Anda di halaman 1dari 42

BAB I

PENDAHULUAN
Dalam perkembangan penelitian kualitatif terdapat beragam istilah yang
digunakan untuk menyebut bentuk-bentuk penelitian kualitatif. Beragam istilah yang
digunakan antara lain: naturalistik, pascapositivistik, etnogravik, fenomenologis,
subjektif, interpretif, studi kasus, humanistik, dsb. Istilah-istilah tersebut digunakan
berdasarkan kelompok ilmunya, misalnya istilah naturalistik datang dari bidang
sosiologi, bidang antropologi menggunakan istilah etnografi, dan bidang psikologi
menggunakan istilah studi kasus. Penelitian kualitatif dalam beragam bentuknya pada
dasarnya bersumber dari pola pikir penelitian bentuk rancangan percobaan (riset
eksperimental), yang menekankan pada aktivitasnya dalam wujud uji coba perlakuan
yang benar-benar dikendalikan oleh penelitiannya (treatment).
Penelitian kualitatif pada hakekatnya mendasarkan diri pada tafsir hermeneutik
yang bersifat anti fundasional (Smith & Heshusius, 1986), yang berarti tidak
menggunakan tolak ukur yang berlaku umum. Fokus dan kekhususan subjek yang
diteliti akan selalu mengikat hasil penelitian kualitatif, dan tidak bisa digeneralisasikan
sebagai halnya yang terjadi pada penelitian kuantitatif. Penelitian kualitatif cenderung
bersifat kontekstual, yang hasilnya tidak mudah bisa digeneralisasikan hanya dengan
patokan umum yang bisa diartikan sebagai suatu “pemaksaan” terhadap suatu yang
bersifat khusus.

BAB II
PARADIGMA ILMU METODOLOGI PENELITIAN

Dalam menanggapi perkembangan pengetahuan manusia, Aguste Comte (dalam


Bertens, 1981) sebagai tokoh postivisme telah merumuskan adanya tiga jaman yaitu
jaman teologis, metafisis, dan positif. Pada jaman teologis diyakini adanya kuasa adi
kodrati yang mengatur fungsi gerak dan semua gejala alam ini. Jaman ini terbagi
menjadi tiga periode yaitu animisme, politeisme, dan monoteisme. Pada jaman metafisis
kuasa adi kodrati tersebut telah digantikan dengan konsep-konsep abstrak, seperti
halnya “kodrat” dan “penyebab.” Selanjutnya pada jaman positif, manusia telah

1
membatasi diri pada fakta yang tersaji dan menetapkan hubungan antarfakta tersebut
atas dasar observasi dan dengan menggunakan kemampuan rasionya.
Atas dasar itu perkembangan ilmu pengetahuan terbagi menjadi tiga periode,
yang pada awalnya bersifat teologis, kemudian berkembang menjadi metafisis, dan
selanjutnya dianggap mencapai kematangan positif. Jaman positif ini berkaitan dengan
berkembangnya aliran positivisme, yang menyatakan bahwa pengetahuan kita tidak
boleh melebihi fakta, karena ilmu pengetahuan bersifat faktual. Sampai dengan saat ini
ternyata perkembangan jaman tersebut tidak berakhir sampai pada positivisme saja,
karena sudah berkembang faham baru yang mulai meninggalkan positivisme dan
memulai jaman baru yang disebut dengan jaman pascapostivisme. Dengan demikian
jaman keilmuan pada saat ini terdiri dari tiga jaman yaitu jaman prapositivisme,
positivisme, dan pascapositivisme (Lincoln dan Guba, 1985).

1. Teori Kebenaran dan Paradigm Ilmu


Julienne Ford (Lincoln & Guna, 1985) dalam bukunya yang berjudul Paradigms
and Fairy Tales (1975) menyatakan bahwa istilah kebenaran bisa memiliki empat
macam arti yang berbeda, yaitu kebenaran empiris, kebenaran logis, kebenaran etis,
dan kebenaran metafisis. Kebenaran empiris adalah kebenaran yang biasa
digunakan oleh para ilmuwan, merupakan suatu pernyataan dalam bentuk hipotesis
atau sebutan (penerimaan atau penolakan sesuatu) jika ia sejalan dengan alam, atau
dengan menggunakan bahasa Ford “presesrves the appearances.”
Kebenaran ini sejalan dengan teori korespondensi dengan eksponen utamanya
Bertrand Rusell, yang merumuskan bahwa suatu pernyataan adalah benar jika
materi yang dikandung pernyataan tersebut berhubungan dengan objek yang dituju
oleh pernyataan tersebut, atau dengan kata lain, suatu kalimat observasi adalah
benar jika ia berhubungan dan sejalan dengan kenyataan atau realitasnya.
Selanjutnya kebenaran dinyatan sebagai kebenaran logis bila merupakan
pernyataan yang secara logis atau matematis sejalan dengan dengan pernyataan lain
yang telah diketahui sebagai sebagai benar (menurut kebenaran logis), atau berakhir
dengan beberapa kepercayaan dasar yang dinyatakan sebagai kebenaran metafisis.
Kebenaran ini sejalan dengan teori kehorensi yang menyatakan bahwa suatu
kalimat observasi adalah benar jika ia dapat dibuktikan dengan suatu teori tertentu
(Lincoln & Guba,1985), atau bersifat koheran atau konsisten dengan pernyataan

2
yang sebelumnya sudah dianggap benar (Jujun S. Suriasumantri, 1985). Sedangkan
kebenaran etis merumuskan bahwa suatu pernyataan adalah benar jika seseorang
yang menyatakannya berbuat sesuai dengan ukuran pelaksanaan yang bersifat
moral atau profesional. Kebenaran metafisis dengan pengertian bahwa suatu
pernyataan kebenaran tak dapat diuji kebenarannya dengan hanya dihadapkan pada
beberapa norma eksternal semacam kesesuaian dengan alam, penarikan simpulan
logis, atau pun ukuran pelaksanaan profesional.
Paradigma adalah seperangkat kepercayaan sistematis semacam itu berikut
dengan metode-metode yang menyertainya. Suatu paradigma adalah suatu
pandangan dunia, sebuah perspektif umum, suatu cara mengurai kerumitan dunia
nyata. Paradigma menjelaskan kepada apa yang sah, penting, dan beralasan.
Paradigma juga bersifat normatif, menjelaskan kepada pelaksananya apa yang perlu
dilakukan tanpa perlunya konsiderasi epistemologis atau eksistensial.
2. Jaman Prapositivisme
Pada jaman ini para ilmuwan bertindak sebagai pengamat pasif, dan semuanya
berjalan secara “alamiah.” Aristoteles percaya pada gerakan alamiah, dan intervensi
manusia akan menghasilkan gerakan yang selalu memerlukan energi dan tidak
berkelanjutan serta tidak alamiah. Ia menyumbangkan dua prinsip, yang secara
umum dikenal sebagai “hukum kontradiksi” yang menyatakan bahwa tak pernah
ada proposisi yang bisa benar dan juga salah, yang kedua-duanya terjadi pada
waktu yang sama, dan hukum “excluded middle” yang menyatakan bahwa setiap
proposisi mestinya baik yang benar ataupun salah, yang bilamana dilakukan oleh
yang bukan intervensionis atau pengamat pasif tampak cukup untuk mendukung
pemahaman ilmiah yang diperlukan.
3. Jaman Positivisme
Positivisme bisa dirumuskan sebagai sekeluarga filsafat yang bercirikan evaluasi
pengetahuan dan metode ilmiah yang secara ekstrim positif. Gerakan filsafat
dimaksudkan untuk melakukan reformasi pada beragam area yang berbeda seperti
etika, religi, politik, dan filsafat. Namun pada kenyataannya positivisme memiliki
dampak yang kuat tidak pada etika, religi, politik, dan filsafat, tetapi justru pada
metode ilmiah. Paham positivisme menyatakan bahwa pengetahuan kita tidak boleh
melebihi fakta. Dalam perkembangan positivisme terdapat beragam tingkat

3
keyakinan yang tidak sama, secara umum beberapa pernyataan penting dari aliran
ini:
 Ilmu pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam memiliki tujuan yang sama,
yaitu menemukan hukum umum yang mendukung penjelasan dan prediksi
 Hukum-hukum alam dapat dirumuskan secara alamiah (induktif) dari data.
 Segala sesuatu bergerak dalam suatu cara yang berkelanjutan.
 Pengamat mengamati tanpa terganggu.
 Dalam ilmu alam, pengalaman dilakuakan secara objektif, dapat diuji, dan
dengan kebebasan penjelasan teoretis.
 Peneliti dan yang diteliti merupakan subjek dan objek yang bebas berdiri
sendiri-sendiri.
a. Kritik terhadap Positivisme
Kritik tersebut dirumuskan oleh Lincoln & Guba (1985) di dalam
bukunya yang berjudul “Naturalistic Inquiry” meliputi:
1) Positivisme membawa kita pada suatu konseptualisasi ilmu pengetahuan yang
kurang memadai
2) Positivisme tidak mampu menghadapi secara baik dua aspek penting yang
berinteraksi mengenai hubungan teori-fakta
3) Positivisme sangat tergantung pada operasionalisme yang telah dinilai semakin
tidak cukup memadai.
4) Positivisme paling tidak memiliki dua hal yang bertentangan dan tidak mendasar
5) Positivisme telah memghasilkan penelitian dengan responden manusia yang
mengabaikan kemanusiawiannya, sebagai suatu fakta yang punya implikasi etis
dan juga validitasnya.
6) Positivisme ternyata terlalu cupet dalam menggarap formulasi
konseptual/empiris dari berbagai bidang
7) Positivisme bersandar pada paling tidak lima asumsi yang semakin sulit
dipertahankan
4. Jaman Pascapostitivisme
Pascapositivisme bersifat kontras dengan positivisme. Positivisme bersifat
deterministik dan terikat pada kepastian, sedang paradigma baru adalah
probabilistik dan spekulatif. Pascapositivisme merupakan paradigma baru yang

4
berkembang atas kesadaran akan beragam kelemahan pada paradigma sebelumnya.
Apa yang diperlukan adalah transformasi, bukan sekedar penambahan untuk
perbaikan.
a. Pengaruhnya Pada Penelitian
Dalam setiap paham atau pun paradigma terdapat lima macam aksioma yang
menjadi dasar pelaksanaan penelitian. Lima aksioma tersebut meliputi (1)
realitas, (2) hubungan antara peneliti dengan yang diteliti, (3) hubungan kausal
(sebab-akibat), (4) generalisasi, dan (5) nilai dan penelitian.
Aksioma 1: jenis realitas (ontologi)
Versi positivis:
Hanya ada satu realitas yang dapat ditangkap dengan indera, yang dapat
dipecah-pecah menjadi variabel-variabel bebas dan proses-proses, yang
semuanya dapat dipelajari sendiri-sendiri secara terpisah dari yang lainnya.
Versi pascapositivis
Penelitian terhadap realitas yang jamak ini tak terhindarkan akan terpencar
(setiap penelitian menyatakan lebih benyak pertanyaan daripada jawabannya)
sehingga prediksi dan kendali bukanlah hasil yang diharapkan, meski beberapa
tingkat pemahaman dapat dicapai.
Aksioma 2: Hubungan antara peneliti dan yang diteliti
Versi positivis:
Peneliti dan sasaran penelitian merupakan dualisme yang terpisah bebas, selalu
diusahakan agar tidak saling mempengaruhi untuk menjaga objektivitas hasil
penelitian.
Versi pascapositivis:
Peneliti dan sasaran yang diteliti saling berinteraksi, dan keduanya tak bisa di
pisah-pisahkan.
Aksioma 3: kemungkinan generalisasi
Versi positivis:
Tujuan penelitian adalah untuk mengembangkan tubuh pengetahuan yang
berlaku umum dala, bentuk generalisasi, yaitu pernyataan yang benar, dan bebas
dari konteks dan waktu, tetap berlaku dimana saja, dan kapan saja.

