Anda di halaman 1dari 40

BAB II

MESIN ROVING

1. PENGENALAN MESIN ROVING


1.1 Pendahuluan
Setelah melakukan praktikum pada bab ini mahasiswa diharapkan
memiliki kemampuan untuk:
1. Mengetahui fungsi mesin roving
2. Memahami bagian-bagian penting dan otomasinya pada mesin
roving beserta fungsi utamanya.

1.2 Teori Pendekatan


Seperti telah kita ketahui proses selanjutnya setelah proses di mesin
drawing adalah mesin roving, hasil dari mesin drawing berupa sliver yang
lebih rata dan letak serat-seratnya sudah sejajar satu sama lain. Dalam
proses pembuatan benang untuk memperoleh hasil yang baik, maka sliver
tersebut perlu diperkecil tahap demi tahap salah satunya pada mesin roving.
Menurut sistem konvensional, makin tinggi nomor benang yang akan
dibuat, maka makin banyak proses flyer yang akan diperlukan. Ada beberapa
tahapan proses flyer pada system konvensional antara lain; slubbing frame,
intermediate frame, roving, fine roving frame.
Rangka- Rpm Diameter Nomor
Mesin Peregangan
pan Spindel Gulungan Roving

Slubbing Frame 3–5 1 650 – 700 5” – 5,75” 0,25 - 1,25


Intermediate Frame 4–6 2 800 – 900 4” – 4,5” 1–3

Roving 5–8 2 1100 – 1200 3” – 3,5” 1,5 – 10

Fine Roving Frame 5–8 2 1250 - 1300 2,5” – 2,75” 5 – 30

Tabel 1.2.1. Tahapan proses flyer sistem konvensional.

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 1


Namun pada sistem pemintalan yang modern, untuk pembuatan
benang yang halus tidak lagi dilakukan dengan beberapa proses flyer, tetapi
pada umumnya cukup menggunakan satu mesin simplex (speed frame).
1.2.a. Fungsi mesin roving
Sebagaimana telah diuraikan diatas, maka fungsi dari mesin flyer
adalah sebagai berikut :
 Peregangan (drafting)
Proses peregangan (drafting) terjadi pada pasangan rol peregang ke 3
dan ke 4, dimana kecepatan keliling dari rol depan (Front Roll) lebih besar
dari pada rol tengah (Midle Roll) dan kecepatan keliling dari rol tengah
(Midle Roll) lebih besar dari rol belakang (Back Roll). Akibat dari peregangan
tersebut maka sliver menjadi lebih kecil serta belum mendapat antihan/twist.

 Antihan (Twisting)
Yaitu memberikan puntiran atau lilitan pada roving, tujuannya agar
roving lebih kuat serta untuk mempersiapkan proses selanjutnya.
Proses antihan (twisting) terjadi pada saat roving keluar dari delivery rol/ rol
depan kemudian masuk secara axial pada bagian atas dari flyer dan keluar
secara radial pada lengan flyer dan menggulungnya pada bobbin roving.
Dengan kecepatan putar spindle yang tinggi maka disinilah terjadi antihan
pada roving.

 Penggulungan (Winding)
Setelah kapas mengalami proses peregangan (drafting) dan antihan
(twisting). Kemudian roving digulung pada bobbin. Proses penggulungan ini
terjadi karena adanya perbedaan kecepatan keliling antara bobbin dengan
spindle. Kecepatan keliling spindle lebih besar dibanding kecepatan keliling
bobbin, semakin penuh gulungan bobbin maka semakin cepat putaran
bobbin.

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 2


1.2.b. Bagian-bagian mesin roving
 Bagian penyuapan

2 3

4
Keterangan:

1. Can.
Terbuat dari plastic fiber yang tahan terhadap cairan oli maupun
air, berbentuk silinder yang besar dilengkapi dengan per dan pelat
pada bagian atas sebagai tempat menampung sliver drawing.
2. Sliver Guide
Sliver Guide berbentuk sekat berfungsi untuk menjaga sliver tetap
pada jalurnya dan pemisah antar sliver untuk memudahkan
pengaturan penyuapan.
3. Roll Pengantar Sliver
Berfungsi untuk mengantarkan sliver kebagian drafting sehingga
memudahkan dalam penyuapan.
4. Sonsor proximity, berfungsi untuk mendeteksi apabila pada saat
proses, sliver tiba-tiba putus maka sensor akan memberikan signal
untuk memberhentikan mesin roving.

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 3


 Bagian peregangan

Keterangan:

1. Roll peregang, terdiri dari rol bawah (bottom roll) dan rol atas (top roll).
a. Bottom Roll, terbuat dari baja yang dikeraskan pada seluruh
permukaannya dan beralur halus. Jarak dari alur-alur tersebut
dibuat sedemikian rupa, sehingga garis titik jepit terhadap rol
atas tidak selalu pada tempat yang sama. Fungsi dari alur ialah
untuk mengurangi terjadinya slip dengan rol atas pada saat
terjadinya peregangan. Diameter rol bawah dibuat tidak sama
dengan diameter rol atas, dengan maksud agar jangan sampai
terjadi keausan setempat pada rol atasnya. Front bottom rol
dengan middle bottom rol dapat disetel jaraknya disesuaikan
dengan panjang serat yang diolah serta besarnya regangan
yang diinginkan.
b. Top Roll, terbuat dari besi tuang yang dilapisi dengan kain
flannel dan kulit atau dari karet sintetis. Tujuannya untuk
menguragi terjadinya selip dan mengurangi gesekan dengan
bottom roll. Rol atas menurut konstruksinya dikenal dua jenis,
yaitu rol masip (solid, loose bosh roller) dimana pada kedua

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 4


ujungnya terdapat pelat dari logam lunak (bushing) tempat
dudukan kaitan beban dan rol berongga (shell roller type) yang
mempunyai arbour C pada bagian tengahnya serta rongga
pada bagian luarnya D

Rol atas ini baik jenis masip maupun jenis berongga dilapisi
dengan bahan kulit, gabus atau dari sintetis sepanjang alur
padarol bawah sebagai bantalan dimana serat-serat melaluinya.
Di samping rol-rol sebagaimana diutarakan diatas juga ada rol
yang dari logam (metalic roller). Rol atas maupun rol bawahnya
beralur lebih dalam dari pada rolbawah pada jenis rol
biasa.Irisan alurnya berpegangan seperti roda gigi. Agar tidak
terlalu berhimpitan, pada kedua ujungnya terdapat roller,
sehingga garis titik jepit kedua pasangan rol terhadap serat
terletak pada sisi kaki alur Hingga terjadi lekukan (crimp)
mengikuti garis jepit alur. Dengan demikian produksi panjang
yang dihasilkannya ,akan lebih panjang dari pada rolbiasa
dengan diameter yang sama
2. Apron Pembersih, berfungsi untuk membersihkan sisa-sisa serat
pendek dan kotoran yang menempel pada rol.
3. Penampung (Colektor), Colektor dibuat dari porselin atau ebonite yang
berbentuk seperti corong terbuka, sebagai penyalur sliver yang
disuapkan.

