Anda di halaman 1dari 70

1

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Balakang

Artritis gout merupakan penyakit peradangan sendi yang dipengaruhi oleh

asupan makanan yang tinggi purin. Dalam waktu ke waktu jumlah penderita gout

cenderung meningkat. Prevalensi asam urat cenderung memasuki usia semakin

muda yaitu usia produktif yang nantinya berdampak pada penurunan produktivitas

kerja. Kadar asam urat dalam darah meningkat dikarenakan ketidakseimbangan

antara produksi dan ekskresi. Artritis gout dapat mengakibatkan masalah yang

sangat berarti bagi penderita dan keluarga penderita, misalnya penderita tidak

dapat bekerja semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan individu dan

keluarga. Pengetahuan dan faktor pendukung dalam melakukan penanganan atau

pengobatan gout artritis sangat berpengaruh terhadap produktifitas kerja dan

kemampuan koping, misalnya prilaku individu pendukung (anggota keluarga,

orang terdekat, atau teman dekat) yang membatasi kapasitas/ kemampuan klien

untuk secara efektif melakukan tugas penting untuk adaptasi keduanya terhadap

masalah kesehatan dapat menimbulkan ketidakmampuan koping pada klien

ataupun keluarga(Maratus, 2014).

Prevalensi gout pada tahun 2014 yang dilaporkan oleh Organisasi Kesehatan

Dunia Word Health Organitations (WHO) memperkirakan sekitar 335 juta orang

di dunia mengidap penyakit rematik. Jumlah ini sesuai dengan adanya

peningkatan manusia berusia lanjut. Masalah muskuloskeletal merupakan masalah

1
2

kronis yang paling lazim terjadi pada lansia, dengan sekitar 49 % lansia

mengalami beberapa bentuk artritis (Paulina, 2016).

Kementrian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan jumlah penduduk

Indonesia pada tahun 2014 sebesar 252.124.458 jiwa. Berdasarkan hasil Riset

Kesehatan Dasar, Gout artritis merupakan penyakit reumatik yang sering ditemui

di Indonesia, penduduk yang mengalami gangguan gout artritis di Indonesia

tercatat 8,1 % dari total penduduk, sebanyak 29% diantaranya melakukan

pemeriksaan ke dokter, dan 71% hanya mengkonsumsi obat bebas pereda nyeri

(Tiara & Dian, 2016).

Jumlah penduduk di kabupaten Bondowoso mencapai 761.207 orang.

Penyakit gout termasuk dalam 15 penyakit terbanyak di kabupaten bondowoso

dengan penderita gout yang mencapai 4.104 penderita, dengan jumlah 1.882 laki-

laki, dan 2.222 perempuan. Puskesmas Tenggarang merupakan Puskesmas paling

banyak jumlah kunjungan yang mencapai 41.481 dalam tahun 2016 (Dinkes

Bondowoso, 2016). Dari data puskesmas tenggarang tahun 2016, penderita gout

mecapai 155 orang pada Kecamatan Tenggarang priode januari- desember 2016,

Desa terbanyak penderita gout adalah Lojajar yang mencapai 43 penderita gout

(Puskesmas Tenggarang, 2016)

Pirai (gout) merupakan gannguan metabolism asam urat, yang ditandai

hiperuresemia, biasanya primer atau sekunder. Pasien gout primer adalah 95%

pria. Di dalam badan, asam urat dibentuk antara lain dari purin makanan.

Makanan yang banyak mengandung purin adalah macam-macam organ seperti

hati, paru, otak, lambung. Pada gout primer, ginjal dapat menurun fungsinya,

sehingga pengeluaran asam urat menurun. Akibatnya, kadar asam urat dalam
3

semua cairan tubuh naik. Pada tempat-tempat tertentu, Kristal asam urat

mengendap, seperti pada sendi, ginjal, jantung, daun telinga, jari-jari tangan dan

kaki. Massa Kristal urat dikelilingi radang dan disebut tofus. Tofi dapat menyatu

dan membesar (Tambayong, 2013).

Tindakan keperawatan yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah

keperawatan dengan meningkatkan koping. Misalnya,Bantu pasien dalam

mengidentifikasi tujuan jangka pendek dan jangka panjang yang tepat, bantu

pasien dalam memeriksa sumber-sumber yang tersedia untuk memenuhi tujuan-

tujuannya, dukung hubungan (pasien) dengan orang yang memiliki ketertarikan

dan tujuan yang sama, bantu pasien untuk menyelesaikan masalah dengan cara

yang kontruktif, berikan penilaian (kemampuan) penyesuaian pasien terhadap

perubahan-perubahan dalam citra tubuh, sesuai indikasi, berikan penilaian

mengenai dampak dari situasi kehidupan pasien terhadap peran dan hubungan

(yang ada), dukung pasien untuk mengidentifikasikan diskripsi yang realistik

terhadap adanya perubahan dalam peran, berikan penilaian mengenai pemahaman

pasien terhadap proses penyakit, berikan penilaian dan diskusikan respon

alternatif terhadap situasi yang ada, evaluasi kemampuan pasien dalam membuat

keputusan, dukung (kemampuan dalam) penilaian terhadap batasan orang lain,

dan sediakan informasi aktual mengenai diagnsis, penanganan, dan prognosis

(Bluchek, 2015)

Dari uraian singkat diatas, peneliti ingin mengangkat studi kasus yang

berjudul “Asuhan keperawatan pada keluarga yang mengalami gout arthritis

dengan ketidakmampuan koping keluarga di Desa Lojajar, Kecamatan

Tenggarang, Kabupaten Bondowoso.


4

1.2 Batasan Masalah

Masalah pada studi kasus ini dibatasi pada Asuhan keperawatan pada

keluarga yang mengalami artritis gout dengan ketidakmampuan koping keluarga

di Desa Lojajar, Kecamatan Tenggarang, Kabupaten Bondowoso.

1.3 Rumusan Masalah

Bagaimanakah Asuhan keperawatan pada keluarga yang mengalami artritis

gout dengan ketidakmampuan koping keluarga di Desa Lojajar, Kecamatan

Tenggarang, Kabupaten Bondowoso?

1.4 Tujuan

1.4.1 Tujuan Umum

Melaksanakan Asuhan keperawatan pada keluarga yang mengalami artritis

gout dengan ketidakmampuan koping keluarga di Desa Lojajar, Kecamatan

Tenggarang, Kabupaten Bondowoso.

1.4.2 Tujuan Khusus

a) Melakukan pengkajian Asuhan keperawatan pada keluarga yang mengalami

artritis gout dengan ketidakmampuan koping keluarga di Desa Lojajar,

Kecamatan Tenggarang, Kabupaten Bondowoso.

b) Merumuskan diagnosa keperawatan pada keluarga yang mengalami artritis

gout dengan ketidakmampuan koping keluarga di Desa Lojajar, Kecamatan

Tenggarang, Kabupaten Bondowoso.


5

c) Menyusun perencanaan keperawatan pada keluarga yang mengalami artritis

gout dengan ketidakmampuan koping keluarga di Desa Lojajar, Kecamatan

Tenggarang, Kabupaten Bondowoso.

d) Melaksanakan tindakan keperawatan pada keluarga yang mengalami artritis

gout dengan ketidakmampuan koping keluarga di Desa Lojajar, Kecamatan

Tenggarang, Kabupaten Bondowoso.

e) Melakukan evaluasi keperawatan pada keluarga yang mengalami artritis

gout dengan ketidakmampuan koping keluarga di Desa Lojajar, Kecamatan

Tenggarang, Kabupaten Bondowoso.

1.5 Manfaat

1.5.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk meningkatkan

mutu pendidikan kesehatan sebagai pengembangan dan menambah pengetahuan

dari hasil penelitian terutama dalam konsep ilmu keperawatan.

1.5.2 Manfaat Praktis

a) Bagi Puskesmas

Dapat menambah informasi keluarga tentang pengetahuan dalam hal Gout

Artritis, sehingga dapat meningatkan kualitas pendidikan kesehatan.

b) Bagi Institusi Pendidikan

Pelayanan keperawatan yang bersifat menyeluruh baik pada individu dan

keluarga sehingga cakupan pelayanan keperawatan dapat berjalan baik.

c) Bagi Responden

Keluarga mendapatkan informasi tentang Gout Artritis yang lebih terperinci.


6

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Konsep Keluarga

2.1.1.1 Pengertian Keluarga

Friedman(2010) mengartikan keluarga sebagai suatu sumber sistem social.

Keluarga merupakan kelompok kecil yang terdiri dari individu yang mempunyai

hubungan erat dan saling ketergantungan satu dengan lainnya dalam rangka

mencapai tujuan tertentu.Undang-Undang No.10 tahun 1992 mendefinisikan

keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri dari suami, istri,dan

anak atau suami istri, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.

U.S Bureau Of the Cencus menggunakan definisi keluarga yang berorientasi

tradisional, yaitu sebagai berikut: keluarga terdiri atas individu yang bergabung

bersama oleh ikatan pernikahan, darah, atau adopsi dan tinggal didalam suatu

rumah tangga yang sama. Saat ini definisi keluarga tradisional terbatas, baik

dalam hal penerapannya maupun inklusivitasnya (Whall, 1986). Dalam analisa

konsepnya mengenai keluarga sebagai unit asuhan dalam keperawatan,

mendefinisikan keluarga sebagai “sebuah kelompok yang mengidentifikasi diri

dan terdiri atas dua individu atan lebih yang memiliki hubungan khusus, yang

dapat terkait dengan hubungan darah atau hukum atau dapat juga tidak, namun

berfungsi sedemikian rupa sehingga mereka menganggap dirinya sebagai

keluarga”.

6
7

Definisi tambahan keluarga dibawah ini disajikan untuk memfasilitasi

pemahaman mengenai kepustakaan keluarga, antara lain:

1) Keluarga inti (terkait dengan pernikahan) keluarga yang terbentuk kerena

pernikahan, peran sebagi orang tua, atau kelahiran; terdiri atas suami istri,

anak-anak mereka- biologis, adopsi, atau keduanya.

2) Keluarga orientasi (keluarga asal) unit keluarga tepat seseorang dilahirkan

3) Extended family – keluarga inti dari individu terkait lainya (oleh hubungan

darah), yang bisanya merupakan anggota keluarga asal dari salah satu

pasangan keluarga inti.

Keluarga ini terdiri atas “sanak saudara” dan dapat mencakup nenek/kakek, bibi,

paman, keponakan, dan sepupu (Friedman, 2010).

2.1.1.2 Tipe – tipe keluarga

Menurut Fredmen (2010), Tipe Keluarga yang memerlukan pelayanan

kesehatan berasal dari berbagai macam pola kehidupan. Sesuai dengan

perkembangan sosial maka tipe keluarga berkembang mengikutinya. Agar dapat

mengupayakan peran serta keluarga dalam meningkatkan derajat kesehatan maka

perawat perlu mengetahui berbagai tipe keluarga. Tipe keluarga ada 2 yaitu tipe

keluarga tradisional dan non tradisional.

1) Keluarga Tradisional

a) Keluarga Inti (The Nuclear Family).

Keluarga initi (konjugal) adalah keluarga hasil pernikahan yang

mengahsilkan sistem, orang tua dan anak atau prokreasi. Keluarga ini terdiri dari

suami, istri, anak-kandung, adopsi, dan atau keduanya.


8

Menurut U.S Census tahun 2000, jumlah keluarga inti, yang terdiri dari

seorang ayah yang mencari nafkah, seorang ibu yang mengurusi rumah tangga,

dan anak-anak yang merupakan keluarga kebanyakan pada tahun 1950-an dan

1960-an hanya sekitar 8% dari keseluruhan rumah tangga (Fields, 2001). Saat ini,

hanya 52% anak Amerika yang tinggal dalam keluarga initi tradisional. Dua

variasi yang berkembang di antara keluarga inti adalah:

1) Dual Earner Family: suatu keluarga inti yang memiliki orang tua atau

anggota keluarga yang dewasa bekerja baik purna atau paruh waktu.

2) The Dyad Family: Keluarga tanpa anak.

b) Keluarga Adopsi

Adopsi adalah pasangan suami istri yang telah menikah namun tidak dapat

menghasilkan keturunan atau anak, maka dari itu pasangan suami istri

mengadopsi atau mengangkat anak dari pasangan suami istri yang lain.

Adopsi merupakan sebuah cara lain untuk membentuk keluarga. Dengan

menyerahkan secara sah tanggung jawab sebagai orang tua seterusnya dari orang

tua kandung ke orang tua adopsi, biasanya menimbulkan keadaan saling

menguntungkan baik bagi orang tua maupun anak.

Di satu pihak orang tua adopsi mampu memberi asihan dan kasih sayangnya

bagi anak adopsinya, sementara anak adopsi diberi sebuah keluarga yang snagat

menginginkan mereka.

c) Keluarga Asuh

Peengasuhan keluarga asuh adalh sebuah layanan kesejahteraan anak, yaitu

anak ditempatkan di rumah yang terpisah dari salah satu orang tua atau kedua

orang tua kandung untuk menjamin keamanan dan kesejahteraan fisik serta
9

emosional mereka. Anak-anak ditempatkan di rumah asuh karena orang tua

dianggap tidak mampu atau tidak layak mengasuh anak-anak mereka.

d) Extended Family

Extended family yang terdiri dari keluarga inti ditambah dengan keluarga

lain seperti paman, bibi, kakek, nenek, dan lain-lain. Extended family tradisional

adalah keluarga dengan pasangan yang berbagai pengaturan rumah tangga dan

pengeluaran keuangan dengan orang tua, kakak/adik, dan keluarga dekat lainnya.

