Anda di halaman 1dari 5

CRITICAL REVIEW

Judul : IMPACT OF GOOD CORPORATE GOVERNANCE IN


CORPORATE PERFORMANCE
Jurnal : International Journal of Management and Applied Science,
ISSN: 2394-7926
Volume dan halaman : Volume-1, Issue-9, Oct.-2015
Penulis : MARIA INEZ SANCHIA, TUNTUN SALAMANTUN ZEN,
SE.,M.Si.,Ak

1. Ringkasan Artikel
Pendahuluan
Pada pertengahan 1997 konsep GCG mulai banyak didiskusikan di Asia, termasuk Indonesia.
Indonesia ekonomi mengalami perlambatan pertumbuhan. Tidak hanya Krisis Politik dan Sosial,
tetapi juga dihadapi Indonesia Krisis ekonomi dan keuangan, yang membuat perusahaan tidak
mampu membayar hutang kepada bank dan obligasi di mata uang asing. Nilai-nilai perusahaan
miliki menurun ketika mereka tidak mampu mengatasi krisis dan dapat membayar hutang. Sebagai
dampak dari krisis, banyak perusahaan tidak dapat bertahan dan akhirnya ambruk. Kesuksesan
yang sudah diraih tidak dibangun berdasarkan fondasi yang kuat prinsip tata kelola perusahaan
yang baik salah satu alasan mengapa perusahaan gagal dalam menghadap krisis.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis dampak tata kelola perusahaan yang baik
terhadap kinerja suatu perusahaan. Penelitian ini menggunakan perusahaan yang terdaftar di Bursa
Efek Indonesia dan perusahaan yang berpartisipasi dalam The Indonesian Institute Corporate
Governance (IICG) periode 2009-2012 berturut-turut sebagai sampel. Uji Analisis Data Panel
dilakukan untuk menunjukkan hubungannya. Berdasarkan analisis dan uji hipotesis, dapat
disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan dari implementasi Good Corporate
Governance dalam Corporate Governance Perception Index (CGPI): Self-assessment, dokumen,
makalah dan observasi terhadap kinerja perusahaan yang diukur dengan EVA
Kajian Pustaka
Good Corperate Governance (GCG)
Secara umum, Good Corporate Governance (GCG) adalah sistem untuk mengendalikan dan
mengatur perusahaan, yang dapat dilihat dari mekanisme hubungan antar semua pihak yang terkait
dengan perusahaan. Terdapat lima prinsip dasar yaitu: transparency, accountability,
responsibility,independency, dan fairness.
Menyadari hal ini, Keputusan Menteri tentang Implementasi Badan Usaha Milik Sendiri (BUMN)
atau “SuratKeputusan Menteri BUMN No. Kep-117 / MMBU / 2002” tentang praktik Tata Kelola
Perusahaan yang Baik di Perusahaan Lain dan telah ditingkatkan dengan “Peraturan Menteri
Negara BUMN Nomor : PER - 01 / MBU / 2011 ”tentang Implementasi Tata Kelola Perusahaan
yang Baik di Perusahaan Lain. Disampaikan bahwa setiap BUMN harus menerapkan GCG secara
konsisten dan atau menjadikan GCG sebagai basis operasional, yang pada dasarnya bertujuan
untuk meningkatkan kesuksesan bisnis dan akuntabilitas perusahaan untuk mencapai perhatian
pemegang saham dan pemangku kepentingan, berdasarkan nilai etika dan hukum.
Economic Value Added
Joel Stern dan G. Bennett Steward III mengembangkan Economic ValueAdded (EVA) pada tahun
1982. Stern menyatakan bahwa "EVA tidak hanya digunakan untuk mengukur kinerja perusahaan
tetapi juga sistem manajemen yang terdiri dari kebijakan keuangan, prosedur, metode dan
pengukuran yang memandu operasi sebuah perusahaan dan strategi ”(Mouritsen, 1998).
Steward, sebagai pendiri dan CEO evadimensions.com menyatakan bahwa “Nilai tambah
ekonomis atau keuntungan ekonomi adalah cara khusus untuk mengukur laba yang lebih baik dari
yang lain. Ini mengukur "keuntungan ekonomi" dibandingkan dengan laba akuntansi. Ini diukur
setelah dikurangi “kesempatan” penuh biaya semua modal yang diinvestasikan dalam aset bisnis.
Itu tidak mengukur laba sampai semua investor, termasuk pemegang saham, telah mendapatkan
pengembalian minimum untuk menanggung risiko. EVA, singkatnya, mengubah neraca menjadi
beban lain untuk penghasilan, sama seperti harga pokok penjualan. ” Dari pernyataan di atas, dapat
dikatakan bahwa EVA digunakan sebagai pengukuran kinerja yang berfokus pada penciptaan nilai.
Menggunakan EVA disebabkan manajemen untuk meningkatkan tanggung jawab mereka untuk
meningkatkan nilai pemegang saham. Menilai kinerja perusahaan menggunakan EVA
menyebabkan tujuan penyesuaian manajemen dengan kepentingan pemegang saham. Manajemen
akan memilih investasi yang memaksimalkan pengembalian dan meminimalkan biaya modal
sehingga nilai perusahaan akan meningkat secara otomatis. EVA dapat dianggap sebagai ukuran
keberhasilan perusahaan (kinerja perusahaan) karena diatur dengan persyaratan maksimalisasi
kekayaan pemegang saham.
Theoretical Framework