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 5


4. Cradle, berbentuk pasangan rol yang konstruksinya sedemikian rupa
yang dilengkapi dengan beban penekan rol sistem pegas atau per.
 Bagian penggulungan

1. Flyer, Sayap (flyer) dibuat dari logam yang


terbentuk seperti jangkar terbalik yang terdiri
dari bagian puncak, sayap dengan lengan yang
1
berlubang. dari sayap ini merupakan rongga
dari pipa sebagai tempat jalannya roving.
2
Selanjutnya digulung pada bobin.

2. Bobin, sebagai tempat gulungan roving yang terbuat dari plastik dan
berbentuk silinder berlobang. Ujung bawahnya diberi lekukan sebagai
tempat mengaitkan bobin pada roda gigi pemutar bobin.

Selain 3 bagian diatas, mesin roving mempunyai 3 alat khusus yang


sangat penting dalam proses pembuatan roving. Peralatan tersebut ialah :

1. Cones Drum
Cones Drum, berfungsi untuk mengatur
rpm spindle. Karena putaran flyer/
sayap tetap sedangkan diameter bobin
makin lama semakin besar maka rpm
spindle harus disesuaikan agar roving
yang digulung tidak putus.
2. Trick Box
Trick box memiliki 3 fungsi khusus
yaitu :
 Menaik-turunkan kereta.
 Menggeser belt pada cones drum.
 Membentuk sudut gulungan pada
bobin roving.

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 6


3. Roda Gigi Diferensial
Roda Gigi Diferensial, Berfungsi untuk memindahkan torsi serta
mengatur kecepatan putar. Roda gigi diferensial akan dibahas pada
bab selanjutnya.

1.3 Tugas Pendahuluan

Mahasiswa ditugaskan untuk membuat risalah mengenai hal-hal sebagai


berikut:

 Tujuan pokok pada proses produksi di mesin Roving


 Bagian-bagian penting beserta peralatan otomatis
 Tujuan proses Twist
 Sliver input & output number range
 Teknologi terbaru pada mesin roving

1.4 Alat dan Bahan


1) Mesin Fly Frame FA 415 A
2) Meteran
3) Jangka
4) Mistar

1.5 Cara Kerja


1) Mengamati setiap bagian dari mesin roving, dari mulai bagian
penyuapan, bagian peregangan dan bagian penggulungan.
2) Menggambar gambar dari tiap bagian mesin roving beserta
keterangannya pada kertas folio atau HVS.

1.6 Tugas Akhir dan Pertanyaan


1) Jelaskan fungsi dan tujuan dari mesin roving?

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 7


2) Sebutkan bagian-bagian penting mesin roving?

3) Jelaskan fungsi dari tiap bagian mesin roving?

1.7 Tes Formatif


NO Pertanyaan Ya Tdk

1 Apakah anda dapat mengetahui fungsi dan tujuan mesin


roving?

2 Apakah anda dapat menyebutkan bagian-bagian mesin


roving?

3 Apakah anda dapat menjelaskan fungsi dari bagian-


bagian mesin roving?

4 Apakah anda dapat menggambarkan bagian-bagian


mesin roving?

1.8 Umpan Balik


Evaluasi tingkat penguasaan Anda dapat dilakukan dengan menggunakan
rumus berikut untuk mengetahui sejauh mana penguasaan anda terhadap
materi pada bab ini :

Rumus :

Materi yang dikuasai


Tingkat penguasaan  100 0 0
4
Arti tingkat penguasaan yang anda capai :

90 % - 100 % = baik sekali

80 % - 89 % = baik

70 % - 79 % = sedang

< 69 % = kurang

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 8


1.9 Tindak Lanjut
Jika anda mencapai tingkat penguasaan 80 % ke atas, tingkat
penguasaan anda terhadap kegiatan belajar tentang bahan baku proses
blowing sudah bagus dan Anda dapat meneruskan dengan kegiatan belajar
berikutnya. Tetapi jika nilai anda di bawah 80 %, pelajari kembali
kegiatan belajar ini, terutama bagian yang belum dikuasai.

2. GEARING DIAGRAM ROVING


2.1 Pendahuluan
Setelah melakukan praktikum pada bab ini mahasiswa diharapkan
memiliki kemampuan untuk:
1. Memahami mekanisme kerja mesin roving.
2. Mengetahui Hubungan Pergerakan antar bagian mesin roving

2.2 Teori Pendekatan


2.2.1. Mekanisme kerja mesin roving
Sliver drawing dalam bentuk can disuapkan pada bagian drafting.
satu persatu ujung slivernya dimasukkan ke rol peregang. Setelah
mengalami peregangan, kemudian keluar dari rol depan terus dimasukkan
pada lubang bagian atas flyer lalu keluar pada sayap flyer kemudian
digulung pada bobbin. Hasil dari proses ini disebut roving.
Karena perbedaan arah sumbu putar antara roving yang keluar dari front
roll (arah axial) dengan roving yang keluar dari sayap flyer dalam
penggulungan (arah radial) , maka terjadi twist/puntiran pada roving.
Penggulungan terjadi karena ada perbedaan putaran antara flyer dengan
bobin, dalam penggulungan kereta dibuat naik turun sedemikian rupa
secara bergantian. Pada saat bobin penuh maka mesin dihentikan

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 9


/berhenti secara otomatis yang kemudian regu doffer melakukan doffing
kemudian mesin dapat dijalankan.

2.2.2. Gerakan Utama dimesin roving


1. Pergerakan Draft Roller

Gambar 23. Rol Penarik

Proses penarikan terjadi pada 3 buah pasangan rol seperti terlihat


pada gambar 23. rol-rol atas dibuat dari besi yang dilapisi dengan kulit atau
Karet sintesis. Sedangkan rol-rol bawah dibuat dari besi yang dikeraskan dan
beralur. Kecepatan keliling dari rol depan lebih besar dari pada kecepatan
keliling rol tengah dan kecepatan keliling rol tengah lebih besar dari
kecepatan keliling rol belakang. Jumlah regangan antara rol depan dan rol
belakang adalah sama dengan kecepatan keliling rol depan dibagi dengan
kecepatan keliling rol belakang.

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 10


2. Pergerakan Bobin
Pergerakan bobin melalui jalan yang lebih panjang jika dibandingakan
dengan pergerakan rol-rol peregangan. Pada pergerakan bobbin melalui roda
gigi diferensial dan pada roda gigi diferensial ini terdapat dua gerakan
dengan sumber putaran yang berbeda, putaran roda gigi diferensial akan
berubah-rubah pada poros yang menyelubungi poros utama. Berubahnya
putaran roda gigi diferensial ini disebabkan karena adanya pergeseran belt
pada cone drum dari kanan kekiri yang mengakibatkan rpm putaran masukan
ke roda gigi diferensial berubah, sehingga output putaran roda gigi diferensial
untuk bobbin berubah.

