Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sifilis adalah penyakit infeksi sistemik yang disebabkan bakteri Treponema pallidum
subspesies pallidum, umumnya merupakan penyakit menular seksual dan memberi gambaran
penyakit aktif yang diselingi periode laten. Pada sepertiga kasus yang tidak ditangani ditemukan
stadium tertier dengan gambaran penyakit progresif destruktif mukokutaneus, muskuloskeletal,
atau lesi parenkimal aortitis atau penyakit symptomatic central nervous system (CNS). Hampir
semua kasus sifilis didapatkan melalui kontak seksual dengan lesi infeksi sisanya didapatan
melalui infeksi in utero, transfusi darah, dan transplantasi organ (Lukehart, 2010).

Sifilis memiliki dampak besar bagi kesehatan seksual, kesehatan reproduksi, dan kehidupan
sosial. Populasi berisiko tertular sifilis meningkat dengan adanya perkembangan dibidang sosial,
demografik, serta meningkatnya migrasi penduduk (Kemenkes RI, 2011).
Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Wabah penyakit sifilis dapat menular lewat
kontak langsung dengan pengidap lewat alat kelamin, khususnya saat berhubungan badan
(Saptohutomo, 2012).

Survei yang dilakukan WHO di Eropa pada tahun 2012 menunjukkan bahwa angka sifilis
pada pria berkisar antara 0,3 sampai dengan 94,4 kasus per 100,00 penduduk pria dan pada
wanita berkisar antara 0,1 sampai dengan 70,7 per 100,000 penduduk wanita (Newman et al.
2013).
Penularan sifilis berhubungan dengan perilaku seksual. Perilaku seksual adalah bentuk
perilaku yang didorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis.
Bentuk perilaku ini dapat bermacam-macam, mulai dari perasaan tertarik sampai berkencan,
bercumbu, dan bersenggama (Sarwono, 2013).
Angka kejadian sifilis di Amerika Serikut terus meningkat, dengan prevalensi tahun 2014
adalah 20,1 per 100.000 penduduk dan meningkat dibandingkan tahun 2013 adalah 17,9 per
100.000 penduduk. Berdasarkan usia, kelompok usia yang sering terinfeksi adalah usia 20-24
tahun. Laki-laki lebih sering terinfeksi sifilis dengan prevalensi 22,1 per 100.000 penduduk
dibandingkan perempuan dengan prevalensi 4,5 per 100.000 penduduk (CDC: Centers for
Disease Control and Prevention, 2015).

Perilaku seksual berisiko adalah keterlibatan individu dalam melakukan aktivitas


seks yang memiliki risiko terpapar dengan darah, cairan sperma, dan cairan vagina
yang tercemar bakteri penyebab sifilis. Jumlah pasangan seksual yang banyak
merupakan salah satu perilaku seksual berisiko. Hal ini terjadi karena jumlah
pasangan seksual yang banyak sebanding dengan banyaknya jumlah hubungan
seksual yang dilakukan (Rahardjo, 2015).
Setiap orang yang aktif secara seksual bisa terinfeksi melalui kontak langsung dengan lesi
sifilis. Pada laki-laki, lesi dapat terjadi terutama di alat kelamin eksternal, anus, atau dubur. Lesi
juga dapat terjadi pada bibir dan mulut. Gay atau laki-laki biseksual bisa terinfeksi sifilis selama
seks anal, oral, atau vaginal (CDC: Centers for Disease Control and Prevention, 2015).
Penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, mendapatkan orang yang terinfeksi sifilis
sering juga memiliki IMS lain, salah satunya Human Immunodeficiency Virus (HIV). Individu
yang telah terinfeksi sifilis memungkinkan HIV lebih mudah memasuki tubuh. Hal ini
disebabkan oleh perilaku seksual yang sama memengaruhi penularan kedua penyakit tersebut,
sehingga individu yang terinfeksi sifilis memiliki risiko yang lebih besar untuk mendapatkan
HIV (CDC: Centers for Disease Control and Prevention, 2015).
Peran dan tanggung jawab dalam pelayanan kesehatan pada infeksi penularan seksual. Peran
adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai
kedudukannya dalam suatu symtem dan dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun
dari luar dan bersifat stabil. Peran perawat adalah cara untuk menyatakan aktifitas perawat dalam
praktik dimana telah menyelesaikan pendidikan formalnya yang diakui dan diberi kewenangan
tugas dan tanggung jawab keperawatan secara prifesional sesuai dengan kode etik profesional.
Perawat Profesional (Potter and Perry, 2013) :
a) Care giver
Memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok atau masyarakat
sesuai diagnosis masalah keperawatan pada klien tingkat sifilis yang terjadi mulai dari masalah
yang bersifat sederhana sampai pada masalah yang kompleks.
b) Client advocate
1. Membantu klien dan keluarga dalam menginterpretasikan informasi dari berbagai pemberi
pelayanan.
2. Pembelaan termasuk didalamnya peningkatan apa yang terbaik untuk klien, memastikan
kebutuhan klien terpenuhi dan melindungi hak-hak klien.
c) Membantu klien untuk menyadari dan mengatasi tekanan psikologis atau masalah sosial
untuk membangun hubungan interpersonal yang baik.
1.2 Rumusan Masalah

