Anda di halaman 1dari 54

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Hemoroid dikenal di masyarakat sebagai penyakit wasir atau

ambeien merupakan penyakit yang sering dijumpai dan telah ada sejak

jaman dahulu. Namun masih banyak masyarakat yang belum mengerti

bahkan tidak tahu mengenai gejala-gejala yang timbul dari penyakit ini.

Banyak orang awam tidak mengerti daerah anorektal (anus dan rektum)

dan penyakit-penyakit umum yang berhubungan dengan rektum. Anus

merupakan lubang di ujung saluran pencernaan dimana limbah berupa

tinja keluar dari dalam tubuh. Sedangkan rektum merupakan bagian dari

saluran pencernaan di atas anus, dimana tinja disimpan sebelum

dikeluarkan dari tubuh melalui anus. (1)

Menurut data dari badan kesehatan dunia (WHO), angka kejadian

hemoroid terjadi di seluruh Negara, dengan presentasi 54% mengalami

gangguan hemoroid. Berdasarkan data Hemoroid Care Medical Clinic di

Amerika Serikat didapatkan hasil bahwa sebanyak 90% pasien tumor

rektum juga menderita hemoroid yaitu 72.755 pria dan 69.917 wanita,

sedangkan di Indonesia berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan RI

yang diperoleh dari rumah sakit di 33 provinsi terdapat 355 rata-rata kasus

hemoroid, baik hemoroid ekternal maupun internal.(2)

1
2

Belum banyak data mengenai prevalensi hemoroid di Indonesia.

Namun dari penelitian yang telah dilakukan di RSUP H. Adam Malik

Medan, jumlah pasien yang didiagnosis hemoroid pada tahun 2009-2011

berjumlah 166 orang dengan prevalensi 69,17%.(3) Sedangkan, pasien yang

menderita hemoroid di RSUD Dokter Soedarso Pontianak pada tahun

2009-2012 berjumlah 113 orang (5).

Berdasarkan Peraturan Konsil Kedokteran Indonesia Nomor 11

Tahun 2012 tentang Standar Kompetensi Dokter Indonesia, hemoroid

merupakan penyakit dengan kompetensi 4A untuk derajat I dan II,

sedangkan derajat III dan IV adalah 3A. Hemoroid derajat I dan II

merupakan penyakit yang harus tuntas di fasilitas kesehatan (faskes)

primer seperti puskesmas, klinik, dan dokter keluarga. Sedangkan untuk

hemoroid derajat III dan IV dapat dilakukan rujukan ke faskes sekunder

(dokter spesialis) maupun tersier (dokter subspesialis).

Rumah sakit tipe C adalah rumah sakit yang mampu memberikan

pelayanan spesialis terbatas dan merupakan penyedia faskes tingkat dua

(sekunder). Terdapat tujuh rumah sakit tipe C di Padang. Dari tujuh rumah

sakit tersebut, RS Tk. III Reksodiwiryo memiliki jumlah pasien hemoroid

terbanyak.

Berdasarkan data yang didapatkan dari rekam medik RS Tk. III

Reksodiwiryo Padang, jumlah pasien hemoroid untuk rawat inap pada

tahun 2015 sebanyak 84 orang dan rawat jalan sebanyak 213 orang. Pada
3

tahun 2016, jumlah pasien hemoroid dari bulan Januari – Agustus

sebanyak 51 orang rawat inap dan 111 orang rawat jalan.

Namun sekarang ini terjadi perubahan pola hidup manusia.

Perubahan ini meliputi perubahan pola makan yang cenderung lebih

menyukai makanan siap saji yang tinggi lemak, garam dan rendah serat

serta kurangnya aktivitas fisik manusia, terlebih lagi pada usia produktif

(21-30 tahun). Usia produktif adalah usia ketika seseorang masih mampu

bekerja dan menghasilkan sesuatu. Sehingga dalam rentang usia tersebut

seseorang akan cenderung aktif bekerja dan rentan terjadi perubahan pola

hidup seperti yang telah diuraikan di atas. Hal tersebut tentunya juga dapat

memicu terjadinya hemoroid.(4)

Walaupun hemoroid atau “wasir” keadaan ini tidak mengancam

jiwa, namun dapat menimbulkan perasaan yang tidak nyaman. Hemoroid

atau wasir memang menjadi momok bagi sebagian orang yang

menderitanya. Benjolan didalam anus sangat membuat rasa tidak nyaman,

baik untuk posisi duduk maupun berdiri. Apalagi kalau hendak buang hajat

(BAB), seseorang sering meringis kesakitan.(1)

Hemoroid (wasir) hampir sama bentuknya dengan varises, penyakit

yang biasanya terdapat di daerah kaki dikarenakan terlalu lama berdiri.

Hemoroid bukan sekedar pelebaran vena hemoroidalis, tetapi bersifat lebih

kompleks yakni melibatkan beberapa unsur berupa pembuluh darah,

jaringan lunak dan otot di sekitar anorektal (kanalis anus).(1)


4

Operasi biasanya dilakukan pada hemoroid yang parah dan sulit

diatasi dengan obat obatan. Namun biasanya, walau telah dilakukan

operasi, pasien tetap dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang

banyak mengandung serat. Perawatan post operasi diantaranya perawatan

terhadap luka bekas operasi dan juga kebutuhan klien untuk segera

beraktivitas kembali seperti semula.(1)

Terdapat beberapa tipe tindakan nonoperatif untuk hemoroid.

Fotokoagulasi inframerah, diatermi bipolar, dan trapi laser adalah teknik

terbaru yang digunakan untuk melekatkan mukosa ke otot yang

mendasarinya. Injeksi larutan sklerosan juga efektif untuk hemoroid

berukuran kecil dan berdarah. Prosedur ini membantu mencegah prolaps.

Tindakan bedah konservatif hemoroid internal adalah prosedur ligasi pita-

karet. Hemoroid dilihat melalui anosop, dan bagian proksimal di atas gari

mukokutan dipegang dengan alat. Pita karet kecil kemudian diselipkan di

atas hemoroid. Bagian distal jaringan pada pita karet menjadi nekrotik

setelahbeberapa hari dan lepas. Terjadi fibrosis yang mengakibatkan

mukosa anal bawah turun dan melekat pada otot dasar. Meskipun tindakan

ini memuaskan bagi beberapa pasien, namun pasien lain merasakan

tindakan in menyebabkan nyeri dan mengakibatkan hemoroid sekunder

dan infeksi perianal. (1)

Berdasarkan studi pendahuluan jumlah kasus hemoroid diruang

Prabu Siliwangi 3 dari bulan Agustus-Desember 2018 di RSD Gunung Jati

Kota Cirebon sebanyak 25 kasus.


5

Berdasarkan hal tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan

asuhan keperawatan memilih serta menyusun karya tulis ilmiah dengan

judul “ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. E DENGAN POST

OPERASI HEMOROID DI RUANG PRABU SILIWANGI RSD

GUNUNG JATI CIREBON TAHUN 2018.”

1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Bagaimana asuhan

keperawatan pada Pasien dengan post operasi hemoroid di Ruang Prabu

Siliwangi RSD Gunung Jati Cirebon Tahun 2018”

1.3 Tujuan

1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dari penulisan karya tulis ilmiah ini adalah agar

penulis mampu berpikir secara logis dan ilmiah dalam memberikan asuhan

keperawatan pada Pasien dengan gangguan post operasi hemoroid dengan

menggunakan pendekatan asuhan keperawatan yang komprehensif dan

berkesinambungan sesuai dengan standar keperawatan secara professional.

1.3.2 Tujuan Khusus

a) Dapat melaksanakan pengkajian pada Tn.E dengan post operasi

hemoroid di RSD Gunung Jati Cirebon.

b) Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada Tn.E dengan post

operasi hemoroid di RSD Gunung Jati Cirebon


6

c) Mampu membuat rencana tindakan keperawatan berdasarkan prioritas

masalah keperawatan pada Tn.E dengan post operasi hemoroid di RSD

Gunung Jati Cirebon

d) Mampu melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan

rencana intervensi pada Tn.E dengan post operasi hemoroid di RSD

Gunung Jati Cirebon

e) Mampu mengevaluasi hasil tindakan keperawatan yang telah

dilaksanakan pada Tn.E dengan post operasi hemoroid di RSD

Gunung Jati Cirebon

1.4 Ruang Lingkup

1.4.1 Sasaran

Subyek dalam studi kasus ini yaitu Pasien dengan post operasi hemoroid.

1.4.2 Tempat

Studi kasus ini dilakukan di RSD Gunung Jati Kota Cirebon.

1.5 Manfaat

1. Bagi penulis, dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang

asuhan keperawatan pada gangguan post operasi hemoroid serta dapat

mengaplikasikan asuhan keperawatan di lokasi pengkajian.

