Anda di halaman 1dari 35

LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM
PERPINDAHAN PANAS DAN TERMODINAMIKA

Hukum Termodinamika II

DISUSUN OLEH :
Nama : 1) Bariah (16 644 008)
2) Rizky Wahyu Nugroho (16 644 024)
3) Muh. Ali Ibrahim (16 644 039)
4) Ana Noor Hayati (16 644 051)
Jenjang : S1 Teknologi Kimia Industri
Kelas :VB
Kelompok : Kelompok V ( LIMA )

Telah diperiksa dan disahkan pada tanggal 2018

Mengesahkan dan Menyetujui


Dosen Pembimbing

Sirajuddin, S.T., M.Sc


NIP. 19700909 199903 1 001
BAB I
PENDAHULUAN

1.1TUJUAN PERCOBAAN
1. Memahami prinsip hukum kedua termodinamika yang diaplikasikan pada
peralatan kompresor udara.
2. Menghitung efisiensi kompresor udara.
3. Menghitung panas hilang pada sistem nosel yang dialiri udara dari kompresor.

1.2 DASAR TEORI


1.2.1 Pengertian Termodinamika
Termodinamika adalah suatu bidang ilmu yang mempelajari penyimpanan,
transformasi (perubahan) dan transfer (perpindahan) energi. Energi disimpan
sebagai energi internal (yang berkaitan dengan temperatur), energi kinetik (yang
disebabkan oleh gerak), energi potensial (yang disebabkan oleh ketinggian), dan
energi kimia (yang disebabkan oleh komposisi kimiawi) ; ditransformasikan atau
diubah dari salah satu bentuk energi tadi ke bentuk energi lainnya; dan ditransfer
melintasi suatu batas sebagai kalor atau usaha/kerja.
( Tim Laboratorium Teknik Kimia, 2017 )
Termodinamika di bagi menjadi beberapa hukum :
1. Hukum termodinamika ke-0
2. Hukum termodinamika ke-1
3. Hukum termodinamika ke-2
Sistem didefinisikan sebagai bagian dari alam yang mempunyai batas-batas
tertentu dan diperlakukan sebagai objek pengamatan. Sedangkan segala sesautu
yang berada diluar sistem disebut lingkungan (Anonim, 2017).

1.2.2 Hukum Termodinamika ke-1


Hukum pertama termodinamika dapat dijabarkan dalam penjelasan berikut :
1) Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan
2) Setiap energi yang hilang selalu diikuti dengan lahirnya bentuk energi lain
dengan jumlah yang sama.
3) Total energi yang terkandung dalam sistem terisolasi adalah konstan
Hukum pertama termodinamika sebagai persamaan matematis dinyatakan
dalam bentuk :
ΔEnergi Sistem = ΔEnergi Lingkungan
ΔEnergi Lingkungan = Q + W..................................................................(1.1)
ΔEnergi Sistem = ΔUt + ΔEP + ΔEk…………………..............................(1.2)
Subtitusi persamaan dan ke persamaan menghasilkan :
ΔUt + ΔEP + ΔEk = Q + W ........................................................................(1.3)
(Tim Laboratorium Teknik Kimia, 2017)

1.2.3 Hukum Termodinamika ke-2


Bunyi hukum kedua termodinamika adalah:
‘’Tidak ada peralatan atau sistem yang dapat mengubah seluruh energi
yang diterima menjadi kerja’’
Hal ini disebabkan energi yang diterima oleh peralatan atau sistem dari
lingkungan hilang sebagian dan kembali ke lingkungan dalam bentuk energi panas
(heat loss). Energi panas yang hilang dan kembali ke lingkungan disebabkan
karena adanya gesekan (friction) pada peralatan atau sistem selama proses
berlangsung.
Pernyataan hukum kedua termodinamika dalam bentuk persamaan
matematis adalah:
𝑊𝑎𝑐
ɳ= X 100% …………………………………………...(1.4)
𝐸𝑖𝑛

keterangan:
ɳ = efisiensi
Wac = kerja nyata
Ein = energi yang diterima
(Tim Laboratorium Teknik Kimia, 2017)
1.2.4 Energi
Dalam sistem-sistem Termodinamika sering terlibat energi dalam bentuk-
bentuk sebagai berikut :
a) Energi Potensial
Energi yang ditimbulkan oleh gaya gravitasi karena benda berada pada
ketinggian tertentu
Ep = m g Δh ……………..…..................................................(1.5)
Keterangan:
Ep = energi potensial (J)
m = massa fluida (kg)
Δh = perbedaan ketinggian antara titik satu dan titik dua (m)
(Modul Termodinamika, 2014-2015)
b) Energi Kinetik
Energi yang ditimbulkan oleh benda yang bergerak dengan kecepatan tertentu.
Ek = 1⁄2 m Δv2.......................................................................(1.6)
Keterangan:
m = massa fluida (kg)
v1 = kecepatan alir masuk di titik satu (m/s)
v2 = kecepatan alir keluar di titik dua (m/s)
(Modul Teknik Kimia, 2015)
c) Energi Dalam (U)
Energi dalam merupakan besaran yang menyatakan keadaan mikroskopis sistem.
Besaran yang menyatakan keadaan mikroskopis sistem (energi dalam) tidak bisa
diketahui secara langsung. Yang kita analisis dalam persamaan Hukum Pertama
Termodinamika hanya perubahan energi dalam saja. Perubahan energi dalam bisa
diketahui akibat adanya energi yang ditambahkan pada sistem dan energi yang
dilepaskan sistem dalam bentuk kalor dan kerja. Jika besaran yang menyatakan
keadaan mikroskopis sistem (energi dalam) tidak bisa diketahui secara langsung,
maka besaran yang menyatakan keadaan makroskopis bisa diketahui secara
langsung. Besaran yang menyatakan keadaan makroskopis adalah suhu (T),
tekanan (P), volume (V) dan massa (m) atau jumlah mol (n). (Anonim, 2010)
1.2.5 Pemampatan (Kompresi) Gas
Pemampatan (kompresi) gas merupakan suatu proses yang secara alami
mengakibatkan tekanan akhir gas sistem menjadi lebih besar dari tekanan awalnya.
Sedangkan volume akhir menjadi lebih kecil dari volume awalnya.
a. P2> P1
b. V2< V1
c. T2> T1
Proses pemampatan gas dapat terjadi secara:
a. Isobar
b. Isotermal
c. Isovolum (isokor)
d. Adiabatik
Alat yang digunakan untuk memampatkan fluida gas adalah kompresor.
Prinsip kerja kompresor ideal adalah melakukan kompresi (pemampatan) gas/uap
pada kondisi isotermal dan isentropis. Keadaan awal dan akhir gas/uap pada
kompresi ideal adalah:
P2> P1
V2< V1
T2 = T1
S2 = S1

Ws = H …………………………………………………….…(1.7)
Gambar 1.1 Diagram H – S Kompresor
(𝑊)𝑠 𝑖𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑜𝑝𝑖𝑠
ɳ= …………...………..…………………..(1.8)
𝑊𝑠
𝐻𝑠
ɳ= ………………...………………………………(1.9)
𝐻

Efisiensi kompresor biasanya mencapai 0,7 sampai 0,8.


