Anda di halaman 1dari 45

BAB l

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Menurut Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2014 kesehatan sebagai hak

asasi manusia harus diwujudkan dalam bentuk pelayanan kesehatan kepada

seluruh masyarakat melalui penyelenggaraan pembangunan kesehatan yang

menyeluruh oleh pemerintah dan masyarakat secara terarah, terpadu dan

berkesinambungan, adil, merata, aman, berkualitas, dan terjangkau oleh

masyarakat.

Pembangunan kesehatan adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua

komponen bangsa Indonesia yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran,

kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat

kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi

pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis.

Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat ditentukan oleh kesinambungan

antar upaya program dan sektor, serta kesinambungan dengan upaya-upaya yang

telah dilaksanakan oleh periode sebelumnya. Menurut Kepmenkes No Hk.

02/02/MENKES/52/2015 sasaran program pembangunan kesehatan pada periode

2015-2019 adalah : (1) meningkatnya status kesehatan dan gizi ibu dan anak, (2)

meningkatnya pengendalian penyakit, (3) meningkatnya akses dan mutu

pelayanan kesehatan dasar dan rujukan terutama di daerah terpencil, tertinggal dan

perbatasan, (4) meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan universal melalui

1
Kartu Indonesia Sehat, (5) terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan, obat dan

vaksin, serta (6) meningkatkan responsivitas sistem kesehatan.

Dewasa ini, banyak masyarakat yang belum mengetahui tentang

pentingnya kesehatan terutama bahaya merokok. Salah satu akibat dari bahaya

merokok yang paling parah salah satunya yaitu efusi pleura maligna atau sering

disebut dengan efusi pleura ganas.

Pleura adalah membran tipis terdiri dari 2 lapisan yaitu pleura visceral dan

parietalis. Secara histologis kedua lapisan ini terdiri dari sel mesothelial, jaringan

ikat, dan dalam keadaan normal, berisikan lapisan cairan yang sangat tipis.

Membran serosa yang membungkus parenkim paru disebut pleura viseralis,

sedangkan membran serosa yang melapisi dinding thorak, diafragma, dan

mediastinum disebut pleura parietalis. Rongga pleura terletak antara paru dan

dinding thoraks. Rongga pleura dengan lapisan cairan yang tipis ini berfungsi

sebagai pelumas antara kedua pleura. Kedua lapisan pleura ini bersatu pada hillus

paru.

Dalam keadaan normal, selalu terjadi filtrasi cairan ke dalam rongga

pleura melallui kapiler pada pleura parietalis tetapi cairan ini segera direabsorpsi

oleh saluran limfe, sehingga terjadi keseimbangan antara produksi dan reabsorpsi.

Apabila antara produksi dan reabsorpsinya tidak seimbang (produksinya

meningkat atau reabsorpsinya menurun) maka akan timbul efusi pleura.

Efusi pleura maligna kini telah menjadi suatu permasalahan klinis yang

umum terjadi pada penderita kanker. Efusi pleura maligna dapat disebabkan oleh

hampir semua jenis keganasan, dimana peyebab tersering adalah kanker paru.

2
Efusi Pleura Ganas (EPG) adalah efusi pleura yang disebabkan oleh proses

keganasan, baik primer atau sekunder atau metastasis. Cairan efusi biasanya

berupa eksudat, namun sebagian kecil dapat bersifat transudat. EPG biasanya

unilateral sesuai letak proses keganasan meskipun dapat pula bilateral. Ciri lain

efusi pleura ini adalah banyaknya jumlah cairan dan cepatnya cairan terakumulasi

kembali di rongga pleura meskipun telah dilakukan torakosentesis berkali-kali.

Beberapa hasil penelitian menyebutkan 42-77% efusi pleura eksudatif disebabkan

proses keganasan. EPG dapat muncul pada semua jenis histologis kanker paru,

namun penyebab paling sering adalah adenokarsinoma. Dari penelitian Pasaoglu

dkk (Turki, 2007) menemukan EPG adenokarsinoma kanker paru sebanyak 75%.

Efusi Pleura Ganas (EPG) sering terjadi pada kasus kanker dan merupakan

salah satu faktor penyulit pada penatalaksanaan kanker paru. Pada kanker paru

karsinoma bukan sel kecil (KPKBSK) dengan EPG diklasifikasikan sebagai stage

IIIB yang prognosisnya tidak dapat disamakan dengan stage IIIB lain tanpa EPG.

Penampakan EPG pada KPKBSK menggambarkan kondisi terminal (end stage)

penyakit keganasan dengan prognosis buruk tetapi penatalaksanaan EPG yang

baik dapat meningkatkan kualiti hidup penderita. Kanker lain yang juga sering

menyebabkan EPG adalah limfoma, kanker payudara, kanker sistem

gastrointestinal dan genitourinaria.

Bila dijumpai diagnosa efusi pleura maligna berarti menandakan

buruknya prognosis. Penderita kanker yang disertai efusi pleura maligna memiliki

daya tahan hidup rata-rata kurang dari 6 bulan sejak terdiagnosa sebagai efusi

pleura maligna. Oleh karena itu semakin cepat suatu efusi pleura tersebut dapat

dibedakan apakah ganas atau jinak tentunya akan sangat membantu dalam

3
menentukan penatalaksanaan yang tepat terhadap penyakit yang mendasarinya

dan turut meningkatkan prognosis.

Diagnosis EPG ditegakkan bila didapatkan sel ganas dari pemeriksaan

sitologi cairan pleura atau biopsi pleura. Namun sensitivitas pemeriksaan sitologi

cairan pleura hanya berkisar 40-70%. Sedangkan sensitivitas tindakan biopsi

pleura tertutup jauh lebih rendah sekitar 50-60%. Secara umum pemeriksaan

sitologi tidak berhasil mendeteksi kasus EPG sekitar 40-50%.

Ketika sitologi dan biopsi hasilnya negatif maka tindakan yang lebih

invasif mulai dipertimbangkan yaitu melakukan biopsi ulangan, torakoskopi

maupun torakotomi terbatas. Pemeriksaan biopsi ulangan kemungkinan hanya

meningkatkan sensitivitas sebesar 7-13%. Sedangkan torakoskopi jauh lebih

berhasil dengan sensitivitas berkisar 90-95%, namun prosedur ini menjumpai

banyak kendala seperti tingginya dana yang dibutuhkan, dan lebih sulit untuk

dilakukan dengan mempertimbangkan tampilan status pasien, serta keterbatasan

alat. Dengan demikian meskipun telah melalui prosedur invasif rutin seperti

torakoskopi, ternyata 10-20% pasien dengan EPG masih belum dapat terdiagnosa.

Tujuan penatalaksanaan efusi pleura maligna adalah untuk meningkatkan

dan mempertahankan kualitas hidup agar penderita efusi pleura maligna agar

dapat hidup normal tanpa hambatan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Selain

itu tujuannya yaitu mengembalikan pola nafas yang normal, membantu

meningkatkan volume paru, membantu menurunkan beban kerja pernafasan.

Berdasarkan tujuan di atas, maka fisioterapi mempunyai peran penting

dalam penatalaksanaan efusi pleura maligna. Fisioterapi adalah bentuk pelayanan

kesehatan yang ditujukan kepada individu atau kelompok untuk mengembangkan,

4
memelihara dan memulihkan gerak dan fungsi tubuh sepanjang daur kehidupan

dengan menggunakan penanganan secara manual, peningkatan gerak, peralatan

(fisik, elektroterapeutik dan mekanis), pelatihan fungsi, komunikasi (KMK No.

