Anda di halaman 1dari 30

2018

ARSITEKTUR TROPIS

SELLI NOVIA F221 15 077

FAKULTAS TEKNIK | JURUSAN ARSITEKTUR | UNIVERSITAS TADULAKO


KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil alamin, syukur atas Kehadirat Allah SWT yang Maha
Kuasa karena berkat rahmat, hidayah, ridha dan kehendaknya penulis dapat
menyelesaikan Tugas Makalah yang berjudul “Arsitektur Tropis” yang
merupakan salah satu syarat untuk lulus di mata kuliah Green Arsitektur.

Penulis sangat mengharapkan, semoga makalah ini dapat memberikan


manfaat bagi pembaca dan mahasiswa teknik arsitektur khususnya. Tak pula juga
penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala kehilafan penulis dalam
proses pembuatan makalah ini baik yang sengaja maupun yang tidak disengaja
karena penulis percaya bahwa semua itu merupakan suatu proses dalam belajar
mengajar.

Palu, Desember 2018

Selli Novia
F221 15 077

ARSITEKTUR TROPIS ii
DAFTAR ISI

SAMPUL ............................................................................................................ i

KATA PENGANTAR ....................................................................................... ii

DAFTAR ISI ...................................................................................................... iii

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... iv

BAB I PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2.Rumusan Masalah ................................................................................ 2
1.3.Tujuan dan Sasaran .............................................................................. 2
1.4.Metode Pengumpulan Data .................................................................. 2

BAB II ISI
2.1. Defenisi Arsitektur Tropis................................................................... 3
2.2. Klasifikasi Iklim Tropis ...................................................................... 4
2.3. Kriteria Perencanaan Pada Iklim Tropis Lembab ............................... 5
2.4. Ciri-Ciri Bangunan Arsitektur Tropis ................................................. 10
2.5. Paradigma Desain Tropis .................................................................... 13
2.6. Contoh Bangunan Arsitektur Tropis ................................................... 19
2.6.1. Intiland Tower .......................................................................... 19
2.6.2. Fish House ................................................................................ 23

BAB III PENUTUP


3.1. Kesimpulan ....................................................................................... 24
3.2. Saran .................................................................................................. 25

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 26

ARSITEKTUR TROPIS iii


DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1. Hutan hujan tropis .......................................................................... 4


Gambar 2.2. Gurun pasir dan bangunan di gurun ............................................... 5
Gambar 2.3. Kondisi bangunan pada waktu hujan dan panas matahari.............. 6
Gambar 2.4. Aliran udara pada bangunan ........................................................... 7
Gambar 2.5. Sun Shading .................................................................................... 8
Gambar 2.6. Pencahayan sinar matahari pada bangunan .................................... 9
Gambar 2.7. Bentuk Atap Tropis Modern .......................................................... 10
Gambar 2.8. Lanskap Arsitektur Tropis .............................................................. 11
Gambar 2.9. Jendela Jalusi .................................................................................. 11
Gambar 2.10. Tampak Depan Rumah ................................................................. 12
Gambar 2.11. Ruang Dalam ................................................................................ 12
Gambar 2.12. Penggunaan Sunshading dari kayu ............................................... 12
Contoh 2.13. Bangunan paradigma line, edge,and shade ................................... 13
Gambar 2.14. Penggunaan Louver dan Shading pada bangunan ........................ 14
Gambar 2.15. Penerapan paradigma Reinvigorating Tradition .......................... 16
Gambar 2.16. Transformasi bangunan masjid dan bangunan DPRD ................. 17
Gambar 2.17. Interprestasi rumah adat Bali........................................................ 18
Gambar 2.18. Tampak depan Intiland Tower ..................................................... 19
Gambar 2.19. Sisi pada bangunan Intiland Tower .............................................. 20
Gambar 2.20. Bentuk bangunan terhadap respon iklim ...................................... 20
Gambar 2.21. Penerapan Light and Shadow ....................................................... 20
Gambar 2.22. Material pada fasad ...................................................................... 21
Gambar 2.23. Penggunaan bukaan yang lebar .................................................... 21
Gambar 2.24. Tanaman merambat pada fasad bangunan ................................... 22
Gambar 2.25. Kolom pada bangunan Intiland Tower ......................................... 22
Gambar 2.26. Exterior pada bangunan Fish House............................................. 23
Gambar 2.27. Bentuk atap bangunan Fish House ............................................... 23