5
Versi pascapositivis:
Tujuan penelitian adalah untuk mengembangkan tubuh pengetahuan yang terikat
konteks dan waktu dalam bentuk “hipotesa kerja” yang menyatakan kasus
individual.
Aksioma 4: Kemungkinan hubungan kausal
Versi positivis:
Semua aksi dapat dijelaskan sebagai suatu hasil dari suatu sebab nyata yang
mendahului dampaknya.
Versi pascapositivis:
Semua wujud adalah dalam keadaan saling membentuk secara simultan,
sehingga tidak mungkin membedakan/memisahkan sebab dari akibat.
Aksioma 5: Peran nilai dan penelitian (aksiologi)
Versi positivis:
Penelitian adalah bebas nilai dan dapat dijamin sedemikian dengan hasilnya
yang objektif karena kekuatan metodologi objektif yang digunakan.
Versi pascapositivis:
Penelitian adalah terikat nilai, paling tidak dalam lima cara:
1) Penelitian dipengaruhi oleh nilia penelitiannya seperti terpapar dalam pemilihan
masalah, evaluasi, atau pilihan kebijakan, dan di dalam pembuatan kerangka,
pembatasan, pemfokusan masalah, evaluasi, atau pilihan kebijakan.
2) Penelitian dipengaruhi oleh pilihan paradigma yang membimbing pencarian
fokus dalam masalah.
3) Penelitian dipengaruhi oleh pilihan teori substantif yang digunakan untuk
menuntun pengumpulan data dan analisisnya, dan dalam interpretasi temuan-
temuannya.
4) Peneitian dipengaruhi oleh nilai yang menyatu dalam konteksnya.
5) Permasalahan, evaluasi, atau pilihan kebijakan, paradgma, teori, dan konteks
harus menunjukkan kesesuaian nilai bilamana penelitian ingin menghasillkan
hasil yang bermakna.

6
BAB III
TEORI PENDUKUNG DAN KARAKTERISTIK METODOLOGI PENELITIAN
KUALITATIF

A. Teori Penunjang Metodologi Penelitian Kualitatif


Beberapa teori yang menunjang dan mewarnai metodologi penelitian kualitatif
adalah fenomenologi, hermeneutik, interaksi simbolik, etnometodologi, dan juga teori
budaya.
1. Fenomenologi
Perspektif Fenomologis menempati kedudukan sentral dalam perkembangan
metodologi penelitian kualitatif. Fenomenologi memandang perilaku manusia, apa
yang mereka katakan, dan apa yang mereka lakukan, adalah sebagai suatu produk
dari bagaimana orang melakukan tafsir terhadap dunia mereka sendiri. Tugas
penelitian kualitatif adalah untuk menangkap proses tersebut, dan untuk itu
diperlukan apa yang disebut oleh Weber verstehen, atau pemahaman empatik
(emphaty), dengan cara merasa berada di dalam diri orang lain yaitu kemampuan
untuk memproduksi diri di dalam pikiran orang, perasaan, motif yang menjadi
latarbelakang kegiatannya.
Penelitian dengan cara ini dimulai dengan sikap diam dan terbuka tanpa
prasangka. Artinya peneliti tidak menganggap dirinya mengetahui makna dari
berbagai hal yang terjadi dan ada pada orang-orang yang sedang dipelajarinya. Sikap
diam dan terbuka ini merupakan usaha untuk bisa menangkap segala kemungkinan
(dengan pikiran tanpa prasangka dan tidak berpikir prediktif) dari apa yang sedang
dipelajari. Dengan demikian cara fenomenologis menekankan pada berbagai aspek
subjektif dari perilaku manusia supaya dapat memahami tentang bagaimana dan apa
makna yang mereka bentuk dari berbagai peristiwa di dalam kehidupan sehari-
harinya.
2. Hermeneutik
Hermeneutik mengarah pada penafsiran ekspresi yag penuh makna dan
dilakukan dengan sengaja oleh manusia. Artinya, kita melakukan interpretasi atas
interpretasi yang telah dilakukan oleh pribadi atau kelompok manusia terhadap
situasi mereka sendiri (Smith, 1984). Dalam penellitian kualitatif seorang peneliti

7
hanya dapat menyajikan suatu interpretasi (didasarkan pada nilai-nilai, minat, dan
tujuan) atas interpretasi orang lain atau subjek yang diteliti yang juga didasarkan
pada nilai-nilai, minat, dan tujuam mereka sendiri (Smith & Heshusius, 1986).
Dalam perkembangan selanjutnya, hermeneutik telah digunakan oleh para ahli
tafsir kitab suci yang menggunakan bahasa tinggi dan metaforis, agar bisa dipahami
dan dihayati oleh para pengikut agamanya. Bahasa yang metaforis dengan sifat
kelenturannya, akan selalu memungkinkan penafsiran terhadap beragam pernyataan
sesuai dengan konteks sepanjang jaman. Hermenaeutik telah digunakan sebagai cara
tafsir dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang semakin bersifat terbuka dalam
menghadapi beragam kemungkinan di masa depan.
3. Interaksi Simbolik
Interaksi simbolik merupakan aliran dalam sosiologi yang menentang sosiologi
tradisional. Sejalan dengan pendekatan fenomenologis, dasar pandangan atas
interaksi simbolik adalah asumsi bahwa pengalaman manusia diperoleh lewat
interpretasi. Dari prspektif interaksi simbolik ini semua organisasi sosial terdiri dari
para pelaku yang mengembangkan definisi tentang tentang suatu situasi atau
perepektif lewat proses interpretasi dan mereka bertindak dalam atau sesuai dengan
makna definisi tersebut.
4. Etnometodologi
Etnometodologi, merupakan istilah yang digunakan untuk berbagai laporan
penelitian semacam etnografi, juga mempengaruhi perkembangan penelitian
kualitatif. Etnometodologi lebih sering menekankan pada subjek pokok yang diteliti
dan biasanya kurang menyatakan atau menjelaskan metode yang digunakan oleh para
penelitinya. Ia merupakan studi tentang bagaimana individu mencipta dan
memahami kehidupan sehari-harinya, atau metode pencapaian yang digunakan dalam
kehidupan mereka sehari-hari. Subjek penelitiannya bukanlah suku bangsa primitif
(asing) seperti yang sering menjadi subjek etnografi trasdisional, tetapi adalah orang
atau kelompok dalam berbagai situasi khusus/ tertentu di dalam masyarakat kita
(peneliti) sendiri.
5. Teori Budaya
Budaya merupakan pengetahuan yang diperoleh seseorang dan digunakan untuk
menginterpretasikan pengalaman yang menghasilkan perilaku (Spradley, 1980).

8
Budaya yang berbeda, melatih orang yang secar berbeda pula di dalam mengkap
makna persepsi (Knobler, 1971), karena kebudayaan merupakan cara khusus dalam
membentuk pikiran dan pandangan manusia (Cohen, 1971). Kondisi kehidupan
budaya seseorang sangat mempengaruhi persepsi dan penciptaan makna pada setiap
peristiwa sosial, yang dalam setiap kehidupan sosial selalu melibatkan hubungan
antara subjektif dan pembentukan makna.
B. Karakteristik Metodologi Penelitian Kualitatif

Karakteristik metodologi

Pelaksanaan penelitian

Metodologi Proposal
Penelitian kualitatif pengumpulan data
analisis, laporan

Dasar paradigma

teori penunjang

Fenomenologi
Pascapositivisme Hermeneutik
Interaksi simbolik
Etnometodologi
Teori budaya

1. Natural Setting (kondisi seperti apa adanya)


Peneliti hanya berfungsi sebagai motivator dan pendamping atau fasilitator bagi
berlangsungnya kegiatan tersebut. Dalam penelitian kualitatif peneliti menjelajah
kancah dan menggunakan sebagian besar waktunya dalam mengumpulkan data data
secara langsung dan data yang ditangkap benar-benar berdasarkan perspektif para
subjek yang diteliti. Penelitian ini cenderung mengarahkan kajiannya pada perilaku

9
manusia sehari-hari dalam keadannya yang rutin secara apa adanya (Van Maanen et
al., 1984).
2. Permasalahan Masa Kini
Peneliti kualiatif mengarahkan kegiatannya secara dekat pada masalah kekinian.
Kepentingan pokoknya diletakkan pada peristiwa nyata dalam dunia aslinya, bukan
sekedar pada laporanyang ada (Van Maanen et al., 1984); Van maanen, 1985).
Subjek peristiwa yang diteliti adalah subjek masa kini dan bukan subjek masa
lampau seperti dalam kebanyakan penelitian historis (Yin, 1987). Dengan demikian
penelitian kualitatif bersifat empirik dengan sasaran penelitiannya yang berupa
beragam permasalahan yang terjadi pada masa kini.
3. Merumuskan Pada Deskripsi
Penelitian kualitatif melibatkan kegiatan ontologis. Data yang dikumpulkan terutama
berupa kata-kata, kalimat atau gambar-gambar yang memiliki arti lebih daripada
sekedar angka atau frekuensi. Peneliti menekankan catatan yang menggambarkan
situasi sebenarnya guna mendukung penyajian data. Jadi dalam mencari pemahaman,
penelitian kualitatif cenderung tidak memotong halaman kriteria dan data lainnya
dengan simbol-simbol angka. Peneliti berusaha menganalisis data dengan semua
kekayaan wataknya yang penuh nuansa, sedekat mungkin dengan bentuk aslinya
seperti pada waktu dicatat.
4. Peneliti Sebagai Alat Utama Riset (Human Instrument)
Berbagai alat pengumpulan data yang bisa kita kenal dimungkinkan untuk digunakan
sebagai kelengkapan penunjang, namun alat penelitian utamanya adalah penelitinya
sendiri. Oleh karena itu sikap kritis dan terbuka sangat penting, dan teknik
pengumpulan data yang digunakan selalu yanng bersifat terbuka dengan kelenturan
yang luas, seperti misalnya teknik wawancara mendalam (in-depth interviewing),
observasi berperan (participant observation), dan bila diperlukan bisa juga
menggunkan kuisioner terbuka (open-ended questionnaire), analisis dokumen atau
arsip (content analysis), serta diskusi kelompok terarah (focus group discussion).
5. Purposive Sampling
Teknik sampling di dalam penelitian kualitatif fungsinya sebagai “internal
sampling” karena sama sekali bukan dimaksudkan untuk mengusahakan generalisasi
pada populasi, tetapi untuk memperoleh kedalaman studi di dalam suatu konteks