2. Bagi keperawatan, dapat menambah ilmu pengetahuan asuhan

keperawatan pada gangguan post operasi hemoroid yang sesuai dengan

hasil pengkajian.
7

1.6 Metode Penulisan

Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analitik,

sedangkan teknik pengumpulan data yang digunakan sebagai berikut :

1.6.1 Wawancara

Dengan pembicaraan terarah yang dilakukan untuk memperoleh

data mengenai kasus hemoroid dari keluarga dan tenaga kesehatan lain.

1.6.2 Observasi

Penulis melakukan pengamatan terhadap klien dengan cara

inspeksi untuk memperoleh data yang obyektif tentang masalah hemoroid.

1.6.3 Pemeriksaan Fisik

Penulis mendapatkan data masalah klien dengan menggunakan

metode pemeriksaan fisik mulai dari sistem pencernaan, pernafasan,

penglihatan, pendengaran, cardiovaskuler, endokrin dan perkemihan.

1.6.4 Studi Dokumentasi

Memperoleh data yang didapatkan dari status klien melalui

catatan dokumentasi asuhan keperawatan yang telah dilakukan di RSD

Gunung Jati Kota Cirebon.

1.6.5 Studi Kepustakaan

Pengumpulan data dengan mempelajari beberapa buku dan artikel

guna mendapatkan keterangan dan data dasar yang berhubungan dengan

kasus dan masalah hemoroid.

1.7 Sistematika Penulisan

Sistematika Penulisan terdiri dari 5 BAB yaitu :


8

BAB I : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, rumusan

masalah, tujuan, manfaat, ruang lingkup, sistematika

penulisan, dan metode penulisan

BAB II : Tinjauan pustaka yang terdiri dari konsep medis dan

konsep asuhan keperawatan.

BAB III : Metode penelitian

BAB IV : Tinjauan Kasus yang terdiri dari pengkajian, perumusan

diagnosa, itervensi, implementasi, dan evaluasi

BAB V : Penutup yang berisi kesimpulan dan saran.


9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka

2.1.1 Pengertian Hemoroid

Hemoroid merupakan pelebaran dan inflamasi pembuluh darah vena

di daerah anus yang berasal dari plexus hemoroidalis. Hemoroid adalah

pelebaran vena di dalam plexus hemoroidalis yang tidak merupakan

keadaan patologik. (5)

Hemoroid adalah bagian vena yang berdilatasi dalam kanal anal.

Hemoroid sangat umum terjadi. Pada usia 50-an, 50% individu mengalami

berbagai tipe hemoroid berdasarkan luasnya vena yang terkena. (6)

Hemoroid adalah pelebaran vena di dalam pleksus hemoroidalis

yang tidak merupakan keadaan patologik, hanya apabila hemoroid ini

menyebabkan keluhan atau penyulit, maka diperlukan tindakan. (8)

Berdasarkan pengertian para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa

hemoroid adalah suatu penyakit yang sering juga disebut dengan wasir

dengan ditandai adanya pelebaran dan inflamasi vena di dalam plexus

hemoroidalis. (5)
1
0

2.1.2 Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan

Usus besar atau kolon berbentuk tabung muskular berongga

dengan panjang sekitar 1,5 m (5 kaki) yang terbentang dari sekum hingga

kanalis ani. Diameter usus besar sudah pasti lebih besar dari pada usus

kecil, yaitu sekitar 6,5 cm (2,5 inci), tetapi makin dekat anus diameternya

semakin kecil.(5)

Usus besar dibagi menjadi sekum, kolon, dan rektum. Pada sekum

terdapat katup ileosekal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum.

Sekum menempati sekitar dua atau tiga inci pertama dari usus besar. Katup

ileosekal mengendalikan aliran kimus dari ileum ke dalam sekum dan

mencegah terjadinya aliran balik bahan fekal dari usus besar ke dalam usus

halus. Kolon dibagi lagi menjadi kolon asendens, transversum, desendens

dan sigmoid. Tempat kolon membentuk kelokan tajam pada abdomen

kanan dan kiri atas berturut-turut disebut sebagai fleksura hepatika dan

fleksura lienalis. Kolon sigmoid mulai setinggi krista iliaka dan

membentuk lekukan berbentuk-S. Lekukan bagian bawah membelok ke

kiri sewaktu kolon sigmoid bersatu dengan rektum, dan hal ini merupakan

alasan anatomis mengapa memposisikan penderita ke sisi kiri saat

pemberian enema. (5)

Hampir seluruh usus besar memiliki empat lapisan morfologik

seperti yang ditemukan pada bagian anus lain. Namun demikian, ada

beberapa gambaran yang khas terdapat pada usus besar saja. Lapisan otot

longitudinal usus besar tidak sempurna, tetapi terkumpul dalam tiga pita
1
1

yang disebut sebagai taenia koli. Taenia bersatu pada sigmoid distal,

sehingga rectum mempunyai satu lapisan otot longitudinal yang lengkap.(5)

Panjang taenia lebih pendek dari pada usus, sehingga usus tertarik

dan berkerut membentuk kantong-kantong kecil yang disebut sebagai

haustra. Apendises apiploika adalah kantong-kantong kecil peritoneum

yang berisi lemak dan melekat di sepanjang taenia. Lapisan mukosa usus

besar jauh lebih tebal daripada lapisan mukosa usus halus dan tidak

mengandung vili atau rugae. Kripte Lieberkuhn (kelenjar intestinal)

terletak lebih dalam dan mempunyai lebih banyak sel goblet dibandingkan

dengan usus halus. Usus besar secara klinis dibagi menjadi belahan kiri

dan kanan berdasarkan pada suplai darah yang diterima. Arteria

mesenterika superior mendarahi belahan kanan (sekum, kolon asendens,

dan dua pertiga proksimal kolon transversum), dan arteria mesenterika

inferior mendarahi belahan kiri (sepertiga distal kolon transversum, kolon

desendens, kolon sigmoid, dan bagian proksimal rektum).


Kolon tranversum

Kolon asendens Kolon desendens

Usus buntu
Rektum

Gambar 2.1 Anatomi Usus Halus(6)


1
2

Bagian utama usus besar yang terakhir disebut sebagai rectum dan

membentang dari kolon sigmoid hingga anus (muara ke bagian luar

tubuh). Satu inci terakhir dari rektum disebut sebagai kanalis ani dan

dilindungi oleh otot sfingter ani eksternus dan internus. Panjang rektum

dan kanalis ani adalah sekitar 15 cm (5,9 inci). Suplai darah tambahan ke

rectum berasal dari arteri hemoroidalis media dan inferior yang

dicabangkan dari arteria iliaka interna dan aorta abdominalis. (6)

Gambar 2.2 Anatomi Rektum(6)

Aliran balik vena dari kolon dan rektum superior adalah melalui

vena mesenterika superior, vena mesentrika inferior, dan vena hemoroidalis

superior (bagian dari sistem portal yang mengalirkan darah ke hati). Vena

hemoroidalis media dan inferior mengalirkan darah ke vena iliaka sehingga

merupakan bagian sirkulasi sistemik. Terdapat anastomosis antara vena

hemoroidalis superior, media, dan inferior, sehingga tekanan portal yang

meningkat dapat menyebabkan terjadinya aliran balik ke dalam vena dan

mengakibatkan hemoroid. (6)


1
3

Persarafan usus besar dilakukan oleh sistem saraf otonom dengan

memperkecualikan sfingter eksterna yang berada dalam pengendalian

voluntar. Serabut parasimpatis berjalan melalui saraf vagus ke bagian

tengah kolon transversum, dan saraf pelvikus yang berasal dari daerah

sakral menyuplai bagian distal. Serabut simpatis meninggalkan medula

spinalis melalui saraf splangnikus. Serabut saraf ini bersinaps dalam

ganglia seliaka dan aortikorenalis, kemudian serabut pascaganglionik

menuju kolon. Rangsangan simpatis menghambat sekresi dan kontraksi,

serta merangsang sfingter rektum. Rangsangan parasimpatis mempunyai

efek yang berlawanan.(6)

2.1.3 Fisiologi

Usus besar tidak ikut serta dalam pencernaan atau absorpsi

makanan. Bila isi usus halus mencapai sekum maka semua zat makanan

telah diabsorpsi dan isinya cair. Selama perjalanan didalam kolon isinya

menjadi makin padat karena air diabsorpsi dan ketika rektum dicapai maka

feses bersifat lunak padat. Peristaltik didalam kolon sangat lamban.

Diperlukan waktu kira-kira enam belas sampai dua puluh jam bagi isinya

untuk mencapai fleksura sigmoid. (6)

Fungsi kolon dapat diringkas sebagai berikut:

1. Absorpsi air, garam dan glukosa

2. Sekresi musin oleh kelenjar didalam lapisan dalam


1
4

3. Penyiapan selulosa yang berupa hidrat karbon di dalam tumbuh-

tumbuhan, buah-buahan dan sayuran hijau dan penyiapan sisa protein

yang belum dicernakan oleh kerja bakteri guna ekskresi.

