Anda di halaman 1dari 29

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Fraktur Colles


Fraktur Colles adalah fraktur metafisis distal radius, biasanya
terjadi 3 sampai 4 cm dari permukaan sendi dengan angulasi volar
apeks fraktur (deformitas garpu perak/ silver fork deformity), dislokasi
fragmen distal ke arah dorsal, dan disertai pemendekan radius. Fraktur
Colles dapat dengan atau tanpa disertai fraktur styloideus ulnae
(Hoppenfeld, 2011).
Fraktur Colles yaitu cedera pada pergelangan tangan yang
disebut fraktur radius distal paling sering terjadi pada orang tua yang
jatuh bertumpu pada telapak tangan dengan tangan dalam posisi
dorsofleksi. Secara klinis biasanya sudah ditemukan deformitas khas
yang disebut bentuk garpu (Sjamsuhidajat, 2004).
Fraktur Colles terjadi pada metafisis distal radius. Kebanyakan
dijumpai pada penderita-penderita wanita > umur 50 tahun, karena
tulang pada wanita > 50 tahun mengalami osteoporosis post
menepouse (Staff Pengajar Bagian Ilmu Bedah FK UI, tt).
Fraktur Colles adalah fraktur melintang pada radius tepat diatas
pergelangan tangan, dengan pergeseran dorsal fragmen distal. Ini
adalah fraktur yang paling sering ditemukan pada manula, insidennya
yang tinggi berhubungan dengan permulaan osteoporosis pasca
menepouse. Karena itu pasien biasanya wanita yang memiliki riwayat
jatuh pada tangan yang terentang (Apley, 1995).

Gambar: Fraktur Colles (http://www.eatonhand.com/hw/hw020.htm)


Gambar: Fraktur Colles (http://www.eatonhand.com/hw/hw020.htm)

B. Anatomi
Radius bagian distal bersendi dengan tulang karpus yaitu tulang
lunatum dan navikulare ke arah distal, dan dengan tulang ulna bagian
distal ke arah medial. Bagian distal sendi radiokarpal diperkuat dengan
simpai di sebelah volar dan dorsal, dan ligament radiokarpal kolateral
ulnar dan radial. Antara radius dan ulna selain terdapat ligament dan
simpai yang memperkuat hubungan tersebut, terdapat pula diskus
artikularis, yang melekat dengan semacam meniskus yang berbentuk
segitiga, yang melekat pada ligamen kolateral ulna. Ligamen kolateral
ulna bersama dengan meniskus homolognya dan diskus artikularis
bersama ligament radioulnar dorsal dan volar, yang kesemuanya
menghubungkan radius dan ulna, disebut kompleks rawan fibroid
triangularis (TFCC = triangular fibro cartilage complex) (Sjamsuhidayat
& de Jong, 1998).
Gerakan sendi radiokarpal adalah fleksi dan ekstensi
pergelangan tangan serta gerakan deviasi radius dan ulna. Gerakan
fleksi dan ekstensi dapat mencapai 90 derajat oleh karena adanya dua
sendi yang bergerak yaitu sendi radiolunatum dan sendi lunatum-
kapitatum dan sendi lain di korpus. Gerakan pada sendi radioulnar
distal adalah gerak rotasi. (Sjamsuhidayat & de Jong, 1998).
Sendi radiokarpal normalnya memiliki sudut 1 - 23 derajat pada
bagian palmar (ventral) seperti diperlihatkan pada gambar 1a. Fraktur
yang melibatkan angulasi ventral umumnya berhasil baik dalam fungsi,
tidak seperti fraktur yang melibatkan angulasi dorsal sendi radiokarpal
yang pemulihan fungsinya tidak begitu baik bila reduksinya tidak
sempurna. Gambar 1b memperlihatkan sudut normal yang dibentuk
tulang ulna terhadap sendi radiokarpal, yaitu 15 - 30 derajat. Evaluasi
terhadap angulasi penting dalam perawatan fraktur lengan bawah
bagian distal, karena kegagalan atau reduksi inkomplit yang tidak
memperhitungkan angulasi akan menyebabkan hambatan pada
gerakan tangan oleh ulna. (Simon & Koenigsknecht, 1987).

Gambar: Sudut normal Gambar: Sudut normal


sendi radiokarpal di yang dibentuk oleh
bagian ventral (tampak ulna terhadap sendi
lateral) radiokarpal
C. Klasifikasi Fraktur Colles
Ada banyak sistem klasifikasi yang digunakan pada fraktur
ekstensi dari radius distal. Namun yang paling sering digunakan adalah
sistem klasifikasi oleh Frykman. Berdasarkan sistem ini maka fraktur
Colles dibedakan menjadi 4 tipe berikut : (Simon & Koenigsknecht,
1987)
Tipe IA : Fraktur radius ekstra artikuler
Tipe IB : Fraktur radius dan ulna ekstra artikuler
Tipe IIA : Fraktur radius distal yang mengenai sendi radiokarpal
Tipe IIB : Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai sendi
radiokarpal
Tipe IIIA : Fraktur radius distal yang mengenai sendi radioulnar
Tipe IIIB : Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai sendi
radioulnar
Tipe IVA : Fraktur radius distal yang mengenai sendi radiokarpal dan
sendi
radioulnar
Tipe IVB : Fraktur radius distal dan ulna yang mengenai sendi
radiokarpal dan
sendi radioulnar
Gambar: Klasifikasi Fraktur Colles

