Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM VIII

BOTANI TUMBUHAN RENDAH


(ABKC-2307)

“LUMUT”

Oleh:
Eka Nur Wahyuni
1710119120007
Kelompok III A

Asisten Dosen:
Henny Kustiani
M. Rafi’i Hamdi

Dosen Pengasuh:
Dra. Hj. Sri Amintarti, M.Si
Dra. Aulia Ajizah, M.Kes.
Nurul Hidayati Utami, S.Pd.,M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN IPA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARMASIN
NOVEMBER 2018
PRAKTIKUM VII

Topik : Lichenes
Tujuan : Untuk mengamati morfologi dan anatomi Lichenes, simbiosis
antara alga dengan jamur
Hari/Tanggal : Kamis/9 November 2018
Tempat : Laboratorium Biologi PMIPA FKIP ULM Banjarmasin

I. ALAT DAN BAHAN


Alat:
1. Mikroskop stereo binokuler
2. Baki
3. Jarum pentul
4. Tissue
5. Alat tulis
6. Alat dokumentasi
7. Kaca arloji

Bahan:
1. Lumut Daun 1 (Brachymenium nepalense)
2. Lumut daun 2 (Sphagnum sp.)
3. Lumut daun 3 (Aulacomnium androgynum)
4. Lumut Hati 1 (Marchantia polymorpha)
5. Lumut hati 2 (Porella sp.)

II. CARA KERJA


1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Mengamati morfologi Lumut daun dan Lumut hati menggunakan lup.
3. Mengambil 1 helai lumut hati dan lumut daun, lalu meletakkan di atas
kaca arloji. Dan mengamatinya di bawah mikroskop.
III. TEORI DASAR
Ciri-ciri lumut (Bryophyta) yaitu berklorofil, belum memiliki akar,
daun dan batang sejati, berspora, sudah membentuk embrio, memiliki
gametofit yang dominan dan memiliki alat pembiakan yang multi sel. Sel-
sel alat pembiakan tersebut membentuk selubung luar yang steril dan
didalamnya terdapat gamet. Struktur yang demikian penting agar gamet
terlindung dan tidak kekeringan. Alat kelamin betina (arkegonium)
bentuknya seperti botol dan berisi satu ovum, alat kelamin jantan
(anteridium) bentuknya lonjong bertangkai pendek dan menghasilkan
banyak spermatozoid.
Berdasarkan letak alat kelaminnya, lumut dibagi menjadi dua yaitu
lumut berumah satu (jika pada satu individu terdapat anteridium dan
arkegonium) dan lumut berumah dua (jika pada satu individu hanya
terdapat anteridium saja atau arkegonium saja, sehingga ada lumut jantan
dan betina).
Berdasarkan habitus (perawakan) lumut ada dua yaitu:
1. Lumut daun (music); bentuk talusnya seperti tumbuhan kecil yang
mempunyai batang semu tegak dan lembaran daun yang tersusun
spiral. Baik batang maupun daun belum memiliki jaringan pengangkut.
Pada bagian dasar batang semu terdapat rhizoid yang berupa benang
dan halus yang berfungsi sebagai akar. Pada bagian pucuk terdapat alat
pembiakan seksual berupa anteridium dan arkegonium. Contohnya
Sphagnum yang hidup di rawa dan merupakan komponen pembentuk
tanah gambut.
2. Lumut hati (Hepaticae); bentuk talusnya pipih seperti lembaran daun.
Pada permukaan ventral terdapat rhizoid dan pada permukaan dorsal
terdapat kuncup. Anteridium memiliki tangkai yang disebut
anteridiofor dan tangkai arkegonium disebut arkegoniofor. Lumut hati
dapat dipakai sebagai indikator daerah lembab dan basah.
Bryophyta adalah kelompok tanaman khas pada lahan hijau. Divisi
Bryophyta dibagi antara lain, lumut daun (Bryopsida atau Musci), lumut
hati (Hepaticopsida atau Hepaticae), dan lumut tanduk (Anthocerotopsida
atau Anthocerotae). Ketiga kelas membentuk kelompok besar, terkait
memiliki kesamaan sejumlah fitur yang khas untuk memisahkan mereka
dari tanaman vaskular. Bryophyta memiliki fase abadi, fisiologis seksual
(gametofit) dari siklus hidupnya, dibandingkan dengan gametofit parasit
pada tumbuhan vascular (Hallingback dan Hodgetts, 2000).
Bryophyta memerlukan air untuk pertumbuhan dan reproduksi.
Pertumbuhan lumut tergantung pada kondisi air yang dibutuhkan oleh
lumut. Lumut memungkinkan mengalami dormansi untuk kelangsungan
hidupnya selama musim panas. Lumut cenderung tumbuh dalam jumlah
besar pada iklim lembab. Keragaman lumut seringkali disesuaikan dengan
keragaman habitat. Lumut berperan penting dalam retensi kelembaban
tanah, daur ulang unsur hara, dan kelangsungan hidup tanaman, serta
menyediakan habitat bagi organisme lain untuk pertumbuhan (Hallingback
dan Hodgetts, 2000).
IV. HASIL PENGAMATAN
1. Lumut Daun 1 (Brachymenium nepalense)
Gambar pengamatan
a. Alat Reproduksi
Keterangan
1. Sporofit
2. Seta
` 3. Gametofid
4. Daun seta