4. Defekasi (pembuangan air besar). Fungsi usus besar menurut Price dan

Wilson (2011) yang semuanya berkaitan dengan proses akhir isi usus.

Fungsi usus besar yang paling penting adalah absorpsi air dan elektrolit,

yang sudah hampir selesai dalam kolon dekstra. Kolon sigmoid

berfungsi sebagai reservoir yang menampung massa feses yang sudah

terdehidrasi hingga berlangsungnya defekasi. (6)

Terdapat dua jenis peristaltik propulsif :

1. Kontraksi lamban dan tidak teratur, berasal dari segmen proksimal dan

bergerak ke depan, menyumbat beberapa haustra;

2. Peristaltik massa, merupakan kontraksi yang melibatkan segmen kolon.

Gerakan peristaltik ini menggerakkan massa feses ke depan, akhirnya

merangsang defekasi. Kejadian ini timbul dua sampai tiga kali sehari

dan dirangsang oleh refleks gastrokolik setelah makan, terutama setelah

makanan yang pertama kali dimakan pada hari itu. (6)

Propulsi feses ke dalam rektum menyebabkan terjadinya distensi

dinding rektum dan merangsang refleks defekasi. Defekasi dikendalikan

oleh sfingter ani eksterna dan interna. (6)

Fingter interna dikendalikan oleh sistem saraf otonom, sedangkan

sfingter eksterna dikendalikan oleh sistem saraf voluntar. Refleks defekasi

terintegrasi pada medula spinalis segmen sakral kedua dan keempat.


1
5

Serabut parasimpatis mencapai rektum melalui saraf splangnikus panggul

dan menyebabkan terjadinya kontraksi rektum dan relaksasi sfingter

interna. Pada waktu rektum yang teregang berkontraksi, otot levator ani

berelaksasi, sehingga menyebabkan sudut dan anulus anorektal

menghilang. Otot sfingter interna dan eksterna berelaksasi pada waktu

anus tertarik ke atas melebihi tinggi massa feses. (6)

Defekasi dipercepat dengan tekanan intraabdomen yang meningkat

akibat kontraksi voluntar otot dada dengan glotis yang tertutup, dan

kontraksi otot abdomen secara terus-menerus (manuver atau peregangan

Valsava). Defekasi dapat dihambat oleh kontraksi voluntar otot sfingter

eksterna dan levator ani. Dinding rektum secara bertahap menjadi relaks,

dan keinginan defekasi menghilang. (6)

2.1.4 Etiologi

Hemoroid disebabkan oleh tekanan yang terlalu banyak pada

dubur, sehingga memaksa darah untuk meregangkan pembuluh darah

hingga mengalami pembengkakan. Biasanya seseorang dimana

orangtuanya mengalami hemoroid, kemungkinan juga ia dapat

mengalaminya juga. Penyebab hemoroid paling umum yaitu berusaha

untuk buang air besar karena sembelit atau feses yang keras, sering

mengalami diare, duduk yang terlalu lama, duduk di toilet untuk waktu

yang lama, waktu persalinan/ melahirkan, tekanan dari janin pada wanita
1
6

hamil, sering angkat beban yang berat, kecenderungan ada riwayat

keluarga yang juga mengalami hemoroid dan obesitas. (6)

Etiologi dari hemoroid dapat dibedakan menjadi dua yaitu:

a. Faktor predisposisi :

1) Herediter atau keturunan, dalam hal ini yang menurun dalah

kelemahan dinding pembuluh darah, dan bukan hemoroidnya.

2) Anatomi, vena di daerah masentrorium tidak mempunyai katup.

Sehingga darah mudah kembali menyebabkan bertambahnya tekanan

di pleksus hemoroidalis.

3) Makanan misalnya, kurang makan-makanan berserat

4) Pekerjaan seperti mengangkat beban terlalu berat

5) Psikis(6)

b. Faktor presipitasi :

Yang termasuk ke dalam faktor ini yaitu faktor mekanis (kelainan

sirkulasi parsial dan peningkatan tekanan intraabdominal) misalnya,

mengedan pada waktu defekasi, fisiologis, radang, konstipasi menahun,

kehamilan, usia tua, diare kronik, pembesaran prostat, fibroid uteri dan

penyakit hati kronis yang disertai hipertensi portal. (6)

2.1.5 Komplikasi

Komplikasi hemoroid yang paling sering adalah perdarahan,

trombosis, dan strangulasi. Trombosis adalah pembekuan darah dalam

hemoroid. Hemoroid strangulasi adalah hemoroid yang prolaps dengan


1
7

suplai darah dihalangi oleh sfingter ani. Namun, beberapa komplikasi

yang dapat dijumpai karena wasir yaitu biasanya mencakup:

1) Anemia, yaitu kehilangan darah kronis dari wasir dapat menyebabkan

anemia, di mana klien tidak memiliki cukup sel darah merah yang

sehat untuk membawa oksigen ke sel-sel tubuh, sehingga kelelahan

dan kelemahan seringkali dialami.

2) Strangulata wasir, yaitu jika suplai darah ke wasir internal terputus,

wasir menyebabkan rasa sakit yang hebat dan menyebabkan kematian

jaringan (gangren).(5)

2.1.6 Pencegahan

Yang paling baik dalam mencegah hemoroid yaitu

mempertahankan tinja tetap lunak sehingga mudah ke luar, dimana hal ini

menurunkan tekanan dan pengedanan dan mengosongkan usus sesegera

mungkin setelah perasaan mau ke belakang timbul. Latihan olahraga

seperti berjalan, dan peningkatan konsumsi serat diet juga membantu

mengurangi konstipasi dan mengedan. (5)

2.1.7 Patofisiologi

Patofisiologi hemoroid adalah akibat dari kongesti vena yang

disebabkan oleh gangguan venous rektum dan vena hemoroidalis.

Hemoroid timbul karena dilatasi, pembengkakan atau inflamasi vena

hemoroidalis yang disebabkan oleh faktor-faktor risiko/ pencetus dan

gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis. Faktor risiko hemoroid


1
8

antara lain faktor mengedan pada buang air besar yang sulit, pola buang air

besar yang salah (lebih banyak memakai jamban duduk, terlalu lama

duduk di jamban sambil membaca, merokok), peningkatan tekanan intra

abdomen karena tumor (tumor usus, tumor abdomen), kehamilan

(disebabkan tekanan janin pada abdomen dan perubahan hormonal), usia

tua, konstipasi kronik, diare kronik atau diare akut yang berlebihan,

hubungan seks peranal, kurang minum air, kurang makan makanan

berserat (sayur dan buah), kurang olahraga/ imobilisasi.Telah diajukan

beberapa faktor etiologi yaitu konstipasi, diare, sering mengejan, kongesti

pelvis pada kehamilan, pembesaran prostat, fibroid uteri, dan tumor

rectum. Penyakit hati kronis yang disertai hipertensi portal sering

mengakibatkan hemoroid, karena vena hemoroidalis superior mengalirkan

darah kedalam sistem portal. Selain itu sistem portal tidak memiliki katup,

sehingga mudah terjadi aliran balik.

Aliran balik vena dari kolon dan rektum superior adalah melalui

vena mesenterika superior, vena mesentrika inferior, dan vena

hemoroidalis superior (bagian dari sistem portal yang mengalirkan darah

ke hati). Vena hemoroidalis media dan inferior mengalirkan darah ke vena

iliaka sehingga merupakan bagian sirkulasi sistemik. Terdapat anastomosis

antara vena hemoroidalis superior, media, dan inferior, sehingga tekanan

portal yang meningkat dapat menyebabkan terjadinya aliran balik ke

dalam vena dan mengakibatkan hemoroid. (5)

2.1.8 Pathways
1
9

Gambar 2.3. Pathways(8)

2.1.9 Manifestasi Klinis

Hemoroid menyebabkan rasa gatal dan nyeri, dan sering

menyebabkan perdarahan berwarna merah terang pada saat defekasi.

Hemoroid eksternal dihubungkan dengan nyeri hebat akibat inflamasi dan


2
0

edema yang disebabkan oleh trombosis. Trombosis adalah pembekuan darah

dalam hemoroid. Ini dapat menimbulkan iskemia pada area tersebut dan

nekrosis. Hemoroid internal tidak selalu menimbulkan nyeri sampai

hemoroid ini membesar dan menimbulkan perdarahan atau prolaps. (5)

Pasien sering mengeluh menderita hemoroid atau “wasir” tanpa ada

hubungannya dengan gejala rectum atau anus yang khusus. Nyeri yang

hebat jarang sekali ada hubungannya dengan hemoroid intern dan hanya

timbul pada hemoroid ekstern yang mengalami thrombosis. Perdarahan

umumnya merupakan tanda pertama hemoroid intern akibat trauma oleh

feses yang keras. Darah yang keluar berwarna merah segar dan tidak

tercampur dengan feses, dapat hanya berupa garis pada feses atau kertas

pembersih sampai pada perdarahan yang terlihat menetes atau mewarnai air

toilet menjadi merah. Walaupun berasal dari vena, darah yang keluar

berwarna merah segar karena kaya zat asam. Perdarahan luas dan intensif di

pleksus hemoroidalis menyebabkan darah di vena tetap merupakan “darah

arteri”. Kadang perdarahan hemoroid yang berulang dapat berakibat

timbulnya anemia berat. Hemoroid yang membesar secara perlahan-lahan

akhirnya dapat menonjol keluar menyebabkan prolaps. (5)

2.1.10 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan medis hemoroid terdiri dari penatalaksanaan non

farmakologis, farmakologis, dan tindakan minimal invasive.

