Anda di halaman 1dari 23

REFLEKSI KASUS Agustus 2018

TUBERKULOSIS PARU

Disusun Oleh :
Olpin Ocdieltha Palajukan

Pembimbing :
Dr. Indah P. Kiay Demak, M.Med, Ed
dr. H. Syahriar, M.Kes

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2018

0
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Penyakit tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi yang
masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. TB adalah suatu penyakit
infeksi yang disebabkan bakteri berbentuk batang (basil) yang dikenal
dengan nama Mycobacterium tuberculosis dan ditularkan melalui
perantara droplet udara.1
Mycobacterium tuberculosis telah menginfeksi sepertiga penduduk
dunia. Pada Tahun 1993, WHO mencanangkan kedaruratan global
penyakit TB karena pada sebagian besar negara di dunia. Penyakit TB
tidak terkendali, ini disebabkan banyaknya penderita yang tidak berhasil
disembuhkan, terutama penderita menular /BTA (+). Jumlah penderita TB
diperkirakan akan meningkat seiring dengan munculnya epidemi
HIV/AIDS di dunia.1,3
Laporan World Health Organization (WHO) tahun 2012,
mendeskripsikan bahwa untuk wilayah regional Asia Tenggara merupakan
regional dengan kasus TB paru tertinggi yaitu sebesar 40%, diikuti
regional Afrika 26%, Pasifik Barat 19%, dan terendah pada regional Eropa
3%. Pada regional Asia Tenggara, negara tertinggi prevalensi TB Paru
adalah Myanmar yaitu 525 per 100.000 penduduk, diikuti Bangladesh
sebesar 411 per 100.000 penduduk, dan Indonesia menempati urutan ke
lima yaitu dengan prevalensi sebesar 289 per 100.000 penduduk.1,4,6
Laporan Riset Kesehatan Daerah (Riskesda) tahun 2010, memberikan
gambaran bahwa terdapat (5) lima provinsi yang memiliki angka
prevalensi tertinggi adalah (1) Papua 1.441 per 100.000 peduduk, (2)
Banten 1.282 per 100.000 penduduk), (3) Sulawesi Utara 1.221 per
100.000 penduduk, (4) Gorontalo 1.200 per 100.000 penduduk, dan (5)
DKI Jakarta 1.032 per 100.000 penduduk. Berdasarkan komposisi
penduduk, diketahui prevalensi TB paru paling banyak terdapat pada jenis

1
kelamin laki-laki 819 per 100.000 penduduk, penduduk yang bertempat
tinggal di desa 750 per 100.000 penduduk, kelompok pendidikan yang
tidak sekolah 1.041 per 100.000 penduduk), petani/nelayan/buruh 858 per
100.000 penduduk dan pada penduduk dengan tingkat pengeluaran kuintil
4 sebesar 607 per 100.000 penduduk.1
Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia, (2012), diketahui
peningkatan angka penjaringan suspek mempunyai range 8-123 per
100.000 penduduk. Provinsi dengan peningkatan angka penjaringan
suspek tertinggi adalah Provinsi Maluku (123 per 100.000 penduduk) dan
Provinsi Sumatera Utara (8 per 100.000 penduduk).3,5
Di Sulawesi Tengah sendiri berdasarkan jumlah penduduk
diperkirakan kasus TB BTA positif dimasyarakat pada tahun 2011 sekitar
4.856 orang. Pada tahun 2011 ditemukan 2.807 kasus yang menandakan
CDR hanya 57,80%. Angka CDR Propinsi masih dibawah 70%. Berbagai
upaya-upaya yang dilakukan, salah satunya promosi secara aktif,
pendekatan pelayanan terhadap pelayanan kesehatan yaitu memaksimalkan
Puskesmas Pembantu dan Bidan Desa untuk mendekatkan pelayanan TB
di masyarakat terpencil.2
Wilayah kerja Puskesmas Donggala pada tahun 2016 tercatat
penderita TB paru sebanyak 108 kasus. Pada tahun 2017 terjadi
peningkatan jumlah penderita TB paru yaitu sebanyak 113 kasus. Melalui
uraian diatas Penulis merasa penting untuk mengkaji lebih lanjut kasus TB
paru di daerah kerja Puskesmas Donggala.2

