Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM

MANAJEMEN PEMBERIAN PAKAN IKAN GURAME


(Osprhonemus gouramy) DI DESA PLIKEN, KECAMATAN
KEMBARAN, BANYUMAS

Disusun oleh :

KELOMPOK 5

Muhamad Fauzan (L1B015009)

Faradila Rebrima Z. (L1B015010)

Hemi Trifani (L1B015040)

M. Asri Taufiq N. S. (L1B015048)

Kris Listiani Safitri (L1B015057)

FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

PURWOKERTO

2018
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI .......................................................................................................... 1

I. PENDAHULUAN............................................................................................. 2

1.1. Latar Belakang ........................................................................................... 2

1.2. Tujuan ......................................................................................................... 4

II. HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................................... 5

2.1. Kondisi dan Lokasi .................................................................................... 5

2.2. Pemeliharaan .............................................................................................. 6

2.2.1. Persiapan Wadah Budidaya .............................................................. 6

2.2.2. Pengelolaan Pakan .............................................................................. 6

2.2.3. Pengelolaan Kesehatan .................................................................... 11

2.3. Produksi dan Pemanenan ...................................................................... 15

III. KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 18

3.1. Kesimpulan............................................................................................... 18

3.2. Saran .......................................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 20

1
I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kegiatan budidaya perikanan atau akuakultur dapat didefinisikan

sebagai suatu kegiatan untuk memproduksi atau memelihara biota

(organisme) akuatik secara terkontrol dalam rangka mendapatkan

keuntungan atau profit (Effendi dan Mulyadi, 2012). Dalam pelaksanaan

kegiatan budidaya, terdapat berbagai faktor teknis dan non-teknis yang

menunjang keberlangsungan proses produksi. Salah satu diantara faktor-

faktor tersebut adalah pakan, yang menjadi komponen faktor produksi

terbesar yang penting untuk diperhatikan. Pengelolaan pakan sangat

penting dalam budidaya perikanan, selain karena menjadi komponen

biaya pengeluaran terbesar (55-70% total biaya produksi), juga dapat

mempengaruhi kualitas air wadah pemeliharaan dan lingkungan

sekitarnya (Cholik et al., 1988 dalam Rusmiyati, 2014).

Pakan sebagai komponen penting dalam budidaya berperan dalam

menunjang pertumbuhan sehingga berpengaruh terhadap produksi.

Pakan yang baik harus memiliki komposisi zat gizi yang lengkap seperti

protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral (Djarijah, 1995).

Manajemen pakan ikan merupakan salah satu faktor yang menentukan

keberhasilan usaha budidaya ikan. Ruang lingkup dari usaha pengelolaan

pakan mencakup bagaimana strategi penggunaan pakan secara efisien

2
baik dalam pemilihan jenis, jumlah, jadwal dan cara pemberian pakan

yang sesuai dengan kebutuhan dan kebiasaan ikan. Pemberian pakan

pada ikan yang dibesarkan harus dilakukan secara tepat, jumlah, ukuran

sifat pakan, teknik serta waktu pemberian pakan, agar nantinya

pertumbuhan yang dihasilkan menjadi optimal (Nurulita et al.,, 2010).

Guna menunjang berlangsungnya manajemen pemberian pakan

yang baik dan kontinyu, ketersediaan pakan tentunya menjadi salah satu

penentu keberhasilan manajemen pakan. Ketersediaan pakan akan

berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan yang

dibudidayakan. Pakan yang diberikan pada ikan dinilai baik tidak hanya

dari komponen penyusun pakan tersebut melainkan juga dari seberapa

besar komponen yang terkandung dalam pakan mampu diserap dan

dimanfaatkan oleh ikan dalam kehidupannya (NRC, 1993 dalam

Armawati, 2005). Dalam proses budidaya ikan khususnya pada kegiatan

pembesaran, faktor yang terpenting adalah ketersediaan pakan dalam

jumlah yang cukup, dan harus mengandung seluruh nutrient yang

diperlukan, yakni karbohidrat, lemak, protein, mineral dan vitamin dalam

jumlah yang cukup dan seimbang. Kondisi tersebut sangat dibutuhkan

bagi usaha bidang budidaya perikanan (Kordi, 2009). Namun, kendala

yang seringkali ditemukan dalam usaha menjamin ketersediaan pakan

adalah tingginya harga pakan itu sendiri. Karenanya, pengetahuan

mengenai manajemen pakan yang baik dan efisien sangat diperlukan

3
dalam usaha budidaya, agar biaya produksi yang dikeluarkan untuk

menyediakan pakan tidak terbuang sia-sia.

