Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH KEPEMIMPINAN QUANTUM (QUANTUM LEADERSHIP)

PADA SEKTOR PUBLIK DAN SWASTA YANG EFEKTIF


(Tugas Mata Kuliah Kepemimpinan)

Oleh:
GURUH LEO WIBOWO
NPM .1826061024

MAGISTER ILMU ADMINISTRASI (MIA)/PUBLIK


FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pemimpin dan kepemimpinan selalu menarik dibicarakan oleh berbagai lapisan
masyarakat. Seperti para guru/dosen, pelajar/mahasiswa, pengusaha, birokrat,
orang tua, pemuda, seniman, olahragawan, cendekiawan, politikus dan
sebagainya. Pada intinya semua yang terikat dengan orang lain atau dengan
perkumpulan, himpunan, asosiasi, lembaga dan organisasi. Semuanya tidak dapat
terlepas dari pembahasan tentang pemimpin dan kepemimpinan. Pemimpin, bukan
anak buah. Dialah yang bertanggung jawab dengan gaya kepemimpinannya. Gaya
kepemimpinan adalah suatu cara yang digunakan oleh seorang pemimpin dalam
mempengaruhi perilaku orang lain. Gaya kepemimpinan merupakan norma
perilaku yang dipergunakan oleh seseorang pada saat orang tersebut mencoba
mempengaruhi perilaku orang lain. Masing-masing gaya tersebut memiliki
keunggulan dan kelemahan. Seorang pemimpin akan menggunakan gaya
kepemimpinan sesuai kemampuan dan kepribadiannya. Setiap pimpinan dalam
memberikan perhatian untuk membina, menggerakkan dan mengarahkan semua
potensi bawahan di lingkungannya memiliki pola yang berbeda-beda antara satu
dengan yang lainnya . Perbedaan itu disebabkan oleh gaya kepemimpinan yang
berbedabeda pula dari setiap pemimpin. Kesesuaian antara gaya kepemimpinan,
norma-norma dan kultur organisasi dipandang sebagai suatu prasyarat kunci untuk
kesuksesan prestasi seorang pemimpin.

Dalam situasi yang sulit ia bukan sekedar pemangku jabatan, melainkan seseorang
yang menimbulkan gerakan dengan kekuatan pengaruhnya. Seorang pemimpin
pada dasarnya adalah orang yang menciptakan perubahan. Ia tidak terpaku dan
berselancar di atas pola yang dibuat oleh para pendahulunya, melainkan membuat
jalan-jalan baru yang lebih baik dan lebih sesuai dengan kebutuhan. Ia bahkan
menawarkan tujuan-tujuan baru untuk dicapai bersama-sama. Kepemimpinan
adalah kemampuan untuk merealisasikan potensi yang ada pada “pengikutnya”
dan mengarahkan keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan dari kelompoknya
untuk menghasilkan “sesuatu”. Padahal pada saat ini anggota organisasi semakin
kritis, sehingga diperlukan pendekatan kepemimpinan baru, yang tidak dapat
mengandalkan pola-pola kepemimpinan yang lama. Organisasi membutuhkan
suatu pola kepemimpinan yang mampu menggerakkan anggotanya untuk
bersama-sama berjuang mencapai cita-cita yang telah disepakati bersama.
Organisasi yang memiliki kepemimpinan yang baik akan mudah dalam
meletakkan dasar kepercayaan terhadap anggota-anggotanya, sedangkan
organisasi yang tidak memiliki kepemimpinan yang baik akan sulit untuk
mendapatkan kepercayaan dari para anggotanya. Organisasi tersebut akan kacau
dan tujuan organisasinya tidak akan tercapai.

Pola kepemimpinan inilah yang dituangkan dalam konsep Quantum Leadership.


Semua orang memiliki tujuan dalam hidupnya. Namun keterbatasan yang mereka
miliki antara satu dengan yang lainnya adalah menjadi alasan mereka untuk
membentuk suatu organisasi. Dimana semua orang berkumpul dalam suatu wadah
untuk bekerja sama dalam mencapai tujuan yang telah mereka tetapkan. Dalam
setiap organisasi harus memiliki pemimpin agar berjalan dengan baik. Tanpa
adanya pemimpin tentu sangat sulit dan tidak mudah dalam menjalankan semua
elemen dan komponen yang ada dalam organisasi tersebut. Seorang pemimpin
tidak begitu saja dipiliih dan ditentukan. Ada kriteria-kriteria tertentu yang harus
dimiliki olehnya. Segenap kemampuan dalam berpikir dan berbuat menjadi
pertimbangan yang sangat urgen diperhatikan. Beragam kepemimpinan yang
dibuat oleh setiap pemimpin di dunia ini. Cara dan pandangan mengenai suatu
permasalahan menjadi daya dari kepemimpinan seseorang.

Maka tidak bisa dielakkan lagi kalau menjadi seorang pemimpin memiliki
tanggung jawab dan peran yang sangat berat. Tetapi itu semua bisa diatasi bila ia
memiliki cara dan strategi yang baik dan sesuai dengan kondisinya. Maka
penyusun mencoba menguraikan materi kepemimpinan dengan model
kepemimpinan quantum dan coba menggambarkannya terhadap mencapai visi
pemimpin itu sendiri.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud pemimpin dan kepemimpinan ?
2. Apa fungsi kepemimpinan?
3. Apa saja teori-teori kepemipinan?
4. kepemimpinan yang efektif?
5. Apa pengertian pemimpin quantum?
6. Bagaimana konsep kepemimpinan quantum?
7. Penerapan model Kepemimpinan Quantum di sektor Publik dan sektor
Swasta yang efektif.

