Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM PEMANTAUAN DAN PENGUKURAN

FAKTOR FISIKA

PENGUKURAN KEBISINGAN PERSONAL DENGAN ALAT NOISE


DOSIMETER DI GERBANG BELAKANG DAN PEREMPATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Kelompok VI

(Kelas A)

1. Ahmad Tajuddin Ramdhani (R0016001)


2. Dian Wahyu Indrawati (R0016021)
3. Fransiska Ellisa Fardani (R0016043)
4. Khamnani Akbarul Fikri (R0016053)
5. Raditya Mukti R. (R0016081)
6. Rika Wulandari (R0016087)
7. Riyan Anggara (R0016089)
8. Anjawani Prahandini (R0016101)

PROGRAM STUDI D3 HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Surakarta
2017
PENGESAHAN

Laporan Praktikum Pemantauan dan Pengukuran Faktor Fisika dengan Judul:


Pengukuran Kebisingan Personal dengan Alat Noise Dosimeter Di Gerbang
Belakang dan Perempatan Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret

Kelompok VI

Telah disahkan pada:

Hari ...................Tanggal .................................2017

Dosen Pengampu
Pembimbing Praktikum

Sumardiyono S.KM., M.Kes.


Indah Ratnasari, A.Md
NIP.196507061988031002
NIP. 198909292014042001

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Tujuan............................................................................................ 2
C. Manfaat ......................................................................................... 2
BAB II LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka ........................................................................... 4
B. Perundang-undangan ..................................................................... 9
BAB III HASIL
A. Gambar Alat, Cara Kerja, dan Prosedur Pengukuran.................... 10
B. Tabel Hasil Pengukuran dan Perhitungan ..................................... 13
BAB IV PEMBAHASAN
A. Analisis Hasil ................................................................................ 14
B. Perbedaan Noise Dosimeter dan Sound Level Meter ................... 16
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ....................................................................................... 17
B. Saran ............................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 18
LAMPIRAN

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan dan keselamatan kerja merupakan hal yang perlu
diperhatikan dalam operasional di tempat kerja. Dengan berkembangnya
industrialisasi di Indonesia maka timbul dampak terhadap tenaga kerja
maupun pada masyarakat di lingkungan sekitarnya. Dampak yang
ditimbulkan berupa penyakit akibat kerja. Penyakit akibat kerja dapat
digolongkan dengan beberapa jenis yaitu fisik, kimia, infeksi, fisiologis dan
mental psikologis. Kebisingan yang termasuk dalam golongan fisik, dapat
menyebabkan kerusakan pendengaran/tuli (Soemonegara,1975,
Miller,1975).
Kebisingan yang terus menerus akan menimbulkan ketulian secara
perlahan, dalam waktu hitungan bulan sampai tahun. Dengan kondisi seperti
ini jarang disadari oleh penderita (pekerja) sehingga penderita (pekerja) baru
menyadari bahwa telah menderita ketulian stadium akhir dan sudah tidak
dapat disembuhkan lagi. Maka hal ini dapat mempengaruhi produktivitas
dalam bekerja. Disamping itu, ketulian juga dapat mengganggu dalam
berkomunikasi.
Menurut Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 48 Tahun
1996 Tentang: Baku Tingkat Kebisingan, bahwa kebisingan adalah bunyi
yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu
tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan
kenyamanan lingkungan. Dalam buku Federal Transit Administration (FTA)
(2006) juga dikatakan bahwa kebisingan biasanya dianggap sebagai suara
yang tidak dikehendaki. Suara yang tidak diinginkan atau kebisingan
tersebut akan menimbulkan 2 efek yang kurang baik terhadap kesehatan
maupun aktivitas orang yang bersangkutan (Ikron et al., 2007). Buchari
(2007) dalam penelitiannya, menggolongkan gangguan kebisingan dalam
dua kategori, yaitu berupa gangguan auditori misalnya gangguan terhadap
pendengaran, dan juga berupa gangguan non auditori seperti pada gangguan
saat komunikasi dan menurunnya semangat kerja akibat kelelahan dan stres.
Dari penelitian Djalante (2010) tingkat kebisingan yang dapat diterima
manusia terhadap kesehatan tergantung berapa lama kebisingan tersebut
dipaparkan dan seberapa besar intensitas kebisingan yang terpapar.
Untuk mengetahui kebisingan secara personal pada waktu tertentu,
maka penting bagi mahasiswa untuk melakukan praktikum pengukuran
kebisingan personal menggunakan alat Noise Dosimeter. Pengukuran
dilakukan di gerbang belakang kampus UNS dan perempatan FK UNS
untuk dilakukan analisis dari hasil pengukurannya.

