Anda di halaman 1dari 78

SCALE UP PRODUKSI XANTHAN GUM DENGAN MEDIA ONGGOK

OLEH Xanthomonas campestris SERTA KARAKTERISASINYA

SIWI PUTRI ANDINI

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Scale Up Produksi


Xanthan Gum dengan Media Onggok oleh Xanthomonas campestris Serta
Karakterisasinya adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing
dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun.
Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun
tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan
dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut
Pertanian Bogor.
Bogor, September 2017

Siwi Putri Andini


NIM G851140231
RINGKASAN

SIWI PUTRI ANDINI. Scale Up Produksi Xanthan Gum dengan Media Onggok
oleh Xanthomonas campestris Serta Karakterisasinya. Dibimbing oleh AKHMAD
ENDANG ZAINAL HASAN dan ATON YULIANTO.

Xanthan gum merupakan polisakarida ekstra selular yang dihasilkan dari


fermentasi dekstrosa oleh bakteri Xanthomonas campestris (X.campestris).
Xanthan gum bersifat pseudoplastik, tidak bersifat toksik dan tidak menyebabkan
iritasi sehingga dapat dimanfaatkan dalam berbagai bidang sebagai penstabil,
pengental, pengemulsi dan peredam gesekan. Kualitas yang baik dari
X.campestris didukung oleh nutrisi dalam media fermentasi yang baik.
Tujuan penelitian ini adalah memperoleh formulasi komposisi optimum
dalam scale up produksi xanthan gum menggunakan onggok sebagai sumber
karbon oleh bakteri X.campestris dan kemurnian produk hasil fermentasi
dibuktikan secara kualitatif melalui uji karakteristik xanthan gum. Faktor awal
yang diamati yaitu perolehan yield pada komposisi onggok yang beragam dan
urea tetap serta komposisi urea yang beragam dan onggok tetap. Optimasi
kemudian dilakukan dengan metode permukaan respon, response surface
methodology (RSM) yang dalam prosesnya hanya dilakukan dengan peubah
konsentrasi onggok dan konsentrasi urea. Data yang diperoleh berupa model
prediksi produksi xanthan gum maksimum pada komposisi onggok 30 gL-1 dan
urea 5 gL-1.
X.campestris yang dikulturkan dalam media fermentasi dengan onggok
sebagai sumber karbon selama 80 jam terbukti menghasilkan xanthan gum.
Berdasarkan uji pendahuluan, yield tertinggi terdapat pada komposisi onggok 50
gL-1 dan urea 5 gL-1 yaitu sebesar 69%. Optimasi produksi xanthan gum dengan
RSM dilakukan dengan 2 peubah, yaitu konsentrasi onggok dan konsentrasi urea.
Produksi xanthan gum ini diduga optimum pada konsentrasi onggok 31,8 gL-1 dan
konsentrasi urea 5 gL-1.Kondisi optimum fermentasi yang dicoba memperoleh
rata-rata yield 59 gL-1 pada konsentrasi onggok 30 gL-1 dan urea 5 gL-1.
Uji karakterisasi yang dilakukan yaitu uji rheologi dan FTIR. Uji rheologi
menunjukkan bahwa xanthan gum bersifat pseudoplastik dan tahan terhadap
pengaruh perubahan suhu serta kecepatan putar atau gesekan. Uji FTIR
menunjukkan adanya kesamaan model FTIR xanthan gum hasil fermentasi
dengan xanthan gum komersil.

Kata kunci : onggok, RSM, Xanthan gum, Xanthomonas campestris


SUMMARY

SIWI PUTRI ANDINI. Scale Up Production and Characterization of Xanthan


Gum with Cassava Starch Media by Xanthomonas campestris. Supervised by
AKHMAD ENDANG ZAINAL HASAN and ATON YULIANTO.

Xanthan gum is an extra cellular polysaccharide produced from dextrose


fermentation by Xanthomonas campestris (X.campestris) bacteria. Xanthan gum is
pseudoplastic, not toxic and does not cause irritation so it can be utilized in
various fields as stabilizer, thickener, emulsifier and friction reducer. Good
quality from X. campestris is supported by nutrition in good fermentation media.
The purpose of this research is to obtain the optimum composition
formulation in scale up xanthan gum production using cassava starch as carbon
source by X. campestris bacteria and the purity of fermented product is proved
qualitatively by xanthan gum characteristic test. Preliminary factors were
observed yields on diverse cassava starch compositions and fixed urea and various
urea compositions and fixed cassava starch. The optimization is then performed
by response surface method (RSM), which in the process is performed only with
the variables of the concentration of the urea and the concentration of urea. The
data obtained is a prediction model of maximum xanthan gum production on the
composition starch at 30 gL-1 and urea 5 gL-1.
X.campestris cultured in fermented media with cassava starch as a carbon
source for 80 hours proved to produce xanthan gum. Based on the preliminary
test, the highest yield was found on the composition of 50 gl-1 cassava starch and
5 gL-1 urea by 69%. Optimization of xanthan gum production with RSM was done
with 2 variables, concentration of cassava starch and urea concentration.
Production of xanthan gum was predicted to be optimum at 31.8 gL-1 cassava
starch concentration and 5 gL-1 urea concentration. The optimum conditions of
fermentation attempted to obtain an average yield of 59 gL-1 at a concentration of
30 gL-1 cassava starch and 5 gL-1 urea.
The characterization test was rheological test and FTIR. Rheological tests
show that xanthan gum is pseudoplastic and resistant to changes in temperature
and rotational or frictional velocity. The FTIR test shows the similarity of FTIR
xanthan gum model of fermentation with commercial gum xanthan.

Keywords: cassava starch, RSM, Xanthan gum, Xanthomonas campestris


© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2017
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
SCALE UP PRODUKSI XANTHAN GUM DENGAN MEDIA ONGGOK
OLEH Xanthomonas campestris SERTA KARAKTERISASINYA

SIWI PUTRI ANDINI

Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains
pada
Program Studi Biokimia

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2017
Penguji Luar Komisi: Dr Syamsul Falah, SHut, MSi
PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas
segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang
dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Juli 2016 ini ialah xanthan
gum. Adapun judul tesis ini adalah Scale Up Produksi Xanthan Gum dengan
Media Onggok oleh Xanthomonas campestris Serta Karakterisasinya.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Dr Ir Akhmad Endang Zainal Hasan,
MSi dan Dr Aton Yulianto, MEng selaku pembimbing. Penulis juga
menyampaikan terima kasih kepada seluruh staf Balai Besar Teknologi Pati
(B2TP) BPPT Lampung yang telah membantu selama pengumpulan data.
Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, serta seluruh
keluarga, juga teman-teman atas segala doa dan dukungannya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, September 2017

Siwi Putri Andini


DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ii
DAFTAR GAMBAR ii
DAFTAR LAMPIRAN iii
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Rumusan Masalah 2
Tujuan Penelitian 2
Manfaat Penelitian 2
Ruang Lingkup Penelitian 3
2 METODE 3
Waktu dan Tempat Penelitian 3
Alat dan Bahan 3
Prosedur Penelitian 3
3 HASIL 6
Inokulasi Bakteri X.campestris 6
Kurva Pertumbuhan Bakteri X.campestris 6
Kadar Gula Pereduksi Limbah Padat Tapioka 7
Produk Xanthan gum Hasil Fermentasi 7
Analisis Statistika dengan Metode Permukaan Respon (RSM) 9
Hasil Rheologi Xanthan Gum 13
Hasil FTIR Xanthan Gum 15
4 PEMBAHASAN 16
Inokulasi Bakteri X.campestris 18
Kurva Pertumbuhan Bakteri X.campestris 18
Kadar Gula Pereduksi Limbah Padat Tapioka 19
Produk Xanthan gum Hasil Fermentasi 20
Analisis Statistika dengan Metode Permukaan Respon (RSM) 22
Hasil Rheologi Xanthan Gum 23
Hasil FTIR Xanthan Gum 25
5 SIMPULAN DAN SARAN 26
Simpulan 26
Saran 26
DAFTAR PUSTAKA 27
LAMPIRAN 29

i
DAFTAR TABEL

1 Data Pengkodean Variabel Independen 5


2 Pengukuran glukosa pada limbah padat tapioka dengan metode
Somogyi-Nelson pada panjang gelombang 660 nm 7

DAFTAR GAMBAR

1 Inokulasi bakteri X.campestrispada media padat 6


2 Kurva pertumbuhan X.campestris 7
3 Kurva hasil pengukuran xanthan gum (%) pada variasi konsentrasi
onggok dan konsentrasi urea tetap 8
4 Kurva hasil pengukuran xanthan gum (%) pada variasi konsentrasi
urea dan konsentrasi onggok tetap 8
5 Model kuadratik analisis polinomial dengan RSM respon rendemen
xanthan gum pada jam ke-16 𝑌 = 0.0147𝐴 + 0.0242𝐵 −
0.018𝐴𝐵 − 0.1107𝐴2 − 0.0932𝐵 2 9
6 Model kuadratik analisis polinomial dengan RSM respon rendemen
xanthan gum pada jam ke-32 𝑌 = 0.0182𝐴 + 0.0144𝐵 −
0.0252𝐴𝐵 − 0.1469𝐴2 − 0.1519𝐵 2 10
7 Model kuadratik analisis polinomial dengan RSM respon rendemen
xanthan gum pada jam ke-48 𝑌 = 0.0075𝐴 + 0.0005𝐵 −
0.008𝐴𝐵 − 0.1716𝐴2 − 0.1667𝐵 2 11
8 Model kuadratik analisis polinomial dengan RSM respon rendemen
xanthan gum pada jam ke-64 𝑌 = 0.0146𝐴 − 0.0122𝐵 −
0.025𝐴𝐵 − 0.1188𝐴2 − 0.1101𝐵 2 12
9 Model kuadratik analisis polinomial dengan RSM respon rendemen
xanthan gum pada jam ke-80 𝑌 = 0.0166𝐴 − 0.0126𝐵 −
0.0322𝐴𝐵 − 0.098𝐴2 − 0.0873𝐵 2 13
10 Kurva hubungan viskositas terhadap waktu pada suhu 120 oC 13
11 Kurva hubungan viskositas terhadap waktu pada suhu 150 oC 14
12 Kurva hubungan viskositas terhadap shear pada suhu 120 oC 14
13 Kurva hubungan viskositas terhadap shear pada suhu 150 oC 15
14 Spektrum FTIR xanthan gum hasil fermentasi limbah padat tapioka 15
15 Spektrum FTIR xanthan gum komersial 16
16 Jalur metabolisme dari sintesis xanthan gum dan metabolisme
glukosa pada X. campestris 17
17 Jalur metabolisme sederhana dari sintesis xanthan gum pada X.
campestris 17
18 Skema representatif perubahan konformasi xanthan gum ketika ada
pengaruh panas dan ketika pengaruh panas itu hilang 24

ii
19 Skema representatif perubahan konformasi xanthan gum ketika ada
pengaruh shear dan ketika pengaruh shear itu hilang 24
20 Struktur molekul xanthan gum 25