1.2.Tujuan
Adapun tujuan penyusunan laporan kasus ini meliputi :
1) Sebagai gambaran penyebaran penyakit TB Paru di wilayah kerja
UPTD Puskesmas Donggala
2) Sebagai upaya pencegahan meningkatnya kasus TB Paru pada tahun
2018 dibanding tahun sebelumnya

2
BAB II
IDENTIFIKASI MASALAH

2.1. Menentukan Prioritas Masalah Menggunakan Rumus Hanlon


Kuantitatif
Tabel 2.1 Prioritas masalah

No Masalaah Besar Kegawatan Kemungkinan Nilai


masalah diatasi Total

1 Gizi Kurang 4 3 2 9

2 Kurangnya 4 1 3 8
pencahayaan
dalam rumah

3 Paparan 4 3 3 10
dengan
Penderita TB

4 Asap akibat 3 3 1 7
penggunaan
kayu bakar

Dilihat dari table diatas masalah yang menjadi prioritas pada pasien
ini adalah paparan dengan penderita TB, gizi kurang dan kurangnya
pencahayaan dalam rumah.

a. KRITERIA A : Besar masalah, dapat dilihat dari besarnya insidensi atau


prevalensi. Skor 1-10
Masalah Besar masalah Nilai
kesehatan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

X (paparan V 9
dengan
penderita TB)

Y (gizi kurang) V 7

Z (kurangnya V 8
pencahayaan

3
dalam rumah)

b. KRITERIA B :Kegawatan Masalah (SKOR 1-5)


Masalah kesehatan Keganasan Tingkat Biaya yang Niilai
urgency dikeluarkan

X 4 3 2 9

Y 3 2 3 8

Z 2 2 3 7

c. KRITERIA C : Kemudahan dalam Penanggulangan

Sangat sulit Z Y X sangat mudah

1 2 3 4 5

d. KRITERIA D : PEARL factor


Masalah P E A R L Hasil
kesehatan perkalian

X 1 1 1 1 1 1

Y 1 1 1 1 1 1

Z 1 1 1 1 1 1

e. PENETAPAN NILAI
 Paparan terhadap penderita TB
NPD : (A+B) C = (9+9) 4= 18x4 = 72
NPT : (A+B) CxD = (9+9) 4x1 = 18x4 = 72

 Gizi kurang
NPD : (A+B) C = (7+8) 3 = 15x3 = 45
NPT : (A+B) CxD = (7+8) 3x1 = 15x3 = 45

4
 Kurangnya pencahayaan dalam rumah
NPD : (A+B) C = (8+6) 2 = 14x2 = 28
NPT : (A+B) CxD = (8+6) 2x1 =14x2= 28

f. KESIMPULAN
Masalah A B C NPD D NPT Prioritas
kesehatan (PEARL)

Paparan dengan 9 9 4 72 1 72 1
Penderita TB

Gizi Kurang 7 8 3 45 1 45 2

Kurangnya 8 6 2 28 1 28 3
pencahayaan
dalam rumah

Kesimpulan dari rumus ini yaitu masalah terhadap paparan dengan


penderita TB merupakan prioritas masalah yang menempati urutan ke-1
dari 3 prioritas masalah yang ada.

2.2. Kasus
A. Identitas pasien
Nama Pasien : Ny. H
Umur : 60 Tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Pendidikan terakhir : SD
Alamat : Desa Boneoge

B. Anamnesis
Keluhan utama: Batuk
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien mengeluhkan batuk yang dialami sejak ± 6 bulan yang lalu.
Batuk yang dirasakan terus menerus dan bertambah berat setiap harinya.