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui cara mengukur kebisingan secara personal dengan
menggunakan alat Noise Dosimeter.
2. Untuk mengetahui intensitas kebisingan personal di gerbang belakang
kampus UNS dan jalan perempatan FK UNS.
3. Untuk menganalisis hasil pengukuran kebisingan personal.

C. Manfaat
1. Bagi praktikan
a. Dapat mengetahui cara mengukur kebisingan personal dengan
menggunakan alat Noise Dosimeter.
b. Dapat mengetahui intensitas kebisingan personal di gerbang
belakang kampus UNS dan jalan perempatan FK UNS.
c. Dapat menganalisis hasil pengukuran kebisingan personal.
2. Bagi prodi D3 Hiperkes
a. Dapat menciptakan mahasiswa D3 Hiperkes dan Keselamatan
Kerja yang berkompeten serta memiliki etos kerja yang tinggi.
b. Dapat menambah referensi dan kepustakaan untuk prodi D3
Hiperkes dan Keselamatan Kerja
c. Dapat memberikan penjelasan yang baik kepada mahasiswa
dengan melakukan praktik langsung di lapangan dengan
menggunakan alat yang disediakan.
d. Dapat memberikan akreditasi bagi D3 Hiperkes dan
Keselamatan Kerja.
8

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Kebisingan
Kebisingan (Noise) adalah suara yang tidak dikehendaki.
Menurut Wall (1979), kebisingan adalah suara yang mengganggu.
Sedangkan menurut Kep.Men 48/MEN.LH/11/2006, kebisingan
adalah bunyi yang tidak diingkan dari suatu usaha atau kegiatan dalam
tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan
kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan, termasuk ternak,
satwa dan sistem alam.Menurut Permenakertrans No Per-
13/MEN/X/2011 pasal 1, Kebisingan adalah semua suara yang tidak
dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau
alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu dapat menimbulkan
gangguan pendengaran.
Terdapat beberapa pendapat mengenai definisi kebisingan antara
lain (Wahyu, 2003). Menurut Dennis bising adalah suara yang timbul
dari getaran-getaran yang tidak teratur. Menurut Spooner Bising
adalah suara yang tidak mengandung kualitas musik. Menurut Sataloff
Bising adalah bunyi yang terdiri dari frekuensi yang acak dan tidak
berhubungan satu dengan yang lain. Menurut Burn, Littre dan Wail
Bising adalah suara yang tidak dikehendaki kehadirannya oleh yang
mendengar dan mengganggu. Menurut Suma’mur Bising adalah suara
yang tidak dikehendaki (unwanted sound).
Kebisingan merupakan salah satu bahaya (Hazard) yang
termasuk dalam bahaya/resiko lingkungan. Sedangkan bahaya sendiri
merupakan aktifitas, situasi, kondisi, kejadian, gejala, proses, material
dan segala sesuatu yang ada di tempat kerja/ berhubungan dengan
8

pekerjaan yang menjadi/ berpotensi menjadi sumber kecelakaan/


cedera/ penyakit dan kematian.
NAB untuk kebisingan di atur dalam Permenakertrans RI. No.
Per-13/MEN/X/2011 tentang Nilai Ambang Batas Faktor Fisika dan
Faktor Kimia di Tempat Kerja, seperti tabel dibawah ini:
Tabel Nilai Ambang Batas Kebisingan

