Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PEMANTAUAN DAN PENGUKURAN FAKTOR FISIKA

PENGUKURAN GETARAN MOBIL ELV PRODI D3 HIPERKES DAN


KESELAMATAN KERJA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS
SEBELAS MARET

Kelompok VI

(Kelas A)

1. Ahmad Tajuddin Ramdhani (R0016001)


2. Dian Wahyu Indrawati (R0016021)
3. Fransiska Ellisa Fardani (R0016043)
4. Khamnani Akbarul Fikri (R0016053)
5. Raditya Mukti R. (R0016081)
6. Rika Wulandari (R0016087)
7. Riyan Anggara (R0016089)
8. Anjawani Prahandini (R0016101)

PROGRAM STUDI D3 HIPERKES DAN KESELAMATAN KERJA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Surakarta
2017
PENGESAHAN
Laporan Pemantauan Danpengukuran Faktor Fisika dengan judul :

Pengukuran Getaran Mobil Elv Prodi D3 Hiperkes Dan Keselamatan Kerja


Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret

Kelompok VI

Telah disahkan pada:

Hari ...................Tanggal .................................2017

Dosen Pengampu

Seviana Rinawati, S.KM., M.Si


NIP.1984092220140901

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ....................................................................................... i


HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Tujuan............................................................................................ 2
C. Manfaat ......................................................................................... 2
BAB II LANDASAN TEORI
A. Intensitas Getaran ......................................................................... 3
B. Peraturan Perundang-undangan .................................................... 6
BAB III HASIL
A. Gambaran Alat, Cara Kerja dan Prosedur Pengukuran ................ 7
B. Hasil Pengukuran dan Perhitungan .............................................. 11
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................... 12
B. Saran .............................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 13
LAMPIRAN

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kendaraan bermotor menggunakan motor bakar sebagai mesin
penggeraknya. Motor bakar merupakan salah satu jenis pengerak yang
mengunakan hasil ledakan dari pembakaran di dalam silinder untuk dirubah
menjadi energi mekanik. Menurut sistem penyalaannya motor bakar terdiri
dari dua jenis yaitu spark ignition engines (motor bensin) dan compression
ignition engines (motor diesel). Pada motor bensin sistem penyalaan bahan
bakar terjadi karena adanya loncatan bunga api busi, sedangkan pada motor
diesel pembakaran bahan bakar dilakukan dengan sendirinya akibat adanya
tekanan dan temperatur yang tinggi dalam ruang bakar yang kemudian di
injeksikan bahan bakar melalui nosel.
Mesin merupakan suatu struktur yang memiliki massa dan kekakuan.
Sehingga memiliki kemampuan untuk bergetar atau mengalami vibrasi.
Getaran yang terjadi pada mesin dapat disebabkan oleh eksitasi getaran yang
berasal dari lingkungan luar atau dari dalam mesin itu sendiri. Getaran mesin
dari dalam disebabkan oleh komponen mesin yang mempunyai sifat bahan
elastis, ketika komponen mesin bergerak secara berputar atau translation
dapat menimbulkan getaran. Sedangkan getaran dari luar dapat disebabkan
oleh besarnya kecepatan putaran mesin (RPM), komponen mesin (bearing)
yang sudah mengalami kerenggangan, pemakaian pelumas yang sudah
mengalami kerusakan, sehingga menimbulkan getaran yang kuat (getaran
tidak normal) jika mesin berputar pada putaran mesin tinggi.
Getaran yang ditimbulkan dari mesin pada kendaraan bermotor akan
memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan jika getarannya melebihi
ambang batas. Namun hal ini tidak bisa dihindari, karena setiap hari kita
memakai kendaraan untuk beraktivitas. Salah satu cara untuk mengurangi
dampaknya adalah dengan memakai bantalan atau alat peredam getaran.

1
2

Sebagai mahasiswa yang nantinya akan bekerja sebagai ahli K3 penting


untuk peka terhadap keadaan sekitar, salah satunya adalah dengan mengamati
lingkungan sekitar yang dalam konteks ini adalah getaran yang ditimbulkan
dari mesin. Salah satunya adalah mengetahui pengukuran getaran yang
ditimbulkan dari mesin kendaraan bermotor. Walaupun baru pertama
pengukuran penting untuk mengetahuinya dapat mengetahui apakah getaran
dari mesin motor berbahaya atau tidak sehingga dapat menentukan
pencegahan atau pengendalian yang tepat. Sebagai mahasiswa tidak lepas
pula dari praktikum yang merupakan salah satu penunjang penilaian dan
sebagai simulasi ketika dilapangan nantinya.