D. Etiologi Fraktur Colles


Menurut, Hoppenfeld dalam bukunya yang berjudul Terapi dan Rehabilitasi
Fraktur tahun 2011 etiologi fraktur colles diakibatkan karena jatuh dengan
menumpu pada tangan yang mengakibatkan fraktur dan dislokasi radius distal.
Menurut Sjamsujidajat dalam bukunya yang berjudul Buku Ajar Ilmu Bedah
tahun 2004 etiologi fraktur colles paling sering ditemukan di kehidupan normal
karena jatuh bertumpu tangan.
Etiologi dan Faktor Resiko
1. Usia lanjut
2. Postmenopause
3. Massa otot rendah
4. Osteoporosis
5. Kurang gizi
6. Olahraga seperti sepakbola dll
7. Aktivitas seperti skating, skateboarding atau bike riding
8. Kekerasan
9. ACR (albumin creatinin ratio) yang tinggi
Efek ini kemungkinan disebabkan oleh gangguan sekresi 1,25
hidroksi vitamin D yang menyebabkan malabsorpsi kalsium (Dani,
2010 pada http://www.scribd.com/doc/2293 8507/fraktur-colles).

E. Patofisiologi Fraktur Colles


Trauma yang menyebabkan fraktur di daerah pergelangan
tangan biasanya merupakan trauma langsung, yaitu jatuh pada
permukaan tangan sebelah volar atau dorsal. Jatuh pada permukaan
tangan sebelah volar menyebabkan dislokasi fragmen fraktur sebelah
distal ke arah dorsal. Dislokasi ini menyebabkan bentuk lengan bawah
dan tangan bila dilihat dari samping menyerupai garpu.
(Sjamsuhidayat & de Jong, 1998).
Benturan mengena di sepanjang lengan bawah dengan posisi
pergelangan tangan berekstensi. Tulang mengalami fraktur pada
sambungan kortikokanselosa dan fragmen distal remuk ke dalam
ekstensi dan pergeseran dorsal. (Apley & Solomon, 1995)
Garis fraktur berada kira-kira 3 cm proksimal prosesus styloideus
radii. Posisi fragmen distal miring ke dorsal, overlapping dan bergeser
ke radial, sehingga secara klasik digambarkan seperti garpu terbalik
(dinner fork deformity). (Armis, 2000)

F. Manifestasi Klinis Fraktur Colles


Pada inspeksi bentuk khas yang dapat dilihat seperti sendok
makan (dinner fork deformity). Gejala-gejala yang lain seperti lazimnya
gejala patah tulang, ada pembengkakan, nyeri tekan, nyeri gerak (Staff
Pengajar Bagian Ilmu Bedah FK UI, tt).
Kita dapat mengenali fraktur ini (seperti halnya Colles jauh
sebelum radiografi diciptakan) dengan sebuah sebutan deformitas
garpu makan, dengan penonjolan punggung pergelangan tangan dan
depresi di depan. Pada pasien dengan sedikit deformitas mungkin
hanya terdapat nyeri tekan local dan nyeri bila pergelangan tangan
digerakkan. Pada sinar X terdapat fraktur radius melintang pada
sambungan kortikokanselosa, dan prosesus stiloideus ulnar sering
putus. Fragmen radius (1) bergeser dan miring ke belakang, (2)
bergeser dan mirirng ke radial, dan (3) terimpaksi. Kadang-kadang
fragmen distal mengalami peremukan dan kominutif (Apley, 1995).
Gambar: Dinner Fork Deformity (The Internet Journal of Orthopedic
Surgery)

F. Trauma/Kelainan yang Berhubungan


Fraktur ekstensi radius distal sering terjadi berbarengan dengan
trauma atau luka yang berhubungan, antara lain: (Simon &
Koenigsknecht, 1987)
1. Fraktur prosesus styloideus (60 %)
2. Fraktur collum ulna
3. Fraktur carpal
4. Subluksasi radioulnar distal
5. Ruptur tendon fleksor
6. Ruptur nervus medianus dan ulnaris

G. Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis fraktur dengan fragmen terdislokasi tidak
menimbulkan kesulitan. Secara klinis dengan mudah dapat dibuat
diagnosis patah tulang Colles. Bila fraktur terjadi tanpa dislokasi
fragmen patahannya, diagnosis klinis dibuat berdasarkan tanda klinis
patah tulang. (Sjamsuhidayat & de Jong, 1998).
Pemeriksaan radiologik juga diperlukan untuk mengetahui
derajat remuknya fraktur kominutif dan mengetahui letak persis
patahannya (Sjamsuhidayat & de Jong, 1998). Pada gambaran
radiologis dapat diklasifikasikan stabil dan instabil. Stabil bila hanya
terjadi satu garis patahan, sedangkan instabil bila patahnya kominutif.
Pada keadaan tipe tersebut periosteum bagian dorsal dari radius 1/3
distal tetap utuh. (Staff Pengajar Bagian Ilmu Bedah FK UI, tt).
Terdapat fraktur radius melintang pada sambungan
kortikokanselosa, dan prosesus stiloideus ulnar sering putus. Fragmen
radius (1) bergeser dan miring ke belakang, (2) bergeser dan miring ke
radial, dan (3) terimpaksi. Kadang-kadang fragmen distal mengalami
peremukan dan kominutif yang hebat (Apley & Solomon, 1995).
Gambar: Hasil X ray Fraktur Colles (http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?
topic=a00412)

Gambar: (a) deformitas garpu makan malam, (b) fraktur tidak masuk dalam
sendi pergelangan tangan, (c) Pergeseran ke belakang dan ke radial (Apley,
1995)

Proyeksi AP dan lateral biasanya sudah cukup untuk


memperlihatkan fragmen fraktur. Dalam evaluasi fraktur, beberapa
pertanyaan berikut perlu dijawab:
1. Adakah fraktur ini juga menyebabkan fraktur pada prosesus
styloideus ulna atau pada collum ulna.
2. Apakah melibatkan sendi radioulnar.
3. Apakah melibatkan sendi radiokarpal.