Waktu pemaparan per hari Intensitas Kebisingan dalam dBA


8 Jam 85
4 88
2 91
1 94

30 Menit 97
15 100
7.5 103
3.75 106
1.88 109
0.94 112

28.12 Detik 115


14.06 118
7.03 121
3.25 124
1.76 127
0.88 130
0.44 133
0.22 136
0.11 139
8

2. Penyakit Akibat Dampak Kebisingan


Bising dapat menyebabkan berbagai gangguan seperti gangguan
fisiologis, gangguan psikologis, gangguan komunikasi dan ketulian.
Gangguan akibat bising juga dapat digolongkan menjadi gangguan
auditory (gangguan terhadap pendengaran) dan gangguan non
auditory (gangguan komunikasi, ancaman bahaya keselamatan,
menurunya peforma kerja, stres dan kelelahan).
a. Gangguan Fisiologis
Gangguan fisiologis yang diakibatkan oleh kebisingan yakni
gangguan yang langsung terjadi pada faal manusia. Gangguan
ini diantaranya:
Perederan darah terganggu oleh kerena permukaan darah yang
dekat dengan permukaan kulit menyempit akibat bising > 70
dB.
Otot-otot menjadi tegang akibat bising > 60 dB
Gangguan tidur
Gangguan pendengaran, oleh karena bunyi yang terlalu keras
dapat merusak gendang telinga.
Dari seluruh gangguan yang disebabkan oleh kebisingan
kebisingan, pengaruh utama dari bising pada kesehatan adalah
kerusakan pada indra pendengaran, yang menyebabkan beberapa
gangguan antara lain :
Trauma Akustik
Trauma akustik adalah efek dari pemaparan yang singkat
terhadap suara yang keras seperti sebuah letusan. Dalam kasus
ini energi yang masuk ke telinga dapat mencapai struktur telinga
dalam dan bila melampaui batas fisiologis dapat menyebabkan
rusaknya membran timpani, putusnya rantai tulang pendengaran
atau rusak organ spirale (Goembira, Fadjar, Vera S Bachtiar,
2003).
Temporary Threshold Shift (TTS)/Tuli Sementara
8

Tuli sementara merupakan efek jangka pendek dari pemaparan


bising berupa kenaikan ambang pendengaran sementara yang
kemudian setelah berakhirnya pemaparan bising, akan kembali
pada kondisi semula. TTS adalah kelelahan fungsi pada reseptor
pendengaran yang disebabkan oleh energi suara dengan tetap
dan tidak melampui batas tertentu. Maka apabila akhir
pemaparan dapat terjadi pemulihan yang sempurna. Akan tetapi
jika kelelahan melampaui batas tertentu dan pemaparan terus
berlangsung setiap hari, maka TTS secara berlahan-lahan akan
berubah menjadi PTS (Goembira, Fadjar, Vera S Bachtiar,
2003).
Permanent Threshold Shift (PTS)/Tuli Permanen
Tuli permanen adalah kenaikan ambang pendengaran yang
bersifat irreversible sehingga tidak mungkin tejadi pemulihan.
Gangguan dapat terjadi pada syaraf-syaraf pendengaran, alat-
alat korti atau dalam otak sendiri. Ini dapat diakibatkan oleh
efek kumulatif paparan terhadap bising yang berulang.
b. Gangguan Psikologis
Gangguan yang secara tidak langsung terhadap manusia dan
sukar untuk diukur. Gangguan psikologis dapat berupa rasa
tidak nyaman, kurang konsentrasi, dan cepat marah. Bila
kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan
penyakit psikosomatik berupa gastritis, jantung, stres, kelelahan
dan lain-lain. Bising juga dapat berpengaruh terhadap
produktifitas kerja bagi masyarakat pekerja. Pengaruh bising
terhadap produktivitas kerja yaitu:
1) Kuantitas hasil kerja sama, kualitas berbeda bila dalam
keadaan bising.
2) Kerja yang banyak menggunakan pemikiran lebih banyak
terganggu dibanding dengan kerja manual.
c. Gangguan Komunikasi
8

Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect


(bunyi yang menutupi pendengaran yang kurang jelas) atau
gangguan kejelasan suara. Komunikasi pembicaraan harus
dilakukan dengan cara berteriak. Gangguan ini menyebabkan
terganggunya pekerjaan, sampai pada kemungkinan terjadinya
kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya.
Gangguan komunikasi ini secara tidak langsung membahayakan
keselamatan seseorang.

3. Alat Pelindung Diri


a. Ear plug
Ear plug adalah alat pelindung telinga yang digunakan
dengan cara dimasukkan pada bagian luar dari lubang telinga.
Berdasarkan bahannya, ear plug ada yang terbuat dari foam /
busa / spons, dan ada yang terbuat dari bahan karet (rubber).
Sesuai dengan fungsinya, ear plug melindungi telinga dari
pengaruh kebisingan lingkungan sekitar, sehingga dengan
dipakainya alat ini, mampu mencegah terganggunya fungsi
telinga akibat dari pengaruh kebisingan tersebut.
Berdasarkan standar, penggunaan Ear plug dapat
mengurangi intensitas suara (tingkat kebisingan suara) hingga
menjadi 24 – 32 dB pada ear plug berbahan foam, sedangkan
pada ear plug berbahan karet, dapat mengurangi intensitas suara
hingga menjadi 15 – 28 dB dari kondisi kebisingan sebenarnya.
b. Ear Muff
Ear muff memiliki model lebih besar seperti headset yang
biasa dipakai untuk mendengarkan musik, sehingga secara tidak
langsung kemampuan dalam meredam pada Ear muff lebih baik
daripada ear plug. Berdasarkan standar yang berlaku, Ear muff
memiliki kemampuan untuk mengurangi intensitas suara dari
lingkungan sekitar hingga menjadi 20 – 38 dB.
8

Meskipun memiliki tingkat peredaman suara yang


berbeda, Ear muff belum tentu dikatakan lebih baik, karena
dalam hal ini penggunaan alat pelindung telinga harus
menyesuaikan dari kondisi pekerjaan yang dilakukan.
Penggunaan alat pelindung telinga yang tidak sesuai pada
peruntukannya, dapat menyebabkan terganggunya pekerjaan
akibat komunikasi antar pengguna yang kurang maksimal.
Selain itu, penggunaan ear muf juga membutuhkan biaya yang
tidak sedikit dari biaya operasional, karena Ear muff pastinya
lebih mahal dari ear plug.

B. Peraturan Perundang-undangan
1. Undang-Undang Nomor 1 tahun 1970, tentang Keselamatan Kerja.
2. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 48 Tahun 1996 tentang
Baku Tingkat Kebisingan.
3. Peraturan Mentri Tenaga Kerja No. Per.13/MEN/X/2011 tentang Nilai
Ambang Batas Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat Kerja.
4. Badan Standardisasi Nasional, 2001. SNI 7231:2009 tentang Metoda
pengukuran intensitas kebisingan di tempat kerja.
8

