (grounding).
b. Sistem pentanahan atau grounding terdiri dari kawat BC 16 mm, kawat tersebut dimasukkan
kedalam pipa besi galvanis diameter 1” atau sesuai dengan petunjuk PLN setempat dengan kedalaman
3 m atau sampai tercapai sistem pentanahan.

4. GAMBAR KERJA DAN PENGUJIAN


a. Kontraktor harus menyiapkan gambar kerja instalasi listrik yang sebenarnya yang dibuat oleh
instalatur yang mempunyai sertifikat / PAS PLN.
b. Sebelum seluruh pekerjaan listrik diserahkan harus diadakan uji coba terlebih dahulu dan
disaksikan oleh Konsultan Pengawas atas uji coba tersebut.

5. PERSYARATAN LAIN
Seluruh pekerjaan Elektrikal ini harus dikerjakan oleh Instalatur yang ahli dan berpengalaman serta
memiliki SERTIFIKAT dari PLN setempat yang masih berlaku.

6. DASAR PEMBAYARAN
Pembayaran sudah termasuk penyediaan dan pemasangan semua peralatan, untuk semua pekerja, bahan,
perkakas, dan biaya lainnya yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Uraian Satuan Pengukuran


Pek. Instalasi titik lampu, stop kontak, dan saklar Ttk
Ttk
Pek. Pas. Stop kontak
Ttk
Ttk
Pek. Pas. Saklar ganda
Ttk
Pek Stop Kontak AC

Pek. Pas. Lampu SL 18 Watt


PASAL 18
PERAPIHAN SISA BONGKARAN

1. UMUM
Pekerjaan ini mencakup pembersihan hasil pembongkaran, danpembersihan tumbuh-tumbuhan dan puing-
puing didalam daerah kerja, kecuali benda-benda yang telah ditentukan harus tetap di tempatnya atau yang
harus dipindahkan sesuai petunjuk Konsultan Pengawas/Direksi.Pekerjaan ini mencakup pula
perlindungan/penjagaan tumbuhan dan benda-benda yang ditentukan harus tetap berada di tempatnya dari
kerusakan atau cacat.

2. PELAKSANAAN
Pekerjaan Pembersihan sisa material dan perapihan adalah :
1. Pembersihan sisa material sisa pakai, seperti potongan potongan
besi, kantong semen dll. Semua barang tersebut harus dibuang ke luar lokasi selama kegiatan ini
berjalan.
2. Pembersihan material bawaan dari lokasi kegiatan, seperti
tumpahan pasir / adukan yang mengganggu fasilitas umum yang diakibatkan adanya kegiatan ini.
3. Pembersihan Akhir, antara lain : Pembersihan sisa-sisa material
pada lokasi kegiatan, permbersihan kotoran pada konstruksi terpasang, perapihan minor pekerjaan, dll.

3. DASAR PEMBAYARAN
Perapihan sisa bongkaran harus dibayar dengan cara lumpsum (LS), pembayaran tersebut sudah termasuk
penyediaan dan pemasangan semua peralatan, untuk semua pekerja, bahan, perkakas, dan biaya lainnya
yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan.

Uraian Satuan Pengukuran


Pek. Perapihan dan
LS
Membuang Sisa Bongkaran
PASAL 19
KESELAMATAN KERJA DAN KESEHATAN

1. Seluruh hal yang menyangkut jaminan sosial dan keselamatan


para pekerja,Kontraktor harus menjamin sesuai dengan peraturan yang berlaku. Oleh karena itu
Kontraktor harus mengikutkan pekerja sebagai peserta Jaminan Sosial
2. Tenaga Kerja (JAMSOSTEK) sesuai dengan peraturan
Pemerintah yang berlaku.
3. Pada pekerjaan-pekerjaan yang mengandung resiko bahaya jatuh,
maka kontraktor harus menyediakan sabuk pengaman pada pekerjaan tersebut.
4. Untuk melaksanakan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
(P3K), makaKontraktor harus menyediakan sejumlah obat-obatan dan perlengkapan medis lainnya yang
siap dipakai apabila diperlukan.
5. Bila terjadi musibah atau kecelakaan dilapangan yang
memerlukan perawatan yang serius, maka Kontraktor harus segera membawa korban ke Rumah Sakit
yang terdekat dan segera melaporkan kejadian tersebut kepada Pemberi Tugas.
6. Kontraktor harus menyediakan air minum yang bersih cukup dan
memenuhi syarat-syarat kesehatan bagi semua pekerja/petugas, baik yang berada dibawah tanggung
jawabnya maupun yang berada dibawah pihak ketiga.
PASAL 20
PENYERAHAN PEKERJAAN

1. Kontraktor harus menyelesaikan semua bagian pekerjaan yang tertera dalam kontrak, Gambar-gambar
dan Syarat-syarat pada Dokumen Pengadaan (Pelelangan) ataupun perubahan yang terdapat dalam
Berita Acara Penjelasan Pekerjaan (Aanwijzing), sehingga pekerjaan dapat diterima dengan baik oleh
Konsultan Pengawas dan Pihak Direksi.
2. Pada saat pekerjaan akan diserah-terimakan untuk pertama kalinya (Provisional Hand Over - PHO),
Kontraktor harus menyerahkan :
 Gambar-gambar yang sebenarnya (As Built Drawings) yang telah disetujui.
 Gambar instalasi listrik yang sebenarnya.
 Foto-foto pelaksanaan pekerjaan.

3. Bersama-sama dengan Konsultan Pengawas, kontraktor harus meneliti, mencatat dan menyetujui,
bagian-bagian pekerjaan yang belum sempurna, untuk dibuatkan daftar (Check List) pekerjaan-
pekerjaan yang akan diperbaiki dalam masa pemeliharaan.