DAFTAR LAMPIRAN

1 Bagan alir penelitian 30


2 Hasil uji ANOVA 31
3 Hasil uji RSM 44
4 Hasil uji rheologi xanthan gum 56
5 Hasil uji FTIR xanthan gum hasil fermentasi 58
6 Hasil uji FTIR xanthan gum komersial 59

iii
1

1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Istilah gum, koloid hidrofilik, hidrokoloid, getah dan polimer larut air
adalah beberapa bahan yang memiliki kemampuan mengentalkan dan
membentuk cairan gel. Gum dibagi menjadi tiga golongan yaitu gum alami yang
ditemukan dialam, modifikasi gum alami atau semisintetik gum dan gum sintetik
dari bahan kimia (Glicksman 1969). Gum alami yang ditemukan di alam sering
disebut sebagai biogum. Biogum yang berasal dari tanaman contohnya gum
tragakan, gum arab, dan locust bean gum merupakan polisakarida. Biogum yang
berasal dari hewan adalah gelatin dan biogum yang berasal dari mikroba salah
satunya adalah xanthan gum yang berasal dari bakteri Xanthomonas campestris
(X. campestris) (Garcia et al. 2000).
Xanthan gum merupakan polisakarida ekstra selular yang dihasilkan dari
fermentasi dekstrosa oleh bakteri X. campestris. Xanthan gum ini merupakan
produk komersial yang dihasilkan dari proses fermentasi secara aerob. Struktur
linier xanthan gum terdiri atas rantai utama β-glukosa yang tersusun berulang-
ulang yang memiliki cabang manosa (1→4) yang berikatan denganasam
glukuronat (1→2) pada posisi C-3 dan residu asam asetat atau piruvat (Garcia et
al. 2000). Rantai utama pada struktur xanthan gum membentuk konformasi heliks
atau gulungan yang tidak beraturan. Konformasi ini menyebabkan struktur rantai
utama terlindungi sehingga stabil terhadap degradasi termal, pH, salinitas, dan
enzim (Kalogiannis et al. 2003). Biogum ekstraseluler yang diproduksi oleh sel
mikroba akan disekresikan mengelilingi sel dan berfungsi untuk melindungi
mikroba dari dehidrasi, fagositosis, dan partikel-partikel asing lainnya di sekitar
mikroba sehingga mikroba dapat bertahan pada berbagai perubahan kondisi
lingkungan. Oleh karena fungsinya sebagai pelindung sel mikroba maka biogum
bersifat stabil dan hidrofilik (Glicksman 1969). Xanthan gum bersifat
pseudoplastik (memiliki viskositas tinggi walaupun konsentrasi rendah) (Kedar
dan Bholay 2014), tidak bersifat toksik, tidak menyebabkan iritasi, dan digunakan
sebagai zat tambahan pada makanan. Xanthan gum banyak digunakan dalam
berbagai bidang industri sebagai penstabil, pengental, pengemulsi dan peredam
gesekan untuk masing-masing makanan, farmasi serta industri minyak bumi
(Graciaet al. 2000; Faria et al. 2011; Carignatto et al. 2011). Dalam industri
minyak, xanthan gum digunakan dalam jumlah besar, biasanya untuk
mengentalkan lumpur pengeboran. Cairan ini berfungsi untuk membawa potongan
padatan akibat pengeboran kembali ke permukaan. Xanthan gum
menghasilkan "low end" reologi yang bagus ketika sirkulasi berhenti, padatan
masih tetap tersuspensi dalam cairan pengeboran. Dalam kosmetik, gum xanthan
digunakan untuk mempersiapkan gel air, biasanya berhubungan dengan
bentoniteclays. Gum ini juga digunakan dalam emulsi minyak dalam air untuk
membantu menstabilkan tetesan minyak terhadap koalesensi.
Xanthan gum memiliki tiga sifat unggul yaitu: (1) memiliki viskositas yang
tinggi pada konsentrasi rendah; (2) bersifat peseudoplastik dan (3) tidak peka
terhadap temperatur, pH dan konsentrasi elektrolit. Ketiga sifat unggul tersebut
menjadikan xanthan gum sangat berperan penting dalam industri makanan,
2

kosmetik, farmasi, kertas, cat, tekstil dan perekat,serta dalam industri minyak dan
industri gas (Jeeva et al. 2011).
Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan pembentukan
polimer xanthan gum adalah sumber karbon. Sumber karbon komersial yang biasa
digunakan seperti dekstrosa dan sukrosa cukup mahal sehingga diperlukan
subtitusi sumber karbon untuk mengurangi biaya produksi xanthan gum. Untuk
itu, produksi skala besar dari xanthan gum perlu dikembangkan sebagai upaya
meningkatkan nilai ekonomi masyarakat dan upaya melestarikan lingkungan
dengan memanfaatkan onggok sebagai sumber karbon.
Onggok berasal dari hasil ampas singkong yang telah diperas. Limbah padat
industri tapioka berupa onggok dapat dijadikan sebagai sumber karbon karena
masih mengandung pati sebanyak 75% dari bobot kering yang tidak terekstrak.
Limbah ini memiliki kandungan protein yang rendah dan serat yang tinggi.
Limbah singkong juga termasuk limbah organik yang banyak mengandung
karbohidrat, protein, dan gula seperti glukosa, arabinosa, xilosa, dekstran dan
manosa (Retnowati 2016).
Kondisi optimum untuk pertumbuhan dan produksi xanthan gum adalah pada
pH netral (7.0) dan suhu yang optimum untuk produksi xanthan gum adalah 28 oC
(Mudoi et al. 2013). Konsentrasi onggok yang menghasilkan xanthan gum
tertinggi terdapat pada onggokdengan konsentrasi gula pereduksi 25.76 gL-1
(Widadi 2016) dan kadar total nitrogen 0.026% (Amik 2016).

Perumusan Masalah

Xanthan gum dihasilkan dari proses fermentasi secara aerob dekstrosa oleh
bakteri X. campestris. Penelitian scale up proses produksi xanthan gum
menggunakan onggok serta karakterisasinya perlu dilakukan karena belum ada
produsen yang membuat xanthan gum dalam skala besar di Indonesia dan
menggunakan onggok sebagai sumber nutrisi (karbon). Onggok dipilih karena
ketersediaannya yang melimpah, harga relatif lebih murah dari dekstrosa dan
sukrosa (sebagai sumber karbon), serta pemanfaatannya yang belum optimal di
tengah masyarakat.

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh formulasi komposisi optimum


dalam scale up produksi xanthan gum menggunakan onggok sebagai sumber
karbon oleh bakteri X. campestris. Penelitian ini juga bertujuan untuk
membuktikan kemurnian produk hasil fermentasi secara kualitatif melalui uji
karakteristik xanthan gum.

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah terkait scale


up proses produksi xanthan gum menggunakan onggok sebagai media fermentasi
serta karakterisasi produk hasil fermentasi oleh bakteri X. campestris.
3

Ruang Lingkup Penelitian

Lingkup kegiatan penelitian meliputi preparasi, proses produksi, dan


analisis. Preparasi dilakukan dengan mempersiapkan bakteri X. campestris serta
media peremajaannya berupa larutan NB steril dengan pH 7.0. Preparasi juga
dilakukan pada media fermentasi onggok yang telah dikeringkan dan dihaluskan
hingga ukuran 80 mesh. Proses produksi dilakukan dengan fermentasi secara
aerobik selama 80 jam. Analisis yang dilakukan adalah uji RSM pada rendemen
xanthan gum hasil fermentasi dengan berbagai variasi konsentrasi onggok sebagai
sumber karbon dan urea sebagai sumber nitrogen. Uji karakterisasi yang
dilakukan yaitu uji rheologi (pengukuran viskositas larutan) terhadap fungsi
waktu dan pengaruh shear stress pada suhu 120 oC dan 150 oC, serta uji FTIR
untuk memberi gambaran gugus fungsi yang terdapat pada struktur molekul dari
produk yang dihasilkan.

2 METODE PENELITIAN

Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli hingga Oktober 2016, bertempat
di laboratorium proses Balai Besar Teknologi Pati Lampung.

Alat dan Bahan

Bahan-bahan yang digunakan adalah biakan X.campestrispv. campestris


koleksi dari Laboratorium Mikrobiologi, Departemen Proteksi Tanaman Fakultas
Pertanian IPB, Nutrient Agar (NA), Nutrient Broth (NB), ammonia, NaCl,
MgSO4, metanol, akuades, HCl, onggok dari industri tapioka wilayah Lampung,
NaOH, KH2PO4, alumunium foil, dan pereaksi Somogyi-Nelson. Alat-alat yang
dibutuhkan adalah neraca analitik OHAUS GA 200, labu erlenmeyer, labu ukur,
water bath, gelas piala, pH meter, inkubator, tabung reaksi, cawan petri, vortex,
pipet mohr, penjepit tabung, biofermentor, spektrofotometer UV-Vis, sentrifuge,
autoklaf.
Prosedur Penelitian

Inokulasi X. campestris dengan Media NA (Jackson et al. 1998)


Sebanyak satu ose bakteri X. campestris dikulturkan pada media NA yang
mengandung ekstrak khamir, pepton, dan glukosa. Selanjutnya bakteri diinkubasi
pada suhu ruang selama 24 jam. Bakteri dengan koloni tunggal selanjutnya akan
digunakan untuk tahap peremajaan dengan media NB.

Peremajaan dan Pembuatan kurva Pertumbuhan X. campestris (Kalogiannis


et al. 2003)
Sebanyak lima ose bakteri X. campestris dimasukkan ke dalam 200 ml
larutan NB steril dan diatur pH nya menjadi 7. Bakteri pada media NB diinkubasi
pada suhu ruang dengan kecepatan agitasi 125 rpm. Pertumbuhan sel bakteri
diamati dengan mengukur Optical Density (OD) pada panjang gelombang 600 nm
4

selama 20 jam dengan interval waktu 4 jam. Pertumbuhan bakteri pada fase log
digunakan untuk proses produksi xanthan gum.

Preparasi Onggok
Onggokbasah yang digunakan berasal dari industri pembuatan tepung
tapioka. Onggok dikeringkan pada suhu 80 oC selama 24 hingga 48 jam. Onggok
yang telah dikeringkan tersebut dihaluskan kembali dengan mesin penggiling dan
diayak hingga ukuran 80 mesh. Onggok yang telah kering dan halus digunakan
sebagai sumber karbon dalam fermentasi.

Penetapan Gula Pereduksi Metode Somogyi-Nelson (Somogyi 1952)


Penentuan kadar gula reduksi dengan metode Somogyi-Nelson dibuat
larutan standar dengan konsentrasi 2, 4, 6, 8, 10 mg/100ml, larutan standar
tersebut masing-masing ditambah reagen Somogyi-Nelson yang berwarna biru.
Penambahan reagen Somogyi Nelson ini bertujuan untuk mereduksi kupri oksida
menjadi kupro oksida yang manaK-Na-tartrat yang terkandung dalam reagen
Somogyi Nelson berfungsi untuk mencegah terjadinya pengendapan kupri oksida.
Selain 5 larutan standar tersebut, dibuat juga larutan blanko dari akuades yang
nantinya akan digunakan sebagai pembanding. Setelah ditambahkan reagen
Somogyi-Nelson, larutan yang berwarna biru sampai biru kehijauan tersebut
dipanaskan 20 menit, tujuan dari pemanasan ini adalah untuk mempercepat proses
reduksi kupri oksida menjadi kupro oksida. Lalu larutan didinginkan sampai 25 oC
supaya reaksi berjalan stabil, karena apabila terlalu panas kemungkinan akan ada
komponen senyawa yang rusak atau habis menguap. Kemudian ditambahkan
reagen arsenomolibdat, penambahan reagen arsenomolibdat ini bertujuan agar
bisa bereaksi dengan endapan kupro oksida. Pada peristiwa ini kupro oksida akan
mereduksi kembali arsenomolibdat menjadi molibdenum yang berwarna biru,
warna biru inilah yang nantinya akan diukur absorbansinya dengan spektrometer.
Hasil yang diperoleh pada larutan standar semakin pekat konsentrasinya, warna
yang dihasilkan setelah penambahan reagen arsenomolibdat adalah semakin hijau
kebiruan pekat. Ditambahkan akuades pada masing-masing larutan standar agar
larutan standar tidak terlalu pekat dan dapat terbaca absorbansi.