Proyeksi lateral perlu dievaluasi untuk konfirmasi adanya


subluksasi radioulnar distal. Selain itu, evaluasi sudut radiokarpal dan
sudut radioulnar juga diperlukan untuk memastikan perbaikan fungsi
telah lengkap. (Simon & Koenigsknecht, 1987)

H. Penatalaksanaan
1. Fraktur tak bergeser (atau hanya sedikit sekali bergeser), fraktur
dibebat dalam slab gips yang dibalutkan sekitar dorsum lengan bawah
dan pergelangan tangan dan dibalut kuat dalam posisinya.
2. Fraktur yang bergeser harus direduksi di bawah anestesi. Tangan
dipegang dengan erat dan traksi diterapkan di sepanjang tulang itu
(kadang-kadang dengan ekstensi pergelangan tangan untuk
melepaskan fragmen; fragmen distal kemudian didorong ke tempatnya
dengan menekan kuat-kuat pada dorsum sambil memanipulasi
pergelangan tangan ke dalam fleksi, deviasi ulnar dan pronasi. Posisi
kemudian diperiksa dengan sinar X. Kalau posisi memuaskan, dipasang
slab gips dorsal, membentang dari tepat di bawah siku sampai leher
metakarpal dan 2/3 keliling dari pergelangan tangan itu. Slab ini
dipertahankan pada posisinya dengan pembalut kain krep. Posisi
deviasi ulnar yang ekstrim harus dihindari; cukup 20 derajat saja pada
tiap arah.

Gambar: Reduksi : (a) pelepasan impaksi, (b) pronasi dan pergeseran ke


depan, (c) deviasi ulnar
Pembebatan : (d) penggunaan sarung tangan, (b) slab gips yang basah, (f)
slab yang dibalutkan dan reduksi dipertahankan hingga gips mengeras
(Apley, 1995)

Lengan tetap ditinggikan selama satu atau dua hari lagi; latihan
bahu dan jari segera dimulai setelah pasien sadar. Kalau jari-jari
membengkak, mengalami sianosis atau nyeri, harus tidak ada keragu-
raguan untuk membuka pembalut. Setelah 7-10 hari dilakukan
pengambilan sinar X yang baru; pergeseran ulang sering terjadi dan
biasanya diterapi dengan reduksi ulang; sayangnya, sekalipun
manipulasi berhasil, pergeseran ulang sering terjadi lagi. Fraktur
menyatu dalam 6 minggu dan, sekalipun tak ada bukti penyatuan
secara radiologi, slab dapat dilepas dengan aman dan diganti dengan
pembalut kain krep sementara.

Gambar: (a) Film pasca reduksi, (b) gerakan-gerakan yang perlu


dipraktekkan oleh pasien secara teratur (Apley, 1995)
3. Fraktur kominutif berat dan tak stabil tidak mungkin
dipertahankan dengan gips; untuk keadaan ini sebaiknya dilakukan
fiksasi luar, dengan pen proksimal yang mentransfiksi radius dan pen
distal, sebaiknya mentransfiksi dasar-dasar metakarpal kedua dan
sepertiga. (Apley & Solomon, 1995).

Fraktur Colles, meskipun telah dirawat dengan baik, seringnya tetap


menyebabkan komplikasi jangka panjang. Karena itulah hanya fraktur Colles
tipe IA atau IB dan tipe IIA yang boleh ditangani oleh dokter IGD. Selebihnya
harus dirujuk sebagai kasus darurat dan diserahkan pada ahli orthopedik.
Dalam perawatannya, ada 3 hal prinsip yang perlu diketahui, sebagai berikut
:
1. Tangan bagian ekstensor memiliki tendensi untuk menyebabkan
tarikan dorsal sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran fragmen
2. Angulasi normal sendi radiokarpal bervariasi mulai dari 1 sampai
23 derajat di sebelah palmar, sedangkan angulasi dorsal tidak
3. Angulasi normal sendi radioulnar adalah 15 sampai 30 derajat.
Sudut ini dapat dengan mudah dicapai, tapi sulit dipertahankan untuk
waktu yang lama sampai terjadi proses penyembuhan kecuali difiksasi.

Bila kondisi ini tidak dapat segera dihadapkan pada ahli orthopedik,
maka beberapa hal berikut dapat dilakukan:
1. Lakukan tindakan di bawah anestesi regional
2. Reduksi dengan traksi manipulasi. Jari-jari ditempatkan pada
Chinese finger traps dan siku dielevasi sebanyak 90 derajat dalam
keadaan fleksi. Beban seberat 8-10 pon digantungkan pada siku
selama 5-10 menit atau sampai fragmen disimpaksi.
3. Kemudian lakukan penekanan fragmen distal pada sisi volar
dengan menggunakan ibu jari, dan sisi dorsal tekanan pada segmen
proksimal menggunakan jari-jari lainnya. Bila posisi yang benar telah
didapatkan, maka beban dapat diturunkan.
4. Lengan bawah sebaiknya diimobilisasi dalam posisi supinasi atau
midposisi terhadap pergelangan tangan sebanyak 15 derajat fleksi dan
20 derajat deviasi ulna.
5. Lengan bawah sebaiknya dibalut dengan selapis Webril diikuti
dengan pemasangan anteroposterior long arms splint
6. Lakukan pemeriksaan radiologik pasca reduksi untuk
memastikan bahwa telah tercapai posisi yang benar, dan juga
pemeriksaan pada saraf medianusnya
7. Setelah reduksi, tangan harus tetap dalam keadaan terangkat
selama 72 jam untuk mengurangi bengkak. Latihan gerak pada jari-jari
dan bahu sebaiknya dilakukan sedini mungkin dan pemeriksaan
radiologik pada hari ketiga dan dua minggu pasca trauma. Immobilisasi
fraktur yang tak bergeser selama 4-6 minggu, sedangkan untuk fraktur
yang bergeser membutuhkan waktu 6-12 minggu.

