Anda di halaman 1dari 56

BAHAN AJAR

MATA KULIAH FISIOLOGI HEWAN

I. Tinjauan Mata Kuliah

1. Deskripsi Singkat

Dalam mata kuliah ini tercakup pengertian fisiologi hewan dan kaitannya dengan ilmu lainnya, fungsi
sel, metabolisme sel, sistem saraf, hormon dan cara kerjanya, otot dan gerak, sistem pencernaan
makanan, sistem respirasi, sistem peredaran darah, sistem ekskresi dan osmoregulasi, termoregulasi

2. Kegunaan Mata Kuliah

Mata kuliah fisiologi hewan akan bermanfaat bagi mahasiswa dalam memahami tentang proses-
proses dan aktivitas hidup yang terjadi pada hewan pada tingkat individu, sistem organ, jaringan, sel
dan molekul pada semua jenis hewan bahkan juga manusia dipandang sebagai salah satu anggota
vertebrata serta koordinasinya.

Selain itu mahasiswa dapat memahami perkembangan ilmu fisiologi hewan melalui temuan-temuan
penting dibidang endokrinologi dan reproduksi.

3. Standar Kompetensi

Setelah menyelesaikan mata kuliah ini mahasiswa dapat menjelaskan aktivitas dan fungsi pada
tingkat individu, sistem organ, organ, jaringan, sel dan molekul pada semua jenis hewan bahkan juga
manusia dipandang sebagai salah satu anggota vertebrata serta koordinasinya dengan benar

4. Materi

1. Homeostasis dan Fungsi Sel

2. Sistem Saraf

3. Hormon dan Cara Kerjanya

4. Otot dan Gerak

5. Sistem Pencernaan Makanan

6. Sistem Respirasi

7. Sistem Peredaran Darah

8. Sistem Ekskresi dan Osmoregulasi

9. Termoregulasi
5. Petunjuk bagi Mahasiswa

1. Sebelum perkuliahan hendaknya mahasiswa telah membaca buku yang relevan dengan materi
yang aka dibahas pada setiap pertemuan

2. Ikuti setiap materi yang dipraktikumkan agar semua materi dapat dipahami dan dimengerti
dengan benar

3. Carilah tambahan materi yang relevan dengan materi yang akan dibahas dari internet.
Diskusikan dalam kelompok-kelompok kecil

4. Mintalah petunjuk dari dosen jika ada konsepyang belum dipahami dengan baik

5. Kerjakan tugas mandiri yang diberikan sesuai dengan ketentuan yang disepakati baik sisi teknis
maupun batas pemasukan.
BAB I

PENGERTIAN FISIOLOGI HEWAN DAN KAITANNYA DENGAN ILMU-ILMU LAINNYA

1.1 Pendahuluan

Deskripsi singkat

Bab ini menguraikan pengertian fisiologi hewan, konsep-konsep yang mendasari penelitian fisiologi
dan bidang-bidang khusus dalam fisiologi hewan tersebut.

Kompetensi Dasar

Setelah menyelesaikan materi ini mahasiswa diharapkan akan dapat menjelaskan tentang fisiologi
hewan dan kaitannya dengan ilmu-ilmu lainnya secara tepat

1.2 Penyajian

Fisiologi ialah salah satu cabang biologi yang membahas tentang fungsi, benda-benda yang hidup.
Batasan yang lebih modern menyatakan bahwa fisiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari
tentang homeostasis dan mekanisme pengendalian yang berlangsung untuk mencapai dan
memelihara homeostasis.

Homeostasis adalah istilah yang dipakai oleh seorang ahli fisiologi (Wlater B. Canon 1871-1945)
untuk menunjukkan adanya stabilitas yang dipertahankan di dalam badan pada suatu organisme
yang hidup, walaupun banyak faktor yang kemungkinan mencoba merubah stabilitas itu.

Berkaitan dengan batasan tersebut diatas, fisiologi hewan membahas tentang fungsi alat dalam
tubuh hewan dana manusia dalam usahanya mencapai dan memelihara homeostasis. Dengan
demikian keadaan tubuh yang normal/sehat menggambarkan pelaksanaan secara tepat
homeokinesis dan homoedinamika di dalamnya.

Beberapa ahli yang berpandangan mekanistik menyatakan bahwa fenomena fisiologi dapat
dijelaskan dengan ilmu kimia, fisika dan matematika. Selain itu masih diperlukan juga bantuan (1)
anatomi, untuk menjelaskan fenomena fisiologi atas dasar susunan suatu alat; (2) biokimia, untuk
menjelaskan berbagai fenomea fisiologi berdasarkan reaksi kimia baik yang terjadi di dalam maupun
diluar sel; (3) biofisika, untuk memberikan panduan dalam menjelaskan fenomena listrik dan
mekanik yang terjadi di dalam tubuh dan (4) genetika, untuk menerangkan fenomea fisiologi yang
berupa kemampuan herediter, diferensiasi dan perkembangan. Dengan demikian dalam fisiologi
terjadi perpaduan antara keterangan-keterangan dari masing-masing disiplin ilmu. Suatu
keuntungan yang diperoleh dalam mempelajari fisiologi hewan, yaitu adanya kesamaan fungsi alat
dalam berbagai hewan termasuk mamalia. Sehingga banyak informasi yang diperoleh dari
percobaan-percobaan pada hewan yang dapat diterapkan pada manusia.

Bidang-bidang khusus dalam fisiologi hewan

Bertolak dari kenyataan bahwa dalam fisiologi hewan akan muncul bidang-bidang khusus yang
menekankan pada satu aspek atau lebih
Penekanan pada sistem organ tertentu atau jenis aktivitas tertentu misalnya Endokrinologi yang
berkaitan dengan jaringan penghasil hormon dan fungsinya. Neurofisiologi yang berhubungan
dengan struktur dan fungsi sistem saraf pada semua tingkat.

Fisiologi perilaku mendapat banyak perhatian dan menjadi sasaran dari berbagai penelitian, mulai
dari basis molekuler, penerimaan perasaan atau proses pengubahannya dalam gaya safari untuk
analisis perilaku dan masyarakat dan populasi hewan. Salah satu cabang, Etiologi berusaha
menganalisis perilaku secara kuantitatif dalam kondisi alami. Suatu bidang yang diilhami rekayasa
yaitu Bionik, dalam hal ini aktivitas tatanan hidup disimulasikan ke dalam perlengkapan mekanik
atau elektronik, sedangk dalam Kibernetik yang disimulasikan adalah koordinasi dan pengendalian
dalam tatanan hidup

Beberapa konsep yang mendasari penelitian kefaalan

Untuk keperluan perkembangan fisiologi pada umumnya perlu disertai eksperimentasi sehingga
bidang ilmu bukan sekedar kumpulan teori. Sebagaimna umumnya pendekatan ilmiah yang pertama
kali dilakukan adalah observasi yang diikuti oleh penyusunan hipotesis dan kemudian melakukan
eksperimentasi untuk menguji kebenaran hipotesis yang diajukan. Proses ini diulang untuk
menyaring informasi yang diperoleh sebelumnya dan membawanya sedekat mungkin pada
kenyataan. Dalam hal ini penyusunan hipotesis dan prosedur eksperimen, eksperimentator dituntut
memliki daya imajinasi yang tinggi

Dalam menyampaikan penjelasan dikenal dua cara :

1. Berdasarjab konsep-konsep kebiologian, dalam hal ini hipotesis atau teori dinyatakan
dengan bahasa evolusi, genetika, adaptasi atau perkembangan dalam tatanan biologi

2. Untuk menjelaskan struktur atau fungsi tertentu menggunakan cara kimiawi atau fisikawi

Hewan pada semua tingkat perkembangan tidak hanya bereaksi tehadap perubahan-perubahan
lingkungannya tetapi lebih dari itu, mereka mengatur dan mengendalikan reaksi-reaksi seperti itu.
manifestasinya adalah selenggaraan mekanisme faali yang bertanggung jawab terhadap keajegan
lingkungan internal yang dinyatakan dengan istilah Homeostasis.

Lingkungan internal dapat berubah karena aktivitas sel dan perubahan lingkungan eksternal
organisme. Hewan yang mampu mempertahankan keajegan lingkungan secara nisbi disebut sebagai
regulator, sedang hewan lain yang disebut sebagai Konformer merupakan hewan yang lingkungan
internal berubah sejalan dengan perubahan lingkungan eksternal. Selain mekanisme homeostasis
ada dua cara lain untuk mempertahankan lingkungan eksternal yang tidak sesua yang disebut
sebagai Homokinesis.

Tanggapan terhadap perubahan lingkungan itu merupakan usaha untuk mempertahankan hidupnya.
Oleh kaerna itu adaptasi mempunyai arti yang banyak maka lebih tepat jika disebut Kompensasi

Untuk keperluan eksperimen perlu dilakukan semacam kompensasi terhadap hewan percobaan
yaitu menyesuaikanya terhadap kondisi-kondisi lingkungan laboratorium yang terkendali kecuali
hanya satu atau dua faktor yang berubah. Penyesuaian seperti ini disebut aklimasi. Penyesuaian
yang jauh lebih rumit ialaha aklimatisasi, berlangsung dalam kondisi lingkungan alami dengan
multivariabel yang mengalami perubahan. Cara penyesuaian terakhir ini lebih sulit analisisnya.

Kemampuan organisme untuk melakukan regulasi dan konformasi terbatas pada suatu kisaran
tertentu yang disebut batas toleransi. Diluar batas toleransi hewan mempertaruhkan beberapa
kemampuannya untuk bertahan terhadap lingkungan ekstrim. Pada keuda ujung kisaran toleransi
sebenarnya terdapat dua titik kematian, karena meskipun hewan mampu bertahan hidup tetapi
pada hakikatnya hewan menderita kerusakan yang akhirnya akan kalah.

Aklimasi dan aklimatisasi berlangsung dalam beberapa hari atau minggu, sedang adaptasi
memerlukan periode waktu yang lebih lama dan dapat menghasilkan suatu spesies. Secara teori
dikenal tiga cara melakukan Homeostasis

1. Jika perubahan lingkungan dapat diramalkan, suatu cara penjadwalan dapat memberi
imbangan internal secara periodik pada fluktuasi yang belum diketahui

2. Kondisi-kondisi eksternal dapat dinilai dan bersama-sama dengan pengetahuan sifat-sifat


reaksi, suatu perkiraan dapat dibuat untuk sejumlah perubahan yang diketahui lebih dahulu.
Kemudian suatu anggapan yang layak dapat dimulai untuk mengatasi perubahan yang
diharapkan.

3. Kondisi internal dapat dipantau dan penyimpangan apapun yang tidak semestinya dari
normal yang berlaku dapat digunakan sebagai suatu isyarat untuk memulai suatu tanggapan
yang akan berhenti hanya bila norma itu telah dipulihkan.

Rangkuman

Kita semua memahami bahwa mahluk hidup dibedakan dengan mati berhubung dengan beberapa
hal antara lain aktivitas yang ditampilkannya, seperti tumbuh, gerak pindah tempat, pertukaran zat,
reproduksi, bereaksi terhadap rangsang dll. Berkaitan dengan itu fisiologiawan tidak harus dipuaskan
dengan hanya menemukan bahwa suatu organisme, ia harus menyelidiki lebih dalam dan berusaha
lebih keras memperoleh kejelasan mekanisme yang menggerakkan aktivitas itu, lebih dalam lagi
masalah pengendaliannya, dan liku-likunya pada tingkat molekuler. Permasalahan menjadi
berkembang dalam fisiologi hewan berdasarkan bahwa berbagai jenis hewan memiliki ciri-ciri dan
lingkungan hidup berlainan.

Dengan demikian jelas bahwa ruang lingkup fisiologi hewan mencakup aktivitas dan fungsi individu
pada tingkat individu, sistem organ, organ, jaringan, sel, dan tingkat molekul pada hewan bahkan
manusia, jika manusia dianggap sebagai vertebrata serta koordinasinya.

1.3 Penutup

a. Tes formatif

1. Apa yang dimaksud dengan

a. Fisiologi hewan
b. Endokrinologi

2. Jelaskan perbedaan antara aklimasi dan aklimatisasi

b. Umpan balik

Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal berikut :

- Membuat ringkasan materi pada bab tersebut sebelum materi dibahas dalam diskusi

- Aktif dalam diskusi

1.4 Senarai

Fisiologi hewan : ilmu yang mempelajari tentang proses dan aktifitas yang terjadi dalam tubuh
hewan

Endokrinologi : ilmu yang mempelajari tentang kelenjar penghasil hormon dan fungsinya
BAB II

FUNGSI SEL DAN HOMEOSTASIS

2.1 Pendahuluan

Deskripsi Singkat

Bab ini menguraikan tentang homeostasis, membran sel dan translokasi zat melewati membran sel

Kompetensi Dasar

Setelah menyelesaikan materi ini mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan tentang funsi sel secara
tepat

2.2 Penyajian

Homeostasis adalah azas dasar yang menopang semua proses fisiologis. Dengan itu suatu proses
organisme dijamin tetap berada dalam kondisi mantap sehingga proses-proses organisme dijamin
tetap berada dalam kondisi mantap sehingga proses-proses yang melibatkan sel tampil optimal.
Dalam hal homeostasis maka sasaran pembicaraan adalah cairan luar sel (CLS) dan cairan dalam sel
(CDS).

CLS meliputi plasma darah dan cairan antar sel (CAS). Komposisinya dipelihara oleh sistem-sistem
kardiovaskular, respirasi, gastrointestinal, endokrin dan saraf yang berkerja dalam suatu koordinasi.

Komposisi CDS berbeda dengan CLS, keduanya dipelihara oleh membran sel

2.2.1 Membran Sel

Semua sel hewan terbungkus dalam membran sel yang tersususn dari beraneka ragam lipid dan
protein.

Lipid, terutama fosfolipid dan kolesterol tersusun menjadi dua lapis. Ujung molekul lipid yang
bersifat hidrofil (polar) yaitu yang mengandung gugus fosfat, berderet –deret berhadapan dengan
CLS dan CDS. Ujung hidrofob molekul lipid (rantai hidrokarbon) berhadapan satu sama lain di dalam
membran.

molekul-molekul protein terselip dalam dua lapis lipid. bebereapa macam protein terentang setebal
dua lapis lipid. sedang protein lainnya setengah bagian berada di dalam sel atau di luar sel. protein
yang beragam itu melayani sejumlah fungsi yaitu sebagai :

1. Reseptor, dalam hal ini protein bertindak sebagai tempat untuk mengikat antibody,
hormone, neurotransmitter, dan bahan farmakologi.

2. Enzim, berbagai enzim terikat pada membrane sel, melayani berbagai fungsi fosforilasi zat
antara dalam metabolisme.
3. Pengangkut (Ing, oarrier), berbagai zat diangkut melewati membrane sel oleh macam-
macam protein pengangkut.

4. Kanal ion, berbagai molekul kecil berdifusi melwati kanal atau pori pada membran. protein
membentuk kanal ini terentang setebal dua lapis lipid.

2.2.2 Translokasi Zat Melewati Membran Sel

Ion-ion, bahan gizi dari berbagai limbah hasil metabolisma dikeluarkan melalui membran sel dengan
berbagai cara, pasif dan aktif. Cara-cara itu ialah:

Transpor pasif tanpa ada energi

ini adalah proses “Turun Bukit” (Ing, downhill process). Cara transport ini ada dua macam yaitu difusi
sederhana dan difusi dengan kemudahan. anda semua tahu apa yang dimaksud dengan difusi.
Misalnya satu sendok gula dalam segelas air jika dibiarkan gula akan merata pada air di dalam gelas.

Difusi sederhana terjadi karena semua zarah dalam larutan berada dalam gerakan ajek (Ing,
constant), dari suatu daerah berkadar tinggi kedaerah lain berkadar rendah dari pada sebaliknya.
dalam hal ini dikatakan bahwa zarah bergerak mengikuti landaian konsentrasi (Ing, constant
gradient) dengan difusi. Apabila konsentrasi zarah serbasama dimana saja dalam larutan maka pada
hakekatnya gerakan itu terhenti. Meskipun gerakan non zarah tidak berhenti, konsentrasi tetap
sama.

Transpor Aktif. Proses transpor aktif memerlukan energi dan arahnya melawan landaian
konsenstrasi atau “mendaki bukit”. Transpor aktif ada dua macam yaitu : (1) menggunakan energi
langsung dari satu sumber dan (2) menggunakan energi tidak langsung dari sumbernya.