Anak-anak kemudian dibesarkan oleh beberapa generasi dan memiliki pilihan

model pola perilaku yang akan membentuk prilaku mereka. Menurut U,S Bureau

of the Census adalah keluarga yang di dalamnya tinggal seorang anak dengan

minimal salah satu orang tua dan seseorang di luar anggota keluarga inti, baik

memiliki hubungan kekerabatan maupun tidak.

e) Usila

Keluarga tanpa anak karena terlambat menikah, atau karena mengejar karir

atau pendidikan.

f) Single Parent

Yaitu Keluarga yang terdiri dari satu orang tua dengan anak (kandung atau

angkat). kondisi ini dapat disebabkan oleh perceraian atau kematian.

g) Commuter Family

Kedua orang tua yang bekerja di luar kota, dan hanya berkumpul pada saat

libur saja.

h) Multigeneration Family

Beberapa generasi atau kelompok umur yang tinggal satu rumah.


10

i) Kin-network Family.

Beberapa keluarga yang tinggal berdekatan dan menggunakan barang-

barang yang sama, seperti: dapur dan sumur yang sama.

j) Blended Family

Keluarga yang dibentuk dari janda atau duda dan membesarkan anak dari

perkawinan sebelumnya.

k) Single adult living alone

Rumah tangga yang terdiri dari satu orang dewasa.

2) Keluarga Non Tradisional

a) The Ummaried Teenage Mother

Keluarga terdiri dari satu orang dewasa terutama ibu dengan anak dari

hubungan tanpa nikah.

b) The Step Parent Family

Keluarga dengan orang tua tiri.

c) Commune Family

Lebih dari satu keluarga tanpa pertalian darah yang hidup serumah.

d) The Non Marrital Heterosexsual Cohabiting Family

Keluarga yang hidup bersama, berganti-ganti pasangan tanpa nikah.

e) Gay and Lesbian Family

Seseorang yang mempunyai persamaan sex tinggal dalam satu rumah

sebagaimana pasangan suami istri.


11

f) Cohabiting Couple

Orang dewasa yang hidup bersama diluar ikatan perkawinan karena alasan

tertentu.

g) Group Marriage Family

Beberapa orang dewasa telah merasa saling menikah, berbagi sesuatu

termasuk sex dan membesarkan anak.

h) Group Network Family

Beberapa keluarga inti dibatasi oleh norma dan aturan, hidup berdekatan

dan saling menggunakan yang sama dan bertanggung jawab membesarkan anak.

i) Foster Family

Keluarga yang menerima anak yang tidak ada hubungan saudara untuk

waktu sementara.

j) Homeless Family

Keluarga yang terbentuk tanpa perlindungan yang permanen karena keadaan

ekonomi atau problem kesehatan mental.

k) Gang

Keluarga yang deskritif dari orang-orang yang mencari ikatan emosioanal,

berkembang dalam kekerasan dan kriminal.

2.1.1.3 Struktur keluarga

Menurut Friedman (2010) struktur keluarga terdiri atas :

1) Pola dan proses komunikasi

a) Pola interaksi keluarga yang berfungsi :

1) bersifat terbukadan jujur.


12

2) selalu menyelesaikan konflik keluarga.

3) berfikiran positif.

4) tidak mengulang-ulang isu dan pendapat sendiri.

b) Karakteristik komunikasi keluarga berfungsi untuk :

1) Karakteristik pengirim

Yakin dalam mengemukakan sesuatu atau pendapat, apa yang disampaikan

jelas dan berkualitas, selalu meminta dan menerima umpan balik.

2) Karakteristik penerima

Siap mendengarkan, memberi umpan balik dan melakukan validasi.

2) Struktur Peran

Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi

sosial yang diberikan, yang dimaksud dengan posisi atau status adalah posisi

individu dalam masyarakat misalnya sebagai suami, istri, anak dan sebagainya.

Tetapi kadang peran ini tidak dapat dijalankan oleh masing-masing individu

dengan baik. Ada beberapa anak yang terpaksa mencari nafkah untuk memenuhi

kebutuhan anggota keluarga yang lain, sedangkan orang tua mereka entah

kemana atau malah berdiam diri di rumah.

3) strukturkekuatan

Kekuatan merupakan kemampuan (potensial dan aktual) dari individu untuk

mengendalikan atau mempengaruhi untuk merubah perilaku orang lain kearah

positif.

Ada beberapa macam tipe struktur kekuatan :

a) Legimati power

Wewenang primer yang merujuk pada kepercayaan bersama bahwa dalam


13

suatu keluarga satu orang mempunyai hak untuk mengontrol tingkah laku anggota

keluarga yang lain.

b) Referent power

Kekuasan yang dimiliki orang-orang tertentu terhadap orang lain karena

identifikasi positif terhadap mereka, seperti identifikasi positif seorang anak

dengan orangtua (rolemode).

c) Reward power

Pengaruh kekuasaan karena adanya harapan yang akan diterimaoleh

seseorang dari orang yang mempunyai pengaruh karena kepatuhan seseorang.

Seperti ketaatan anak terhadap orangtua.

d) Coercivepower

Sumber kekuasaan mempunyai kemampuan untuk menghukum dengan

paksaan, ancaman, atau kekerasan bila mereka tidak mau taat.

e) Affectif power

Kekuasaan yang diberikan melalui manipulasi dengan memberikan atau

tidak memberikan afeksi atau kehangatan, cinta kasih misalnya hubungan seksual

pasangan suami istri.

2.1.1.4 Peran dan fungsi keluarga

Setiap anggota keluarga menjalankan perannya masing-asing dalam

keluarga untuk mempertahankan kondisi dalam keluarga. Peran keluarga dapat

diklasifikasikan menjadi dua kategori: peran formal atau terbuka dan peran

informal atau tertutup. Sementara peran formal adalah peran eksplisit yang

terkandung dalam struktur peran keluarga (ayah suami, dll), peran informal
14

bersifat implisit, sering kali tampak pada permukaanya, dan diharapkan

memenuhi kebutuhan emosional anggota keluarga dan atau memelihara

keseimbangan keluarga (Friedman, 2010). Setiap anggota keluarga menjalankan

perannya dengan baik apabila keluarga berfungsi sebagaimana mestinya. Fungsi

keluarga berkaitan dengan peran dari keluarga yang bersifat ganda. Terdapat 5

fungsi keluarga menjadi saling berhubungan erat pada saat mengkaji dan

melakukan intervensi dengan keluarga (Friedman, 2010).

1) Fungsi afektif (fungsi mempertahankan kepribadian): memfsilitasi

stabilisasi kepribadian orang dewasa, memenuhi kebutuhan psikologis

anggota keluarga.

2) Fungsi sosialisasi dan status sosial: memfasilitasi sosialisasi primer anak

yang bertujuan menjadikan anak sebagai anggota masyarakat yang

produktif, serta memberika status pada anggota keluarga.

3) Fungsi reproduksi: untuk mempertahankan kontinuitas keluarga selama

beberapa generasi dan untuk keberlangsungan hidup masyarakat.

4) Fungsi ekonomi: menyediakan sumber ekonomi yang cukup dan alokasi

efektifnya.

5) Fungsi perawatan kesehatan: menyediakan kebutuhan fisik makanan,

pakaian, tempat tinggal, perawatan kesehatan. Berbagai permasalahan

dihadapi oleh setiap keluarga dalam memenuhi kebutuhan anggota keluarga

lainnya. Apabila kelima fungsi keluarga tersebut berjalan dengan baik, maka

keluarga akan menjadi harmonis. Namun, bila fungsi tersebut mengalami

gangguan dalam keluarga yang memiliki suatu penyakit, maka hal ini akan

menjadi beban tersendiri pada anggota keluarga tersebut yang akan


15

berpengaruh juga pada fungsi dan peran setiap anggota keluarga lainnya,

sehingga diperlukan usaha dari anggota keluarga untuk tetap menjaga fungsi

dan peran masing masing agar tetap berjalan dengan baik.

2.1.1.5 Tahap perkembangan keluarga

Tahap perkembangan keluarga menurut Duvall dan Milller dalam Friedman, 2010

1) Tahap I- Pasangan Baru

Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki (suami) dan

perempuan (istri) membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan

meninggalkan keluarga masing-masing. Meninggalkan keluarga bisa berarti

psikologis karena kenyataannya banyak keluarga baru yang masih tinggal dengan

orang tuanya. Dua orang yang membentuk keluarga baru membutuhkan

penyesuaian peran dan fungsi. Masing-masing belajar hidup bersama serta

beradaptasi dengan kebiasaan sendiri dan pasangannya, misalnya makan, tidur,

bangun pagi dan sebagainya.

Tugas perkembangan

a) Membina hubungan intim danmemuaskan.

b) Membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok sosial.

c) Mendiskusikan rencana memiliki anak.

Keluarga baru ini merupakan anggota dari tiga keluarga ; keluarga, suami,

keluarga istri dan keluarga sendiri.

2) Tahap II-Keluarga

“child bearing” kelahiran anak pertama Dimulai sejak hamil sampai kelahiran

anak pertama dan berlanjut sampai anak berumur 30 bulan atau 2,5 tahun.
16

Tugas perkembangan kelurga yang penting pada tahap ini adalah:

a) Persiapan menjadi orang tua

b) Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan

sexual dan kegiatan.

c) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.

Peran utama perawat adalah mengkaji peran orang tua; bagaiaman orang

tuan berinteraksi dan merawat bayi. Perawat perlu menfasilitasi hubungan

orang tua dan bayi yang positif dan hangat sehingga jalinan kasih sayang

antara bayi dan orang tua dapat tercapai.

3) Tahap III-Keluarga dengan anak pra sekolah

Tahap ini dimulai saat anak pertama berumur 2,5 tahun dan berakhir saat anak

berusia 5 tahun.

Ada beberapa tugas perkembangan, yaitu:

a) Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat tinggal,

privasi dan rasa aman.

b) Membantu anak untuk bersosialisasi

c) Beradaptasi dengan anaky baru lahir, sementara kebutuhan anak lain juga

harus terpenuhi.

d) Mempertahankan hubungan yang sehat baik didalam keluarga maupun

dengan masyarakat.

e) Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak.

f) Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.

g) Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh kembang.


17

4) Tahap IV- Keluarga dengan anak sekolah

Tahap ini dimulai saat anak berumur 6 tahun (mulai sekolah ) dan berakhir pada

saat anak berumur 12 tahun. Pada tahap ini biasanya keluarga mencapai jumlah

maksimal sehingga keluarga sangat sibuk. Selain aktivitas di sekolah, masing-

masing anak memiliki minat sendiri. Dmikian pula orang tua mempunyai aktivitas

yang berbeda dengan anak.

Tugas perkembangan keluarga.

a) Membantu sosialisasi anak dengan tetangga, sekolah dan lingkungan.

b) Mempertahankan keintiman pasangan.

c) Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat,

termasuk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga.

Pada tahap ini anak perlu berpisah dengan orang tua, memberi kesempatan pada

anak untuk nbersosialisasi dalam aktivitas baik di sekolah maupun di luar sekolah.

5) Tahap V- Keluarga dengan anak remaja

Dimulai saat anak berumur 13 tahun dan berakhir 6 sampai 7 tahun

kemudian. Tujuannya untuk memberikan tanggung jawab serta kebebasan yang

lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi orang dewasa.

Tugas perkembangan

a) Memberikan kebebasan yang seimbnag dengan tanggung jawab.

b) Mempertahankan hubungan yang intim dengan keluarga.

c) Mempertahankan komunikasi yang terbuka antara anak dan orang tua.

Hindari perdebatan, kecurigaan dan permusuhan.

d) Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga.

Merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan
18

membimbing anak untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik

orang tua dan remaja.

6) Tahap VI- Keluarga dengan anak dewasa

Dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir pada

saat anak terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahapan ini tergantung jumlah

anak dan ada atau tidaknya anak yang belum berkeluarga dan tetap tinggal

bersama orangtua.

Tugas perkembangan

a) Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.

b) Mempertahankan keintiman pasangan.

c) Membantu orang tua memasuki masa tua.

d) Membantu anak untuk mandiri di masyarakat.

e) Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.

7) Tahap VII- Keluarga usia pertengahan

Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah dan

berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal. Pada beberapa

pasangan fase ini dianggap sulit karena masa usia lanjut, perpisahan dengan anak

dan perasaan gagal sebagai orang tua.

Tugas perkembangan

a) Mempertahankan kesehatan.

b) Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan

anak-anak.

c) Meningkatkan keakraban pasangan.

Fokus mempertahankan kesehatan pada pola hidup sehat, diet seimbang, olah raga
19

rutin, menikmati hidup, pekerjaan dan lain sebagainya.

8) Tahap VIII- Keluarga usia lanjut

Dimulai saat pensiun sanpai dengan salah satu pasangan meninggal dan

keduanya meninggal.