Bedasarkan uraian latar belakang diatas ada beberapa yang akan di bahas, yaitu :

1.2.1 Prevalensi sifilis


1.2.2 Resiko pada infeksi menular seksusal

1.2.3 Pengertian Sifilis

1.2.4 Etiologi Sifilis

1.2.5 Manifestasi klinis Sifilis

1.2.6 Patofisiologi Sifilis

1.2.7 Penatalaksanaan Sifilis

1.2.8 Pemeriksaan penunjang Sifilis

1.2.9 Komplikasi Sifilis

1.2.10 Pencegahan Sifilis

1.3 Tujuan
Tujuan Umum:

Penulis ingin mengetahui tentang Asuhan keperawatan sifilis yang ditularkan melalui
hubungan seksual.
Tujuan Khusus:
a. Mengetahui konsep askep pada pasien dengan tingkat penularan seksual
b. Melakukan pengkajian pada pasien dengan tingkat penularan seksual
c. Mengetahui konsep dasar intervensi, implemnetasi, evaluasi yang berhubungan dengan
diagnosa keperawatan sifilis.
d. Memberikan konsep dasar hingyene (kebersihan).

1.4 Manfaat Penulisan


Makalah ini kami buat dengan manfaat memperluas wawasan dan pandangan mahasiswa
terhadap definisi mengenai pengertian sifilis dan pencegahan sifilis.
1.5 Metode Penulisan
Makalah ini ditulis berdasarkan dari hasil sumber literatur yang mendukung seperti studi
pustaka, media buku dan media Internet.
1.6 Sistematika Penulisan
BAB I PENDAHULUAN berisi pendahuluan yang terdiri dari Latar belakang, Rumusan
masalah, Tujuan penulisan, Manfaat penulisan, Metode penulisan dan Sistematika penulisan.
BAB II PEMBAHASAN berisi Pengertian sifilis, Etiologi, Manifestasi klinis, Patofisiologi,
Penatalaksanaan, Pemeriksaan penunjang, Komplikasi dan Pencegahan
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN berisi Pengkajian, Diagnosa, Intervensi,
Implementasi, Evaluasi, dan Discharge planning
BAB IV PENUTUP berisi Kesimpulan dan saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Sifilis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Treponema pallidum yang
bersifat akut dan kronis ditandai dengan lesi primer diikuti dengan erupsi sekunder pada kulit
dan selaput lendir kemudian masuk ke dalam periode laten diikuti dengan lesi pada kulit, lesi
pada tulang, saluran pencernaan, sistem saraf pusat dan sistem kardiovaskuler.
Menurut Centre of Disease Conrol (CDC) pada tahun 2010 mendefinisikan sifilis sebagai
penyakit sistemik yang disebabkan oleh Treponema pallidum. Berdasarkan temuan klinis,
penyakit dibagi ke dalam serangkaian kumpulan staging yang digunakan untuk membantu
dalampanduan pengobatan dan tindak lanjut. (hhtp://repository.usu.ac.id)
Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum sangat kronik dan
bersifat sistemik. Pada perjalanannya dapat menyerang hampir semua alat tubuh dapat
menyerupai banyak penyakit, mempunyai masa laten dan dapat ditularkan oleh ibu hamil kejanin
melalui hubungan seksual (Djuanda Adhi,2010) (Buku asuhan keperawatan praktis Mediaction
2016).
Sifilis adalah penyakit menular seksual yang ditandai dengan adanya lesi primer kemudian
diikuti dengan erupsi sekunder pada area kulit, selaput lendir dan juga organ tubuh. Penyakit
sifilis disebabkan oleh Treponema Pallidum. Treponema pallidum merupakan salah satu bakteri
spirochaeta. Bakteri ini berbentuk spiral (Andrian et al 2012). (hhtp://repository.unimus.ac.id)
Menurut Coffin et. al. (2010) penyakit sifilis adalah penyakit kelamin yang bersifat kronis
dan menahun. Walaupun frekuensi penyakiti sifilis mulai menurun, tapi masih merupakan
penyakit yang berbahaya karena dapat menyerang seluruh organ tubuh termasuk sistem
peredaran darah, saraf dan dapat ditularkan oleh ibu hamil kepada bayi yang di kandungnya.
(hhtp://repository.umy.ac.id)
2.2 Etiologi
Sifilis di sebabkan oleh spirochaeta Treponema pallidum yang lembut dan motil (bergerak
sendiri). Walaupun T.pallidum tidak dapat bertahan lama diluar tubuh, bakteri ini infeksius.
Transmisi seksual T. Pallidum terjadi hanya jika terapat lesi mukokutan dari sifilis primer dan
sekunder. (Buku keperawatan medikal bedah Joyce M. Black)

Sifilis disebabkan oleh treponema pallidum yang termasuk ordo spirochaetales familia
spirochaetaceae dan genus treponema. Organisme memasuki tubuh pasangan seksual melalui
luka pada kulit atau epitel dan menyebar melalui darah. (Buku asuhan keperawatan praktis
Mediaction 2016).