(1) Transpor aktif yang menggunakan energi langsung dari sumbernya yaitu adenosine triphosphat
(ATP)

(2) Transport aktif yang memiliki sumber energi tidak lansgung tersedia yaitu menggunakan
simpanan energi dalam landaian konsenstrasi Na+. Sistem ini dapat berkerja hanya jika konsentrasi
Na+ diluar sel lebih tinggi dari pada konsentrasi Na+ didalam sel .Energi diperlukan untuk
membentuk landaian konsentrasi Na+, dan inilah yang dimasud dengan energi diatas

Trasnport aktif jenis ini digunakan untuk :

a. Memasukkan glukosan dan asam amino ke dalam sel dengan melawan landaian
konsentrasinya. Dalam hal ini mula-mula Na+ tinggi. Dengan kejadian itu maka daya pengikat
pengangkut terhadap glukosa meningkat. Pengangkut memindahahkan keduanya Na+ dan glukosa
ke dalam sel dan disitu Na+ lepas dari pembawanya karena konsentrasinya di dalam sel rendah.

b. Transpor material keluar dari sel, misalnya untuk mengeluarkan Ca2+ dari dalam sel, Ca2+ yang
keluar ditukar dengan Na+, keluarnya Ca+ melawan landaian elektrokimia, sedang masuknya Na+
adalah sebaliknya.
Osmosis. Transpor trans membran molekul air dengan landaian tekanan osmotik. Tekanan osmotik
antara lingkungan dalam sel dengan lingkungan luar sel dapat diwujudkan berbeda. Hal itu dapat
terlaksana dengan adanya perbedaan konsentrasi zarah yang tidak melalui membran sel, didalam
dan diluar sel.

Transpor trans-membran lain. Membran plasma dapat mengalami invaginasi dan selanjutnya
melepaskan diri membentuk vesikula dalam sel, bersamaan dengan itu benda-benda yang akan
dimasukkan ke dalam sel terperangkap dalam vesikula, proses ini disebut endostiosis. Proses
sebaliknya disebut eksositosis, dalam hal ini vesikula dalam sel, berisi benda-benda yang akan
dikeluarkan dari sel, merapat pada membran plasma dan mengosongkan isinya keluar sel.

Rangkuman

Homeostasis adalah azas dasar yang menopang semua proses fisiologis. Dengan itu suatu proses
organisme dijamin tetap berada dalam kondisi mantap sehingga proses-proses yang melibatkan sel
tampil optimal. Dalam hal homeostasis maka sasaran pembicaraan adalah cairan luar sel (CLS) dan
cairan dalam sel (CDS).

Semua sel hewan terbungkus dalam membran sel yagn tersusun dari beraneka ragam lipid dan
protein.

Translokasi zat melewati membran sel melalui cara-cara :

- Transpor pasif tanpa ada energi

- Transpor aktif

- Osmosis

- Transpor trans membran cara lain

2.3 Penutup

a. Tes formatif

1. Jelaskan perbedaan antara transpor pasif dan transpor aktif

2. Jelaskan perbedaan antara osmosis dan difusi

b. Umpan balik

Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal berikut :

- Membuat ringkasan materi pada bab tersebut sebelum materi dibahas dalam diskusi

- Aktif dalam diskusi


2.4 Senarai

Transpor pasif : perpindahan zat mengikuti landain konsentrasi

Transpor aktif : perpindahan zat melawan landaian konsentrasi

Osmosis : perpindahan zat pelarut dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah

Difusi : perpindahan zat terlarut dari konsetnrasi tinggi ke konsentrasi rendah


BAB III

SISTEM SARAF

3.1 Pendahuluan

Deskripsi Singkat

Bab ini menguraikan tentang struktur sel saraf, impuls, sinaps dan neurotransmiter serta sistem
saraf pada vertebrata tinggi dan vertebrata rendah

Kompetensi Dasar

Setelah menyelesaikan materi ini diharapkan mahasiswa dapat :

1. Menjelaskan struktur sel saraf

2. Menjelaskan arti impuls, sinaps dan neurotransmiter

3. Menjelaskan sistem saraf pada vertebrata tingkat tinggi

4. Menjelaskan sistem saraf pada vertebrata tingkat rendah

3.2. Penyajian

3.2.1 Struktur Neuron

Pada suatu neuron dapat dibedakan perikaryon,dendrite dan neurit. Perikaryon adalah bagian
neuron yang mengandung nucleus atau karyon. Dendrite dan neurit adalah lanjutan perikaryon.
Berdasarkan jumlah lanjutan itu, neuron dapat dibagi dalam tiga bentuk:

1. Neuronum bipolar, mempunyai dua lanjutan yaitu dendrite dan neurit.

2. Neuronum pseudonipolare (Yun.,pseudys=semu)

3. Neuronum multipolare (Lat.,multus=banyak)

Kebanyakan dendrite bercabang-cabang sebagai pohon. Ujung neurit juga disebut axon, bercabang-
cabang sebagai pohon dan disebut telodendron (Yun.,telos=ujung atau akhir;dendron=pohon).
Ujung setiap cabang telodendron membesar dan disebut bulbus terminalis atau bouton. Sitoplasma
neuron disebut neuroplasma dan di dalamnya terdapat badan Nissl, mitokondria, neurofilamen,
apararus golgi, lisosom, dan pigmen melanin. Satu badan Nissl terdiri atas reticulum endoplasmikum
dngan ribosom. Di dalam mitokondria diadakan oksidasi karbohidrat, lemak dan beberapa asam
amino , dan menghasilkan ATP. Mitokondria banyak terdapat did ala perikaryon, bulbus terminalis,
dan di tempat-tempat yang ada nodus neurofibrae.

Membrane neuron juga disebut plasmalema atau axolema jika yang dimaksud membrane
yang menyelubungi akson. Neurit dan dendrite dibungkus lapisan lemak yang disebut myelin. ,tetapi
tidak selalu dibungkus seperti itu. Bahan myelin itu diproduksi oleh sel khusus yaitu sel Schwann
yang berada di luar selubung myelin. Sel-sel pembentuk myelin ini berderet-deret sepanjang neurit
dan dendrite tetapi kedudukannya satu sama lain tidak merapat, sehingga di antara dua sel yang
berurutan itu tidak ada selubung myelin. Tempat ini disebut nodus neurifibrae atau nodus Ranvier.

3.2.2 Potensia Istirahat

Potensial aksi, dan impuls. Bila suatu serabut araf dipotong dan pada tempat pemotongan itu
diletakan suatu electrode dari suatu alat pengukur listrik dan electrode lain dari alat itu diletaka
apda axolema di sebelah luar, ternyata timbul aliran listrik yang melalui alat pengukur listrik
tersebut. Aliran listrik itu datang dari electrode yang ada pada dataran luar axolema dan pergi ke
tempat pemotongan akson (pada axolema). Dengan demikian pada dataran luar axolema ada
muatan positif dan di sebelah dalam axolema ada muatan negative.

Di sebelah luar dan sebelah dalam axolema ada ion-ion Na, K, dan Cl. Banyaknya ion Na di
sebelah luar axolema 10 x jumlah ion di sebelah dalam axolema, sedangkan ion Cl kira-kira 13 x nya.
Banyaknya ion Kdi sebelah dalam axolema 40 x daripada di sebelah luar. Perbedaan komposisi
elektrolit antara sisi dalam axolema dengan sisi luarnya menimbulkan petbedaan potensial sebesar -
75mV. Perbedaan potensial ini disebut potensial istirahat.

Pada keadaan istirahat, permeabilitas axolema terhadap ion Na rendah, sehingga


gradient konsentrasi Na tidak dapat dituruni denga dfusi pasif. Permeabilitas axolema terhadap ion K
relative tinggi. Kebanyakan aniondi dalm sel ialah protein bermuatan negative dan fosfat
(H2PO4 HPO4). Permeabilitas axolema terhadap keduanya luar biasa rendahnya. Kondisi
seperti itu memungkinkan kelistrikan kedua sisi membrane dipertahankan dengan bantuan transport
aktif. Secara berkesinambungan system transport ini memompa ion Na ke luar dan sebaliknya ion K
masuk ke dalam sel. Dalam hal ini berperan enzim Na –K – ATPase yang membebaskan energy dari
ATP.

Semua sel hidup memiliki potensial istirahat , namun pada sel-sel yang dapat dirangsang
(neuron, sel otot) memiliki kelebihan bahwa membrane plasma dapat berubah status
permeabilitasnyaterhadap ion sehingga berubah pula potensialnya.

Jika stimulus dikenakan pada axon , axolema menjadi lebih permeable terhadap ion-ion Na, K,
dan Cl. Jika demikian halnya, maka ion-ion Na masuk ke dalam axon mengikuti gradient konsentrasi.
, sehingga di sebelah luar axolema muatan positif berkurang dan di sebelah dalam axolema muatan
negative berkurang. Akibatnya perbedaan potensial berkurang. Peristiwa ini disebut depolarisasi.
Pengurangan muatan positif di sebelah luar axolema dan pengurangan muatan negative di sebelah
dalam axolema terus berlangsung sampai tidak ada perbedaan potensial lagi. Kemudian justru di
sebelah luar axolema timbul muatan negative dan di sebelah dalam tmbul muatan positif, sehingga
terjadi lagi perbesaan potensial sebesar +40mV.

Dalam situasi seperti ini ion-ion K keluar dari axon, sehingga akhirnya muatan disebelah luar
axolema positif lagi dan di sebelah dalam negative lagi. Peristiwa ini disebut repolarisasi. Oleh
karena terlalu banyak ion K yang keluar, sehingga perbedaan potensial mencapai sebesar -90mV.
Peristiwa ini disebut hiperpolarisasi. Tetapi, kemudian kelebihan ion K ini masuk lagi, sehingga
perbedaan potensial menjadi -75mV lagi.

Untuk mencapai keadaan seperti semula (semula dirangsang) hanya dapat terjadi dengan
mengeluarkan ion Na dan memasukkan ion K secara aktif dengan system pompa Na-K. Perubahan
fisikokimia tersebutyang disebabkan oleh suatu stimulus disebut impuls, dan potensial yang timbul
sebesar =40mV disebut potensial aksi.

Jika stimulus tidak cukup kuat untuk mendepolarisasikan membrane mencapai ambang,
potensial aksi tidak terjadi. Jika ambang itu dicapai maka serta merta terjadi potensial aksi
sepenuhnya. Berdasarkan hal inilah dikatakan bahwa terjadinya potensial aksi tunduk pada hokum
“all-or-none”.

Pada awal repolarisasi sel tidak tanggap terhadap stimulus berapapun kuatnya, periode ini
disebut periode refrakter mutlak, dan pada akhir repolarisasi sel dapat dirangsang dengan stimulus
yang lebih kuat daripada normal,periode ini disebut periode refraktor nisbi.

3.2.3 Penghantaran Impuls

Suatu titik pada akson dirangsang dengan stimulus sehingga disitu timbul potensial aksi. Potensial
aksi ini pada gilirannya akan berperan sebagai stimulus bagi titik-titik terdekat di kanan kirinya,
sehingga pada titik-titik itu timbul potensial aksi dan seterusnya peristiwa ini berulang sepanjang
akson. Dengan demikian terjadilah penghantaran impuls. Pada akson yang berselubung myelin
depolarisasi hanya terjadi pada bagian yang tidak berselubung yaitu nodus neurofibrae. Bila pada
satu nodus neurofibrae sedang mengalami depolarisasi, muatan positif disebelah luar axolema pada
nodus neurofibrae berikutnya pindah ke nodus pertama dan muatan positif di sebelah dalam
axolema pada nodus pertama itu pindah ke nodus berikutnya. Bila depolarisasi pada nodus ini
mencapai nilai ambang, terjadi potensial aksi dan seterusnya. Hantaran impuls cara demikian
disebut secara meloncat-loncat atau saltatoris.

Kecepatan hantaran impuls didalam suatu axon sebanding dengan tebalnya akson, makin
tebal akson, makin cepat hantaranya. Dengan adanya nodus neurofibrae hantaran impuls lebih
dipercepat. Kecepatan hantaran dalam akson hewan-hewan poikiloterm lebih lambat daripada
hantaran dalam akson hewan-hewan homoioterm.

3.2.4 Pemindahan Impuls

Pemindahan impuls terjadi dari satu neuron ke neuron lain dengan melalui suatu penghubung yang
disebut sinapsis. Sinapsis terbentuk dari bulbus terminalis suatu neuron dengan salah satu bagian
dari neuro lain, dapat perikaryon, dendrite, atau neurit. Membrane bulbus terminalis yang
berhadapan langsung dengan membrane neuron lain disebut membrane presinapsis dan membrane
neuro lain itu disebut membrane postsinapsis. Diantara kedua membrane itu, dipisahkan oleh suatu
celah yaitu celah sinapsis.
Di dalam bulbis terminalis terdapat gelembung-gelembung kecil yang disebut vesikula
presinapsis, di dalamnya mengandung asetil kolin. Selain itu didalamnya terdapat banyak
mitokondria. Impuls yang mencapai bulbus terminalis menyebabkan permeabilitas membrane
terhadap ion Ca meningkat sehingga ion-ion Ca yang berada diluar membran masuk ke dalam bulbus
terminalis. Ion Ca itu selanjutnya mendorong vesikula membebaskan asetil kolin ke dalam celah
sinapsis dengan cara eksositosis. Selanjutnya asetil kolin bebas tertangkap oleh reseptornya yang
ada pada membrane postsinapsis. Kompleks reseptor-asetil kolin inilah yang selanjutnya
menimbulkan depolarisasi pada membrane postsinapsis. Depolarisasi yang terjadi olehkarena asetil
kolin disebut potensial postsinapsis eksitatoris (Lat.,exoitatio=rangsangan).dengan demikian trjadilah
pemindahan impuls itu.

Dalam peristiwa itu asetil kolin menyebabkan membrane postsinapsis lebih permeable
terhadap ion Na. oleh karena peranannya, asetilkolin disebut substansi neurotransmitter. Asetilkolin
bukan satu-satuntya neurotransmitter, masih ada beberapa macam neurotransmiter dengan siftnya
masing-masing yang khas.

Glisin adalah salah satu contoh substansi neurotransiter selain asetilkolin. Substansti ini
menyebabkan permeabilitas membrane terhadap ion K dan ion Cl masuk. Akibatnya perbedaan
potensial antara bagian luar dan dalam membranbertambah, artinya timbul hiperpolarisasi.
Hiperpolarisasi yang timbul ini di sebut potensial posttinapsis inhibitoris (Lat., inhibition=hambatan).
Dengan timbulnya potensial ini berarti menutup kemungkinan penghantaran bagi impuls lain.
Neurontrasnmiter jenis penghabat ini banyak di jumpai dalam pusat susunan saraf, yang berfungsi
mengatur porsi impuls yang masuk pusat susunan saraf. Substansi neurotransmitter lain yang
kerjanya seperti glisin ialah GABA (gamma-amino-butyric-acid).

Di sini perilaku potensial generator serupa dengan potensial reseptor. Reseptor seperti ini diantara
lain berupa fotoreseptor, fonoreseptor, statoreseptor.
BAB IV

SISTEM HORMON

4.1 Pendahuluan

Deskripsi Singkat

Bab ini menguraikan tentang pengertian hormon, klasifikasi hormon, regulasi sekresi, peran hormon
dalam metabolisme, keseimbangan elektrolit dan reproduksi

Kompetensi Dasar

Setelah menyelesaikan materi ini mahasiswa diharapkan dapat, menjelaskan tentang hormon dan
cara kerjanya secara tepat.

4.2 Penyajian

4.2.1 Integrasi fisiologi

Tubuh hewan bertulang belakang terdiri dari banyak sel yang berklompok-kelompok sesuai dengan
spesialisasinya, masing-masing dengan fungsinya sendiri, dan tidak mungkin menghasilkan suatu
tanggapan seragam dari semua sel bila mendapat stimuli. Oleh karena itu dengan adanya system
integrasi dan koordinasi pusat masalh itu dapat teratasi.

Pada vetebrata telah berkembang tiga sistem yang tumpang -tindih untuk proses informasi
fisiologi. Setiap sistem memiliki satu penerima (receiver) dan satu pengirim (sender) yang khas, dan
dilengkapi satu kurir (messenger). Tiga sistem ini dioprasikan untuk mengatur tanggapan-tanggapan
terhadap stimuli internal dan eksternal sehingga diperoleh hasil utama: pemeliharaan keseragaman
dan keajegan lingkungan yang berhubungan dengan sel, cairan luar sel. (ekstra cellular cell fluid),
dengan integrasi tanggapan-tanggapan khas untuk setiap organ. Dengan cara ini, komposisi cairan
luar sel dijaga dalam batas-batas yang cocok untuk kelangsungan –hidupan sel-sel.

Ketiga system integrsi itu ialah: 1) sistem saraf, 2) sistem hormon (endokrin), dan 3) sistem
neuroondokrin. Masing-masing system itu memiliki sifat khas. Untuk memahami peranannya dalam
berbagai proses fisiologi baik kita telaah satu persatu.

