Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN KEGIATAN PPDH

ROTASI REPRODUKSI HEWAN BESAR


REFERAT
“PYOMETRA PADA HEWAN BESAR”

Oleh:
Sandra Rini Sulistyaningtyas, S.KH
NIM. 170130100111034

PROGRAM STUDI PROFESI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018

50
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di Indonesia susu merupakan salah satu sumber protein asal hewan yang
banyak dimanfaatkan oleh masyarakat, karena selain diminum susunya juga dapat
diolah menjadi bahan pangan yang lain seperti yoghurt, mentega, keju, selain itu
usaha peternakan sapi perah dapat menghasilkan daging, pupuk kandang serta
biogas. Sehubungan dengan usaha meningkatkan produksi susu, maka diperlukan
suatu cara dan keahlian tertentu untuk menanggukangi terjadinya penurunan jumlah
populasi ternak sapi perah sebagai akibat serangan berbagai macam penyakit
reproduksi, baik yang bersifat infeksius atau non infeksius berupa gangguan fungsi
fisiolgi pada ternak. Performans reproduksi ternak ruminansia umumnya ditentukan
oleh empat faktor, yaitu genetik, lingkungan fisik, nutrisi dan manajemen (Hariadi
dkk., 2011).
Sapi betina produktif merupakan yang melahirkan kurang dari 5 (lima) kali
atau berumur dibawah 8 (delapan) tahun, atau sapi betina yang berdasarkan hasil
pemeriksaan reproduksi dokter hewan atau petugas teknis yang ditunjuk di bawah
pengawasan dokter hewan dan dinyatakan memiliki organ reproduksi normal serta
dapat berfungsi optimal sebagai sapi induk (Kementan, 2010). Gangguan
reproduksi merupakan salah satu masalah yang sering dialami oleh suatu
peternakan yang ada di Indonesia dan dapat menyebabkan kemajiran. Kemajiran
adalah suatu keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan proses reproduksi
yang disebabkan oleh satu atau banyak faktor yang dapat terjadi baik pada ternak
jantan maupun betina.
Salah satu gangguan reproduksi pada sapi betina adalah adanya endometritis
yang berlanjut menjadi pyimetra, dimana terdapat akumulasi push pada uterus.
Keadaan ini dapat menyebabkan terjadinya ganggaun siklus reprodusi pada sapi.
Penyakit ini menyebabkan kerugian yang sangat besar karena menyebabkan kawin
berulang (repeat breeding), perpanjangan interval calving, dan penurunan
reproduksi (infertilitas). Gejala yang biasanya sering timbul adalah anestrus
ataupun keluar leleran dari vagina.

51
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa penyebab terjadinya Pyometra pada ternak sapi ?
2. Bagaimana kejadian kasus Pyometra pada ternak sapi?
3. Bagaimana penanganan dan pengendalian pada kasus Pyometra?

1.3 Manfaat
1. Mengetahui penyebab terjadinya Pyometra pada ternak sapi.
2. Mengetahui kejadian kasus Pyometra pada ternak.
3. Mengetahui penanganan dan pengendalian kasus Pyometra.

52
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Organ Reproduksi Betina


Alat kelamin betina pada dasarnya dibagi menjadi dua bagian yaitu alat
kelamin dalam dan alat kelamin bagian luar. Alat kelamin dalam meliputi
ovarium, tuba falopii, kornua uteri, korpus uteri, serviks dan vagina. Sedangkan
alat kelamin bagian luar terdiri atas vulva, klitoris, vestibulum vaginae dan
kelenjar vestibulae. Alat kelamin bagian dalam, ke bagian dorsal digantung oleh
beberapa alat penggantung. Ovarium digantung oleh alat penggantung
mesovarium dan ligamentum utero ovarika. Tuba falopii digantung oleh
mesosalping, sedangkan uterus, serviks dan sebagian vagina digantung oleh
mesometrium atau ligamentum lata.