517 Standar Pelayanan Fisioterapi, 2008).

Peran fisioterapi pada kasus efusi pleura maligna adalah untuk mengatasi

pola napas abnormal, penurunan volume paru dan peningkatan beban kerja

pernafasan. Namun pada kasus ini penulis mengambil peran fisioterapi dalam hal

mengurangi nyeri dada, spasme pada otot-otot bantu pernapasan dan

meningkatkan mobilitas toraks, dengan cara memberikan intervensi berupa

modalitas infra red (IR), breathing control, breathing exercie (deep breathing dan

diaphrgama breahting), dan mobilisasi sangkar thorax.

Dari latar belakang tersebut dapat dilihat bahwa fisioterapi memiliki peran

penting dalam penatalaksanaan efusi pleura maligna. Sehingga dalam kesempatan

kali ini penulis memilih judul Makalah “Penatalaksanaan Fisioterapi pada Efusi

Pleura Dextra et Kausa Keganasan”.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah di atas maka permasalahan yang dirumuskan

yaitu bagaimanakah penatalaksanaan fisioterapi pada efusi pleura maligna ?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk mengetahui penatalaksaan

fisioterapi pada efusi pleura maligna.

5
D. Manfaat Penulisan

Dalam penulisan makalah ini diharapkan dapat memberi manfaat yang

berarti untuk semua pihak. Adapun manfaat yang bisa diambil dari

penulisan makalah ini antara lain :

1. Bagi Penulis

Dapat memperdalam wawasan mengenai hal-hal yang berhubungan

dengan penatalaksanaan fisioterapi pada efusi pleura maligna dan

meningkatkan pemahaman dan pengetahuan mengenai cara

penanganan efusi pleura maligna menurut prosedur yang tepat.

2. Bagi Pasien

Mendapatkan informasi tentang efusi pleura maligna dan cara

mengontrol keluhan akibat yang ditimbulkan dari efusi pleura maligna.

3. Bagi Fisioterapi

Dapat mengembangkan ilmu fisioterapi dan perkembangan praktek

fisioterapi sehingga dapat memberikan pelayanan dan penanganan

secara tepat terutama pada kasus efusi pleura maligna.

4. Bagi Masyarakat

Dapat menyebarluaskan informasi kepada pembaca maupun

masyarakat tentang penanganan efusi pleura maligna khususnya dalam

fisioterapi.

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Anatomi Fungsional

1. Anatomi Saluran Pernapasan dan Paru-paru

1) Anatomi saluran pernapasan

Saluran pernapasan terdiri dari saluran pernapasan atas dan saluran

pernapasan bawah. Saluran pernapasan atas terdiri dari cavum nasalis, sinus

paranasal, faring dan laring, sedangkan saluran pernapasan bawah terdiri dari

trakea, bronkus, bronkiolus dan paru-paru yang berujung pada alveolus. Saluran

napas bagian atas mempunyai fungsi utama yaitu: (1) air condition, yaitu saluran

yang meneruskan udara menuju saluran napas bagian bawah untuk pertukaran

gas, (2) protection, yaitu sebagai pelindung saluran napas bagian bawah agar

terhindar dari masuknya benda asing, dan (3) warming, filtrasi, dan humidifikasi,

yaitu sebagai bagian yang menghangatkan, menyaring, dan memberi kelembapan

udara yang dihirup. Saluran pernapasan dari hidung sampai bronkiolus dilapisi

oleh membran mukosa yang bersilia, sehingga ketika udara masuk ke dalam

rongga hidung, udara tersebut disaring, dihangatkan dan dilembabkan. Partikel-

partikel debu yang kasar dapat disaring oleh rambut-rambut yang terdapat dalam

lubang hidung, sedangkan partikel yang halus akan terjerat dalam lapisan mukus.

Selanjutnya udara akan dilembabkan dan dihangatkan dengan panas yang berasal

dari jaringan dibawahnya yang kaya akan pembuluh darah, sehingga ketika udara

udara mencapai saluran napas bawah hampir bebas debu, bersuhu mendekati

suhu tubuh dan kelembaban mencapai 100% (Soemantri, 2007).

7
Setelah itu udara mengalir turun melalui trakea, bronkus, dan bronkiolus,

dan sampai duktus alveolus. Trakea adalah sebuah tabung berdiameter 2,5 cm

dengan panjang 11,25 cm yang dimulai dari leher sebagai lanjutan dari laring

pada batas bawah kartilago cricoidea setinggi vertebra cervicalis VI (Snell, 2012).

Trakea tersusun atas 16-20 cincin kartilago hialin berbentuk huruf C yang melekat

pada dinding trakea dan berfungsi melindungi jalan udara dan mencegah

terjadinya kolaps atau ekspansi berlebihan akibat perubahan tekanan udara yang

terjadi dalam sistem pernapasan. Pada cincin ini terdapat epitel silia tegak yang

mengandung banyak sel goblet yang mensekresikan mukus. Trakea bercabang

menjadi bronkus utama kiri dan kanan yang tidak simetris. Bronkus kanan lebih

pendek dan lebih lebar, terdiri dari 6-8 cincin merupakan kelanjutan dari trakea

yang arahnya hampir vertikal dan mempunyai 3 cabang, sedangkan bronkus kiri

lebih panjang dan lebih sempit, terdiri dari 9-12 cincin dengan sudutnya lebih

tajam dan memiliki 2 cabang. Bentuk anatomi yang khusus ini memiliki implikasi

klinis tersendiri seperti jika ada benda asing yang terinhalasi, maka benda itu lebih

memungkinkan berada di bronkus kanan dibandingkan bronkus kiri karena arah

dan lebarnya. Percabangan antara bronkus utama kiri dan kanan disebut sebagai

karina. Karina memiliki banyak saraf dan dapat menyebabkan bronkospasme dan

batuk yang kuat jika dirangsang. Cabang yang lebih kecil dari bronkus disebut

bronkiolus. Bronkiolus memiliki struktur yang berbeda dari bronkus. Struktur

bronkiolus tidak memiliki kartilago, didominasi oleh otot polos dan serabut elastik

serta memiliki jumlah sel goblet dan glandula mukosa yang lebih sedikit.

Disamping itu epitel pseudostratified diganti dengan sel epitel cuboid yang

8
bersilia. Semakin mendekati ke arah alveolus silianya semakin berkurang

(Soemantri, 2007).

Bronkiolus kemudian bercabang menjadi bronkiolus terminalis.

Bronkiolus terminalis memiliki diameter kurang lebih 1 mm. Bronkiolus tidak

diperkuat oleh cincin tulang rawan, tetapi dikeliligi oleh otot polos sehingga

ukurannya dapat berubah. Seluruh saluran udara ke bawah sampai tingkat

Bronkiolus terminalis disebut saluran penghantar udara ke tempat pertukaran gas

paru-paru. Dibawah bronkiolus terminalis terdapat asinus yang merupakan unit

fungsional paru sebagai tempat pertukaran gas. Asinus terdiri dari bronkiolus

respiratorius dan duktus alveolus yang dibatasi oleh alveolus dan sakus alveolus

yang merupakan struktur akhir paru. Setiap paru terdiri dari 300 juta sakus

alveolus. Kepadatan sakus alveolus inilah yang memberi bentuk paru seperti

spons (Muttaqin, 2008).

Di alveolus, terdapat 2 tipe sel epithelial pneumocytes yaitu pneumocytes

tipe I dan tipe II. Sel tipe I merupakan sel yang sitoplasmanya besar dan

merupakan sel utama yang melapisi alveolus. Sel tipe II disebut granular

pneumocytes, lebih tebal dan mengandung sejumlah badan inklusi lamelar yang

memproduksi surfaktan yaitu zat yang membantu menurunkan tegangan

permukaan alveolus. Tanpa surfaktan yang melapisi permukaan alveolus maka

akan terjadi gangguan mengembang dan mengempisnya alveolus (Ikawati, 2011).

