Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Semua organisasi merupakan bagian dari sistem sosial yang hidup di
tengah-tengah masyarakat. Masyarakat itu sendiri memiliki sifat dinamis, selalu
mengalami perubahan dan perkembangan. Karakteristik masyarakat seperti itu
menuntut organisasi untuk juga memiliki sifat dinamis. Tanpa dinamika yang
sejalan dengan dinamika masyarakat, organisasi tidak akan survive apalagi
berkembang. Ini berarti bahwa perubahan dalam suatu organisasi merupakan
kebutuhan yang tidak dapat dihindari. Secara terus menerus organisasi harus
menyesuaikan diri dengan tuntutan dan perubahan yang terjadi di lingkungannya.
Proses penyesuaian dengan lingkungan merupakan salah satu permasalahan besar
yang dihadapi organisasi modern.Kecuali perubahan yang bertujuan
menyesuaikan diri terhadap perubahan lingkungan, organisasi kadang-kadang
menganggap perlu secara sengaja melakukan perubahan guna meningkatkan
keefektifan pencapaian tujuan yang sudah ditetapkan. Karena sifat dan tujuan
setiap organisasi berbeda satu sama lain maka frekuensi dan kadar perubahan
yang terjadinya pun tidak selalu sama. Organisasi-organisasi tertentu lebih sering
mengalami perubahan, sementara organisasi lain relatif jarang melakukannya.

Menghadapi kondisi lingkungan yang selalu berubah tersebut, tidak ada cara
lain yang lebih bijaksana bagi seorang pimpinan kecuali dengan memahami
hakekat perubahan itu sendiri dan menyiapkan strategi yang tepat untuk
menghadapinya. Sekolah (sebagai bagian dari organisasi sosial) tidak luput dari
kondisi sebagaimana dikemukakan di atas, yang berarti jika sekolah ingin survive
apalagi berkembang dituntut untuk tanggap terhadap berbagai perubahan yang
terjadi dan mampu merespon dengan benar.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa itu model 8 Guilding Principles Kotter?
2. Apa itu model kurva adopsi inovasi?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui model 8 guilding principles Kotters.
2. Untuk mengetahui model kurva adopsi inovasi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Model 8 Guilding Principles Kotters


John P. Kotter, seorang profesor dari Harvard Bussiness School,
mengenalkan pendekatan Eight Stage process of change dalam bukunya Leading
Change. Buku Leading Change ini dipublikasikan pada tahun 1996, dan mendapat
label “fenomenal” dari praktisi-praktisi bisnis dan organisasi. Delapan langkah
perubahan organisasi ala Kotter telah banyak diaplikasikan di perusahaan-
perusahaan kelas atas dunia. Pendekatan ini telah terbukti menghasilkan implikasi
positif pada perubahan organisasi dan tentu saja menuai banyak pujian karenanya.

Pada tahun 2002, Kotter mempublikasikan The Heart of Change, yang berisi
penjabaran dari delapan langkah perubahan organisasi yang telah dipublikasikan
enam tahun sebelumnya. Pada buku ini, Kotter menggali lebih dalam masalah-
masalah inti yang dihadapi agen perubahan ketiga menerapkan kedelapan langkah
tersebut.
Berikut ini adalah Eight-stage Process ala Kotter tersebut:
1. Menumbuhkan Rasa Urgensi (Create a sense of urgency)

Langkah pertama dalam Kotter’s 8 Step Change Model ini adalah


menciptakan kebutuhan mendesak atau menumbuhkan rasa urgensi atas perlunya
suatu perubahan. Apabila kita dapat menciptakan lingkungan dimana setiap
individu didalam organisasi menyadari masalah yang ada dan dapat melihat solusi
yang dapat memecahkan permasalahan yang terjadi, maka dukungan untuk
perubahan akan meningkat. Ini juga akan memicu motivasi awal untuk membuat
semua individu dalam organisasi bergerak mendukung perubahan.

Menurut Kotter, langkah ini adalah langkah persiapan dan sekitar 75%
manajemen perusahaan harus terlibat dalam perubahan ini agar tingkat
keberhasilan perubahan ini menjadi lebih tinggi. Ini menekankan bahwa penting
untuk mempersiapkan diri sebelum terjun ke proses perubahan. Langkah ini
menciptakan ‘kebutuhan’ untuk perubahan, bukan hanya ‘keinginan’ untuk
berubah. Hal ini sangat penting ketika menyangkut dukungan dan kesuksesan
perubahan yang mungkin terjadi.