BAB III
HASIL

A. Gambar Alat, Cara Kerja, dan Prosedur Pengukuran


1. Gambar Alat
8

2. Bagian dan fungsi alat


a. Microphone : menangkap suara dari luar
b. Kabel mikrofon : menghubungkan microphone dengan alat Noise
Dosimeter
c. Display : menampilkan data pengukuran
d. Power : menghidup dan mematikan alat
e. Reset : menghapus data pengukuran yang tersimpan
f. Run : memulai, menghentikan sementara, mengakhiri pengukuran
g. Clock : menampilkan waktu terkini
h. Mode : memilih satuan pengukuran
i. Event : memilih tempat penyimpanan data pengukuran
j. PC interface monitor : menghubungkan alat Noise Dosimeter ke
komputer
k. Calibration Potentiometer : mengukur kalibrasi alat
l. Sekrup penutup baterai : membantu menutup battery cover
m. Battery cover & belt clip : menutup baterai pada alat dan
mempermudah untuk memasang sabuk pada alat.
n. F : mengukur kebisingan secara kontinu
o. S : mengukur kebisingan secara Intermittent
p. : menandakan pengukuran telah dimulai
q. Pause : menghentikan pengukuran sementara
r. %DOSE : menunjukan satuan pengukuran
s. : menunjukan daya baterai
t. E1 / E5 : menyimpan data pengukuran
u. : menunjukan kebisingan melebihi 115 dBA 8
v. PK : menunjukan kebisingan melebihi 150 dBA
w. dBA : menunjukkan satuan kebisingan
8

3. Cara Kerja
a. Alat dinyalakan dengan menekan tombol POWER
b. Ruang penyimpanan pengukuran dipilih dengan menekan tombol
EVENT
c. Tombol MODE ditekan %DOSE untuk pengukuran Noise
Exposure, jika sudah menunjukkan %DOSE pada alat praktikum
maka mode tidak perlu diubah.
d. Belt clip dan microphone dipasang di pinggang / saku probandus
dan meletakkan mic sedekat mungkin dekat dengan telinga
e. Untuk memulai pengukuran tekan RUN
f. Untuk menghentikan pengukuran tekan RUN 3-5 detik.
g. Alat dimatikan dengan cara menekan tombol Power.

4. Prosedur Pengukuran
a. Jika alat tidak menyala, posisi dan kondisi baterai diperiksa.
b. Apabila pada saat pemilihan ruang penyimpanan
E1/E2/E3/E4/E5 berkedip berarti bahwa ruangan tersebut telah
terisi data pengukuran, untuk menghapus data dapat dilakukan
dengan cara menekan RESET.
c. Posisi kabel mikrofon dipatikan rapi agar tidak membatasi
aktivitas pekerja.
d. Untuk menghentikan sementara proses pengukuran yang
sedang berlangsung pada saat pengukuran pekerja sedang
istirahat dapat dilakukan dengan cara menekan RUN satu kali.
e. Akumulasi hasil pengukuran paparan kebisingan dibaca dengan
menghubungkan ke PC
8

B. Tabel Hasil Pengukuran dan Perhitungan


E1 E2 E3 E4 E5
Used or Not Not Used Not Used Not Used Used Used
Criterion Level 90 dB 90 dB
Threshold Level 85 dB 85 dB
Exchange rate 5 dB 5 dB
Time Wighting Slow Slow
dBRMS 115 No No
Exceed 140dB No No
Start Date (mm:dd) 11-07 11-07
Start Time (hh:mm) 14:46 14:20
Stop Time (hh:mm) 15:08 14:38
Exposure Time (hh:mm) 00:20 00:14
Dose Value (%) 1.91 3.5
TWA (8hr %Dose) 61.4 65.8
PEAK FLAG TIME
(hh:mm)
PEAK DURATION
(mm:ss)
Name :
Address :
Company :
8