1.2. Tujuan

Praktikum manajemen pemberian pakan ini dilakukan dengan tujuan

untuk mengetahui manajemen pakan yang telah dilakukan oleh para

pembudidaya.

4
II. HASIL DAN PEMBAHASAN

2.1. Kondisi dan Lokasi

Desa Pliken yang terletak di Kecamatan Kembaran Kabupaten

Banyumas, merupakan salah satu sentra produksi pembesaran ikan

gurame yang sudah berdiri sejak tahun 1993 dengan kelompok tani ikan

gurame bernama “Mulya Sari”. Praktikum manajemen pemberian pakan

ikan yang bertempat di desa Pliken ini dilaksanakan melalui kegiatan

wawancara bersama narasumber. Narasumber yang kami wawancarai

adalah Bapak Soleh (59 tahun) yang merupakan ketua kelompok

pembudidaya Mulya Sari.

Pelaksanaan wawancara dan survey lapang pada praktikum ini,

dilakukan pada tanggal 5 November 2018, melibatkan Bapak Soleh

sebagai narasumber dan 12 orang praktikan. Wawancara terhadap

narasumber dilaksanakan dengan berpedoman pada kuisioner yang berisi

mengenai poin-poin yang meliputi aspek budidaya seperti :

wadah/kolam, pakan ikan, pengelolaan kesehatan, serta aspek produksi

dan pemanenan ikan. Selain mengajukan pertanyaan, praktikan juga

mendapatkan pemaparan mengenai kegiatan budidaya pembesaran

gurame yang dilakukan oleh Kelompok Budidaya Mulya Sari, termasuk

kegiatan mulai dari persiapan kolam hingga pemasaran gurame ukuran

5
benih dan konsumsi. Di akhir kegiatan, praktikan meninjau langsung

kolam pemeliharaan gurame yang ada di kawasan budidaya Desa Pliken.

2.2. Pemeliharaan

2.2.1. Persiapan Wadah Budidaya

Wadah budidaya sangat diperlukan untuk berjalannya suatu usaha

budidaya. Selain membutuhkan lahan yang yang harus sudah disiapkan

ada pula treatment yang harus dilakukan. Wadah budidaya yang

digunakan berupa kolam tanah sebanyak + 194 unit yang tersebar di area

lahan budidaya. Adapun, tahapan persiapan yang dilakukan meliputi

langkah-langkah sebagai berikut :

 Pengangkatan lumpur

 Pengeringan secukupnya (+ 1 minggu)

 Pengapuran (dosis kapur 1-2 ons/m2)

 Pengisian air (minimal ketinggian 80 cm)

 Penebaran benih setelah 5 hari (kepadatan benih 1-1.5 kg/m2)

 Pemberian garam (1-2 ons/m2)

2.2.2. Pengelolaan Pakan

Berdasarkan praktikum, diperoleh data bahwa pakan yang diberikan

untuk ikan gurame adalah pakan pellet dengan produk pokpan.

