Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA

ANALISIS OBAT RUTE INTRAVENA KOMPARTEMEN SATU


TERBUKA

Dosen pengampu:
Drs. Umar Mansur, M.Sc., Apt.
Marvel, M.Farm., Apt.
Suci Ahda Novitri, M.Si., S.Far

Disusun oleh:
Kelompok 4 C
Yoga Sutrisno 11141020000053
Kinanthi Dwi Nur Baiti 11141020000030
Hikmatussaidah 11141020000033
Najah Dhuha Afifah 11141020000038
Maulia Muhtaromah 11141020000043

PROGRAM STUDI FARMASI

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Parasetamol merupakan obat yang digunakan secara luas di masyarakat
dan dilaporkan memberikan profil farmakokinetik yang berbeda ketika
diberikan pagi, siang, dan malam hari (Wole et al., 2002). Parasetamol
umumnya diberikan setiap 8 jam. Perubahan profil konsentrasi parasetamol
setelah diberikan secara berulang berdasarkan literatur belum ditentukan,
sehingga menyebabkan kesulitan dalam memprediksi profil konsentrasi
parasetamol pada setiap waktu pemberian obat (Mehul and Avinash, 2010).
Farmakokinetik obat merupakan suatu fenomena yang berkaitan erat
dengan perubahan tempo atau irama biologis terhadap proses-proses fisiologi
tubuh seperti absorbsi, distribusi, metabolisme, dan eleminasi suatu obat.
Fenomena ini akan mempengaruhi aspek farmakokinetik dari suatu obat (Haya,
2004).
Pada praktikum ini dilakukan simulasi model in vitro farmakokinetik
parasetamol setelah pemberian secara bolus intravena.

1.2 Rumusan Masalah


 Bagaimana proses farmakokinetika obat di dalam tubuh setelah pemberian
secara bolus intravena dengan simulasi model in vitro farmakokinetik obat
 Bagaimana memplot data kadar obat dalam fungsi waktu pada skala
semilogaritmik
 Bagaimana menentukan berbagai parameter farmakokinetik

1.3 Tujuan
 Menjelaskan proses farmakokinetika obat di dalam tubuh setelah pemberian
secara bolus intravena dengan simulasi model in vitro farmakokinetik obat
 Mampu menempatkan data kadar obat dalam fungsi waktu pada skala
semilogaritmik
 Mampu menentukan berbagai parameter farmakokinetik
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Farmakokinetika
Farmakokinetika dapat didefinisikan sebagai setiap proses yang
dilakukan tubuh terhadap obat, yaitu absorpsi, distribusi, metabolisme, dan
ekskresi. Dalam arti sempit farmakokinetika khususnya mempelajari
perubahan-perubahan konsentrasi dari obat dan metabolitnya di dalam darah
dan jaringan sebagai fungsi dari waktu (Tjay dan Rahardja, 2002).
Farmakokinetika atau sering disebut dengan nasib obat dalam tubuh
merupakan peristiwa-peristiwa yang dialami obat dalam tubuh. Aksi beberapa
obat membutuhkan suatu proses untuk mencapai kadar yang cukup dalam
jaringan sasarannya. Dua proses penting yang menentukan kadar obat di dalam
tubuh pada waktu tertentu adalah translokasi dari molekul obat dan transformasi
senyawa obat. Translokasi obat menentukan proses absorpsi dan distribusi
sedangkan transformasi obat menentukan proses metabolisme obat atau proses
eliminasi lain yang terlibat dalam tubuh. Farmakokinetika terkait dengan dosis
yang menentukan keberadaan obat pada tempat aksinya (reseptor), dan
intensitas efek yang dihasilkan sebagai fungsi waktu (Shargel et al., 2005).