b. Daun Semu
Keterangan
1. Ujung daun semu
2. Pangkal daun
semu

c. Rhizoid
Keterangan
1. Pangkal rhizoid
2. Ujung rhizoid

Dokumentasi pribadi.2018
Foto Pengamatan
a. Alat Reproduksi
Keterangan
1. Sporofit
2. Gametofit
3. Filoida

Dokumentasi. Pribadi 2018


b. Daun Semu
Keterangan
1. Ujung daun semu
2. Pangkal daun semu

Dokumentasi. Pribadi 2018


c. Rhizoid
Keterangan
1. Pangkal rhizoid
2. Ujung akar semu

Dokumentasi. Pribadi 2018


Foto Literatur
Keterangan
1. Filoid
2. Kapsul
3. Seta
4. Rhizoid

Sumber: Sridianti. 2018


2. Lumut Daun 2 (Sphagnum sp.)
Gambar Pengamatan
a. Alat Reproduksi
Keterangan
1. Kapsul
2. Tangkai
` 3. Daun

b. Daun Semu
Keterangan
1. Daun
2. Tangkai

Dokomentasi. Pribadi 2018


c. Rhizoid
Keterangan
1. Akar

Foto Pengamatan
a. Alat Reproduksi
Keterangan
1. Kapsul
2. Seta
3. Filoid

Dokomentasi. Pribadi 2018


b. Daun Semu
Keterangan
1. Pangkal daun semu
2. Ujung daun semu

Dokomentasi. Pribadi 2018


c. Rhizoid
Keterangan
1. Pangkal akar semu
2. Ujung akar semu

Dokomentasi. Pribadi 2018


Foto Literatur
Keterangan
1. Filoid
2. Kapsul
3. Seta
4. Rhizoid

Sumber: Sridianti. 2018

3. Lumut Daun 3 (Aulacomnium androgynum)


Gambar Pengamatan
a. Alat Reproduksi
Keterangan
1. Sporofit
2. Daun

Dokumentasi. Pribadi 2018


b. Daun Semu
Keterangan
1. Sporofit
2. Daun

Dokumentasi. Pribadi 2018


c. Rhizoid
Keterangan
1. Akar

Dokumentasi. Pribadi 2018


Foto Pengamatan
a. Alat Reproduksi
Keterangan
1. Sporofit
2. Gametofit

Dokumentasi. Pribadi 2018


b. Daun Semu
Keterangan
1. Pangkal daun semu
2. Ujung daun semu

Dokomentasi. Pribadi 2018


c. Rhizoid
Keterangan
1. Pangkal akar semu
2. Ujung rhizoid

Dokumentasi. Pribadi 2018

Foto Literatur
Keterangan
1. Kapsul
2. Seta
3. Daun semu
4. Batang semu
5. Rhizoid

Sumber: Shou. 2003


4. Lumut Hati 1 (Marchantia polymorpha)
a. Alat Reproduksi
Keterangan
1. Gametofit
2. Rusuk tengah
3. Tangkai filoid

b. Daun Semu
Keterangan
1. Tepi filoid
2. Tangkai filoid
3. Pangkal filoid

c. Rhizoid
Keterangan
1. Rhizoid
Foto Pengamatan
a. Alat Reproduksi
Keterangan
1. Gametofit
2. Rusuk tengah
3. Tangkai filoid