9
Trakea, bronkus,bronkiolus dan sakus alveolus (Sridianti, 2015 ).

2) Anatomi paru-paru

Paru-paru terletak di dalam rongga dada (mediastinum), dilindungi oleh

struktur dari os clavicula. Rongga dada dan perut dibatasi oleh diafragma.

Masing-masing paru-paru dipisahkan satu sama lain oleh jantung dan pembuluh-

pembuluh besar serta struktur-struktur lain di dalam rongga dada. Paru kanan

lebih besar dari paru-paru kiri. Paru-paru kanan dibagi menjadi 3 lobus yaitu

lobus superior, lobus medius, dan lobus inferior, sedangkan paru-paru kiri dibagi

menjadi 2 lobus yaitu lobus superior dan inferior. Setiap lobus paru-paru ini

dibagi lagi menjadi bagian-bagian yang disebut bronchopulmonary segment

(Snell, 2012).

10
Bronchopulmonary segment (Pokhrel, 2013).

Paru-paru dibungkus oleh selaput yang disebut pleura. Pleura terdiri dari

dua bagian yaitu pleura parietalis dan pleura viseralis. Pleura parietalis

melingkupi permukaan toraks yang menghadap diafragma dan aspek lateral dari

mediastinum, sedangkan pleura viseralis menutupi seluruh permukaan luar paru

dan memanjang sampai kedalam fissura interlobaris. Antara kedua pleura ini

terdapat ronggga yang disebut kavum pleura. Pada keadaan normal, kavum pleura

ini hampa udara, sehingga paru-paru dapat berkembang kempis dan juga terdapat

sedikit cairan yang berguna untuk meminyaki permukaan pleura, menghindari

gesekan antara paru-paru dan dinding dada ketika bernafas (Snell, 2012).

11
Area pleura parietalis dan viseralis (Apriyani, 2010).

2. Volume dan Kapasitas Paru

Menurut Guyton (2007) yang dikutip oleh Syafrullah (2015) volume paru

terbagi menjadi 4 bagian, yaitu:

a) Volume tidal

Volume tidal adalah volume udara yang diinspirasi atau diekspirasi pada

setiap kali pernafasan normal. Besarnya ± 500 ml pada rata-rata orang

dewasa.

b) Volume cadangan inspirasi

Volume cadangan inspirasi adalahvolume udara ekstra yang diinspirasi

setelah volume tidal, dan biasanya mencapai ± 3000 ml.

c) Volume cadangan ekspirasi

Volume cadangan ekspirasi adalah jumlah udara yang masih dapat

dikeluarkan dengan ekspirasi maksimum pada akhir ekspirasi normal, pada

keadaan normal besarnya ± 1100 ml.

12
d) Volume residu

Volume residu adalah volume udara yang masih tetap berada dalam paru-

paru setelah ekspirasi kuat. Besarnya ± 1200 ml.

Sedangkan kapasitas paru dibagi menjadi enam bagian, yaitu:

a) Kapasitas inspirasi

Kapasitas inspirasi adalah penjumlahan antara volume tidal dan volume

cadangan inspirasi. Besarnya ± 3500 ml, dan merupakan jumlah udara

yang dapat dihirup seseorang mulai pada tingkat ekspirasi normal dan

mengembangkan parusampai jumlah maksimum.

b) Kapasitas residu fungsional

Kapasitas residu fungsional adalahpenjumlahan antara volume cadangan

inspirasidan volume residu. Besarnya ± 2300 ml, dan merupakan besarnya

udara yang tersisa dalam paru pada akhir ekspirasi normal.

c) Kapasitas vital

Kapasitas vital adalahpenjumlahan antara volume cadangan inspirasi,

volume tidal, dan volume cadangan ekspirasi. Besarnya ± 4600 ml, dan

merupakan jumlah udara maksimal yang dapat dikeluarkan dari

paru,setelah terlebih dahulu mengisi paru secara maksimal dan kemudian

mengeluarkannya sebanyak-banyaknya.

d) Forced vital capacity (FVC)

Forced vital capacity (FVC) adalah volume total dari udara yg

dihembuskan dari paru-paru setelah inspirasi maksimum yang diikuti oleh

ekspirasi paksa minimum. Hasil ini didapat setelah seseorang

13
menginspirasi dengan usaha maksimal dan mengekspirasi secara kuat dan

cepat.

e) Forced expiratory volume in one second (FEV1)

Forced expiratory volume in one second (FEV1) adalah volume udara

yang dapat dikeluarkan dengan ekspirasi maksimum per satuan detik.Hasil

ini didapat setelah seseorang terlebih dahulu melakukan pernafasan dalam

dan inspirasi maksimal yang kemudian diekspirasikan secara paksa sekuat-

kuatnya dan semaksimal mungkin, dengan cara ini kapasitas vital

seseorang tersebut dapat dihembuskan dalam satu detik.

f) Kapasitas paru total

Kapasitas paru total adalah penjumlahan antara kapasitas vital dan volume

residu. Besarnya ± 5800 ml adalah volume maksimal dimana paru

dikembangkan sebesar mungkin dengan inspirasi paksa.

Volume dan kapasitas paru (Tortora, 2012 dikutip oleh Syafrullah, 2015).

14
B. Efusi Pleura Maligna

1. Pengertian Efusi Pleura

Efusi pleura adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleura, biasanya

terjadi karena akibat dari penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan jernih, yang

mingkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa darah ataupun pus.

Secara normal, ruang pleuara mengandung sejumlah kecil cairan 5 sampai 15 ml

dan cairan itu berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural

bergerak tanpa adanya friksi.

Efusi pleura adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak

diantara permukaan visceral dan pariental, dan proses penyakit prrimer jarang

terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder.

2. Definisi Efusi Pleura Ganas (EPG)

Efusi pleura ganas didefinisikan sebagai efusi yang terjadi berhubungan

dengan keganasan yang dibuktikan dengan penemuan sel ganas pada

pemeriksaan sitologi cairan pleura atau biopsi pleura. Kenyataannya sel ganas

tidak dapat ditemukan pada sekitar 25% kasus efusi pleura yang berhubungan

dengan penyakit keganasan, sehingga jika hanya menggunakan definisi di atas

dapat terjadi kekeliruan pada kasus dengan sitologi / histologi negatif. Pada kasus

efusi pleura bila tidak ditemukan sel ganas pada cairan atau hasil biopsi pleura

tetapi ditemukan kanker primer di paru atau organ lain. Departemen Pulmonologi

dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI dan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia

(PDPI) memasukkannya sebagai EPG. Pada beberapa kasus, diagnosis EPG

didasarkan pada sifat keganasan secara klinis, yaitu cairan eksudat yang

15
serohemoragik/ hemoragik, berulang, masif, tidak respons terhadap antiinfeksi

atau sangat produktif meskipun telah dilakukan torakosentesis untuk mengurangi

volume cairan intrapleura.