10
tertentu. Cuplikan ini bukan mewakili populasinya tetapi mewakili informasinya,
sehingga bila generalisasi harus dilakukan, maka arahnya cenderung sebagai
generalisasi teori.
Cuplikan sangat bersifat terbuka seperti halnya pada jenis cuplikan yang disebut
“snow-ball sampling” (Yin, 1987), yang berupa penggunaan sampling tanpa
persiapan tetapi mengambil orang pertama yang dijumpai, dan selanjutnya dengan
mengikuti pertunjukan untuk mendapatkan sampling berikutnya sehimgga
mendapatkan data lengkap dan mendalam. Perlu diketahui bahwa jumlah sampling
tidak ditentukan sebab yang penting bukan jumlahya tetapi kelengkapan dan
kedalaman informasi yang bisa digali sesuai dengan yang diperlukan bagi
pemahaman masalahnya.
6. Pemanfaatan “Tacit Knowledge”
Dalam pengumpulan data, penelitian kualitatif tidak hanya mencatat apa yang
dinyatakan secara formal, tetapi juga mencatat berbagai hal yang dirasakan dan
ditangkap secara intuitif oleh penelitinya. Semuanya itu akan tercermin dalam data
pada bagian deskriptif dan reflektifnya. Beragam hal yang kemungkinan ditangkap
secara intuitif pada awalnya harus dipandang sebagai petunjuk untuk mengusahakan
secara lebih teliti, mencari, menggali, dan menelusuri kemungkinan mengenai apa
yang dirasakan sehingga bisa ditemukan kenyataan yang sebenarnya.
7. Makna Sebagai Perhatian Utama Penelitian
Di dalam mengumpulkan beragam informasi. Peneliti memperhatikan proses
bagaimana sesuatu terjadi, karena makna mengenai sesuatu sangat ditentukan oleh
proses bagaimana sesuatu itu terjadi. Penekanan penelitian kualitatif pada proses
secara khusus telah memberi manfaat pada penelitian pendidikan dalam menjelaskan
tentang “prediksi pencapaian diri” mengenai pandangan tentang penampilan kognitif
para siswa di sekolah yang ternyata dipengaruhi oleh harapan gurunya terhadap
mereka. Berbagai pertanyaan dalam penelitian kualitatif menggunakan kata
bagaimana dan mengapa sebagai usaha untuk mendeskripsikan jawaban mengenai
proses.
8. Analisis Induktif
Penelitian kualitatif menekankan pada analisis induktif bukan analisis deduktif.
Penekanan pada proses analisis induktif disebut jyga “empirico inductive research”.

11
9. Struktur Sebagai “Ritual Constraint”
Penelitian kualitatif memandang struktur yang telah ada sebagai hambatan ritual
dalam pelaksanaan di lapangan. Peneliti tidak bisa menggunakan salah satu struktur
yang telah ada sebagai patokan untuk digunkan bagi analisis terhadap konteks yang
sedang dihadapi. Bila struktur yang ada digunakan, maka hal seperti itu bisa berarti
merupakan paksaan terhadap suatu konteks yang bersifat khusus.
10. Penelitian Kualitatif Bersifat Holistik
Dalam penelitian kualitatif ditemui adanya bentuk peneitian terpancang (embedded
research) yaitu penelitian kualitatif yang sudah menentukan fokus penelitian berupa
variabel utamanya yang akan dikaji berdasarkan pada tujuan dan minat penelitiannya
sebelum peneliti ke lapangan setudinya (Yin, 2987).
11. Disain Penelitian Bersifat Lentur dan Terbuka
Desain penelitian disusun secara lentur dan terbuka untuk bisa disesuaikan dengan
kondisi sebenarnya yang dijumpai di lapangan studi. Penelitian kualittaif cenderung
menggunakan pola penelitian siklus (Spradley, 1980). Dengan pola ini peneliti
memiliki kebebasan untuk mengulang kegiatan yang sudah dilakukan guna
medapatkan kemantapan, atau mengubah hal-hal yang tidak tepat untuk lebih
disesuaikan dengan kenyataan konteksnya. Peneliti boleh mengulang beberapa kali
sampai benar-benar puas dan mantap dalam mennagkap fenomena sebagai
pendukung simpulan akhir penelitiannnya.
12. Negotiated Outcomes
Peneliti cenderung untuk merundingkan makna dan interpretasi dengan nara sumber
utamanya (key informant review), sebab bentukan realitas yang akan disusun oleh
peneliti berasal darinya. Oleh karena itu hasil penelitiannya sangat tergantung pada
kondisi dan kualitas interaksi peneliti dengan yang diteliti.
13. Bentuk Laporan dengan Model Studi Kasus
Laporan penelitian kualitatif cenderung menggunakan model laporan studi kasus
yang berbeda dengan yang sering disebut sebagai “laporan ilmiah” atau laporan
teknis. Laporan penelitian kualitatif lebih mementingkan isi, baru menentukan
bentuk laporannya yang dipandang paling sesuai daripada bentuk laporannya sudah
ada dan ditentukan lebih dahulu, kemudian baru mengisinya. Beberapa bentuk
laporan penelitian kualitatif yang menunjukkan kelenturannya bisa disebutkan

12
diantaranya dengan struktur komparatif, struktur kronologis, struktur penyusunan
teori, struktur suspense, dan juga struktur tak berurutan (Yin, 1987).
14. Interpretasi Idiografik
Penelitian ini menekankan untuk menafsir data (termasuk penarikan simpulannya)
secara idiografis, dalam arti lebih cenderung menyajikan kekhususan-kekhususan
kasus daripada secara nomotetis (dalam arti mengikuti hukum-hukum generalisasi)
karena interpretasi yang berbeda cenderung menjadi sangat bermakna bagi realitas
yang berbeda pula.
15. Aplikasi Tentatif
Penelitian ini cenderung bersifat tentatif untuk membuat aplikasi luas tentang hasil
temuannya karena realitasnya bersifar multiperspektif dan berbeda. Oleh karena itu
biasanya aplikasi hasil penelitian lebih ditentukan oleh pembaca laporan yang
mungkin mengalami bahwa ada suatu lokasi tertentu memiliki karakter yang sangat
mirip dengan lokasi penelitian, daripada ditentukan oleh penelitiannya sendiri,
karena penelitiannya sendiri mungkin kurang mengetahui adanya daerah yang mirip
dengan daerah yang telah ditelitinya.
16. Keterkaitan yang Ditentukan Oleh Fokusnya
Hasil temuan penelitian sangat tergantung dari fokus yang dipilih oleh penelitinya
yang mungkin dilakukan berdasarkan tujuan, sasaran evaluasi, kebijakan, dans
ebagainya. Walaupun suatu studi dilakukan pada lokasi yang sama, hasilnya bisa
sangat berbeda bila fokus yang dikaji secara teliti berbeda.
17. Penggunaan Kriteria Khusus Bagi Kebenaran
Pada penelitian kualitatif ini cenderung digunakan prosedur yang bisa memantapkan
kegiatan pengumpulan data dengan beberapa cara misalnya peneliti melakukan
berbagai usaha trianggulasi, “members check” dan review oleh informan utama.
Untuk itu data base serta prosedur penelitiannya perlu disimpan dan dinyatakan
secara jelas bagi usaha verifikasi bilamana diperlukan.

13
BAB IV
PENGUMPULAN DATA DALAM PENELITIAN KUALITATIF

Kegiatan pengumpulan data merupakan bagian yang sangat penting dalam setiap
bentuk penelitian. Penelitian kualitatitif dilandasi strategi pikir fenomenologis selalu
bersifat lentur dan terbuka dengan menekankan analisis induktif yang meletakkan data
penelitian bukan sebagai alat dasar pembuktian tetapi sebagai modal dasar bagi
pemahaman, maka proses pengumpulan data merupakan kegiatan yang lebih lentur dan
dinamis. Penelitian kualitatif maupun penelitian kuantitatif sama-sama mengakui
adanya dua jenis data yaitu data kuantitatif (yang berkaitan dengan kuantitas), dan data
kualitatif (yang berkaitan dengan kualitas). Pengumpulan data mengenai kuantitas
dalam rumusan angka pada penelitian kualitatif sering ditafsir sebagai penelitian
gabungan antara penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif
lebih mementingkan makna, tidak ditentukan oleh kuantitasnya, tetapi lebih ditentukan
oleh proses terjadinya jumlah (dalam bentuk angka) dan cara memandang atau
perspektifnya.
A. Sumber Data
1. Narasumber
Jenis sumber data yang berupa manusia dalam penelitian pada umumnya dikenal
sebagai responden. Peneliti dan narasumber memiliki posisi yang sama, dan
narasumber bukan sekedar memberikan tanggapan pada yang diminta peneliti, tetapi
ia bisa lebih bisa memilih arah dan selera dalam menyajikan informasi yang ia
miliki.
2. Peristiwa atau aktivitas
Data atau informasi juga dapat dikumpulkan dari peristiwa, aktivitas, atau
perilaku sebagai sumber data yang berkaitan dengan sasaran penelitiannya. Peristiwa
sebagai sumber data memang sangat beragam, dari berbagai peristiwa, baik yang
terjadi secara sengaja ataupun tidak, aktivitas rutin yang terulang atau yang hanya
satu kali terjadi, aktivitas yang formal maupaun yang tidak formal, dan juga yang
tertutup ataupun yang terbuka untuk bisa diamati oleh siapa saja.