C. Tujuan
1. Mengetahui definisi dari pemimpin dan kepemimpinan
2. Mengetahui fungsi-fungsi kepemimpinan
3. Mengetahui teori-teori kepemimpinan
4. Mengetahui pemimpin dan kepemimpinan yang Efektif
5. Mengetahui pengertian dan konsep pemimpin quantum
6. Mengetahui konsep kepemimpinan quantum
7. Mengetahui model Kepemimpinan Quantum di sektor Publik dan sektor
Swasta.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pemimpin dan Kepemimpinan


1. Pengertian Pemimpin
Menurut Kartini Kartono, Pemimpin adalah seorang pribadi yang memiliki
kecakapan dan kelebihan, khususnya kecakapan/kelebihan di satu bidang
sehingga dia mampu mempengaruhi orang-orang lain untuk bersama-sama
melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi pencapaian satu atau beberapa tujuan.
Menurut Miftha Thoha pemimpin adalah seseorang yang memiliki kemampuan
memimpin, artinya memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain atau
kelompok tanpa mengindahkan bentuk alasannya. Selain itu, C.N. Cooley juga
mengungkapkan pendapatnya tentang definisi pemimpin. Menurutnya pemimpin
itu selalu merupakan titik pusat dari suatu kecenderungan, dan sebaliknya, semua
gerakan sosial, kalau diamat-amati secara cermat, akan ditemukan didalamnya
kecenderungan-kecenderungan yang mempunyai titik pusat.

Menurut Henry Mintzberg, seorang pemimpin setidaknya memiliki tiga peran


yaitu :
1. Peran hubungan antar perorangan: fungsinya sebagai pemimpin yang dapat
dicontoh, membangun tim, pelatih, direktur, mentor konsultasi.
2. Fungsi peran informal sebagai monitor, penyebar informasi dan juru bicara.
3. Peran pembuat keputusan, berfungsi sebagai pengusaha, penanganan
gangguan, sumber alokasi dan negosiator.

Seorang pemimpin harus memiliki kriteria sebagai berikut, yaitu :


1. Pengaruh: seorang pemimpin harus bisa mempengaruhi orang-orang yang
mengikutinya atau yang ada di bawahnya agar mau menjalankan apa yang di
inginkan oleh pemimpin tersebut.
2. Kekuasaan/power: Seorang pemimpin umumnya diikuti oleh orang lain
karena dia memiliki kekuasaan/power yang membuat orang lain menghargai
keberadaannya.
3. Wewenang: Hak yang dimiliki oleh seseorang untuk menetapkan sebuah
keputusan dalam melaksanakan suatu kebijakan.
4. Pengikut: Seorang pemimpin yang memiliki pengaruh, kekuasaaan/power,
dan wewenang tidak dapat dikatakan sebagai pemimpin apabila dia tidak
memiliki pengikut yang berada di belakangnya yang memberi dukungan dan
mengikuti apa yang dikatakan sang pemimpin. Tanpa adanya pengikut maka
pemimpin tidak akan ada. Pemimpin dan pengikut adalah dua hal yang tidak
dapat dipisahkan dan tidak dapat berdiri sendiri.

Dari definisi diatas dapat disumpulkan bahwa pemimpin adalah orang yang
mempunyai kemampuan mempengaruhi orang lain agar mau mengikuti apa yang
di inginkan dalam rangka mencapai suatu tujuan.

2. Pengertian Kepemimpinan
Dalam suatu organisasi kepemimpinan merupakan faktor yang sangat penting
dalam menentukan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan oleh organisasi.
Kepemimpinan merupakan titik sentral dan penentu kebijakan dari kegiatan yang
akan dilaksanakan dalam organisasi. Kepemimpinan adalah aktivitas untuk
mempengaruhi perilaku orang lain agar supaya mereka mau diarahkan untuk
mencapai tujuan tertentu (Thoha, 1983:123). Sedangkan menurut Robbins
(2002:163) Kepemimpian adalah kemampuan untuk mempengaruhi suatu
kelompok untuk mencapai tujuan. Sedangkan menurut Ngalim Purwanto
(1991:26) Kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan
sifat-sifat kepribadian, termasuk didalamnya kewibawaan untuk dijadikan sebagai
sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mereka mau dan dapat
melaksanakan tugas-tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh
semangat, ada kegembiraan batin, serta merasa tidak terpaksa.

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah


kemampuan untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok orang
untuk mencapai tujuan tertentu pada situasi tertentu. Kepemimpinan merupakan
masalah sosial yang di dalamnya terjadi interaksi antara pihak yang memimpin
dengan pihak yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama, baik dengan cara
mempengaruhi, membujuk, memotivasi dan mengkoordinasi. Dari sini dapat
dipahami bahwa tugas utama seorang pemimpin dalam menjalankan
kepemimpinannya tidak hanya terbatas pada kemampuannya dalam melaksanakan
program-program saja, tetapi lebih dari itu yaitu pemimpin harus mempu
melibatkan seluruh lapisan organisasinya, anggotanya atau masyarakatnya untuk
ikut berperan aktif sehingga mereka mampu memberikan kontribusi yang posetif
dalam usaha mencapai tujuan.

3. Fungsi Kepemimpinan
Fungsi – fungsi kepemimpinan adalah sebagai berikut :
a. Fungsi Perencanaan
Seorang pemimpin perlu membuat perencanaan yang menyeluruh bagi
organisasi dan bagi diri sendiri selaku penanggung jawab tercapainya tujuan
organisasi.
b. Fungsi memandang ke depan
Seorang pemimpin yang senantiasa memandang ke depan berarti akan mampu
mendorong apa yang akan terjadi serta selalu waspada terhadap kemungkinan.
Hal ini memberikan jaminan bahwa jalannya proses pekerjaan ke arah yang
dituju akan dapat berlangusng terus menerus tanpa mengalami hambatan dan
penyimpangan yang merugikan. Oleh sebab seorang pemimpin harus peka
terhadap perkembangan situasi baik di dalam maupun diluar organisasi
sehingga mampu mendeteksi hambatan-hambatan yang muncul, baik yang kecil
maupun yang besar.
c. Fungsi pengembangan loyalitas
Pengembangan kesetiaan ini tidak saja diantara pengikut, tetapi juga untuk para
pemimpin tingkat rendah dan menengah dalam organisai. Untuk mencapai
kesetiaan ini, seseorang pemimpin sendiri harus memberi teladan baik dalam
pemikiran, kata-kata, maupun tingkah laku sehari – hari yang menunjukkan
kepada anak buahnya pemimpin sendiri tidak pernah mengingkari dan
menyeleweng dari loyalitas segala sesuatu tidak akan dapat berjalan
sebagaimana mestinya.