Dinamakan sebagai Efusi Pleura Ganas (EPG) bila ditemukan sel tumor ganas

pada pemeriksaan sitologi cairan pleura atau histopatologi jaringan pleura melalui

biopsi pleura perkutaneus, torakoskopi, torakotomi, ataupun otopsi. Meskipun

telas diduga bahwa efusi yang muncul disebabkan oleh proses keganasan namun

belum dapat ditemukan sel ganas pada cairan pleura atau pada jaringan pleura

tersebut maka efusi pleura disebut sebagai efusi yang berhubungan dengan kanker

atau disebut sebagai efusi pleura paramaligna, dimana tidak terdapat keterlibatan

langsung pleura dengan tumor, sementara penyebab terjadinya efusi pleura

tersebut belum dapat diketahui. Istilah efusi paramaligna diberikan untuk efusi

yang terjadi secara tidak langsung akibat keterlibatan tumor terhadap pleura tetapi

masih berhubungan dengan tumor primer, contohnya meliputi post obstruksi

pneumonia yang berlanjut menjadi efusi parapneumoni, obtruksi duskus torasikus

yang berkembang menjad chylothorax, emboli paru, dan efusi transudatif

sekunder terhadap post-obstruksi atelektasis dan/atau rendahnya kadar tekanan

plasma onkotik sekunder terhadap kehensia.

Efusi pleura ganas (EPG) dapat dibagi dalam 3 kelompok

1. Efusi pleura yang terbukti ganas pada pemeriksaan sitologi cairan

pleura dan atau histologi biopsi pleura.

2. Efusi pleura pada penderita dengan riwayat dan atau terbukti jelas tumor

ganas dari intra toraks maupun ekstra toraks.

16
3. Efusi pleura yang sifatnya hemoragik, masif, progresif, rekuren dan

tidak responsif terhadap pengobatan anti infeksi.

Kebanyakan kasus EPG simptomatis meskipun tidak banyak yang datang

tanpa gejala, terutama pasien dengan volume cairan kurang dari 500 mL. Sesak

nafas adalah gejala tersering pada kasus ini terutama jika volume cairan sangat

banyak. Sesak nafas terjadi karena refleks neurogenik paru dan dinding dada

karena penurunan compliance paru, menurunnya volume paru ipsilateral,

pendorongan mediastinum ke arah kontralateral dan penekanan diafragm

ipsilateral. Gejala lain berupa nyeri dada sebagai akibat reaksi inflamasi pada

pleura parietal, batuk, batuk darah, anoreksia, dan berat badan menurun.

3. Epideminologi

Di indonesia keganasan merupakan penyebab efusi pleura terbanyak sesudah

tuberkulosis paru. Meskipun belum ada penelitian epidemiologi EPG tetapi

insidensinya dapat diestimasi berdasarkan data-data yang ada yaitu sekitar 15%

dari seluruh penyakit keganasan. Efusi pleura ganas dapat disebabkan oleh hampir

semua jenis kaganasan, hampir sepertiga kasus EPG disebabkan oleh kanker paru.

Penelitian postmortem yang dilakukan di Amerika Serikat mendapat EPG sekitar

15% dari 191 kasus keganasan yang diteliti. Dari kasus kematian karena

keganasan pertahun di Merika Serikat ditemukan EPG 83.000 dari 656.500 kasus

kanker. Pengamatan selama 3 tahun terhadap kasus efusi pleura di dapat EPG 120

dari 229 kasus. Berdasarkan jenis sel kanker paru, kanker paru karsinoma bukan

sel kecil adalah penyebab terbanyak EPG, proporsinya adalah 40%

adenokarsinoma, 23% karsinoma sel skuamosa dan hanya 17,6% karsinoma sel

kecil. Hal ini mungkin disebabkan jumlah kasus kanker paru. Penelitian lain

17
mendapat 50-60% EPG disebabkan oleh metastasis tumor paru dan payudara di

pleura, 25% disebabkan keganasan lain misalnya limfoma, kanker sistem

gastrointestinal dan genitourinaria dan 7-15% tidak diketahui. Tumor primernya.

Peneliti dari Singapura melakukan biopsi pleura pada 200 pasien dengan efusi

pleura dan mendapatkan sel adenokarsinoma pada 71 kasus.

4. Patofisiologi dan Patogenesis Efusi Pleura Ganas (EPG)

Pleura adalah membran serousa yang menutupi permukaan parenkim paru,

mediastinum, diafragma, dan rongga toraks. Struktur tersebut terbagi atas pleura

viseralis dan pleura parietalis. Pleura viseralis melindungi permukaan parenkim

paru terhadap dinding toraks, diafragma, mediastinum dan fisura interlobaris.

Pleura parietalis melapisi permukaan rongga toraks, yang terbagi atas pleura

parietalis kostalis, mediastinalis, dan diafragmatik. Kedua pleura membran

tersebut bertemu di akar hilus paru. Diantara keduanya terdapat rongga ataupun

rongga potensial yang disebut sebagai rongga pleura. Pleura terdiri dari lima

bagian utama, yaitu: sirkulasi sistemik parietal (percabangan arteri interkostalis

dan arteri mamaria interna), ruang interstisial parietal, rongga pleura yang sisi-

sisinya dibatasi oleh sel mesotelial, interstisial paru, dan sirkulasi viseral (arteri

bronkial dan arteri pulmonalis). Pada keadaan normal, rongga pleura berisi sekitar

10-20 ml cairan yang bermanfaat sebagai pelicin agar paru dapat bergerak dengan

leluasa saat bernapas. Produksinya sekitar 0,01 mg/kgBB/jam hampir sama

dengan kecepatan penyerapan. Dari sirkulasi sistemik, cairan normal dan protein

memasuki rongga pleura. Cairan pleura tersebut mengandung kadar protein

rendah (<1,5 g/dl) yang dibentuk oleh pleura viseral dan parietal.

18
Cairan pleura difiltrasi di kompartemen pleura parietalis dari kapiler sistemik

menuju rongga pleura karena terdapat sedikit perbedaan tekanan diantara

keduanya. Rongga pleura bertekanan sub-atmosfer dan mendukung inflasi paru.

Cairan yang diproduksi oleh pleura parietal dan viseral selanjutnya akan diserap

oleh pembuluh limfe dan pembuluh darah mikro pleura viseral. Mekanisme ini

mengikuti hukum Starling yaitu jumlah pembentukan danpengeluaran seimbang

sehingga volume dalam rongga pleura tetap. Jika produksi cairan melebihi

kemampuan penyerapan dan sebaliknya maka akan terjadi akumulasi cairan

melebihi volume normal, dimana hal tersebut dapatdisebabkan oleh beberapa

kelainan antara lain infeksi dan kasus keganasan di paru atau organ luar paru.

Terjadinya penumpukan cairan pleura dalam rongga pleura dapat disebabkan

hal-hal sebagai berikut:

1. Meningkatnya tekanan hidrostatik dalam sirkulasi mikrovaskuler.

2. Menurunnya tekanan osmotik dalam sirkulasi mikrovaskuler.

3. Menurunnya tekanan negatif dalam rongga pleura.

4. Bertambahnya permeabilitas dinding pembuluh darah pleura.

5.Terganggunya penyerapan kembali cairan pleura ke pembuluh getah

bening.

6. Perembesan cairan dari rongga peritoneum ke dalam rongga pleura

19
Gambar 1. Terjadinya cairan pleura

Sedangkan efusi pleura pada penyakit keganasan dapat terjadi melalui:

1. Implantasi sel-sel tumor pada permukaan pleura.

2. Pleuritis yang disebabkan pneumonitis sekunder akibat tumor paru.

3. Akibat obstruksi aliran limfe atau pembuluh darah.

4. Erosi pembuluh darah atau limfe sehingga pembentukan cairan pleura

meningkat.