14
3. Tempat atau lokasi
Tempat atau lokasi yang berkaitan dengan sasaran atau permasalahan penelitian
juga merupakan salah satu jenis sumber data yang bisa dimanfaatkan oleh peneliti.
Informasi mengenai kondisi dari lokasi peristiwa atau aktivitas dilakukan bisa digali
lewat sumber lokasinya baik yang merupakan tempat maupun lingkungannya. Dari
pemahaman lokasi dan lingkunngannya peniliti bisa secara cermat mencoba
mengkaji dan secara kritis menarik kemungkinan simpulan yang berkaitan dengan
permasalahan penelitian.
4. Benda, beragam gambar, dan rekaman
Beragam benda yang terlibat dalam suatu peristiwa atau kegiatan yang berupa
benda sederhana sampai peralaan yang paling rumit yang bisa menjadi sumber data
yang penting untuk dimanfaatkan dalam penelitian.Beragam gambar yang ada dan
berkaitan dengan aktivitas dan kondisinya bisa juga dimanfaatkan sebagai sumber
data, misalnya gambar peta, potret, dan juga gambar buatan tangan lainnya. Sumber
lain yang cukup penting posisinya juga bisa berupa rekaman yang bersifat audio
maupun yang visual. Rekaman yang dimaksud adalah rekaman yang memang sudah
ada sebagai bagian dari suatu peristiwa yang telah terjadi.
5. Dokumen dan arsip
Dokumen dan arsip merupakan bahan tertulis yang bergayutan dengan suatu
peristiwa atau aktivitas tertentu. Ia merupakan rekaman tertulis (tetapi juga berupaya
gambar atau benda peninggalan yang berkaitan dengan suatu aktivitas atau peristiwa
tertentu). Dalam mengkaji dokumen, peneliti sebaiknya tidak hanya mencatat apa
yang tertulis, tetapi juga berusaha menggali dan menangkap maknanya yang tersirat
dari dokumen tersebut. Dalam mengkaji dokumen maupun arsip, peneliti perlu
menguji keaslian dokumen tersebut, bisa lewat kesaksian seseorang yang tahu, atau
dengan mengkaji beragam aspek formalnya.
B. Teknik cuplikan (sampling)

Cuplikan berkaitan dengan pembatasan jumlah dan jenis dari sumber data yang akan
digunakan dalam penelitian. Teknik cuplikan merupakan suatu bentuk khusus atau
proses bagi pemusatan atau pemilihan dalam penelitian yang mengarah pada seleksi.
Cuplikan dalam penelitian kualitatif sering juga dinyatakan sebagai internal sampling
yang berlawanan dengan sifat cuplikan dalam penelitian kuantitatif, yang dinyatakan

15
sebagai external sampling (Bogdan & Biklen, 1982). Dalam cuplikan yang bersifat
internal, cuplikan diambil untuk mewakili informasinya, dengan kelengkapan dan
kedalamannya yang tidak sangat perlu ditentukan oleh jumlah sumber datanya, karena
jumlah informan yang kecil bisa saja menjelaskan informasi tertentu secara lebih
lengkap dan benar daripada informasi yang diperoleh dari jumlah narasumber yang
lebih banyak, yang mungkin kurang mengetahui dan memahami informasi yang
sebenarnya.

1. Purposive Sampling
Dalam penelitian kualitatif, cuplikan yang diambil lebih bersifat selektif. Peneliti
mendasarkan pada landasan kaitan teori yang digunakan, keingintahuan pribadi,
karakteristik empiris yang dihadapi, dan sebagainya. Sumber data digunakan di sini
tidak sebagai yang mewakili populasinya tetapi lebih cenderung mewakili
informasinya. Karena pengambilan cuplikan didasarkan atas berbagai pertimbangan
tertentu, maka pengertiannya sejajar dengan jenis teknik cuplikan yang dikenal
sebagai purposive sampling, dengan kecenderungan peneliti untuk memilih
informan yang dianggap mengetahui informasi dan masalahnya secara mendalam
dan dapat dipercaya untuk menjadi sumber data yang mantap.
2. Cuplikan Waktu
Dalam penelitian kualitatif juga dikenal istilah time sampling (Yin, 1987). Time
sampling berkaitan dengan cuplikan waktu yang dipilih dan dipandang tepat untuk
pengumpulan informasi sesuai dengan permasalahan yang dikaji. Pengumpulan
data dengan pengamatan lingkungan atau bahkan dengan mewawancarai seseorang
tertentu pun harus benar-benar dipikirkan ttepat atau tidaknya sehingga wawancara
bisa berlangsung dengan baik dan terbuka untuk menghasilkan data yang lengkap
dan mendalam.
3. Snowball Sampling
Snowball sampling (Yin, 1987) digunakan bilamana peneliti ingin
mengumpulkan data yang berupa informasi dari informan salam salah satu lokasi,
tetapi peneliti tidak tahu siapa yang tepat untuk dipilih, karena tidak mengetahui
kondisi dan struktur warga masyarakat dalam lokasi tersebut sehingga ia tidak bisa
merencanakan pengumpulan data secara pasti. Peneliti berjalan tanpa rencana,

16
semakin lama semakin mendekati informan yang paling mengetahui informasinya,
sehingga ia akan mampu menggali data secara lengkap dan mendalam.
C. Teknik Pengumpulan Data
1. Wawancara
Dalam penelitian kualitatif dilakuka wawancara mendalam dengan pertanyaan yang
bersifat open-ended, dan mengarah pada kedalaman informasi, serta dilakukan
dengan cara bicara grand tour question yang tidak formal terstruktur. Tahapan
wawancara meliputi:
a. Penentuan siapa yang akan diwawancarai
b. Persiapan wawancara
c. Langkah awal
d. Pengusahaan agar wawancara bersifat produktif
e. Penghentian wawancara dan mendapatkan kesimpulan
2. Focus Group Discussion
FGD digunakan untuk menggali data terutama mengenai sikap, minat, dan latar
belakang mengenai suatu kondisi, dan juga untuk menggali keinginan serta
kebutuhan suatu kelompok masyarakat. Peneliti bertindak sebagai moderator serta
terdapat pembantu peneliti yang berperan sebagai pencatat informasi mengenai hasil
diskusi sekaligus sebagai pengingat peneliti tentang sesuatu yang masih perlu
ditekankan, terlewatkan, atau kurang lengkapnya informasi yang didapat.
3. Observasi
a. Observasi Tak Berperan
Yaitu kehadiran peneliti dalam melakukan observasi sama sekali tidak
diketahui oleh subjek yang diamati.
b. Observasi Berperan
1) Observasi Berperan Pasif
Dalam observasi ini, peneliti hanya mendatangi lokasi tetapi sama sekali tidak
berperan sebagai apapun selain sebagai pengamat pasif, namun hadir dalam
konteksnya.
2) Observasi Berperan Aktif
Dalam observasi ini, peneliti memainkan berbagai peran yang dimungkinkan
dalam suatu situasi yang berkaitan dengan penelitiannya, dengan

17
mempertimbangkan akses yang bisa diperolehnya dan bisa dimanfaatkan bagi
pengumpulan data.
3) Observasi Berperan Penuh
Jenis observasi ini diartikan bahwa peneliti memiliki peran dalam lokasi
studinya dan benar-benar terlibat dalam kegiatan yang ditelitinya, misalnya
benar-benar sebagai penduduk. Kelemahan observasi ini adalah kemungkinan
terjadinya bias hasil penelitian karena peneliti tenggelam dalam perannya dan
kemampuan kritisnya akan berkurang.
4) Mengkaji Dokumen dan Arsip (content analysis)
Content analysis yang dimaksud adalah peneliti bukan sekedar mencatat isi
yang penting yang tersurat dalam dokumen atau arsip, tetapi juga tentang
makna yang tersirat sehingga peneliti akan lebih mudah memahami proses
mengapa suatu peristiwa terjadi.
5) Kuesioner
Penggunaan kuesioner dengan teknik angket dalam penelitian kualitatif sering
dilandasi alasan bahwa peneliti ingin mendapatkan data secara garis besar
dengan cepat untuk memperoleh gambaran umum, atau kemungkinan
memperoleh beragam fokus yang tidak dipikirkan sebelumnya, dnegan kata lain,
kuesioner digunakan untuk mendapatkan data awal.
6) Perekaman
Cara perekaman hanya merupakan teknik pendukung pengumpulan data sebagai
penguat catatan. Alat kamera foto, film, dan video dapat digunakan dalam
penelitian kualitatif karena bisa memperjeas deskripsi berbagai situasi dan
perilaku subjek yang diteliti.
D. Cara Mencatat Data
Dalam kualitatif, disebut field note atau catatan lapangan. Field note terdiri dari:
1. Bagian Deskriptif
Deskripsi fenomenologi yang digunakan dalam penelitian kualitatif, merupakan
catatan penemuan yang bersifat global, dari hal yang tampak oleh mata atau
didengar hingga tanggapan perasaan, berbagai citra yang ditafsirkan dalam
berbagai makna kontekstualnya. Bagian deskripsi meliputi potret subjek,
rekonstruksi dialog, deskripsi keadaan fisik dan struktur tentang tempat dan

18
barang-barang lain yang ada disekitar, serta catatan tentang berbagai peristiwa
khusus (termasuk siapa yang terlibat, dengan cara bagaimana gerak-geriknya,
dan juga tingkah laku).
2. Bagian Reflektif
a. Reflektif Analisis
Refleksi ini berupa spekulasi tentang apa yang sebenarnya sedang dihadapi,
tema-tema yang ada, pola yang dapat dihadirkan, hubungan antarbagian
data, dan juga penambahan pikiran-pikiran peneliti sebagai kelengkapan,
serta simpulan sementara.
b. Reflektif Metode
Bagian ini berupa catatan tambahan yang berisi bahan prosedur dan strategi
yang digunakan dalam penelitian.
c. Reflektif Teori
Merupakan pencatatan mengenai sesuatu yang ada dalam informasi tercatat,
yang mungkin dapat dikaitkan dengan suatu teori tertentu yang diketahui
oleh peneliti.
d. Reflektif Masalah Etis dan Konflik
Bagian ini berisi cerminan tentang masalah etis, khususnya mengenai perlu
atau tidaknya perlindungan informan atau subjek yang diteliti dari
kemungkinan terjadinya akibat negatif karena jenis informasi yang
mungkin sangat sensitif.
e. Refleksi Kerangka Pikir Peneliti
Kerangka pikir tidak digunakan sebagai patokan, cukup menjadi gambaran
proses analisis dan berlaku sebagai salah satu dokumen penelitian yang
berharga, yang sangat berguna bilamana akan diadakan penelusuran
kembali sebagai pemantapan reliabilitas penelitian.
f. Pokok-pokok Penjelasan
Bagian ini berisi tambahan catatan kalimat sebagai penjelasan pada bagian
yang memerlukan atau kurang jelas, dan juga koreksi atas kesalahan dalam
mencatat.