Treponema pallidum berbentuk spiral, Gram negatif dengan panjang kisaran 11 µm dengan
diameter antara 0,09 – 0,18 µm. Terdapat dua lapisan, sitoplasma merupakan lapisan dalam
mengandung mesosom, vakuol ribosom dan bahan nukleoid, lapisan luar yaitu bahan mukoid.

Sifilis dapat ditularkan melalui kontak seksual maupun transplasenta dari ibu ke janinnya
karenaTreponema pallidum dapat menembus sawar plasenta. Sifilis tidak ditularkan melalui
dudukan toilet,kolam renang, air mandi maupun pakaian.

Sifilis disebabkan oleh treponema pallidum yang termasuk ordo spirochaetales familia
spirochaetaceae dan genus treponema. Organisme memasuki tubuh pasangan seksual melalui
luka atau epitel dan menyebar melalui darah. (hhtp://juke.kedokteran.unila.ac.id)
2.3 Manifestasi klinis
Sifilis dicirikan oleh tahap-tahap berurutan yang terdefinisi baik yang terjadi selama
bertahun-tahun : primer, sekunder, laten ( laten awal dan laten lanjut) dan tersier.

a) Tahap Primer

Lesi awal sifilis berupa papul yang muncul di daerah genitalia kisaran tiga minggu setelah
kontak seksual. Papul membesar dengan ukuran 0,5 – 1,5 cm kemudian mengalami ulserasi,
membentukulkus. Ulkus sifilis yang khas berupa bulat, diameter 1-2 cm , tidak nyeri, dasar ulkus
bersih tidak ada eksudat, teraba indurasi, soliter tetapi dapat juga multipel. Hampir sebagian
besar disertai pembesaran kelenjar getah bening inguinal medial unilateral atau bilateral.
Gambaran chancre sifilis primer

Chancre sífilis primer pada penis.


Chancre sífilis primer sering terjadi pada genitalia, perineal, atau anus dikarenakan
penularan paling sering melalui hubungan seksual, tetapi bagian tubuh yang lain dapat juga
terkena.
Ulkus jarang terlihat pada genitalia eksterna wanita, karena lesi sering pada vagina atau
serviks. Dengan menggunakan spekulum, akan terlihat lesi di serviks berupa erosi atau ulserasi
yang dalam. Tanpa pengobatan lesi primer akan sembuh spontan dalam waktu 3 sampai 6 pekan.
b) Tahap sekunder

Manifestasi akan timbul pada beberapa minggu atau bulan, muncul gejala sistemik berupa
demam yang tidak terlalu tinggi, malaise, sakit kepala, adenopati, dan lesi kulit atau mukosa.
Lesi sekunder yang terjadi merupakan manifestasi penyebaran Treponema pallidum secara
hematogen dan limfogen.

Manifestasi klinis sifilis sekunder dapat berupa berbagai ruam pada kulit, selaput lendir, dan
organ tubuh. Lesi kulit biasanya simetris, dapat berupa makula, papula, folikulitis,
papuloskuamosa, dan pustul, jarang disertai keluhan gatal. Lesi dapat ditemukan di trunkus dan
ekstermitas, termasuk telapak tangan dan kaki. Papul biasanya merah atau coklat kemerahan,
diskret, diameter 0,5 – 2 cm, umumnya berskuama tetapi kadang licin. Lesi vesikobulosa dapat
ditemukan pada sifilis kongenital.

Kondiloma lata merupakan istilah untuk lesi meninggi (papul), luas, putih atau abu-abu di
daerah yang hangat dan lembab. Lesi sifilis sekunder dapat muncul pada waktu lesi sifilis primer
masih ada. Treponema pallidum banyak ditemukan pada lesi selaput lendir atau basah seperti
kondiloma lata.

Ruam kulit pada sifilis sekunder sukar dibedakan dengan pitiriasis rosea, psoriasis, terutama
jika berskuama, eritema multiforme dan erupsi obat.

Berikut ini adalah indikasi tahap sekunder :

1. Ruam generalisata :

Secara khas, timbul ruam makulopapuler dan tidak gatal ; ruam dapat timbul dimanapun.
Namun, sering timbul pada telapak tangan dan kaki (sedikit penyakit lain yang menyebabkan
ruam pada lokasi ini) ; ruam sangat infeksius.

2. Limfadenopati generalisata :

Tidak nyeri, diskret.

3. Bercak mukosa :

Bercak abu-abu superfisial timbul pada membran mukosa mulut dan dapat diikuti nyeri
tenggorakan.

4. Condilomata lata :
Papul pipih yang luas umumnya dapat dibedakan dengan mudah dari pertumbuhan
condilomata akuminata (kutil kelamin ) yang khas dengan dasar sempit dan mengandunggatung.
Condilomata lata dapat timbul pada area tubuh yang hangat dan lembab paling sering pada labia
atau anus atau pada sudut mulut. Mereka sangat menular.

5. Manifestasi :

Umum seperti flu, termasuk mual, anoreksial, konstipasi, sakit kepala, suhu yang meninggi
secara kronik dan nyeri otot, sendi dan tulang.