d. Fungsi Pengawasan
Fungsi pengawasan merupakan fungsi pemimpin untuk senantiasa meneliti
kemampuan pelaksanaan rencana. Dengan adanya pengawasan maka hambatan
– hambatan dapat segera diketemukan, untuk dipecahkan sehingga semua
kegiatan kembali berlangsung menurut rel yang elah ditetapkan dalam rencana .
e. Fungsi mengambil keputusan
Pengambilan keputusan merupakan fungsi kepemimpinan yang tidak mudah
dilakukan. Oleh sebab itu banyak pemimpin yang menunda untuk melakukan
pengambilan keputusan. Bahkan ada pemimpin yang kurang berani mengambil
keputusan. Keputusan – keputusan yang bersifat rumit dan kompleks sebab
masalahnya menyangkut perhitungan – perhitungan secara teknis agar diambil
dengan bantuan seorang ahli dalam bidang yang akan diambil keputusannya.
f. Fungsi memberi motivasi
Seorang pemimpin perlu selalu bersikap penuh perhatian terhadap anak
buahnya. Pemimpin harus dapat memberi semangat, membesarkan hati,
mempengaruhi anak buahnya agar rajin bekerja dan menunjukkan prestasi yang
baik terhadap organisasi yang dipimpinnya. Pemberian anugerah yang berupa
ganjaran, hadiah, piujian atau ucapan terima kasih sangat diperlukan oleh anak
buah sebab mereka merasa bahwa hasil jerih payahnya diperhatikan dan
dihargai oleh pemimpinnya.

4. Teori-teori Kepemimpinan
a. Leader traits (sifat-sifat pemimpin)
Five treats and skill:
Capacity; intellegence, alertness, verbal pacility, originality, judgment.
1) Achievement; scholarship, knowledge, athletic accomplishments.
2) Responsibility, dependability, initiative, persistence, aggressiveness, self
confidence, desire to excel.
3) Participation; activity, sociability, cooperations, adaptability, humor.
4) Status; socioeconomic, popularity.

b. Kepemimpinan situasional
Model kepemimpinan situasional merupakan pengembangan model
watak kepemimpinan dengan fokus utama faktor situasi sebagai variabel penentu
kemampuan kepemimpinan. Studi-studi tentang kepemimpinan situasional
mencoba mengidentifikasi karakteristiik situasi atau keadaan sebagai faktor
penentu utama yang membuat seorang pemipin berhasil melaksanakan tugas-tugas
organisasi secara efektif dan efesien.
c. Pemimpin yang efektif
Model kajian kepemimpinan ini memberikan informasi tentang tipe-tipe tingkah
laku para pemimpin yang efektif. Tingkah laku para pemimpin dapat
dikategorikan menjadi dua dimensi, yaitu struktur kelembagaan dan konsiderasi.
d. Kepemimpinan kontigensi
Studi kepemimpinan jenis ini memfokuskan perhatiannya pada kecocokan antara
karakteristik watak pribadi pemimpin tingkah lakunya dan variabel-variabel
situasional. Terdapat 4 tingkah laku pada model kepemimpinan ini:
1) Supporive leadership (menunjukkan perhatian terhadap kesejahteraan
bawahan dan menciptakan iklim kerja yang bersahabat.
2) Directive leadership (mengarahkan bawahan untuk bekerja sesuai dengan
peraturan, prosedur dan petunjuk yang ada.
3) Participative leadership (konsultasi terhadap bawahan dalam pengambilan
keputusan
4) Achivement-oriented leadership (menentukan tujuan organisasi yang
menantang dan menekankan perlunya kinerja memuaskan.
e. Kepemimpinan transformasional
Pada hakekatnya model ini menekankan seorang pemimpin perlu memotivasi para
bawahannya untuk melakukan tanggung jawab merekan lebih dari yang
diharapkan.
5. Kepemimpinan Efektif
Kepemimpinan berlangsung dalam kehidupan manusia sehari-hari. Kepemim-
pinan sebagai suatu proses dapat berlangsung di dalam dan di luar suatu
organisasi. Kepemimpinan yang efektif merupakan proses yang dinamis, karena
berlangsung di lingkungan suatu organisasi sebagai sistem kerjasama sejumlah
manusia untuk mencapai tujuan tertentu, yang bersifat dinamis pula. 7 Tanda
Pemimpin Sukses Semua orang mungkin saja bisa menjadi pemimpin, tapi tak
semuanya bisa menjadi pemimpin yang sukses. Ada beberapa tanda yang bisa
dilihat apakah seseorang bisa menjadi pemimpin yang baik dan amanah.

Seorang pemimpin tentu saja memikul tanggung jawab yang berat. Jika ia gagal
menjadi seorang pemimpin yang baik, maka dampaknya bisa menjadi sangat
buruk bagi orang-orang yang dipimpinnya. Jika ia tidak mampu memimpin, tentu
saja hal ini akan berdampak pada kemajuan dan kelanggengan sebuah perusahaan.
Karena itulah, sebuah gaya kepemimpinan yang tepat sangat perlu dimiliki oleh
seorang atasan. Berikut beberapa tanda atau ciri pemimpin yang baik dan sukses,
seperti diungkapkan oleh Rebecca Hourston, Director of Programs Aspire, sebuah
perusahaan di bidang penelitian, seperti dikutip dari Womensmedia.

