Anda di halaman 1dari 32

MAKALAH

Asuhan Keperawatan Dengan Ibu Hamil Dengan Merokok, Ketergantungan Alkohol, dan
Ketergantungan Obat-obatan.

Disusun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Kelompok

Mata Kuliah Keperawatan Maternitas

Dosen Pengampu : Atikah Pustikasari, SKM., MKM

Mitha Suci Vionita 132151042

Ester Natalia 132151043

Program Studi S1 Keperawatan

Fakultas Kesehatan Universitas MH Thamrin

Jakarta, 2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberi
nikmat dan kasih sayang–Nya lah kami dapat menyelesaikan tugas yang di berikan oleh dosen
Mata Kuliah Maternitas ini dengan baik. Kami pun menyadari bahwa ASKEP yang telah kami
susun ini masih banyak kekurangan baik secara sistematik penulisan, bahasa, dan
penyusunannya. Oleh karena itu, kami memohon saran serta pendapat yang dapat membuat kami
menjadi lebih baik dalam melaksanakan tugas di lain waktu. Mudah-mudahan ASKEP yang
kami buat menjadi bermanfaat bagi kami khususnnya dan pada umumnya bagi pembaca.

Jakarta, Januari 2018

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………… 2

DAFTAR ISI …………………………………………… 3

BAB I PENDAHULUAN

Latar Belakang …………………………………………………………… 4


Rumusan Masalah …………………………………………………………… 5
Tujuan Masalah …………………………………………………………… 5

BAB II TINJAUAN TEORITIS


Definisi Ibu Hamil Dengan Merokok …………………………………… 6
Definisi Ibu Hamil Dengan Ketergantungan Alkohol …………………… 13
Definisi Ibu Hamil Dengan Ketergantungan Obat-obatan …………………… 17

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN


ASKEP Dengan Ibu Merokok…………………………………………… 24
ASKEP Dengan Ibu Ketergantungan Alkohol dan Obat-obatan …………… 28

BAB IV PENUTUP
Kesimpulan …………………………………………………………… 32
Saran …………………………………………………………… 32

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 33

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Jumlah perokok Indonesia sekitar 60 juta dan jumlah perokok perempuan di


perkirakan 2,1 juta. Sejauh ini memang lebih banyak pria, tapi tiap tahun jumlah perokok
wanita terus meningkat. Prevalensi jumlah perokok perempuan pada tahun 2001 adalah
1,3 persen dan naik menjadi 4,5 persen pada tahun 2004, menurut survei sosial ekonomi
nasional 2004 dalam fakta tembakau Indonesia. Tahun ini diperkirakan 5 persen
perempuan di Indonesia yang merokok. Makin tingginya jumlah wanita perokok tentu
memprihatikan.

Alkoholisme merupakan salah satu kebiasaan buruk yang sangat merugikan bagi
tubuh. Selain dapat mengacaukan kesadaran apabila dikonsumsi berlebih, alkohol juga
dapat menyebabkan efek terburuk bagi tubuh antara lain sirosis hati karena peningkatan
akumulasi lemak di hati. Sekarang, penderita alkoholic inipun tidak hanya berasal dari
golongan laki-laki saja, namun ibu-ibu hamilpun kini juga banyak yang mengonsumsi
alkohol. Mereka pada umumnya mengonsumsi alkohol karena kebiasaan dari semenjak
remaja yang terbawa sampai mereka akhirnya hamil. Akan tetapi, juga tidak sedikit ibu-
ibu hamil yang mengonsumsi alkohol karena stres misalnya stres akibat kehamilannya
seperti belum bisanya mereka menerima perubahan-perubahan bentuk tubuhnya karena
hamil atau karena konflik internal lain dari dalam diri si ibu..Dalam sebuah studi terhadap
hampir 9000 pasien pranatal di Michigan, Piper dkk (1987) melaporkan bahwa pada
wanita hamil terdapat 6,7 % mengonsumsi alkohol selama hamil.

Kehamilan merupakan suatu proses luar biasa yang akan dialami oleh setiap
wanita normal. Dimana si Ibu bertanggung jawab untuk melindungi si calon bayi dari
segala bentuk ancaman baik ancaman dari dalam maupun dari luar. Misalnya pada Ibu
yang ketergantungan obat, alkohol maupun nikotin. Penyalahgunaan dan ketergantungan
zat yang termasuk dalam katagori NAPZA pada akhir-akhir ini makin marak dapat
disaksikan dari media cetak koran dan majalah serta media elektrolit seperti TV dan
radio. Kecenderungannya semakin makin banyak masyarakat yang memakai zat
tergolong kelompok NAPZA tersebut, tidak terkecuali pada ibu hamil.

C. Rumusan Masalah
1. Definisi Ibu Hamil Dengan MerokoK

2. Definisi Ibu Hamil Dengan Ketergantungan Alkohol

3. Definisi Ibu Hamil Dengan Ketergantungan Obat-obatan

D. Tujuan

Untuk mempelajari tentang asuhan keperawatan pada klien dengan ibu hamil
ketergantungan rokok, mengkonsumsi alkohol, dan ketergantungan obat-obatan.

BAB II
TINJAUAN TEORITIS

A. Ibu Hamil Dengan Merokok

1. Definisi Rokok

Rokok adalah benda beracun yang memberi efek santai dan sugesti merasa lebih
jantan. Di balik kegunaan atau manfaat rokok yang secuil itu terkandung bahaya yang
sangat besar bagi orang yang merokok maupun orang di sekitar perokok yang bukan
perokok. Asap rokok yang baru mati di asbak mengandung tiga kali lipat bahan
pemicu kanker di udara dan 50 kali mengandung bahan pengiritasi mata dan
pernapasan. Semakin pendek rokok semakin tinggi kadar racun yang siap melayang
ke udara. Suatu tempat yang dipenuhi polusi asap rokok adalah tempat yang lebih
berbahaya daripada polusi di jalanan raya yang macet. Seseorang yang mencoba
merokok biasanya akan ketagihan karena rokok bersifat candu yang sulit dilepaskan
dalam kondisi apapun. Seorang perokok berat akan memilih merokok daripada makan
jika uang yang dimilikinya terbatas.

2. Kehamilan

Kehamilan adalah masa di mana seorang wanita membawa embrio atau fetus di
dalam tubuhnya. Kehamilan manusia terjadi selama 40 minggu antara waktu
menstruasi terakhir dan kelahiran (38 minggu dari pembuahan).

Wanita hamil memerlukan berbagai unsur gizi yang jauh lebih banyak daripada
yang diperlukan dalam keadaan tidak hamil. Dikarenakan bahwa janin membutuhkan
zat-zat gizi dan hanya ibu yang dapat memberikannya. Dengan demikian makanan
ibu hamil harus cukup bergizi agar janin yang dikandungnya memperoleh makanan
bergizi cukup, untuk alur terhambatnya pertumbuhan dari aspek gizi ibu. Makanan
ibu selama hamil dan keadaan gizi ibu pada waktu hamil berhubungan erat dengan
berat badan lahir rendah (BBLR). Apabila makanan yang dikonsumsi ibu kurang dan
keadaan gizi ibu jelek maka besar kemungkinan bayi lahir dengan BBLR.
Konsekuensinya adalah bahwa bayi yang lahir kemungkinan meninggal 17 kali lebih
tinggi dibanding bayi lahir normal.

