Anda di halaman 1dari 60

MANAJEMEN BENCANA

BENCANA BANJIR

OLEH :

KELOMPOK 4

MUH. RIZAL RAMLI 70200115017

ANDI AWALIYAH LATIF 70200115042

NURHIDAYAH 70200115046

JUMRIATI AZIS 70200115012

SITI HARIYANTI 70200115050

JURUSAN KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2018

1
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah swt yang maha pengasih lagi maha
penyayang. Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah tentang “Manajemen Bencana tentang Bencana
Banjir”.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar dalam pembuatan makalah
ini. Untuk itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang
telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini .
Terlepas dari semua itu, kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah tentang pesan-pesan
komunikator yang islami ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi
terhadap pembaca.

Gowa, 25 Oktober 2018

Penulis

2
DAFTAR ISI
SAMPUL ` ............................................................................................... i
KATA PENGANTAR ............................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................ 2
C. Tujuan .......................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Analisis Situasi ............................................................................ 4
1. Pengertian Banjir ..................................................................... 4
2. Penyebab Terjadinya Banjir .................................................... 5
3. Analisis Situasi Banjir Bandang di Sumut dan Sumbar .......... 7
4. Analisis Situasi Banjir di Jakarta Tahun 2015 ........................ 11
B. Pencegahan atau Pra-Bencana Banjir ...................................... 13
1. Pemerintah Pusat dan Daerah .................................................. 13
2. Badan Nasional Penanggulangan Bencana .............................. 15
3. Kementerian Kesehatan ........................................................... 16
C. Rencana Kontijensi Bencana Banjir ........................................ 17
1. Langkah-langkah Proses Penyusunan Rencana Kontijensi ..... 19
2. Penilaian Bahaya Bencana yang akan direncanakan dalam
Perencanaan Kontijensi ........................................................... 22
3. Pengembangan Skenario........................................................... 23
4. Penetapan Kebijakan dan Strategi ............................................ 24
5. Singkronisasi perencanaan Sektoral dalam
penyusunan kegiatan pembangunan ......................................... 25
6. Sinkronisasi dan Harmonisasi ................................................. 27
7. Formalisasi .............................................................................. 28
D. Penanganan Saat Bencana Banjir ............................................ 28
E. Penanggulangan atau Pasca-Bencana Banjir .......................... 31
F. Evaluasi Bencana Banjir ........................................................... 34
G. Rapid Health Assessment Bencana Banjir ................................ 37
1. Surveilans Epidemiologi ......................................................... 39
2. Wabah atau KLB ..................................................................... 46
3. Dampak Lingkungan (Kesehatan) ............................................ 50
4. Rehabilitasi ............................................................................... 51
5. Rencana Tindak Lanjut ............................................................. 51
BAB III KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan.................................................................................... 53
B. Saran ............................................................................................. 54
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia adalah negara yang luas dan memiliki sumber daya alam yang
melimpah. Penduduk Indonesia pun hidup nyaman selama bertahun-tahun.
Hal ini disebabkan iklim di Indonesia sangat bersahabat. Hampir tidak ada
tanah di Indonesia yang tanpa ditumbuhi pepohonan. Indonesia beriklim
tropis dengan curah hujan yang tinggi. Sinar matahari pun sampai ke wilayah
Indonesia sepanjang tahun. Di Indonesia terjadi berbagai peristiwa alam.
Peristiwa-peristiwa alam terjadi akibat pengaruh alam.

Peristiwa alam adalah peristiwa yang terjadi karena pengaruh yang


ditimbulkan oleh alam itu sendiri. Peristiwa alam dapat bersifat merugikan
dan membahayakan. Akan tetapi, dapat pula tidak membahayakan. Contoh
peristiwa alam yang membahayakan adalah banjir, gunung meletus, gempa
bumi, angin topan, dan tanah longsor. Peristiwa alam yang tidak
membahayakan misalnya pergantian musim, terbentuknya embun, dan
pelangi.

Salah satu peristiwa alam yang merugikan manusia dan sering terjadi di
Indonesia adalah banjir. Banjir adalah peristiwa alam yang bisa dikategorikan
sebagai sebuah bencana. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa
yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat
yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun
faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia,
kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Banjir merupakan bencana yang sudah menjadi ”langganan” bagi


beberapa wilayah di Indonesia. Bahkan, di ibu kota Jakarta setiap tahun
terjadi bencana ini. Selain disebabkan oleh faktor alam, banjir juga
disebabkan ulah manusia. Pembangunan gedung, penebangan pohon, dan

4
penyempitan sungai merupakan contoh ulah manusia yang menjadi penyebab
banjir.

Sejak awal tahun 2017 hingga 4 Desember 2017, Badan Nasional


Penanggulangan Bencana mencatat telah terjadi 2.175 kejadian bencana di
Indonesia. Adapun, jumlah tersebut terdiri dari banjir (737 kejadian), puting
beliung (651 kejadian), tanah longsor (577 kejadian), kebakaran hutan dan
lahan (96 kejadian), banjir dan tanah longsor (67 kejadian), kekeringan (19
kejadian), gempa bumi (18 kejadian), gelombang pasang/abrasi (8 kejadian),
serta letusan gunung api (2 kejadian) (BNPB, 2017).

Menurut Kepala pusat data informasi dan humas BNPB, sebanyak 95%
kejadian bencana di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi yaitu
bencana yang di pengaruhi oleh cuaca. Dari kejadian tersebut, jumlah korban
meninggal mencapai 335 orang, korban luka-luka sebanyak 969 orang, dan
korban mengungsi dan menderita sebanyak 3,22 juta orang. Sementara itu,
kerusakan yang dihasilkan yakni 31.746 rumah rusak, 347.813 unit terendam,
ribuan fasilitas kesehatan, pendidikan, dan peribadatan rusak.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Analisis situasi bencana Banjir ?
2. Bagaimana Perencanaan untuk mencegah banjir atau Pra Bencana Banjir
?
3. Bagaimana Perencanaan Kontijensi Bencana Banjir ?
4. Apa yang di lakukan saat terjadinya bencana banjir ?
5. Bagaimana penanggulangan bencana banjir atau Pasca Bencana Banjir ?
6. Bagaimana Evaluasi terhadap bencana banjir yang terjadi ?
7. Bagaimana Rapid Health Assessment dari Bencana Banjir ?

5
C. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu :
1. Untuk mengetahui tentang bagaimana analisis situasi bencana banjir
2. Untuk mengetahui tentang bagaimana pencegahan terhadap terjadinya
bencana banjir
3. Untuk mengetahui apa rencana kontijensi bencana Banjir
4. Untuk mengetahui tentang apa yang harus dilakukan saat terjadi bencana
banjir
5. Untuk mengetahui tentang bagaimana penanggulangan bencana banjir
6. Untuk mengetahui tentang evaluasi bencana banjir
7. Untuk mengetahui tentang Rapid Health Assessment dari bencana Banjir

6
BAB II
PEMBAHASAN
A. Analisis Situasi
1. Pengertian Banjir
Bencana banjir di Indonesia yang terjadi setiap tahun terbukti
menimbulkan dampak pada kehidupan manusia dan lingkungannya
terutama dalam hal korban jiwa dan kerugian materi. Secara umum banjir
adalah suatu kejadian dimana air didalam saluran meningkat dan
melampaui kapasitas daya tampungnya.
Banjir adalah kondisi air yang menenggelamkan atau mengenangi
suatu area atau tempat yang luas. Banjir juga dapat mengacu
terendamnya daratan yang semula tidak terendam air menjadi terendam
akibat volume air yang bertambah seperti sungai atau danau yang
meluap, hujan yang terlalu lama, tidak adanya saluran pembuangan
sampah yang membuat air tertahan, tidak adanya pohon penyerap air dan
lain sebagainya.
Banjir adalah bencana akibat curah hujan yang tinggi dengan tidak
diimbangi dengan saluran pembuangan air yang memadai sehingga
merendam wilayah-wilayah yang tidak dikehendaki oleh orang-orang
yang ada di sana. Banjir bisa juga terjadi karena jebolnya sistem aliran air
yang ada sehingga daerah yang rendah terkena dampak kiriman banjir.
Undang-undang RI Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana menyebutkan bahwa banjir adalah peristiwa atau keadaan
dimana terendamnya suatu daerah atau daratan karena volume air yang
meningkat. Banjir adalah tinggi muka air melebihi normal pada sungai
dan biasanya mengalir meluap melebihi tebing sungai dan luapan airnya
menggenang pada suatu daerah genangan (Hadisusanto, 2011dikutip
dalam Gunadi, 2015).

Terdapat bermacam banjir yaitu banjir hujan ekstrim, banjir


kiriman, banjir hulu, banjir rob, dan banjir bandang. Setiap jenis banjir

7
tersebut memiliki karakteristik yang khas. Banjir bandang adalah
kejadian banjir yang singkat dalam waktu sekitar 6 jam yang disebabkan
oleh hujan lebat, bendungan jebol, tanggul jebol. Banjir bandang ini
dikarakterisasikan dengan cepatnya kenaikan muka air sungai/saluran.
Dalam proses kejadian banjir bandang, longsor adalah yang pertama
terjadi yang dipicu oleh terjadinya hujan, selanjutnya banjir bandang
merupakan kejadian berikutnya sebagai kelanjutan dari kejadian longsor
(Larsen et.al., 2001).

Dampak ekonomi dari bencana banjir bandang adalah


menimbulkan kerusakan dan kehilangan harta benda sangat tinggi secara
masif dan cepat, terutama terhadap bangunan rumah tinggal (hilang
karena hanyut dan rusak), infrastruktur seperti jembatan dan jalan yang
memerlukan biaya besar untuk rehabilitasinya. Selain itu kerusakan
bangunan infrastruktur dapat mengisolasi suatu kawasan pemukiman,
akibatnya biaya untuk evakuasi dan pengiriman bantuan menjadi sulit
dan mahal. Kehilangan mata pencaharian dalam jangka yang cukup lama
menyebabkan kelumpuhan ekonomi masyarakat yang terkena banjir
bandang tersebut.

2. Penyebab Terjadinya Banjir


Secara umum, penyebab terjadinya banjir di Indonesia adalah
sebagai berikut:
a. Penebangan hutan secara liar tanpa disertai reboisasi,
b. Pendangkalan sungai,
c. Pembuangan sampah yang sembarangan, baik
ke aliran sungai maupun gotong royong,
d. Pembuatan saluran air yang tidak memenuhi syarat,
e. Pembuatan tanggul yang kurang baik,
f. Air laut, sungai, atau danau yang meluap dan menggenangi daratan.
Banjir disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor hujan, faktor
hancurnya retensi Daerah Aliran Sungai (DAS), faktor kesalahan

8
perencanaan pembangunan alur sungai, faktor pendangkalan sungai dan
faktor kesalahan tata wilayah dan pembangunan sarana dan prasarana
(Maryono, 2005). Beberapa daerah di Indonesia mengalami peningkatan
jumlah populasi manusia karena adanya daya pikat yang dapat
mempengaruhi manusia untuk pindah dari desa ke kota. Lahanlahan yang
sebenarnya untuk daerah preservasi dan konservasi untuk menjaga
keseimbangan lingkungan setempat, diambil alih untuk pemukiman,
pabrikpabrik, industri, dan lainnya (Kodoatie, 2002)

Selain itu, menurut Seyhan (1977) bencana alam banjir yang terjadi
juga ditentukan oleh aspek yang lain, yaitu:

a. Aspek meteorologis-klimatologis terutama karakteristik curah hujan


yang mampu membentuk badai atau hujan maksimum
b. Karakteristik DAS dari aspek bio-geofisikal yang mampu
memberikan ciri khas tipologi DAS tertentu
c. Aspek sosial ekonomi masyarakat terutama karakteristik budaya
yang mampu memicu terjadinya kerusakan lahan DAS, sehingga
wilayah DAS tersebut tidak mampu lagi berfungsi sebagai
penampung, penyimpan, dan penyalur air hujan yang baik.
Ketiga aspek tersebut secara garis besar yang dapat dipakai sebagai
dasar penentuan apakah wilayah DAS ataupun bagian DAS mana (hulu,
tengah, hilir) termasuk kritis berat ataupun potensial kritis. Dengan kata
lain, apakah wilayah DAS ataupun bagian DAS mana yang sudah
termasuk klasifikasi rawan atau sangat rawan banjir. Sehingga sebelum
terjadi bencana banjir di wilayah DAS tersebut sudah diketahui terlebih
dahulu di wilayah DAS atau di bagian DAS mana yang rawan/sangat
rawan banjir atau kritis/sangat kritis, dengan demikian ada waktu untuk
mengantisipasi ataupun berbuat sesuatu sebelum banjir itu datang, dan
menjadi bencana.
Wilayah Indonesia terletak di daerah iklim tropis dengan dua
musim yaitu panas dan hujan dengan ciri-ciri adanya perubahan cuaca,

