Anda di halaman 1dari 16

7 Unsur Kebudayaan Nias

O
L
E
H

Ismail Al Faruqi
Lidya Purnama Sari
Zuhri Abdul Hadi

T.P. 2015 – 2016


Pendahuluan
A. Latar Belakang
Pulau Nias, terletak di Provinsi Sumatra Utara, merupakan
salah satu pulau yang di dalamnya berkembang salah satu
kebudayaan Nusantara bernama suku nias dan orang nias
menyebut dirinya Ono Niha (anak manusia). Yang menidiami
Kabupaten Nias, yang meliputi pulau nias dan beberapa pulau-
pulau kecil disekitarnya seperti pulau Hinako di barat, Pulau
Senau dan Lafau di utara, dan Pulau Batu di selatan pualu nias.
Kebudayaan orang Nias berlandaskan kebudayaan megalitik yang
telah mereka bawa dari Benua Asia pada jaman perunggu
kemudian dikembangkan sendiri menjadi kebudayaan megalitik
yang bukan berdasarkan adat pengurbanan kerbau, melainkan
pengurbanan babi.

B. Rumusan Masalah
1. Sistem mata pencaharian suku nias ?
2. Sistem religi suku nias ?
3. Sistem teknologi suku nias ?
4. Bahasa suku nias ?
5. Sistem pengetahuan suku nias ?
6. Sistem kelompok organisasi suku nias ?
7. kebudayaan dan kesenian suku nias ?

C. Tujuan
Untuk mengetahui unsur kebudayaan suku nias dan enambah wawasan
tentang kebudayaan di Indonesia.
Pembahasan
A. Sistem Mata Pencaharian Suku Nias
Mata pencaharian pokok bagi penduduk Nias yang berdiam di daerah
pantai adalah dengan berkebun kelapa, sedangkan yang di daerah pedalaman
bercocok tanam dalam bentuk peladangan. Cara pengolahan dan peralatannya
masih sederhana, mereka belum mengenal bajak dan sistem irigasi.
Jenis tanamannya adalah padi, palawija, pisang dan sayuran. Ladang yang
sudah tandus digunakan untuk memelihara babi, kambing, sapi dan kerbau. Mata
pencaharian tambahan adalah berburu, menangkap ikan, beternak dan
pertukangan.
Hasil pertukangan suku Nias sudah mencapai taraf yang tinggi sejak zaman
prehistori, antara lain ; membuat berbagai peralatan dan senjata dari besi, barang
perhiasan dari emas, perabot rumah dari kayu, seni pahat batu, ukir dan
sebagainya.

B. Sistem Religi Suku Nias


Agama yang banyak dianut oleh penduduk dewasa ini adalah Kristen
Protestan, yang lain juga ada misalnya Islam, Katolik, Buddha dan agama aslinya
yang disebut Pelebegu (penyembah roh). Para penganut Pelebegu menyebut
agama molehe adu.
Sifat agama ini adalah menyembah adu (roh para leluhur). Adu adalah
patung dari kayu yang menjadi tempat bersemayamnya roh-roh leluhurnya.
Patung yang telah ditempati roh leluhur disebut adu satua dan harus dirawat
dengan baik.

C. Sistem Teknologi Suku Nias


Orang Nias yang berkebudayaan megalitik sudah mengenal
teknologi mengenai pertukangan logam sejak zaman prasejarah.
Misalnya, pandai membuat jenis-jenis pedang dan golok perang
yang disebut seno gari dan telogu. Dari segi ketajaman,
keampuahan, dan keindahan bentuk, senjata-senjata tajam
buatan Nias tidak kalah dengan mandau yang dibuat oleh Dayak

Orang Nias juga memiliki keahlian dan keterlampilan dalam


seni membangun pemukiman, seni ukir, dan seni tari sangat khas.
Keahlian orang Nias yang khas ini diwariskan secara turun temurun
sehingga keasliannya masih dapat dipertakankan. Namun adanya
pergeseran niali akibat pengaruh budaya luan membuat keakhlian
khas yang dimiliki orang Nias tidak begitu berkembang terutama
dalam seni membuat perkakas atau ornament-ornamen dalam
keperluan rumah tangga.