Gambar 2.1 Proses Absorpsi, Distribusi, Metabolisme, dan Ekskresi (ADME)


Sumber: Shargel et al., 2005

Farmakokinetika yang mempelajari absorpsi, distribusi, metabolisme


dan ekskresi obat diterangkan oleh beberapa parameter untuk mengukur
perubahan variabel fisiologi. Parameter yang digunakan dalam konteks tersebut
adalah parameter farmakokinetika (khususnya parameter primer) yang
diturunkan secara matematis dari hasil penetapan kadar obat utuh atau
metabolitnya di dalam darah atau urin. Pada dasarnya terdapat tiga parameter
farmakokinetika yaitu parameter primer, sekunder, dan turunan lainnya
(Rowland dan Tozer, 1989; Shargel, 2005).
Parameter-parameter tersebut di atas pada dasarnya sangat dipengaruhi
langsung maupun tidak langsung oleh variabel fisiologi tubuh. Dan parameter
diatas tergantung dari parameter yang lainnya. Parameter yang harganya
dipengaruhi secara langsung oleh satu atau lebih variabel fisiologi terkait adalah
parameter primer. Parameter primer meliputi konstanta kecepatan absorpsi (ka),
fraksi obat terabsorpsi (fa), volume distribusi (Vd), kliren tubuh total (Cl),
kliren hepatik (ClH), dan kliren renal (ClR) (Rowland dan Tozer, 1989).
Parameter yang harganya dipengaruhi oleh parameter primer dinamakan
parameter sekunder. Parameter sekunder meliputi tetapan kecepatan ekskresi
(ke), waktu paruh eliminasi (t½ eliminasi), dan fraksi obat utuh yang diekskresi
lewat urin (fe). Selain itu juga terdapat parameter turunan yang lain, yaitu luas
di bawah kurva kadar obat utuh terhadap waktu pengambilan darah (AUC),
kadar obat pada keadaan tunak (Css) dan availabilitas oral (F). Harga parameter
AUC berguna sebagai ukuran dari jumlah total obat utuh yang mencapai
sirkulasi sistemik. Harga parameter AUC dan Css tergantung dari dosis dan
kecepatan pemberian obat (Shargel, 2005; Rowland dan Tozer, 1989).
Profil keberadaan bahan obat dalam darah sebagai fungsi dari waktu
menggambarkan interaksi antara fase ketersediaan zat aktif dan fase
disposisinya. Selain itu profil tersebut juga mengungkapkan nasib obat di dalam
tubuh. Oleh karena fenomena penyerapan zat aktif dari darah menuju jaringan
dapat terjadi secara bolak-balik (reversible), maka selalu terjadi hubungan
dinamik antara konsentrasi zat aktif dalam jaringan dan konsentrasi zat aktif
dalam darah (Aiache, 1993).
Suatu model dalam farmakokinetik adalah struktur hipotesis yangdapat
digunakan untuk karakteristik suatu obat dengan meniru suatu perilakudan
nasib obat dalam sistem biologik jika diberikan dengan suatu pemberinrute
utama dan bentuk dosis tertentu. Kompartemen adalah suatu kesatuan yang
dapat digambakan dengan suatu volume tertentu dan suatu konsentrasi. Perilaku
obat dalam sistem biologi dapat digambarkan dengan kompartemen satu atau
kompartemen dua.
Model kompartemen yang sering digunakan adalah model
kompartemen satu terbuka, model ini menganggap bahwa berbagai perubahan
kadar obat dalam plasma mencerminkan perubahan yang sebanding dengan
kadar obat dalam jaringan. Tetapi model ini tidak menganggap bahwa
konsentrasi obat dalam tiap jaringan tersebut adalah sama dengan berbagai
waktu. Di samping itu, obat di dalam tubuh juga tidak ditentukan secara
langsung, tetapi dapat ditentukan konsentrasi obatnya dengan menggunakan
cuplikan cairan tubuh (Shargel, 1988).