Gambar 3.4 Bagian Reproduksi sapi betina (Mulling et al., 2011)

2.2 Siklus Reproduksi Hewan Betina


Periode estrus pada sapi dapat dinyatakan sebagai saat dimana sapi betina
siap sedia dinaiki oleh pejantan. Periode ini rata-ratanya adalah 18 jam untuk sapi
induk dan sedikit lebih pendek pada sapi dara dengan kisaran normal 12-24 jam
(Frandson, 2002). Lama waktu berahi sangat bervariasi diantara spesies. Lama
berahi pada sapi potong rataannya 20 jam dengan selang waktu 12-30 jam,
sedangkan pada sapi perah rataannya 15 jam dengan selang waktu 13-17 jam.
Menurut Trimberger dalam Salisbury dan VanDemark (2005), sapi dewasa maupun
sapi dara memulai berahi pada waktu siang hari atau malam haridengan waktu yang
hampir sama. Kebanyakan periode estrus terjadi cukup lama, sehingga betina yang
mulai berahi malam hari masih tetap berahi pada hari berikutnya di siang hari.

53
Siklus estrus dan pregnancy (kebuntingan) dipengaruhi oleh messenger
kimia yang disebut hormon. Hormon diproduksi di jaringan endokrin, termasuk di
ovarium, pituitari, hypothalamus, embrio, dan uterus. Secara umum hormon dirilis
ke peredaran darah dan disalurkan ke site-site tertentu yang menjadi sel atau
jaringan tergetnya. Pada sel target, terdapat reseptor khusus yang hanya akan
menerima signal dari hormon tertentu yang kemudian meresponnya dalam bentuk
perubahan-perubahan atau reaksi atau fungsi tertentu yang sesuai, yang
ditampakkan pada jaringan target tersebut. Khususnya pada siklus estrus, hormon
yang terlibat adalah hormon-hormon reproduksi.

2.3 Gangguan Reproduksi pada Hewan Betina


Gangguan reproduksi berdasarkan sifat yaitu gangguan reproduksi non
permanen (infertilitas) dan permanen (sterilitas). Gangguan reproduksi bersifat
permanen pada ternak ruminansia besar di Indonesia < 5% dari seluruh populasi,
sementara itu kejadian non permanen berkisar 50-75% dalam suatu kelompok
ternak. Gangguan reproduksi yang bersifat non permanen ditandai dengan
keterlambatan produksi anak setiap siklus reproduksinya. Contoh gangguan
reproduksi yang bersifat infertilitas antara lain:

a. Hypofungsi ovari (ovarium in-aktif temporer)


Kasus hypofungsi ovari pada umumnya terjadi pada kondisi BCS dibawah
2,0. Pada kasus ini ovarium akan teraba halus yang ditandai tidak adanya
pertumbuhan folikel dan corpus luteum serta uterus teraba lembek.
Penanganan: Tingkatkan kualitas dan jumlah pakan, massage (perbaikan sirkulasi
darah di ovarium), pemberian vitamin ADE, hormon perangsang pertumbuhan
folikel atau pembebas hormone gonadotropin, dan deworming.

b. Corpus Luteum Persisten /CLP


Kasus kejadian CLP merupakan kasus infeksi pada uterus, seperti pyometra,
metritis dan mumifikasi fetus. Pada ovarium ditemukan corpus luteum yang
menetap yang disebabkan oleh tertahannya luteolitic factor (PGF2α) dari uterus.
Kondisi tersebut diakibatkan oleh peradangan atau sebab lain sehngga kadar

54
progesteron tinggi dan menekan pengeluaran FSH dan LH dari hypofisa anterior.
Selanjutnya folikel tidak berkembang yang berakibat tidak dihasilkannya estrogen.
Penanganan: Lisiskan corpus luteum secara hormonal, dan menghilangkan
penyebab utama dengan pemberian antibiotika atau preparat lainnya secara intra
uterin (infusi intrauterina).

c. Endometritis
Pada umumnya endometritis terjadi setelah kelahiran abnormal, seperti
abortus, retensio plasenta, distokia, dsb atau sebagai kelanjutan radang bagian luar
(vulva, vagina,dan cervix). Tanda klinis ditunjukkan dengan keluarnya lendir kotor
saat estrus dan atau keluar lendir mukopurulen secara kontinyu. Pada kasus
endometritis subklinis tidak menunjukkan gejala yang bisa dipalpasi per rektum.
Penanganan : Perbaiki sirkulasi darah di uterus (hati-hati dapat menimbulkan
kerusakan uterus) dan menghilangkan kuman dengan antibiotika, sulfa atau
antiseptik secara intra uterin.