3. Pergerakan Rail (kereta)


3.a. Gerakan Kereta Naik Turun.
Pada waktu berlangsungnya penggulungan roving pada bobin, maka
bobin bergerak naik turun secara teratur terbawa oleh gerakan kereta,
sehingga roving diletakkan pada bobin sejajar merapat satu sama lain.
Seperti kita ketaui bahwa spindle berikut lengan sayap dan pengantar roving
tetap berada pada tinggi yang tertentu, maka tentunya harus ada yang
menggerakkan bobin keatas dan kebawah untuk pembentukan gulungan
roving pada bobin, dan yang menggerakkan bobin ini ialah kereta, jika
misalnya :
Kecepatan kereta persatuan waktu = Kk
Kapas yang keluar dari rol depan = L”
Diameter bobin pada suatu waktu = b”
Diameter roving = r”
Jumlah gulungan =g
Maka 𝑘𝑘 = 𝑔 𝑥 𝑟" = 𝐿/𝜋𝑏 𝑥 𝑟.
Jika diameter bobin menjdai besar, misalnya B, maka 𝑘𝑘 = 𝐿/𝜋𝑏 𝑥 𝑟.
Jadi kecepatan kereta akan bertambah lambat saperti halnya kecepatan
bobin yang makin lama makin lambat sesuai dengan bertambah besarnta

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 11


diameter bobin. Kereta digerakan dari poros utama melalui roda gigi R1, R3,
cone ddrum atas, cone drum bawah R22, R23 dan seterusnya. Setiap terjadi
lapisan gulungan roving yang baru, maka tinggi gulungan pada bobin dibatasi
oleh sebuah kerucut yang terpotong.
Untuk pembentukan gulungan roving pada bobin ada 3 gerakan yang
diperlukan yaitu :
1) Pembalikan kereta setelah menyelesaikan satu lapisan gulungan
roving, yaitu dari atas atau sebaliknya.
2) Memperpendek satiap lapisan gulungan roving dengan jalan
menurunkan dan menaikkan gulungan kurang lebih setebal
diameter roving.
3) Pergeseran belt pada kedua cone drum untuk mengurangi
perputaran roda gigi pengatur putaran dari bobin serta pergerakan
kereta.

3.b. Full Bobin Stop.


Pada mesin flyer biasanya diperlengkapi dengan peralatan fuli bobin
stop motion yang dapat menghentikan mesin secara otomatis apabila jumlah
gulungan roving pada bobin telah mencapai diameter yang diinginkan ( telah
penuh ).
Ada beberapa macam peralatan full bobin stop motion :
 Secara mekanik
 Secara elektrik
Untuk yang menggunakan cara mekanik antara lain ialah seperti
terlihat pada gambar 43, gambar 44 dan gambar 45 secara elektronik,
Mengenai prinsip bekerjanya masing-masing dapat diterangkan sebagai
berikut :

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 12


Gambar 43. Peralatan Full Bobin Stop mekanik

Mekanismenya terdapat batang bergigi 1 yang berhubungan dengan grid bar


dari cone drum.
Pada batang bergigi 1 terpasang pen F yang dapat disetel dengan jalan
memindah-mindahkan Pen P tersebut kelubang yang ada disebelahnya.
Ujung sebelah kiri dihubungkan beban G dengan menggunakan tali. Ujung
sebelah kanan batang S berhubungan dengan ban motor, sehingga dengan
perantaraan batang S ini, maka ban dapat digeserkan ke puli bebas atau puli
tetap.
Pada waktu gulungan roving pada bobin telah penuh, maka pen F akan
mendorong ujung bawah dari batang k kekanan, batang k lepas dari tahanan
b, ujung bawah batang m tertarik kekiri oleh adanya beban G, ujung atas
batang m akan mendorong nok n yang tepasang pada batang S kekanan,
sehingga dengan perantaraan batang S maka ban tergeserkan dari puli tetap
ke puli yang bebas.
Dengan demikian, maka mesin akan berhenti, tetapi motor masih tetap dalam
keadaan berjalan.

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 13


Gambar 44. Peralatan bobin stop mekanik

Pada gambar 44, terdapat batang a yang bagian kanannya berhubungan


dengan ban dari cone drum. Disebelah kiri batang m dipasang nok d yang
dapat disetel sedikit kekanan atau kekiri. Disebelah atas terdapat batang 1
yang mempunyai lekukan disebelah kanan dan batang 1 ini selalu akan
berusaha bergerak kekanan karena adanya terikan dari per V. Usahagerakan
kekanan dari batang 1 ini, selalu ditahan oleh k yang dipasang ditempat
lekukan dari batang 1.
Pada waktu mesin sedang berjalan dan penggulungan roving sedang
berlangsung, maka batang sedikit demi sedikit bergerak kekanan. Nok d
disetel sedemikian rupa, sehingga pada saat gulungan roving sudah penuh,
nok d akan menenkan ujung batang n kekanan, k terangkat keatas, batang 1
bebas dari tekanan k, sehingga batang 1 tertarik kekanan oleh adanya
tarikan dari per V.
Dengan perantaraan batang V1 maka gerakan batang 1 kekanan akan
menyebabkan batang S turut bergerak kekanan akan menggeserkan ban dari
puli tetap ke puli bebas. Dengan demikian, maka mesin akan berhenti,
sedangkan motor masih tetap dalam keadaan berjalan.
Pada gambar 45, terdapat kereta yang dapat bergerak naik turun dan
pada kereta terdapat nok M. Disebelah kiri dari batang bergigi z dhubungkan

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 14


dengan ban dari cone drum, sedangkan disebelah kanannya dipasang nok k.
Disebelah atas terdapat batang 1 yang selalu tertarik kekiri oleh adanya per
U, tetapi gerakan kekiri dari batang 1 tertahan oleh adanya tuil O1 dan O2
yang masuk kedalam lekukan dari batang 1.
Pada waktku kereta naik keatas, nok M akan mendorong P2 kekiri dan
tuil O2 akan terangkat keatas lepas dari lekkan, tetapi batang 1 tidak dapat
bergerak kekiri karena masih tertahan oleh tuil O1. Begitulah pula sebaliknya,
pada waktu kereta bergerak turun, maka nok M tidak menyentuh P2 dan P2
kembali bergerak kekanan, tuil 02 turun masuk kedalam lekukan dari batang
1.
Pada waktu mesin sedang berjalan dan penggulungan roving sedikit
demi sedikit bregerak kekiri dan menggeserkan ban pada cone drum sedikit
demi sedikit kekiri. Nok K disetel sedemikian rupa, sehingga pada saat
gulungan roving pada bobin telah punuh, nok K akan mendorong batang F1
kekiri sehingga ruil 01 naik keatas lepas dari lekukan pada batang 1.
Pada saat tuil 02 belum terangkat keatas lepas dari lekukan pada
batang 1, sehingga batang L uga belum dapat bergerak kekiri. Pada wakut
pembentukan lapisan gulungan roving yang terakhir sampai ditengah-tengah
bobin, nok M sudah menekan P2 keatas sehingga tuil 02 terangkat keatas
lepas dari lekukan batang 1.

Dengan demikian sekarang batang 1 sudah lepas dari tahanan tuil 01


dan 02 dan dengan mudah akan tertarik kekiri oleh adanya tarikan per V,
sehingga R akan menggeserkan ban dari puli tetap kepuli bebas, mesin akan
segera berhenti sedangkan motor masih tetap dalam keadaan berjalan.