Penatalaksanaan medis hemoroid ditujukan untuk hemoroid interna derajat


2
1

I sampai dengan III atau semua derajat hemoroid yang ada kontraindikasi

operasi atau pasien menolak operasi. Sedangkan penatalaksanaan bedah

ditujukan untuk hemoroid interna derajat IV dan eksterna, atau semua

derajat hemoroid yang tidak respon terhadap pengobatan medis. (5)

a. Penatalaksanaan Medis Non Farmakologis

Penatalaksanaan ini berupa perbaikan pola hidup, perbaikan

pola makan dan minum, perbaiki pola/ cara defekasi. Memperbaiki

defekasi merupakan pengobatan yang selalu harus ada dalam setiap

bentuk dan derajat hemoroid. Perbaikan defekasi disebut bowel

management program (BMP) yang terdiri dari diet, cairan, serat

tambahan, pelicin feses, dan perubahan perilaku buang air. Pada posisi

jongkok ternyata sudut anorektal pada orang menjadi lurus ke bawah

sehingga hanya diperlukan usaha yang lebih ringan untuk mendorong

tinja ke bawah atau keluar rektum. Posisi jongkok ini tidak diperlukan

mengedan lebih banyak karena mengedan dan konstipasi akan

meningkatkan tekanan vena hemoroid. (5)

Gejala hemoroid dan ketidaknyamanan dapat dihilangkan

dengan hygiene personal yang baik dan menghindari mengejan

berlebihan selama defekasi. Diet tinggi serat yang mengandung buah

dan sekam mungkin satu-satunya tindakan yang diperlukan. (5)

b. Penatalaksanaan medis farmakologis


2
2

Obat-obat farmakologis hemoroid dapat dibagi atas empat,

yaitu pertama : memperbaiki defekasi, kedua : meredakan keluhan

subyektif, ketiga : menghentikan perdarahan, dan keempat : menekan

atau mencegah timbulnya keluhan dan gejala. (5)

1) Obat memperbaiki defekasi : ada dua obat yang diikutkan dalam

BMP yaitu suplemen serat (fiber suplement) dan pelicin tinja (stool

softener). Suplemen serat komersial yang banyak dipakai antara

lain psyllium atau isphagula Husk (misal Vegeta, Mulax,

Metamucil, Mucofalk). Obat kedua yaitu obat laksan atau pencahar

antara lain Natrium dioktil sulfosuksinat (Laxadine), Dulcolax,

Microlac dll. Natrium dioctyl sulfosuccinat bekerja sebagai anionic

surfactant, merangsang sekresi mukosa usus halus dan

meningkatkan penetrasi cairan kedalam tinja. Dosis 300 mg/hari. (5)

2) Obat simtomatik : bertujuan untuk menghilangkan atau

mengurangi keluhan rasa gatal, nyeri, atau karena kerusakan kulit

di daerah anus. Obat pengurang keluhan seringkali dicampur

pelumas (lubricant), vasokonstriktor, dan antiseptic lemah. Sediaan

penenang keluhan yang ada di pasar dalam bentuk ointment atau

suppositoria antara lain Anusol, Boraginol N/S, dan Faktu. Bila

perlu dapat digunakan kortikosteroid untuk mengurangi radang

daerah hemoroid atau anus antara lain Ultraproct, Anusol HC,

Scheriproct. Sediaan bentuk suppositoria digunakan untuk


2
3

hemoroid interna, sedangkan sediaan ointment/krem digunakan

untuk hemoroid eksterna. (5)

3) Obat menghentikan perdarahan : perdarahan menandakan adanya

luka pada dinding anus/ pecahnya vena hemoroid yang dindingnya

tipis. Yang digunakan untuk pengobatan hemoroid yaitu campuran

diosmin (90%) dan hesperidin (10%) dalam bentuk Micronized,

dengan nama dagang “Ardium” atau “Datlon”. Psyllium, Citrus

bioflavanoida yang berasal dari jeruk lemon dan paprika berfungsi

memperbaiki permeabilitas dinding pembuluh darah. (5)

4) Obat penyembuh dan pencegah serangan hemoroid : pengobatan

dengan Ardium 500 mg menghasilkan penyembuhan keluhan dan

gejala yang lebih cepat pada hemoroid akut bila dibandingkan

plasebo. Pemberian Micronized flavonoid (Diosmin dan

Hesperidin) (Ardium) 2 tablet per hari selama 8 minggu pada

pasien hemoroid kronik. Penelitian ini l hasil penurunan derajat

hemoroid pada akhir pengobatan dibanding sebelum pengobatan

secara bermakna. Perdarahan juga makin berkurang pada akhir

pengobatan dibanding awal pengobatan. (5)

c. Penatalaksanaan Minimal Invasive

Penatalaksanaan hemoroid ini dilakukan bila pengobatan non

farmakologis, farmakologis tidak berhasil. Penatalaksanaan ini antara


2
4

lain tindakan skleroterapi hemoroid, ligasi hemoroid, pengobatan

hemoroid dengan terapi laser. (5)

Tindakan bedah konservatif hemoroid internal adalah prosedur

ligasi pita-karet. Hemoroid dilihat melalui anosop, dan bagian

proksimal diatas garis mukokutan dipegang dengan alat. Pita karet

kecil kemudian diselipkan diatas hemoroid. Bagian distal jaringan pada

pita karet menjadi nekrotik setelah beberapa hari dan lepas. Terjadi

fibrosis yang mengakibatkan mukosa anal bawah turun dan melekat

pada otot dasar. Meskipun tindakan ini memuaskan bagi beberapa

pasien, namun pasien lain merasakan tindakan ini menyebabkan nyeri

dan mengakibatkan hemoroid sekunder dan infeksi perianal.

Hemoroidektomi kriosirurgi adalah metode untuk mengangkat

hemoroid dengan cara membekukan jaringan hemoroid selama waktu

tertentu selama timbul nekrosis. Meskipun hal ini relative kurang

menimbulkan nyeri, prosedur ini tidak digunakan dengan luas karena

menyebabkan keluarnya rabas yang berbau sangat menyengat dan luka

yang ditimbulkan lama sembuhnya. Laser Nd:YAG telah digunakan

saat ini dalam mengeksisi hemoroid, terutama hemoroid eksternal.

Tindakan ini cepat dan kurang menimbulkan nyeri. Hemoragi dan

abses jarang menjadi komplikasi pada periode pasca operatif. (5)

d. Penatalaksanaan bedah

Hemoroidektomi atau eksisi bedah dapat dilakukan untuk

mengangkat semua jaringan sisa yang terlibat dalam proses ini. Selama
2
5

pembedahan, sfingter rektal biasanya didilatasi secara digital dan

hemoroid diangkat dengan klem dan kauter atau dengan ligasi dan

kemudian dieksisi. Setelah prosedur operatif selesai, selang kecil

dimasukkan melalui sfingter untuk memungkinkan keluarnya flatus

dan darah. Penempatan Gelfoan atau kassa oxygel dapat diberikan

diatas luka anal. (5)

Teknik operasi Whitehead dilakukan dengan mengupas seluruh

hemoroidales interna, membebaskan mukosa dari submukosa, dan

melakukan reseksi. Lalu usahakan kontinuitas mukosa kembali.

Sedang pada teknik operasi Langenbeck, vena-vena hemoroidales

interna dijepit radier dengan klem. Lakukan jahitan jelujur dibawah

klem dengan chromic gut no. 2/0, eksisi jaringan diatas klem. Sesudah

itu klem dilepas dan jepitan jelujur dibawah klem diikat. (5)

2.2 Tinjauan Teori Manajemen Keperawatan

Manajemen Asuhan keperawatan adalah metode dimana suatu

konsep diterapkan dalam praktek keperawatan. Hal ini biasanya disebut

sebagai suatu pendekatan problem solving yang memerlukan ilmu teknik

dan keterampilan interversional dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan


2
6

klien.(9)

2.2.1 Pengkajian

Pengkajian adalah langkah pertama dari proses keperawatan

melalui kegiatan pengumpulan data atau perolehan data yang akurat dapat

pasien guna mengetahui berbagai permasalahan yang ada. (10)

Adapun pengkajian hemoroid yaitu :

1. Pengkajian yang dilakukan pada pola persepsi kesehatan dan

pemeliharaan kesehatan adalah kebiasaan olahraga pada pasien,

kemudian diit rendah serat, selain itu juga perlu dikaji mengenai

kebiasaan klien tentang minum kurang dari 2.000 cc/hari. Hal lain

yang perlu dikaji adalah mengenai riwayat kesehatan klien tentang

penyakit sirorcis hepatis.