19
E. Validitas Data
1. Triangulasi
Triangulasi merupakan teknik yang didasari pola pikir fenomenologi yang
bersifat multiperspektif, yang artinya untuk menarik kesimpulan diperlukan tidak
hanya satu sudut pandang.
a. Triangulasi Sumber
Peneliti wajib menggunakan beragam sumber data yang tersedia.
b. Triangulasi Metode
Peneliti menggunakan teknik atau metode yang berbeda dalam mengumpulkan
data.
c. Triangulasi Peneliti
Triangulasi ini adalah hasil penelitian baik data atau simpulan mengenai bagian
tertentu atau keseluruhannya bisa diuji validitasnya dari beberapa peneliti.
Triangulasi ini dapat dilakukan dengan cara:
1) Bilamana penelitian dilakukan oleh tim, maka perlu diadakan pertemuan
diskusi kelompok.
2) Dalam penelitian studi kasus ganda, kemungkinan besar setiap kasus
dengan lokasi yang berbeda, pengumpulan datanya dilakukan oleh
peneliti lain.
3) Menyelenggarakan seminar mengenai hasil penelitian yang hampir
selesai.
d. Triangulasi Teori
Peneliti menggunakan perspektif yang lebih dari satu teori dalam membahas
permasalahan yang dikaji.
e. Review Informan
Pada saat peneliti sudah mendapatkan data yang cukup lengkap dan berusaha
menyusun sajian datanya walaupun masih belum utuh dan menyeluruh, maka
unit-unit laporan yang telah disusun perlu dikomunikasikan dengan
informannya. Ada dua cara yang disarankan untuk menyusun catatan bukti
penelitian, yaitu:

20
1) Penyusunan data base
Merupakan bukti data yang telah dikumpulkan dalam segala bentuknya:
deskripsi, gambar, skema, rekaman wawancara, matriks, dsb, guna
memudahkan review dan usaha penelusuran kembali proses penelitian bila
diperlukan.
2) Penyusunan mata rantai semua bukti penelitian
Mata rantai semua bukti penelitian perlu disusun dan dirumuskan secara
tertib untuk meningkatkan reliabilitas informan penelitian. Tujuannya agar
pengamat dapat memahami asal dari penemuan setiap bukti data dari awal
pertanyaan penelitian sampai dengan simpulan akhir.

BAB V
ANALISIS DATA KUALITATIF

A. Cara Mengatur Data Bagi Kepentingan Analisis


1. Memotong dan Memasukkan Data dalam Folders
Data dipotong, diberi kode, kemudian dimasukkan ke dalam folders yang
terbagi menjadi beberapa kategori, selanjutnya folder disimpan dengan urutan.
2. Sistem Kumpulan Kartu
Memberikan nomer halaman, nomor paragraf, nomor baris pada catatan
lapangan secara berurutan, menuliskan kata penting yang merujuk nomor
halaman nomor paragraf atau nomer lain.
3. Kartu Potongan Informasi
Memberi kategori ketikan catatan lapangan lengkap sesuai unitnya, kemudian
potong dan tempelkan pada kartu. Setiap kartu diberi halaman asli catatan
lapangan.
B. Komponen Utama Proses Analisis
1. Reduksi Data
Reduksi data adalah bagian dari proses analisis yang mempertegas,
memperpendek, membuat fokus, membuang hal-hal yang tidak penting, dan
mengatur data sedemikian rupa sehingga simpulan penelitian dapat dilakukan.

21
2. Sajian Data
Sajian data merupakan suatu rakitan organisasi informasi deskripsi dalam
bentuk narasi kalimat, matriks, gambar/skema, tabel, dll untuk mempermudah
simpulan.
3. Penarikan Simpulan dan Verifikasi
Penarikan simpulan merupakan kegiatan pencatatan peraturan-peraturan, pola-
pola, pernyataan-pernyataan, arahan sebab akibat dari suatu penelitian.
Verifikasi adalah aktivitas pengulangan untuk tujuan pemantapan, penelusuran
data kembali, dan pengembangan ketelitian.
C. Model Analisis
1. Model Analisis Jalinan
Proses analisis dengan tiga komponen analisisnya saling menjalin dan dilakukan
secara terus menerus dalam proses pengumpulan data.
2. Model Analisis Interaktif
Dalam bentuk ini, peneliti tetap bergerak di antara tiga komponen analisis
selama kegiatan pengumpulan data berlangsung. Sesudah pengumpulan data
berakhir, peneliti bergerak dianara tiga komponen dengan menggunakan waktu
yang tersisa.
D. Analisis Pada Waktu Pengumpulan Data
1. Analisis Kawasan
Peneliti mulai membuat fokus pengamatannya pada sesuatu yang dipandang
penting dan mencari pertanyaan-pertanyaan struktural.
2. Analisis Taksonomik
Dari pertanyaan strukural, peneliti bisa menemukan jawaban dengan melakukan
analisis taksonomik yang hasilnya adalah pemahaman mengenai struktur, kaitan
antar bagian, serta kesamaan posisi, peran, dan fungsinya.
3. Analisis Komponen
Dari hasil analisis taksonomik, peneliti mulai mengamati secara selektif dengan
mengajukan pertanyaan yang mencari perbedaan arti, peran atau fungsi.
Kemudian hasilnya dilanjutkan dengan analisis komponen yang melibatkan
proses pencarian perbedaan, pengelompokkan untuk mendapatkan bagian
kontrasnya.

22
4. Analisis Tema
Dari ketiga hasil analisis, peneliti melakukan analisis tema yang merupakan
proses analisis akhir yang dalam bentuk pembahasan untuk mendapatkan
simpulan.
E. Analisis Antar Kasus
1. Perbandingan Pola
Misal: membandingkan pola penelitian kita dengan hasil penelitian terdahulu
yang sudah diakui.
2. Penyusunan Hubungan Kausal (bentuk lanjut dari perbandingan pola)
3. Time Series (menggunakan rancangan percobaan)
F. Menyusun Simpulan Akhir
1. Perhitungan
Penelitian kualitatif mengakui adanya data kuantitas, meski perhatian utamanya
diarahkan pada data kualitas.
2. Pencatatan Pola atau Tema
Pemberian kode atau tema akan dapat mengelompokkan berbagai peristiwa ke
dalam kesatuan tema tertentu yang akan sangat membantu pekerjaan analisis.
3. Pencarian hal-hal yang “masuk akal”
Merasakan hal yang masuk akal merupakan kesan pertama yang menjadi dasar
simpulan analisis pada tahapan yang paling awal.
4. Pengelompokkan
Data yang terkumpul yang semula merupakan data terpisah, dapat
dikelompokkan ke dalam kelompok kelas atau kategori.
5. Pembuatan Metafora
Berbagai pernyataan peneliti tidak hanya yang tampak nyata dan sekedar
menceritakan data tetapi sebaiknya dapat disajikan dalam bentuk yang lebih
sugestif.
6. Pemilihan Variabel
Pemilihan dapat dilakukan selama analisis.

23
7. Peliputan dari yang khusus ke umum
Peneliti berpikir ulang alik diantara data awal dan kategori yang lebih umum
untuk melibatkan pengulangan kategori sampai tingkat yang dianggap
memuaskan.
8. Pembuatan Faktor
Cara ini meliputi dua hal: (1) untuk mengurangi besarnya data; dan (2) untuk
mendapatkan pola yang jelas.
9. Pencatatan Hubungan Antar Variabel
Hubungan antar variabel dapat digambarkan sebagai deretan kotak dan panah-
panah.
10. Penemuan Variabel Antara
Jika pengaruh variabel A pada B tidak berarti, maka sebaiknya peneliti
mencoba untuk menemukan kemungkinan adanya variabel antara yang
mempengaruhi.
11. Penyusunan Jaringan Logis dari Sejumlah Bukti
Mengabstraksi informasi dengan membentuk keseluruhan yang sederhana
secara analitis.
12. Penyusunan Hubungan Konseptual dan Teoritis
Data empiris diolah kedalam pandangan yang bersifat konseptual kemudian
menghubungkan antar variabel ke arah konstruksi logis, kemudian
menghubungkan pada teori-teori.

BAB VI
MERANCANG PENELITIAN KUALITATIF

A. Jenis Penelitian
1. Penelitian Dasar
a. Penelitian Eksploratif
Dikenal sebagai penelitian penjelajahan, artinya peneliti sama sekali belum
mengetahui apa yang terjadi. Contoh: penelitian etnografis.

24
b. Penelitian Deskriptif
Penelitian ini mengarahkan pendeskripsian secara rinci dan mendalam
mengenai potret kondisi tentang apa yang sebenarnya terjadi menuruy apa
adanya di lapangan.
c. Penelitian Eksplanatif
Penelitian ini mengarah pada analisis hubungan sebab akibat yang
berinteraksi dan berkelanjutan.
Selain adanya tiga tingkatan penelitian di atas, dalam penelitian kualitatif
dikenal juga adanya:
a. Studi Kasus Tunggal
Bilamana penelitian terarah pad satu karakteristik, artinya penelitian hanya
dilakukan pada satu sasaran: satu lokasi, satu subjek, dll
b. Studi Kasus Ganda
Penelitian ini mempersyaratkan adanya sasaran seperti lokasi studi yang
lebih dari satu yang memiliki perbedaan karakteristik.
2. Penelitian Terapan
Penelitian terapan meliputi tiga macam yaitu penelitian evaluasi, kebijakan, dan
pengembangan atau penelitian tindakan.
a. Penelitian evaluasi
1) Tujuan : untuk mengetahui efektivitas pencapaian tujuan, hasil, atau
dampak suatu kegiatan atau program dan juga mengenai proses
pelaksanaan suatu kebihakan yang telah direncanakan dan dilaksanakan
dalam kurun waktu tertentu.
2) Hasil : menemukan kekuatan maupun kelemahan dan selanjutnya
mengajukan saran secara operasional untuk digunakan sebagai
perbaikan.
3) Bentuk : Penelitian kuantitatif desain bentuknya eksperimental
(eksplanatif) dan pada penelitian kualitatif desain bentuknya deskriptif
maupun eksplanatif.
4) Macam : penelitian ini terbagi menjadi 2 macam yaitu summative
evaluation research yang dilakukan pada akhir masa pelaksanaan

25
program dan formative evaluation research yang dilakukan pada masa
pelaksanaan program.
5) Pendekatan : pendekatan model kritik (kritik holistik dan kritik historis)
dan model CIPP (Context, Input, Proces, Product).
6) Tahap akhir : terdapat forum komunikasi yaitu presentasi hasil berupa
draft laporan untuk didiskusikan dengan sponsor dan juga pelaksana
kegiatan.
b. Penelitian kebijakan
1) Jenis : penelitian kebijakan terbagi menjadi dua jenis yaitu:
a) Penelitian kebijakan yang dilakukan sebelum kebijakan dibuat.
Pada penelitian ini, peneliti harus bisa menemukan dan merumuskan
kekuatan maupun kelemahan suatu kondisi atau lokasi tertentu
dengan kebutuhan khusus.
b) Penelitian kebijakan yang dilakukan pada beberapa lokasi untuk
mencari dan menentukan lokasi mana yang paling tepat untuk
dilaksanakan.
2) Hasil : menemukan kekuatan maupun kelemahan lokasi dan
selanjutnya mengajukan alternatif kebijakan yang secara operasional
dapat dilakukan.
3) Tahap akhir : peneliti melakukan forum komunikasi antara peneliti
dengan pemegang kebijakan untuk menyajikan dan membahas alternatif
yang telah disusun oleh peneliti.
c. Penelitian tindakan
1) Pada penelitian kuantitatif penelitian tindakan bertujuan mengarah pada
penemuan model tertentu sebagai hasil akhir, yang selanjutnya akan
dilakukan diberagam tempat lain sebagai bentuk generalisasi. Pada
penelitian kuantitatif sering disebut penelitian pengembangan (research
and development).
2) Pada penelitian kualitatif penelitian tindakan bertujuan sebagai
terbentuknya sikap kemandirian dari suatu kelompok atau masyarakat
tertentu yang menjadi sasaran penelitian. Pada penelitian kualitatif