Gambar 45. Peralatan bobin stop elektrik

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 15


Prinsip kerjanya:

isi

2.3 Tugas Pendahuluan


Mahasiswa ditugaskan untuk membuat risalah mengenai hal-hal sebagai
berikut:
 Mekanisme kerja mesin roving
 Susunan roda gigi mesin roving
 Gerakan utama mesin roving

2.4 Alat dan Bahan


1. Mesin Fly Frame FA 415 A
2. Jangka
3. Mistar
4. Tool Kit

2.5 Cara Kerja


1. Mengamati setiap bagian susunan roda gigi dari mesin roving, dari
mulai bagian penyuapan, bagian peregangan dan bagian
penggulungan.
2. Menggambar skema diagram susunan roda gigi mesin roving.
3. Menghitung jumlah gigi pada setiap DCW
4. Mengukur diameter cone drum
5. Menghitung rpm aktual roda gigi dengan menggunakan
tachometer.

2.6 Tugas Akhir dan Pertanyaan

1. Jelaskan mekanisme kerja mesin roving?

2. Sebutkan gerakan utama mesin roving?

3. Jelaskan masing-masing gerakan pokok di mesin roving?

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 16


2.7 Tes Formatif

NO Pertanyaan Ya Tdk

1 Apakah anda dapat memahami mekanisme kerja mesin


roving?

2 Apakah anda dapat mengetahui hubungan gearing


diagram mesin roving?

3 Apakah anda dapat menggambarkan gearing diagram


mesin roving?

4 Apakah anda dapat mengatur pergerakan mesin roving?

2.8 Umpan Balik

Evaluasi tingkat penguasaan Anda dapat dilakukan dengan menggunakan


rumus berikut untuk mengetahui sejauh mana penguasaan anda terhadap
materi pada bab ini :

Rumus :

Materi yang dikuasai


Tingkat penguasaan   100 0 0
4

Arti tingkat penguasaan yang anda capai :

90 % - 100 % = baik sekali

80 % - 89 % = baik

70 % - 79 % = sedang

< 69 % = kurang

2.9 Tindak Lanjut


Jika anda mencapai tingkat penguasaan 80 % ke atas, tingkat
penguasaan anda terhadap kegiatan belajar tentang bahan baku proses

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 17


blowing sudah bagus dan Anda dapat meneruskan dengan kegiatan belajar
berikutnya. Tetapi jika nilai anda di bawah 80 %, pelajari kembali
kegiatan belajar ini, terutama bagian yang belum dikuasai.

3. TRIX BOX
3.1 Pendahuluan
Setelah melakukan praktikum pada bab ini mahasiswa diharapkan
memiliki kemampuan untuk:
1. Mengetahui Fungsi Trick Box
2. Memahami mekanisme kerja Trick Box

3.2 Teori Pendekatan


3.2.1. Prinsip Bekerjanya Trix box

Pada gambar 40a terlihat bagian A yang dapat bergerak kekanan


kekiri dan pergerakan ini disebabkan oleh batang bergigi S. disebelah kiri
batang S dipasang pada balok penggeser kecil d dengna sekrup sehingga
dapat bergerak keatas dan kebawah bersama-sama pergerakan kereta W.
balok penggeser kecil d dapat disetel dengnan jalan menggeserkan kekiri
kekanan pada alur C.

Pada sebelah kiri dan kanan A terdapat rantai K1 dan K2 yang


dihubungkan dengan pemikul J dengan perantaraan batang L1 dan L2.
ditengah-tengah pikulan J terdapat per V yang dipasang mati bagian
bawahnya. Mata rantai O1 dan O2 yang dihubungkan dengan L1 dan L2
berganti-ganti menekan pada sayap kiri dan kanan dari B yang dapat
berputar pada titik putar M pada waktu gerakan keatas dan kebawah dari
kereta W.

Perhatikan gambar (a) misalnya sekarang kereta W sedang bergerak


keatas sehingga A bergerak perlahan-lahan kekanan (searah jarum jam), dan
A akan menarik rantai K2 dan batang L2 keatas, akibatnya L1 akan tertarik

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 18


kebawah, oleh bagian kiri pukulan J dan sayap kiri B akan tertekan kebawah
oleh mata rantai O1, dan oleh karenanya per V akan lebih diregangkan. Hal
ini akan menyebabkan B juga mempunyai kehendak yang besar untuk
berputar kekanan sebagai reaksi tarikan-tarikan per V. hal ini tidak mungkin
terjadi karena nok M pada B ditahan oleh penahan P2.

Pada sebelah kiri kanan A juga terdapat baut F1 dan F2 yang dapat
disetel. Gambar 40b memperlihatkan bahwa A sedang berputar perlahan-
lahan kekiri. Dan apabila gerakan ini diteruskan maka ujung baut F2 akan
menekan kebawah bagian kiri menahan P1 dan akibatnya Nok P2 pada
batang B akan bergeser kekanan kemudian diteruskan pada batang e yang
berada pada pen a bergerak kekanan. Pergerakan ini menyebabkan roda gigi
paying Z27 terlepas dari roda gigi Z26, sehingga poros e dan roda gigi Z29
bergerak kearah kekanan.

Gambar. 40b

Gambar. 40c Gambar. 40a

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 19


Dibelakang trick box ini terdapat suatu peralatan seperti terlihat pada gambar
40c yang dilengkapi dengan rantai dan beban G. Beban G ini akan mencoba
memutarkan poros tegak S dan dibagian bawah poros tegak S terdapat roda
gigi payung Z34 yang dihubungkan dengan roda gigi paying Z35 yang
dipasang pada poros M dimana roda gigi racet Z36 juga dipasang. Roda gigi
racer Z36 ditahan secara bergantian oleh penahan r1 disebelah kiri dan
penahan r2 disebelah kanan.

Jika misalkan penahan r1 dan r2 tidak ada, maka poros tegak S akan
terputarkan oleh beban G. penahan r1 dan r2 dihubungkan satu sama lain
dengan suatu pegas yang dibuat sedemikian rupa, pada waktu penahan r1
lepas dan karena beban G, maka penahan r2 dengan segera menahan roda
gigi Z36. pada saat itu rachet hanya berputar beberapa derajad dari satu
putaran sesuai dengan perbandingan roda gigi yang dipasang.

Karena roda gigi rachet Z36 berputar beberapa derajad, maka hal ini
dapat mengakibatkan roda gigi Z34 memutarkan roda gigi Z35 sehingga Z36
terputarkan sebesar setengah roda gigi dan roda gigi Z37 menggesekan
batang bergigi kekiri dan akan menggeserkan belt cone drum

Pada pemasangan gulungan roving yang pertama merupakan jumlah


gulungan yang terpanjang pada bobbin, maka sekrup b berada disebelah kiri
dialur C. gerakan kereta membuat langkah yang terpanjang pada setiap
pembentukan gulungan roving yang baru, maka sekrup b dengan balok
penggeser kecil d oleh perputaran sedikit dari roda gigi pada poros M
tergeserkan kekanan. Pergeseran ini berangsur-angsur akan berjalan terus
sampai sisebelah kanan. Dengan demikian jelaslah bahwa banyaknya
pergeseran dari balok, penggeser kecil d adalah sama besar dengan
banyaknya gulungan roving pada bobbin. Tingginya gerakan langkah keatas
dan kebawah dari kereta yang merupakan tinggi rendahnya gulungan roving
pada bobbin adalah ditentukan oleh penyetelan baut F1-F2.

