Anda di halaman 1dari 6

KENDALI MUTU LABORATORIUM KESEHATAN

Oleh :

Adinda Larasati Indraasono


P27834118082
D4 Alih Jenjang
Dosen Pengampu:
Dra. Wieke Sriwulan, ST, M.Kes

POLTEKKES KEMENKES SURABAYA


JURUSAN ANALIS KESEHATAN
TAHUN AJARAN 2018-2019
5Q FRAMEWORK FOR MANAGING QUALITY

Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 411/MENKES/PER/III/2010


Tentang Laboratorium klinik yang dimaksud dengan Laboratorium klinik adalah
laboratorium kesehatan yang melaksanakan pelayanan pemeriksaan spesimen klinik untuk
mendapatkan informasi tentang kesehatan perorangan terutama untuk menunjang upaya
diagnosis penyakit, penyembuhan penyakit, dan pemulihan kesehatan.

Agar hasil pemeriksaan laboratorium kualitasnya baik maka dibutuhkan suatu kontrol
terhadap kualitas hasil pemeriksaan laboratorium. Untuk tercapainya mutu pelayanan
laboratorium diperlukan strategi dan perencanaan manajemen mutu. Hal ini dapat dicapai
dengan melakukan Total Quality Management (TQM) yaitu diperkenalkan suatu model yang
dikenal dengan nama 5Q Framework.

Strategi 5Q Framework tersebut adalah :

1. QLP (Quality Laboratorium Process)


a. Pre analitik
 Ketatausahaan
 Persipan penderita
 Pengumpulan spesimen
 Pengiriman spesimen
 Penanganan spesimen
b. Analitik
 Reagen (reagents)
 Peralatan (instruments)
 Kontrol & bakuan (control & standard)
 Metode analitik (analytical method)
 Ahli Teknologi (technologist)
c. Post analitik
 Laporan
 Penulisan hasil
 Interprestasi hasil

1
2. QC (Quality Control)
Merupakan prosedur manajerial untuk mengarahkan berbagai variasi dalam proses
analitik di Laboratorium pada suatu standar yang ditetapkan. QC meliputi:
1. QC reagen (verifikasi reagen)
2. QC instrumen (pengecekan fungsi instrumen, prosedur pemelihara instrumen)
3. Proses QC (QC harian, QC periodik).
3. QA (Quality Assesment)
Merupakan pemantauan sistematik terhadap produk QC sepanjang lifecycle produk
dan pelayanan yang diberikan, QA dapat juga disebut juga sebagai pemantauan
kerja.
4. QI (Quality Improvement)
Merupakan teknik pemecahan masalah terstruktur dengan tujuan mencegah
timbulnya lagi masalah yang sama.
5. QP (Quality Planning)
Perencanaan yang dibuat dengan tujuan mencegah timbulnya masalah dan berfokus
pada keinginan pelanggan.

2
IMPLEMENTASI 5Q FRAMEWORK

DI LABORATORIUM PRATHAMA
Permasalahan:

Seorang pasien diabetes mellitus datang ke laboratorium Prathama untuk melakukan


pemeriksaan glukosa yaitu pemeriksaan glukosa puasa dan 2 JPP .

Hasil pemeriksaan :

Pemeriksaan Hasil Laboratorium

Glukosa puasa 190 mg/dl


2 JPP 176 mg/dl

Dari hasil pemeriksaan dapat diketahui bahwa hasil pemeriksaan glukosa 2 JPP lebih
rendah dari pada glukosa puasa. Dapat disimpulkan bahwa hasil yang didapat tidak sesuai.

Siklus 1:

1. QLP (Quality Laboratorium Process)


Secara garis bessar, berikut QLP yang dilaksanakan pada saat pemeriksaan:

Pra-Analitik

Glukosa darah puasa:


Tidak makan selama 10-12 jam
Persiapan pasien
Glukosa 2 JPP:
Kembali lagi ke lab untuk pemeriksaan 2 jam setelah makan
Pasien mengkonsumsi obat diabetes.
Pemberian identitas
spesimen Nama, jenis kelamin, tanggal lahir

Pengambilan dan Sampel : Darah vena


penampungan spesimen Tabung : Tutup merah
Pengiriman spesimen Dilakukan segera, menggunakan safety box
Tidak dilakukan pencatatan bahwa pasien mengkonsumsi
obat.

3
Analitik Post-Analitik
Pemusingan wholeblood untuk mendapatkan serum Pencatatan hasil pada
Pemipetan serum, dipindahkan ke tabung pemeriksaan logbook maupun form
Interpretasi
Sampel dimasukkan ke alat yang telah dilakukan
kontrol dan kalibrasi. Alat akan melakukan Pelaporan
pemeriksaan secara otomatis.

2. QC (Quality Control)
a. QC reagen
Verifikasi dengan melihat kondisi reagen, penyimpanan reagen, dan tanggal expired.
Semuanya baik.
b. QC alat
 Kontrol 3 level dilakukan rutin setiap hari sebelum pekerjaan dimulai
 Kalibrasi alat dilakukan setiap mengganti reagen baru (sekitar 1 bulan sekali)
 PME dilakukan setiap 6 bulan sekali

3. QA (Quality Assesment)
Dilakukan uji banding terhadap lab rujukan, hasilnya:

Hasil Hasil Hasil


Laboratorium Laboratorium Laboratorium
Prathama “A” “B”
Glukosa
190 mg/dl 192 mg/dl 195 mg/dl
puasa
2 JPP 176 mg/dl 178 mg/dl 179 mg/dl

Hasil dari pemeriksaan yang dilakukan di 2 laboratorium rujukan menunjukkan


kesimpulan yang sama, yaitu glukosa 2 JPP lebih rendah dari pada glukosa puasa.

4. QI (Quality Improvement)
QI dilakukan untuk mencari penyebab kesalahan yang terjadi dengan melihat prosedur
kerja yang dikaji pada QLP dan juga QC yang dilakukan. Pada siklus 1 dapat disimpulkan
bahwa tahapan pra-analitik dapat dijadikan sebagai penyebab kesalahan. Petugas pengambil
darah (flebotomis) tidak memberikan edukasi mengenai larangan yang harus dihindari pasien,
dan apabila pasien terlanjur minum obat setelah makan hendaknya dibuat catatan pada form.

4
5. QP (Quality Palanning)
Laboratorium perlu menetapkan sasaran mutu berikutnya dan merencanakan seluruh
program untuk mencapainya sehingga tidak terjadi kembali kasus-kasus yang disebabkan
oleh kesalahan petugas laboratorium. Pada siklus I ini, dibuat perencanaan bahwa edukasi
kepada pasien harus dilakukan, baik itu aturan yang harus dilakukan pasien maupun
larangannya. Dari perencanaan ini, SOP pengambilan darah diperbarui serta melakukan
workshop/ pelatihan untuk flebotomis mengenai proses pra analitik, analitik, dan post analitik
pengambilan darah.