2. Membentuk Koalisi yang kuat (Build a guiding coalition)


Setelah menciptakan rasa urgensi dan kebutuhan untuk perubahan, kita
perlu meyakinkan orang lain untuk bersama-sama melakukan perubahan. Oleh
karena itu, kita perlu membangun koalisi untuk membantu kita mengarahkan
orang lain untuk melakukan perubahan. Ini membutuhkan kepemimpinan yang
kuat dan dukungan nyata dari orang-orang kunci (key person) dalam organisasi
kita. Koalisi yang kita bangun harus terdiri dari berbagai keterampilan,
pengalaman, pengetahuan, keahlian, unit kerja, jabatan atau bahkan orang-orang
yang berasal dari bidang bisnis yang lain untuk memaksimalkan efektivitasnya.
Koalisi dapat membantu kita menyebarkan pesan ke seluruh organisasi,
mendelegasikan tugas dan memastikan adanya dukungan untuk perubahan di
seluruh organisasi. Anggota tim yang berkolaborasi, saling melengkapi dan dapat
mendorong satu sama lainnya untuk bekerja lebih keras sehingga tingkat
keberhasilan akan perubahan ini lebih tinggi.

3. Menciptakan Visi Perubahan (Create a Vision for Change)

Inisiatif Perubahan mungkin sangat rumit dan sering sulit untuk


dimengerti atau dipahami oleh semua anggota organisasi terutama anggota-
anggota organisasi yang berada di hirarki paling bawah organisasi. Oleh karena
itu, menciptakan suatu Visi yang mudah dipahami dan merangkum keseluruhan
tujuan akan perubahan adalah cara yang sangat bermanfaat untuk mendapatkan
dukungan dari seluruh organisasi. Selain harus mudah dimengerti dan sederhana,
Visi juga harus dapat menjadi inspirasi agar efek yang diinginkannya tersebut
mencapai tingkat yang paling maksimum.

4. Meng-Komunikasikan Visi Perubahan (Communicating the Vision)

Visi Perubahan yang telah diciptakan harus dikomunikasikan ke seluruh


organisasi agar bisa mendapatkan dukungan dari semua anggota organisasi. Visi
Perubahan ini tidak hanya dikomunikasikan saat adanya pertemuan saja, tetapi
harus dibicarakan setiap kali ada kesempatan. Gunakan Visi ini setiap hari untuk
membuat keputusan dan pemecahan masalah.

5. Menghapus Rintangan (Removing Obstacles)

Empat langkah pertama sangat penting dalam membangun kekuatan


inisiatif suatu perubahan yang akan kita lakukan. Langkah selanjutnya adalah
mencari dan mengetahui rintangan atau hambatan apa yang kemungkinan akan
menghalangi perubahan kita. Rintangan atau hambatan tersebut dapat datang dari
pribadi anggota organisasi, perundang-undangan dan tradisi. Identifikasikan sedini
mungkin dan gunakan sumber daya yang tersedia untuk memecahnya tanpa harus
menganggu kegiatan-kegiatan lainnya dalam organisasi kita.
6. Ciptakan Sasaran Jangka Pendek (Creating Short-Term Wins)

Perubahan memerlukan proses dan waktu untuk mendapatkan hasilnya


sehingga akan mengakibatkan hilangnya dukungan atau menurunkan semangat
untuk merubah apabila proses perubahan tersebut berlangsung dalam jangka
waktu yang lama. Hal ini dikarenakan sebagian anggota organisasi akan
menganggap usaha yang telah mereka lakukan tersebut adalah sia-sia apabila
tidak dapat melihat keberhasilan atau kemenangan akan suatu perubahan dalam
waktu yang cepat. Oleh karena itu, untuk menumbuhkan semangat dan
mempertahankan dukungan akan perubahan ini, kita harus menunjukan
keuntungan dan menciptakan sasaran keberhasilan untuk jangka waktu pendek.
Sasaran jangka pendek juga merupakan alat yang berguna untuk memotivasi dan
sebagai arahan terhadap kegiatan perubahan kita. Keberhasilan atau kemenangan
jangka pendek ini dapat digunakan untuk menilai investasi yang telah kita
keluarkan dan untuk membantu memotivasi kembali anggota organisasi atau
karyawan perusahaan untuk terus mendukung perubahan.

7. Terus Membina Perubahan yang telah diciptakan (Build on the Change)

Banyak proses perubahan yang berakhir gagal karena rasa puas diri dan
kesuksesan yang dinyatakan terlalu dini. Oleh karena itu, Kotter berpendapat
bahwa sangat penting untuk mempertahankan dan memperkuat terus perubahan
tersebut meskipun telah mencapai suatu perubahan yang diinginkan. Tetaplah
menetapkan tujuan dan menganalis apa yang dapat dilakukan dengan lebih baik
untuk peningkatan yang berkelanjutan.

8. Kukuhkan Perubahan ke dalam Budaya (Anchor the Changes in Corporate


Culture)

Hanya mengubah proses dan kebiasaan saja tidak cukup untuk


menanamkan budaya perubahan ke seluruh organisasi. Perubahan harus menjadi
bagian dari inti organisasi agar perubahan dapat memberikan efek manfaat yang
lama. Mempertahankan para senior dalam perubahan dan mendorong karyawan
baru untuk mengadopsi perubahan akan membantu mempromosikan perubahan
hingga ke seluruh organisasi.