a) Berani dan penuh percaya diri


Agar seorang atasan memiliki cahaya yang terang, ia harus memiliki keberanian
untuk melakukan sebuah tantangan besar. Saat akan mengambil sebuah
tantangan, seorang pemimpin harus berani mengambil risiko dan harus terus
berjalan, tak peduli yang dikatakan orang lain. Di sini karakter yang kuat
sangat diperlukan oleh seorang pemimpin. Ia harus memiliki kepercayaan diri
yang tinggi bahwa apa yang akan dilakukannya ialah sesuatu yang benar dan
akan mendatangkan sebuah keuntungan bagi perusahaan. Inti dari gaya
kepemimpinan ini ialah, jangan pernah takut mengambil risiko dan jangan
pernah takut melakukan kesalahan. Untuk memunculkan sifat ini, sebaiknya
atasan melakukan evaluasi, hal penting dan menantang apa yang bisa
dilakukannya. Selain itu, setiap hari selama satu minggu, buatlah tiga sampai
lima hal tentang gaya kepemimpinan yang efektif jika diterapkan, kemudian
terapkan gaya tersebut pada minggu berikutnya.
b) Mempertajam kekuatan
Seorang ahli di bidang emotional intelligence, Daniel Goleman, melakukan
penelitian terhadap gaya kepemimpinan di 500 perusahaan dan menemukan
beberapa tipe kepemimpinan yang menonjol, misalnya melihat jauh ke depan
(visionary), demokratis, dan senang melatih. Nah, carilah keahlian atau
kekuatan Anda dan jadikan hal tersebut sebagai gaya kepemimpinan Anda.
Gaya kepemimpinan tersebut nantinya bisa menjadi ciri khas Anda. Gaya
tersebut juga akan menjadi kekuatan yang akan mengantarkan Anda pada
kesuksesan di dunia karier.

c) Padukan beberapa gaya kepemimpinan


Meski memiliki ciri khas gaya kepemimpinan, sebaiknya seorang pemimpin juga
bisa memadukan beberapa gaya kepemimpinan sekaligus dalam dirinya. Dalam
penelitiannya, Goleman juga menegaskan bahwa para pemimpin yang sukses
umumnya memadukan beberapa gaya kepemimpinan pada dirinya karena satu
gaya saja tidak pernah cukup mengatasi masalah yang banyak.

Jika misalnya seorang atasan pria harus banyak berinteraksi dengan karyawan
yang kebanyakan perempuan atau sebaliknya, gunakan pendekatan dengan
gaya kepemimpinan yang lembut dan penuh perhatian. Tapi di saat tertentu,
gunakan gaya kepemimpinan maskulin yang tegas. Untuk bisa memadukan
beberapa gaya kepemimpinan dengan tepat, identifikasi wilayah dan karyawan
yang ada di bawah atasan, kemudian carilah gaya kepemimpinan yang tepat
untuk dipadukan dengan gaya kepemimpinan yang menjadi ciri
khasnya. Setelah itu, lihat hasilnya dan lakukan evaluasi jika hasilnya belum
maksimal.

d) Ciptakan tujuan
Untuk menjadi seorang pemimpin yang baik, seseorang harus bisa
mengomunikasikan tujuan, visi, dan misi yang ingin dicapai oleh timnya.
Dengan mengomunikasikan, ini akan membuat bawahan merasa terpacu untuk
mencapai target, dan atasan sang pemimpin juga bisa melihat bahwa pemimpin
ini bisa membimbing anak buahnya.
Untuk bisa menemukan tujuan dan visi yang tepat, pelajarilah semua hal yang
terjadi di luar perusahaan. Setelah itu, tentukan tujuan, bangun kerja tim, dan
gerakkan mereka semua untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

e) Pemberi semangat
Pemimpin yang terbaik adalah manusia karena manusia bisa memberikan
semangat dan mampu memotivasi karyawannya. Pemimpin haruslah bisa
menempatkan dirinya sebagai seorang motivator saat karyawannya menemui
halangan.Seorang pemimpin harus bisa melihat potensi setiap karyawannya
hingga tiap karyawan bisa memberikan yang terbaik bagi perusahaan. Karena
itulah, seorang pemimpin yang baik seharusnya selalu bertanya pada dirinya
sendiri, ”apa yang bisa saya berikan pada tim saya hari ini?”

f) Seimbang
Setiap pemimpin harus bisa mengukur risiko yang dihadapinya. Selain itu,
ciptakan waktu yang tepat untuk menikmati hidup di luar pekerjaan.

g) Menjadi diri sendiri


Tak ada yang lebih baik selain menjadi diri sendiri. Karena itulah, jadilah
pemimpin yang sesuai dengan kepribadian Anda, jangan berusaha untuk menjadi
orang lain yang bukan diri Anda.

6. Quantum leadership (Kepemimpinan Quantum )


a. Defenisi dan Konsep Kepemimpinan Quantum.
Makna quantum dalam konteks kepemimpinan lebih menekankan kepada “sedikit
tetapi memberi dampak yang sangat besar”. Artinya seorang pemimpin dengan
pendekatan Quantum Leadership akan memberi dampak dan energi yang sangat
besar kepada organisasi dan seluruh anggotanya.

Konsep Quantum Leadership adalah konsep kepemimpinan yang berorientasi


pada masa depan dengan komitmen untuk dapat “melihat dan bermimpi”,
“mengubah”, serta “menggerakkan” anak buah ke arah tujuan yang direncanakan.
Menurut quantum leadership, pemimpin harus dapat melihat masa depan dan
bermimpi apa yang harus dicapai di masa depan. Ia memiliki angan-angan tentang
bagaimana dan ke mana organisasinya dan para pengikutnya akan dibawa di masa
datang. Dia harus membuka jendela masa depan dan menuangkannya dalam
sebuah visi. Namun angan-angan saja tidak cukup, seorang pemimpin harus
merealisasikan angan-angan dan mimpimimpinya agar menjadi kenyataan di masa
depan. Artinya dia harus mengubah dari situasi sekarang menjadi situasi seperti
yang diangankan pada masa depan. Pemimpin akan mengomunikasikan angan-
angan dan mimpinya, yang dapat membangkitkan harapan, menyulut semangat,
dan beranjak dari situasi masa kini.

Selayaknya ada dua elemen dasar yang harus terkandung dalam sebuah visi, yaitu
sebuah kerangka kerja konseptual untuk memahami tujuan dan bagaimana
mencapainya, serta sisi emosionalnya untuk memacu motivasi. Mimpi yang
bernama visi itu, haruslah realistik, dipercaya, dan mempunyai daya tarik masa
depan. Seorang pemimpin harus memiliki kemampuan untuk menciptakan dan
mengartikulasikan sebuah visi yang realistis, kredibel, memacu semangat dan
akhirnya menggerakkan pengikutnya untuk mencapai tujuan. Konsep ini akan
berjalan lancar apabila terdapat lima kekuatan besar yang menjadi pendukung
penerapan konsep ini yaitu visi, strategi, komitmen, aksi, dan sensitivitas. Visi
berarti cita-cita ke depan, lamunan atas masa depan organisasi. Sebab seperti
sebuah pepatah menyatakan bahwa “kita tidak akan pernah mampu membangun
sebuah kastil di mana pun juga apabila kita tidak mampu membangunnya dalam
pikiran kita”. Visi ini kemudian dijabarkan menjadi misi dan diderivasi lebih
lanjut menjadi strategi. Strategi yang menjadi panduan bagi tiap anggota
organisasi dalam melakukan segala kegiatannya. Komitmen lebih kepada
berpegang terhadap apa yang telah ditetapkan bersama, yaitu visi, misi, tujuan
jangka panjang, sampai ke tahapan strategi.