ARSITEKTUR TROPIS iv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Indonesia yang dilewati garis khatulistiwa termasuk daerah yang memiliki
iklim tropis lembab. Iklim tropis dapat didefinisikan sebagai daerah yang
terletak di antara garis isotherm 20° C di sebelah bumi utara dan selatan atau
daerah yang terdapat di antara 23½° lintang utara dan 23½° lintang selatan.
Pada dasarnya iklim tropis dibedakan menjadi daerah iklim tropis kering yang
meliputi padang pasir, stepa, dan savana, sedangkan iklim tropis lembab
meliputi hutan tropis, daerah dengan angin musim dan savana lembab.
(Prasetya, 2002 : hal. 1)
Salah satu alasan mengapa manusia membuat bangunan adalah karena
kondisi alam iklim tempat manusia berada tidak selalu baik menunjang aktivitas
yang dilakukannya. Aktivitas manusia yang bervariasi memerlukan kondisi
iklim sekitar tertentu yang bervariasi pula. Untuk melangsungkan aktivitas
kantor, misalnya, diperlukan ruang dengan kondisi visual yang baik dengan
intensitas cahaya yang cukup, kondisi termis yang mendukung dengan suhu
udara pada rentang-nyaman tertentu, dan kondisi audial dengan intensitas
gangguan bunyi rendah yang tidak mengganggu pengguna bangunan.
Untuk itu seorang perancang suatu bangunan harus benar-benar mengetahui
kondisi topografi dan iklim letak bangunan yang akan di rancanganya begitupun
juga dengan seorang mahasiswa arsitektur Indonesia yang harus memahami dan
mengetahui kondisi iklim dan topografi di Indonesia sebagai salah satu negara
tropis di dunia sehingga nantinya akan membantu menghasilkan desain
bangunan yang mampu beradaptasi terhadap lingkungannya.
1.2.Rumusan Masalah
Sejalan dengan latar belakang di atas penulis merumuskan rumusan masalah
sebagai berikut:
1) Bagaimana defenisi Arsitektur Tropis ?
2) Bagaimana klasifikasi iklim tropis ?
3) Bagaimana kriteria perencanaan pada iklim tropis lembab ?
4) Bagaimana ciri-ciri bangunan arsitektur tropis ?
5) Bagaimana paradigma desain tropis ?
6) Bagaimana contoh bangunan arsitektur tropis ?

1.3.Tujuan dan Sasaran


Tujuan dan sasaran dari penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan
kepada para pembaca tentang Arsitektur Tropis, sehingga pembaca dapat
mengetahui penerapan arsitektur tropis pada bangunan dengan baik, terutama
bagi mahasiswa arsitektur.

1.4.Metode Pengumpulan Data


Dalam penyusunan makalah ini penulis mengumpulkan data melalui cara :
1. Pengambilan bahan materi dari situs-situs internet
Dalam penulisan makalah ini, untuk mendapatkan informasi tentang
Arsitektur Tropis, maka penulis melakukan suatu metode pengambilan
bahan materi melalui situs-situs internet terpercaya, yang berhubungan
dengan materi “Arsitektur Tropis” tersebut.

2. Pengambilan dari reverensi buku-buku


Selain mengambil data/informasi dari situs internet, penulis juga
mengambil data dari referensi buku-buku yang berhubungan Arsitektur
Tropis dengan tujuan untuk melengkapi data yang ada.

ARSITEKTUR TROPIS 2
BAB II
ISI

2.1.Defenisi Arsitektur Tropis


Menurut Marcus Pollio Vitruvius (1486) Arsitektur adalah kesatuan dari
kekuatan/kekokohan (firmitas), keindahan (venustas), dan kegunaan/fungsi
(utilitas).Menurut Francis DK Ching (1979) arsitektur membentuk suatu tautan
yang mempersatukan ruang, bentuk, teknik dan fungsi. Menurut Amos
Rappoport (1981) arsitektur adalah ruang tempat hidup manusia, yang lebih dari
sekedar fisik, tapi juga menyangkut pranata-pranata budaya dasar. Pranata ini
meliputi: tata atur kehidupan sosial dan budaya masyarkat, yang diwadahi dan
sekaligus memperngaruhi arsitektur.
Sedangkan menurut JB. Mangunwijaya (1992) Arsitektur sebagai
vastuvidya (wastuwidya) yang berarti ilmu bangunan. Dalam pengertian wastu
terhitung pula tata bumi, tata gedung, tata lalu lintas (dhara, harsya, yana).
Arsitektur adalah seni dan ilmu dalam merancang bangunan. Dalam
artian yang lebih luas, arsitektur mencakup merancang dan membangun
keseluruhan lingkungan binaan, mulai dari level makro yaitu perencanaan kota,
perancangan perkotaan, arsitektur lanskap, hingga ke level mikro yaitu desain
bangunan, desain perabot dan desain produk.
Pengertian Tropis berasal dari kata tropicos dalam bahasa Yunani Kuno
berarti garis balik. Daerah tropis dapat dibagi dalam dua kelompok iklim utama
yaitu tropis basah dan tropis. Indonesia termasuk dalam daerah tropis lembab
yang ditandai oleh kelembaban udara yang relatif tinggi pada umumnya di atas
90%, curah hujan yang tinggi, serta temperatur rata-rata tahunan di atas 18C
dan biasanya sekitar 23C dan dapat mencapai 38C dalam musim kemarau.
Lebih khusus lagi, Indonesia termasuk dalam daerah sekunder hutan hujan
tropis (tropis lembab).
Arsitektur tropis merupakan representasi konsep bentuk yang
dikembangkan berdasarkan respon terhadap iklim yang dialami oleh Negara
Indonesia yaitu tropis lembab. Konsep arsitektur tropis, pada dasarnya adalah