2.2 Jalur Pemberian Obat


Jalur pemberian obat ada 2 yaitu intravaskular dan ekstravaskular.
Pemberian secara intravaskuler merupakan pemberian obat langsung kedalam
darah yang biasanya melalui injeksi intravena atau intraarteri. Pada pemberian
intravena tidak ada proses absorpsi sehingga obat langsung masuk ke dalam
aliran sistemik. Sedangkan pemberian ekstravaskuler antara lain melalui oral,
subkutan, intramuscular, pulmonar, per-rektal, bukal dan sublingual. Pada
pemberian ekstravaskuler obat harus terabsorpsi dulu agar masuk aliran
sistemik. (Rowland & Tozzer, 1995). Setelah obat masuk dalam sirkulasi
sistemik, obat akan didistribusikan, sebagian mengalami pengikatan dengan
protein plasma dan sebagian dalam bentuk bebas. Obat bebas selanjutnya
didistribusikan sampai ditempat kerjanya dan menimbulkan efek. Kemudian
dengan atau tanpa biotransformasi obat diekskresikan dari dalam tubuh melalui
organ-organ ekskresi, terutama ginjal. Seluruh proses yang meliputi absorpsi,
distribusi, metabolisme dan ekskresi disebut proses farmakokinetik dan proses
ini berjalan serentak (Zunilda,.dkk, 1995).
Pemberian secara injeksi intravena banyak memberikan keuntungan
diantaranya efek yang timbul akan lebih cepat dibanding pemberian dengan per
oral. Selain itu administrasi ini sangat cocok diberikan pada kondisi darurat dan
terutama pada pasien yang kurang kooperatif (kondisi tidak sadar). Selain
memberikan keuntungan terdapat kekurangan yang dimiliki pada pemberian
secara intravena diantaranya adalah diperlukannya tenaga kesehatan dalam
pengadministrasiannya (sukar dilakukan sendiri oleh pasien). Selain itu proses
penginjeksiannya harus secara aseptis agar terhindar dari kemungkinan
kontaminasi (Ganiswara, 1995).
Pada pemberian secara intravena obat yang masuk ke dalam sirkulasi
sistemik dapat mengikuti model kompartemen tunggal maupun kompartemen
ganda. Pada model kompartemen tunggal obat dianggap langsung terdistribusi
ke sirkulasi sistemik tanpa memasuki kompartemen lain (jaringan). Sedangkan
pada model kompartemen ganda obat digambarkan terdistribusi ke berbagai
kompartemen seperti pada gambar dibawah ini. (Shargel et al., 2005)

2.3 Parasetamol
Parasetamol atau asetaminophen, N-asetil-4,Aminofenol (C8H9NO2)
dengan BM 151,17 dan mengandung tidak kurang dari 98% dan tidak lebih dari
101,0% C8H9NO2. Memiliki bentuk hablur atau serbuk hablur berwarna putih
tidak berbau dan rasa pahit. Parasetamol larut dalam 70 bagian air, dalam 7
bagian etanol (95%), dalam 13 bagian aseton, dalam 40 bagian gliserol dan
dalam 9 bagian propilenglikol; larut dalam larutan alkalihidroksida (FI III,
1979).

Gambar 2.2 Struktur Asetaminofen (parasetamol)


Sumber: http://google.co.id

Parasetamol atau asetaminofen adalah obat analgesic dan antipiretik


yang digunakan untuk melegakan sakit kepala, sengal-sengal dan sakit ringan,
dan demam. Digunakan dalam sebagian besar resep obat analgesic salesma dan
flu. Parasetamol aman dalam dosis standar, tetapi karena mudah didapati, over
dosis obat baik sengaja atau tidak sengaja sering terjadi. Berbeda dengan obat
analgesik yang lain seperti aspirin dan ibuprofen, parasetamol tidak memiliki
sifat antiradang.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada penggunaan parasetamol:
 Kelebihan dosis dapat menyebabkan gangguan fungsi hati
 Makanlah bersama dengan makanan atau susu
 Selama menggunakan obat ini hindari minum alkohol. Minumlah air yang
banyak (kira-kira 2 liter per hari)
 Pemakaian untuk dewasa tidak boleh lebih dari 10 hari terus menerus, dan
anak anak tidak boleh lebih dari 5 kali sehari selama 5 hari.