Industri yang berkembang di Nias berupa kerajinan rumah


seperti : kerajinan anyaman, topi, tikar, karung dan bagian-bagian
ornament untuk bagian-bagian rumah. Industri lainnya berupa
industri perkakas logam seperti pedang, tombak, golok dan
cangkul.

D. Bahasa Suku Nias


Bahasa yang sering digunakan suku nias adalah Bahasa nias. Berikut contoh
Bahasa nias.
Hadia duria : apa kabar?
Hana ndraugo/hana yaugo? : kamu kenapa?
Yaahowu zi bongi : selamat malam
Ya’ahowu zi maokho : selamat siang
Ya’ahowu zimoluo : sapaan pagi
Ama : bapak/ayah
Ina : ibu/mama
Yaita : kita
Yaira : mereka
tenga : bukan

E. Sistem Pengetahuan Suku Nias


Sistem Pengetahuan yang dimiliki suku Nias sudah cukup
berkembang. Diantaranya mereka mengetahui akan kesadaran
waktu di dalam kehidupan. Suku Nias juga memiliki ahli astrologi
yang dikenal sebagai orang Boronadu atau Sibihasa. Orang ini
memberikan keterangan musim tanam atau tunai telah tiba dalam
pertanian. Waktu dalam suku bangsa Nias di kenal sebagai suatu
pengertian yang ada hubunganya dengan bintang tertentu yang
disebut madala. Madala selain menunjukkan nama bintang, juga
memberikan pengertian tentang pembagian waktu. Madala fajar
menunjukkan waktu fajar menyingsing, madala laluwo
menunjukkan waktu tengah hari, dan madala tanobi menunjukkan
waktu matahari tenggelam.

Waktu dalam hari dalam hari dihubungkan dengan posisi


peredaran matahari. Ahulo menunjukkan waktu matahari terbit.
Laluo menunjukkan waktu matahari tepat diatas (siang hari),
Mamoka dodoga’i menunjukkan waktu kulit jantung pisang
terkelupas (kira – kira pukul 02.00 sampai pukul 03.00 siang hari).
Moliriri atau molili rago menunjukkan waktu sore ketika binatang
tonggeret berbunyi. Tano Owi yang menunjukkan waktu
menjelang malam atau petang hari.

Mereka juga menggunakan pengetahuan waktu dalam


perkembangan untuk mempermudah hidup. Diantaranya pada
bidang pertanian yaitu untuk mengetahui musim tanam dan
panen. Ketika musim tanam padi di tandai apabila bintang madala
sifelejara tepat di tengah bumi pada waktu malam hari, dan apabila
kedudukannya berada di tempat matahari terbit, hal itu
menunjukkan bahwa musim menuai telah tiba.

Selain mengetahui pentingnya kesadaran akan waktu, orang


Nias juga memiliki pengetahuan mengenai pengecoran perunggu,
pandai emas, seni pahat batu dan ukiran kayu juga telah dimiliki
orang Nias sejak lama yang diwariskan secara turun temurun.

Selain itu orang Nias juga menyadari akan pentingnya


pendidikan untuk anak-anak mereka. Menurut data yang diperoleh
Jumlah anak yang bersekolah di beberapa kecamatan di Nias
mencapai sekitar 396 orang atau sekitar 70% dari usia sekolah.