Menurut Kotter, Perubahan bukanlah proses yang mudah dan cepat


sehingga memerlukan langkah-langkah perencanaan perubahan dan bahkan ketika
sebuah perubahan dilaksanakan masih banyak lagi yang harus dilakukan untuk
memastikan keberhasilannya. Kita disarankan untuk mengikuti langkah-langkah
perubahan Kotter ini untuk memastikan inisiatif perubahan kita dapat berhasil dan
memberikan manfaat bagi organisasi.
2.2 Model kurva adopsi inovasi
2.2.1 Pengertian Inovasi

Inovasi adalah sesuatu ide, perilaku, produk, informasi, dan praktek-


praktek baru yang belum banyak diketahui, diterima dan digunakan/diterapkan,
dilaksanakan oleh sebagian besar warga masyarakat dalam suatu lokalitas tertentu,
yang dapat digunakan atau mendorong terjadinya perubahan-perubahan di segala
aspek kehidupan masyarakat demi selalu terwujudnya perbaikan-perbaikan mutu
hidup setiap individu dan seluruh warga masyarakat yang bersangkutan
(Mardikanto, 1993). Inovasi adalah suatu gagasan, metode, atau objek yang dapat
dianggap sebagai sesuatu yang baru, tetapi tidak selalu merupakan hasil dari
penelitian mutakhir. Inovasi sering berkembang dari penelitian dan juga dari
petani (Van den Ban dan H.S. Hawkins, 1999). Mosher (1978) menyebutkan
inovasi adalah cara baru dalam mengerjakan sesuatu. Sejauh dalam penyuluhan
pertanian, inovasi merupakan sesuatu yang dapat mengubah kebiasaan.

Segala sesuatu ide, cara-cara baru, ataupun obyek yang dioperasikan oleh
seseorang sebagai sesuatu yang baru adalah inovasi. Baru di sini tidaklah semata-
mata dalam ukuran waktu sejak ditemukannya atau pertama kali digunakannya
inovasi tersebut. Hal yang penting adalah kebaruan dalam persepsi, atau kebaruan
subyektif hal yang dimaksud bagi seseorang, yang menetukan reaksinya terhadap
inovasi tersebut. Dengan kata lain, jika sesuatu dipandang baru bagi seseorang,
maka hal itu merupakan inovasi (Nasution, 2004).

Rogers dan Shoemaker (1971) dalam Hanafi (1987) mengartikan inovasi


sebagai gagasan, tindakan atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Tidak
menjadi soal, sejauh dihubungkan dengan tingkah laku manusia, apakah ide itu
betul-betul baru atau tidak jika diukur dengan selang waktu sejak dipergunakan
atau diketemukannya pertama kali. Kebaruan inovasi itu diukur secara subyektif,
menurut pandangan individu yang menangkapnya. Baru dalam ide yang inovatif
tidak berarti harus baru sama sekali.

Difusi Inovasi adalah teori tentang bagaimana sebuah ide dan teknologi
baru tersebar dalam sebuah kebudayaan . Teori ini dipopulerkan oleh Everett
Rogers pada tahun 1964 melalui bukunya yang berjudul Diffusion of
Innovations. Ia mendefinisikan difusi sebagai proses dimana sebuah inovasi
dikomunikasikan melalui berbagai saluran dan jangka waktu tertentu dalam
sebuah sistem sosial.

Teori Difusi Inovasi pada dasarnya menjelaskan proses bagaimana suatu


inovasi disampaikan (dikomunikasikan) melalui saluran-saluran tertentu
sepanjang waktu kepada sekelompok anggota dari sistem sosial.
Tujuan utama dari difusi inovasi adalah diadopsinya suatu inovasi (ilmu
pengetahuan, tekhnologi, bidang pengembangan masyarakat) oleh anggota sistem
sosial tertentu. Sistem sosial dapat berupa individu, kelompok informal, organisasi
sampai kepada masyarakat.

2.2.2 Elemen – elemen Difusi Inovasi

Sesuai dengan pemikiran Rogers, dalam proses difusi inovasi terdapat 4


(empat) elemen pokok, yaitu:

1) Inovasi merupakan Gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap baru


oleh seseorang. Dalam hal ini, kebaruan inovasi diukur secara subjektif
menurut pandangan individu yang menerimanya. Jika suatu ide dianggap
baru oleh seseorang maka ia adalah inovasi untuk orang itu. Konsep
”baru” dalam ide yang inovatif tidak harus baru sama sekali.