ARSITEKTUR TROPIS 3
adaptasi bangunan terhadap iklim tropis, dimana kondisi tropis membutuhkan
penanganan khusus dalam desainnya.
Pengaruh utama berasal dari kondisi suhu tinggi dan kelembaban tinggi,
dimana pengaruhnya ada pada tingkat kenyamanan ketika pengguna berada
dalam ruangan. Tingkat kenyamanan seperti tingkat sejuk udara dalam
bangunan, oleh aliran udara, adalah salah satu contoh aplikasi konsep bangunan
tropis. Meskipun konsep bangunan tropis selalu dihubungkan dengan sebab
akibat dan adaptasi bentuk (tipologi) bangunan terhadap iklim, banyak juga
interpretasi konsep ini dalam tren yang berkembang dalam masyarakat; sebagai
penggunaan material tertentu sebagai representasi dari kekayaan alam tropis,
seperti kayu, batuan ekspos, dan material asli yang diekspos lainnya.

2.2.Klasifikasi Iklim Tropis


Daerah tropis dibedakan menjadi 2 bagian daerah iklim utama yaitu :
a. Tropis Basah

Gambar 2.1. Hutan hujan tropis


Sumber : Blog Guru Geografi MAN Wonosari - WordPress.com

Iklim tropis basah disebut juga dengan daerah hangat lembab yang ditandai
dengan ciri-ciri yaitu :
• Kelembaban udara yang relatif tinggi pada umumnya di atas 90%
• Curah hujan yang tinggi.
• Temperatur tahunan di atas 18°C dan dapat mencapai 38°C pada
musim kemarau.
• Perbedaan antar musim tidak terlalu terlihat, kecuali periode sedikit
hujan dan banyak hujan yang disertai angin kencang.

ARSITEKTUR TROPIS 4
b. Tropis Kering

Gambar 2.2. Gurun pasir dan bangunan di gurun


Sumber : Bobo.ID - Grid.ID

Iklim tropis kering ditandai dengan ciri-ciri yaitu :


• Kelembaban udara yang relatif rendah (umumnya dibawah 50%).
• Curah hujan yang juga rendah.
• Radiasi matahari ke wilayah yang memiliki iklim tropis kering langsung
tinggi dan maksimal karena jarang terdapat awan.
• Banyak terdapat gurun pasir karena sangat jarang terjadi hujan.
• Pada sore hari sering terdengar ledakan batu-batu akibat perubahan suhu
ekstrem.

2.3. Kriteria Perencanaan pada Iklim Tropis Lembab


Kondisi iklim tropis lembab memerlukan syarat-syarat khusus dalam
perancangan bangunan dan lingkungan binaan, mengingat ada beberapa factor-
faktor spesifik yang hanya dijumpai secara khusus pada iklim tersebut, sehingga
teori-teori arsitektur, komposisi, bentuk, fungsi bangunan, citra bangunan dan
nilai-nilai estetika bangunan yang terbentuk akan sangat berbeda dengan
kondisi yang ada di wilayah lain yang berbeda kondisi iklimnya. Menurut DR.
Ir. RM. Sugiyatmo, kondisi yang berpengaruh dalam perancangan bangunan
pada iklim tropis lembab yaitu :
a. Kenyamanan Thermal
Usaha untuk mendapatkan kenyamanan thermal terutama adalah
mengurangi perolehan panas, memberikan aliran udara yang cukup, dan

ARSITEKTUR TROPIS 5
membawa panas keluar bangunan serta mencegah radiasi panas, baik radiasi
langsung matahari maupun dari permukaan dalam yang panas.
Perolehan panas dapat dikurangi dengan menggunakan bahan atau
material yang mempunyai tahan panas yang besar, sehingga laju aliran
panas yang menembus bahan tersebut akan terhambat.Permukaan yang
paling besar menerima panas adalah atap. Sedangkan bahan atap umumnya
mempunyai tahanan panas dan kapasitas panas yang lebih kecil dari
dinding. Untuk mempercepat kapasitas panas dari bagian atas agak sulit
karena akan memperberat atap. Tahan panas dari bagian atas bangunan
dapat diperbesar dengan beberapa cara, misalnya rongga langit-langit,
penggunaan pemantul panas reflektif juga akan memperbesar tahan panas.
Cara lain untuk memperkecil panas yang masuk antara lain yaitu :
1) Memperkecil luas permukaan yang menghadap ke timur dan barat.
2) Melindungi dinding dengan alat peneduh. Perolehan panas dapat juga
dikurangi dengan memperkecil penyerapan panas dari permukaan,
terutama untuk permukaan atap.

Gambar 2.3. Kondisi bangunan pada waktu hujan dan panas matahari
Sumber : slideshare.net

ARSITEKTUR TROPIS 6
b. Aliran Udara Melalui Bangunan

Gambar 2.4. Aliran udara pada bangunan


Sumber : artikel.pricearea.com

Kegunaan dari aliran udara atau ventilasi adalah :


1) Untuk memenuhi kebutuhan kesehatan yaitu penyediaan oksigen untuk
pernafasan, membawa asap dan uap air keluar ruangan, mengurangi
konsentrasi gas-gas dan bakteri serta menghilangkan bau.
2) Untuk memenuhi kebutuhan kenyamanan thermal, mengeluarkan panas,
membantu mendinginkan bagian dalam bangunan.