Gambar: Reduksi pada Fraktur Colles

Metode Penanganan Fraktur Colles menurut Hoppenfeld dalam


bukunya yang berjudul Terapi dan Rehabilitasi Fraktur tahun 2011:
1. Gips
a. Biomekanika: Alat stress-sharing.
b. Cara penyembuhan tulang: Sekunder dengan disertai
pembentukan kalus.
c. Indikasi: Reduksi tertutup dan pemasangan gips
merupakan penanganan fraktur yang tidak memerlukan fiksasi
bedah. Cara ini diindikasikan untuk pasien dengan fraktur tanpa
dislokasi (nondisplaced) atau dengan dislokasi minimal tanpa
kominutif yang banyak. Radiograf pascareduksi harus
memperlihatkan pemulihan kemiringan palmar dan panjang
radius. Secara umum pasien berusia lebih dari 60 tahun (secara
fisiologis) biasanya ditangani dengan short arm cast untuk
mencegah kekakuan siku. Setelah pemasangan long arm cast
selama 3 sampai 6 minggu pertama, akan diteruskan dengan
pemasangan short arm cast. Long arm cast memberikan
dukungan yang lebih baik untuk fraktur kominutif tidak stabil
serta memberikan kontrol rotasional dan kontrol nyeri yang lebih
baik. Fraktur tanpa dislokasi dapat ditangani dengan short arm
cast.
2. Fiksator Eksterna
a. Biomekanika: Alat stress-sharing (lebih rigid sehingga lebih
melindungi fraktur disbanding gips).
b. Cara penyembuhan tulang: Sekunder dengan disertai
pembentukan kalus.
c. Indikator: Fiksator eksterna sangat berguna untuk fraktur
kominutif, fraktur dengan dislokasi dan fraktur terbuka yang
tidak dapat ditangani dengan reduksi tertutup atau fiksasi
interna. Kadang-kadang pin perkutaneus atau fiksasi interna
dapat digunakan sebagai adjuvant fiksasi eksterna.
3. Reduksi Terbuka dan Fiksasi Interna (Pelat atau Pin Perkutaneus)
a. Biomekanika: Alat stress-shielding untuk fiksasi pelat dan
alat stress-sharing untuk fiksasi pin.
b. Cara penyembuhan tulang: Secara primer, jika tercapai
fiksasi solid dengan pelat sehingga tidak terbentuk kalus. Secara
sekunder, jika fiksasi solid tidak tercapai atau pada pin
perkutaneus.
c. Indikasi: Metode ini terutama diindikasikan pada fraktur
arrtikular dengan dislokasi. Gips pasca operasi
biasanyadianjurkan selama 2 sampai 6 minggu, bergantung pada
stabilitas fiksasi (Hoppenfeld, 2011).
Penanganan:

Penaganan: Awal sampai Segera


Penyembuhan Tulang
Stabilitas pada tempat fraktur: Tidak ada
Stadium penyembuhan tulang: Fase inflamasi.
Hematoma fraktur akan dikolonisasi oleh sel-sel radang dan
debridement fraktur dimulai
Sinar X: Tidak ada kalus; garis fraktur masih tampak

Instruksi
Awal sampai Segera (Satu hari sampai satu minggu)
Peringatan
Tidak boleh melakukan supinasi dan pronasi.
Tidak boleh melakukan kisaran gerakan pada pergelangan
tangan
Kisaran gerakan
Kisaran gerakan aktif jari-jari articulations
metacarpophalangeal.
Oposisi ibu jari penuh.
Kekuatan
Usahakan latihan isometric untuk otot-otot intrinsic tangan.
Aktivitas fungsional
Gunakan ekstremitas yang sehat untuk perawatan diri dan
aktivitas hidup sehari-hari.
Penanggung beban
Ekstremitas yang sakit tidak boleh menanggung beban.

SEGERA SAMPAI SATU MINGGU


Gips Fiksator Reduksi Terbuka
Eksterna dan Fiksasi
Interna
Stabilita Tidak ada Tidak ada Tidak ada
s
Orthopa Potong gips sampai Evaluasi Potong gips
edi tuberostatis tempat pin dan sampai
metacarpophalangea fungsi tendon tuberostatis
e (MCP) di sebelah (MCP) di sebelah
dorsal dan sampai dorsal dan
lipatan palmar sampai lipatan
proksimal di sebelah palmar proksimal
volar. di sebelah volar.
Rehabilit Kisaran gerakan Kisaran Kisaran gerakan
asi bahu dan jari-jari. gerakan bahu, bahu, siku dan
siku dan jari- jari-jari.
jari.