Tugas perkembangan

a) Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan.

b) Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik dan

pendapatan.

c) Mempertahankan keakraban suami/istri dan saling merawat.

d) Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat.

e) Melakukan life review.

2.1.1.6 Tugas perkembangan keluarga dan tugas kesehatan keluarga

Individu memiliki tugas perkembangan yang harus mereka capai agar

tercapai kepuasan selama tahap perkembangan dan agar mampu berkembang

secara sukses pada tahap berikutnya, setipa tahap perkembangan keluarga

memiliki tugas perkembangan atau harapan peran tertentu. Tugas perkembangan

lebih cenderung membutuhkan rasa tanggung jawab yang harus dicapai oleh

keluarga pada setiap tahap perkembangan keluaarga sehingga keluarga dapat

memenuhi

1) kebutuhan biologis keluarga,

2) penekanan budaya keluarga dan

3) aspirasi dan nilai keluarga itu sendiri ( Duvall, 2013 ).

Walaupun dalam kenyataanya sebagian besar dari tugas perkembangan


20

tersebut memiliki keterkaitan yang sesuai, tugas perkembangan keluarga timbul

ketika keluarga sebagai unit berjuang keras untuk memenuhi tuntutan dan

kebutuhan anggota keluarga yang juga berjuang untuk memenuhi kebutuhan

perkembangan mereka secara indivudual. Tugas keluarga juga dibuat oleh tekanan

dari masyarakat pada keluarga dan anggota keluarga untuk menegaskan harapan

kelompok acuan keluarga dan masyarakat yang lebih luas. Selain itu tugas

perkembangan keluarga, yang meliputi harapan tugas atau peran spesifik pada

setiap tahap yang inheren untuk mencapai lima fungsi dasar dalam keluarga,

terdiri dari

1) fungsi afektif (fungsi pertahanan kepribadian)

2) fungsi sosialisasi dan status sosial

3) fungsi perawatan kesehatan, ketentuan dan alokasi kebutuhan fisik dan

perawatan kesehatan

4) fungsi repoduksi, dan

5) fungsi ekonomi (Friedman, 2010).

Setelah pemenuhan tugas perkembangan keluarga, keluarga memiliki tugas

kesehatan keluarga yang harus dipenuhi oleh anggota keluarga lainnya, apabila

salah satu anggotanya mengalami sakit. (Friedman 1998 dalam Padila, 2012).

Terdapat lima tugas kesehatan keluarga, yaitu:

1) mengenal masalah kesehatan pada setiap anggota keluarganya,

2) mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat setelah

mengetahui masalah,

3) melakukan perawatan pada anggota keluarganya yang mengalami sakit,


21

4) memodifikasi lingkungan untuk menunjang keberhasilan perawatan,

menggunakan fasilitas kesehatan yang ada seperti rumah sakit.

2.1.2 Konsep Medis

2.1.2.1 Pengertian

A. Pengertian Medis

Gout adalah gangguan metabolisme dimana protein berbasis purin tidak

dapat dimetabolisme tubuh dengan baik. Sebagai hasilnya, ada peningkatan

jumlah asam urat yang merupakan hasil akhir metabolisme purin. Sebagai hasil

dari hyperuricemia, kristal asam urat berkumpul didalam sendi, yang paling

umum terjadi pada ibu jari (podagra), menyebabkan sakit ketika sendi bergerak

(Helmi, 2011)

Gout adalah penyakit yang diakibatkan gangguan metabollisme purin yang

ditandai dengan hiperurikemi dan serangan sinovisis berulang-ulang. Penyakit ini

paling sering menyerang pria usia pertangahan sampai usia lanjut dan wanita

menopause (Helmi, 2011).

Gout atau asam urat merupaka hasil metabolisme yang mengalir melalui

peredaran darah, jika kadar asam urat terlalu tinggi atau terlalu sedikit yang

dibuang melalui air kencing, akan terbentu kristal-kristal kecil dan akan

mengendap pada salah satu persendian hingga menimbulkan rasa nyeri, bengkak

disekitar persendian dan terjadinya kelainan bentuk persendian (Haryana, 2009).


22

B. Pengertian Keperawatan

Prilaku individu pendukung (anggota keluarga, orang terdekat, atau teman

dekat) yang membatasi kapasitas/kemampuannya dan kemampuan klien untuk

secara efektif melakukan tugas penting untuk adaptasi keduanya terhadap masalah

kesehatan.

Salah satu intervensinya adalah dengan peningkatan koping dengan

memfasilitasi usaha kognitif dan perilaku pengelola stressor yang dirasakan,

perubahan, atau ancaman yang mengganggu dalam rangka memenuhi kebutuhan

hidup dan peran. Seperti memberikan penilaian (kemampuan) penyesuaian pasien

terhadap perubahan-perubahan dalam citra tubuh sesuai indikasi, serta berikan

pendidikan kasehatan pada klien dan keluarga.Tujuan pendidikan kesehatan pada

klien dan keluarga yaitu untuk memelihara kesehatan, pencegahan penyakit, dan

perbaikan kesehatan. Orang tua perlu mengenal keadaan kesehatan dan

perubahan-perubahan yang dialami anggota keluarga. Perubahan sekecil apapun

yang dialami anggota keluarga secara tidak langsung menjadi perhatian keluarga

maupun orang tua. Sejauh mana keluarga mengetahui dan mengenal fakta-fakta

dari masalah kesehatan yang meliputi pengertian, tanda dan gejala, faktor

penyebab dan yang mempengaruhinya serta persepsi keluarga terhadap masalah.

(Potter dan perry 2005 dalam astrini, 2013).

2.1.2.2 Etiologi

A. Etiologi Medis

Gangguan metabolik dengan meningkatya konsentrasi asam urat ini

ditimbulkan dari penimbunan kristal di sendi oleh monosodium urat (MSU) dan
23

kalsium prifosfat dihidrat , dan pada tahap yang lebih lanjut terjadi degenerasi

tulang rawan sendi (Muttaqin, 2008).

Klasifikasi gout dibagi 2 yaitu:

1) Gout Primer

Gout ini pengaruhi oleh faktor genetik. Terdapat produksi/ sekresi asam urat

yang berlebihan dan tidak diketahui penyebabnya.

2) Gout Sekunder

a) Pembentukan asam urat yang berlebihan

1) Kelainan mieloproliferatif (Polisitemia, leukemia, mieloma retikularis)

2) Sindroma Lech-Nyhan yaitu suatu kelinan akibat defisiensi hipoxantin guanine

fosforibosil transferase yang terjadi pada anak-anak dan pada sebagian orang

dewasa.

3) Gangguan penyimpanan glikogen

4) Pada pengobatan anemia pernisosa oleh karena maturasi sel megaloblastik

menstimulasi pengeluaran asam urat.

b) Sekresi asam urat yang berkurang, misalnya:

1) Kegagalan ginjal kronik (GGK)

2) Pemakaian obat salisilat, tiazid, beberapa macam diuritik dan sulfonamid

3) Keadaan alkoholik, asidosis laktik, hiperparatiroidisme dan pada miksedema

(Muttaqin, 2008).

B. Etiologi Keperawatan

Menurut Carter, 2017 penyebab dari gout:

1) Diet tinggi purin

2) Konsumsi minuman alkohol


24

3) Pengaruh obat-obatan terhadap asam urat dengan efek yang ditimbulkan

dapat menghambat ekresi asam urat dalam ginjal, seperti: aspirin, dan

deuritik.

2.1.2.3 Patofisiologi

Gangguan metabolisme asam urat, ditandai hiperurisemia, bisa primer atau

sekunder. Didalam badan, asam urat dibentu antara lain dari purin makanan.

Makanan yang mengandung banyak purin adalah macam-macam organ seperti

hati, paru, otak, lambung. Pada gout primer, ginjal dapat menurun fungsinya,

sehingga pengeluaran asam urat menurun. Akibatnya, kadar asam urat dalam

semua cairan tubuh naik. Pada tempat tempat tertentu, kristal asam urat

mengendap, seperti pada sendi, ginjal, jantung, jari-jari tangan dan kaki. Massa

kristal urat dielilingi radang (limfosit, sel plasma, makrofag) dan disebut tofus.

Tofi dapat menyatu dan membesar (Tambayong, 2013).

Pirai (gout) adalah gannguan metabolism asam urat, yang ditandai

hiperuresemia, bisa primer atau sekunder. Di dalam badan, asam urat dibentuk

antara lain dari purin makanan. Makanan yang banyak mengandung purin adalah

macam-macam organ seperti hati, paru, otak, lambung. Pada gout primer, ginjal

dapat menurun fungsinya, sehingga pengeluaran asam urat menurun. Akibatnya,

kadar asam urat dalam semua cairan tubuh naik. Pada tempat-tempat tertentu,

Kristal asam urat mengendap, seperti pada sendi, ginjal, jantung, daun telinga,

jari-jari tangan dan kaki (Tambayong, 2013).

Penyakit artritis gout adalah salah satu penyakit inflamasi sendi yang paling

sering ditemukan, ditandai dengan penumpukan kristal monosodium urat di dalam


25

ataupun di sekitar persendian. Asam urat merupakan kristal putih tidak berbau

dan tidak berasa lalu mengalami dekomposisi dengan pemanasan menjadi asam

sianida (HCN) sehing cairan ekstraseslular yang disebut sodium urat. Jumlah

asam urat dalam darah dipengaruhi oleh intake purin, biosintesis asam urat

dalam tubuh, dan banyaknya ekskresi asam urat. Kadar asam urat dalam darah

ditentukan oleh keseimbangan antara produksi (10% pasien) dan ekskresi (90%

pasien). Bila keseimbangan ini terganggu maka dapat menyebabkan terjadinya

peningkatan kadar asam urat dalam darah yang disebut hiperurisemia.

Gangguan metabolisme yang mendasarkan gout adalah hiperurisemia yang

didefinisikan sebagai peninggian kadar urat lebih dari 7,0 ml/dl dan 6,0 mg/dl.

Secara klinis, hiperurisemia mempunyai arti penting karena dapat menyebabkan

artritis gout, nefropati,topus, dannefrolithiasis. Masalah akan timbul jika

terbentuk kristal-kristal monosodium urat monohidrat pada sendi-sendi dan

jaringan sekitarnya. Kristal-kristal berbentuk seperti jarum ini mengakibatkan

reaksi peradangan yang jika berlanjut akan menimbulkan nyeri hebat yang sering

menyertai gout. Jika tidak diobati, endapan kristal akan menyebabkan

kerusakan yang hebat pada sendi dan jaringan lunak (Maratus, 2014).
26

Pathway

Faktor genetik Pola makan tidak GGK


sehat

Gangguan Makanan tinggi Penurunan fungsi


metabolisme purin ginjal

Kadar asam urat meningkat

hiperuricemia

Terbentuk Kristal Monosodium urat


monohidrat

Kristal seperti jarum

Reaksi peradangan

Nyeri akut/ kronis

Kurangnya pengetahuan dan dukungan


dalam keluarga tentang pemeliharaan
kesehatan

MK: ketidakmampuan koping keluarga

Gambar 2.1 Pathway Gout Artritis dengan


Ketidakmampuan Koping Keluarga
27

2.1.2.4 Gambaran Klinis

Artritis Gout disebut juga penyakit pirai (Artritis Urika) adalah gangguan

yang menyebabkan kesalahan pada metabolism purin menimbulkan hiperurisemia

(kadar asam urat serum lebih dari 7,0 mg/100ml). ini dapat mempengaruhi sendi

tetapi lebih umum mempengaruhi kaki. Secara khas, sendi metatarsophalangeal

pertama dari ibu jari kaki besar adalah sisi primer yang terlibat. Sendi lain yang

terlibat dapat meliputi lutut dan pergelangan kaki. Gambaran klinis Artritis Gout

berupa serangan monoartikular yang ditandai nyeri sendi hebat karena Artritis

Akut. Biasanya terdapat pembengkakan, kemerahan, nyeri tekan local, dan sendi

tidak dapat digerakkan. Pembengkakan dan kemerahan paling menonjol. Nyeri

hebet sekali sehingga penderita tidak tahan pakai kaos kaki (Rosyidi, 2013).

Artritis gout kronik ditandai dengan pembengkakan dan kekakuan sendi

pada setadium lanjut yang kronik ini dapat timbul serangan akut pada foto rotgen

timbunan kristal asam urat murni memberi kembaran radiolusen, sedangkan

timbunan kalsium tampat radioopak pada pemeriksaan laboratorium

ditemukanhiperurisemia dan pada 50% penderita ditemukan kristal urat pada

cairan sinovial atau tofus (Sjamsuhidajat & Jong, 2011).

2.1.2.5Penatalaksanaan

A. Penatalaksanaan Medis

1) Pengobatan seranga akut dengan Colchicine 0,6 mg (pemberian oral),

Colchocine 1,0-3,0 mg (dalam NaCl intravena), Phenilbutazone

(Butazolidin), Indomethacin (Indocin).