3. Kecanduan Rokok
Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang kecanduan rokok, yaitu:

a. Faktor Sosial

Faktor terbesar dari kebiasaan merokok dipengaruhi oleh faktor sosial atau
lingkungan, dimana karakter seseorang banyak dibentuk oleh lingkungan sekitar,
baik dari keluarga, tetangga, ataupun teman pergaulannya. Jika seseorang yang
bukan perokok, hidup atau berkerja bersama dengan seorang perokok, secara
otomatis salah satunya akan terpengaruh. Mungkin yang bukan perokok mulai
mencoba merokok, mungkin juga sebaliknya yang perokok mengurangi konsumsi
rokok. Baik disadari maupun tidak disadari, adaptasi tersebut dilakukan untuk
berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan dan berusaha untuk diterima di
lingkungan sosialnya.

b. Respon Mengulang Otomatis

Ketika seseorang telah melakukan sesuatu berkali-kali dan cukup sering,


maka akan tercipta pola pengulangan perilaku tertentu secara otomatis. Hal ini
terutama berlaku jika tindakan tertentu dilakukan dalam situasi yang tidak
menyenangkan, yang memberikan efek membuat seseorang merasa lebih aman
dalam kehidupan sehari-hari dan rutinitas. Seperti pola pengulangan otomatis
selalu menjadi komponen dalam kebiasaan merokok. Kalau anda ingin berhenti
merokok, anda harus mencari tahu di mana situasi dan lingkungan anda yang
biasanya mengambil sebatang rokok. Kemudian cobalah untuk menghindari
situasi-situasi atau lingkungan tersebut.

c. Kebutuhan Menghisap Dan Mengunyah

Setiap orang memiliki kebutuhan untuk mengisap dan mengunyah.


Kebutuhan ini mulai ada sejak kita lahir yaitu kebutuhan untuk minum susu, dan
secara berangsur-angsur berkurang dan hilang, tetapi pada beberapa orang masih
ada sampai dewasa. Beberapa orang menggunakan rokok atau perangkat merokok
dan asap sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan ini. Jika anda ingin berhenti
merokok, maka ganti kebutuhan menghisap rokok dengan cara lain. Misal, diganti
dengan permen, atau makanan-makanan ringan untuk dikunyah, ketika keingin
merokok muncul. Memang, terlalu banyak mengkonsumsi makanan ringan
merupakan salah satu penyebab obesitas. Namun untuk proses awal, cara ini
dinilai efektif.

d. Nikotin Digunakan Sebagai Pengobatan


Nikotin memiliki efek penenang pada perasaan gugup. Pada saat yang
sama memiliki beberapa efek anti-depresif, setidaknya dalam jangka pendek, dan
itu membuat seseorang merasa lebih nyaman. Seseorang menderita kegugupan
atau gejala depresi mungkin merasa bahwa merokok membantu dia melawan
gejala mentalnya. Namun, secara bertahap akan ada kebutuhan untuk terus
meningkatkan dosis nikotin yang lebih tinggi untuk memberikan efek yang lebih
baik lagi, dan jika ada kekurangan nikotin di dalam tubuh, saraf atau perasaan
depresif akan muncul lebih besar daripada sebelumnya.

e. Kecanduan Pada Sel Syaraf

Otak secara normal memiliki substansi-substansi yang memberikan efek


penenang dan efek rangsangan pada sel-sel saraf, dimana substansi-substansi
tersebut bekerja dengan cara menempel pada reseptor-reseptor sel-sel saraf. Dan
nikotin memiliki efek yang sama dengan substansi-substansi tersebut terhadap
saraf, ketika nikotin menempel pada reseptor-reseptor di sel-sel saraf. Dengan
menempelnya nikotin pada reseptor, maka otak memproduksi dopamin. Dopamin
inilah yang memberikan efek menenangkan dan merangsang organ-organ lain,
yang memberikan efek menyenangkan dari merokok. Namun, ketika nikotin terus
menginduksi pelepasan dopamin, otak secara bertahap mengurangi produksi
dopamin ketika nikotin tidak ada, dan otak akan merasakan kebutuhan yang lebih
besar terhadap nikotin untuk tetap bekerja normal dan merasa nyaman.

4. Klasifikasi

a. Ibu hamil sebagai perokok aktif

Sebanyak 80% perempuan perokok mempunyai kemungkinan mengalami


keguguran, dibanding ibu hamil yang tidak merokok. Pasalnya, ibu hamil perokok
akan memiliki kadar hormon kehamilan yang lebih rendah. Hormon ini
diperlukan untuk mempertahankan kehamilannya hingga mature. Bahkan, bayi
yang lahir dari ibu yang merokok selama kehamilannya cenderung memiliki berat
badan lahir yang lebih kecil. Tak hanya itu, biasanya kelahiran ini disertai
berbagai masalah, termasuk masalah paru-paru.

b. Ibu hamil sebagai perokok pasif

Seorang ibu hamil yang menjadi perokok pasif tak hanya berpotensi
mengalami keguguran kandungan, namun juga kelainan janin dan bayi lahir
prematur. Dan ibu hamil yang tidak merokok sebaiknya menghindari diri juga dari
asap rokok (perokok pasif) karena penelitian menyatakan bahwa eksposure yang
teratur dari asap rokok dapat mempengaruhi pertumbuhan janin dan juga masalah
tingkah laku nantinya.
5. Patofisiologi

Terganggunya penyampaiaan oksigen ke janin merupakan penyebab utama


terjadinya berbagai efek buruk akibat merokok pada perempuan hamil. Evaluasi
patologik pada plasenta perempuan hamil yang merokok membuktikan adanya
perubahan structural, termasuk penurunan fraksi volume kapiler dan peningkatan
ketebalan membran vitelinus jika dibandingkan dengan bukan perokok. Kedua factor
ini mungkin berperan pda pertukaran gas yang abnormal didalam plasenta. Paparan
asap rokok secara akut juga menurunkan perfusi intervilosa. Kemungkinan melalui
vasospasme akibat nikotin.

Paparan karbon monoksida akibat merokok menyebabkan pembentukan


karboksihemoglobin, yang memiliki efek multipel pada penyampaiaan oksigen baik
sistemik maupun ke janin. (Murkoff, Heidi dkk. 2006. Buku Kehamilan Edisi 3
hal.382) Karbonmonoksida dari rokok yang terhisap oleh ibu hamil dan akan terbawa
ke aliran darah ibu sehingga menyebabkan penerimaan oksigen bayi maupun plasenta
(ari-ari) berkurang, yang berarti berkurang juga penerimaan nutrisi untuk bayi anda.

Dan pengaruh buruk selanjutnya, plasenta akan lebih lanjut meperluas didaerah
rahim untuk mencari daerah permukaan di rahim untuk mencukupi kebutuhan
oksigen dan nutrisinya. Yang mengakibatkan plasenta akan semakin tipis yang berarti
meningkatkan kemungkinan terjadinya plasenta letak rendah dan plasenta previa
(plasenta terletak di jalan lahir/mulut rahim), komplikasi plasenta lainnya.

Didalam tubuh, nikotin melepas aseil kolin, efinefrin, notepinefrin dan hormone
anti diuretic, yang menyebabkan takikardia, meningkatkan curah jantung,
vasokonstriksi perifer, peningkatan tekanan darah, dan perubahan metabolism lemak
dan karbohidrat. Vasokonstriksi menurunkan aliran darah uteroplasentral selama
kehamilan. Karbon monoksida menembus barier plasenta dan berikatan dengan
hemoglobin sehingga terjadi penurunan oksigenasi pada darah janin (Constance
Sinclair, 2010 Hal 147)

Nikotin, karbonmonoksida dan zat berbahaya lainnya memasuki aliran darah dan
masuk ke dalam tubuh janin dan membuatnya tidak mendapat zat gizi dan oksigen
yang dibutuhkan untuk tumbang janin, menyebabkan pertumbuhan janin lambat dan
dapat meningkatkan risiko Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dan bayi yang berat
badan lahirnya rendah, sangat rentan sekali dengan infeksi. Asap rokok juga akan
menyebabkan bayi sangat beresiko mengalami gangguan kesehatan selama tahun
pertama kehidupannya karena bayi cenderung menderita bronchitis dan memiliki
peluang lebih besar untuk mengalami kematian mendadak atau SIDS (Sudden Infant
Death Syndrome).