2) Saluran komunikasi merupakan ”Alat” untuk menyampaikan pesan-pesan


inovasi dari sumber kepada penerima. Dalam memilih saluran komunikasi,
sumber, paling tidak perlu memperhatikan:

Tujuan diadakannya komunikasi

 Karakteristik penerima.

Jika komunikasi dimaksudkan untuk memperkenalkan suatu


inovasi kepada khalayak yang banyak dan tersebar luas, maka saluran
komunikasi yang lebih tepat, cepat dan efisien, adalah media massa. Tetapi
jika komunikasi dimaksudkan untuk mengubah sikap atau perilaku
penerima secara personal, maka saluran komunikasi yang paling tepat
adalah saluran interpersonal.

3) Jangka Waktu merupakan Proses keputusan inovasi, dari mulai seseorang


mengetahui sampai memutuskan untuk menerima atau menolaknya, dan
pengukuhan terhadap keputusan itu sangat berkaitan dengan dimensi
waktu. Paling tidak dimensi waktu terlihat dalam:

 Proses pengambilan keputusan inovasi

 Keinovatifan seseorang: relatif lebih awal atau lebih lambat dalam


menerima inovasi,

 Kecepatan pengadopsian inovasi dalam sistem sosial.


4) Sistem Sosial merupakan kumpulan unit yang berbeda secara fungsional
dan terikat dalam kerjasama untuk memecahkan masalah dalam rangka
mencapai tujuan bersama.

Sementara itu inovasi mempunyai lima atribut, yaitu (1) keunggulan


relatif, (2) kompatibilitas, (3) kerumitan, (4) keterandalan, dan (5) keteramatan.

2.2.3 Tahapan Peristiwa yang Menciptakan Proses Difusi

a) Mempelajari inovasi:

Tahapan ini merupakan awal ketika masyarakat mulai melihat dan


mengamati inovasi baru dari berbagai sumber, khususnya media massa.
Pengadopsian awal biasanya merupakan orang-orang yang rajin membaca koran
dan menonton televisi, sehingga mereka bisa menangkap inovasi baru yang ada.
Jika sebuah inovasi dianggap sulit dimengerti dan sulit diaplikasikan, maka hal itu
tidak akan diadopsi dengan cepat oleh mereka, lain halnya jika yang dianggapnya
baru merupakan hal mudah, maka mereka akan lebih cepat mengadopsinya.
Beberapa jenis inovasi bahkan harus disosialisasikan melalui komunikasi
interpersonal dan kedekatan secara fisik.

b) Pengadopsian:

Dalam tahap ini masyarakat mulai menggunakan inovasi yang mereka


pelajari. Diadopsi atau tidaknya sebuah inovasi oleh masyarakat ditentukan juga
oleh beberapa faktor. Riset membuktikan bahwa semakin besar keuntungan yang
didapat, semakin tinggi dorongan untuk mengadopsi perilaku tertentu. Adopsi
inovasi juga dipengaruhi oleh keyakinan terhadap kemampuan seseorang.
Sebelum seseorang memutuskan untuk mencoba hal baru, orang tersebut biasanya
bertanya pada diri sendiri, apakah mereka mampu melakukannya? Maka mereka
akan cenderung mengadopsi inovasi tersebut. Selain itu, dorongan status juga
menjadi faktor motivasional yang kuat dalam mengadopsi inovasi.

Beberapa orang ingin selalu menjadi pusat perhatian dalam mengadopsi


inovasi untuk menunjukkan status sosialnya di hadapan orang lain. Adopsi inovasi
juga dipengaruhi oleh nilai yang dimiliki individu tersebut serta persepsi dirinya.
Jika sebuah inovasi danggapnya menyimpang atau tidak sesuai dengan nilai yang
ia anut, maka ia tidak akan mengadopsinya. Semakin besar pengorbanan yang
dikeluarkan untuk mengadopsi sebuah inovasi, semakin kecil tingkat adopsinya.

c) Pengembangan jaringan sosial:


Seseorang yang telah mengadopsi sebuah inovasi akan menyebarkan
inovasi tersebut kepada jaringan sosial di sekitarnya, sehingga sebuah inovasi bisa
secara luas diadopsi oleh masyarakat. Difusi sebuah inovasi tidak lepas dari
proses penyampaian dari satu individu lain melalui hubungan sosial yang mereka
miliki. Riset menunjukkan bahwa sebuah kelompok yang solid dan dekat satu
sama lain mengadopsi inovasi melalui kelompoknya. Dalam proses adopsi
inovasi, komunikasi melalui saluran media massa lebih cepat menyadarkan
masyarakat mengenai penyebaran inovasi baru dibanding saluran komunikasi
interpersonal. Komunikasi interpersonal mempengaruhi manusia untuk
mengadopsi inovasi yang sebelumnya telah diperkenalkan oleh media massa.