2. Pengkajian mengenai pola nutrisi metabolik pada klien adalah

mengenai berat badan klien apakah mengalami obesitas atau tidak.

Selain itu juga perlu dikaji apakah klien mengalami anemia atau tidak.

Pengkajian mengenai diit rendah serat (kurang makan sayur dan buah)

juga penting untuk dikaji. Kebiasaan minum air putih kurang dari

2.000 cc/hari.

3. Pengkajian pola eliminasi pada klien adalah mengenai kondisi klien

apakah sering mengalami konstipasi atau tidak. Keluhan mengenai

nyeri waktu defekasi, duduk, dan saat berjalan. Keluhan lain mengenai

keluar darah segar dari anus. Tanyakan pula mengenai jumlah dan

warna darah yang keluar. Kebiasaan mengejan hebat waktu defekasi,


2
7

konsistensi feces, ada darah/nanah. Prolap varices pada anus gatal atau

tidak.

4. Pengkajian pola aktivitas dan latihan pada klien mengenai kurangnya

aktivitas dan kurangnya olahraga pada klien. Pekerjaan dengan kondisi

banyak duduk atau berdiri, selain itu juga perlu dikaji mengenai

kebiasaan mengangkat barang-barang berat.

5. Pengkajian pola persepsi kognitif yang perlu dikaji adalah keluhan

nyeri atau gatal pada anus.

6. Pengkajian pola tidur dan istirahat adalah apakah klien mengalami

gangguan pola tidur karena nyeri atau tidak.

7. Pengkajian pola reproduksi seksual yang perlu dikaji adalah riwayat

persalinan dan kehamilan.

8. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap serat. Koping yang

digunakan dan alternatif pemecahan masalah.(11)

2.2.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan merupakan keputusan klinis mengenai

seseorang, keluarga atau masyarakat sebagai akibat dari masalah

kesehatan atau proses kehidupan yang aktual atau potensial.(10)


2
8

Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinik tentang respon

individu. Keluarga dan masyarakat tentang masalah kesehatan aktual atau

potensial. Sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan untuk mencapai

tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat. Semua

diagnosa keperawatan harus didukung oleh data. Dimana menurut Nanda

diartikan sebagai defensial arakteristik definisi karakteristik tersebut

dinamakan tanda dan gejala suatu yang dapat diobservasi dan gejala sesuai

yang dirasakan oleh klien.(9)

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien

hemoroid pre dan post operasi hemoroidektomi :

1. Cemas berhubungan dengan krisis situasi akibat rencana pembedahan.


2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan interupsi mekanis pada

kulit atau jaringan anal.


3. Resiko perdarahan berhubungan dengan trauma jaringan sekunder

pada luka di anus yang masih baru.


4. Nyeri akut berhubungan dengan iritasi, tekanan dan sensitivitas pada

area rektal/ anal sekunder akibat penyakit anorektal, trauma jaringan

dan reflek spasme otot spingter ani sekunder akibat operasi.


5. Resiko infeksi berhubungan dengan pembedahan, adanya saluran

invasive.
6. Resiko konstipasi berhubungan dengan nyeri saat defeksi.

2.2.3 Intervensi Keperawatan

Perencanaan adalah proses penyusunan berbagai intervensi

keperawatan yang dibutuhkan untuk mencegah, menghilangkan atau


2
9

mengurangi masalah pasien.(10) Perencanaan keperawatan pada pasien

dengan hemoroid adalah :

1. Cemas berhubungan dengan krisis situasi akibat rencana pembedahan.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan cemas

berkurang.

Kriteria hasil : Menunjukkan perasaan dan mengidentifikasi cara

yang sehat dalam berhadapan dengan mereka.

Tampil santai, dapat beristirahat/ tidur cukup

melaporkan penurunan rasa takut dan cemas yang

berkurang ke tingkat yang dapat diatasi.

Rencana tindakan :

a) Identifikasi tingkat rasa takut yang mengharuskan dilakukannya

penundaan prosedur pembedahan

Rasional : rasa takut yang berlebihan atau terus-menerus akan

mengakibatkan reaksi stress yang berlebihan

b) Validasi sumber rasa takut. Sediakan informasi yang akurat dan

faktual.

Rasional : mengidentifikasi rasa takut yang spesifik akan

membantu pasien untuk menghadapinya secara realistis.

c) Catat ekspresi yang berbahaya/ perasaan tidak tertolong, pre

okupasi dengan antisipasi perubahan/ kehilangan, perasaan

tercekik.
3
0

Rasional : pasien mungkin telah berduka terhadap kehilangan yang

ditunjukkan dengan antisipasi prosedur pembedahan/ diagnosa/

prognosa penyakit.

d) Cegah pemajanan tubuh yang tidak diperlukan selama pemindahan

ataupun pada ruang operasi.

Rasional : pasien akan memperhatikan masalah kehilangan harga

diri dan ketidakmampuan untuk melatih kontrol.

e) Berikan petunjuk/ penjelasan yang sederhana pada pasien

yangtenang. Tinjau lingkungan sesuai kebutuhan.

Rasional : ketidakseimbangan dari proses pemikiran akan

membuat pasien menemui kesulitan untuk memahami petunjuk-

petunjuk yang panjang dan berbelit-belit.

f) Instruksikan pasien untuk menggunakan tekhnik relaksasi.

Rasional : mengurangi perasaan tegang dan rasa cemas.

g) Berikan obat sesuai indikasi

Rasional : dapat digunakan untuk menurunkan ansietas.

2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan interupsi mekanis pada

kulit atau jaringan anal.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan integritas kulit

membaik.

Kriteria hasil :

a) Mencapai penyembuhan luka.


3
1

b) Mendemonstrasikan tingkah laku/ teknik untuk meningkatkan

kesembuhan dan mencegah komplikasi.

Rencana tindakan :

a) Beri penguatan pada balutan sesuai indikasi dengan teknik aseptik

yang ketat.

Rasional : lindungi luka dari kontaminasi, mencegah akumulasi

cairan yang dapat menyebabkan eksoriasi.

b) Periksa luka secara teratur, catat karakteristik dan integritas kulit.

Rasional : pengenalan akan adanya kegagalan proses

penyembuhan luka/ berkembangnya komplikasi secara dini dapat

mencegah terjadinya kondisi yang lebih serius.

c) Kaji jumlah dan karakteristik cairan luka.

Rasional : menurunnya cairan, menandakan adanya evolusi dan

proses penyembuhan.

d) Ingatkan pasien untuk tidak menyentuh daerah luka.

Rasional : mencegah kontaminasi luka.

e) Irigasi luka dengan debridement sesuai kebutuhan.

Rasional : membuang luka eksudat untuk meningkatkan

penyembuhan.

3. Resiko perdarahan berhubungan dengan trauma jaringan sekunder

pada luka di anus yang masih baru.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien tidak

mengalami perdarahan.
3
2

Kriteria hasil : Nilai Ht dan Hb berada dalam batas normal, pasien

tidak mengalami perdarahan, tanda-tanda vital berada dalam batas

normal : tekanan darah 120 mmHg, nadi : 80-100x/ menit, pernapasan:

14 – 25 x/ mnt, suhu: 36 - 370C ± 0,50C

Rencana tindakan :

a) Kaji pasien untuk menemukan bukti-bukti perdarahan atau

hemoragi.

Rasional : Untuk mengetahui tingkat keparahan perdarahan pada

pasien sehingga dapat menentukan intervensi selanjutnya.

b) Monitor tanda vital

Rasional : Untuk mengetahui keadaan vital pasien saat terjadi

perdarahan.

c) Pantau hasil lab berhubungan dengan perdarahan.

Rasional : Banyak komponen darah yang menurun pada hasil lab

dapat membantu menentukan intervensi selanjutnya.

d) Siapkan pasien secara fisik dan psikologis untuk menjalani bentuk

terapi lain jika diperlukan.

Rasional : Keadaan fisik dan psikologis yang baik akan

mendukung terapi yang diberikan pada pasien sehingga mampu

memberikan hasil yang maksimal.

e) Awasi jika terjadi anemia

Rasional : Untuk menentukan intervensi selanjutnya.


3
3

f) Kolaborasi dengan dokter mengenai masalah yang terjadi dengan

perdarahan : pemberian transfusi, medikasi

Rasional : mencegah terjadinya komplikasi dari perdarahan yang

terjadi dan untuk menghentikan perdarahan.

4. Nyeri akut berhubungan dengan iritasi, tekanan dan sensitivitas pada

area rektal/ anal sekunder akibat penyakit anorektal, trauma jaringan

dan reflek spasme otot spingter ani sekunder akibat operasi.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri berkurang.