Produksi Xanthan Gum (Carignatto et al. 2011)


Proses fermentasi dilakukan pada biofermentor dengan metode batch,
dimana media fermentasi (nutrien yang dibutuhkan seperti glukosa, ammonia,
serta bahan-bahan lain) dimasukkan bersamaan. Sebanyak 5% (v/v) NB yang
mengandung bakteriX. campestris dengan waktu inkubasi 16 jam dimasukkan
pada 200 ml media yang berisi urea 5 gL-1, MgSO4 1 gL-1, NaCl 1.5 gL-1, dan
KH2PO4 2 gL-1, serta onggok dengan konsentrasi 10, 20, 30, 40, dan 50 gL-1.
Setelah diperoleh data pengukuran komposisi limbah padat singkong terbaik,
maka dilakukan pula variasi komposisi urea 3, 4, 5, 6, dan 7 gL-1 dimana
konsentrasi limbah padat singkong tetap. Kemudian dilakukan pula variasi
komposisi urea dan limbah padat singkong. Fermentasi dilakukan selama 80 jam
dengan interval waktu 16 jam. Media fermentasi diambil sebanyak 10 ml setiap 5
jam untuk dihitung kadar glukosa dan hasil pengukuran dituangkan dalam bentuk
kurva untuk mengetahui tahap pertumbuhan bakteri.
5

Pengukuran Kadar Rendemen Xanthan Gum (Gilani et al. 2011)


Proses pengukuran rendemen xanthan gum dilakukan selama 80 jam dengan
waktu interval 16 jam. Sebanyak 10 ml media fermentasi diambil lalu
disentrifugasi dengan kecepatan 10 000 rpm selama 30 menit dengan suhu 4 oC.
xanthan gum yang terdapat pada supernatan ditambah dengan metanol dengan
perbandingan 1:3 (v/v). Selanjutnya larutan disimpan pada suhu 5 oC selama 24
jam kemudian disentrifugasi kembali dengan kecepatan 10 000 rpm selama 30
menit dengan suhu 4 oC. selanjutnya pelet hasil sentrifugasi ditambah sedikit air
dan dikeringkan dalam oven bersuhu 50 oC sampai bobotnya konstan lalu
ditimbang.

Analisis Statistika dengan Metode Permukaan Respon (RSM) (Box dan


Draper 1987)
Uji pendahuluan yang telah dilakukan menjadi acuan dalam optimasi
dengan RSM. Faktor atau peubah (variabel x) yang digunakan ada dua, yaitu
konsentrasi onggok sebagai sumber karbon dan konsentrasi urea sebagai sumber
nitrogen dalam proses fermentasi. Metode permukaan respon yang diterapkan
menggunakan central composite design (CCD) dengan analisis polinomial. Model
desain merupakan kuadratik dengan dua faktor yang digunakan, sehingga terdapat
13 yang dicoba (standar/run). Faktor pertama adalah konsentrasi onggok (A)
dengan nilai batas atas 50 gL-1 dan batas bawah adalah 10 gL-1, sedangkan faktor
kedua adalah konsentrasi urea (B) dengan nilai batas atas adalah 7 gL-1 dan batas
bawah 3 gL-1. Respon (y) yang diukur adalah jumlah rendemen xanthan gum.
Level-level eksperimen pada masing-masing variabel independen dikodekan
sedemikian hingga level rendah berhubungan dengan -1 dan level tinggi
berhubungan dengan 1 untuk mempermudah perhitungan. Desain pada
eksperimen ini menggunakan dua variabel independen, sehingga nilai
rotatabilitasnya = (22 )1⁄4 = 1,41421. Oleh karena itu nilai ±1,41421 termasuk
nilai yang digunakan untuk pengkodean. Nilai tengah dikodekan dengan angka 0.
Tabel 1 Data Pengkodean Variabel Independen
Run
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13
Order
x1 0 0 1 0 -1 0 1 0 0 0 -1 1.41 -1.41
x2 0 0 -1 0 1 -1.41 1 0 0 1.41 -1 0 0
Y
6

3 HASIL

Inokulasi Bakteri X. campestris


Sebelum melakukan inokulasi bakteri X. campestris, perlu dilakukan
beberapa persiapan, diantaranya pembuatan media padat pada cawan petri. Media
padat yang digunakan yaitu Natrium Agar (NA) dengan konsentrasi 5% kemudian
disterilkan dengan autoklaf. Setelah proses sterilisasi, media tersebut segera
dituang pada cawan petri steril, kemudian ditutup untuk menghindari kontaminasi
dan dibiarkan hingga mengeras pada laminar airflow. Setelah media padat siap
digunakan, sebanyak 1 ml bakteri yang telah diencerkan 109 kali dikulturkan pada
media padat dan diinkubasi selama 24 jam pada suhu ruang. Bakteri dengan
koloni tunggal kemudian dibiakkan kembali pada media padat (agar miring) dan
dilakukan peremajaan secara berkala. Setelah masa inkubasi selama 24 jam
terlihat isolat bakteri X. campestris menghasilkan pigmen berwarna kuning
dengan koloni bulat (Gambar 1). Koloni bakteri X. campestris pada media NA
berbentuk bulat, cembung, berlendir, berwarna kuning, dan koloni berdiameter 1-
2 mm (Panjaitan et al. 2014).

Gambar 1 Inokulasi bakteri X.campestrispada media padat

Kurva Pertumbuhan Bakteri X.campestris


Kurva pertumbuhan X.campestris selama 20 jam dapat dilihat pada Gambar
2. Pada gambar tersebut dapat terlihat kurva berbentuk sigmoid dimana
absorbansi awal yang terukur pada jam ke-0 sebesar 0.0030. Absorbansi pada jam
ke-4 mengalami sedikit peningkatan yaitu 0.0060. Absorbansi meningkat secara
signifikan pada jam ke-8, jam ke-12 dan jam ke-16 dengan absorbansi yang
terukur yaitu sebesar 0.0570 , 0.3210 , dan 0.7050. Absorbansi pada jam ke-20
menjadi konstan dengan absorbansi yang terukur yaitu sebesar 0.7070. Hasil
kurva menunjukkan peningkatan absorbansi pada jam ke-8 hingga jam ke-16,
yang merupakan fase eksponensial.
7

0,8

0,7

0,6

Absorbansi 0,5

0,4

0,3

0,2

0,1

0
0 5 10 15 20 25
Waktu (Jam ke-)

Gambar 2 Kurva pertumbuhan X. campestris

Kadar Gula Pereduksi Onggok


Pengukuran kadar gula pereduksi dilakukan dengan menggunakan metode
Somogyi-Nelson. Hasil pengukuran kadar gula pereduksi pada masing-masing
sampel menunjukkan hasil absorbansi yang terus meningkat seiring bertambah
besarnya konsentrasi onggok. Pada konsentrasi onggok 10 gL-1 kadar gula
pereduksi lebih kecil daripada konsentrasi 20 gL-1, 30 gL-1, 40 gL-1, dan 50 gL-1.
Selain itu semakin tinggi konsentrasi onggok, semakin tinggi pula nilai
absorbansinya.
Tabel 2 Pengukuran glukosa pada limbah padat tapioka dengan metode Somogyi-
Nelson pada panjang gelombang 660 nm

Konsentrasi Limbah Konsentrasi Glukosa


Absorbansi Rata-rata
Padat Tapioka (gL-1) (mgL-1)
10 0.061 7.81
20 0.108 15.51
30 0.151 22.52
40 0.280 43.59
50 0.515 81.86

Produk Xanthan Gum Hasil Fermentasi

Pengukuran rendemen xanthan gum dilakukan pada jam ke-16 hingga jam
ke-80. Rendemen xanthan gum tertinggi di 16 jam pertama terdapat pada
komposisi onggok dengan konsentrasi 50 gL-1 (5%) dan urea 5 gL-1 yaitu sebesar
69% sedangkan bobot terendah terdapat pada komposisi onggok 10 gL-1 (1%) dan
urea 5 gL-1 yaitu sebesar 8% (Gambar 3, Gambar 4). Selanjutnya terus mengalami
penurunan dari jam ke-32 hingga jam ke-80, kecuali komposisi onggok 50 gL-1
8

dan urea 5 gL-1 di jam ke-48 dan ke-80 juga pada komposisi onggok 50 gL-1 dan
urea 4 gL-1 di jam ke-32 mengalami kenaikan.

90

80

70

60
Yield (%)

50

40

30

20

10

0
16 32 48 64 80
Waktu (Jam Ke-)

Gambar 3 Kurva hasil pengukuran xanthan gum (%) pada variasi konsentrasi
onggok dan konsentrasi urea tetap

40

35

30

25
Yield (%)

20

15

10

0
16 32 48 64 80

Waktu (Jam ke-)

Gambar 4 Kurva hasil pengukuran xanthan gum (%) pada variasi konsentrasi urea
dan konsentrasi onggok tetap
9

Analisis Statistika dengan Metode Permukaan Respon (RSM)


Hasil pengukuran tersebut kemudian diolah dengan menggunakan Respon
Surface Method (Metode Permukaan Respon). Nilai tengah optimasi yang
dirancang adalah konsentrasi onggok 30 gL-1 dan konsentrasi urea 5 gL-1,
sehingga standar nomor 1, 2, 4, 8, dan 9 merupakan pengulangan nilai tengah
tersebut. Analisis ragam untukpengamatan pada 16 jam pertama memperoleh nilai
F sebesar 20.045 yang menindikasikan bahwa model yang digunakan signifikan.
Nilai F merupakan uji model terhadap residual (eror) dengan cara membagi model
meas square dengan residual mean square. Jadi nilai F mengindikasikan hanya
sekitar 0.0005% kemungkinan model yang diperoleh mengalami galat atau
gangguan (prob>F). Prob>F kurang dari nilai α (5%) menunjukkan bahwa
masing-masing variabel (konsentrasi karbon dan nitrogen) memiliki perbedaan
yang signifikan dalam model. Koefisien determinasi (R2) yang diperoleh sebesar
0,93. Hal itu menunjukkan bahwa model dapat menjelaskan 93% keragaman
dalam produksi xanthan gum oleh bakteri X. campestris.

Gambar 5 Model kuadratik analisis polinomial dengan RSM respon rendemen


xanthan gum pada jam ke-16𝑌 = 0.0147𝐴 + 0.0242𝐵 − 0.018𝐴𝐵 −
0.1107𝐴2 − 0.0932𝐵 2

Analisis ragam untuk pengamatan pada jamke-32 memperoleh nilai F


sebesar 87.6382 yang mengindikasikan bahwa model yang digunakan signifikan.
10

Hanya sekitar kurang dari 0.0001% kemungkinan model yang diperoleh


mengalami galat atau gangguan (prob>F). Koefisien determinasi (R2) yang
diperoleh sebesar 0.98. Hal itu menunjukkan bahwa model dapat menjelaskan
98% keragaman dalam produksi xanthan gum oleh bakteri X. campestris.