6. Efek Buruk Terhadap Ibu dan Janin


Dampak negatif merokok terhadap kesehatan ibu dan janin telah diketahui secara
luas. Merokok dapat menyebabkan aborsi spontan, abrupsio plasenta, ketuban pecah
dini, plasenta previa, persalinan preterm, berat badan lahir rendah, dan kehamilan
ektopik. Patofisiologinya masih belum diketahui secara lengkap. Beberapa
mekanisme mungkin berhubungan dengan terganggunya pertukaran gas yaitu
toksisitas langsung dan aktifitas simpatis. (Murkoff, Heidi dkk. 2006. Buku
Kehamilan Edisi 3 hal.382). Merokok juga dapat menyebabkan kerusakan terhadap
materi genetik janin. Suatu penelitian membandingkan instabilitas kromosom dari
aminosit yang berasal dari perokok dan bukan perokok membuktikan adanya
peningkatan insidens abnormalitas struktur kromosom diantara perempuan yang
merokok secara regular.

a. Dampak Pada Janin

 Berat Lahir Rendah

Berat badan lahir dikatakan rendah bila kurang dari 2500 gram.
Sedangkan istilah Small For Gestation Age (SGA) ialah bila berat badan
lahir dibawah 10 persentil grafik. Merokok pada wanita hamil
meninggikan resiko untuk terjadinya BBLR dibanding wanita yang tidak
merokok. Selain itu faktor resiko lain ialah umur kehamilan, umur
ibu,paritas, berat badan sebelum lahir, status ekonomi, dan prenatal care.
Perbedaan berat badan lahir antara bayi yang ibunya merokok dan bayi
yang ibunya ridak merokok berkisar antara 250-320 gram. Perbedaan ini
juga terlihat pada panjang badan dan lingkar dada.

Mekanisme timbulnya berat lahir rendah akibat merokok bisa


dengan berbagai cara. Merokok bisa menyebabkan partus prematur,
sehingga berat badan lahirnya memang kurang dari 2500 gram, walaupun
sesuai dengan usia kehamilan Merokok juga bisa menyebabkan retardasi
pertumbuhan karena efek vasokontriksi dari nikotin menyebabkan
sirkulasi uteroplacenta berkurang, sehingga terjadi hipoxia dan gangguan
nutrisi janin. Wanita yang merokok juga sulit untuk menambah berat
badan selama kehamilan. Rata-rata penambahan berat badan pada perokok
selama hamil adalah 9 kg, sedangkan wanita yang tidak merokok rata-rata
bertambah 11 kg, walaupun wanita perokok itu makan lebih banyak kalori
dibanding yang tidak merokok.

 Kehamilan Ektopik

Beberapa faktor penting untuk terjadinya kehamilan ektopik antara


lain adalah riwayat kehamilan ektopik sebelumnya, riwayat operasi pada
pelvis, dan riwayat pemakaian kontrasepsi oral. Merokok merupakan
faktor resiko terjadinya kehamilan ektopik. Resiko terjadinya kehamilan
ektopik ini berbanding lurus dengan makin banyaknya rokok yang dihisap
setiap harinya. Mekanisme terjadinya hal ini sebenarnya belum jelas.
Diduga disebabkan gangguan transportasi dalam tuba dan lambatnya
ovum masuk ke dalam cavum uteri yang disebabkan gangguan mukosa
dan cillia dalam tuba. Merokok juga menyebabkan kehamilan ektopik
secara tak langsung, dengan meningkatkan resiko untuk terjadinya PID.

 Solutio Plasenta

Solutio Placenta ialah lepasnya placenta yang letaknya normal,


dari dinding uterus, sebelum bayi lahir. Faktor resiko untuk terjadinya
solution plasenta antara lain hypertensi, trauma abdomen, pemberian obat
secara IV, riwayat persalinan pretem, riwayat stillbirth, abortus spontan,
usia ibu yang sudah lanjut, dan kediaman yang tinggi diatas permukaan
laut selama kehamilan. Merokok bisa merupakan faktor resiko terjadinya
solution plasenta. Mekanisme terjadinya solution plasenta diduga
disebabkan kurangnya perfusi placenta akibat efek vasokontriksi, atau
akibat meningkatnya COHb, sehingga terjadi hipoxia lokal yang
menyebabkan palcenta rusak dan terlepas dari cengkramannya.

 Placenta Previa

Placenta Previa ialah keadaan dimana letak placenta demikian


rendahnya, sehingga menutupi sebagian atau seluruh ostium internum.
Faktor resiko terjadinya placenta previa antara lain, akibat kerusakan
dinding endometrium akibat myoma, atau riwayat kuretase, atau pada
kebutuhan perfusi yang meningkat, seperti pada kehamilan kembar.
Merokok merupakan faktor resiko terjadinya Placenta Previa, diduga
karena pada wanita hamil yang merokok, terjadi hipoxiemi kronis yang
akibat vasokontriksi atau meningkatnya COHb. Hal ini membuat placenta
akan mencari tambatan aliran darah dengan cara meluaskan jaringannya
sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh ostium unternum.

 Abortus Spontan

Faktor resiko terjadinya abortus spontan antara lain usia ibu yang
sudah lanjut, riwayat abortus sebelumnya, alkoholisme, demam,
kontrasepsi, kelainan kromosom, trauma, sosio ekonomi dll. Merokok
diduga merupakan faktor resiko untuk terjadinya abortus spontan. Namun
demikian beberapa penelitian menunjukkan bahwa perokok mungkin tidak
mengalami peningkatan resiko, terdapat bukti yang signifikan bahwa
perokok berat (>10 batang rokok per hari) berhubungan dengan aborsi
spontan. Sehingga mekanisme terjadinya hal ini belum diketahui dengan
jelas. Diduga merokok menyebabkan gangguan implantasi hasil konsepsi
pada endometrium. Dugaan lain ialah efek toksik dari nikotin dan CO
terhadap fetus.

 Kelahiran Preterm

Kelahiran preterm (usia kehamilan kurang dari 37 minggu)


merupakan akibat dari prsalinan prematur idiopatik atau mungkin
disebabkan olrh komplikasi ketuban pecah dini, koriomnionitis, atau
abrupsio plasenta. Perempuan yang merokok beresiko 1,3 sampai 2,5 kali
lebih tinggi untuk mengalami kelahiran preterm, khususnya sebelum
kehamilan usia 32 minggu. Mekanisme tingginya resiko partus prematur
pada wanita yang merokok diduga disebabkan efek vasokontriksi nikotin
pada placenta, atau tingginya kadar katekolamin dalam darah.

 Sudden Infant Death Syndrome (SIDS)

SIDS adalah kematian yang tiba-tiba terjadi pada bayi usia kurang
dari 1 tahun yang tidak diketahui sebabnya. Merokok, meningkatkan
resiko untuk terjadinya SIDS dan resiko ini makin tinggi dengan makin
banyaknya konsumsi rokok. Mekanisme bagaimana merokok bisa
menyebabkan SIDS masih belum jelas. Diduga, merokok menyebabkan
gangguan pada proses neuroregulasi dari pernafasan sehingga terjadi
apneic spells yang menyebabkan terjadinya SIDS.

b. Dampak Pada Ibu

Merokok meningkatkan fisik penyakit paru obstruktif menahun, kanker


servik, infertilitas, awitan menopause lebih dini, dan kehamilan ektropikal.
Merokok merupakan penyebab 29% dari keseluruhan kasus kanker dan
bertanggung jawab terhadap 55% kematian akibat masalah kardiovaskuler pada
wanita usia kurang dari 65 tahun. Gejala putus zat meliputi perasaan sangat ingin
merokok, gelisah, ansietas, marah, kesulitan berkonsentrasi, insomnia, depresi,
nafsu makan dan berat badan meningkat, sakit kepala, konstipasi, flatulensi, luka
pada mulut, haus, batuk-batuk dan suara serak, kongesti sinus, kram tungkai,. Dan
penurunan frekuensi denyut jantung. Berbagai gejala ini mulai muncul dalam
beberapa jam dan dapat bertahan selama berhari-hari hingga berbulan-bulan.
(Constance Sinclair, 2010 Hal 147-148)
c. Dampak Merokok Selama Laktasi

Merokok pada ibu juga berkaitan dengan angka menyusui yang lebih
rendah dan penyapihan yang lebih dini. Bayi yang diberikan ASI dari ibu perokok
lebih sedikit tidur ketika diberi makan setelah ibunya baru merokok. Bayi-bayi
tersebut memiliki kadar nikotin dalam urin 10 kali lipat lebih tinggi dibandingkan
bayi yang menyusu dari botol, dan sampai 50 kali lebih tinggi dibandingkan bayi
dari ibu yang tidak merokok. (Murkoff, Heidi dkk. 2006. Buku Kehamilan Edisi 3
hal.382)

7. Pemeriksaan Diagnostik

a. Skrin toksikologi : Mengidentifikasi obat yang digunakan dan status terkini.

b. Pemeriksaan darah lengkap (hitung darah lengkap/ HDL, glukosa serum,


elektrolit; menentukan adanya status anemia atau nutrisi).

c. Ultrasonografi: Melokalisasi implantasi plasenta, mengkaji ukuran janin dalam


hubungannya dengan panjang gestasi.

d. Rontgen dada: Menunjukkan adanya pneumonia, benda asing, emboli ataupun


edema pulmoner.

e. Skerining tes/ kultur: Menentukan adanya penyakit infeksius.