Sedangkan, untuk pakan tambahan yaitu berupa dedaunan seperti daun

sente dan ciplukan. Hal ini sesuai dengan penyataan Romansyah (2015)

6
yang menyebutkan bahwa pakan dibedakan menjadi dua yaitu pakan

alami dan pakan buatan. Pakan alami adalah pakan yang berasal dari

alam, dan pakan buatan adalah pakan yang dibuat oleh manusia. Pakan

alami yang digunakan antara lain daun sente (Alocasia macrorrhiza (L),

Schott), pepaya (Carica papaya Linn), keladi (Colocasia esculenta Schott),

ketela pohon (Manihot utililissima Bohl), genjer (Limnocharis flava (L) Buch

), kimpul (Xanthosoma violaceum Schott), kangkung (Ipomea reptans Poin),

ubi jalar (Ipomea batatas Lamk), ketimun (Cucumis sativus L), labu

(Curcubita moshata Duch en Poir), dadap (Erythrina sp). Menurut

Romansyah (2015), ikan gurame mengalami perubahan kebiasaan makan

pada tiap fase pertumbuhannya yaitu karnivora pada fase satu bulan

kehidupannya, omnivora pada fase remaja dan herbivora pada fase

dewasa. Larva gurame yang baru menetas akan memakan cadangan

makanannya berupa kuning telur selama 5-7 hari. Setelahnya, mulai

memakan tumbuhan kecil berupa fitoplankton. Pada umur 1 bulan, ikan

gurame mulai memakan plankton baik fitoplankton maupun zooplankton

yang melayang di dalam air. Selain itu, pada umur 1 bulan ikan gurame

dapat diberi pakan buatan berupa pelet guna mendukung kelangsungan

hidup dan pertumbuhn ikan gurami (Thaiin, 2016). Pada umur 2 bulan ke

atas, ikan gurame mulai memakan tumbuh-tumbuhan air atau bahan

organik yang mengendap di dasar perairan (Romansyah, 2015)

Selain itu, kadar protein yang digunakan petani untuk ikan gurame

adalah 26-28%. Hal ini dilakukan untuk mengejar waktu pertumbuhan.

7
Pemberian pakan yang dilakukan biasanya pada pagi hari pukul 07.00

dan sore hari pukul 16.00. Frekuensi pakan yang diberikan pun sebanyak

3-4 kali dalam sehari. Hal ini sesuai dengan pernyataan Romansyah

(2015), bahwa pemberian pakan pada budidaya ikan gurame yang intensif

mengandung protein sekitar 25-30% dengan frekuensi pemberian pakan

sampai 3-5 kali sehari sehingga dapat memacu pertumbuhan ikan gurame

secara optimal. Pakan yang baik juga biasanya mengandung protein yang

tinggi dibandingkan dengan kandungan karbohidratnya karena protein

merupakan sumber energi utama bagi ikan. Menurut Romansyah (2015),

komposisi pakan yang baik untuk ikan gurame yaitu protein 30-32% dan

karbohidrat 20-30%.

Menurut Murtidjo (2001) dalam Thaiin (2016) beberapa hal yang

perlu diperhatikan pada saat memberikan pakan pada ikan yang sedang

dipelihara, diantaranya:

1. Berapa banyak kandungan energi dari pakan buatan tersebut

yang dapat dimanfaatkan oleh ikan.

2. Pakan buatan yang tidak dikonsumi akan menambah

kandungan bahan organik sehingga dapat menimbulkan

masalah ketersediaan oksigen terlarut, penyakit, maupun

senyawa toksik.

3. Kualitas dan cara pemberian pakan dapat mempengaruhi

jumlah pakan buatan yang akan dikonsumsi oleh ikan.

8
Berikut ini adalah tabel jumlah nutrisi umum dalam pakan untuk

pertumbuhan ikan menurut Govind (2013):

Tabel 1. Jumlah Nutrisi Umum dalam pakan untuk Pertumbuhan Ikan

Nutrisi Kebutuhan (% oleh diet kering)