B. Tujuan
1. Untuk mengetahui tingkat getaran pada mobil prodi D3 Hiperkes dan KK
FK UNS.
2. Untuk mengetahui cara melakukan pengukuran menggunakan vibration
meter
3. Untuk menganalisis kesesuaian hasil pengukuran dengan aturan
mengenai nilai ambang batas getaran.

C. Manfaat
1. Dapat mengetahui tingkat getaran pada mobil prodi D3 Hiperkes dan KK
FK UNS.
2. Dapat mengetahui cara melakukan pengukuran menggunakan vibration
meter.
3. Dapat menganalisis kesesuaian hasil pengukuran dengan aturan mengenai
nilai ambang batas getaran.
BAB II
LANDASAN TEORI

A. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Getaran
Getaran adalah suatu factor fisik yang bekerja pada manusia dengan
penjalaran ( Transmission ) dari pada tenaga mekanik yang berasal dari
sumber goyangan ( osilattor ). Getaran kerja adalah getaran mekanis
yang ada ditempat kerja dan berpengaruh terhadap tenaga kerja.
Pemaparan getaran biasanya berhubungan dengan proses industri,
keadaan yang paling parah sering terjadi di bidang kehutanan,
pertambangan, dan penggalian dengan dentuman, palu, alat-alat
pengebor, dan pekerjaan-pekerjaan di bidang industri besi dan baja.
Getaran dihasilkan oleh :
a. Mesin-mesin diesel, mesin produksi
b. Kendaraan-kendaraan, Tractor, truk, bus, tank dll
c. Alat-alat kerja tangan ( hand tool ) dengan menggunakan mesin :
jack hammer ( pembuka jalan ), pneumatic hammer ( pabrik besi
), jack lec drill ( pengebor batu gunung, karang dll )
2. Klasifikasi Getaran Berdasarkan Dampak
a. Getaran Seluruh tubuh/ Umum ( Whole body vibration )
Getaran ini berpengaruh terhadap seluruh tubuh, dihasilkan karena
seluruh masa tubuh berhadapan dengan getaran mekanis dan
dihantarkan melalui bagian tubuh tenaga kerja yang menopang
seluruh tubuh. Misalnya : getaran permukaan penyangga pada mesin
traktor, kaki saat berdiri, pantat pada saat duduk, punggung saat
bersandar. Getaran ini mempunyai frekwensi 0-80 Hz.
b. Getaran pada Sebagian Alat Tubuh/Setempat (Tool Hand
vibration )
Misalnya getaran yang terjadi pada lengan/tangan, frekuensinya
yaitu 8-1 kHz Pengaruh getaran terhadap tenaga kerja. Getaran ini

3
4

terjadi pada alat tubuh yang bersenuhan saja, sedangkan bagian


tubuh lain yang tidak bersentuhan berada dalam posisi diam. Akan
tetapi hal ini bukan berarti bagian tubuh yang tidak bersentuhan
langsung tidak terpengaruh, karena tubuh dapat berfungsi sebagai
sistem resonansi pada berbagai bagian dan frekuensi, sehingga
bagian tubuh yang lain pun dapat terpengaruh.
3. Pengaruh Getaran terhadap Kesehatan
Terdapat sejumlah pengaruh fisiologis dan psikologi karena adanya
getaran di seluruh tubuh, diantaranya yaitu;
a. Perubahan morfologis pada tulang belakang
b. Masalah sistem pencernaan
c. Kerusakan alat-alat reproduksi pada wanita
d. Gangguan alat penglihatan
e. Gangguan pada telinga.
Penelitian juga telah membuktikan dengan menghadapkan tenaga kerja
dengan getaran berfrekuensi rendah secara berulang-ulang. Respon
klinis dari pekerja yakni;
a. Raynaud’s Syndrome/ getaran jari putih
b. Degenerasi saraf
c. Hilangnya indra peraba dan perasa, untuk rasa panas
d. Pelembekan metacarpal dan carpal
e. Terhentinya pertumbuhan otot.
4. Nilai Ambang Batas
Usaha-usaha untuk membuat standar pemjanan telah dikembangkan.
Salah satunya yaitu dengan ISO atau Organisasi Standar Internasional,
kriteria ini berlaku untuk getaran-getaran yang dihantarkan pada
paha/kaki orang yang sedang berdiri atau duduk dan dapat digunakan
sebagai petunjuk untuk getaran di seluruh tubuh.
Getaran-getaran dibawah 1 Hz menimbulkan cinetosis atau mabuk
udara, untuk frekuensi di atas 100 Hz akan berpengaruh pada kulit dan
berpengaruh pada kelembaban sepatu, baju, dll. Pekerja yang terpapar
5