Dokumentasi pribadi.2018
b. Daun Semu
Keterangan
1. Tepi filoid
2. Pangkal filoid
3. Tangkai filoid

Dokumentasi pribadi.2018
c. Rhizoid
Keterangan
1. Rhizoid

Dok.Pribadi, 2018
Foto Literatur
Keterangan
1. Sporofit
2. Gametofit
3. Filoid
4. Rhizoid

(Budi, 2018)
5. Lumut Hati 2 (Porella sp.)
Gambar Pengamatan

Foto Pengamatan
Keterangan
1. Gametofit
2. Filoid
3. Batang semu

Dokumentasi pribadi.2018
Foto Literatur
Keterangan
1. Gametofit
2. Filoid

(Schou.2016)

V. ANALISIS DATA
1. Lumut daun 1 (Brachymenium nepalense)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Bryophyta
Classis : Bryopsida
Ordo : Bryales
Famili : Bryaceae
Genus : Brachymenium
Spesies : Brachymenium nepalense
(Sumber : Birsyam, 1992)
Berdasarkan hasil pengamatan, lumut daun yang kami amati di
duga merupakan spesies Brachymenium nepalense. Ciri-ciri yang
dimiliki oleh tumbuhan ini yaitu susunan tubuh tersusun atas bagian
saprofit dan gametofit. Saprofit terdiri atas kapsul berisi spora. Kapsul
ini berwarna hijau bila masih muda dan ujungnya meruncing. Seta
yang cukup panjang dan berwarna hijau berfungsi sebagai penyokong
kapsul tersebut. Kapsul yang sudah mengeluarkan spora ditandai
dengan keadaan sporofit yang melengkung ke bawah mirip seperti padi
yang berisi cadangan makanan, dan pada saat kapsul sudah
mengeluarkan spora (gigi peristom membuka), maka sprofit akan
terlihat tegak dan kapsul telihat membuka. Sedangkan pada bagian
gametofitnya terdiri atas daun semu (filoid), batang semu berbentuk
roset, dan akar semu (rhizoid).
Berdasarkan literature, ordo Bryales keadaan kapsul sporanya telah
mencapai diferensiasi yang paling mendalam. Sporogoniumnya
mempunyai satu suatu tangkai yang elastis, yang dinamakan seta.
Tangkai dengan kaki sporongiumnya tertanan dalam jaringan
tumbuhan gametofitnya. Pada ujung tangkai terdapat kapsul spora
yang bersifat radial atau dorsiventral dan mula-mula diselubungi oleh
kaliptra (Tjitrosoepomo, 2014).
2. Lumut daun 2 (Spaghnum sp.)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Bryophyta
Classis : Bryopsida
Ordo : Sphagnales
Famili : Sphagnaceae
Genus : Sphagnum
Spesies : Sphagnum sp.
(Sumber : Birsyam, 1992)
Berdasarkan hasil pengamatan lumut daun memiliki ciri
morfologi sturuktur terdiri atas bagian saprofit, daun semu, batang
semu dan akar semu di mana pada bagian saprofit tersusun lagi atas
kapsul (sporacarp) dan seta (tangkai). Daun semu berbentuk seperti
daun pada umumnya namun struktur tulang daunnya masih belum
jelas, batang berwarna kehijauan dan hampir tidak terlihat karena
susunan daunya terlalu rapat. Atas dasar ciri-ciri tersebut dan
penelusuran melalui literatur di simpulkan bahwa lumut daun ini
termsuk ke dalam genus sphagnum dan spesiesnya blum di peroleh
kepastian sehingga kami masukkan ke dalan sphagnum sp.
Gametofit lumut daun yang kami amati yaitu berupa tubuh
yang masih berupa thallus yang berbentuk seperti tumbuhan yang
masih kecil. Bagian yang menyerupai akar, batang, dan daun cukup
dapat dibedakan dengan jelas. Lembaran-lembaran daun semu
berbentuk silindris dan bergerombol serta berwarna hijau karena
mengandung klorofil. Batang semu tumbuh tegak dan membentuk
seperti roset pada ujungnya. Selain itu, terdapat bagian yang
menyerupai akar yaitu rhizoid.
Selain itu, terdapat bagian sporofit yang terlihat adanya bagian
yang berporos tegak lurus yang merupakan tangkai (seta) pada ujung
batang dan bagian atas yang membesar berbentuk bulat lonjong yang
merupakan kapsul spora yang dikelilingi oleh daun-daun yang terletak
paling atas. Seta berfungsi untuk mengangkut kapsul ke atas sehingga
spora yang dikeluarkan mudah tertiup angin dan tersebar kemana-
mana. Pada kapsul spora ini terdapat gigi peristem. Pada lumut daun
yang diamati gigi persitemnya sudah terbuka sehingga tidak terdapat
lagi spora didalamnya atau spora sudah keluar.
Daun Sphagnum sangat kecil-kecil dan letaknya bergerombol
gametofit dewasa berporos utama yang tegak lurus dan dari poros
tersebut memiliki cabang yang melingkar yang memiliki interval yang