5
Batuk disertai dahak berwarna hijau. Pasien mengeluhkan sejak batuk-
batuk nafsu makan menjadi sangat menurun dan merasa badan lemas,
sehingga berat badan juga mengalami penurunan. Pasien juga mengaku
sering berkeringat pada malam hari dan kadang disertai demam. Demam
biasanya turun ketika pasien minum obat penurun demam. Keluhan sesak
nafas, batuk darah, mual, muntah, dan nyeri ulu hati disangkal pasien.
BAB dan BAK lancar seperti biasa.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien mengaku tidak pernah sebelumnya menjalani pengobatan
OAT. Riwayat penyakit Hipertensi (-), diabetes (-), gangguan jantung (-),
asma (-), alergi (-).
Riwayat Penyakit Keluarga:
Tidak ada riwayat terkena penyakit TBC di keluarga. Riwayat
penyakit Hipertensi (+), stroke (+), diabetes (-), gangguan jantung (-),
asma (-), alergi (-).
Riwayat pengobatan:
Tidak ada
Riwayat Sosial, Ekonomi dan Lingkungan
Pasien tinggal di rumahnya hanya bersama kakak perempuannya
yang sedang menderita stroke.
- Pasien merupakan keluarga ekonomi menengah ke bawah.
- Rumah tinggal pasien terdiri dari 1 ruang tidur, 1 ruang tamu dan 1
dapur. Dinding rumah terbuat dari kayu dan batako dan lantai rumah
terbuat dari cor semen.
- Ventilasi udara di rumah pasien sangat kecil dan cenderung tertutup
sehingga tidak ada cahaya matahari yang masuk sampai ke dalam
rumah dan juga pasien memiliki sedikit jendela dalam rumah.
- Pasien tidak memiliki kamar mandi serta jamban.
- Untuk air minum pasien mendapatkan air dari PDAM, pasien
mengaku ia memasak air untuk keperluan konsumsi rumah tangga.
- Untuk memasak biasanya pasien menggunakan kayu bakar.

6
- Didalam rumah tidak terdapat hewan peliharaan.
- Pasien mengaku tetangga pasien juga mengalami gejala yang sama
dengan pasien bahkan sampai mengalami batuk darah sejak 1 tahun
yang lalu dan sementara dirawat di RS Kabelota.

C. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Frek. Nadi : 84 x/menit
Frek. Napas : 20 x/menit
Suhu : 36,8 °C
Berat badan : 35 kg
Tinggi badan : 143 cm
Status gizi : kurang

Status Generalis
Kepala Leher:
Kepala : Deformitas (-)
Rambut : Hitam, lurus
Mata : Konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-, mata cekung -/-
Telinga : Liang telinga normal, serumen (+)
Hidung : Deformitas (-), sekret (-)
Leher : tidak teraba pembesaran KGB
Paru:
Inspeksi:
- Permukaan dada simetris, penggunaan otot-otot bantu pernapasan (-)
Palpasi:
- Nyeri tekan (-), massa (-), edema (-), krepitasi (-)
- Gerakan dinding dada simetris kiri dan kanan
- Taktil fremitus simetris kiri dan kanan

7
Perkusi:
- Paru sonor di kedua lapang paru.
Auskultasi:
- vesikuler (+/+), ronkhi (+/+), wheezing (-/-)
Jantung :
Inspeksi : Iktus kordis tampak
Palpasi : Iktus kordis teraba pada ICS V linea midclavicula sinistra
Perkusi : Pekak
Auskultasi : Bunyi jantung I dan II murni, reguler, bising jantung (-).
Abdomen:
Inspeksi : Permukaan datar
Auskultasi : Peristaltik kesan normal
Perkusi : Timpani seluruh abdomen
Palpasi : massa (-), nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba.
Ekstremitas
Atas : Akral hangat, edema (-)
Bawah : Akral hangat, edema (-)

D. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan spesimen hasil BTA sewaktu (+) pagi (+), sewaktu (+),

E. Resume
Pasien wanita berusia 60 tahun mengeluhkan batuk yang dialami
sejak ± 6 bulan yang lalu. Batuk yang dirasakan terus menerus dan
bertambah berat setiap harinya. Batuk disertai dahak berwarna hijau.
Pasien mengeluhkan sejak batuk-batuk nafsu makan menjadi sangat
menurun dan merasa badan lemas, sehingga berat badan juga mengalami
penurunan. Pasien juga mengaku sering berkeringat pada malam hari dan
kadang disertai demam. Demam biasanya turun ketika pasien minum obat
penurun demam. Keluhan sesak nafas, batuk darah, mual, muntah, dan
nyeri ulu hati disangkal pasien. BAB dan BAK lancar seperti biasa.

8
Tanda-tanda vital: TD 110/70 mmHg, nadi 84 kali/menit, respirasi
20 kali/menit, suhu 36,8°C, BB 35 Kg, TB 143, status gizi kurang
Pemeriksaan fisik: keadaan umum baik, kesadaran compos mentis.
Pemeriksaan fisik didapatkan bunyi napas tambahan yaitu Rh +/+ .
Pemeriksaan BTA sewaktu (+) pagi (+) dan sewaktu (+).