6. Kerontakan rambut tidak merata pada alis dan kulit kepala (alopesia).

Manifestasi tahap sekunder umumnya menghilang setelah 2 hingga 6 minggu. Lalu dimulai
periode laten. (Buku keperawatan medikal bedah Joyce M. Black)

c) Tahap laten

Sifilis laten yaitu apabila pasien dengan riwayat sifilis dan pemeriksaan serologis reaktif
yang belum mendapat terapi sifilis dan tanpa gejala atau tanda klinis. Sifilis laten terbagi menjadi
dini dan lanjut, dengan batasan waktu kisaran satu tahun. Dalam perjalanan penyakit sifilis akan
melalui tingkat laten, selama bertahun-tahun atau seumur hidup. Tetapi bukan bearti penyakit
akan berhenti pada tingkat ini, sebab dapat berjalan menjadi sifilis tersier.

d) Tahap tersier

Sifilis tersier terdiri dari tiga grup sindrom yang utama yaitu neurosifilis, sifilis
kardiovaskular, dan sifilis benigna lanjut. Pada perjalanan penyakit neurosifilis dapat
asimptomatik dan sangat jarang terjadi dalam bentuk murni. Pada semua jenis neurosifilis, terjadi
perubahan berupa endarteritis obliterans pada ujung pembuluh darah disertai degenerasi
parenkimatosa yang mungkin sudah atau belum menunjukkan gejala saat pemeriksaan.
Sifilis kardiovaskular disebabkan terutama karena nekrosis aorta yang berlanjut ke katup.
Tanda-tanda sifilis kardiovaskuler adalah insufisiensi aorta atau aneurisma, berbentuk kantong
pada aorta torakal. Bila komplikasi ini telah lanjut, akan sangat mudah dikenal.
Sifilis benigna lanjut atau gumma merupakan proses inflamasi proliferasi granulomatosa
yang dapat menyebabkan destruksi pada jaringan yang terkena. Disebut benigna sebab jarang
menyebabkan kematian kecuali bila menyerang jaringan otak. Gumma mungkin terjadi akibat
reaksi hipersensitivitas infeksi Treponema palidum. Lesi sebagian besar terjadi di kulit dan
tulang. Lesi pada kulit biasanya soliter atau multipel, membentuk lingkaran atau setengah
lingkaran, destruktif dan bersifat kronis, penyembuhan di bagian sentral dan meluas ke perifer.
Lesi pada tulang biasanya berupa periostitis disertai pembentukan tulang atau osteitis gummatosa
disertai kerusakan tulang. Gejala khas ialah pembengkakan dan sakit. Lokasi terutama pada
tulang kepala, tibia, dan klavikula. Pemeriksaan serologis biasanya reaktif dengan titer tinggi.
(hhtp://juke.kedokteran.unila.ac.id)

2.4 Patofisiologi Sifilis

Treponema pallidum memasuki tubuh melalui membran mukus yang utuh atau kulit yang
terabrasi hampir ekslusif dengan kontak seksual langsung. Setelah masuk organisme berkembang
biak secara lokal dan menyebar secara sistemik melalui aliran darah dan limfatik. Infeksi dapat
juga ditularkan transplansenta dari perempuan hamil yang tidak tertangani kepada fetusnya
selama tahap apa pun dari penyakit (sifilis kongenital).

Pada keadaan yang jarang sifilis tertularkan melalui kontak personal nonseksual.
Inokulasi yang tidak disengaja atau transfusi darah dari donor penderita. Sifilis dapat
berkembang menjadi kebutaan yang irenversibel, penyakit mental, paralisis, penyakit jantung,
dan kematian tanpa penatalaksanaan. (Buku keperawatan medikal bedah Joyce M. Black)

Treponema dapat masuk (porte d’entrée) ke tubuh calon penderita melalui selaput lendir
yang utuh atau kulit dengan lesi. Kemudian masuk ke peredaran darah dari semua organ dalam
tubuh.Penularan terjadi setelah kontak langsung dengan lesi yang mengandung treponema.3–4
minggu terjadi infeksi, pada tempat masuk Treponema pallidum timbul lesi primer (chancre
primer) yang bertahan 1–5 minggu dan sembuh sendiri.
Tes serologik klasik positif setelah 1–4 minggu. Kurang lebih 6 minggu (2– 6 minggu)
setelah lesi primer terdapat kelainan selaput lendir dan kulit yang pada awalnya menyeluruh
kemudian mengadakan konfluensi dan berbentuk khas. Penyembuhan sendiri biasanya terjadi
dalam 2–6 minggu. Keadaan tidak timbul kelainan kulit dan selaput dengan tes serologik sifilis
positif disebut Sifilis Laten. (hhtp://repository.usu.ac.id)
https://www.scribd.com/doc/112560474/patofisiologi-sifilis
2.5 Penatalaksanaan

a. Penatalaksanaan Medis :

1. Pemberian Penisilin G Benzhatine atau procaine bisa peroral atau parenteral tergantung keadaan pasien

2. Pemberian terapi atau antibiotik

a) Doksisiklin: sebagai terapi alternatif untuk infeksi sifilis, menghambat pertumbuhan bakteri dengan
mengikat ribosom 30 unit dan mencegah sistensi protein
b) Tetrasiklin: digunakan sebagai terapi alternatif untuk infeksi sifilis, menghambat pertumbuhan bakteri
dengan mengikat ribosom 30 unit dan mencegah sistensi protein
c) Eritromicin: menghambat pertumbuhan bakteri dan untuk pengobatan infeksi staphylococcal dan
streptokokus
d) Ceftriaxone: merupakan agen alternatif untuk penisilin dan alergi pasien
e) Azitromisin: untuk mengobati ringan sampai sedang infeksi mikroba (Buku asuhan keperawatan
praktis Mediaction 2016).