2.4 Spektrofotometer
Spektrofotometri sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari
spektrometer dan fotometer. Spektrofotometer menghasilkan sinar dari
spektrum dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat
pengukur intensitas cahaya yang ditransmisikan atau diabsorbsi. Jadi
spektrofotometer digunakan untuk mengukur energi relatif jika energi tersebut
ditransmisikan, direfleksikan atau diemisikan sebagai fungsi panjang
gelombang. Kelebihan spektrofotometer dengan fotometer adalah panjang
gelombang dari sinar putih dapat lebih di deteksi dan cara ini diperoleh dengan
alat pengurai seperti prisma, grating atau celah optis. Pada fotometer filter dari
berbagai warna yang mempunyai spesifikasi melewatkan trayek pada panjang
gelombang tertentu (Gandjar, 2007).
Spektrum elektromagnetik dibagi dalam beberapa daerah cahaya. Suatu
daerah akan diabsorbsi oleh atom atau molekul dan panjang gelombang cahaya
yang diabsorbsi dapat menunjukan struktur senyawa yang diteliti. Spektrum
elektromagnetik meliputi suatu daerah panjang gelombang yang luas dari sinar
gamma gelombang pendek berenergi tinggi sampai pada panjang gelombang
mikro (Marzuki Asnah, 2012).
Keuntungan utama metode spektrofotometri adalah bahwa metode ini
memberikan cara sederhana untuk menetapkan kuantitas zat yang sangat kecil.
Selain itu, hasil yang diperoleh cukup akurat, dimana angka yang terbaca
langsung dicatat oleh detektor dan tercetak dalam bentuk angka digital ataupun
grafik yang sudah diregresikan.
Secara sederhana instrumen spektrofotometeri yang disebut
spektrofotometer terdiri dari:
a) Sumber sinar polikromatis berfungsi sebagai sumber sinar polikromatis
dengan berbagai macam rentang panjang gelombang.
b) Monokromator berfungsi sebagai penyeleksi panjang gelombang yaitu
mengubah cahaya yang berasal dari sumber sinar polikromatis menjadi
cahaya monokromatis. Monokromator disebut sebagai pendispersi atau
penyebar cahaya. dengan adanya pendispersi hanya satu jenis cahaya atau
cahaya dengan panjang gelombang tunggal yang mengenai sel sampel.
Proses dispersi atau penyebaran cahaya seperti yang tertera pada gambar
2.3.

Gambar 2.2. Ilustrasi proses penyebaran cahaya


Sumber: http//:google.co.id

c) Sel sampel berfungsi sebagai tempat meletakan sampel


 UV, VIS dan UV-VIS menggunakan kuvet sebagai tempat sampel.
Kuvet biasanya terbuat dari kuarsa atau gelas, namun kuvet dari kuarsa
yang terbuat dari silika memiliki kualitas yang lebih baik. Hal ini
disebabkan yang terbuat dari kaca dan plastik dapat menyerap UV
sehingga penggunaannya hanya pada spektrofotometer sinar tampak
(VIS). Kuvet biasanya berbentuk persegi panjang dengan lebar 1 cm.
 IR, untuk sampel cair dan padat (dalam bentuk pasta) biasanya dioleskan
pada dua lempeng natrium klorida. Untuk sampel dalam bentuk larutan
dimasukan ke dalam sel natrium klorida. Sel ini akan dipecahkan untuk
mengambil kembali larutan yang dianalisis, jika sampel yang dimiliki
sangat sedikit dan harganya mahal.
d) Detektor berfungsi menangkap cahaya yang diteruskan dari sampel dan
mengubahnya menjadi arus listrik. Macam-macam detektor yaitu Detektor
foto (Photo detector), Photocell, misalnya CdS, Phototube, Hantaran foto,
Dioda foto, dan Detektor panas.
e) Read out merupakan suatu sistem baca yang menangkap besarnya isyarat
listrik yang berasal dari detektor. Adapun hal-hal yang harus diperhatikan
dalam spektrofotometri adalah:
 Pada saat pengenceran alat alat pengenceran harus betul-betul bersih
tanpa adanya zat pengotor
 Dalam penggunaan alat-alat harus betul-betul steril
 Jumlah zat yang dipakai harus sesuai dengan yang telah ditentukan
 Pada penggunaan spektrofotometri uv, sampel harus jernih dan tidak
keruh.
Serapan dapat terjadi jika foton/radiasi yang mengenai cuplikan
memiliki energi yang sama dengan energi yang dibutuhkan untuk menyebabkan
terjadinya perubahan tenaga. Jika sinar monokromatik dilewatkan melalui suatu
lapisan larutan dengan ketebalan (db), maka penurunan intesitas sinar (dl)
karena melewati lapisan larutan tersebut berbanding langsung dengan intensitas
radiasi (I), konsentrasi spesies yang menyerap (c), dan dengan ketebalan lapisan
larutan (db).
Cahaya yang diserap diukur sebagai absorbansi (A) sedangkan cahaya
yang hamburkan diukur sebagai transmitansi (T), dinyatakan dengan hukum
lambert-beer atau Hukum Beer, yang berbunyi: “Jumlah radiasicahaya tampak
(ultraviolet, inframerah dan sebagainya) yang diserap atau ditransmisikan oleh
suatu larutan merupakan suatu fungsi eksponen dari konsentrasi zat dan tebal
larutan”.
BAB III
METODOLOGI