F. Diagnosis Kerja
Tuberculosis Paru

G. Penatalaksanaan
Medikamentosa
Terapi OAT FDC kategori I tahap intensif RHZE selama 2 bulan dan terapi
lanjutan selama 4 bulan.
Non Medikamentosa
Edukasi:
- Penyakit yang diderita adalah penyakit TB yang menular dan bisa
menyerang siapa saja.
- Menjelaskan kepada pasien tentang gejala-gejala pada penyakit TB dan
cara penularannya
- Membuang dahak pada wadah tertutup yang berisi pasir dan air sabun
diganti minimal 1x sehari, kemudian menguburnya di tempat yang jarang
dilewati orang serta menggunakan masker
- Menjelaskan kepada anggota keluarga pasien yang tinggal serumah
dengan pasien untuk memeriksakan dahaknya di laboratorium untuk
memastikan adanya anggota keluarga yang lain yang mengidap penyakit
TB seperti pasien atau tidak
- Menjelaskan kepada pasien agar tekun minum obat serta rutin
memeriksakan dirinya sampai dinyatakan sembuh untuk evaluasi
perkembangan penyakit TB di Puskesmas meskipun pasien sudah merasa
sehat sebelum dinyatakan sembuh

9
- Jagalah kebersihan rumah dan pencahayaan di dalamnya, buka jendela
setiap hari pagi dan siang hari.
- Menganjurkan pasien mengkonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan
untuk meningkatkan daya tahan tubuh

H. Prognosis
Dubia ad bonam

I. Anjuran
- Foto thorax
- Skrining terhadap anggota keluarga yang tinggal serumah dengan
pasien

10
BAB III
PEMBAHASAN

3.1. Aspek Klinis


Pasien wanita berusia 60 tahun mengeluhkan batuk yang dialami
sejak ± 6 bulan yang lalu. Batuk yang dirasakan terus menerus dan
bertambah berat setiap harinya. Batuk disertai dahak berwarna hijau.
Pasien mengeluhkan sejak batuk-batuk nafsu makan menjadi sangat
menurun dan merasa badan lemas, sehingga berat badan juga mengalami
penurunan. Pasien juga mengaku sering berkeringat pada malam hari dan
kadang disertai demam. Demam biasanya turun ketika pasien minum obat
penurun demam. Keluhan sesak nafas, batuk darah, mual, muntah, dan
nyeri ulu hati disangkal pasien. BAB dan BAK lancar seperti biasa.
Keluarga pasien tidak ada yang mengalami penyakit yang sama,
namun tetangga pasien mengalami gejala yang sama dengan pasien
bahkan sampai batuk darah.
Tanda-tanda vital: TD 110/70 mmHg, nadi 84 kali/menit, respirasi
20 kali/menit, suhu 36,8°C, BB 35 Kg, TB 143, status gizi kurang
Pemeriksaan fisik: keadaan umum baik, kesadaran compos mentis.
Pemeriksaan fisik didapatkan bunyi napas tambahan yaitu Rh +/+ .
Pemeriksaan BTA sewaktu (+) pagi (+) dan sewaktu (+).
Penyakit tuberkulosis (TB) paru merupakan penyakit infeksi yang
masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. TB adalah suatu penyakit
infeksi yang disebabkan bakteri berbentuk batang (basil) yang dikenal
dengan nama Mycobacterium tuberculosis dan ditularkan melalui
perantara droplet udara.1
Cara penularan TB paru yaitu :3
- Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif

11
- Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara
dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat
menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak.
- Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak
berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah
percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman.
Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang
gelap dan lembab.
- Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman
yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil
pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut.
- Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan
oleh konsentrasi