26
sering disebut penelitian tindakan partisipatif (participatory action
research). Contohnya kasus di LSM.
3) Langkah-langkah penelitian:
a) Studi awal : studi awal pada penelitian ini disebut juga tahap
identifikasi masalah.
b) Tahap perencanaan program : tahap persiapan program yang akan
melibatkan warga sasaran. Peneliti dengan berbekal pemahaman
konteks sebagai hasil studi awal mulai mengajak masyarakat untuk
sadar merumuskan kebutuhan mereka yang sebenarnya dan mulai
merancang beragam kegiatan yang sesuai untuk memenuhi
kebutuhan tersebut.
c) Tahap persiapan : pada tahap ini peneliti harus berpikir bahwa
kondisi konteks yang ada (kekuatan dan kelemahan), untuk bisa
melaksanakan kegiatan program sebagaimana yang telah dirancang,
hal apa saja yang harus dipersiapkan, struktur organisasi, mekanisme
kegiatan, wewenang dan tanggung jawab, serta peran anggota.
d) Tahap pelaksanaan program:
(1) Pelaksanaan kegiatan
(2) Monitoring dan evaluasi : menemukan dan memahami berbagai
hambatan yang timbul.
(3) Pengembangan lanjut
e) Tahap akhir penelitian : biasanya dilakukan evaluasi (summative
evaluation) untuk mengetahui seberapa tingkat keberhasilan
program dalam mencapai tujuannya.
B. Merancang Penelitian
Desain penelitian adalah rencana, struktur, dan strategi penelitian yang diharapkan
dapat menjawab pertanyaan penelitian dan mengendalikan variance.
1. Perbedaan Perencanaan Penelitian Kuantitatif dengan Penelitian Kualitatif
No. Unsur Perencanaan Kuantitatif Kualitatif
1. Masalah, evaluan, Pernyataan tidak Penelitian kualitatif mulai
atau pilihan kebijakan menyatakan secara dengan fokus ( masalah,
langsung suatu desain, evaluan, atau pilihan
tetapi berfungsi sebagai kebijakan).
suatu kriteria untuk Fokus dapat berubah-ubah.
menentukan kualitas dan

27
kegunaannya serta untuk
pedoman pengembangan.
2. Perspektif teori Penting sebagai dasar Teori penelitian kualitatif
pengembangan penelitian. tidak diberikan secara
apriori.
Hasil akhir bisa tidak sesuai
dengan teori yang ada atau
mengembangkan teori baru.
3. Prosedur yang
digunakan
a. Sampling Desain harus menyatakan Sampel diambil dengan
sampel yang sanggup lebih memperhitungkan
mewakili dan dilakukan pemilihan simpul-simpul
secara random. sumber informasi yang
bertujuan untuk
mendapatkan data.
Sampel lebih bersifat
mewakili informasinya
daripada mewakili
populasinya.
b. Instrumental Instrumen sangat penting Instrumen tidak eksternal
dan merupakan definisi (objekif) namun internal
operasional mengenai (subjektif).
variabel terkait. Selain itu, Instrumen bukan suatu
instrumen juga definisi operasional
menunjukkan validitas dan melainkan manusia
reliabilitas. Bersifat (penelitinya).
objektif.
c. Analisis data Teknik yang digunakan Analisis data tidak dapat
harus mampu menguji dispesifikasi sejak awal
hipotesis. karena bentuk data
dihassilkan oleh instrumen
(manusia) yang belum
diketahui sebelumnya.
4. Pengembangan Desain harus sesuai Pengaturan waktu secara
jadwal dengan aktivitas penting tepat tidak dapat diprediksi
dalam penelitian pada karena penelitian kualitatif
garis waktu. bersifat lentur.
5. Penunjukkan orang- Desain menjelaskan siapa- Penunjukkan orang-
orangnya siapa yang akan orangnya bisa dinyatakan
melaksanakan langkah- tidak ada perbedaan. Pada
langkah khusus. penelitian kualitatif,
peneliti sebagai instrumen
utama, maka latar belakang
pengalaman perlu
dijelaskan pada setiap
pribadi yang terlibat dalam
penelitian.
6. Proyeksi biaya Desain memperkirakan Rincian biaya tidak dapat
sumber-sumber (waktu, dirinci secara pasti, karena
orang, dana) yang penelitian kualitatif bersifat
diperlukan untuk lentur.

28
melaksanakan tugas.
7. Pernyataan hasil akhir Hampir dapat dipastikan Hasil akhir sulit
produk akhirnya. dirumuskan secara rinci.
Laporan akan Hal yang dapat dijanjikan
dikembangkan bagi yaitu “pemahaman akan
audience tunggal ditingkatkan”.
(pembaca jurnal, sponsor Audience akan menerima
bagi produk evaluasi, atau laporan dalam “bahasa
pembuatan keputusan). natural” mereka sendiri dan
Waktu penyelesaian dibentuk sesuai dengan
laporan hasil jelas. kepentingan mereka dan
tacit knowledge.

C. Keterkaitan Antarunsur dalam Susunan Proposal Penelitian


1. Bab Pendahuluan
Proposal merupakan suatu susunan rancangan penelitia yang di dalamnya
disajikan berbagai unsur yang saling terkait dalam kesatuan keseluruhan dalam
proses mencapai tujuan.
a. Latar belakang masalah
Pada latar belakang masalah, terdapat beberapa pembahasan yang perlu
diperhatikan oleh peneliti yaitu: (1) adanya masalah yang timbul dan
mengapa hal itu menjadi masalah; (2) bagaimana masalah tesebut bisa
terjadi; dan (3) mengapa maslaah tersebut penting. Peneliti dapat
menambahkan data atau referensi yang lain untuk memperkuat pernyataan
yang ada.
b. Identitikasi masalah
Identifikasi masalah sangat bergantung pada uraian latar belakang
masalahnya yaitu apabila masalah yang dihadapi cukup kompleks dengan
kemungkinan adanya keberkaitan antar bidang. Identifikasi masalah ini
bertujuan untuk mempertegas adanya beragam permasalahan yang ada
dalam suatu konteks dalam latar belakang masalah agar lebih mudah untuk
dipahami.
c. Batasan masalah
Pembatasan masalah ini dilakukan apabila permasalahan yang akan diteliti
cukup luas dan kompleks. Pembatasan masalah dapat diartikan sebagai
pembatasan lokasi penelitian, pemilihan fokus, dan penekanan atau

29
pemusatan pada aspek tertentu dengan maksud agar peneliti benar-benar
lebih fokus dalam melakukan penelitian.
d. Rumusan masalah
Rumusan masalah merupakan pernyataan mengenai permasalahan apa saja
yang akan diteliti untuk mendapatkan jawabannya. Rumusan masalah
disajikan dalam bentuk pertanyaan akan memperjelas arah kajian masalah
dan memudahkan peneliti dalam memahami informasi yang akan digali.
e. Tujuan penelitian
Keberkaitan antara rumusan masalah dan tujuan penelitian yaitu untuk
memahami dan mendeskripsikan beragam hal yang telah dirumuskan
sebagai masalah yang akan diteliti. Pada penelitian dasar, tujuan
penelitiannya yaitu hanya bersifat pemahaman dan mendeskripsikan secara
jelas dan mendalam tentang hal yang akan diteliti. Sedangkan tujuan pada
penelitian terapan yaitu sudah harus jelas sesuai dengan tujuan praktis
operasionalnya. Misalnya pada penelitian evaluasi yaitu untuk mengetahui
efektivitas kegiatan program dan mengembangkan saran perbaikannya.
f. Manfaat penelitian
Manfaat penelitian terbagi menjadi dua yaitu manfaat teoritis dan manfaat
praktis. Pada manfaat teorietis, manfaat penelitian bisa sekedar untuk
memperkuat teori yang telah ada, bisa menolak teori yang telah ada, atau
merupakan awal dari dikembangkannya teori yang baru. Sedangkan pada
manfaat parktis, peneliti sebaiknya jangan terlalu ambisius. Pada manfaat
praktis, peneliti dapat menggunakan kata-kata “bisa digunakan atau bisa
dijadikan” yang artinya tidak diperlukan keharusan kegiatan bagi peneliti
untuk bisa mencapai manfaat tersebut setelah penelitian selesai. Berbeda
dengan menggunakan kata-kata “untuk memberikan kesadaran atau
mengembangkan kreativitas” yang berarti peneliti harus melakukan
tindakan lebih lanjut setelah penelitian selesai.
2. Bab Kajian Teori (Kajian Pustaka) dan Kerangka Berpikir
a. Kajian teori
Pada bagian ini, peneliti wajib untuk membahas secara teoritis variabel-
variabel yang terlibat dalam penelitian (bersumber pada rumusan masalah).

30
Peneliti tidak hanya mengikuti teori yang mendukung gagasan, tetapi
apabila ada pengertian teori yang berbeda sebaiknya juga ditambahkan.
Selain itu, pada bab ini juga diusahakan disajikan pembahasan terkait
penelitian yang telah dilakukan sebelumnya (penelitian yang relevan).
b. Kerangka berpikir
Tujuan kerangka berpikir ini yaitu untuk menggambarkan secara jelas
bagaimana kerangka berpikir yang digunakan peneliti untuk mengkaji dan
memahami permasalahan yang diteliti. Peneliti harus menjelaskan hubungan
dan keterkaitan antar variabel sehingga posisi setiap variabel yang akan
dikaji jelas. Pada penelitian kualitatif tidak terdapat hipotesis, maka
kerangka berpikirnya hanya merupakan gambaran bagaimana setiap
variabel berkaitan dengan variabel lain.
3. Bab Metodologi Penelitian
a. Lokasi penelitian
Lokasi penelitian ini menjelaskan dimana (lokasi) penelitian akan
dilaksanakan. Pada tahap ini peneliti harus menyertakan alasan yang jelas.
b. Strategi dan bentuk penelitian
Strategi yang harus dijelaskan pada bagian ini yaitu sifat dari penelitian
yang akan digunakan yaitu bersifat eksploratif, deskripstif, atau eksplanatif
disertai dengan alasannya. Selain itu juga dijelaskan bersifat penelitian dasar
atau terapan. Apabila penelitian terapan maka harus dijelaskan evaluasi,
kebijakan, atau pengembangan. Bentuk penelitian yang dimaksud yaitu
penelitian studi kasus dengan pendekatan holistik penuh atau studi kasus
terpancang. Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan studi kasus tunggal
atau ganda beserta alasannya.
c. Sumber data dan teknik sampling
Sumber data dirumuskan secara rinci yang berkaitan dengan jenis, apa, dan
siapa yang secara langsung berkaitan dengan jenis informasi yang digali.
Bila berupa informan maka dikelompokkan apakah tokoh masyarakat,
pegawai, dokter, guru, dan lain-lain. Teknik sampling yang digunakan
cenderung “purposive” sehingga sumber data dipilih berdasar kelengkapan
dan jenis yang diperlukan.

