Anda di halaman 1dari 8

POLITEKNIK KESEHATAN

KEMENKES JAKARTA II

Jurusan Teknik Elektromedik

PROSEDUR TETAP PENGOPERASIAN ALAT KALIBRATOR PIRANHA


1. Siapkan alat kalibrator Piranha,
2. Siapkan asesoris (laptop / computer),
3. Siapkan bahan operasional (software Ortigo),
4. Sambungkan pesawat rontgen pada catu daya PLN,
5. Nyalakan Laptop / computer,
6. Sambungkan PORT USB dari komputer ke alat kalibrasi (piranha), piranha ini terdiri
dari metal tebal dan tipis (Metal di sini berfungsi sebagai untuk memfilter sinar x),
7. Klik software Ortigo,
8. Meletakkan alat (piranha) di bawah kolimator dengan jarak 1 meter dari tabung x-ray
dan tegak lurus 90 derajat,
9. Setelah persiapan selesai nyalakan pesawat rontgen,
10. Atur centering kolimator agar lebar atau luasnya penyinaran sesuai dengan tanda di alat
(piranha) tersebut,
11. Lalu klik centering pada ortigo yang berada pada laptop / computer,
12. Setelah itu atur KV dan MAS pada pesawat rontgen,
13. Dan tekan handswitch setengah setelah beberapa detik tekan full sampai expose selesai,
Serta lepas handswitch jika ada bunyi (BEP) keluar dari pesawat rontgen,
14. Lalu lihat pada laptop / komputer centering kolimator jika muncul angka 1, maka
jatuhnya sinar x tepat dengan jarak 1 meter dari tabung x-ray dan tegak lurus 90 derajat
pada alat kalibrator piranha (proses ini dilakukan hanya sekali pada setiap kalibrasi),
15. Lalu atur KV dan MAS jika ingin mengkalibrasi KV maka MAS selalu tetap, dan jika
ingin mengkalibrasi MAS maka KV selalu tetap,
16. Setelah persiapan selesai maka lakukan proses expose seperti diatas. Dan catat hasil
pembacaan pada software ortigo (lakukan sebanyak 3 kali),
17. Setiap kali pengukuran atau setiap kali expose diberi jeda waktu 1 sampai 3 menit agar
filament tidak panas sehingga mesin tidak cepat rusak,
18. Jika hasil dari data pengukuran tersebut kurang lebih dari 10%, maka pesawat rontgen
yang telah di kalibrasi masih laik di pakai,
19. Setelah selesai, maka matikan alat dengan cara menekan tombol OFF,
20. Lepaskan hubungan alat dari catu daya,
21. Bersihkan dan bereskan alat seperti sedia kala,
22. Kembalikan alat ketempat semula.
POLITEKNIK KESEHATAN
KEMENKES JAKARTA II

Jurusan Teknik Elektromedik

KALIBRASI PESAWAT RONTGEN

MATERI
POLITEKNIK KESEHATAN
KEMENKES JAKARTA II

Jurusan Teknik Elektromedik

Kalibrasi adalah suatu upaya untuk membandingkan antara parameter – parameter,


yaitu parameter yang sudah di setting pada display pada pesawat rontgen sesuai dengan
parameter yang dihasilkan oleh pesawat rontgen.

Pelaksanaan kalibrasi dilakukan pada saat :


1. Pesawat di produksi yaitu kalibrasi yang dilaksanakan di pabrik pada saat pesawat
di buat.
2. Kalibrasi pada saat pesawat rontgen selesai di pasang.
3. Kalibrasi pada saat pesawat rontgen selesai di perbaiki.
4. Kalibrasi pada saat pesawat rontgen sudah lama tidak di pakai.
5. Dan dilakukan pada saat parameter – parameter pesawat rontgen sudah tidak
menunjukkan nilai yang sebenarnya.

JENIS – JENIS PELAKSANAAN KALIBRASI

1. Kalibrasi no loud ( tanpa beban )

Kalibrasi no loud dilakukan pada saat tidak di pasang pada beban yaitu dengan
melepas tabung x-ray. Pada kalbrasi no loud ini dilakukan pengkalibrasian pada beberapa
faktor yaitu :
a) Faktor efektifitas autotransformator atau power supply.
b) Faktor efektifitas High Tension Transformator ( HTT ).
c) Faktor perbandingan antara transformator primer HTT dengan
transformator sekunder HTT.
d) Faktor perubahan tegangan dari tegangan efektif ke tegangan yang di ukur
( peak ).

Faktor – faktor di atas terjadi pada transformator, pada transformator selalu ada
kerugian – kerugian yang menyebabkan beberapa faktor diatas. Kerugian – kerugian yang
disebabkan oleh transformator yaitu :

a) Hysterisislooses yaitu kerugian yang terjadi pada lempengan besi.


b) Edicurrent yaitu kerugian yang terjadi pada kumparan.
c) Kerugian arus focoult.