2) Sendi di istirahatkan
28

3) Kompres dingin

4) Diet rendah purin

5) Analgesik dan antipiretik

6) Terapi pencegahan dengan meningkatkan ekskresi asam urat menggunakan

Probenecid (Benemid) 0,5 g/hari atau Sulfinpyrazone (Anturane) pada klien

yang tidak tahan terhadap Benemid atau menurunkan pembentuka asam urat

dengan Allopurinol (Zyloprim) 100 mg 2 kali/ hari (Suratun, dkk. 2008)

Pengobatan dengan kolkisin bermanfaat untuk menghentikan serangan akut,

selain menghindari makanan yang kaya purinm seperti hati, ginjal, dan jeroan.

Pada awal serangan diberikan olkisin setiap jam sampai nyeri hebat menghilang.

Pada fase kronik, hiperurisemia dapat diturunkan dengan urikosurik seperti

probenesid atau alopurinol yang membantu menghambat produksi asam urat

(Sjamsuhidajat & Jong, 2011).

Tindakan bedah terdiri atas penyaliran tofus yang berabses dan tofektomi.

Tofektomi adalah pengeluaran massa tofus sebanyak mungkin tanpa risiko

mengganggu ligamen, struktur tendon, saraf, dan pembuluh darah. Pembedahan

ini jarang diperlukan (Sjamsuhidajat & Jong, 2011).

Artritis yang disertai dengan penimbunan krital kalsium pirofosfat ihidrat

dapat disebabkan oleh trauma atau sakit lain. Oleh karena gambaran klinisnya

menyerupai gout, kelainan ini disebut juga pseudogout (Sjamsuhidajat & Jong,

2011).
29

B. Penatalaksanaan Keperawatan

Secara umum penanganan artritis gout adalah memberikan edukasi,

pengaturan diet, istirahatkan sendi, dan berolah raga (Anastaya, 2009).

Penatalaksanaan non farmakologis dengan melakukan latihan fisik berupa aerobik

dan latihan fisik ringan. Resiko terjadinya gout lebih besar terjadi pada laki laki

yang tidak memiliki aktivitas fisik dan kardiorepiratori fitnes dibanding dengan

lelaki yang aktif secara fisik dan kardiorespiratori. Serum asam urat dapat

diturunkan dengan melakukan olah raga rutin dan teratur, jika olah raga tersebut

hanya dilakukan secara intermiten justru akan meningkatkan kadar serum asam

urat, sehingga dibutuhkan latihan isometrik, latihan gerak sendi, dan latihan

fleksibilitas yang keseluruhan itu mencakup dalam stabilitas sendi (Zahara, 2013).

2.1.2.6 Komplikasi

Menurut Majori (2015) Komplikasi yang muncul akibat arthritis gout antara lain:

1) Gout kronik bertophus

Merupakan serangan gout yang disertai benjolan-benjolan (tofi) disekitar

sendi yang sering meradang. Tofi adalah timbunan kristal moosodium urat

di sekitar persendian seperti di tulang rawan sendi, sinovial, bursa atau

tendon. Tofi bisa juga ditemukan di jaringan lunak dan otot jantung, katub

mitral jantung, retina mata, pangkal tenggorokan.

2) Netropati gout

Penyakit tersering yang ditimbulkan karena hiperurisemia. Terjadi akibat

dari pengendapan kristal asam urat dalam tubulus ginjal. Pada jaringan

ginjal bisa terbentuk mirofi yang menyumbat dan merusak glumelurus.


30

3) Nefralitlasis asam urat (batu ginjal)

Terjadi pembentukan massa kerasa seperti batu didalam ginjal, bisa

menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran urin atau infeksi. Urin

jenuh dengan garam-garam yang dapat membentuk batu seperti kalsium,

asam urat, sistin dan mineral struvit (campuran magnesium, ammonium,

fosfat).

4) Persendian menjadi rusak hingga menyebabkan keterbatasan gerak.

Terjadinya pengkristalan pada sendi menyebabkan kerusakan pada sendi

yang dikarenakan gesekan antara kristal asam urat dan sendi.

2.2 Asuhan Keperawatan

Konsep Asuhan Keperawatan Keluarga disesuaikan dengan format Asuhan

Keperawatan Keluarga yang telah di tetapkan oleh Prodi DIII Keperawatan

Universitas Bondowoso tahun 2017.

2.2.1 Pengkajian

Tabel 2.1 :Format pengisian Identitas


Nama Puskesmas No. Register
Nama Perawat Tanggal Pengkajian

1) Nama puskesmas

isi dengan nama pusksmas terdekat

Contohnya: puskesmas harapan

2) Nama perawat

Diisi dengan nama perawat yang melakukan pengakajian atau nama perawat

yang bertanggung jawab.


31

Contohnya: perawat Dini

3) No. Register

Contohnya: 01. 01. 17. 117 (sesuai dengan rumah sakit / puskesmas)

4) Tanggal pegakajian

Diisi dengan tanggal, bulan, tahun dilakukannya pengkajian

Contoh : 17-01-2017

Tabel 2.2: Pengisian Data Keluarga


Nama Kepala Keluarga Bahasa sehari-hari
Alamat Rumah & Telp Yankesterdekat,
Jarak
Pekerjaan Alat transportasi
Agama & Suku Status KelasSosial

1) Nama kepala keluarga

Diisi dengan nama kepala keluarga sesuai dengan kartu keluarga yang ditulis

dengan nama inisial dan diikuti dengan lebel status klien.

Contohnya: Tn. K (Tn. Tuan)

2) Alamat Rumah & Telp

Diisi dengan alamat rumah lengkap dengan no RT/RW dan nomer telpom

klien

Contohnya: jlan. Cipto no. 19 RT/RW 05/03 (telp. 085880887657)

3) Pekerjaan

Diisi dengan pekerjaan, profesi, status, atau sesuai dengan pekerjaan klien

Contohnya: dokter/perawat/wiraswasta/PNS

4) Agama & Suku

Agama= islam, kristen, hindu, uda, katolik

Suku= jawa, madura, batak, dll/WNI,WNA

Contohnya: islam, jawa/WNI


32

5) Bahasa Sehari-hari.

Di isi bahasa sehari hari individu di keluarga tersebut.

Contoh : Madura, Indonesia, Inggris, Jawa.

6) Alat Transportasi

Di isi dengan alat transportasi sehari-hari keluarga tersebut

Contoh: Mobil, sepeda Motor, Sepeda.

7) Status kelas sosial

Diisi dengan keadaan status sosial klien

Contohnya: menengah kebawah/ menengah keatas

Tabel 2.3: Pengisian Data Anggota Keluarga


N Nama Hub Umur J Suk Pendidi Pekerjaa Status Gizi TTV Status
o dgn K u kan n Saat Ini (TB, BB, (TD, Imunis
KK Terakhi BMI) N, S, asi
r P) Dasar
1.
2
3

LANJUTAN
Riwayat
N Na Status Kesehatan
Alat Bantu/ Protesa Penyakit/
o ma Saat ini
Alergi
1.
2.
3.

1) Nama

Diisi dengan nama anggota keluarga

2) Hubungan dengan kepala keluarga

Diisi dengan hbungan anggota keluatga dengan kepala keluarga

Contohnya: istri, anak, kakak, mertua, orang tua, dll

3) Umur

Diisi dengan umur setiap aggota keluarga dalam tahun


33

Contohnya 28 tahun

4) Jenis kelamin

Di isi dengan jenis kelamin

contohnya: Laki Laki(L)

5) Suku

Contohnya: madura, jawa, batak, dll

6) Pendidikan terakhir

Contohnya: SD, SMP, SMA, dll

7) Pekerjaan saat ini

Diisi sesuai dengan pekerjaan anggota keluarga saat ini

Contohnya: siswa, mahasiswa, PNS, wiraswasta, petani, dll

8) Status gizi (TB, BB, BMI)

Diisi sesuai dengan TB, BB, BMI masing-masing anggota keluarga

Contoh: TB: 160 cm, BB: 50 mg

9) TTV (TD, S, N, RR)

Diisi sesuai dengan TTV masing-masing anggota keluarga

Contoh: TD: 120/80 mmHg, Suhu: 36,5o, Nadi: 80 x/menit, RR: 20 x/menit

10) Status imunisasi dasar

Diisi dengan imunisasi apa yang sudah di berikan

Contoh : ((BCG/Polio/DPT/HB/Campak)

11) Alat Bantu

Di isi dengan alat bantu apa pun dalam menunjang ke seharian setiap individu

di keluarga tersebut.

Contoh : Tn.K menggunakan alat bantu pendengaran


34

TAHAP DAN RIWAYAT PERKEMBANGAN KELUARGA

Diisi tahap perkembangan keluarga saat ini

STRUKTUR KELUARGA

Diisis pola komunikasi dan peran dalam keluarga

Fungsi keluarga

Diisi fungsi keluarga: afektif, sosial, ekonomi

Pola koping keluarga

Diisi mekanisme koping dan stresor yang dihadapi keluarga

Tabel 2.4: Format Data penunjang keluarga


Rumah dan Sanitasi Lingkungan PHBS Di Rumah Tangga
 Kondisi Rumah  Jika ada Bunifas, Persalinan ditolong oleh tenaga
Type rumah : permanen/semi kesehatan :
permanen* Ya/ Tidak* coret (Tidak) apabila persalinan di
Coret yang salah atau yang tidak bawa ketenaga
sesuai dengan kodisi rumah kesehatan.....................................................................
Lantai : .......
tanah/plester/keramik,lainnya….  Jika ada bayi, Memberi ASI ekslusif : Ya/ Tidak*
Coret yang salah atau yang tidak coret (Tidak) apabila asi diberikan ekslusif
sesuai engan keadaan lantai rumah  jika ada balita, Menimbang balita tiap bln :
Kepemilikan rumah : sendiri / sewa* Ya/ Tidak* coret (Tidak) apabila balita selalu
Coret yang salah timbang tiap
 Ventilasi : bulan............................................................................
Baik (10-15% dari luas lantai): ..
ya/tidak*  Menggunakan air bersih untuk makan & minum:
Jendela setiap hari dibuka: ya/tidak* Ya/ Tidak* coret (Tidak) jika minum dengan air
Coret yang tidak sesuai atau salah bersih.
PencahayaanRumah : ......................................................................................
Baik/ Tidak* .....
Coret yang tidak sesuai atau yang  Menggunakan air bersih untuk kebersihan diri:
salah Ya/ Tidak* coret (Tidak)jika menggunakan air
……………………………………… bersih untuk kebersihan diri ..................................
 Saluran Buang Limbah :  Mencuci tangan dengan air bersih & sabun :
Tertutup/terbuka* Ya/ Tidak* coret (Tidak) apabila mencuci tangan
Coret yang tidak sesuai atau yang dengan air bersih dan sabun
salah……………………………… ......................................................................................
Air Bersih :  Melakukan pembuangan sampah pada tempatnya :
Sumber air bersih: Ya/ Tidak* ................................................................
sumur/PAM/sungai/lain-lain*, coret (Tidak) apabila membuang sampah pada
sebutkan..... tempatnya.
35

Coret yang salah dan sebutan


sumber air besih yang di gunakan di  Menjaga lingkungan rumah tampak bersih
keluarga tersebut ya/tidak
coret (Tidak) jika selalu menjaga lingkunga tetap
Kualitas air: ……………………….. bersih...........................................................................
Jelaskan kualitas air: seperti tidak ................ (observasi dan validasi)
ber warna berbau dan tidak berasa.  Mengkonsumsi lauk dan pauk tiap hari :
Ya/ Tidak* .coret (Tidak) jika selalu memakan
 Jamban Memenuhi Syarat : lauk pauk tiap
Kepemilikan jamban : ya/tidak* hari...............................................................................
Jenis jamban : leher angsa/cemplung* ...........
Coret yang salah atau tidak sesuai  Menggunakan jamban sehat :
dengan keadaan rumah keluarga Ya/ Tidak* coret (Tidak) apabila selalu
tersebut. menggunakan jamban
Jarak septic tank dengan sumber air : sehat.............................................................................
………….. ..............
Sebutkan jarak dari septi tank ke  Memberantas jentik di rumah sekali seminggu :
sumber air Ya/ Tidak* (menguras, mengubur, menutup)
Contoh : 20 meter. coret (Tidak) apabila di rumah tersebut
membrantas jentik di rumah sekali
 Tempat Sampah: seminggu......................................................................
Kepemilikan tempat sampah ......................
;Ya/Tidak*  Makan buah dan sayur setiap hari : Ya/ Tidak*
Jenis : Tertutup/Terbuka * ........................................................
Coret yang tidak sesuai dengan  Melakukan aktivitas fisik setiap hari : Ya/ Tidak*
keadaan di rumah tersebut. .....................................................
……………………………………… Tidak merokok di dalam rumah : Ya/ Tidak*
………… ............................................................
Penggunaan alkohol dan zat adiktif : ya/tidak
 Rasio Luas Bangunan Rumah dengan coret salah satu yang tidak sesuai dengan keadaan
Jumlah atau ondisi di rumah
Anggota Keluarga (8m2/orang) tersebut........................................................................
Ya/Tidak * ............
Coret yang tidak sesuai dengan
keadaan rumah tersebut.dan
sebutkan berapa meter
persegi/orang di rumah keluarga
tersebut.………………………………

Kemampuan keluarga melakukan tugas pemeliharaan keseahatan anggota

keluarga

Diisi dengan kemampuan keluarga melalukan tugas pemeliharran kesehatan

anggota keluarga
36

Tabel 2.5: Format tingkat kemandirian keluarga


KEMANDIRIAN KELUARGA
Kriteria :
1. Menerima petugas puskesmas Kemandirian I : Jika memenuhi kriteria 1&2
2. Menerima yankes sesuai rencana Kemandirian II : jika memenuhi kriteria 1
3. Menyatakan masalah kesehatan secara
s.d 5
benar
4. Memanfaatkan faskes sesuai anjuran Kemandirian III : jika memenuhi kriteria 1
5. Melaksanakan perawatan sederhana sesuai s.d 6
anjuran
Kemandirian IV : Jika memenuhi kriteria 1
6. Melaksanakan tindakan pencegahan secara
aktif s.d 7
7. Melaksanakan tindakan promotif secara
aktif
Kategori :
Kemandirian I Kemandirian II

Kemandirian III Kemandirian IV

Contoh : Centang (kemandirian I) apabila keluarga memenuhi kreteria 1&2

2.2.2 Diagnosa

Domain 9. Koping/Toleransi Stres

Kelas 2. Respon Koping

Kode 00073

Ketidakmampuan Koping Keluarga (1980,1996, 2008)

Definisi

Perilaku individu pendukung (anggota keluarga, orang terdekat, atau teman dekat)

yang membatasi kapasitas/kemampuannya dan kemampuan klien untuk secara

efektif melakukan tugas penting untuk adaptasi keduanya terhadap masalah

kesehatan. (Herdman, 2015)

Batasan karakteristik

1) Agitasi

2) Agresi
37

3) Depresi

4) Distrosi realitas tentang masalah kesehatan Klien.