Penaganan: Dua Minggu


Penyembuhan Tulang
Stabilitas pada tempat fraktur: Tidak ada sampai minimal
Stadium penyembuhan tulang: Mulai fase reparative
penyembuhan tulang. Sel osteoprogenitor mulai berdiferenisasi
menjadi osteoblas, yang kemudian membentuk anyaman
tulang.
Sinar X: Tidak ada sampai kalus awal, garis fraktur masih
terlihat.

Instruksi
Dua Minggu
Peringatan
Tidak boleh melakukan supinasi dan pronasi jika fraktur
ditangani dengan gips serta reduksi terbuka dan fiksasi
interna.
Tidak boleh melakukan kisaran gerak pasif.
Kisaran gerakan
Kisaran gerakan penuh articulations metacarpophalangeal dan
interphalangeal manus.
Usahakan kisaran gerakan aktif secara perlahan pada
pergelangan tangan jika ditangani dengan reduksi terbuka dan
fiksasi interna serta dalam keadaan rigid.
Kekuatan
Latihan isometric diberikan pada otot-otot intrinsic tangan
serta fleksor dan ekstensor pergelangan tangan.
Aktivitas fungsional
Ekstremitas yang sehat dapat digunakan untuk perawatan diri
dan aktivitas hidup sehari-hari.
Penanggung beban
Ekstremitas yang sakit tidak boleh menanggung beban.

DUA MINGGU
Gips Fiksator Reduksi Terbuka
Eksterna dan Fiksasi
Interna
Stabilita Tidak ada sampai Tidak ada Tidak ada sampai
s minimal sampai minimal
minimal
Orthopa Potong gips sampai Evaluasi Lepas jahitan dan
edi tuberostatis (MCP) di tempat pin dan gips
sebelah dorsal dan fungsi tendon Ganti gips jika
sampai lipatan fiksasinya tidal
palmar proksimal di rigid
sebelah volar.
Rehabilit Kisaran gerakan Kisaran Kisaran gerakan
asi bahu dan jari-jari. gerakan bahu, bahu, siku dan
siku dan jari- jari-jari. Kisaran
jari. gerak aktif
pergelangan
tangan jika
fiksasinya rigid.

Penaganan: Empat sampai Enam Minggu


Penyembuhan Tulang
Stabilitas pada tempat fraktur: Dengan adanya briding callus,
fraktur biasanya telah stabil; konfirmasikan dengan
pemeriksaan fisik.
Stadium penyembuhan tulang: Fase reparative. Organisasi
kalus lebih lanjut dan pembentukan tulang lamellar dimulai.
Jika kalus telah terlihat menjembatani tempat fraktur, biasanya
fraktur telah stabil. Namun, kekuatan kalus ini, terutama pada
beban puntiran, lebih rendah disbanding tulang lamellar
normal.
Sinar X: Bridging callus terlihat. Dengan ridgiditas yang lebih
baik, lebih sedikit kalus yang akan terlihat, dan penyembuhan
disertai oleh kalus endosteal mendominasi. Garis fraktur
menjadi tidak jelas.
Instruksi
Empat sampai Enam Minggu
Peringatan
Tidak ada kisaran gerak pasif.
Kisaran gerakan
Kisaran gerak aktif penuh sendi pergelangan tangan, serta
metacarpophalageal dan interphalangeal manus.
Dianjurkan untuk melakukan supinasi dan pronasi. Deviasi
ulnar dan deviasi radial aktif.
Kekuatan
Latihan tahanan ringan diberikan pada jari-jari tangan.
Perbaikan Kekuatan Pegangan
Latihan isometric pada fleksor, ekstensor pergelangan tangan
dan deviator ulnar dan radial. Latihan ringan diberikan pada
pergelangan tangan jika ditangani dengan reduksi terbuka dan
fiksasi eksterna.
Aktivitas fungsional
Ekstremitas yang sakit dapat digunakan untuk penyeimbang
aktivitas dua tangan. Paisen dapat berusaha melakukan
perawatan diri dengan ekstremitas yang sakit.
Penanggung beban
Hindari penggunaan beban sampai akhir minggu ke 6.

EMPAT SAMPAI ENAM MINGGU


Gips Fiksator Reduksi Terbuka
Eksterna dan Fiksasi
Interna
Stabilitas Stabil Stabil Stabil
Orthopae Pendekkan atau Lepas fiksator Lepas gips
di lepas gips. Bidai pada minggu 6-
mungkin masih 8. Ganti
diperlukan pada dengan gips
malam hari. bila tidak stabil
Rehabilit Mulai kisaran gerak Mulai kisaran Mulai kisaran
asi aktif pergelangan gerak aktif gerak aktif
tangan jika gips telah pergelangan pergelangan
dilepas. tangan jika gips tangan jika gips
telah dilepas. telah dilepas.
Penaganan: Enam sampai Delapan Minggu
Penyembuhan Tulang
Stabilitas pada tempat fraktur: Dengan adanya briding callus,
fraktur biasanya telah stabil; konfirmasikan dengan
pemeriksaan fisik.
Stadium penyembuhan tulang: Fase reparative. Organisasi
kalus lebih lanjut dan pembentukan tulang lamellar dimulai.
Jika kalus telah terlihat menjembatani tempat fraktur, biasanya
fraktur telah stabil. Namun, kekuatan kalus ini, terutama pada
beban puntiran, lebih rendah disbanding tulang lamellar
normal.
Sinar X: Bridging callus terlihat. Jika ridgiditasnya baik, kalus
terlihat lebih sedikit, dan penyembuhan yang disertai oleh
kalus endosteal mendominasi. Garis fraktur mulai tidak jelas.