31
d. Teknik pengumpulan data dan validitasnya
Bila sumbernya berupa informan, maka tekniknya menggunakan
wawancara. Bila sumbernya arsip atau dokumen, maka tekniknya kajian isi.
Untuk pengembangan validitas, maka perlu dikaitkan dengan pentingnya
nilai kebenaran dan derajat kepercayaan (reliabilitas). Hal ini dapat
dilakukan menggunakan teknik triangulasi sumber maupun teori.
e. Teknik analisis
Teknik atau model analisis data harus dikaitkan dengan permasalahan yang
diteliti. Pemilihan model harus disertai dengan pendeskripsian proses secara
jelas untuk menggambarkan bahwa peneliti memang sudah benar-benar
memahami secara teoritis maupun praktis sehingga pelaksanaannya benar.
f. Daftar pustaka acuan
Model tata tulis harus sesuai dengan model atau format tertulis yang
dipakai.
g. Prosedur dan jadwal penelitian
Peneliti harus mendeskripsikan berbagai langkah kegiatan secara berurutan
dan dapat juga dilengkapi dengan jadwal pelaksanaan mulai dari perijinan
hingga laporan.
h. Biaya penelitian
Pincian dana didasarkan pada jumlah pertugas pelaksana yang terlibat,
lokasi yang didatangi, waktu yang diperlukan, serta beragam fasilitas yang
digunakan dari awal hingga akhir.

BAB VII
MELAKSANAKAN PENELITIAN KUALITATIF

A. Tahapan Penelitian Kualitatif


1. Melakukan Studi Awal (Pilot Study)
Studi awal ini dilakukan dengan tujuan untuk membuka pengenalan dan
pemahaman awal dengan usaha pemilihan fokus yang tepat dan penting dari
beragam kemungkinan pilihan yang ada dan mempersiapkan diri sebagai
partisipan, sehingga ia tidak akan melakukan sesuatu yang bersifat memaksakan

32
pikiran penelitinya, memahami konteks secara garis besar, serta mampu
melakukan observasi berperan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam studi awal yaitu:
a. Melakukan kontak awal dan cara masuk
Langkah ini dilakukan guna memperoleh kemudahan mendapatkan data saat
melakukan penelitian. Pada penelitian yang sesungguhnya, kunci bagi akses
tersebut sering berada di tangan beberapa orang tertentu, baik formal
maupun informal. Oleh karena itu, peneliti sebaiknya berusaha untuk
memahami peta organisasi dengan beragam jabatan serta kewenangannya.
b. Negosiasi perhatian dan merundingkan kesepakatan
Kesepakatan penting dilakukan bagi setiap penelitian khususnya penelitian
kualitatif untuk menunjukkan legalitas dan alasan etis. Hal itu karena pada
penelitian kualitatif kebanyakan kontak terjadi antara peneliti sebagai
instrumen dengan informan pemilik informasi yang sangat mungkin
dibarengi rasa takut dan curiga. Oleh karena itu, peneliti hendaknya
menjelaskan tujuan dari penelitian, posisi dengan pekerjaan, dan alamatnya
secara jelas, sehingga informan bisa memahami dan menempatkan posisi
dalam memberikan informasi.
c. Mengembangkan dan menjaga reliabilitas penelitian
Kepercayaan dan rasa aman pada informan akan menjamin tersedia dan
terbeberkannya data yang bisa dipercaya dan benar. Kepercayaan ini harus
diusahakan untuk diperoleh dan dikembangkan sejak tahap awal penelitian.
Kepercayaan ini tidak serta merta muncul, namun harus dibentuk dari hari
ke hari.
d. Identifikasi dan pemilihan informan
Pilihan informan ditentukan oleh pengetahuan mengenai akses informasi
yang dimilikinya. Akan tetapi, sikap dan pendirian informan perlu
dipertimbangkan juga oleh peneliti. Hal itu karena tidak semua informan
mau memberikan informasi secara apa adanya (jujur) meskipun ia memiliki
informasi yang lengkap. Pada tahap ini, peneliti juga sekaligus memikirkan
kemungkinan beragam sumber data yang lain yang diperlukan.

33
2. Menyusun dan Memantapkan Proposal Penelitian
Beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam merumuskan desain yaitu:
a. Penentuan fokus penelitian
Pernyataan fokus secara jelas (masalah, sasaran evaluasi, atau pilihan
kebijakan) perlu dirumuskan dalam desain. Akan tetapi, tetap ada antisipasi
bahwa fokus kemungkinan bisa berubah karena pemahaman baru dari
interaksi dengan lingkungan kontekstualnya.
b. Merenungkan ketepatan paradigma pada fokusnya
Paradigma yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah
pascapositivisme. Pada penelitian kualitatif peneliti harus memegang erat
paradigma awal mengenai penelitiannya agar tidak terseret. Peneliti harus
berpikir secara keseluruhan sejak awal pengembangan desain agar terjadi
kesatuan di bawah satu paradigma dan sama sekali terbebas dari praktek
pencampuradukan antar paradigma.
c. Penentuan penerapan paradigma penelitian pada teori substantif yang dipilih
Teori yang digunakan pada penelitian kualitatif pada awalnya
dikembangkan secara grounded. Oleh karena itu, peneliti wajib dijaga dari
kemungkinan terjadinya benturan kenyataan dengan teori substantif yang
digunakannya.
d. Penentuan tentang dimana dan dari siapa/ apa data akan dikumpulkan
Pada bagian ini yang sangat penting yaitu pemilihan dan pemahaman lokasi
studinya, serta fokus permasalahannya, yang konsekuensinya mengarah
pada pemilihan sumber data yang tepat dalam penelitiannya. Karakteristik
lokasi perlu dipertimbangkan karena pada bagian ini tidak hanya lokasi,
namun juga berkaitan dengan struktur sosial dengan tradisi yang akan
sangat memungkinkan perlunya perbedaan pendekatan dan pemilihan akses
informasi yang berkaitan dengan fokus penelitian.
e. Penentuan tahapan-tahapan suksesif penelitian
Pada tahap ini terdapat tiga kegiatan yang dilakukan, yaitu:
1) Orientasi dan pandangan menyeluruh
Tahap ini dilakukan untuk menyediakan sesuatu yang lewat perjalanan
panjang dalam pengumpulan data dengan pendekatan open ended.

34
2) Eksplorasi terfokus
Tahap ini dilakukan untuk menyajikan sesuatu melalui observasi yang
sudah lebih tepat mengenai informasi mendalam tentang berbagai unsur
penting.
3) Pemeriksaan kelompok anggota serta penutup
Tahap ini dilakukan untuk menyajikan suatu kesempatan bagi verifikasi
lokal untuk kredibilitas penelitiannya baik yang menyeluruh maupun
kekhususan.
f. Penggunaan “human instrumentation”
Pada penelitian kualitatif hal yang perlu diingat yaitu peneliti bertindak
sebagai instrumen. Oleh karena itu, keterampilan dan kemampuan kritis
serta ketelitian pengumpulan data perlu diperhitungkan bagi kelengkapan
dan kedalaman data yang akan digali.
g. Teknik pengumpulan dan pencatatan data
Penggunaan teknik pengumpulan data perlu dipertimbangkan
kefektivitasannya dalam penelitian. Selain menggunakan teknik
pengumpulan data interaktif, teknik kuesioner juga diperlukan untuk
menemukan data awal secara keseluruhan.
h. Memantapkan cara pengembangan derajat kepercayaan (validitas)
Pada perencaan penelitian, peneliti juga harus menyebutkan cara atau teknik
pengembangan validitas serta menjelaskan bagaimana melakukan cara
tersebut untuk meningkatkan derajat kebenaran dan kepercayaan
(reliabilitas) bagi hasil penelitiannya.
i. Memantapkan rancangan pengerjaan analisis
Peneliti harus menyiapkan model yang paling tepat untuk proses analisis
penelitian. Peneliti harus memahami dengan baik model yang digunakan,
karena proses analisis ini sebagian besar berlangsung bersamaan waktunya
dengan proses pengumpulan data.
j. Rancangan pelaksanaan logistik
Masalah logistik merupakan bagian yang dapat dirancang dalam penelitian
kualitatif. Akan tetapi, jika dalam pelaksanaannya harus berubah tidak

35
sesuai proposal, maka peneliti harus dapat menjelaskan sebab-sebab utama
perubahan terjadi.
3. Melaksanakan Penelitian
Pada langkah ini, semua kegiatan yang dilakukan harus benar dan tertib agar
proses dan hasil penelitian rinci, mantap, dan bisa dipercaya.
Beberapa kegiatan yang perlu diperhatikan saat di lapangan yaitu:
a. Mempersiapkan pengumpulan data
Pengumpulan data merupakan kegiatan yang sangat penting dalam
pelaksanaan kegiatan, dan selanjutnya akan menentukan kualitas hasil
penelitiannya. Pada tahap ini, terdapat dua hal yang perlu diperhatikan
yaitu: (1) memikirkan dan mencatat secara rinci informasi yang akan digali
berdasarkan kelompok permasalahan yang akan dikaji; dan (2) memikirkan
beragam sumber data yang akan digunakan.
b. Melakukan pengumpulan data
Pada penelitian kualitatif, peneliti harus aktif, kritis dan responsif serta
berhati-hati dalam melakukan pengumpulan data. Pada tahap ini, pencatatan
data dan aktivitas refleksi harus selalu dilakukan, karena kekayaan,
kedalaman, dan validitas data sangat bergantung pada proses ini. Terdapat
tiga hal pokok yang perlu diperhatikan, yaitu:
1) Melakukan teknik pengumpulan data secara kritis (memilih tempat,
melakukan ijin merekam, mencatat infromasi dengan kata kunci).
2) Mengembangkan catatan lapangan berdasarkan catatan pendek.
3) Melakukan refleksi yaitu salah satu bentuk kegiatan yang mendukung
proses analisis di lapangan.
c. Mengatur data
Kegiatan ini dilakukan dengan cara mengelompokkan data yang telah
diperoleh berdasarkan pada variabel yang ada pada rumusan masalah.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan yaitu:
1) Menentukan jenis kelompok data yang diperlukan dan kemudian diberi
tanda khusus atau coding.
2) Membaca semua catatan lapangan dan memberi coding.