Gambar 6 Model kuadratik analisis polinomial dengan RSM respon rendemen


xanthan gum pada jam ke-32𝑌 = 0.0182𝐴 + 0.0144𝐵 − 0.0252𝐴𝐵 −
0.1469𝐴2 − 0.1519𝐵 2

Analisis ragam untuk pengamatan pada jam ke-48 memperoleh nilai F


sebesar 52.1138 yang mengindikasikan bahwa model yang digunakan signifikan.
Hanya sekitar kurang dari 0.0001% kemungkinan model yang diperoleh
mengalami galat atau gangguan (prob>F). Koefisien determinasi (R2) yang
diperoleh sebesar 0.97. Hal itu menunjukkan bahwa model dapat menjelaskan
97% keragaman dalam produksi xanthan gum oleh bakteri X. campestris.
11

Gambar 7 Model kuadratik analisis polinomial dengan RSM respon rendemen


xanthan gum pada jam ke-48𝑌 = 0.0075𝐴 + 0.0005𝐵 − 0.008𝐴𝐵 −
0.1716𝐴2 − 0.1667𝐵 2

Analisis ragam untuk pengamatan pada jam ke-64 memperoleh nilai F


sebesar 7.7235 mengindikasikan bahwa model yang digunakan signifikan. Hanya
sekitar 0.0091% kemungkinan model mengalami galat atau gangguan (prob>F).
Koefisien determinasi (R2) yang diperoleh sebesar 0.85. Hal itu menunjukkan
bahwa model dapat menjelaskan 85% keragaman dalam produksi xanthan gum
oleh bakteri X.campestris.
12

Gambar 8 Model kuadratik analisis polinomial dengan RSM respon rendemen


xanthan gum pada jam ke-64𝑌 = 0.0146𝐴 − 0.0122𝐵 − 0.025𝐴𝐵 −
0.1188𝐴2 − 0.1101𝐵 2

Analisis ragam untuk pengamatan pada jam ke-80 memperoleh nilai F


sebesar 8.8215 mengindikasikan bahwa model yang digunakan signifikan. Hanya
sekitar 0.0062% kemungkinan model mengalami galat atau gangguan (prob>F).
Koefisien determinasi (R2) yang diperoleh sebesar 0.86. Hal itu menunjukkan
bahwa model dapat menjelaskan 86% keragaman dalam produksi xanthan gum
oleh bakteri X.campestris.
13

Gambar 9 Model kuadratik analisis polinomial dengan RSM respon rendemen


xanthan gum pada jam ke-80𝑌 = 0.0166𝐴 − 0.0126𝐵 − 0.0322𝐴𝐵 −
0.098𝐴2 − 0.0873𝐵 2

Hasil Rheologi Xanthan Gum

Gambar 10 Kurva hubungan viskositas terhadap waktu pada suhu 120 oC


14

Gambar 11 Kurva hubungan viskositas terhadap waktu pada suhu 150 oC

Berdasarkan Gambar 10 dan 11, tidak terlihat perubahan viskositas xanthan


gum yang signifikan terhadap fungsi waktupada suhu 120 oC dan 150 oC. Hal ini
dikarenakan konformasi yang teratur dan kaku sehingga memungkinkan
terjadinya peregangan ketika ada pengaruh panas, dan regangan kembali ke
keadaan semula ketika panas itu hilang.
Pengaruh shear terhadap penurunan viskositas xanthan gum cukup
signifikan (Gambar 12 dan Gambar 13).

Gambar 12 Kurva hubungan viskositas terhadap shear pada suhu 120 oC


15

Gambar 13 Kurva hubungan viskositas terhadap shear pada suhu 150 oC

Hasil FTIR Xanthan Gum


Spektrum FTIR digunakan untuk mendeteksi gugus fungsi yang terdapat
pada xanthan gum seperti gugus hidroksil, karbonil, karboksil dan asetat. Menurut
Gilani et al (2011) xanthan gum komersial menunjukkan peak puncak gugus
hidroksil pada 3386, gugus karbonil pada 1627, gugus karboksil pada 1529 dan
gugus asetat pada 1160. Xanthan gum yang dihasilkan dari fermentasi limbah
padat tapioka (Gambar 14) juga memiliki karakteristik yang hampir sama dengan
xanthan gum komersial di pasaran (Gambar 15).

Gambar 14 Spektrum FTIR xanthan gum hasil fermentasi limbah padat tapioka
16

Gambar 15 Spektrum FTIR xanthan gum komersial

4 PEMBAHASAN

Xanthan gum merupakan polisakarida ekstra selular yang dihasilkan dari


fermentasi dekstrosa oleh bakteri X. campestris. Xanthan gum ini merupakan
produk komersial yang dihasilkan dari proses fermentasi secara aerob. Struktur
linear xanthan gum terdiri atas rantai utama β-glukosa yang tersusun berulang-
ulang yang memiliki cabang manosa (1→4) yang berikatan denganasam
glukuronat (1→2) pada posisi C-3 dan residu asam asetat atau piruvat (Garcia et
al. 2000).
Xanthan gum tersusun atas gula sitoplasma nukleotida, asetil-KoA,dn PEP
dengan membran bagian dalam poliisoprenol pospat sebagai aseptor,
pembentukan xanthan gum terdiri dari dua proses, perakitan berulang dari
pentasakarida dan proses polimerisasi (Becker et al. 1998). Peta jalur metabolisme
X.campestris ditunjukkan pada gambar 16. Karena tidak ada glukonat
dehidrogenase yang ditemukan di jalur periplasma, X. campestris mengoksidasi
glukosa menjadi glukosa 6 pospat (Glc-6-P) langsung di membran sitoplasma
tanpa menghasilkan glukonat. Gambar 17 menunjukkan jalur biosintesis yang
rumit menjadi 7 tahapan yang lebih sederhana. Pertama, tingkat serapan glukosa
(ns) menentukan pengangkutan glukosa ke dalam sel dan fosforilasi menjadi Glc-
6-P. Fluks yang terlibat dalam sintesis xanthan gum dapat dikategorikan ke dalam
rangkaian sekuensial nukleotida gula yang ditransformasikan dari Glc-6-P (n1)
dan sitesis polimer xanthan gum (np). Di sisi lain, beberapa Glc-6-P dapat
disalurkan ke jalur Doudoroff (n2) dan berakhir dengan produksi PEP, yang
kemudian dapat disuspektasikan menjadi piruvat (n3). Piruvat jelas merupakan
senyawa intermediet yang selanjutnya akan masuk ke jalur metabolisme lain.
17

Keseimbangan dapat diatur di sekitar metabolit ini. Piruvat diubah menjadi asetil
KoA (n4), yang siap memasuki siklus TCA (n5) (Hsu dan Lo 2002).

Gambar 16 Jalur metabolisme dari sintesis xanthan gum dan metabolisme glukosa
pada X. campestris (Hsu dan Lo 2002)

Gambar 17 Jalur metabolisme sederhana dari sintesis xanthan gum pada X.


campestris (Hsu dan Lo 2002)
18

Inokulasi Bakteri X. campestris


Teknik inokulasi merupakan suatu metode memindahkan bakteri dari
medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ketelitian yang sangat
tinggi. Pemindahan ke medium baru ini bertujuan agar sel bakteri tetap mendapat
sumber nutrisi untuk tumbuh dan mencapai fase dimana produk dihasilkan.
Inokulasi berfungsi untuk memberikan nutrisi baru pada sel agar sel menjadi aktif.
Selain itu peremajaan juga berfungsi untuk mempercepat fase adaptasi (fase lag)
dan mempersiapkan sel pada fase eksponensial (fase log). Inokulasi bakteri harus
dilakukan dalam keadaan steril agar tidak ada kontaminasi yaitu mikroba yang
tidak diinginkan.
Xanthomonas adalah bakteri yang berbentuk batang dengan kedua ujung
membulat, berukuran pendek, dengan panjang berkisar antara 0.7-2.0 µm dan
lebar antara 0.4-0.7 µm, memiliki satu flagel, tanpa spora, Ciri khas genus
Xanthomonas adalah koloninya berlendir, dan menghasilkan pigmen berwarna
kuning yang merupakan pigmen xanthomonadin(Bradbury 1984; Liu et al.
2006). Bentuk koloni pada medium biakan adalah bulat, cembung dan
berdiameter 1-3 mm (Ou 1985).
Berdasarkan ciri koloni bakteri X. campestris yang tertulis dalam beberapa
literatur sesuai dengan ciri koloni yang diperoleh peneliti. Hal ini dapat dibuktikan
oleh Gambar 1, yaitu koloni berbentuk bulat, berlendir, dan berwarna kuning.
Selanjutnya koloni bakteri ini dapat digunakan dalam proses produksi xanthan
gum.

Kurva Pertumbuhan Bakteri X. campestris


Suhu optimum untuk pertumbuhan Xanthomonas antara 25 oC- 30 oC dan
suhu minimum berkisar antara 5 oC-10 oC. Suhu yang cocok untuk pertumbuhan
awal adalah 20 oC pada suspensi yang agak encer. Derajat keasaman (pH) untuk
menumbuhkan bakteri ini berkisar antara 6.2-6.4 atau yang berbeda tergantung
strain bakteri dan medium yang dipakai (Ou 1985). Xanthomonas merupakan
bakteri aerob dan dapat menghasilkan ekstraseluler polisakarida (EPS) yang
berperan dalam pembentukan eksudat yang digunakan untuk menginfeksi daun
(Bradbury 1984; Liu et al. 2006).
Pengamatan pertumbuhan bakteri dilakukan dengan menggunakan metode
turbidimetri. Koloni tunggal bakteri X. campestris pada media NA sebanyak satu
ose dibiakkan kembali pada media NB dan diinkubasi pada suhu ruang dengan
agitasi 125 rpm selama 20 jam. Absorbansi media NB diukur setiap 4 jam sekali
pada panjang gelombang 600 nm, dimana panjang gelombang ini termasuk dalam
rentang panjang gelombang yang bisa digunakan untuk menembus partikel
suspensi koloid untuk mengetahui konsentrasi sel yang ada dalam suspensi
tersebut (Benson 2001).
Pembuatan kurva pertumbuhan ini bertujuan untuk mengetahui pola dan
waktu tumbuh bakteri. Bakteri mengalami fase ekponensial atau fase log yang
terjadi pada jam ke-8 hingga jam ke-16. Pada fase ini bakteri mulai membelah
sehingga terjadi peningkatan absorbansi yang sangat signifikan. Selanjutnya
pertumbuhan bakteri masuk pada fase stasioner yang terjadi setelah jam ke-16.
Pada fase ini media tumbuh bakteri mulai habis sehingga banyak bakteri yang
mengalami lisis sel yang ditandai dengan nilai absorbansi yang konstan.
19

Berdasarkan kurva pertumbuhan, fase log pada penelitian ini sesuai dengan
penelitian Jackson et al. (1998) yang terjadi pada jam ke-12 hingga jam ke-16.
Fase log berakhir setelah 16 jam inkubasi. Jumlah sel yang hidup pada fase ini
merupakan jumlah sel yang hidup optimal dan memiliki aktivitas yang sangat
aktif dalam mengkonversi substrat menjadi xanthan gum.
Penumbuhan bakteri X. campestris pada media NB dapat membantu
menyiapkan stok bakteri untuk media fermentasi dengan jumlah sel yang tinggi
namun belum memasuki tahap produksi xanthan gum. Pertumbuhan sel yang
teramati berbentuk sigmoid yang terdiri atas tiga fase yaitu fase lag, fase log, dan
fase stasioner. Fase lag merupakan fase awal pertumbuhan bakteri sehingga hanya
teramati sedikit pembelahan sel yang ditandai dengan rendahnya peningkatan
absorbansi yang terjadi pada jam ke-0 hingga jam ke-8. Pada fase ini sel aktif
melakukan metabolisme seperti sintesis enzim dan organel untuk mempersiapkan
pembelahan sel (Jeeva et al. 2011).
Fase adaptasi merupakan tahap penyesuaian bakteri terhadap lingkungan
baru. Fase adaptasi ini terjadi ketika bakteri mengalami perubahan medium serta
lingkungannya, yaitu dari medium NA ke medium NB lalu ke medium limbah
padat singkong. Lamanya fase adaptasi dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti
medium, lingkungan pertumbuhan dan jenis inokulum. Jika medium dan
lingkungan pertumbuhan sama seperti medium dan lingkungan sebelumnya, maka
tidak diperlukan waktu adaptasi tetapi jika nutrien yang tersedia dan lingkungan
yang baru berbeda dengan sebelumnya maka diperlukan waktu penyesuaian untuk
menyintesis enzim-enzim (Irianto 2010).
Setelah jam ke-16 hingga jam ke-20 bakteri memasuki fase stasioner.
Jumlah populasi pada fase ini tetap karena jumlah sel yang tumbuh sama dengan
jumlah sel yang mati. Ukuran sel pada fase ini menjadi lebih kecil karena sel tetap
membelah meskipun jumlah nutrien semakin habis. Pada fase ini sel-sel lebih
tahan terhadap keadaan ekstrim seperti panas, dingin, radiasi, dan pengaruh
bahan-bahan kimia (Panjaitan et al. 2014).