Aliran udara terjadi karena adanya gaya thermal yaitu terdapat perbedaan
temperature antara udara di dalam dan diluar ruangan dan perbedaan tinggi
antara lubang ventilasi. Kedua gaya ini dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya
untuk mendapatkan jumlah aliran udara yang dikehendaki. Jumlah aliran
udara dapat memenuhi kebutuhan kesehatan pada umumnya lebih kecil
daripada yang diperlukan untuk memenuhi kenyamanan thermal. Untuk
yang pertama sebaiknya digunakan lubang ventilasi tetap yang selalu
terbuka. Untuk memenuhi yang kedua, sebaiknya digunakan lubang
ventilasi yang bukaannya dapat diatur.

c. Radiasi Panas
Radiasi panas dapat terjadi oleh sinar matahari yang langsung masuk
ke dalam bangunan dan dari permukaan yang lebih panas dari sekitarnya,

ARSITEKTUR TROPIS 7
untuk mencegah hal itu dapat digunakan alat-alat peneduh (Sun Shading
Device).

Gambar 2.5. Sun Shading


Sumber : Payette.com

Pancaran panas dari suatu permukaan akan memberikan


ketidaknyamanan thermal bagi penghuni, jika beda temperatur udara
melebihi 40C. hal ini sering kali terjadi pada permukaan bawah dari langit-
langit atau permukaan bawah dari atap.

d. Penerangan Alami pada Siang Hari


Cahaya alam siang hari yang terdiri dari :
1) Cahaya matahari langsung
2) Cahaya matahari difus (pemantulan baur)
Di Indonesia seharusnya dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya cahaya ini
untuk penerangan siang hari di dalam bangunan. Tetapi untuk maksud ini,
cahaya matahari langsung tidak dikehendaki masuk ke dalam bangunan
karena akan menimbulkan pemanasan dan penyilauan, kecuali sinar
matahari pada pagi hari. Sehingga yang perlu dimanfaatkan untuk
penerangan adalah cahaya langit.
Untuk bangunan berlantai banyak, makin tinggi lantai bangunan makin kuat
potensi cahaya langit yang bisa dimanfaatkan. Cahaya langit yang sampai
pada bidang kerja dapat dibagi dalam 3 (tiga) komponen :

ARSITEKTUR TROPIS 8
1) Komponen langit.
2) Komponen refleksi luar
3) Komponen refleksi dalam
Dari ketiga komponen tersebut komponen langit memberikan bagian
terbesar pada tingkat penerangan yang dihasilkan oleh suatu lubang cahaya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya tingkat penerangan pada
bidang kerja tersebut adalah :
• Luas dan posisi lubang cahaya.
• Lebar teritis
• Penghalang yang ada dimuka lubang cahaya
• Faktor refleksi cahaya dari permukaan dalam dari ruangan
• Permukaan di luar bangunan di sekitar lubang cahaya.

Gambar 2.6. Pencahayan sinar matahari pada bangunan


Sumber : Culdesac Home Design - WordPress.com

Untuk bangunan berlantai banyak makin tinggi makin berkurang pula


kemungkinan adanya penghalang di muka lubang cahaya. Dari penelitain
yang dilakukan, baik pada model bangunan dalam langit buatan, maupun
pada rumah sederhana, faktor penerangan siang hari rata-rata 20% dapat
diperoleh dengan lubang cahaya 15% dari luas lantai, dengan catatan posisi
lubang cahaya di dinding, pada ketinggian normal pada langit, lebar sekitar
1 meter, faktor refleksi cahaya rata-rata dari permukaan dalam ruang sekitar
50% – 60% tidak ada penghalang dimuka lubang dan kaca penutup adalah
kaca bening.

ARSITEKTUR TROPIS 9
2.4.Ciri-Ciri Bangunan Arsitektur Tropis
Bentuk arsitektur tropis, tidak mengacu pada bentuk yang berdasarkan estetika,
namun pada bentuk yang berdasarkan adaptasi atau penanganan iklim tropis.
Meskipun demikian bentukan bangunan oleh arsitek/desainer yang baik akan
memberikan kualitas arsitektur yang estetis, hal ini karena selain
memperhatikan bagaimana menangani iklim tropis, juga memperhatikan
bagaimana kesan estetika eksterior dan interior dari bangunan tersebut. Seperti:
1) Mempunyai atap yang tinggi dengan kemiringan diatas 30 derajat. Ruang di
bawah atap berguna untuk meredam panas dan mempunyai
teritisan/overstek atap yang cukup lebar untuk mengurangi efek tampias dari
hujan yang disertai angina minimal 80-100 cm. Selain itu, juga untuk
menahan sinar matahari langsung yang masuk ke dalam bangunan.