3.2. Aspek Ilmu Kesehatan Masyarakat


Suatu penyakit dapat terjadi oleh karena ketidakseimbangan faktor-
faktor utama yang dapat mempengaruhi derajat kesehatan masyarakat.
Paradigma hidup sehat yang diperkenalkan oleh H.L. Bloom mencakup 4
faktor yaitu faktor genetik/biologis, faktor perilaku individu atau
masyarakat, faktor lingkungan dan faktor pelayanan kesehatan (jenis,
cakupan dan kualitasnya).6 Berdasarkan kasus di atas, jika dilihat dari segi
konsep kesehatan masyarakat, maka ada beberapa yang menjadi faktor
risiko yang mempengaruhi derajat kesehatan TB paru yaitu:
1. Faktor genetik
Berdasarkan teori TB bukanlah penyakit keturunan, karena TB
merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman
Mycobacterium tuberculosis.
2. Faktor lingkungan
Lingkungan memegang peranan yang sangat penting dalam
terjadinya sebuah penyakit, apalagi penyakit tersebut adalah penyakit
berbasis lingkungan. Hal ini tentu saja dapat menyebabkan mudahnya

12
terjadi infeksi apabila tidak ada keseimbangan dalam lingkungan.
Dalam kasus ini lingkungan tempat tinggal mendukung terjadinya
penyakit TB yang dialami pasien. Lingkungan tempat tinggal
merupakan salah satu faktor yang memberikan pengaruh besar
terhadap status kesehatan penghuninya. Lingkungan tempat tinggal
merupakan salah satu faktor yang berperan dalam penyebaran kuman
tuberkulosis. Kuman tuberkulosis dapat hidup selama 1-2 jam bahkan
sampai beberapa hari hingga berminggu-minggu tergantung pada ada
tidaknya sinar ultraviolet, ventilasi yang baik, kelembaban, suhu
rumah, dan kepadatan rumah.3,4
- Pencahayaan rumah
Keadaan tempat tinggal pasien pada kasus ini tergolong lembab
dan sangat kurang pencahayaan. Kamar tidur pasien tidak memiliki
jendela untuk akses cahaya masuk. Hal ini menyebabkan
mikroorganisme dapat berkembang biak dengan pesat, termasuk
kuman dan bakteri penyebab TB.
- Kepadatan hunian rumah
Tempat tinggal pasien merupakan sebuah rumah, dalam kasus ini
rumah pasien dengan tetangganya memiliki jarak yang sangat dekat
yaitu sekitar 5 meter. Hal ini tentu dapat menjadi faktor pendukung
untuk tersebarnya penyakit TB dengan mudah.
3. Faktor perilaku
Perilaku dapat terdiri dari pengetahuan, sikap dan tindakan.
Pengetahuan penderita TB paru yang kurang tentang cara penularan,
bahaya, dan cara pengobatan akan berpengaruh terhadap sikap dan
perilaku sebagai orang sakit dan akhirnya berakibat menjadi sumber
penular bagi orang disekelilingnya.5
- Pengetahuan yang kurang tentang TB
Pasien sebelumnya mengetahui tentang TB, namun terbatas sekedar
mengetahi bahwa TB adalah suatu penyakit paru yang harus
diobati. Mengenai faktor resiko, tanda dan gejalanya, cara

13
penularan, akibat dan sebagainya masih belum banyak diketahui
oleh pasien. Pengetahuan yang kurang ini mempengaruhi tindakan
yang menjadi kurang tepat. Pasien mengaku tidak segera
memeriksakan diri ketika sudah ada gejala sakit yang mengarah ke
TB. Pasien baru memeriksakan dirinya setelah ± 6 bulan setelah
gejala muncul karena pasien tidak mengetahui gejala TB dan
pasien baru memeriksakan dirinya ketika menantu adiknya datang
ke rumahnya serta pasien juga tidak memiliki kendaraan untuk
datang ke puskesmas. Selain itu, akibat pengetahuan tentang TB
yang kurang, pasien tetap melakukan aktivitas seperti biasa dalam
rumah tanpa upaya pencegahan untuk penularan melalui droplet
saat batuk.
4. Faktor pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan di Puskesmas Donggala berperan untuk
mencegah terjadinya penyakit TB. Petugas puskesmas mengadakan
program penyuluhan mengenai penyakit TB di masyarakat dan
melayani pengobatan di Puskesmas. Hal ini mencerminkan bahwa
masih kurang pengetahuan masyarakat mengenai penyakit TB dan
peran petugas kesehatan dalam melakukan penyuluhan di masyarakat.
Pada pasien ini, telah melakukan pemeriksaan ke Puskesmas
dengan hasil BTA sewaktu (+) pagi (+) dan sewaktu (+), sehingga
diberikan pengobatan OAT fase intensif selama 2 bulan dan tahap
lanjutan selama 4 bulan.
Berdasarkan Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis
tahun 2014, alur diagnosis pasien TB Dewasa adalah sebagai berikut
:3