36
3) Menggunting lembar salinan berdasarkan coding kemudian
dikelompokkan dalam map.
4) Menyusun tabel atau matriks berdasarkan data yang telah dikumpulkan.
d. Melaskukan analisis dan menyusun reduksi data
Tahap ini dilakukan dengan cara membaca setiap kelompok data dalam map
dan berpikir analitis mengenai kemungkinan jalinan pada setiap informasi
dalam kelompoknya. Kemudian peneliti melakukan analisis dengan cara
membandingkan data antarkelompok. Selain itu, peneliti juga perlu
membuat isi pokok (ringkasan) dalam kalimat pendek dan jelas. Bagian ini
merupakan reduksi data (komponen pertama analisis) sebagai persiapan
untuk menyusun sajian data secara lengkap.
e. Menyiapkan sajian data
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini yaitu mengembangkan data yang
telah dirumuskan dalam kalimat pendek untuk disajikan dalam bentuk
cerita. Kemudian dilanjut dengan menyusun sajian data (komponen analisis
kedua) berdasarkan kelompok rumusan masalah.

BAB VIII
LAPORAN PENELITIAN

A. Struktur Analitik Linear


1. Halaman Judul
2. Halaman Validasi (bila perlu)
3. Abstrak
Karangan pendek tidak lebih dari dua halaman. Abstrak ini berisi judul
penelitian, nama penelitian, dan uraian singkat isi laporan penelitian (masalah,
latar belakang, tujuan, metodologi penelitian, hasil utama, dan manfaat).
4. Kata Pengantar
Berisi ucapan terimakasih kepada semua kalangan yang telah membantu hingga
terselenggaranya penelitian dengan baik.
5. Daftar Isi
6. Daftar Tabel

37
7. Daftar Gambar
8. BAB I. Pendahuluan
Pendahuluan laporan sama dengan pendahuluan pada proposal dengan syarat isi
pendahuluan tidak ada perubahan saat kegiatan pelaksanaan. Hal ini
menunjukkan bahwa proposal penelitian bersifat spekulatif terbuka karena
peneliti tidak merasa tahu apa yang belum diketahuinya apa yang diteliti (sejalan
dengan proses induktif).
9. BAB II. Telaah Pustaka atau Kajian Teori
Bab II laporan penelitian sama dengan bab II pada proposal penelitian dengan
syarat tidak adanya perubahan teori pada saat pelaksanaan penelitian. Apabila
pada pelaksanaan penelitian didapatkan data yang berbeda dengan teori, maka
teori pada laporan penelitian disesuaikan dengan permasalahan yang ditemukan
dalam penelitian.
10. BAB III. Metodologi
Bab metodologi penelitian pada laporan isinya sama dengan metodologi
penelitian yang ada pada proposal penelitian dengan memperhatikan perubahan
kata pada proposal “yang akan” menjadi kata “yang telah”. Hal itu hanya terjadi
bila pada kegiatan penelitian, tidak terdapat perubahan strategi ataupun teknik
dan lain sebagainya. Pada laporan akan lebih bagus jika dijelaskan secara rinci
mengenai proses pengumpulan data dan analisis datanya. Hal ini sesuai dengan
karakteristik kelenturan dan keterbukaan penelitian.
11. BAB IV. Sajian Laporan
Sajian data merupakan penjelasan rinci dan lengkap mengenai apa yang
sebenarnya terjadi, berkaitan dengan setiap rumusan masalah yang telah
diajukan dalam bab pendahuluam. Data yang disajikan pada bab ini bukan
merupakan data mentah, tetapi data penelitian yang telah disunting sedemikian
rupa sehingga diperoleh kejelasan dan alur berpikir ke arah pengungkapan
makna. Sajian data pada laporan mempertimbangkan unit analisa yang telah
ditentukan dalam penelitian (studi kasus tunggal atau ganda). Jika kasusnya
ganda, maka disajikan penyajian data dilakukan secara terpisah. Contoh:
penyajian data berdasarkan keadaan penduduk, kondisi ekonomi, tradisi budaya,

38
dan sebagainya. Penyajian data dapat juga disajikan berdasar kasus-kasusnya.
Contoh: kasus pertama, kasus kedua, kasus ketiga, dan sebagainya.
12. BAB V. Pembahasan atau Diskusi
Terdiri dari dua bagian pokok yaitu:
a. Pokok-pokok temuan sebagai rumusan singkat temuan lapangan
Pokok-pokok temuan merupakan jawaban yang diperoleh dari lapangan
tentang pertanyaan yang telah diajukan dalam rumusan masalah.
b. Pembahasan atau diskusi
Pembahasan merupakan pembahasan pokok-pokok temuan secara utuh
dimana setiap bagian dibahas dan dikatikan dengan bagian yang lain
ssehingga terbentuk kesatuan utuh dalam konteks tertentu. Oleh karena itu,
dapat ditarik kesimpulan tunggal mengenai makna dari keseluruhan
konteksnya.
13. BAB VI. Simpulan dan Rekomendasi (Penutup)
Simpulan pada laporan penelitian tidak harus diletakkan pada bab akhir, tetapi
dapat dimasukkan pada bagian pembahasan. Apabila simpulan diletakkan pada
bagian pembahasan, maka pada bab akhir terdiri dari (a) implikasi dan (b)
rekomendasi atau saran.
a. Implikasi merupakan bahasan yang menyajikan kemungkinan dampak
positif ataupun negatif yang terjadi berdasarkan kondisi yanng berupa
pokok-pokok temuan dari penelitian.
b. Rekomendasi atau saran merupakan suatu usulan dari peneliti untuk
menghindari atau memecahkan kemungkinan dampak-dampak tersebut.
14. Daftar Pustaka Acuan
Daftar pustaka acuan laporan sama dengan daftar pustaka acuan pada proposal,
dengan syarat tidak ada tambahan atau perubahan pustaka pada saat menulis
laporan penelitian.
15. Lampiran
Lampiran bisa berupa surat ijin penelitian, gambar, peta lokasi, dan matriks yang
mendukung bukti penelitian, dan beberapa alat bantu pengumpulan data, catatan
data (hasil wawancara), dan lain sebagainya.

39
B. Struktur Laporan dalam Bentuk Lain
1. Struktur Komparatif
Struktur ini terdiri dari pengulangan studi kasus yang sama (dua kali atau lebih)
dengan membandingkan alternatif berbagai deskripsi dan pernyataan kasus
yang sama. Pengulangan ini menggambarkan kinerja teknik pembandingan
pola. Pada struktur ini, kasus yang dibahas sama namun dilihat dari sudut
pandang yang berbeda-beda. Tujuannya yaitu untuk menunjukkan seberapa
jauh fakta yang ditemukan cocok pada setiap model yang ada.
2. Struktur Kronologis
Struktur laporan ini didasarkan pada urutan kronologis atau waktu. Penulisan
laporan dimulai dari suatu keadaan awal, dilanjut tahap perkembangan, dan
tahap akhir dari suatu sejarah kasus. Pendekatan ini cocok untuk penelitian
eksplanatif (karena sebab lahir lebih dulu dari pada akibat). Kelemahan struktur
ini yaitu sering terjadinya penulisan yang terlalu berlebihan pada bagian awal
dan terlalu sedikit pada bagian akhir.
3. Struktur Penyusunan Teori
Laporan ini disusun mengikuti logika penyusunan teori. Cara penyajian
tergantung dari topik kasus dan teori yang akan disusunnya, tetapi tiap bab
harus menguraikan ssuatu bagian baru dari pandangan teoritis yang sedang
dibuatnya. Laporan ini cocok untuk studi eksplanatif.
4. Struktur Suspense
Laporan disusun dengan cara membalikkan pendekatan analitik. “Jawaban”
langsung dari hasil studi kasus dituliskan pada bagian awal, kemudian diikuti
bagian yang penuh dengan kerumitan, keraguan, dan teka-teki, dengan alternatif
pernyataan yang dipikirkan atau ditentukan dalam bab atau bagian selanjutnya.
5. Struktur Tak Beraturan
Struktur ini hanya digunakan bagi laporan penelitian deskripstif. Urutan bab
dianggap tidak penting karena urutan tersebut tidak mempengaruhi isinya.
Contohnya yaitu studi kasus tentang organisasi. Hal yang dibahas biasanya
sejarah, pemilik, dan jumlah pegawai, dan lain-lain. Bab yang terpisah-pisah
tersebut dapat diubah-ubah posisinya tanpa mengurangi nilai deskripsi.

40
C. Komposisi Laporan
Paling sedikit terdapat empat macam komposisi laporan dalam penelitian kualitatif.
1. Komposisi Klasik bagi Studi Kasus Tunggal
Laporan ini berupa satuan sajian ceritera (tunggal) untuk membeberkan dan
sekaligus menganalisa kasus yang diteliti. Bentuk laporannya yaitu buku,
laporan biasa, atau laporan untuk jurnal.
2. Komposisi bagi Studi Kasus Ganda tetapi dalam Versi Komposisi Klasik bagi
Studi Kasus Tunggal
Laporan ditulis dalam bab terpisah antar kasus. Akan tetapi terdapat satu bab
yang membahas antarkasus.
3. Komposisi Laporan yang dipakai Baik bagi Kasus Tunggal maupun Kasus
Ganda tetapi tidak Mengikuti Komposisi Tradisional (Klasik) seperti di atas
Komposisi kasus mengikuti pertanyaan dan jawaban berdasarkan data
penelitian. Komposisi ini cocok digunakan bagi peneliti yang belum
berpengalaman karena komposisinya mudah disusun dan dapat menghindari
kesulitan penulisan.
4. Komposisi yang Cocok bagi Studi Kasus Ganda
Bagian bab tiap laporan tidak ditulis secara terpisah namun tiap bab pada
laporan merupakan isi laporan dan juga analisis antarkasus. Oleh karena itu tiap
kasus selalu terdapat pada tiap bab laporan.

41
RANGKUMAN BUKU METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF

“Dasar teori dan terapannya dalam penelitian”

Penulis: H.B. Sutopo, Penerbit: UNS Press, Tahun Terbit: 2002

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengembangan Metodologi Penelitian


Dosen Pengampu : Prof Dr Slamet Subiyantoro, M.Si

Disusun Oleh:

Dewi Astuti (S031808012)/A

PROGRAM STUDI S2 PGSD

PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2018

42