Anda di halaman 1dari 4

TINJAUAN PUSTAKA

ONTOLOGI

Disusun oleh:
PPDS Tahap Basic
dr. Dewita Nilasari
dr. Dwi Notosusanto
dr. Yoarva Malano

Pembimbing:
Prof. Dr. dr. T. Z. Jacoeb, SpOG(K)

Departemen Obstetri dan Ginekologi


Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Jakarta, 2018
BAB II
PEMBAHASAN

I. Penerapan Ontologi di Berbagai Bidang Ilmu


Terdapatnya ilmu pengetahuan dan teknologi dalam filsafat ilmu, misalnya
pembahasan secara ontologis yang menjelaskan mengenai pluralitas ilmu pengetahuan
dan teknologi berhubungan dalam satu kesatuan dalam objek materi yaitu manusia,
alam, dan Tuhan. Selain itu, juga terdapat ikatan dalam satu kesatuan hubungan dalam
objek formanya seperti sudut pandang yang bersifat umum. Menurut objeknya, baik
yang material ataupun yang formal, pluralitas ilmu pengetahuan bersatu dalam satu
kesatuan system hubungan yang memiliki sifat interdisipliner dan multidisipliner.
Dibutuhkan suatu makna ontologis secara realistis dalam kehidupan untuk
seluruh manusia agar ilmu pengetahuan yang tepat dapat dipelajari sehingga hal ini
menjadi sebuah pembelajaran terbaik mengenai pentingnya makna dari segala segi
ontology dalam setiap aspek kehidupan.
Apabula diterapkan pada kegiatan pendidikan, aspek ontology merupakan
proses pendidikan dengan penekanan pada pendirian filsafat hidup, suatu pandangan
hidup yang dijiwai dengan nilai kejujuran.1
Ontologi dalam Teknologi Informasi
Ilmu ontologi membatasi ruang lingkup ada kajian keilmuan yang dapat
dipikirkan manusia secara rasional dan yang dapat diamati melewati panca indera
manusia. Wilayah ilmu ontology terbatas pada pengetahuan ilmiah manusia.2
Ontologi diperlukan terintegrasi dengan baik dalam penerapannya dengan
system informasi. Ontologi dapat dipakai sebagai alat perekayasa pengetahuan,
misalnya terdapat pemercahan masalah yang berlaku pada suatu system maka dapat
ditetapkan menjadi suatu pengetahuan sehingga dapat dimanfaatkan oleh system yang
lain.
Boris Wyssusek mengatakan bahwa ontologi akan bermanfaat dalam
perkembangan system informasi jika usaha dalam penciptaan dasar-dasar ontological
meninggalkan pengertian dari filsafat klasik atau metafisik.3
Peningkatan ontologi pada ilmu komputer menyebabkan pembuatan perangkat
lunak menjadi lebih rumit dan terfokus pada data.