F. Sistem Kelompok Organisasi Suku Nias


Sistem kekarabatan di Nias adalah patrilineal, dengan adat menetap setelah
nikah yang virilokal, sehingga keluarga batih merupakan keluarga luas virilokal
(extended familiy) yang disebut sangambato sebua.
Gabungan dari sangambato sebua dari suatu leluhur disebut mado atau
gana. Mado dapat kita samakan dengan marga bagi suku Batak, yakni klen besar
yang patrilineal.
Fungsi mado adalah untuk mengurus pembatasan jodoh dalam perkawinan
yang beradat exogami-mado.
Dalam perkawinan pihak pria harus memberikan mas kawin, biasanya
berupa 100 ekor babi. Bagi yang tidak mampu membayar mas kawin, calon suami
harus mengabdi kepada calon mertuanya sampai beberapa bulan (kawin kerja).
Di Nias juga berlaku adat perkawinan levirat (jika suami mati, si janda kawin
dengan saudara suaminya).
Mengenai sistem kemasyarakatan, sebelum Belanda datang tahun 1669,
orang Nias terpecah-pecah menjadi beberapa kesatuan setempat yang otonom
yang disebut ori (negeri). Tiap-tiap ori merupakan gabungan dari beberapa banua
(desa), dan tiap banua dihuni oleh bagian-bagian dari beberapa mado. Tiap ori
dikepalai oleh seorang Tuhenori (kepala ori) dan tiap banua dikepalai oleh
seorang salawa (kepala desa).
Pada zaman Belanda, semua ori di Nias dan sekitarnya dipersatukan
menjadi Afdeeling Nias, yang dikepalai oleh seorang Assisten resident. Setelah
merdeka, Afdeeling Nias dijadikan salah satu kabupaten dari propinsi Sumatera
Utara.
Pada jaman dahulu masyarakat Suku Nias mengenal 4 lapisan, yaitu :
1. Siulu (bangsawan)
2. Ere (pemuka agama palebegu)
3. Ono mbanus (rakyat jelata)
4. Sawuyu (budak)
Lapisan Siulu dibedakan menjadi 2, yaitu balo ziulu (yang memerintah) dan
siulu (bangsawan kebanyakan. Ono mbanua juga dibagi menjadi 2, yaitu siila
(cerdik pandai dan pemuka rakyat) dan sato (rakyat kebanyakan).
Sawuyu dibagi menjadi 3 bagian, yaitu binu (budak karena kalah
perang/diculik), sondrara hare (budak karena tak dapat membayar hutang) dan
holito (budak karena ditebus orang setelah dijatuhi hukuman mati). Lapisan
masyarakat itu bersifat exlusif, dan mobilitas hanya terjadi dalam lapisan antar
golongan saja.

Dalam kebudayaan Nias asli juga mengenal pengerahan tenaga untuk kerja
bakti yang disebut halowo sato. Hal ini dilaksanakan setelah diadakan
musyawarah oleh wakil-wakil siulu dan siila. Untuk pengendalian sosial adalah
hukum adat. Orang yang melanggar hukum adat pada umumnya dikenakan sangsi
denda dan kutukan lekas mati. Denda itu biasanya berupa babi, emas atau uang.
Marga dalam suku Nias :
1 AMAZIHÖNÖ
2 BAEHA
3 BAENE
4 BAGO
5 BALI
6 BATE’E
7 BAWAMENEWI
8 BAZIKHO
9 BIDAYA
10 BOHALIMA
11 BU’ULÖLÖ
12 BUAYA
13 BULUARO
14 DACHI
15 DAELI
16 DAO
17 DAWÖLÖ
18 DAYA
19 DOHARE
20 DOHÖNA
21 DOHUDE
22 DUHA
23 FANAETU
24 FAU
25 GAHO
26 GARI
27 GAURIFA
28 GE’E
29 GEA
30 GIAWA
31 GÖRI
32 GOWASA
33 GULÖ
34 HALAWA
35 HALU
36 HAO
37 HAREFA
38 HARIA
39 HARITA
40 HAWA
41 HIA
42 HONDRÖ
43 HULU
44 HUMENDRU
45 HURA
46 LAFAU
47 LAHAGU
48 LAHÖMI
49 LAIA
50 LAOLI
51 LAOWÖ
52 LAROSA
53 LASE
54 LATURE
55 LAWÖLÖ
56 LÖ’I
57 LÖMBU
58 LUAHA
59 MADUWU
60 MANAÖ
61 MARU LAFAU
62 MARUAO
63 MARUHAWA
64 MARUNDURI
65 MENDRÖFA
66 MOHO
67 NAKHE
68 NAMO
69 NAZARA
70 NDRAHA
71 NDRURU
72 NEHE
73 SADAWA
74 SARUMAHA
75 SIHURA
76 SILOTO
77 SO’IAGÖ
78 TAFÖNA’Ö
79 TALUNOHI
80 TELAUMBANUA
81 WA’Ö
82 WA’U
83 WAOMA
84 WARASI
85 WARUWU
86 WAYA
87 ZAGÖTÖ
88 ZAI
89 ZALÖGÖ
90 ZALUKHU
91 ZAMASI
92 ZANDROTO
93 ZEBUA
94 ZEGA
95 ZENDRATÖ
96 ZIDÖMI
97 ZIHÖNÖ
98 ZILIWA
99 ZILIWU