Waktu dan Lokasi


Waktu : Selasa, 30 Oktober 2018
Lokasi : Laboratorium Penelitian 2 FIKES UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta

Alat dan Bahan

A. Alat
Spektrofotometri UV – Vis
Model peraga in vitro
Gelas beker
Spuit
Tabung reaksi
Labu ukur
Magnetic stirrer
Pipet tetes
Pipet volumetrik
Hot Plate
Timbangan analitik

B. Bahan
Parasetamol
Aquadest

Prosedur Kerja

1. Timbang 100 mg parasetamol


2. Larutkan 100 mg parasetamol kedalam labu ukur 100 ml sehingga diperoleh
larutan parasetamol dengan konsentrasi 1000 ppm
3. Ambil 10 ml dari larutan induk parasetamol 1000 ppm kedalam beker gelas
yang berisi 300 ml aquadest. letakkan diatas hot plate dan di stirrer agar
larutan homogen.
4. Ambil 10 ml tiap menit dari larutan sebagai klirens dan diganti dengan 10
ml aquadest pada percobaan manual dan atur klirens 10 ml/menit pada alat
yang menggunakan keran
5. Sampling 10 ml larutan tiap 10 menit dan diganti dengan aquadest 10 ml.
6. Ukur kadar obat yang diambil dari larutan tersebut dengan spektrofotometri
uv-vis
BAB IV
Hasil dan Pembahasan

4.1.Hasil
4.1.1 Keran
4.1.1.1 Persamaan Regresi Linier Kurva Kalibrasi

Konsentrasi Absorbansi
5 0,310

10 0,531

15 0,763

20 0,996

25 1,196

Kurva Kalibrasi y = 0.0447x + 0.0881


R² = 0.9994
1.4

1.2

0.8

0.6

0.4

0.2

0
0 5 10 15 20 25 30

Nilai Persamaan

y = 0,0447x + 0,0881
R² = 0,9994
4.1.1.2. Data Konsentrasi Per Satuan Waktu
Waktu absorbansi Pengenceran Konsentrasi
5 menit 0,684 2x y = 0,0447x + 0,0881
0,684 = 0,0447x + 0,0881
0,596 = 0,0447𝑥
𝑥 = 13,331 µg/ml
C sebenarnya = C x F. Pengenceran
= 13,331 µg/ml x 2
= 26,662 µg/ml
10 menit 0,550 2x y = 0,0447x + 0,0881
0,550 = 0,0447x + 0,0881
0,462 = 0,0447𝑥
𝑥 = 10,333
C sebenarnya = C x F. Pengenceran
= 10,333 x 2
= 20,666 µg/ml
20 menit 0,641 - y = 0,0447x + 0,0881
0,641 = 0,0447x + 0,0881
0,553 = 0,0447x
𝑥 = 12,369 µg/ml
30 menit 0,400 - y = 0,0447x + 0,0881
0,400 = 0,0447x + 0,0881
0,312 = 0,0447x
𝑥 = 6,978 µg/ml
40 menit 0,246 - y = 0,0447x + 0,0881
0,246 = 0,0447x + 0,0881
0,158 = 0,0447x
𝑥 = 3,532 µg/ml
50 menit 0,153 - y = 0,0447x + 0,0881
0,153 = 0,0447x + 0,0881
0,065 = 0,0447x
𝑥 = 1,452 µg/ml
60 menit 0,101 - y = 0,0447x + 0,0881
0,101 = 0,0447x + 0,0881
0,013 = 0,0447x
𝑥 = 0,288 µg/ml