Kadar Gula Pereduksi Onggok


Limbah padat industri tapioka selain kulit singkong adalah ampas tapioka
(onggok) yang bersumber dari pengekstraksian dan pengepresan. Komponen
penting yang terdapat dalam onggok adalah pati dan selulosa. Onggok juga
mengandung air dan karbohidrat yang cukup tinggi serta kandungan protein kasar
dan lemak yang rendah. Jumlah kandungan ini berbeda dan dipengaruhi oleh
daerah tempat tumbuh, jenis ubikayu, dan teknologi pengolahan yang digunakan
dalam pengolahan ubikayu menjadi tapioka. Pada industri tapioka yang sudah
maju, limbah padat ini kebanyakan hanya mengandung serat sedangkan sisa pati
yang terikut sangat sedikit sekali. Lain halnya dengan onggok yang dikeluarkan
oleh industri kecil karena tingkat ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki
masih sangat rendah maka onggok masih mengandung pati dengan konsentrasi
yang cukup tinggi (Chardialani 2008).
Onggok merupakan limbah yang memiliki kandungan polisakarida yang
cukup tinggi. Polisakarida pada limbah ini akan mengalami sakarifikasi yaitu
dirombak untuk membentuk glukosa melalui jalur glikolisis. Perlakuan awal atau
preetreatment dalam penelitian ini delakukan secara fisik yaitu pemanasan dan
penghalusan. Pemanasan dilakukan pada onggok selama 24 jam pada suhu 100
20

o
C. pemanasan ini bertujuan untuk mencegah proses pembusukan oleh bakteri
pembusuk, selain itu pengeringan akan membantu memudahkan dalam proses
penghalusan. Proses penghalusan dilakukan hingga diperoleh ukuran 80 mesh
(Rokhmah 2017).
Penentuan konsentrasi gula pereduksi pada onggok bertujuan untuk
mengetahui jumlah gula pereduksi pada limbah padat tapioka. Gula pereduksi
pada onggok digunakan oleh bakteri X. campestris sebagai sumber karbon (C).
Pengukuran kadar gula pereduksi dilakukan dengan menggunakan metode
Somogyi Nelson, dimana gula pereduksi akan mereduksi ion Cu2+ menjadi ion
Cu+, kemudian ion Cu+ akan mereduksi senyawa arsenomolibdat membentuk
kompleks yang berwarna biru kehijauan (Al-kayyis 2016). Pertimbangan
menggunakan metode ini adalah mudah dilakukan dan dapat mengukur gula
pereduksi selain glukosa. Secara umum terjadi peningkatan kadar gula pereduksi
pada sampel dengan bertambahnya konsentrasi onggok. Glukosa dalam media ini
kemudian akan digunakan oleh bakteri untuk proses pertumbuhan dan
pembentukan xanthan gum.
Onggok yang digunakan dalam penelitian ini dapat dijadikan substrat pada
proses fermentasi xanthan gum karena kadar gula pereduksinya cukup tinggi.
Sumber karbon dari gula pereduksi ini akan dirombak oleh bakteri untuk proses
metabolisme seperti membangun massa sel dan membentuk produk berupa
xanthan gum. Konsentrasi gula pada kultur bakteri melebihi 50gL-1 akan
menurunkan laju pertumbuhan karena terjadi dehidrasi sel (Manfaati 2010).

Produk Xanthan Gum Hasil Fermentasi


Berbagai media fermentasi telah dikembangkan untuk menghasilkan
formulasi media fermentasi yang tepat untuk suatu proses fermentasi dengan
mikroorganisma tertentu. Formulasi media fermentasi skala kecil relatif lebih
mudah dilakukan dengan menggunaan senyawa-senyawa murni. Namun hal
tersebut tidak cocok untuk media fermentasi skala besar (media produksi).
Beberapa kriteria pemilihan media fermentasi adalah menghasilkan
perolehan/yield biomassa dan produk yang maksimum per gram substrat yang
digunakan, menghasilkankonsentrasi biomassa dan produk yang maksimum,
menghasilkan kecepatan pembentukan produk yang maksimum, menghasilkan
perolehan/yield yang minimum untuk produk yang tidak diinginkan, murah,
memiliki kualitas yang berkesinambungan dan tersedia sepanjang tahun, mudah
dalam penanganan selama proses, terutama untuk pengadukan, aerasi, ekstraksi,
purifikasi dan penanganan limbah (Stanbury dan Whitaker 1984).
Media fermentasi harus mengandung komponen-komponen yang diperlukan
untuk pertumbuhan sel, pembentukan metabolit dan menyediakan energi yang
cukup untuk biosintesis dan pemeliharaan sel. Nutrisi yang diperlukan oleh
mikroorganisme diklasifikasikan sebagai makronutrien, yaitu apabila diperlukan
dalam konsentrasi lebih besar dari 10-4M. Unsur C, N, S,P, Mg+2 dan K+ termasuk
makronutrien.Mikronutrien diperlukan dalam konsentrasi kurang dari 10-4M.
Trace element seperti Mo+2, Zn+2, Cu+2, Mn+2, Fe+2, Ca+2, Na+,vitamin, hormon
pertumbuhan dan metabolik prekursor termasuk mikronutrien.
Sumber karbon akan dirombak dan digunakan untuk membangun massa sel
dan membentuk produk. Dekstrosa merupakan sumber karbon yang umum
digunakan untuk proses fermentasi, namun saat ini telah dikembangkan berbagai
21

senyawa organik alami seperti gliserol, laktosa dsb. Konsentrasi dekstrosa di


dalam media fermentasi harus dipertimbangkan dengan seksama. Konsentrasi
dekstrosa melebihi 50 gL-1 pada kultur bakteri akan menurunkan pertumbuhan
karena terjadi dehidrasi sel. Konsentrasi dekstrosa yang lebih tinggi (di atas 200
gL-1) dapat ditoleransi oleh ragi dan jamur (Stanbury dan Whitaker 1984). Pada
konsentrasi tertentu, sumber karbon dan katabolit karbon dapat menghambat satu
atau beberapa enzim yang berperan dalam proses pembentukan produk. Salah satu
pendekatan untuk mencegah penghambatan tersebut adalah dengan memberikan
sumber karbon secara terus-menerus pada konsentrasi di bawah konsentrasi
penghambatan. Sumber karbon yang banyak digunakan untuk media produksi
adalah molase tebu, molase beet, biji-bijian, tepung, sukrosa, laktosa, whey,
minyak nabati, metana, methanol dan n-alkana (Shuler dan Kargi 1992).
Pengukuran rendemen xanthan gum dilakukan pada jam ke-16 hingga jam
ke-80. Biosintesis xanthan gum terjadi seiring dengan pertumbuhan bakteri dari
fase eksponensial selama 72 jam awal hingga fase stasioner. Penambahan waktu 8
jam pada penelitian ini bertujuan untuk melihat pola pembentukan xanthan gum
setelah fase stasioner (Enshasy et al. 2011). Biokonversi onggok menjadi xanthan
gum diawali dengan proses hidrolisis onggok untuk mendapatkan glukosa. Proses
pembentukan xanthan gum membutuhkan glukosa sebagai sumber karbon dalam
proses fermentasi oleh bakteri X. campestris.
Beberapa variabel yang yang mempengaruhi rendemen xanthan gum
meliputi komposisi media kultur, temperatur, pH, dan transfer oksigen (Faria et
al. 2010). Kondisi yang optimal untuk pertumbuhan dan pembentukan xanthan
gum adalah pH netral dan suhu yang optimal untuk pembentukan xanthan gum
adalah 28 oC (Mudoi et al.2013). Tujuan penambahan garam fosfat yaitu untuk
mempertahankan pH netral (pH 7). Fosfat juga merupakan mikronutrien yang
dibutuhkan dalam proses pertumbuhan dan pembentukan xanthan gum
(Kalogiannis et al. 2003).
Hasil xanthan gum yang diperoleh dari proses fermentasi pada keadaan
konsentrasi urea tetap, menunjukkan peningkatan seiring bertambahnya
konsentrasi onggok. Hal ini dikarenakan dalam media fermentasi masih
terkandung nutrien yang cukup untuk menunjang pertumbuhan dan produksi
xanthan gum. Rata-rata terjadi penurunan rendemen xanthan gum seiring
bertambahnya waktu. Hal ini dikarenakan jumlah nutrien yang semakin sedikit
menyebabkan kompetisi pada bakteri untuk memperoleh sumber karbon, sehingga
sel menyusut dan produksi xanthan gum menurun (Panjaitan et al. 2014).
Selain faktor pH dan nutrien, suplai oksigen dalam erlenmeyer berkapasitas
2L kemungkinan kurang mencukupi untuk pertumbuhan bakteri sehingga
kekurangan oksigen menyebabkan berkurangnya produksi energi untuk
pertumbuhan sekaligus mengalihkan alokasi penggunaan substrat untuk
pemeliharaan sel, sehingga mengurangi produksi xanthan gum (Palennari dan
Rante 2009). Suplai oksigen yang berkesinambungan dalam fermentor beragitasi
dapat meningkatkan produksi xanthan gum. Oksigen merupakan syarat mutlak
untuk pertumbuhan mikroba aerob. Faktor lain yang berpengaruh adalah masih
terdapatnya massa produk yang tidak terlepas dari massa selnya pada saat proses
kematian sel dan pada saat sentrifugasi, akibatnya xanthan gum yang dihasilkan
ikut terbuang (Faria et al. 2010).
22

Agitasi yang tepat pada medium fermentasi meningkatkan laju biosintesis


xanthan gum. Agitasi yang tinggi (>500 rpm) dapat menurunkan jumlah produksi
xanthan gum karena sel mengalami stres, sedangkan agitasi yang rendah akan
mengurangi transfer oksigen. Hal ini dikarenakan adanya peningkatan viskositas
media akibat pertambahan biomassa sel dan xanthan gum (Mudoi et al. 2013).
Pembentukan xanthan gum rata-rata tertinggi pada jam ke-16. Pada
penelitian ini jumlah rendemen xanthan gum yang terukur pada konsentrasi urea
tetap yaitu 8 gL-1 untuk konsentrasi onggok 10 gL-1, 18 gL-1 untuk konsentrasi
onggok 20 gL-1, 56.5 gL-1 untuk konsentrasi onggok 30 gL-1, 64 gL-1 untuk
konsentrasi onggok 4%, dan 69 gL-1 untuk konsentrasi onggok 5% lebih tinggi
dari penelitian Quinliang et al. (2012) yaitu 16.95 gL-1. Sedangkan pada
konsentrasi onggok tetap jumlah rendemen xanthan gum terukur rata-rata pada
jam ke-16 yaitu sebesar 25 gL-1. Hasil ini lebih tinggi daripada Palaniraj et al.
(2011) yaitu sebesar 3.6 gL-1.