Kriteria hasil :

a) Menyatakan bahwa rasa sakit telah terkontrol/ dihilangkan.

b) Feses lembek, tidak nyeri saat BAB.

c) Tampak rileks, dapat istirahat tidur.

d) Ikut serta dalam aktivitas sesuai kebutuhan.

Rencana tindakan :

a) Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0-10)

Rasional : Mengetahui perkembangan hasil prosedur.

b) Bantu pasien untuk tidur dengan posisi yang nyaman : tidur miring

Rasional : posisi tidur miring tidak menekan bagian anal yang

mengalami peregangan otot untuk meningkatkan rasa nyaman

c) Gunakan ganjalan pengapung dibawah bokong saat duduk

Rasional : untuk meningkatkan mobilisasi tanpa menambah rasa

nyeri.
3
4

d) Gunakan pemanasan basah setelah 12 jam pertama : kompres

rectal hangat atau sit bath dilakukan 3-4x/ hari.

Rasional : meningkatkan perfusi jaringan dan perbaikan odema dan

meningkatkan penyembuhan (pendekatan perineal).

e) Dorong penggunaan teknik relaksasi : latihan nafas dalam,

visualisasi, pedoman, imajinasi.

Rasional : menurunkan ketegangan otot, memfokuskan kembali

perhatian dan meningkatkan kemampuan koping.

f) Beri obat-obatan analgetik seperti diresepkan 24 jam pertama.

Rasional : memberi kenyamanan, mengurangi rasa sakit.

5. Resiko infeksi berhubungan dengan pembedahan, adanya saluran

invasive.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien tidak

mengalami infeksi.

Kriteria hasil :

a) Memperlihatkan pengetahuan tentang faktor resiko yang berkaitan

dengan infeksi dan melakukan tindakan pencegahan yang tepat

untuk mencegah infeksi.

b) Bebas dari proses infeksi nosokomial selama perawatan di rumah

sakit.
3
5

Rencana tindakan :

a) Kaji status nutrisi, kondisi penyakit yang mendasari.

Rasional : mengidentifikasi individu terhadap infeksi nosokomial

b) Cuci tangan dengan cermat

Rasional : kurangi organisme yang masuk ke dalam individu

c) Rawat luka dengan teknik aseptik/ antiseptik

Rasional : kurangi organisme yang masuk ke dalam individu

d) Batasi pengunjung

Rasional : melindungi individu yang mengalami defisit imun dan

infeksi.

e) Batasi alat-alat invasive untuk benar-benar perlu saja

Rasional : melindungi individu yang mengalami defisit imun dan

infeksi.

f) Dorong dan pertahankan masukan TKTP

Rasional : kurangi kerentanan individu terhadap infeksi

g) Beri therapy antibiotik rasional sesuai program dokter

Rasional : mencegah segera terhadap infeksi

h) Observasi terhadap manifestasi klinis infeksi (demam, drainase,

purulen)

Rasional : deteksi dini proses infeksi.

6. Resiko konstipasi berhubungan dengan nyeri saat defeksi.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien bisa BAB 1x

sehari dengan konsistensi lembek.


3
6

Kriteria hasil, individu akan :

a) Menggambarkan program defekasi terapeutik

b) Melaporkan atau menunjukkan eliminasi yang membaik (lunak,

namun tidak berdarah defekasi lebih 3x dalam seminggu)

c) Menjelaskan rasional intervensi

Rencana tindakan :

a) Ajarkan pasien/ keluarga tentang pentingnya segera berespon

terhadap perasaan defekasi.

Rasional : dengan distensi kronik feses akan lebih keras dalam

rectum.

b) Rekomendasikan perubahan diit untuk meningkatkan bulk (tinggi

serat 1x sehari) dan cairan ± 8-10 gelas/ hari.

Rasional : meningkatkan penyerapan cairan dalam usus sehingga

feses lembek.

c) Anjurkan mencoba supositoria daripada oral dalam 1 jam setelah

sarapan.

Rasional : meningkatkan reflek gastro kolik bila lambung kosong

d) Tingkatkan tingkat aktivitas secara adekuat

Rasional : latihan yang tidak adekuat merupakan faktor utama

dalam perubahan konsistensi feses.

e) Hindari sarapan yang mengandung asam lemak

Rasional : memperlambat rangsangan reflek dan memperlambat

pencernaan.
3
7

f) Tingkatkan penggunaan obat konstipasi 2x sehari bila diperlukan.

Rasional : Melancarkan Buang Air Besar.(10)

2.2.4 Implementasi

Implementasi dalam discharge planning adalah pelaksanaan

rencana pengajaran referal. Seluruh pengajaran yang diberikan harus

didokumentasikan pada catatan perawat dan ringkasan pulang (discharge

summary ). Intruksi tertulis diberikan kepada pasien. Demontrasi ulang

harus memuaskan, pasien dan pemberi perawatan harus memiliki

keterbukaan dan melakukannya dengan alat yang digunakan dirumah.(10)

2.2.5 Evaluasi

Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematis

dan terencaan tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah

ditetapkan, dilakukan dengan cara bersinambungan dengan melibatkan

klien, keluarga, dan tenaga kesehatan lainnya. Komponen catatan

perkembangan, antara lain sebagai berikut :

1. Kartu SOAP(data subjektif, data objektif, analisis/assessment, dan

perencanaan/plan) dapat dipakai untuk mendokumentasikan

evaluasi dan pengkajian ulang.

2. Kartu SOAPIER sesuai sebagai catatan yang ringkas mengenai

penilaian diagnosis keperawatan dan penyelesaiannya. SOAPIER

merupakan komponen utama dalam catatan perkembangan yang

terdiri atas:
3
8

1) S (Subjektif) : data subjektif yang diambil dari keluhan klien,

kecuali pada klien yang afasia.

2) O (Objektif) : data objektif yang diperoleh dari hasil observasi

perawat, misalnya tanda-tanda akibat penyimpanan fungsi fisik,

tindakan keperawatan, atau akibat pengobatan.

3) A (Analisis/assessment) : masalah dan diagnosis keperawatan

klien yang dianalisis/dikaji dari data subjektif dan data objektif.

Karena status klien selalu berubah yang mengakibatkan

informasi/data perlu pembaharuan, proses analisis/assessment

bersifat diinamis. Oleh karena itu sering memerlukan

pengkajian ulang untuk menentukan perubahan diagnosis,

rencana, dan tindakan.

4) P (Perencanaan/planning) : perencanaan kembali tentang

pengembangan tindakan keperawatan, baik yang sekarang

maupun yang akan datang (hasil modifikasi rencana

keperawatan) dengan tujuan memperbaiki keadaan kesehatan

klien. Proses ini berdasarkan kriteria tujaun yang spesifik dan

periode yang telah ditentukan.

5) I (Intervensi) : tindakan keperawatan yang digunakan untuk

memecahkan atau menghilangkan masalah klien. Karena status

klien selalu berubah, intervensi harus dimodifikasi atau diubah

sesuai rencana yang telah ditetapkan.


3
9

6) E (Evaluasi) : penilaian tindakan yang diberikan pada klien dan

analisis respons klien terhadapintervensi yang berfokus pada

kriteria evaluasi tidak tercapai, harus dicari alternatif

intervensiyang memungkinkan kriteria tujuan tercapai.

7) R (Revisi) : tindakan revisi/modifikasi proses keperawatan

terutama diagnosis dan tujuan jika ada indikasi perubahan

intervensi atau pengobatan klien. Revisi proses asuhan

keperawatan ini untuk mencapai tujuan yang diharapkan dalam

kerangka waktu yang telah ditetapkan.(12)


4
0

BAB III

TINJAUAN KASUS

3.1 Pengkajian

Pengkajian fokus keperawatan yang perlu diperhatikan pada

penderita hemoroid pre dan post hemoroidektomi ada berbagai macam,

meliputi:

a. Demografi

Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dimana

seorang perawat mulai mengumpulkan informasi tentang keluarga

yang dibinanya. Hemoroid sangat sering dijumpai dan terjadi pada

sekitar 35% penduduk yang berusia lebih dari 25 tahun. Laki-laki

maupun perempuan bisa mengalami hemoroid. Karena faktor


26
pekerjaan seperti angkat berat, mengejan pada saat defekasi, pola

makan yang salah bisa mengakibatkan feses menjadi keras dan

terjadinya hemoroid, kehamilan.

b. Riwayat penyakit dahulu

Riwayat penyakit diare kronik, konstipasi kronik, kehamilan,

hipertensi portal, pembesaran prostat, fibroid uteri, dan tumor rektum.


(11)

c. Riwayat penyakit sekarang


4
1

Merupakan kronologis dari penyakit yang diderita saat ini

mulai awal hingga di bawa ke RS secara lengkap dengan analisa P, Q,

R, S, T.

1) P : Provocative or Palliative, yaitu meliputi penyebab timbulnya

keluhan atau gejala, hal yang memperberat dan mengurangi

keluhan, yang dilakukan pada saat gejala mulai dirasakan dan

keluhan psikologis yang dirasakan.