2.2.4 Pengertian Adopsi

Rogers (1983) menyatakan adopsi adalah proses mental, dalam mengambil


keputusan untuk menerima atau menolak ide baru dan menegaskan lebih lanjut
tentang penerimaan dan penolakan ide baru tersebut. Adopsi juga dapat
didefenisikan sebagai proses mental seseorang dari mendengar, mengetahui
inovasi sampai akhirnya mengadopsi. Adopsi adalah suatu proses dimulai dan
keluarnya ide-ide dari satu pihak, disampaikan kepada pihak kedua, sampai ide
tersebut diterima oleh masyarakat sebagai pihak kedua.

2.3 Proses Adopsi Inovasi


Adopsi adalah keputusan untuk menggunakan sepenuhnya ide baru sebagai
cara bertindak yang paling baik. Keputusan inovasi merupakan proses mental,
sejak seseorang mengetahui adanya inovasi sampai mengambil keputusan untuk
menerima atau menolaknya kemudian mengukuhkannya. Keputusan inovasi
merupakan suatu tipe pengambilan keputusan yang khas (Suprapto dan
Fahrianoor, 2004).

Mardikanto dan Sri Sutarni (1982) mengartikan adopsi sebagai penerapan


atau penggunaan sesuatu ide, alat-alat atau teknologi baru yang disampaikan
berupa pesan komunikasi (lewat penyuluhan). Manifestasi dari bentuk adopsi ini
dapat dilihat atau diamati berupa tingkah laku, metoda, maupun peralatan dan
teknologi yang dipergunakan dalam kegiatan komunikasinya.

Dalam model proses adopsi Bahlen ada 5 tahap yang dilalui sebelum
seseorang mengadopsi suatu inovasi yaitu sadar (awreness), minat (interest),
menilai (evaluation), mencoba (trial) dan adopsi ( adoption).

1. Tahap Sadar

Sasaran telah mengetahui informasi tetapi informasi tersebut dirasa


kurang. Pada tahap ini sasaran mulai sadar tentang adanya inovasi yang
ditawarkan oleh penyuluh. Pada tahap ini sasaran sudah maklum atau menghayati
sesuatu hal yang baru yang aneh tidak biasa (kebiasaan atau cara yang mereka
lakukan kurang baik atau mengandung kekeliruan, cara baru dapat meningkatkan
hasil usaha dan pendapatannya, cara baru dapat mengatasi kesulitan yang sering
dihadapi). Hal ini diketahuinya karena hasil berkomunikasi dengan penyuluh.
Tahapan mengetahui adanya inovasi dapat diperoleh seseorang dari mendengar,
membaca atau melihat, tetapi pengertian seseorang tersebut belum mendalam.

2. Tahap Minat

Sasaran mencari informasi atau keterangan lebih lanjut mengenaiinformasi


tersebut. Pada tahap ini sasaran mulai sadar tentang adanya inovasi yang
ditawarkan oleh penyuluh. Pada tahap ini sasaran mulai ingin mengetahui lebih
banyak perihal yang baru tersebut. Ia menginginkan keterangan-keterangan yang
lebih terinci lagi. Sasaran mulai bertanya-tanya.

3. Tahap Menilai

Sasaran sudah menilai dengan cara value/bandingkan inovasi terhadap


keadaan dirinya pada saat itu dan dimasa yang akan datang serta menentukan
apakah petani sasaran mencoba inovasi atau tidak. Pada tahap ini sasaran mulai
berpikir-pikir dan menilai keterangan-keterangan perihal yang baru itu. Juga ia
menghubungkan hal baru itu dengan keadaan sendiri (kesanggupan, resiko,
modal, dll.). Pertimbangan- pertimbangan atau penilaian terhadap inovasi dapat
dilakukan dari tiga segi, yaitu teknis, ekonomis dan sosiologis.

4. Tahap Mencoba

Sasaran sudah mencoba meskipun dalam skala kecil untuk menentukan


angka dan kesesuaian inovasi atau tidak. Pada tahap ini sasaran sudah mulai
mencoba-coba dalam luas dan jumlah yang sedikit saja. Sering juga terjadi bahwa
usaha mencoba ini tidak dilakukan sendiri, tetapi sasaran mengikuti (dalam
pikiran dan percakapan-percakapan), sepak terjang tetangga atau instansi mencoba
hal baru itu (dalam pertanaman percobaan atau demosntrasi).

5. Tahap Adopsi/Menerapkan

Sasaran sudah meyakini kebenaran inovasi dan inovasi tersebut dirasa


bermanfaat baginya. Pada tahap ini petani sasaran menerapkan dalam
jumlah/skala yang lebih besar. Pada tahap ini sasaran sudah yakin akan kebenaran
atau keunggulan hal baru itu, maka ia mengetrapkan anjuran secara luas dan
kontinu. Dapat saja sesuatu tahap dilampaui, karena tahap tersebut dilaluinya
secara mental. Tidak semua orang mempunyai waktu, kesempatan, ketekunan,
kesanggupan dan keuletan yang sama untuk menjalani, kadang-kadang
mengulangi proses adopsi sampai sakhir dan mendapat sukses.