1. Sistem saraf dikhususkan untuk tanggapan-tanggapan cepat yang akut. System ini
bercabang dua yaitu (a) somatic (terutama mengendalikan otot sadar )dan (b) autonomik
(mengendalikan fungsi-fungsi tidak sadar)

2. Sistem hormon (endokrin) dikhususkan untuk tanggapan-tanggapan kronis. System ini


terdiri dari dua komponen yaitu: (a) kelenjar-kelenjar sekresi internal dan (b) sel-sel
endokrin khusus tersebar rata dalam jaringan non-endokrin. System ini mengendalikan
nutrisi, pertumbuhan, reproduksi, dan homeostatistis internal. System menerima masukan
dari perubahan-perubahan dalam CLS. Kurirnya (hormon) mungkin larut lemak atau larut air
dan mungkin mempunyai berat molekul kecil atau besar. Hormon itu dibebaskan
kedalam CLS dengan stimulus kimiawi dan dibawah oleh darah ke tempat sasaran
yang jauh. Hormone itu memiliki potensi untuk kontak dengan semua sel dalam tubuh.

3. Sistem neuroendokrin memilki sifat-sifat yang ada pada system saraf dan system hormon.
System ini istimewah dalam hal mampu mengubah signal-signal neural (listrik) menjadi
signal-signal kimiawi (humoral). Kurir (hormon) disintesis dalm sel saraf khusus, selanjutnya
dibebaskan dengan stimulus listrik ke dalam darah dan beroprasi di tempat yang jauh. Sel-sel
system neuroendokrin membentuk dua populasi besar:

a. Neuron-neuron dengan perikaryon besar di dalam nukleus supraoptikus dan nukleus


paraventrikularis, keduanya berada didalm hipotalamus; ujung-ujung axonnya berada didalam
bagian belakang hipofisis (neurohifosis) disitu membebaskan sekretnya;

b. Neuron-neuron dengan perikaryon kecil, juga di dalam hipotalamus (nucleus ventromedialis, n.


dorsomedialis, n. infundibularis) di situ membuat hormone-hormon pembebas dan penghambat,
yang mengatur sekresi bagian depan hipofisis (adenohipofisis).

c. Neuoroendokrin pelengkap tambahan terdapat pada bagian sum-sum glandula adrenalis dan
epifisis.

4.2.2 Klasifikasi Sistem Hormon

Berdasarkan susunan kimia hormon-hormon yang sekarang diketahui dapat dibuat klasifikasi sbb: (1)
amin, (2) prostaglandin, (3) ateroid, (4) polipetida/protein . Struktur yang paling sederhana ialah
amin, contohnya ialah epinerfin. Berikutnya lebih rumit strukturnya ialah prostaglandin yaitu asam-
asam lemak tidak jenuh siklis, contohnya ialah prostaglandin PGK2. Kemudian hormon steroid ialah
turunan hidrokarbon siklis, dalam semua tahap. Di sintesis dari prekusor steroid kolesterol. Hormon-
hormon polipeptida dan protein adalah yang paling besar molekulnya dan paling rumit strukturnya.
Contoh hormon steroid ialah hormon-hormon reproduksi, sedangkan hormon polipeptida atau
protein mencakup sebagin hormon-hormon metabolisme.

4.2.3 Klasifikasi Fungsional Hormon

Sistem endokrin ditandai dengan tanggapan-tanggapan serempak yang bermacam-macam terhadap


stimuli spesifik. Kenampakan tanggapan-tanggapan itu berbedah dan khusus sesuai dengan stimulus,
system endokrin bercirikan saling bergantung dan saling kerja sama karena kelenjar endokrin dalam
isolasi tidak perna berfungsi. Oleh karena itu kerja hormon penjaringan-penjaringan sasarnnaya
tidak mungkin disama-ratakan. Namun dapat dibuat klasifikasi menjadi empat kelas efek yang
diperantarai endokrin (tabel 10.1). efek kinetik meliputi migrasi pegmen, kontraksi otot, dan sekresi
kelenjar. Efek-efek metabolik terutama terdiri dari perubahan-perubahan laju reaksi-reaksi
keseimbangan dan konsentrasi komponen-komponen jaringan. Efek-efek morfogenetik bertalian
dengan pertumbuhan dan diferensiasi. Efek-efek perilaku hasil dari pengaruh hormonal pada
aktivitas sistem saraf. Suatu hormon tidak selalu masuk dalam satu kelas karena hormon-hormon
ada yang berefek lebih dari satu.
4.2.4 Regulasi Sekresi Hormon

Aktivitas sekretori jaringan endokrin dikendalikan dengan sistem umpan balik negatif. Dalam hal ini
konsentrasi hormon itu sendiri, atau tanggapan terhadap hormon oleh jaringan sasaran, akan
berpengaruh menghambat pada proses-proses sintesis dan sekresi yang ber tanggung jawab
memperbanyak hormon bersangkutan . Sistem umpan balik ini beroperasi dengan tiga cara lintasan;
(1) lintasan terbuka ,(2) lintasan tertutup singkat , dan (3) lintasan tertutup panjang (Gambar 4 .1)

Cara mengepak dan sekresi hormon bermacam-macam tergantung pada sifat-sifat setiap hormon.
Tempat-tempat untuk sintesis dan sekresi hormon berlainan dalam sel.

Tabel 4.1 Klasifikasi macam-macam efek hormon vertebrta

Hormon poliped dan protein

Dalam hal hormone poliped atau protein, hormo sebagai molekuk kurir yang pertama, disekresikan
ke dalam aliran darah dan terbawah ke

Gambar 4.2 Bagan mekanisme kerja hormon steroid (hormone kelamin) pada sel sasarannya (sel
endometrium). Dalm bagan ini juga diperlihatkan mekanisme kerja hormone polipetid
(gonadotropin) pada sel sasarannya (sel gonad). Seluruh bagan melukiskan hierarki kerja hormone
kelamin, hubungan hipotalmus-hipofisis, dan hipofisis dehormon perifer. Juga disitu tampak
hubungan neuron –endokrin.

Sel-sel sasarannya. Pertama kali hormone membentuk kompleks reseptor hormone yang kemudian
mempengaruhi enzim adenil-siklase yang sudah ada pada membran sel sasaran. Selanjutnya
adenilsiklase mengubah ATP, menjadi AMP siklis (cAMP) selanjutnya cAMP bertindak sebagai kurir
kodum yang pada gilirannya akan mengaktifkan protein kinaso. Protein kinaso melaksanakan
posforilasi terhadap protein dan hasilnya dan hasilnya adalah tanggapan sel terhadap hormon

Gambar 4.3 Mekanisme kerja hormon poptid (afinofrin) pada gol hati.

Latihan

1. Gambar sel syaraf motorik, sensorik dan interneuron

2. Apa yang dimaksud dengan:


- Impuls

- Sinaps

3. Sebutkan minimal 2 buah ciri-ciri refleks

4. Jelaskan bagaimana hewan bersel satu dapat mengkoordinasikan aktivitas hidupnya

5. Apa yang dimaksud dengan Hormon

6. Jelaskan dengan bagan hubungan Hormon dan aktivitas Testes

Kunci jawaban

1. Gambar sel syaraf

2. a. Impuls, dapat dikatakan sebagai berita yang disampaikan melalui serabut syaraf

b. Sinaps adalah titik temu antara satu sel syaraf dengan sel syaraf lain

3. Ciri-ciri refleks

- Dapat diramalkan

- Mempunyai tujuan terntentu

- Umumnya spontan tidak perlu dipelajari lebih dahulu

- Mempunyai fungsi sebagian pelindung dan pengatur dan sangat penting bagi tingkah laku
hewan

4. Hewan bersel satu walaupun tidak mempunyai urat syaraf, tetapi mereka dapat
mengkoordinasi aktivitas hidupnya. Hal ini karena hewan bersel satu protoplasmanya dapat
melakukan segala kegiatan sebagai mahluk hidup seperti :

- Iritsbilita

- Bergerak

- Penyesuaian diri terhadap lingkungan

5. Hormon adalah substansi kimi yang sekresikan oleh kelenjar endokrin (kelenjar buntu)
langsung ke pembuluh darah

6. Bagan hubungan Hormon dan aktivitas testes


Rangkuman

Terjadinya koordinasi pada segala aktivitas hewan disebabkan karena ada sistem syaraf. Sistem
syaraf dibangun oleh sel syaraf. Pada dasarnya ada sel syaraf sensorik, sel syaraf motorik dan sel
syaraf interneutron

Aktivitas dalam tubuh vertebrata banyak sekali yang dalam bentuk refleks dan refleks sangat penting
bagi kelangsungan kehidupan.

Refleks tidak lain merupakan unit Integrasi untuk sinap dan untuk integrasi tersebut prinsip-prinsip
summasi, fasilitasi, dan inhibisi sangat penting

Pada dasarnya pembagian otak vertebrata itu sama yaitu otak muka. Otak tengah dan otak
belakang. Pada vertebrata rendah otak muka berfungsi sebagai pusat pembau, otak tengah pusat
penglihatan dan otak belakang pusat pendengaran dan keseimbangan

Hewan bersel satu protoplasmanya merupakan pusat koordinasi aktifitas hidupnya. Hewan bersel
banyak yang simetri radial syarafnya masih tersebar meskipun Echinodermata sudah mempunyai
struktur tertentu tapi belum ada ganghon.

Pada hewan bilateral mulai terjadi sefalisasi dan terbentuk ganghon otak. Selain oleh sistem syaraf
aktifitas hewan ditentukan pula oleh sistem hormon. Terdapat hubungan erat antara sistem syaraf
dengan sistem hormon melalui hipotamulus dan syaraf hormon.

Pada vertebrata kelenjar endokrin (kelenjar buntu) yang pada dasarnya sama. Masing-masing
kelenjar hormon menghasilkan hormon tertentu yang pengeluarannya dipengaruhi oleh lingkungan
via hipotamulus mengeluarkan neurohormon yang disebut faktor pelepas

Berbagai hormon mempengaruhi proses daur estrus, kehamilan dan ciri kelamin sekunder.

a. Tes Formatif

1. Satu sel syaraf lainnya berhubungan dengan :

a. Sebuah sinaps

b. Dua buah sinaps

c. Tiga buah sinaps

d. Banyak sinaps

2. Zat kimia penghantar (Transmitter) dibentuk pada:

a. Bongkol sinaps

b. Membran sinaps

c. Membran possinaps

d. Celah sinaps
3. Ikan hiu berburu dengan penciuman sedangkan ikan Tuna memburu mangsanya dengan
penglihatan. Secara berturut-turut otak yang berkembang pada kedua jenis ikan tadi ialah :

a. Otak tengah dan otak belakang

b. Otak tengah dan otak muka

c. Otak muka dan otak tengah

d. Otak muka dan medula

4. Hewan bersel satu aktivitas hidupnya diatur oleh:

a. Silia

b. Pseudopodia

c. Protoplasma

d. Inti sel

5. Serangga mempunyai pusat penglihatan

a. Lobus optikus

b. Proto serebrum

c. Deutero serebrum

d. Trito serebrum

6. Jika otak serangga dibuang serangga tersebut:

a. Masih bisa terbang

b. Tidak dapat terbang

c. Bergerak menjadi lambat

d. Bergerak bebas

7. Hipotamulus banyak mengeluarkan neurohormon diantaranya:

a. FSHRF yang mempunyai hipofisis untuk mengeluarkan FSH yang mempengaruhi pematangan
folikel dan spermatogenesis

b. FSHRF yang mempengaruhi hipofisis untuk mengeluarkan FSH yang mempengaruhi pematangan
folikel dan spermatogenesis

c. FSHRF yang mempengaruhi hipofisis untuk mengeluarkan vasopressin untuk regulasi

8. Sel-sel syaraf hipotamulus yang menghasilkan oksitisin mengeluarkan hormon

a. Langsung ke dalam darah


b. Melalui akson ke pembuluh kafiler

c. Melalui akson ke hipotesis belakang

d. Melalui akson ke sistem porta hipotesis hipotamulus

9. Pada musim hamil FSH dicegah terjadinya oleh :

a. Progesteron dan Estrogen dari Ovarium

b. Pregesteron dan Estrogen dari Plasenta

c. Pregesteron dan Estrogen selama kehamilan

d. Progesteron, Estrogen dan LH

10. Jika seekor Bunglon matanya ditutup ia akan berwarna hitam karena :

a. Matanya tak berfungsi karena ditutup

b. Lingkungan menjadi gelap bagi Bunglon

c. Telah ada hubungan dengan syaraf

d. Hipotamulus mengeluakan MSHR

b. Umpan balik

Cocokkan jawaban anda dengan kunci jawaban tes formatif yang terdapat pada bagian akhir materi
ini dan hitunglah jawaban anda yang benar. Kemungkinan gunakan rumus di bawah ini untuk
mengetahui tingkat penguasaan anda dalam materi ini.

RUMUS

Tingkat penguasaan =

Arti tingkatan penguasaan yang anda capai

90% - 100% = baik sekali

80% - 89% = baik

70% - 79% = sedang

69% = kurang

Jika anda mencapai tingkat penguasaan 80% keatas, anda dapat meneruskan kegiatan belajar
berikutnya. Namun, jika nilai anda dibawah 80% anda harus mengurangi kegiatan belajar materi ini,
terutama yang belum anda kuasai.

Kunci Jawabn

Test Formatif
1. d

2. a

3. c

4. c

5. b

6. a

7. b

8. c

9. c

10. b

Senarai :

Dendrit : Serabut pendek bercabang, menyalurkan impuls ke badan sel

Hormon : Substansi kimia yang disekresikan oleh kelenjar endokrin (kelenjar buntu) dan dicurahkan
langsung ke pembuluh darah

Impuls : Berita yang disampaikan melalui serabut syaraf

Neurit : Serabut saraf panjang dan menyalurkan impuls dari badan

Neurotransmitter : Zat kimia yang dikeluarkan oleh ujung-ujung syaraf


BAB V

OTOT DAN GERAK

5.1 Pendahuluan

Deskripsi Singkat

Bab ini menguraikan tentang struktur otot, komposisi otot, mekanisme kontraksi otot dan
hubungan otot dan saraf.

Kompetensi Dasar

Setelah menyelesaikan materi ini mahasiswa diharapkan akan dapat menjelaskan otot dan gerak
secara benar

5.2 Penyajian

5.2.1 Gerak Otot

Gerak otot berlandaskan kemampuan serabut otot dengan menggunakan energi berasal dar
metabolism yaitu memendek (kontraksi) dan kembali memanjang pada arah panjangnya (relaksasi).

5.2.2 Struktur Otot

Sel otot pada vertebrata mengadung struktur subseluler yang melandasi sifat kontraktil yang
dimilikinya, yaitu mikrofilamen. Struktur itu dibedakan menjadi dua macam : Filamen Tebal terdiri
dari myosin dan filamen tipis terdiri dari aktin dan sejumlah protein lain.

Kontraksi otot adalah hasil interaksi kedua macam filament yang mewujudkan suatu transformasi
energy kimia kedalam energy mekanik, yang memungkinkan berlangsungnya berbagai gerak.

Mikrofilamen dalam sel otot khusus disebut miofilamen. Jenis otot antara lain ditentukan oleh
sususannya. Dalam sel otot skeletdan otot jantung tersusun teratur sejajar sumbu panjang sel.
Didalam sel otot jumlahnya amat banyak, apalagi dalam sel otot jantung, berkelompok sejajar
sumbu panjang sel dan sebagian lagi berada di antara deretan myofibril, selebihnya berada di
perifer, bergerombol dibawah sarkolema. Keadaan ini sesuai dengan peranan otot yang
menghendaki penyediaan energi secara berkesinambungan, cepat, dan jumlahnya banyak.

Satu lagi struktur dalam sel otot yang berperan sangat menentukan yaitu reticulum
sarkoplasma. Bangunan ini susunannya khas, tidak begranula, bersegmen pada batas pita A dan pita
I. Tubulus-tubulus yang menyusun bangunan ini berorientasi sepanjang aksis longitudinal myofibril
sehingga disebut system tubulus L (L = Longitudinal). Dekat perbatasan antara pita-pita A dan I
semua tubulus dari segmen bergabung membentuk sisterna terminal (N.H. sisterna terminalis, lat.
Cistern = tangkai dibawah tanah, terminalis = ujung), yang berjalan transversal terhadap deretan
myofibril. Sisterna terminal yang berdampingan tidak langsung berdekatan, melainkan di antaranya
masuk tubulus yang berasal dari invaginasi plasmalema dan menyatu dengan kedua sisterna.
Tubulus terakhir itu disebut tubulus T (T = Transversal). Sesama tubulus T membentuk anastomosis
dan keseluruhannya disebut system T. Keseluruhan struktur yang terdiri dari dua sisterna yang
berdampingan dan satu tubulus T disebut Trias (Ing. Triad). Anastomosis tubulus T berhubungan
langsung dengan ruang interseluler

Dalam reticulum sarkoplasma, terutama dal sisterna, terdapat banyak kantong kecil yang memiliki
kemampuan menampung ion Ca2+ secara aktif

Sehingga konsentrasinya dapat mencapai beberapa ribu kali konsentrasi Ca2+ disekitarnya.