Analisis Statistika dengan Metode Permukaan Respon (RSM)


Hasil pengukuran tersebut kemudian diolah dengan menggunakan RSM.
RSM telah banyak digunakan dalam mengoptimalkan sejumlah unit industri,
proses dan sistem. Di dalam RSM telah mencakup teknik statistik untuk
membangun suatu model empiris, melalui desain eksperimen, metodologi ini
dapat mencari suatu reaksi yang berhubungan dengan variabel output sebagai
respon dan variabel input sebagai prediktor (Box dan Draper 1987).
RSM adalah suatu metodologi yang terdiri dari suatu grup teknik statistik
untuk membangun model empiris dan mengeksploitasi mode l (Box dan Draper
1987). Suatu eksperimen yang melibatkan k buah faktor antara lain: x1, x2,...,xk,
dimana k buah faktor disebut sebagai variabel bebas, prediktor ataupun variabel
kontrol, dan menghasilkan Y, dimana Y adalah suatu variabel terikat, variabel tak
bebas ataupun variabel respon. Semua variabel ini dapat dapat diukur dan
diketahui bahwa Y adalah merupakan respon dari x1, x2,..., xk, maka dikatakan
bahwa Y adalah fungsi dari x1, x2,..., xk, dan secara umum ditulis dalam bentuk
Y= f (x1, x2,..., xk). Fungsi tersebut dikatakan sebagai response surface (Sudjana
1994).
Untuk melaksanakan RSM, ada tahap-tahap perencanaan yang dilakukan,
dimana definisi perencanaan adalah proses, cara atau kegiatan merencanakan,
menyusun dan menguraikan langkah-langkah pelaksanaan suatu kegiatan.Adapun
tahap-tahap perencanaan untuk memulai pelaksanaan RSM antara lain
menentukan model persamaan orde pertama, dimana suatu desain eksperimen
dilakukan untuk pengumpulan data dan arah penelitian selanjutnya ditentukan
dengan metode steepest descent, setelah arah penelitian selanjutnya telah
diperoleh, kemudian ditentukan level faktor untuk pengumpulan data selanjutnya,
menentukan model persamaan orde kedua. Penentuan model dilakukan dengan
melakukan desain eksperimen dengan level yang telah ditetapkan setelah metode
steepest descent dilakukan, menentukan titik optimum dari faktor-faktor yang
diteliti (Cochran dan Cox 1962).
RSM yang bertujuan menentukan titik optimum dapat diinterpretasikan
pada contour plot dan surface plotVariabel respon pada penelitian ini adalah Y
(komposisi C dan N optimum untuk produksi xanthan gum). Variabel bebas yang
digunakan adalah x1 yaitu konsentrasi onggok sebagai sumber karbon (C) dalam
23

satuan gram per liter (10 gl-1, 20 gl-1, 30 gl-1l, 40 gl-1, 50 gl-1) dan x2 yaitu
konsentrasi urea sebagai sumber nitrogen (N) dalam satuan gram per liter (3 gl-1, 4
gl-1, 5 gl-1, 6 gl-1, 7 gl-1). Komposisi onggok dan urea telah ditetapkan oleh sistem
(run order).Selama fermentasi dilakukan penyadapan setiap 16 jam dan diukur
kadar xanthan gum yang diperoleh.
Berdasarkan gambar 6,7,8,9 dan 10 (data dan grafik permukaan 3D) dapat
disimpulkan bahwa disetiap 16 jam respon maksimum adalah mendekati titik
pusat (0,0). Model memprediksi produksi xanthan gum maksimum pada
konsentrasi onggok 31.8 gL-1 dan nitrogen 5 gL-1 dengan perolehan yield 59,4 gL-
1
. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian ini, rata-rata hasil produksi xanthan gum
tertinggi pada kombinasi konsentrasi onggok sebagai sumber karbon yaitu 30 gL-1
dan urea sebagai sumber nitrogen 5 gL-1 dengan hasil yang relatif konstan pada
lima kali pengulangan yaitu 56.5 gL-1.

Hasil Rheologi Xanthan Gum


Viskositas adalah ukuran resistensi zat cair untuk mengalir atau dengan kata
lain sifat cairan yang berhubungan dengan kemudahannya untuk mengalir.
Semakin besar resistensi zat cair untuk mengalir semakin besar pula
viskositasnya. Cairan dengan viskositas tinggi berupa cairan yang kental,
sehingga apabila dituangkan akan sukar mengalir dan sebaliknya. Viskositas
cairan pseudoplastik akan menurun dengan meningkatnya kecepatan geser.
Xanthan gum sangatlah pseudoplastik. Ketika shear stress meningkat, maka
viskositas akan menurun. Xanthan gum tidak bersifat thixotropic sampai tingkat
yang signifikan. Kondisi ini disebabkan karena terjadinya perubahan struktur yang
tidak segera kembali ke keadaan semula saat shear stress diturunkan. Sifat aliran
semacam ini umumnya terjadi pada partikel asimetrik(misalnya polimer) yang
memiliki banyak titik kontak dan tersusun membentuk jaringan tiga dimensi. Pada
keadaan diam sistem akan membentuk gel dan apabila diberikan shear stress akan
berubah menjadi sol (Kusuma 2009).
Pseudoplastisitas hasil dari molekul dengan berat molekul yang tinggi, yang
membentuk agregat molekul kompleks melalui ikatan hidrogen dan ikatan
polimer. Konformasi yang teratur dan kaku menyumbang viskositas yang tinggi
pada tingkat shear yang rendah. Penipisan pseudoplastisitas hasil dari disagregasi
dari polimer ini dan penelusuran molekul monomer ke arah gaya shear.
Konformasi xanthan gum distabilkan oleh ikatan hidrogen tetapi tidak stabil
dengan adanya tolakan antara kelompok yang bermuatan negatif di sisi rantai
yang saling tumpang tindih. Konsentrasi elektrolit yang rendah meningkatkan
keteraturan konformasi xanthan gum dengan mengurangi tolakan elektrostatik
antara anion karboksilat pada sisi trisakarida. Struktur dipertahankan dengan
kenaikan suhu, hal ini yang menjelaskan mengapa viskositas xanthan gum tidak
peka terhadap perubahan suhu.
24

Gambar 18 Skema representatif perubahan konformasi xanthan gum ketika ada


pengaruh panas dan ketika pengaruh panas itu hilang

Gambar 19 Skema representatif perubahan konformasi xanthan gum ketika ada


pengaruh shear dan ketika pengaruh shear itu hilang
25

Gambar 20 Struktur molekul xanthan gum (Garcia et al. 2000)

Hasil FTIR Xanthan Gum

Hampir setiap senyawa yang memiliki ikata kovalen baik senyawa organik
maupun anorganik, akan menyerap berbagai radiasi elektromagnetik dengan
panjang gelombang λ (0,5 – 1000 µm). Dalam kimia organik, fungsi utama dari
spektrometri inframerah adalah mengenal (elusidasi) struktur molekul, khususnya
gugus fungsional seperti OH, C = O, C = C. Daerah yang paling umum digunakan
untuk mengenal struktur suatu senyawa adalah pada daerah 1-25 µm atau 10.000
– 400 cm-1. Dalam prakteknya satuan yang biasa dipakai adalah satuan frekuensi
(cm-1) dan bukan satuan panjang gelombang. Serapan setiap tipe ikatan ( N — H,
C — H, O — H, C — X, C — O, C = O, C — C, C = C, dsb.) hanya diperoleh
dalam bagian-bagian tertentu dari daerah vibrasi inframerah. Kisaran serapan
yang kecil dapat digunakan untuk menentukan setiap tipe ikatan.
Alkohol dan eter mempunyai ciri absorpsi infra merah karena stretching C-
O didaerah 1050-1200 cm-1. oleh karena pita-pita ini terjadi di daerah spektrum
dimana biasanya terdapat banyak pita lain, maka pita-pita tersebut tidak
bermanfaat untuk diagnosis. Akan tetapi stretching O-H alkohol, yang terjadi di
daerah 3200-3600 cm-1, lebih berguna. Gambar 14 memperlihatkan spektrum
inframerah xanthan gum hasil fermentasi dengan media onggok, stretching O-H
sangat kuat yang berpusat pada 3396 cm-1.
Ciri absorpsi inframerah aldehid dan keton adalah vibrasi stretching C=O.
Gugus karbonil polar sekali, strerching ikatan ini menghasilkan perubahan momen
dipol yang cukup besar. Akibatnya stretching karbonil merupakan spektra yang
intensitasnya tinggi. Oleh karena terjadi di daerah spektrum yang umumnya tidak
ada absorpsi lain, maka stretching karbonil merupakan metode yang dapat
diandalkan untuk mendiagnosis adanya gugus fungsional di dalam suatu
senyawa.Ciri absorpsi inframerah gugus asetat biasanya ditunjukkan dengan
adanya puncak di sekitar 1160 cm-1. Gambar 14 menunjukkan adanya puncak
pada 1159 cm-1 yang mengindikasikan adanya gugus asetat.
26

Daerah sidik jari berada pada 1500-1750 cm-1, dimana sedikit saja terdapat
perbedaan dalam struktur dan susunan molekul, akan menyebabkan distribusi
puncak absorpsi berubah. Dalam daerah ini, untuk memastikan suatu senyawa
organik adalah dengan cara membandingkan dengan pembandingnya. Pita
absorpsi disebabkan karena bermacam-macam interaksi, sehingga tidak mungkin
menginterpretasikan dengan tepat. Gambar 15 merupakan spektrum FTIR xanthan
gum komersial yang digunakan sebagai pembanding dalam membaca gugus
fungsi yang terdapat dalam struktur molekul produk yang dihasilkan dari proses
scale up produksi xanthan gum dengan onggok sebagai media fermentasi oleh
bakteri Xanthomonas campestris pv.campestris. Adanya puncak peak dalam
spektrum FTIR tersebut tidak luput dari struktur molekul xanthan gum
berdasarkan teori yang dikemukakan dalam beberapa jurnal penelitian
sebelumnya (Gambar 20).