Gambar 2.7. Bentuk Atap Tropis Modern


Sumber : Arsitektur Tropis Modern

2) Memiliki taman sebagai ruang luar yang sebaiknya didesain sesuai dengan
kondisi alam yang ada. Karakteristik taman tropis dihiasi banyak jenis
tanaman, rimbun, dan berbunga. Elemen taman lainnya yang dapat
memaksimalkan tampilan taman tropis adalah elemen keras, misalnya jalan
setapak, gazebo, bangku taman, lampu, taman, dan hiasan patung, dan
menggunakan batuan-batuan alam seperti batu kali, betu temple, maupun
kerikil.

ARSITEKTUR TROPIS 10
Gambar 2.8. Lanskap Arsitektur Tropis
Sumber : Arsitektur Tropis Modern

3) Menentukan orientasi bangunan. Ada baiknya bangunan menghadap ke


utara atau ke selatan. Hindari muka bangunan menghadap ke arah barat.
4) Ataur penghawaan alami dengan baik. Ada baiknya rumah didesain
memilki ventilasi silang atau cross ventilation.
5) Atur pencahayaan alami dengan baik. Usahakan ruang-ruang, seperti ruang
tidur dan kamar mandi bisa mendapatkan cahaya alami. Dengan begitu
rumah akan lebih hemat energi dan terbebas dari kuman.

Gambar 2.9. Jendela Jalusi


Sumber : Arsitekur Tropis Modern

6) Sediakan ruang luar berupa teras, dapat di depan rumah atau di belakang
rumah dan tinggikan lantai bangunan hingga 80 cm sehingga ruang dalam
terasa lebih dingin dan terhindar dari kelembapan, dan juga perletakan
bukaan jendela di bagian yang terkena matahari pagi dan hindarkan dari
matahari sore.

ARSITEKTUR TROPIS 11
Gambar 2.10. Tampak Depan Rumah
Sumber : Arsitektur Tropis Modern

7) Plafon lebih ditinggikan karena plafon yang tinggi memberi keuntungan


lebih bagi penghuni rumah. Selain nyaman karena ruang terasa lega, juga
sirkulasi udara di dalam rumah menjadi lancar dan menggunakan bahan-
bahan bangunan yang tahan terhadap kondisi lingkungan setempat.

Gambar 2.11. Ruang Dalam


Sumber : Arsitektur Tropis Modern

8) Menggunakan Sunshading yang berperan sebagai tampiasan hujan dan sinar


matahari, karena di lingkungan tropis sinar matahari dan curah hujannya
cukup tinggi.

Gambar 2.12. Penggunaan Sunshading dari kayu


Sumber : Arsitektur Tropis Modern

ARSITEKTUR TROPIS 12
2.5.Paradigma Desain Tropis
Paradigma desain arsitektur tropis adalah pandangan dalam upaya mencapai
karakter-karakter arsitektur yang dapat diidentifikasi sebagai karakter yang
dimiliki daerah tropis sehingga dapat membedakannya dengan arsitektur di
daerah yang beriklim lain.
Paradigma dalam desain tropis terbagi menjadi 3 bagian utama yaitu :
a. Line, Edge, and Shade
Tay Kheng Soon berpendapat bahwa desain seharusnya berorientasi
ke depan, non nostalgia dan tidak mengkopi gaya terdahulu tetapi berusaha
menggunakan prinsip-prinsip control lingkungan dari desain tradisional.
Paradigma ini memiliki karakteristik sebagai berikut :
• Aplikasi pada high rise dan high density.
• Forward looking expression, non nostalgia dan tidak mengkopi gaya-
gaya terdahulu.
• Prinsip control lingkungan seperti desain terbuka dan pembayangan.
• Ekspresi keregionalannya merupakan Bahasa dalam iklim tropis yang
memberi kenyamanan.
• Material modern/non tradisional dengan fabrikasi

Contoh 2.13. Bangunan paradigma line, edge,and shade


Sumber : totalbp.com

b. New Screen and Louver Kitsch


Paradigma ini meniru tropis modern yang sering menggunakan
sunshading yang diasosiakan ke arsitektur tropis. Louver pada fasad tidak
efektif memberikan pembayangan, hanya memberi kesan tropis sekilas

ARSITEKTUR TROPIS 13
mata. Sehingga designer bangunan tidak serius menciptakan kondisi iklim
yang dibutuhkan karena mereka berpikir iklim bukan factor krusial dan
hanya mementingkan image dari public terhadap gaya arsitekturnya.
Sehingga peniruan arsitektur tropis ini menghasilkan eksploitasi
penggunaan screen dan louver.
Paradigma ini lahir karena adanya beberapa factor :
• Adanya peniruan dari image tropis modern, misalnya louver pada fasad
yang tidak membayangi ruang secara efektif karena kemungkinan masih
dikorelasikan secara tidak tepat seperti peralatan shading yang asli dan
hanya memberi kesan bahwa elemen tersebut adalah control iklim
tropis.
• Adanya motivasi untuk mengikuti aliran yang menitik beratkan pada
produk arsitektur yang mempertimbangkan lingkungan seperti yang
dilakukan oleh arsitek-arsitek terkenal.