Ontologi dalam Kecerdasan Buatan


Di bidang kecerdasan buatan, ontologi memiliki dua pengertian yang
berhubungan. Pertama, ontologi merupakan kosakata representasi yang sering
diperuntukkan untuk domain atau subyek pembahan tertentu. Kedua, sebagai body of
knowledge untuk memahami suatu materi tertentu.
Ontologi ialah sebuah uraian formal yang menjelaskan mengenai sebuah
konsep dalam sebuah domain tertentu, berbagai properti dari setiap konsep
menjelaskan bermacam-macam corak dan atribut dari sebuah konsep. Secara umum,
ontology dipakai pada kecerdasan buatan.
2
Ontologi Ilmu Obstetri dan Ginekologi
Ilmu kedokteran yang berkaitan dengan reproduksi menjadikan organ reproduksi
menjadi bahan pembelajarannya. Berbagai gejala yang dapat diamatidan kondisi
klinis yang normal ataupun abnormal, seluruhnya akan ditelaah pada ilmu kedokteran
ini, misalnya yang tampak jelas seperti organ kelamin, berukuran kecil seperti sel
telur dan psikososial.4
Obstetri merupakan profesi yang mandiri dan memerlukan pengetahuan teoritis yang
jelas. Pengetahuan ini dirumuskan dengan mengacu pada filsafat ilmu, oleh sebab itu
dapat sesuai dengan karakteristik dan spesifikasi pengetahuan yang berdimensi dan
ilmiah. Ilmu obstetri memiliki pokok-pokok karakteristik dan detail yaitu:
1. Objek materia ilmu obstetri
Objek materia ilmu obstetric ialah bagian dari objek penelaahan dalam ruang
lingkup tertentu. Objek materia dalam disiplin keilmuan obstetric meliputi
janin, bayi baru lahir, bayi dan anak di bawah lima tahun dan wanita secara
utuh dalam fase kehidupannya. Fase kehidupan wanita yang dimaksud
meliputi masa kanak-kanak, pra remaja, remaja, dewasa muda, dewasa lansia
dini dan lansia lanjut, masa reproduksi pada masa pra konsepsi, masa
kehamilan, masa melahirkan, masa nifas/menyusui dan bayi baru lahir.
2. Objek forma ilmu obstetri
Objek forma ilmu obstetric yaitu cara pandang yang memiliki focus pada
objek telaah dalam batas atau suatu ruang lingkup. Objek forma dari disiplin
keilmuan obstetric ialah mempertahankan status kesehatan reproduksi seperti
kesejahteraan wanita sejak lahir hingga masa tua termasuk usaha keamanan
dan kesejahteraan ibu dan janinnya pada pra konsepsi masa kehamilan, masa
persalinan, masa nifas/masa menyusui, dengan demikian kondisi sejahtera
pada ibu dan janinnya dapat diperoleh dengan baik dan ibu dapat merawat
bayinya secara optimal.
Tubuh pengetahuan obstetri (body of midwifery knowledge) dapat dikelompokkan
menjadi empat yaitu:
1. Ilmu dasar, yang meiputi anatomi, psikologi, mikrobiologi, parasitologi,
patofisiologi, fisika, dan biokimia.
2. Ilmu sosial, yang meliputi Pancasila dan Wawasan Nusantara, Bahasa
Indonesia, Bahasa Inggris, sosiologi, antropologi, psikologi, administrasi dan
kepemimpinan, ilmu komunikasi, humaniora, dan pendidikan (prinsip belajar
dan mengajar).
3. Ilmu terapan, yang meliputi kedokterab, farmakologi, epidemiologi, statistic,
paradigm sehat, ilmu gizi, hokum kesehatan, kesehatan masyarakat, dan
metode riset,
4. Ilmu obstetri, yang meliputi dasar0dasar obstetric, teori dan model konseptual
obstetri, siklus kehidupan wanita, etika dan etiket obstetric, pengantar obstetric
professional, teknik dan prosedur obstetric, asuhan obstetric yang
berhubungan dengan kesehatan reproduksi, tingkat dan jenis pelayanan
obstetric, legislasi obstetric, dan praktik klinik obstetric.

3
Objek ilmu obstetri ialah:
1. Wanita
2. Reproduksi
3. Keluarga
4. Persalinan
Sebagai usaha untuk mencapai keamanan dan kesejahteraan ibu dan janinnya maka
dikembangkan prinsip obstetric dalam pemberian asuhannya. Pelayanan dokter di
Indonesia berdasarkan konsep yang menerangkan proses asuhan obstetri yaitu:
1. Tindakan obstetri yang tepat dan aman
2. Memberi kepuasan klien sesuai dengan kondisi permasalahannya dan hasil
yang dicapai dari tindakan yang dilakukan
3. Menghargai derajat manusia dan haknya untuk dapat memutuskan keputusan
sendiri
4. Menghargai perbedaan sosial budaya seseorang
5. Kontak keluarga
6. Peningkatan kesehatan
7. Mengikutsertakan masyarakat dalam hal ini kelompok ibu-ibu.

DAFTAR PUSTAKA

1. Suhartono. Filsafat Ilmu Pendidikan. Jogjakarta: Ar-Ruz Media; 2005.


2. Arofah S. Kajian Filsafat (Ontologis, Epistemologis, dan Aksiologis) dengan
TIK. Makassar; 2011.
3. Boris Wyssusek. Ontology and Ontologies in Information Systems Analysis
and Design: A Critique. Proceedings of the Tenth Americas Conference on
Information Systems, New York, August 2004.
4. WHO. Sexual heath-a new focus for WHO. Progress in Reproductive Health
Research. 2004:67.