getaran melebihi peraturan ISO pada umumnya akan berakibat pada


kelelahan dan menurunnya efisiensi kerja.
NAB Getaran Untuk Pemajanan Lengan dan Tangan
Jumlah waktu pemajanan Nilai percepatan pada frekuensi domain
per hari kerja m/det2 Gram
4 jam dan kurang dari 8 jam 4 0,40
2 jam dan kurang dari 4 jam 6 0,61
1 jam dan kurang dari 2 jam 8 0,81
Kurang dari 1 jam 12 1,22
Catatan: 1 gram = 9,81m/det2

5. Sumber Getaran
a) Alam
Merupakan fenomena geologi yang mengakibatkan
gelombang(gerakan bumi) sehingga menimbulkan getaran. Yang
bersumber dari getaran tektonik dan getaran vulkanik.
b) Aktivitas Manusia
Getaran berasal dari gerakan/gesekan mesin dan alat-alat kerja
lain yang menimbulkan getaran. Contoh sumbernya adalah
mesin-mesin produksi, mesin bor pneumatik, pahat, gerenda,
gergaji serta aktivitas mesin yang menimbulkan gesekan dan
getaran.
6. Prinsip Pengukuran Getaran
Komponen dari suatu sistem pengukuran getaran terdiri dari elemen-
elemen mekanik atau kombinasi elemen mekanik, elektrik dan optik.
Sistem yang biasa dipakai adalah vibration pick up untuk
mentransformasikan gerakan mekanik menjadi suatu signal elektrik,
lalu signal tersebut diperkuat dengan mempergunakan amplifier dan
untuk menyeleksi serta mengukur getaran dalam spesifik range
6

frekuensi mempergunakan analyzer dan untuk mengukur unit getaran


(Hz) menggunakan vibration record.
Getaran diukur sebagai laju pada beberapa frekuensi dan arah dengan
menggunakan sebuah penghantar, amplifier dan perekam getaran, dan
harus diperiksa pada tiga arah (alat bawah, muka-belakang, sisi kanan-
kiri) dan untuk keputusan ini sebuah triaxial accelerometer digunakan
dan biasanya terdapat 1 macam getaran yang dominan.
7. Langkah-langkah penanggulangan Getaran
a) Penanggulangan pada sumber
1) Gunakan penggantung elastis pada mesin yang
menyebabkan getaran-getaran tersebut (karet peredam
getaran, per-per logam,per-per angin, pangkalan
terapung,pangkalan tergantung dll).
2) Tambahlah pada pangkalan mesin yang menyebabkan
getaran-getaran atau tambahkan beban dibawah pangkalan.
3) Seimbangkan bagian-bagian yang berputar dari mesin yang
menyebabkan getaran-getaran.
4) Kurangi energi pemicu dengan melakukan pemeliharaan
atau memperbaiki mesin yang menimbulkan getaran-
getaran.
b) Langkah Penanggulangan Sepanjang Rute Propagasi
1) Ambil manfaat dari pengecilan dengan jarak (attentation),
dengan menjauhkan titik penerima dan sumber agar
semakin jauh.
2) Galilah parit peredam getaran atau buat suatu penyekat
c) Langkah Penanggulangan Pada Titik Penerima, Cegahlah bagian-
bagian gedung (perabotan) agar jangan bergetar.
7

B. Peraturan Perundang-undangan
1. PERMENAKERTRANS RI Nomor PER.13/MEN/X/2011
tentang nilai ambang batas faktor fisika dan faktor kimia di
tempat kerja
2. ISO 2371 tentang getaran mekanis
3. VDI 256 tentang getaran mekanis.
4. KEPMENEG LH No.49 Tahun 1996 tentang getaran mekanis di
lingkungan.
BAB III
HASIL

A. Gambar Alat, Cara Kerja, dan Prosedur Pengukuran


1. Gambar alat vibration meter

8
9

2. Bagian-bagian Alat dan Fungsi


a) Frequency Range : untuk menentukan besarnya frequensi yang
akan diukur apakah low ataukah high.
b) Velocity acceleration : digunakan apabila akan dilakukan
pengukuran kecepatan.
c) Display low batt mark : untuk menampilkan keadaan baterai
apakah masih bisa digunakan atau tidak
d) Meas (push on) : untuk mengecek baterai dan menghidup
matikan alat/tombol hold
e) Vibration Detector : untuk menangkap getaran yang akan
diukur.