b. Penatalaksanaan Keperawatan
Memberikan pendidikan kepada pasien dengan menjelaskan hal-hal sebagai berikut:
1) Bahaya PMS dan komplikain
2) Pentingnya mamatuhi pengobatan yang diberikan
3) Cara penularan PMS dan pengobatan untuk pasangan seks tetapnya
4) Hindari hubungan seks sebelum sembuh dan memakai kondom jika tidak dapat
dihindarkan lagi.
5) Pentingnya personal hygiene khususnya pada alat kelamin
6) Cara-cara menghindari PMS di masa mendatang.
(https://www.scribd.com/doc/187183161/asuhan-keperawatan-sifilis)

2.6 Pemeriksaan penunjang

1) Uji serologic (uji nontreponema, uji treponema)


2) Pemeriksaan dengan mikroskop lapangan gelap (darkfield microcope)
3) Uji antibodi flurosen langsung.
4) Tes serologik untuk sifilis seperti VDRL (Venereal Disiase Research Laboratory), WR
(Wasseman Kolmer), TPHA (Treponemal Pallidum Haemoglutination Assay)
5) Pemeriksaan cairan serebrospinal, mencari neurosifilis
6) Pemeriksaan dengan sinar tembus, mencari sifilis kardiovaskular
(Buku asuhan keperawatan praktis Mediaction 2016), (hhtp://repository.unimus.ac.id)