5 SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Xanthan gum dapat diperoleh dari hasil fermentasi limbah padat tapioka
sebagai sumber karbon dan urea sebagai sumber nitrogen oleh bakteri
X.campestris.Rendemen xanthan gum tertinggi terdapat pada komposisi limbah
padat tapioka dengan konsentrasi 50 gL-1 dan urea 5 gL-1 yaitu sebesar 69%.
Prediksi kondisi optimum untuk memproduksi xanthan gum oleh X.campestris
berdasarkan model persamaan yang diperoleh yaitu konsentrasi sumber karbon 30
gl-1 dan nitrogen 5 gl-1 ( 𝑌 = 0.0075𝐴 + 0.0005𝐵 − 0.008𝐴𝐵 − 0.1716𝐴2 −
0.1667𝐵 2 ). Tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai prediksi dan hasil
verifikasi (prob f > 0.005). Hasil antara nilai prediksi dan nilai sebenarnya
menunjukkan model mapan dalam penelitian ini layak dan efektif. Hasil uji
rheology menunjukkan karakteristik produk yang cukup baik. Hal ini didukung
oleh uji FTIR yang menunjukkan adanya kesamaan model FTIR xanthan gum
hasil fermentasi dengan xanthan gum komersil.
Saran

Perlu dilakukannya penelitian pada skala yang lebih besar sebelum


memasuki tahap produksi masal untuk mengetahui informasi keekonomian dari
proses produksi xanthan gum ini, juga perlu dilakukan uji karakterisasi dengan
tingkat ketelitian yang lebih tinggi untuk memberikan informasi kualitatif dan
kuantitatif mengenai kemurnian dari produk yang dihasilkan.
27

DAFTAR PUSTAKA

Al-Kayyis HK, Susanti H. 2016. Perbandingan metode Somogyi-Nelson dan


Anthrone-Sulfat pada penetapan kadar gula pereduksi dalam umbi Cilembu
(Ipomea batatas L.). J Farm Sains Komunitas. 13(2) : 81-89.
Benson P. 2001. Teaching and Researching Autonomy in Language Learning.
London (UK) : Longman.
Box GEP, Draper NR. 1987. Empirical Model-Building and Response Surfaces.
New York (US): John Wiley & Sons.
Bradbury JF. 1984. Genus II. XanthomonasDowson 1939, 187. In Bergey’s
Manual of Systematic Bacteriology. Krieg NR, Holt JG, editor.Baltimore (US)
: Williams & Wilkins.
Carignatto CRR, Kassandra SMO, de Lima VMG, Neto PO. 2011. New culture
medium to xanthan production byXanthomonas campestris pv. campestris. Ind
J Microbiol. 51(3):283-288.
Chardialani A. 2008. Studi Pemanfaatan onggok sebagai bioimmobilizer
mikroorganisme dalam produksi biogas dari limbah cair industri tapioka
[Skripsi]. Bandar Lampung(ID):Universitas Lampung.
Cochran WG, Cox GM. 1962. Experimental Design, Third printing. New York
(US): John Wiley & Sons.
El Enshasy H, Then C, Othman NZ, Al Homosany H, Sabry M, Sarmidi MR,
Aziz RA. 2011. Enhanced xanthan production process in shake flasks and pilot
scale bioreactors using industrial semi-defined medium. Afr J Biotechnol. 10(6)
: 1029-1038.
Faria S, Viera P, Risende M, Riberio E, Cardoso V. 2010. Aplication of model
using the phenomenological approach for prediction og growth and xanthan
gum production with sugar cane broth in batch process. LWT Food Sci
Technol. 43 : 498-506.
Gilani S, Najafpour G, Heydarzadeh H, Zare H. 2011. Kinetic models for xanthan
gum production using Xanthomonas campestris from molasses. AChE. 17 (2):
179-187.
Glicksman M. 1969. Gum Technology in the Food Industry. New York (US):
Academic Pr.
Gracia O, Santos VE, Casas JA, Gomez E. 2000. Xanthan gum: production,
recovery, and properties. Biotech Adv. 18 : 549-579.
Irianto K. 2010. Mikrobiologi : Menguak Dunia Mikroorganisme Jilid I. Bandung
(ID) : Yrama Widya.
[JIRCAS] Japan International Research Center for Agricultural Sciences. 2005.
Xanthomonas genome database. 39(4), 275-287.
Jackson M, Frymier J, Wilkinson B, Zorner P, Evans. 1998. Growth requirements
for production of stable cell of the bioherbicidal bacterium Xanthomonas
campestris. J Ind Microbiol Biotech. 21 : 237-241.
Jeeva S, Selva MT, Palavesam A, Packia LMCJ, Brindha RJ. 2011. Production
and optimization study of a novel extracellular polysaccharide by wild-type
isolates of Xanthomonas campestris. J Microbiol Biotech Res . 1(4) : 175-182.
28

Kalogiannis S, Iakovidou G, Liakopoulou KM, Kyriakidis D, Skarocis G. 2003.


Optimization of xanthan gum production by Xanthomonas campestris grow in
molasses. Process Biochem. 39(2) : 249-256.
Kedar JA, Bholay AD. 2014. Ecofriendly biosynthesis of xanthan gum by
Xanthomonas campestris. World J Pharm Sci. 3(7) : 1341-1355.
Khopkar SM. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta (ID) : UI Pr.
Kusuma H. 2009. Manajemen Produksi. Yogyakarta (ID) : Andi.
Liu DNO, Ronald PC, Bogdanove AJ. 2006. Xanthomonas oryzae
Pathovars:Model Pathogens of Model Crop. Iowa (US):Blackwell Pub LTD.
Manfaati R. 2010. Kinetika dan variabel optimum asam laktat dengan media
campuran tepung tapioka dan limbah cair tahu oleh Rhyzopus oryzae [Tesis].
Semarang (ID): Universitas Dipinegoro.
Mudoi P, Bharali P, Konwar B. 2013. Study on the effect of pH, temperature and
the aeration on the cellular growth and xanthan production by Xanthomonas
campestris using waste residual molases. J Bioproces Biotech. 3(2) : 1-6.
Ou SH. 1985. Rice Disease. Surrey (UK): Commonwealth Inst.
Palaniraj A, Jayaraman V. 2011. Production, recovery and applications of xanthan
gum by Xanthomonas campestris. J Food Eng. 106 : 1-12.
Palaniraj A, Jayaraman V, Hariram S. 2011. Influence of nitrogen sources and
agitation in xanthan gum production by Xanthomonas campestris. Int J Adv
Biotech Res. 2(3) : 305-309.
Palennari M, Rante H. 2009. Kajian pembentukan gum xanthan dari limbah padat
sagu oleh Xanthomonas campestris. Bionat. 10(1) ; 24-28.
Pangestiningsih. 1998. Isolasi dan seleksi mikroba penghasil gum dari sayuran
busuk, lendir pada tempat pembuatan tahu, dan daun [Skripsi]. Bogor (ID) :
Institut Pertanian Bogor.
Panjaitan D, Ketut IS, Sritamin M. 2014. Uji Keefektivan ekstrak beberapa biji
tanaman untuk menghambat pertumbuhan bakteri bercak daun (Xanthomonas
campestris) pada tanaman tomat. J Agroekoteknol Tropika 3(2) : 89-96.
Quinliang L, Wei Y, Kedi Y, Yanxuan W, Ji-liang T. 2012. Xanthan gum
production by Xanthomonas campestris pv.Campestris 8004 using cassava
starch as carbon source. Afr J Biotech11 (3) : 13809-13813.
Retnowati D, Sutanti. 2016. Kajian limbah padat pengolahan tepung tapioka
(onggok) sebagai bahan apung pada komposisi pakan ikan lele (pelet). J Agron
11(1): 1-9.
Rokhmah I. 2017. Pengaruh pretreatment secara alkalisasi-resistive heating
terhadap kandungan lignoselulosa jerami padi. Agritech 37(2): 132-138.
Shuler ML, Kargi F. 1992. Bioprocess Engineering Basic Concepts. New Jersey
(US): Prentice-Hall International.
Stanbury PF, Whitaker A. 1984. Principles of Fermentation Technology. Oxford
(UK): Pagamon Pr.
Sudjana N. 1994. Desain dan Analisis Eksperimen, Edisi ketiga. Bandung (ID) :
Tarsito.
LAMPIRAN
31

Hasil C Max A

The SAS System

The GLM Procedure

Dependent Variable: respon


Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F
Model 4 0.01942880 0.00485720 91.89 <.0001
Error 20 0.00105720 0.00005286
Corrected Total 24 0.02048600

R-Square Coeff Var Root MSE respon Mean


0.948394 16.67543 0.007270 0.043600
32

The SAS System

The GLM Procedure

Duncan's Multiple Range Test for respon

Note: This test controls the Type I comparisonwise error rate, not the experimentwise error rate.
Alpha 0.05
Error Degrees of Freedom 20
Error Mean Square 0.000053

Number of Means 2 3 4 5
Critical Range .00959 .01007 .01037 .01058

Means with the same letter


are not significantly different.
Duncan Grouping Mean N konsentrasi
A 0.085400 5 50

B 0.060600 5 40

C 0.044600 5 30

D 0.019200 5 20

E 0.008200 5 10
33

Hasil C Max B

The SAS System

The GLM Procedure

Dependent Variable: respon


Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F
Model 4 0.01086016 0.00271504 29.54 <.0001
Error 20 0.00183840 0.00009192
Corrected Total 24 0.01269856

R-Square Coeff Var Root MSE respon Mean


0.855228 27.20628 0.009587 0.035240
34

The SAS System

The GLM Procedure

Duncan's Multiple Range Test for respon

Note: This test controls the Type I comparisonwise error rate, not the experimentwise error rate.
Alpha 0.05
Error Degrees of Freedom 20
Error Mean Square 0.000092

Number of Means 2 3 4 5
Critical Range .01265 .01328 .01368 .01395

Means with the same letter


are not significantly different.
Duncan Grouping Mean N konsentrasi
A 0.060800 5 50
A
A 0.053600 5 40

B 0.038000 5 30

C 0.018400 5 20

D 0.005400 5 10
35

Hasil N Max A

The SAS System

The GLM Procedure

Dependent Variable: respon


Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F
Model 4 0.00139696 0.00034924 1.24 0.3271
Error 20 0.00564680 0.00028234
Corrected Total 24 0.00704376

R-Square Coeff Var Root MSE respon Mean


0.198326 78.66562 0.016803 0.021360
36

The SAS System

The GLM Procedure

Duncan's Multiple Range Test for respon

Note: This test controls the Type I comparisonwise error rate, not the experimentwise error rate.
Alpha 0.05
Error Degrees of Freedom 20
Error Mean Square 0.000282

Number of Means 2 3 4 5
Critical Range .02217 .02327 .02397 .02446

Means with the same letter


are not significantly different.
Duncan Grouping Mean N konsentrasi
A 0.03180 5 4
A
A 0.02820 5 3
A
A 0.01960 5 7
A
A 0.01380 5 5
A
A 0.01340 5 6
37

Hasil N Max B

The SAS System

The GLM Procedure

Dependent Variable: respon


Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F
Model 4 0.00226144 0.00056536 4.09 0.0139
Error 20 0.00276400 0.00013820
Corrected Total 24 0.00502544

R-Square Coeff Var Root MSE respon Mean


0.449998 44.66508 0.011756 0.026320
38

The SAS System

The GLM Procedure

Duncan's Multiple Range Test for respon

Note: This test controls the Type I comparisonwise error rate, not the experimentwise error rate.
Alpha 0.05
Error Degrees of Freedom 20
Error Mean Square 0.000138

Number of Means 2 3 4 5
Critical Range .01551 .01628 .01677 .01711

Means with the same letter


are not significantly different.
Duncan Grouping Mean N konsentrasi
A 0.038400 5 4
A
A 0.036800 5 6
A
B A 0.022800 5 7
B
B 0.018000 5 5
B
B 0.015600 5 3
39

Pengaruh konsentrasi C

The SAS System

The GLM Procedure

Dependent Variable: respon


Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F
Model 4 0.01469854 0.00367464 94.19 <.0001
Error 20 0.00078030 0.00003901
Corrected Total 24 0.01547884

R-Square Coeff Var Root MSE respon Mean


0.949589 15.84525 0.006246 0.039420
40

Means with the same letter


are not significantly different.
Duncan Grouping Mean N konsentrasi
A 0.073100 5 50

B 0.057100 5 40

C 0.041300 5 30

D 0.018800 5 20

E 0.006800 5 10

Berdasarkan hasil diatas, konsentrasi 10,20,30,40 dan 50 saling berbeda sehingga untuk RSM bisa
dipakai range antara 10-50
41

Hasil Pengaruh konsentrasi N

The GLM Procedure

Dependent Variable: respon


Source DF Sum of Squares Mean Square F Value Pr > F
Model 4 0.00101076 0.00025269 3.28 0.0318
Error 20 0.00153860 0.00007693
Corrected Total 24 0.00254936

R-Square Coeff Var Root MSE respon Mean


0.396476 36.79100 0.008771 0.023840
42

Means with the same letter


are not significantly different.
Duncan Grouping Mean N konsentrasi
A 0.035100 5 4
A
B A 0.025100 5 6
B
B 0.021900 5 3
B
B 0.021200 5 7
B
B 0.015900 5 5
43