Otot skelet (N.H. Textus muncularis skeletalis) juga disebut otot seran lintang (N.H. Textus
muncularis skeletalis) oleh karena adanya kenampakan garis-garis gelap terang. Otot jantung (N.H.
Textus muncularis cardiacus striatus) juga termasuk otot seran lintang tetapi secara fungsional
terdapat perbedaan. Hal ini akan dibicarakan dalam faal jantung.

Otot jenis lain yaitu otot polos (N.H. Textus muncularis nonstriatus) strukturnya berlainan dengan
otot skelet dan tentu saja berbeda pula faalnya. Otot polos pada vertebrata tersebar dalam berbagai
alat dalam (Ing. Viscera), Tidak memperlihatkan garis-garis gelap-terang, pendek, berbentuk
gelendong benang (Ing. Fusiform).

5.2.3 Pengaktifan Otot

Dalam laboratorium, stimulus listrik umum digunakan untuk merangsang otot. Stimulus berkekuatan
dibawah nilai ambang tidak menimbulkan tanggapan kontraktil. Antara saat stimulus dengan saat
otot mulai menanggapinya terdapat periode laten. Kira-kira selama 0,01 det. Periode kontraksi
selama kira-kira 0,04 det, dan periode pemulihan atau relaksasi selama 0,05 det.

Peningkatana kekuatan stimulus terus menerus menyebabkan kontraksi makin kuat dan akhirnya
mencapai kekuatan maksimal. Pada kekuatan stimulus maksimal semua fibra otot memberi
tanggapan, karena nilai ambang semua fibra otot telah tercapai. Rentetan kejadian ini menghasilkan
penjumlahan kontraksi spasial (Ing. Spatial summation of contraction).

Sifat elastis otot tergantung pada sarkolema dan jaringan ikat elastis yang mengelilingi otot dan fibra
otot. Bukan pada filament-filamen kontraktil. Sedang myofibril itu barangkali merupakan substansi
plastis murni. Regangan plasti pada otot polos pada pokoknya lebih mencolok daripada otot skelet.
Dalam keadaan normal sel otot menjadi aktif oleh impuls yang dibawa serabut saraf (serabut
motoris, motoneuron). Tempat kontak antara serabut saraf dan sel otot disebut sinapsis
neuromuskuler atau sambung saraf-otot (Ing. Neuromuscular junction).

Unit fungsional untuk aktivitas motor bukan hanya otot sendiri melainkan unit motor atau satuan
motoris yaitu jumlah serabut otot yang dipersaraf (diinervasi) dan dikendalikan oleh satu serabut
saraf. Unit motor menanggapi suatu impuls sebagai satu kesatuan, artinya seluruhnya berkontruksi
secara maksimal, atau tidak satupun dari mereka yang berkontraksi secara maksimal. Reaksi
demikian disebut reaksi semua atau tidak sama sekali (Ing. All-or-none reaction). Setiap otot terdiri
dari sejumlah unit motor dan kekuatan kontraksi otot itu secara keseluruhan tergantung kepada
beberapa banyak unit motor yang digiatkan. Dalam otot-otot yang berlainan, rasio persarafan dapat
berkisar dari 100 (M. lumbricalis) hingga lebih dari 1.000 (M. temporalis) serabut otot/neuron (Sel
saraf). Pengerahan lebih banyak unit motor menghasilkan penambahan tensi.

5.2.4 Kontraksi Tunggal

Untuk mempelajari aktivitas otot kita gunakan alat perekan yaitu komigraf (Ing. Kymograph) atau
osiloskop (Ing. Oscilloscope). Dalam eksperimen fisiologi umumnya menggunakan stimulus listrik
karena ketepatannya yang besar. Untuk maksud-maksud tertentu dapat digunakan stimulus lain
seperti mekanik, kimia, elektromagnetik, suhu, atau perubahan, atau perubahan osmotic.

Stimulus adekuat singkat dikenakan pada otot skelet dan tanggapannya direkam, kita memperoleh
rekaman kontraksi tunggal (Gamb. 4.4). Pada rekaman itu dapat dikenal adanya fase-fase aktivitas
seperti telah dikemukakan dalam 4.1.1.3. Jumlah waktu yang digunakan untuk kontraksi otot
beragam tergantung dari suhu. Dalam suhu rendah kontraksinya lebih lama daripada dalam suhu
tinggi.

Otot menghasilkan tensi secara isotonic atau isometric. Tensi (Kontraksi) isotonic menghasilkan
kekuatan yang tetap selama otot memendek (Yun. Iso,sama, tonikos=kekuatan). Tensi (kontraksi)
isometric menyebabkan peningkatan kekuatan sementara panjang otot tetap (Yun, iso=sama,
metron=ukuran). Komunikasi kedua macam tensi itu adalah normal sebagai hasil aktivitas otot yang
disebut kontraksi suksotonik. Dalam hal ini pemendekan otot bersama-sama dengan penambahan
kekuatan.

Pada otot-otot yang berlainan waktu kontraksinya sangat berbeda lamanya. Misalnya otot cepat
berlangsung lebih singkat daripada otot lambat. Pada hewan menyusu waktu kontraksi kedua jenis
otot itu berbanding kira-kira 1 : 3,5. Di samping itu pada kontraksi isotonic sedikit lebih lama
daripada isometric. Pada jenis hewan yang sama (Vertebrata) lamanya waktu kontraksi berurutan
sebagai berikut : otot skelet otot jantung otot polos, misalnya pada kura-kura M. retractor pellis (400
md), ventrikel jantung (6800 md) dan perototan dinding usus (30.000 md).

Kontraksi otot disertai produksi panas dalam dua fase utama (Gamb. 4.5). pertama ialah panas inisial
(Ing. Initial heat) yang dibebaskan dalam periode daur kontraksi relaksasi. Berikutnya panas
pemulihan (Ing. Recovery heat) dibebaskan dalam periode yang menyusuli daur kontraksi.
Disamping itu ada produksi panas dalam waktu otot istirahat yaitu dari metabolism basal untuk
memelihara sel dalam status hidup berfungsi.
Jika otot dirangsang dalam keadaan anaerob, hanya panas inisial saja yang muncul. Jumlah dan
lamanya produksi panas inisial bebas dari oksigen. Dalam kondisi anaerob tidak ada panas
pemulihan. Panas itu hasil dari proses glikolisis dan fosforilasi oksidatif yang mengembalikan otot
pada keadaan normalnya menjelang kontraksi berikutnya.

Panas inisial dibagi menjadi beberapa tahap :

1. Panas aktivasi, mulai siap dalam periode laten dan dilanjutkan kedalam periode kontraksi, untuk
menopang kontraksi;

2. Panas pemendekan (Ing, shortening heat) dibebaskan selama pemendekan otot yang
sebenarnya, penambahannya sebanding dengan pemendekan elemen kontraktil, namun tidak
tergantung dari beban, suhu, dan lamanya pemendekan; dan

3. Panas relaksasi (Ing, relaxation heat) diproduksi pada akhir kontraksi isotonic apabila otot
apabila otot berusaha mengangkat suatu beban.

5.2.5 Tetanus dan Tonus

Stiumulus yang kuat menyebabkan lebih banyak sel otot dalam suatu jaringan otot yang
menanggapinya, sehingga kekuatan kontraksi bertambah. Kontraksi yang lebih kuat juga dapat
diperoleh dengan merangsang otot berkali-kali dengan selang waktu amat singkat dan tentu saja
dengan stimulus maksimal. Stimulus yang menyusuli suatu kontraksi dikenakan sebelum relaksasi
selesai sempurna, ini dilakukan berturut-turut, hasilnya ialah efek tangga (Ing, Staircase effeck),
sejumlah kontraksi pertama yang berurutan memperlihatkan setiap kontraksi sedikit lebih tinggi
amplitudonya daripada kontraksi sebelumnya. Efek ini mungkin disebabkan oleh keadaan aktif yang
diperpanjag, yang belum selesai secara sempurna menyusul masuknya stimulus berikutnya.
Perpanjangan keadaan aktif mungkin disebabkan oleh aliran K+ keluar dari serabut otot. Efek tangga
ini jelas sekali terutama pada otot jantung vertebrata.

Apabila dua stimulus dikenakan pada otot dengan selang waktu yang amat singkat sehingga
keduanya sangat berdekatan, stimulus kedua masuk sebelum daur kontraksi berlalu, perolehan
kontraksi lebih besar daripada perolehan dengan satu stimulus. Ini adalah contoh penjumlahan
contoh kontraksi oleh karena waktu atau penjumlahan temporal. Tetapi jika dua stimulus itu terlalu
amat dekat maka stimulus kedua tidak berpengaruh sebab membrane otot dalam periode refrakter
mutlak dan tidak mungkin ditimbulkan kontraksi dengan stimulus berapapun besarnya.

Jika sederetan stimulus adekuat dikenakan pada otot akan menghasilkan tetanus tidak sempurna.
Dalam hal ini rekaman masing-masing kontraksi masih dapat dibedakan. Jika frekuensi stimulus
ditingkatkan, asal tidak dalam periode refrakter mutlak, maka akan terjadi tetanus sempurna.

5.2.6 Kopel Eksitasi Kontraksi

Kita bicarakan sel otot skelet yang sangat besar peranannya dalam aktivitas lokomosi. Sebagian
besar sarkoplasma (sitoplasma sel otot) terisi myofibril (terdiri dari filament tebal dan filament tipis)
yang tersebar acak, ada yang sejajar sumbu panjang sel ada pula yang miring. Sedang didalam sel
otot avertebrata ia tersusun serupa spiral. Susunan yang berbeda itu mengakibatkan aktivitas yang
berbeda pula. Demikian pula situasi yang berbeda akan menimbulkan pola aktivitas yang lain, namun
pada hakikatnya mekanisme dasarnya serupa. Mekanisme dasar itu dikenal sebagai teori filament
sorong, (Ing, sliding filament theory of contraction) yang berlaku tidak hanya pada jaringan otot,
tetapi juga di tempat lain misalnya pada bulu cambuk dan bulu getar. Sisa ruangan dalam
sarkoplasma berisi berbagai substansi terlarut, sejumlah inti sel, mitokondria, dan organel lainnya.
Setiap sel otot skelet atau fibra otot diselubungi membrane plasma sarkoplasma.

Disamping myofibril dan mitokondria terdapat organel yang besar peranannya dalam
penyelenggaraan kontraksi otot yaitu reticulum sarkoplasma, berfungsi memasok ion Ca2+ dan
menampung kembali ion itu.

Setiap miofibril menampakkan pita-pita melintang yang berseling gelap dan terang. Pita A
(A=anisotrop) terutama terdiri dari filament-filamen tebal, ditengahnya terdapat zone H (H=Heller;
jer, hell =terang). Pita I (I=isotrop) dengan garis Z (Z=Zwichensheibe;jer. Zwischen-antara, Scheibe-
diskus) ditengahnya. Pita I terdiri dari filament-filament tipis. Struktur dan ultrastruktur sel otot
skelet diperlihatkan dalam gambar 4.1. Dari sudut pandang fungsional, unit kontraktil sel otot adalah
daerah antara dua garis Z yang disebut sarkomer.

Kelangsungan aktivitas sarkomer tergantung dari kelangsungan penyediaan ATP dan ion Ca2+. Untuk
membebaskan energy dari ATP tersedia enzim ATPase yang identik dengan myosin yaitu komponen
filament tebal. Aktivitas ATPase tergantung pada ion Mg2+.

Reaksi pembebasan energy itu berlangsung sebagai berikut : ATP + H2O


ATPase
ADP + Pa + energy, energy digunakan untuk kontraksi dan relaksasi.
Simpanan ATP dalam jaringan terbatas, untuk memperoleh penyediannya yang cepat maka
berlangsung resintesis ATP dari ADP dan senyawa berenergi tinggi lain yang terdedia dalam sel otot
yaitu kreatinfosfat (KrF). Reaksinya : ADP + KrF Kreatin KineaseATP + Kr. Namun simpanan KrF pun
jumlahnya terbatas. Jadi harus ada resintesis KrF, oleh karena reaksi itu dapat balik maka resintesis
dapat berlangsung yaitu dalam periode istirahat atau ketika aktivitas berkurang. Untuk ini

Rangkuman

Gerak merupakan salah satu ciri dari mahluk hidup dan salah satu kelengkapan yang penting untuk
gerakan ialah kemampuan untuk berkontraksi

Pada hewan yang lebih tinggi, gerakan sebagian atau seluruh disebabkan oleh otot. Otot adalah
jaringan yang peka atau effektor yang dapat merespon berbagai rangsangan (stimuli) seperti
tekanan, panas, dan cahaya.

Pada vertebrata terdapat 3 macam otot yaitu :

- Otot lurik atau otot rangka (otot sadar)

- Otot polos (otot tak sadar)


- Otot jantung (otot tak sadar)

Komposisi otot perlu diketahui untuk memahai fungsi otot.

Bahan-bahan yang menyusun otot ialah : Air, protein,bahan anorganik, dan bahan organik.

5.3 Penutup

a. Tes formatif

1. Sebut dan jelaskan jenis-jenis otot yang dimiliki oleh vertebrata

2. Jelaskan hubungan antara otot dan saraf

b. Umpan balik

Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal berikut.

- Membuat ringkasan materi pada bab tersebut sebelum materi di bahas dalam diskusi.

- Aktif dalam diskusi

Senarai :

Bioluminensena : proses oksidasi melalui serangkaian reaksi


BAB VI

SISTEM PENCERNAAN MAKANAN

6.1 Pendahuluan

Deskripsi singkat

Bab ini menguraikan tentang organ-organ pencernaan, kelenjar pencernaan dan proses pencernaan
makanan.

Kompetensi dasar

Setelah menyelesaikan materi ini mahasisw diharapkan dapat menjelaskan tentang sistem
pencernaan makanan

6.2 Penyajian

6.2.1 Pencernaan

Pencernaan merupakan suatu proses yang rumit dan pada prinsipnya meliputi sederetan stadium
sebagai berikut :

a. Pengambilan makanan atau ingesti (Lat. Ingestus = dimasukkan);

b. Mastikasi (Lat. Masticare = mengunyah) dan deglutisi (Lat. De-turun;glutire=menelan)

c. Pencernaan atau digesti (Lat.digeti = pencernaan)

d. Defekasi (Lat, defacare = membersihkan)

Pada umumnya proses pencernaan dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu

1) Pencernaan dalam sel (pencernaan intraseluler)

2) Pencernaan luar sel (pencernaan ekstraseluler)

A. Pencernaan Dalam Sel

Pencernaan cara ini umum terdapat pada hewan-hewan yang tidak mempunyai saluran pencernaan,
misalnya protozoa dan Porifera.

Pencernaan dalam sel di anggap merupakan bentuk primitive. Pada hewan-hewan yang mempunyai
saluran pencernaan, pencernaan dalam sel terdapat pada hewan yang dilogenetik menunjukkan
bertingkat rendah, misalnya : Coelenterata, Plathyhelminthes, dan Limulus.
Jenis makanan juga dapat mempengaruhi cara pencernaan. Pada hewan-hewan aquatic
golongan filter-feeding atau golongan mikrofagus, terjadi pencernaan dalam sel. Hewan-hewan yang
termasuk golongan mikrofagus ialah : Brachipoda, Cephalochordata, Lamellibranchieta dan Rotifera.

Pencernaan dalam sel dapat jelas diikuti pada Paramecium. Pencernaan berlangsung dalam kantong
(vakul) makanan yang berbentuk setiap kali makanan masuk.

B. Pencernaan Luar Sel (Pencernaan Ekstraseluler)

Kebanyakan Metazoa mempunyai saluran pencernaan. Didalam saluran pencernaan ini dapat terjadi
pencernaan baik ekstraseluler maupun intraseluler. Pencernaan ekstraseluler terjadi didalam lumen
saluran pencernaan, sedang pencernaan intraseluler terjadi didalam sel-sel yang melapisi dinding
saluran pencernaan.

System saluran pencernaan terdiri dari organ-organ yang fisiologis penting dalam pencernaan
ekstraseluler ialah saluran pencernaan (tractus digestivus) dan kelenjar-kelenjar pencernaan
(glandula digestoria).