(Tim Laboratorium Teknik Kimia, 2017)

1.2.6 Pengembangan (Ekspansi) Gas


Pengembangan (ekspansi) gas merupakan suatu proses yang secara alami
mengakibatkan tekanan akhir gas sistem menjadi lebih kecil dari tekanan awalnya,
sedangkan volume akhir menjadi lebih besar dari volume awalnya.
a. P2< P1
b. V2> V1
c. T2< T1
Pemampatan dan pengembangan gas dapat dilakukan pada kondisi isotermal,
isobar, isovolume (isokor) dan adiabatis.
Nosel merupakan salah satu peralatan yang dapat digunakan untuk
menghasilkan gas berkecepatan tinggi maupun mengendalikan arah dan bentuk
fluida melalui proses ekspansi. Pada nosel isotermal terjadi perubahan sifat fisik
fluida sebagai berikut:
P2< P1
V2> V1
V2>>>>> V1
T2 = T1
Untuk memudahkan menghitung ataupun mencari data-data karakteristik gas
pada saat mengalami ekspansi maupun kompresi, dapat diasumsikan gas berada
dalam keadaan ideal.
(Tim Laboratorium Teknik Kimia, 2017)

1.2.7 Kerja
Kerja adalah hasil kali antara gaya yang bekerja pada benda dengan
perubahan jarak yang dialami benda tersebut.
dW = F . dL …………..........................................................(1.10)
Modifikasi persamaan tersebut untuk aplikasi penggunaan fluida :
dW = F . dL
𝑑𝑉
dW = - p A 𝐴

dW = - p dV
𝑣2
W = − ∫𝑣1 𝑝 𝑑𝑉
W = - p (V2 – V1)………….................................................(1.11)
Keterangan:
W = Kerja yang dilakukan oleh pompa ( watt, J/s)
p = Tekanan (atm)
V1 = Volume masuk fluida (liter)
V2 = Volume keluar fluida (liter)
W (+) = Sistem menerima kerja dari lingkungan
W (-) = Sistem menghasilkan (melakukan) kerja
terhadap lingkungan
(Modul Teknik Kimia, 2015)
1.2.8 KerjaEkspansi atau Kompresi
Pada saat gas berekspensi, tekanan gas meningkat dan dihasilkan gaya
normal pada dinding torak. Jika p adalah tekanan yang bekerja pada daerah batas
gas dan torak, maka gaya yang dihasilkan gas dan mengenai dinding torak dapat
dinyatakan sebagai bentuk perkalian tekanan p dengan luas permukaan torak A
atau pA. Kerja yang dihasilkan sistem pada saat torak bergerak sejauh dx adalah
𝟃W = pA dx......................................................(1.12)
Bentuk perkalian A dx seperti tampak pada Persamaan 2.15 setara dengan
perubahan volume sistem, dV. Dengan demikian, kerja ekspansi dapat dituliskan
sebagai
𝟃W = p dV........................................................(1.13)

Mengingat dV bernilai positif ketika volume bertambah, maka kerja pada


daerah batas bergerak adalah positif saat gas berekspansi. Untuk proses kompresi,
maka dV adalah negatif, maka perhitungan kerja berdasarkan Persamaan 2.16
juga akan menghasilkan nilai negatif.
Kerja yang terjadi selama perubahan volume V1 ke V2 dapat dihitung
dengan mengintegralkan Persamaan 2.16 sebagai berikut
V2
W =∫𝑉1 𝑝 𝑑𝑉 ..................................................(1.14)
Meskipun Persamaan 23 disusun berdasarkan kasus mekanisme silinder-
torak untuk gas (atau cairan), namun tetap dapat dipergunakan untuk berbagai
bentuk sistem selama terdapat tekanan yang seragam pada dinding pergerakan
daerah batas. (Moran,2004)

1.2.9 Panas
Panas adalah sesuatu yang berpindah sehingga mengakibatkan perubahan
suhu suatu sistem disebut panas (kalor). Secara alamiah panas mengalir dari
temperatur tinggi ke temperatur rendah. Kemampuan suatu benda untuk menyerap
panas dikaitkan dengan besaran kapasitas panas (c). Kapasitas panas adalah panas
yang diperlukan oleh suatu benda untuk meningkatkan suhunya setiap 1 derajat.
1. Berdasarkan jumlah massa kapasitas panas dapat digolongkan menjadi :
a. Kapasitas panas Spesifik
Contoh : cal/g ᵒC ; J/kg K ; Btu/lbm ᵒR
b. Kapasitas Panas Molar
Contoh : cal/gmol ᵒC
2. Khusus untuk fase gas, kapasitas panas juga dapat diklasifikasikan sesuai
dengan kondisi perubahan gas tersebut, yaitu :
a. Kapasitas panas pada tekanan konstan (cp)
b. Kapasitas panas pada volume konstan (cv)

Harga kapasitas panas dipengaruhi oleh temperatur dan biasanya dinyatakan


dalam bentuk persamaan.
c = a + bT + cT2 + dT3…………...........................................(1.15)
Dengan demikian harga kapasitaspanas memengaruhi harga energi panas
dalam bentuk :
dQ = m c dT …......................................................................(1.16)
atau
dQ = n c dT …………...........................................................(1.17)
Keterangan:
Q = Kalor (J)
m = massa, dipakai untuk kapasitas panas spesifik
n = mol, dipakai untuk kapasitas molar
Integrasi persamaan
𝑇2
Q = m∫𝑇1 𝑐 𝑑𝑇………….…...............................................(1.18)
𝑇2
Q = n ∫𝑇1 𝑐 𝑑𝑇 ……….……................................................(1.19)
(Modul Teknik Kimia, 2015)