Protein: Ini termasuk 10 asam
amino esensial, yaitu, lisin,
fenilalanin, arginin, valin, leusin, 32-45%
isoleusin, metionin, treonin,
triptofan dan histidin.
Lemak: Digunakan sebagai sumber
energi dan asam lemak tak jenuh
ganda. Umumnya, ikan air tawar
4-28% (harus mengandung
membutuhkan asam lemak dari
setidaknya 1-2% dari w-6 atau seri
linolenik (w-3) dan linoleat (w-6)
asam lemak esensial w-3)
seri; sementara air asin dan ikan air
dingin membutuhkan EPA dan
DHA (w-3)
Karbohidrat: Ini adalah sumber
energi yang murah dan merupakan
agen pengikat. Ini tidak dicerna
dengan baik ketika diberi makan
10-30%
mentah; kecernaan tertinggi adalah
tercapai saat dimasak. Karbohidrat
utama adalah pati, selulosa dan
pektin.
Mineral: Ada sekitar 20 unsur
1.0-2.5% (diberi makan sebagai
mineral anorganik, termasuk
premix multi-mineral)
kalsium, fosfor, magnesium, besi,

9
tembaga, mangan, seng, yodium
dan selenium.
Vitamin: Ini adalah zat anorganik
yang dibutuhkan dalam jumlah
yang dapat dibagi menjadi 1.0-2.5% (diberi makan sebagai
fatsoluble (vitamin A, D, E dan K) multi-vitamin premix; vitamin
dan larut dalam air (vitamin B- kolin dan C ditambahkan terpisah
kompleks, yaitu, tiamin, riboflavin, dari premix karena jika keduanya
pyridoxine, asam pantotenat, dicampurkan menimbulkan
cyanocobalamin, niacin, biotin, ketidakstabilan kimia)
kolin asam folat dan myoinositol;
dan vitamin C).

Sedangkan, tabel syarat mutu pakan buatan untuk ikan Gurami

Menurut Badan Standarisasi Nasional (2009) :

Tabel 2. Syarat Mutu Pakan Buatan Ikan Gurami

Persyaratan
Parameter Ukuran Ikan 3-5 Ukuran Ikan 5- Ukuran Ikan
cm 15 cm >15 cm
Kadar air
12% 12% 12%
(maksimal)
Kadar abu
12% 12% 13%
(maksimal)
Kadar protein
38% 32% 28%
(minimal)
Kadar lemak
7% 6% 5%
(minimal)
Kadar serat kasar
5% 6% 8%
(maksimal)
Diameter pakan 1-2 mm 2-3 mm 3-6 mm
Sumber: Badan Standarisasi Nasional (2009) dalam Thaiin (2016).

10
Berdasarkan praktikum, juga diperoleh data bahwa jumlah total

pakan yang diberikan sebanyak 2 kg, ini dihitung 2% dari bobot pakan

yang ada. Misalnya, pakan yang ada adalah 1 kwintal maka 2% x 100 kg =

2 kg. Sedangkan, total biaya yang dikeluarkan untuk pakan pada

budidaya ikan gurame ini selama masa pemeliharaan sampai panen

adalah 4 jt. Hal ini tentu berhubungan dengan rasio konversi pakan atau

FCR (Feed Convertion Ratio), dimana semakin tinggi FCR maka semakin

rendah nilai efisiensi pakannya.

2.2.3. Pengelolaan Kesehatan

Tingkat kesehatan ikan yang baik dicirikan dengan ikan tidak

mengalami stress dan adanya luka pada tubuh ikan yang bisa

menimbulkan penyakit. Penyakit ikan yang selama ini terjadi pada

budidaya ikan gurame selalu bisa tertangani oleh para petani ikan.

Penyakit tersebut biasanya muncul karena faktor lingkungan dari media

air yang digunakan. Misalnya pada musim penghujan, terjadi penurunan

suhu sehingga menyebabkan ikan mudah stress dan sistem imum

melemah, akibatnya penyakit bisa masuk ke dalam tubuh ikan. Menurut

Irianto (2005), gangguan penyakit dapat berupa penyakit non parasiter

dan penyakit parasiter. Penyakit non parasiter adalah penyakit yang

bersumber dari faktor lingkungan fisika dan kimia air dan makanan.

Penyakit parasiter diakibatkan oleh parasit. Parasit dapat berupa udang

renik, protozoa, cacing, bakteri, virus, jamur dan berbagai

11
mikroorganisme lainnya. Berdasarkan letak penyerangannya parasit

dibagi menjadi dua kelompok yaitu ektoparasit yang menempel pada

bagian luar tubuh ikan dan endoparasit yang berada dalam tubuh ikan.