G. Kesenian Suku Nias


Dalam kebudayaan Nias, tarian tradisional meruapakan hal penting dan masih ada
sampai sekarang adalah sebagai berikut :
- Maluaya
- Maena
- Forgaile
- Foere
- Foluaufaulu
- Famadaya Hasijimate
- Mandau Lumelume
- Manaho
- Taru Tuwa
- Fadabu
- Silat Nias
- Fatabo
- Doli-doli
- Garamba
- Faritia
- Fondrahi
Rumah adat nias yang disebut Omo hada

Merupakan tempat kediaman para Tuhenori, Salawa dan para bangsawan. Di


muka rumah biasanya terdapat bangunan-bangunan megalithik, misalnya tugu
batu (menhir) yang disebut saita gari, atau behu, atau gowe zalava.

Di dalam rumah seringkali dijumpai tempat duduk dari batu yang disebut daro-
daro atau harefa. Bangunan ini menunjukkan bahwa pemiliknya pernah
mengadakan pesta adat yang mewah.
Seni Patung dan Kerajinan Tangan

Kedua kegiatan ini dilakukan umumnya mengambil tempat di mbele-mbele


atau emper depan rumah adat. Kegiatan ornamen, untuk mengisi bagian
penting rumah., sebagai pencerminan penghormatan kepada nenek moyang.
Pada megalith tersebut dipahat berbagai ukiran sehingga menjadi ornamen
yang merupakan simbol-simbol.
Contoh-contoh pahatan Nias :

Tradisi Lompat Batu


Melompat batu ‘fahombo batu‘ telah menjadi salah satu ciri khas masyarakat
Nias. Banyak orang luar yang mengingat atau membayangkan Nias dengan
lompat batu, sehingga ada juga yang mengira bahwa semua orang Nias
mampu melompat batu yang disusun hingga mencapai ketinggian 2 m
dengan ketebalan mencapai 40 cm.

Lompat batu awalnya merupakan tradisi masyarakat Nias Selatan,


khususnya Teluk dalam. Tradisi ini tidak biasa dilakukan oleh masyarakat
Nias di wilayah lain, dan hanya kaum laki-laki yang melakukannya. Hal ini
juga telah menjadi indikasi perbedaan budaya nenek moyang atau lelehur
masyarakat Nias. Yang harus diketahui lagi, tidak pernah ada perempuan
Nias yang melompat batu.