1.2.10 Thermocouple
Thermocouple merupakan sensor suhu yang paling sering atau kebanyakan
digunakan. Thermocouple dapat mengukur temperatur dalam jangkauan suhu yang
cukup luas dengan batas kesalahan pengukuran kurang dari 1⁰ C.
Thermocouple terdiri dari 2 jenis kawat logam konduktor yang digabung pada
ujungnya sebagai ujung pengukuran. Konduktor ini kemudian akan mengalami
gradiasi suhu dan dari perbedaan suhu antara ujung thermocouple/ujung
pengukuran dengan ujung kedua kawat logam konduktor yang terpisah akan
menghasilkan tegangan listrik. Hal ini disebut sebagai efek termo elektrik.
Perbedaan ini umumnya berkisar antara 1 hingga 70 microvolt setiap perbedaan
satu derajat celcius untuk kisaran yang dihasilkan dari kombinasi logam modern.
Jadi, sangat penting untuk di ingat bahwa thermocouple hanya
mengukur perbedaan temperatur diantara 2 titik, bukan temperatur absolut. Jadi
thermocouple tidak bisa digunakan untuk mengukur suhu ruangan karena tidak
ada perbedaan antara ujung pengukuran dengan ujung referensi / ujung pada kedua
kawat logam. (Anonim, 2017)

Gambar 1.2 Thermocouple tipe Lutron TM-936

1.2.11 Kompresor
Kompresor adalah alat pemampat atau pengkompresi udara dengan kata
lain kompresor adalah penghasil udara mampat. Karena proses pemampatan, udara
mempunyai tekanan yang lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan udara
lingkungan (1atm). Fungsi dari sebuah kompresor adalah untuk menaikkan
tekanan suatu gas, tekanan gas dapat dinaikkan dengan memaksakan untuk
mengurangi volumenya. Ketika volumenya dikurangi, tekanannya naik. Sebuah
kompresor “positive displacement”, memaksa gas dengan cara ini.
Kompressor adalah mesin untuk memampatkan udara atau gas. Secara
umum biasanya mengisap udara dari atmosfer, yang secara fisika merupakan
campuran beberapa gas dengan susunan 78% Nitrogren, 21% Oksigen dan 1%
Campuran Argon, Karbon Dioksida, Uap Air, Minyak, dan lainnya. Namun ada
juga kompressor yang mengisap udara/ gas dengan tekanan lebih tinggi dari
tekanan atmosfer dan biasa disebut penguat (booster). Sebaliknya ada pula
kompressor yang menghisap udara/ gas bertekanan lebih rendah dari tekanan
atmosfer dan biasanya disebut pompa vakum. (Anonim, 2010)

Gambar 1.3 Kompresor udara tipe Fini compressor – Masko BS-315

1.2.9 Nosel
Nosel adalah suatu peralatan lintasan aliran dengan luas penampang pada
kedua ujungnya berbeda, dimana kecepatan aliran gas atau cairan yang
melaluinya akan meningkat searah dengan lintasan aliran. Gambar 1.4
menunjukkan sebuah nosel dimana luas penampangnya mengecil pada arah
lintasan aliran.

Gambar 1.4 Nosel


Fungsi nosel secara umum adalah untuk meningkatkan kecepatan yang diikuti
penurunan tekanan pada fluida (Anonim,2017).
Nozel dapat digambarkan sebagai konvergen (menyempit turun dari
diameter lebar untuk diameter yang lebih kecil dalam arah aliran) atau berbeda
(memperluas dari diameter yang lebih kecil ke yang lebih besar satu). Sebuah
Laval Nozel de memiliki bagian konvergen diikuti dengan bagian divergen dan
sering disebut nosel divergen-konvergen (con-di nosel) (Anonim, 2009)

1.2.10 Wattmeter
Wattmeter adalah instrument pengukur daya listrik yang pembacaannya
dalam satuan watt. Wattmeter pada dasarnya merupakan penggabungan dari dua
alat ukur dimana satuan watt tersebut merupakan kombinasi voltmeter dan
amperemeter. Voltmeter dan amperemeter berfungsi untuk mengukur secara
langsung daya yang terpakai pada suatu rangkaian listrik.
Pada wattmeter terdiri dari kumparan arus (kumparan tetap) dan kumparan
tegangan (kumparan putar), sehingga pemasangannya juga sama yaitu kumparan
arus dipasang seri dengan beban dan kumparan tegangan dipasang parallel
dengan sumber tegangan. Wattmeter merupakan alat ukur yang digunakan untuk
mengukur daya listrik secara langsung. (Anonim, 2015)

Gambar 1.5 Wattmeter Ziglini


1.2.14 Alat Ukur Laju Alir Linier

Alat ukur laju alir linier (anemometer) adalah alat ukur yang dapat
digunakan untuk kecepatan angin. Anemometer dapat dibagi menjadi dua yaitu
mengukur angin dari kecepatan dan mengukur angin dari tekanan. (anonim 2017)
Pada praktikum hukum termodinamika 2 alat laju alir linier (anemometer)
adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur laju alir udara yang masuk ke
kompresor dan keluar dari kompresor dalam satuan feet per minute (FPM) atau
meter per sekon (MPS).(Anonim, 2011)

Gambar 1.6 Alat ukur laju alir linier udara tipe Omega HHF710
BAB II
METODOLOGI

2.1 ALAT DAN BAHAN


2.1.1 Alat yang digunakan :
1) Kompresor udara tipe Fini compressor – Masko BS-315
2) Alat ukur laju alir linier udara tipe Omega HHF710
3) Thermocouple tipe Lutron TM-936
4) Wattmeter Ziglini
5) Rangkaian nosel terdiri dari pipa nosel berdiameter 0,7 mm, konektor
kompresor dengan nosel yang dilengkapi valve dan alat ukur tekanan
6) Alat ukur tekanan tipe tomeco dan alat ukur tekanan tipe EN562
2.1.2 Bahan yang digunakan :
1) Udara dari lingkungan

2.2. PROSEDUR KERJA


2.2.1 Prosedur Kerja Menghitung Efisiensi Kompresor
1) Memastikan tabung kompresor tidak berisi udara dengan cara memeriksa
tekanan kompresor.
2) Menghubungkan kompresor dengan arus listrik melalui alat wattmeter
ziglini.
3) Mengisi tabung kompresor dengan udara dengan cara menjalankan
kompresor.
4) Menunggu pengisian hingga tekanan udara di kompresor mencapai 4,5
bar.
5) Menghubungkan selang kompresor dengan selang konektor 1 sehingga
udara pada tabung kompresor mengalir keluar.
6) Mengamati tekanan udara keluar kompresor dan menunggu hingga
hingga mencapai 2 bar. Pada saat yang bersamaan mencatat daya listrik
yang digunakan, mengukur laju alir dan temperatur udara keluar
kompresor.
7) Mengulangi langkah 4 sampai 6 untuk variasi tekanan 1,5 bar dan 1 bar.
8) Mematikan kompresor.
9) Melepaskan konektor kompresor dengan konektor 1.