5) Gangguan individualisasi

6) Gangguan kemampuan untuk menyusun kehidupan yang berarti.

7) Mengabaikan program pengobatan

8) Melakukan rutinitas tanpa mempedulikan kebutuhan klien.

9) Mengadopsi gejala penyakit klien

10) Prilaku keluarga yang menggangu kesejahteraan

11) Pengabaian

12) Penolakan

13) Terlalu khawatir klien

14) Tidak menghormati kebutuhan klien

Faktor yang berhubungan

1) Gaya koping tidak sesuai antara individu pendukung dan klien

2) Hubungan keluarga ambivalen

3) Penanganan resistensi keluarga terhadap pengobatan yang tidak konsisten

4) Perasaan yang tidak diungkapkan secara kronis oleh individu pendukung

5) Perbedaan gaya koping antara individu pendukung dan klien (Herdman,

2015)

Preoritas diagnosa keperawatan

Untuk menentukan prioritas diagnosa dalam keperawatan dapat dihitung

dengan menggunakan skala prioritas yang ditemukan oleh Baylon dan Maglaya,

adalah sebagai berikut:


38

Menentukan skor untuk setiap kriteria. Kriteria terdiri dalam skala Boylon

dan Maglaya terdiri dari 4, antara lain:

1) Kriteria 1 yaitu sifat masalah yang lebih berat dan memerlukan tindakan segera

karena disadari dan dirasakan oleh keluarga. Yang termasuk tipologi dari

kriteria ini adalah ancaman kesehatan, keadaan kurang/tidak sehat dan situasi

kritis.

2) Kriteria 2 yaitu kemungkinan masalah untuk dapat diubah yang tergantung

faktor-faktor berikut:

a) Pengetahuan yang ada sekarang. Teknologi dan tindakan untuk mengenai

masalah.

b) Sumber daya keluarga dalam bentuk fisik, keuangan, dan teanga.

c) Sumber daya perawat dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, dan waktu.

d) Sumber daya masyarakat dalam bentuk fasilitas, organisasi dalam

masyarakat dan dukungan masyarakat.

3) Kriteria 3 yaitu potensial masalah untuk dapat dicegah yang tergantung faktor-

faktor berikut:

a) Kepelikan dari masalah berhubungan dengan masalah dan penyakit.

b) Lamanya masalah yang berhubungan dengan jangka waktu masalah itu ada.

c) Tindakan yang sedang dijalankan adalah tindakan-tindakan yang tepat dapat

memperbaiki masalah.

d) Adanya kelompok high risk yang menambah potensial masalah untuk dapat

dicegah.

4) Kriteria 4 yaitu menonjolnya masalah tersebut dalam keluarga.

a) Skor dibagi dengan angka tertinggi dan dikalikan dengan bobot.


39

b) Jumlahkan skor untuk setiap kriteria

c) Skor tertinggi adalah 5 dan sama untuk seluruh bobot

Tabel 2.6: Format skoring


NO KRITERIA NILAI SKOR
1. Sifat masalah
a) Tidak/kurang sehat 3
b) Ancaman kesehatan 2 1
c) Keadaan sejahtera 1
2. Kemungkinan masalah untuk diubah
a) Mudah 2
b) Sebagian 1 2
c) Tidak dapat diubah 0
3. Potensi masalah untuk dicegah
a) Tinggi 3
b) Cukup 2 1
c) Rendah 1
4. Menonjolnya masalah
a) Masalah berat harus ditangani 2
b) Ada masalah tapi tidak perlu segera 1 1
ditangani 0
c) Masalah tidak dirasakan

Proses skoring dilakukan untuk setiap diagnosis keperawatan:

1) Tentukan skor untuk setiap kriteria yang dibuat.

2) Selanjutnya dibagi dengan angka yang tertinggi dan dikalikan dengan bobot.

Skor yang diperoleh


X Bobot
Skor tertinggi

3) Jumlahkan skor untuk semua kriteria.


40

2.2.3 Intervensi

Tabel 2.7: Intervensi NIC-NOC 2013


Diagnosa NOC NIC
1. (00073) Definisi: Perilaku individu
Pedoman sisitem kesehatan:
Ketidakmampuan pendukung (anggota keluarga, memfasilitasi lokasi pasien dan
koping keluarga orang terdekat, atau teman penggunaan layanan kesehatan
dekat) yang membatasi yang sesuai.
kapasitas/kemampuannya dan 1. Bantu pasien dalam
kemampuan klien untuk secara mengidentifikasi tujuan jangka
efektif melakukan tugas penting pendek dan jangka panjang
untuk adaptasi keduanya yang tepat
terhadap masalah kesehatan. 2. Bantu pasien dalam memeriksa
Setelah 2x kunjungan klien sumber-sumber yang tersedia
menunjukkan dukungan social untuk memenuhi tujuan-
dengan indicator: tujuannya
1. Menghadapi masalah 3. Dukung hubungan (pasien)
keluarga (5) dengan orang yang memiliki
2. Mengelola masalah ketertarikan dan tujuan yang
keluarga (4) sama
3. Melibatkan anggota 4. Bantu pasien untuk
keluarga dalam menyelesaikan masalah dengan
pengambilan keputusan (4) cara yang kontruktif
4. Peduli terhadap kebutuhan 5. Berikan penilaian (kemampuan)
semua anggota keluarga (5) penyesuaian pasien terhadap
5. Menggunakan sumber daya perubahan-perubahan dalam
masyarakat yang tersedia citra tubuh, sesuai indikasi
(5) 6. Berikan penilaian mengenai
dampak dari situasi kehidupan
pasien terhadap peran dan
hubungan (yang ada)
7. Dukung pasien untuk
mengidentifikasikan diskripsi
yang realistik terhadap adanya
perubahan dalam peran
8. Beirkan penilaian mengenai
pemahaman pasien terhadap
proses penyakit
9. Berikan penilaian dan
diskusikan respon alternatif
terhadap situasi yang ada
10.Evaluasi kemampuan pasien
dalam membuat keputusan
11.Dukung (kemampuan dalam)
penilaian terhadap batasan
orang lain
12.Sediakan informasi aktual
mengenai diagnsis, penanganan,
dan prognosis
41

2.2.4 Implementasi

Pelaksanaan adalah realisasi rencana tindakan untuk mencapai tujaun yang

telah ditetapkan. Kegiatan dalam pelaksanaan juga meliputi pengumpulan data

berkelanjutan, mengobservasi respon klien selama dan sesudah pelaksanaan

tindakan, serta menilai data yang baru.

Tahap – Tahap dalam pelaksanaan

1) Tahap perisapan

a) Review rencana tindakan keperawatan

b) Analisis pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan

c) Antisipasi komplikasi yang akan timbul

d) Mempersiapkan peralatan yang diperlukan (waktu, tenaga, alat)

e) Mengidentifikasi aspek – aspek hukum dan etik

f) Memperhatikan hak – hak pasien

2) Tahap pelaksanaan

a) Berfokus pada klien

b) Berorientasi pada tujuan dan kriteria hasil

c) Memperhatikan keamanan fisik dan spikologis klien

d) Kompeten

3) Tahap sesudah pelaksanaan

a) Menilai keberhasilan tindakan

b) Mendokumentasikan tindakan
42

2.2.5 Evaluasi

Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan

keadaan pasien (hasil yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat

pada tahap perencanaan.

Tujuan evaluasi

1) Mengakhiri rencana tindakan keperawatan

2) Memodifikasi rencana tindakan keperawatan

3) Meneruskan rencana tindakaan keperawatan.


43

BAB 3

METODE PENULISAN

Bab ini membahas tentang pendekatan yang digunakan dalam

menyelenggarakan studi kasus

3.1 Desain Penulisan

Desain penulisan yang di pakai dalam karya tulis ini adalah studi kasus

untuk mengeksplorasi masalah asuhan keperawatan pada keluarga yang

mengalami gout artritis dengan ketidakmampuan koping keluargadi Desa Lojajar,

Kecamatan Tenggarang, Kabupaten Bondowoso.

3.2 Batasan Istilah

Batasan istilah adalah pernyataan yang menjelaskan istilah – istilah kunci

yang menjadi fokus studi kasus. Batasan istilah dalam studi kasus ini adalah

asuhan keperawatan pada keluarga yang mengalami Gout Arthritis dengan

ketidakmampuan koping keluargadi Desa Lojajar Kecamatan Tenggarang,

Kabupaten Bondowoso tahun 2017.

3.3 Partisipan

Partisipan dalam penyusunan studi kasus ini adalah 1 keluarga yang

anggota keluarganya terdapat pasien gout arthritisdengan masalah keperawatan

ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan.

43
44

3.4 Lokasi dan Waktu

Pada studi kasus ini di lakukan asuhan keperawatan pada keluarga yang

mengalami gout dengan ketidakmampuan koping keluarga di Desa Lojajar,

Kecamatan Tenggarang, Kabupaten Bondowososelama 2 minggu.

3.5 Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah :

1) Wawancara

Hasil anamnesa yang berisi tentang (identitas lengkap klien, keluhan utama,

riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga,

dll). Sumber data dapat diperoleh dari klien, keluarga dan perawat lain (triangulasi

data).

2) Observasi dan pemeriksaan fisik

Dengan melakukan pendekatan IPPA (inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi)

pada sistem tubuh klien.

3) Studi dokumentasi

Hasil yang didapatkan dari pemeriksaan penunjang yang dilakukan klien

(pemeriksaan diagnosti seperti hasil laboratorium, rongen dan urinalisis) serta data

lain yang relevan.

3.6 Uji Keabsahan Data

Uji keabsahan data dimaksudkan untuk menguji kualitas data dan informasi

sehingga menghasilkan data dengan validitas tinggi. Uji keabsahan data dilakukan

dengan cara :
45

1) Memperpanjang waktu pengamatan atau tindakan

2) Sumber informasi tambahan menggunakan triangulasi data yaitu (klien,

keluarga,dan perawat) yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.

3.7 Analisis Data

Análisis data dilakukan di lapangan sewaktu pengumpulan data sampai

dengan semua data terkumpul. Analisa data dilakukan dengan cara

mengemukakan fakta, selanjutnya membandingkan dengan teori yang ada dan di

tuang dalam opini pembahasan, teknik análisis digunakan dengan cara

menarasikan jawaban-jawaban yang diperoleh dari hasil interpretasi wawancara

mendalam yang akan dilakukan untuk menjawab rumusan masalah. Urutan dalam

análisis data yaitu :

1) Pengumpulan data

Semua data dikumpulkan dari hasil (wanwancara, observasi dan dokumen).

Kemudian hasilnya ditulis dalam bentuk catatan lapangan, kemudian di salin

dalam bentuk transkrip (catatan terstruktur).

2) Mereduksi data

Data dari hasil (wanwancara, observasi dan dokumen) yang telah disalin

dalam bentuk transkrip kemudian dikelompokkan menjadi data subyektif dan data

obyektif, di análisis berdasarkan hasil pemeriksaan diganostik kemudian

dibandingkan dengan normal.

3) Penyajian data

Penyajian data dapat disajikan dalam bentuk tabel, gambar, bagan dan teks

naratif. Kerahasiaan klien dijaga dengan mengaburkan identitasnya.


46

4) Kesimpulan

Dari data yang disajikan, kemudian data di bahas dan di bandingkan dengan

hasil-hasil penulisan terdahulu dan secara teoritis dengan perilaku kesehatan.

Penarikan kesimpulan dilakukan dengan cara induksi. Data yang dikumpulakn

terkait data pengkajian, diagnosis, perencanaan, tindakan dan evaluasi.