d. Anestrus
Kasus anestrus disebabkan oleh kegagalan perkembangan folikel di
ovarium. Hal ini dapat disebabkan oleh dua faktor yaitu: insufisiensi gonadotropin
akibat pengaruh faktor lingkungan dan abnormalitas ovarium; dan corpus luteum
persisten.

e. Pyometra

Kejadian endometritis disertai dengan akumulasi pus dalam uterus, biasanya


bilateral, cervix biasanya dalam keadaan konstriksi, sehingga leleran pus dari vulva
tidak selalu terlihat. Peradangan uterus ini selalu diikuti dengan terbentuknya
corpus luteum. Penderita akan mengalami anestrus akibat terbebasnya progesteron
dari korpus luteum.

Penanganan: obati dengan antibiotika secara infusi intrauterin, pemberian sulfa atau
antiseptika.

55
f. Kista Ovaria

Kista ovaria disebabkan oleh defisiensi LH yang mengakibatkan folikel


tidak mengalami ovulasi, namun dapat menjadi kista persisten dengan diameter
lebih dari 20 mm. Kista dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:

 kista folikel (follicular cysts) disebabkan defisiensi LH berat, bersifat


multipel, bilateral, gejala umumnya nimfomania.
 kista lutea (luteal cyst) disebabkan defisiensi LH ringan, tunggal, gejala
umumnya anestrus.

Penanganan: Berikan hormon yang kerjanya seperti LH (hati-hati sangat antigenik)


atau pembebas hormon gonadotrofin.

g. Kawin Berulang (Repeat Breeding)

Kawin berulang disebabkan oleh kematian embrio dini serta gangguan


fertilisasi berkisar 25 - 40%.

56
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Pyometra

Pyometra adalah suatu keadaan distensi uterus yang berisikan eksudat nanah
akibat terjadinya inflamasi kronis pada endometrium. Pyometra pada ternak besar
diklasifikasikan menjadi dua kategori berdasarkan membuka dan menutupnya
serviks. Induk yang mengalami pyometra terbuka, serviks tetap terbuka namun
bahan nanah terakumulasi karena pembersihan uterus terganggu. Induk yang
mengalami pyometra tertutup, cairan terakumulasi di dalam uterus dikarenakan
serviks yang menutup (Noakes et al. 2008). Pyometra pada sapi yang erat
hubungannya dengan retensi corpus luteum dan anestrus. Akumulasi eksudat di
dalam uterus mencapai 0.5 hingga 60 liter (Mair et al. 2013).

Sharma (2012) menyatakan bahwa kegagalan uterus dalam mengeluarkan


eksudat merupakan akibat dari reduksi kontraksi myometrial, kegagalan drainase
oleh sistem limfoid, peregangan berlebihan dari uterus, abnormalitas serviks dan
persistent mating induced endometritis dengan infeksi bakteri. Knottenbelt et al.
(2003) juga menyatakan pyometra terjadi akibat kelainan konformasi anus-
valvular, urin pooling, wind sucking dan adhesi serviks. Woodward (2012)
menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor predisposisi yang berasosiasi dengan
kejadian pyometra antara lain umur, konformasi organ reproduksi dan posisi uterus
di dalam lumen. Induk yang tua akan memiliki respon imun yang lebih rendah.
Konformasi organ reproduksi yaitu kondisi parineal yang buruk memiliki tingkat
konsepsi yang rendah. Posisi uterus di dalam ruang abdominal berhubungan dengan
kemampuan membersihkan inflamasi dan produksi cairan uterus selama masa
disestrus.

3.2 Etiologi

Sebenarnya pada sapi yang uterusnya terinfeksi, bakteri terlihat berada


dalam uterus tanpa berproliferasi menjadi suatu peradangan, sampai progesteron
luteal turun meregulasi fungsi imun, dan menyebabkan suatu kondisi patologis
(Lewis 2004). Infeksi uterus sering kali dihubungkan dengan Arcanobacterium

57
pyogenes, Escherichia coli, Fusobacterium necrophorum dan Prevotella
melaninogenicus (Dohmen et al. 1975; Studer dan Morrow 1978; Ruder et al. 1981;
Olson et al. 1984; Bonnett et al. 1991; Bondurant 1999), serta bovine herpesvirus-
4 dan Corynebacterium pyogenese dapat diidentifikasi sebagai salah satu
mikroorganisme penyebabnya (Ball dan Peters 2004).