Saluran pencernaan merupakan tempat berlangsungnya pencernaan. Pada manusia dan pada
hewan-hewan bertingkatan tinggi, bagian-bagian saluran pencernaan yang dilalui oleh makanan,
beruturut-turut dari mulut (oral) ke pelepasan (anal) ialah :

1) Rongga mulut (Cavitas oris)

2) Tekak (Pharynx, faring)

3) Kerongkongan (Oesophagus)

4) Lambung (Ventrikulus)

5) Usus halus (intestinum tenue)

6) Usus besar (intestinum crassum)

Pada umumnya kelenjar pencernaan yang tidak terdapat didalam dinding saluran pencernaan pada
vertebrata ialah : hepar dan pancreas.

C. Pencernaan di Dalam Mulut

Mulut terutama sebagai organ penerima makanan, didalamnya yang berperan penting dalam
pencernaan ialah gigi-gigi (dentes) dan kelenjar – kelenjar (grandula).

Gigi-gigi; Mulut manusia dan kebanyakan Tetrapoda mengandung gigi-gigi. Pada kebanyakan
vertebrata, gigi-gigi dipergunakan hanya untuk memegang mangsangnya yangtertangkap. Tetapi
pada vertebrata lainnya, gigi-gigi digunakan untuk memotong, menghancurkan (Menyobek), atau
untuk menghaluskan makanan.
D. Pencernaan Secara Mekanis

Pencernaan secara mekanis berlangsung dengan memamah (Mastikasi) makanan. Dengan cara itu,
partikel-partikel makanan yang besar dipecah menjadi partikel-partikel yang lebih kecil dan
dicampur dengan secret kelenjar ludah (glandula salivaria).

Organ yang berperan penting dalam memamah ialah gigi-gigi (dentes). Tiap macam gigi mempunyai
fungsi yang berbeda dengang gigi yang lain. Gigi seri (dens incisivus), terdapat disebelah muka,
mempunyai mahkota (corona) berbentuk pahat, berguna untuk memotong-motong makanan. Gigi
taring (dens canius) terdapat disamping gigi seri, mempunyai mahkota meruncing, berguna untuk
merobek-robek makanan. Gigi geraham (dens premolaris dan dens molaris) terltak disamping gigi
taring, mempunyai mahkota dengan banyak tonjolan-tonjolan. Kedua macam gigi yang terakhir ini
berguna untuk menghaluskan makanan.

Supaya makanan dapat dihaluskan, makanan harus tetap ada di antara gigi atas dan gigi bawah.
Keadaan ini dapat terjadi oleh karenanya lidah (lingus). Lidah dilengkapi dengan indera perasa
(organum gustatorium). Senasasi rasa dari makanan atau minuman yang dapat diterima lidah ialah :
rasa asam, rasa asin, rasa manis, dan rasa pahit.

Agar supaya makanan mudah dikumpulkan diantara gigi-gigi atas dan bawah serta selanjunya mudah
ditelan, makanan harus dapat digumpalkan. Hal ini dapat terjadi oleh tiga pasang kelenjar ludah
ialah :

a. Kelenjar ludah dibawah telinga (glandula parotis)

b. Kelenjar ludah dibawah rahang (glandula submandibularis)

c. Kelenjar ludah dibawah lidah (glandula sublingualin)

E. Pencernaan Secara Kimiawi

Adanya enzim dalam ludah memungkinkan terjadinya pencernaan kimiawi, namun kurang berarti.
Misalnya enzim ptyalin pada kebanyakan vertebrata jumlahnya kurang. Pada beberapa Mammalia
enzim ini cukup berarti yaitu pada tikus, mencit, kelinci, lama, babi, rusa, marmot, dan beberapa
jenis burung.

Enzim-enzim lain seperti invertase, lipase, dan protease terdapat dalam ludah hewan-hewan
tertentu terutama Avertebrata.

Selain ptyalin, air, dan musin, dalam ludah terdapat NaHCO3 (yang menyebabkan medium bereaksi
alkalis, dengan keadaan itu enzim ptyalin atau amylase dapat bekerja). Enzim itu menghidrolisis pati
menjadi maltose berdasarkan reaksi :

(C6h10O5)n + H2O C12H22O11


F. Peranan Kerongkongan (Oesophagus)

Kerongkongan merupakan suatu organ berbentuk pipa, yang menghubungkan hulu kerongkongan
(pharynx) dengan lambung (ventrikulus gaster) atau bangunan yang dapat disamakan dengannya.
Kerongkongan berguna untuk mengangkut bolus makanan dengan gerakan peristaltic (Yun.
Peristaltikos = menekan bersama-sama).

Dinding kerongkongan terdiri atas tiga lapis (stratum), berturut-turut dari dalam ke sebelah luar
ialah : tunika mukosa, tunika muskularis, dan tunika adventisin. Tunika muskularis terdiri dari dua
lapis otot, dari luar ke dalam yaitu :

1. Stratum longitudinal yang terdiri dari serabut-serabut otot memanjang

2. Stratum sirkulare yang terdiri dari serabut-serabut otot melingkar

G. Peranan Lambung (Ventrikulus Gaster)

Pada vertebrata berdasarkan atas anatominya, dapat dibedakan tiga macam lambung yaitu :

a. Ventrikulus simpleks terdapat pada kebanyakan vertebrata. Misalnya manusia, kucing, anjing dan
lain-lain

b. Ventrikulus kompleks atau ventrikulus ruminantis terdapat pada ruminantia

c. Ventrikulus dengan proventrikulus terdapat pada Aves

Peranan dalam ventrikulus simpleks. Lambung tipe ini merupakan suatu kantong berbentuk huruf
(J), dengan dinding bersifat otot dan terdiri dari dua bagian ialah korpus dan pars pilorika. Dinding
lambung terdiri dari tiga lapis, beruturut-turut dari bagian dalam kesebelah luar, ialah : Tunika
mukosa, tunika muskularis, dan tunika serosa. Tunika mukosa melipat-lipat dan disitu terdapat
sejumlah glandula yang namanya sesuai dengan nama bagian-bagian lambung yang ditempatinya.
Macam-macam glandula itu ialah :

a. Glandula kardiaka, pada tunika mukosa kardia

b. Glandula fundika, pada tunika mukosa dinding fundus dan

c. Glandula pilorika, pada tunika mukosa dinding para pillorika


H. Pencernaan di dalam ventrikulus kompleks (ventrikulus Ruminantia)

Ventrikulus kompleks terdapat pada Ruminantia, sehingga sering disebut ventrikulus ruminantia.
Ventrikulus kompleks merupakan organ khas untuk pencernaan material tumbuhan. Pada hewan-
hewan herbivore, ventrikulus ini adalah esensial, oleh karena makanan yang kasar (besar) dan terdiri
dari serat-serat selulose, dapat dihancurkan dalam perjalanannya melalui saluran pencernaan dan
mengalami pelumatan serta peragian (fermentasi). Proses ini pada hewan-hewan dengan
ventrikulus simpleks dilakukan didalam sekum dan kolon (Ing. Hindgut fermenter), sedang pada
Ruminantia, dilakukan dalam ventrikulus kompleks, terutama didalam bagian yang terbesar ialah
rumen. Ventrikulus kompleks mempunyai peranan amat penting, yaitu selain menyimpan makanan
untuk sementara waktu, yang kemudian mengalami mastikasi untuk kedua kalinya, juga sebagai
tempat untuk pembusukan dan fermentasi (Ing. Foregut fermenter).

Fermentasi ini terutama berlangsung didalam bagian anterior ventrikulus, didalamnya tersedia
bakteri dan protozoa untuk melaksanakan itu. Jasad renik ini mengubah selulosa dan karbohidrat
lainnya menjadi senyawa yang dapat dipakai (diabsorpsi). Bakteri itu bersifat anaerob atau aerob
fakultatif. Hasil pencernaan oleh bakteri terhadap karbohidrat dilukiskan dalam bagan sebagai
berikut :

NaHCO3 dalam

Saliva

CO2 dikeluarkan

Dengan bersedawa

+ asam-asam lemak

Propionate, dll

Diubah menjadi heksose, sintesis lipid dll

Secara menyeluruh pola biokimiawi pencernaan ialah jasad renik dalam

ruang peragian pada semua hewan menyusu adalah serupa. Oleh karena pencernan jasad renik ini,
kebanyakan herbivore memiliki kemampuan khas untuk mengubah beberapa materil yang tidak
sesuai untuk komsumsi manusia, terutama selulosa dan juga nitrogen-nitrogen non protein, menjadi
protein hewani berkualitas tinggi.

Kemampuan mencerna selulosa beragam, tergantung dari lama waktu digesta berada dalam ruang
peragian, makin lama berada didalam ruang itu makin banyak selulosa yang tercerna.
Pengambilan protein juga sedikit tidak umum. Protein dari makanan diubah menjadi protein bakteri
atau lainnya oleh mikroflora dalam rumen, selanjutnya protein mengalami deaminasi dan
nitrogennya dibebaskan dalam bentuk ammonia. Amonia ini langsung masuk keperedaran darah
dibawa ke hati, dan selanjutnya senyawa itu dikeluarkan dari tubuh melalui saliva. Selanjutnya urea
dalam saliva kembali kedalam rumen dan oleh mikroflora diubah menjadi protein. Sementara itu
protein bekteri dicerna menjadi asam amino dalam bagian lain yaitu abomasus

I. Prinsip Pencernaan dan Penyerapan Hasilnya

Tempat untuk pencernaan kimiawi ialah usus halus (intestinum tenus). Sama pentingnya ialah
peranannya dalam mentransfer material makanan dari lumen kedalam darah dan limfa mukosa.
Usus halus juga berperan dalam mendorong isi lumen. Lebih lanjut, diantara sel-selnya kiranya
dalam mukosa, berfungsi endokrin.

Dalam lambung vertebrata mulai dijalankan pencernaan, dilanjutkan serta diakhiri dalam usus.
Karakteristik untuk vertebrata ialah adanya dua buah kelenjar besar, pancreas dan hati (hepar),
sekretnya dicurahkan kedalam usus dubelas jari (duodenum) yaitu bagian awal usus halus.

Pancreas berfungsi inkretoris (hormone insulin) selain memnuhi tugas penting dalam pencernaan.
Tugas dalam pencernaan itu ialah :

1. Menetralkan kimus yang bereaksi asam dan

2. Menyediakan enzim-enzim penting untuk pencernaan.

Getah pada semua vertebrata bereaksi netral hingga alkalis lemah (Raja 6,6-7,2; aning 7,0-8,6; lembu
7,6-8,4; ayam 5,5-7,5; itik 6,0-6,9). Salah satu komponen anoraganik yang luar biasa banyaknya ialah
HaHCO3 yang berguna untuk menetralkan keasaman lambung. Suatu enzim yang senantiasa tersedia
ialah amylase. Pancreas adalah tempat memproduksi amylase yang utama pada vertebrata, disini
ada dua macam amylase yaitu : α dan β amylase. Keduanya menguraikan molekul pati dengan
hidrolisis menjadi disakarida, namun dengan cara yang berlainan. Pancreas menghasilkan lipase
untuk memecah molekul lemak netral menjadi gliserol dan asam lemak. Selanjutnya terdapat
beberapa enzim yang bekerja pada molekul protein yaitu :

1. Tripsinogen ialah bentuk tidak aktif sebagai pendahulu tripsin suatu endopeptidase. Untuk
pengubahan itu diperlukan enzim lain dari duodenum yaitu enterokinase, selain itu dapat
berlangsung secara otokatalisis. Tripsin bekerja optimal pada pH 8. Tripsin memutus rantai
peptide pada ikatan –CO milik asam amino lisin atau arginin. Enzim itu mengubah protein
atau pepton menjadi di-, tri-, atau polipeptida yang terdiri dari dua, tiga asam amino atau
lebih.

2. Kimotripsinogen termasuk endopeptidase, diaktifkan oleh tripsin. Aktivitasnya pada iktan –


CO- milik asam amino fenilalanin atau tirosin.

3. Karboksipeptidase, termasuk eksopeptidase, memutus rantai peptide yang dekat dengan


gugus karboksil. Sasarannya ialah pepton atau polipeptida.
Semua enzim dari pancreas hewan menyusu bekerja paling baik pada pH 8-9, sedang pada burung
pH optimal 6-8. Untuk menciptakn lingkungan alkalis, disekresikan cairan alkalis dalam bilus (cairan
empedu) dan dari pancreas serta duodenum. Pencernaan dengan enzim-enzim dari pancreas pada
umumnya belum tuntas, untuk mencapai hasil yang dapat diserap memerlukan enzim-enzim lain
berasal dari dinding duodenum.

Enzim-enzim yang dihasilkan oleh duodenum. Enzim-enzim duodenum disekresikan dari permukaan
sel-sel epithelium, termasuk mikrovilli. Enzim-enzim itu tetap berada dipermukaan epithelium dan di
situ pula atau segera diasimilasi kedalam sel-sel epithelium.

Enzim-enzim duodenum yaitu :

1. Enterokinase. Ini mengubah trisinogen dari pancreas menjadi tripsin yang aktif

2. Erepsin. Merupakan kumpulan sejumlah enzim yang berlainan yang menyempurnakan


pencernaan protein, diantaranya ialah karboksipeptidase, aminopeptidase, dipeptidase, dan
tripeptidase. Keseluruhan aktivitas protease pada hewan menyusu ditunjukkan dalam
gambar 5.8.

3. Lipase

4. Kurase. Bekerja pada sucrose (disakarida) mengubahnya menjadi glucose dan fuktose. Enzim
ini juga disebut invertase.

5. Maltase bekerja pada maltose (disakarida) mengubahnya menjadi dua molekul glucose

6. Lactase mengubah lactose (disakarida) menjadi glucose dan galaktose.

a. Karbohidrat

Glukosa dan monosakarida lainnya adalah hidrofil, tetapi untuk dapat diserap harus melalui
membrane sel epithelium usus yang bersifat hidrofob. Ini terutama dilaksanakan melalui
transportasi dengan pengangkut molekul dalam proses yang menggunakan energy. Setiap
monosakarida memiliki system transport selektif sendiri.

Misalnya glukosa dan galaktosa, menggunakan satu system transport pengangkut yang sama dan
bersaing untuk mencapainya. System ini tergantung pada Na+ sehingga disebut system ko-transpor
Na+.

Fruktosa diserap mengikuti landaian konsentrasi (concentration gradient). Meskipun mekanisme


memerlukan pengangkut khas, tetapi tidak mengkomsumsi energy dan ini disebut difusi
berkemudahan (facilitated diffusion). Penyerapan fruktosa berlangsung cepat oleh karena
konsentrasi fruktosa dalam sel selalu rendah, akibat dari pengubahan yang cepat terhadap fruktosa
yang masuk, glukosa dan laktat.

b. Protein
Penyerapan asam amino berlangsung secara aktif dengan transport yang diperantarai pengangkut
(carrier-mediated transport). Seperti transport glukosa, transport asam amino tergantung pada Na+.
Vitamin B6 atau piridoksin (dalam bentuk piridoksal fosfat) diperlukan untuk transport berbagai
asam amino.

c. Lemak

Penyerapan lemak didalam duodenum dan yeyenum proksimal berlangsung cepat oleh karena disitu
konsentrasi garam empedu tinggi. Pengambilan lipid dan hasil-hasil pemecahannya dilakukan
dengan difusi pasif melalui membrane plasma oleh sel-sel epithelium usus.

Rangkuman

Pada hewan vertebrata makanan dicerna melalui organ-organ perncernaan yaitu :

1. Bagian yang menerima makanan. Ini merupakan bagian awal dari saluran pencernaan
makanan yang juga merupakan suatu tempat untuk memasukkan makanan dan menelan
termasuk mulut, jarink, gigi, lidah dan kelenjar ludah.

2. Bagian yang menggerakkan dan menyimpan makanan yaitu Desopagur.

3. Bagian yang mencerna makanan yaitu lambung dan usus.

4. Bagian yang mengabsorpsi air yaitu usus besar

5. Organ-organ pencernaan pada hewan rendah.

Pada hewan rendah yang tubuhnya hanya terdiri dari satu sel, makanan diambil oleh sel itu sendiri
dan dicerna dalam sel.

Kelenjar pencernaan terdiri dari pankreas dan hepar. Proses pencernaan makanan ada dua cara
yaitu pencernaan intra sel dan pencernaan ekstra sel.

6.3 Penutup

a. Tes formatif

1. Sebutkan dan jelaskan orngan-organ pencernaan pada vertebrata

2. Jelaskan perbedaan antara pencernaan intra sel dan pencernaan ekstra sel

b. Umpan balik

Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal berikut.

- Membuat ringkasan materi pada bab tersebut sebelum materi di bahas dalam diskusi.