3. Cara Kerja
a) Mula-mula cek baterai dengan menekan tombol MEAS. Bila
muncul titik dobel pada display berarti beterai harus diganti.
b) Tekan MEAS atau power ON kurang lebih 10 detik.
c) Pilih skala pengukuran dan jenis pengukuran yang sesuai.
d) Untuk pengukuran Acceleration, gunakan frekuensi High (1000
t0 15000 Hz)
e) Selama pengukuran berlangsung, tombol MEAS ditekan dan
tahan. Ujung sensor alat ditempelkan pada objek yang diukur
dengan posisi tegak lurus. Nila getaran mekanis ditunjukkan
pada display.
f) Lepas alat dari objek dan catat angka pada display.
g) Tekan tombol MEAS kembali untuk pengukuran selanjutnya.

4. Prosedur Pengukuran
a) Persiapan
1) Pastikan keadaan alat dalam kondisi baik.
2) Cek batterei pada alat dengan menekan tombol MEAS. Bila
muncul titik dobel pada display berarti beterai harus diganti.
10

3) Menentukan titik getaran mesin yang diukur pada sumber


getarannya.
b) Saat Pengukuran
1) Mengukur dengan menempelkan sesnsor ke sumber getaran
2) Mencatat spesifikasi sumber getaran dan hasil pengukuran.
3) Lakukan perulangan dalam pembacaan hasil pengukuran (1
menit dengan 3 pembacaan masing-masing setelah 20
detik)
4) Lakukan perulangan pengukuran di tempat yang sama
sesuai lama paparan dalam sehari untuk memperoleh data
yang akurat.

B. Hasil Pengukuran dan Perhitungan

m/s²
TITIK
RATA-
PENUKURAN 1 2 3 2
RATA
Stir Mobil 1,71 1,71 1,40 1,32 1,54
Dashbor 0,36 0,38 0,38 0,40 0,37
Sandaran Duduk 0, 15 0, 18 0,12 0,14 0,59

Perseneleng Mobil 0,11 0,12 0,12 0,12 0,12

Pedal 0,20 0,22 0,22 0,20 0,66


Lantai mobil 0,17 0,18 0,18 0,18 0,16
BAB IV
PEMBAHASAN

Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No


PER.13/MEN/X/2011 tentang NAB Faktor Fisika dan Faktor Kimia di Tempat
Kerja, disebutkan bahwa Nilai Ambang Batas (NAB) getaran untuk pemajanan 8
jam/ hari mempunyai percepatan pada frekuensi dominan 4 m/s². Dengan nilai
percepatan diatas Nilai Ambang Batas (NAB) sebesar 4 m/s², maka dapat diketahui
bahwa intensitas getaran mekanis yang dihasilkan cukup tinggi sehingga mungkin
dapat menimbulkan gangguan kesehatan dan kelelahan yang berlebih untuk
pemakaian selama 8 jam/hari.
A. Getaran pada Stir Mobil
Getaran pada stir mobil berdasarkan pengukuran adalah 1,54 m/s². Berdasarkan
Permenakertrans No PER.13/MEN/X/2011 nilai ambang batas getaran untuk
pemaparan lengan dan tangan dengan pemajanan 4 jam dan kurang dari 8 jam
kerja /hari adalah 4 m/s² . Sehingga getaran pada stir mobil sudah sesuai dan
tidak melebihi NAB.
B. Getara pada Dashbor
Getaran pada dashbor berdasarkan pengukuran adalah 0,37 m/s². Berdasarkan
Permenakertrans No PER.13/MEN/X/2011 nilai ambang batas getaran untuk
pemaparan lengan dan tangan dengan pemajanan 4 jam dan kurang dari 8 jam
kerja /hari adalah 4 m/s². Sehingga getaran pada dashbor sudah sesuai dan tidak
melebihi NAB.
C. Getaran pada Sandaran Duduk
Paparan getaran pada sandaran duduk dapat mengenai atau kontak langsung
dengan tubuh pekerja. Sehingga sesuai pasal 7 Permenakertrans No
PER.13/MEN/X/2011 NAB getaran yang kontak langsung maupun tidak
langsung pada seluruh tubuh ditetapkan sebesar 0,5 meter per detik kuadrat
(m/det²). Sedangkan hasil pengukuran yang dilakukan pada sandaran duduk
adalah 0,59 m/s². Dari hasil pengukuran tersebut jika dibandingkan dengan
permenakertrans No PER.13/MEN/X/2011 pasal 7, maka getaran pada