regular. Daunnya setebal satu sel dan tidak ada tulang tengah. Selnya
terdiri dari dua tipe, yang besar dan kecil, yang letaknya berselang-
seling sehingga membentuk pola seperti jaring (Tjitrosomo, 1984).
Pada awalnya daun tersebut terbuat dari sel yang berbentuk permata
dan sel ini memisahkan sel anaknya tapi hanya pada dua sisi. Sel anak
tersebut mengembangkan kloroplas tapi sel induk tetap tidak
berwarna. Sebelum sel induk tersebut mati (Bell, 1992).
Reproduksi Sphagnum sebagian besar bersifat vegetatif,
pembusukan pada bagian yang lebih tua menyebaban cabang-cabang
terpisah dan kemudian menjadi individu baru. Siklus hidup lumut
gambut pada organ seksual tumbuh di sisi cabang tepat di bawah
ujung sumbu utama. Kapsul berwarna hijau dan mengadung kloroplas,
sedangkan kapsul yang matang berwarna coklat atau hitam. Jika
kapsul matang, bagian atas cabang arkegonia memanjang dan kapsul
tumbuh ke atas. Di bagian dalam kapsul terdapat masa spora yang
tersimpan di dalam kolumela (Tjitrosomo, 1984). Spora Sphagnum
mengalami germinasi untuk membentuk filamen tapi proses ini cepat
tergantikan oleh protonema talus yang kecil. Peristiwa ini
menyebabkan terbentuknya tunas yang berkembang menjadi gametofit
berdaun dan protonema pun menjadi lemah lalu menghilang (Bell,
1992).
3. Lumut daun 3 (Aulacomnium androgynum)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Bryophyta
Classis : Bryopsida
Ordo : Bryales
Famili : Aulacomniceae
Genus : Aulacomnium
Spesies : Aulacomnium androgynum
(Sumber : Suhono, 2012)
Berdasarkan hasil pengamatan, lumut daun yang kami amati di
duga merupakan spesies Aulacomnium androgynum. Ciri-ciri yang
dimiliki oleh tumbuhan ini yaitu susunan tubuh tersusun atas bagian
saprofit dan gametofit. Saprofit terdiri atas kapsul berisi spora dan seta
yang cukup pendek dan berwarna hijau sebagai penyokong kapsul
tersebut. Sedangkan pada bagian gametofitnya terdiri atas daun semu
(filoid), batang semu berbentuk roset, dan akar semu (rhizoid).
Aulacomnium androgynum termasuk ke dalam kelas bryopsida.
Menurut Tjitrosomo (2014), kelas bryopsida (lumut daun) lbih dikenal
disbanding lumut hati karena tumbuhan tersebut tumbuh pada tempat
yang agak terbuka dan bentuknya lebih menarik. Perbedaan yang jelas
dibandingkan dengan lumut hati adalah adanya sumbu simetri radial,
yaitu daunnya tumbuh pada semua sisi sumbu utama. Pada banyak
spesies, batangnya tegak; ada juga yang merayap tetapi cabangnya
tumbuh tegak, bahkan ada seluruhnya merayap, baik daun dan
cabangnya melengkung ke bawah ordo bryopsida.
Lumut daun dibagi menjadi tiga kelas yaitu Sphagnales,
Andreaeales, dan Bryales. Pada dasarnya berbeda satu sama lain dalam
hal sifat protonema dan struktur kapsul. Ketiganya juga berbeda dalam
hal detil mengenai ultrastruktural spermatozoid dan hal ini
memungkinkan adanya taksonomi yang penting (Bell, 1992).
Aulacomnium androgynum termasuk ke dalam ordo Bryales. Struktur
yang menarik pada lumut ini adalah generasi gametofitnya, berasal dari
protonema. Cabang protonema menyebar menutup permukaan tanah,
selnya mengandunng kloroplas. Rhizoid tumbuh pada protonema dan
menembus tanah, berwarna coklat atau tidak berwarna dan tidak
mengandung kloroplas. Tumbuhan ini biasanya berukuran beberapa
sentimeter tingginya, tetapi beragam dalam ukuran mulai dari bentuk
yang sangat kecil, hingga spesies-spesies tropik dengan ukuran hampir
setengah meter. Daun lumut ini berwarna hijau dan terkadang memiliki
jaringan khusus untuk fotosintesis. Pada umumnya jaringan terdiri dari
satu sel, kecuali di sepanjang tulang tengah.
Sedangkan reproduksi seksual pada Bryales, yaitu pada Arkegonia
dan Antheridia. Keduanya adalah spesies yang monocieous dan
duocious. Pada spesies monocious, gametangia mungkin terpisah atau
berbaur bersama dalam inflorescence yang seperti tunas. Antheridia
dan arkegonia seringkali berjumlah banyak dan terselang-seling
dengan rambut steril atau paraphyses. Seluruh kelompok dari 6 organ
tersebut biasanya dikelilingi oleh daun yang bertumpuk tumpuk