Pyometra dapat ditimbulkan oleh kuman atau bakteri yang dalam keadaan
normal hidup didalam uterus dan saluran reproduksi lain; misalnya kuman
pyogenes yang karena suatu sebab menjadi patogen. Penyakit kelamin menular
seperti brucellosis, trichomoniasis dan vibrosis atau kuman yang non spesifik
seperti golongan coccus, coli juga dapat menyebabkan terjadinya pyometra pada
sapi. Pada induk penderita trichomoniasis fetus mati tidak diabortuskan, tetapi
dihancurkan oleh mikroorganisme ini sehingga menyerupai bubur dan bersama
nanah endometritis menjadi pyometra. Pyometra dapat terjadi sesudah inseminasi
buatan, perkawinan alam atau sesudah partus. Dengan adanya inseminasi buatan
ataupun perkwinan alami dapat memberikan kontribusi yang cukup baik bagi
mikroorganisme dari luar untuk masuk kedalam uterus dan apabila induk sedang
bunting dapat menyebabkan fetus yang dikandung menjadi tertular, diikuti
kematian dan hancuran fetus berbentuk nanah dan menimbun sebagai pyometra.
Masuknya mikroorganisme ini dapat terjadi ketika dilakukan inseminasi intra uterin
pada hewan bunting dengan semen yng terkontaminasi sehingga terjadi kematian
embrio dan melanjut sebagai pyometra.

Kasus pyometra setelah perkawinan alami biasanya berhubungan dengan


kematian embrio dini akhibat penyakit menular yang telah disebutkan diatas Pada
kebayakan kasus pyometra terjadi menyusuli retentio secundinae dan metritis
postpartum, di mana sering terjadi pengeluaran nanah melalui vagina. Pada
trichomoniasis atau infeksi lainnya dapat terjadi kebuntingan muda dan fetus
dibinasakan oleh organisme yang bersangkutan. Fetus dan selaputnya hancur
sehingga menyebabakan pyometra. Dalam hal ini penyumbatan cervix dapat
menetap untuk waktu yang lama.Pada pyometra dinding uterus umumnya tebal dan
berat dan tidak memiliki tonus uterus berisi cairan yang mengumpul, tidakada fetus
, plasentoma dan selaput janin , tidak ada fremitus.cairan didalam uterus dapat
berupa air seperti sirup atau kental. Pyometra dapat terjadi setelah partus yang

58
disertai dengan adanya retensi plasenta atau karena kelahiran yang sukar (distokia)
tanpa penanganan yang baik sehingga terjadi keradangan pada uterus (endometritis)
yang akut. Hal itu dimungkinkan karena terjadinya luka akibat tertusuk oleh alat-
alat kebidanan yang tidak steril pada waktu penanganan distokia..

3.3 Gejala Klinis

Gejala klinis pada sapi betina penderita pyometra adalah tidak munculnya
birahi dalam waktu yang lama atau anestrus, siklus birahi hilang karena adanya
korpus luteumpersisten. Terdapat timbunan nanah dari 200- 20.000 ml di dalam
rongga uterus dan hanya keluar dari vagina pada waktu sapi berbaring dan sapi akan
merasakan sakit didaerah abdomen. Suatu pengeluaran cairan seperti nanah yang
terjadi 2 – 3 minggu setelah portus yang disebabkan metritis paerpularis adalah
bukan pyometra sejati. Pyometra yang sejati adalah bila nanah yang tertimbun dan
tidak dikeluarkan selama lebih dari 60 pasca melahirkan dan selama itu birahi tidak
pernah muncul. Pengeluaran nanah ditandai adanya kotoran yang melekat pada alat
kelamin luar maupun pada ekor, kaki belakang dan kandang. Abdomen terlihat
membesar karena uterus membesar sesuai dengan volume nanah yang tertimbun.hal
ini dikarenakan servik uterus menutup sehingga terjadi retensi exudat purulent
dalam kornu uteri. Tubuh sapi penderita pyometra terlihat kurus, bulu suram,
temperatur tubuh naik,respirasi cepat pulsus naik dan turgor kulit. Sapi tidak mau
makan tetapi banyak minum dan urinasi. Sapi juga dapat menderita peritonitis,
depresi dan muntah.selain itu akan nampak bibir vulva yang membengkak dan
apabila terjadi toxemia sistemik maka nampak gejala –gejala klinis menyerupai
nephritis kronis yaitu polydipsi,polyuria,muntah,depresi dan dehidrasi.