Kerugian – kerugian ini menyebabkan impedansi pada transformator yaitu jika


kerugian pada transformator sebesar 90% maka keluarannya sebesar 10%. Dan begitu juga
dengan kerugian pada transformator sebesar 10% maka keluarannya sebesar 90%.

2. Kalibrasi loud on ( dengan beban )


POLITEKNIK KESEHATAN
KEMENKES JAKARTA II

Jurusan Teknik Elektromedik

Kalibrasi ini dilakukan dengan menggunakan atau dipasang pada sparegap, dimana
sparegap ini terdiri dari 2 bola ( S1 dan S2 ) yang terbuat dari besi yang di topang oleh
penyangga yang dilengkapi dengan skala yang berguna untuk mengetahui jarak antara kedua
bola tersebut. Pada bola besi S1 dipasangkan kutub anoda dari tabung x-ray, bola besi S1 ini
bekerja sebagai stasioner yaitu hanya diam atau tidak dapat diatur posisinya dan pada bola
besi S2 dipasangkan kutub katoda dari tabung x-ray, bola besi ini bekerja sebagai variabel
yaitu bisa atau dapat diatur posisinya.

Gambar kalibrator sparegap

CARA KERJA :

Pertama, pesawat rontgen di hidupkan kemudian tegangan dimasukkan. Dan


kemudian jarak antara kedua bola besi diatur sehingga menimbulkan loncatan api.

Setelah menimbulkan loncatan bunga api maka pengaturan di hentikan, kemudian


kita lihat di skala. Untuk bola besi yang berdiameter 5 cm pada jarak 1,7 cm maka tegangan
yang di hasilkan adalah 50 KV.

Setelah loncatan bunga api pertama maka pemberian tegangan masukan di atur
pada kondisi lebih tinggi dari semula. Kemudian kita atur jarak kedua bola hingga
menimbulkan loncatan bunga api. Kemudian kita lihat di skala dimana pada jarak 2,7 cm
tegangan yang di hasilkan sebesar 70 KV.

Kemudian di atur kembali seperti di atas, dan lihat skala sampai menunjukkan jarak
3,9 cm tegangan yang dihasilkan 90 KV. Setiap 3 kali pengukuran perubahan KV antara 2 bola
besi ( S1 dan S2 ) tersebut di atur ke posisi awal setiap pengukurannya.
POLITEKNIK KESEHATAN
KEMENKES JAKARTA II

Jurusan Teknik Elektromedik

3. Kalibrasi non – invasive

3.1. Kalibrasi dengan KVP mentor ( terbuat dari Siemens ).

I/V / R
o
m

DIV R/D
R
o
m

I/V /

Kalibrasi dengan KVP mentor dilaksanakan agar mendapatkan nilai KVP yang sesuai
dengan yang diatur. Kalibrasi ini biasanya untuk pesawat rontgen multipurpose atau
komputerize. Saat sinar X menembus materi akan terjadi penyerapan radiasi. Daya tembus
radiasi tersebut ditentukan oleh besarnya perbedaan potensial antara anoda dan katoda.
Besarnya beda potensial tersebut ditentukan oleh pemilihan tegangan tinggi atau KVP.
Besarnya KVP tersebut selain menentukan bentuk besarnya daya tembus juga akan
menentukan bentuk spektrum dari radiasi yang dihasilkan. Misalkan untuk 70 KV akan
berbeda dengan spektrum yang dibentuk pada 100 KV.

KVP mentor ini terdiri dari 2 buah filter alumunium yang tebalnya masing – masing
1,5 mmAL dan 0,75 mmAL. Dan KVP mentor ini juga dilengkapi dengan peralatan elektronik
seperti ionitation chamber, current to voltage, rangkaian penguat diferensial, ratio
formation (DIV ),

Ionitation chamber ini disebut bilik ionisasi yang berfungsi sebagai pengubah sinar X
menjadi arus sinyal listrik lalu arus sinyal listrik. Keluaran dari ionisasi chamber akan
dibandingkan keluar 1,25 dan 0,75, sehingga terjadi ratio diantaranya alat ini juga dilengkapi
dengan system komputerisasi yang dirancang sedemikian rupa sehingga dihasilkan
perbandingan dari keluaran kedua sinyal tersebut diistilahkan dengan Q = Quitation Ration
POLITEKNIK KESEHATAN
KEMENKES JAKARTA II

Jurusan Teknik Elektromedik

Formation, ionisasi chamber pada pengukuran ini diletakkan persis dibawah kolimator. Arus
sinyal listrik ini dirubah oleh current to voltage menjadi tegangan yang akan dikuatkan oleh
rangkaian penguat diferensial dan dirubah menjadi penunjukkan pada komputer pada DIV,
lalu diproses menuju ke ROM ( Read Only Memory ) sebagai penyimpanan data dan juga
sebagai pengubah untuk di tampilkan pada display.