Faktor selanjutnya adalah aksi. Aksi di sini adalah derivasi lanjutan dari strategi.
Jadi, lebih mengarah kepada taktik dari organisasi yang bersangkutan. Faktor
terakhir adalah sensitivitas. Yang dimaksud dengan sensitivitas di sini adalah
sensitivitas terhadap perubahan yang terjadi disadari atau tidak. Perubahan baik
dari dalam ataupun dari luar organisasi. Kelima hal ini membantu terlaksananya
tiga filosofi dasar quantum leadership. Pertama, filosofi yang berkaitan dengan
tugas seorang pemimpin untuk ‘melihat, bermimpi, dan melaksanakan’, yang
disebut sebagai architect approach. Seorang pemimpin diumpamakan sebagai
seorang arsitek pembangun masa depan organisasi. Dia diharapkan mampu
membuat bangunan imajinernya tentang bangunan masa depan organisasi, tetapi
tetap juga harus berpijak pada realitas, yang dapat kita sebut sebagai pendekatan
Creative Imagination Based on Reality (CIBOR).

Seorang arsitek apabila diberikan sebidang tanah yang berbukit-bukit untuk


dibangun, tidak akan berpikir seperti berikut: “Wah, ini sih sulit…mengapa tidak
membeli sebidang tanah yang datar sehingga akan memudahkan saya untuk
membangunnya ?”. Jika hal ini yang terjadi, maka arsitek itu bukanlah arsitek
yang hebat. Mengapa? Karena tidak semua tanah itu datar. Justru ia harus
menghadapi realitas yang ada (tanah berbukit-bukit), dan menciptakan bangunan
yang paling layak untuk kondisi yang ada. Seorang pemimpin harus memahami
realitas internal maupun eksternal organisasi, menerima keadaan ini, dan
membuat angan-angan “bangunan masa depan” berdasarkan realitas ini. Jadi,
imajinasi yang hebat saja tidak memadai, karena tetap harus berpijak ke bumi.

Seorang Quantum Leader tidak boleh berpikir melantur ke mana-mana, tetapi


harus mempunyai pemikiran yang sangat mungkin untuk direalisasikan. Kedua,
filosofi yang berkaitan dengan peran seorang Quantum Leader untuk
“mengubah”, yaitu Nurture with Respect, Love, and Care. Artinya untuk
“mengubah” anggota organisasi diperlukan pendekatan personal yang prima dari
seorang pemimpin. Pemimpin yang baik akan membimbing pengikutnya sehingga
mereka mampu – paling tidak – menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri.
Pemimpin yang baik akan membimbing anak buahnya dengan rasa hormat, cinta,
dan penuh perhatian. Ketiga, filosofi Quantum Leadership berkaitan dengan
‘menggerakkan’ yaitu menerapkan The Golf Game Concept yang terdiri dari
direction (mengarahkan), distance (mengukur jarak), dan precision (ketepatan).
Maksudnya untuk menggerakkan anak buah mesti memiliki tata pikir seperti
dalam permainan golf. Sebelum memukul bola golf, pertama kali yang harus
dilakukan adalah menentukan arahnya. Jika arahnya salah semua usaha yang akan
dilakukan akan sia-sia.

Kemudian barulah memperkirakan jaraknya. Dan setelah itu berpikir mengenai


ketepatannya. Demikian pula dalam kepemimpinan. Seorang Quantum Leader
pertama kali harus berpikir mengenai arah yang ditempuh untuk mencapai visi,
kemudian memperkirakan berapa “jauh” impian itu harus dicapai dan barulah
melakukan tindakan-tindakan yang tepat. Dalam permainan golf, seseorang yang
paling ahli sekali pun tidak akan mampu menyelesaikan suatu pertandingan
berkali-kali hanya dengan satu kali pukulan (hole in one).

b. Aplikasi dai Kepemimpinan Quantum terhadap pencapaian misi


Kepemimpinan untuk mencapai visi yang telah ditetapkan perlu dibuat tahapan-
tahapan yang diperlukan. Aplikasi dari Quantum Leadership :
1. Visionary Supervision, pengawasan terhadap lamunan atau mimpi. Hal ini
penting untuk menjaga agar mimpi tersebut tidak melantur dan tidak
membumi sehingga sulit diwujudkan. Terdapat lima komponen penting
yang harus diperhatikan yaitu : dream achievement (pencapaian mimpi),
strategic comprehension (pengertian yang bersifat strategis), process and
result orientation (berorientasi pada proses dan hasil yang akan dicapai),
systematic analysis (melakukan analisis yang sistematis), dan constructive
anticipation (antisipasi yang konstruktif).
2. Positive Nurturing adalah membimbing secara positif dengan
berlandaskan pada respect – love – care. Dalam prosesnya, anggota atau
pengikut dibimbing secara personal atau pribadi dan berorientasi kepada
pencapaian kinerja tertentu untuk mencapai sasaran berupa sikap yang
professional. Sikap yang professional ini antara lain: motivasi tinggi,
berorientasi pada proses dan hasil, mampu memisahkan kehidupan
personal dengan kehidupan organisasi, dan menunjukan hasil kerja yang
optimal. Untuk mendukung proses ini diperlukan persuasi positif dan
empati sehingga tercipta hubungan yang saling menguntungkan.
3. Inner Driver, menggerakkan dorongan dari dalam dengan berlandaskan
pada prinsip memotivasi sendiri organisasi (motivation self organization)
didukung oleh sikap percaya penuh atau trust (terdiri dari
sikap/attitudekemampuan/ability-penilaian/judgement).