9
suhu dan arah angin yang cukup ekstrim. Kondisi iklim seperti ini
digabungkan dengan kondisi topografi permukaan dan batuan yang
relatif beragam, baik secara fisik maupun kimiawi, menghasilkan kondisi
tanah yang subur. Sebaliknya, kondisi itu dapat menimbulkan beberapa
akibat buruk bagi manusia seperti terjadinya bencana hidrometeorologi
seperti banjir, tanah longsor, kebakaran hutan dan kekeringan. Seiring
dengan berkembangnya waktu dan meningkatnya aktivitas manusia,
kerusakan lingkungan hidup cenderung semakin parah dan memicu
meningkatnya jumlah kejadian dan intensitas bencana hidrometeorologi
(banjir, tanah longsor dan kekeringan) yang terjadi secara silih berganti
di banyak daerah di Indonesia.
Pada tahun 2006 saja terjadi bencana tanah longsor dan banjir
bandang di Jember, Banjarnegara, Manado, Trenggalek dan beberapa
daerah lainnya. Meskipun pembangunan di Indonesia telah dirancang dan
didesain sedemikian rupa dengan dampak lingkungan yang minimal,
proses pembangunan tetap menimbulkan dampak kerusakan lingkungan
dan ekosistem. Pembangunan yang selama ini bertumpu pada eksploitasi
sumber daya alam (terutama dalam skala besar) menyebabkan hilangnya
daya dukung sumber daya ini terhadap kehidupan mayarakat. Dari tahun
ke tahun sumber daya hutan di Indonesia semakin berkurang, sementara
itu pengusahaan sumber daya mineral juga mengakibatkan kerusakan
ekosistem yang secara fisik sering menyebabkan peningkatan risiko
bencana. (SUmber : BNPB)
3. Analisis Situasi Banjir Bandang di Sumut dan Sumbar
Banjir dan longsor yang terjadi di Sumatera Utara dan Sumatera
Barat pada tanggal 11-12 Oktober 2018 mengakibatkan 22 orang tewas,
15 orang lainnya hilang dan puluhan orang luka-luka di 4 wilayah yaitu
Mandailing Natal, Kota Sibolga, Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten
Pasaman Barat ( Data Sementara BNPB Sumut dan Sumbar, 2018).
Banjir dan longsor melanda sembilan kecamatan di Kabupaten
Mandailing Natal Provinsi Sumatera Utara yaitu Kecamatan Natal,

10
Lingga Bayu, Muara Batang Gadis, Naga Juang, Panyambungan Utara,
Bukit Malintang, Ulu Pungkut, Kota Nopan dan Batang Natal pada
Jumat, 12 Oktober 2018, pagi dan sore hari.

Gambar 2.1 Keadaan Banjir Bandang di Sumbar dan Sumut

Menurut warga sekitar kejadian berlangsung mendadak. Sungai


Aek Saladi tiba-tiba mengalir dengan debit besar dan membawa lumpur
dan meluap sehingga menerjang madrasah. Jumlah korban hilang masih
dapat berubah karena belum dapat dipastikan. Korban tertimbun lumpur
dan material tembok yang roboh.

Gambar 2.2 Keadaan Banjir Bandang di Mandailing Natal

11
Petugas dari Dinas Kehutanan Mandailing Natal (Madina) seksi
Perlindungan Hutan dan Pemberdayaan Masyarakat Kotanopan,
melakukan investigasi penyebab banjir bandang di Desa Muara Saladi,
Jumat (12/20/2018). Untuk melihat langsung penyebab banjir, petugas
kemudian pelakukan pengecekan kondisi di atas hutan yang tak jauh dari
desa tersebut.
Hasil dari penyelidikan petugas dilapangan, penyebab banjir
bandang yang menimpa desa Muara Saladi, Kecamatan Ulu Pungkut,
Mandailing Natal ini diduga karena disebabkan jebolnya bendungan air
yang terbentuk karena longsor beberapa waktu yang lalu. Penyebab
jebolnya material longsor ini sendiri diduga karena tingginya intesitas
hujan selama beberapa hari terakhir.
Kepala Bidang Perlindungan Hutan dan Pemberdayaan Masyarakat
Kotanopan juga mengklaim bahwa banjir bandang ini merupakan
fenomena alamiah. Dia juga memastikan jika praktik pembalakan liar
(illegal logging) tidak ada di hulu Sungai Aek Saladi. Seperti diketahui,
banjir bandang di Muara Saladi ini menyebabkan belasan siswa SD
meninggal dunia. Saat kejadian, para korban tengah mengikuti kelas
belajar sore. Selain menelan korban jiwa, banjir bandang ini juga
merusak puluhan rumah warga serta sejumlah infrastruktur di Desa
Muara Saladi.

Gambar 2.3 Jalan Terputus Akibat Banjir Bandang di Sumut

12
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB mengatakan
dampak banjir bandang dan longsor di Mandailing Natal lain adalah 17
unit rumah roboh, lima unit rumah hanyut, ratusan rumah terendam
banjir dengan ketinggian 1-2 meter di Kecamatan Natal dan Muara
Batang Gadis. Sebanyak delapan titik longsor berada di Kecamatatan
Batang Natal.

Gambar 2.4 Jalan Terputus

Selain itu Banjir bandang yang melanda Kecamatan Lintau Buo


Utara, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat diduga akibat adanya
aktivitas pembalakan liar. Kini Kapolda Sumatera Barat masih
menyelidiki kasus ini. Selain menyebabkan 6 rumah warga rusak berat
banjir bandang membuat 3 warung terseret arus dan 32 hektar lahan
pertanian warga rusak. Bupati Tanah Datar menyatakan ada dugaan dan
indikasi yang mengarah adanya pembalakan liar yang menyebabkan
banjir bandang. Investigasi akan dilakukan setelah proses pencarian dan
evakuasi terhadap korban selesai. Sementara itu tim SAR gabungan yang
terdiri dari Basarnas, TNI, Polri dan relawan terus melakukan pencarian
dan pembersihan material sisa banjir bandang. Terkait adanya dugaan
praktik pembalakan liar yang menjadi penyebab terjadinya bencana
banjir bandang di Kenagarian Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo

13
Utara, Kabupaten Tanah Datar, Provinsi Sumatera Barat ini, Kapolda
Sumatera Barat menegaskan akan segera mengusut hal tersebut.
4. Analisis Situasi Bencana Banjir di Jakarta
Sejak zaman kolonial, Jakarta (dahulu Batavia) selalu menjadi
'langganan' banjir. Hingga kini banjir masih melanda wilayah Jakarta,
salah satunya banjir besar yang terjadi pada tahun 2015. Berdasarkan
pantauan di lapangan berupa lumpuhnya moda transportasi pribadi
maupun umum karena terkena dampak banjir pada Senin (9/2/2015) di
Jakarta, dinilai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Koalisi Perkotaan Jakarta
(Jakarta Urban Coalition), Ubaidillah merupakan banjir paling parah
dibandingkan tahun sebelumnya.

Banjir ini terjadi karena hujan lokal dan baru terjadi selama dua hari,
tapi ternyata sudah melumpuhkan Kota Jakarta. Dampak banjir pada hari
sebelumnya melumpuhkan aktivitas transportasi secara umum, aktivitas
di jalan tol dan commuter line. Jika pada tahun-tahun sebelumnya, banjir
akan surut sekitar pukul 21.00 WIB sehingga arus kendaraan di jalan
sudah mulai lancar. Namun pada banjir Februari 2015 ini, terpantau
hingga tengah malam aktivitas transportasi lumpuh. Bahkan tidak sedikit
pengendara mobil yang istirahat dan menginap di jalan hingga esok
harinya.

Tidak hanya itu, pada tahun 2015, banjir merata di sejumlah daerah
Ibukota. Jakarta Utara merupakan wilayah yang paling parah terkena
dampak bencana tersebut. Melihat kondisi banjir pada tahun 2015,
Ubaidillah melihat Pemprov DKI di bawah kepemimpinan Gubernur
DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama tidak mempunyai program
revolusioner untuk menanggulangi banjir.

14
Gambar 2.5 Kejadian Banjir Jakarta Tahun 2015
Dampak banjir Jakarta tahun 2015 dinilai lebih kecil dibandingkan
bencana pada 2013 lalu. Ini karena curah hujan yang tak terlalu tinggi
serta upaya pencegahan banjir yang gencar dilakukan. Kepala Pusat Data
Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
menuturkan, total daerah yang terendam banjir pada 2015 untuk
sementara ini adalah 323 RW, 88 kelurahan, 33 kecamatan. Jumlah
korban yang terdampak langsung yakni 16.387 KK atau 56.883 jiwa.

Betapapun ini sempat membuat gusar Basuki Tjahaja Purnama,


gubernur Jakarta yang akrab dipanggil Ahok. Seperti dikutip situs berita
Tempo.com, ia sempat curiga bahwa luapan banjir di pusat kota yang
bahkan mengancam Istana, dilantarankan adanya unsur kesengajaan.
Karena Pemda DKI sudah melakukan berbagai upaya untuk
mengantisipasi banjir semacam itu. Namun Kepala Dinas Tata Air DKI
Agus Priyono mengatakan, banjir itu diakibatkan hujan lebat sepanjang
Minggu malam hingga Senin siang.

Adapun berbagai peralatan penanganan seperti pompa penyedot,


beberapa di antaranya mengalami masalah, atau tak bisa dinyalakan
karena PLN mematikan listrik, dengan pertimbangan keamanan. Juru

15
bicara Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho
mengakui, pemda DKI sudah melakukan berbagai upaya untuk
menangani dan mengantisipasi banjir. Menurutnya, di Jakarta terlalu
banyak kawasan "terbangun" namun menyisakan terlalu sedikit kawasan
resapan air. Menurutnya, banjir kali ini bukan diakibatkan oleh daya
tampung sungai, melainkan buruknya daya tampung drainase.

B. Pencegahan atau Pra Bencana Banjir


1. Pemerintah Pusat dan Daerah
Pemerintah Kota (Pemkot) Padang, Sumatera Barat menyiapkan
megaproyek hingga 2019 untuk mengatasi permasalahan banjir yang kerap
melanda daerah tersebut. Menurut wali kota padang, melalui APBN akan
dibangun cekdam (tanggul pengaman) senilai Rp1,3 triliun, kemudian 27
embung, banjir kanal dan proyek mitigasi banjir lainnya. Secara persuasif
Pemkot Padang juga melakukan sosialisasi terkait penjagaan daerah
tangkapan air di bagian hulu sungai. Sebab penyebab utama terbesar banjir
yakni lepasnya air ke dataran rendah akibat tidak berfungsinya hutan di
bagian hulu untuk menahan air.

Sementara itu, untuk menanggulangi bencana banjir di Kota


Jakarta, Presiden Joko Widodo Selasa (10/2) memastikan seluruh proyek

16
pendukung pengurangan banjir di Jakarta akan mulai dibangun. Banjir di
Jakarta menurut Presiden akan banyak terkurangi jika terowongan
Ciliwung menuju Banjir Kanal Timur (BKT) selesai dibangun. Termasuk
diantaranya pembangunan waduk di Ciawi Bogor. Presiden menjelaskan,
penyelesaian masalah banjir di Jakarta yang sudah berlangsung sejak
puluhan tahun tidak bisa dituntaskan hanya dengan penanganan selama
setahun. (Sumber : VOA)

Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) usai


menghadap Presiden di kantor Presiden Jakarta mengatakan, banjir di
Jakarta ini disebabkan kondisi pasang air laut dan bukan disebabkan
kiriman dari Bogor seperti biasanya. Ahok membantah tudingan bahwa
pemerintah provinsi DKI tidak memberikan peringatan dini dan antisipasi
banjir. Menurut Ahok banjir rob tidak bisa diantisipasi optimal karena
luapan air melebihi kapasitas pompa untuk menyedot air.

Terkait banjir di jalan protokol ibukota, Ahok menjelaskan, hal itu


disebabkan sistim drainase yang belum baik dan revitalisasi waduk yang
belum selesai. Ahok mengatakan, dirinya sudah menyampaikan kepada
Presiden agar Perusahaan Listrik Negara (PLN) tidak mematikan arus
listrik di lokasi pompa waduk Pluit. Hal itu lah yang menurut Ahok
menyebabkan meluapnya air ke beberapa wilayah di Jakarta.