Parasit yang sering menyerang ikan gurame diantaranya:

1. Aeromonas hdyrophyla

Bakteri Aeromonas hydrophila dikenal sebagai patogen oportunis yang

dapat menyebabkan ikan mengalami aeromoniasis. Ciri penyakit ini

adalah adanya luka pada bagian tubuh dan siripnya, pendarahan pada

luar tubuh dan organ dalam, kadang-kadang disertai oleh mata menonjol.

Produksi lendir ikan juga banyak tapi kemudian akan berkurang sehingga

ikan kalau diraba terasa kesat dan ikan sering berada pada bagian

permukaan perairan (Indrawati dan Supriyadi, 2009).

2. Mycobacterium fortuitum

Penyakitnya terkenal dengan sebutan “mycobacteriosis” atau sering

juga di istilahkan dengan “fish tuberculosis”. Pada ikan berukuran besar

infeksi terjadi apabila ikan mengalami stres oleh suatu sebab. Gejala awal

yang tampak antara lain nafsu makan berkurang, pembengkakan pada

kulit, mata menonjol, lesu, dan borok. Apabila ikan dibedah biasanya

akan tampak tubercle/granuloma yaitu bintil-bintil berwarna putih yang

terdapatu pada daging dan organ dalam seperti hati, limpha, dan ginjal

(Hambali, 2010).

Pencegahan yang dilakukan adalah dengan mengangkat dan

memindahkan ikan ke dalam kolam lain dan melakukan penjemuran

12
kolam yang terjangkit penyakit selama beberapa hari agar parasit mati.

Parasit yang menempel pada tubuh ikan dapat disiangi dengan pinset.

Selain itu, pencegahan juga bisa dilakukan dengan cara vaksinasi untuk

meningkatkan kekebalan tubuh ikan. Cara tersebut sangat efektif dan

efisien untuk mencegah penyakit MAS (Motile Aeromonas Septicemia) yang

disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophilla. Keberhasilan program

vaksinasi ditentukan oleh keampuhan vaksin yang digunakan serta cara

dan waktu pemberian vaksin (Indrawati dan Supriyadi, 2009). Contoh

vaksin seperti: Vaksin HydrogalaksiVac adalah vaksin bivalen (vaksin

dengan kandungan dua antigen bakteri) serta Vaksin HydroVac dan

Vaksin MycofortyVac merupakan vaksin monovalen (vaksin dengan

kandungan satu antigen bakteri) (Sugiani et al.,, 2016).

Pengobatan dengan menggunakan bahan kimia seperti Kalium

Permanagat (PK), neguvon dan garam dapur. Infeksi mycobacteriosis

pada ikan dapat ditangani dengan cara diberi desinfektan. Ikan yang

terkena bakteri ini harus segera dimusnahkan dengan cara dikubur

setelah diberi desinfektan. Bak atau kolam bekas ikan yang terinfeksi

kemudian dikeringkan dan di desinfeksi. Demikian juga peralatan yang

dipakai untuk penanganan ikan sakit tersebut segera dicuci dengan

menggunakan deterjen dan juga di desinfeksi. Tangan operator harus

segera dibilas dengan menggunakan alkohol 70% dan dicuci dengan

sabun antibakteri. Mycobacterium pada umumnya sangat resisten

terhadap antibakteria pada dosis standar. Oleh karena itu, dosis 10.000

13
mg/L klorin diperlukan untuk dapat membunuh bakteri tersebut

(Hambali, 2010). Selain penggunaan bahan kimia tersebut di atas, petani

di daerah Banyumas menggunakan laun lambesan (Chromolaena odorata

(L) sebagai antibiotik. Caranya: Daun lambesan dimasukkan ke dalam

kolam sebelum ikan di tebar yaitu pada saat pengolahan kolam.

Banyaknya daun lambesan yang dipakai adalah 1 pikul (yaitu kurang

lebih 50 kg) untuk luas tanah 25 m2. Penggunaan daun ini adalah 1 untuk

1 masa tanam.