2.2.2 Prosedur Kerja Menghitung Hilang Panas Pada Sistem Nosel


1) Mengisi tabung kompresor dengan udara dengan cara menjalankan
kompresor.
2) Menunggu pengisian hingga tekanan udara di kompresor mencapai 4,5
bar.
3) Menghubungkan selang kompresor dengan selang konektor 2 sehingga
udara pada tabung kompresor mengalir menuju nosel.
4) Mematikan tekanan udara keluar kompresor dan menunggu hingga
mencapai 2 bar. Pada saat yang bersamaan mencatat daya listrik yang
digunakan. Mengukur laju alir dan temperatur udara keluar nosel.
5) Mengulangi langkah 2 sampai 4 untuk variasi tekanan 1,5 bar dan 1 bar.
6) Mematikan kompresor.
7) Melepaskan konektor kompresor dengan rangkaian nosel.

2.2.3 Prosedur Kerja Menghentikan Percobaan (Shut Down)


1) Mengeluarkan semua sisa udara yang masih berada dalam tabung
kompresor dengan menarik knob buang (flushing) dan pastikan tekanan
udara pada kompresor sudah mencapai 0 bar.
2) Memastikan semua peralatan berada dalam keadaan mati (off).
3) Memastikan semua koneksi arus listrik pada peralatan telah dicabut.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Data Pengamatan

Tabel 3.1 Data efisiensi kompresor

P1 (atm) T1(oC) v1 (m/s) P2 (bar) T2 (oC) v2 (m/s) Ws (J/s)

1 27,1 0 4 28,7 12,0 566,0


1 27,1 0 3 28,1 9,59 548,2
1 27,1 0 2 27,4 5,10 503,8

Tabel 3.2 Data hilang panas pada sistem nosel

P1 (atm) T1(oC) v1 (m/s) P2 (atm) T2 (oC) v2 (m/s) Ws (J/s)

1 26,9 0 4 29,2 6,50 639,8


1 26,9 0 3 29,0 5,56 614,4
1 26,9 0 2 28,9 3,71 578,7

3.2 Data Hasil Perhitungan


3.2.1 Data Hasil Perhitungan Efisiensi Kompresor
Tabel 3.3 Data densitas udara
BMudara
P2 (bar) T2 (oC) R (bar.cm3/gmol.K) ρ (kg/m3)
(kg/kmol)

4 28,7 83,14 28,84 4,5991

3 28,1 83,14 28,84 3,4562

2 27,4 83,14 28,84 2,3095


Tabel 3.4 Data laju alir massa udara dan mol udara
P2 v2 BMudara
ρ (kg/m3) A (m2) ṁ (kg/s) ṅ (kmol/s )
(bar) (m/s) (kg/kmol)

4 12,0 4,5991 5,6745. 10−5 3,1317.10-3 28,84 1,0859.10-4

3 9,59 3,4562 5,6745. 10−5 1,8808.10-3 28,84 0,6521.10-4


2 5,10 2,3095 5,6745. 10−5 0,6684.10-3 28,84 0,2318.10-4

Tabel 3.5 Data ΔHs isentropis

P1(bar) P2(bar) T (K) ṅ (kmol/s ) R (J/kmol.K) ΔHs (J/s)

1,01325 4 301,7 1,0859.10-4 8314,3 374,0270

1,01325 3 301,1 0,6521.10-4 8314,3 177,1986

1,01325 2 300,4 0,2318.10-4 8314,3 39,3675

Tabel 3.6 Data energi kinetik

v1 (m/s) v2 (m/s) ṁ (kg/s) ΔEk (J/s)

0 12,0 3,1317.10-3 0,2255

0 9,59 1,8808.10-3 0,0865

0 5,10 0,6684.10-3 0,0087

Tabel 3.7 Data Ws isentropis

P2(bar) ΔHs (J/s) ΔEk (J/s) Ws isentropis (J/s)

4 374,0270 0,2255 374,2525

3 177,1986 0,0865 177,2851

2 39,3675 0,0087 39,3762


Tabel 3.8 Data efisiensi kerja kompresor

P1(bar) P2(bar) Wsisentropis (J/s) Ws (J/s) Ƞ (%)

1,01325 4 374,2525 566,0 66,12

1,01325 3 177,2851 548,2 32,34

1,01325 2 39,3762 503,8 7,82

3.2.2 Data Hasil Perhitungan Prosedur Kerja Hilang Panas pada Sistem
Nosel
Tabel 3.9 Data laju alir massa udara dan energi kinetik
v1 v2 ρ
3
A (m2) ṁ (kg/s) ΔEk (J/s)
(m/s) (m/s) (kg/m )
0 6,50 1,1631 3,84845 x 10-7 2,9095 x 10-6 6,14632 x 10-5
0 5,56 1,1638 3,84845 x 10-7 2,4902 x 10-6 3,84905 x 10-5
0 3,71 1,1642 3,84845 x 10-7 1,6622 x 10-6 1,14393 x 10-5

Tabel 3.10 Data Ws isentropis dan hilang panas pada sistem nosel
Ws isentropis
ΔEk (J/s) Ws (J/s) Ƞ Q (J/s)
(J/s)
6,14632 x 10-5 639,8 0,6612 423,03576 -423,03567