Gambar 2.2 leleran push pada vaginga sapi (Sumber : Sayuti, 2012)

59
Pemeriksaan gejala klinis sangatlah dibutuhkan untuk dapat mendiagnosa
suatu penyakit. Drillich et al. (2001) menyatakan dengan pemeriksaan gejala klinis
dapat diketahui bahwa uterus sapi sedang terinfeksi yang ditandai dengan sesuatu
yang berbau busuk, berair, dan berwarna coklat kemerah-merahan. Palpasi rektal
dapat dilakukan untuk melihat cairan yang penuh mengisi uterus (Pugh et al., 1994;
Drillich et al., 2001) yang dapat dipaksa keluar uterus. Biasanya tanda dari infeksi
berubah-ubah secara nyata dari exudat purulen persisten ke exudat clear estrous
mucos pada uterus dan vagina

3.4 Diagnosa

Hewan yang mengalami pyometra pada pemeriksaan dengan USG akan


menghasilkan gambaran USG (sonogram) menunjukkan terjadi dilatasi lumen
uterus dengan struktur anechoic-hypoechoic di dalamnya (tanda panah kuning) dan
penebalan dinding endometrium (hyperechoic) (tanda panah putih). Hal ini seperti
dinyatakan Rais et al. (2013) bahwa hasil USG lumen uterus kuda pyometra terlihat
“snowy” seperti salju dan terjadi penebalan dinding endometrium. Pembesaran
uterus yang berisi cairan anechoic-hypoechoic atau seperti cairan berawan juga
dilaporkan oleh McCue (2014) pada induk kuda yang mengalami pyometra.
Struktur anechoic-hypoechoic atau yang terlihat seperti salju atau awan dalam
lumen uterus merupakan luruhan atau debris sel-sel peradangan yang bercampur
dengan cairan.

Gambar 2.2 Gambaran USG uterus induk kuda pyometra, tanda panah kuning
menunjukkan akumulasi eksudat nanah (keragaman echogenitas: anechoic-hypoechoic)

60
dalam lumen uterus, tanda panah putih menunjukkan penebalan dinding endometrium
(Sumber : Mukaromah, 2016)

Diagnosa pyometra selain menggunakan USG juga dapat dilakukan dengan


kultur endometrium. Kultur endometrium bertujuan untuk mengidentifikasi agen
infeksius penyebab endometritis/pyometra seperti bakteri, fungi/yeast, dan virus.
Bakteri yang umum ditemukan pada kultur endometrium adalah Streptococcus
zooepidemicus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, dan Klebsiella
pneumoniae. Fungi dan yeasts yang umum ditemukan adalah Candida spp.,
Aspergillus spp., dan Mucor spp. Sedangkan virus, Mycoplasma, dan Chlamydiae
relatif tidak signifikan ditemukan (Brinsko et al. 2011).

3.5 Diagnosa Banding

Pyometra dari pengamatan luar dapat dikelirukan dengan kebuntingan


karena keduanya menyebabkan pembesaran perut. Oleh karena itu perlu dibedakan
antara keduanya. Pada pyometra pemeriksaan dari luar akan terlihat adanya
pembesaran perut yang bersifat simetris, bulu suram, badan kelihatan kurus, pada
waktu berbaring akan keluar kotoran dari alat kelamin. Sedangkan pada
pemeriksaan melalui eksplorasi rectal, terasa adanya pembesaran uterus yang
bersifat simetris karena cairan nanah akan mengisi kedua konue uteri, serta dinding
uterus lebih tebal dari normal dan pada mucossa uterus tidak teraba adanya
karankula. Arteri uterina media kecil dan tidak ada fremitus. Bila uterus ditekan
terasa fruktuasi karena adanya cairan, sedangkan bila ditekan terus tidak teraba
adanya fetus.