Gambar 2.14. Penggunaan Louver dan Shading pada bangunan


Sumber : Doa Jaya Konstruksi - WordPress.com

c. Tradition Based
Menurut Tan Hock Beng bahwa perlu membangkitkan ketradisonalan
dalam arsitektur tropis Asia dan mengusulkan desin berbasis tradisi untuk
menciptakan arsitektur tropis dimana bentuk tradisional merupakan
ekspresi dari inspirasi dan identitas.
Tipe bangunan tradisional tropis anata lain :
• Bentuk atap besar dan luas, cross ventilation, teras, courtyard, material
local, ada unsur air dan landscape.

ARSITEKTUR TROPIS 14
• Material berupa tradisional, modern atau kombinasi keduannya
tergantung strategi yang digunakan.
• Aplikasi pada resort, bangunan Pendidikan dan budaya, perumahan
dengan lahan dan bujet yang cukup untuk penggunaan kayu, batu, dan
air.
• Tripikal bang. Tradi.tropis yang sering digunakan dapat dilihat dari
pembuatan denah yang disusun memungkinkan untuk ventilasi silang,
memiliki teras dan courtyard, material local, unsur air dan lansekap.
• Bangunan yang dibangun dengan paradigma ini bertujuan untuk
menyesuaikan bangunan dengan iklim setempat sert mempertahankan
tradisi dan identitas daerah.
• Kearifan local suatu daerah merupakan hal yang tepat untuk menjadi
pertimbangan dalam membangun bangunan yang telah melalui proses
“trial and error”.
• Oleh karena itu, bangunan tradisional yang ada saat ini merupakan
penyempurnaan desain yang gagal sebelumnya dan masyarakat
setempat menganggap sebagai bangunan yang paling nyaman. Ekpresi
bangunan yang menggunakan paradigma ini berdasarkan strategi
menonjol tradisi.
• Performance bangunan disesuaikan dengan iklim setempat dan
berdasarkan bentuk bangunan tradisional daerah asal dengan
menyesuaikan diri dengan daerah baru. Material yang digunakan bisa
tradisional modern atau gabungan.

Paradigma ini memasukkan unsur tradisi di dalam arsitektur tropis . Pitch


roof, penghawaan silang, halaman, bukaan tradisional, material tropis, air,
lansekap, dan aplikasi berbagai elemen yang dapat menjamin integrase alam
dengan ekspresi tradisi. Untuk mencegah keseragaman karena efek
globalisai dan memelihara kekayaan tradisi local, William Lim dan Tan
Hock Beng mengajukan beberapa strategi, yaitu :
1) Menggunakan kembali tradisi : vernacular, traditional craft wisdom.

ARSITEKTUR TROPIS 15
2) Menemukan kembali tradisi : memadukan (hybrid) antara tradisi
colonial dengan tradisi melayu.
3) Memperluas tradisi : menggunakan struktur vernakuler dengan tradisi
seniman setempat akan menambah nilai dan status tradisi.
4) Menginterpretasikan kembali tradisi : modern, abstrak, dan minimalis

Traditional Based terdiri dari 3 macam paradigma yaitu :


1) Reinvigorating Tradition
Reinvigorating Tradition adalah paradigma yang berbasis tradisi
menerapkan prinsip vernakuler yang berasal dari traditional craft wisdom
mulai dari cara membangun (metode konstruksi), struktur bangunan, dan
penggunaan material yang cenderung menekankan keaslian (otentik) agar
terjadi keberlanjutan sejarah (Tzonis dkk,2001).

Gambar 2.15. Penerapan paradigma Reinvigorating Tradition


Sumber : agustrigono.wordpress.com

ARSITEKTUR TROPIS 16
2) Extending Tradition
Extending Tradition, dengan atap berprinsip pada asritektur vernakuler,
namun bangunan ditransformasikan ke gaya yang modern.

Gambar 2.16. Transformasi bangunan masjid dan bangunan DPRD


Sumber : barometerjatim.com

Penerapan Extending Tradition seperti :


• Menghadirkan kembali bentuk pengalaman masa lalu berupa tradisi dan
budaya untuk dinikmati sebagai pengalaman kultur tropis suatu tempat
melalui karya arsitektur baik bentuk maupun fitur bangunan.
• Tidak ada yang salah dalam pengembangan kekayaan sumber-sumber
masa lalu kedalam bentuk baru yang inovatif, hal ini muncul karena kita
juga menyesuaikan dengan kebutuhan dan gaya hidup masyarakat yang
berubah menurut waktunya (Lowenthal dalam Beng, 1998).
• Mencari keberlanjutan dengan tardisi local.
• Menguntip secara langsung dari bentuk masa lalu.
• Tidak dilingkupi oleh masa lalu, melainkan menambahkannya dengan
cara inovatif.
• Interpretasi kita tentang masa lalu dirubah berdasar kepada perspektif
dan kebutuhan masa kini dan masa depan.
• Mencoba melebur masa lalu dengan penemuan baru
• Menggunakan struktur vernakuler dan tradisi craftmanship.
• Mencari inspirasi dalam bentuk dan teknik yang unik dari bangunan
tradisional.