3.8 Etika Penelitian

Ditemukan etika yang mendasar penyusunan studi kasus terdiri dari :

1) Informed Consent (Persetujuan menjadi klien)

Informed consent diberikan kepada responden yang diteliti. Peneliti

memberi penjelasan mengenai maksud dan tujuan penelitian pada responden, jika

responden bersedia maka harus menandatangani lembar persetujuan dan apabila

responden menolak, peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya.

2) Anonymity (Tanpa nama)

Subjek mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang di dapat untuk

disembunyikan yaitu bisa dengan tanpa nama/Initial (Nursalam,2008).

3) Confidentiality (Kerahasiaan)

Subjek berhak untuk meminta bahwa data yang di berikan untuk

dirahasiakan (Nursalam, 2008).


47

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Gambaran lokasi dan pengambilan data

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 24 Agustus – 2 September 2017

di rumah Tn. S yang beralamat Desa Lojajar RT 04 RW 02 Kecamatan

Tenggarang selama 5x kunjungan dalam 2 minggu. Rumah Tn. S yang ditempati 6

x 13 meter persegi dengan 2 kamar berdampingan, 1 ruang tamu dan keluarga, 1

dapur dan ruang makan, 1 kamar mandi dan WC. Tipe rumah permanen, keadaan

lantai terbuat dari keramik, ventilasi rumah cukup, sinar matahari dapat masuk

melalui jendela kaca disetiap ruangan ( total jendela 7 ).limbah rumah mengalir

keselokan dibelakang rumah. Kamar Mandi permanen dan menggunakan kramik.

Jarak septic tank dengan WC ± 5 meter. Tn. S mendapatkan air bersih dari air

Bor. Tn. S tinggal sendiri dirumahnya semenjak istrinya meninggal pada tahun

2012. Tn. S setiap pagi dan sore dikirimi makanan dan lauk oleh anak bungsunya

yang terletak di timur rumah Tn. S dengan jarak ± 25 meter. Anak Tn.S tiga

orang, yang pertama Tn.M yang bekerja di jakarta, Tn. S yang bekerja di bali, dan

Ny. S yang berada di timur rumahnya. Tn. S tinggal sendiri karena kemauannya

sendiri, Ny. S mengatakan ia mempunyai keluarga dan dua orang anak, ia tinggal

di rumah suaminya sejak pertama kali menikah dan mendapat restu dari ibunya

untuk tinggal dengan suaminya.

47
48

4.1.2 Pengkajian

4.1.2.1 Identitas peneliti

NamaPuskesmas Tenggarang No. Register -


Nama Perawat Tanggal Pengkajian 24 Agustus 2017

4.1.2.2 Data Keluarga


Nama Kepala Sutaji Bahasa sehari-hari Madura
Keluarga
Alamat Rumah & Yankes terdekat, Jarak 150 m (polindes)
Telp 5,5 Km (puskesmas
Pekerjaan Tidak Alat transportasi Sepeda motor
bekerja
Agama & Suku Islam / Status Kelas Sosial Menengah kebawah
Madura

4.1.2.3 Data anggota keluarga


N Na Hub Um J Suk Pendidik Pekerja Status TTV Status
o ma dgn ur K u an an Saat Gizi (TB, (TD, N, S, Imunis
KK Terakhir Ini BB, P) asi
BMI) Dasar
1 Sut KK 87 K Ma Tidak Tidak TB: 161 TD: -
aji th IS dur tamat SD bekerja cm 140/70
a BB: 63 mmhg
kg N: 82
BMI: x/menit
S: 36,5oC
P: 20
x/menit

4.1.2.4 Tahap dan riwayat perkembangan keluarga

Tahap perkembangan keluarga saat ini:

Tugas perkembangan keluarga


Dapat dijalankan  Tidak Dpt Dijalankan
Bila tidak dijalankan, sebutkan Klien mengatakan, ia tinggal sendiri dirumah. Anak anaknya
tinggal bersama istri/suaminya.

4.1.2.5 Struktur keluarga


Pola komunikasi Baik  Disfungsional
Peran dalam keluarga Tidak ada masalah Ada masalah 
Nilai / norma keluarga Tidak ada konflik nilai Ada konflik 
Pengambilan keputusan keluarga mengatakan, “ bila ada masalah, saya selalu mengatasi
dalam keluarga sendiri, tapi kalau anak-anak saya tahu mereka membantu masalah
yang sedang dialami tapi pendapat anak saya sering tidak
sependapatdengan saya. Saat ada istri saya, saya selalu
bermusyawaroh dengan istri saya dalam mengambil keputusan”.
49

4.1.2.6 Fungsi keluarga


Fungsi afektif Berfungsi  Tidak berfungsi
Fungsi sosial Berfungsi  Tidak berfungsi
Fungsi ekonomi Baik Kurang baik 

4.1.2.7 Pola Koping Keluarga

Mekanisme koping Efektif Tidak Efektif 

Stressor yg dihadapi keluarga keluarga mengatakan “ semenjak istri saya meninggal, saya tidak
bisa menjaga kesehatan lagi, jika ada masalah saya yang
menyelesaikan masalah itu sendiri. Saat sakit, saya harus
menunggu anak-anak saya datang bekerja untuk ke
dukun/tukang pijet atau ke rumah sakit (puskesmas)”.

4.1.2.8 Data penunjang keluarga


Rumah dan Sanitasi Lingkungan PHBS Di Rumah Tangga
 Kondisi Rumah  Jika ada Bunifas, Persalinan ditolong oleh
Type rumah : permanen/semi permanen* tenaga kesehatan :
Lantai : Ya/ Tidak*
tanah/plester/keramik,lainnya…. ..................................................................
Kepemilikan rumah : sendiri / sewa*  Jika ada bayi, Memberi ASI ekslusif : Ya/
 Ventilasi : Tidak*
Baik (10-15% dari luas lantai): ya/tidak* .................................................................
Jendela setiap hari dibuka: ya/tidak*keluarga  jika ada balita, Menimbang balita tiap bln :
mengatakan “bagaimana saya mau membuka Ya/ Tidak*
jendela tiap hari nak, sedangkan keadaan saya ................................................................
saperti ini, dan yang tinggal dirumah ini hanya  Menggunakan air bersih untuk makan &
saya sendiri”. minum:
PencahayaanRumah : Ya/ Tidak*
Baik/ Tidak*  Menggunakan air bersih untuk kebersihan
 Saluran Buang Limbah : diri:
Tertutup/terbuka* Ya/ Tidak*
Air Bersih :  Mencuci tangan dengan air bersih & sabun :
Sumber air bersih: sumur/PAM/sungai/lain- Ya/ Tidak*
lain*,  Melakukan pembuangan sampah pada
BOR. tempatnya:
Kualitas air : Bersih Ya/ Tidak*
 Jamban Memenuhi Syarat : Keluarga mengatakan “ saya tidak mempunyai
Kepemilikan jamban : ya/tidak* tempat sampah”.
Jenis jamban : leherangsa/cemplung*  Menjaga lingkungan rumah tampak bersih
Jarak septic tank dengan sumber air : ±13,4m ya/tidak
Rumah terlihat kotor dan tidak terawat
 Tempat Sampah:  Mengkonsumsi lauk dan pauk tiap hari :
Kepemilikan tempat sampah ;Ya/Tidak* Ya/ Tidak*
Jenis : Tertutup/Terbuka *  Menggunakan jamban sehat :
Keluarga mengatakan tidak memiliki tempat Ya/ Tidak*
sampah  Memberantas jentik di rumah sekali seminggu
 Rasio Luas Bangunan Rumah dengan :
Jumlah Ya/ Tidak* (menguras, mengubur, menutup)
Anggota Keluarga (8m2/orang) Ya/Tidak * Keluarga mengatakan “saya tidak mampu
Hanya ada satu orang dalam rumah. membersihkan rumah sendiri dan rutin, kalau
sudah hampir hari raya anak-anak saya yang
membersihkan)
50

 Makan buah dan sayur setiap hari : Ya/


Tidak*
 Melakukan aktivitas fisik setiap hari : Ya/
Tidak* keluarga mengatakan, “saya tidak bisa
bekerja berat, berjalan jauh. Aktivitas saya tiap
hari hanya duduk dan menjaga rumah”.
Tidak merokok di dalam rumah : Ya/ Tidak*
merokok didalam rumah
□Penggunaan alkohol dan zat adiktif : ya/tidak

4.1.2.8 Kemampuan keluarga melakukan tugas pemeliharaan kesehatan anggota


keluarga
1) Adakah perhatian keluarga kepada anggotanya yang menderita sakit:
 Ada Tidak
2) Apakah keluarga mengetahui masalah kesehatan yang dialami anggota
dalam keluarganya :  Ya  Tidak
3) Apakah keluarga mengetahui penyebab masalah kesehatan yang dialami
anggota dalam keluarganya:
 Ya  Tidak,klien mengatakan “saya tidak serumah dengan anak-
anak saya, yang mereka tahu hanya jika saya sakit, tidak mengetahu
penyebabkan”.
4) Apakah keluarga mengetahui tanda dan gejala masalah kesehatan yang
dialami anggota dalam keluarganya :
 Ya  Tidak ,
5) Apakah keluarga mengetahui akibat masalah kesehatan yang dialami
anggota dalam keluarganya bila tidak diobati/dirawat :
 Ya  Tidak, keluarga jarang memeriksa kesehatannya ke yankes,
bila sakit (nyeri sendi) klien pergi ke dukun (tukang pijet).
6) Pada siapa keluarga biasa menggali informasi tentang masalah kesehatan
yang dialami anggota keluarganya:
 Keluarga  Tetangga ,
 Kader  Tenaga kesehatan, yaitu perawat/ bidan Desa.
7) Keyakinan keluarga tentang masalah kesehatan yang dialami anggota
keluarganya:
 Tidak perlu ditangani karena akan sembuh sendiri biasanya
 Perlu berobat ke fasilitas yankes
51

 Tidak terpikir
8) Apakah keluarga melakukan upaya peningkatan kesehatan yang dialami
anggota keluarganya secara aktif : (bagaimana bentuk tindakan upaya
peningkatan kesehatan),
 Ya  Tidak, : Klien mengatakan “saya hanya tinggal sendiri, anak-
anak saya tidak serumah, jika sakit saya pijat dan terkadang periksa ke
rumah sakit (Pkm)”.
9) Apakah keluarga mengetahui kebutuhan pengobatan masalah kesehatan
yang dialami yang dialami anggota keluarganya :
 Ya  Tidak , keluarga klien mengatakan, “jika periksa ke rumah
sakit (puskesmas) baru dapat obat”.
10) Apakah keluarga dapat melakukan cara merawat anggota keluarga dengan
masalah kesehatan yang dialaminya:  Ya  Tidak, klien mengatakan,
“saya tinggal sendiri di rumah ini, anak-anak saya sudah berkeluarga dan
tidak serumah, tapi sering menjenguk saya disini”.
11) Apakah keluarga dapat melakukan pencegahan masalah kesehatan yang
dialami anggota keluarganya:
 Ya  Tidak, keluarga mengatakan, “saat istri saya masih ada, dia
yang selalu menjaga kesehatan saya, seperti tidak memasak makanan yang
tidak boleh di makan, dll. Saat istri meninggal, saya hanya mengikuti saran
anak-anak saya kalau sudah menjenguk”
12) Apakah keluarga mampu memelihara atau memodifikasi lingkungan yang
mendukung kesehatan anggota keluarga yang mengalami masalah
kesehatan:
 Ya  Tidak, jelaskan
13) Apakahkeluargamampumenggali dan memanfaatkansumber di
masyarakatuntukmengatasimasalahkesehatananggotakeluarganya:
 Ya  Tidak
Keluarga mengatakan “tidak mengerti cara memanaatkan fasilitas
kesehatan, kalau sakit ya pijet. Kalau tidak sembuh ke rumah sakit sama
anak saya”.
52

4.1.2.9 Kemandirian keluarga


KEMANDIRIAN KELUARGA
Kriteria :
8. Menerima petugas puskesmas Kemandirian I : Jika memenuhi kriteria 1&2
9. Menerima yankes sesuai rencana Kemandirian II : jika memenuhi kriteria 1
10. Menyatakan masalah kesehatan secara s.d 5
benar Kemandirian III : jika memenuhi kriteria 1
11. Memanfaatkan faskes sesuai anjuran s.d 6
12. Melaksanakan perawatan sederhana sesuai Kemandirian IV : Jika memenuhi kriteria 1
anjuran s.d 7
13. Melaksanakan tindakan pencegahan secara
aktif
14. Melaksanakan tindakan promotif secara
aktif
Kategori :
Kemandirian I Kemandirian II

Kemandirian III Kemandirian IV

Contoh : Centang (kemandirian I) apabila keluarga memenuhi kreteria 1&2

4.1.2.9 Analisa data


No Tanggal Data Masalah
1 24 Ds : Klien mengatakan jika ada masalah Ketidakmampuan koping
agustus sulit untuk menyelesaikannya, karena keluarga
2017 tinggal sendiri dan pendapat anaknya tidak
sesuai dengan yang diharapkan klien.
Klien mengatakan tidak dapat mengelola
masalah dengan keluarganya.