5. Invasi langsung tumor ke rongga pleura melalui dinding toraks.

Obstruksi limfatik lebih sering dianggap sebagai patofisiologi

abnormalitasprimer terjadinya EPG. Cairan pleura didrainase keluar dari rongga

pleuraterutama melalui stomata limfatik parietal yang berada diantara sel-sel

mesotelial parietal. Jumlah limfatik parietal paling banyak di diafragma dan

mediastinum. Stomata-stomata tersebut bergabung kedalam saluran kecil limfatik

yang selanjutnya menuju pembuluh limfe yang lebih besar dan akhirnya

didrainase melalui limfe node mediastinal. Jika terdapat gangguan seperti

terjadinya blokade limfatik yang menyebabkan penurunan pembersihan

(clearance) cairan pleura ataupun obstruksi oleh deposit sel tumor di sepanjang

20
jaringan limfatik yang rumit maka akan menyebabkan efusi pleura. Mekanisme

atas terakumulasinya cairan pleura telah dikonfirmasi oleh pemeriksaan

postmortem dimana menunjukkan keterlibatan limfe node regional yang biasanya

dihubungkan dengan kejadian efusi pleura.

Gambar 2. Skema anatomi pleura 13

Tumor primer paru atau metastasis tumor di paru yang menginfiltrasi pleura

viseralis dan pleura parietalis menyebabkan reaksi inflamasi sehingga

permeabilitas pembuluh darah akan meningkat. Studi posmortem menyebutkan

bahwa metastasis tumor lebih banyak ke permukaan pleura viseral dari pada

parietal. Hanya pada kasus tumor dengan perluasan langsung, tumor ditemukan

pada pleura parietal tetapi tidak pada viseral. Berdasarkan hasil itu disimpulkan

bahwa implikasi sel ganas di pleura viseral terjadi akibat emboli tumor ke paru

sedangkan pada pleura parietal adalah akibat kelanjutan proses yang terjadi di

pleura viseral.

Mekanisme lain yang mungkin adalah invasi langsung tumor yang berdekatan

dengan pleura. Pada adenokarsinoma paru, sel tumor menyebar ke pleura parietal

21
dari pleura viseral di sepanjang tempat perlengketan pleura. Hal ini didahului

dengan bermigrasinya sel-sel tumor ke pleura viseral dari kapiler paru yang

mendasarinya, disebut sebagai penyebaran hematogen. Metastasis sel tumor ke

pleura dari lokasi primernya selain paru maka penyebarannya berlangsung secara

hematogen ataupun limfatik. Teori lain yang dapat menimbulkan EPG

menyebutkan terjadinya peningkatan permeabilitas pleura. Bagaimana mekanisme

pastinya belum jelas diketahui. Namun diduga penjelasannya berkaitan dengan

dihasilkannya vascular endotelial growth factor (VEGF) oleh tumor. VEGF

merupakan agent yang paling berpengaruh terhadap peningkatan permeabilitas

vaskular sehingga terjadi ekstravasasi cairan.19,22 Terjadi gangguan fungsi

beberapa sitokin antara lain tumor necrosing factor-α (TNF-α), tumor growth

factor (TGF-β) dan VEGF tersebut.

Tumor ganas juga dapat menyebabkan efusi pleura dengan adanya obstruksi

duktus torasikus yang disebut chylothorax. Chylothorax yang penyebab terjadinya

tidak traumatik maka kemungkinan penyebabnya adalah proses keganasan yang

melibatkan duktus torasikus, dengan 75% berupa limfoma. Terjadinya EPG juga

dikaitkan dengan adanya gangguan metabolisme, menyebabkan hipoproteinemia

dan penurunan tekanan osmotik yang memudahkan perembesan cairan ke rongga

pleura.

5. Gejala Klinis

Pada anamnesis kecuali gejala klinis seperti sesak napas yang berkaitan

dengan volume cairan atau keluhan lain maka riwayat perjalanan klinis yang

mengarah ke penyakit keganasan rongga toraks dan organ luar toraks lain harus

dapat digali secara baik, sistematik dan tepat. Faktor risiko untuk penyakit

22
keganasan lain yang dimilki pasien dapat memperkuat analisis, misalnya laki-laki

usia lebih dari 40 tahun dan perokok atau perempuan dengan riwayat pernah di

kemoterapi untuk kanker payudara. Kebanyakan kasus EPG simptomatis

meskipun sekitar 15% datang tanpa gejala, terutama pasien dengan volume cairan

kurang dari 500ml. Sesak napas adalah gejala tersering pada kasus EPG terutama

jika volume cairan sangat banyak. Sesak napas terjadi karena refleks neurogenik

paru dan dinding dada karena penurunan keteregangan (compliance) paru,

penurunan volume paru ipsilateral, pendorongan mediastinum ke arah

kontralateral dan penekanan diafragma ipsilateral. Estenne dkk menyimpulkan

bahwa meskipun terjadi perubahan fungsi paru pada penderita EPG misalnya

perubahan volume ekspirasi paksa detik pertama(VEP1) tetapi perubahan itu saja

belum memadai untuk dapat menjelaskan mekanisme sesak. Mereka membuat

hipotesis lain yaitu sesak napas terjadi karena berkurangnya kemampuan

meregang otot inspirasi akibat terjadi restriksi thoraks oleh cairan. Gejala lain

adalah nyeri dada sebagai akibat reaksi inflamasi pada pleura parietal terutama

pada mesotelioma, batuk, batuk darah (pada karsinoma bronkogenik), anoreksia

dan berat badan turun.

6. Pemeriksaan Klinis

Pemeriksaan fisis bukan hanya berguna untuk menentukan lokasi

danperkiraan volume cairan saja, tetapi untuk menemukan kelainan lain di

tubuhpenderita, misalnya tumor di daerah leher, supraklavikula, aksila, payudara,

dinding dada, intraabdomen atau pembesaran prostat pada laki-laki. Dengan

pemeriksaan yang teliti juga dapat memprediksi kegawatan, misalnya tanda-tanda

sindrom vena kava superior (SVCS), karena penekanan oleh tumor. Tanda-tanda

23
yang dapat ditemukan antara lain edema pada wajah dan lengan kanan disertai

peningkatan tekanan vena jugularis dan tampak venektasi didada. Masalah SVCS

sering terjadi pada tumor paru dan mediastinum yang kadang membutuhkan

penatalaksanaan segera meskipun diagnosis pasti belum dapat ditegakkan.

C. Teknologi Intervensi Fisioterapi

1. Infra Red (IR)

Sinar infra merah adalah pancaran gelombang elektromagnetik dengan

panjang gelombang 7.700 – 4 juta A. Sinar infra merah yang bergelombang

pendek (7.700 – 12.000 A) penetrasinya sampai pada lapisan dermis atau sampai

kelapisan bawah kulit, sedangkan yang bergelombang panjang (diatas 12.000 A)

penetrasinya hanya sampai pada superficial epidermis (Kuntono, 1993). General

infra red pada dasarnya dapat di golongkan menjadi dua, yaitu : (1) Non luminous

yang hanya mengandung IR saja, sering juga disebut IR radiation, (2) luminous.

Jika sinar ini diabsorbsi oleh kulit maka rasa panas akan timbul pada tempat

dimana sinar tersebut diabsorbsi sehingga dapat meningkatkan proses

metabolisme, vasodilatasi pembuluh darah, relaksasi otot dan mengurangi rasa

sakit. Disamping itu juga dapat berpengaruh terhadap pigmentasi, mengaktifkan

kelenjar-kelenjar keringat berupa destruksi jaringan apabila penyinaran diberikan

dan menimbulkan temperatur yang cukup tinggi dan lama terhadap toleransi

pasien. Pemberian sinar infra red haruslah sesuai toleransi pasien. Efek fisiologis

dari sinar infra red adalah peningkatan proses metabolisme, vasodilatasi,

pembuluh darah, pigmentasi, pengaruh terhadap syaraf sensoris dengan

pemanasan jaringan yang membentuk efek sedatif. Efek teurapetik dari sinar infra

24
red adalah mengurangi atau menghilangkan rasa sakit, meningkatkan suplai

darah, relaksasi otot dan menghilangkan sisa hasil metabolisme.