B. Ibu Hamil Dengan Ketergantungan Alkohol


1. Sejarah Alkohol

Alkohol telah lama dikenal, menurut catatan arkeologik minuman beralkohol


sudah dikenal sejak kurang lebih 5000 tahun yang lalu Sampai saat sekarang sudah
beragam macam minuman beralkohol yang dikonsumsi manusia. Adapun alkohol
yang terkandung dalam minuman keras adalah etanol (CH3CH2 -OH) yang diperoleh
dari proses fermentasi. Etanol didapat dari proses fermentasi biji-bijian, umbi, getah
kaktus tertentu, sari buah dan gula yang mengandung malt.

Kadar alkohol hasil fermentasi tidak lebih dari 14%, untuk mendapatkan kadar
alkohol yang lebih tinggi dibuat melalui proses penyulingan. Kandungan alkohol
pada berbagai minuman keras berbeda-beda, menurut Joewana kebanyakan bir
mengandung 3-5% alkohol, anggur 10-14%, sherry, port, muskatel berkadar alkohol
20%, dry wine 8-14 %, cocktail wine 20-21 % sedangkan wisky, rum, gin, vodka dan
brendi berkadar alkohol 40-50%. Ciri-ciri etanol diantaranya, memiliki titik didih
78oC, tekanan uap 44 mmHg pada temperatur 20oC, disamping itu etanol merupakan
cairan jernih tak berwarna, rasanya pahit, mudah menguap, larut dalam air dalam
semua perbandingan dan bersifat hipnotik. Dari beberapa sifat alcohol tersebut maka
alcohol digunakan untuk beberapa hal yaitu: Pelarut, Antiseptic, Minuman , Bahan
makanan, Dalam industri farmasi, Sebagai bahan bakar.

2. Efek Biokimia Alkohol

Mekanisme kerja etanol sebagai salah satu alkohol yang sederhana dalam jangka
waktu lama sebenarnya masih belum pasti. Tidak jelas apakah mobilisasi asam lemak
bebas ekstra memainkan peranan tertentu pada penimbunan lemak atau tidak, tetapi
beberapa penelitian menunjukkkan adanya peningkatan kadar asam lemak bebas pada
tikus setelah pemberian etanol dengan dosis tunggal intoksikasi. Beberapa efek toksik
etanol bagi tubuh antara lain:

a. Etanol akan menekan sistem saraf pusat secara tidak teratur tergantung dari jumlah
yang dicerna. Pencernaan dan penyerapan alcohol terjadi setelah alkohol masuk
kedalam lambung dan diserap oleh usus halus. Hanya 5-15% yang diekskresikan
secara langsung melalui paru-paru, keringat dan urin (Schuckit, 1984; Adiwisastra,
1987).

b. Etanol secara akut akan menimbulkan oedema pada otak serta oedema pada saluran
gastrointestinal. Hal ini terjadi karena adanya hipoksia pada metabolisme yang
membutuhkan O2.

c. Alcohol dapat meningkatkan kadar laktat dalam darah. Peningkatan laktat dalam
darah dapat menekan ekskresi asam urat dalam urin dan menyebabkan peningkatan
asam urat dalam plasma.

d. konsumsi alcohol dalam jumlah berlebihan dan dalam waktu ang lama dapat
menimbulkan sirosis hati. Alkohol mengalami metabolisme diginjal, paru-paru dan
otot, tetapi umumnya di hati, kira-kira 7 gram etanol per jam, dimana 1 gram etanol
sama dengan 1 ml alkohol 100%. Awalnya alkohol menyebabkan akumulasi lemak di
hati, hiperlipidemia dan akhirnya sirosis.

Efek setelah minum dalam jumlah besar dapat menyebabkan: Banyak sekali
bicara, Pusing, Rasa haus, Rasa lelah, Disorientasi, Tekanan darah menurun, Refeleks
melambat.

3. Alkohol Dan Nutrisi

Sekarang ini, 95 juta penduduk Amerika menambahkan 10 % - 20 % intake


kalorinya dari alkohol. Alkohol disebut sebagai ”zat gizi anti zat gizi” karena dapat
menghasilkan kaori namun tidak mengandung vitamin dan mineral. Disamping sebagai
makanan ”kalori kosong” alkohol juga menghilangkan beberapa zat gizi dari dalam tubuh
dan meningkatkan kebutuhan akan zat gizi lainnya.

Tidak seperti zat pembakar lainnya (protein, karbohidrat, dan lemak) alkohol
dapat digunakan sebagai bahan bakar hanya oleh sel hati. Secara normal sel hati akan
membakar lemak. Bila terdapat alkohol, lemak tidak dibakar untuk meghasilkan energi
namun ditimbun dalam hati / dilepaskan dalam darah. Akibatnya meningkatnya lemak
dalam sirkulasi yang akan membahayakan tubuh / menimbulkan kerusakan hati.
Konsumsi alkohol yang berlebihan dan menahun akan mempengaruhi gizi, nutrisi, dan
keadaan kesehatan seseorang yaitu:

a. Meningkatkan tekanan darah, kerusakan otot jantung dan dapat menyebabkan


sirosis serta hepatitis alkoholik.

b. Resiko kanker mulut, tenggorokan, dan esofagus meningkat serta akan merusak
dinding lambung dan gastrointestinal sehingga mengganggu kemampuan tubuh
untuk menyerap zat gizi. Inilah yang menyebabkan peminum berat mengalami
gangguan gizi walaupun mengonsumsi makanan yang seimbang. Walaupun
segelas anggur dapat merangsang aliran darah di lambung dan memperbaiki
pencernaan, efek iritasi dari alkohol yang berlebihan akan mengurangi absorpsi
zat gizi.

c. Konsumsi alkohol juga menyebabkan timbulnya euforia sehingga menurunkan


nafsu makan dan keinginan akan makanan.

d. Terjadi penurunan kadar gula darah yang dikenal sebagai hipoglikemia. Hal ini
terjadi karena metabolisme alkohol membutuhkan vitamin B, terutama tiamin dan
niasin. Zat gizi ini juga dibutuhkan oleh sel untuk memetabolisme makanan lain
untuk menghasilkan energi. Bila vitamin B telah habis akibat digunakan oleh
alkohol, gula yang berasal dari makanan bergula dan kanji tak dapat digunakan
secara efisien sehingga terjadi penurunan kadar gula darah. Akibatnya energi di
seluruh sel berkurang.

e. Pada penyalahgunaan akohol menahun, sel-sel hati tak dapat lagi menggunakan
vitamin D karena vitamin D dibutuhkan oleh tulang dan gigi sehat serta untuk
pembentukan beberapa hormon, maka beberapa proses tubuh akan terpengaruh
oleh kelebihan akohol.

f. Mata juga akan dipengaruhi oleh kelebihan alkohol. Sel-sel mata yang secara
normal memproses vitamin A untuk penglihatan menjadi sibuk memproses
alkohol akibatnya penglihatan pada malam hari menjadi terganggu.
g. Salah satu produk metabolisme alkohol akan menghancurkan vitamin B6
akibatnya akan terjadi anemia.

h. Alkohol merupakan suatu diuretik dan dapat menyebabkan dehidrasi sel-sel


tubuh. Vitamin B, C, Magnesium, kalsium, zinc, kalium, intake asam folat (suatu
vitamin B) akan terganggu akibat gangguan absorpsi karena alkohol menghambat
metabolisme vitamin. Defisiensi asam folat akan mengakibatkan anemia, letargi,
kosentrasi menurun dan kelemahan.