Do :
Klien tampak meringis dan memegang
lututnya saat hendak berdiri dari duduk.
klien tampak sedih saat ditanya tentang cara
menyelesaikan masalah dalam keluarga.
TD: 140/70 mmHg
N : 82x/menit
S : 36,5oC
P : 20x/menit
Urin Acid :
7,1 mg/dl

4.1.3Diagnosa keperawatan
No Tanggal Diagnosa Paraf
1 24 Agustus 2017 Ketidakmampuan koping keluarga
Kode : 00073
Domain 9. Koping/ toleransi stress
Kelas 2. Respon Koping
53

4.1.3.1 Preoritas diagnosa keperawatan

Diagnosa keperawatan : Ketidakmampuan koping keluarga


KRITERIA SCORING BOBOT NILAI PEMBENARAN
Sifat masalah 1 2/3 x 1 = 2/3 Tn. S merasakan
3. Tidak/kurang sehat 2 kehilangan sosok istri
2. Ancaman yang selalu menjaga
kesehatan pola makan dan
1. Keadaan sejahtera kesehatan. Saat istrinya
meninggal, tidak ada
yang secara rutin
memperhatikan pola
makannya.
Kemungkinan diubah 2 2/2 x 2 = 2 Setiap hari klien makan
2. Mudah 2 dengan nasi, sayur,
1. Sebagian 1 tahu dan tempe yang di
0. Tidak dapat diubah 0 masakkan oleh
anaknya.
Potensial dicegah 1 1/3 x 1 = 1/3 Perubahan perilaku
3. Tinggi 3 pada masyarakat sulit
2. Cukup 2 sekali diubah sehingga
1. Rendah 1 memerlukan jangka
waktu yang lama.
Menonjolnya masalah 1 0/2 x 1 = 0 Keluarga tidak
2. Masalah berat harus 2 merasakan masalah
ditangani masalah yang sedang
1. Ada masalah tapi 1 dihadapi
tidak perlu segera
ditangani
0. Masalah tidak 0
dirasakan
Jumlah total 3

Rumus skoring:
Skor yang diperoleh x bobot
skor tertinggi
54

4.1.4 Intervensi keperawatan


Diagnosa Tujuan Evaluasi Intervensi
keperawatan TUM TUK Kriteria Standar
Ketidakmampuan Setelah memberikan Setelah dilakukan tindakan Respon Verbal - Mampu memahami 1. Bantu pasien dalam
koping keluarga asuhan keperawatan keperawatan selama 2x Respon Kognitif: tujuan jangka pendek mengidentifikasi
diharapkan keluarga kunjungan dalam (Verbal) dan jangka panjang tujuan jangka pendek
dan klien mampu seminggu, diharapkan - Keluarga koping keluarga. dan jangka panjang
menghadapi masalah keluarga dapat: mampu - Mampu menjelaskan yang tepat
dalam keluarga dan - Menghadapi masalah mengerti sumber yang tersedia 2. Bantu pasien dalam
dapat mengelola keluarga tentang: untuk menyelesaikan memeriksa sumber-
masalah secara - Mengelola masalah a) Gout Arthritis masalah. sumber yang tersedia
efektif. keluarga dengan baik. b) Diet untuk - Mampu menjelaskan untuk memenuhi
- Melibatkan anggota Gout Artritis yang realistis tujuan-tujuannya
keluarga dalam c) Cara terhadap adanya
pengambilan pencegahan perubahan dalam
3. Dukung hubungan
(pasien) dengan orang
keputusan. dan perawatan peran.
yang memiliki
- Menggunakan sumber Gout Artritis. - Mampu menjelaskan
ketertarikan dan tujuan
daya masyarakat yang solusi alternatif
yang sama
tersedia dan peduli Afektif: terhadap situasi yang
kebutuhan semua - Pernyataan ada. 4. Bantu pasien untuk
anggota keluarganya. sikap dari menyelesaikan
keluarga masalah dengan cara
tentang yang kontruktif
pengambilan 5. Berikan penilaian
keputusan (kemampuan)
dalam penyesuaian pasien
menindaklanjut terhadap perubahan-
i jika ada perubahan dalam citra
anggota tubuh, sesuai indikasi
keluarga yang 6. Berikan penilaian
sakit. mengenai dampak dari
situasi kehidupan
55

Psikomotor: pasien terhadap peran


- Mampu dan hubungan (yang
menjelaskan ada)
yang realistis 7. Dukung pasien untuk
terhadap mengidentifikasikan
adanya diskripsi yang realistik
perubahan terhadap adanya
dalam peran. perubahan dalam peran
8. Beirkan penilaian
mengenai pemahaman
pasien terhadap proses
penyakit
9. Berikan penilaian dan
diskusikan respon
alternatif terhadap
situasi yang ada
10.Evaluasi kemampuan
pasien dalam membuat
keputusan
11.Dukung (kemampuan
dalam) penilaian
terhadap batasan orang
lain
12.Sediakan informasi
aktual mengenai
diagnsis, penanganan,
dan prognosis
56

4.1.5 Implementasi keperawatan


Diagnosa Hari ke 1 Hari ke 2 Hari ke 3
keperawatan
Ketidakefektifan 24/08/17 1. Bina hubungan saling 26/08/17 4. Membantu pasien bersama 28/08/17 11. Memberikan penilaian
pemeliharaan 11.00 percaya antara pasien 11.00 keluarga dalam memeriksa 10.00 dan mendiskusikan
kesehatan dan keluarga. sumber-sumber yang tersedia respon alternatif terhadap
2. Menjelaskan tujuan untuk memenuhi tujuan-tujuannya situasi yang ada
dilakukannya asuhan 5. Mendukung hubungan (pasien) 12. Mengevaluasi
keperawwatan dengan orang yang memiliki kemampuan pasien dalam
3. Membantu pasien dalam ketertarikan dan tujuan yang sama membuat keputusan
mengidentifikasi tujuan 6. Membantu pasien dan keluarga 13. Mendukung (kemampuan
jangka pendek dan untuk menyelesaikan masalah dalam) penilaian terhadap
jangka panjang yang dengan cara yang kontruktif batasan orang lain
tepat tentang koping 7. Memberikan penilaian 14. Memberikan penyuluhan/
keluarga. (kemampuan) penyesuaian pasien informasi aktual
terhadap perubahan-perubahan mengenai diagnsis,
dalam citra tubuh, sesuai indikasi penanganan, dan
8. Memberikan penilaian mengenai prognosis
dampak dari situasi kehidupan
pasien terhadap peran dan
hubungan (yang ada)
9. Mendukung pasien bersama
keluarga untuk
mengidentifikasikan diskripsi
yang realistik terhadap adanya
perubahan dalam peran
10. Memberikan penilaian mengenai
pemahaman pasien terhadap
proses penyakit
57

Diagnosa Hari ke 4 Hari ke 5


Keperawatan
29/08/17 Kunjungan bersama dosen 02/09/17 1. Mengucapkan salam terapeutik
10.00 pembimbing 14.00 2. Menjelaskan tujuan dan manfaat
dari kunjungan ke klien
3. Meminta keluarga menceritakan
dan menjelaskan tentang keadaan
dan hubungan dengan keluarga
yang lainnya.
4. Memberikan penilaian terhadap
pendapat keluarga
5. Memotivasi keluarga untuk selalu
berkomunikasi dan berdiskusi jika
ada masalah dalam keluarga.
58

4.1.6 Evaluasi keperawatan


Evaluasi Tanggal Hari ke 1 Tanggal Hari ke 2 Tanggal Hari ke 3
Diagnosa 1 24/08/17 Knowledge: 26/08/17 Knowledge: 28/08/17 Knowledge:
11.40 - Tn.S menyebutkan stressor 11.50 - Tn. S dan keluarga 12.00 - Tn. S mampu menyebutkan
yang sering dihadapinya. menyebutkan tempat solusi saat ada masalah.
- Tn. S tidak dapat pelayanan kesehatan diDesa - Tn. S mampu menjelasakan
memencahkan masalah yang dan puskesmas. pengertian gout/ asam urat.
ada. - Tn.S tinggal terpisahdari - Tn. S mampu menyebutkan
anak-anaknya karena makanan yang dapat
Afektif: berkeluarga. menyebabkan gout/asam
- Tn. S mengatakan tidak tahu - Tn. S mampu membuat urat.
cara menyelesaikan masalah sapu lidi, dan aktivitas
yang ada pada keluarganya. kecil. Afektif:
- Tn. S mengatakan mengerti
Psikomotor: Afektif: tentang penyakit asam urat
- Tn. S tampak sedih saat di - Tn. S mengatakan jika ada dan mengetahui
tanya tentang keluarganya. masalah diselesaikan penyebabnya.
dengan istrinya saat belum
meninggal. Psikomotor:
- klien tampak senang atas
Psikomotor: kedatangan perawat.
- Tn. S tampak merindukan - Klien tampak senang saat
semua anak-anaknya. menyebutkan tanda gejala
dan penyebab gout/ asam
urat.
59

Evaluasi Tanggal Hari ke 4 Tanggal Hari ke 5


Diagnosa 1 29/08/17 Knowledge : 02/09/17 Knowledge :
11.45 - Tn. S mampu menjelaskan 15.15 - Keluarga mampu bercerita
pengertian asam urat dengan rinci tentang
- Tn. S mampu memahami keluarganya.
tujuan jangka pendek dan - Keluarga mampu
jangka panjang koping menyabutkan masalah
keluarga. kesehatan yang diderita
- Tn. S mampu menjelaskan klien.
sumber yang tersedia untuk Afektif :
menyelesaikan masalah. - Keluarga menceritakan
tentang kondisi keluarganya
Afektif : sebelum ibunya meningal
- Tn. S mengatakan mengerti sampai kondisi sekarang
tentang penyakitnya. Psikomotor :
- Tn. S mengatakan dirinya - Keluarga tampak sedih saat
tidak bisa bekerja seperti bercerita.
dulu lagi (supir).
Psikomotor :
- Tn. S tampak gembira atas
kedatangan tenaga
kesehatan yang
diharapkannya.
60

4.2 Pembahasan

4.2.1 Pembahasan untuk TUK 1: Pengkajian

Data keluarga Tn. S yang berusia 87 tahun tinggal sendiri dalam satu rumah,

istri Tn. S sudah lama meninggal, Tn memiliki 3 orang anak. Anak dan cucunya

sudah menikah, Tn. S yang dulu bekerja sebagai sopir, nampak sedih saat ditanya

tentang istrinya, mata Tn. S berkaca – kaca “istri saya meninggal pada tahun

2012, sejak dari waktu itu saya tinggal sendiri nak tidak ada teman untuk

bermusyawarah”.sejak tahun 2010 yang lalu Tn. S tidak bekerja lagi karena

usianya yang sudah tua dan istriya yang melarang untuk bekerja,” saya dilarang

untuk bekerja dengan istri saya karena sudah tua, anak – anak saya juga melarang

saya untuk bekerja nak”, saat ini Tn bekerja sebagai pedangang dan pembuat sapu

lidi.

Tahap perkembangan kelarga usia lanjut, dimulai saat pensiun sampai

dengan salah satu pasangan meninggal dan keduanya meninggal. Tugas

perkembangan usia lanjut seperti mempertahankan suasana rumah yang

menyenangkan, adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman,

kekuaatan fisik dan pendapat, mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial

masyarakat (Fridmen, 2010).

Tahap perkembangan keluarga saat ini yaitu keluarga usia lanjut, tugas

perkembangan keluarga tidak dapat dijalankan, hal ini tidak sesuai dengan teori

yang ada karena Tn. S tidak dapat mempertahankan suasana rumah yang

menyenangkan, tidak dapat beradaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan.

Tn. S selalu merasa sedih saat mengingat istrinya, Tn. S tidak bersemangat untuk

membersihkan rumahnya, Tn. S merasa kesepian anak dan cucunya tinggal


61

terpisah dengannya, sehingga jika Tn. S sakit atau ada masalah yang mengganggu

fikirannya, Tn. S mengatakan tidak tahu harus bermusyarawah dengan siapa “jika

saya sakit atau memiliki masalah seperti tidak punya uang atau mengingat istri

saya, saya menyelesaikan sendiri, dan saya tidak bercerita pada anak dan cucu

saya karena tidak serumah dengan saya”.

Struktur keluarga yang terjadi pada keluarga tersebut pada pola komunikasi

disfungsional hal ini tidak sesuai dengan teori struktur keluarga, karena Tn. S

selalu menyembunyikan masalah yang dihadapi dari dari anak dan cucunya,

sedangkan pada peran keluarga tidak ada perbedaan dengan teori. Pengambilan

keputusan dalam keluarga keluarga mengatakan, “ bila ada masalah, saya selalu

mengatasi sendiri, tapi kalau anak-anak saya tahu mereka membantu masalah

yang sedang dialami tapi pendapat anak saya sering tidak sependapat dengan saya.

Saat ada istri saya, saya selalu bermusyawaroh dengan istri saya dalam

mengambil keputusan. Fungsi keluarga berjalan dengan baik, tidak ada masalah

pada fungsi afektif, sosial, serta fungsi ekonomi keluarga.