Dari 12 pompa yang ada menurut Ahok, hanya dua pompa yang
berfungsi. Dengan matinya listrik untuk pompa waduk Pluit tersebut
menurut Ahok, membuat intensitas air yang berada di waduk naik tinggi.
Padahal, seharusnya waduk tersebut sudah dikosongkan agar bisa
menampung. Ahok menyadari banjir yang mengepung ibu kota sangat
mengganggu bahkan melumpuhkan gerak ekonomi. Untuk itu selaku
Gubernur DKI, Ahok meminta maaf atas banjir yang melanda Jakarta.
Sementara itu, terkait penanganan pelayanan aktifitas publik Jakarta
selama banjir, Kepala Kepolisian Daerah Metro Jaya Inspektur Jenderal

17
Unggung Cahyono menjelaskan kepolisian bersinergi dengan pemprov
DKI dan aparat TNI untuk koordinasi lapangan.

2. Badan Nasional Penanggulangan Bencana


Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo
Nugroho mengatakan, presiden telah memberikan mandat kepada Kepala
BNPB untuk penanganan banjir dan longsor dalam instruksi presiden
(Inpres) no 4 tahun 2012 tentang penanggulangan banjir dan longsor.
Untuk itu, BNPB diakuinya melakukan upaya-upaya untuk menangani
banjir dan longsor. Pertama, banjir dan longsor adalah bencana berulang
setiap tahun. Jadi, daerah rawan, prediksi waktu, dan polanya sudah
diketahui. Sehingga upaya antisipasi telah berjalan, baik tingkat pusat,
provinsi, hingga kabupaten/kota.
Kedua, peta rawan banjir dan longsor telah dibagikan kepada
pemerintah daerah (pemda). Kemudian antisipasi dilakukan dengan rapat
koordinasi, sosialisasi, penyusunan rencana kontijensi, gladi/simulasi,
penguatan bantuan logistik peralatan, penetapan status siaga, hingga
pemberian bantuan dana siap pakai. Ia menambahkan, koordinasi
dilakukan mengacu pada inpres nomor 4 tahun 2012 tentang
pemanggulangan bencana banjir dan tanah longsor. Kemudian saat terjadi
banjir dan longsor maka fokus utama adalah pencarian dan penyelamatan
korban, evakuasi, pemenuhan kebutuhan dasar bagi pengungsi atau korban
diantaranya makanan, minuman, pelayanan kesehatan dan lainnya,
penetapan tanggap darurat, kaji cepat, dan lainnya.
Selain itu, mengaktifkan pusdalops PB 24/7 untuk pemantauan
situasi daerah rawan banjir dan tanah longsor. BNPB juga diakuinya telah
mempersiapkan satuan reaksi cepat penanggulangan bencana (SRC-PB) di
wilayah barat dan timur untuk tugas perbantuan. BNPB juga mengirimkan
tim reaksi cepat penanggulangan bencana (TRC-PB) untuk melakukan
pengkajian cepat dan pendampingan keposkoan bila diperlukan. BNPB
juga memberikan buffer stock logistik maupun peralatan.

18
BNPB menyiapkan dana siap pakai sebesar Rp 250 miliar untuk
penanganan darurat kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah
(BPBD) yang memiliki daerah rawan banjir dan longsor. Kemudian sistem
peringatan dini banjir dan longsor serta aplikasi pemantauan banjir lebih
diaktifkan. Terakhir, kata dia, BNPB bersama dengan BPBD DKI Jakarta,
MIT, dan Usaid telah mengembangkan PetaBencana.id dimana masyarakat
Jakarta dapat melaporkan banjir secara realtime.
3. Kementerian Kesehatan
Kemenkes telah melakukan asistensi teknis bersama tim
Kemenkes, melakukan pendampingan penyusunan peta respon,
pendampingan rencana kontigensi dan simulasi kesiapsiagaan yang telah
dilakukan beberapa daerah secara nasional, tutur Menkes. Menkes
menegaskan agar peta rawan bencana banjir dan longsor dapat menjadi
acuan kepada seluruh K/L terkait dalam penanggulangan banjir. Sementara
iti, Menko Puan mengimbau untuk selalu melakukan sosialisasi dan
edukasi penanggulangan bencana kepada masyarakat, memastikan
ketersediaan kelengkapan alat penanganan banjir dan longsor, serta
menyiapkan dukungan operasi dan logistik posko darurat saat terjadi
bencana.

Sejauh ini berdasarkan data BNPB, intensitas bencana banjir dan


tanah longsor pada tahun 2016 kurang lebih sama dengan tahun 2015.
Kemenkes telah siap menyiapkan logistik kesehatan seperti obat-obatan,
logistik kegawatdaruratan kesehatan lingkungan, mobilisasi tim Rapid
Health Assesement , Jelas Menkes. Menkes mengimbau agar masyarakat
Indonesia dapat menjaga lingkungan dalam mengantisipasi banjir dan
longsor, jaga kebersihan lingkungan dengan pembuangan sampah
ditempatnya dan tidak dibenarkan buang sampah disungai.

19
C. Rencana Kontijensi Bencana Banjir
Pada hakekatnya bencana adalah sesuatu yang tidak dapat terpisahkan
dari kehidupan. Pandangan ini memberikan arahan bahwa bencana harus
dikelola secara menyeluruh sejak sebelum, pada saat dan setelah kejadian
bencana. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah management khusus untuk
menanganinya. Dalam upaya menanggulangi bencana, berbagai upaya harus
kita lakukan, termasuk membuat suatu perencanaan dalam menghadapi
bencana. Ada beberapa istilah perencanaan yang berhubungan dengan
bencana ini antara lain yaitu rencana mitigasi (mitigation plan), rencana
kontinjensi (contingency plan) dan rencana tindak (action plan).

Rencana mitigasi memuat rencana-rencana yang berhubungan dengan


upaya-upaya atau kegiatan-kegiatan yang berada pada fase sebelum
terjadinya bencana yaitu mitigasi. Sementara rencana kontinjensi merupakan
salah satu upaya kesiapan/kesiapsiagaan yang memuat rencana-rencana yang
berhubungan dengan upaya-upaya atau kegiatan-kegiatan peringatan dini dan
tanggap darurat saat terjadi bencana. Sementara rencana tindak memuat
keseluruhan rencana baik rencana mitigasi maupun rencana kontinjensi. Pada
bagian ini, kita akan mempelajari beberapa hal yang berhubungan dengan
rencana kontinjensi.

Dalam Management Bencana terdapat empat tahapan penanggulangan


bencana yang meliputi :

1. Rencana penggulangan Bencana /rencana kesiapan


2. Rencana Siaga atau rencana kontinjensi
3. Rencana Operasi tanggap darurat
4. Rencana pemulihan.
Apabila dilihat dari tahapan penaggulangan bencana, posisi rencana
kontijensi berada pada saat gejala akan terjadinya bencana. Dari gambar
tahapan penanggulangan bencana tersebut proses penanggulangan bencana
tidak selalu dilaksanakan pada saat yang bersamaan dan juga dalam

20
praktekknya tiap-tiap bagian dilakukan secara berurutan. Seperti tanggap
darurat yang pada kejadian di provinsi sumatea barat pada dasarnya dapat
dilakukan pada saat sebelum terjadinya bencana atau dikenal dengan istilah
“siaga Bencana” ketika prediksi bencana akan segera terjadi.
Meskipun saat kejadiaan bencana belum tiba, namun pada tahapan siaga
darurat dapat dilaksanakan kegiatan tanggap darurat berupa evakuasi
penduduk, pemenuhan kebutuhan dasar berupa penampungan sementara,
pemberian bantuan pangan dan non pangan, layanan kesehatan berbagai
kegiatan pada tahapan siaga darurat terdapat 2 (dua) kemungkinan yaitu
bencana benar-benar terjadi atau bencana tidak terjadi. Korelasi antara
kuadran yang satu dengan kuadran lainnya yang menggambarkan peran dari
masing–masing kegiatan untuk setiap segmen (prabencana, saat terjadinya
bencana dan pasca bencana) dapat dilihat pada tahapan berikut.
Pada tahapan pra bencana, kegiatan-kegiatan di bidang pencegahan dan
mitigasi menempati porsi/peran terbesar. Pada saat terjadinya bencana,
kegiatan-kegiatan di bidang tanggap darurat menempati porsi yang lebih
besar. Pada tahapan pasca bencana, kegiatan – kegiatan di bidang rehabilitasi
dan rekonstruksi menempati porsi yang lebih besar.
Jadi perencanaan kontijensi dapat didefenisikan sebagai proses
perencanaan ke depan, dalam keadaan tidak menentu, dimana skenario dan
tujuan disetujui, tindakan manajerial dan teknis ditentukan, dan sistim untuk
menanggapi kejadian disusun agar dapat mencegah, atau mengatasi secara
lebih baik keadaan atau situasi darurat yang dihadapi. Dalam sistim
penanggulangan bencana, rencana kontjensi, dilaksanakan pada saat telah
terjadinya gejala becana, seperti prediksi dari pakar geologi yang
memprediksi akan terjadi bencana , oleh karena itu rencana kontijensi sudah
harus dilakukan pada.
Inti dari kontijensi ini lebih kepada suatu proses mengarah kepada
kesiapan dan kemampuan untuk meramal , dan jika memungkinkan dapat
untuk mencegah bencana itu sendiri, serta mengurangai dampaknya dan

21
menangani secara efektif da melakukan pemulihan diri dari dampak yang
dirasakan. (Rencana Kontijensi Bencana Banjir Terlampir)

1. Langkah-langkah Proses Penyusunan Rencana Kontijensi


Penyusunan rencana kontijensi mempunyai ciri khas yang
membedakan dengan perencanaan yang lain. ciri-ciri khas tersebut
sekaligus merupakan prinsip-prinsip perencanaan kontijensi atas dasar
pemahaman tersebut rencana kontijensi harus dibuat berdasarkan :
a. Proses penyusunan bersama
b. Merupakan rencanan penanggulangna bencana untuk jenis ancamana
tunggal ( single Hazard)
c. Rencana kontijensi mempunyai skenario
d. Skenario dan tujuan yang disetujui bersama
e. Dilakukan secara terbuka ( tidak ada yang ditutupi )
f. Menetapkan peran peran dan tugas setiap sektor
g. Menyepakati konsensus yang telah dibuat bersama
h. Dibuat untuk menghadapi keadaan darurat

22
Jika diperhatikan antara besarnya kejadian dengan dampak
kehidupan sehari-hari , maka dapat digambarkan. Bahwa Perencanaan
kontijensi merupakan bagian kehidupana sehari-hari diperlukan
perencanaan kontijensi tergantung dari upaya mempertemukan antara
besarnya kejadian denganbijak tingkat dampak yang diakibatkan. Pada
dasar nya proses perencanan kontijensi hanya sesuai untuk peristiwa atau
kejadian dengan tingkat besar dan parahya dampak yang ditimbulkan
sedangkan untuk kejadian kejadian yang tidak terlalu parah cukup
menggunakan kebijakan yang ada. Bahkan jika tidak parah sama sekali
tidak perlu disusun rencanan kontijensi.

Rencana kotijensi dibuat segera setelah ada tanda-tanda awal akan


terjadi bencana, beberapa jenis bencana sering terjadi secara tiba-tiba,
tanpa ada tanda-tanda terlebih dahulu (gempa bumi), keadaan ini sulit
dibuat rencana kontijensi, namun demikian tetap dapat dibuat dengan
menggunakan data kejadian dimasa lalu sedangkan jenis-jenis bencana
tertentu dapat diketahui tanda-tanda akan terjadi, terhadap hal ini dapat
dilakukan pembuatan rencana kontijensi, umumnya penyusunan rencana
kontijensi dilakukan pada saat segera akan tejadi bencana. Pada situasi ini,
rencana kontijensi langsung disusun tanpa melalui penilaian atau analisis.
Ancaman atau bahaya akan tetapi kenyataan dilapangan hal tersebut sulit
dilakukan karena keadaan sudah cheos atau panik akan lebih baik apabila
rencana kontijensi dibuat pada saat sudah diketahuinya adanya potensi
bencana.

Pada dasarnya rencana kontijensi harus dibuat secara bersama-


sama oleh semua pihak ( stakeholder) dan multi sektor yang terlibat dan
berperan dalanm penanganan bencanan , termasuk dari pemerintah (sektor-
sektor) yang terkait, perusahaan negara, swasta, organisasi non pemerintah
lembaga internasional dan masyarakat, serta pihak-pihak yang lain yang
terkait. Rencana kontijensi disusun melalui ” proses ”, proses ini sangat

23
penting, karena disusun oleh parisipan, atau peserta sendiri, sedangkan
fasilitator hanya mengarahkan jalannya proses penyusunan kontijensi.

Beberapa kesalahan pemahaman tentang kontijensi :

a. Perencanaan kontijensi bukan suatu perencanaan untuk pengadaan


barang/jasa pembelian atau pembangunan prasarana sarana akan
tetapi lebih pada pendayagunaan sumberdaya setempat yagn dimiliki
dan dapat dikerahkan.
b. Pakar dari luar diperlukan hanya untuk memberikan informasi
/pengetahuan yang tidak dimiliki oleh penyusun.
c. Rencana kontijensi bukan merupakan tugas rutin tetapi suatu kegiatan
yang eksepsional.
d. Perencana kontijensi sangat sensitif , konfidensial dan terbatas . oleh
karena itu pelaksanaannya harus dilakukan secara hati-hati agar tidak
menimbulkan keresahanan atau salah paham bagi masyarakat.
e. Perencanaaan konijensi merupakan faktor pendorong yang mengarah
pada penindakan /penggerakan masayrakat meskipun bencanan belum
tentu terjadi .
f. Produk dari perencanaan kontijensi ini adalah rencana , persediaan
(stock pile) dan anggaran , bukan keberhasilan tanggap darurat.