Rancangan untuk RSM

StdOrder RunOrder PtType Blocks A B respon


12 1 0 1 0 0
10 2 0 1 0 0
2 3 1 1 1 -1
9 4 0 1 0 0
3 5 1 1 -1 1
7 6 -1 1 0 -1.41421
4 7 1 1 1 1
11 8 0 1 0 0
13 9 0 1 0 0
8 10 -1 1 0 1.414214
1 11 1 1 -1 -1
6 12 -1 1 1.414214 0
5 13 -1 1 -1.41421 0
44

Response Y1 (16 jam pertama)


Actual by Predicted Plot

Summary
RSquare 0.934716
RSquare Adj 0.888085
Root Mean Square Error 0.036966
Mean of Response 0.143692
Observations (or Sum Wgts) 13

R-sq=0.93 artinya model dapat menjelaskan 93%

Analysis of Variance
Source DF Sum of Mean Square F Ratio
Squares
Model 5 0.13695348 0.027391 20.0449
Error 7 0.00956528 0.001366 Prob > F
C. Total 12 0.14651877 0.0005*
Secara keseluruhan model signifikan

Lack of fit
Source DF Sum of Mean Square F Ratio
Squares
Lack Of Fit 3 0.00429448 0.001431 1.0864
Pure Error 4 0.00527080 0.001318 Prob > F
Total Error 7 0.00956528 0.4505
Max RSq
0.9640
p-value=0.45 lebih besar dari alpha artinya model sudah fit

Effect Tests
Source Nparm DF Sum of F Ratio Prob > F
Squares
karbon 1 1 0.00174890 1.2799 0.2952
nitrogen 1 1 0.00469712 3.4374 0.1061
karbon*nitrogen 1 1 0.00129600 0.9484 0.3626
45

Source Nparm DF Sum of F Ratio Prob > F


Squares
karbon*karbon 1 1 0.08528713 62.4142 <.0001*
nitrogen*nitrogen 1 1 0.06045844 44.2443 0.0003*

Parameter Estimates
Term Estimate Std Error t Ratio Prob>|t|
karbon*karbon -0.110725 0.014015 -7.90 <.0001*
nitrogen*nitrogen -0.093225 0.014015 -6.65 0.0003*
nitrogen 0.024231 0.013069 1.85 0.1061
karbon 0.0147855 0.013069 1.13 0.2952
karbon*nitrogen -0.018 0.018483 -0.97 0.3626
Maka yang berpengaruh adalah efek dari karbon^2 dan nitrogen^2 (efek orde ke-2)

Response Surface
Coef
karbon nitrogen Y1
karbon -0.110725 -0.018 0.0147855
nitrogen . -0.093225 0.024231

Solution
Variable Critical
Value
karbon 0.056648
nitrogen 0.1244908

Solution is a Maximum
Predicted Value at Solution 0.2711271

Nilai diatas adalah titik dimana respon akan maksimum


46

Response Y2 (16 jam kerdua)


Actual by Predicted Plot

SUMMARY
RSquare 0.984276
RSquare Adj 0.973045
Root Mean Square Error 0.025361
Mean of Response 0.180077
Observations (or Sum Wgts) 13

ANOVA
Source DF Sum of Mean Square F Ratio
Squares
Model 5 0.28182681 0.056365 87.6382
Error 7 0.00450212 0.000643 Prob > F
C. Total 12 0.28632892 <.0001*

Lack of fit
Source DF Sum of Mean Square F Ratio
Squares
Lack Of Fit 3 0.00131412 0.000438 0.5496
Pure Error 4 0.00318800 0.000797 Prob > F
Total Error 7 0.00450212 0.6748
Max RSq
0.9889

Parameter Estimates
Term Estimate Std Error t Ratio Prob>|t|
nitrogen*nitrogen -0.151937 0.009615 -15.80 <.0001*
karbon*karbon -0.146937 0.009615 -15.28 <.0001*
karbon 0.0181961 0.008966 2.03 0.0820
karbon*nitrogen -0.02525 0.01268 -1.99 0.0867
nitrogen 0.0144816 0.008966 1.62 0.1503
47

Response Surface

Coef
karbon nitrogen Y2
karbon -0.146937 -0.02525 0.0181961
nitrogen . -0.151937 0.0144816

Solution
Variable Critical
Value
karbon 0.0582388
nitrogen 0.0428172

Solution is a Maximum
Predicted Value at Solution 0.3648399

Response Y3 (16 jam ketiga)


Actual by Predicted Plot

SUMMARY
RSquare 0.973839
RSquare Adj 0.955152
Root Mean Square Error 0.036804
Mean of Response 0.186615
Observations (or Sum Wgts) 13

ANOVA
Source DF Sum of Mean Square F Ratio
Squares
Model 5 0.35295519 0.070591 52.1138
Error 7 0.00948189 0.001355 Prob > F
C. Total 12 0.36243708 <.0001*
48

Lack of fit
Source DF Sum of Mean Square F Ratio
Squares
Lack Of Fit 3 0.00808109 0.002694 7.6919
Pure Error 4 0.00140080 0.000350 Prob > F
Total Error 7 0.00948189 0.0388*
Max RSq
0.9961

Parameter Estimates
Term Estimate Std Error t Ratio Prob>|t|
karbon*karbon -0.17165 0.013954 -12.30 <.0001*
nitrogen*nitrogen -0.16665 0.013954 -11.94 <.0001*
karbon 0.0075178 0.013012 0.58 0.5815
karbon*nitrogen -0.008 0.018402 -0.43 0.6768
nitrogen 0.0005888 0.013012 0.05 0.9652

Response Surface

Coef
karbon nitrogen Y3
karbon -0.17165 -0.008 0.0075178
nitrogen . -0.16665 0.0005888

Solution
Variable Critical
Value
karbon 0.0218696
nitrogen 0.0012418

Solution is a Maximum
Predicted Value at Solution 0.3948826
49

Response Y4 (16 jam ke empat)


Actual by Predicted Plot

Summary
RSquare 0.84655
RSquare Adj 0.736943
Root Mean Square Error 0.065753
Mean of Response 0.124923
Observations (or Sum Wgts) 13

ANOVA
Source DF Sum of Mean Square F Ratio
Squares
Model 5 0.16696078 0.033392 7.7235
Error 7 0.03026414 0.004323 Prob > F
C. Total 12 0.19722492 0.0091*

Lack of fit
Source DF Sum of Mean Square F Ratio
Squares
Lack Of Fit 3 0.00638734 0.002129 0.3567
Pure Error 4 0.02387680 0.005969 Prob > F
Total Error 7 0.03026414 0.7883
Max RSq
0.8789

Parameter Estimates
Term Estimate Std Error t Ratio Prob>|t|
karbon*karbon -0.118837 0.02493 -4.77 0.0020*
nitrogen*nitrogen -0.110087 0.02493 -4.42 0.0031*
karbon*nitrogen -0.025 0.032876 -0.76 0.4718
karbon 0.0146339 0.023247 0.63 0.5490
nitrogen -0.012197 0.023247 -0.52 0.6160
50

Coef
karbon nitrogen Y4
karbon -0.118837 -0.025 0.0146339
nitrogen . -0.110087 -0.012197

solution
Variable Critical
Value
karbon 0.0682125
nitrogen -0.063141

Solution is a Maximum
Predicted Value at Solution 0.2666842

Response Y5 (16 ja mke 5)


Actual by Predicted Plot

Summary
RSquare 0.863033
RSquare Adj 0.7652
Root Mean Square Error 0.050809
Mean of Response 0.105308
Observations (or Sum Wgts) 13

ANOVA
Source DF Sum of Mean Square F Ratio
Squares
Model 5 0.11386410 0.022773 8.8215
Error 7 0.01807067 0.002582 Prob > F
C. Total 12 0.13193477 0.0062*
51

Lack of fit
Source DF Sum of Mean Square F Ratio
Squares
Lack Of Fit 3 0.00888547 0.002962 1.2898
Pure Error 4 0.00918520 0.002296 Prob > F
Total Error 7 0.01807067 0.3923
Max RSq
0.9304

Parameter Estimates
Term Estimate Std Error t Ratio Prob>|t|
karbon*karbon -0.098075 0.019264 -5.09 0.0014*
nitrogen*nitrogen -0.087325 0.019264 -4.53 0.0027*
karbon*nitrogen -0.03225 0.025404 -1.27 0.2448
karbon 0.016625 0.017964 0.93 0.3855
nitrogen -0.012584 0.017964 -0.70 0.5062

Coef
karbon nitrogen Y5
karbon -0.098075 -0.03225 0.016625
nitrogen . -0.087325 -0.012584

Variable Critical
Value
karbon 0.0996281
nitrogen -0.090451

Solution is a Maximum
Predicted Value at Solution 0.2207973
52

Prediction Profiler

Berdasarkan tabel diatas, terlohat bahwa di setiap 16 jam, respon maksimum adalah ketika mendekati titik pusat (0,0).
Hal ini juga dapat dilihat dari bentuk respon sirfacenya pada gambar-gambar dibawah ini.
53

Y1

Y2
54

Y3

Y4
55

Y5
56

GRAFIK HASIL UJI ROTATIONAL RHEOMETER SAMPEL XANTHAN GUM PADA SUHU 1200C
(NO. ORDER 1495003017)

1. Suhu 1200C
a. Viskositas - ɳ (cP) terhadap Putaran - Ŷ (1/s)

b. Viskositas - ɳ (cP) terhadap waktu - t (s)


57

GRAFIK HASIL UJI ROTATIONAL RHEOMETER SAMPEL XANTHAN GUM PADA SUHU 1500C
(NO. ORDER 1495003017)

1. Suhu 1500C
a. Viskositas - ɳ (cP) terhadap Putaran - Ŷ (1/s)

b. Viskositas - ɳ (cP) terhadap waktu - t (s)


Transmittance [%]
0 20 40 60 80 100
3500

C:\OPUS\MEAS\2017\148 III 17.0

3396.23
148 III 17
3000

2928.15

PADATAN
2500
2361.81

Page 1/1
2152.85

2000
W avenumber cm-1
1649.58

1500
1421.21
1244.20
1159.98
990.02

1000
861.16
764.94
709.26
573.86
528.27

500
438.41

20/03/2017
58
Transmittance [%]
0 20 40 60 80 100
3500

C:\OPUS\MEAS\2017\179 VII 17.0

3292.79
179 VII 17
3000

2928.99
PADATAN
2500
2360.33

Page 1/1
2153.77

2000
W avenumber cm-1
1643.85

1500
1418.13
1369.21
1244.15
1157.91
991.71

1000
930.97
861.54
764.82
709.52
574.95
528.50

500
438.67

31/07/2017
59
60

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bogor pada tanggal 16 Agustus 1990 sebagai anak


tunggal dari pasangan Surana dan Cucu Sukaesih. Pendidikan sarjana ditempuh di
Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam Universitas Negeri Jakarta, lulus pada tahun 2013. Pada tahun 2014 penulis
diterima di Program Studi Biokimia pada Program Pascasarjana IPB dan
menamatkannya pada tahun 2017.
Penulis bekerja sebagai Asisten Dosen di Jurusan Teknik Pertambangan dan
Teknik Geologi, Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti
sejak tahun 2013. Mata kuliah yang menjadi tangung jawab peneliti adalah kimia
dasar, kimia fisik dan analisa batubara.
Sebuah artikel dengan judul Scale Up Production and Characterization of
Xanthan Gum with Cassava Starch Media by Xanthomonas campestris akan
diterbitkan pada jurnal Research Journal of Pharmaceutical, Biological and
Chemical Sciences (RJL BPCS) pada tahun 2018. Karya ilmiah tersebut
merupakan bagian dari program S-2 penulis.