2. Breathing Control

Breathing control bertujuan untuk membentuk pola nafas normal,

meminimalkan tenaga untuk bernafas, menghilangkan nafas yang pendek dan

cepat, dan peningkatan ventilasi. Penatalaksanannya yaitu posisi pasien duduk dan

terapis menginstruksikan pasien untuk tarik nafas pelan, teratur, dan rileks melalui

hidung, kemudian pelan dan gentle dihembuskan melalui mulut. Ekspirasi

dilakukan secara pasif dan tidak memanjang. Hindari memakai otot-otot dada

berlebihan

3. Breathing Exercise

a. Deep breathing excercise (DBE)

Deep breathing exercise (DBE) merupakan suatu teknik latihan

pernapasan dengan cara meminta pasien untuk inspirasi maksimal lalu

dihembuskan perlahan dengan tujuan meningkatkan kemampuan pengembangan

paru, dimana pasien harus posisi duduk, duduk bersandar atau posisi high side

lying ( Rodrigues and Watchie, 2010).

b. Diaphragmatic Breathing

Diaphragmatic brething merupakan suatu teknik latihan pernafasan

dengan cara meminta pasien untuk menarik nafas dari hidung dan perut

dikembungkan serta menghembuskannya melalui mulut dan perut dikempeskan,

dimana posisi pasien half lying.

4. Mobilisasi Sangkar Thorax

Mobilisasi sangkar thorax bertujuan untuk meningkatkan ekspansi thorax

25
dan meningkatkan volume paru. Penatalaksanaannya yaitu posisi pasien duduk

dan terapis menginstruksikan pasien untuk mengangkat tangannya ke atas diikuti

dengan menarik nafas melalui hidung, selanjutnya menurunkan tangan diikuti

dengan hembuskan nafas melalui mulut.

26
BAB lll

STATUS KLINIS PASIEN

LAPORAN STATUS KLINIS S1 FISIOTERAPI

FISIOTERAPI PULMONAL

Program Studi Fisioterapi S1 FIK – UMS

I. Keterangan Umum Penderita

Nama : Tn. Maryadi

Umur : 62 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Pekerjaan : Petani

Alamat : Dukuh Repaking, Wonosegoro, Boyolali.

II. Data-Data Medis Rumah Sakit

A. Diagnosa Medis

Tanggal 30 Januari 2016, Efusi Pleura Dextra et causa Keganasan di Paru

DD Metastasis.

B. Catatan Klinis

1) Medika Mentosa ( 28 Januari 2016)

- O2

- Infus RL + Neurobion

- Injeksi Cefotaxim

- Injeksi Ranitidin

- Injeksi Ketorolac

27
- Curcuma

- Ambroxol

2) Hasil Laboratorium Mikrobiologi ( 28 Januari 2016)

- BTA SPUTUM : NEGATIF

3) Hasil Laboratorium Patologi ( 28 Januari 2016)

Hematologi

- Masa Perdarahan : 3 ‘00”

- Masa Pembekuan : 7 ‘30”

Imunoserologi

- HBs Ag : Non Reactive

- Hb : 12,0 gr/dl

- SpO2 : 97%

- GDS : 72 mg/dl

4) Hasil CT Scan ( 29 Januari 2016 )

Massa struktur campuran, Unmeasurable, Batas tak tegas, Bulat oval di

central paru dextra, Atelektasis paru dextra, Efusi pleura dextra, Pleural

thickening dextra, KGB enlargement di para tracheal dextra, Mediastinal,

Para Aorta, Subcarina.

5)Hasil Pemeriksaan X Foto Thorax ( 14 Desember 2015)

Cor : Membesar

Pulmo : Pneumonia Dextra

DD / Massa

28
6) HasilRontgen ( 28 Januari 2016 )

7) Hasil Spirometry

% Pred

- VC : 92 %

- FVC : 62 %

- FEV 1 : 61 %

- FEV 1 / VC : 66 %

- FEV 1 / FVC : 103 %

C. Terapi Umum (General Treatment)

Medika Mentosa ( 28 Januari 2016)

- O2

- Infus RL + Neurobion

- Injeksi Cefotaxim

- Injeksi Ranitidin

- Injeksi Ketorolac

- Curcuma

- Ambroxol

D. Rujukan Fisioterapi Dari Dokter

Mohon dilakukan Chest PT pada Bapak Maryadi dengan diagnosa Efusi

Pleura Dextra et causa Keganasan di Paru DD Metastasis.

29
III. SEGI FISIOTERAPI

A. PEMERIKSAAN SUBYEKTIF

1. Keluhan Utama :

a. Sesak napas Y / T : saat Batuk

b. Batuk Y / T : saat Istirahat dan Aktivitas

c. Dahak Y / T : saat -

d. Mengi Y / T : saat -

e. Nyeri dada Y / T : saat Sesak Nafas

2. Riwayat Penyakit Sekarang

Sekitar 1 bulan yang lalu pasien mengeluh batuk terus-menerus

kemudian berobat ke Puskesmas sebanyak 2 kali namun tidak ada

perubahan, kemudian pasien datang ke Klinik mandiri Dokter Umum

sebanyak 2 kali dan dirujuk ke Rumah Sakit Kariadi Semarang untuk

dilakaukan Rontgen, karena penuh bangsalnya di Rs Kariadi akhirnya

dirujuk ke RSP Ario Wirawan sudah 1 minggu ini.

3. Riwayat Penyakit dahulu

Tidak ada riwayat penyakit dahulu

4. Riwayat Pribadi

Pasien adalah perokok sudah 20 tahun dan baru berhenti satu bulan

yang lalu karena sakit.

5. Penyakit Penyerta

Hiperkolestrolemia

30
6. Riwayat keluarga

Pasien tidak memiliki riwayat keluarga dengan keluhan sakit yang

sama.

7. Status Sosial

Pasien sehari-hari adalah Petani di Sawah.

Aktivitas waktu senggang adalah Istirahat (Tidur).

Lingkungan sosial adalah hidup dikampung dengan pola hidup gotong

royong.

B. PEMERIKSAAN OBYEKTIF

1. Pemeriksaan Tanda Vital

a) Tekanan Darah : 120/80 mmHg

b) Denyut Nadi : 100 kali/menit

c) Pernapasan : 24 kali/menit

d) Temperatur : 36,5⁰C

e) Tinggi Badan :160 cm

f) Berat Badan : 45 Kg

2. Inspeksi

a. Respiratori equipment :

- O2 set ( + )

- Infus set ( + )

- Shrynge Pump ( -)

b. Bentuk Dada : Pigeon Chest

c. Pola Pernafasan : Nafas pendek

d. Clubbing finger Y / T. : Tidak

31
3. Palpasi

a. Ekspansi Thoraks R / L : Menurun / Normal.

b. Vocal Fremitus : Hilang di sisi kanan.

c. Spasme otot pernafasan : Spasme M. Upper Trapezius dextra

dan sinistra.

d. Nyeri Tekan

Nyeri tekan di Lobus atas, tengah dan bawah sisi anterior dan

posterior paru dextra.

4. Perkusi

Terdapat suara Redup pada daerah lobus atas, tengah dan bawah sisi

anterior dan posterior paru dextra.

5. Auskultasi

a. Suara Nafas

- Wheezing ( - )

- Ronchi (-)

b. Letak Sputum

Tidak terdapat sputum.