BAB IV
PEMBAHASAN

A. Analisis Hasil
1. Titik 1 Di Perempatan FK UNS
Pengukuran dilakukan di perempatan depan FK UNS. Saat
pengukuran, kondisi lalu lintas cukup ramai dikarenakan jam pulang
kuliah dan jam pulang kerja. Probandus berdiri di trotoar jalan
perempatan FK selama 20 menit, mulai dari pukul 14.46 sampai
15.08. sumber bising yang ada di perempatan depan FK berasal dari
aktivitas manusia dan kendaraan bermotor. Sumber kebisingan yang
ada di perempatan depan FK UNS dapat dikategorikan ke dalam
bising kontinyu sehingga di display alat tertulis S (Slow). Ruang
penyimpanan yang digunakan untuk menyimpan data adalah ruang
penyimpanan E4. Setelah 20 menit pengukuran pada display noise
dosimeter tertulis angka 1,91%. setelah dihubungkan dengan
komputer diperoleh TWA (8hr %dose) 61,4%. sesuai dengan
Conversion from Percent Noise Eksposure or Dose to 8-hour Time
Weight Average Sound Level (TWA) sebesar 86,9 dBA.
NAB kebisingan menurut Occupational Safety and Health
Standard untuk durasi waktu 20 menit adalah 113 dB. Sedangkan
menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 13
Tahun 2011 tentang NAB Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat
Kerja untuk durasi waktu 20 menit adalah 97 dBA. Berdasarkan kedua
aturan tersebut %dose yang dihasilkan dari pengukuran di perempatan
depan FK tidak melebihi NAB.

2. Titik 2 Di Gerbang Belakang UNS


Pengukuran dilakukan di gerbang belakang UNS. Saat
pengukuran, kondisi lalu lintas sangat ramai dikarenakan jam pulang
kuliah dan jam pulang kerja. Probandus bernama Raditya Mukhti
8

Raharjo, ia berdiri di samping jalan raya belakang UNS dan berjalan


di sekitar jalan raya gerbang belakang uns selama 14 menit, mulai dari
pukul 14.20 sampai 14.38 wib. Namun terjadi kesalahan pada saat
melakukan pengukuran waktu, harusnya lama waktu pengukurannya
adalah 15 menit. Sumber bising yang ada di gerbang belakang uns
berasal dari aktivitas manusia dan kendaraan bermotor yang berada di
sekitarnya. Sumber kebisingan yang ada di gerbang belakang uns
dapat dikategorikan ke dalam bising kontinyu sehingga di display alat
tertulis S (Slow). Ruang penyimpanan yang digunakan untuk
menyimpan data adalah ruang penyimpanan E5. Setelah 15 menit
pengukuran pada display noise dosimeter tertulis angka 3,5%. Setelah
dihubungkan dengan komputer diperoleh TWA (8hr %dose) 65,8%.
sesuai dengan Conversion from Percent Noise Eksposure or Dose to
8-hour Time Weight Average Sound Level (TWA) sebesar 87,4 dBA.
NAB kebisingan menurut Occupational Safety and Health
Standard untuk durasi waktu 15 menit adalah 115 dB. Sedangkan
menurut Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 13
Tahun 2011 tentang NAB Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat
Kerja untuk durasi waktu 15 menit adalah 100 dBA. Berdasarkan
kedua aturan tersebut %dose yang dihasilkan dari pengukuran di
gerbang belakang UNS tidak melebihi NAB.

3. Perbandingan Titik 1 dan Titik 2


Hasil pengukuran pada titik 1 diperoleh %dose 61,4 sehingga
TWA nya 86,9 dBA, sedangkan hasil pengukuran pada titik 2
diperoleh %dose 65,8 sehingga TWA nya 87,4 dBA. Di kedua titik
tersebut TWA sama-sama tidak melebihi NAB. Pada titik 1, %dose
lebih kecil dibandingkan %dose yang dihasilkan di titik 2, hal ini
dikarenakan aktivitas manusia lebih sedikit dibanding pada titik 2 dan
jumlah kendaraan pada titik 1 tidak sepadat pada titik 2. Waktu
pengukuran di titik 1 selama 20 menit sedangkan pengukuran di titik
8