T (menit) C (ppm) Ln C

5 26,662
3,283
10 20,666
3,028
20 12,369
2,515
30 6,978
1,942
40 3,532
1,261
50 1,452
0,372
60 0,288
-1,244

4.1.1.3. Kurva Konsentrasi Per Satuan Waktu

No. Nilai Teoritis Praktikum


Parameter
1. Co M1 x V1 = M2 x V2 Ln C = Ln Co – kt
1000 ppm x 10 ml = x ppm x 500 ml Ln C = 3,9457-0,0766t
x =10.000 ppm / 500 Ln Co = 3,9457
x = 20 ppm Co = 51,71 µg/ml
= 0,0517 mg/ml
2. k k = Cl / Vd Ln C = Ln Co – kt
k = 10 ml/menit /500 ml Ln C = 3,9457-0,0766t
k = 0,02 / menit k = 0,0766/ menit

3. T1/2 T1/2 = 0,693 / k T1/2 = 0,693 / k


T1/2 = 0,693 / 0,02 /menit T1/2 = 0,693 / 0,0766/ menit
T1/2 = 34,65 menit
T1/2 = 9,04 menit
4. Cl 10 ml /menit Cl = k x Vd
Cl = 0,0766/ menit x 193,42 ml
Cl = 14,81 ml/ menit
5. AUC AUC = Co / k AUC = Co / k
AUC = 20 µg/ml / 0,02/menit AUC = 51,71 µg/ml / 0,0766/ menit
AUC = 1000 µg.menit/ml AUC = 675,06 µg.menit/ml
6. Dosis Do = 10 ml x 1000 ppm Do = 10 ml x 1000 ppm
Do = 10 ml x 1000 µg/ml Do = 10 ml x 1000 µg/ml
Do = 10 ml x 1 mg/ml Do = 10 ml x 1 mg/ml
Do = 10 mg /ml Do = 10 mg /ml

7. Vd 500 ml Vd = Do / Co
Vd = 10 mg/ ml / 0,0517 mg/ml
Vd = 193,42 ml
Kurva Keran y = -0.0766x + 3.9457
R² = 0.9509
4

0
0 10 20 30 40 50 60 70
-1

-2

4.1.1.4. Perhitungan Ln Co
y = -0,0766x + 3,9457
R² = 0,9509
Ln C = Ln Co – kt
Ln C = 3,9457-0,0766t
Ln Co = 3,9457
K = 0,0766/menit

4.1.1.5. Nilai Parameter


Waktu absorbansi Pengenceran Konsentrasi
5 menit 0,650 2x y = 0,0447x + 0,0881
0,650 = 0,0447x + 0,0881
0,562 = 0,0447x
𝑥 = 12,570
𝑥 = 25,140 µg/ml
= 12,570 x 2
= 25,140 µg/ml
10 menit 0,631 2x y = 0,0447x + 0,0881
0,631 = 0,0447x + 0,0881
0,543 = 0,0447x
𝑥 = 12,145
C sebenarnya = C x F. Pengenceran
= 12,145 x 2
= 24,290 µg/ml
16 menit 0,516 2x y = 0,0447x + 0,0881
0,516 = 0,0447x + 0,0881
0,428 = 0,0447x
𝑥 = 9,573
C sebenarnya = C x F. Pengenceran
= 9,573 x 2
= 19,145 µg/m
20 menit 0,814 - y = 0,0447x + 0,0881
0,814 = 0,0447x + 0,0881
0,726 = 0,0447x
𝑥 = 16,239 µg/ml
25 menit 0,685 - y = 0,0447x + 0,0881
0,685 = 0,0447x + 0,0881
0,597 = 0,0447x
𝑥 = 13,353 µg/ml
30 menit 0,579 - y = 0,0447x + 0,0881
0,579 = 0,0447x + 0,0881
0,491 = 0,0447x
𝑥 = 10,982 µg/ml
40 menit 0,380 - y = 0,0447x + 0,0881
0,380 = 0,0447x + 0,0881
0,292 = 0,0447x
𝑥 = 6,530 µg/ml
50 menit 0,267 - y = 0,0447x + 0,0881
0,267 = 0,0447x + 0,0881
0,179 = 0,0447x
𝑥 = 4,002 µg/ml
60 menit 0,181 - y = 0,0447x + 0,0881
0,181 = 0,0447x + 0,0881
0,093 = 0,0447x
𝑥 = 2,078 µg/ml
4.1.2. Manual
4.1.2.1. Persamaan Regresi Linier Kurva