Pada keadaan bunting sebaliknya, pada pemeriksaan dari luar akan terlihat
pembesaran perut yang berarah ke kanan karena sebelah kiri terdapat rumen, bulu
mengkilat, badan mempunyai kesan gemuk, tidak ada kotoran keluar dari alat
kelamin. Pada pemeriksaan melalui eksplorasi rectal terasa adanya pembesaran
uterus bersifat asimetris karena pada sapi fetus di kandung pada salah satu kornue,
sdangkan kornue yang lain tetap kecil. Dinding uterus menipis karena harus
mengikuti pembesaran fetus dan teraba adanya karankula pada dinding uterus.
Teraba dengan jelas arteri utera media yang membesar serta adanya fremitus. Bila

61
uterus ditekan akan teraba adanya bagian-bagian dari tubuh fetus mulai dari kepala
sampai badan dan anggota badan.

Selain kebuntingan, diagnosa yang hampir menyerupai pyometra adalah


mukometra atau hidrometra, mummifikasi fetus, perimetritis maupun tumor cell
granuloma. Hidrometra yaitu suatu keadaan dimana didalam rongga uterus terdapat
penimbunan cairan atau lendir tetapi bukan nanah. Ini dapat dibedakan dengan
kebuntingan melalui pemeriksaan rektal. Pada hidrometra tidak teraba adanya
selaput fetus, pada ovarium tidak ada corpus luteum tetapi ada kista. Perimetritis
yaitu radang yng terjadi pada bagian luar (serosa) dari dinding uterus. Tanda – tanda
keadaan ini adalah adanya perlekatan yang berbeda –beda derajat luasnya antara
dinding uterus dengan ligamen lata atau alat tubuh yang berada di rongga pelvis
dan rongga perut., kadang kadang disertai dengan adanya abses pada
perimetriumnya. Mumifikasi fetus juga salah satu differensial diagnosa pyometra
yaitu terjadinya kematian fetus.

3.6 Patogenesa

Agen infeksius masuk ke dalam saluran reproduksi melalui berbagai cara


salah satunya adalah perkawinan alami. Saat proses perkawinan alami, tidak hanya
sperma yang masuk dalam saluran reproduksi betina tetapi juga agen infeksius
seperti bakteri. Bakteri yang secara normal ada dalam uterus maupun yang berasal
dari luar tubuh kemudian pindah dari vagina ke uterus melalui aliran darah
berkembang biak diantara glandula uterina dan lumen (Raj, 2015).

Gambar 2.2 Perbandingan uterus ormal dan uterus yang mengalami pyometra . ( Sumber
: Hariadi dkk., 2011)

62
Jika bakteri tersebut sangat virulent, sel darah putih (leukosit) tidak bisa
membunuhnya. Leukosit akan mati dan terakumulasi sebagai nanah / pus. Nanah
dan sekresi kelenjar uterin yang tertimbun di dalam uterus tidak dapat dikeluarkan
karena kadar progesteron yang tinggi mengakibatkan negatif feedback (efek
negatif) pada kelenjar pituitaria anterior sehingga kadar esterogen rendah dan
kontraksi uterus berkurang. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya korpus luteum
dan kista-kista folikel pada ovarium hewan yang menderita pyometra. Pada ternak
betina, infeksi T. foetus dapat menganggu konsepsi, inplantasi dan menyebabkan
abortus atau menyebabkan kematian embrio dan berlanjut menjadi Pyometra
(Hariadi dkk., 2011).