(perichaetium). Archegonia biasanya memiliki leher yang panjang.
Antheredia memiliki batang dan satu atau lebih sel apex di mana
biasanya membentuk tutup saat dewasa. Saat sekolompok
spermatozoid terlepas, tutup tersebut membuka seperti engsel (Bell,
1992).
4. Lumut hati 1 (Marchantia sp.)
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Bryophyta
Classis : Hepaticae
Ordo : Marchantuales
Famili : Marchantiaceae
Genus : Marchantia
Spesies : Marchantia polymorpha
(Sumber : Soderstrom, 2015)
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat
diketahui jenis lumut hati yang diamati adalah Marchantia
polymorpha. Bagian-bagian yang terlihat hanya rhizoid dan thallus
yang berbentuk lembaran dan bergumpal. Sedangkan untuk alat
reproduksi gametofit dan sporofit tidak terlihat atau tidak teramati.
Hal ini mungkin terjadi sebab bahan yang kami bawa pada saat
praktikum berupa bagian dari koloni (rumpun) Marchantia
polymorpha.
Berdasarkan literatur, lumut hati bangsa Marchantiales
memiliki thallus yang berbentuk pita, kurang lebih 2 cmlebarnya, agak
tebal, berdaging, dan bercabang-cabang menggarpu. Pada sisi bawa
thallus terdapat selapis sel-sel yang menyerupai daun yang dinamakan
sisik-sisik perut atau sisik-sisik ventral. Selain itu pada sisi bawah
thallus terdapat rhizoid-rhizoid yang bersifat fototrof negatif.
Gametangium pada lumut hati ini Marchantiales didukung oleh suatu
cabang thallus yang tumbuh tegak. Bagian bawah cabang thallus ini
tergulung, merupakan suatu tangkai. Di dalam gulungan itu terdapat
suatu saluran dengan benang-benang rhizoid. Tempat anteridium dan
arkegonium terpisah, jadi Marchantiales berumah dua. Pendukung
anteridium dinamakan anteridiofor, pendukung arkegonium disebut
arkegoniofor (Tjitrosoepomo, 2014).
5. Lumut hati 2
Klasifikasi
Kingdom : Plantae
Divisi : Bryophyta
Classis : Hepaticae
Ordo : Porellales
Famili : Porellaceae
Genus : Porella
Spesies : Porella sp
(Sumber : plants.usda.gov/)
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan dapat
diketahui jenis lumut hati yang diamati termasuk dalam genus Porella
dengan ciri yaitu terlihat seperti batang semu yang bercabang-cabang
berwarna hijau, namun setelah diperhatikan dengan baik maka
diketahui bahwa batang tersebut merupakan kumpulan daun-daun
yang membentuk tubuh buah lumut hati yang berbentuk seperti batang
bercabang. Adapun dalam pengamatan hanya terlihat bagian thallus
yang berupa daun semu. Itu artinya bahwa bagian yang terlihat
merupakan penghasil gamet (gametofit). Sedangkan untuk bagian
saprofit (penghasil spora) tidak terlihat/tidak ditemukan
keberadaannya.
Lumut hati (Hepaticae), bentuk talusnya pipih seperti
lembaran daun. Pada permukaan ventral terdapat rhizoid dan pada
permukaan dorsal terdapat kuncup. Anteridium memiliki tangkai yang
disebut anteridiofor dan tangkai arkegonium disebut arkegoniofor.
Lumut hati dapat dipakai sebagai indikator daerah lembab dan basah
(Amintarti,2018).
VI. KESIMPULAN
1. Bryophyta merupakan tumbuhan dengan ciri berklorofil, belum
memiliki akar, daun dan batang sejati, berspora, sudah membentuk
embrio, memiliki gametofit yang dominan dan memiliki alat
pembiakan yang multi sel.
2. Divisi Bryophyta dibagi antara lain, lumut daun (Bryopsida atau
Musci), lumut hati (Hepaticopsida atau Hepaticae), dan lumut tanduk
(Anthocerotopsida atau Anthocerotae).
3. Pada lumut daun kami mengamati spesies Brachymenium nepalense,
Sphagnum sp., Aulacomnium androgynum. Dan untuk lumut hati kami
mengamati Marchantia polymorpha, Porella sp.
4. Pada lumut daun (music), bentuk talus mempunyai batang semu tegak
dan lembaran daun yang tersusun spiral. Batang dan daun belum
memiliki jaringan pengangkut. Rhizoid berupa benang dan halus yang
berfungsi sebagai akar.
5. Pada lumut hati (Hepaticae), bentuk talus pipih seperti lembaran daun.
Permukaan ventral terdapat rhizoid dan pada permukaan dorsal
terdapat kuncup. Anteridium memiliki tangkai yang disebut
anteridiofor dan tangkai arkegonium disebut arkegoniofor. Lumut hati
dapat dipakai sebagai indikator daerah lembab dan basah.