6. Pemeriksaan Fungsi Gerak Dasar (Sendi Bahu, Leher, Dada )

a. Gerak Aktif :

Tidak dilakukan karena berhubungan dengan kenyamanan pasien.

b. Gerak Pasif

Tidak dilakukan karena berhubungan dengan kenyamanan pasien.

c. Gerak Isometrik

Tidak dilakukan karena berhubungan dengan kenyamanan pasien.

32
7. Pemeriksaan Ekspansi Thoraks

Inspirasi Ekspirasi selisih Keterangan

Axilla 86 cm 83 cm 3 cm Tidak normal

ICS 4 83 cm 81 cm 2 cm Tidak normal

Proc.Xyphoideus 81 cm 79 cm 2 cm Tidak normal

8. Pemeriksaan Sesak Nafas

Pemeriksaan dilakukan menggunakan BORG Scale

Nilai 5 yaitu Sesak Berat.

9. Pemeriksaan Nyeri

Pemeriksaan dilakukan menggunakan VDS (Verbal Description Scale)

Nyeri Diam : 1 yaitu Tidak Nyeri

Nyeri Tekan : 5 yaitu Nyeri Cukup Berat

Nyeri Gerak : 6 yaitu Nyeri Berat

10. Pemeriksaan Spirometri

Terlampir

11. Pemeriksaan Panjang Otot (M. Pectoralir mayor dan minor,

M.SCM, M. Upper trapezius)

Include dengan Pemeriksaan Antropometri.

12. Pemeriksaan Kognitif, Intrapersonal, Interpersonal

Pemeriksaan Kognitif menggunakan Skala MMSE

Intrapersonal : Kemampuan pasien untuk sembuh tinggi dan selalu

menerima dengan ikhlas.

Interpersonal : Pasien dapat berkomunikasi dengan baik.

33
13. Pemeriksaan Kemampuan Fungsional (Pemeriksaan Toleransi

Aktivitas)

Pemeriksaan Kemampuan Fungsional menggunakn Functional

Independence Measure (FIM).

C. DIAGNOSA FISIOTERAPI

a. Impairment

- Batuk terus-menerus saat istirahat maupun aktivitas.

- Sesak nafas saat batuk.

- Nyeri dada saat sesak nafas.

- Penurunan volume paru.

b. Functional Limitation

Aktivitas sehari-hari menjadi terganggu karena batuk terus menerus,

sesak nafas dan nyeri dada saat melakukan aktivitas.

c. Disability

Pasien masih dirumah sakit dalam keadaan rawat inap.

D. PROGRAM / RENCANA FISIOTERAPI

1. Tujuan

a. Jangka Pendek

- Membantu mengembalikan pola nafas yang normal.

- Membantu meningkatkan volume paru.

- Membantu menurunkan beban kerja pernafasan.

- Membantu mengurangi spasme M. Upper Trapezius.

b. Jangka Panjang

- Melanjutkan jangka pendek.

34
- Meningkatkan kualitas hidup agar dapat kembali bekerja.

- Meningkatkan aktivitas fungsional agar mampu melakukan

aktivitas sehari-hari lebih mandiri.

2. Teknologi Intervensi

a. Teknologi Fisioterapi

Intervensi yang digunakan adalah Breathing Control, Breathing

Exercise meliputi Deep Breathing dan Diafraghmatic Breathing,

Mobilisasi Sangkar Thorak dan Infra Red.

b. Edukasi

- Edukasi untuk pasien berupa Breathing Control dan Breathing

Exercise untuk mengurangi sesak nafas, latihan Mobilisasi

Thorak untuk stretching otot-otot pernafasan dan sisi yang sakit

diganjal bantal ketika batuk untuk mengurangi sakit.

- Edukasi kepada keluarga untuk selalu mengingatkan pasien

melatih nafasnya dan mobilisasi thoraknya.

3. Rencana Evaluasi

Rencana evaluasi Pemeriksaan Ekspansi Thorax menggunakan

meter line, Pemeriksaan Sesak Nafas dengan Skala Borg dan

Pemeriksaan Nyeri dengan VDS (Verbal Description Scale) .

35
E. PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI

1. Hari : Sabtu Tgl : 30 Januari 2016

t : 36,5⁰C SOB : 6 VDS : 6

T1

a. Breathing Control

Bertujuan untuk :

- Membentuk pola nafas normal.

- Meminimalkan tenaga untuk bernafas.

- Menghilangkan nafas yang pendek dan cepat.

- Meningkatkan ventilasi.

Penatalaksanaan :

- Posisi pasien : Duduk

- Posisi Terapis : Disebelah pasien dengan salah satu tangan

diatas dada pasien mengikuti irama nafasnya.

- Pasien diinstruksikan untuk tarik nafas pelan dan teratur dan

rileks melalui hidung / mulut.

- Kemudian pelan dan gentle dihembuskan melalui mulut.

- Ekspirasi dilakukan secara pasif dan tidak memanajng.

- Hindari memakai otot-otot dada berlebihan.

b. Breathing Exercise

1) Deep Breathing

Bertujuan untuk meningkatkan volume paru, breathing control dan

pengeluaran mukosa setalah penatalaksanaan FOB.

36
Penatalaksanaan :

- Posisi pasien : Duduk

- Posisi Terapis : Disamping pasien

- Pasien diinstruksikan untuk tarik nafas dalam menggunakan

pernafasan dada melalui hidung dan dikeluarkan pelan-pelan

melalui mulut.

2) Diafraghmatic Breathing

Bertujuan untuk menurunkan beban kerja pernafasan dan

penggunaan berlebih pernafasan dada.

Penatalaksanaan :

- Posisi pasien : Duduk

- Posisi terapis : Disamping pasien dengan salah satu tangan

berada distas perut pasien.

- Pasien diinstruksikan untuk tarik nafas dari hidung dan

dikeluarkan melalui mulut.

- Saat inspirasi perutnya mengembng dan saat ekspirasi

perutnya mengempes.

- Saat menjelang inspirasi diberikan stretch reflex.

Breathing Exercise dilakukan 8x setiap kali latihan.

c. Mobilisasi Sangkar Thorak

Bertujuan untuk peningkatan ekpansi thorak, peningkatan

volume paru dan stretching otot-otot pernafasan.

Penatalaksanaan :

- Posisi pasien : Duduk

37
- Posisi terapis : Disamping pasien

- Pasien diinstruksikan untuk menggerakkan kedua

tangannya ke atas sambil tarik nafas menggunakan

pernafasan dada dan menurunkan tangannya ke bawah

sambil hembus nafas.

2. Hari : Senin Tgl : 1 Februari 2016

t : 35,9⁰C SOB : 5 VDS : 6

Penatalaksanaan yang dilakukan sama seperti hari sebelumnya yaitu

meliputi Breathing Control, Breathing Exercise (Deep Breathing,

Diafraghmatic Braething) dan Mobilisasi Sangkar Thorak.

3. Hari : Selasa Tgl : 2 Februari 2016

t : 36,5⁰C SOB : 5 VDS : 4

Penatalaksanaan yang dilakukan sama seperti hari sebelumnya yaitu

meliputi Breathing Control, Breathing Exercise (Deep Breathing,

Diafraghmatic Braething) dan Mobilisasi Sangkar Thorak serta

ditambahkan Infra Red.

Infra Red, bertujuan untuk rileksasi dan efek sedatif.

Penatalaksanaan :

- Posisi pasien : Duduk

- Posisi terapis : Dibelakang pasien

- Terapis mengatur jarak adan waktu penyinaran dan selalu

menanyakan kepada pasien untuk penyinaran apakah terlalu panas

atau tidak.

- Jarak penyinaran : 50 cm.

38
- Waktu pelaksanaan : 5 menit.