3.7 Penanganan dan Pencegahan

Pengobatan awal ditujukan pada upaya membuka cerviks dan kontraksi


uterus sehingga nanah dapat dipaksa mengalir keluar, diikuti dengan mengadakan
irigasi dengan obat antiseptik dengan maksud untuk membersihkan sisa-sisa dalam
uterus, kemudian diobati dengan antibiotika untuk membunuh mikroorganisme
penyebabnya. Pemberian preparat estrogen atau sintesisnya bertujuan untuk
mendorong terjadinya kontraksi uterus dan pembukaan cerviks. Untuk itu diberikan
Dietil stilbestrol (larutan dalam minyak mengandung 10 mg/ml). Pada hewan besar
seperti sapi diberikan 50-100mg secara intramuskuler diulang 4 hari sekali. Obat
lain yang dapat dipakai adalah Hypophysin yang didalamnya mengandung
oksitosin, diberikan sebanyak 60-100 IU atau 3-5 ml secara intramuskuler atau
subcutan. Pengobatan ini mengakibatkan kontraksi dinding uterus dan membuka
cerviks diikuti keluarnya nanah dan terjadi involusi uterus.

Irigasi ke dalam saluran uterus dapat dilakukan dengan larutan yodium 1-


2%, kadang-kadang dapat memberikan hasil yang cukup baik dalam usaha
mengeluarkan nanah dari uterus. Stimulasi pada uterus dapat dilakukan dengan
cairan antiseptik seperti larutan lugol sebanyak 2,5 ml yang dicampur ke dalam 250
ml aquades. Larutan ini diberikan untuk irigasi dalam uterus. Irigasi dilakukan
dengan kateter dan larutan dikeluarkan kembali setelah uterus dipijat. Dengan
irigasi ini, sisa nanah yang terkumpul dapat dikeluarkan walaupun tidak
keseluruhan nanah dapat habis.

63
Beberapa macam antibiotika dapat dipakai sebagai obat pilihan untuk
membunuh bakteri penyebab endometritis kronis disertai pyometra. Pemberian
setiap hari secara intrauterin penisilin bersama streptomisin, dengan dosis Penisilin
G 1000 000 IU dan Dehidrostreptomisin 1000 mg dilarutkan dalm 40 ml aquades,
diulangi selama beberapa hari, atau Oksitetrasiklin (teramisin) dengan dosis 100
mg dilarutkan ke dalam 50-100 ml NaCl fisiologis, dapat dilakukan dengan cara
dimasukkan ke dalam uterus melalui kateter. Obat yang lain adalah Nitrofurosone
atau Furosin dapat diberikan larutan 0,2 % sebanyak 20-60 ml ke dalam rongga
uterus (Baraggan, 2018)

Cara pengobatan pymetra yang lain adalah dengan pembedahan, yaitu


mengangkat seluruh uterus yang terkena pyometra (ovariohysterektomi). Operasi
ini lazim dilakukan pada kasus pyometra anjing dan kucing. Namun jarang
dilakukan pada sapi karena melihat sisi ekonomisnya yang kurang menguntungkan.
Keadaan sapi penderita pymetra akan lebih baik bila penyakitnya belum lama
terjadi. Jika penyakit ini segara diketahui dan baru berjalan 2-3 bulan, pengobatan
pyometra dapat menyembuhkan 50 % dari penderita. Kondisi tubuh menjadi jelek
jika penyakit sudah berjalan 6 bulan atau lebih, disertai dengan banyak nanah yang
tertimbun, lebih-lebih bila tidak diadakan pengobatan. Pyometra pada sapi yang
telah berjalan melebihi 120 hari atau uterus telah berisi lebih dari 8 liter nanah, lebih
sukar disembuhkan. Fertilitas yang baik jarang terjadi pada sapi setelah menderita
pyometra, kecuali kalau mikroorganisme yang menyebabkan infeksi ini dapat
secara keseluruhan dibasmi (Baraggan, 2015).

Pencegahan penyakit pyometra yaitu dengan mencegah terjadinya kelukaan


atau keradangan mucosa uterus. Sterilisasi peralatan dan operator pada saat
penanganan distokia dan inseminasi buatan sangat penting untuk mencegah infeksi
bakteri dari luar tubuh. Kehati-hatian dalam melakukan penanganan distokia dan
inseminasi buatan berguna untuk mencegah terjadinya kelukaan pada saluran
reproduksi. Sanitasi kandang dan kebersihan tubuh sapi terutama pada bagian alat
kelamin luar berfungsi untuk mencegah berkembangnya bakteri. Menjaga
kesehatan umum sapi juga dapat mencegah terjadinya pyometra.