- Aktif dalam diskusi


Senarai :

Pencernaan intrasel : makanan dengan cara tertentu masuk ke dalam tubuh dan dicerna ke dalam
sel

Pencernaan ekstrasel : proses pencernaan makanan yang terjadi pada saluran makanan
BAB VII

SISTEM PEREDARAN

7.1 Pendahuluan

Deskripsi Singkat

Bab ini menguraikan tentang komposisi darah, fungsi darah, sistem peredaran darah, jantung dan
kerja jantung, sistem pembuluh limfa dan pengaturan sirkulasi oleh sistem saraf

Kompetensi Dasar

Setelah menyelesaikan materi ini mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan sistem peredaran darah
dengan tepat

7.2 Penyajian

Fungsi utama system peredaran ialah mendistribusikan metabolit dan oksigen keseluruh sel tubuh
organism serta mengumpulkan sisa buangan dan karbondioksida (CO2) untuk di eksresikan. Selain itu
menyelenggarakan termoregulasi dan distribusi hormone ke tempat-tempat tertentu. Jantung
menyediakan tenaga pendorong untuk system ini, arteri sebagai penyalur kea lat-alat tubuh, vena
menyalurkan darah dan berperan sebagai tempat tendon darah, kapiler-kapiler merupakan wilayah
pertukaran system itu.

7.2.1 Jantung

Jantung vertebrata adalah jantung berkamar, namun jantung seperti ini juga dijumpai pada moluska.
Keragaman struktur jantung pada vertebrata terletak pada beberapa hal yaitu :

1. Lokasinnya dalam tubuh

2. Jumlah kamarnya

3. Kemilikan kelep-kelep dan sekat-sekat diantara kamar-kamarnya

Ikan memiliki jantung dengan dua buah kamar, serambi jantung (atrium) dan bilik jantung
(ventrikulus kordis). Selain itu ada kamar tambahan yaitu sinus venosus dank onus arteriosus. Darah
pembuluh balik sebelum mencapai serambi jantung harus melalui sinus venosus lebih dahulu dan
dari jantung sebelum darah mencapai pembuluh nadi insang harus melalui konus arteriosus lebih
dahulu. Jantung berkamar dua dalam evolusinya mencapai struktur yang lebih khas pada vertebrata
darat. Pada hewan melata (Reptilia) dijumpai pertama kali bilik jantung yang terbagi dua oleh sekat
(septum) yang tidak sempurna (septum ventrikularis). Septum ini menjadi sempurna pada burung
dan hewan menyusu. Burung dan hewan menyusu memiliki jantung berkamr empat, dua serambi
jantung (kanan dan kiri) dan dua bilik jantung (kanan dan kiri). Jantung ini sangat khusus dalam hal
struktur dan fungsinya.
7.2.2 Struktur dan Aktivitas Jantung Hewan Menyusu dan Burung

Jantung hewan dan burung mencapai tingkat efisiensi fungsional yang tinggi. Untuk memahaminya
kita perlu lebih dahulu memahami strukturnya. Struktur jantung manusia dapat mewakili jantung
hewan menyusu dan burung.

Pada manusia, jantung terletak dalam rongga dada sedikit condong ke kiri dari sumbu panjang
tubuh. Dindingnya terdiri dari tiga lapis, yaitu dari dalam ke luar : Endokardium, Miokardium, dan
Epikardium. Endokardium terdiri dari jaringan ikat, permukaannya tertutup oleh lapisan tipis
endothelium. Miokardium merupakan lapisan otot utama yang lebih tebal pada dinding bilik jantung
daripada dinding serambi jantung. Epikardium terbentuk dari sel-sel epithelial dan jaringan ikat.
Jantung berada dalam suatu kantong berdinding tipis yang disebut pericardium, ruangan ini antara
jantung dan pericardium berisi cairan yang berguna untuk melumasi jantung.

Jantung berkamar empat, dua serambi jantung dan dua bilik jantung, dengan demikian pemisahan
darah kaya oksigendan darah miskin oksigen menjadi tegas (gambar 6.1). Darah masuk serambi
kanan dari peredaran umum melalui vena kava. Serambi kiri menerima darah dari paru-paru melalui
vena pulmonalis. Kemudian darah didorong ke bilik kanan dan bilik kiri. Bilik kanan menerima darah
miskin oksigen dari serambi kanan dan memompanya kedalam peredaran paru-paru (peredaran
kecil). Bilik kiri menerima darah kaya oksigen dari serambi kiri dan memompanya ke dalam
peredaran umum melaluio aorta. Peredaran darah melalui jantung dipandu melalui empat buah
katup, serambi kiri berhubungan dengan bilik kiri dengan jalur satu arah. Yang dipelihara oleh katup
berdaun dua, valve mitralis, sedang serambi kanan berhubungan dengan serambi kanan dengan jalur
satu arah yang dipelihara oleh satu katup berdaun tiga valve trikuspidalis. Antara bilik kiri dan aorta
terdapat katup yaitu valve aortae. Pangkal arteria pulmonalis dilengkapi dengan katup juga yaitu
valve trunki pulmonalis. Valve aortae dan valve trunki pulmonalis masing-masing terdiri dari tiga
valvula semilunaris. Semua katup itu berfungsi mencegah aliran darah membalik.

Jantung tidak terhambat kerjanya oleh alat-alat disekitarnya, karena ia berada didalam suatu
kandungan. Jaringan yang terutama melaksanakan aktivitasnya ialah miokardium atau jaringan otot
jantung. Otot-otot ini terdiri dari serabut-serabut otot serat-lintang, tetapi serabut-serabut otot ini
bercabang-cabang dan berhubungan satu sama lain. Setiap sel otot dibungkus oleh anyaman
benang-benang jaringan ikat. Pada dinding jantung dapat dibedakan beberapa lapisan otot, jalannya
serabut-serabut otot pada setiap lapisan berbeda dengan lapisan lain. Tidak ada hubungan yang
bersifat otot antara otot dinding kedua serambi jantung dan otot dinding kedua bilik jantung. Antara
miokardium kedua serambi jantung dan miokardim kedua bilik jantung, melingkari masing-masing
lubang penghubung kedua kamar kanan dan kiri (pstium atrioventrikulare), ada lingkaran jaringan
ikat yaitu annulus fibrosus.

Bila miokardium berkontraksi, serambi jantung dan bilik jantung mengecil yang disebut mengadakan
systole (Yun. Cystellein = kontraksi). Bila miokardium menjadi kendor kembali (relaksasi), serambi
jantung atau bilik jantung mengembang kembali, kejadian ini disebut diastole (Yun. He diastold =
pengembangan). Kedua serambi jantung mengadakan systole lebih dahulu, kemudian diikuti dengan
systole kedua bilik jantung dan setrusnya bergantian.

Aktivitas seperti itu memerlukan suatu koordinasi. Bangunan-bangunan yang menyusun system
konduktorium menyebabkan adanya koordinasi antara systole serambi jantung dan systole bilik
jantung. System itu terdiri atas : (Gambar 6.2). :

1. Nodus sinuaurikularis (sinuautrislis) (Lat. Nodus=simpul)

2. Nodus atrioventrukularis

3. Fasikulus atrioventrikularis (Lat. Fascis = berkas) berkas kecil

4. Krus dekstrum (Lat. Crus = paha)

5. Krus sinistrum

7.2.3 Daur Aktivitas Jantung Hewan Menyusu dan Burung

Basis aktivitas jantung ialah aktivitas otot-otot jantung yang menyusun miokardium. Aktivitas ini
pada pokoknya serupa dengan aktivitas otot skelet. Sedikit perbedaan yaitu kontraksi otot jantung
dipengaruhi oleh ion Ca2+ yang ada diluar sel otot. Kontraksinya menjadi lebih kuat jika ada
tambahan Ca2+ dari luar.

Mekanisme yang mengawali denyut jantung dapat dilukiskan sebagai berikut :

a. Nodus sinuarikularis menghasilkan potensial aksi (PA)

b. PA merambat ke reticulum sarkoplasma

c. Ca2+ dibebaskan dari reticulum sarkoplasma

d. Fibra otot kontraksi

e. Ketika relaksasi, Ca2+ lepas dan dikembalikan ke reticulum sarkoplasma dengan di pompa aktif.

Pada vertebrata system konduktorium berasal dari sel-sel otot yang telah mengalami modifikasi,
daerah tempat nodus sinu aurikularis disebut daerah pacemaker, disini pula terdapat akhiran-
akhiran saraf yang mengendalikan jantung, yaitu percabangan nervus vagus.

Peristiwa listrik yang melandasi aktivitas jantung dapat diperlihatkan dalam elektrokardiograf (EKG),
yaitu hasil rekaman aktivitas jantung dengan alat elektrokardiograf. Gambar 6.5 memperlihatkan
bagan komponen-komponen EKG satu daur aktivitas jantung hewan menyusu dan gambar 6.6
memperlihatkan EKG beberapa jenis hewan lainnya.

Dari EKG itu dapat terlihat bahwa aktivitas atrium dan ventrikulus jantung berlangsung secara
bergantian antara systole dan diastole. Pada gambar 6.5 tampak puncak P, Q, R, S, dan T. Puncak Q
dan S terbalik. Ternyata bahwa puncak P disebabkan oleh kontraksi miokardium serambi jantung
(atrium) dan kompleks Q, R, S, T oleh kontraksi miokardium bilik jantung (ventrikulus). Adanya
empat puncak disebabkan oleh karena tidak seluruh miokardium ventrikulus sekaligus berkontraksi.
Jarak antara P dan Q menunjukkan kecapatan hantaran impuls dari atrium ke ventrikulus. Bila jarak
ini besar berarti ada gangguan didalam fasikulus atrioventrikularis. Bila P dan kompleks Q, R, S, T
tidak lagi timbul berturut-turut tetapi sendiri-sendiri berarti bahwa fasikulus atrioventrikulus
terputus. Bila bentuk kompleks Q, R, S, T berubah berarti ada kelainan didalam miokardium
ventrikulus. Systole ventrikulus menyebabkan terdesaknya darah dalam ventrikulus. Sehingga darah
mendesak katup-katup, dengan Demikian valve trikuspidalis dan valve mitralis menutup dan valvula
semilunaris membuka dan darah dapat mengalir ke dalam arteria-arteria yang besar.

Aktivitas listrik dan mekanis pada ventrikulus dapat diringkas sebagai berikut :

Systole 1. Fase perubahan bentuk (puncak Q) – kontraksi isotonis valve mitralis


terbuka, valvula semilunaris tertutup

2. Fase peningkatan desakan (puncak R) – kontraksi isometric V.


mitralis dan val. Semilunaris tertutup

3. Fase pendorongan (puncak S) – kontraksi auksotonis, V. mitralis


tertutup, val. Semilunaris terbuka.

Diastole 4. Fase peregangan (puncak T) – peregangan isometric V. mitralis dan


Val. Semilunaris tertutup

5. Fase pengisian – peregangan asuksotonis V. mitralis terbuka, va.


Semilunaris tertutup

7.2.4 Darah dan Limfa

Darah

Keseluruhan darah terdiri dari satu bagian benda cair (plasma) yang mengandung garam-garam danz
at kimia lain, dan komponen berupa sel-sel. Setiap komponen darah membawakan satu fungsi
tertentu atau lebih. Fugnsi-fungsi darah itu dapat diringkas sebagai berikut :

a. Transport oksigen dari paru-paru atau insang ke jaringan-jaringan (bab 7).

b. Transpor CO2 dar jaringan-jaringan ke paru-paru atau insang (bab 7)

c. Transport bahan makanan yang di absorpsi dari usus, dibawa ke jaringan-jaringan

d. Transport hasil pemecahan zat-zat organic dalam metabolisme (urea urat, kreatinin dan lain-
lain) dari jaringan kea lat ekskresi.

e. Darah mendistribusikan hormone ke seluruh tubuh

f. Regulasi suhu badan

g. Regulasi keseimbangan asa-asam darah jaringan


h. Regulasi volume kompartemen ruang antar sel

i. Perlindungan terhadap kehilangan darah

j. Perlindungan terhadap benda asing dan infeksi

Limfa

Cairan limfa adalah semacam jaringan atau cairan ruang antar sel yang dikumpulkan oleh pembuluh
khusus yang diawali dengan kapiler-kapiler berujung buntu. Kapiler-kapiler limfa ini bergabung
membentuk bangunan menyerupai pohon dengan cabang-cabangnya mencapai semua jaringan.
Pembuluh-pembuluh limfa yang lebih besar menyerupai pembuluh balik dan menyalurkan isinya
kedalam peredaran darah pada titik yang bertekanan rendah via pembuluh limfa yang paling besar.
Pada hewan menyusu dan banyak vertebrata lain via ductus thoracicus ke dalam vena cardinalis
anterior.

Sebagian plasma darah menembus dinding kapiler dan menyebar dalam sela-sela jaringan ikat : itu
adalah limfa yang mengisi ruang antar sel, yang melingkari jaringan-jaringan dan merupakan milicu
intericur yang sesungguhnya. Dari situ sel-sel memperoleh okseigen dan makanan, dan di situ pula
melepaskan hasil atau limbah metabolism.

Limfa antar ruang sel meningkatkan tempatnya, dengan difusi menembus endothelium kapiler limfa
dan selanjutnya menjadi limfa yang beredar. Mekanisme ini terutama untuk mengembalikan
kelebihan limfa ruang antar sel yang tidak tertampungoleh vanula ke dalam peredaran darah.
Adanya system paravena ini member kemudahan dalam mengeluarkan benda-benda buangan
berupa partikel-partikel berukuran besar yang tidak mungkin terlaksana via kapiler vena.
Kembalinya limfa kedalam darah via system paravena dengan osmosis dan kontraksi otot yang
bekerja sebagai pompa bersama-sama dengan katup-katup disepanjang pembuluh limfa.

Pada vertebrata rendah terdapat jantung limfa yang membantu gerakan cairan itu. Pada burung
dijumpai sepasang jantung limfa hanya pada embrio, namun alat itu pada sejumlah spesies burung
masih dipertahankan pada yang dewasa.

Rangkuman :

Darah terdiri dari dua bagian yaitu, sel-sel darah dan plasma darah. Darah berfungsi sebagai alat
pengangkut bermacam-macam substansi, mengatur keseimbangan antara cairan darah dengan
cairan jaringan, mengatur keseimbangan asam basah, mencegah pendarahan, sebagai alat
pertahanan tubuh dan mengatur suhu tubuh.

Sistem peredaran darah terdiri dari sistem peredaran darah terbuka dan sistem peredaran darah
tertutup.

7.3 Penutup

a. Tes formatif

1. Sebutkan bagian-bagian darah


2. Jelaskan fungsi darah bagi tubuh secara singkat

3. Jelaskan perbedaan antara peredaran darah terbuka dan peredaran darah tertutup

b. Umpan balik

Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal berikut.

- Membuat ringkasan materi sebelum materi ini di bahas dalam diskusi maupun praktikum

- Aktif dalam diskusi maupun praktikum

Senarai :

Sistem peredaran darah : sistem yang mempunyai sangkut paut dengan pergerakan darah di dalam
pembuluh darah dan juga perpindahan darah dari satu tempat ke tempat lain
BAB VIII

SISTEM RESPIRASI

8.1 Pendahuluan

Deskripsi Singkat

bab ini menguraikan tentang organ-organ respirasi, mekanisme respirasi, regulasi respirasi dan
transport gas respirasi

Kompetensi Dasar

Setelah menyelesaikan materi ini mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan sistem respirasi secara
tepat.

8.2 Penyajian

8.2.1 Macam-macam Alat Respirasi dan Cara Kerjanya.

Perlengkapan pernafasan pada hewan sangat beraneka ragam, tetapi secara bebas dapat
dikembalikan kepada tipe dasar yang jumlahnya sedikit. Dalam hal paling sederhana berlangsung
pertukaran gas melalui sedikit banyak keseluruhan permukaan tubuh yang tidak terdiferensiasi;
transfpor gas di dalam tubuh dapat terjadi dengan difusi atau dalam cairan tubuh yang mengalir.
Pertukaran gas melalui seluruh permukaan tubuh dan transport gas dengan difusi dijumpai misalnya
pada Protozoa, telur dan embrio, pada larva sejumlah besar hewan laut dan pada Platyhelmintes.
Nemathelmintes, kebanyakan Annelida, kebanyakan udang Entomostraca dan sejumlah besar
Tungau (Acari) memiliki juga alat pernafasan tanpa diferensiasi, tetapi kemungkinan cairan tubuh
mengambil bagian dalam hal transport gas.