4. Alkoholisme Selama Kehamilan

a. Alkohol sebagai teratogen yang berbahaya

Etil alkohol (etanol) adalah salah satu teratogen yang paling poten. Sebelumnya,
ada baiknya kita membahas sedikit tentang teratogen. Teratogen adalah setiap zat
(agen) yang bekerja selama masa pekembangan mudigah / janin untuk menimbulkan
perubahan bentuk / fungsi yang menetap. Teratogen berasal dari bahasa yunani,
teratos, yang berarti monster, karena penurunan kata ini mengisyaratkan adanya cacat
yang nyata, maka teratogen paling tepat didefinisikan sebagai suatu zat yang
menimbulkan kelainan struktural.

Teratogen yang saat ini diketahui adalah zat kimia, virus, agen lingkungan, faktor
fisik, dan obat-obatan. Dalam sebuah studi terhadap hampir 9000 pasien pranatal
Medicaid di Michigan melaporkan bahwa pada wanita yang hamil terdapat mereka
yang menggunakan zat teratogen diantaranya 6,7 % mengonsumsi alkohol. Beberapa
pertimbangan umum mengenai kerja zat teratogen seperti alkohol:

 Tingkat perkembangan mudigah menentukan kepekaannya terhadap faktor


teratogenik

 Pengaruh faktor teratogenik tergantung genotip

 Zat teratogen bekerja dengan cara khusus pada segi tertentu pertukaran zat
sel

Alkohol merupakan zat kimia dengan berat molekul kecil, sehingga dapat
dengan mudah diserap tubuh. Selama kehamilan pengkonsumsian minuman
beralkohol dapat merusak plasenta sehingga secara langsung mengganggu proses
perkembangan embrio. Pengkonsumsian minuman beralkohol oleh ibu hamil
dapat mengakibatkan penurunan berat badan lahir menjadi rendah, karena
kurangnya asupan gizi janin selama dalam kandungan. Dampak yang timbul
akibat buruknya gizi selama kehamilan tidak dapat digantikan setelah bayi
dilahirkan.
C. Ibu Hamil Dengan Ketergantungan Obat-Obatan
1. Pengertian Ketergantungan Obat

Ketergantungan obat adalah kebutuhan secara psikologis terhadap suatu obat


dalam jumlah yang makin lama makin bertambah besar untuk menghasilkan efek yang
diharapkan. Menurut WHO merupakan gabungan berbagai bentuk penyalahgunaan obat
dan didefenisiskan sebagai suatu keadaan psikis maupun fisik yang terjadi karena
interaksi suatu obat dengan organisme hidup. Hal ini termasuk reaksi perilaku dan selalu
terpaksa menggunakan obat secara periodik untuk mengalami efekpsikis dan mencegah
efek yang tidak enak karena kehilangan obat tersebut.

2. Jenis-Jenis Zat Adiktif

a. Sedativa

Golongan yang paling sering digunakan adalah benzodiazepin dan barbiturat


serta metabolitnya dapat melalui plasenta. Kadarnya sama dengan kadar dalam
darah ibu selama 5-10 menit setelah pemberian intravena. Kadar pada neonatus
lebih besar 1-3 kali dibandingkan dalam serum ibu. Pemakaian dengan dosis 30-
40 mg perhari dalam waktu lama akan menyebabkan komplikasi pada bayi baru
lahir. Terdapat 2 sindroma mayor komplikasi janin akibat penggunaan diazepam :

 Floopy infant syndrome: terdiri atas hipotonia, letargi, kesulitan mengisap.

 Withdrawal syndrome: terdiri atas pertumbuhan janin terhambat, tremor,


iritabilitas, hipertonus, diare, muntah, menghisap dengan kuat.

b. Heroin

Mempunyai kemampuan menstimulasi sejumlah reseptor spesifik pada susunan


saraf pusat. Reseptor mu (bertanggung jawab pada tingkat supraspinal yang
menyebabkan analgesia, euforia,depresi pernafasan, dan ketergantungan fisik),
reseptor kappa (bekerja pada spinal dan menyebabkan miosis dan sedasi) dan reseptor
sigma (efek perangsangan jantung, disforia, dan halusinogenik).

c. Kokain

Kokain adalah obat vasoaktif dan dapat menyebabkan masalah pada bayi secara
sekunder karena kerusakan plasenta atau melalui efek langsung pada pembuluh darah
janin. Ada 2 jenis kokain : murni berupa serbuk putih dan yang telah dicampur
dengan soda kue/ sodium karbonat kemudian direbus sampai airnya menguap dan
tinggal kerak cokelat jenis ini lebih adiktif dan berbahaya. Kokain dengan cepat
diabsorpsi dan masuk dalam darah serta menghasilkan efek dalam 6-8 menit. Adiksi
kokain mengganggu psikologik, dan sulit diobati. Kokain diabsorbsi dengan cepat
pada semua membran mukosa dan menghambat reuptake presinaps dari
katekolaminpada neuron terminal. Akumulasi ini menyebabkan peningkatan tonus
simpatis dan vasokontriksi serta menimbulkan euforia, peningkatan denyut jantung,
hiperglikemia, hiperpireksia, dan midridiasis. Vasokontriksi koroner akan
mengakibatkan spasme, angina pektoris, infark miokard akut, aritmia jantung , dan
bahkan kematian mendadak. Dapat pula terjadi perdarahan subarakhnoid bila
sebelumnya ada stroke hemoragik, dan nekrosis usus.

Komplikasi maternal dapat berupa hipertensi maligna , iskemia jantung, infark


miokard bahkan kematian. Bayi pemakaian kokain dengan berat badan lahir rendah
beresiko mengalami perdarahan intraventrikuler dan keterlambatan penanganan. Ibu
hamil pengguna kokain beresiko terjadi terjadi ketuban pecah dini 20%,
pertumbuhan janin terhambat 25-30%, persalinan kurang bulan 25%, perawatan
mekonium dalam air ketuban 20% dan solusio plasenta 6-10%.

d. Alkohol

Fetal alcohol syndrome = FAS untuk menggambarkan gejala yang berhubungan


dengan pemekaian alkohol yang berat berupa: defisiensi pertumbuhan pre dan
postnatal, gangguan sistem saraf pusat yangberpengaruh terhadap kecerdasan dan
perilak, muka yang khas ditandai dengan posisi telinga yang rendah dan tidak paralel,
philtrum yang khas yang ditandai pendek dan datar, muka yang panjang, kepala
kecil, hidung pendek, malformasi organ terutama pada jantung berupa defek septum,
dapat pula terjadi hipoplasia ginjal, divertikulum buli-buli, dan gangguan traktus
urogenitalis yang lain, serta deformitas anggota gerak. Jenis Dan Kadar Minuman
Beralkohol:

 Bir. Merupakan hasil fermentasi karbohidrat yang berasal dari tumbuh-


tumbuhan. Mengandung alkohol sebesar 3-6%.

 Wine. Dihasilkan dari fermentasi sari buah anggur. Sari buah lain yang
juga bisa digunakan adalah buah pir, apel, beri dan bunga dandelions.
Mengandung alkohol sebesar 10-14%.

 Liquor. Minuman beralkohol yang dibuat dengan proses penyulingan lalu


digabungkan dengan aroma dan cita rasa lain seperti jeruk. Biasanya
mengandung gula dan alkohol 30-35%.

 Vodka. Dikenal sebagai minuman tradisional Rusia. Biasanya merupakan


hasil penyulingan dari fermentasi bubur gandum. Mengandung 40%
alkohol.
 Rum. Dihasilkan dari penyulingan berbagai produk fermentasi gula tebu.
Umumnya yang dicampur untuk pembuatan rum adalah sirup gula dan air.
Kadar alkoholnya 40-75%.