Konsentrasi Absorbansi
5 0,310

10 0,531

15 0,763

20 0,996

25 1,196
y = 0.0447x + 0.0881
Kurva Kalibrasi R² = 0.9994
1.4

1.2

0.8

0.6

0.4

0.2

0
0 5 10 15 20 25 30

Nilai Persamaan

y = 0,0447x + 0,0881
R² = 0,9994

4.1.2.2. Data konsentrasi per satuan waktu

t (menit) C (ppm) Ln C

5 25,140
3,224
10 24,290
3,190
16 19,145
2,952
20 16,239
2,787
25 13,353
2,591
30 10,982
2,396
40 6,530
1,876
50 4,002
1,386794
60 2,078
0,731406

4.1.2.3.Kurva Konsentrasi Per Satuan Waktu


Kurva Manual y = -0.046x + 3.6563
R² = 0.9833
4

3.5

2.5

1.5

0.5

0
0 10 20 30 40 50 60 70

4.1.2.4. Perhitungan Ln Co
y = -0,046x + 3,6563
R² = 0,9833
Ln C = Ln Co – kt
Ln C = 3,6563 - 0,046t
Ln Co = 3,6563
K = 0,046/menit
4.1.2.5. Nilai Parameter
No. Nilai Teoritis Praktikum
Parameter
1. Co M1 x V1 = M2 x V2 Ln C = Ln Co – kt
1000 ppm x 10 ml = x ppm x 500 ml Ln C = 3,6563-0,046t
Ln Co = 3,6563
x =10.000 ppm / 500
Co = 38,71 µg/ml
x = 20 ppm
=0,0387 mg/ml
2. k k = Cl / Vd Ln C = Ln Co – kt
k = 10 ml/menit /500 ml Ln C = 3,6563-0,046t
k = 0,02 / menit k = 0,046 / menit

3. T1/2 T1/2 = 0,693 / k T1/2 = 0,693 / k


T1/2 = 0,693 / 0,2 /menit T1/2 = 0,693 / 0,046 / menit
T1/2 = 34,65 menit T1/2 = 15,06 menit
4. Cl 10 ml /menit Cl = k x Vd
Cl = 0,046 / menit x 258,39 ml
Cl = 11,88 ml/menit
5. AUC AUC = Co / k AUC = Co / k
AUC = 20 µg/ml / 0,02/menit AUC = 38,71 µg/ml / 0,046 / menit
AUC = 1000 µg.menit/ml AUC = 841,52 µg.menit/ml
6. Dosis Do = 10 ml x 1000 ppm Do = 10 ml x 1000 ppm
Do = 10 ml x 1000 µg/ml Do = 10 ml x 1000 µg/ml
Do = 10 ml x 1 mg/ml Do = 10 ml x 1 mg/ml
Do = 10 mg /ml Do = 10 mg /ml