Tidak ada perbedaan yang prinsip antara rencana kontijensi dengan


rencana operasi, kecuali waktu penyusunannya, rencana kontijensi disusun
menjelang dan sebelum terjadinya bencana, sehingga rencana tersebut
disusun berdasarkan asumsi dan skenario, sedangkan rencana operasi
disusun pada saat bencana benar-benar terjadi, sehingga rencana ini
disusun sesuai dengan keadaan sebenarnya.

Rencana operasi disusun dengan menyesuaikan jenis kegiatan dan


sumberdaya yang ada dalam rencana kontijensi, sesuai dengan kebutuhan
nyata dari jenis bencana yang telah terjadi. Rencana kontijensi disusun
berdasarkan perkiraaan situasi (asumsi-asumsi) dengan mengembangakan

24
skenario-skenario yang disepakati. Oleh karena itu sesuai perkembangan
dari waktu ke waktu terjadi perubahan situasi dan skenario maka rencanan
kontijensi perlu dilakukan penyesuaiaan dan pemutakhiran.

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah secara prisnip penysusunan


rencana kontijensi selaian disusun bersama seluruh pemangku
kepentingan, juga setelah disusun skenario dan dilakuan ananlisis
kebutuhan, setelah dihitung secara rinci kebutuhan, ditentukan siapa saja
pelakunya, dan tidak lupa dilakukan penilaiaan (ketersediaan) sumberdaya
yang dimiliki oleh pelaku kepentingan dari kebutuhan dan ketersediaan
sumberdaya tersebut diketahuai kesenjangan yang akan dipenuhi dari
berbagai sumber.

Penyusunan Rencana Kontijensi dilakukan melaui tahapan/proses


persiapan dan pelaksanakan. pada tahap persiapan meliputi kegiatan
penyediaan peta wilayah kabupaten /kota/provinsi data kabupaten ada pada
data ka/kota dalam angka ,data tentang ketersediaan sumberdaya dari
masing-masing Sekor/Pihak /Instansi organisasi dan informasi dari
berbagai sumber/unsur teknis yang dapat dipertanggung jawabkan. Pada
tahap pelaksanaan adalah penysusunan rencanan kontijensi yang dimulai
dari penilaian resiko, didahulukan dengan penilaian bahaya dan penilaian
tingkat bahaya untuk menentukan 1 jenis ancaman atau bencana yang
diperkirakan akan terjadi (yang menjadi prioritas),

2. Penilaian Bahaya Bencana yang akan direncanakan dalam Perencanaan


Kontijensi

Penilaian bahaya dapat melakukan identifikasi jenis ancaman dan


pembobotan ancaman.

a. Identifikasi jenis ancamana bencanan dengan menggunakan catatan


data/sejarah kejadiaan bencana.
b. Pembobotan /scoring ancaman /bahaya dari beberapa jenis ancaman
yang ada disuatu kabupaten /kota dan dilakukan penilaian satu per

25
satu tiap jenis ancaman diberikan nilai /bobot dan di plot kedalam
tabel di bawah.

Setelah langkah tersebut, hasil penilaiaan bahaya di plot ke dalam


matrik skala, tingkat bahaya untuk mengidentifikasi bahaya yang beresiko
tinggi.

3. Pengembangan Skenario

Berdasarkan peta wilayah bencana dapat diidentifiksi masyarakat


dan daerah/lokasi yang terterancam bencana (daerah rawan bahya
/bencana) sehingga dapat diperkirakan luas/besarnya dampak bencana
yang mungkin terjadi.

Dalam skenario juga diuraikan anatara lain :

a. Waktu terjadinya bencana ( misalnya pagi, siang, malam)


b. Durasi /lamanya kejadiaan ( misalnya : 2 jam, 1 hari , 7 hari , 14 hari )
c. Tingginya genangan air ( banjir)
d. Tinggi dan jarak jangkauaan ombak kedaratan ( tsunami)
e. Hal-hal lain yang bergantung terhadap besar kecilnya kerugian
/kerusakan .

Terdapat lima aspek yang terkena dampak bencana, yaitu aspek


kehidupan/penduduk, sarana/prasarana/fasilitas/aseet, ekonomi ,
pemerintahan dan lingkungan .

a. Dampak pada aspek kehidupan/penduduk dapat berupa kematian ,


luka-luka pengunsian, hilang dan lan-lain.
b. Dampaka pada aspek sarana dan prasaranan dapat berupa kerusakan
jembatan, jalan , instalasi PAM , PLN kerusakan rumah penduduk dan
lain-lain.
c. Dampak pada aspek ekonomi dapat berupa kerusakan pasar
tradisional, gagal panen, terganggunya perekonomian perdagangan,
transportasi dan lain-lain.

26
d. Dampak pada aspek pemerintahan dapat berupa kehancuran
dokumentasi peralatan kantor, bangunan pemerintah dan lain-lain.
e. Dampak pada aspek lingkungan dapat berupa rusaknya kelestarian
hutan, danau, objek wisata, pencmaran, kerusakan lahan perkebunan
dan pertanian danlainnya.

Untuk mengukur dampak pada aspek kehidupan/pensusuk perlu


ditetapkan terlebih dahulu pra kiraan jumlah penduduk yang terancam,
baru ditetapkan dampak kematain, luka-luka, pengunsian, hilang dan
dampak lainnya sehingga diketahui jumlah/persentase dampak yang
ditimbulkan. Sedangkan untuk dampak pada aspek sarana dan prasarana,
pemerintahan, ekonomi dan lingkungan diklasifikasiakan kedalam tingkat
ringan, sedang dan berat.

4. Penetapan Kebijakan dan Strategi

Kebijakan penangan darurat/tanggap darurat dimaksudkan untuk


memberikan arahan/pedoman bagi sektor–sektor terkait untuk bertindak
/melaksanakan kegiatan tanggap darurat. Kebijakan bersifat mengikat
karena dalam penanganan darurat diberlakukan kesepakatan–kesepakatan
yang harus dipatuhi oleh semua pihak. Salah satu contoh kebijakan adalah
penetapan lamanya tanggap darurat yang akan dilaksanakan. Dan layanan
perawatan /pengobatan gratis bagi korban bencana. Sedangkan Strategi
penanganan bencana/kedaruratan dilaksanakan oleh masing-masing sektor
sesuai sifat/karakter bidang tugas sektor, strategi bertujuan efektivitas
pelaksanaan kebijakan.

Untuk langkah perencanaan dilakukan beberapa langkah, Langkah


pertama dalam perencanaanan sektoral adalah mengidentifikasi kegiatan
semua kegiatan untuk pengananan kedaruratan harus teridenntifikasi agar
semua permasalahan dapat tertangani secara tutas, tidak terdapat kegaitan
yang tumpang tindih dan ada kegiatan pemnting yang tertinggal.

27
Langkah selanjutnya adalah membuat proyeksi kebutuhan oleh
tiap-tiap sektor yang mengacu pada kegiatan-kegiatan sektor tersebut
diatas. Kebutuhan tiap sektor dipenuhi dari ketersediaan sumberdaya
sektor dari kebutuhan dan ketersediaan sumberdaya, terdapat kesenjangan
atau kekurangan sumberdaya yang harus cicarikan jalan keluarnya dari
berbabgai sumber, antara lain:

a. Sumberdaya atau potensi masyarakat setempat (pemerintah dengan


pemerintah).
b. Sumberdaya atau potensi daerah (kabupaten/kota yang berdekatan).
c. Sumberdaya atau potensi dari level pemerintahan yang lebih tinggi
(provinsi atau nasional).
d. Kerjasama dengan berbagai pihak, baik unsur pemerintah maupun non
pemerintah , bia berbentuk momarendum of understending ( MOU) ,
stanby kontak , meminjam , atau kerjasama dalam bentuk lain.
e. Bantuan masyarakat internasional yang sah dan tidak mengikat
(bersifat melengkapi)
5. Singkronisasi perencanaan Sektoral dalam penyusunan kegiatan
pembangunan

Dari hasil perencanaan sektoral tersebut datas semua kegiatan atau


pekerjaan yang dilakukan oleh sektor-sektor diharmonisasi atau
diintegrasikan kedalam rencana kontijensi. Hal ini dapat dilakukan melalui
rapat koordinasi , yang dipimpin oleh gubernur, bupati /walikota, atau
pejabat yang ditunjuk. Tujuannya adalah untuk mengetahui siapa
melakukan apa agar tidak terjadi tumpang tindih kegiatan, hasilnya adalah
berupa rencana kontijensi berdasarkan kesepakan atau konsensus dari rapat
koordinasi lintas pelaku , lintas fungsi dan lintas sektor.

Rencana kontijensi disahkan atau ditndatangani oleh pejabat yang


berwenang, yakni Gubernur untuk untuk daerah provinsi, bupati/walikota
(untuk daerah kabupaten/kota) dan menjadi dokumen resmi dan siap untuk

28
dilaksanakan menjadi rencana operasi tanggap darurat ( melalui kaji cepat)
apabila sewaktu-waktu terjadibencana. Selanjutnya rencana kontijensi
tersebut disampaiakan juga ke legislatif untuk mendapatkan komitmen
atau dukungan politik dan mengalokasikan anggaran.

Setelah selesai penyususnan rencanan kontijensi terdapat dua


kemungkinan , yaitu terjadi bencana atau tidak terjadi bencana.

a. Apabila terjadi bencana

Jenis bencana yang terjadi sama atau sesuai sejenis ancaman


sebagai mana diperkirakan sebelumnya, maka rencanan kontijensi
sudah diaktifasi atau diaplikasikan menjadi rencana operasi tanggap
darurat. Rencana operasi tersebut menjadi pedoman bagi posko untuk
penanganan darurat, yang didahului dengan kaji cepat untuk
penyesuaiaan data dan kebutuhan sumberdaya.

Langkah pertama yang harus dilakukan apabila terjadi bencana


antara lain rapat koordinasi segera setelah terjadi bencana, dengan
mengaktivasi pusat pengendali operasi (PUSDALOPS) menjadi
posko, Penetapan dan pengiriman tim reaksi cepat (TRC) kelapangan
untuk melakukan pertolongan, penyelamatan dan evakuasi serta kaji
cepat ( Quick assesment) untuk pendataan korban kerusakan atau
kerugian, kebutuhan dan kemampuan sumberdaya serta prediksi
perkembangan kondisi kedepan. Hasil kerja TRC menjadi acuan untuk
melakukan tanggap darurat dan pemulihan darurat prasaran dan sarana
fital dan Pelaksanaan operasi tanggap darurat, dimana Sektor-sektor
yang sudah diberntuk segera melaksanakan tugas tanggap darurat
sampai dengan kondisi darurat pulih atau kembali kekondisi normal.

Langkah Kedua dilakukan adalah Evakuasi berkala atau rutin


terhadap pelaksanaan operasi tanggap darurat, dengan
mendiskripsikan Pemecahan masalah-masalah yang dihadapi dan
keputusan terhadap perpanjangan dan pernyataan resmi

29
berakhirnya.tanggap darurat. Perpanjangan masa tanggap darurat (jika
diperlukan).

b. Apabila tidak terjadi bencana

Apabila waktu kejadian bencana yang diperkirakan telah


terlampaui (tidak terjadi bencana), maka rencana kontijensi dapat
diberlakukan atau diperpanjang untuk periode atau kurun waktu
berikutnya. Apabila setelah melalui kaji ulang dan perpanjangan masa
berlaku ternyata tidak terjadi bencana, rencana kontijensi dapat di
deaktivasi (dinyatakan tidak berlaku) dengan pertimbangan bahwa
potensi bencana tidak lagi menjadi ancaman.

Rencana kontijensi yang telah dideaktvasi dapat diaktifkan


kembali setiap saat (aktivasi) jika diperlukan atau dapat juga rencana
kontijensi diturunkan statusnya menjadi rencana penaggulangan
bencana dengan catatan bahwa rencana kontijensi yang bersifat single
hazard (satu jenis ancaman) menjadi rencana kesiapan yang bersifat
multi hazards ( lebih dari satu jenis ancaman).

6. Sinkronisasi atau Harmonisasi

Dari hasil perencanaan sektoral tersebut, semua kegiatan/pekerjaan


yang dilakukan oleh sektor-sektor diharmonisasi/diintegrasikan ke dalam
rencana kontinjensi. Hal ini dapat dilakukan melalui rapat koordinasi, yang
dipimpin oleh Bupati/Walikota/Gubernur atau pejabat yang ditunjuk.
Tujuannya adalah untuk mengetahui siapa melakukan apa, agar tidak
terjadi tumpang tindih kegiatan. Hasilnya berupa rencana kontinjensi
berdasarkan kesepakatan/konsensus dari rapat koordinasi lintas pelaku,
lintas fungsi dan lintas sektor.

Materi bahasan dalam rapat koordinasi antara lain berupa:

a. Laporan tentang kesiapan dari masing-masing sektor dalam


menghadapi kemungkinan terjadinya bencana.