3,84905 x 10-5 614,4 0,3234 198,69696 -198,69692

1,14393 x 10-5 578,7 0,0782 45,25434 - 45,25433


3.3 Pembahasan

Pada praktikum ini memiliki tiga tujuan yaitu: untuk memahami prinsip
hukum kedua termodinamika yang diaplikasikan pada peralatan kompresor udara,
dapat menghitung efisiensi kompresor udara, serta dapat menghitung panas hilang
pada sistem nosel yang dialiri udara dari kompresor. Prinsip dari hukum kedua
termodinamika yaitu tidak ada peralatan atau sistem yang dapat mengubah seluruh
energi yang diterima menjadi kerja. Pada percobaan ini digunakan salah satu alat
yang menggunakan prinsip hukum termodinamika dua yaitu kompresor, prinsipnya
kompresor akan mengisap udara yang masuk melalui lubang masuk udara yang
biasa disebut dengan titik satu sehingga mengakibatkan tekanan dalam kompresor
akan lebih tinggi dari pada tekanan di lingkungan. Tugas dari kompresor adalah
untuk memampatkan udara yang terdapat dalam kompresor dengan harapan jumlah
daya yang diberikan akan sesuai dengan kerja yang dihasilkan, namun pada
praktikum ini tidak ada data yang menunjukkan efesiensi kompresor mencapai
100%. Hubungan pengaplikasian kompresor udara dengan hukum termodinamika
dua dapat dilihat dari hasil percobaan, dimana perhitungan efesiensi kompresor
menunjukkan bahwa hukum termodinamika dua terbukti dengan percobaan ini.
Data efesiensi kompresor dapat dilihat pada tabel 3.8.

Tujuan kedua dari praktikum ini dapat dilihat pada tabel 3.3 sampai dengan
tabel 3.8. Efisiensi kompresor akan diketahui apabila didapati hasil perbandingan
antara kerja nyata yang mana kerja nyata ditunjukan pada kondisi isentropis yang
dapat dicari dengan perubahan entalpi pada kondisi isentropis. Selain itu energi
kinetika pada percobaan ini tidak dapat diabaikan karena kondisi ini juga
dipengaruhi oleh kecepatan fluida walau pengaruhnya kecil. Karena percobaan ini
dilakukan dalam keadaan isentropis, sehingga perhitungan kerja aktual yang
dilakukan oleh kompresor dapat dihitung dengan menggunakan persamaan gas
ideal. Data hasil perhitungan energi kinetik dan entalpi pada kondisi isentropis
dapat dilihat pada tabel 3.5 dan tabel 3.6. Sedangkan data hasil perhitungan Ws
isentropis dan efisiensi kompresor dapat dilihat pada tabel 3.7 dan tabel 3.8. Dari
tabel 3.8, dapat dilihat bahwa tekanan berbanding lurus dengan efisiensi, semakin
kecil tekanan udara di kompresor, maka semakin kecil nilai efisiensi kompresor.
Sangat jelas bahwa pengaruh tekanan dan energi kinetik akan mempengaruhi
efesiensi dari kompresor tersebut, semakin besar selisih tekannan yang ditimbulkan
oleh kompresor maka akan semakin besar pula efesiensi yang akan dihasilkan,
dennikian pula dengan energi kinetik semakin besar selisih kecepatan linear udara
akan berdampak pula dengan kerja yang dihasilkan. Effisiensi terkecil yang
dihasilkan kompresor pada percobaan ini adaah sebesar 7,82%

Tujuan ketiga percobaan ini akan membuktikan sejumlah panas yang akan
hilang pada sistem nosel. Panas yang hilang dapat dihitung dengan mengurangkan
energi kinetika dengan kerja pada kondisi isentropis. Laju alir udara merupakan
variebel yang sangat mempengaruhi pada kondisi ini dikarenakan akan
mempengaruhi nilai energi kinetik dan besarnya panas yang hilang pada sistem
nosel. Kerja kompresor pada kondisi isentropis diperoleh dari efisiensi kompresor
dikalikan dengan nilai kerja nyata. Data laju alir massa dan energi kinetik dapat
dilihat pada tabel 3.9. Sedangkan, data hasil perhitungan hilang panas pada sistem
nosel dapat dilihat pada tabel 3.10. Dari data tersebut terlihat bahwa, semakin tinggi
nilai laju alir udara yang keluar dari nosel, maka nilai hilang panasnya semakin
besar. Panas yang hilang ditandai dengan nilai Q yang bernilai negative (-) yang
menunjukkan kehilangan energi pada sistem nosel, penyebab utama dari banyaknya
energi yang hilang adalah meningkatnya laju alir udara yang diakibatkan oleh
ekspansi sistem nosel. Hal ini akan meningkatkan gaya gesek pada sistem nosel dan
menimbulkan panas yang akan hilang ke lingkungan. Hilang panas terkecil pada
sistem nosel ini adalah sebesar - 45,25433 J/s
BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

1. Prinsip hukum termodinamika dua terbukti bahwa tidak ada peralatan atau
sistem yang dapat mengubah seluruh energi yang diterima menjadi kerja
100%, karena pada peaktikum ini hanya didapati efesiensi terbesar 66,12%.
2. Efesiensi sangat tergantung oleh selisih tekanan yang ada pada sistem dan
lingkungan, semakin besar selisih tekanan maka akan semakin besar pula
efesiensi yang dihasilkan dan energi kinetik juga meberikan dampak
terhadap efesiensi yang ditimbulkan.
3. Panas yang hilang akan dipengaruhi oleh laju alir dan efesiensi dari
kompresor, semakin besar laju alir yang dihasilkan maka semakin besar pula
panas yang akan hilang. Hilang panas terbesar pada percobaan ini adalah
sebesar -423,03567 J/s
DAFTAR PUSTAKA

Anonim. (2009). “Nosel”.http://www.scribd.com/doc/55071650/nosel.html

Anonim. (2010). Definisi Kompresor. http://elon2.blogspot.co.id/2010/06/kompresor-


definisi-kompresor-kompresor.html.

Anonim. (2010). Energi Dalam dan Hukum Pertama.


http://snapsyoga.blogspot.co.id/2010/energi-dalam-dan-hukum.html.

Anonim. (2011). Laporan Anemometer. http://nisadear.blogspot.co.id/2011/06/laporan-


anemometer.html.

Anonim. (2015). Alat Ukur Wattmeter Beserta Kegunaannya.


http://kaksipit.blogspot.co.id/2015/11/alat-ukur-wattmeter-beserta-
kegunaannya.html.

Anonim. (2017). Termocouple. http://id.wikipedia.org/wiki/termokopel.