Kita mengenal beragam tipe kepemimpinan baik pandangan tradisional hingga


yang paling modern. Mulai dari pendekatan ciri, sifat, dan pembawaan seseorang
pemimpin kita kenal sebagai trait approach, behavioral approach, situational
approach hingga quantum leadership yang merupakan pengembangan lebih lanjut.
Quantum Leadership yang merupakan pengembangan terkini dari konsep
kepemimpinan yang ada.

Konsep kepemimpinan memang telah banyak mengalami transformasi. Dimulai


dari trait approach yaitu konsep kepemimpinan dengan pendekatan sifat, ciri atau
pembawaan yang kemudian berubah menjadi kepemimpinan berdasarkan perilaku
(behavioral approach). Perkembangan selanjutnya adalah konsep kepemimpinan
situasional. Dirasakan adanya perubahan pada dunia bisnis sehingga dibutuhkan
sebuah pendekatan baru. Pendekatan ini kita kenal sebagai Quantum Leadership.

Semua perubahan di atas merupakan perubahan paradigma kepemimpinan sesuai


dengan tuntutan perkembangan zaman. Tanpa adanya dukungan penuh dari
follower, mustahil leader akan berhasil. Konsep yang mendukung keberhasilan
quantum leadership ini disebut dengan quantum followership. Dengan demikian
antara quantum leadership dengan quantum followership adalah satu kesatuan
yang utuh. Inti dari konsep quantum followership adalah kesatuan gerak,
kecepatan tindakan dan keberanian menerima tantangan. Sama seperti quantum
leadership, quantum followership juga didukung oleh lima komponen yaitu
strategi, komitmen, sensitivitas, koordinasi dan partisipasi. Tujuan akhir dari
implementasi quantum leadership adalah tercapainya peak performance, high job
satisfaction, dan high life satisfaction. Inti implementasi quantum leadership
terdiri dari pengembangan tiga sisi yaitu pengembangan mental and attitude,
professional working knowledge dan physical condition.
c. Ciri-ciri kepemimpinan Quantum
Alam semesta mendorong seseorang untuk meningkatkan energi mereka.
Kepemimpinan quantum timbul sebagai potensi energi intelektual. Tanpa potensi
energi ini, realitas yang tersisa akan menjadi tidak berarti. Oleh karena itu
kepemimpinan quantum memiliki ciri-ciri sebagai berikut, yakni:
1. kepemimpinan quantum berada pada ambang ketidakpastian, dalam arti sulit
untuk memahami kepemimpinan quantum karena secara radikal berbeda dari
teori dan metode ilmiah tradisional;
2. kepemimpinan quantum berfokus pada proses mencari jalur terobosan baru
untuk meningkatkan daya kerja yang terus menerus. Dalam hal ini, interaksi
dan interelasi menjadi lebih bermakna ketimbang angka-angka di atas kertas.
Dengan kata lain, tidak mungkin untuk merencanakan hasil dan inovasi baru
dengan cara yang linear. Performa yang lebih baik akan terjadi oleh proses
dan interaksi, dimana proses dapat dikembangkan tanpa batas;
3. Kepemimpinan quantum secara signifikan mendorong orang bekerja sama
untuk meningkatkan efek sinergi kinerja;
4. kepemimpinan quantum tetap membuat rencana aksi. Namun, penekanan
lebih diarahkan pada bagaimana menggunakan energi organisasi untuk
mencapai target dengan baik dan bermakna;
5. kepemimpinan quantum bertujuan untuk mengakhiri rutinitas dan kemalasan,
sehingga secara terus-menerus akan mendorong pembelajaran
untuk meningkatkan energi intelektual. Pembelajaran baru disediakan untuk
merangsang kebiasaan berpikir di luar batas, membangun dan meningkatkan
hubungan, dan membiasakan hidup dengan kompleksitas;
6. kepemimpinan quantum menerima realitas yang tak terlihat seperti
konsep roh dan pikiran. Berbeda dengan
asumsi kepemimpinan Newtonian yang mengabaikan nilai-nilai individu,
kelompok, dan tim kerja;
7. Kepemimpinan quantum mencoba untuk memahami hubungan unik dari
setiap sifat individu, bukan dengan memisahkan mereka serta tidak begitu
mempercayai solusi kuantitatif. Kuantifikasi merupakan dasar prinsip biner
(Newtonian) dari ilmu pengetahuan. Kepemimpinan quantum tidak
menyangkal pengukuran demikian, akan tetapi hal tersebut hanya berguna
untuk membangun beberapa bagian dari realitas, dan bukan totalitas;
8. Kepemimpinan quantum tetap dapat mengikuti metode kuantitatif dan
empirikal Newtonian, yaitu pengetahuan canggih yang diperoleh melalui
kuantifikasi tingkat tinggi;
9. Kepemimpinan quantum memfasilitasi interaksi antara bagian-bagian dalam
sistem, dimana kebebasan individu dapat memberikan kontribusi;
10. Dalam kepemimpinan quantum setiap individu dapat memainkan dua peran,
baik sebagai pemimpin maupun sebagai individu atau pengikut;
11. Kepemimpinan quantum dikembangkan untuk meningkatkan kinerja secara
terus-menerus. Kepemimpinan quantum tidak dapat dipecah menjadi
beberapa nilai dan pertanyaan tentang kinerja. Dalam hal ini, penilaian
adanya baik atau buruk bersifat saling melengkapi untuk membangun kinerja
relatif dan inter subyektif;
12. Dalam kepemimpinan quantum, faktor eksternal adalah penting. Tanpa
sumberdaya dari luar, kita tidak bisa belajar dan memperbaiki diri kita
sendiri;
13. Kepemimpinan quantum didasarkan pada komunikasi, dialog dan interaksi
yang menghasilkan energi tak terlihat dalam organisasi. Energi tak terlihat
adalah prinsip-prinsip spiritual, maka dengan berbagi prinsip-prinsip ini dapat
mempercepat kesuksesan;
14. Kepemimpinan quantum memahami kompleksitas dan transformasi yang
cepat terjadi dalam proses yang stabil dan dinamis. Namun jika muncul
situasi kekacauan, hal tersebut dapat merangsang upaya kreatif sebagai
kesempatan berharga untuk meningkatkan kinerja, pembelajaran dan
adaptasi;
15. Dalam kepemimpinan quantum, proses yang berlangsung tidak bersifat
kausal deterministik;
16. Kepemimpinan quantum bukanlah suatu cerita fiksi. Kekacauan,
kompleksitas yang dinamis pada kepemimpinan quantum merupakan suatu
tantangan kepemimpinan yang luar biasa.
17. Kepemimpinan quantum menjaga dan melestarikan secara lebih baik
kepentingan pribadi, kelompok, dan tim kerja dalam organisasi.