Rogers.E.M dan Shoemaker G.F.,dalam Mulyana S. (2009)


mengemukakan bahwa ada 5 tahap, proses adopsi inovasi yaitu:

1) Tahap munculnya pengetahuan (Knowledge) ketika seorang individu (atau


unit pengambil keputusan lainnya) diarahkan untuk memahami eksistensi
dan keuntungan/manfaat dan bagaimana suatu inovasi berfungsi. Pada
tahap ini, seseorang belum memiliki informasi mengenai inovasi baru.
Untuk itu informasi mengenai inovasi tersebut harus disampaikan melalui
berbagai saluran komunikasi yang ada.

2) Tahap persuasi (Persuasion) ketika seorang individu (atau unit pengambil


keputusan lainnya) membentuk sikap baik atau tidak baik

3) Tahap pengambilan keputusan (Decisions) muncul ketika seorang individu


atau unit pengambil keputusan lainnya terlibat dalam aktivitas yang
mengarah pada pemilihan adopsi atau penolakan inovasi.

4) Tahapan implementasi (Implementation), ketika seorang individu atau unit


pengambil keputusan lainnya menetapkan penggunaan suatu inovasi
sambil mempelajari tentang inovasi tersebut.

5) Tahapan konfirmasi (Confirmation), ketika seorang individu atau unit


pengambil keputusan lainnya mencari penguatan terhadap keputusan
penerimaan atau penolakan inovasi yang sudah dibuat sebelumnya.

2.4 Tahapan Adopter


Anggota sistem sosial dapat dibagi ke dalam kelompok-kelompok adopter
(penerima inovasi) sesuai dengan tingkat keinovatifannya (kecepatan dalam
menerima inovasi).Salah satu pengelompokan yang bisa dijadikan rujukan adalah
pengelompokkan berdasarkan kurva adopsi, yang telah duji oleh Rogers (1961).

Gambaran tentang pengelompokan adopter dapat dilihat sebagai berikut:

a) Innovators: Sekitar 2,5% individu yang pertama kali mengadopsi


inovasi.

Cirinya: petualang, berani mengambil resiko, mobile, cerdas, kemampuan


ekonomi tinggi.
b) Early Adopters (Perintis/Pelopor): 13,5% yang menjadi para perintis
dalam penerimaan inovasi. Cirinya: para teladan (pemuka pendapat),
orang yang dihormati, akses di dalam tinggi

c) Early Majority (Pengikut Dini): 34% yang menjadi para pengikut awal.
Cirinya: penuh pertimbangan, interaksi internal tinggi.

d) Late Majority (Pengikut Akhir): 34% yang menjadi pengikut akhir


dalam penerimaan inovasi. Cirinya: skeptis, menerima karena
pertimbangan ekonomi atau tekanan social, terlalu hati-hati.

e) Laggards (Kelompok Kolot/Tradisional): 16% terakhir adalah kaum


kolot/tradisional. Cirinya: tradisional, terisolasi, wawasan terbatas,
bukan opinion leaders,sumberdaya terbatas.

2.5 Penerapan dan keterkaitan teori

Pada awalnya, bahkan dalam beberapa perkembangan berikutnya, teori


Difusi Inovasi senantiasa dikaitkan dengan proses pembangunan masyarakat.
Inovasi merupakan awal untuk terjadinya perubahan sosial, dan perubahan sosial
pada dasarnya merupakan inti dari pembangunan masyarakat. Rogers dan
Shoemaker (1971) menjelaskan bahwa proses difusi merupakan bagian dari
proses perubahan sosial. Perubahan sosial adalah proses dimana perubahan terjadi
dalam struktur dan fungsi sistem sosial. Perubahan sosial terjadi dalam 3 (tiga)
tahapan, yaitu: (1) Penemuan (invention), (2) difusi (diffusion), dan (3)
konsekuensi (consequences). Penemuan adalah proses dimana ide/gagasan baru
diciptakan atau dikembangkan. Difusi adalah proses dimana ide/gagasan baru
dikomunikasikan kepada anggota sistem sosial, sedangkan konsekuensi adalah
suatu perubahan dalam sistem sosial sebagai hasil dari adopsi atau penolakan
inovasi.