Moran, Michael J. Howard N, Shapiro. (2004). Termodinamika Teknik. Terjemahan


oleh Yulianto Sulistyo Nugroho. Jakarta: Erlangga.

Modul Teknik Kimia. (2015). Termodinamika. Samarinda: Politeknik Negeri


Samarinda.

Tim Laboratorium Teknik Kimia. (2018). Penuntun Praktikum Perpindahan Panas dan
Termodinamika. Samarinda: Politeknik Negeri Samarinda.
LAMPIRAN
Rumus-rumus yang digunakan

a. Efisiensi Kompresor
∆𝐻𝑠 𝑊𝑠 (𝑖𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑜𝑝𝑖𝑠)
ղ= =
∆𝐻 𝑊𝑠
b. Persamaan Isotermal
𝑉2 𝑅𝑇 𝑃1
=( ) ( )( karena nilai R dan T tetap sehingga dapat di coret
𝑉1 𝑃2 𝑅𝑇
𝑉2 𝑃1
=( )
𝑉1 𝑃2
c. Persamaan Gas Ideal

PV =nRT

𝑛𝑅𝑇
P =
𝑉

d. Persamaan Usaha yang digunakan Gas


Wsisentropis = ∆𝐻𝑠 + ∆𝐸𝐾
Wsisentropis =−𝑃. 𝑑𝑉 + ∆𝐸𝐾
𝑛̂.𝑅.𝑇
Wsisentropis = (− 𝑑𝑉) + (∆𝐸𝐾)
𝑣
𝑣 𝑛̂.𝑅.𝑇 1
Wsisentropis = (− ∫𝑣 2 𝑑𝑉 ) + (2 ṁ. ∆𝑣 2 )
1 𝑣
𝑣 𝑑𝑉 1
Wsisentropis = − (𝑛. 𝑅. 𝑇 ∫𝑣 2 ) + (2 ṁ(𝑣22 − 𝑣12 ))
1 𝑉

𝑉 1
Wsisentropis = − (𝑛. 𝑅. 𝑇 ln(𝑉2 )) + (2 ṁ(𝑣22 − 𝑣12 ))
1

𝑃 1
Wsisentropis = − (𝑛. 𝑅. 𝑇 ln(𝑃1 )) + (2 ṁ(𝑣22 − 𝑣12 ))
2

e. Mencari nilai laju alir mol udara ( n ) dengan rumus:


ṁudara = ρudara . v . A

Keterangan : ṁudara = Laju alir massa udara ( kg/s )


V = Laju alir linear ( m/s2 )
ρudara = Densitas udara ( kg/m3 )

Mencari nilai ρudara dengan menggunakan persamaan gas ideal


𝑃2 𝐵𝑀udara
ρudara =
𝑅𝑇

BMudara = ( BM N2 x 0,79 ) + ( BM O2 + 0,21 )

= ( 28 kg/kmol x 0,79 ) + ( 32 kg/kmol x 0,21 )

= ( 22,12 + 6,72 ) kg/kmol

= 28,84 kg/kmol

𝑚udara
nudara =
BMudara

Setelah didapatkan nilai laju alir mol udara lalu subtitusikan ke rumus Wsisentropis

Mencari nilai effisiensi kerja kompresor


𝑊𝑠 𝑖𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑜𝑝𝑖𝑠
ղ=
𝑊𝑠
f. Menghitung jumlah panas yang hilang pada sistem nosel

Wsisentropis = Ws x ղ

Mencari panas yang hilang dengan hukum Thermodinamika I


Q + Ws(isentropis) = ∆H + Ep + Ek

Q = ∆H + Ep + Ek – Ws(isentropis) ( karena pada percobaan ini tidak ada


perubahan ketinggian maka energi potensial
dapat dicoret )

Q = ∆Ek – Ws(isentropis)
PERHITUNGAN

1. Perhitungan Efisiensi pada Kompresor


A. Variasi tekanan 4 bar
Data yang diperlukan :
P1 = 1 atm
P2 = 4 bar
T2 = 28,7OC + 273 = 301,7 K
Ws = 673 J/s
D = 8,5 mm
v2 = 12,0 m/s
Perhitungan :
a. Densitas udara

𝑃2 𝑥 𝐵𝑀𝑢𝑑𝑎𝑟𝑎
ρudara =
𝑅𝑥𝑇

𝑘𝑔 1 𝑘𝑚𝑜𝑙 106 𝑐𝑚3


4,0 𝑏𝑎𝑟 𝑥 28,84 𝑘𝑚𝑜𝑙
103 𝑔𝑚𝑜𝑙 1 𝑚3
ρudara =
83,14 𝑏𝑎𝑟.𝑐𝑚3 /𝑔𝑚𝑜𝑙.𝐾 𝑥 301,7 𝐾

ρudara = 4,5991 kg/m3

b. Laju alir massa udara


D = 8,5 mm
1𝑚
=8,5 𝑚𝑚 = 8,5. 10−3 𝑚
103 𝑚𝑚
1
A = 4 𝜋. 𝐷2
1
A = 4 𝜋(8,5. 10−3 𝑚)2 = 5,6745. 10−5 𝑚2

ṁudara = ρudara . V2 . A
𝑘𝑔 𝑚 −5
ṁudara = 4,5991 x 15,08 x 5,6745. 10 𝑚2
𝑚3 𝑠
= 3,1317.10−3 kg/s
c. Laju alir mol udara

ṅudara = 𝐵𝑀
𝑘𝑔
3,1317.10−3
𝑠
ṅudara = 𝑘𝑔
28,84 𝑘𝑔𝑚𝑜𝑙

= 1,0859.10-4 kmol/s
d. ΔHs isentropis
𝑃
ΔHs isentropis = − (ṅ. 𝑅. 𝑇 ln (𝑃1 ))
2

=
𝑘𝑔𝑚𝑜𝑙 𝐽 1,01325 𝑏𝑎𝑟
− (1,0859.10−4 . 8314,3 . 301,7 𝐾 ln ( ))
𝑠 𝑘𝑔𝑚𝑜𝑙 𝐾 4 𝑏𝑎𝑟

= 374,0270 J/s
e. Energi Kinetik
ΔEk = ½ x ṁ (𝑣22 − 𝑣12 )
𝑘𝑔
= ½ x 3,1317.10−3 ( 12,02 – 02 ) m2/s2
𝑠