Namun, akhir-akhir ini para petani gurame sedang mengalami

kerugian yang cukup besar karena adanya kematian massal ikan gurame

dalam kolam budidaya. Gejala yang dapat dilihat adalah sisik ikan yang

luka, ekornya yang berwarna putih, dan organ dalamnya yang busuk. Hal

ini tentu menimbulkan keresahan bagi para petani ikan gurame. Pasalnya,

ikan yang tadinya bisa di panen sebanyak 150 kg hanya bisa sebanyak 20

kg. Dinas Kabupaten Banyumas, pihak pabrik, dan Pusat juga sudah

memeriksa gejala penyakit yang dialami oleh ikan tersebut untuk

mengidentifikasi penyakitnya. Namun, dari ketiganya hanya melaporkan

bahwa ikan gurame tersebut tidak bisa diobati karena harga obatnya lebih

mahal dari harga ikannya. Tentu ini menimbulkan kekecewaan bagi para

petani budidaya tersebut.

14
2.3. Produksi dan Pemanenan

Usaha pembesaran gurame yang dilaksanakan oleh kelompok

pembudidaya Mulya Sari menggunakan benih yang dipasok dari

pembenih lokal Purwokerto. Benih yang ditebar dalam kolam

pemeliharaan bervariasi diantara pelaku pembudidaya, namun

kebanyakan berukuran 4-6 (panjang tubuh 3.5 cm,umur 40 hari). Proses

pemeliharaan dilakukan selama kurang lebih dua hingga lima bulan

hingga mencapai bobot +75-250 gram, dengan target panen sekitar 300 kg

dari biomassa awal tebar sebesar 100 kg. Pemberian pakan dilakukan

sebanyak 2-3 kali setiap hari disesuaikan dengan kondisi cuaca, sebanyak

2% dari bobot tubuh ikan. Total jumlah pakan yang dibutuhkan dalam

suatu fase pembesaran berkisar 300 kg. Pemanenan biasanya dilakukan

ketika ikan telah mencapai ukuran yang diinginkan pasar.

Dalam suatu usaha budidaya perikanan, perhitungan komponen

produksi berupa biaya pakan perlu dilakukan guna mengetahui apakah

pakan yang diberikan dapat menghasilkan biomassa ikan sesuai target

produksi yang diinginkan. Adapun, kualitas pakan dapat diukur dari nilai

FCR, nilai efisiensi pakan, yang bergantung pada tingkat feeding rate dan

intensitas pemberian pakan. Konversi pakan adalah salah satu

perhitungan yang dapat menghubungkan laju pertumbuhan dan jumlah

pakan.Konversi pakan merupakan jumlah pakan (gr) yang dimakan oleh

ikan untuk menaikkan 1 gr bobot ikan. tinggi rendahnya nilai rasio

15
konversi pakan dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor terutama kualitas

dan kuantitas pakan, spesies ikan dan ukuran ikan (Khalil, 2015).

Berdasarkan pemaparan dari narasumber seperti diuraikan

sebelumnya, bahwa nilai FCR yang diperoleh dapat bergantung pada

kandungan protein pakan yang diberikan, dimana kandungan protein

pakan disesuaikan bergantung dengan musim (20-25% saat musim hujan

dan 31-33% saat musim kemarau). Adapun, perhitungan FCR yang

diperoleh secara kasar, dengan target panen 300 kg dari biomassa benih

100 kg dapat dirumuskan sebagai berikut :

𝐹 400
FCR = (𝑊𝑡−𝑊0) = (300−100) = 2

Pada budidaya ikan gurame yang menggunakan protein 26-28%

menghasilkan nilai FCR sebesar 2 yang artinya ikan mengonsumsi pakan

sebesar 2 kg atau untuk menghasilkan 1 kg daging ikan. Menurut Thaiin

(2016), faktor-faktor yang mempengaruhi nilai konversi pakan adalah

spesies, jenis pakan, kualitas pakan, teknik pemberian pakan dan kualitas

air. Sedangkan, nilai FCR berbanding terbalik dengan pertumbuhan bobot

ikan, sehingga semakin rendah nilainya maka semakin baik kualitas

pakan dan makin efisien ikan dalam memanfaatkan pakan yang

dikonsumsinya untuk pertumbuhan (Thaiin, 2016).