F. EVALUASI

a. Hasil pemeriksaan Sesak Nafas dengan BORG Scale

T0 T1 T2 T3

Sebelum Terapi 7 6 6 5

Setelah Terapi 7 6 5 4

b. Hasil Pemeriksaan Ekspansi Thorak dengan Meter Line

T0 T1 T2 T3

Ins Eks Ins Eks Ins Eks Ins Eks

Sebelum Axilla - - 86 84 85 83 85 83

Terapi ICS 4 - - 83 81 83 81 83 81

Proc.Xypoidius - - 81 79 80 78 81 79

Setelah Axilla - - 86 83 85 83 85 83,5

Terapi ICS 4 - - 83 81 83 81,5 83 81,5

Proc.Xypoidius - - 81 79 80 78,5 81 79,5

c. Hasil Pemeriksaan Nyeri dengan VDS

T0 T1 T2 T3

Nyeri Diam 3 3 2 2

Nyeri Tekan 5 5 4 3

Nyeri Gerak 6 6 5 4

39
G. Hasil Terapi Terakhir

Setelah dilakukan 3x terapi di dapatkan hasil bahwa sesak nafas

berkurang dari hasil skala borg nilai 7 menjadi nilai 4 yang artinya Sesak

Sedikit Berat. Selain itu nyeri pada dada berkurang dari hasil VDS pada

nyeri gerak nilai 6 menjadi nilai 4 yang artinya Nyeri tidak begitu berat.

Pada pemeriksaan ekspansi thorak juga terjadi peningkatan walaupun

tidak signifikan, yaitu :

a. Sebelum Terapi

Inspirasi Ekspirasi

- Axilla 85 83

- ICS 4 83 81

- Proc. Xypoidius 81 79

b. Setelah Terapi

Inspirasi Ekspirasi

- Axilla 85 83,5

- ICS 4 83 81,5

- Proc. Xypoidius 81 79,5

Hasil edukasi kepada pasien :

- Pasien dapat mengontrol ketika sesak nafas karena berlatih nafas

setiap hari.

- Pasien mampu mengatur pola hidup agar menjadi lebih baik.

40
H. UNDERLYING PROCESS

Gangguan Deposit/Infiltrasi Gangguan

beberapa sitokin sel kanker Metabisme

Diagnosis Medis

Efusi Pleura Dextra et causa Keganasan di Paru DD Metastasis

Diagnosa Fisioterapi

Efusi Pleura Maligna Dextra

Impairment Functional Limitation Disability

- Batuk saat istirahat - Ganguan Tidur - Pasien masih

maupun aktivitas - Kesulitan Toileting di rumah sakit

- Sesak nafas saat batuk secara mandiri dalam keadaan

- Penurunan volume paru - Kesulitan makan & berpakaian rawat inap.

Secara mandiri

PLF (Chest PT)

- Breathing Control

- Breathing Exercise

Deep Breathing

41
Diafraghmatic Breathing

- Mobilisasi Sangkar Thorak

- Infra Red

Hasil Evaluasi

- Peningkatan volume paru - Evaluasi dilakukan sebelum

- Penurunan beban kerja pernafasan & sesudah diberikan intervensi.

- Mengembalikan pola nafas yang normal Evaluasi yang dilakukan :

Derajat sesak, nyeri dan

ekspansi thorak.

42
BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Di depan penulis membahas infrared, breathing control, breathing

exercise (deep breathing dan diaphragma) dan mobilisasi sangkar thorax yang

diberikan pada pasien efusi pleura maligna. Terapi yang diberikan bertujuan untuk

mengatasi permasalahan yang ditimbulkan dari pasien berupa sesak nafas, nyeri

dada dan spasme pada otot upper trappezius. Pelaksanaan terapi akan membantu

kesembuhan dari pasien apabila dilakukan sesuai dengan prosedur pelaksanaan.

Pemberian terapi selama 3 kali perlakuan dengan melakukan infrared,

breathing control, breathing exercise (deep breathing dan diaphragma breathing)

dan mobilisasi sangkar thorax. Infrared (IR) dalam kasus ini dapat merileksasi

otot pernafasan serta otot upper trapezius yang mengalami spasme dan juga

memberikan efek sedatif dari pancaran sinar IR. Breathing control berfungsi

untuk membentuk pola nafas normal, meminimalkan tenaga untuk bernafas,

menghilangkan nafas yang pendek dan cepat, serta meningkatkan ventilasi.

Breathing exercise yang terdiri dari deep breathing exercise bertujuan untuk

meningkatkan volume paru dan diaphragma breathing bertujuan untuk

menurunkan beban kerja pernafasan. Sedangkan mobilisasi sangkar thorax

bertujuan untuk meningkatkan ekspansi thorax dan meningkatkan volume paru.

Dari terapi yang telah dilakukan didapatkan hasil penurunan derajat sesak

nafas, penurunan nyeri dada, peningkatan ekspansi thorax dan dari hasil

spirometri terakhir didapatkan hasil perbaikan fungsi paru.

43
Maka dapat disimpulakn bahwa dengan pemberian infra red, breathing

control, breathing exercise (deep breathing dan diaphragma exercise) akan

memberikan pengaruh terhadap kesembuhan pasien bila didukung oleh prosedur

pelaksanaan yang benar serta kerja sama antara terapis, pasien, dan keluarga

pasien.

B. Saran

Mengingat betapa pentingnya peran fisioterapi dalam penanganan untuk

penyakit efusi pleura maligna dengan modalitas infra red, breathing control,

breathing exercise (deep breathing dan diaphragma breathing) dan mobilisasi

sangkar thorax. Sebaiknya diberikan secara efektif agar mendapatkan hasil yang

optimal. Untuk mencapai hasi yang optimal, maka seorang terapis harus mampu

memberikan dosis terapi yang sesuai dengan kondisi pasien. Selain itu untuk

memperoleh kesembuhan yang optimal, perlu didukung dan peran serta

fisioterapis, pasien sendiri serta keluarganya. Karena tanpa ada kemauan yang

besar dari pasien serta dukungan keluarga, suatu kesembuhan sulit untuk dicapai.

Selain memberikan intervensi kepada pasien, fisioterapis sebaiknya juga

memberikan edukasi kepada pasien yaitu disarankan melakukan latihan yang telah

diajarkan fisioterapis secara rutin baik di rumah sakit maupun di rumah.

Sedangkan saran untuk keluarga pasien, keluarga pasien diharapkan untuk terus

memberi dukungan atau motivasi kepada pasien untuk melakukan latihan yang

telah diajarkan terapis di rumah dan selalu memberi motivasi kepada pasien.

44
DAFTAR PUSTAKA

Kisner, C. 2007. Therapeutik Exercise Foundational and Technique: five edition.

Phyladelpia : F.A Davies Company,

Leelarungrayub, D. 2012. Chest Mobilization Techniques for Improving

Ventilation and Gas Exchange in Chronic Lung Disease; Faculty of

Associated Medical Sciences. Thailand : ChiangMai Univercity

Pratama, Bayu. Efusi Pleura Ganas

Pryor, J. A., Webber, B. A. 1999. Physiotherapy for Respiratory and Cardiac

Problems: Second Edition, Churchil Livingston. London

Snell, R. S. 2012. Anatomi Klinis Berdasarkan Regio: Buku Kedokteran EGC.

Jakarta

Subagyo, Ahmad. 2013. Efusi Pleura Ganas

Syahruddin, Elisna, Ahmad Hudoyo dan Nirwan Arief. Efusi Pleura Ganas pada

Kanker Paru. Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi

Fakultas Kedokteran. Jakarta : Universitas Indonesia

45