= 0,2255 kg.m2/s3
= 0,2255 J/s
f. Ws isentropis = ΔHs isentropis + ΔEk
= 374,0270 J/s + 0,2255 J/s
= 374,2525 J/s
g. Effisiensi kerja kompresor
𝑊𝑠 𝑖𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑜𝑝𝑖𝑠
ղ = x 100 %
𝑊𝑠
374,2525 𝐽/𝑠
= 566 𝐽/𝑠
x 100 %

= 66,12 %
B. Variasi tekanan 3 bar
Data yang diperlukan :
P1 = 1 atm
P2 = 3 bar
T2 = 28,1OC + 273 = 301,1 K
Ws = 548,2 J/s
D = 8,5 mm
v2 = 9,59 m/s
Perhitungan :
a. Densitas udara

𝑃2 𝑥 𝐵𝑀𝑢𝑑𝑎𝑟𝑎
ρudara =
𝑅𝑥𝑇

𝑘𝑔 1 𝑘𝑚𝑜𝑙 106 𝑐𝑚3


3,0 𝑏𝑎𝑟 𝑥 28,84
𝑘𝑚𝑜𝑙 10 3 𝑔𝑚𝑜𝑙 1 𝑚3
ρudara =
83,14 𝑏𝑎𝑟.𝑐𝑚3 /𝑔𝑚𝑜𝑙.𝐾 𝑥 301,1 𝐾

ρudara = 3,4562 kg/m3

b. Laju alir massa udara


D = 8,5 mm
1𝑚
=8,5 𝑚𝑚 = 8,5. 10−3 𝑚
103 𝑚𝑚
1
A = 4 𝜋. 𝐷2
1
A = 4 𝜋(8,5. 10−3 𝑚)2 = 5,6745. 10−5 𝑚2

ṁudara = ρudara . V2 . A
𝑘𝑔 𝑚
ṁudara = 3,4562 x 9,59 x 5,6745. 10−5 𝑚2
𝑚3 𝑠
= 1,8808.10−3 kg/s
c. Laju alir mol udara

ṅudara = 𝐵𝑀
𝑘𝑔
1,8808 .10−3
𝑠
ṅudara = 𝑘𝑔
28,84 𝑘𝑔𝑚𝑜𝑙

= 0,6521. 10−4 kgmol/s


d. ΔHs isentropis
𝑃
ΔHs isentropis = − (ṅ. 𝑅. 𝑇 ln (𝑃1 ))
2

=
𝑘𝑔𝑚𝑜𝑙 𝐽 1,01325 𝑏𝑎𝑟
− (0,6521.10−4 . 8314,3 . 301,1 𝐾 ln ( ))
𝑠 𝑘𝑔𝑚𝑜𝑙 𝐾 3 𝑏𝑎𝑟

= 177,1986 J/s
e. Energi Kinetik
ΔEk = ½ x ṁ (𝑣22 − 𝑣12 )
𝑘𝑔
= ½ x 1,8808.10−3 ( 9,592 – 02 ) m2/s2
𝑠

= 0,0865 kg.m2/s3
= 0,0865 J/s
f. Ws isentropis = ΔHs isentropis + ΔEk
= 177,1986 J/s + 0,0865 J/s
= 177,2851 J/s
g. Effisiensi kerja kompresor
𝑊𝑠 𝑖𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑜𝑝𝑖𝑠
ղ = x 100 %
𝑊𝑠
177,2851 𝐽/𝑠
= 548,2 𝐽/𝑠
x 100 %

= 32,34 %
C. Variasi tekanan 2 bar
Data yang diperlukan :
P1 = 1 atm
P2 = 2 bar
T2 = 27,4OC + 273 = 300,4 K
Ws = 503,8 J/s
D = 8,5 mm
v2 = 5,10 m/s
Perhitungan :
a. Densitas udara

𝑃2 𝑥 𝐵𝑀𝑢𝑑𝑎𝑟𝑎
ρudara =
𝑅𝑥𝑇

𝑘𝑔 1 𝑘𝑚𝑜𝑙 106 𝑐𝑚3


2,0 𝑏𝑎𝑟 𝑥 28,84 𝑘𝑚𝑜𝑙
103 𝑔𝑚𝑜𝑙 1 𝑚3
ρudara =
83,14 𝑏𝑎𝑟.𝑐𝑚3 /𝑔𝑚𝑜𝑙.𝐾 𝑥 300,4 𝐾

ρudara = 2,3095 kg/m3

b. Laju alir massa udara


D = 8,5 mm
1𝑚
=8,5 𝑚𝑚 = 8,5. 10−3 𝑚
103 𝑚𝑚
1
A = 4 𝜋. 𝐷2
1
A = 4 𝜋(8,5. 10−3 𝑚)2 = 5,6745. 10−5 𝑚2

ṁudara = ρudara . V2 . A
𝑘𝑔 𝑚
ṁudara = 2,3095 x 5,10 x 5,6745. 10−5 𝑚2
𝑚3 𝑠
= 0,6684.10−3 kg/s
c. Laju alir mol udara

ṅudara = 𝐵𝑀
𝑘𝑔
0,6684.10−3
𝑠
ṅudara = 𝑘𝑔
28,84 𝑘𝑔𝑚𝑜𝑙

= 0,2318. 10−4 kgmol/s


d. ΔHs isentropis
𝑃
ΔHs isentropis = − (ṅ. 𝑅. 𝑇 ln (𝑃1 ))
2

=
𝑘𝑔𝑚𝑜𝑙 𝐽 1,01325 𝑏𝑎𝑟
− (0,2318. 10−4 . 8314,3 . 300,4 𝐾 ln ( ))
𝑠 𝑘𝑔𝑚𝑜𝑙 𝐾 1,5 𝑏𝑎𝑟

= 39,3675 J/s
e. Energi Kinetik
ΔEk = ½ x ṁ (𝑣22 − 𝑣12 )
𝑘𝑔
= ½ x 0,6684.10−3 ( 5,102 – 02 ) m2/s2
𝑠

= 0,0087 kg.m2/s3
= 0,0087 J/s
f. Ws isentropis = ΔHs isentropis + ΔEk
= 39,3675 J/s + 0,0087 J/s
= 39,3762 J/s
g. Effisiensi kerja kompresor
𝑊𝑠 𝑖𝑠𝑒𝑛𝑡𝑟𝑜𝑝𝑖𝑠
ղ = x 100 %
𝑊𝑠
39,3762 𝐽/𝑠
= 503,8 𝐽/𝑠 x 100 %
= 7,82 %
2. Perhitungan nilai hilang panas pada sistem nosel
A. Variasi tekanan 4 bar
Data yang diperlukan
P2 = 1 atm = 1,01325 bar
T2 = 29,2OC + 273 = 302,2 K
Ws = 639,8 J/s
D = 0,7 mm
V2 = 6,50 m/s
ղ = 0,6612