14
Adapun saran yang direkomendasikan sesuai dengan kendala
yang didapatkan sebagai berikut :
Upaya pencegahan (preventif) terhadap penyakit TB dapat
dilaksanakan dengan mangaplikasikan lima tingkat pencegahan
penyakit (five level prevention), sebagai berikut :4,5
1. Promosi kesehatan
Promosi kesehatan dalam mencegah terjadinya tuberculosis
dapat
dengan cara :
- Meningkatkan penyuluhan mengenai penyebaran
tuberkulosis

15
- Meningkatkan penyuluhan tentang edukasi secara
keseluruhan TB di masyarakat secara umum dan di keluarga
pasien secara khusus
2. Perlindungan khusus
Perlindungan khusus dalam mencegah terjadinya TB adalah :
- Perbaikan status gizi pasien dan keluarga
- Perbaikan ventilasi rumah dan pencahayaan di rumah pasien
- Perbaikan perilaku pasien serta keluarga
3. Diagnosis dini dan pengobatan segera
Diagnosis dini dan pengobatan segera dengan tujuan untuk
mencegah terjadinya penyakit yang lebih berat. Upaya yang dapat
dilakukan, yaitu:
- Mencari kasus sedini mungkin
- Diagnosis sedini mungkin
- Penatalaksanaan yang tepat
4. Pembatasan cacat
Pembatasan cacat merupakan pencegahan untuk terjadinya
kecacatan atau kematian akibat tuberculosis. Adapun upaya yang
dapat dilakukan, yaitu :
- Melakukan pengobatan dan perawatan sesuai pedoman
sehingga penderita sembuh dan tidak terjadi komplikasi
- Meningkatkan kinerja pelayanan kesehatan sebagai
penunjang untuk memungkinkan pengobatan dan perawatan
yang lebi intensif dan sembuh
5. Rehabilitasi
Rehabilitasi dalam mencegah tuberculosis dapat dilakukan
dengan cara :
- Rehabilitasi medik apabila terdapat gangguan kesehatan fisik
- Pemberantasan seperti :
o Penyuluhan kesehatan
o Pengobatan dan perawatan kasus dengan tepat.

16
BAB IV
PENUTUP

4.1. Kesimpulan
1) Faktor yang dominan menyebabkan kejadian TB paru pada kasus yaitu
faktor perilaku. Kurangnya pengetahuan pasien mengenai faktor risiko,
cara penularan serta tanda dan gejala penyakit TB paru yang membuat
pasien mudah tertular TB paru dari tetangga rumah pasien.
2) Selain faktor perilaku pasien, faktor lingkungan juga mempengaruhi
pada kasus yaitu pencahayaan rumah pasien masih sangat kurang dan
kepadatan hunian rumah pasien yang membuat faktor risiko untuk
tertular TB paru sangat tinggi.
3) Dan juga faktor pelayanan kesehatan berupa kurangnya penyuluhan
mengenai TB paru.

4.2. Saran
1. Pasien harus diberitahu untuk menyelesaikan pengobatan selama 6
bulan
2. Melakukan edukasi terhadap pasien tentang cara etika batuk dan
memakai masker.
3. Melakukan skrining terhadap keluarga terdekat.
4. Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan sekitar.
5. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai TB paru
berupa faktor risiko, cara penularan, tanda dan gejalanya serta
pengobatannya.

17
DAFTAR PUSTAKA

1. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis Pedoman Diagnosis dan


Penatalaksanaan di Indonesia. 2011.
2. UPTD Puskesmas Donggala, 2016. Profil Kesehatan Puskesmas Donggala.
Depkes RI, Donggala.
3. Kementrian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pengendalaian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan. 2014. Pedoman Nasional Pengendalian
Tuberculosis.
4. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 67 Tahun 2016 tentang Penanggulangan
tuberkulosis. Jakarta; Menteri Kesehatan Republik Indonesia; 2017.
5. Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Tahun 2012 tentang Program pengendalian tuberkulosis.
Jakarta; Menteri Kesehatan Republik Indonesia; 2012.
6. Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Tadulako. Buku Panduan Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Palu: Bagian IKM FKIK Untad; 2017.

18
LAMPIRAN

19
20
21
22