Anda di halaman 1dari 4

KERACUNAN PARASETAMOL

• Merupakan kasus overdosis obat yang paling sering di negara-negara maju dan
berkembang, dimana pada dosis 7,5 gr(15 tablet @ 500mg) secara empiris sudah
mencapai ambang terjadinya intoksikasi.
• Efek toksis sudah dapat terjadi bila seorang dewasa menelan >150mg/kg BB atau
7,5g (15 tablet @ 500mg)
• Efek toksis dapat terjadi pada dosis yang lebih rendah pada pasien yang
mengalami gangguan fungsi hati, bersamaan minum obat antikonvulsi atau pasien
anoreksia yang mengalami kekurangan glutation.
• Pada kasus2 seperti di atas, pakailah garis pengobatan resiko tinggi pada
tabel/normogram Rumack-Matthew dibanding garis normal pengobatan.
• Pedoman penanganan berdasarkan normogram Rumack-Matthew hanya
bermanfaat dalam menentukan kebutuhan dosis antidote N-acetylcystein
(Parvolex) hanya pada intoksikasi tunggal dan akut.
• N-acetylcystein (NAC) paling efektif diberikan dalam waktu 8 jam pertama
setelah menelan. Kadang masih di berikan pada 24 jam pertama, bila dari
anamnesis diperoleh data overdosis yang signifikan dan pemeriksaan serum
parasetamol tidak tersedia.
• Pedoman filosofi dalam managemen intoksikasi parasetamol adalah “bila ragu/
tidak jelas, berikan NAC”.
• Pasien dengan overdosis parasetamol sering tampak baik2 saja pada tahap awal,
biasanya hanya mengeluh mual2 dan muntah.
• Jangan merangsang penderita untuk muntah sebelum mengirim ke IRD.

Tahap-tahap keracunan parasetamol:


• Tahap I (<24 jam I): sakit pada abdomen, nafsu makan menurun, mual dan
muntah.Pada pemeriksaan fisik sering hanya ditemukan pucat dan berkeringat.
• Tahap II (24-48 jam I): gejala yang muncul pada tahap 1 hilang,pada
pemeriksaan fisik hepar membesar dan nyeri tekan.Hasil laboratorium: serum
bilirubin meningkat,enzim hepar meningkat dan PT memanjang, dan fungsi ginjal
dapat tidak normal.
• Tahap III (72-96 jamI):gejala pada tahap II menetap,didapatkan ikterus,enzim
hati mencapai kadar tertingginya,dan gagal hati dan gagal ginjal (jarang) dapat
terjadi dan mematikan.
• Tahap IV ( hari ke-4 s/d mgg ke-2): bila penderita datang terlambat atau tidak
segera medapatkan pengobatan,keadaan gangguan fungsi hati memberat menjadi
gagal hati,coma dan kematian.
Penatalaksanaan:
• Penderita intoksikasi parasetamol harus dirawat di ruang intermediate, juga bias
di pindah diruang kritis bila terjadi hemodinamik tidak stabil atau depresi status
mental.
• Depresi status mental harus dicari kemungkinan penderita intoksikasi obat lain
yang ditelan secara bersamaan.
• Intoksikasi obat secara tunggal sangat tidak biasa.

• Pertahankan jalan nafas, pasang intubasi orotrakeal tube jika terjadi penurunan
refleks muntah (antisipasi kumbah lambung atau pemberian karbon aktif atau
keduanya)

• Berikan oksigen bila SpO2 turun.

• Monitoring : EKG, tanda vital tiap 15 menit, pasang pulse oksimetry.

• Pasang infuse, dan rehidrasi dengan kristaloid bila dehidrasi/hipovolume.

• Lakukan kumbah lambung bila kejadian menelan obat terjadi dalam 1 jam
pertama dan ambil cairan lambung untuk pemeriksaan toksikologi.

• Studi terakhir pemasangan NGT tidak harus dilakukan,kecuali benar dipastikan


bahwa penderita menelan parasetamol dalam dosis toksis dan datang ke IRD pada
jam pertama.

• Beberapa peneliti mengatakan NGT baru dipasang bila akan dilakukan kumbah
lambung.

Laboratorium:

1. Darah lengkap, Ureum/Elektrolit/Kreatinin, fungsi hati, PT.


Catatan: ALT >5.000 IU/L menyokong suatu kondisi hepatotoksik akibat intiksikasi
parasetamol karena kadar setinggi ini sangat jarang akibat infeksi virus.
Dari EBM hanya pengukuran serum parasetamol yang dibutuhkan untuk penderita yang
overdosis parasetamol yang tidak menunjukkan tanda2 hepatotoksik.

2. Pengukuran kadar parasetamol(diharuskan).


3. Bila dosis parasetamol masuk dalam rentang dosis toksis pada normogram
Rumack-Mattew, maka NAC harus segera diberikan.
4. keputusan yang lebih bijaksana adalah berdasarkan hasil pemeriksaan kadar
serum parasetamol pada 4 jam setelah menelan.
Karena pemberian NAC tidak diindikasikan waktu kurang dari 4 jam pertama
setelah menelan.
Pengobatan dengan obat:
• Karbon aktif: pemberiannya lewat NGT.
• Dosis: 1g/kg BB (dosis rata2 orang Asia 50 g)
Catatan: pemberian karbon aktif hanya berguna pada jam pertama dan dosis multiple
tidak berguna.

• N-acetylcysteine (Parvolex), berikan jika:


1. Kadar parasetamol setelah 4 jam pertama berada pada rentang dosis toksik pada
normogram Rumack-Mattew .
2. Kadar parasetamol inisial sudah berada pada rentang dosis toksik.
3. Pada anamnesis didapatkan data pasti bahwa penderita telah menelan parasetamol
lebih dari 15 tablet (7,5g). Jangan menunggu menunggu hasil pengukuran ulang,
tapi specimen tetap harus dikirim untuk monitoring kadar parasetamol di
ruangan.
4. Hasil pemeriksaan fungsi liver menunjukkan keadaan hepatotoksik.NAC harus
diberikan pada penderita yang mengalami gagal hati sampai membaik atau mati.

N-Acetylcystein IV Infusion
Dosis pada orang dewasa:
• Dosis inisial: 150mg/kgBB iv selama 15 menit, dilanjutkan infuse secara kontinyu
(50mg/kgBB dalam 500mL 5% dextrose dalam 4 jam), dilanjutkan infuse secara
kontinyu(100mg/kgBB dalam 1L D5% selama 16 jam).
• Dosis total: 300mg/kg dalam 20 jam.

Mekanisme kerja dari NAC(Parvolex):


• Pemakaian normal parasetamol menyebabkan konversi parasetamol oleh enzim
cytokrom P-450 menjadi metabolit toksik yang akan didetoksifikasi oleh
glutathione di hepar.
• Overdosis parasetamol akut,menyebabkan deplesi depo dari glutathione dan
metabolit toksik menyebabkan nekrosis sentrilobuler pada hepar.
• Sedangkan kerja NAC adalah kompleks, dan multifaktorial.Dapat disimpulkan
NAC berfungsi sebagai/menggantikan glutathione.

Efek samping NAC sering muncul pada jam pertama pemberian:


• Mual,flushing,urtikaria, dan pruritus adalah keluhan/gejala yang paling sering
muncul.Bila muncul gejala diatas, maka infuse NAC harus dihentikan selama 15
menit dan mulai lagi dari awal dengan dosis yang lebih rendah(100 mg
NAC/kgBB dalam 1L D5% selama 16 jam).