dua selama 15 menit. Lamanya waktu pengukuran tidak


mempengaruhi banyaknya TWA yang dihasilkan. Hal ini dibuktikan
dengan pada titik satu pegukuran selama 20 menit tidak menjamin
menghasilkan TWA yang lebih besar.
B. Perbedaan Noise Dosi Meter dan Sound Level Meter
No Noise Dosi meter Sound Level Meter
Untuk mengukur bising Untuk mengukur bising pada
1
personal lingkungan
2 Satuan yang digunakan %dose Satuan yang digunakan dBA
hasil belum tertera di layar,
Hasil sudah tertera dilayar
sehingga harus dihubungkan
3 sehingga tidak perlu
dengan komputer untuk
dihubungkan dengan komputer
membacanya
Memiliki ruang penyimpanan Tidak memiliki ruang
4
untuk menyimpan data penyimpanan data
5 Tidak perlu dikalibrasi Harus dikalibrasi
Data tidak bisa disimpan dan di
6 Data bisa disimpan dan di print
print
Pengukuran berkali-kali dengan Pengukuran berkali-kali dengan
7
waktu yang berbeda-beda waktu yang sama
8

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
1. Pengukuran di dua titik menghasilkan dBA yang tidak melebihi NAB.
2. Berdasarkan Occupational Safety and Health Standard NAB nya
adalah 113 dBA untuk titik 1 selama waktu 20 menit dan 115 dBA
untuk titik 2 selama waktu 15 menit.
3. Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Nomor 13 Tahun 2011 tentang NAB Faktor Fisika dan Faktor Kimia
di Tempat Kerja NAB untuk titik 1 dalam waktu 20 menit 97 dBA dan
untuk titik 2 dalam waktu 15 menit 100 dBA.
4. Tidak diperlukan adanya pengendalian dan penanggulangan
kebisingan secara segera.
5. Perbedaan di kedua titik dilihat dari lamanya pengukuran dan dBA
yang dihasilkan. Di titik 1 dengan waktu 20 menit dihasilkan 86,9
dBA, sedangkan di titik 2 dengan waktu 15 menit dihasilkan 87,4
dBA.
6. Sumber kebisingan di kedua titik sama yaitu aktivitas manusia dan
kendaraan bermotor, dimana sumber tersebut merupakan kebisingan
kontinyu.
B. Saran
1. Ketika melakukan pengukuran praktikan harus konsentrasi dan teliti
supaya hasil pengukuran lebih valid dan tepat waktu
2. Praktikan harus bisa memahami cara penggunaan alat pengukuran
supaya tidak terjadi kesalahan saat pengukuran.
3. Prodi sebaiknya memfasilitasi alat pengukuran dengan maksimal
sehingga praktikan dapat dengan mudah melakukan pengukuran tanpa
terkendala jumlah alat
8

DAFTAR PUSTAKA

Suma’mur. 2013. HIGIENE PERUSAHAAN dan KESEHATAN KERJA


(HIPERKES). Jakarta: Sagung Seto.

Sumardiyono, dkk. 2017. Buku Panduan Praktikum Pemantauan dan Pengukuran


Faktor Fisika Semester III Tahun Akademik 2017. Surakarta:FK UNS.

Heru S & Haryono. 2007. Hygiene Lingkungan Kerja. Jogjakarta: Mitra Cendekia
Press.

Nurul Hidayati. 2007. Pengaruh Aruslalu Lintas Terhadap Kebisingan (Studi


Kasus Beberapa Zona Pendidikan Di Surakarta). Jurnal Dinamika teknik
sipil Universitas Muhamadiyah Surakarta. Volume 7 Nomor 1

Harisma Khoirun Nisa. 2016. Noise atau Kebisingan Serta Dampak Negatif
Bagi Manusia dan Lingkungan.
http://googleweblight.com/?lite_url=http://id.altaintegra.com/noise-atau-
kebisingan-serta-dampak-negatif-bagi-manusia. Diakses 4 Oktober 2017

Paulutu, Anto. “Makalah Analisa Kualitas Kebisingan”. 2013 dalam


http://xavrianto.blogspot.co.id/2013/04/makalah-kebisingan-mkanalisa-
kualitas.html dilihat pada 5 Oktober 2017
LAMPIRAN

Anda mungkin juga menyukai