 Gin. Merupakan hasil penyulingan dari fermentasi biji-bijian. Biasanya


cita rasa didapat dengan mencampurkan juniper berries (sejenis buah beri).
Memiliki kadar alkohol 40-45%.

 Brandy. Minuman beralkohol ini dihasilkan dari penyulingan wine dari


anggur. Kandungan alkoholnya adalah 40-50%.

 Wiski. Sejenis liquor yang merupakan hasil penyulingan dari bubur biji-
bijian. Kadar alkoholnya 40-50%.

e. Metamfetamin

Metabolit aktif metamfetamin ialah: amfetamin, suatu stimulan SSP bentuk bubuk
metamfetamin dikenal sebagai “ SPEED” dan “METH”. Angka melahirkan bayi
prematur dan memiliki neonatus yang mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin
dal lingkar kepala yang kecil , lebih tinggi dibandingkan kelompok wanita yang tidak
menggunakan obat (oro,dikson 1987) pola perilaku neonatus berubah ditandai dengan
perilaku tidur yang abnormal, perilaku minum yang buruk, tremor dan hipertonia.
Gejala putus obat dapat diatasi dengan fenobarbital atau tingtur alkohol opium
(paregoric).

f. Mariyuana

Mariyuana merupakan obat terlarang yang paling umum digunakan selama masa
hamil, dapat dihisap dalam rokok, pipa, pipa air, atau dicampur kedalam
makanan.obat ini menimbulkan keracunan (intosikasi) dan sensori “tinggi
(melayang). Mariyuana dengan mudah dapat menembus plasenta dan dapat
meningkatkan kadar monoksida dalam darah ibu, yang dapat menurunkan oksigen
dalam darah janin.

g. Fenisiklidin

Fenisiklidin adalah obat sintesis yang dikenal dengan berbagai nama (peace pil,
angle dust, hog). Beberapa efeknya menyerupai skizofrenia, para penggunanya dapat
dimasukan keunit psikiatri. PCP cenderung digunakan dalam berbagai kombinasi
alkohol, kokain dan mariyuana, efek khusus pada kehamilan, janin dan neonatus
belum di identifikasi.

h. Tembakau
Hampir semua komplikasi pada plasenta dapat ditimbulkan oleh rokok meliputi
abortus, solusio plasenta, insufisiensi plasenta, berat badan lahir rendah, dan plasenta
previa. Hal ini akan meningkatkan kematian neonatus dan sindroma kematian
kematian bayi mendadak. Perempuan yang merokok kehamilan trisemester keua dan
tiga mempunyai resiko yang sama bila merokok selama kehamilan. Bayi yang lahir
dari seorang perokok bukan hanya mempunyai BBLR, tetapi juga ukuran panjang
tubuh, kepala dan dada yang lebih kecil, pH tali pusat yang rendah dan menunjukan
lebih banyak kelainan pada pemeriksaan neurologik.

3. Proses Terjadinya Masalah Penyalahgunaan Dan Ketergantungan Obat

Proses terjadinya masalah penyalahgunaan dan ketergantungan zat memfokuskan


pada zat yang sering disalah gunakan individu yaitu: opiat, amfetamin, canabis dan
alkohol.

a. Rentang Respons Kimiawi

Perlu diingat bahwa pada rentang respons tidak semua individu yang
menggunakan zat akan menjadi penyalahgunaan dan ketergantungan zat.
Hanya individu yang menggunakan zat berlebihan dapat mengakibatkan
penyalahgunaan dan ketergantungan zat.

Penyalahgunaan zat merujuk pada penggunaan zat secara terus menerus


bahkan sampai setelah terjadi masalah. Ketergantungan zat menunjukkan
kondisi yang parah dan sering dianggap sebagai penyakit. Gejala putus zat
terjadi karena kebutuhan biologik terhadap obat. Toleransi berarti bahwa
memerlukan peningkatan jumlah zat untuk memperoleh efek yang diharapkan.

b. Faktor penyebab

Faktor penyebab pada klien dengan penyalahgunaan dan ketergantungan


NAPZA meliputi :

 Faktor biologic : Kecenderungan keluarga, terutama penyalahgunaan


alcohol, Perubahan metabolisme alkohol yang mengakibatkan respon
fisiologik yang tidak nyaman.

 Faktor psikologik: Tipe kepribadian ketergantungan, Harga diri rendah


biasanya sering berhub. dengan penganiayaan waktu masa kanak
kanak, Perilaku maladaptif yang diperlajari secara berlebihan, Mencari
kesenangan dan menghindari rasa sakit, Sifat keluarga, termasuk tidak
stabil, tidak ada contoh peran yang positif, kurang percaya diri, tidak
mampu memperlakukan anak sebagai individu, dan orang tua yang
adiksi.
 Faktor sosiokultural: Ketersediaan dan penerimaan sosial terhadap
pengguna obat, Ambivalens sosial tentang penggunaan dan
penyalahgunaan berbagai zat seperti tembakau, alkohol dan
mariyuana, Sikap, nilai, norma dan sanksi cultural, Kemiskinan
dengan keluarga yang tidak stabil dan keterbatasan kesempatan.

4. Dampak Yang Terjadi Pada Janin Yang Terlahir Dari Seorang Ibu Yang Di Pengaruhi
Obat

a. Sedativa-Hipnotika

Dalam dunia kedokteran, zat adiktif sedative-hipnotika digunakan sebagai


zat penenang yang dikenal juga dengan sebutan pil BK dan magadon.
Pemakaian sedative-hipkotiva dalam dosis kecil menenangkan. Sedangkan
dalam dosis besar menidurkan. Tanda-tanda gejala pemakaiannya yaitu mula-
mula gelisah, mengamuk lalu mengantuk, malasi daya pikir, menurun, bicara
dan tindakan lambat. Tanda-tanda gejala putus obat, yaitu gelisah, sukar tidur,
gemetar, muntah, berkeringat, denyut nadi cepat, tekanan darah naik dan
kejang-kejang.

b. Heroin

Segera setelah penyuntikan (atau inhalasi), heroin melintasi penghalang


darah-otak. Dalam otak, heroin dikonversi menjadi morfin dan cepat mengikat
pada reseptor opioid. Pelaku biasanya mengalami perasaan gelombang dan
sensasi menyenangkan, serta tergesa-gesa. Intensitas terburu-buru adalah
fungsi dari berapa banyak obat yang diambil dan seberapa cepat obat tersebut
memasuki otak dan mengikat ke reseptor opioid alami. Efek jangka pendek
heroin : Tergesa-gesa “rush”, Respirasi Tertekan, Mendung fungsi mental,
Mual dan muntah, Penindasan sakit, Aborsi spontan.

Heroin sangat adiktif karena memasuki otak begitu cepat. Dengan heroin,
terburu-buru biasanya disertai dengan pembilasan hangat dari kulit, mulut
kering, dan terasa berat di kaki, yang mungkin disertai mual, muntah, dan
gatal-gatal parah. Setelah efek awal, pelaku biasanya akan mengantuk selama
beberapa jam. Mental fungsi mendung oleh efek heroin pada sistem saraf
pusat fungsi jantung lambat. Pernapasan juga sangat lambat, kadang-kadang
hampir mati. Overdosis heroin merupakan risiko khusus di jalan, di mana
jumlah dan kemurnian obat tidak dapat diketahui secara akurat. Efek jangka
panjang heroin :Addiction (Kecanduan), Penyakit infeksi, seperti HIV/AIDS
- hepatitis B & C, Infeksi bakteri, Abses, Infeksi pada lapisan jantung dan
katup, Arthritis dan masalah rematik lainnya
Penyalahgunaan heroin pada ibu hamil dapat menyebabkan komplikasi
serius selama kehamilan, termasuk pengiriman keguguran dan premature
Anak-anak yang lahir dari ibu kecanduan beresiko besar SIDS (sindrom
kematian bayi mendadak). Wanita hamil tidak boleh didetoksifikasi dari opiat
karena peningkatan risiko abortus spontan atau kelahiran prematur,
melainkan, pengobatan dengan metadon sangat disarankan. Meskipun bayi
yang lahir dari ibu yg ketergantungan metadon dapat menunjukkan tanda-
tanda ketergantungan fisik, mereka dapat diobati dengan mudah. Penelitian
juga menunjukkan bahwa efek dalam paparan rahim untuk metadon relatif
jinak.