ARSITEKTUR TROPIS 17
3) Reinterpreting Tradition
Reinterpreting Tradition adalah membawa esensi dari arsitektur vernakuler
pada bangunan modern. Penggunaan idiom kontemporer pada bangunan
modern dengan abstrak atau minimalis.
Pendekatan ini dilakukan dengan menyingkirkan pemulihan sentimental
masa lalu dan meninggalkan gerakan historical, sebaiknya akan
menggunakan sebuah idiom modern yang menyegarkan. Namun demikian
bangunan diciptakan melalui pendekatan ini berdedikasi pada tempat dan
sejarah tanpa terjebak oleh kedua.
Perangkat formal tradisional tidak dibuang tetapi berubah dengan cara
yang menyegarkan sehingga ada pengakuan simultan dari masa lalu dan
masa kini melalui pernyataan abstrak dan biasanya minimalis.
Seperti gambar dibawah ini yang menginterpretasikan kembali terhadap
nilai-nilai dalam arsitektur vernakuler Bali. Hasilnya berupa defamiliarisasi
yakni pengasingan bentuk dimana bentuk tradisional itu ada tapi tidak
nampak.

Gambar 2.17. Interprestasi rumah adat Bali


Sumber : Edupaint.com

ARSITEKTUR TROPIS 18
2.6.Contoh Bangunan Arsitektur Tropis
2.6.1. Intiland Tower

Gambar 2.18. Tampak depan Intiland Tower


Sumber : armataoffice.com
a. Informasi Bangunan
Arsitek : Paul Rudolf
Lokasi : Jl. Panglima Sudirman 101-103, Surabaya
Area : 0,47 Hektar
Tahun Proyek : 1997 (Pembangunan Selesai)
Intiland Tower Surabaya adalah gedung iconic yang berdiri sekitar
tahun 1997, memiliki bentuk bangunan yang unik yang terletak di Jl.
Panglima Sudirman 101-103, Surabaya dan menempati lahan seluas
0,47 hektar yang berada di area segitiga emas Surabaya. Gedung
Intiland Tower memiliki ketinggian 12 lantai berikut dua lantai
basement.
Intiland Tower Surabaya diberi semboyan “Health of Future” oleh
sang arsitek Paul Rudolph. Paul Rudolph memberikan semboyan
“Health of Future” pada gedung Intiland Tower karena dalam konsep
perancangannya, Intiland Tower dirancang menjadi sebuah gedung
yang peduli terhadap kesehatan fisik maupun mental penghuni gedung
Intiland Tower Surabaya.

ARSITEKTUR TROPIS 19
Gambar 2.19. Sisi pada bangunan Intiland Tower
Sumber : armataoffice.com

b. Respon Bangunan Terhadap Iklim


Intiland Tower Surabaya memiliki bentuk arsitektur yang miring
dan asimetris. Didesain sedemikian rupa karena sang arsitek
menerapkan konsep Tropis Vernaculer dimana bangunan Intiland
Tower sendiri mampu memanfaatkan potensi alam untuk membantu
Life Cicle bangunan yaitu salah satu penyiasatan sinar matahari
berlimpah pada daerah tropis.

Gambar 2.20. Bentuk bangunan terhadap respon iklim


Sumber : jualo.com
Menerapkan unsur Light and Shadow yang berasal dari Shape
bangunan yang mana mengikuti pergerakan arah cahaya matahari.
Sehingga melindungi permukaan bangunan dari panas matahari yang
mampu memancar ke dalam bangunan seperti mengurangi hantaran
panas masuk ke ruangan sehingga jumlah sinar masuk untuk penerangan
alam cukup terpenuhi.

Gambar 2.21. Penerapan Light and Shadow


Sumber : juolo.com

ARSITEKTUR TROPIS 20
c. Material Bangunan
• Pengaplikasian kanopi dari bahan Aluminium Spandrill berbentuk
pipa ditiap muka unit ruang yang berguna untuk memilah level
ultraviolet sinar matahari yang bertujuan mengurangi radiasi panas
berlebih dan air hujan yang merembes ke dalam ruangan yang
terdapat di dalam gedung Intiland Tower.

Gambar 2.22. Material pada fasad


Sumber : archdaily.com

• Menggunakan kaca jenis Panasa Grey yang berfungsi sebagai


penetralisir sinar matahari yang berlebih masuk ke dalam ruangan
serta terhindar dari silau matahari. Ukuran jendela kaca cukup besar
yang memberikan view ke luar bangunan cukup menarik.

Gambar 2.23. Penggunaan bukaan yang lebar


Sumber : archdaily.com

• Penggunaan tanaman merambat di tiap kanopi dan teras bangunan


yang bertujuan mengurangi kebisingan dan polusi dari luar
bangunan, mencegah fluktuasi suhu yang ekstrim yang pada

ARSITEKTUR TROPIS 21
akhirnya akan mencegah terjadinya korosi pada bangunan. Tanaman
merambat sendiri sangat efektif menjaga udara dalam bangunan
lebih dingin dan terasa sejuk.