Instruksi
Enam sampai Delapan Minggu
Peringatan
Tidak ada, kecuali dicurigai adanya pseudoartrosis atau
nonunion.
Kisaran gerakan
Kisaran gerak penuh pada semua sendi ekstremitas atas.
Tekanan supinasi dan deviasi ulnar.
Kisaran gerak aktif dengan bantuan sampai pasif atau coba
dimulai.
Kekuatan
Latihan tahanan ringan jarii-jari dan pergelangan tangan.
Tingkatkan kekuatan pegangan.
Aktivitas fungsional
Ekstremitas yang sakit digunakan untuk perawatan diri dan
aktivitas hidup sehari-hari.
Penanggung beban
Penagguangan beban sesuai dengan toleransi karena fraktur
sudah stabil.

ENAM SAMPAI DELAPAN MINGGU


Gips Fiksator Reduksi Terbuka
Eksterna dan Fiksasi
Interna
Stabilitas Stabil Stabil Stabil
Lepas gips jika belum Lepas fiksator. Lepaskan gips
dilakukan Gunakan bidai jika belum
pada malam dilakukan
hari untuk
kenyamanan.
Pasang gips
bila fraktur
belum sembuh.
Rehabilit Kisaran gerak aktif Kisaran gerak Kisaran gerak
asi dan pasif aktif dan pasif aktif dan pasif
pergelangan tangan pergelangan pergelangan
tangan sebatas tangan. Latihan
yang dapat tahanan ringan
ditoleransi. pada pergelangan
Latihan tangan.
tahanan ringan

Penaganan: Delapan sampai Dua Belas Minggu


Penyembuhan Tulang
Stabilitas pada tempat fraktur: Stabil
Stadium penyembuhan tulang: Fase remodeling.
Tulanga anyam diganti dengan tulang lamellar.
Proses remodeling berlangsung berbulan-bulan sampai
bertahun-tahun untuk selesai.
Sinar X: Kalus jelas terlihat. Garis fraktur mulai menghilang;
seiring waktu kontur tulang mulai kembali seperti semula.
Daerah metafisis tidak menghasilkan kalus sebanyak daeerah
diafisis.

Instruksi
Delapan sampai Dua Belas Minggu
Peringatan
Tidak ada.
Kisaran gerakan
Kisaran gerak penuh, gerakan aktif pasif pada semua bidang
gerak pergelangan tangan dan jari-jari. Tekankan gerak
supinasi dan deviasi ulnar..
Kekuatan
Latihan tahanan progresif pada pergelangan tangan dan jari-
jari serta semua kelompok otot.
Aktivitas fungsional
Pasien dapat mneggunakan ekstremitas yang sakit untuk
perawatan diri dan aktivitas hidup sehari-hari.
Penanggung beban
Penagguangan beban penuh sesuai dengan yang dapat
ditoleransi ekstremitas yang terkena.

DELAPAN SAMPAI DUA BELAS MINGGU


Gips Fiksator Reduksi Terbuka
Eksterna dan Fiksasi
Interna
Stabilitas Stabil Stabil Stabil
Orthopae Lepas gips jika belum Lepas fiksator
di dilakukan jika belum
dilakukan
Rehabilit Kisaran gerak aktif Kisaran gerak Kisaran gerak
asi dan pasif serta aktif dan pasif aktif dan pasif
latihan tahanan serta latihan serta latihan
progresif tahanan tahanan progresif
progresif
(Hoppenfeld,
2011)

I. Komplikasi
1. Dini
a. Sirkulasi darah pada jari harus diperiksa; pembalut yang
menahan slab perlu dibuka atau dilonggarkan.
b. Cedera saraf jarang terjadi, dan yang mengherankan
tekanan saraf medianus pada saluran karpal pun jarang terjadi.
Kalau hal ini terjadi, ligament karpal yang melintang harus
dibelah sehingga tekanan saluran dalam karpal berkurang.
c. Distrofi refleks simpatetik mungkin amat sering ditemukan,
tetapi untungnya ini jarang berkembang lengkap menjadi
keadaan atrofi Sudeck. Mungkin terdapat pembengkakan dan
nyeri tekan pada sendi-sendi jari, waspadalah jangan sampai
melalaikan latihan setiap hari. Pada sekitar 5 % kasus, pada saat
gips dilepas tangan akan kaku dan nyeri serta terdapat tanda-
tanda ketidakstabilan vasomotor. Sinar X memperlihatkan
osteoporosis dan terdapat peningkatan aktivitas pada scan
tulang.
2. Lanjut
a. Malunion sering ditemukan, baik karena reduksi tidak
lengkap atau karena pergeseran dalam gips yang terlewatkan.
Penampilannya buruk, kelemahan dan hilangnya rotasi dapat
bersifat menetap. Pada umumnya terapi tidak diperlukan. Bila
ketidakmampuan hebat dan pasiennya relatif lebih muda, 2,5 cm
bagian bawah ulna dapat dieksisi untuk memulihkan rotasi, dan
deformitas radius dikoreksi dengan osteotomi.
b. Penyatuan lambat dan non-union pada radius tidak terjadi,
tetapi prosesus styloideus ulnar sering hanya diikat dengan
jaringan fibrosa saja dan tetap mengalami nyeri dan nyeri tekan
selama beberapa bulan.
c. Kekakuan pada bahu, karena kelalaian, adalah komplikasi
yang sering ditemukan. Kekakuan pergelangan tangan dapat
terjadi akibat pembebatan yang lama.
d. Atrofi Sudeck , kalau tidak diatasi, dapat mengakibatkan
kekakuan dan pengecilan tangan dengan perubahan trofik yang
berat.
e. Ruptur tendon (pada ekstensor polisis longus) biasanya
terjadi beberapa minggu setelah terjadi fraktur radius bagian
bawah yang tampaknya sepele dan tidak bergeser. Pasien harus
diperingatkan akan kemungkinan itu dan diberitahu bahwa terapi
operasi dapat dilakukan. (Apley & Solomon, 1995).
J. PATHWAY/WOC