30
b. Masukan dari satu sektor ke sektor yang lain tentang adanya dukungan
sumberdaya.
c. Laporan tentang kebutuhan sumberdaya, ketersediaan dan
kesenjangannya dari masing-masing sektor.
d. Pengambilan keputusan berdasarkan kesepakatan-kesepakatan
bersama dan komitmen untuk melaksanakan rencana kontinjensi.
7. Formalisasi

Rencana kontinjensi disahkan/ditanda-tangani oleh pejabat yang


berwenang yakni Bupati/Walikota (untuk daerah kabupaten/kota) dan oleh
Gubernur (untuk daerah provinsi) dan menjadi dokumen resmi (dokumen
daerah) dan siap untuk dilaksanakan menjadi Rencana Operasi Tanggap
Darurat (melalui informasi kerusakan dan kebutuhan hasil dari kegiatan
kaji cepat), dalam hal bencana terjadi. Selanjutnya rencana kontinjensi
tersebut disampaikan juga ke pihak legislatif untuk mendapatkan
komitmen/dukungan politik dan alokasi anggaran.

D. Penanganan Saat Bencana Banjir


Upaya penanganan banjir tidak terlepas dari peran stakeholder dalam
setiap kegiatan. Dari hasil survai diketahui bahwa secara umum peran
stakeholder, terutama penerima dampak bencana (beneficiaries), masih
terbatas dan peran pemerintah masih sangat dominan. Pada saat bencana,
terjadi kerjasama yang baik dalam pengevakuasian korban, pembagian
makanan, pakaian, dan penyediaan obat-obatan. Partisipasi masyarakat
seperti ini muncul secara spontan sebagai bentuk kepedulian sosial sesama
masyarakat, tanpa diupayakan pemerintah. Dengan belum tersedianya
peraturan perundangan yang mengatur penanggulangan banjir, maka
pengaturan partisipasi masyarakat juga belum diatur.

31
Pada saat terjadinya bencana, ada 2 hal yang harus di tangani yaitu :

1. Tanggap Darurat (response). Tanggap darurat adalah serangkaian


kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk
menangani dampak buruk yang ditimbulkan yang meliputi kegiatan
penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan
dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta
pemulihan prasarana dan sarana. Beberapa aktivitas yang dilakukan pada
tahapan tanggap darurat antara lain:
a. Pengkajian yang tepat terhadap lokasi, kerusakan, dan sumberdaya;
b. Penentuan status keadaan darurat bencana;
c. Penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana;
d. Pemenuhan kebutuhan dasar;
e. Perlindungan terhadap kelompok rentan; dan
f. Pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital.
2. Bantuan Darurat (relief). Merupakan upaya untuk memberikan bantuan
berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan dasar berupa: Pangan, Sandang,
Tempat tinggal sementara, kesehatan, sanitasi dan air bersih.

32
Kebijakan dan program pada tahapan ketika terjadi bencana, berupa:

1. Pemberitahuan dini kepada masyarakat tentang kondisi cuaca;


2. Menempatkan petugas pada pos-pos pengamatan;
3. Menyiapkan sarana penanggulangan, termasuk bahan banjiran;
4. Mengevakuasi dan mengungsikan penduduk ke daerah aman, sesuai yang
telah direncanakan dengan memanfaatkan seluruh komponen masyarakat,
TNI, Polri, Satlak PBP, Satkorlak PBP, Badan SAR Nasional (Basarnas),
dan Karang Taruna;
5. Memberikan bantuan pangan, pakaian, dan peralatan kebutuhan lainnya,
serta pelayanan kesehatan darurat kepada korban bencana;
6. Mendata lokasi dan jumlah korban bencana.

33
E. Penanggulangan atau Pasca Bencana Banjir
Penanggulangan banjir dilakukan secara bertahap, dari pencegahan
sebelum banjir (prevention), penanganan saat banjir (response/intervention),
dan pemulihan setelah banjir (recovery). Ketiga tahapan tersebut berada
dalam suatu siklus kegiatan penanggulangan banjir yang berkesinambungan.
Kegiatan penanggulangan banjir mengikuti suatu siklus (life cycle), yang
dimulai dari banjir, kemudian mengkajinya sebagai masukan untuk
pencegahan (prevention) sebelum bencana banjir terjadi kembali.
Pada saat penanggulangan bencana atau pasca bencana, ada 3 tahapan
yang harus di perhatikan yaitu :
1. Pemulihan (recovery). Pemulihan adalah serangkaian kegiatan untuk
mengembalikan kondisi masyarakat dan lingkungan hidup yang terkena
bencana dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana, dan
sarana dengan melakukan upaya rehabilitasi.
2. Rehabilitasi (rehabilitation). Rehabilitasi adalah perbaikan dan
pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat
yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran utama untuk
normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan
kehidupan masyarakat pada wilayah pasca bencana.
3. Rekonstruksi (reconstruction). Rekonstruksi adalah perumusan kebijakan
dan usaha serta langkah-langkah nyata yang terencana baik, konsisten
dan berkelanjutan untuk membangun kembali secara permanen semua
prasarana, sarana dan sistem kelembagaan, baik di tingkat pemerintahan
maupun masyarakat, dengan sasaran utama tumbuh berkembangnya
kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan
ketertiban, dan bangkitnya peran dan partisipasi masyarakat sipil dalam
segala aspek kehidupan bermasyarakat di wilayah pasca bencana.
Lingkup pelaksanaan rekonstruksi terdiri atas program rekonstruksi fisik
dan program rekonstruksi non fisik.

34
Pencegahan dilakukan secara menyeluruh, berupa kegiatan fisik seperti
pembangunan pengendali banjir di wilayah sungai (in-stream) sampai
wilayah dataran banjir (off-stream), dan kegiatan non-fisik seperti
pengelolaan tata guna lahan sampai sistem peringatan dini bencana banjir.

Setelah pencegahan dilaksanakan, dirancang pula tindakan penanganan


(response/intervention) pada saat bencana banjir terjadi. Tindakan
penanganan bencana banjir, antara lain pemberitahuan dan penyebaran
informasi tentang prakiraan banjir (flood forecasting information and
dissemination), tanggap darurat, bantuan peralatan perlengkapan logistik
penanganan banjir (flood emergency response and assistance), dan
perlawanan terhadap banjir (flood fighting). Pemulihan setelah banjir
dilakukan sesegera mungkin, untuk mempercepat perbaikan agar kondisi
umum berjalan normal. Tindakan pemulihan, dilaksanakan mulai dari
bantuan pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, perbaikan sarana-prasarana
(aftermath assistance and relief), rehabilitasi dan adaptasi kondisi fisik dan
non-fisik (flood adaptation and rehabilitation), penilaian kerugian materi dan
non-materi, asuransi bencana banjir (flood damage assessment and

35
insurance), dan pengkajian cepat penyebab banjir untuk masukan dalam
tindakan pencegahan (flood quick reconnaissance study).

Partisipasi masyarakat merupakan proses teknis untuk memberi


kesempatan dan wewenang lebih luas kepada masyarakat, agar masyarakat
mampu memecahkan berbagai persoalan bersama-sama. Pembagian
kewenangan ini dilakukan berdasarkan tingkat keikutsertaan (level of
involvement) masyarakat dalam kegiatan tersebut. Partisipasi masyarakat
bertujuan untuk mencari solusi permasalahan lebih baik dalam suatu
komunitas, dengan membuka lebih banyak kesempatan bagi masyarakat
untuk memberi kontribusi sehingga implementasi kegiatan berjalan lebih
efektif, efisien, dan berkelanjutan.

Stakeholder penanggulangan banjir secara umum dikelompokkan


menjadi tiga, yaitu:

1. Beneficiaries, masyarakat yang mendapat manfaat/dampak secara


langsung maupun tidak langsung;
2. Intermediaries, kelompok masyarakat atau perseorangan yang dapat
memberi pertimbangan atau fasilitasi dalam penanggulangan banjir,
antara lain: konsultan, pakar, LSM, dan profesional di bidang SDA.
3. Decision/ policy makers, lembaga/institusi yang berwenang mebuat
keputusan dan landasan hukum, seperti lembaga pemerintahan dan
dewan sumberdaya air.
Sejalan dengan tuntutan masyarakat akan keterbukaan dalam program-
program pemerintah, maka akuntabilitas pemerintah dapat dinilai dari sejauh
mana partisipasi masyarakat dan pihak terkait (stakeholder) dalam program
pembangunan. Partisipasi masyarakat, mulai dari tahap kegiatan pembuatan
konsep, konstruksi, operasionalpemeliharaan, serta evaluasi dan pengawasan.
Penentuan dan pemilahan stakeholder dilakukan dengan metode Stakeholders
Analysis yang terdiri dari empat tahap yaitu:
1. Dentifikasi stakeholder;

36
2. Penilaian ketertarikan stakeholder terhadap kegiatan penanggulangan
banjir;
3. Penilaian tingkat pengaruh dan kepentingan setiap stakeholder;
4. Perumusan rencana strategi partisipasi stakeholder dalam
penanggulangan banjir pada setiap fase kegiatan.
Semua proses dilakukan dengan mempromosikan kegiatan pembelajaran
dan peningkatan potensi masyarakat, agar secara aktif berpartisipasi, serta
menyediakan kesempatan untuk ikut ambil bagian, dan memiliki kewenangan
dalam proses pengambilan keputusan dan alokasi sumber daya dalam
kegiatan penanggulangan banjir. Tingkat partisipasi masyarakat dalam
kegiatan penanggulangan banjir terdiri dari tujuh tingkat yang didasarkan
pada mekanisme interaksinya, yaitu:
1. Penolakan (resistance/opposition);
2. Pertukaran informasi (information-sharing);
3. Konsultasi (consultation with no commitment);
4. Konsensus dan pengambilan kesepakatan bersama (concensus building
and agreement);
5. Kolaborasi (collaboration);
6. Pemberdayaan dengan pembagian risiko (empowerment-risk sharing);
7. Pemberdayaan dan kemitraan (empowerment and partnership).

F. Evaluasi Bencana Banjir


Pada tahap setelah banjir, kebijakan dan program yang telah dilakukan di
daerah sebuah penelitian umumnya masih bersifat fisik, sedangkan yang
bersifat non fisik masih belum ditemui. Program dan kegiatan fisik yang telah
dilakukan adalah:

1. Pendataan kerusakan bangunan dan fasilitas publik;


2. Memperbaiki prasarana publik yang rusak;
3. Pembersihan lingkungan;

37
4. Mengajukan usulan pembiayaan program pembangunan fasilitas
penanggulangan banjir.

Sementara itu, belum semua pemerintah daerah melakukan penegakan


hukum, sehubungan dengan penanggulangan banjir. Jika ada, maka
penegakan hukum tersebut terbatas pada penertiban penggunaan lahan secara
illegal. Dalam hal ketersediaan landasan hukum, hampir semua pemerintah
daerah (Pemda) belum mempunyai peraturan daerah (Perda) tentang
penanggulangan banjir dan hanya beberapa propinsi saja yang sedang
mempersiapkannya. Sementara itu pemerintah daerah hanya memiliki Perda
yang mengatur pengelolaan sungai dan tata ruang. Upaya pemerintah daerah
mengendalikan banjir banyak menemui kendala, antara lain lantaran:

1. Kurangnya kepedulian masyarakat menjaga lingkungan;


2. Kurangnya kesadaran masyarakat mematuhi peraturan yang berlaku dan
menjaga kebersihan lingkungan;
3. Kurangnya partisipasi masyarakat, bahkan cenderung tergantung pada
bantuan pemerintah;
4. Peraturan daerah masih sangat terbatas;
5. Lemahnya penegakan hukum;
6. Kurangnya koordinasi antar lembaga pemerintah;
7. Terbatasnya dana pemerintah.

Secara umum penyebab utama banjir adalah perubahan dan eskalasi


perilaku manusia dalam mengubah fungsi lingkungan. Di kawasan budidaya
telah terjadi perubahan tata ruang secara massive, sehingga daya dukung
lingkungan menurun drastis. Pesatnya pertumbuhan permukiman dan industri
telah mengubah keseimbangan fungsi lingkungan, bahkan kawasan retensi
banjir (retarding basin) yang disediakan alam berupa situ-situ telah juga
dihabiskan.

Keadaan ini secara signifikan menurunkan kapasitas penyerapan air


secara drastis. Kondisi ini diperparah dengan sistem drainase permukiman

38
yang kurang memadai, sehingga pada curah hujan tertentu, menimbulkan
genangan air di mana-mana. Selain itu, lemahnya penegakan hukum ikut
mendorong tumbuh dan berkembangnya permukiman ilegal di bantaran
sungai, bahkan masuk ke badan sungai. Keadaan ini makin memperburuk
sistem tata air lingkungan, karena kapasitas tampung dan pengaliran sungai
menurun dan terjadilah luapan air.