VII. DAFTAR PUSTAKA


Amintarti, Sri. 2018. Penuntun Praktikum Botani Tumbuhan Rendah.
Banjarmasin: FKIP ULM.

Atika, dkk. 2011. Taksonomi Diviso Bryophyta.


http://www.mhakabaw.com/2011/04/bryophytalumut.html?m=1.
Diakses pada 14 November 2018.

Bell. 1992. Di dalam Edawua,N.E.E. 2015. Diversitas Bryophyta di


Pemandian Air Panas Taman Hutan Raya. Universitas
Airlangga: Jawa Timur

Birsyam, Inge L. 1992. Botani Tumbuhan Rendah. Bandung : ITB


Budi, 2018. Klasifikasi Tumbuhan Lumut (Bryophyta).
http://www.sridianti.com/klasifikasi-lumut-01.html. Diakses
pada 14 November 2018.

Hallingback dan Hodgetts. 2000. Di dalam Edawua,N.E.E. 2015.


Diversitas Bryophyta di Pemandian Air Panas Taman Hutan
Raya. Universitas Airlangga: Jawa Timur

Schou, J.C. 2016. Diakses melalui http://bryophyteportal.org/ pada 14


November 2018

Shou. 2003. Diakses melalui http://www.biopix.net/ pada 14 November


2018

Sridianti.2018. Ciri-ciri Tumbuhan Lumut (Bryophyta). Diakses melalui


http://www.sridianti.com/ pada 15 November 2018

Soderstrom L., Hagborg A., Von Konrat M. & al. 2015. World Checklist
of Hornworts and Liverworts. PhytoKeys 59 : 1-828.

Suhono, B. 2012. Ensiklopedia Biologi Dunia Tumbuhan Runjung Dan


Jamur. Jakarta: Lantera Abadi

Tjitrosoepomo. G, 2014. Taksonomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah


Mada University Press.

Anda mungkin juga menyukai