Etiologi dan Faktor Resiko


1. Usia lanjut
2. Post menopause
3. Massa otot rendah Jatuh
4. Osteoporosis
5. Kurang gizi Menumpu pada
6. Olahraga tangan
7. Aktivitas seperti skating, skateboarding atau bike
riding
8. Kekerasan
9. Albumin Creatinin Ratio (ACR) yg tinggi Fraktur dan dislokasi
radius distal

(FRAKTUR COLLES)
Fraktur terbuka Trauma jaringan, Kerusakan Dislokasi ke arah Spasme otot, Kurang informasi
cedera jaringan neuromuskular dorsal gerakan fragmen ttg kondisi fraktur
Port de entrée lunak tulang
Ketidakmampuan Dinner fork
kuman MK: Kerusakan Nyeri tekan dan MK: Kurang
menggerakkan deformity
integritas kulit nyeri gerak Pengetahuan
MK: Resiko tinggi pergelangan tangan
infeksi MK: Hambatan mobilitas MK: Ansietas
MK: Nyeri
fisiik, Defisit perawatan
diri
FORMAT ANALISA DATA

DATA ETIOLOGI MASALAH

DO :

Pasien menunjukkan raut Fraktur colles


wajah kesakitan
(meringis) Nyeri akut

Spasme otot,gerakan
fragmen tulang
DS :

P : nyeri bertambah jika


tangan digerakkan Nyeri tekan, nyeri gerak

Q : nyeri menusuk

R : pergelangan tangan Nyeri akut

S:7

T : sepanjang waktu

Fraktur colles Risiko Disfungsi

DO : pasien terpasang Neurovaskuler perifer


gips pada tangan
kanannya, Terpasang gips

DS : pasien mengatakan Immobilisasi dan terdapat


merasa nyeri penekanan

Risiko Disfungsi
Neurovaskuler perifer

DO : Fraktur colles Hambatan mobilitas


fisik
Pasien terlihat dibantu
suami dalam perawatan
dirinya. Dislokasi arah dorsal

Pasien disuapkan saat


makan. Dinner fork deformity

21
DS : Ketidakmampuan
menggerakkan
Pasien mengatakan pergelangan tangan
mengalami kesulitan dan
butuh bantuan dalam
memenuhi kebutuhannya
Hambatan mobilitas fisik

DAFTAR PRIORITAS MASALAH

1. Nyeri Akut
2. Risiko Disfungsi Neurovaskuler perifer
3. Hambatan Mobilitas Fisik

22
RENCANA INTERVENSI

No Tanggal Diagnosa keperawatan (tujuan, Rencana intervensi rasional


kriteria hasil)

4. Nyeri akut b.d trauma jaringan dan 1. Pertahankan imobilisasi bagian yang 1. Mengurangi dan mencegah
reflek spasme otot sekunder akibat sakit dengan gips kesalahan posisi tulang /
fraktur 2. Tinggikan bagian ekstremitas yang tegangan jaringan yang edema.
sakit 2. Meningkatkan aliran balik
3. Lakukan metode distraksi dengan vena, menurunkan edema dan
aktivitas yang disukai pasien menurunkan nyeri
Tujuan: individu menyatakan peredaan 4. Evaluasi skala nyeri 3. Mengurangi nyeri
setelah suatu tindakan peredaan yang 5. Kolaborasi dengan tim medis : 4. Mempengaruhi pilihan /
memuaskan dan dibuktikan oleh skala pemberian analgesik pengawasan keefektifan
intervensi.
nyeri yang berkurang
5. Tindakan dependent
perawat, dimana analgesik
berfungsi untuk memblok
Kriteria Hasil : stimulasi nyeri