Sejak tahun 1960-an, teori difusi inovasi berkembang lebih jauh di mana
fokus kajian tidak hanya dikaitkan dengan proses perubahan sosial dalam
pengertian sempit. Topik studi atau penelitian difusi inovasi mulai dikaitkan
dengan berbagai fenomena kontemporer yang berkembang di masyarakat.
Berbagai perpektif pun menjadi dasar dalam pengkajian proses difusi
inovasi,seperti perspektif ekonomi, perspektif ’market and infrastructure’ (Brown,
1981). Salah satu definisi difusi inovasi dalam taraf perkembangan ini antara lain
dikemukakan Parker (1974), yang mendefinisikan difusi sebagai suatu proses
yang berperan memberi nilai tambah pada fungsi produksi atau proses ekonomi.
Dia juga menyebutkan bahwa difusi merupakan suatu tahapan dalam proses
perubahan teknik (technical change). Menurutnya difusi merupakan suatu tahapan
dimana keuntungan dari suatu inovasi berlaku umum. Dari inovator, inovasi
diteruskan melalui pengguna lain hingga akhirnya menjadi hal yang biasa dan
diterima sebagai bagian dari kegiatan produktif.

Berkaitan dengan proses difusi inovasi tersebut National Center for the
Dissemination of Disability Research (NCDDR), 1996, menyebutkan ada 4
(empat) dimensi pemanfaatan pengetahuan (knowledge utilization), yaitu

1. Dimensi Sumber (SOURCE) diseminasi, yaitu insitusi, organisasi, atau


individu yang bertanggunggung jawab dalam menciptakan pengetahuan
dan produk baru.

2. Dimensi Isi (CONTENT) yang didiseminasikan, yaitu pengetahuan dan


produk baru dimaksud yang juga termasuk bahan dan informasi
pendukung lainnya.

3. Dimensi Media (MEDIUM) Diseminasi, yaitu cara-cara bagaimana


pengetahuan atau produk tersebut dikemas dan disalurkan.

4. Dimensi Pengguna (USER), yaitu pengguna dari pengetahuan dan produk


dimaksud.

2.6 Tipe-tipe Pengadopsi Inovasi

Pembagian anggota sistem sosial ke dalam kelompok-kelompok adopter


didasarkan pada tingkat keinovatifannya, yakni lebih awal atau lebih lambatnya
seseorang mengadopsi sebuah inovasi dibandingkan dengan anggota sistem sosial
lainnya. Berikut adalah kurva yang menggambarkan distribusi frekwensi normal
kategori adopter beserta persentase anggota kelompok adopter dalam sebuah
sistem sosialnya.
Kurva yang membentuk lonceng tersebut dihasilkan oleh sejumlah
penelitian tentang difusi inovasi. Kurva lonceng tersebut menggambarkan
banyaknya pengadopsi dari waktu ke waktu. Pada tahun pertama, usaha
penyebaran inovasi akan menghasilkan jumlah pengadopsi yang sedikit, pada
tahun berikutnya jumlah pengadopsi akan lebih banyak dan setelash sampai pada
puncaknya, sedikit demi sedikit jumlah pengadopsi akan menyusut. Sehingga jika
kurva tersebut dikumulasikan akan membentuk kurva S sesuai dengan kurva S
yang sebelumnya telah disampaikan oleh Gabriel Tarde.

Berikut adalah karakteristik dari berbagai macam kategori adopter:

1. Inovator

Tipe ini adalah tipe yang menemukan inovasi. Mereka mencurahkan


sebagian besar hidup, energi, dan kreatifitasnya untuk mengembangkan ide baru.
Selain itu orang-orang yang masuk ke dalam kategori ini cenderung berminat
mencari hubungan dengan orang-orang yang berada di luar sistem mereka. Rogers
menyebutkan karakteristik innovator sebagai berikut:

a. Berani mengambil risiko

b. Mampu mengatur keuangan yang kokoh agar dapat menahan


kemungkinan kerugian dari inovasi yang tidak menguntungkan

c. Memahami dan mampu mengaplikasikan teknik dan pengetahuan


yang kompleks

d. Mampu menanggulangi ketidakpastian informasi

Berikut adalah cara agar dapat bekerja dengan inovator:


a. Mengundang innovator yang rajin untuk menjadi partner dalam
merancang poyek

b. Merekrut dan melatih mereka sebagai pendidik

2. Penerima Dini

Penerima dini atau Early adopter biasanya adalah orang-orang yang


berpengaruh dan lebih dulu memiliki banyak akses karena mereka memiliki
orientasi yang lebih ke dalam sistem sosial. Untuk memengaruhi penerima dini
tidak memerlukan persuasi karena mereka sendiri yang selalu berusaha mencari
sesuatu yang dapat memberikan mereka keuntungan dalam kehidupan sosial atau
ekonomi. Karakteristik yang dimiliki oleh early adopter adalah:

a. Bagian yang terintegrasi dalam sistem lokal sosial

b. Opinion leader yang paling berpengaruh

c. Role model dari anggota lain dalam sebuah sistem sosial

d. Dihargai dan disegani oleh orang-orang disekitarnya

e. Sukses

Untuk dapat bekerja dengan penerima dini berikut adalah hal-hal yang
dapat dilakukan:

a. Menawarkan secara pribadi dukungan untuk beberapa early adopter untuk


mencoba inovasi baru

b. Memelajari percobaan inovasi tersebut secara hati-hati untuk menemukan


atau membuat ide baru yang lebih sesuai, murah dan mudah dipasarkan

c. Meninggikan ego mereka, misalnya dengan publisitas atau pemberitaan


media

d. Mempromosikan mereka sebagai trendsetter

e. Menjaga hubungan baik dengan melakukan feedback secara rutin

3. Mayoritas Dini (orang–orang yang lebih dahulu selangkah lebih maju)

Early majority ini adalah golongan orang yang selangkah lebih maju.
Mereka biasanya orang yang pragmatis, nyaman dengan ide yang maju, tetapi
mereka tidak akan bertindak tanpa pembuktian yang nyata tentang keuntungan
yang mereka dapatkan dari sebuah produk baru. Mereka adalah orang-orang yang
sensitive terhadap pengorbanan dan membenci risiko untuk itu mereka mencari
sesuatu yang sederhana, terjamin, cara yang lebih baik atas apa yang telah mereka
lakukan.

a. Ada beberapa karakteristik mayoritas dini, yakni:

b. Sering berinteraksi dengan orang-orang sekitarnya

c. Jarang mendapatkan posisi sebagai opinion leader

d. Sepertiganya adalah bagian dari sistem (kategori atau tipe terbesar


dalam sistem)

e. Berhati-hati sebelum mengadopsi inovasi baru

Untuk menarik simpati golongan ini dapat dilakukan engan beberapa cara
sebagai berikut:

a. Menawarkan kompetisi atau sampel secara gratis untuk stimulus

b. Menggunakan advertiser dan media yang memiliki kredibilitas, dipercaya,


dan yang akrab dengan golongan ini

c. Menurunkan biaya dan memberikan jaminan

d. Mendesain ulang untuk memaksimalkan penggunaan dan membuatnya


menjadi lebih simple

e. Menyederhanakan formulir aplikasi dan atau instruksi

f. Menyediakan customer service and support yang profesional

4. Mayoritas Belakangan

Orang-orang dari golongan ini adalah orang-orang yang konservatif


pragmatis yang sangat membenci risiko serta tidak nyaman dengan ide baru
sehingga mereka belakangan mendapatkan inovasi setelah mereka mendapatkan
contoh. Golongan ini lebih dipengaruhi oleh ketakutan dan golongan laggard.

Rogers mengidentifikasi karakteristik golongan late majority sebagai


berikut:

a. Berjumlah sepertiga dari suatu sistem sosial


b. Mendapatkan tekanan daro orang-orang sekitarnya

c. Terdesak ekonomi

d. Skeptis

e. Sangat berhati-hati

5. Laggard (lapisan paling akhir)

Golongan Laggard adalah golongan akhir yang memandang inovasi atau


sebuah perubahan tingkah laku sebagai sesuatu yang memiliki risiko tinggi. Ada
indikasi bahwa sebagian dari golongan ini bukanlah orang-orang yang benar-
benar skeptis, bisa jadi mereka adalah inovator, penerima dini, atau bahkan
mayoritas dini yang terkurung dalam suatu sistem sosial kecil yang masih sangat
terikat dengan adat atau norma setempat yang kuat. Atau munngkin karena
terbatasnya sumber dan saluran komunikasi menyebabkan seseorang terlambat
mengetahui adanya sebuah inovasi dan pada akhirnya golongan ini disebut
sebagai Laggard.

Ada beberapa karakteristik Laggard, yakni:

a. Tidak terpengaruh opinion leader

b. Terisolasi

c. Berorientasi terhadap masa lalu

d. Curiga terhadap inovasi

e. Mempunyai masa pengambilan keputusan yang lama

f. Sumber yang terbatas

Untuk melakukan pendekatan dengan Laggards ada beberapa cara yang


perlu diperhatikan, yakni:

a. Memberikan mereka perhatian yang lebih terhadap kapan, dimana, dana


bagaimana mereka melakukan kebiasaan baru

b. Memaksimalkan kedekatan mereka dengan inovasi tersebut atau berikan


mereka contoh Laggard yang sukses melakukan pengadopsian inovasi
tersebut

Namun ada beberapa peniliti yang menunjukan bentuk tabel distribusi


yang berbeda. Moore menunjukkan adanya gap antara early adopter dengan early
majority. Gap atau jarak ini menyebabkan perbedaan karektiristik yang begitu
jauh antara dua golongan tersebut, yakni di fase awal karakteristiknya berorientasi
pada hal-hal yang baru atau visioner sedangkan pada fase berikutnya setelah gap
mereka cenderung pragmatis tentu saja hal ini akan menjadi sebuah tantangan
besar, bagaimana cara memersuasi mereka untuk mengadopsi sebuah inovasi.