2.7 Komplikasi
Tanpa pengobatan, sifilis dapat membawa kerusakan pada seluruh tubuh.Sifilis juga
meningkatkan resiko infeksi HIV, dan bagi wanita, dapat menyebabkan gangguan selama
hamil.Pengobatan dapat membantu mencegah kerusakan di masa mendatang tapi tidak dapat
memperbaiki kerusakan yang telah terjadi.
a. Benjolan kecil atau tumor: Disebut gummas, benjolan-benjolan ini dapat berkembang
dari kulit, tulang, hepar, atau organ lainnya pada sifilis tahap laten. Jika pada tahap ini
dilakukan pengobatan, gummas biasanya akan hilang.
b. Masalah Neurologi: Pada stadium laten, sifilis dapat menyebabkan beberapa masalah
pada nervous sistem, seperti:
1) Stroke
2) Infeksi dan inflamasi membran dan cairan di sekitar otak dan spinal cord (meningitis)
3) Koordinasi otot yang buruk
4) Numbness (mati rasa)
5) Paralysis
6) Deafness or visual problems
7) Personality changes
8) Demensia
c. Masalah kardiovaskular: Ini semua dapat meliputi bulging (aneurysm) dan inflamasi
aorta, arteri mayor, dan pembuluh darah lainnya. Sifilis juga dapat menyebabkan valvular
heart desease, seperti aortic valve stenonis.
d. Infeksi HIV Orang dewasa dengan penyakit menular seksual sifilis atau borok genital
lainnya mempunyai perkiraan dua sampai lima kali lipat peningkatan resiko mengidap
HIV. Lesi sifilis dapat dengan mudah perdarahan, ini menyediakan jalan yang sangat
mudah untuk masuknya HIV ke aliran darah selama aktivitas seksual.
e. Komplikasi kehamilan dan bayi baru lahir Sekitar 40% bayi yang mengidap sifilis dari
ibunya akan mati, salah satunya melalui keguguran, atau dapat hidup namun dengan
umur beberapa hari saja. Resiko untuk lahir premature juga menjadi lebih tinggi.
(https://www.scribd.com/doc/187183161/asuhan-keperawatan-sifilis)
2.8 Pencegahan
Pada prinsipnya pencegahan dapat dilakukan dengan cara mencegah penularan sifilis
melalui pencegahan primer, sekunder, dan tersier. Adapun bentuk pencegahan yang dapa
dilakukan sebagai berikut :
a. Pencegahan Primer
Sasaran pencegahan terutama ditujukan kepada kelompok orang yang
memiliki resiko tinggi tertular sifilis. Bentuk pencegahan primer yang dilakukan
adalah dengan prinsip ABCDE yaitu :
1. A (Abstinensia), tidak melakukan Pengaruh seks secara bebas dan berganti-
ganti pasangan.
2. B (Be Faithful), bersikap saling setia dengan pasangan dalam Pengaruh perkawinan atau
Pengaruh perkawinan atau Pengaruh jangka panjang tetap.
3. C (Condom), cegah dengan memakai kondom yang benar dan konsisten untuk orang yang
tidak mampu melaksanakan A dan B.
4. D (Drug), tidak menggunakan narkoba/napza.
5. E (Education), pemberian informasi kepada kelompok yang memiliki resiko tinggi untuk
tertular sifilis dengan memberikan leaflet,brosur, dan stiker.
b. Pencegahan Sekunder
Sasaran pencegahan terutama ditujukan pada mereka yang menderita (dianggap suspect)
atau terancam akan menderita. Diagnosis dini dan pengobatan yang tepat dapat dilakukan dengan
cara mencari penderita sifilis, meningkatkan usaha surveilans, dan melakukan pemeriksaan
berkala kepada kelompok orang yang memilik resiko untuk terinfeksi sifilis. Bentuk pencegahan
sekunder dapat dilakukan dengan cara :
1. Melakukan cek darah untuk mengetahui infeksi sifilis.
2. Pengobatan injeksi antibiotik benzatin benzil penicilin untuk menyembuhkan infeksi sifilis.
c. Pencegahan Tersier
Sasaran tingkat ketiga ditujukan kepada penderita tertentu dengan tujuan mencegah
jangan sampai mengalami cacat/kelainan permanen, mencegah agar jangan bertambah parah/
mencegah kematian karena penyakit tersebut. Bentuk pencegahan tersier yang dapat dilakukan
adalah :
1. Melakukan pengobatan (injeksi antibiotik) yang bertujuan untuk menurunkan kadar titer sifilis
dalam darah.
2. Melakukan tes HIVuntuk mengetahui status kemungkinan terkena HIV.
Cara paling pasti untuk menghindari penularan penyakit menular seksual, termasuk
sifilis, adalah untuk menjauhkan diri dari kontak seksual atau berada dalam Pengaruh jangka
panjang yang saling monogami dengan pasangan yang telah diuji dan diketahui tidak terinfeksi.
Menghindari penggunaan alkohol dan obat juga dapat membantu mencegah penularan sifilis
karena kegiatan ini dapat menyebabkan perilaku seksual berisiko. Adalah penting bahwa
pasangan seks berbicara satu sama lain tentang status HIV mereka dan sejarah PMS lainnya
sehingga tindakan pencegahan dapat diambil. (hhtp://repository.usu.ac.id)
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
Perawat menghubungkan riwayat sifilis dengan kategori berikut :
a. Anamnesa
1) Tanyakan kepada klien sejak kapan mengeluhkan nyeri
2) Bagaimana dan berupa apa saja kelainan pada awalnya dan apakah
menyebar/menetap.
3) Apakah ada sensasi panas, gatal serta cairan yang menyertai.
4) Obat apa saja yang telah dipakai dan bagaimana pengaruh obat tersebut apakah
membaik, memburuk atau menetap.
5) Apakah klien mengeluhkan adanya nyeri pada tulang, nyeri pada kepala, mengeluh
kesemutan, mati rasa (sebagai tanda kerusakan neurologis)
6) Tanyakan sosi-ekonomi keluarga, jumlah anggota keluarga, gaya hidup dan penyakit
keluarga/ individu sekitarnya.
7) Bagaimana aktivitas seksual (pernah /sering melakukan sex berisiko misal berganti-
ganti pasangan, oral / anal sex, homo seksual, melakukan dengan psk)
8) Apakah ada tanda-tanda kelainan pada alat kelamin pasangan seperti kemerahan,
muncul benjolan, dan vesikel.
9) Bagaimana dengan urine klien apakah bercampur darah, urine tdak lancer, nyeri
saat berkemih.
10) Apa disertai dengan febris, anoreksia
11) Pada sifilis kongietal selain ananmnesa diatas, perlunya ditanya orang tua
apakah pernah keluar secret bercampur darah dari hidung, perforasi palatum durum,
gangguan pengelihatan dan pendengaran, gangguan berjalan, serta keterlambatan
tumbuh kembang.
b. Pemeriksaan Fisik
1) Inspeksi:
a) Kaji jenis efloresensi: Eritema dan papula, macula, pustule, vesikula dan ulkus
b) Timbulnya lesi pada alat kelamin , ekstragenital, bibir, lidah, tonsil, putting susu, jari
dan anus
c) Kelainan selaput lendir dan limfadenitis
d) Kelainan pada mata dan telinga
e) Kelainan pada tulang dan gaya berjalan
f) Kelainan pada kepala (invasi pada meningen)
2) Palpasi
Adanya pembesaran limfe, adanya nyeri tekan,
3) Auskultasi: apakah ada perubahan suara pada paru-paru, jantung dan system pencernaan.

3.2 Diagnosa Keperawatan


a. Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan sekunder ulkus mole, pasca
drainase.
b. Hipertermi berhubungan dengan respons sistemik ulkus mole
c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan adanya ulkus pada genetalia
d. Risiko infeksi berhubungan dengan ulkus merah pada penis dan anus serta demam
subfebris.
e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan cara penularan penyakit