3.2. SOP ( Standar Operasional Prosedur ) kalibrasi dengan kalibrator Piranha ( terbuat dari
perancis ).

 Sambungkan pesawat rontgen pada catu daya PLN


 Nyalakan Laptop / komputer
 Sambungkan PORT USB dari komputer ke alat kalibrasi ( piranha ), piranha ini
terdiri dari metal tebal dan tipis. Metal di sini berfungsi sebagai untuk memfilter
sinar x
 Klik software ortigo
 Meletakkan alat ( piranha ) di bawah kolimator dengan jarak 1 meter dari tabung
x-ray dan tegak lurus 90 derajat
 Setelah persiapan selesai nyalakan pesawat rontgen
 Atur centering kolimator agar lebar atau luasnya penyinaran sesuai dengan tanda
di alat ( piranha ) tersebut
 Lalu klik centering pada ortigo yang berada pada laptop / komputer
 Setelah itu atur KV dan MAS pada pesawat rontgen
 Dan tekan handswitch setengah setelah beberapa detik tekan full sampai expose
selesai. Dan lepas handswitch jika ada bunyi ( BEP ) keluar dari pesawat rontgen
 Lalu lihat pada laptop / komputer centering kolimator jika muncul angka 1 maka
jatuhnya sinar x tepat dengan jarak 1 meter dari tabung x-ray dan tegak lurus 90
derajat pada alat kalibrator piranha ( proses ini dilakukan hanya sekali pada setiap
kalibrasi )
 Lalu kita atur KV dan MAS jika ingin mengkalibrasi KV maka MAS selalu tetap, dan
jika ingin mengkalibrasi MAS maka KV selalu tetap.
 Setelah persiapan selesai maka lakukan proses expose seperti diatas. Dan catat
hasil pembacaan pada software ortigo ( lakukan sebanyak 3 kali )
 Setiap kali pengukuran atau setiap kali expose diberi jeda waktu 1 sampai 3 menit
agar filament tidak panas sehingga mesin tidak cepat rusak
 Jika hasil dari data pengukuran tersebut kurang lebih dari 10 % maka pesawat
rontgen yang telah di kalibrasi masih laik di pakai.
POLITEKNIK KESEHATAN
KEMENKES JAKARTA II

Jurusan Teknik Elektromedik

4. Kalibrasi invasive dengan menggunakan oscilloscop dan HTT probe

TUBE I

AC TUBE
TUBE II Pb1 I
TIMER

Ry 1 Pb 3
mA - + TUBE
SWE II
anoda
VD
Ry 2 1 : 10.000

Pb 2
VD
1 : 10.000

TUBE
II
Pb 4
Oscilloscop + katoda
Oscilloscop -
GND
GND

CARA KERJA :

Pada saat setelah KV, mA dan timer di atur, SWE ditekan maka arus akan mengalir ke
HTT kemudian masuk ke penyearah diode bridge. Misalnya kita ingin melakukan kalibrasi
pada TUBE I maka TUBE tersebut diganti dan dilepas dan dipasang dengan oscilloscope dan
TUBE II tetap dipasang , dan jika ingin mengkalibrasi TUBE II maka TUBE tersebut diganti dan
dilepas dan dipasang dengan oscilloscope dan TUBE I tetap dipasang.
POLITEKNIK KESEHATAN
KEMENKES JAKARTA II

Jurusan Teknik Elektromedik

Kemudian pilih change over switch untuk memilih TUBE I atau TUBE II yang akan di
kalibrasi. Over switch TUBE I dan TUBE II di jumper. Maka arus mengalir ke Ry 1 energize
atau bekerja sehingga menyebabkan menutupnya contactor yang tadi normally open
menjadi close ( Pb1 dan Pb2 ), karena over switch TUBE I dan TUBE II di jumper maka Ry 2
juga energize atau bekerja sehingga menyebabkan menutupnya contactor yang tadi
normally open menjadi close ( Pb3 dan Pb4 ) sehingga arus mengalir secara bersamaan.

Arus yang keluar dari HTT mengalir ke penyearah diode brige yang akan disearahkan
menjadi DC full wave. Sehingga arus DC positif ( + ) tersebut mengalir memberikan polaritas
positif ke anoda melalui Pb 1, dan juga mengalir memberikan polaritas positif ke voltage
deveider ( VD ) melalui Pb 3. Dan arus DC negatif ( - ) tersebut mengalir memberikan
polaritas negatif ke katoda melalui Pb 2, dan juga mengalir memberikan polaritas negatif ke
voltage deveider ( VD ) melalui Pb 4. Perbandingan Voltage deveider ( VD ) yaitu 1 : 10.000.
Jadi jika mensetting KV sebesar 10 KV maka tegangan output pada voltage deveider harus
menunjukkan + 1 volt ( untuk oscilloscop + ) dan – 1 volt ( untuk oscilloscop - ). Karena
oscilloscop tidak dapat menerima tegangan tinggi maka tegangan yang keluar harus di
bandingankan oleh voltage deveider ( VD ).