c. Kokain

Efek kokain, sama dengan amfetamin disertai stimulasi SSP jangka


pendek. Ada hambatan dalam ambilan ulang katekolamin, yang
mengakibatkan kadar norepinefrin, serotonin, dan domain tinggi. Hal ini
mengakibatkan penyalahguna kokain terjaga berlebihan. Kokain
meningkatkan kadar norepinefrin dan serotonin dengan cepat dan menurunkan
kadar kedua zat tersebut dengan tiba-tiba. Sistem biokimia norepinefrin,
serotonin, dan dopamin memainkan peran utama mengatur mood dan
kesehatan mental.

d. Alkohol

Alkohol atau etanol bersifat larut dalam air sehingga akan benar-benar
mencapai setiap sel setelah dikonsumsi. Alkohol yang dikonsumsi akan
diserap masuk melalui saluran pernafasan. Penyerapan terjadi setelah alkohol
masuk kedalam lambung dan diserap oleh usus kecil. Hanya 5-15% yang
diekskresikan secara langsung melalui paru-paru, keringat dan urin. Pernah
dibuktikan bagaimana cepat dan mudahnya alkohol diserap oleh tubuh
manusia. Alkohol sangat mudah terdistribusi masuk ke dalam saluran darah
janin melalui darah ibunya dan dapat merusak sel-sel pada janin. Sel-sel
utama yang menjadi target kerusakan adalah pada otak dan medula spinalis.
Fetal alcohol syndrome (FAS) menggambarkan rentang efek alkohol terhadap
janin hingga bayi yang dilahirkan mengalami kelainan fisik dan mental.
Efeknya bervariasi dari ringan sampai sedang. Beberapa efek alkohol terhadap
janin antara lain adalah : Bentuk wajah yang ganjil. Bayi mungkin akan
memiliki kepala kecil, dengan muka datar, dan mata yang hanya bisa
membuka sedikit. Dan keadaan ini makin kelihatan nyata ketika anak berusia
2-3 tahun, Gangguan pertumbuhan. Anak yang terpapar alkohol saat masih
dalam kandungan akan tumbuh lebih lambat daripada anak yang normal,
Masalah belajar dan perilaku. Hal ini karena alcohol juga akan mempengaruhi
fungsi otak anak, Cacat lahir. Selain dengan bentuk wajah ganjil, bayi
mungkin akan mengalami kecacatan pada berbagai bagian tubuh, Biasanya,
bayi akan lahir dengan bentuk otot tubuh dan kepala yang terlalu kecil. Selain
itu, bayi yang dikandung kemungkinan besar juga akan mengalami gangguan
pada pendengaran, penglihatan, dan juga masalah kecanduan alkohol serta
gangguan pada pelakunya.

e. Marijuana

Komponen aktifnya adalah delta-9-tetrahidrokannabinol, dimetabolisme di


hepar, 2 minggu setelah pemakaian masih dapat dideteksi dalam urin. Bila
dihisap kurang dari 2jam, sedang penggunaan oral efeknya mencapai 30-120
menit dan berakhir 5-7 jam. Risiko maternal : mempunyai efek karsinogenik
lebih kuat, menimbulkan inflamasi paru yang luas, menghambat produksi
makrofag paru. Risiko perinatal : lipatan epiknatal lebih berat,hipertelorisme,
pertumbuhan janin terhambat,partus prematurus,partus presipitatus, risiko
menunjang waktu persalinan serta partus macet, komplikasi dalam air
ketuban.

f. Fenisiklidin (PCP)

Setelah digunakan, PCP mengendap di otak dan lemak tubuh selama


waktu yang lama. Obat ini dapat menembus plasenta dan cenderung
ditemukan dalam konsentrasi yang tinggi dalam jaringan janin dari pada
dalam jaringan maternal.

g. Tembakau

Nikotin menyebabkan pembuluh darah plasenta vasokontriksi dan karbon


monoksida menonaktifkan Hb maternal dan janin, yang penting untuk
mentranspor oksigen ke janin. Paparan asap tembakau pada ibu hamil dapat
mengakibatkan terganggunya perkembangan janin dan pertumbuhan bayi serta
katian pada bayi baru lahir. Namun, yang paling menonjol adalah kelahiran
bayi premature dan BBLR. Masalah pernafasan dan sindrom kematian
mendadak bayi juga umum terjadi.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN
A. Perokok Yang Hamil

Pengkajian

Riwayat gaya hidup menyeluruh

Riwayat merokok :

- Berapa lama telah merokok


- Berapa banyak rokok yang dihisap dalam sehaari
- Apakah ada pengaruh fisik akibat meroko (misalnya penyakit pernapasan, kanker)
- Alasan merokok
- Apakah ada perilaku tertentu yang berhubungan dengan prilaku merokok
- Kaji pengetahuan ibu mengenai pengaruh negatif dari rokok dan janin yang sedang
tumbuh

Diagnosa

1. Perubahan perfusi jaringan plasenta yang berhubungan dengan meroko


2. Resiko cedera yang berhubungan dengan efek merokok
3. Kurangnya Pengetahuan yang berhubungan dengan efek fisiologis merokok pada diri dan
janin

Pengkajian Diagnosa Rasional/ intervensi Evaluasi

 Tanda tanda 1. Perubahan  Catat dan pantau  Tekanan darah


vital perfusi ketat teanan darah, dan nadi tetap
 Tonus jaringan frekuensi nadi, dalam batas
jantung plasenta tonus jantung normal , tonus
janin yang janin, tinggi jantung janin
 Tinggi berhubunga fundus, dan berat tetap batas
fundus uteri n dengan badan untuk normal, tinggi
 Berat badan meroko memantau fundus
dasar atau kemajuan menunjukan
penurunan kehamilan pertumbuhan
berat badan yang sesuai
selama dengan usia
kehamilan kehamilan. Klien
memiliki
kenaikan berat
badan yang ade
kuat
 Glukosa  pantau kadar  kadar glukosa,
 Asam amino gllukosa, Asam Asam amino,
 Hematokrit amino, Hematokrit,
 hemoglobin Hematokrit, hemoglobin tetap
hemoglobin dalam batas
normal
 pantau hasil  Janin
ultrasound menunjukan
apakah ada pertumbuhan
kemungkinan yang sesuai
retardasi dengan usia
pertumbuhan kehamilan
janin
 Denyut 2. Risiko  Catat tonus  Tonus jantung
jantung dan cedera pada jantung janin janin dalam batas
reaktivitas janin yang untuk memantau normal
berhubunga kemajuan
n dengan kehamilan
efek  Berikan
meroko konseling
mengenai tanda  Klien
dan gejala aborsi menguraikan
 Perdarahan spontan, tanda dan gejala
pervaginam persalinan aborsi spontan,
dan preterm, pecah persalinan
pembesaran ketuban dini, preterm, pecah
cairan solusia plasenta, ketuban dini,
plasenta previa solusia plasenta,
untuk plasenta previa.
meningkatkan
pengetahuan
dasar
 Adanya  Berikan petunjuk
kontraksi pada klien
uterus yang mengenai cara
prematur menghitung  Klien
gerakan gerakan janin, menghitung
janin cara palpasi dan gerakan janin,
menghitung melakukan
kontraksi uterus , palpasi dan
menentukan menghitung
perembesan waktu kontraksi
ketuban dan mengamati
perdarahan apakah ada
pervaginam, perembesan
mengetahui ketuban atau
kapan perdarahan
menghubungi pervaginam dan
dokter untuk menghubungi
meningkatkan dokter jika perlu
prilaku perawatan
diri
 Riwayat 3. Kurang  Berikan  Klien
gaya hidup pengetahua konseling menyatakan
yang n tentang mengenai keuntungan
lengkap bahaya keuntungan bagi berhenti
 Analisa merokok janin dan bayi merokok bagi
perilaku bagi janin dengan berhenti janin dan bayi
merokok, dan bayi merokok(termaks
dukungan uk pengaruh asap
sosial rokok) untuk
(termaksuk meningkatkan
suami, pengetahuan
keluarga dasar
dan teman –  Berikan petunjuk
teman ) mengenai efek
merokok pada
kesehatan untuk
meningkatkan
pengetahuan  Klien
dasar menyebutkan
 Rujuk keprogram efek merokok
berhenti merokok pada kesehatan
untuk
mendukung
berhenti merokok

 Klien menghadiri
program berhenti
merokok atau
 Berikan melaksanakan
konseling perihal rencana berhenti
mengendalikan merokok yang
rasa lapar, telah dibuat
mengatur
istirahat,  Klien mengubah
menghindari perilaku untuk
lingkungan membantu
merokok, berhenti
menyikat gigi merokok
setelah makan,
mengubah
rutinitas
berolahraga
untuk menambah
pengetahuan dan
mendukung
usaha klien
berhenti merokok

B. Penyalahgunaan Alkohol dan Obat-obatan

Pengkajian

Menggunakan sepuluh pertanyaan tentang riwayat minum (ten – question drinkinng history)

Bir  Berapa kali dalam seminggu?