7. Vd 500 ml Vd = Do / Co
Vd = 10 mg/ml / 0,0387 mg/ml
Vd = 258,39 ml
A.1. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini dilakukan simulasi model in vitro farmakokinetik


obat setelah pemberian secara intravena 1 kompartemen terbuka. Percobaan ini
bertujuan untuk menjelaskan proses farmakokinetik obat dalam tubuh setelah
pemberian injeksi bolus secara intravena dan mengetahui profil farmakokinetk
obat. Obat yang digunakan yaitu parasetamol, dengan pemerian berupa hablur atau
serbuk hablur putih, rasa pahit, berbau, serbuk kristal dengan sedikit rasa pahit.
Parasetamol memiliki efek farmakologi menghilangkan atau mengurangi nyeri
ringan sampai sedang, dan juga dapat menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme
yang diduga berdasarkan efek sentral. Parasetamol diabsorbsi cepat dan sempurna
melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu ½
jam dan masa paruh plasma antara 1-3 jam.
Pada prosedur kerja dilakukan dengan dua metode percobaan yang bereda,
namun prinsipnya sama. Hal ini dikarenakan keterbatasan alat maka ada yang
dilakukan dengan menggunakan alat dan ada yang menggunakan beaker glass.
Prosedur dilakukan dengan Dalam metode ini, suatu wadah digambarkan sebagai
kompertemen tubuh dimana obat mengalami profil farmakokinetik dari distribusi
hingga eliminasi obat. Larutan obat (dianggap sediaan injeksi) dimasukan sekaligus
(bolus) ke dalam suatu wadah (dianap sebagai kompartemen darah). Cairan dalam
wadah kemudian akan dikeluarkan dengan suatu kecepatan konstan (dianggap
sebagai proses eliminasi). Cairan yang hilang karena eliminasi kemudian diganti
dengan air (dianggap sebagai air yang diminum).
Langkah kerja awal dilakukan dengan menyiapkan sebuah wadah kemudian
diisi dengan air 300 ml. Lalu buat larutan induk parasetamol 1000 ppm kemudian
encerkan hingga 20 ppm dan masukan kedalam wadah tadi. Untuk kelompok yang
menggunakan alat model kompartemen, sebelum memasukan larutan obat,
dilakukan pengaturan aliran pengeluaran keran dalam jumlah konstan terlebih
dahulu dan dilakukan penyesuaian dengan air yang ditambahkan melalui alat
seperti alat infus, agar cairan yang keluar dan cairan yang masuk sama. Dan untuk
yang menggunakan beaker glass, akan dilakukan pengambilan cairan dari wadah
setiap 1 menit sebanyak 10 ml lalu menggantinya dengan memasukan kembali
aquadest baru kedalam beaker sebanyak 10 ml juga. Proses ini disimulasikan
sebagai klirens (Cl). Klirens suatu obat adalah suatu ukuran eliminasi obat dari
tubuh tanpa mempermasalahkan mekanisme prosesnya. Umumnya jaringan tubuh
atau organ dianggap sebagai uatu kompartemen cairan dengan volume terbatas
(volume distribusi) dimanaobat terlarut didalamnya (Shargel, 2005).
Sebelum memasukan sampel juga wadah tersebut diberi magnetic stirer
yang berfungsi untuk mengaduk terus menerus cairan yang ada didalamnya, yang
menggambarkan seperti aliran darah yang mengalir dalam tubuh dengan kecepatan
konstan. Sehinga ketika cairan sampel obat dimasukkan akan tercampur merata
dengan air yang ada di dalam wadah. Setelah siap, kemudian larutan obat
parasetamol dimasukan kedalam nya lalu disampling (diambil cuplikan) pada menit
ke 5, 10, 16, 20, 25, 30, 40, 50, dan 60. Cuplikan yang diambil ditentukan kadarnya
dengan menggunakan spektrofotometri UV-VIS, untuk selanjutnya dihitung
parameter-parameter farmakokinetik kompartemen 1 terbuka.

(tinggal bagian maul)


DAFTAR PUSTAKA

DepKes RI. 1995, Farmakope Indonesia, Edisi IV, Departemen Kesehatan


Republik Indonesia, Jakarta.
Shargel, L. dan Andrew, A, 1988, Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan.
Surabaya : Airlangga University Press
Shargel, L., Yu, A., and Wu, S., 2005, Biofarmasetika dan Farmakokinetika
Terapan, Edisi kedua, Airlangga University Press, Surabaya