64
65
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Pyometra adalah suatu keadaan distensi uterus yang berisikan eksudat nanah
akibat terjadinya inflamasi kronis pada endometrium. Gejala klinis pada sapi betina
penderita pyometra adalah tidak munculnya birahi dalam waktu yang lama atau
anestrus, siklus birahi hilang karena adanya korpus luteumpersisten. Terdapat
timbunan nanah dari 200- 20.000 ml di dalam rongga uterus dan hanya keluar dari
vagina pada waktu sapi berbaring dan sapi akan merasakan sakit didaerah abdomen.
Penyebab pyometra diantaralain adalah infeksi bakteri ataupun parasit pada uterus
yang diikuti adanya penumpukan pus pada uterus. Pengobatan dapat dilakukan
dengan irigasi uterus dengan antisepti, pemberian preparat hormon esterogen untuk
pembukaan serviks, preparat oksitosin untuk kontraksi uterus dan antibiotik untuk
meangani infeksi bakteri.

66
DAFTAR PUSTAKA

Barr F. 1990. Diagnostic Ultrasound in the Dog and Cat. Oxford (GB): Blackwell
Scientific Publication.

Braggan, Adrian A. 2018. Diagnostics and Treatment Approach for Uterine


Disease in Dairy Cattle. Departmenr of Veterinary and Bioedical Sciences
Penn State University

Bondurant, R.H. 1999. Inflammation in the bovine female reproductive tract. J.


Anim. Sci. 77(Supl. 2):101-110.

Cuneo, S.P., C.S. Card, and E.J. Bicknell. 2006. Disease of Beef Cattle Associated
with Post-calving and Breeding. Cattle Producer’s Library. London.

Dohmen, M.J.W., J.A.C.M. Lohuis, G. Huszenicza, P. Nagy, and M. Gacs. 1975.


The relationship between bacteriological and clinical findings in cows with
subacute/chronic endometritis. Theriogenology 43:1379-1388.

Drillich, M, O. Beetz, A. Pfützner, M. Sabin, H.J. Sabin, P. Kutzer, H. Nattermann,


and W. Heuwieser . 2001. Evaluation of a systemic antibiotic treatment of
toxic puerperal metritis in dairy cows. J. Dairy Sci. 84:2010-2017

Kruif, Opsomer. 2009. Metritis and Endometriti in High Yielding dairy Cows.
Belgium. Department of Reproduction, Obstertics and Herd Health, Faculty
of Veterinary Medicine, Ghent University.

Mair TS, Love S, Schumacher J, Roger KW, Smith, Frazer GS. 2013.
Reproduction. 2nd ed. London (GB): Saunders Elsevier.

Mukaromah, Hiayati. 2015. Studi Kasus Pyometra pada Induk Kuda di Pulau Jawa
dan Madura Tahun 2009 – 2015. Bogor. Institut Pertanian Bogor

Raj, Praveen. 2015. Undestanding the Pathophysiology of Pyometra and its


Treatment in Bovine- an Overview. Gannavaram. NTR college of
Veterinary Medicine

Ruder, C.A., S.M. Sasser, R.J. Williams, J.K. Kelly, R.C. Bull, and J.F. Butler.
1981. Uterine infections in the postpartum cow II. Possible synergestic

67
effects of Fusobacterium necrophorum and Corynebacterium pyogenes.
Theriogenology 15:573-580.

Sayuti, Arman dkk. 2015. Gambaran Klinis Sapi Pyometra Sebelum dan Sesudan
Terapi Dengan Antibiotik dan Prostaglandin Secara Intra Uteri. Banda
Aceh. Fakultas Kedokteran Hewan Universitah Syiah Kuala

Sharma S, Sharma CS. 2012. Chronic pyometra and its management in a


thoroughbred mare. Intas Polivet. 13:148-149.

Studer, E. and D.A. Morrow. 1978. Postpartum evaluation of bovine reproductive


potential: Comparison of findings from genital tract examination per
rectum, uterine culture, and endometrial biopsy. JAVMA 172:489-494.

Wulster, R.M.C., R.C. Seals, G.S. Lewis. 2003. Progesterone increases


susceptibility of gilts to uterine infections after intra uterine inoculation with
infectious bacteria. J. Anim. Sci. 81:1242-1252.

68