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 20


Gambar. Langkah gerakan kereta pada waktu penggulungan pada bobin

3.2.2. Kesalahan-kesalahn bentuk gulungan roving pada bobbin dan cara


memperbaikinya

Gambar 42. Macam gulungan roving pada bobin

Gambar 42A memperlihatkan bentuk yang sesuai dari gulungan roving


pada bobbin. Gambar 42B menunjukan bentuk gulungan roving pada bobbin
bagian atas dan bagian bawahnya terlalu cura. Bentuk ini sebenarnya bukan
suatu kesalah tetapi mempunyai kekurangan-kekurangan antara lain :
1. gulungan roving pada bobbin cepat penuh. Ini berarti mesin lebih
sering berhenti untuk mengganti bobbin yang penuh dengan bobbin
yang kosong.
2. gulungan roving pada bobbin yang dipergunakan untuk mesin ring
spinning juga akan cepat habis.
3. akibat dari 1 dan 2 maka penyediaan bobbin kosong harus lebih
banyak dan potongan roving juga akan bertambah banyak.

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 21


Untuk memperbaiki gulungan roving seperti diatas dapat dilakukan
antara lain dengan jalan menggeserkan balok kecil (d) beberapa mm kekiri
dan penggerseran ini sangat tergantung dari curamnya bentuk gulungan
roving pada bobbin.

Selanjutnya perlu di ingat pada waktu menjalankan kembali bahwa


sebagai akibat penggeseran balok geser kecil d kekiri akan menyebabkan
gulungan roving yang permulaan letaknya di bagian atas mungkin terlalu
tinggi dan di bagian bawah mungkin terlalu rendah, Apabila terjadi demikian
baut F1 dan F2 harus diturunkan sedikit, dan ini berarti mempercepat
membaliknya gerakan dari kereta.

Gambar 42(C) menunjukan bentuk gulungan roving pada bobin atas


dan bagian bawahnya terlalu datar atau kurang curam. Bentuk gulungan
semacam ini memang dapat menggulung roving yang lebih banyak, tetapi
ada kekurangan-kekuranganya, antara lain:

 Bahwa semacam ini dapat mengakibatkan kerewelan-kerewelan,


karena pada waktu terjadi penggulungan roving pada bobin yang
pertama di bagian yang curam.
 letaknya roving sering merosot kebawah, hal ini dapat menyebabkan
banyaknya roving putus pada rak (Creel) sewaktu roving di suapkan
pada mesin ring spinning yang berarti limbah yang terjadi bertambah
banyak.

Untuk menghindarkan hal ini dapat dilakukan perbaikan dengan jalan


menggeserkan balok, penggeser kecil d beberapa mm kekanan dan
memasukan baut F1 dan F2 sedikit.

Gambar 42(D) menunjukan bentuk gulungan roving pada bobin


bagian atasnya terlalu datar atau kurang curam, sedang bagian bawahnya
terlalu curam. Untuk memperoleh bentuk gulungan roving pada bobin yang
normal dapat diadakan perbaikan sebagai berikut :

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 22


1. Pada waktu mesin akan di jalankan untuk permulaan penggulungan
roving pada bobin, usahakan penghantar roving pada f1yer berada
di tengah-tengah bobin kosong. Kemudian dengan menggunakan
alat waterpas kita setel batang bergigi S hingga kedudukannya
datar (horizontal).
2. Baut f1 dan f2 disetel demikian rupa sehingga pada waktu kereta
dijalankan dari bagian tengah ke atas dan kebawah menempuh
jarak yang sama

3.3 Tugas Pendahuluan


Mahasiswa ditugaskan untuk membuat risalah mengenai hal-hal sebagai
berikut:
 Fungsi trix box
 Penjelasan gerakan yang dihasilkan trix box
 Peralatan otomatis pada trix box

3.4 Alat dan Bahan


1. Mesin Fly Frame FA 415 A
2. Jangka
3. Mistar
4. Tool Kit

3.5 Cara Kerja


Mengamati pergeseran racet pada trick box dan menganalisa
kaitannya dengan naik-turunnya kereta, penggeseran belt pada cones
drum dan pembentukan sudut gulungan.

3.6 Tugas Akhir dan Pertanyaan


1. Jelaskan fungsi dari peralatan trix box?
2. Sebut dan Jelaskan mekanisme gerakan yang dihasilkan peralatan
trix box?

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 23


3.7 Tes Formatif

NO Pertanyaan Ya Tdk

1 Apakah anda dapat memahami fungsi dari peralatan trix


box?

2 Apakah anda mengetahui gerakan-gerakan penting yang


dihasilkan oleh peralatan trix box?

3 Apakah anda dapat menjelaskan mekanisme setiap


gerakan naik turun kereta?

4 Apakah anda dapat menjelaskan mekanisme pergeseran


belt pada cone drum ?

5 Apakah anda dapat menjelaskan mekanisme


pembentukan gulungan pada bobin?

3.8 Umpan Balik


Evaluasi tingkat penguasaan Anda dapat dilakukan dengan
menggunakan rumus berikut untuk mengetahui sejauh mana penguasaan
anda terhadap materi pada bab ini :

Rumus :
Materi yang dikuasai
Tingkat penguasaan   100 0 0
5

Arti tingkat penguasaan yang anda capai :

90 % - 100 % = baik sekali

80 % - 89 % = baik

70 % - 79 % = sedang

< 69 % = kurang

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 24


3.9 Tindak Lanjut
Jika anda mencapai tingkat penguasaan 80 % ke atas, tingkat
penguasaan anda terhadap kegiatan belajar tentang bahan baku proses
blowing sudah bagus dan Anda dapat meneruskan dengan kegiatan belajar
berikutnya. Tetapi jika nilai anda di bawah 80 %, pelajari kembali
kegiatan belajar ini, terutama bagian yang belum dikuasai.

4. PERHITUNGAN
4.1 Pendahuluan
Setelah melakukan praktikum pada bab ini mahasiswa diharapkan
memiliki kemampuan untuk:
1. Mengetahui dasar Perhitungan di mesin roving
2. Melakukan Perhitungan Mekanikal Draft, actual drat, Twist di
roving dan perhitungan hasil proses produksi.

4.2 Teori Pendekatan


4.2.1. Tetapan Regangan atau Draft Constant
Draft constant ialah draft yang didapat dengan jalan menghitung
besarnya mechanical draft dari suatu susunan roda gigi dengan memasukan
besarnya roda gigi penganti regangan (DCW) dimisalkan 1.