 Berapa gelas setiap minum ?
 Pernah minum lagi ?
Anggur  Berapa kali dalam seminggu?
 Berapa gelas setiap minum ?
 Pernah minum lagi ?
Minuman Keras  Berapa kali dalam seminggu?
 Berapa gelas setiap minum ?
 Pernah minum lagi ?
Apakah kebiasaan minum anda berubah selama setahun belakangan ?
Pengkajian diagnosa Rsional / intervensi Evaluasi

 penampilan fisik 1. kurang  bangun hubungan  klien


dan perilaku pengetahuan slaing percaya mengungkapkan
 riwayat medis mengenai efek yang terapeutik pemakaian obat
 riwayat obstetri penyalahgunaan obat dengan klien dna tetao
 maslah dengan tetap tidak melakukan kontrol
– obatan pada
kontraaksi,perdara menghakimi medis
diri,janin dan bayi untuk mendorong
han bercak, dan
perdarahan penerimaan klien
terakhir  berikan konseling
 kenaikan atau mengenai
penurunan berat keuntungan
badan terhadap janin dan
bayi dan diri  klien
 penyakit menular menyebutkan
seksual sendiri dengan
berhenti keuntungan
 riwayat miinum berhenti
menggunakan menyalahgunaan
obat untuk menyalahgunakan
(TQDH) obat bagi janin,
 obat – obatan yang meningkatkan
dasar pengetahuan bayi dan diri
dipakai sendiri
 pemakaian obat  beri petunjuk
terlarang mengenai efek
penyalahgunaan
 sistem dukungan
obat pada
kesehatan untuk  klien
meningkatkan menyebutkan efek
dasar pengetahuan penyalahgunaan
 rujuk program 12 obat bagi
langkah untuk kesehatan
mendukung
pemulihan
 rujuk keprogram
detoks dan
rehabilitasi rawat
inap dan dan
rawat jalan untuk  klien mnghadiri
menudukung program 12
pemulihan langkah
 dorong
penggunaan
sistem dukungan  Klien
yang positif untuk mnghendaki
membentu klin sendiri
mengikuti
berhenti program detoks
menggunakan atau rehabilitasi
obat-obatan

 klien
menggunakan
sisitem dukungan
yang positif

 riwayat 2. Perubahan peran  rujuk ke program  klien menghadiri


penggunaan obat menjadi orangtua 12 langkah atau dan terus
 keterlibatan dan yang berhubungan kelompok berpartisipasi
keberhasilan dengan rehabilitasi dalam program
program swa- laninya untuk swa-bantu
penyalahgunaan obat
bantu mendukung  sistem pendukung
 hasil penampisan pemulihan terlibat secara
toksikologi  libatkan suami aktif dalam
 dukungan keluarga dan perawatan bayi
pasangan, keluarga teman untuk
dan teman mendukung ibu
dalam hal
keterampilan
menjadi orang tua
 motivasi
kehadiran dikelas
kelahiran anak
 klien mnghadiri
dan perawatan
kelas kelahiran
bayi untuk
anak dan
meningkatkan
perawatan bayi
dasar pengetahuan
 berikan konseling
mengenai prilaku
putus obat pada
bayi dan tindakan  klien mengenali
- kondisi fisikdan kenyamanan yang prilaku putus obat
emosi saat ini harus digunakan pada bayi dan
untuk melakukan
- keterlibatan terhadap meningkatkan tindakan guna
peran pranatal dan pengetahuan dan memberikan rasa
kelas kelahiran anak persiapan ibu nyaman
 bahas keluarnya
obat- obatan
/alkohol melalui
ASI  klien tetap
 berikan petunjuk terbebas dari
mengenai narkoba dan
perawatan bayi alkohol
untuk
- persepsi terhadap meningkatkan  klien memberikan
pengetahuan dasar perawatan
peran menjadi orang
 rujuk ke perawat memadai kepada
tua kesehatan bayi
dirumah untuk
- keinginan memliki
kunjungan lanjut
dan memellihara bayi setelah lahiran  perawat kesehatan
untuk kunjungan dirumah
- pengenalan
lanjutan setelah mendapati bayi
memelihara bayi kelahiran untuk dirawat dengan
memantau baik
kemajuan bayi

-Riwayat 3. Resiko Cedera  rujuk keprogram  klien turut serta


penyalahgunaan obat pada janin yang 12 langkah dalam program
dan alkohol berhubungan dengan swa-bantu
efek penyalahgunaan  catat detak  detak jantung
- keterlibatan dan obat jantung janin janin tetap dalam
keberhasilan program untuk memantau batas normal
swa-bantu kemajuan janin
 Berikan konseling  Klien
- hasil penapisan mengenai tanda menguraikan
toksiologi dan gejala aborsi tanda dan gejala
spontan, aborsi spontan,
- detak jantung janin persalinan persalinan
dan reaktivitas preterm, pecah preterm, pecah
ketuban dini, ketuban dini,
- adanya kontraksi solusia plasenta, solusia plasenta,
uterus preterm plasenta previa plasenta previa.
untuk
- perdarahan meningkatkan
pervaginam atau pengetahuan dasar
rembesan cairan

- aktivitas janin hasil


ultrasound

BAB IV

PENUTUP

1. Kesimpulan

Rokok adalah benda beracun yang memberi efek santai dan sugesti merasa lebih
jantan. Di balik kegunaan atau manfaat rokok yang secuil itu terkandung bahaya yang
sangat besar bagi orang yang merokok maupun orang di sekitar perokok yang bukan
perokok. Asap rokok yang baru mati di asbak mengandung tiga kali lipat bahan pemicu
kanker di udara dan 50 kali mengandung bahan pengiritasi mata dan pernapasan.
Semakin pendek rokok semakin tinggi kadar racun yang siap melayang ke udara. Suatu
tempat yang dipenuhi polusi asap rokok adalah tempat yang lebih berbahaya daripada
polusi di jalanan raya yang macet. Seseorang yang mencoba merokok biasanya akan
ketagihan karena rokok bersifat candu yang sulit dilepaskan dalam kondisi apapun.
Seorang perokok berat akan memilih merokok daripada makan jika uang yang
dimilikinya terbatas

2. Saran

Penulis menyarankan kepada ibu hamil yang ketergantungan merokok untuk


segera menhentikan kebiasaan merokoknya, karena banyak sekali dampak negatif yang
ditimbulkan, bukan hanya bagi ibu tetapi juga bagi janin yang dikandungnya.
DAFTAR PUSTAKA

Carpenitto, I.JBuku Saku Diagnosa Keperawatan Edisi 6, EGC, Jakarta: 1995

Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 3, EGC: 1995

Bobak, Lowdermig, Jensen. Buku Keperawatan Maternitas Edisi 4, EGC, Jakarta:2004

Reeder,sharon J dkk.2014.keperawatan maternitas vol2.jakarta:EGC

http://yonokomputer.com/2014/05/asuhan-keperawatan-ibu-hamil-ketergantungan-merokok/