Difusi gas melalui protoplasma adalah proses yang sangat lambat dan hal seperti itu sangat
tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhan metabolism hewan jika hanya semata-mata melalui
difusi. Hal itu diatasi dengan modifikasi alat pernapasan sehingga memudahkan pertukaran gas
melalui permukaan tubuh. Pada sejumlah besar hewan akuatik, kulitnya kaya akan vaskularisasi dan
dengan mudah dilalui gas. Cacing tanah, lintah dan larva sebagian besar ikan memiliki vaskularisasi
kulit yang memungkinkan oksigen berdifusi melaluinya sehingga kebutuhan metabolism terpenuhi.
Namun hewan-hewan yang lebih besar seperti amfibi dan ikan juga kadang-kadang atau secara
terus-menerus menggunakan pernafasan kulit sebagai tambahan untuk paru-paru atau insang yang
dimilikinya.

Sistem respirasi pada Coelenterata dilukiskan pada Gambar 7.1b, tampak bahwa difusi gas
dipersingkat dengan masuknya permukaan difusi ke dalam tubuh dengan hubungan keluar melalui
system kanal yang penuh berisi air. Dengan itu terbentuklah suatu sistem ventilasi.

Pembesaran permukaan respirasi dapat dicapai dengan evaginasi dan invaginasi, seperti
pada insang dan paru-paru.. system respirasi ini pada umumnya perlu ventilasi dan cairan tubuh
tetap berperan sebagai pengangkut gas menuju ke sel-sel dlam jaringan. Tipe alat respirasi yang
tidak memerlukan paran cairan tubuh sebagai pengangkut gas ialah trakea pada serangga

8.2.3 Paru-paru dan Mekanisme Ventilasi Pada Amfibi Dan Reptil

Struktur paru-paru amfibi dan reptile pada pokoknya serupa dengan hewan menyusu. Area
permukaan difusi jauh lebih kecil daripada hewan menyusu. Berhubung dengan itu amfibi masih
memerlukan peranan kulit sebagai alat respirasi, tetapi pada reptil peranan kulit seperti itu sudah
tidak penting lagi. Paru-paru reptil memiliki area permukaan difusi lebih besar daripada amfibi dan
dilengkapi dengan sepasang bronkus sejati yang diperkuat dengan cincin-cincin kartilago. Pada reptil
antara glottis dengan paru-paru diperantarai oleh trakea, sedangkan pada amfibi paru-paru
berhubungan langsung dengan glottis. Pada amfibi ada gerakan-gerakan dinding dasar mulut
(buccopharynx) yang ada hubungannya dengan ventilasi paru-paru, sedangkan pada reptile gerakan
seperti itu tidak ada hubungannya dengan respirasi.

Gerakan naik turun dinding dasar rongga mulut itu merupakan tenaga untuk memompa
udara dngan cara mengubah volume rongga mulut. Satu siklus pernafasan pada amfibi ini terdiri dari
empat fase :

(a) Glottis tertutup dan nares terbuka. Dinding dasar rongga mulut turun oleh karena kontraksi m.
sterno-hyoideusdan udara masuk buccopharynx sebab tekanan udara berkurang;

(b) Udara yang masuk menaikkan tekanan di dalam rongga mulut yang mengakibatkan valvula pada
nares menutup, bersamaan dengan itu m. submandibularis dan m. geniohyoideus kontraksi
akibatnya rongga mulut mengecil, dan udara di dalam rongga mulut terdorong bersamaan dengan
membukanya glottis sehingga udara masuk ke dalam paru-paru, sementara itu valvula kembali
terbuka;

(c) Selanjutnya m. sternohyoideus kontraksi akibatnya rongga mulut membesar, demikian pula otot-
otot abdomen dan akibatnya paru-paru terdesak dan udara mengalir keluar (ekspirasi);

(d) Sementara itu m. submandibularis dan m. geniohyoideus kembali kontraksi sehingga dinding
dasar rongga mulut mendesak udara masuk ke dalam paru-paru (inspirasi);

(e) Siklus respirasi dimulai lagi dengan ventilasi rongga mulut (dalam seluruh proses ini lubang
mulut selalu tertutup).

Ventilasi paru-paru pada reptile dibantu oleh aktivitas tulang rusuk, yang tidak dijumpai pada
amfibi. Jika otot-otot di antara tulang-tulang rusuk berkontraksi maka rongga dada membesar
sehingga tekanan di dalamnya turun. Ini memberikan peluang masuknya udara ke dalam paru-paru,
dengan demikian berlangsung inspirasi. Relaksasi otot-otot itu disertai kontraksi otot-otot abdomen
menyebabkan paru-paru mengempis dan udara didorong keluar, dengan demikian berlangsung
ekspirasi. Pada kebanyakan kadal respirasi mulai dengan fase ekspirasi awal yaitu dengan
menghembuskan udara dengan kuat keluar dari paru-paru dan kemudian diikuti dengan inspirasi
cepat. Sekarang paru-paru mengembang dan tetap demikian selama satu pause sebelum aktivitas
respirasi berikutnya. Pada suhu rendah pause ini berlangsung amat lama tetapi dalam kondisi panas
frekuensinya agak cepat.

Insang ikan.

Pertukaran gas pada sebagian besar ikan teleostei dan elasmobranchii terjadi pada insang.
Pada berbagai spesies ikan struktur insangnya secara terinci menunjukkan keanekaragaman, tetapi
secara umum adalah serupa. Kita perhatikan alat insang pada ikan teleostei, terdiri dari sejumlah
kecil lengkung insang dengan sejumlah filament insang yang masing-masing memuat sejumlah
lamella sekunder (Gamb. 7.6). Darah mengalir di dalam lamella sekunder dan air mengalir
melewatinya dengan arah berlawanan dan yang demikian itu disebut system arus berlawanan
(counter-current system). Dengan system ini pertukaran gas pada insang dapat berlangsung. System
ini secara tidak langsung menyatakan bahwa pO2 dalam lamella sekunder lebih rendah daripada di
lalam air; stratifikasinya searah dengan stratifikasi dalam air. Kondisi seperti ini menunjukkan adanya
efisiensi pertukaran gas yang tinggi, seperti dalam parabronki burung.

Dengan demikian jelas bahwa pengambilan oksigen selain ditingkatkan oleh perluasan
permukaan difusi juga oleh adanya system arus berlawanan. Permukaan luar lamella dibungkus oleh
lapisan tipis sel-sel epitel, permukaan dalam diperkuat dengan deretan sel-sel pilar. Darah mengalir
dalam ruang-ruang di antara sel-sel pilar itu. Jarak difusi antara pusat sel darah merah dan air
berkisar antara 1,5 – 15 cm2/g berat badan, tergantung pada ukuran dan cara hidup ikan.

8.2.4 Transpor Gas Pernapasan

Dalam suatu campuran gas, tekanan partial gas apapun sama dengan hasil kali fraksi
molekulnya dan tekanan gas kering total (760 mmHg) (Hukum Dalton). Tekanan suatu gas tidak
dipengaruhi oleh tekanan gas-gas lain. Molekul-molekul terus-menerus bergerak dan menggunakan
tekanan bila bertumbukan dengan dinding suatu wadah. Misalnya di dalam alveoli, beberapa
molekul gas terlarut dalam zat cair yang melapisi permukaan dalam dinding alveoli. Volume
(kandungan) gas yang terlarut dalam zat cair itu tergantung pada cairannya sendiri, suhu, koefisien
kelarutan, dan tekanan partial gas (Hukum Henry). Dalam hal kelarutan gas ini CO2 ternyata 24 kali
lebih mudah larut daripada O2, namun dengan adanya pigmen respirsi (misalnya hemoglobin)
kandungannya dalam darah meningkat.

Transpor O2

1. Kurva disosiasi – O2. Kombinasi O2 dengan hemoglobin dalam eritrosit tergantung pada pO2 yang
dilukiskan sebagai fungsi sigmoid (Gambar 7.11).

a. Kapasitas O2 - g hemoglobin X 1,39 ml O2/g Hb dalam 1 dl darah. Kapasitas O2 beragam dengan


jumlah Hb dalam darah dan dengan itu dapat ditentukan besarnya.

b. Kandungan O2 ialah volume O2 yang sesungguhnya ada dalam darah (terikat dengan Hb dan
yang terlarut secara fisik) dan biasanya dinyatakan dalam satuan % volume (misalnya ml O2/dl
darah). Kandungan O2tergantung pada jumlah Hb yang ada, pO2, dan afinitas O2 terhadap Hb.

c. Kejenuhan hemoglobin (Hb saturation) ialah % Hb yang terikat dengan O2.


d. P50 ialah pO2 yang menghasilkan kejenuhan Hb 50%. P50 ialah kebalikan afinitas Hb terhadap O2.
P50normal untuk darah arterial ialah 27 mmHg. Peningkatan P50 menunjukkan penurunan afinitas Hb
terhadap O2; dalam hal itu Hb melepaskan O2 pada pO2 yang lebih tinggi, yang cenderung
meningkatkan pO2jaringan. Penurunan P50 disebabkan oleh meningkatnya afinitas Hb terhadap O2,
yang menekan pO2 jaringan tetapi membantu meningkatkan O2 pada Hb dalam paru-paru.

2. Asosiasi O2 dengan Hb. Sejak darah memasuki kapiler-kapiler paru-paru, pO2nya kira-kira 40
mmHg. O2berdifusi dari alveolus melalui membran kapiler alveolus, plasma, kemudian ke dalam
eritrosit. Dalam eritrosit, O2 bergabung secara bebas dan dapat balik dengan salah satu valensi
koordinasi Fe heme. Hb dipandang sebagai suatu enzim alosterik yang bereaksi dengan O2; afinitas
molekul-molekul ini satu sama lain dipengaruhi oleh ligand-ligand lain dan suhu (Gambar 7.12).

a. Efek Bohr. CO2 dan ion H+ keduanya dapat bereaksi dengan unit molekul Hb (Gambar 7.13).
Peningkatan P50 disebabkan oleh reaksinya dengan CO2 disebut efek Bohr.

b. Fosfat organik. Adenosin trifosfat (ATP) dan 2,3-difosfogliserat (DPG) dapat mengikatkan pada
molekul Hb. Adanya ikatan dengan zat-zat itu menjadikan bentuk deoksihemoglobin stabil,
menyebabkan peningkatan P50. DPG dihasilkan dalam eritrosit oleh glikolisis, dan laju produksinya
meningkat selama kondisi kekurangan oksigen dan kelebihan alkali.

c. Karboksihemoglobin. CO afinitasnya terhadap Hb lebih dari 200 kali afinitas O2. Satu fraksi
molekul CO kira-kira 0,1% dalam udara inspirasi akhirnya menghasilkan ikatan Hb dengan CO
sebanyak 50%. CO yang berikatan dengan molekul Hb yang paling labil, menghasilkan penurunan
P50 bagi sisa Hb yang masih berfungsi (Gambar 7.12).

d. Pengaruh suhu. Peningkatan suhu, seperti terjadi jaringan yang aktif menjalankan metabolisme,
menyebabkan kenaikan P50. Penggeseran kurva disosiasi O2 memudahkan pembebasan O2 pada
jaringan.

8.3 Penutup

a. Tes formatif

1. Jelaskan mekanisme respirasi pada Amfibi dan hewan menyusu?

2. Sebutkan pusat regulasi respirasi?

b. Umpan balik

Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal berikut.

- Membuat ringkasan materi ini sebelum materi dibahas dalam diskusi

- Aktif dalam diskusi

Senarai :

Counter current system : sistem arus berlawanan


BAB IX

SISTEM EKSKRESI DAN OSMOREGULASI

9.1 Pendahuluan

Deskripsi singkat

Bab ini menguraikan tentang pengertian ekskresi, bahan buangan ekskresi, sistem ekskresi pada
hewan rendah, sistem ekskresi pada vertebrata dan osmoregulasi

Kompentesi Dasar

Setelah menyelesaikan materi ini mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan tentang sistem ekskresi
dan osmoregulasi

9.2 Penyajian

9.2.1 Ekskresi

A. Zat-zat Ekskret Dan Pola-Pola Ekskresinya

Pada organisme hidup, nitrogen tidak pernah dikelurkan dari tubuh dalam bentuk nitrogen
bebas, melainkan sebagai hasil akhir yang mengandung nitrogen. Protein adalahsenyawa
bernitrogen yang utama, dalam metabolism terbentuk hasil akhir berupa amonie, urea dan aam
urat. Selain protein, senyawa lain yang mengandung nitrogen adalah asam nukleat.

Hasil-hasil akhir metabolisme yang lain dijumpai terbatas pada hewan-hewan tertentu.
Beberapa contoh diantaranya: guanine terdapat pada laba-laba, xantin dan hipoxantin terdapat
pada insekta tertentu (Galleria sp , pieris sp), oksida trimetiamin pada ikan-ikan teleostei laut, dll.

Berdasarkan pada jenis ekskreta bernitrogen yang dihasilkan, hewan-hewan dapat


dikelompokan menjadi beberapa kategori:

1. Hewan ureotelik. Hewan-hewan kategori ini ekskretnya berup urea. Ini adalah senyawa
organic utama yang terdapat dalam urine hewan.

Urea, CO(NH2)2, dibentuk dari deaminasi asam-asam amino yang berasal dari makanan. Urea
dibentuk dalam proses berdaur yang disebut daur ornitin atau daur urea. ammonia berikatan
dengan CO2 dan asam amino ornitin, terbentuk asam amino sitrulin yang selanjutnya mengikat lagi
molekul ammonia menjadi arginin. Senyawa terakhir ini dihidrolisis oleh enzim arginase
menghasilkan satu molekul urea dan molekul ornitin baru yang mulai lagi dengan daur berikutnya.

Masalah pengawetan air pada hewan menyusu dewasa menjadikan ekskresi urea dalam larutan
pekat. Pada hewan-hewan padang pasir, oleh karfena keterbatasan penyediaan air, ekskresi urea
oleh ginjal secara aktif. Pada hewan memama biak, urea disaur ulang menjadi asam amino lagi (Bab
5).
Kebanyakan amfibi adalah ureotelik, demikian pula ikan-ikan elasmobranobii. Sintesis urea pada
katak berlangsung dalam hati, sedangkan pada ikan elasmobranobii berlangsung dalam semua
jaringan kecuali otak dan darah dengan cara yang sama dengan hewan menysusu.

2. Hewan-hewan urekotolik. Hewan-hewa daratan seperti serangga, kadal, ular, dan burung
mengeluarkan nitrogen dalam bentuk asam urat. Asam urat terbentuk dengan deaminasi
dan oksidasi basa-basa purin (guanine dan adenine)

3. Hewan-hewan guanotelik. Pada beberapa artropoda seperti laba-laba, guanine adalah


akskreta utama yang dikeluarkan melalui saluran-saluran Malphigi dan kantong-kantong
kloaka. Pengetahuan mengenai zat ini masih sangat terbatas.

4. Hewan-hewan penghasil trimetilaminoksid. Teleostel yang hidup dilaut mengeluarkan


trimetilaminoksid yang mudah larut dalam air dan tidak beracun. Senyawa ini mungkin
berasal dari pemecahan lipoprotein.

B. Anatomi dan Fungsi Ginjal

Ginjal adalah alat ekskrfesi zat-zat buangan yang utama pada vertebrata. Fungsi itu
menunjang fungsi-fungsi lain yang juga dilaksanakan oleh ginjal. Ginjal memelihara keajegan
lingkungan dalam tubuh dengan mengatur volume dan komposisi luar sel. Untuk melaksanakan ini,
ginjal membuat keseimbangan secara tepat pengambilan, pembuatan, pembuangan, dan pemakaian
banyak senyawa organic dan anorganik.

Untuk memahami cara kerja ginjal arus lebih dahulu memahami strukturnya terutama struktur unit
fungsional yaitu nefron. Di dalam jaringan ren terdapat saluran-saluran yang disebut tubuli
renales. Satu tubulus renalis mulai dengan suatu bangunan seperti mangkuk yang disebut kapsula
glomeruli. Dinding bangunan mangkuk ini terdiri atas dua lembaran , lembaran dalam dan lembaran
luar. Antara keduanya terdapat ruangan yang melanjutkan diri ke dalam rongga tubulus renalis.
Tubulus renalis dapat dibagi menjadi beberpa bagian yaitu tubulus kontortus proksimalis, tubulus
attenuates, tubulus kontortus distalis, tubulus komunikans, tubuus kolektivus dan duktus
papilaris. Dari kapsula glomeruli hingga tubulus kontortus distalis disebut nefron.