Selain FCR, nilai efisiensi pakan juga menjadi parameter untuk

mengetahui kualitas pengelolaan pakan yang diterapkan. Pemanfaatan

16
pakan merupakan sejumlah pakan yang diberikan setiap harinya yang

mampu dimanfaatkan kultivan untuk menunjang proses metabolisme dan

pertumbuhannya dalam periode tertentu. Nilai ini menggambarkan

seberapa efisien pakan dimanfaatkan oleh kultivan budidaya (Gunadi et

al.,, 2010).

Peningkatan nilai efisiensi pemanfaatan pakan menunjukkan

bahwa pakan yang dikonsumsi memiliki kualitas yang baik, sehingga

dapat dimanfaatkan secara efisien. Menurut pendapat Gunadi et al., (2010)

bahwa kecernaan pakan merupakan salah satu indikator yang dapat

digunakan untuk menilai tingkat efisiensi pakan yang diberikan kepada

ikan.Semakin besar nilai kecernaan suatu pakan, maka semakin banyak

nutrien pakan yang dimanfaatkan oleh ikan tersebut (Nugroho,2015).

Nilai efisiensi pakan pada kolam budidaya kelompok Mulya Sari dapat

dihitung sebagai berikut :

𝑊𝑡−𝑊0 (300−100)
EP = × 100% = × 100% = 50%
𝐹 400

Usaha budidaya, sebagaimana bidang usaha lainnya memerlukan

suatu analisis keuangan untuk mengukur seberapa besar modal yang

diperlukan dan keuntungan yang dapat diperoleh. Berikut merupakan

kisaran perhitungan usaha yang diterapkan pada kelompok pembudidaya

Mulya Sari :

Biaya Produksi :

17
 Sewa Kolam : Rp 150.000
 Tenaga kerja : Rp 180.000
 Kapur : Rp 10.000
 Probiotik : Rp 20.000
 Pakan (300 kg × Rp 10.500) : Rp 4.150.000
 Ikan (100 kg × Rp 40.000) : Rp 4.000.000 +
Total biaya produksi : Rp 7.480.000
Asumsi mortalitas 10%, panen sebanyak 290 kg, harga jual Rp 37.500/kg.
Pendapatan : 290 kg × Rp 37.500 = Rp 10.875.000
Keuntungan : Rp 10.875.000 – Rp 7.480.000 = Rp 3.395.000

III. KESIMPULAN DAN SARAN

3.1. Kesimpulan

Berdasarkan uraian yang telah dibahas, dapat disimpulkan bahwa

manajemen atau pengelolaan pakan yang diterapkan oleh pembudidaya

kelompok Mulya Sari Desa Pliken dilakukan melalui pemberian pakan

dengan Feeding Rate sebesar 2% biomassa, frekuensi pemberian sebanyak

2x dalam sehari, jenis pakan berupa pelet Pokpan dengan kandungan

protein disesuaikan musim. Adapun, diperoleh nilai FCR sebesar 2 dan

efisiensi pakan sebesar 50% dari total pemberian pakan sebesar 400 kg.

3.2. Saran

Nilai FCR yang dihasilkan dari penebaran beni h hingga pemanenan

tergolong terlalu tinggi sehingga cenderung bersifat kurang

menguntungkan, karenanya pembudidaya perlu melakukan suatu inovasi

agar dapat meningkatkan FCR dan efisiensi pakan, misalnya melalui

18
penerapan teknologi fermentasi dengan probiotik agar meningkatkan

daya cerna pakan.