Kesimpulan
Dalam setiap perusahaan memiliki keinginan untuk mencapai keberhasilan dan kesuksesan. Tidak
cuma jangka pendek¸ bahkan jangka panjang. Untuk mencapai keberhasilan tersebut, perlu adanya
pelaksanaan GCG (Good Corporate Governance) yang dilandasi oleh integritas yang tinggi.
Perusahaan merupakan pedoman perilaku yang menjadi acuan bagi organ perusahaan dan semua
pegawai dalam menerapkan nilai – nilai perusahaan serta membantu mereka untuk memecahkan
dilemma etika yang mereka hadapi dalam melaksanakan kegiatan bisnis. Hasil dari penelitian ini
menunjukkan bahwa penerapan GCG tidak berdampak pada perusahaan kinerja yang diukur
dengan EVA. Banyak perusahaan yang masih menerapkan prinsip GCG hanya karena dorongan
regulasi. Prinsip-prinsip GCG belum menjadi kultur dalam perusahaan dan belum dimanfaatkan
hingga pada tingkat penunjang kinerja perusahaan secara signifikan dan dalam menilai kinerja
perusahaan. Sistem birokrasi dan penegakan hukum yang masih sangat buruk di Indonesia, serta
pemberantasan korupsi yang lemah semakin mendukung kurangnya keseriusan perusahaan
perusahaan di Indonesia dalam menerapkan Good Corporate Governance.
Disadari atau tidak, penerapan Good Corporate Governancedalam implementasi etika dalam bisnis
memiliki peran yang sangat besar. Pada intinya etika bisnis bukan lagi merupakan suatu kewajiban
yang harus dilakukan oleh pelaku bisnis tetapi menjadi suatu kebutuhan yang harus terpenuhi.
Salah satu contohnya pada prinsip-prinsip GCG mencerminkan etika bisnis yang dapat memenuhi
keinginan seluruh stakeholdernya. Etika bisnis yang baik dan sehat menjadi kunci bagi suatu
perusahaan untuk membuatnya tetap berdiri kokoh dan tahan terhadap segala macam serangan
ketidakstabilan ekonomi.
2. Kekuatan dan Kelemahan artikel
Kekuatan
a. Latar Belakang
Peneliti telah memaparkan secara jelas latar belakang alasan peneliti melakukan penelitian,
yaitu menganalisis dampak tata kelola perusahaan yang baik terhadap kinerja suatu
perusahaan.
b. Dasar Teori
Pemaparan mengenai kerangka pemikiran dijelaskan dengan baik dalam menggambarkan
hubungan antar variable-variabel yang digunakan, teori-teori yang disajikan mengandung
prinsip etika.
c. Data dan metodologi
Uraian mengenai populasi dan sampel serta teknik analisis datanya dijelaskan dengan tepat.
d. Pembahasan
Penjelasan yang singkat menghasilkan Interpretasi yang tepat terkait hasil pengujian
hipotesis. Konsep GCG pun berhubungan dengan prinsip etika bisnis.
e. Kesimpulan
Simpulan dipaparkan secara singkat dan jelas
Kelemahan
a. Latar belakang
Tidak menjelaskan mengenai fenomena yang terjadi pada perusahaan (subjek) yang diteliti
b. Dasar teori
Teori yang dikemukan masih kurang variasi, masih sangat baku, tidak menggunakan teori-
teori terbaru.
c. Data dan metodologi
Tidak terdapat uraian mengenai definisi dan operasional variabel yang jelas. Kurangnya
sampel yang digunakan. Kurangnya jumlah sampel mungkin berdampak pada hasil data.
(Karena sampel mewakili populasi). Pengukurannya hanya menggunakan EVA.
d. Pembahasan
Tidak mengemukan pengaruh secara simultan, serta penjelasannya relatif sangat singkat
e. Kesimpulan
Peneliti tidak menuraikan dengan detail hasil penelitian, Banyak perusahaan yang masih
menerapkan prinsip GCG hanya karena dorongan regulasi. Prinsip-prinsip GCG belum menjadi
kultur dalam perusahaan dan belum dimanfaatkan hingga pada tingkat penunjang kinerja
perusahaan secara signifikan dan dalam menilai kinerja perusahaan.

3. Implikasi untuk riset berikutnya


Adapun implikasi untuk riset berikutnya yaitu sebagai teori dan pengembangan variabel
indikator GCG.
4. Referensi Lain
 Adegbite, E. (2015). Good corporate governance in Nigeria : Antecedents , propositions.
International Business Review, 24(2), 319–330.

Anda mungkin juga menyukai