11
12

sandaran duduk belum sesuai dan melebihi NAB, hal tersebut dapat terjadi
mungkin karena posisi pada saat pengukuran yang salah.
D. Getaran pada Perseneleng Mobil
Paparan getaran pada perseneleng mobil dapat mengenai lengan dan tangan
pekerja. Sehingga sesuai Permenakertrans No PER.13/MEN/X/2011 nilai
ambang batas getaran untuk pemaparan lengan dan tangan dengan pemajanan 4
jam dan kurang dari 8 jam kerja /hari adalah 4 m/s². Sedangkan hasil
pengukuran yang dilakukan pada perseneleng mobil adalah 0,12 m/s². Dari hasil
pengukuran tersebut jika dibandingkan dengan Permenakertrans No
PER.13/MEN/X/2011 pasal 7, maka getaran pada perseneleng mobil sudah
sesuai dan tidak melebihi NAB.
E. Getaran pada Pedal
Paparan getaran pada pedal dapat mengenai atau kontak langsung dengan tubuh
pekerja. Sehingga sesuai pasal 7 Permenakertrans No PER.13/MEN/X/2011
NAB getaran yang kontak langsung maupun tidak langsung pada seluruh tubuh
ditetapkan sebesar 0,5 meter per detik kuadrat (m/det²). Sedangkan hasil
pengukuran yang dilakukan pada pedal adalah 0,66 m/s². Dari hasil pengukuran
tersebut jika dibandingkan dengan Permenakertrans No PER.13/MEN/X/2011
Pasal 7, maka getaran pada pedal belum sesuai dan melebihi NAB, hal tersebut
dapat terjadi mungkin karena posisi pada saat pengukuran yang salah.
F. Getaran pada Lantai Mobil
Paparan getaran pada lantai mobil dapat mengenai atau kontak langsung dengan
tubuh pekerja. Sehingga sesuai pasal 7 Permenakertrans No
PER.13/MEN/X/2011 NAB getaran yang kontak langsung maupun tidak
langsung pada seluruh tubuh ditetapkan sebesar 0,5 meter per detik kuadrat
(m/det²). Sedangkan hasil pengukuran yang dilakukan pada lantai mobil adalah
0,16 m/s². Dari hasil pengukuran tersebut jika dibandingkan dengan
permenakertrans No PER.13/MEN/X/2011 pasal 7, maka getaran pada lantai
mobil sudah sesuai dan tidak melebihi NAB.
BAB V
PENUTUP

A. Simpulan
Pengukuran getaran dilakukan pada Mobil ELV Prodi yang sedang
dinyalakan. Beberapa bagian yang diukur tingkat getaranya adalah getaran
pada stir mobil, dashbor, sandaran duduk, persneling, pedal dan lantai mobil.
Dari hasil pengukuran yang telah didapatkan dari enam bagian mobil
menyatakan bahwa empat bagian mobil aman yaitu pada bagian stir,
dashbor, persneling, dan lantai mobil tidak melebihi nilai ambang batas.
Sedangkan dua bagian yaitu sandaran dan pedal mobil melebihi nilai ambang
batas.

B. Saran
1. Adanya beberapa bagian mobil yang melebihi NAB maka perlu
pengecekan ulang yang lebih akurat dari pihak Prodi atau pihak
bewenang lainya untuk memastikan keakuratan hasil pengukuran
mahasiswa.
2. Apabila hasil telah akurat, maka perlu adanya penanganan lebih
mengenai bagian yang terbukti menghasilkan getaran yang melebihi
NAB sehingga tidak menimbulkan risiko bagi yang memakainya.

13
DAFTAR PUSTAKA

Suma’mur. 2013. HIGIENE PERUSAHAAN dan KESEHATAN KERJA


(HIPERKES). Jakarta: Sagung Seto.

Sumardiyono, dkk. 2017. Buku Panduan Praktikum Pemantauan dan Pengukuran


Faktor Fisika Semester III Tahun Akademik 2017. Surakarta:FK UNS.

Heru S & Haryono. 2007. Hygiene Lingkungan Kerja. Jogjakarta: Mitra Cendekia
Press.

Illana Respati. 2015. Perbedaan Getaran Mesin Gerinda dan Mesin Amplas
Terhadap Keluhan Carpal Tunnel Syndrome Pada Pekerja CV. Manggala
Jati Klaten. Skripsi diploma IV Kesehatan Keselamatan Kerja FK UNS.

Hardiani Waskito. 2010. Laporan Praktikum Getaran Mekanis Pada Kendaraan


Bermotor. Laporan praktik Diploma III Hiperkes dan KK FK UNS.

14