19
DAFTAR PUSTAKA

Armawati, S. 2005. Manajemen Pemberian Pakan Terhadap Pertumbuhan


Pada Kolam: Pembesaran Ikan Betutu (Oxyeleotris marmorata
(Bleeker)) di Balai Induk Udang Galah Pandaan.
http://eprints.ums.ac.id/55411/3/BAB%201.pdf. Diakses pada 3
Desember 2018.

Badan Standarisasi Nasional (BSN). 2009. Pakan Buatan untuk Ikan


Gurami (Osprhonemus gourami, LAC) . SNI No 7473 : 2009.
http://www.bsni.c.id. Diakses pada 14 Desember 2018.

Djariah, A. S. 1995. Pakan Ikan Alami. Kanisius : Yogyakarta.

Effendi, I., Mulyadi. 2012. Modul Budidaya Perikanan.


http://repository.ut.ac.id/4184/1/MMPI5201-M1.pdf. Diakses pada
2 Desember 2018.

Govind P. 2013. Feed Formulation And Feeding Technology For Fishes.


Int. Res. J. Pharm., 4 (3): 23-30

Hambali S. 2010. Infeksi Mycobacteriosis Pada Ikan Budidaya Di


Indonesia. Media Akuakultur, 5 (1):57-61

Indrawati dan H. Supriyadi. 2009. Uji Aplikasi Vaksin Hydrovac Untuk


Pencegahan Penyakit Merah Pada Ikan Mas (Cyprinus Carpio) Dan
Gurame (Osphronemus Gouramy) Di Balai Benih Ikan Pandak
Kabupaten Banyumas. Media Akuakultur, 4(1): 73-75

Irianto. 2005. Patologi Ikan Teleostei. Gadjah Mada University Press :


Yogyakarta.

Khalil Munawar , Zahnila dan Prama Hartami. 2015. Studi Pengunaan


Pakan Pelet Hasil Formulasi Dari Bahan Baku Nabati Untuk
Meningkatkan Pertumbuhan Benih Ikan Gurami (Osphronemus
gouramy). Berkala Perikanan Terubuk, Februari. Vol. 43 (1) : 32 – 44

Kordi, Gufran. 2009. Budidaya Perairan Jilid 2. PT Citra Aditya Bakti :


Bandung

Nugroho I.,I, Subandiyono, Herawati Vivi Endar. 2015. Tingkat


Pemanfaatan Artemia Sp. Beku, Artemia Sp. Awetan Dan Cacing
Sutera Untuk Pertumbuhan Dan Kelangsungan Hidup Larva
Gurami (Osphronemus Gouramy). Journal Of Aquaculture Management
And Technology .Volume 4 (2) :117-124

20
Nurulita, F., Putri E., Uswatun K., Nailul F. A., Intan Y., Septiana P.,
Ismaul F. 2010. Manajemen Pemberian Pakan Lele.
https://www.academia.edu/19877786/Manajemen_Pemberian_Pak
an_Lele_Bab_I_. Diakses pada 2 Desember 2018.

Romansyah M. A. 2015. Teknik Pembuatan Pakan Buatan Ikan Gurame


(Osphronemus gouramy) di CV. Mentari Nusantara Desa Batokan
Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Provinsi Jawa Timur.
Laporan Kerja Lapang. Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Airlangga.

Rusmiyati, S. 2014. Pintar Budidaya Udang Windu. Pustaka Baru Press :


Yogyakarta.

Sugiani D., O. Z. Arifin, U. Purwaningsih, Asependi, E. F. Wadjdy. 2016.


Uji Aplikasi Lapang Vaksin Bivalen Hydrofortivac Dan Vaksin
Monovalen (Hydrovac Dan Mycofortyvac) Pada Benih Ikan Gurami
(Osphronemus Goramy). Media Akuakultur, 11 (2): 111-119

Thaiin, A. 2016. Pengaruh Pemberian Lisin Pada Pakan Komersial


Terhadap Retensi Energi dan Rasio Konversi Pakan Ikan Gurami
(Osphronemus gouramy). Skripsi. Fakultas Perikanan dan Kelautan,
Universitas Airlangga.

21
LAMPIRAN

Lampiran 1. Dokumentasi Kegiatan

22