3.3 Rencana keperawatan

NO Tujuan dam kriteria Intervensi Rasional


DX hasil
1. Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji tanda- tanda 1. Tanda- tanda vital
keperawatan selama vital (TD, N, dapat menunjukan
8x24 jam, diharapkan RR). tingkat perkemba
nyeri berkurang/hilang, ngan pasien
dengan kriteria hasil : 2. Kaji keluhan, 2. .Mengindikasikan
 Pasien tidak lokasi, intensitas, kebutuhan untuk
mengeluh nyeri frekuensi dan intervensi dan
 Skala nyeri 0-1 waktu terjadinya tanda-tanda
(0-4) nyeri (PQRST). perkembangan atau
 Pasien tidak resolusi komplikasi.
gelisah 3. Lakukan dan awasi
latihan rentang 3. Mengalihkan
gerak aktif dan perhatian terhadap
pasif. nyeri.
4. Dorong ekspresi,
perasaan tentang 4. Pernyataan
nyeri. memungkinkan
pengungkapan
emosi dan apat
5. Ajarkan teknik meningkatkan
relaksasi, distraksi, mekanisme koping
massage, guiding 5. Memfokuskan
imajenery. kembali pehatian,
meningkatkan
6. Jelaskan dan bantu relaksasi dan
pasien dengan meningkatkan rasa
tindakan pereda control yang dapat
nyeri menurunkan
nonfarmakologi ketergantungan
dan noninvasive. farmakologis
6. Pendekatan dengan
menggunakan
7. Kolaborasi dengan relaksasi dan
dokter pemberian nonfarmakologi
analgesik sesuai lainnya telah
indikasi menunjukkan
keefektifan dalam
mengurangi nyeri.
7. Analgetik
memblok lintasan
nyeri sehingga
nyeri akan
berkurang
2. Setelah dilakukan asuhan 1. Pantau suhu pasien 1. Suhu 38,9-
keperawatan selama (derajat dan pola). 41derajat C
5x24 jam, diharapkan menunjukkan
suhu tubuh dalam 2. Berikan kompres proses infeksius.
rentang normal, dengan hangat.
kriteria hasil : 2. Membantu
 Suhu tubuh mengurangi
normal (36 – 3. Anjurkan pasien demam.
37C). untuk banyak
 Kulit tidak minum 1500-2000
pasnas, tidak cc/hari. 3. Untuk mengganti
kemerahan, 4. Anjurkan pasien cairan tubuh yang
 Turgor kulit untuk hilang akibat
elastic. menggunakan evaporasi.
 Mukosa bibir pakaian yang tipis 4. Memberikan rasa
lembab. dan mudah nyaman dan
menyerap keringat. pakaian yang tipis
mudah menyerap
5. Kolaborasi dalam keringat dan tidak
pemberian cairan merangsang
intravena dan peningkatan suhu
antipiretik. tubuh.
5. Pemberian cairan
sangat penting bagi
pasien dengan suhu
tubuh yang tinggi.
Antipiretik untuk
menurunkan panas
tubuh pasien.
3. Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji kerusakan 1. Menjadi data dasar
keperawatan selama kulit yang untuk memberikan
8x24 jam, diharapkan terjadi pada klien informasi intervensi
integritas kulit . perawatan luka, alat
membaik secara optimal, apa yang akan
dengan kriteria hasil : dipakai dan jenis
 Pertumbuhan larutan apa yang
jaringan akan digunakan.
meningkat 2. Memberikan
 Keadaan luka 2. Catat ukuran atau informasi dasar
membaik warna, kedalaman tentang kebutuhan
 Luka menutup luka dan kondisi dan petunjuk
 Mencapai sekitar luka. tentang sirkulasi.
penyembuhan 3. Perawatan luka
luka tepat waktu 3. Lakukan dengan teknik steril
perawatan luka dapat mengurangi
dengan teknik kontaminasi kuman
steril. langsung ke area
luka.
4. Mencegah meserasi
4. Bersihkan area dan menjaga
perianal dengan perianal tetap
membersihkan kering.
feses 5. Diet TKTP
menggunakan air. diperlukan untuk
meningkatkan
5. Tingkatkan asupan asupan dari
nutrisi. kebutuhan
pertumbuhan
jaringan.
6. Anjurkan pasien 6. Menjaga
untuk menjaga kebersihan kulit dan
kebersihan kulit mencegah
dengan cara mandi komplikasi.
sehari 2 kali. 7. Mengurangi
7. Ubah posisi tekanan pada area
dengan sering tiap yang sama.
2 jam.
8. Kolaborasi dalam
pemberian obat
antibiotika 8. Mencegah atau
topical mengontrol infeksi.
4. Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji TTV 1. Suhu meningkat
keperawatan selama terutama suhu. menunjukkan
5x24 jam, diharapkan terjadinya infeksi.
infeksi berkurang atau 2. Kaji adanya tanda- 2. Untuk mengetahui
hilang teratasi, dengan tanda infeksi. terjadinya infeksi
kriteria hasil : sehingga dapat di
 Tidak ada tanda- tangani.
tanda infeksi 3. Observasi daerah 3. Deteksi dini
 Tidak ada kulit yang pengembangan
drainase purulen mengalami infeksi
 Suhu tubuh kerusakan, cacat memungkinkan
normal. karakteristik melakukan
drainase dan tindakan pencega
adanya inflamasi. han komplikasi.

4. Berikan perawatan 4. Cuci tangan


dengan teknik merupakan cara
antiseptic pertama untuk
danaseptic,Pertah menghindari infeksi
ankan teknik cuci nosokomial.
tangan yang 5. Dapat mencegah
efektif. penyebaran/melind
5. Kolaborasi dalam ungi pasien dari
pemberian proses infeksi
antibiotic. lain.