4.2.2. Mechanical Draft dan Actual Draft


mechanical draft ialah besatnya ragangan yang dihitung berdasarkan
atas perbandingan antara kecepatan permukaan dari rol pengeluaran dan rol
pemasukan. Dengan demikian maka :
𝑉𝑓𝑟𝑜𝑛𝑡𝑟𝑜𝑙𝑙
𝑚𝑒𝑐ℎ𝑎𝑛𝑖𝑐𝑎𝑙 𝑑𝑟𝑎𝑓𝑡 =
𝑉𝑏𝑎𝑐𝑘𝑟𝑜𝑙𝑙
Jika besarnya regangan mekanik akan diubah, biasanya yang diubah adalah
roda gigi DCW. Jika DCW diperkecil maka mechanical menjadi besar dan
sebaliknya jika DCW diperbesar maka mechanical draft akan menjadi kecil.

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 25


Dalam proses pembuatan benang roving pada mesin flyer, karena
adanya prosesnya pereganganmaka kemungkinan terdapat serat yang
menempel pada rol pembersih dan rol atas atau mungkin juga ada yang jatuh
atau beterbangan walaupun sedikit. Dengan demikian, tidak semua sliver
yang disuapkan pada mesin flyer akan menjadi roving, tetapi ada sebagian
serat yang menjadi limbah.
Betapapun kecilnya, limbah pasti ada dan limbah tersebut perlu
diperhitungkan dalam mencari besarnya regangan dan regangan ini disebut
regangan nyata atau actual draft. Misalkan limbah yang terjadi selama proses
pembuatan roving adalah sebesar 2 %. Maka :
100
𝑟𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 = . 𝑀𝐷
100 − 2
Regangan nyata dapat pula dihitung berdasarkan nomor bahan yang keluar
dibagi dengan nomor bahan yang masuk. Pada sistem penomoran kapas,
maka regangan nyata dapat dihitung sebagai berikut :
𝑛𝑜𝑚𝑜𝑟 𝑘𝑒𝑙𝑢𝑎𝑟
𝑟𝑒𝑔𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑛𝑦𝑎𝑡𝑎 =
𝑛𝑜𝑚𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑠𝑢𝑘

 Break draft
Break draft adalah draft yang terjadi antara rol belakang dan rol tengah
yang berguna untuk menguraikan twist pada roving yang menekan serat-
serat yang lain, sehingga pada draft yang pokok antara rol depan dan rol
tengah dapat dicapai kehalusan yang dikehendaki.
𝑘𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑖𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑟𝑜𝑙 𝑡𝑒𝑛𝑔𝑎ℎ
𝑏𝑟𝑒𝑎𝑘 𝑑𝑟𝑎𝑓𝑡 =
𝑘𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑘𝑒𝑙𝑖𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑟𝑜𝑙 𝑏𝑒𝑙𝑎𝑘𝑎𝑛𝑔
Besarnya break draft tergantung dari panjang staple dari serat yang
dikerjakan, kahalusan dan struktur dari seratnya.

4.2.3. Perhitungan Antihan (Twist)


Bahan yang keluar dari rol peregang depan masih merupakan jajaran
serat-serat yang belum mempunyai kekuatan. Agar bahan tadi mempunyai

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 26


kekuatan, perlu diberi antihan. Makin besar antihan yang diberikan pada
bahan, makin besar pula kekuatan yang didapt. Tetapi biasanya antihan yang
diberikan hanya secukupnya agar bahan mempunyai cukup kekuatan untuk
digulung pada bobin.
Untuk mengetahui besarnya antihan, biasanya dinyatakan per satuan
panjang (inchi). Jadi besarnya antihan dinyatakan dalam Twist Per Inchi.
𝑅𝑝𝑚 𝑠𝑝𝑖𝑛𝑑𝑙𝑒
𝑇𝑃𝐼 =
𝑘𝑒𝑐𝑒𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛 𝑝𝑒𝑟𝑚𝑢𝑘𝑎𝑎𝑛 𝑓𝑟𝑜𝑛𝑡 𝑟𝑜𝑙𝑙
Tetapan antihan perlu dicari untuk mempercepat perhitungan apabila
untuk mengganti roda gigi TCW. TCW perlu diganti apabila diinginkan
antihan per inchi pada roving lebih besar atau lebih kecil. Maka untuk
mendapatkan produksi yang sebesar-besarnya, diusakan pemakaian TCW
yang sebesar-besarnya sehingga didapat antihan yang sekecil-kecilnya.
Tetapi bila antihan terlalu kecil, harus diingat bahwa penggulungan roving
pada bobin memerlukan penarikan pada roving. Dengan demikian diperlukan
adanya kekuatan antihan yang cukup pada roving, sehingga pada waktu
terjadi proses penggulungan pada bobin, roving tidak mengalami proses
penggulungan pada bobin, robing tidak mengalami regangan palsu, atau
roving akan putus. Bula terjadi regangan palsu dan roving tidak putus, maka
roving akan menjadi kecil, roving menjadi kurang rata dan nomor yang
dihasilkan akan tidak sesuai dengan nomor yang direncanakan.
Disamping itu roving tersebut harus mempunyai kekuatan yang cukup
untuk memutarkan bobin pada crell pada waktu pengerjaan di mesin ring
spinning tanpa terjadi regangan palsu. Sebaliknya jika antihan pada roving
terlalu besar, maka akan mengalami kesulitan pada proses peregangan
dimesin spinning. Oleh karena itu pemberian antihan pada roving tidak boleh
terlalu besar dan tidak boleh terlalu kecil, tetapi secukupnya saja kira-kira
mampu untuk digulung pada bobin sewaktu proses pengggulungan dimesin
flyer tanpa mengalami banyak putus.

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 27


4.2.4. Koefisien Antihan atau Twist Koeffisien
Besar kecilnya antihan pada roving tergantung kepada panjang serat
kapas yang diolah. Besarnya antihan per inchi dapat digunakan rumus :
𝑇𝑃𝐼 = ∝ √𝑁𝑒1
Dimana ∝ adalah merupakan Koefisien antihan. Harga dari koefisien antihan
tergantung pada jenis serat dan panjang serat yang akan diolah.

4.2.5. Perhitungan produksi


Biasanya produksi suatumesin pemintalan pada umumnya dinyatakan
dalam satuan berat per satuan waktu yang tertentu. Begitu pula untuk mesin
flyer, produksinya dinyatakan dalam satuan berat (kg) per satuan waktu
tertentu (jam).

 Produksi teoritis
Produksi teoritis adalah produksi yang dihitung berdasarkan susunan
roda gigi dengan memperhatikan nomor roving yang akan dibuat pada mesin
flyer serta jenis kapas yang diolah. Produksi per spindel per menit adalah :
𝑅𝑝𝑚 𝑆𝑝𝑖𝑛𝑑𝑙𝑒
𝑝𝑟𝑜𝑑𝑢𝑘𝑠𝑖 𝑠𝑝𝑖𝑛𝑑𝑙𝑒 𝑝𝑒𝑟 𝑚𝑒𝑛𝑖𝑡 =
𝑇𝑃𝐼
 Produksi nyata
Produksi nyata adalah hasil roving dari flyer, yang didapat dari hasil
penimbangan roving dalam satuan waktu tertentu. Biasanya untuk
mengetahui jumlah produksi nyata rata-rata per jam dari mesin flyer. Diambil
data hasil produksi nyata selama periode waktu tertentu, misalnya satu
minggu. Kemudian dihitung jumlah jam efektif dari mesin tersebut. Jumlah
efektif didapat dari jumlah jam kerja dalam seminggu dikurangai jumlah jam
berhenti dari meisn itu. Jadi jumlah produksi nyata per jam adalah : jumlah
produksi nyata per minggu dibagi jumlah efektif per minggu.
Misalkan dalam satu minggu menurut jadwal waktu kerja = 147 jam.
Jumlah mesin flyer yang jalan 5 buah setiap 132 spindel menurut

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 28


pengamatan selama satu minggu terdapat 4 mesin yang diservis masing-
masing memerlukan waktu 7 jam. Menurut laporan ternyata jumlah produksi
hasil penimbangan = 18.000 kg.