7. Model Kepemimpinan Quantum di sektor Publik dan sektor Swasta.


a. Kepemimpinan Quantum pada Sektor Publik
Pengertian pelayanan public adalah berbagai aktivitas yang bertujuan memenuhi
kebutuhan masyarakat akan barang dan jasa. Dan keputusan menteri
pendayagunaan aparatur Negara No. 63 tahun 2003 mendefinisikan pelayanan
public sebagai “segala bentuk pelayanan yng dilaksanakan oleh instansi
pemerintah di Pusat, di daerah dan di lingkungan Badan Usaha Milik Negara atau
Badan Usaha Milik Daerah dalam bentuk barang atau jasa, baik dalam rangka
upaya pemenuhan kebutuhan masyarakat maupun dalam rangka pelaksanaan
ketentuan peratutan perundang-undangan”.

Karakteristik pelayanan public adalah sebagai berikut :


 Pelayanan public berorientasi kepentingan public. Artinya setiap pelayanan
yang diberikan oleh yang memberi pelayanan berorientasi pada kepentingan
public bukan pada kepentingan pripadi atau kelompok tertentu. Begitu juga
dengan keputusan keputusan yang diproduksi oleh otoritas public yang
berkaitan dengan pelayanan mesti mendahulukan kepentingan public.
 Dikarenakan pelayanan public berorientasi pada kepentingan public, maka
pemberi pelayanan bukanlah seseorang yang value free atau tidak
berpihak/bebas. Melainkan ia harus berpihak pada kepentingan masyarakat.
 Proses pelayanan public harus partisipatif, memberdayakan, fast, flexible dan
friendly. Ciri ketiga ini merupakan konsekuensi logis karakter pelayanan
publik yang berorientasi kepentingan publik, berlandaskan nilai-nilai publik,
dan bersifat value free. Ciri ketiga ini menekankan arti penting pelayanan
publik sebagai proses yang nonmekanis, tetapi relasi dinamis antara manusia
dengan kelompoknya, manusia dengan alam sekitarnya, dan manusia dengan
struktur-stuktur ekonomi-politik yang dibentuk dalam rangka pengaturan
kehidupan bersama.
 Tindakan para pemberi layanan public tetap dibatasi oleh etika. Hal ini
dikarenakan pelayanan public menempatkan manusia sebagai pelaku utama.
Sehingga manusia dalam berinteraksi tidak bisa menghiraukan etika dan
moral.
 System dan proses dalam pelayanan public dibangun atas dasar aturan,
hukum dan kesepakatan.

Sedangkan dalam konsep yang diuraikan oleh Lembaga Administrasi Negara,


karakterisitk pelayanan public dibuat lebih ringkas lagi, yaitu :

1. Memiliki dasar hukum yang jelas dalam penyelanggaraannya.


2. Memiliku kelompok kepentingan yang luas, termsuk kelompok sasaran yang
ingin dicapai
3. Memiliki tujuan social
4. Dituntut untuk akuntabel kepada public
5. Memiliki konfigurasi indicator kinerja yang perlu kelugasan
6. Sangat mudah untuk dijadikan issu politik karena banyaknya sorotan dari
masyarakat sebagai penerima layanan.

Beberapa contoh pelayanan publik diantaranya adalah PLN. PLN merupakan


pemberi layanan barang yang berorientasi pada kepentingan masyarakat dan
mempertanggung jawabkan kinerjanya pada masyarakat. Dinas pencatatan sipil
juga merupakan salah satu contoh pemberi layanan publik dibidang administrasi,
yaitu memberikan surat keterangan kelahiran, kartu keluarga dan KTP. Lembaga
pelayanan publik yang memberikan layanan berupa jasa diantaranya adalah
pemberi layanan transportasi seperti busway dan kereta api. Perusahaan tersebut
memberikan layanan berupa barang dan berorientasi kepada kesejahteraan
masyarakat. Dan juga ada pelayanan regulatif yang memberikan layanan berupa
aturan aturan untuk kepentingan masyarakat agar kehidupan bermasyarakat dapat
tertata dengan baik. Seperti keluarnya UU perlindungan anak, dengan adanya UU
tersebut, maka kehidupan dan hak-hak anak dapat dilindungi secara hukum.
Ada beberapa jenis penyelenggara pelayanan publik, yaitu :

1. Pelayanan publik/pelayanan umum oleh organisasi publik, yaitu pelayanan


yang bersifat primer dan yang bersifat sekunder
2. Pelayanan publik/pelayanan umum oleh organisasi privat, yaitu pelayanan
yang dilakukan oleh pihak privat/swasta/.
3. Pelayanan publik oleh pemerintah dan bersifat primer, yaitu semua
penyediaan barang/jasa yang diselenggarakan oleh pemerintah yang di
dalamnya pemerintah merupakan satu-satunya penyelenggara, dan pengguna
mau tidak mau harus memanfaatkannya
4. Pelayanan publik oleh pemerintah dan bersifat sekunder, yaitu semua
penyediaan barang/jasa yang diselenggarakan oleh pemerintah, tetapi di
dalamnya pengguna tidak harus mempergunakannya karena adanya beberapa
penyelenggara pelayanan.
5. Pelayanan publik yang diselenggarakan oleh privat: semua penyediaan
barang/jasa publik yang diselenggarakan oleh swasta.

b. Kepemimpinan Quantum pada Sektor Privat


Pelayanan privat adalah pelayanan yang diberikan oleh pihak swasta, yang
berorientasi pada pelanggan (stakeholder) yang tujuannya adalah mencari
keuntungan/profit. Pelayanan swasta mempertanggung jawabkan kinerjanya pada
stakeholder.