Perhitungan :

a. Densitas udara

𝑃2 𝑥 𝐵𝑀𝑢𝑑𝑎𝑟𝑎
ρudara =
𝑅𝑥𝑇

𝑘𝑔 1 𝑘𝑚𝑜𝑙 106 𝑐𝑚3


1,01325 𝑏𝑎𝑟 𝑥 28,84 𝑘𝑚𝑜𝑙 103 𝑔𝑚𝑜𝑙 1 𝑚3
ρudara =
83,14 𝑏𝑎𝑟.𝑐𝑚3 /𝑔𝑚𝑜𝑙.𝐾 𝑥 302,2 𝐾

ρudara = 1,1631 kg/m3

b. Laju alir massa udara


D = 0,7 mm
1𝑚
=0,7 𝑚𝑚 = 7. 10−4 𝑚
103 𝑚𝑚
1
A = 4 𝜋. 𝐷2
1
A = 4 𝜋(7. 10−4 𝑚)2 = 3,84845 . 10−7 𝑚2

ṁudara = ρudara . V2 . A
𝑘𝑔 𝑚
ṁudara = 1,1631 x 6,50 x 3,84845. 10−7 𝑚2
𝑚3 𝑠
= 2,9095.10−6 kg/s
c. Energi Kinetik
ΔEk = ½ x ṁ (𝑣22 − 𝑣12 )
𝑘𝑔
= ½ x 2,9095.10−6 ( 6,502 – 02 ) m2/s2
𝑠

= 6,14632.10-5 kg.m2/s3
= 6,14632.10-5 J/s
d. Ws isentropis = Ws . ղ
= 639,8 J/s x 0,6612
= 423,03576 J/s
e. Q loss = ΔEk - Ws isentropis
= 0,000061463 J/s – 423,03576 J/s
= - 423,03567 J/s

B. Variasi tekanan 3 bar


Data yang diperlukan
P2 = 1 atm = 1,01325 bar
T2 = 29,0OC + 273 = 302 K
Ws = 614,4 J/s
D = 0,7 mm
V2 = 5,56 m/s
ղ = 0,3234
Perhitungan :
a. Densitas udara

𝑃2 𝑥 𝐵𝑀𝑢𝑑𝑎𝑟𝑎
ρudara =
𝑅𝑥𝑇

𝑘𝑔 1 𝑘𝑚𝑜𝑙 106 𝑐𝑚3


1,01325 𝑏𝑎𝑟 𝑥 28,84 𝑘𝑚𝑜𝑙 10 3 𝑔𝑚𝑜𝑙 1 𝑚3
ρudara =
83,14 𝑏𝑎𝑟.𝑐𝑚3 /𝑔𝑚𝑜𝑙.𝐾 𝑥 302 𝐾

ρudara = 1,1638kg/m3
b. Laju alir massa udara
D = 0,7 mm
1𝑚
=0,7 𝑚𝑚 = 7. 10−4 𝑚
103 𝑚𝑚
1
A = 4 𝜋. 𝐷2
1
A = 4 𝜋(7. 10−4 𝑚)2 = 3,84845 . 10−7 𝑚2

ṁudara = ρudara . V2 . A
𝑘𝑔 𝑚
ṁudara = 1,1638 x 5,56 x 3,84845. 10−7 𝑚2
𝑚3 𝑠
= 2,4902.10−6 kg/s
c. Energi Kinetik
ΔEk = ½ x ṁ (𝑣22 − 𝑣12 )
𝑘𝑔
= ½ x 2,4902.10−6 ( 5,562 – 02 ) m2/s2
𝑠

= 3,84905.10-5 kg.m2/s3
= 3,84905.10-5 J/s
d. Ws isentropis = Ws . ղ
= 614,4 J/s . 0,3234
= 198,69696 J/s
e. Q loss = ΔEk - Ws isentropis
= 3,8490.10-5 J/s – 198,69696 J/s
= -198,69692 J/s

C. Variasi tekanan 2 bar


Data yang diperlukan
P2 = 1 atm = 1,01325 bar
T2 = 28,9 OC + 273 = 301,9 K
Ws = 578,7 J/s
D = 0,7 mm
V2 = 3,71 m/s
ղ = 0,0782
Perhitungan :
a. Densitas udara

𝑃2 𝑥 𝐵𝑀𝑢𝑑𝑎𝑟𝑎
ρudara =
𝑅𝑥𝑇

𝑘𝑔 1 𝑘𝑚𝑜𝑙 106 𝑐𝑚3


1,01325 𝑏𝑎𝑟 𝑥 28,84 𝑘𝑚𝑜𝑙 103 𝑔𝑚𝑜𝑙 1 𝑚3
ρudara =
83,14 𝑏𝑎𝑟.𝑐𝑚3 /𝑔𝑚𝑜𝑙.𝐾 𝑥 301,9 𝐾

ρudara = 1,1642 kg/m3

b. Laju alir massa udara


D = 0,7 mm
1𝑚
=0,7 𝑚𝑚 = 7. 10−4 𝑚
103 𝑚𝑚
1
A = 4 𝜋. 𝐷2
1
A = 4 𝜋(7. 10−4 𝑚)2 = 3,84845 . 10−7 𝑚2

ṁudara = ρudara . V2 . A
𝑘𝑔 𝑚
ṁudara = 1,1642 3 x 3,71 x 3,84845. 10−7 𝑚2
𝑚 𝑠
= 1,6622.10−6 kg/s
c. Energi Kinetik
ΔEk = ½ x ṁ (𝑣22 − 𝑣12 )
𝑘𝑔
= ½ x 1,6622.10−6 ( 3,712 – 02 ) m2/s2
𝑠

= 1,1439.10-5 kg.m2/s3
= 1,14393.10-5 J/s
d. Ws isentropis = Ws . ղ
= 578,7 J/s . 0,0782
= 45,25434 J/s
e. Q loss = ΔEk - Ws isentropis
= 1,14393.10-5 J/s - 45,25434 J/s
= - 45,25433 J/s