2) Q : Quality or Quantity, yaitu bagaimana gambaran sifat keluhan

yang dirasakan, dilihat, dan seberapa sering merasakan keluhan

tersebut

3) R : Region or Radiation, yaitu dimana lokasi atau area yang

dikeluhkan dan bagaimana penjalaran keluhannya.

4) S : Skala or Severity, yaitu bagaimana skala yang dirasakan jika

keluhan kambuh skala 1 – 10.

5) T : Timing and Treatment, yaitu kapan keluhan mulai dirasakan

dan keluhan terjadi mendadak atau bertahap dan seberapa lama

keluhan berlangsung ketika kambuh. (11)

d. Pengkajian pasien hemoroid dijelaskan dalam pola fungsional Gordon,

meliputi :

1) Pola persepsi kesehatan dan management kesehatan

Konsumsi makanan rendah serat, pola BAB yang salah (sering

mengedan saat BAB), riwayat diet, penggunaan laksatif, kurang


4
2

olahraga atau imobilisasi, kebiasaan bekerja contoh : angkat berat,

duduk atau berdiri terlalu lama.

2) Pola nutrisi dan metabolik

Mual, muntah, anoreksia, penurunan berat badan, membran

mukosa kering, kadar hemoglobin turun.

3) Pola eliminasi

Pola eliminasi feses : konstipasi, diare kronik dan mengejan saat

BAB.

4) Pola aktivitas dan latihan

Kurang olahraga atau imobilisasi, Kelemahan umum, keterbatasan

beraktivitas karena nyeri pada anus sebelum dan sesudah operasi.

5) Pola istirahat dan tidur

Gangguan tidur (insomnia/ karena nyeri pada anus sebelum dan

sesudah operasi).

6) Pola persepsi sensori dan kognitif

Pengkajian kognitif pada pasien hemoroid pre dan post

hemoroidektomi yaitu rasa gatal, rasa terbakar dan nyeri, sering

menyebabkan perdarahan berwarna merah terang pada saat

defekasi dan adanya pus.

7) Pola hubungan dengan orang lain

Kesulitan menentukan kondisi, misal tak mampu bekerja,

mempertahankan fungsi peran biasanya dalam bekerja.

8) Pola reproduksi dan seksual


4
3

Penurunan libido.

9) Pola persepsi dan konsep diri

Pasien biasanya merasa malu dengan keadaannya, rendah diri,

ansietas, peningkatan ketegangan, takut, cemas, trauma jaringan,

masalah tentang pekerjaan.

e. Pemeriksaan fisik

1) Keluhan umum : malaise, lemah, tampak pucat.

2) Tingkat kesadaran : komposmentis sampai koma.

3) Pengukuran antropometri : berat badan menurun.

4) Tanda vital : tekanan darah meningkat, suhu meningkat, takhikardi,

hipotensi.

5) Abdomen : nyeri pada abdomen berhubungan dengan saat

defekasi.

6) Kulit : Turgor kulit menurun, pucat

7) Anus : Pembesaran pembuluh darah balik (vena) pada anus,

terdapat benjolan pada anus, nyeri pada anus, perdarahan.

f. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan penunjang pada penderita hemoroid yaitu :

1) Colok dubur, apabila hemoroid mengalami prolaps, lapisan epitel

penutup bagian yang menonjol ke luar ini mengeluarkan mucus

yang dapat dilihat apabila penderita diminta mengedan. Pada

pemeriksaan colok dubur hemoroid intern tidak dapat diraba sebab

tekanan vena didalamnya tidak cukup tinggi, dan biasanya tidak


4
4

nyeri. Colok dubur diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan

karsinoma rectum.

2) Anoskop, diperlukan untuk melihat hemoroid intern yang tidak

menonjol ke luar. Anoskop dimasukkan dan di putar untuk

mengamati keempat kuadran. Hemoroid intern terlihat sebagai

stuktur vascular yang menonjol ke dalam lumen. Apabila penderita

diminta mengedan sedikit, ukuran hemoroid akan membesar dan

penonjolan atau prolaps akan lebih nyata.

3) Proktosigmoidoskopi, perlu dikerjakan untuk memastikan bahwa

keluhan bukan disebabkan oleh proses radang atau proses

keganasan ditingkat yang lebih tinggi, karena hemoroid merupakan

keadaan fisiologik saja atau tanda yang menyertai. Feses harus

diperiksa terhadap adanya darah samar. (11)

3.2 Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien

hemoroid pre dan post operasi: (11)

a. Cemas berhubungan dengan krisis situasi akibat rencana pembedahan.

b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan interupsi mekanis pada

kulit atau jaringan anal.

c. Resiko perdarahan berhubungan dengan trauma jaringan sekunder pada

luka di anus yang masih baru.


4
5

d. Nyeri akut berhubungan dengan iritasi, tekanan dan sensitivitas pada

area rektal/ anal sekunder akibat penyakit anorektal, trauma jaringan

dan reflek spasme otot spingter ani sekunder akibat operasi.

e. Resiko infeksi berhubungan dengan pembedahan, adanya saluran

invasive.

f. Resiko konstipasi berhubungan dengan nyeri saat defeksi.

3.3 Intervensi Keperawatan

Fokus intervensi pada pasien pre dan post operasi hemoroid:

a. Cemas berhubungan dengan krisis situasi sekunder akibat rencana

pembedahan.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan cemas

berkurang.

Kriteria hasil : menunjukkan perasaan dan mengidentifikasi cara yang

sehat dalam berhadapan dengan mereka. Tampil santai,

dapat beristirahat/ tidur cukup melaporkan penurunan

rasa takut dan cemas yang berkurang ke tingkat yang

dapat diatasi.

Rencana tindakan :

1) Identifikasi tingkat rasa takut yang mengharuskan dilakukannya

penundaan prosedur pembedahan

Rasional : rasa takut yang berlebihan atau terus-menerus akan

mengakibatkan reaksi stress yang berlebihan.


4
6

2) Validasi sumber rasa takut. Sediakan informasi yang akurat dan

faktual.

Rasional : mengidentifikasi rasa takut yang spesifik akan membantu

pasien untuk menghadapinya secara realistis.

3) Catat ekspresi yang berbahaya/ perasaan tidak tertolong, pre okupasi

dengan antisipasi perubahan/ kehilangan, perasaan tercekik.

Rasional : pasien mungkin telah berduka terhadap kehilangan yang

ditunjukkan dengan antisipasi prosedur pembedahan/ diagnosa/

prognosa penyakit.

4) Cegah pemajanan tubuh yang tidak diperlukan selama pemindahan

ataupun pada ruang operasi.

Rasional : pasien akan memperhatikan masalah kehilangan harga diri

dan ketidakmampuan untuk melatih kontrol.

5) Berikan petunjuk/ penjelasan yang sederhana pada pasien yang

tenang. Tinjau lingkungan sesuai kebutuhan.

Rasional : ketidakseimbangan dari proses pemikiran akan membuat

pasien menemui kesulitan untuk memahami petunjuk-petunjuk yang

panjang dan berbelit-belit.

6) Instruksikan pasien untuk menggunakan tekhnik relaksasi.

Rasional : mengurangi perasaan tegang dan rasa cemas.

7) Berikan obat sesuai indikasi

Rasional : dapat digunakan untuk menurunkan ansietas.


4
7

b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan interupsi mekanis pada

kulit/ jaringan anal.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan integritas kulit

membaik.

Kriteria hasil :

a) Mencapai penyembuhan luka.

b) Mendemonstrasikan tingkah laku/ teknik untuk meningkatkan

kesembuhan dan mencegah komplikasi.

Rencana tindakan :

1) Beri penguatan pada balutan sesuai indikasi dengan teknik aseptik

yang ketat.

Rasional : lindungi luka dari kontaminasi, mencegah akumulasi cairan

yang dapat menyebabkan eksoriasi.

2) Periksa luka secara teratur, catat karakteristik dan integritas kulit.

Rasional : pengenalan akan adanya kegagalan proses penyembuhan

luka/ berkembangnya komplikasi secara dini dapat mencegah

terjadinya kondisi yang lebih serius.

3) Kaji jumlah dan karakteristik cairan luka.

Rasional : menurunnya cairan, menandakan adanya evolusi dan proses

penyembuhan.

4) Ingatkan pasien untuk tidak menyentuh daerah luka.

Rasional : mencegah kontaminasi luka.

5) Irigasi luka dengan debridement sesuai kebutuhan.


4
8

Rasional : membuang luka eksudat untuk meningkatkan

penyembuhan.

c. Resiko perdarahan berhubungan dengan trauma jaringan sekunder pada

luka di anus yang masih baru.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien tidak

mengalami perdarahan.