Pola koping keluraga tidak efektif, stressor yang dihadapi Tn. S adalah

penyakit gout yang diderita oleh Tn.S, saat penyakitnya kambuh Tn. S hanya

berdiam diri tidak menceritakan kepada anaknya karena Tn.S takut anaknya

khawatir tentang keadaannya.

Data penunjang keluarga meliputi kondisi rumah Tn. S yang ditempati 6 x

13 meter persegi dengan 2 kamar berdampingan, 1 ruang tamu dan keluarga, 1

dapur dan ruang makan, 1 kamar mandi dan WC. Tipe rumah permanen, keadaan

lantai terbuat dari keramik, ventilasi rumah cukup, sinar matahari dapat masuk

melalui jendela kaca disetiap ruangan (total jendela 7).limbah rumah mengalir
62

keselokan dibelakang rumah. Kamar Mandi permanen dan menggunakan kramik.

Jarak septictank dengan WC ± 12 meter. Tn. S mendapatkan air bersih dari air

Bor, konsumsi buah dan sayur tidak setiap hari, ada anggota keluarga yang

merokok didalam rumah. Hal ini memenuhi syarat rumah sehat dan sesuai dengan

teori data penunjang keluarga.

Kemampuan melakukan tugas pemeliharaan kesehatan anggota keluarga.

Anggota keluarga sangat peduli kepada anggota keluarga yang sakit, keluarga

juga mengetahui masalah yang dialami anggota keluarganya yaitu asam urat/ gout

artritis dan hipertensi yang diderita oleh Tn. S, keluarga juga mengetahui

penyebab terjadinya gout dikarenakan Tn.S memiliki riwayat pola makan tidak

teratur pada saat masih bekerja dulu, tetapi keluarga tidak mengetahui tanda dan

gejala gout, keluarga hanya tahu saat Tn. S sudah sakit. Keluarga Tn. S sering

menggali informasi kesehatan kepada perawat Desa, tetapi tidak menanyakan

tentang kesehatan Tn. S, keluarga dan Tn. S berkeyakinan bahwa penyakitnya

tidak perlu dibawah kepelayanan kesehatan cukup dengan dipijat/ dibawa

kedukun. Keluarga Tn. S jarang periksa kepelayanan kesehatan selama

penyakitnya tidak parah, dan keluarga Tn. S tidak tahu manfaat faasilitas

kesehatan serta pelayanan yang ada didalamnya.

4.2.2 Pembahasan untuk TUK 2: Diagnosa keperawatan

Tn. S mengatakan “jika ada masalah saya selalu selesaikan sendiri pak,

kalau dulu saat masih ada istri saya, saya selalu bercerita dengan istri saya.

Semenjak istri saya meninggal, saya menyelesaikan masalah sendiri. Terkadang

jika masalah ekonomi anak anak saya ikut membantu mengatasi masalah
63

tersebut. Saat saya sakit seperti sakit lutut, anak saya langsung memanggil tukag

pijet /dukun kerumah, saya berusaha sendiri dan tidak menceritakan pada anak

anak saya, jika anak anak saya tahu, saya bermusyarawoh dengan mereka. Tetapi,

pendapat dari anak anak saya jarang sesui dengan keinginan saya”.

Diagnosa keperawatan yang muncul sama pada tinjauan kasus pada kasus

tersebut yang sesuai dengan teori adalah sebagai berikut Ketidakmampuan koping

keluarga berhubungan dengan kurangnya dukungan / motivasi keluarga ( Monica,

2015).

Pada diagnosa keperawatan ketidakmampuan koping keluarga sangat sesuai

dengan kondisi pasien dilapangan, sehingga dapat mempermudah peneliti untuk

mengumpulkan data yang secara maksimal.

4.2.3 Pembahasan untuk TUK 3: Intervensi keperawatan

Keluarga Tn. S memiliki beberapa masalah keperawatan, salah satunya

ketidakmampuan koping keluarga. Ketidakmampuan koping keluarga ini

memiliki beberapa tujuan dan intervensi yang sesuai dengan data keluarga Tn. S.

Pada prinsipnya antara teori – teori yang ada pada buku acuan Nursing

Intervention Classification NIC (Bulechek, 2013) Sesuai dengan kasus nyata

dalam merencanakan asuhan keperawatan pada kasus dengan gout di keluarga

Tn.S tidak mengalami perbedaan.

Intervensi merupakan acuan untuk menentukan kegiatan ataupun program,

dan intervensi ini sangat membantu peneliti dalam melakukan pengumpulan data

dari keluarga Tn. S tersebut.


64

4.2.4 Pembahasaan untuk TUK 4: Implementasi keperawatan

Pada prinsipnya semua tindakan keperawatan yang dilakukan terhadap klien

masih mengacu pada perencanaan, tetapi tidak semua perencanaan dapat

diterapkan pada klien. Hal ini disebabkan karena keadaan klien yang tidak

memungkinnkan atau membutuhkan waktu yang lama untuk dilakukanya tindakan

yang sesuai dengan intervensi yang dibuat.

Kegiatan dalam pelaksanaan juga meliputi pengumpulan data berkelanjutan,

mengobservasi respon klien selama dan sesudah pelaksanaan tindakan, serta

menilai data yang baru (Rohmah & Walid, 2014).

Pada implementasi ini terdapat beberapa intervensi yang tidak dapat

dilakukan karena keterbatasan klien dan waktu, akan tetapi hal itu dapat

dimodifikasi dengan alternatif intervensi lain sehingga klien dapat menerima

informasi secara optimal. Misalnya pada intervensi Sediakan informasi aktual

mengenai diagnsis, penanganan, dan prognosispenyakit gout dengan cara

memberikan penyuluhan tentang penyakit gout dengan bahasa yang sering

digunakan klien.

4.2.5 Pembahasan untuk TUK 5: Evaluasi

Pada evaluasi semua masalah belum dapat teratasi. Terutama pada masalah

ketidakefektifan koping keluarga setelah dilakukan tindakan keperawatan selama

4 kali kunjungan masih teratasi sebagian, sehingga tidak sesuai dengan tujuan

yang direncanakan oleh peneliti seperti menghadapi masalah keluarga dan

melibatkan anggota keluarga dalam pengambilan keputusan. walaupun pada

dasarnya untuk menentukan berhasil atau tidaknya perawatan yang diberikan


65

mengacu pada tujuan dan kriteria hasil yang ada pada perencanaan. Sehingga

harus memodifikasi tujuan dan kriteria hasil dari teori.

Pada teori pada diagnosa keperawatan ketidakmampuan koping keluarga,

memiliki beberapa tujuan, diantaranya ialah menghadapi maslah keluarga,

mengelola masalah keluarga, melibatkan anggota keluarga dalam pengambilan

keputusan, peduli terhadap kebutuhan semua anggota keluarga, dan menggunakan

sumber daya masyarakat yang tersedia (Monica, 2015).

Setelah sebagaian besar dari intervensi dilakukan, ada beberapa intervensi

yang tidak dapat diterapkan secara langsung malainkan dengan memodifikasinya

terlebih dahulu. Hal ini mengakibatkan kesulitan bagi peneliti untuk menyelesai

intervensi seperti teori, dan peneliti berharap dengan proses keperawatan yang

mengacu pada teori teori yang telah dipaparkan dapat berguna bagi peneliti dan

keluarga.
66

BAB 5
PENUTUP
5.1 Kesimpulan

Asuhan keperawatan keluarga pada anggota yang mengalami gout artritis

dengan masalah keperawatan ketidakmampuan koping keluarga terdiri dari lima

tahapan.

5.1.1 Pada tahap pengkajian, asuhan keperawatan pada anggota keluarga gout

artritis dengan masalah keperawatan ketidakmampuan koping keluarga

terdiri dari 5 tahapan terjadi pada keluarga Tn. S disebabkan karena

kurangnya informasi tentang penyakit dan ketidakmampuan dalam

membuat keputusan.

5.1.2 Pada diagnosa keperawatan masalah yang muncul adalah ketidakmampuan

koping keluarga yang didasarkan pada status kesehatan, pengetahuan

promosi kesehatan, koping/ toleransi stres : Gaya koping tidak sesuai

antara individu pendukung dan klien, perasaan yang tidak diungkapkan

secara kronis oleh individu pendukung, perbedaan gaya koping antara

individu pendukung dan klien.

5.1.3 Pada intervensi keperawatan rencana tindakan keperawatan yang dilakukan

yaitu sesuai dengan NANDA NIC 2013.

5.1.4 Pada implementasi keperawatan, tindakan yang dilakukan yaitu

meningkatkan keterlibatan keluarga dalam proses perawatan anggota

keluarga yang menderita gout artritis, meningkatan kesadaran kesehatan

keluarga dalam mengefektifakan pemeliharaan kesehatan, mengajarkan

proses penyakit gout artritis terutama membantu klien dalam

mengidentifikasi tujuan jangka pendekndan jangka panjang yang tepat

66
67

tentang koping keluarga, membantu klien dan keluarga untuk

menyelesaikan masalah dengan cara yang kontruktif, memberikan

penilaian (kemampuan) penyesuaian klien terhadap perubahan-perubahan

dalam citra tubuh, sesuai indikasi serta memberikan pemahaman mengenai

panduan sitem pelayanan kesehatan.

5.1.5 Pada evaluasi mengacu pada kriteria hasil yang ada dalam intervensi yang

dibuat. Evaluasi yang didapat pada kasus tersebut dapat diatasi. Hal ini

disebabkan karena keluarga sangat kooperatif dan sangat antusias dalam

mencapai kesembuhan yang optimal. Dari 5 kali evaluasi tersebut keluarga

Tn. S merasa terpuaskan karena penyakit gout artritis yang mereka

pikirkan akan sulit sembuh akhirnya dengan melakukan pola hidup sehat.

Keluarga Tn. S dapat membuat keputusan dan mampu menceritakan

malahnya kepada anggota keluarga terdekat sehingga masalah yang

dihadapi keluarga Tn. S dapat teratasi sebagian.

5.2 Saran

5.2.1 Diharapkan pada masa yang akan datang dapat digunakan sebagai salah

satu sumber data untuk penelitian selanjutnya dan dilakukan penelitian

lebih lanjut berdasarkan faktor lainnya, tempat yang berbeda, diagnosa

yang berbeda untuk penyakit gout artritis.

5.2.2 Hasil dari penelitian diharapkan dapat menjadi dasar untuk keluarga agar

mempertahankan pola hidup sehat dan mampu membuat koping dalam

keluarga khusunya dalam penyakit gout artritis, dan memberikan informasi


68

kepada keluarga lainnya tentang tindakan pencegahan untuk menurunkan

angka kejadian gout artritis di wilayah tersebut.

5.2.3 Bagi petugas kesehatan, hendaknya selalu memberikan pendidikan

kesehatan tentang gout artritis dan cara pencegahannya yang sesuai dengan

keadaan klien atau keluarga.

5.2.4 Masyarakat indonesia masih heterogen dan masih sangat perlu

penyebarluasan pengertian tentang penyakit gout artritis. Faktor penyebab

serta cara pencegahan, pemahaman dalam penanganan penyakit gout

artritis dengan penyuluhan kesehatan masyarakat melalui media masa,

siaran radio, dan televisi atau melalui penyuluhan secara langsung oleh

tenaga kesehatan kepada masyarakat terutama keluarga.

5.2.5 Sebenarnya masyarakat yang menderita gout artritis dalam keluarga sesuai

dengan teori, akan tetapi masyarakat belum mengetahui tentang cara

pencegahan seperti pola hidup sehat, pengaturan diet yang benar dan

berolah raga secara rutin.


69

DAFTAR PUSTAKA

Bulechek, Gloria M. dkk. 2013. Nursing Interventions Classification (NIC).

Yogyakarta: Mocomedia.

Brunner & Suddarth. 2015. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta. EGC

Data Kunjungan Puskesmas. 2016. Puskesmas Tenggarang. Kabupaten

Bondowoso

Dianati, Nur. 2015. Gout and hyperuricemia. Faculty of medicine, University of

lampung.

Dinas Kesehatan. 2016. 15 penyakit terbanyak di Kabupaten Bondowoso.

Ester, Monica. 2015. diagnosis keperawatan definisi & klasifikasi. Jakarta. EGC

Kementrian Kesehatan. 2011.

Friedman, Marilyn M. dkk. 2014. Buku Ajar Keperawatan Keluarga Riset, Teori,

dan Praktik. Jakarta: EGC.

Herdman, T. Heather dan Shigemi Kmitsuru. 2015. Diagnosis Keperawatan

Definisi dan Klasifikasi 2015-2017. Jakarta: EGC.

Huda, Amin dan Hardhi Kusuma. 2016. Asuhan Keperawatan Praktis.

Yogyakarta: Mediaction Jogja.

Moorhed, S. dkk. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC). Yogyakarta:

Moco Media.

Rohmah, Nikmatur dan Saiful Walid. 2014. Proses Keperawatan Teori dan

Aplikasi. Jogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Rosyidi, Kholid. 2013. Buku Muskuloskeletal. Jakarta: Trans Info Media


70

Sudoyo, Aru W. dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta:

InternaPublising.

Suratun dkk. 2008. klien gangguan system musculoskeletal. Jakarta. EGC