1. Memberikan data
5. Setelah dilakukan asuhan 1. Kaji tingkat dasar untuk
keperawatan selama pengetahuan pasien mengetahi tingkat
1x60 menit, diharapkan 2. Beritahukan pemahaman pasien
terpenuhinya pengetah pasien/ orang 2. Informasi
uan pasien tenteng terdekat mengenai dibutuhkan untuk
kondisi penyakit, dengan dosis, aturan dan meningkatkan per
kriteria hasil : efek awatan diri,
 Mengungkapkan 3. Jelaskan tentang untuk menambah
pengertian pentingnya pengo kejelasan
tentang proses batan antibakteri efektivitas
infeksi, tindakan 4. Beri nasehat pengobatan dan
yang dibutuhkan kepada pasien mencegah
dengan untuk menjaga komplikasi
kemungkinan agar kulit tetap 3. Pemberian
komplikasi. lembab dan antibakteri di rumah
fleksibel dengan dibutuhkan untuk
 Mengenal pengolesan cream mengurangi invasi
perubahan gaya atau lotion bakteri pada kulit
hidup/ tingkah 5. Peragakan 4. Pioderma
laku untuk penerapan terapi memerlukan air
mencegah yang agar fleksibelitas
terjadinya diprogramkan : kulit tetap terjaga.
komplikasi. obat topical. Pengolesan cream
atau lotion untuk
mencegah agar
kulit tidak menjadi
kasar, retak dan
bersisik
5. Memungkinkan
pasien
untukmemperoleh
kesempatan untuk
menunjukkan cara
yang tepat untuk
melakukan terapi .

3.4 Implementasi Keperawatan


Disesuaikan dengan intervensi yang ada

3.5 Evaluasi Keperawatan


Dx 1: Pasien tidak mengeluh nyeri, Skala nyeri 0-1 (0-4), Pasien tidak gelisah.
Dx 2: Suhu tubuh normal (36 – 37℃), Kulit tidak pasnas, tidak kemerahan, Turgor kulit elastic,
Mukosa bibir lembab.
Dx 3: Pertumbuhan jaringan meningkat ,Keadaan luka membaik, Luka menutup,
Mencapai penyembuhan luka tepat waktu.
Dx 4: Tidak ada tanda-tanda infeksi, Tidak ada drainase purulen. Suhu tubuh normal (35,7 -37.
2℃).
Dx 5: Mengungkapkan pengertian tentang proses infeksi, tindakan yang dibutuhkan dengan
kemungkinan komplikasi, Mengenal perubahan gaya hidup/ tingkah laku untuk mencegah
terjadinya komplikasi.

3.6 Discharge planning

1. Jalani pola hidup bersih.


2. Hindari penularan melalui hubungan intim
3. M emberikan pendidikan kepada keluarga dan pasien tentang bahaya penularan dan
perawatan klien
4. Anjurkan keluarga ikut serta dalam memberikan dukungan kepada penderita.
5. Cek pasangan dan cek infeksi penyakit kelamin lainnya.

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Sifilis adalah penyakit menular seksual (PMS) yang bersifat kronis merupakan penyakit
yang berbahaya karena dapat menyerang seluruh organ tubuh termasuk sistem peredaran darah,
syaraf dan dapat ditularkan oleh ibu hamil kepada bayi yang dikandungnya, sehingga
menyebabkan kelainan bawaan pada bayi tersebut. Sifilis sering dikenal sebagai Raja Singa.
Sifilis adalah penyakit kelamin yang disebabkan oleh Treponema palidum; bersifat
kronik dansistemik. pada perjalanannya, sifilis dapat menyerang hampir semua alat
tubuh, dapat menyerupai banyak penyakit dan dapat ditularkan dari ibu ke janin.
Sifilis sering disebut sebagai Lues RajaSinga.

Gejala biasanya mulai timbul dalam waktu 1-13 minggu setelah terinfeksi; rata-rata 3-4
minggu. Infeksi bisa menetap selama bertahun-tahun dan jarang menyebabkan kerusakan
jantung, kerusakan otak maupun kematian. Infeksi oleh Treponema pallidum berkembang
melalui 4 tahapan yaitu fase primer, sekunder, laten dan tersier.

4.2 Saran

Setelah membahas penyakit Sifilis, hal terbesar yang sebaiknya kitalakukan adalah agar
lebih menanamkan perilaku hidup sehat, seperti kebiasaansehari hari dan perilaku sex. Dan
apabila sudah positif mengidap harus segeradilakukan pengobatan yang tepat
Daftar pustaka

Black.M Joyce, Jane Hokanson Hawks. 2014. Keperawatan medikal bedah. Edisi 8. Jakarta:
Elsevier.

Huda amin, Hardhi Kusuma. 2016. Asuhan keperawatan praktis. Edisi 2. Yogyakarta:
Mediacation.

NANDA Internasional. 2012. Diagnosis Keperawatan Definisi dan Klasifikasi 2012-


2014. Jakarta: EGC.

http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/viewFile/470/471

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/48399/Chapter%20II.pdf?sequence=4&is
Allowed=y

http://repository.unimus.ac.id/465/3/13.%20BAB%20II.pdf

http://repository.umy.ac.id/bitstream/handle/123456789/11595/F.%20BAB%20II.pdf?sequence=
6&isAllowed=y

https://www.scribd.com/doc/187177566/ASKEP-SIFILIS