4.3 Tugas Pendahuluan

Mahasiswa ditugaskan untuk membuat risalah mengenai hal-hal sebagai


berikut:
 Menghitung kecepatan putar pada roda gigi DCW dan TCW secara teori
sesuai dengan gearing diagram mesin roving
 Penjelasan tentang tetapan regangan, draft constan, actual draft,
mechanical draft, produksi teoritis dan produksi actual dll.
4.4 Alat dan Bahan
a. Mesin Fly Frame FA 415 A
b. Gearing diagram mesin roving
c. Mistar

4.5 Cara Kerja

Melakukan perhitungan kecepatan rpm, produksi, dan perhitungan


lainnya secara teori dan nyata dengan menggunakan rumus yang
telah ada serta membandingkan hasilnya dengan menggunakan alat
tachometer.

4.6 Tugas Akhir dan Pertanyaan

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan draft constan, aktual draft,


mekanikal draft?
2. Jelaskan rumus produksi nyata dan teori?
3. Jelaskan mengapa aktual draft dengan mekanical draft hasil
perhitungannya tidak sama?

4.7 Tes Formatif

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 29


NO Pertanyaan Ya Tdk

1 Apakah anda dapat memahami dasar perhitungan dimesin


roving?

2 Apakah anda mengetahui rumus-rumus dasar perhitungan


di mesin roving?

3 Apakah anda dapat melakukan perhitungan untuk mencari


regangan, twist constan, AD, MD dan Produksi pada
mesin roving?

4 Apakah anda dapat mengubah DCW dan TCW sesuai


dengan kebutuhan produksi?

4.8 Umpan Balik

Evaluasi tingkat penguasaan Anda dapat dilakukan dengan


menggunakan rumus berikut untuk mengetahui sejauh mana penguasaan
anda terhadap materi pada bab ini :

Rumus :
Materi yang dikuasai
Tingkat penguasaan   100 0 0
4

Arti tingkat penguasaan yang anda capai :


90 % - 100 % = baik sekali

80 % - 89 % = baik

70 % - 79 % = sedang

< 69 % = kurang

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 30


4.9 Tindak Lanjut
Jika anda mencapai tingkat penguasaan 80 % ke atas, tingkat
penguasaan anda terhadap kegiatan belajar tentang bahan baku proses
blowing sudah bagus dan Anda dapat meneruskan dengan kegiatan belajar
berikutnya. Tetapi jika nilai anda di bawah 80 %, pelajari kembali
kegiatan belajar ini, terutama bagian yang belum dikuasai.

5. PROSES DAN PENGENDALIAN MUTU


5.1 Pendahuluan
Setelah melakukan praktikum pada bab ini mahasiswa diharapkan
memiliki kemampuan untuk:
1. Mengetahui persyaratan mutu Roving
2. Menganalisa hambatan yang terjadi dan penanggulangannya
pada saat melakukan proses produksi.
3. Melakukan maintenance dan scouring pada mesin roving

5.2 Teori Pendekatan


5.2.1. Persyaratan Mutu Roving
Hasil dari mesin flyer adalah roving. Roving ini harus selalu dikontrol
mutunya agar tidak menyimpang dari standar yang ditetapkan. Ada 4 macam
pengetesan mutu produksi mesin flyer yaitu :
a. Pengujian Nomor Roving
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui nomor roving yang
dihasilkan. Apakah sesuai dengan yang direncanakan atau tidak.
b. Pengujian kerataan Roving
Pengujian ini dilakukan untuk mencari ketidakrataan (U%) dari roving
yang dihasilkan. Biasanya dalam pengujian ini menggunakan mesin
evenness tester.
c. Pengujian kekuatan roving

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 31


Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kekuatan roving per helai.
d. Pengujian antihan pada Roving
Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar twist/antihan
pada tiap satuan inch atau meter, pada pengujian ini menggunakan
alat namanya twist tester.

5.2.2. Maintenance Mesin Roving


Perawatan dan pemeliharaan mesin roving sangat diperlukan untuk menjaga
mutu roving, dibawah ini ada beberapa bagian yang harus dilakukan
perawatan antara lain:

a. Setting Lift of building motion (panjang langkah kereta)


Setting ini dimaksudkan untuk mengembalikan kondisi atau ukuran
panjang langkah kereta sesuai dengan bobbin yang digunakan pada
proses produksi.
b. Seting Setting Cut rack anchor bar
Setting ini dimaksudkan untuk memastikan posisi cut rack achor dan
double rack achor pada saat berada segaris horizontal, pen lock nya
berada pada batas maksimum.
c. Setting Cone Drum
Bertujuan agar pada posisi start awal belt cone drum berada pada batas
yang ditentukan.
d. Setting posisi bobbin rail pada saat doffing.

5.3 Tugas Pendahuluan


Mahasiswa ditugaskan untuk membuat risalah mengenai hal-hal
sebagai berikut:
 Menghitung kecepatan putar pada roda gigi DCW dan TCW
secara teori sesuai dengan gearing diagram mesin roving
 Penjelasan tentang tetapan regangan, draft constan, actual draft,
mechanical draft, produksi teoritis dan produksi actual dll.

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 32


5.4 Alat dan Bahan
a. Mesin Fly Frame FA 415 A
b. Gearing diagram mesin roving
c. Mistar

5.5 Cara Kerja


5.5.1. Proses Produksi
Langkah Kerja:
1. Ambil sampel sliver drawing, kemudian ukur panjang 1 yard
sebanyak 3 kali kemudian timbang untuk mencari nomor sliver awal.
2. Masukkan benang pada sliver sebagai alat bantu untuk mengukur
twist. Persiapkan sliver pada mesin roving dan letakkan bobin pada
spindle. gunakanlah pancingan agar mempermudah dalam proses
pemasukan roving ke dalam sayap flyer.
3. Baca cara pengoperasian mesin, yaitu sebagai berikut :
a. Menyalakan power (switcth on posisi).
b. Siapkan sliver samapai siap dipasangan rol draft ( usahakan
spindle yang dipakai seimbang).
c. Cek belt cone drum sudah betul pada posisi awal.
d. Cek DCW dan TCW serta input data yang diperlukan sudah
sesuai belum.
e. Cek baut sudah kencang apa belum.
f. Setelah semua dicek siap, buat pancingan awal pada tombol
“JOG”.
g. Tekan tombol start.
4. Setelah produksi dijalankan dan dihasilkan roving. Maka ambil
sempel untuk dicari nomor akhir (Nomor roving).
5. Menghitung :
a. Mechanical draft
b. Actual draft
c. Total draft

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 33


d. Twist
e. Effisiensi
5.5.2. Cara kerja mengetahui persyaratan mutu roving
a) Pengujian Nomor Roving
Pengujian ini dilakukan dengan menimbang roving tiap 20 yards atau
30 yards. Penimbangan ini dilakukan dengan gram balance dengan
satuan berat gram.
b) Pengujian kerataan Roving
Untuk ini dilakukan dengan alat Uster Evenness Tester. Dengan alat
ini kita akan mendapatkan angka persentase ketidakrataan angka
persentase ketidakrataan dari roving dengan satuan U%.
c) Pengujian kekuatan roving
Pada perkembangannya pengendalian mutu belakangan ini, roving
juga dikontrol kekuatannya. Hal ini dilakukan dengan penarikan
roving perhelai dengan satuan gram.
d) Pengujian antihan pada Roving
Untuk ini dilakukan dengan alat Twist Tester dan julah pengujiannya
umumnya dilakukan 15 kali pengujian.