Penambangan pasir illegal, terutama pada areal-areal bangunan


pengendali banjir, yang umumnya mudah diakses juga ikut memperparah
keadaan. Sebab, kemampuan bangunan pengendali banjir menjadi turun. Di
sisi lain, ternyata pada wilayah-wilayah beberapa penelitian, secara umum
belum ada implementasi kebijakan efektif untuk mengendalikan
penggundulan hutan dan perubahan fungsi ruang di daerah hulu. Aktivitas
dan perubahan ini makin meningkatkan debit air yang masuk langsung dan
secara cepat ke badan sungai, dan pada akhirnya karena kapasitas tampung
dan pengaliran sungai telah menurun, meluaplah air sungai ke kawasan-
kawasan permukiman, persawahan, dan pertambakan serta kawasan industri.

Meski demikian, secara umum hasil sebuah survai menunjukkan bahwa


tidak ada landasan hukum spesifik yang mengatur penanggulangan banjir,
apalagi pengaturan partisipasi masyarakat dalam penanggulangan banjir.
Namun ada temuan yang menggembirakan, yaitu partisipasi masyarakat
sangat kentara dan dominan, terutama pada kegiatan tanggap darurat. Bahkan
bersama-sama dengan kelompok stakeholder dari unsur intermediaries,
mereka membentuk “gugus tugas reaksi cepat” yang secara mandiri dan tanpa
intervensi pemerintah, mampu memberi bantuan darurat bagi para korban
banjir.

Temuan lapangan menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat lebih


didorong oleh semangat kesetiakawanan dalam bermasyarakat, bukan
merupakan resultant upaya pemerintah untuk menggalangnya. Berawal dari
kasus banjir, selain mengambil langkah penanggulangan dan tindakan

39
terhadap masyarakat yang terkena banjir, pemerintah perlu melakukan review
kasus untuk mengidentifikasikan penyebab, penentuan daerah banjir, jumlah
kerugian, dan korban.

Berdasarkan dua kegiatan tersebut, pemerintah membuat rencana


penanggulangan bencana banjir jangka panjang dan rencana manajemen
darurat banjir untuk persiapan menghadapi banjir, yang meliputi:

1. Pemetaan daerah banjir;


2. Stockpiling material;
3. Identifikasi lokasi dan penggunaan perlengkapan flood-fighting;
4. Pemeriksaan fasilitas pengendalian banjir; dan
5. Persiapan penampungan pengungsi korban banjir. Hal ini dapat
digunakan untuk menghadapi banjir berikutnya serta guna mengurangi
jumlah korban dan kerugian.

G. Rapid Health Assessment


Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yg disebabkan oleh
alam atau manusia yg mengakibatkan timbulnya korban & penderitaan
manusia, kerugian harta benda, kerusakan lingkungan, kerusakan sarana
prasarana umum, gangguan terhadap tata kehidupan & penghidupan
masyarakat serta pembangunan nasional, sehingga untuk pemulihannya
memerlukan bantuan dari luar.

Rapid Health Assessment (penilaian Cepat Kesehatan) merupakan suatu


rangkaian siklus manajemen kesehatan pada situasi bencana yang harus
dilakukan sesaat setelah terjadi bencana dan dilakukan secara cepat. Initial
Rapid Health Assessment (Penilaian Masalah Kesehatan Awal) yang dalam
hal ini dilakukan oleh petugas kesehatan tingkat kecamatan dibawah
tanggung jawab kepala Puskesmas setempat. Ini dilakukan untuk menentukan
jenis bantuan awal yang dibutuhkan segera. Tujuan RHA sendiri yaitu
menilaian cepat sesaat setelah kejadian untuk mengukur besaran masalah

40
Hasilnya berbentuk rekomendasi untuk keputusan penanggulangan
selanjutnya. Khususnya menilai : jenis bencana, lokasi, penduduk terkena,
dampak yang telah/akan terjadi, kerusakan sarana, sumberdaya, kemampuan
respons setempat.
Pada saat bencana, RHA akan melihat dampak-dampak apa saja yang
ditimbulkan dari bencana, seperti berapa jumlah korban, barang-barang apa
saja yang dibutuhkan, peralatan apa yang harus disediakan, berapa banyak
pengungsi lansia, anak-anak, seberapa parah tingkat kerusakan, kondisi
sanitasi lingkungan dll.
Menurut UU No. 36 Tahun 2009, kesehatan bertujuan untuk
mewujudkan kualitas lingkungan yang lebih sehat agar dapat melindungi
masyarakat dari segala kemungkinan terjadi gangguan kesehatan, untuk
mencapai derajat kesehatan lingkungan yang lebih baik bagi masyarakat
Indonesia. Lingkungan yang menjadi tumpuan kehidupan masyarakat,
terutama dalam memenuhi kebutuhannya sehari – hari, seringkali mendapat
beban yang berat akibat kegiatan manusia itu sendiri. Beban yang berat
tersebut dapat berasal dari kegiatan manusia dalam skala rumah tangga,
hingga aktifitas perusahaan besar yang membuang hasil sampingan kegiatan
produksinya ke lingkungan atau pun karena bencana alam yang terjadi serta
situasi khusus yang berpotensi menimbulkan penyakit wabah berbasis
lingkungan.

Kejadian bencana/pencemaran maupun situasi khusus yang terjadi pada


musim haji berisiko tinggi terjadinya gangguan kesehatan masyarakat baik
yang terjadi secara alamiah maupun yang terjadi akibat ulah manusia, dan
merupakan kejadian yang tidak bisa diprediksi dan tidak diharapkan oleh
masyarakat. Untuk itu, sebagai langkah antisipasi perlu dianggarkan
pembiayaan untuk kegiatan surveilans FRKL pada situasi
khsusus/bencana/pencemaran di wilayah layanan BBTKLPP Jakarta.
Kegiatan yang perlu dilakukan adalah kesiapsiagaan sebelum terjadinya
bencana, surveilans faktor risiko kesehatan lingkungan pencemaran maupun

41
pada situasi khusus seperti pada musim haji yang diperkirakan dapat
menimbulkan gangguan kesehatan masyarakat maupun penyakit potensial
berbasis lingkungan di wilayah layanan BBTKLPP Jakarta yaitu Provinsi
DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Lampung dan Kalimantan Barat.

Menurut berita yang ditulis Subiantoro di Antara News. Com, Tanggal


17 Januari 2013, banjir di DKI Jakarta menimbulkan korban jiwa, harta
benda, kerusakan lingkungan dan fasilitas pembangunan, banjir juga
menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Banjir merupakan penyebab
tersebarnya agent penyakit dan wabah penyakit menular seperti diare,
cholera, typoid dan leptospirosis.

1. Surveilans Epidemiologi

Surveilas epidemiologi yang dikembangkan pada pengungsi pada


periode emergensi merupakan Sistem Kewaspadaan Dini KLB penyakit
dan keracunan. Sistem yang akan dikembangkan harus selalu didahului
dengan kajian awal. Kajian awal harus dapat mengidentifikasi prioritas-
prioritas penyakit penyebab kesakitan dan kematian, faktor-faktor yang
berpengaruh, serta program intervensi yang mungkin dapat dilakukan,
terutama penyakit potensial KLB. Prioritas-prioritas penyakit tersebut
nantinya menjadi prioritas upaya perbaikan-perbaikan kondisi rentan
pada kelompok pengungsi, agar kejadian luar biasa penyakit dan
keracunan dapat ditekan frekuensi atau beratnya kejadian, atau bahkan
dapat dihindari sama sekali.

Prioritas-priotas penyakit penyebab kesakitan kematian pada


pengungsi tersebut juga menjadi dasar perumusan terhadap kemungkinan
penyelenggaraan surveilans kesehatan masyarakat dalam bentuk sistem
kewaspdaan dini KLB dan keracunan. Model surveilans yang akan
dikembangkan juga perlu menjadi salah satu sasaran kajian awal.
Prioritas-prioritas penyakit penyebab kesakitan dan kematian pada
pengungsi tersebut, juga menjadi dasar dari prioritas kesiapsiagaan

42
menghadapi kemungkinan terjadinya kejadian rawan atau KLB penyakit
menular dan keracunan. Situasi bencana dari sisi surveilans dapat dilihat
dibawah :

Kesiapsiagaan diarahkan pada kesiapsiagaan tenaga dan tim


penanggulangan gerak cepat, sistem konsultasi ahli, komunikasi,
informasi dan transportasi, serta kesiapsiagaan penanggulangan KLB,
baik dalam teknisk penanggulangan, tim maupun logistic. Tahapan
alamiah situasi bencana dan peranan surveilans dalam situasi bencana,
yaitu :

Mudahnya penyebaran penyakit pasca bencana dikarenakan oleh


adanya penyakit sebelum bencana, adanya perubahan ekologi karena
bencana, pengungsian, kepadatan penduduk di tempat pengungsian, dan

43
rusaknya fasilitas publik. Pengungsi yang termasuk kategori kelompok
rentan yaitu bayi dan anak balita, orang tua atau lansia, keluarga dengan
kepala keluarga wanita, ibu hamil. Para ahli epidemiologi telah
mengembangkan survei baru dan metode untuk secara cepat menilai
status nutrisi penduduk yang mengungsi, dan usaha pertolongannya
sebagai prioritas utama. Selanjutnya memonitor status nutrisi populasi
sebagai respon atas kualitas dan tipe makanan yang dibagikan.

Perkiraaan epidemiologi secara cepat membuktikan ketidak


tersediaan secara optimal dari distribusi makanan sementara kondisi
kesehatan terus-menerus berubah. Sejak itulah, pengawasan nutrisi dan
distribusi makanan menjadi bagian dari usaha pertolongan
penanggulangan kelaparan, terhadap penduduk yang mengungsi.

Para epidemiologis selanjutnya mesti terlibat dalam aspek lain


kondisi pasca bencana, yaitu : Antisipasi berkembangnya desas-desus
tentang penyebaran / mewabahnya penyakit kolera ataupun typus. Untuk
itulah sebuah kantor pengaduan dapat memberikan fungsi yang amat
penting dalam memonitor berkembangnya issu-issu yakni dengan
menyelidiki yang benar-benar bermanfaat serta kemudian
menginformasikan kepada khalayak umum akan bahaya yang mungkin
terjadi. Konsep ini amat bermanfaat tidak hanya untuk penduduk terkena
musibah dinegara-negara berkembang tetapi juga terhadap lingkungan
kota, negara-negara industri.

Masalah kesehatan yang berkaitan dengan bencana besar biasanya


lebih luas, tidak hanya ketakutan terhadap penyakit-penyakit wabah yang
mungkin terjadi, namun sering diukur berapa jumlah orang yang
meninggal, terluka parah atau berapa banyak yang jatuh sakit.

a. Penyakit Diare

Banjir selain menimbulkan kerugian materi juga


mendatangkan penyakit. Diare merupakan salah satu "penyakit

44
langganan" di musim penghujan juga saat dan pascabanjir. Ibukota
Jakarta yang berstatus Darurat Banjir sejak pertengahan Januari
2014, juga tak terhindari dari risiko penyebaran penyakit diare ini.
Namun, menurut Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta, Dien Ernawati, kejadian diare pada banjir Jakarta
2014 tidak sebesar saat banjir Jakarta pada 2007. Menurutnya, dari
pantauan di rumah sakit seluruh Jakarta, kejadian diare yang
menjadi indikator penyakit saat banjir, masih dalam status
terkendali.

Menurut Dien, angka kejadian diare terutama di musim


penghujan sebenarnya bisa ditekan jika Perilaku Hidup Bersih
Sehat (PHBS) dijalankan dan kebiasaan membuang sampah
sembarangan tak lagi dilakukan. Tidak berjalannya PHBS dan
masalah sampah menjadi penyebab utamanya, di luar kondisi iklim
yang memang tidak bersahabat belakangan ini atau faktor
kebersihan dan keamanan makanan yang juga bisa memicu diare.

Pada Tahun 2015 sendiri dari sekitar 10,15 juta penduduk


DKI Jakarta, diperkirakan 162 ribu diantaranya menderita diare.
Tiga wilayah Kota Administratif dengan jumlah perkiraan kasus
diare terbesar adalah wilayah Jakarta Barat, Jakarta Selatan dan
Jakarta Utara. (Profil Kesehatan DKI Jakarta 2015)

b. Penyakit Demam Berdarah

Kementerian Kesehatan memperingatkan warga akan adanya


ancaman penyakit menular akut akibat masuknya musim hujan di
Indonesia pada awal November ini. Pergantian iklim tersebut
disebutkan berpeluang meningkatkan intensitas perkembangan
virus dalam tubuh manusia. Direktur Jenderal Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Muhammad Subuh
mengatakan penyakit menular akut berpotensi muncul akibat

45
hubungan langsung dengan perubahan cuaca, terutama datangnya
musim hujan. (CNN Indonesia)

Melansir dari pemberitaan CNN Indonesia, Data dari


Kementerian Kesehatan Republik Indoneisa menyebutkan
setidaknya ada sekitar 511 kabupaten/kota di Indonesia berpotensi
menjadi tempat berkembangnya demam berdarah. Statistik tentang
511 Kabupaten/Kota di Indonesia yang terancam bahaya nyamuk
demam berdarah menggambarkan bahwa hampir tak ada satupun
wilayah di Indonesia yang tidak menjadi endemik terhadap
penyakit demam berdarah. Jakarta tak terkecuali, ancaman demam
berdarah di Jakarta betul terjadi.

Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek)


menjadi satu dari sekian banyak daerah endemik bahkan
diperkirakan jadi kawasan darurat demam berdarah. Sebab satu
faktor pendukung berkembangnya nyamuk endemik demam
berdarah adalah kondisi lingkungan yang kurang kondusif, tidak
higienis, dan penuh dengan masalah khas perkotaan: seperti banjir,
dan sistem drainase yang buruk. Drainase yang tidak berjalan
sebagaimana fungsinya akan membuat air mudah tergenang. Di
lokasi genangan air itulah koloni nyamuk Aedes aegypti bisa
berkembang sangat pesat. (Sumber : Aksi Cepat Tanggap)

Dari laman CNN dikutip, Dirjen Pengendalian Penyakit dan


Penyehatan Lingkungan Mohamad Subuh smenegaskan kembali
posisi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi yang sangat
rawan terkena darurat demam berdarah. Menurut, Subuh
banyaknya saluran air yang mampet dan menimbulkan genangan
bahkan banjir di Jakarta akan menyebabkan jentik-jentik
nyamuk Aedes spp bisa tumbuh subur dan makin bertambah
populasinya.

46
Ditambah lagi, perkembangan pembangunan kota-kota di
sekitar Jakarta terus menerus berkembang pesat. Imbas dari
banyaknya proses pembangunan di Jakarta dan kota-kota
sekitarnya adalah ketika tempat pemukiman baru semakin padat
dan semakin kumuh. Kemudian ditambah pula dengan banyaknya
galian bekas proyek kabel atau pembangunan yang tidak tertutup
sempurna, sehingga menyebabkan air mudah menggenang dan
mengundang nyamuk demam berdarah berkembang biak.

Walaupun memang sebetulnya angka statistik penderita


demam berdarah di Indonesia lebih menurun di tahun 2015 ini
daripada tahun 2014 lalu. Melansir CNN, untuk tahun 2015 jumlah
kasus DBD cenderung mengalami penurunan dari tahun 2014. Di
periode Oktober-Desember 2015, jumlah kasus DBD menurun
menjadi 23.882 kasus. Padahal tahun sebelumnya mencapai 7.244
kasus. Angka kematian pun cenderung mengalami penurunan. Pada
2014 jumlah kematian akibat DBD mencapai 197 jiwa sedangkan
pada 2015 jumlah kematian dalam rentang waktu tiga bulan
tersebut hanya mencapai angka 100 jiwa.

Sementara itu, menurut profil kesehatan DKI Jakarta tahun


2015, Jumlah penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di
Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2014 sebanyak 8.786 kasus
sedangkan pada tahun 2015 sebanyak 4.194 kasus, dengan
demikian dapat dihitung angka kesakitan DBD Tahun 2015
menurun yaitu sebesar 81,7 dibandingkan angka kesakitan sebesar
87,2 per-100 ribu penduduk pada tahun 2014 (yang dilaporkan).

c. Penyakit Leptospirosis

Leptospirosis disebabkan oleh infeksi Leptospira patogenik.


Secara global penyakit ini merupakan zoonosis penting, karena
mempengaruhi kesehatan manusia di daerah pedesaan dan

47
perkotaan, baik di negara-negara industri dan berkembang (Bharti
dkk., 2003;. Levett, 2001; McBride dkk, 2005). Penularan
Leptospira patogenik ke manusia terjadi melalui kontak langsung
dengan air atau tanah yang tercemar oleh urin hewan terinfeksi
Leptospira patogenik (Faine dkk, 1999). Leptospirosis telah
menjadi masalah kesehatan masyarakat di Asia dan Amerika
Latin.

Jumlah kasus penyakit kencing tikus (leptospirosis) di DKI


Jakarta meningkat setiap Februari. Hal itu terjadi karena Februari
merupakan puncak musim hujan dan sering terjadi saat banjir
melanda Ibu Kota. Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta
Koesmedi, Jumat (13/2/2015), menjelaskan, ada satu kasus
leptospirosis di Jakarta Barat pada banjir tahun ini. Adapun pada
Februari 2013 jumlah penyakit kencing tikus sebanyak 31 kasus.
Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan bulan lainnya yang
berjumlah 0-27 kasus. Pada Februari 2014, jumlah penyakit
kencing tikus sebanyak 69 kasus. Jumlah ini lebih tinggi
dibandingkan bulan lainnya yang berjumlah 0-16 kasus.

Menurut Koesmedi, meski jumlah kasus penyakit kencing


tikus tak sebanyak kasus penyakit lainnya, leptospirosis wajib
diwaspadai karena penyakit yang menular melalui air atau tanah
yang tercemar urine hewan ini bisa menyebabkan gangguan
ginjal, gangguan jantung, keguguran, dan menyebabkan kematian.
Jakarta Barat adalah wilayah yang paling rawan penyakit tersebut.
Kepala Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat Dewi Setiasari
mengatakan, kasus leptospirosis terjadi berulang dari tahun ke
tahun. Wilayah yang paling rawan adalah Kalideres dan
Cengkareng karena ada banyak gudang. Seseorang yang terluka
dan berkontak langsung dengan air yang terkontaminasi kuman
leptospira dapat terancam penyakit leptospirosis.

48
Masa penularan penyakit ini biasanya 7-10 hari. Pasien akan
mengeluh gejala panas dingin, kulit ngilu di bagian otot, nyeri
betis, ada bercak-bercak merah, dan mata menjadi kuning.
Kasus Leptopirosis di DKI Jakarta akibat banjir besar yang terjadi
tahun 2002 mencapai 113 penderita leptospirosis dan 20 orang
diantaranya meninggal (CFR 19,4%) (Okatini, Purwana dan
Djaja, 2007).

2. Wabah / KLB (Kejadian Luar Biasa)

Kejadian Luar Biasa (KLB) atau sering disebut juga wabah. Kedua
kata tersebut mempunyai pengertian yang hampir sama, yaitu :

Menurut UU No. 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular,


Wabah penyakit menular yang selanjutnya disebut wabah adalah
kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang
jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan
yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan
malapetaka.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan


No.949/Menkes/SK/VIII/2004, Kejadian Luar Biasa (KLB) adalah suatu
kejadian kesakitan/kematian dan atau meningkatnya suatu kejadian
kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis pada suatu
kelompok penduduk dalam kurun waktu tertentu. Dari pengertian-
pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa KLB atau wabah adalah
terjadinya peningkatan jumlah masalah kesehatan di masyarakat
(terutama penyakit) yang menimpa pada kelompok masyarakat tertentu,
di daerah tertentu, dan dalam periode waktu tertentu.

Ruang lingkup KLB tidak hanya sebatas pada penyakit infeksi


menular saja, ada tiga kategori penyakit yang masuk dalam KLB, yaitu:

a. Penyakit menular :misalnya Flu Burung (Avian Influenza)

49
b. Penyakit tidak menular :misalnya gizi buruk, keracunan makanan,
keracunan pestisida
c. bencana alam disertai dengan wabah penyakit : misalnya bencana
alam banjir yang menimbulkan penyakit Leptospirosis (penyakit
kencing tikus).

Kriteria tentang KLB ini mengacu pada Keputusan Dirjen No. 451/
91, tentang Pedoman Penyelidikan dan Penanggulangan Kejadian Luar
Biasa. Berdasarkan kriteria tersebut, suatu kejadian dapat dinyatakan luar
biasa apabila:

a. Muncul suatu penyakit menular yang sebelumnya tidak ada atau


tidak dikenal.
b. Peningkatan kejadian penyakit/ kematian terus menerus selama 3
kurun waktu berturut – turut (jam, hari, minggu)menurut jenis
penyakitnya.
c. Peningkatan kejadian penyakit/ kematian 2 kali lipat atau lebih
dibandingkan dengan periode sebelumnya.
d. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan 2
kali lipat atau lebih bila dibandingkan dengan angka rata – rata
perbulan dalam tahun sebelumnya.

Leptospirosis masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia


terutama di daerah rawan banjir. Awal tahun 2015, Indonesia telah
memasuki musim hujan, bahkan di beberapa daerah sudah terjadi banjir,
seperti Jawa Barat, sebagian wilayah DKI Jakarta, Jawa Tengah,
Lampung dan Nangroe Aceh Darussalam. Kondisi tersebut
dikhawatirkan berpotensi terjadi kejadian luar biasa (KLB) Leptospirosis.

Hingga saat ini belum ada daerah yang melaporkan konfirmasi


kasus Leptospirosis di wilayahnya, ujar Direktur Jenderal Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, dr. H. Mohamad Subuh, MPPM,

50
kepada media usai menghadiri pelantikan dua orang pimpinan tinggi
madya Kementerian kesehatan di Jakarta, Kamis (13/2).

Saat musim banjir, terdapat tiga hal yang harus kita perhatikan,
yaitu: 1) genangan air dapat menimbulkan risiko munculnya penyakit
Leptospirosis juga demam berdarah; 2) hygiene sanitasi terutama
keterbatasan air berpotensi menyebabkan penyakit saluran pencernaan,
seperti Diare, Tifus,bahkan Hepatitis A; dan 3) kelembaban udara yang
tinggi berpotensi menyebabkan gangguan saluran pernafasan, baik
penyakit menular seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), maupun
penyakit tidak menular seperti asthma.

Selain penyakit-penyakit tersebut, penyakit tidak menular lainnya,


seperti hipertensi dan lain-lain, juga dapat kambuh, tambah Menkes.
Secara khusus terkait penyakit Leptospirosis di Indonesia, kejadian luar
biasa (KLB) Leptospirosis terjadi di Kabupaten Kota baru Kalimantan
Selatan pada tahun 2014. Peningkatan kasus terjadi di Provinsi Jawa
Tengah dan DKI Jakarta setelah terjadi banjir besar yang cukup lama.
Data hingga November 2014, Kemenkes mencatat 435 kasus dengan 62
kematian akibat penyakit Leptospirosis.

Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Jenderal


Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan telah mengirimkan
surat edaran kepada Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kepala RS Umum
Pusat Vertikal Kemenkes RI, Kepala Balai Teknik Kesehatan
Lingkungan dan Pemberantasan Penyakit Menular (BBTKL-PPM), dan
Kepala Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di seluruh Indonesia, guna
meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit Leptospirosis.

Selama tiga tahun berturut-turut, yakni 2014-2016, kasus penyakit


leptospirosis selalu lebih tinggi di Jakarta dibandingkan daerah-daerah
lainnya. Tahun 2014, dari 96 warga Jakarta yang menderita
leptospirosis, 59 kasus di antaranya terjadi di Jakarta Barat. Kemudian,

51
17 dari 25 kasus leptospirosis pada 2015 juga diderita oleh warga Jakarta
Barat. Sementara pada 2016, dari 40 kasus yang sudah ada, 19 kasus di
antaranya juga diderita warga Jakarta Barat. Kasus-kasus tersebut
merupakan kasus yang teridentifikasi karena pasien dilarikan ke rumah
sakit.

Leptospirosis muncul dalam bentuk Kejadian Luar Biasa (KLB) di


beberapa negara di wilayah Asia, Amerika Selatan dan Tengah, serta
Amerika Serikat. Kondisi ini menjadikan penyakit ini termasuk dalam
the emerging infectious diseases (McKenzie and Shoff, 2010). KLB
leptospirosis di Indonesia terkait banjir besar, terjadi di DKI Jakarta pada
tahun 2002, Kabupaten Sleman pada tahun 2008 dan 2009, serta
Kabupaten Bantul tahun 2010 (Dewi, 2010). Kasus Leptopirosis di DKI
Jakarta akibat banjir besar yang terjadi tahun 2002 mencapai 113
penderita leptospirosis dan 20 orang diantaranya meninggal (CFR 19,4%)
(Okatini, Purwana dan Djaja, 2007).