Satu arteri masuk kedalam sinus renalis yang disebut arteria renalis. Arteria ini didalam sinus
bercabang-cabang. Cabang-cabang ini berjalan diluar pelvis, kearah medula. Di sini arteri-arteri itu
berjalan diantara pyramid-piramid untuk mencapai korteks (oortex). Arteri-arteri itu disebut arteri
interlobaris, yang masing-masing bercabang menyusuri batas antara korteks dan medulla dan disbut
arteri arkuata. Arteri arkuata member cabang-cabang yang berjalan tegak lurus terhadap arteri
arkuata danmasing-masing disebut arteri interlobaris. Setiap arteri ini member cabang-cabang yang
berjalan sejajar dengan dataran luar ginjal. Cabang-cabang ini masing-masing disebut arteriola
aferentia, yang masuk kedalam kapsula glomeruli. Di dalam bangunan itu arteriola aferintia
beroabang-oabang membentuk kapiler. Kumpulan kapiler di dalam kapsula glomeruli disebut
glomerulus. Kapiler-kapiler ini kemudian berkumpul menjadi satu arteriola eferentia yang keluar dari
kapsula glomerulu dan pergi ke tubulus renalis. Disini anteriola ini bercabang-cabang lagi menjadi
kapiler yang mengelilingi tubuli renales. Kapiler-kapiler ini kemudian berkumpul menjadi vena yang
mengikuti kembali arteria-arteria.
Sebagian besar dinding kapiler yang membentuk glomerulus menempel kepada lembaran
dalam kapsula glomeruli. Dinding kapiler ini terdiri atas sel-sel endotel yang di sana-sini mempunyai
lubang kecil (pori). Lembaran dalam kapsula glomeruli terdiri atas sel-sel epitel yang mempunyai
lanjutan-lanjutan ke arah endothelium kapiler. Lanjutan-lanjutan sel-sel apitel itu jalin-menjalin, dan
di antaranya ada celah. Antara endotel dinding kapiler epitel lembaran dalam kapsula glomeruli
terdapat suatu membrane yaitu membrane basalis. Glomerulus bersama dengan kapsula glomeruli
membentuk korpuskulum renis.

Dengan struktur seperti itu, fungsi-fungsi ginjal dapat terselenggara yang pada dasarnya
adalah prose-proses transpor. Proses-proses transpor dalam nefron pada akhirnya menghasilkan
urine ynag dibentuk melalui mekanisme-mekanisme sebagai berikut :

2. Filtrasi pada glomerulus;

3. Resorpsi pada tubulus (salah satu aktif atau pasif);

4. Ekskresi pada tubulus secara aktiv dari plasm ke urine;

5. Sekresi pada tubulus dari sel-sel ginjal ke urine.

Proses-proses itu dijelaskan secara singkat :

1. Darah difiltrasi melalui membrane basalis. Hanya molekul-molekul berukuran kecil saja yang
dapat melalui filter (maksimum 70.000), tetapi hal ini tergantung juga dari bentuk molekul.
Sebagian protein plasma dapat melalui filter. Dalam filtrate terdapat glukosa, asam-asam
amino, klorida, urea, kreatinin, dan asam urat.

2. Anyak substansi dalam filtrate diresorbsi dalam tubulus kontortus proksimalis. Substansi itu
ialah terutama elektrolit , asam-asam amino, asam urat, laktat, urea, peptide, protein, asam
askorbat, dan glucose. Bermacam-macam cara digunakan untuk melaksanakan itu :
reabsorpsi pasif, transport aktif primer, transport aktif sekunder, dan pinositosis.

3. Ekskresi aktif pada tubulus. Substansi-substansi tertentu diekskresikan dengan cara ini
seperti substrat-substrat endogen ( glukuronid, hipurat, sulfat) dan substansi obat
(penisilin,diuretikum) atau metabolit-metabolit obat.

4. Sekresi sel tubulus. Sel-sel nefron mengandung berbagai enzim untuk sintesis substansi-
substansi yang ditransfer ke cairan tubulus. Substansi-substansi ini antara lain NH3 (dengan
enzim glutaminase) dan H (dengan enzim karbonat anhidrase). Sekresi NH3 secara pasif,
sedangkan ion H secara aktif.

9.2.2 Osmoregulasi Pada Burung dan Vertebrata Rendah

Mekanisme-mekanisme yang bekerja untuk osmoregulasi dan ekskresi pada burung dan vertebrata
rendah adalah serupa dengan yang ada pada hewan menyusu.Burung seperti halnya hewan
menyusu terutama dihadapkan pada masalah mendapatkan air dan mengawetkan garam-garam.
Meskipun pada burung dataran badan yang permeable telah tereduksi hingga suatu minimum,
kehilangan air berlangsung terus-menerus oleh karfena respirasi dan termoregulasi. Burung-burung
umumnya mengimbangi kehilangan air dengan minum dan juga memperoleh air nelalui
makanannya. Pada burung-burung (juga pada reptile),memiliki usus yang dapat menyerap air secara
efisien.

Untuk mengawetkan air, pada umumnya burung-burung mengandalkan pada ginjal yang
efisien, usus, dan kloaka. Suatu system diluar ginjal untuk mengeluarkan kelebihan elektrolit
dijumpai pada burung-burung yang hidup dari makanan yang berasal dari laut.

Banyak burung-burung laut yang memiliki kelenjar garam , yang juga dijumpai pada burung-
burung padang pasir. Kelenjar garam, glandula nasalis, pada burung camar laut (larus
argentatus) terdiri atas sejumlah lobus berbentuk pipa-pipa panjang, masing-masing dengan satu
kanalis sentralis. Satu lobus terdiri dari kelenjar-kelenjar berbentuk pipa-pipa halus yang
mengalirkan isinya kedalam kanalis sentralis. Darah mencapai kelenjar-kelenjar itu melalui kapiler-
kapiler dengan aliran yang berlawanan dengan arah aliran getah kelenjar yang disekresi, ini juga
system arus berlawanan. Terjadi transport aktif Na dari darah ke getah kelenjar. Di dalam getah yang
disekresikan didapatkan Na, Ca, Mg, SO4, dan HCO3.

Teleostgei yang hidup di laut menghasilkan urine dengan jumlah minimal dengan demikian
menghemat air. Meskipun zat buangan yang mengandung nitrogen dibuang melalui urine , tetapi
sebagian besar dibuang melalui insang dalam bentuk ammonia. Hal ini dapat menghemat
penggunaan air yang seharusnya hilang sebagai urine. Kelebihan ion-ion divalen yang masuk melalui
saluran pencernaan juga dikeluarkan dalam urine.

Kelebihan Na atau Cl yang terbawa masuk oleh karena difusi atgau karena minum air laut
dikelurkan melalui epitel insang. Alat-alat ekskresi peranannya kecil dalam pengaturan ion.
Transport aktif NaCl melalui sel-sel epitel insang merupakan jalan utama untuk mengeluarkan
kelebihan garam.

Teleostei yang hidup di air tawar mmiliki getah jaringan yang lebih pekat daripada lingkungan
dan dihadapkan pada bahaya kelebihan air dan kehilangan garam-garam yang berguna. Ikan air
tawar tidak minum air dan sel-sel insang digunakan untuk absorbsi Na dengan transport aktif dari
medium. Ginjal mengeluarkan banyak sekali urine enoer. Beberapa macam garam diperoleh
bersama-sama makanan.

Rangkuman

Berbagai hewan mengeluarkan zat sisa bernitrogen dalam bermacam-macam bentuk. Berdasarkan
atas senyawa bernitrogen yang diekskresikannya hewan dapat dikelompokkan menjadi hewan
amonotilik, ureotilik, dan urikotelik. Organ ekskresi pada hewan invertebrata berupa nefridia, sel api,
dan bentuk lainnya. Organ ekskresi pada vertebrata berupa organ khusus, yaitu kulit, paru-paru,
hati, ginjal.

Osmoregulasi berkaitan dengan tidakan penyesuaian terhadap perubahan lingkungan dan fungsi
homeostatis seperti pengaturan suhu dan pengaturan pH.
9.3 Penutup

a. Tes formatif

1. Apa yang dimaksud dengan:

a. Ekskresi

b. Osmoregulasi

c. Amonotilik

2. Jelaskan perbedaan mekanisme osmoregulasi pada ikan air tawar dan ikan air laut.

b. Umpan balik

Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal berikut.

- Membuat ringkasan materi sebelum materi ini dibahas dalam diskusi

- Aktif dalam diskusi

- Mencari tambahan materi yang sesuai dengan masalah yang akan dikaji

Senarai :

Ekskresi : proses pengeluaran zat-zat sisa dari dalam jaringan tubuh yang dilakukan oleh organ-organ
ekskretori.
BAB X

TERMOREGULASI

10.1 Pendahuluan

Deskripsi Singkat

Bab ini menguraikan tentang klasifikasi, pengaruh suhu terhadap hewan, suhu tubuh hewan
ektoterm, hubungan suhu dengan hewan endoterm

Kompetensi Dasar

Setelah menyelesaikan materi ini mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan tentang termoregulasi

10.2. Penyajian

Termoregulasi memelihara suhu badan agar selalu normal meskipun selalu ajag terjadi tubuh
mengambil panas, memproduksi panas, dan kehilangan panas. Satu perubahan pada salah satu
proses-proses ini harus dikompenasi dengan mengubah yang lain. Pada hewan menyusu dan burung
memiliki pusat termoregulasi di dalam hipotalamus. Di situ terdapat termoreseptor yang peka panas
menaggapi perubahan-perubahan suhu inti yang diantarkan oleh aliran darah. Informasi tambahan
diterima dari termoreseptor pada kulit dan modulla spinalis. Hipotalamus mongintegrasikan data ini
dan memulai suhu variasi tanggapan untuk mengatasi penyimpanan suhu badan dari normal.
Hewan-hewan yang melaksanakan mekanisme ini disebut hewan homoioterm. Vertebrata rendah
yaitu Reptil,amfibi,dan ikan tidak melaksanakan mekanisme seperti itu, suhu badannya berubah-
ubah mengikuti suhu lingkungannya, golongan ini disebut hewan poikiloterm. Hewan-hewan
homoiotrem yang mengalami hibernasi menjadi poikiloterm selama menjalani hibernasi. Suhu badan
yang dikatakan ajeg normal pada hewan homoioterm itu tidak sesungguhnya tidak sepenuhnya
demikian, memang suhu tubuh di bagian yang dalam menunjukan relatif ajeg misalnya 37 + 0,5 C,
tetapi di bagian anggota badan dan kulit suhuhnya beragam. Untuk memelihara suhu badan selalu
ajeg normal memerlukan kestabilan antara produksi panas dan kehilangan panas.

9.1. Pertukaran Panas Secara Fisika

Dalam beberapa hal tubuh hewan menyerupai mesin termodinamik yang mengubah satu bentuk
yang lain. Satu frakai energi kimia berasal dari pembongkaran makanan diubah menjadi kerja, tetapi
oleh karena efisiensinya terbatas sebagian besar keluarsebagai panas. Pada hewan homoioterm
kesehimbangan terpelihara antara laju hilangnya panas itu ke lingkungan dan laju produksinya
dengan metabolisme, sehingga menghasilkan keajegan suhu yang mencerminkan keadaan panas
yang stabildengan aliran energi yang berkesinambangan melalui sistem itu.

Dalam lingkungan suhu rendah, kestabilan panas tercapai hanya jika tubuh mampu menghasilkan
cukup panas menghasilkan cukup panas untuk mengimbangi pemindahan panas ke lingkungan
secara lingkungan. Sebaliknya dalam lingkungan panas, lingkungan harus mampu menerima panas
metabolik tubuh tanpa menyebabkan suhu badan naik di atas batas kefaalan.

Pemindahan panas secara fisika yang terjadi antara permukaan tubuh dengan lingkungannya dengan
cara: konduksi, konveksi dan radiasi. Pertukaran energi hewanhomoioterm dengan lingkungannya
ditunjukkan dalam.

Pemindahan panas secara konduksi tidak begitu penting bagi hewan-hewan terestrial, tidak
demikian halnya bagi hewan-hewan akuatik, panas berpeluang besar hilang dari tubuh dengan
konduksi. Hewan-hewan menyusu akuatik tidak memiliki bulu-bulu yang tanah air secara yang
secara efektif dapat melindunginya dari kehilangan panas.untuk mengatasi itu hewan homoioterm di
laut, ikan paus dan sapi laut (direnia) memiliki lapisan tebal gelembung-gelembung di bawah kulit.

Gambar 10.1 Diagram pertukaran-pertukaran energi utama antara hewan homoitrm dan
lingkungannya. Panas yang dihasilkan oleh metabolisme hilang dalam kebanyakan kondisi itu
terutama dengan radiasi dan konveksi. Dalam kondisi panas evaporasi air secara alami dipercepat
dengan organ-organ fisiologi.

Dari berbagai cara kehilangan panas secara fisika, yang paling bermakna ialah ovaporasi. Hal ini
tampak misalnya pada babi yang ditunjukan dalam kurva pada gambar 10.2.

Gambar. 10. 2 pengaruh suhu lingkungan tarhadap cara kehilangan panas pada babi (Ph).

Efisiensi evaporasi secara fisiologi sangat bergantung pada kejadiannya. Jika tempat kejadian itu kulit
dan saluran respirasi maka sebagian besar panas bersal dari tubuhnya sendiri, tetapi jiwa terjadi
permukaan bulu-bulu atau pakaian panas itu berasal dari lingkungannya. Panas yang hilang karena
evaporasi respirasi dipercepat, bukan oleh sekresi keringat dan perluasan bagian tubuh yang basah,
melainkan tergantung pada ventilasi permukaan evaporasi.

10.2.2 Regulasi Kefaalan Dalam Produksi

Regulasi kefaalan dakam produksi panas juga sering disebut regulasi secara kimia karena terdiri dari
proses-proses kimia dalam metabolisme. Jika suhu lingkungan turun, kehilangan panas bertambah,
sehingga suhu tubuh turun apa bila metabolisme tidak meningkat. Pada suhu lingkungan 23 C atau
jika suhu tubuh turun 0,6 sudah terjadi kenaikkan metabolisme. Metabolisme dinaikan dengan
mengigil, yang sesungguhnya adalah kontraksi otot yang tidak teratur dan tidak disengaja. Oleh
karena itu oksidasi dapat meningkat sampai 400 x. Mekanisme-mekanisme yang mengatur produksi
pana ialah:

1. Aktivitas otot ;

2. Tonus oto ;

3. Speoifio Dynamio Aotion makanan

4. Perubahan-perubahan metabolisme basal.

Selain keempat mekanisme itu metabolisme secara intrinasik dipengaruhi aktivitas glandula
thyroidea dan tersedianya jaringan lemak coklat. Clandula thyreodia menghasilkan hormon toroksin
yang sangat erat hubungan dengan metabolisme energi. Jaringan lemak pada hewan menyusun ada
dua macam yaitu lemak putih dan lemak coklat. Yang terakhir ini kaya dengan pigmen respirasi
(sitokrom).

10.2.3 Regulasi Kefaalan Dalam Pembuangan Panas

Dalam pembicaraan sebelumnya telah dikemukakan bahwa panas tubuh hilan ke lingkungan
melalui evaporasi kulit dan evaporasi saluran respirasi. Pada hewan yang tidak memiliki kelenjar
keringat, untuk meningkatkan pembuangan panas dengan cara meningkatkan frekuensi pernapasan
dan menigkatkan vensilasinya. Perilaku ini disebut : panting, misalnya pada anjing. Selain itu
pembuangan panas dapat terjadi melalui perendah-darah perifer dengan sistem arus berlawanan.

10.3 Penutup

a. Tes formatif

1. Apa yang dimaksud dengan:

a. Endoterm

b. Ektoterm

c. Heteroterm

2. Jelaskan pengaruh suhu terhadap hewan

b. Umpan balik

Anda dapat menguasai materi ini dengan baik jika memperhatikan hal berikut.

- Membuat ringkasan materi sebelum materi ini dibahas dalam diskusi

- Aktif dalam diskusi


- Mencari tambahan materi yang sesuai dengan masalah yang akan dikaji

Senarai :

Endorterm : kelompok hewan yang mampu memproduksi sendiri panas yang diperlukan oleh
tubuhnya

Ektoterm : Suhu sekelilingnya merupakan sumber panas bagi tubuhnya

Heteroterm : Seperti hewan endoterm tapi tidak dapat mempertahankan suhu tubuhnya dalam
kisaran suhu yang sempit.

Homoiterm : Hewan yang suhu tubuhnya tetap tidak terpengaruh oleh suhu luar

Poikioterm : Kelompok hewan yang suhu tubuhnya berfluktuasi mengikuti suhu luar di sekelilingnya.

DAFTAR PUSTAKA

Eckert, Roger and Randall, David ; physiologi – Mechani sms and Adaptations. W.H. Freeman
and Co., 1983.

Marshall, P.T. and Hughes, C.M.: physiology – Mammals and other vertebrata. Cambrigge University
press, 1980.

Penzlin, Henz: Lehrbuoh der Tierphysiologie.

Custav Fischer Verlag, 1984.

Wilson, James A. : Priciples of Animal Physiology.

Macmillan publishing Co. , Inc. , 1979