Anda di halaman 1dari 6

PROPOSAL

STUDI FEMANFAATAN POHON NIPAH (Nypa frutincas ) OLEH MASYARAKAT DI KAMPUNG


KLALIN DISTRIK KLAMALU KABUPATEN SORONG

Oleh:

EKBER PAPEI

NIM. 16031006

PAKULTAS PERTANIAN

PROGRAM STUDI AGREBISNIS

UNIVERSITAS KRISTEN PAPUA SORONG

2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hutan Indonesia dengan luas 120,35 juta hektar merupakan kelompok hutan tropis
yang sangat besar di dunia,mempunyai fungsi utama sebagai paru-paru dunia serta
dianggap signifikan mempengaruhi iklim dunia. Selain hutan Indonesia sebagai sumber
keanekaragaman hayati telah menjadi perhatian dunia untuk dapat dipertahankan
keberadaan dan tingkat megabiodifersitinya yang menjadi sangat penting di kemudian hari
.

Papua dengan luas daratan sebesar 42,2 juta ha merupakan kawasan hutan (97 % )
yang kaya akan keanekaragaman hayati dan jasa lingkungan yang perlu dikelola dan
dimanfaatkan bagi kesejahteraan rakyat (Kapisa, 2005).

Pada kawasan hutan nipah di sekitar pantai juga sangat menentukan populasi biota
laut. Sebagai titik temu antara air laut dengan air tawar, di kawasan hutan Nipah ini sering
terjadi perubahan soliritas air. Kadang -kadang tawar kadang - kadang asin, maka hewan
yang hidup di kawasan ini adalah hewan-hewan tertentu yang memiliki ketahanan fisik
khusus.

Nipah (Nypa fruticans) termasuk dalam famili palmae, dan banyak didapati di rawa-
rawa air payau dan depan muara-muara sungai (Hyene, 1987), pada ketinggian 0-200 m
dpl, iklim basah dan cukup mengandung bahan organik. Di indonesia, penyebaran hutan
nipah meliputi sepanjang sungai dan pantai berlumpur atau berpasir di pantai timur
sumatera (sumatera utara, riau, jambi, sumatera selatan, dan lampung), kalimantan,
sulawesi tengah dan tenggara,dan jawa, hutan nipah ada dalam luasan kecil-kecil (Anonim,
1993)
Buahnya membulat seperti buah pandan dengan panjang bonggol hingga 45 cm.
Sebaran jenis tanaman ini utamanya di daerah equator, melebar dari Sri Langka ke Asia
Tenggara hingga Australia Utara. Luas areal pertanaman nipah di Indonesia diperkirakan
700.000 ha, terluas dibandingkan dengan Papua Nugini (500.000 ha) dan Filipina (8.000 ha)
(www.kehati.or.id, 2009).

Nipah juga merupakan sumber pangan dan energi, namun belum banyak dipublikasi
mengenai potensi maupun pemanfaatannya. Padahal hampir di sebagian besar sungai yang
masih terpengaruh oleh pasangnya air laut banyak dijumpai tumbuhan nipah dengan
populasi yang sangat besar. Dilaporkan bahwa pemanfaatan nipah secara tradisional oleh
masyarakat di Batu Ampar, Pontianak, untuk menghasilkan gula dan garam selain jajanan
yang dibuat dari buah (endosperma) nipah (Santoso et al., 2005). Gula nipah diperoleh
melalui pengolahan nira (cairan manis yang diperoleh dari tandan bunga sebelum mekar),
sedangkan garam nipah diperoleh dari daging pelepah yang tua.

Penganekaragaman pangan dari sumber daya hutan merupakan salah satu solusi
kebutuhan pangan, khususnya karbohidrat dan protein. Hal inisesuai dengan kesepakatan
bersama seluruh Gubernur dalam Konferensi Dewan Ketahanan Pangan pada 12-13
Nopember 2008 untuk mengembangkan dan mempercepat penganekaragaman pangan
serta meningkatkan citra pangan lokal dimasing-masing daerah (Dewan Ketahanan Pangan,
2008).

Nipah tergolong tanaman dataran rendah yang menyukai iklim pantai dan tumbuh
liar pada ketinggian 0-10 meter dari permukaan laut. Nipah tumbuh dengan baik pada
tanah lumpur halus yang berair payau dengan tingkat keasaman (pH) 6-6,5 dan kadar
salinitas antara 50-100 mmosh/cm3 serta pada suhu lingkungan berkisar 20OC -35OC. Suhu
rendah sangat mempengaruhi pertumbuhan nipah karena nipah sangat toleran terhadap
suhu lingkungan.

Nipah (nypa fruticans) atau dalam bahasa Inggris dikenal dengan nama nipa palm,
water palm, dan water coconut. Tanaman ini mempunyai nama berbeda-beda di setiap
daerah tumbuhnya. Di Malaysia dan Indonesia dikenal dengan nama nipah, di Filipina
dalam bahasa Tagalog diberi nama Loso, dan di Australia oleh orang Aborigin disebut Ki-
bano dan Tacannapon.