Gambar 2.24. Tanaman merambat pada fasad bangunan


Sumber : archdaily.com

• Menggunakan bentuk kolom diagonal yang merupakan ciri khas


bangunan Intiland Tower yang memberikan kesan tidak
terkungkung oleh kekakuan struktur pada bangunan itu sendiri
sehingga kesan dinamis yang terlihat pada fasad bangunan Intiland
Tower sangat indah dan unik.

Gambar 2.25. Kolom pada bangunan Intiland Tower


Sumber : archdaily.com

ARSITEKTUR TROPIS 22
2.6.2. Fish House

Gambar 2.26. Exterior pada bangunan Fish House


Sumber : guzarchitects.com

Fish House adalah desain rumah sederhana namun mewah yang


memberikan kesempatan bagi penghuninya untuk hidup nyaman dan
harmonis dengan alam. Konsep desain utamanya adalah untuk
menciptakan sebuah rumah yang memiliki hubungan dekat dengan alam
dan hal ini tercapai dengan adanya kolam renang yang menghubungkan
rumah dengan ruang luar dan koneksivisual dengan laut pada ujungnya.
Bangunan Fish House ini berlokasi di Singapura dan dirancang oleh Guz
Architect. Guz Architect merangkum esensi hidup di iklim panas dan
lembab di Singapura dengan menciptakan ruang terbuka yang
mendorong ventilasi alami dan menawarkan pemandangan ke arah laut
bagi penghuninya.

Gambar 2.27. Bentuk atap bangunan Fish House


Sumber : guzarchitects.com
Atapnya menyerupai gelombang (ombak) dan disajikan sebuah
taman yang sangat indah, semakin mempertegas keberadaannya di dekat
laut. Hampir seluruh atapnya ditutup dengan panel tipis photovoltaic yang
fleksibel, sebagai sumber energi yang cukup untuk bangunan sehingga
terasa sangat nyaman bagi penghuninya.

ARSITEKTUR TROPIS 23
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Berdasarkan data dan pembahasan yang dilakukan pada bab
sebelumnya, maka dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut :
• Arsitektur Tropis merupakan jenis arsitektur yang memberikan jawaban/
adaptasi bentuk bangunan terhadap pengaruh iklim tropis, dimana
iklim tropis memiliki karakter tertentu yang disebabkan oleh panas
matahari, kelembapan yang cukup tinggi, curah hujan, pergerakan angin,
dan sebagainya.
• Iklim di daerah tropis terbagi menjadi 2 macam iklim yaitu Iklim Tropis
Basah atau daerah hangat lembab dan Iklim Tropis Kering.
• Faktor yang diperhatikan dalam perencanaan bangunan di iklim tropis
basah ada 4 yaitu Kenyamanan Thermal, Aliran Udara pada Bangunan,
Radiasi Panas, dan Penerangan Alami pada Siang Hari.
• Salah satu ciri-ciri Arsitektur Tropis yaitu mempunyai atap yang tinggi
dengan kemiringan diatas 30 derajat. Ruang di bawah atap berguna untuk
meredam panas dan mempunyai teritisan/overstek atap yang cukup lebar
untuk mengurangi efek tampias dari hujan yang disertai angina minimal
80-100 cm. Selain itu, juga untuk menahan sinar matahari langsung yang
masuk ke dalam bangunan.
• Paradigma desain arsitektur tropis adalah pandangan dalam upaya
mencapai karakter-karakter arsitektur yang dapat diidentifikasi sebagai
karakter yang dimiliki daerah tropis sehingga dapat membedakannya
dengan arsitektur di daerah yang beriklim lain.
• Pradigma desain tropis dibagi menjadi 3 bagian utama yaitu :
1) Line, Edge, and Shade
2) Tradition Based
3) New Screen and Louver Kitsch

ARSITEKTUR TROPIS 24
3.2.Saran
Penulis mengharapkan agar tulisan ini dapat dimanfaatkan dalam acuan
aaupun tinjauan penambahan ilmu dari segi arsitektural dalam hal arsitektur
tropis.
Terhadap ilmu pengetahuan, dengan segala kekurangan dan kekeliruan
dalam penulisan ini di harapkan dapat memberi masukan dan bahan
pertimbangan dalam penulisan-penulisan selanjutnya.

ARSITEKTUR TROPIS 25
DAFTAR PUSTAKA

e-journal.uajy.ac.id/6806/4/TA313643.pdf
https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/iklim/pengertian-ciri-ciri-dan-daerah-
sebaran-iklim-tropis

https://fachrimuhammadabror.wordpress.com/2016/11/22/arsitektur-tropis/

https://firmaaansyh.wordpress.com/2016/11/22/arsitektur-tropis/

https://www.scribd.com/doc/311174641/Paradigma-Desain-Arsitektur-Tropis

ARSITEKTUR TROPIS 26

Anda mungkin juga menyukai