Kriteria hasil : Nilai Ht dan Hb berada dalam batas normal, pasien

tidak mengalami perdarahan, tanda-tanda vital berada

dalam batas normal : tekanan darah 120 mmHg, nadi :

80-100x/ menit, pernapasan : 14 – 25 x/ mnt, suhu: 36 -

370C ± 0,50C

Rencana tindakan :

1) Kaji pasien untuk menemukan bukti-bukti perdarahan atau hemoragi.

Rasional : Untuk mengetahui tingkat keparahan perdarahan pada

pasien sehingga dapat menentukan intervensi selanjutnya.

2) Monitor tanda vital

Rasional : Untuk mengetahui keadaan vital pasien saat terjadi

perdarahan.

3) Pantau hasil lab berhubungan dengan perdarahan.

Rasional : Banyak komponen darah yang menurun pada hasil lab

dapat membantu menentukan intervensi selanjutnya.

4) Siapkan pasien secara fisik dan psikologis untuk menjalani bentuk

terapi lain jika diperlukan.


4
9

Rasional : Keadaan fisik dan psikologis yang baik akan mendukung

terapi yang diberikan pada pasien sehingga mampu memberikan hasil

yang maksimal.

5) Awasi jika terjadi anemia

Rasional : Untuk menentukan intervensi selanjutnya.

6) Kolaborasi dengan dokter mengenai masalah yang terjadi dengan

perdarahan : pemberian transfusi, medikasi.

Rasional : mencegah terjadinya komplikasi dari perdarahan yang

terjadi dan untuk menghentikan perdarahan.

d. Nyeri akut berhubungan dengan iritasi, tekanan dan sensitivitas pada area

rektal/ anal sekunder akibat penyakit anorektal, trauma jaringan dan

refleks spasme otot sfingter ani sekunder akibat operasi.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan nyeri

berkurang.

Kriteria hasil :

1) Menyatakan bahwa rasa sakit telah terkontrol/ dihilangkan.

2) Feses lembek, tidak nyeri saat BAB.

3) Tampak rileks, dapat istirahat tidur.

4) Ikut serta dalam aktivitas sesuai kebutuhan.

Rencana tindakan :

a) Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (skala 0-10)

Rasional : Mengetahui perkembangan hasil prosedur.

b) Bantu pasien untuk tidur dengan posisi yang nyaman : tidur miring.
5
0

Rasional : posisi tidur miring tidak menekan bagian anal yang

mengalami peregangan otot untuk meningkatkan rasa nyaman.

c) Gunakan ganjalan pengapung dibawah bokong saat duduk.

Rasional : untuk meningkatkan mobilisasi tanpa menambah rasa nyeri.

d) Gunakan pemanasan basah setelah 12 jam pertama : kompres rectal

hangat atau sit bath dilakukan 3-4x/ hari.

Rasional : meningkatkan perfusi jaringan dan perbaikan odema dan

meningkatkan penyembuhan (pendekatan perineal).

e) Dorong penggunaan teknik relaksasi : latihan nafas dalam, visualisasi,

pedoman, imajinasi.

Rasional : menurunkan ketegangan otot, memfokuskan kembali

perhatian dan meningkatkan kemampuan koping.

f) Beri obat-obatan analgetik seperti diresepkan 24 jam pertama.

Rasional : memberi kenyamanan, mengurangi rasa sakit.

e. Resiko infeksi berhubungan dengan pembedahan, adanya saluran

invasive.

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien tidak

mengalami infeksi.

Kriteria hasil :

a) Memperlihatkan pengetahuan tentang faktor resiko yang berkaitan

dengan infeksi dan melakukan tindakan pencegahan yang tepat untuk

mencegah infeksi.
5
1

b) Bebas dari proses infeksi nosokomial selama perawatan di rumah

sakit.

Rencana tindakan :

a) Kaji status nutrisi, kondisi penyakit yang mendasari.

Rasional : mengidentifikasi individu terhadap infeksi nosokomial

b) Cuci tangan dengan cermat

Rasional : kurangi organisme yang masuk ke dalam individu

c) Rawat luka dengan teknik aseptik/ antiseptik

Rasional : kurangi organisme yang masuk ke dalam individu

d) Batasi pengunjung

Rasional : melindungi individu yang mengalami defisit imun dan

infeksi.

e) Batasi alat-alat invasive untuk benar-benar perlu saja

Rasional : melindungi individu yang mengalami defisit imun dan

infeksi.

f) Dorong dan pertahankan masukan TKTP

Rasional : kurangi kerentanan individu terhadap infeksi

g) Beri therapy antibiotik rasional sesuai program dokter

Rasional : mencegah segera terhadap infeksi

h) Observasi terhadap manifestasi klinis infeksi (demam, drainase,

purulen)

Rasional : deteksi dini proses infeksi.

f. Resiko konstipasi berhubungan dengan nyeri saat defekasi.


5
2

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien bisa

BAB 1x sehari dengan konsistensi lembek.

Kriteria hasil : individu akan :

a) Menggambarkan program defekasi terapeutik

b) Melaporkan atau menunjukkan eliminasi yang membaik (lunak,

namun tidak berdarah defekasi lebih 3x dalam seminggu)

c) Menjelaskan rasional intervensi

Rencana tindakan :

a) Ajarkan pasien/ keluarga tentang pentingnya segera berespon terhadap

perasaan defekasi.

Rasional : dengan distensi kronik feses akan lebih keras dalam rectum.

b) Rekomendasikan perubahan diit untuk meningkatkan bulk (tinggi serat

1x sehari) dan cairan ± 8-10 gelas/ hari.

Rasional : meningkatkan penyerapan cairan dalam usus sehingga feses

lembek.

c) Anjurkan mencoba supositoria daripada oral dalam 1 jam setelah

sarapan.

Rasional : meningkatkan reflek gastro kolik bila lambung kosong

d) Tingkatkan tingkat aktivitas secara adekuat

Rasional : latihan yang tidak adekuat merupakan faktor utama dalam

perubahan konsistensi feses.

e) Hindari sarapan yang mengandung asam lemak


5
3

Rasional : memperlambat rangsangan reflek dan memperlambat

pencernaan.

f) Tingkatkan penggunaan obat konstipasi 2x sehari bila diperlukan.

Rasional : Melancarkan Buang Air Besar.

3.4 Implementasi Keperawatan

Pelaksanaan merupakan tindakan mandiri dasar berdasarkan

ilmiah, masuk akal dalam melaksanakan yang bermanfaat bagi klien yang

diantisipasi berhubungan dengan diagnosa keperawatan dan tujuan yang

telah ditetapkan. Pelaksanaan merupakan pengelolaan dan perwujudan dari

rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan.

Tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien dapat berupa tindakan

mandiri maupun tindakan kolaborasi. (10)

3.5 Evaluasi Keperawatan

Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan yang

mengukur seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai

berdasarkan standar atau kriteria yang telah ditetapkan. Evaluasi

merupakan aspek penting didalam proses keperawatan, karena

menghasilkan kesimpulan apakah intervensi keperawatan diakhiri atau

ditinjau kembali atau dimodifikasi kembali. Dalam evaluasi prinsip

obyektifitas, reliabilitas dan validitas dapat dipertahankan agar keputusan

yang diambil tepat.(10)


54

DAFTAR PUSTAKA

1. Probosuseno. 2012. Penyakit di Usia Tua. Jakarta:


Penerbit Buku Kedokteran.

2. WHO. 2015. Hemorroid. www.who.int/hemorroid, diakses tanggal 12 Januari


2018.

3. Wandari NN. 2011. Prevalensi hemoroid di rsup haji adam malik medan
periode Januari 2009. Juli 2011. Medan. Universitas Sumatera Utara. Skripsi.

4. Putra OS .2013. Pola distribusi kasus hemoroid. di RSUD Dokter Soedarso


Pontianak periode Januari 2009 - Desember 2012 . Pontianak. Universitas
Tanjungpura. Skripsi.

5. Mansjoer, A. 2010. Kapita Selekta Kedokteran, edisi 4. Jakarta: Media


Aesculapius.

6. Alwi I, Setiyohadi B, Sudoyo A.W. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Ed V Jilid III. Jakarta : Interna Publishing. 1709-1713

7. Bare & Smeltzer.2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddart (Alih bahasa Agung Waluyo) Edisi 8 vol.3. Jakarta :EGC

8. Judith M,W, dan Nancy R,A. 2011. Diagnosis Keperawatan NANDA


NICNOC. Edisi Revisi. Jakarta: EGC.

9. NANDA. 2013. Diagnosis Keperawatan 2012-2014. Jakarta: EGC.

10. Hidayat, A. Aziz Alimul, 2008, Pengantar Konsep Dasar Keperawatan,


Jakarta:Salemba Medika.

11. Doenges, Marilynn E.dkk.2000 .Rencana Asuhan Keperawatan & Pedoman


Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi III.Alih
Bahasa: I Made Kriasa.EGC.Jakarta

12. Setiadi. 2012. Konsep&Penulisan Dokumentasi Asuhan Keperawatan Teori


dan Praktik . Yogyakarta : Graha Ilmu