Pada mulanya melompat batu, tidaklah seperti yang kita saksikan sekarang.
Baik fungsi maupun cara penguasaannya. Dahulu melompat merupakan
kombinasi olah raga dan permainan rakyat yang gratis, bukan tradisi
komersial. manfaat lompat batu bagi orang Nias adalah sebagai uji kekuatan
dan ketangkasan.Melompat batu merupakan sarana dan proses untuk
menujukkan kekuatan dan ketangkasan para pemuda, sehingga memiliki
jiwa heroik yang prestisius. Dan juga dianggap sebagai suatu bentuk
Kedewasaan dan Kematangan Fisik.Melihat kemampuan seorang pemuda
yang dapat melompat batu dengan sempurna, maka ia dianggap telah
dewasa dan matang secara fisik. Karena itu hak dan kewajiban sosialnya
sebagai orang dewasa sudah bisa dijalankan.

Atraksi Pariwisata

Sekarang ini, sisa dari tradisi lama itu, telah menjadi atraksi pariwisata yang
spektakuler, tiada duanya di dunia. Berbagai aksi dan gaya para pelompat
ketika sedang mengudara. Ada yang berani menarik pedang, dan ada juga
yang menjepit pedangnya dengan gigi. Para wisatawan tidak puas rasanya
kalau belum menyaksikan atraksi ini. Itu juga makanya, para pemuda desa
di daerah tujuan wisata telah menjadikan kegiatan dan tradisi ini menjadi
aktivitas komersial.

Tradisi lompat batu juga telah menjadi atraksi pariwisata yang spektakuler
dan mampu membuat Nias dikenal oleh suku bangsa lain. Namun
kelihatannya sekarang sudah kurang digemari oleh generasi baru karena
tingkat kesulitan untuk menguasainya.

Kesimpulan
Suku Nias merupakan sealah satu suku di Indonesia yang mempunya
kebudayaan yang masih terjaga. Mereka dapat memlihara kebudayan
aslinya yang diturunkan oleh nenek moyangnya sejak ratusan tahun yang
lalu. Meskipun saat ini mereka juga sangat terbuka terhadap perkembangan
zaman globalisasi dan dapat menyatukan kebudayaan luar terhadap
kebudayaan aslinya tanpa menghilangkan kebudayaan yang asli.

Salah satunya adalah tradisi lompat batu. Tradisi ini sudah lama di
miliki oleh orang Nias, namun sampai sekarang mereka tetap
mempertahankan tradisi tersebut. Dan tradisi Lompat batu ini menjadi salah
satu obyek wisata yang terkenal di Indonesia. Pulau Nias juga bisa lebih
dikenal karena tradisi lompat batu ini.

Terhadap pendatang, masyarakat Nias sangat ramah, terbuka dan


selalu berusaha untuk menjelaskan tentang hal-hal yang dioertanyakan oleh
si pendatang. Masyarakat Nias juga terbuka terhadapkritik dan saran yang
diberikan terhadap perubahan yang lebih baik demi perbaikan sukunya.

Penutup
Suku Nias merupakan sealah satu suku di Indonesia yang mempunya
kebudayaan yang masih terjaga. Mereka dapat memlihara kebudayan
aslinya yang diturunkan oleh nenek moyangnya sejak ratusan tahun yang
lalu. Meskipun saat ini mereka juga sangat terbuka terhadap perkembangan
zaman globalisasi dan dapat menyatukan kebudayaan luar terhadap
kebudayaan aslinya tanpa menghilangkan kebudayaan yang asli.

Salah satunya adalah tradisi lompat batu. Tradisi ini sudah lama di
miliki oleh orang Nias, namun sampai sekarang mereka tetap
mempertahankan tradisi tersebut. Dan tradisi Lompat batu ini menjadi salah
satu obyek wisata yang terkenal di Indonesia. Pulau Nias juga bisa lebih
dikenal karena tradisi lompat batu ini.

Terhadap pendatang, masyarakat Nias sangat ramah, terbuka dan


selalu berusaha untuk menjelaskan tentang hal-hal yang dioertanyakan oleh
si pendatang. Masyarakat Nias juga terbuka terhadapkritik dan saran yang
diberikan terhadap perubahan yang lebih baik demi perbaikan sukunya.