Kabupaten Pati merupakan salah satu wilayah dengan masalah


leptospirosis di Provinsi Jawa Tengah. Kasus leptospirosis ada sejak
tahun 2010 sebanyak 11 kasus, meningkat menjadi 22 kasus pada tahun
2011 dan 2 diantaranya meninggal. Pada tahun 2012 terjadi penurunan
menjadi 2 kasus dan meningkat kembali menjadi 14 kasus tahun 2013
dan 1 diantaranya meninggal (Dinas Kesehatan Kabupaten Pati, 2013).
Bencana banjir besar di Kabupaten Pati terjadi mulai tanggal 19 Januari
2014 yang menggenangi 15 kecamatan dan 152 desa. Setelah bencana
banjir tersebut, kasus leptospirosis mengalami peningkatan secara drastis.
Sampai tanggal 3 Maret 2014 terdapat sebanyak 37 kasus leptospirosis
dan 8 diantaranya meninggal. Sebagian besar kasus leptospirosis terjadi
pada lokasi bekas banjir (75,7%) dengan kasus terbanyak di Kecamatan
Juwana. Jika dibandingkan dengan minggu yang sama pada tahun 2013,
telah terjadi peningkatan kasus pada minggu ke-5 sampai ke-10 yang
mencapai 2 kali lipatnya atau bahkan lebih sehingga dinyatakan sebagai

52
KLB leptospirosis paska banjir di Kabupaten Pati (Dinas Kesehatan
Kabupaten Pati, 2014).

3. Dampak Lingkungan (Kesehatan)

Bencana banjir tidak bisa di prediksi kapan terjadi, namun saat


curah hujan yang tinggi biasanya sering terjadi bencana banjir apa lagi
seperti sekarang yang sedang mengalami cuaca ekstrem yang
menimbulkan banyak kejadian seperti hujan deras disertai pohon
tumbang yang disebabkan tidak kuatnya akar pohon tersebut dan angin
yang begitu kencang. Bencana banjir bisa berdampak buruk bagi
masyarakat dan lingkungan sebab banjir bisa mendatangkan masalah
baik dalam kesehatan masyarakat dan lingkungan. Banjir yang terjadi
biasanya tidak hanya dapat menimbulkan penyakit akan tetapi juga dapat
mengganggu aktivitas masyarakat dalam menjalankan perannya di
lingkungan tempat iya bersosialisasi dengan masyarakat yang satu dan
yang lainnya.

Selain itu bencana banjir juga bisa menyebabkan kerusakan


infrastruktur dan hal ini akan semakin merugikan. Oleh karena itu
penting bagi kita untuk mencegah tejadinya banjir yang akan berdampak
terhadap masyarakat dan lingkungan, tidak sedikit masalah lingkungan
yang timbul akibat terjadinya banjir.

Bencana banjir tidak hanya berpengaruh tehadap masyarakat akan


tetapi juga terhadap lingkungan alam. Penyebab banjir terutama karena
meluapnya sungai akibat curah hujan yang tinggi. Selain luapan, juga
akibat genangan air yang menumpuk sulit meresap ke tanah apalagi pada
saat sungai dan gorong-gorong terpenuhi air semua pasti terjadi banjir
namun dibalik terjadinya banjir banyak faktor-faktor penyebab banjir
akibat ulah manusia. Jadi ada dua faktor yaitu faktor alam dan faktor
perbuatan manusia. Akan tetapi kita semua bisa mencegah terjadinya
banjir dengan cara membuat saluran air yang baik, buanglah sampah

53
pada tempatnya, rajin membersihkan saluran air, mendirikan
bangunan/konstruksi pencegah banjir, menanam poon atau tanaman di
area sekitar rumah, melestarikan hutan, membuat sumur serapan dan
membuat lubang biopori.

Selain itu dampak lingkungan akibat bencana banjir yaitu


pencemaran lingkungan atau air serta sebagai tempat perkembangan
vector. Luapan air karena banjir akan membuat lingkungan menjadi kotor dan
tidak sedikit sampah yang berserakan tentu hal ini akan mencemari lingkungan.
Banjir juga akan mengakibat tercemarnya lingkungan, maka daerah tersebut
akan menjadi tempat perkembangan salah satu vektor seperti nyamuk dan akan
meningkatkan kejadian demam berdarah.

4. Rehabilitasi
Berdasarkan peraturan kepala Badan Nasional Penanggulangan
Bencana Nomor 17 Tahun 2010, Rehabilitasi yang harus di lakukan
yaitu:
a. Pengkajian kebutuhan pasca bencana secara cermat dan akurat baik
meliputi aspek fisik dan aspek pembangunan manusia;
b. Penentuan prioritas dan pengalokasian sumberdaya secara
maksimal, komprehensif dan partisipatif termasuk memasukkan
sumberdaya lokal sebagai salah satu bentuk pemulihan aktivitas
sosial kemasyarakatan;
c. Penyebarluasan informasi atau sosialisasi rencana pelaksanaan
rehabilitasi dan rekonstruksi secara bertanggungjawab dan
membuka kesempatan semua pemangku kepentingan untuk
berperan serta.
5. Rencana Tindak Lanjut
Rencana tindak lanjut yang akan dilakukan yaitu :
a. Dinas Kesehatan akan membuat surat edaran kepada seluruh posko
dan tim di lapangan perihal pemberian bantuan berupa susu
formula agar diserahkan semua ke Dinas Kesehatan

54
b. Pengendalian dan pengawasan bersama terhadap pemberian
bantuan makanan oleh LSM
c. Mengkoordinasikan pemenuhan permintaan bantuan yang diajukan
oleh Dinas Kesehatan.
d. Melakukan penilaian kerusakan, kerugian dan kebutuhan bidang
kesehatan pasca bencana banjir bandang.

55
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Bencana banjir di Indonesia yang terjadi setiap tahun terbukti
menimbulkan dampak pada kehidupan manusia dan lingkungannya terutama
dalam hal korban jiwa dan kerugian materi. Secara umum banjir adalah suatu
kejadian dimana air didalam saluran meningkat dan melampaui kapasitas
daya tampungnya.
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho
mengatakan, presiden telah memberikan mandat kepada Kepala BNPB untuk
penanganan banjir dan longsor dalam instruksi presiden (Inpres) no 4 tahun
2012 tentang penanggulangan banjir dan longsor.
Apabila dilihat dari tahapan penaggulangan bencana, posisi rencana
kontijensi berada pada saat gejala akan terjadinya bencana. Dari gambar
tahapan penanggulangan bencana tersebut proses penanggulangan bencana
tidak selalu dilaksanakan pada saat yang bersamaan dan juga dalam
praktekknya tiap-tiap bagian dilakukan secara berurutan.

Secara umum penyebab utama banjir adalah perubahan dan eskalasi


perilaku manusia dalam mengubah fungsi lingkungan. Di kawasan budidaya
telah terjadi perubahan tata ruang secara massive, sehingga daya dukung
lingkungan menurun drastis. Pesatnya pertumbuhan permukiman dan industri
telah mengubah keseimbangan fungsi lingkungan, bahkan kawasan retensi
banjir (retarding basin) yang disediakan alam berupa situ-situ telah juga
dihabiskan.

Keadaan ini secara signifikan menurunkan kapasitas penyerapan air


secara drastis. Kondisi ini diperparah dengan sistem drainase permukiman
yang kurang memadai, sehingga pada curah hujan tertentu, menimbulkan
genangan air di mana-mana.

56
Secara umum hasil sebuah survai menunjukkan bahwa tidak ada landasan
hukum spesifik yang mengatur penanggulangan banjir, apalagi pengaturan
partisipasi masyarakat dalam penanggulangan banjir. Namun ada temuan
yang menggembirakan, yaitu partisipasi masyarakat sangat kentara dan
dominan, terutama pada kegiatan tanggap darurat.

B. Saran

Bencana banjir yang selama ini terjadi di Indonesia telah membawa


kerugian yang sangat besar. Melihat kondisi ini, maka pencegahan banjir
adalah hala yang mutlak yang harus dilakukan oleh seluruh warga negara
Indonesia guna mencegah dan meminimalkan dampak yang akan terjadi
akibat bencana banjir.

Adapun hal-hal yang harus kita lakukan untuk mencegah bencana banjir
adalah sebagai berikut:

1. Menghentikan penebangan hutan secara liar tanpa disertai reboisasi,


2. Mencegah terjadinya pendangkalan sungai,
3. Tidak membuang sampah sembarangan termasuk di aliran sungai
4. Membuat saluran air yang memadai
5. Membuat tanggul yang baik

57
DAFTAR PUSTAKA

Adi, Seno. 2013. Karakterisasi Bencana Banjir Bandang di Indonesia. Jurnal


Sains dan Teknologi Indonesia Vol. 15, No. 1. Jakarta : Badan Pengkajian
dan Penerapan Teknologi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2010. Perencanaan Kontijensi


Menghadapi Bencana. Jakarta : BNPB

BPBD Kota Makassar. 2014. Rencana Kontijensi Bencana Banjir Kota Makassar.
Makassar : Pemerintah Daerah Kota Makassar

Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 2016. Info Bencana Bulan Oktober.


Jakarta : BNPB

Badan Penanggulangan Bencana Daerah. 2017. Laporan Tahunan Pusdalops-PB


Sumatera Barat. Padang : Pemerintah Provinsi Sumatera Barat

Deputi Bidang Sarana dan Prasarana. 2003. Kebijakan Penanggulangan Banjir di


Indonesia. Jakarta : Direktorat Pengairan dan Irigasi

Indradewa, Meilani Safira. 2008. Potensi dan Upaya Penanggulangan Bencana


Banjir Sungai Wolowona, nangaba dan Kaliputih di Kabupaten Ende.
Surakarta : Universitas Sebelas Maret

Pratiwi Rosika Dyah, dkk. 2016. Pemetaan Multi Bencana Kota Semarang.
Jurnal Geodesi Undip Vol. 5 No. 4. Semarang : Universitas Diponegoro

Rahayu Harkunti P, dkk. 2009. Banjir dan Upaya Penanggulangannya. Jakarta :


Promise Indonesia

Ristiyanto, dkk. 2015. Prevalensi Tikus Terinfeksi Leptospira Interogans Di Kota


Semarang, Jawa Tengah. Yogyakarta : UGM

Saputri, Maya. 2017. Pemkot Padang Siapkan Megaproyek 1,3 Triliun Atasi
Bajir. Padang : Tirto.id

58
Triutomo Sugeng, dkk. 2011. Panduan Perencanaan Kontijensi Menghadapi
Bencana (edisi kedua). Jakarta : Badan Nasional Penanggulangan Bencana

Vidiarina, Henny Dwi. 2010. Perencanaan Kontijensi Tinjauan tentang beberapa


Pedoman Perancangan dan Rencana Kontijensi. Jakarta : GITEWS

https://nasional.kompas.com/read/2017/12/05/17200331/sepanjang-2017-bnpb-
mencatat-2175-kejadian-bencana-di-indonesia (Diakses, 17 Oktober 2018.
Pukul 19.00)

http://makalahlaporanterbaru1.blogspot.com/2014/01/makalah-tentang-bencana-
banjir.html (Diakses, 17 Oktober 2018. Pukul 19.40)

https://www.inews.id/daerah/sumut/tewaskan-belasan-warga-ini-penyebab-utama-
banjir-bandang-di-madina/282241 (Diakses, 17 Oktober 2018. Pukul 20.00)

https://www.viva.co.id/berita/nasional/1084113-banjir-bandang-dan-longsor-
landa-sumut-dan-sumbar-22-meninggal (Diakses, 17 Oktober 2018. Pukul
20.00)

https://www.liputan6.com/news/read/3667014/banjir-bandang-landa-kabupaten-
mandailing-natal-17-orang-tewas (Diakses, 17 Oktober 2018. Pukul 20.00)

http://kawasan.bappenas.go.id/images/data/Produk/PemantauanEvaluasi/2016/Lap
oran_Akhir_2016_2.pdf (Diakses, 20 Oktober 2018. Pukul 13.00)

https://vanrenov.wordpress.com/2010/01/12/perencanaan-kontijensi-disaster-
contijensi-planning/ (Diakses, 21 Oktober 2018. Pukul 19.00)

https://www.karyatulisku.com/2017/12/cara-menulis-daftar-pustaka-dari-
internet.html (Diakses, 21 Oktober 2018. Pukul 19.00)

https://news.detik.com/berita/3429219/banjir-jakarta-di-5-tahun-terakhir (Diakses,
21 Oktober 2018. Pukul 19.00)

https://indeks.kompas.com/topik-pilihan/list/3436/banjir.jakarta.2015 (Diakses, 21
Oktober 2018. Pukul 19.00)

https://lifestyle.kompas.com/read/2014/01/24/1817549/Banjir.Jakarta.Diare.Masih
.Terkendali (Diakses, 25 Oktober 2018. Pukul 11.00)

https://blog.act.id/jelang-banjir-waspada-penyebaran-penyakit-demam-berdarah-
di-indonesia/ (Diakses, 25 Oktober 2018. Pukul 11.00)

59
http://penantipelangi.blogspot.com/2015/09/rha-banjir.html (Diakses, 25 Oktober
2018. Pukul 11.00)

https://lifestyle.kompas.com/read/2015/02/14/140000623/Pasca.Banjir.Waspadai.
Penyakit.Kencing.Tikus (Diakses, 25 Oktober 2018. Pukul 11.00)

http://www.depkes.go.id/article/view/15022400001/meski-belum-ada-laporan-
kemenkes-tetap-waspadai-leptospirosis-pasca-banjir.html (Diakses, 25
Oktober 2018. Pukul 11.00)

http://mahasiswa.uay.ac.id/dampak-banjir-bagi-masyarakat-dan-lingkungan/
(Diakses, 25 Oktober 2018. Pukul 11.00)

60