Ada beberapa karakteristik dari pelayanan privat/swasta, diantaranya yaitu :


1. Sektor swasta lebih mendasarkan pada pilihan individu (individual choice)
dalam pasar. Organisasi di sektor swasta dituntut untuk dapat memenuhi
selera dan pilihan individual untuk memenuhi keputusan tiap-tiap individu
pelanggan. Keadaan seperti itu berbeda dengan yang terjadi pada sektor
publik. Sektor publik tidak mendasarkan pada pilihan individual dalam pasar
akan tetapi pilihan kolektif dalam pemerintahan.
2. Karakteristik sektor swasta adalah dipengaruhi hukum permintaan dan
penawaran (supply and demand). Permintaan dan penawaran tersebut akan
berdampak pada harga suatu produk barang atau jasa. Artinya pelayan di
sector swasta sangat bergantung dengan opini pasar dan mekanisme pasar,
tidak layaknya pelayanan public yang tidak bisa sepenuhnya dikendalikan
oleh pasar.
3. Manajemen di sektor swasta bersifat tertutup terhadap akses publik,
sedangkan sektor publik bersifat terbuka untuk masyarakat terutama yang
terkait dengan manajemen pelayanan. di sektor swasta informasi yang
disampaikan kepada publik relatif terbatas. Informasi yang disampaikan
terbatas pada laporan keuangan, sedangkan anggaran dan rencana strategis
perusahaan merupakan bagian dari rahasia perusahaan sehingga tidak
disampaikan ke public.
4. Sektor swasta berorientasi pada keadilan pasar (equity of market). Keadilan
pasar berarti adanya kesempatan yang sama untuk masuk pasar. Sektor swasta
berkepentingan untuk menghilangkan hambatan dalam memasuki pasar
(barrier to entry). Keadilan pasar akan terjadi apabila terdapat kompetisi yang
adil dalam pasar sempurna, yaitu dengan tidak adanya monopoli atau
monopsoni. Sementara itu, orientasi sektor publik adalah menciptakan
keadilan kebutuhan (equity of need).

Contoh dari pelayanan privat diantaranya adalah asuransi, layanan perbankan,


dan layanan kesehatan di rumah sakit swasta. Asuransi merupakan salah satu jenis
pelayanan yang diberikan oleh pihak swasta kepada para pelanggannya yang
membayar premi asuransi, sehingga ketika terjadi klaim oleh pemegang premi,
maka pihak asuransi wajib mengeluarkan biaya klaim. Disini terlihat bahwa
lembaga asuransi bertanggung jawab kepada stakeholder yang merupakan
pemegang premi asuransi, dan lembaga tersebut berorientasi kepada keuntungan
perusahaan dan stakeholder.
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Dalam suatu organisasi tidak dapat dilepaskan dengan seorang pemimpin.
Seorang pemimpin pasti memiliki suatu hal yang istimewa dibandingkan dengan
anggota yang lain yang ada pada organisasi itu. Kelebihan-kelebihan inilah yang
kemudian menjadi suatu penilaian dari para anggotanya. Tidak semua orang
memiliki kelebihan-kelehihan itu karena ia tidak dapat dibeli melainkan dari
pendidikan dan pengalaman.Seorang pemimpin harus mampu menjalankan
tugasnya secara baik. Semua anggota merasa diperdayakan dan diberikan haknya
secara maksimal. Semua rencana dijalankan dengan prosedur yang baik. Itulah
beratnya menjadi seorang pemimpin dimana semua tumpuan dan harapan berada
di tanganya, dan dengan model Kepemimpinan Quantum terhadap terciptanya
Kepemimpinanan yang efektif secara umum mempunyai karakteristik-
karakteristik yang dapat dikelompokkan dan diidentifikasikan, dan pada
umumnya pembahasan tentang kepemimpinan yang efektif dan tidak efektif
adalah dua kutub yang berbeda dan saling bertolak belakang. Seorang pemimpin
seharusnya tidak hanya menjaga hubungan baik dengan sesama manusia saja tapi
juga dengan Tuhan yang Maha Esa. Pemimpin harus mengetahui metode yang
digunakan dalam memimpin sebuah perusahaan, agar diharapkan kerjasama
antara karyawan dengan atasannya dapat berjalan dengan baik. Dan ia harus
faham apa tindakan yang harus diambil dalam situasi yang sulit. Seorang
pemimpin harus dituntut mempunyai EQ yang cukup baik dalam menujang
performa perusahaan, karena itu salah satu syarat pemimpin dan dapat dikatakan
efektif.

B. SARAN
Untuk menyempurnakan dan memperbaiki isi dan sistematis dalam penulisan dan
penyajian maka kami dari penyusun mengharapkan kritik dan saran dari semua
pihak yang menghasilkan perbaikan pada masa yang akan datang.
1. Pemimpin harus mengetahui apa yang diinginkan karyawan dalam
pekerjaannya, misalkan tambahan uang lembur.
2. Pemimpin juga harus banyak berkominikasi dengan bawahan agar terjadi relasi
hubungan yang baik yang akan menciptakan keharmonisan dan kemajuan
perusahaan tersebut.
3. Pemimpin harus berani di kritik demi menunjang karier nya agar ia mengetahui
apa-apa yang harus ia lakukan kedepannya.
4. Mengadakan meeting dan evaluasi kerja setiap akhir bulannya.
5. Memberikan penghargaan kepada karyawan yang mampu menghasilkan
kinerja yang baik dari ide-ide nya.
6. Menaikkan posisi yang lebih tinggi apabila dalam kurun waktu tertentu
karyawan mampu bekerja lebih dari target.
DAFTAR PUSTAKA

Chaniago, Nasrul Syakur, Manajemen Organisasi, Bandung, Citapustaka, 201

http://www.Blogger Kejora /Tugas Dan Fungsi Kepemimpinan.html

Mesiono, Manajemen Organisasi, Bandung, Citapustaka, 2010.

Rifa’i, Muhammad, dan Fadhli, Muhammad, Manajemen Organisasi, Bandung,


Cita Pustaka, 2013.

Umam, Khaerul, Manajemen Organisasi, Bandung, Pustaka Setia, 2012.