- Nyeri berkurang atau hilang

- klien tampak tenang


2. Risiko Disfungsi Neurovaskuler perifer 1. Kaji status neurovaskuler (denyut 1. Merupakan tanda awal
b.d pembatasan perlindungan perifer, suhu, warna kulit, CRT) terjadinya disfungsi
sekunder akibat gips sedikitnya setiap jam pada 24 jam neurovaskuler perifer
pertama dan bandingkan dengan 2. Ketidakmampuan
anggota gerak yang sehat. menggerakkan jari
2. Kaji kemampuan untuk jemari merupakan tanda
Tujuan : individu melaporkan perubahan hiperekstensi ibu jari dan keempat terjadinya disfungsi
pada sensasi perifer jari, abduksi seluruh jari – jari, neurovaskuler
sentuhkan ibu jari ke jari 3. Ketidakmampuan
kelingking merasakan sensasi
3. Kaji sensasi tekanan dari benda tekanan merupakan
Kriteria hasil : tajam (celah ruang antara ibu jari tanda terjadinya
dan jari telunjuk, bantalan lemak disfungsi neurovaskuler
- Nadi perifer dapat teraba distal pada jari kelingking, 4. Gejala perubahan
- Ekstremitas hangat permukaan distal jari telunjuk) sensasi yang dirasakan
- Pengisian kembali kapiler <2 4. Instruksikan untuk melaporkan pasien merupakan
detik sensasi yang tidak biasa, baru indikasi adanya
dirasakan atau berbeda (misal: disfungsi neurovaskuler
kesemutan, kebas, dan/atau 5. Mengurangi edema dan
penurunan kemampuan untuk meningkatkan aliran
menggerakkan jari tangan) balik vena ke jantung.
5. Melepaskan perhiasan dari 6. Mengurangi edema dan
anggota gerak yang sakit dan memberikan rasa
meninggikan ekstremitas yang nyaman pada area yang
sakit sakit
6. Berikan kompres dingin (es) 7. Laporan sesegera
disekitar area yang sakit,beri alas mungkin dapat
kain antara es dan kulit mengurangi dampak
7. Segera melaporkan pada dokter yang lebih buruk.
jika terjadi : perubahan dalam
sensasi,
3. Hambatan mobilitas fisik b.d kekuatan 1. Kaji derajat imobilisasi yang 1. Pasien mungkin dibatasi
dan ketahanan sekunder akibat dihasilkan oleh cedera/pengobatan oleh pandangan diri / persepsi
fraktur dan pemasangan gips. dan perhatikan persepsi pasien diri tentang keterbatasa fisik
terhadap imobilisasi aktual
2. Optimalkan pasien untuk 2. Meningkatkan aliran
melakukan ROM aktif pada sisi darah ke otot dan tulang,
Tujuan : individu menunjukkan tingkat yang sehat dan ROM pasif pada meningkatkan tonus
mobilitas maksimal sisi yang sakit otot,mempertahankan gerak
3. Dorong dan libatkan pasien dalam sendi.
perawatan diri. 3. Meningkatkan kekuatan
otot dan sirkulasi, dan
Kriteria hasil : meningkatkan kontrol pasien
dalam sirkulasi, dan
- individu dapat melakukan perawatan meningkatkan kesadaran diri
diri secara mandiri langsung

- menggunakan tindakan pengamanan


(mitella) untuk meminimalkan
kemungkinann cedera.
PENUTUP

K. Kesimpulan
Fraktur Colles adalah fraktur metafisis distal radius, biasanya terjadi 3
sampai 4 cm dari permukaan sendi dengan angulasi volar apeks fraktur
(deformitas garpu perak/ silver fork deformity), dislokasi fragmen distal kea
rah dorsal, dan disertai pemendekan radius. Fraktur Colles dapat dengan
atau tanpa disertai fraktur styloideus ulnae (Hoppenfeld, 2011).
Pada inspeksi bentuk khas yang dapat dilihat seperti sendok makan
(dinner fork deformity). Gejala-gejala yang lain seperti lazimnya gejala patah
tulang, ada pembengkakan, nyeri tekan, nyeri gerak (Staff Pengajar Bagian
Ilmu Bedah FK UI, tt).
Pemeriksaan radiologik juga diperlukan untuk mengetahui derajat
remuknya fraktur kominutif dan mengetahui letak persis patahannya
(Sjamsuhidayat & de Jong, 1998). Pada gambaran radiologis dapat
diklasifikasikan stabil dan instabil. Stabil bila hanya terjadi satu garis
patahan, sedangkan instabil bila patahnya kominutif. Pada keadaan tipe
tersebut periosteum bagian dorsal dari radius 1/3 distal tetap utuh. (Staff
Pengajar Bagian Ilmu Bedah FK UI, tt).

L. Saran
Penatalaksanaan fraktur colles bisa dilakukan sesuai kondisi fraktur
seperti; fraktur bergeser, tak bergeser dan kominutif. Fraktur Colles,
meskipun telah dirawat dengan baik, seringnya tetap menyebabkan
komplikasi jangka panjang. Oleh karena itu memerlukan perawatan khusus.

DAFTAR PUSTAKA

Apley, A. Graham. 1995. Buku Ajar Sistem Ortopedi dan Fraktur Apley.
Jakarta: Widya Medika
Carpenitto, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta:
EGC
Dani. 2010. Fraktur Colles. Diakses dari
http://www.scribd.com/doc/22938507/fraktur-colles tanggal 12 Mei
2012 pukul 18.30
Hoppenfeld, S. 2011. Terapi dan Rehabilitasi Fraktur. Jakarta: EGC
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta: EGC
Rasjad, Chairuddin. 2003. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Malang: Yarsif
Watampone
Sjamsuhidajat, R. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC
Staff Pengajar Bagian Ilmu Bedah FK UI. tt. Kumpulam Kuliah Ilmu Bedah.
Tangerang: FK UI
Dept of Orthopaedics, Royal Free Hospital London UK. 2007. The Internet
Journal of Orthopedic Surgery Volume 5 Number 1. Diakses dari
http://www.ispub.com/ journal/theinternet-journal-of-orthopedic-
surgery/volume-5number-1/the-dinner-fork-deformity.html tanggal 12
Mei 2012 pukul 18.05
LAPORAN PENDAHULUAN
FRAKTUR COLLES DEXTRA

RUANGAN FLAMBOYAN D
RSUD dr.KANUDJOSO DJATIWIBOWO BALIKPAPAN

Disusun oleh :
Rano Bayu Winarko
PO.77220118144.RP

RPL D III KEPERAWATAN SAMARINDA


KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLTEKKES KALIMANTAN TIMUR
2018/2019

Anda mungkin juga menyukai