5.5.3. Prosedur maintenance mesin roving


a) setting Lift of building motion (panjang langkah kereta)

Set posisi double anchor bar sehingga cut rack anchor bar posisi lurus
horizontal (level) pada saat bobbin rail pada posisi di tengah-tengah.
Kemudian turunkan bobbin rail pada kedudukan paling bawah, kemudian
ubah posisi reversing bracket pada posisi berlawanan dengan menekan
swallow tail cotch ke bawah dengan cara memutar baut penyetel (adjusting
screw). Kerjakan hal yang sama untuk posisi bobbin rail yang paling atas.

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 34


b) Seting Setting Cut rack anchor bar
Pada posisi awal start, set cut rack anchor bar dengan menarik long
rack pada posisi stopper ketika bobbin rail pada posisi tengah, sehingga cut
rack anchor bar tertarik ke sisi luar dari double anchor bar. Kemudian
keraskan screw setelah clearance antara stud dan ujung dari bracket = 7
mm. (Posisi ini supaya di check lagi pada akhir gulungan)

c) Setting Cone Drum

Top dan bottom cone drum harus masing-masing di set tidak center,
ada selisih jarak 6 mm. (Seperti tampak pada gambar)

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 35


d) Setting posisi bobbin rail pada saat doffing.
a. Over bobbin rail saat doffing
Turunkan bobbin rail ke bawah
dengan handle, atur jarak antara
ujung bobbin dengan ujung flyer ±
40 mm. Atur limit switch pada lifter
rack (OE side) sehingga pada
posisi tersebut limit switch bekerja.

b. Posisi pemasangan bobbin

Naikkan bobbin rail dengan handle


ke posisi dimana ujung bobbin 3~5
mm lebih tinggi dari pada ujung
spindle. Set limit switch sehingga
pada posisi tersebut limit switch
bekerja.

c. Posisi start

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 36


Naikkan bobbin rail dengan memutar handle, dari posisi start ke posisi
dimana cloth wound berada pada posisi tengah-tengah dari presser
eye. Set limit switch sehingga pada posisi tersebut bisa bekerja.

d. Over run switch


Naikkan bobbin rail dengan handle sampai pada posisi 2 mm dari titik
revershing bevel berbalik. Set limit switch sehingga pada posisi
tersebut ia bekerja. Dalam posisi ini, check jarak antara ujung spindle
dengan cop dari bobbin wheel dan dari ujung atas bobbin. Bila limit
switch ini bekerja, motor bobbin rail dan main motor stop.

5.5.4. Scouring mesin roving

Langkah kerja:
1. Siapkan peralatan.
2. Stop mesin dan panel di ‘OFF’.
3. Lepaskan sliver dan ambil roving yang ada di mesin (doffing).
4. Buka top cleaner.
5. Buka arm.
6. Lepaskan top roller dan cradle, bawa ke roll shop.
7. Lepaskan collector.
8. Buka plat needle bearing bottom roller.
9. Lepas condensor.
10. Lepas pressure bar.
11. Lepas compound wheel.
12. Lepas carrier wheel.
13. Sikat top cleaer dan bottom cleaner.
14. Bersihkan arm.
15. Bersihkan top cleaner dan bottom cleaner.
16. Bersihkan pressure bar.
17. Bersihkan drafting zone.
18. Bersihkan bottom roller dan needle bearing bottom roller.

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 37


19. Periksa bottom apron.
20. Ganti bottom apron yang rusak.
21. Pasang compound wheel dan carrier wheel.
22. Pasang pressure bar.
23. Pasang condensor.
24. Pasang plat needle bearing bottom roller.
25. Buka flyer cup dan cuci dengan air hangat.
26. Periksa coupling gear flyer.
27. Periksa setting gear flyer.
28. Pasang flyer cup.
29. Cuci presser flyer.
30. Periksa coupling gear bobbin.
31. Periksa setting gear bobbin.
32. Bersihkan gear end.
33. Bersihkan mesin bagian belakang.
34. Periksa cone drum.
35. Periksa bearing magnetic break.
36. Periksa gearbox.
37. Pasang kembali top roller.
38. Greasing:
 Gear flyer.
 Gear bobbin.
 Semua ball bearing.
 Needle bearing bottom roll.
39. Pelumasan (dengan oli):
 Lang rack.
 Bracket bottom cone drum.
 Bracket top & bottom cleaner.
 Ganti oli gearbox (4 bulan sekali).
40. Mesin dijalankan kosong.

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 38


5.6 Tugas Akhir dan Pertanyaan

1. Jelaskan persyaratan mutu roving?


2. Sebutkan dan jelaskan bagian-bagian roving yang perlu dilakukan
maintenance?
3. Jelaskan langkah kerja scouring pada mesin roving?

5.7 Tes Formatif

NO Pertanyaan Ya Tdk

1 Apakah anda dapat memahami persyaratan mutu roving?

2 Apakah anda dapat melakukan maintenance dan setting


bagian-bagian penting mesin roving?

3 Apakah anda dapat melakukan scouring pada mesin


roving?

4 Apakah anda dapat melakukan proses produksi pada


mesin roving?

5.8 Umpan Balik


Evaluasi tingkat penguasaan Anda dapat dilakukan dengan
menggunakan rumus berikut untuk mengetahui sejauh mana penguasaan
anda terhadap materi pada bab ini :

Rumus :
Materi yang dikuasai
Tingkat penguasaan   100 0 0
4

Arti tingkat penguasaan yang anda capai :


90 % - 100 % = baik sekali

80 % - 89 % = baik

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 39


70 % - 79 % = sedang

< 69 % = kurang

5.9 Tindak Lanjut


Jika anda mencapai tingkat penguasaan 80 % ke atas, tingkat
penguasaan anda terhadap kegiatan belajar tentang bahan baku proses
blowing sudah bagus dan Anda dapat meneruskan dengan kegiatan belajar
berikutnya. Tetapi jika nilai anda di bawah 80 %, pelajari kembali
kegiatan belajar ini, terutama bagian yang belum dikuasai.

Modul Praktikum Teknologi Pemintalan 2 | Bab …. 40