Pemanfaatan nipah secara tradisional sudah sejak lama dilakukan oleh masyarakat
dan sudah di usahakan secara turun temurun. Atap daun nipa banyak digunakan
masyarakat sumatera selatan untuk atap rumah tradisional di kampung-kampung, untuk
bedeng, kandang ternsk,atau untuk membuat gubuk di sawah. Permintaan atap daun nipah
semakin tinggi saat petani banyak membangun gubuk menjelang panen padi lebak sekitar
bulan september. Sedangkan pemanfaatan hutan nipah dalam bentuk pengusahaan sudah
mulai dilakukan setelah diketahui nira nipah mengandung kadar sukrosa yang tinggi yang
dapoat digunakan untuk bahan pembuatan gula alternatif atau alkohol (Alrasyid, 2001).

Manfaat lainnya adalah berupa tangkai daun dan pelepah nira yang dapat
digunakan sebagai bahan kayu bakar yang baik. Pelepah daun nipah juga mengandung
sukrosa yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan pilp (bubur kertas).
Lidinya dapat digunakan sebagai sapu, bahan anyam-anyaman dan tali. Nipa dapat pula
disadap niranya, yakni cairan manis yang diperoleh dari tanda bunga yang belum mekar.
Nira yang dikeringkan dengan dimasak dipasarka sebagai gula nipah (palm sugar). Dari hasil
oksidasi gula nipah dapat dihasilkan cuka. Di pulau rote dan sawu, nusa tengga timur, nira
nipah diberikan ternak babi di musim kemarau. Konon, hal ini bisa memberikan rasa manis
pada daging babi (www.wikipedia.com).

Di filipina dan juga di papua, nira ini diperam untuk menghasilkan semacam tuak
yang dinamakan tube (dalam bahasa filiphina). Fermentasi lebih lebih lanjut dari tube akan
mengahasilkan cuka. Di malaysia, nira nipah dibuat sebagai bahan baku etanol yang dapat
dijadikan bahan bakar nabati pengganti bahan bakar minyak bumu. Etanol yang dapat
dihasilkan adalah sekitar 11,000 liter/ha/tahun, jauh lebih unggul dibandingkan kelapa
sawit (5,000 liter/ha/tahun). Sedangkan umbut nipah dan buah dapat dimakan. Biji buah
nipah yang muda, yaitu disebut tembatuk, mirip dengan kolang-kaling (buah atep), dan
juga diberi nama attap chee(“chee” berarti “biji” menurut dialek china tertentu).
Sedangkan buah yang sudah tua bisa ditumbuk untuk dijadikan tepung
(www.wikipedia.com).

Dalam sebuah ekosistem pasang surut, nipah hidup bersama-sama dengan tanaman
lain seperti Rhizopora spp, avicenia spp, gruguiera, xylocarpus spp, ceriops spp, lumnizera
spp,dan melaleuca spp. Saat ini data tentang hutan nipah diseluruh indonesia masih sangat
mini, demikian pula data mengenai luas hutan nipah di sumatera selatan bisa didekati
dengan melihat luas hutan mangrove yang diperkirakan mencapai + 363ribu hektar
(anonim,2001). Namun demikian, kerusakan hutan mangrove departemen kehutanan
tahun 2004, dari8,6 juta hektar lahan mangrove yang ada, 68 persennya atau sekitar 5,6
juta hektar telah rusak (pranawingtyas, 2004). Sementara itu teknik budidaya dan
pengembangan tanaman nipah sejauh ini belum banyak dikuasai, megingat penelitian-
penelitian yang terkait dengan tanaman ini masih sangat terbatas.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian tentang kondisi yang telah dikemukakan diatas, maka untuk
mengkaji permasalahan tersebut dapat disusun pertanyaan sebagai berikut:

1. Apa manfaat Nipah menurut pendapat masyarakat Kampung Mariat Pantai Distrik
Aimas Kabupaten Sorong ?

2. Bagaimana cara pegelolaan Nipah yang dilakukan masyarakat di Kampung Mariat Pantai
Distrik Aimas Kabupaten Sorong ?

1.3 Tujuan

Adapun tujuan yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah:

1. Mengetahui bentuk-bentuk pemanfaatan nipah sesuai kegunaannya serta upaya-upaya


pelestarian hutan oleh masyarakat di Kampung Mariat Pantai Distrik Aimas Kabupaten
Sorong.
2. Mengetahui cara pengelolaan nipah oleh masyarakat di Kampung Mariat Pantai Distrik
Aimas Kabupaten Sorong.

1.3 Manfaat
Adapun manfaat yang dapat diambil dari hasil penelitian ini adalah:

1. Dapat menjadi sumber informasi tentang pemanfaatan tumbuhan Nipah bagi pihak
terkait guna pelestarian dan pengembangan potensi

2. dapat mengenal budaya masyarakat dalam hal tata cara pengelolaan Nipah

3. Meningkatkan kesadaran masyarakat untuk ikut serta dalan pelestarian tanaman Nipah